Perang Dunia II

Aksi Menentukan Pasukan Kavaleri Amerika Menghambat Ofensif Besar Terakhir Jerman di Front Barat

“Letnan Rochester, lihat ini.” Patroli Amerika berhenti di sebelah bangunan industri yang ditinggalkan. Di sana, jelas di tengah salju yang baru turun, mereka melihat jejak kaki baru yang mengarah ke dalam. Ditinggalkan oleh sepatu bot tipe hobnail, jejak ini hanya bisa dibuat oleh tentara Jerman. Bergegas masuk, para GI (sebutan tentara Amerika) mengejutkan tiga penjaga yang sedang dengan tenang makan siang mereka. Semua ini selesai dalam waktu satu menit. Para tahanan lalu dikumpulkan, dimana semuanya menderita trench foot (sakit karena kaki dalam keadaan lembab terlalu lama. Jika tidak ditangani dengan cepat, terkadang bisa menyebabkan kaki korban harus diamputasi) dilucuti senjatanya dan dibawa kembali ke markas untuk diinterogasi. Di sana mereka mengungkapkan rencana Jerman pada awal tahun 1945 untuk melancarkan serangan frontal yang berat di garis pertahanan Amerika. Pesan ini dengan cepat disampaikan ke semua unit: Bersiaplah! Lubang pertahanan kemudian digali lebih dalam, granat ekstra dan peti amunisi ditumpuk, konsentrasi tembakan artileri ditetapkan. Pesta Malam Tahun Baru telah menunggu.

Tank Panther G Mengangkut personel Grenadier Jerman selama Operasi Nordwind. (Sumber: https://worldoftanks.com/)

MEMPERPENDEK “FRONT YANG TERLALU LUAS”

Pada tanggal 31 Desember 1944, pasukan kecil kavaleri Amerika mempertahankan perbukitan di sekitar Ludweiler, sebuah desa berpasir pembuat perkakas besi di wilayah Alsace di barat daya Jerman. Mereka disebar dalam garis pertahanan yang sangat tipis. Hanya ada 1.500 prajurit yang diperlengkapi dengan persenjataan ringan berada di garis terdepan sepanjang tujuh mil (11 km). Biasanya front sepanjang ini akan dijaga oleh unit seukuran divisi penuh. Para perwira intelijen memperkirakan jumlah musuh melebihi mereka tiga banding satu. Tampaknya itu misi yang mustahil, tapi itu bukan hal baru bagi pasukan kavaleri. Setelah tentara Jerman melancarkan serangan mendadak besar-besaran mereka melalui Hutan Ardennes Belgia pada tanggal 16 Desember 1944, komandan Angkatan Darat Ketiga AS Letnan Jenderal George S. Patton, Jr., melancarkan serangan balasan yang mengejutkan teman dan musuhnya dengan kecepatan, keberanian, dan keganasannya. Untuk mencapai ini, Patton melepaskan dua dari tiga korpsnya dan mendorong mereka ke utara ke sisi sayap musuh yang terbuka. Yang tersisa di pasukan ini adalah Korps ke-XX, yang tidak dapat memberi perlindungan mencakup seluruh sektor Angkatan Darat Ketiga tanpa mendapatkan bantuan. Panglima Tertinggi Sekutu Jenderal Dwight D. Eisenhower kemudian bertindak cepat untuk memperbaiki situasi ini. Pada tanggal 18 Desember, dia mengarahkan Grup Tentara ke-6 pimpinan Letnan Jenderal Jacob L. Devers, yang beroperasi di selatan Patton, untuk membatalkan semua rencana serangan dan mengambil posisi bertahan. Ike (panggilan Eisenhower) juga memerintahkan Devers untuk menggeser batas utaranya dengan baik ke sektor Angkatan Darat Ketiga.

Front sekitar Alsace, Januari 1945. Mengingat serangan Jerman yang kuat yang kemudian mencapai puncaknya di Ardennes, Eisenhower memanggil Letnan Jenderal Jacob L. Devers ke markas besarnya di Paris pada 26 Desember untuk mengikuti sebuah konferensi. Prihatin atas apa yang dia sebut sebagai “front yang terlalu luas” dari Grup Tentara ke-6, komandan tertinggi sekutu itu menginginkan semua pasukannya ditarik ke belakang Pegunungan Vosges. (Sumber: https://upload.wikimedia.org/)
Jacob Devers, Edward Brooks dan Dwight Eisenhower pada tahun 1944. (Sumber: https://www.wsj.com/)
Eisenhower dan Jenderal de Lattre dari Prancis, Desember 1944. Rencana penarikan pasukan sekutu ke belakang Pegunungan Vosges masuk akal secara militer, namun punya satu kelemahan, yakni bahwa dengan ini Prancis akan kehilangan kota Strasbourg lagi. Ketika orang-orang Prancis mengetahui rencana ini, mereka melancarkan protes keras, hingga tahapan mengancam untuk menarik kekuatannya dari komando Eisenhower. (Sumber: https://liberationtrilogy.com/)

Grup Tentara ke-6 faktanya memiliki lokasi yang buruk untuk menjalankan operasi pertahanan. Tentara sekutu memiliki Pegunungan Vosges yang kokoh di belakang mereka sementara menghadapi mereka adalah jaringan benteng kuat yang dikenal sebagai Westwall, atau Garis Siegfried. Para komandan khawatir bahwa unit lapis baja musuh dapat menembus posisi AS yang lemah dan merebut chokepoint di Celah Saverne, yang berpotensi menjebak ribuan tentara Amerika di dataran Alsatian. Mengingat serangan Jerman yang kuat yang kemudian mencapai puncaknya di Ardennes, Eisenhower memanggil Devers ke markas besarnya di Paris pada 26 Desember untuk mengikuti sebuah konferensi. Prihatin atas apa yang dia sebut sebagai “front yang terlalu luas” dari Grup Tentara ke-6, komandan tertinggi sekutu itu menginginkan semua pasukannya ditarik ke belakang Pegunungan Vosges. Ini akan memperpendek front, klaim Ike, dan juga membuat satu korps tersedia untuk cadangan di medan tempur. Rencana ini meski masuk akal secara militer, namun punya satu kelemahan, yakni bahwa dengan ini Prancis akan kehilangan kota Strasbourg lagi. Ketika orang-orang Prancis mengetahui rencana ini, mereka melancarkan protes keras, hingga tahapan mengancam untuk menarik kekuatannya dari komando Eisenhower. Strasbourg adalah lambang “kehormatan” dari Prancis. Strasbourg telah dikuasai Jerman dari tahun 1870 hingga 1918, dan lagi pada tahun 1940 sampai pembebasannya di bulan November 1944. Orang-orang Prancis khawatir akan pembalasan orang-orang Jerman terhadap 400.000 penduduk kota itu, jika kota itu jatuh. Para pemimpin sekutu kemudian melunak terhadap keberatan orang-orang Prancis dan mencabut rencananya untuk mundur dari Strasbourg. Garis depan pasukan sekutu akan diperpendek, namun kota Strasbourg tetap masuk ke dalam area yang dipertahankan.

PENUNDAAN DIBAWAH TEMBAKAN

Devers sendiri sebenarnya enggan meninggalkan wilayah yang diperoleh dengan susah payah oleh Grup Tentara ke-6 di Alsace. Bawahan utamanya, Mayor Jenderal Alexander M. Patch, berargumen bahwa “adalah proposisi yang sangat sulit untuk melepaskan posisi pertahanan yang kuat ketika Anda merasa yakin bahwa Anda dapat mempertahankannya.” Patch, yang memimpin Angkatan Darat A.S. Ketujuh, membujuk pemimpinnya untuk mengabaikan perintah mundur Eisenhower untuk sementara waktu. Patch mengambil risiko yang diperhitungkan dengan mengekspos pasukannya, terutama Korps ke-XV pimpinan Mayor Jenderal Wade H. Haislip di utara. Di sana, Lembah Sungai Saar menjadi lokasi awal yang ideal untuk serangan balik Jerman yang menyerang Celah Saverne. Menambah tanggung jawab Haislip adalah perintah yang membuat Korps ke-XV bertanggung jawab untuk melindungi 25 mil (40 km) dari front yang sebelumnya dipertahankan oleh Angkatan Darat Ketiga ke utara. Ini adalah sektor yang tenang, tetapi Korps ke-XV tidak memiliki kekuatan pasukan yang dibutuhkan untuk mempertahankannya dengan baik. Haislip menyebarkan divisi infanterinya sebanyak yang dia bisa, namun terdapat celah selebar tujuh mil (11 km) yang tetap ada di sayap kiri (utara). Situasi tersebut membutuhkan apa yang disebut sebagai operasi “kekuatan  ekonomis”, di mana pasukan yang sangat mobile mempertahankan serangkaian pos terdepan sambil mengamati aktivitas musuh dan memperlambat serangan apa pun yang akan datang sebisa mungkin. Para ahli taktik menyebutnya sebagai misi penundaan, yakni misi di mana jumlah pasukan yang bertahan akan lebih banyak menukar wilayah dengan waktu sampai serangan balik dapat diorganisir. Penundaan taktis ini adalah pekerjaan yang secara umum diberikan pada pasukan kavaleri, dan Mayor Jenderal Haislip untungnya memiliki pasukan kavaleri yang teruji dalam pertempuran di Korps ke-XV, yang siap untuk mengambil misi yang menantang ini. Grup Kavaleri ke-106 (Mekanis) telah bergulir melintasi Prancis, pertama bersama Angkatan Darat Ketiga dan sekarang Angkatan Darat Ketujuh, sejak bulan Juli 1944. Namun pengalaman tempur Kavaleri ke-106 sejauh ini adalah sebagai garda terdepan dari kekuatan penyerang; ini akan menjadi upaya pertama mereka untuk melakukan aksi penundaan di bawah tembakan musuh.

Jenderal Devers, Smith, dan Patch, kiri ke kanan, Januari 1945. Devers sebenarnya enggan meninggalkan wilayah yang diperoleh dengan susah payah oleh Grup Tentara ke-6 di Alsace sesuai arahan Eisenhower. Bawahan utamanya, Mayor Jenderal Alexander M. Patch, berargumen bahwa “adalah proposisi yang sangat sulit untuk melepaskan posisi pertahanan yang kuat ketika Anda merasa yakin bahwa Anda dapat mempertahankannya.” (Sumber: https://liberationtrilogy.com/)
Celah Saverne. (Sumber: https://www.ibiblio.org/)

RESIMEN KAVALERI KE-106

Seperti banyak unit Garda Nasional, Resimen Kavaleri ke-106 yang berbasis di Illinois dipanggil untuk menjalani tugas negara pada tahun 1940. Unit ini pada waktu itu terutama masih berupa pasukan berkuda. Namun, segera, reorganisasi di masa perang mengharuskan Resimen Kavaleri ke-106 untuk menukar kuda kesayangannya dengan kendaraan tempur mekanis yang lebih cocok untuk bentuk perang manuver cepat yang diharapkan dilakukan oleh pasukan Amerika di masa depan. Pada tahun 1943, Kolonel Vennard Wilson mengambil alih komando Resimen Kavaleri ke-106. Seorang perwira karir Angkatan Darat dan veteran Perang Dunia I, Wilson membawa serta konsep penekanan yang kuat pada pelatihan yang berfokus pada pertempuran. Pasukannya kemudian segera mengadopsi sikapnya yang tidak berbasa-basi, dan dengan cepat mempelajari teknik pengintaian mekanis yang mematikan saat ditempatkan di Camp Hood, Texas. Segera setelah dikerahkan ke Inggris pada tahun 1944, resimen Wilson berganti nama menjadi Grup Kavaleri ke-106 (Mekanis). Ini berarti Skuadron Kavaleri Pertama dan Kedua (masing-masing setara dengan batalion) dinonaktifkan dan digantikan oleh dua skuadron pengintai kavaleri independen. Unit-unit ini diberi nama Skuadron Pengintai Kavaleri ke-106 dan 121 (Mekanis).

Brigadir Jenderal Vennard Wilson. Pada tahun 1943, Kolonel (saat itu) Vennard Wilson mengambil alih komando Resimen Kavaleri ke-106. (Sumber: https://calisphere.org/)
Lambang Resimen Kavaleri ke-106. (Sumber: https://military-history.fandom.com/)

SKUADRON PENGINTAI KAVALERI

Markas grup juga mengendalikan sejumlah unit yang diperbantukan di medan perang. Tank, penghancur tank, artileri lapangan, dan aset zeni, tergantung pada misinya, dapat “dilekatkan” ke Grup Kavaleri ke-106 pada waktu tertentu dan dilepaskan setelah pekerjaan mereka selesai. Unit-unit ini membantu Skuadron Pengintai Kavaleri ke-106 dan 121 dalam tugas utama mereka: mendapatkan dan mempertahankan kontak dengan musuh. Skuadron pengintai kavaleri (CRS) dikonfigurasi secara unik untuk berfungsi sebagai mata dan telinga komandan tempur. Bergerak cepat, fleksibel, dan bersenjata lengkap, CRS melakukan berbagai tugas di medan perang mulai dari pengintaian jarak jauh dan operasi pengejaran hingga tugas yang lebih biasa seperti pembersihan rute dan pengamanan. CRS beroperasi sebagai formasi senjata gabungan dengan tiga pasukan pengintai (berukuran setara kompi) yang bertindak sebagai elemen manuver, sebuah pasukan meriam serbu yang memberikan dukungan tembakan, dan kompi tank ringan yang membawa efek kejut elemen lapis baja ke medan pertempuran. Pasukan A, B, dan C ditunjuk sebagai komponen pengintai skuadron, Pasukan E sebagai pasukan meriam serbu mereka (tidak ada Pasukan D), dan Kompi F sebagai unit tank. Markas besar skuadron/unit layanan dan detasemen medis kemudian melengkapi organisasi CRS. Pasukan pengintai beranggotakan 145 orang terdiri dari bagian markas dan tiga peleton, yang masing-masing berisi 29 prajurit kavaleri. Peralatan peleton pengintai termasuk tiga mobil lapis baja M8 Greyhound dan enam jip, yang disebut “Bantams” oleh pasukan Resimen ke-106. Tiga Bantam membawa senapan mesin kaliber .30 yang dipasang di samping dan digunakan untuk pekerjaan pengintaian mobile; sementara kendaraan yang tersisa mengangkut unit mortir kaliber 60mm pasukan. Pasukan E terdiri dari 116 prajurit dan enam meriam serbu. Mampu menembak langsung (line-of-sight) dan tidak langsung, dengan menggunakan M8 Howitzer Motor Carriage (HMC). M8 adalah sistem senjata yang memasang meriam kaliber 75mm pada sasis tank ringan dan membawa lima orang kru. Sementara itu unit tank ringan terdiri dari 94 orang (Kompi F) menggunakan tank ringan M5A1 Stuarts, yang masing-masing memiliki awak empat orang. Kompi F beroperasi dengan 17 tank M5A1 ditambah bagian pemeliharaan dan suplai.

M8 Greyhound yang dipakai oleh Resimen Kavaleri ke-106 dilengkapi dengan meriam kaliber 37 mm, tiga senapan mesin, dan dua radio yang kuat. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Jeep Bantam hadir dalam berbagai konfigurasi. Bantam milik Resimen Kavaleri ke-106 dilengkapi dengan senapan mesin kaliber .30 atau mortir. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Tank ringan M5A1 Stuart menembakkan meriam kaliber 37 mm-nya. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

MOMENTUM AMERIKA DIHENTIKAN 

Pasukan kavaleri Amerika telah memimpin serangan cepat melintasi Prancis menyusul runtuhnya pertahanan Jerman di Normandia. Grup Kavaleri ke-106 mengambil bagian dalam aksi pengejaran atas pasukan Jerman yang mundur ini, sering kali menempuh jarak 40-50 mil (64-80 km) sehari sebagai garda terdepan dari Korps ke-XV pimpinan Mayor Jenderal Haislip. Mobilitas dari unit kavaleri, daya tembak, dan komunikasi radio yang luar biasa semuanya terbukti menentukan selama musim panas dan awal musim gugur tahun 1944. Namun setelah diperlambat oleh jalur pasokan yang terlalu panjang, cuaca buruk, dan perlawanan musuh yang semakin kuat, serangan Sekutu tak terhindarkan mulai kehilangan momentum saat musim dingin semakin dekat. Ditugaskan pada bulan Oktober untuk membersihkan Foret de Parroy dekat Luneberg, Prancis, Grup Kavaleri ke-106 menghabiskan tujuh minggu untuk bertempur terutama dengan berjalan kaki. Di sana para prajurit Kolonel Wilson belajar dengan ongkos yang mahal atas betapa tidak memadainya peralatan mereka ini saat harus bertempur tanpa menggunakan kendaraan tempur mereka. Meskipun terlatih dalam taktik tempur infanteri, sebagian besar pasukan hanya membawa karabin M1 yang berjarak pendek dan pistol mitraliur Thompson dan bukan senapan M1 Garands atau Browning Automatic Rifles (BAR) yang memiliki daya pukul memadai. Mereka juga tidak memiliki senjata pendukung khusus yang ditemukan di organisasi tempur pasukan infanteri, dan bahkan dengan kekuatan penuh, peleton kavaleri berukuran kurang dari tiga perempat dari ukuran rekan infanterinya. Kelemahan organisasi ini akan kembali mengganggu Resimen Kavaleri ke-106 karena mereka mengambil alih sisi kiri yang panjang dari garis pertahanan Korps XV selama hari-hari terakhir di bulan Desember 1944.

Mayor Jenderal Wade H. Haislip. Grup Kavaleri ke-106 mengambil bagian dalam aksi pengejaran atas pasukan Jerman yang mundur ini, sering kali menempuh jarak 40-50 mil (64-80 km) sehari sebagai garda terdepan dari Korps ke-XV pimpinan Mayor Jenderal Haislip. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Pasukan Prancis di tepi Sungai Rhine, November 1944. Pada akhir tahun 1944 momentum serangan sekutu mulai hilang dengan mendekatnya musim dingin. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Pada tanggal 23 Desember, setelah berjalan semalaman sejauh 60 mil (96,5 km), pasukan Kavaleri ke-106 bergerak untuk menggantikan elemen dari Grup Kavaleri ke-6 Angkatan Darat Ketiga. Barisan tipis lubang perlindungan di dekat Wadgassen menandai sayap selatan dari perimeter pasukan Patton, yang dipertahankan oleh para prajurit infanteri dari Divisi Infanteri ke-95, Korps ke-XX. Di sebelah kanan, di sebuah kota Prancis bernama Morsbach, terdapat Divisi Infanteri ke-103 dan unit Korps ke-XV lainnya. Di antaranya terbentang tujuh mil (11 km) dari bagian front yang menghadap ke Sungai Saar dan Rossel. Medan berbukit diselingi oleh beberapa tambang terbuka yang melayani pabrik besi besar di Völklingen, di seberang Saar. Jalan yang baik menghubungkan dusun Gross Rosseln, Schauffhausen, dan Werbeln ke Ludweiler, sebuah desa kecil yang terletak di bawah dari apa yang disebut peta Amerika sebagai Hill 283. Dari ketinggian ini, tentara AS dapat mengamati semua yang terjadi di Völklingen dan benteng Westwall yang menjaga kota itu. Di sebelah timur, tonjolan bekas tambang lainnya, Bukit 306, menutupi perbatasan Prancis-Jerman. Pasukan yang mempertahankan bagian garis ini membelakangi Sungai Rossel dengan hanya satu jembatan yang terbuka jika mereka harus mundur. Salju, es, dan dingin yang ekstrem semua mempengaruhi operasi karena radang dingin dan trench foot memaksa banyak pasukan kavaleri meninggalkan pos mereka untuk mencari perawatan medis.

TAKTIK PENUNDAAN KOLONEL WILSON 

Mengetahui unitnya terlalu lemah untuk mempertahankan sektor yang ditugaskan dengan sistem pertahanan statis, Kolonel Wilson malah membangun sistem pertahanan empat orang yang digali di sepanjang medan tempur utama. Setiap CRS mempekerjakan dua pasukan pengintai ditambah dengan tank-tank di pos-pos terluar sementara mempertahankan satu pasukan sebagai cadangan. Meriam serbu kemudian diposisikan untuk memberikan dukungan tembakan sesuai kebutuhan. Patroli keliling, ladang ranjau, dan rintangan kawat mengitari di antara pos-pos pertahanan terdepan. Sebuah sistem posisi sekunder, yang dipasang 400-600 yard (365-548 meter) di belakang garis pos terdepan, dipetakan dan ditandai sehingga pasukan yang mundur dengan tergesa-gesa dapat menemukan lokasi mundur mereka saat siang atau malam. Sebagai cadangan dari pasukan kavaleri terdapat beberapa unit yang diperbantukan. Dua batalyon artileri, Unit Artileri Lapangan Lapis Baja ke-493 (berpenggerak mandiri kaliber 105mm) dan Artileri Lapangan ke-242 (artileri tarik kaliber 105mm), mampu menjangkau dengan tembakan tidak langsung di sepanjang front. Yang juga mendukung adalah Batalyon Mortir Kimia ke-2 yang telah teruji dalam pertempuran, yang 36 tabung mortir kaliber 4,2 incinya (106mm) dapat mengirimkan sejumlah besar tembakan amunisi mortir eksplosif tinggi yang akurat terhadap target jarak pendek. Untuk melindungi dari serangan unit lapis baja terdapat enam meriam antitank 3 inci (76,2 mm) yang ditarik milik Kompi A, Batalyon Penghancur Tank (TD) ke-824. Setiap skuadron kavaleri juga menerima satu kompi zeni tempur. Satuan “Jack of all trades” (serba guna) ini membantu menopang pos-pos terluar saat bertindak sebagai prajurit infanteri, tetapi nilai sebenarnya mereka sebagai ahli pembangunan jembatan akan segera digunakan. Seperti kebanyakan rencana militer, skema manuver Amerika sederhana dalam konsepnya tetapi sangat sulit untuk dilakukan di bawah tembakan gencar. Para penjaga pertama-tama akan mendeteksi pasukan musuh yang bergerak maju, kemudian memaksa mereka bertempur dengan senjata individu dan senjata yang dilayani kru. Karena senjata artileri, mortir, dan meriam serbu pasukan AS terus mengganggu gerak maju tentara Jerman, pasukan di garis terdepan itu harus mundur ke posisi tempur sekunder mereka sementara pasukan cadangan bergerak maju. Kolonel Wilson bermaksud untuk mengulangi proses ini sesering yang diperlukan, bertukar ruang untuk memperoleh waktu sampai serangan musuh kehabisan tenaga atau bala bantuan dari Korps ke-XV tiba.

Joseph Pedraza, seorang personel Pasukan B, Skuadron Kavaleri ke-106, duduk di turret mobil lapis baja yang diselimuti salju di dekat Ludweiler, Jerman, pada bulan Januari 1945. Mobil lapis baja itu disembunyikan di parit yang digali oleh unit kavaleri Pasukan B untuk memberikan penyembunyian yang lebih baik. Mengetahui unitnya terlalu lemah untuk mempertahankan sektor yang ditugaskan dengan sistem pertahanan statis, Kolonel Wilson membentuk sistem pertahanan mobile yang siap melakukan taktik penundaan bila pasukan Jerman menyerang. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

PERINGATAN SERANGAN YANG AKAN DATANG

Prajurit dari Grup Kavaleri ke-106 dan unit-unit yang menyertainya menghabiskan hari terakhir tahun 1944 dalam kondisi siaga tinggi ketika mereka mencoba untuk tetap hangat di lubang perlindungan mereka. Di front terdepan, para pengamat mulai melaporkan adanya tanda-tanda peningkatan aktivitas Jerman. Pasukan kavaleri yang ditempatkan di Bukit 283 melihat personel infanteri musuh bergerak di sisi jauh Saar; tembakan artileri lalu membubarkan formasi tersebut. Menjelang sore, peluru kaliber 88mm menghancurkan meriam antitank milik Batalyon TD ke-824. Dua penembak tewas dalam aksi ini. Kemudian patroli tengah hari yang dipimpin oleh Letnan William L. Rochester dari Pasukan C, CRS ke-106 membawa informasi intelijen yang berharga ketika kembali dengan tiga personel pasukan zeni Jerman yang ditangkap di Wadgassen. Para tahanan yang cerewet ini menceritakan serangan mendadak yang direncanakan pada tengah malam, sembari membenarkan apa yang telah diamati oleh pasukan Amerika sepanjang hari. Kolonel Wilson lalu menyampaikan berita ini kepada Korps ke-XV sambil mengarahkan pasukan kavalerinya untuk membuat semua persiapan yang diperlukan untuk tindakan penundaan di malam hari. Para jenderal juga tahu sesuatu akan datang. Pada hari itu juga, Panglima Angkatan Darat Ketujuh Mayor Jenderal Patch mengadakan pertemuan dengan komandan korpsnya untuk memperingatkan mereka tentang serangan yang akan segera terjadi. Di pos terdepan tidak ada yang tahu persis apa yang sedang dilakukan musuh, hanya saja itu nampaknya akan berupa sesuatu yang besar.

Dari parit salju dekat Ludweiler, Jerman, Tom Klora dan Pfc. Eugene Wimberly mengobrol dengan tetap waspada pada bulan Januari 1945. Pasukan Jerman yang terlibat dalam ofensif Nordwind kadang-kadang begitu dekat sehingga anjing mereka dapat terdengar menggonggong ketika para penjaga berganti, dan percakapan mereka terdengar. Jelang serangan pasukan Amerika telah mendeteksi bahwa pasukan Jerman telah mempersiapkan ofensif besar. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

OPERASI NORDWIND

Faktanya, Angkatan Darat Jerman telah melancarkan serangan besar terakhirnya di Barat lewat Operasi Nordwind. Strategi Operasi Nordwind (Northwind) ini disusun pada akhir bulan Desember oleh Adolf Hitler dan komandan Front Baratnya, Field Marshal Gerd von Rundstedt. Hitler dan von Rundstedt melihat betapa Sekutu telah melemahkan kekuatan pasukan mereka di selatan untuk mendukung serangan balik Patton di Ardennes dan berusaha mengeksploitasi kerentanan itu. Tidak seperti serangan di Ardennes, Operasi Nordwind hanya akan dibatasi pada wilayah Alsace. Hitler menyadari bahwa meluncurkan serangan besar-besaran di Front Barat sudah tidak lagi memungkinkan dilancarkan oleh Wehrmacht. Pada tanggal 28 Desember 1944, Hitler mengatakan kepada para jenderalnya bahwa “serangan ini (Nordwind) memiliki tujuan yang sangat jelas, yaitu penghancuran pasukan musuh. Tidak ada masalah gengsi yang terlibat di sini. Ini adalah masalah menghancurkan dan memusnahkan pasukan musuh di mana pun kita menemukannya.” Oleh karena itu, tujuan utama Operasi Nordwind sederhana — untuk menghancurkan sebanyak mungkin unit musuh. Jika Operasi Nordwind berhasil, itu akan memungkinkan dilancarkannya serangan lanjutan, yang disebut Unternehmen Zahnarzt (atau Operasi Dentist), sebuah serangan besar yang ditujukan terhadap “bagian belakang” dari Angkatan Darat Ketiga Jenderal George S. Patton. Nordwind dirancang sebagai sebuah serangan berurutan, yang berarti eksploitasi penggunaan pasukan lapis baja akan bergantung pada keberhasilan serangan awal. Langkah pertama itu dilancarkan pada posisi perimeter Angkatan Darat Ketujuh AS yang terbuka. Komandan Jerman diperintahkan untuk membuat lubang di garis pertahanan Amerika, guna membuka jalan bagi divisi-divisi panzer lainnya untuk merebut Celah Saverne dan mengisolasi Korps ke-XV pimpinan Haislip. Dua Sturmgruppen, pasukan penyerang berukuran setara divisi, akan menyerang posisi Amerika di Lembah Saar, 15 mil (24 km) sebelah timur sektor Grup Kavaleri ke-106. Elemen utama terdiri dari pasukan infanteri SS yang berpengalaman bersama dengan formasi Volksgrenadier yang dilatih dengan tergesa-gesa, banyak yang diisi oleh mantan pelaut dan personel darat dari Luftwaffe. Yang memimpin serangan ini adalah Kolonel Jenderal Johannes Blaskowitz, komandan Grup Angkatan Darat G. Operasi Nordwind akan dimulai pada tengah malam pada tanggal 31 Desember 1944. Rencana tersebut juga mendukung serangan di sepanjang garis pertahanan AS untuk mencegah bala bantuan bergegas membantu pasukan yang bertahan. Salah satu serangan Jerman ini ditujukan tepat pada posisi Grup Kavaleri ke-106 dan puncak bukit strategisnya.

Hitler dan komandan Front Baratnya, Field Marshal Gerd von Rundstedt. Strategi Operasi Nordwind (Northwind) ini disusun pada akhir bulan Desember oleh Adolf Hitler von Rundstedt. Tidak seperti serangan di Ardennes, Operasi Nordwind hanya akan dibatasi pada wilayah Alsace. Hitler menyadari bahwa meluncurkan serangan besar-besaran di Front Barat sudah tidak lagi memungkinkan dilancarkan oleh Wehrmacht. (Sumber: https://www.gettyimages.dk/)

DIVISI INFANTERI KE-347 TRIERENBERG

Pada tanggal 26 Desember, perintah turun dari Korps Angkatan Darat LXXXII kepada Letnan Jenderal Wolf-Günther Trierenberg, komandan Divisi Infanteri ke-347. Mereka menugaskan Trierenberg untuk melakukan serangan terbatas pada malam 31 Desember-1 Januari dengan tujuan merebut kembali Bukit 283 dari pasukan Amerika. Persiapan harus segera dimulai. Trierenberg, seorang veteran yang berpengalaman di Polandia, Prancis, dan Rusia, memiliki banyak hal yang harus dilakukan pada hari-hari sebelum penyerangan divisinya. Pasukan Divisi ke-347 sangat membutuhkan senapan, senapan mesin, dan, yang terpenting, prajurit infanteri untuk menembakkan peralatan perang ini. Diorganisir pada tahun 1943, Divisi Infanteri ke-347 menjagai wilayah Amsterdam, Belanda, sebelum bergerak ke selatan untuk membantu menghentikan pendobrakan pasukan Sekutu di Prancis pada tahun berikutnya. Pada bulan September 1944, hampir sepenuhnya satuan ini dihancurkan oleh Divisi Lapis Baja ke-3 AS di sebelah barat Huy. Orang-orang yang selamat mundur kembali ke wilayah Eifel di Jerman barat, di mana unit itu beristirahat dan dibentuk kembali. Kemampuan Angkatan Darat Jerman untuk membangun kembali dirinya sendiri setelah jatuhnya Prancis secara tepat disebut “Keajaiban di Barat.” Seperti banyak formasi hancur lainnya, divisi Trierenberg menyisir semua pria berbadan sehat dari eselon belakangnya, menggantikan mereka dengan orang-orang yang diamputasi, orang sakit, dan tentara lain yang dianggap tidak cocok untuk tugas di garis depan. Mereka juga menerima peralatan dan senjata modern untuk menggantikan apa yang hilang dalam pertempuran. 

Letnan Jenderal Wolf-Günther Trierenberg, komandan Divisi Infanteri ke-347 Jerman. (Sumber: https://www.wikidata.org/)
Peta dalam bahasa Jerman yang menunjukkan rencana asli Jerman untuk Operasi Nordwind pada tahun 1945. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)
Pasukan Jerman menyerbu pasukan sekutu di front barat akhir tahun 1944. Di luar pengamatan intelijen sekutu, setelah kekalahan di Normandia dan Prancis, Jerman mampu membangun kembali cadangan pasukannya, dalam peristiwa yang kerap dikenal sebagai “Keajaiban di Barat.” (Sumber: https://www.thoughtco.com/)

Pasukan Divisi ke-347 diam-diam mundur dari Eifel sesaat sebelum Serangan Ardennes Hitler, bergerak ke selatan dengan kereta api ke Lembah Saar. Mereka menetap di dekat Völklingen, di mana divisi tersebut terus melatih para personel pengganti dan memperoleh amunisi. Pada akhir tahun 1944, Letnan Jenderal Trierenberg dapat melaporkan bahwa unit artilerinya hampir mencapai kekuatan penuh dengan satu batalyon (12 meriam) howitzer tarik kaliber 150mm dan tiga batalyon (juga masing-masing 12 unit) meriam kaliber 105mm. Senjata-senjata artileri lapangan ini, bagaimanapun, semuanya ditarik dengan kuda. Untuk satuan infanteri, Trierenberg memiliki dua resimen, yakni Resimen ke-860 dan 861. Setiap resimen beroperasi dengan dua batalyon, meskipun jumlah ini berkurang menjadi sekitar setengah dari jumlah personel mereka seharusnya. Jenderal ini mengandalkan Batalyon Fusilier ke-347 untuk tugas-tugas terberatnya. Unit pengintaian beranggotakan 300 orang ini terdiri dari prajurit-prajurit Trierenberg yang paling baik dan bersenjata lengkap serta diberi tujuan utama untuk merebut Bukit 283. Divisi Infanteri ke-347 juga memiliki unit zeni, senjata antitank, dan elemen sinyal dan pendukung lainnya. Sementara semua eselon ini berperan dalam serangan itu, pasukan infanteri Trierenberg akan melakukan pekerjaan terberat. Ada sekitar 3.500 personel bersenjata senapan yang siap untuk mencoba melancarkan serangan di Malam Tahun Baru.

“KAMI MEMOTONG MEREKA SEPERTI RUMPUT” 

Pada hari yang sama ketika Angkatan Darat Jerman meluncurkan Operasi Nordwind, Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) mengirimkan hampir 1.000 pesawat untuk mendukung. Upaya untuk melumpuhkan angkatan udara Sekutu yang berbasis di Eropa barat laut ini dikenal dengan Operasi Bodenplatte. Operasi ini gagal tanpa mencapai satupun tujuan utamanya. Di darat tidak ada persiapan serangan artileri yang ditembakkan oleh Jerman dengan harapan mencapai kejutan. Resimen Infantri ke-861 maju ke Bukit 283 di utara, Batalyon Fusilier ke-347 melakukan serangan utama sementara batalion lain melindungi sayap kanannya di sepanjang Sungai Saar. Lebih jauh ke selatan di zona Resimen ke-860, dua batalyon menyerang ke arah barat ke Bukit 306 dan jembatan Sungai Rossel. Kontak pertama dengan tentara Amerika terjadi pada pukul 23.30. Sersan Jim Moore, di pos terdepan dengan Pasukan B, CRS ke-106, mempertahankan posisi kuat di atas Bukit 283. Tiba-tiba, jerat peluru suar menyala, memperingatkan Moore tentang adanya aktivitas musuh. Catatan sejarah unit menceritakan apa yang terjadi selanjutnya: “Malam yang terang benderang, hampir seperti siang hari. Kami telah mengarahkan senjata kami di puncak bukit di depan kami di utara. Dan orang-orang Jerman mulai melintasi kaki langit. Kami menebas mereka seperti rerumputan.” Anggota Pasukan B lainnya mengenang, “Musuh mulai menembak dari semua sisi. Tank kami dan orang-orang di pos terdepan membalas tembakan.” Dari pengintaiannya di rumah terdekat, Prajurit Stanley J. Szcapa “memecahkan jendela, memasukkan laras senapan mesinnya dan melepaskan tembakan. Namun terlepas dari semua keunggulan yang kami miliki, tentara Jerman terus berdatangan. Sepertinya mereka mabuk atau dibius.” Para prajurit infanteri Jerman telah sepenuhnya mengepung lubang-lubang pertahanan Pasukan B yang tersebar luas. Seorang prajurit kavaleri menyatakan timnya bertarung dengan baik “tetapi tentara Jerman ada di sekitar kami, menyusup ke belakang kami sebelum menyerang.” Sudah waktunya bagi pasukan Amerika untuk berpindah posisi. Sersan Staf Benjamin J. DiMichele memerintahkan semua orang keluar ke posisi sekunder mereka. Namun, kabel komunikasi mereka telah terputus, sehingga beberapa prajurit gagal mendapatkan kabar dan ditawan musuh. Sisanya naik tank-tank ringan untuk melalui perjalanan yang mencekam ke Ludweiler.

Pesawat tempur Focke-Wulf Fw 190 dari I./JG 6 menyerang lapangan terbang Eindhoven, Belanda, pada Hari Tahun Baru 1945 dalam Operasi Bodenplatte. Operasi ini gagal tanpa mencapai satupun tujuan utamanya. (Sumber: https://www.memorialflightclub.com/)

PERTAHANAN MENENTUKAN SERSAN HILL

Lebih jauh ke utara, tentara Pasukan C, CRS ke-106 terkena semburan tembakan senapan mesin berat tepat setelah tengah malam. Mereka bertahan terhadap serangan berat selama 30 menit sebelum pindah ke posisi mundur mereka di desa Schauffhausen. Tapi musuh telah sampai di sana lebih dulu. Seperti yang mereka lakukan di Bukit 283, pasukan infanteri Jerman secara efektif menyusup melewati garis pertahanan Pasukan C. Tim antitank Jerman yang berkeliaran kemudian menghancurkan dua tank ringan Amerika dengan roket panzerfaust, mendorong komandan pasukan, Kapten John F. Brady, untuk menarik pasukannya kembali ke Ludweiler. Dengan melakukan itu, Brady memutuskan koneksi Pasukan C ke Korps ke-XX. Sementara itu situasi di selatan sama berbahayanya. Di sini, CRS ke-121 memiliki deretan pos pengamatan yang berjarak renggang di sebelah timur Sungai Rossel. Sersan Benjamin S. Hill dan tim tiga orangnya yang menduduki Bukit 306 terus mengawasi sekitarnya dengan cermat saat Tahun Baru mendekat. “Tepat pada pukul 23.30, pertempuran pecah,” menurut catatan sejarah unit. ”Itu adalah hiruk-pikuk besar dimana orang-orang yang menjerit dan berteriak, udara dipenuhi dengan keributan ledakan ranjau anti personel, granat tangan dan peluru yang membelah pepohonan. Waktu diantara kilatan petir sepersekian detik ini adalah tembakan yang menyembur dan suara staccato yang tajam dari tembakan seratus senjata otomatis.” 

Tank-tank Panther melewati hutan Haguenau saat Operasi Nordwind. (Sumber: https://military-historian.squarespace.com/)
Pasukan Amerika bertahan selama Operasi Nordwind. (Sumber: https://worldoftanks.com/)

Beberapa orang Jerman melemparkan diri mereka ke atas rintangan kawat berduri pertahanan Sersan Hill sehingga rekan-rekan mereka bisa melangkahinya. Yang lain berteriak agar Hill dan anak buahnya menyerah. “Menyerah, persetan!” jawab prajurit veteran itu. “Datang dan tangkap aku, kalian bajingan.” Dengan prajurit musuh mengepung di sekitar posisinya, komunikasi terputus, dan amunisi hampir habis, Hill menyadari bahwa sudah waktunya untuk pergi. Atas perintahnya, pasukan kavaleri yang tersisa menaiki kendaraan mereka dan mulai kembali ke arah jembatan. Namun, tanpa sepengetahuan mereka, pasukan Jerman telah menaklukkan satu peleton pasukan zeni yang menjaga wilayah vital ini. Satu-satunya jalan melintasi Rossel kini terputus. Meninggalkan truk mereka, kontingen Hill berlindung di desa Petit-Rosselle. Mereka berharap untuk dapat menyeberangi sungai dan bergabung kembali dengan unit mereka begitu serangan musuh melewati mereka. Tetapi ketika seorang prajurit infanteri Jerman yang penasaran menemukan tempat persembunyian mereka, para prajurit Amerika tidak punya pilihan selain harus bertempur untuk menyeberang. Melindungi pelarian anak buahnya dengan senapan M1, Hill menembak tujuh penembak senapan mesin musuh sebelum mencapai tempat perlindungan di parit panjang yang mengarah ke wilayah pasukan kawan. Para prajurit kavaleri pimpinan Hill semua berhasil kembali dengan selamat, meskipun hal itu membuat semua orang kedinginan, mati rasa, dan terguncang. Kolonel Wilson kemudian menyebut aksi penundaan yang keras kepala dari Hill sebagai “pertahanan menentukan yang mencegah Jerman mencapai tujuan mereka menjepit Grup pasukannya.” Untuk tindakannya ini Hill menerima medali Distinguished Service Cross, penghargaan tertinggi kedua di Amerika untuk keberanian, tetapi ia tidak akan menerimanya hidup-hidup. Ia kemudian tewas dalam pertempuran di dekat Sternberg, Jerman, pada 8 April 1945.

TENTARA JERMAN BERTAHAN DI BUKIT-BUKIT YANG MEREKA KUASAI

Anggota CRS ke-121 lainnya juga menyeberangi Rossel menuju ke tempat yang aman. Beberapa awak tank, bagaimanapun, menolak untuk meninggalkan kendaraan mereka hanya karena jembatan itu berada di tangan musuh. Untungnya bagi mereka, beberapa pasukan zeni tempur siap sedia untuk membuat jembatan darurat dari balok-I dan pintu gudang tua. Jembatan yang mereka buat terbukti cukup kokoh untuk dilewati oleh tank Stuart seberat 17 ton. Serangan malam hari dari Divisi Infanteri ke-347 Jerman telah mendorong garis pertahanan Kolonel Wilson mundur lebih dari satu mil (1,6 km) dan merebut kedua sasaran di puncak bukit. Kemajuannya yang cepat juga menyebabkan kekacauan di area belakang Resimen ke-106, memaksa markas grup dan unit artileri yang diperbantukan untuk mengungsi. Ini berarti unit meriam dan mortir kimia ini bergerak mundur pada saat dibutuhkan. Namun, menjelang fajar, semua mortir kaliber 4,2 inci dan howitzer kaliber 105mm kembali beraksi. Bekerja dengan meriam serbu pasukan kavaleri, mereka membantu memperlambat kemajuan tentara Jerman dan memberi waktu bagi pasukan untuk menduduki posisi tempur sekunder. Bantuan tambahan kemudian datang dari unit artileri Korps ke-XX, yang melakukan tembakan counterbattery terhadap penempatan meriam musuh dengan meriam besar kaliber 8 inci (203 mm). Serangan itu terjadi pada pertengahan pagi di Hari Tahun Baru. Sementara duel artileri berkecamuk, prajurit infanteri Jerman dengan panik menggali parit pertahanan di tanah tinggi yang baru saja mereka rebut. Para prajurit yang sebelumnya berpengalaman menghadapi pertempuran memperingatkan rekan-rekan mereka bahwa serangan balik pasukan Amerika tidak lama akan datang. Mereka benar.

Kota Ludweiler, Jerman yang tertutup salju, tampak tenang di tengah perang. Foto ini diambil dari sudut pandang sebuah gereja yang menghadap ke kota pada tanggal 8 Januari 1945, dari sektor yang diduduki oleh pasukan Kavaleri ke-106 AS. Pasukan Jerman mempertahankan area hutan yang terlihat di kanan atas. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

SERANGAN BALIK PASUKAN AMERIKA

Pasukan C dari CRS ke-121 melancarkan serangan tergesa-gesa di Bukit 283 pada sore hari, tetapi dibalas dengan tembakan besar. Musuh, setelah bertempur begitu keras untuk mengambil tempat ini, tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Kolonel Wilson tahu situasi menuntut tanggapan yang lebih berat saat pagi, tetapi apakah dia memiliki kekuatan tempur untuk mencapainya? Pekerjaan itu lalu diberikan kepada Pasukan A, CRS ke-106. Tepat setelah tengah hari pada tanggal 2 Januari, pasukan kavaleri berjalan kaki menuju Bukit 283 sementara meriam howitzer AS menggempur targetnya. Satu peleton tank menemani mereka. “Tidak ada perlawanan sampai kami mendekati tepi hutan yang jauh,” kenang seorang sejarawan unit. “Kemudian tentara Jerman mulai menembakkan senjata artileri. Kemajuan berhenti sementara dan orang-orang mencari perlindungan di lubang perlindungan dan parit dan di balik pohon-pohon besar.” Begitu tembakan meriam berhenti, para perwira memimpin tentara mereka dan bergerak lagi. “Orang-orang dari peleton kedua dan ketiga maju dengan empat tank ringan,” kenang seorang prajurit. “Semuanya tampak baik-baik saja pada awalnya. Para awak tank itu membuka jalan dan merobohkan 10 atau 15 orang Jerman.” Kemudian serangan musuh lainnya menghantam, menjepit pasukan Amerika sejauh 25 yard (22 km) dari sasaran mereka. Sebuah senapan mesin mulai menembaki sayap kanan Pasukan A, dan orang-orang mulai berjatuhan. Ketika tembakan artileri melumpuhkan salah satu tank mereka, para GI mulai mundur. Satu prajurit kavaleri tewas dan 12 terluka dalam serangan yang gagal ini. Sementara itu Pasukan C dari CRS ke-106 menikmati kesuksesan yang lebih baik di sebelah utara. Sore itu mereka berhasil mengamankan Wadgassen, membangun kembali hubungan dengan Korps ke-XX Patton. Juga pada tanggal 2 Januari, Divisi Infanteri ke-103 mengambil tanggung jawab atas tiga mil front yang sebelumnya diawasi oleh personel CRS ke-121. Ini memungkinkan anak buah Wilson untuk memusatkan perhatiannya pada medan utama di sekitar Ludweiler. Upaya terakhir untuk mendesak musuh dari Bukit 283 terjadi pada pukul 1300 pada tanggal 3 Januari, ketika pasukan kavaleri dari Pasukan B, CRS ke-121 turun untuk merebut persimpangan jalan di tepi timur kota. Khawatir bahwa dia sedang berjalan menuju penyergapan, Letnan Robert J. Moore menggerakkan peletonnya ke deretan rumah. Saat itu mortir berukuran 4,2 inci pasukan Amerika meledak di luar. Tembakan pendek itu kemudian memperingatkan para pengamat Jerman akan serangan Moore. Tembakan musuh segera menambah kesengsaraan letnan itu. “Pasukan saya sudah berlindung,” tulis Moore kemudian, “ketika saya memutuskan untuk keluar dari jebakan ini secepat mungkin.” Semburan tembakan artileri berat mengikuti anak buahnya saat mereka berlari. “Peluru-peluru memantul dari setiap rumah yang saya lewati,” kenangnya. “Tembakan artileri Jerman mengikuti gerakan mundur kami dan mereka melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Mereka adalah kru yang sangat terlatih dengan pengamatan dan kontrol penembakan yang sangat baik. ” Letnan Moore mengatakan musuh menembakkan sekitar 480 peluru artileri ke peletonnya hari itu. Hanya satu prajurit kavaleri yang menderita luka ringan, tetapi pecahan peluru “menghancurkan” kompor gas berharga yang dibawa Moore sejak dari Normandia. Dia meratapi hilangnya kompornya selama berminggu-minggu.

Pasukan Kavaleri Amerika yang bersenjata ringan dan unit lapis baja dari Skuadron Resimen Kavaleri ke-106 melawan pasukan Jerman lewat aksi penundaan yang lama di Ludweiler, Jerman, selama Operasi Nordwind. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Tank ringan Stuart adalah kendaraan pengintai yang luar biasa tetapi meriam utamanya yang berkaliber 37mm tidak berguna melawan tank-tank Jerman. Skuadron dari Resimen Kavaleri ke-106 menerjunkan Stuart sampai musim semi 1945, ketika tank medium dengan meriam kaliber 75mm tersedia. Foto ini diambil di Ludweiler, Jerman. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

AKSI PENUNDAAN YANG BERHASIL OLEH KOLONEL WILSON

Setelah tanggal 4 Januari, baik orang Amerika maupun Jerman di sekitar Ludweiler tampak puas untuk bertahan di tempat yang mereka duduki. Tidak ada pihak yang memiliki kekuatan tempur yang cukup untuk melakukan serangan lanjutan, dan pihak yang berperang juga tidak mau meninggalkan medan yang mereka kendalikan. Lebih jauh ke timur, serangan utama Nordwind juga dihentikan. Setelah menghantamkan diri mereka sendiri terhadap garis pertahanan utama Korps ke-XV selama tiga hari, pasukan Jenderal Blaskowitz akhirnya menangguhkan semua aktivitas ofensif. Pertempuran sesekali akan berkobar kemudian pada bulan Januari, tetapi segera menjadi jelas bahwa serangan terakhir Hitler di Front Barat telah berakhir dengan kegagalan total. Di sisi lain, Letnan Jenderal Trierenberg dari Divisi Infanteri ke-347 sangat puas dengan kinerja prajuritnya selama serangan Malam Tahun Baru mereka. Pasukan infanteri Jerman berhasil merebut dan mempertahankan semua sasaran yang ditetapkan dengan menghadapi perlawanan yang keras, dalam proses merebut medan tempur utama, beberapa lusin tahanan, dan banyak peralatan yang ditinggalkan. Tidak ada catatan korban di pihak Jerman yang bisa didapat. Kemungkinan jumlah korban tewas dan terluka cukup besar, mengingat penembakan terus-menerus yang dialami pasukan Trierenberg saat bertempur. Di sisi lain komandan Grup Kavaleri ke-106 juga bisa membanggakan aksi anak buahnya. Ditempatkan pada garis yang sangat terentang panjang, pasukan ringan pimpinan Kolonel Wilson dengan gigih melawan kekuatan penyerang yang melebihi jumlah mereka setidaknya tiga banding satu. Pasukan kavaleri kemudian juga berhasil melepaskan diri di bawah tembakan di malam hari, tugas yang paling berat, dan menduduki posisi mundur dari mana mereka tidak bisa diusir. Pertempuran mereka di Ludweiler terbukti sebagai sebuah aksi penundaan yang dieksekusi dengan luar biasa.

Pada tanggal 2 Januari 1945, sehari setelah Angkatan Darat Jerman melancarkan Operasi Nordwind, para pasukan zeni dari Skuadron Resimen Kavaleri ke-106 mempersiapkan penghalang jalan untuk memperlambat kemajuan musuh setengah mil dari kota Ludweiler, Jerman. Pertempuran di Ludweiler terbukti sebagai sebuah aksi penundaan yang dieksekusi dengan luar biasa oleh pasukan Amerika. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Tank ringan M24 Chaffee baru yang dibagikan untuk Resimen Kavaleri ke-106 pada bulan Februari 1945. Meriam kaliber 75 mm-nya jauh lebih unggul daripada meriam kaliber 37 mm milik tank Stuart. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pertempuran Malam Tahun Baru ini merenggut 10 nyawa orang-orang Amerika dengan 33 orang lainnya terluka. Sebagai tambahan 48 GI dilaporkan hilang dalam pertempuran, meskipun sebagian besar dari orang-orang ini kemudian berakhir di kamp penjara Jerman. Selama sisa bulan Januari, pertempuran di front Ludweiler sebagian besar terdiri dari aksi patroli kecil dan serangan artileri sesekali. Pada tanggal 9 Februari 1945, Grup Kavaleri ke-106 keluar dari garis depan untuk beristirahat, yang pertama sejak memasuki pertempuran pada bulan Juli. Mengambil posisi yang mereka tinggalkan adalah Resimen Kavaleri ke-101 yang baru tiba, yang merebut kembali Bukit 283 pada 13 Maret. Dua hari kemudian Grup Kavaleri ke-106, yang telah disegarkan dan dilengkapi kembali dengan tank ringan M24 Chaffee baru, bergabung dengan Korps ke-XV untuk melancarkan dorongan terakhirnya ke arah Rhineland. Sekali lagi menempati posisi sayap kiri korps, pasukan Wilson maju dengan cepat melintasi Jerman selatan selama 10 minggu pertempuran tanpa henti. Di akhir perang mereka menemukan dirinya ada di Salzburg, Austria, setelah berkendara sejauh 1.700 mil (2.735 km) melintasi Eropa sejak mendarat di Normandia 10 bulan sebelumnya. Penundaan mereka di Ludweiler, bagaimanapun, mungkin merupakan saat-saat terbaik dari Resimen ke-106. Mayor Jenderal Haislip, orang yang memberi mereka misi yang menantang itu, mengungkapkan keyakinannya pada pasukan Kolonel Wilson sebagai berikut: “Grup Kavaleri ke-106 nilainya lebih dari sebuah divisi bagi Korps XV.” Selalu ada di garis depan, kavaleri mekanis di masa Perang Dunia II senantiasa dapat diandalkan untuk mengambil pekerjaan terberat dan menyelesaikannya meski dengan menghadapi rintangan besar. Sementara itu, saat para sejarawan telah banyak menganalisis Pertempuran Bulge, Operasi Nordwind sebagai ofensif besar terakhir Jerman di front barat relatif terlupakan sejarah Perang Dunia Kedua.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

New Years Battle at Ludweiler: Delaying Operation Nordwind By Patrick J. Chaisson

Operation Nordwind: The Last Large-Scale German Offensive by Madeline Hiltz

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/war-articles/operation-nordwind.html/amp%3Fcsplit%3Dheader%26cmp_ab%3Dquantcast

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Northwind_(1944)

Time life World War II series: The Battle of the Bulge by William K.Goolrick & Ogden Tanner, 1981; p 186

The Supreme Commander: The War Years of Dwight D. Eisenhower by Stephen E. Ambrose, 1970, p 578

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *