Pawai ke Baghdad 1941, Momen Krusial Dalam Perang Dunia II, Yang Terlupakan
Dengan Rommel bergerak menuju Mesir dan Inggris diusir keluar dari Yunani, kudeta pro-Nazi yang datang tiba-tiba di Irak mengancam meletakkan ladang minyak yang kaya dan lebih banyak lagi di kaki Jerman. Pada musim semi 1941, peristiwa di Timur Tengah tiba-tiba meledak dalam krisis bagi Inggris Raya. Pada tanggal 24 Maret, Letnan Jenderal Erwin Rommel, yang segera dikenal sebagai “Rubah Gurun” yang legendaris dengan Korps Afrika-nya memberikan kekalahan pertamanya kepada Inggris di El Agheila di Libya. Itu hanyalah awal saja. Pada tanggal 12 April, Rommel akan mendesak British Tommies (tentara Inggris) yang tertekan kembali ke pintu gerbang Mesir, sembari mengancam Terusan Suez yang vital. Juga pada bulan April, Tentara Kedua Belas Jerman akan menaklukkan Yunani dalam kampanye kilat selama tiga minggu, memaksa evakuasi besar-besaran pasukan Inggris ke pulau Kreta hanya untuk diusir sekali lagi oleh invasi udara Jerman.

BERBAGAI IMPLIKASI DARI PUSTCH DI IRAK
Saat berbagai peristiwa ini berlangsung, pukulan yang lebih buruk datang. Pemerintah Irak yang pro-Inggris digulingkan dalam kudeta pada tanggal 1 April oleh Rashid Ali al-Gailani yang sangat pro-Jerman dan dengan didukung oleh 4 orang kolonel yang anti Inggris. Perdana Menteri Irak, Nuri al-Said (Nuri as-Said, yang bertempur bersama Lawrence dan Faisal di Arab, adalah tokoh politik dominan negara itu sebagai menteri pertahanan (1923-1930), perdana menteri (1930-1932), menteri luar negeri (1933-1936), kemudian sebentar lagi menjadi perdana menteri dari bulan Februari-April 1940) harus melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya, sementara Duta Besar Inggris, Sir Kinahan Cornwallis, disandera di kedutaan. Rashid Ali kemudian membuat “ancaman kepada Duta Besar untuk memotong tenggorokan orang-orang Inggris jika ada bom yang dijatuhkan di Baghdad,” kenang perwira Inggris Somerset de Chair, yang akan memainkan peran penting dalam drama yang akan datang. Pada tanggal 3 April, Rashid Ali secara terbuka menyatakan akan menghormati kesepakatan Inggris-Irak. Namun dibelakang layar, ia membuat kesepakatan dengan Jerman. Wakil Jerman menyatakan bahwa waktunya sudah dekat, dimana bantuan militer Jerman akan dikirimkan melalui Syria. Berlin tinggal mengurus detail cara-caranya dengan pemerintah Prancis Vichy di Syria. Putsch Irak adalah pukulan yang menghancurkan bagi Inggris di Timur Tengah, terutama ditambah dengan kemenangan spektakuler Rommel si Rubah Gurun di Afrika Utara, karena nilai penting Irak, yang kedua setelah Mesir, untuk kelangsungan hidup kekuatan Inggris di seluruh wilayah. Alasan pentingnya Irak bagi Inggris sederhana. Siapa pun yang menguasai Irak akan duduk mengangkangi rute darat penting antara Mesir dan India, permata paling berharga di Mahkota Kerajaan Inggris. Sama pentingnya, siapa pun yang menguasai Baghdad, ibu kota Rag dalam dongeng Arabian Nights, dapat memutuskan jalur pipa minyak vital yang mengalir melintasi gurun ke laut Mediterania dan dari Iran ke pelabuhan Basra di Teluk Persia Irak, dari mana kapal-kapal tanker besar membawa barang-barang berharga, yakni bahan bakar yang sekarang menjadi ‘darah kehidupan’ Inggris dan Kekaisarannya. Rommel, yang tangki panzernya bergantung pada minyak, juga menyadari nilai cadangan minyak yang luas di Timur Tengah. “Pada tahun 1939,” tulisnya, “Persia dan Irak bersama-sama menyediakan sekitar 15 juta ton minyak mineral, dibandingkan dengan Rumania yang 6,5 juta ton.” Rumania adalah lokasi ladang minyak terkenal yang dikuasai Jerman di Ploesti, yang menjadi sasaran pengeboman berat Sekutu selama perang. Sejak Perang Dunia I menggulingkan kekuasaan Turki Utsmani, keharusan memiliki pemerintahan yang bersahabat di Bagdad telah menjadi landasan kebijakan Inggris di Timur Tengah. Liga Bangsa-Bangsa telah memberikan Irak, seperti Palestina, kepada Inggris sebagai wilayah mandat—hampir seperti koloni, tetapi secara teknis di bawah pengawasan Liga Bangsa-Bangsa. Ketika T.E. Lawrence membantu Winston Churchill menjadi perantara kepentingan Inggris di Timur Tengah, Emir Feisal, pemimpin Lawrence dalam Pemberontakan Arab yang terkenal, diangkat di Baghdad sebagai raja. Untuk memastikan pemerintahan Feisal (dan melindungi kepentingan Inggris), Inggris berpatroli di gurun Irak yang luas dan mengamati suku Baduinya dengan menggunakan pesawat-pesawat Angkatan Udara Kerajaan (RAF) dari udara dan mobil-mobil lapis baja Rolls-Royce di dataran gurun.



RENCANA JERMAN UNTUK TIMUR TENGAH
Tapi kudeta Rashid Ali al-Gailani di bulan Maret 1941, yang dipimpin oleh masyarakat rahasia “Lapangan Emas (Golden Square)”, telah menggulingkan tatanan yang mapan ini. Bagi Rommel, kemungkinan adanya penguasa pro-Poros di Irak yang kaya minyak adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Dengan dukungan yang cukup dari Hitler (yang, untungnya bagi Sekutu Barat, tidak pernah terwujud, karena perhatian Führer terfokus pada serangan yang akan datang ke Uni Soviet), Rommel membayangkan Korps Afrika-nya menyerang melintasi Timur Tengah untuk merebut ladang-ladang minyak dan kemudian, dengan banyak bahan bakar untuk armada panzernya, siap untuk menyerang, jika perlu, langsung ke wilayah Rusia. Dalam prosa ketentaraannya yang tajam, Rubah Gurun menguraikan rencana kampanyenya dalam sebuah catatan untuk dirinya sendiri yang akan digunakan sebagai memoar pasca-perang: “Kita bisa saja mengalahkan dan menghancurkan Tentara Lapangan Inggris, dan itu akan membuka jalan menuju Terusan Suez.… Dengan seluruh garis pantai Mediterania di tangan kita, perbekalan bisa dikirim ke Afrika Utara tanpa gangguan. Maka akan mungkin untuk mendesak maju ke Persia (sekarang Iran) dan Irak untuk memotong Rusia dari Basra (yang menjadi sumber utama perbekalan untuk Rusia setelah Hitler menyerbu), menguasai ladang-ladang minyak dan membuat basis untuk serangan ke kawasan Rusia selatan.” Singkatnya, penaklukan Rommel atas ladang minyak Timur Tengah “dengan demikian akan menciptakan kondisi untuk mencapai kemenangan di Rusia.” Tapi Jerman telah melakukan lebih dari sekedar mimpi penaklukan Timur Tengah. Dasar plot telah diletakkan dengan sangat hati-hati. Agen rahasia Jerman, mata-mata untuk Abwehr pimpinan Laksamana Wilhelm Canaris yang terkenal, telah dengan hati-hati menyusup ke Irak, di bawah pengawasan Inggris, mengobarkan ketidakpuasan dan membangun dukungan untuk kandidat penguasa sekutu mereka, Rashid Ali. Sebuah pangkalan sudah siap di negara tetangga di Persia, di mana koloni Jerman—dan pro-Nazi—yang cukup besar sudah ada.


Somerset de Chair telah meninggalkan gambaran yang tidak menyenangkan tentang apa yang terjadi di dalam negeri tetangga Persia. “Kami segera menyadari bagaimana aliran persenjataan Jerman ke Persia, melalui Turki, telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir.… Kami memeriksa dengan cermat pendirian Kolom Kelima (simpatisan musuh) Jerman di Persia, di mana 4.000 orang dalam berbagai profesi diorganisir di bawah Gauleiters (pemimpin Partai NAZI) dan dapat dimobilisasi melalui telepon. Pada manuver terbaru Angkatan Darat Persia telah menunjukkan penggelaran sembilan puluh tank; dan kami tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa Jerman akan ‘meminjam’ ini dari Persia untuk memperkuat Irak.” Tentara Jerman diketahui telah membentuk dua unit khusus yang terlatih dan siap membantu Irak, kompi Brandenburg ke-287 dan ke-288 (Kompi ke-288 dikomandoi oleh Kolonel Menton, teman lama Rommel dari Perang Dunia I). Bahayanya sudah jelas, dan semakin parah. Jelas bahwa sesuatu harus dilakukan terhadap Rashid Ali di Bagdad. Pada saat genting inilah salah satu kampanye Perang Dunia II yang paling menarik dan paling tidak diketahui diluncurkan—Yakni kisah Kingcol dan pergerakan Tentara Inggris menuju Baghdad.
PELUNCURAN ‘KINGCOL’ DAN GLUBB PASHA YANG LEGENDARIS
Masih menghadapi Korps Afrika yang bertekad menaklukkan ‘Tanah Firaun’, Inggris dengan berani mengumpulkan kekuatan ofensif untuk maju ke Baghdad. Dipimpin oleh Brigadir. Jenderal Joe Kingstone, yang menurut de Chair dianggap oleh beberapa orang sebagai “Brigadier tempur terbaik di Angkatan Darat Inggris,” memimpin pasukan Inggris yang berkumpul untuk menjalani petualangan ala Arabian Nights. Satuan ini kemudian disebut King Column, atau disingkat “Kingcol”, yang mengambil sebagian namanya dari nama pemimpinnya. Pasukan yang lebih ‘berwarna’ seperti ini belum pernah dikumpulkan bersama di Timur Tengah sejak masa Lawrence of Arabia, menunggangi unta balap pasukannya, mengerahkan orang-orang Badui untuk berperang melawan Turki. Para prajurit yang akan terlibat dalam perjalanan sejauh 750 mil (1.207 km) yang membakar melintasi gurun pasir dari wilayah Palestina adalah tentara dari beberapa resimen tertua di Angkatan Darat Inggris — bertempur dengan Duke of Marlborough yang agung — berdiri di samping para prajurit dari beberapa unit paling eksotis yang dikerahkan untuk menjaga perbatasan kerajaan Inggris yang luas, yang sekarang dipimpin oleh keturunan Marlborough, Winston Churchill. De Chair menggambarkan iring-iringan penuh warna dan unik ini: “Kami adalah kerumunan yang beraneka ragam. Unit His Majesty’s Life Guards dan Royal Horse Guards berdesak-desakan di truk tentara yang mengangkut mereka di samping para Badui Legiun Arab—Patroli Gurun pimpinan Glubb Pasha, berbalut jubah mencolok, yang berlomba dengan truk ringan yang dipersenjatai dengan senapan mesin Lewis,” seperti komando Long Range Desert Group pimpinan David Stirling yang bertarung melawan Rommel lebih jauh ke barat.



Dari semua barisan yang dipimpin oleh Kingstone yang cakap, tidak ada yang lebih eksotis daripada Legiun Arab, lebih-lebih lagi komandannya yang legendaris Sir John Bagot Glubb, atau Glubb Pasha (pasha adalah gelar Turki kuno yang secara longgar berarti “komandan” atau “pemimpin”). Hanya kalah dramatis dibanding Lawrence dalam sejarah Kerajaan Inggris di Timur Tengah, saat itu Glubb Pasha adalah syekh dari prajurit Legiun Arab. Dia telah mengambil alih komando Legiun pada tahun 1939 dari F.G. Peake, yang telah membentuk korps gurun ini. Selama Perang Dunia I, Peake pertama kali berada di Korps Unta Mesir, dan kemudian dikirim untuk bertugas di bawah T.E. Lawrence dalam Pemberontakan Arab. Setelah perang, Peake mengabdi pada saudara laki-laki Feisal, Abdullah, yang memerintah sebagai Emir, dan kemudian sebagai Raja, dari negara Arab Transyordania, yang sekarang menjadi bagian dari Kerajaan Yordania. Legiun Arab dibentuk untuk mengendalikan suku-suku Badui di wilayah barunya, dan untuk mempertahankannya dari ancaman orang-orang luar. Di bawah kepemimpinan Peake, dan kemudian Glubb, Legiun Arab segera memperoleh reputasi yang begitu mengagumkan sehingga orang-orang Arab dari seluruh wilayah berbondong-bondong untuk bergabung. Larry Collins dan Dominique Lapierre telah menggambarkan Glubb Pasha dalam buku 0, Jerusalem, catatan mereka tentang kelahiran Israel, pada tahun 1948. “Namun dari semua orang Inggris yang telah mengikuti jejak tuan (Lawrence) di timur, dia tidak diragukan lagi adalah yang terbesar. Tidak ada orang Barat yang masih hidup yang menguasai seluk-beluk dialek Badui sehebat Glubb. Dia bisa mendengar sejarah Badui dalam infleksi aksennya dan membaca karakternya di lipatan kafriyeh (hiasan kepala)-nya. Dia tahu mengenai berbagai pengetahuan Badui, adat istiadat mereka, struktur suku mereka, serta jaringan rumit hukum tidak tertulis yang mengatur kehidupan mereka.”

KINGCOL MEMULAI PERGERAKANNYA
Pada tanggal 2 Mei 1941, 2.000 personel Kingcol dengan 500 truk, yang dibebani dengan pengetahuan tentang kekalahan Inggris di seluruh Timur Tengah, dan seperti tentara abad pertengahan dari masa Perang Salib, mulai bergerak maju. Di barisan depan dengan mengendarai truk-truk Ford berlapis baja ringan adalah orang-orang Badui bermata elang dari Legiun Arab Glubb yang mengintai tanda-tanda pasukan Irak yang memberontak. Segera Somerset de Chair dan Kingcol menyusul Legiun di oasis gurun Rutbah, yang tangki airnya berkapasitas 10.000 galon, menjadikannya tempat penting bagi Inggris untuk menampung air di gurun pasir yang kering air. Dengan ini Inggris telah bertempur—dan menang—pertempuran pertama dalam perang untuk memiliki oasis ini. Pada tanggal 9 Mei Fawzi Qawukji, pemimpin petempur Irak, telah mempertahankan Rutbah dengan senapan-senapan mesin dan seratus anggota Polisi Gurun Irak, yang seperti Legiun Arab yang dipersenjatai dan sempat dilatih oleh Inggris. (Lima puluh tahun kemudian, tentara Irak Saddam Hussein juga akan memakai beberapa senjata Baratnya untuk melawan Kekuatan Barat yang sama yang telah mempersenjatainya.) Keesokan harinya, tanggal 10 Mei, seperti yang dilaporkan Glubb kepada Brigadir Kingstone, Qawukji “bertempur melawan mobil-mobil lapis baja RAF, sebagai akibatnya ia mundur ke timur pada malam hari dan kontak belum terjalin kembali.” Suku Badui, bagaimanapun, tidak bergabung dengan orang-orang Irak dalam pertempuran, karena kesetiaan mereka kepada Glubb Pasha, yang disebut “Abu Hunaik” oleh suku-suku, terbukti terlalu kuat. Qawukji, bagaimanapun, adalah musuh lama Inggris: Dia telah memenangkan medali Salib Besi kelas dua saat berperang melawan mereka di Angkatan Darat Turki selama Perang Dunia I.



Di Rutbah, Glubb dijanjikan bantuan udara dari RAF yang terbang dari pangkalan udara H-4, jadi pasukannya beristirahat dan membentuk perimeter pertahanan. Tiba-tiba pesawat RAF muncul dan menjatuhkan beberapa bom. Seorang pilot RAF lalu menjatuhkan pesan agar pasukan Glubb menyerah. “perang ini terlalu mudah.” tulis Glubb kemudian. “Kita bahkan belum menembakkan satu tembakan pun.” Saat Kingcol beristirahat selama dua hari di Rutbah sebelum perjalanan selanjutnya di gurun, Somerset de Chair, perwira intelijen ekspedisi (dia pernah melakukan pekerjaan yang sama melawan Rommel), menerima beberapa berita yang mengganggu: “Tujuh pesawat tak dikenal telah melewati Aley, dekat Beirut, menuju Irak,” kenang de Chair. “17 lainnya dilaporkan sedang mengisi bahan bakar di Mezze. Kami tahu mereka orang Jerman. Apakah ini unit terdepan Divisi Lintas Udara ke-22 yang saya tahu siap beraksi? Apakah itu akan dikirim melalui wilayah (Perancis Vichy) Suriah untuk membantu Irak, yang dijanjikan bantuan Jerman setiap jam oleh propaganda Axis?” Lebih buruk lagi, “salah satu pilot kami yang melakukan pengintaian di Mosul (di ladang-ladang minyak Irak utara) telah ditembaki oleh sebuah pesawat tempur Me-110.” Apakah Wehrmacht sudah bergabung dalam pertempuran di pihak 40.000 tentara Irak yang bermusuhan? Jika demikian, keadaan akan menjadi lebih buruk bagi pasukan Inggris lainnya daripada pasukan de Chair dan Kingcol. Berada di bandara di Habbaniya di Sungai Efrat sebelah barat Baghdad adalah detasemen RAF, dengan pesawat-pesawat dan mobil lapis bajanya, 1.500 tentara sekutu Assiria di bawah komando Inggris, dan satu batalion King’s Own Royal Regiment (KORR) Inggris. Mereka telah menghalau serangan orang-orang Irak dengan melakukan pengeboman di ketinggian bukit-bukit pasir, tetapi pasukan Inggris di Habbaniya akan berada dalam bahaya serius jika Pasukan Lintas Udara ke-22 Jerman memasuki pertempuran—lapangan udara mereka akan menjadi target utama. Juga terancam adalah pasukan Inggris lainnya, pasukan India, yang saat ini diblokade di pelabuhan Basra.
URGENSI UNTUK MENCAPAI BAGHDAD DENGAN CEPAT MENINGKAT
Lebih dari sebelumnya, Kingcol harus bergerak cepat untuk sampai ke Bagdad sebelum orang-orang Jerman. De Chair mengingat dalam catatan pribadinya, The Golden Carpet, “kemajuan nyata sekarang terbentang di depan kita. Kami dihadapkan dengan hamparan gurun tanpa air, sekitar 200 mil (321 km) ke tepi Danau Habbaniya, yang dialiri oleh sungai Efrat. Tapi Ramadi di sudut barat laut danau dipertahankan oleh satu atau mungkin dua brigade tentara Irak (dua ternyata) dan juga dikelilingi oleh wilayah banjir alami.” Sebuah gorong-gorong panjang di jalan antara Ramadi dan Habbaniya telah diledakkan oleh para personel unit zeni Irak untuk memblokir bantuan dari Kingcol bagi pasukan Inggris yang dikepung. Sekarang, pasukan di Habbaniya dengan buru-buru membangun “jembatan alternatif” di atas air yang banjir sehingga Kingcol bisa datang untuk menyelamatkan mereka. Tetapi, seperti yang dicatat oleh de Chair dengan kekhawatiran, “Jika jembatan-jembatan ini dibom oleh Jerman sebelum kami bisa menyeberang, kami tidak akan dapat membebaskan garnisun Angkatan Udara sama sekali.” Oleh karena itu, Kingcol tidak membuang waktu untuk melintasi padang pasir dalam perlombaan melawan pergerakan Jerman. Masih mempertahankan tradisi kuno Tentara Inggris, unit Life Guards dan Royal Horse Guards, “Unit Household Cavalry, harus memimpin, dengan satu truk penuh ‘Gadis-gadis’ Glubb (sebutan Inggris bagi Legiun Arab karena jubah Baduinya yang panjang.) untuk memandu mereka.” Jadi Kingcol bergerak, “mengumpulkan kecepatan menembus awan debu di jalur misterius menuju ke utara, didorong oleh pergerakan orang-orang Badui yang menjadi pemandu mereka.”

Di sepanjang jalur yang dipetakan oleh orang Inggris pertama yang menjelajahi gurun dengan menunggang unta, para prajurit Kingcol bergerak melewati panas yang berkilauan. De Chair merencanakan arah mereka, meskipun dengan rute kasar yang ditetapkan oleh para penunggang unta pemberani itu sebagai pemandu, dia tidak yakin dia menuju ke mana dia seharusnya. “Saya akan pergi ke Baghdad, tetapi saya berdoa kepada beberapa dewa pada interval yang ditentukan untuk membawa saya ke sana melalui rute yang benar.” Namun, segera, ketakutan de Chair terhadap pergerakan pasukan yang “mengalir ke Rutbah lagi menuju ke garis depan yang luas, saat matahari terbenam menutupi barisan yang panjang dan melelahkan,” disusul oleh tragedi yang jauh lebih parah. Saat naik ke ketinggian, dia melihat kembali ke barisan Kingcol, yang meliuk-liuk 20 atau 30 mil (32-48 km) di belakangnya seperti naga berlapis baja panjang, dan kemudian “tiba-tiba aku melihat, dengan mata terkejut, dua bunga tulip hitam dari asap yang mekar jauh di bawah garis cakrawala, dan, sementara ledakan bom masih melayang di udara, saya melihat kilatan putih-panas api tembakan senjata anti-pesawat mengalir ke atas melintasi mereka. Kami akhirnya ditemukan.” Bom dari pesawat tak dikenal—Irak, atau Jerman, orang-orang Inggris tidak yakin—telah menemukan sasarannya. “Sebuah truk dari Resimen Essex telah dibom, dan beberapa orang terbunuh.” Jika serangan bom hanyalah awal dari serangan sebuah pesawat besar, Kingcol akan dengan putus asa terekspose di gurun yang datar tanpa bisa memberi perlawanan berarti. Barisan itu terpaksa menggali parit perlindungan setiap kali berhenti karena takut serangan udara menyerang dari langit gurun yang tak berawan, “semua ini dalam cuaca yang tidak memungkinkan untuk menyentuh logam di mana termometer mencapai suhu 118 derajat Fahrenheit (47 derajat Celcius). Di bawah sinar matahari, logam itu tampak menjadi berpijar. Para prajurit terpaksa mengenakan kain, saputangan kotor, apa pun yang bisa mereka pegang untuk menggunakannya.”
MISI ADA DALAM BAHAYA
Tiba-tiba, pada saat yang paling buruk ini, serangkaian bencana mulai mendatangi pasukan Inggris. Brigadir Kingstone mengeluarkan perintah “untuk memulai pergerakan barisan dengan panduan kompas yang harusnya bisa membawanya ke Wadi Abu Farouk (sebuah “wadi” adalah dasar sungai yang kering), di mana ia akan berbelok ke barat sampai menemui area banjir selatan Danau Habbaniya di Mujara,” lebih dekat lagi ke Baghdad. Tetapi ketika barisan itu mencapai suatu titik sekitar 14 mil (22 km) sebelah barat Ramadi, dari tempat yang seharusnya berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Bagdad, semuanya tampak menjadi salah. Pertama, mungkin karena merasakan efek dari panas yang membakar, de Chair dan para komandan Kingcol lainnya, seperti Mayor May dari Resimen Essex, tidak yakin jalan mana yang harus diikuti oleh kompas mereka, faktor kritis adalah ketika adanya kesalahan walau hanya beberapa derajat saja, mungkin bisa menempatkan mereka menyimpang bermil-mil dari rute seharusnya. Kemudian, akhirnya dengan memutuskan menggunakan arah kompas tertentu, akhirnya mengarahkan mereka ke jalur terbaik menuju ke Wadi Abu Farouk, barisan itu berbelok ke gurun—hanya untuk menemukan bahwa bukit-bukit pasir disana tidak mendukung truk-truk berat. Dipencarkan karena takut akan serangan udara, segera “kendaraan-kendaraan pasokan besar ada di mana-mana menggelepar di pasir yang lembut,” kata de Chair. Mereka yang telah bergerak punggung bukit yang tajam dan sekarang bertumpu pada as-nya, sementara kru mereka bekerja dalam panas yang berat untuk menggali pasir untuk membebaskan mereka. ” Pada saat yang sama, rasa haus mulai untuk pertama kalinya menjadi masalah serius bagi para prajurit Kingcol yang sudah menderita.

Situasi, terutama kekurangan air, menjadi sangat mengkhawatirkan sehingga Kingstone terpaksa mempertimbangkan untuk meninggalkan seluruh misi. Di dewan perang, brigadir itu memberi tahu de Chair dan perwira lainnya bahwa “kami memiliki persediaan air yang (hanya) cukup untuk tinggal di sini satu hari lagi. Setelah itu kita (harus) pergi atau kembali.” Kemudian dia berbicara kepada Glubb, “Aku ingin ‘gadis-gadismu’ membantu kami menemukan rute alternatif.” Keesokan paginya, tiga regu pengintai Legiun Arab berlomba mencari jalur yang lebih baik untuk diikuti, dan Somerset de Chair dikirim untuk mencari air. Rasa haus menjadi masalah yang lebih penting dengan setiap jam matahari berdiri di atas kepala. Seperti yang disadari oleh de Chair, dia dan para pencarinya mungkin akan bertemu dengan orang-orang Badui, yang juga akan mencari air untuk diri mereka sendiri dan ternak mereka. Penerjemah mereka, seorang pria bernama Reading, menyarankan, untuk berjaga-jaga, bahwa mereka harus berpura-pura menjadi tentara Irak jika ada gembala yang menemukan mereka. Reading terbukti benar, dan untuk alasan yang tepat, karena orang-orang Badui ini adalah musuh Inggris. Menemukan satu orang Badui, dan menanyakan apakah dia pernah melihat tentara Inggris, seorang wanita tua menjawab tidak. “Tapi,” dia menambahkan dengan galak, “Aku tahu apa yang harus kulakukan jika aku menemukannya,” dan mulai mengeluarkan pisau yang sangat besar. “Setelah itu,” de Chair menyimpulkan, “kami berpikir sudah waktunya untuk kembali ke perkemahan kami sendiri.” Namun untungnya, mereka berhasil menemukan air di sebuah tempat bernama Abu Jir. Pada saat yang sama, Brigadir Kingstone, dipandu oleh Glubb yang terpercaya, telah menemukan jalur lain untuk pasukannya bergerak, dan bahkan telah mencapai Habbaniya tanpa menemui gangguan dari para pemberontak.
KEBERUNTUNGAN MENGUBAH JALAN KINGCOL
Kingcol beruntung telah menerima petunjuk arah perjalanan yang baru saat itu. Sekali lagi, kematian menyerang dari udara. “Tepat saat ekor barisan telah bergerak dari kamp, empat pesawat tempur hitam telah meraung melintasi gurun menembaki truk (truk) di tanah dengan peluru dan tembakan kanon,” tulis de Chair. Seandainya pesawat-pesawat itu, yang de Chair yakini adalah pesawat Jerman, menyerang lebih awal, “mereka akan menemukan kita sehari sebelumnya, tidak bergerak di pasir yang lembut,” dan mengirim pesawat pengebom lewat radio untuk membantai tentara yang terperangkap di bawah. Keberuntungan, bagaimanapun, sekarang bersama orang-orang Inggris, karena mereka dengan gigih melanjutkan perjalanan mereka. Barisan itu mencapai Mujara, dan dari sana melanjutkan untuk membebaskan kekuatan yang mempertahankan Habbaniya, Habforce, seperti barisan pasukan pembebas dari era British India pada zaman Gunga Din. Namun, seperti yang ditulis oleh de Chair, “tantangannya masih sangat besar bagi kita. Tapi sejauh ini kami beruntung. Dan seperti yang diingatkan oleh penunjuk arah di aerodrome (lapangan udara), Baghdad sekarang hanya berjarak lima puluh lima mil (88 km).” Selama pertemuan di Habbaniya, rencana yang menentukan dibuat untuk gerak maju terakhir menuju Baghdad. Sekarang, bagaimanapun, menjadi sangat jelas bahwa Inggris tidak akan memerangi satu musuh saja, tetapi dua, karena Luftwaffe (AU Jerman) secara terbuka memasuki pertempuran di pihak Rashid Ali. Sebelum Kingcol meninggalkan Habbaniya, “tiga pengebom Heinkel berwarna hijau muda (datang) terbang di atas, penanda salib hitam dapat dilihat dengan jelas melalui teropong kami.” Tidak lama setelah pembom Jerman menjatuhkan muatan mematikan mereka di hangar-hangar RAF, empat pesawat tempur Messerschmitt menembaki kamp. Berapa lama lagi sebelum fallischirm-jagers (pasukan terjun payung) dari Divisi Lintas Udara ke-22 akan bergabung dalam pertempuran juga?



Tak lama, pertempuran pertama untuk merebut kembali Baghdad meletus di Falluja. Dalam serangan di fajar hari, orang-orang Irak mengejutkan tentara Inggris dalam serangan yang gigih dengan dukungan beberapa tank kecil. Pertempuran dari rumah ke rumah berkobar melawan prajurit-prajurit Resimen King’s Own Royal dan orang-orang Asyur Kristen di pasukan Inggris, musuh bebuyutan orang-orang Muslim Irak. Kingstone sendiri kemudian bergegas ke Falluja untuk mengambil alih pimpinan, karena orang-orang Irak dalam posisi unggul, didukung oleh penduduk kota yang menembaki tentara Inggris dari atap. Akhirnya, dengan pasukan Asyur “menghancurkan tank-tank dengan tangan mereka”, dan hadirnya bala bantuan, serangan Irak buyar. Falluja sekarang menjadi basis serangan terakhir menuju ke Baghdad. Kingstone lalu mengorganisir dua pasukan untuk berjuang menerobos perlawanan orang-orang Irak—atau Jerman—: Pasukan Utara terdiri dari “sebagian besar unit Household Cavalry, empat meriam kaliber 25-pounder, Patroli Gurun Glubb, dan mobil-mobil lapis baja RAF lainnya;” Pasukan Selatan yang terdiri dari “satu Skuadron Household Cavalry, dua kompi dari Resimen Essex, pasukan anti-tank independen, tiga mobil lapis baja RAF dan Bagian Unit Ambulans Lapangan.” Daya tembak utama terletak pada meriam kaliber 25-pounder. Pasukan Utara berada di bawah pimpinan Andrew Ferguson “akan diangkut melintasi sungai Efrat dan mencapai Baghdad dari utara setelah melewati jalan memutar yang lebar di sekitar kawasan banjir Aqqa Quf. Sementara itu Pasukan Selatan terdiri dari 750 orang di bawah pimpinan Joe Kingstone akan maju langsung ke Baghdad di jalanan dari Falluja. Artileri kaliber 25-pounder yang perkasa, termasuk di antara senjata lapangan terbaik di dunia, akan berfungsi sebagai senjata pendobrak Kingcol.
TANTANGAN MELINTASI HAMMOND’S BUND
Namun, kendala terbesar bagi pasukan Inggris sekarang bukanlah Angkatan Darat Irak, tetapi penghalang jalan alami yang disebut Hammond’s Bund, celah berawa di jalan lintas vital yang merupakan rute serangan utama ke ibu kota. Pasukan kemudian segera ditugaskan untuk mengatasi celah Bund. Mereka bekerja sepanjang waktu, tetapi ketika mereka mengisi dari samping, saluran di bagian tengah memotong lebih dalam. Akhirnya, bekerja di bawah komando de Chair, Madras Sappers and Miners, korps zeni elit Angkatan Darat India, menemukan cara lain. Mereka menggunakan tongkang besi besar sebagai feri. Kenang de Chair: “Para prajurit zeni (meletakkan) sepasang tanjakan besi setinggi sepuluh kaki (3 meter) dari ujung pematang ke ujung ponton, untuk menyediakan sepasang jalur yang dapat dilewati kendaraan menuju ke feri. Sepasang jalur landai baja serupa akan diangkat ke feri dari pematang ketika mencapai sisi yang lebih jauh.” Operasi itu tampaknya cukup sederhana kecuali satu hal: Seluruh operasi jembatan dan penyeberangan harus dilakukan di bawah naungan malam, dengan hanya cahaya obor untuk memandu para prajurit. Begitu matahari terbit, pesawat-pesawat Messerschmitt akan bisa berburu mangsanya dan kendaraan-kendaraan harus menyebar di padang pasir untuk mencari selamat. Aksi menyeberang ini berlangsung seperti jarum jam dan, menjelang fajar, barisan pasukan penyerang telah melewati Bund seperti orang-orang Ibrani menyeberangi Laut Merah. Sekarang saatnya untuk menghadapi orang-orang Irak, yang telah menggunakan waktu yang Kingcol habiskan di Hammond’s Bund untuk membentengi desa Khan Nuqta, 25 mil (40 km) jauhnya. Tapi dihadapkan dengan pasukan Inggris dan kekuatan dahsyat dari meriam kaliber 25-pounder, orang-orang Irak menyerah. Somerset de Chair dengan Pasukan Selatan tiba untuk melihat “pasukan kami melesat di antara jaringan parit dengan bayonet di senapan mereka, menggertak tentara Irak yang dengan cepat keluar untuk menyerah.”


KUDETA INTELIJEN DE CHAIR
Di sinilah, dengan pasukan Irak yang kacau, de Chair dapat menggunakan latar belakang intelijennya. Karena tergesa-gesa untuk menyerah, petugas komunikasi Irak lupa memutuskan sambungan telepon ke Baghdad, dan sekarang de Chair dan orang-orang Inggris dapat mendengarkan semua rencana yang dibuat orang-orang Irak untuk mempertahankan kota. Lebih dari itu, de Chair mampu memainkan permainan tipu muslihat yang membuat pasukan Irak panik. Menggunakan penerjemah Reading, de Chair mampu meyakinkan musuh bahwa tentara Inggris memiliki kekuatan tank yang sangat besar, ketika tidak ada satu pun tank dimiliki seluruh pasukan Kingcol. De Chair melaporkan bahwa pasukan Irak yang bersemangat benar-benar tertipu oleh tipu muslihat itu. Sebuah patroli yang dikirim untuk menyelidiki dari Divisi Irak ke-3 benar-benar melaporkan ke Baghdad bahwa “Inggris memiliki setidaknya lima puluh tank, lima belas di antaranya sudah melintasi kawasan banjir”! Pada akhirnya, seorang teknisi Irak menemukan bahwa orang-orang Inggris mendengarkan percakapan mereka, dan memotong saluran ke Khan Nuqta, tetapi tidak sebelumnya, de Chair menulis, “telepon yang disadap telah memberi saya gambaran lengkap dari pasukan di depan kami, selain memungkinkan saya untuk meluncurkan serangan tank saya sendiri yang sepenuhnya imajiner tetapi sangat kuat dampaknya.” Dengan perebutan Khan Nuqta, “fase pertama pertempuran untuk merebut Baghdad telah dimenangkan.”

PERLAWANAN IRAK YANG SEMAKIN MENGUAT DI JALAN MENUJU BAGHDAD
Tetapi ketika pasukan de Chair bergerak ke Baghdad, kekuatan Glubb tertahan oleh menguatnya perlawanan tentara Irak di kota suci Khadimain, di mana orang-orang Irak, semua Muslim yang taat, telah membangun benteng. Selain itu, pasukan Glubb, di barisan Utara, tidak terkena dampak pemboman musuh di Khadimain karena takut membuat marah penduduk Irak yang mayoritas Muslim. Di sini, pertempuran untuk merebut Baghdad berada pada tahap di mana segala sesuatunya bisa menjadi sangat buruk bagi pasukan Inggris, karena Legiun Arab semuanya Muslim juga. Tapi kesetiaan mereka pada resimen mereka dan pada Glubb membuktikan ikatan yang lebih kuat, dan mereka melawan orang-orang Irak di kota demi kota dengan keganasan yang lahir dari kebanggaan pada diri mereka sendiri dan pada unit mereka. Seperti yang ditulis Glubb kemudian, “mereka cukup yakin bahwa, bahkan jika kita bisa mengalahkan orang-orang Irak, mereka akan tetap berada di pihak yang kalah dan bahwa tentara Jerman akan segera tiba. Namun terlepas dari ini, mereka tidak hanya berperang di pihak kita (satu-satunya pihak Arab yang berdiri di samping kita), tetapi mereka sendiri terus-menerus mendesak untuk melancarkan operasi yang lebih aktif, dan membuat saran untuk cara-cara baru dalam menyerang musuh.” Sementara Pasukan Utara menghadapi perlawanan yang gigih di kota suci, pasukan de Chair juga menghadapi musuh yang melawan keras. Tiba-tiba tampaknya penaklukan Baghdad tidak akan menjadi hal yang mudah, seperti yang semua orang di Kingcol pikirkan. Apakah orang-orang Irak telah menerima kabar bahwa orang-orang Jerman sedang dalam perjalanan? Di pinggiran Baghdad, pertempuran berpusat di sekitar Istana Mawar. Skuadron “C” dari Household Cavalry turun dari truk mereka untuk memulai serangan terakhir dengan berjalan kaki, melintasi lapangan terbuka dengan ditembaki oleh senjata-senjata musuh. Kenang de Chair:“Tembakan senapan mesin menyerang kami sekarang, di sepanjang deretan pepohonan yang menutupi Istana Mawar, dan Blues (Royal Horse Guards) dan Life Guard mulai turun” ke dalam tanggul untuk berlindung dari tembakan senapan mesin. Tembakan artileri berat sekarang bergabung dalam pemboman terhadap barisan Selatan, dan bahaya yang lebih buruk datang: tembakan salah sasaran, karena Pasukan Selatan sekarang berada dalam jangkauan meriam kaliber 25 pounder pasukan Utara. Tetapi dengan Pasukan Utara masih terikat di depan Khadimain, dan unit-unit Angkatan Darat India di Basra hampir tidak bergerak, serangan utama di Baghdad berada di pundak orang-orang dari Pasukan Selatan. “Kami dibiarkan sendiri, untuk meraih kemenangan (jika kami bisa)—dan Baghdad memang sudah sangat dekat.”

GENCATAN SENJATA TAK TERDUGA
Tampaknya merebut kota itu akan menjadi operasi yang mahal karena, seperti yang ditulis de Chair, malam itu, “Meriam-meriam Irak di tepi sungai Tigris tampaknya akan meledak menjadi rentetan yang ganas. Itu mungkin akan menandakan serangan balik dalam kegelapan.” Kemudian, pada “seperempat jam lewat tengah malam,” de Chair mendengar seorang perwira memberikan pesan kepada Kingstone: “Dua delegasi dari Angkatan Darat Irak akan muncul di Jembatan Besi pada pukul dua pagi. Akankah kami mengirim dua perwira untuk menemui mereka guna membahas syarat-syarat gencatan senjata?” Dengan cepat, de Chair mengajukan diri untuk pergi dengan sesama perwira Ian Spence, dan satu dari Household Cavalry, Rupert Hardy, serta seorang diplomat Inggris petualang, Gerald de Gaury. Tidak tahu apakah mereka sedang menuju penyergapan, de Chair dan anggota lain dari kelompok gencatan senjata melaju dalam gelap ke parit antitank di dekat Jembatan Besi yang mengarah ke Baghdad. “Di sana kami akan mengibarkan bendera putih kami. Delegasi Irak harus menunjukkan lampu depan mereka di Jembatan Besi dan jika kami dapat melihatnya, kami harus merespons dengan menyalakan lampu kami sendiri.” Saat de Chair menggambarkan perjalanan menegangkan mereka, “kami sekarang bergerak maju, tanpa pengawalan, ke No Man’s Land, di mana pertempuran telah berlangsung sepanjang sore.… Tidak ada bulan dan kegelapan menutup di kedua sisi jalan melewati jendela mobil kita.” Ketika de Chair tiba di parit antitank untuk bertemu dengan orang-orang Irak, tidak ada seorang pun di sana. Spence dan de Gaury bergerak di sepanjang parit, tetapi mereka dihentikan oleh kawat berduri. Khawatir akan menghadapi masalah, de Chair kembali ke Kingstone untuk meminta petunjuk. Brigadir itu lalu mengatakan kepadanya “delegasi Irak sekarang diharapkan datang pada pukul empat.” De Chair dan yang lainnya menunggu hinggq fajar dan kemudian kembali ke Kingcol. De Chair kembali dengan perintah Kingstone dan mereka menunggu sendirian sampai orang-orang Irak datang, tidak tahu apakah senapan mesin akan menembaki mereka sebentar lagi dari kegelapan. Kemudian, “tiba-tiba dari kanan, mengikuti arah parit anti-tank itu sendiri, tiba-tiba datang dua mobil dengan cepat, dengan lampu depan yang menyala-nyala. Saat itu tepat pukul empat.” Orang-orang Irak akhirnya datang.


Dengan Mayor Jenderal George Clark, komandan senior Kingstone, mengambil alih negosiasi, pekerjaan untuk mencapai gencatan senjata dimulai. Glubb Pasha turun dari Khadimain untuk menjadi bagian dari kemenangan yang telah dia perjuangkan dengan keras. De Chair dibawa ke Bagdad bersama Spence dan de Gaury, dipandu oleh seorang perwira Irak bernama Daghestani, untuk melakukan kontak dengan pemerintah Irak dan Duta Besar Cornwallis. Rashid Ali, diketahui, telah melarikan diri dari negara itu dan pemimpin militer pemberontak, Fawzi Qawukji, telah mengungsi ke wilayah Prancis Vichy melintasi perbatasan di Suriah. Bupati pro-Inggris Abdul Blah sedang dalam perjalanan untuk mengambil alih kekuasaan. Persyaratan untuk gencatan senjata dengan cepat ditentukan. Semua tawanan perang harus dibebaskan di kedua sisi, dan setiap orang Jerman atau Italia di Irak akan diinternir. Yang paling penting, orang-orang Irak harus “memfasilitasi dalam segala hal tugas pasukan Inggris dalam perang melawan Jerman dan Italia.” Bagdad telah terbuka untuk Kingcol. Pintu gerbang Irak ke ladang minyak di Timur Tengah telah ditutup selamanya untuk Rommel dan Korps Afrika miliknya. Setelah kesepakatan ditandatangani, de Chair mengambil bendera gencatan senjata dan memotongnya menjadi tiga bagian. “Mengambil dari kotak peta saya pensil timah hitam tebal, saya menulis dengan huruf tebal di sudut setiap sepertiga bendera, ‘bagian dari bendera gencatan senjata yang dengannya utusan dari Baghdad diterima pada pukul 04.00 tanggal 31 Mei 1941, untuk menyerahkan kota itu dan menerima syarat-syarat gencatan senjata.’” De Chair memberikan satu bagian kepada Kingstone, satu lagi untuk Spence dan menyimpan yang ketiga untuk dirinya sendiri. Segera setelah penyerahan ditandatangani, 500 warga Amerika dan Inggris yang ditawan dibebaskan. Dalam kampanye militer selama 30 hari, korban di pihak Inggris “hanya” sekitar 100 orang. Perjudian Churchill di Timur Tengah terbukti berhasil, seperti yang kemudian diakui oleh Jenderal Wavell. “Itu adalah keputusan yang tegas dan tepat”, tulisnya. Pasukan Inggris kemudian akan tetap berada di Irak sampai tanggal 26 Oktober 1947 dan negara itu tetap berada di bawah kendali Inggris secara efektif selama sisa masa Perang Dunia II. Inggris menganggap bahwa pendudukan Irak diperlukan untuk memastikan bahwa akses ke sumber daya minyak strategis tetap bisa dipertahankan.
APA YANG MUNGKIN TERJADI JIKA INGGRIS GAGAL?
Seandainya Brigadir Kingstone gagal dalam perjalanannya ke Baghdad, pengaruhnya terhadap posisi Inggris di Timur Tengah akan menjadi sebuah bencana. Dengan kekuatannya yang telah dihajar sebelumnya, tidak akan ada yang dapat mencegah Jerman untuk mentransfer pasukannya dari Yunani dan Kreta, yang mereka serbu pada bulan April dan Mei 1941. Posisi Prancis Vichy di Timur Tengah akan sangat diuntungkan dengan kemenangan “les Boches” atas Kingcol Inggris. Pada saat yang sama, berita tentang kekalahan Inggris akan mengirimkan gelombang kejutan di posisi genting Inggris Raya di wilayah Palestina. Mufti Agung Yerusalem, pemimpin spiritual Muslim Palestina, telah membangkitkan populasi Muslim melawan Inggris, yang memerintah Palestina di bawah mandat Liga Bangsa-Bangsa, serta atas masalah imigrasi orang-orang Yahudi ke wilayah tersebut. Pada tahun 1938, terjadi kerusuhan serius di Palestina dan hilangnya nyawa di kedua belah pihak. Mufti, yang melarikan diri dari penangkapan Inggris pada tahun 1937, segera pindah dari Beirut ke Berlin, di mana ia akan menghabiskan tahun-tahun masa perang sebagai tamu kehormatan Adolf Hitler, mendesak orang-orang Arab untuk mendukung kekuatan Poros di Timur Tengah. Pada saat ini, Divisi ke-5 Inggris di Palestina sedang menghadapi prospek mencoba untuk mempertahankan wilayah kantong Palestina di pantai Mediterania, dengan hanya pasukan Yahudi dari unit Haganah, milisi pemukim Yahudi, untuk mendukung mereka (Orang-orang Yahudi masih ingat bagaimana Deklarasi Balfour Inggris pada tahun 1917 telah menjanjikan mereka sebuah tanah air di Palestina). Mengingat kondisi rentan di Palestina, kekalahan Kingcol tidak diragukan lagi akan menyebabkan pemberontakan orang-orang Arab yang akan memaksa Divisi ke-5 dan Haganah bertahan ke titik maksimalnya. Dengan pergolakan besar di Palestina, London tidak punya pilihan selain mengirim lebih banyak pasukan dari pasukan Inggris yang sudah terkuras di Mesir untuk mencoba memulihkan ketertiban di Palestina. Seandainya ini terjadi, tidak ada keraguan bahwa, setelah kemenangannya di El Agheila, Rommel si Rubah Gurun akan menyerang lagi di wilayah Afrika Utara. Sebuah pendobrakan yang berhasil di garis pertahanan Inggris yang melawan Rommel bisa menyebabkan pemberontakan pro-Jerman di Angkatan Darat Mesir. Kali ini, tank-tank panzer Rommel bisa saja menembus Terusan Suez dan mencapai tujuan strategi Jerman di Timur Tengah—yakni kemenangan!

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
The Nazi March on Baghdad by John F. Murphy, Jr.; This article appears in: October 2020
The Nazi March on Baghdad
The March on Baghdad & What Could Have Been by John F. Murphy, Jr
The March on Baghdad & What Could Have Been
Baghdad’s 1941 Regime By John W. Osborn, Jr
Baghdad’s 1941 Regime
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Anglo-Iraqi_War
Time Life World War II series: War in the Outposts by Simon Rigge, 1980; p 49, p 53, p 56
