130 Tahun Jejak Sepeda dalam Perang: Dari Perang Boer hingga Perang Ukraina
Pada bulan Agustus 1887, jurnal ilmiah Prancis La Nature mencatat dengan baik peran velocipede, atau sepeda, yang mulai dipakai dalam manuver militer di Eropa: “Selama beberapa tahun terakhir, Jerman telah menggunakan velocipede untuk pengangkutan kiriman cepat, dan pada sisi pegunungan Vosges ini kami tidak mengabaikan untuk memanfaatkan keuntungan dari layanan analog, korps velocipedists, yang telah diorganisir di tentara kami.…Tetangga kami di seberang selat telah melampaui penggunaan velocipede untuk tugas pengiriman dan telah berusaha menggunakannya untuk membawa amunisi.” Kemudian pada dekade terakhir abad ke-19, inovasi teknologi telah membuat bersepeda menjadi lebih nyaman, lebih andal, dan lebih praktis. Sepeda (alias “roda”) dan pengendaranya (“penunggang roda”) menjadi budaya pop yang menggila, dan negara-negara di seluruh dunia secara aktif mempelajari kemungkinan penerapannya dalam operasi militer. Selama sekitar 130 tahun sepeda tetap relevan secara militer. Memang, hanya baru-baru ini sepeda muncul sebagai sistem senjata yang sebenarnya.


KEMUNCULAN SEPEDA
Pendahulu langsung paling awal untuk sepeda modern adalah Draisine, yang dibuat pada tahun 1817 oleh penemu Jerman bernama Karl Drais sebagai kendaraan berkemudi tetap untuk digunakan di jalur rel. Perencana militer kemudian merancang versi kendaraan roda dua dan empat untuk dipakai dalam misi-misi pengintaian dan patroli rel. Untuk penggunaan di luar rel, Drais mengembangkan Laufmaschine (“mesin yang berjalan”), contoh dari tipe ini masih ada dan terlihat akrab bagi pengendara saat ini. Kendaraan ini menampilkan bingkai berbentuk berlian, dengan tiang vertikal di bagian belakang naik dari hub roda belakang untuk membentuk tiang kursi, dan tiang vertikal depan paralel naik dari hub ban depan yang berputar menjadi gooseneck dengan pegangan, yang memungkinkan pengendara untuk mengarahkan. Kendaraan buatan Drais ini memang berbeda dari sepeda modern dalam satu aspek utama—yakni tidak memiliki pedal. Penunggang menggunakan kaki mereka untuk berjalan atau menjalankan Laufmaschine di atas tanah. Kritikus menjulukinya sebagai “kuda pesolek (dandy horse).” Roda berbingkai besi pada Laufmaschine dikenal membuat perjalanan yang sangat tidak nyaman, dan pejalan kaki segera mengeluh tentang bahaya yang ditimbulkan oleh kendaraan ini. Dikembangkan di Prancis pada tahun 1860-an, sepeda pertama yang sukses secara komersial menggunakan sistem penggerak kasar, dengan pedal dipasang langsung ke hub roda depan, seperti pada sepeda roda tiga modern. Saat itu meningkatkan lingkar roda depan berarti meningkatkan jarak tempuh per langkah pedal dan begitu juga kecepatan, yang kemudian menghasilkan sepeda dengan roda depan besar berbentuk seperti gajah. Orang-orang Inggris menjulukinya “penny-farthing,” karena koin sen pada zaman itu jauh lebih besar daripada koin farthing. Meskipun ban karet padat dan roda-roda berjari kawat menawarkan pengendaraan yang lebih nyaman daripada “boneshaker” versi awal, penny-farthing terbukti sulit dikendarai dan berbahaya untuk dioperasikan.



Inovasi teknologi back-to-back di akhir tahun 1880-an membuat bersepeda menjadi lebih aman dan jauh lebih praktis. Yang terpenting adalah pengembangan penggerak rantai yang menghubungkan pedal pusat ke hub belakang—sistem transfer daya yang tidak bergantung pada lingkar roda. Ban yang lebih kecil dan berukuran sama menempatkan pengendara dalam jangkauan dengan tanah, menghasilkan kendaraan yang dipasarkan sebagai “sepeda aman”. Pada tahun 1888 penemu Skotlandia John Boyd Dunlop mematenkan ban pneumatik, yang jauh melampaui ban karet padat untuk kenyamanannya. Dengan itu, elemen dasar sepeda masa kini sudah dibangun. Sementara itu sebagai perbaikan, para perencana militer juga mulai mempertimbangkan sepeda sebagai alat angkut alternatif untuk kuda, yang dalam hal ini sepeda telah menunjukkan keunggulannya. Lagi pula, sepeda tidak membutuhkan pakan ternak atau istirahat dan umumnya lebih mudah dirawat daripada kuda. Lebih lagi dari sudut pandang militer, satu peleton pengendara sepeda lebih senyap gerakannya daripada satu skuadron kavaleri.
PENGGUNAAN AWAL SEPEDA UNTUK MILITER
Dugaan pertama penggunaan sepeda dalam perang muncul selama Perang Perancis-Prusia tahun 1870, ketika beberapa utusan mengendarai sepeda beroda tinggi, membawa kiriman dari markas ke pasukan di lapangan. Tetapi teknologi baru itu tidak cukup untuk mencegah Kaisar Napoleon III ditangkap secara pribadi dalam pertempuran, kehilangan pasukannya, perang, dan tahtanya. Dan industri sepeda Prancis yang baru lahir, yang terutama berbasis di jantung pertempuran di provinsi timur laut Alsace-Lorraine, praktis dihancurkan oleh perang. Sebelum perang, Prancis telah menjadi pemimpin teknologi dalam industri sepeda. Setelah perang, industri sepeda Inggris mulai berkembang, dipimpin oleh Birmingham Small Arms, alias BSA, dan mulai menjual sepeda di seluruh dunia. Menurut buku The Bicycle in Wartime: An Illustrated History karya Jim Fitzpatrick pada akhir 1880-an dan 1890-an banyak negara kemudian bereksperimen dengan sepeda. Austria dan Jerman masing-masing melihat kemungkinan pemakaiannya, tetapi tentara Prancis yang secara resmi memperkenalkan sepeda ke dalam layanan pada bulan Juli 1887. Namun, Inggris mungkin telah mengalahkan saingannya di Eropa tersebut. Menurut Fitzpatrick, Inggris menggunakan pengendara sepeda sebagai pengintai selama manuver lapangan dalam latihan Paskah tahun 1885. Pada tahun 1886, tentara Prancis mendirikan beberapa unit yang menggunakan sepeda lipat yang bisa disampirkan di belakang dan dibawa di medan yang kasar. Tipe yang digunakan salah satunya adalah sepeda lipat “Captain Gérard”. Model ini dirancang pada tahun 1896 oleh Henri Gérard, komandan pasukan sepeda Prancis, dan diproduksi oleh Peugeot. Beratnya kira-kira 30 pon (13,6 kg), dan dirancang khusus untuk pasukan infanteri Prancis. Gérard menambahkan komponen lipatan dan tali sehingga prajurit dapat membawanya di punggung mereka, dan dia memindahkan tiang kursi langsung di atas gandar belakang, memungkinkan seorang prajurit untuk menstabilkan sepeda dan menembakkan senjatanya sambil mendudukinya.



Pada pergantian abad, setiap resimen infanteri Prancis dan yang disebut chasseur, atau hunter, batalyon-nya memiliki detasemen pengendara sepedanya sendiri yang, selain bertugas mengintai dan membawa kiriman, juga digunakan untuk menjalani pertempuran kecil dengan musuh. Mereka segera menggantikan pasukan berkuda karena lebih murah, tidak memerlukan pelatihan khusus dan tidak akan merintih atau meringkuk saat lapar. Sementara itu meski militer Amerika terhitung terlambat untuk menggunakan bersepeda, mereka baru memakainya dengan penuh semangat di tahun 1890-an, karena pertemuan dua prajurit penggemar sepeda. Mayor Jenderal Nelson A. Miles telah memelopori penggunaan heliograf oleh militer pada tahun 1870-an, dan setelah mengikuti perlombaan ketahanan tahun 1891 di Madison Square Garden, New York, ia menjadi pendukung setia sepeda. Musim gugur itu ia memerintahkan komandan Resimen Infanteri Amerika ke-15 di Fort Sheridan, Illinois, untuk membentuk sebuah detasemen untuk menguji kendaraan tersebut di lapangan. Melalui musim semi tahun 1892 sembilan pengendara sepeda di bawah pimpinan Lt. William T. May menguji sepeda. Sementara hasilnya gagal menggerakkan atasan Miles untuk bertindak, sang jenderal kemudian menyatakan dengan cermat, “Selama perang besar berikutnya, sepeda, dengan modifikasi dan adaptasi seperti yang mungkin disarankan oleh pengalaman yang sudah ada, akan menjadi alat yang paling penting untuk tujuan militer.” Pada tahun yang sama, May menulis manual lapangan Cyclists Drill Regulations, United States Army, yang menarik perhatian kadet West Point berusia 20 tahun James A. Moss. Pada tahun 1894 Moss lulus terakhir di kelasnya dari Akademi Militer AS di West Point, memulai tugas infanterinya di daerah antah berantah (Fort Missoula, Mont.) sebagai letnan dua di Resimen Infanteri AS ke-25, salah satu dari empat perwira kulit putih di resimen kulit hitam di Angkatan Darat Amerika. Untungnya bagi sang letnan, jabatan itu menempatkannya di Divisi Militer Missouri, yang diawasi oleh Miles. Tahun berikutnya Miles diangkat menjadi komandan jenderal Angkatan Darat, dan dalam laporan tahunan pertamanya kepada sekretaris perang dia menganjurkan pembentukan resimen khusus sepeda. Pada tahun 1896 ia memberikan izin kepada sesama penggemar bersepeda, yakni Moss untuk membentuk korps sepeda eksperimental dan melakukan perjalanan jarak jauh untuk menentukan kelayakan kendaraan ini untuk penggunaan militer.



Pada bulan Juli 1896 Moss memilih delapan orang, termasuk Pvt. John Findley, seorang mekanik sepeda yang mahir. Pada tanggal 6 Agustus, setelah tiga minggu pelatihan dan perjalanan yang semakin lama, perjalanan signifikan pertama grup membawa mereka ke dan dari Danau McDonald di Montana utara, dalam perjalanan pulang pergi sekitar 280 mil (450 km). Pada tanggal 15 Agustus, mereka kembali meninggalkan Fort Missoula, menuju tenggara ke Taman Nasional Yellowstone. Diikatkan ke setang setiap sepeda—yang disediakan gratis oleh A.G. Spalding Co. dari Chicago—terdapat selimut gulung yang dililitkan di sekitar tenda dan tiang tempat berlindung, perlengkapan mandi, kaus kaki cadangan, dan pakaian dalam, sementara ransum digantung di kotak kulit keras yang ditempatkan di dalam bingkai. Setiap sepeda yang terisi penuh beratnya hanya di bawah 60 pon (27 kg). Setiap pengendara sepeda juga membawa sebuah senapan dan 50 butir amunisi di sabuk peluru. Orang-orang itu menempuh jarak 400 mil (643 km) outbound dalam waktu 10 hari, berwisata seperti turis selama lima dan melakukan perjalanan pulang dalam waktu delapan hari, tiba di Fort Missoula pada tanggal 8 September. Setelah menghabiskan musim dingin dengan berkonsultasi dengan perancang sepeda, insinyur dan mekanik, Moss mengarahkan pandangannya lebih jauh pada tahun 1897. Berangkat pada tanggal 14 Juni, ia memimpin sebuah regu yang terdiri dari 20 pengendara sepeda ditemani oleh seorang ahli bedah dalam perjalanan satu arah sejauh 1.900 mil (3.057 km) dari Benteng Missoula ke St. Louis. Mereka tiba 40 hari kemudian dan mendapat pujian serta perhatian media yang cukup besar sebelum kembali ke benteng dengan kereta api. Pada tahun 1898 Moss mengusulkan untuk memimpin ekspedisi pengendara sepeda melintasi Great Divide, dari Fort Missoula ke San Francisco dan kembali lagi, dengan total menempuh jarak 2.000 mil (3.218 km). Tapi musim semi itu Perang Spanyol-Amerika pecah, dan Resimen Infanteri ke-25 dikirim ke Kuba. Eksperimen besar sepeda kembali ditunda. Sementara itu berbagai resimen Garda Nasional juga bereksperimen dengan sepeda. Korps Sinyal Pertama dari Pengawal Nasional Connecticut adalah pasukan Amerika pertama yang memiliki unit sepeda militer formal, yang dibentuk pada tahun 1891. Sepeda itu digunakan oleh pembawa pesan dan pengendara secara estafet. Seorang pengendara sepeda Garda Nasional membuktikan bahwa dia sendiri yang dapat menyampaikan pesan lebih cepat daripada seluruh tim pemberi sinyal bendera, sementara tim estafet membawa satu pengiriman dari Chicago ke New York City hanya dalam waktu empat hari dan 13 jam, dengan sebagian besar dalam cuaca hujan. Kemudian mereka mampu membawa pesan dari Washington, D.C. ke Denver hanya dalam waktu enam hari. Berbagai negara kemudian melakukan tes untuk melihat apakah sepeda dapat digunakan sebagai platform senjata yang sebenarnya, dan tahun 1890-an muncul serangkaian desain aneh, termasuk senapan mesin awal yang dipasang di sespan sepeda, sepeda beroda tiga dan empat yang bersenapan mesin, dan senapan yang dipasang di samping yang dapat ditembakkan dari setang. Karena ini adalah prototipe dan tidak mengherankan jika banyak yang gagal melewati tahapan ini. Hanya sedikit – jika ada – dari sepeda awal ini yang bertahan, dan bahkan tersimpan di museum hari-hari ini. Sementara sepeda nampaknya tidak dapat diubah menjadi senjata perang jenis baru, beberapa negara mencari taktik yang tepat bagi sepeda untuk digunakan dalam pertempuran.



SEPEDA DALAM PERANG BOER
Penggunaan sepeda pertama yang diketahui dalam pertempuran sebenarnya terjadi selama Serangan Jameson/Jameson Raid – serangan yang gagal terhadap Republik Afrika Selatan pada akhir tahun 1895 oleh seorang negarawan kolonial Inggris dan pasukannya – di mana pengendara sepeda digunakan sebagai pembawa pesan. Ketika perang pecah pada tahun 1899, tentara Inggris di Afrika Selatan setidaknya empat kali lebih besar dari yang bisa dikerahkan oleh orang-orang Boer (kelompok petani keturunan Belanda). Menyadari bahwa mereka tidak bisa menang secara kuantitas, orang-orang Boer beralih ke penggunaan taktik yang tepat dalam pertempuran. Dalam Perang Boer Kedua (1899-1902), pengendara sepeda militer terutama digunakan sebagai pembawa pesan dan pengintai, bahkan juga digunakan sebagai bagian dari unit sepeda dua orang yang dirancang khusus untuk berpatroli di rel kereta api. Tetapi unit infanteri yang menggunakan sepeda dari kedua belah pihak juga ikut melakukan serangan, dengan Boer Theron Reconnaissance Corps digambarkan oleh komandan Inggris Lord Roberts sebagai “duri paling merepotkan dalam daging kemajuan pasukan Inggris.” Daniel Theron (masih punya hubungan darah dengan artis Charlize Theron) sang pencipta unit itu telah mengembangkan ide penggunaan sepeda sebelum perang Boer pecah. Gagasan Theron adalah menggunakan sepeda sedapat mungkin untuk menyisihkan kuda guna dipakai dalam pertempuran yang sebenarnya. Sementara kuda dan penunggangnya mungkin memiliki keuntungan di medan tempur yang ideal, mereka juga mencolok, lapar dan mudah haus. Seorang pria yang menunggang kuda dapat melihat bermil-mil jauhnya di padang tanpa pohon, dan sebaliknya juga gampang terlihat. Sementara itu, menjadi lebih rendah diatas tanah, pengendara sepeda dapat melakukan perjalanan jarak jauh tanpa terlihat melintasi tanah gersang, dan hampir tidak gampang haus dalam prosesnya. Di sisi lain, sebuah peluru bisa menjatuhkan kuda dan penunggangnya, sedangkan beberapa tembakan mungkin tidak berarti apa-apa bagi sepeda dan penunggangnya yang bisa beringsut dengan gesit. Faktanya, salah satu target utama pengawasan Theron adalah sumur dan padang rumput yang diandalkan pasukan Inggris untuk mengairi dan memberi makan kuda mereka. Taktik Theron menjadi sangat mengganggu sehingga sebuah harga ditempatkan atas kepalanya oleh komando tinggi Inggris, yakni seribu pound Sterling (setara dengan hampir satu juta pound pada tahun 2016) untuk ditangkap, hidup atau mati, serta mengerahkan 4.000 tentara untuk menemukan dan menghancurkan unit bersepedanya.



Sementara itu Menyadari keunggulan teknologi sepeda, Inggris segera membentuk “Cape Cycling Corps,” yang juga bertugas untuk melakukan pengintaian dan pengiriman. Kolonel Robert Baden-Powell, yang kemudian menjadi pendiri Pramuka, memahami pentingnya sepeda, dan bepergian dengan sepeda lipatnya sendiri. Utusan sepeda ditugaskan untuk mengangkut merpati pos, karena burung lebih suka dibawa dengan sepeda daripada kuda. Dan pasukan sepeda Selandia Baru bahkan tercatat pernah mengejar dan menangkap kontingen Boer yang menunggang kuda (mungkin kuda-kuda itu haus dan lapar). Di sisi lain, pasukan Inggris yang bepergian dengan kereta api kerap menjadi sasaran penyergapan dan jebakan orang-orang Boer, yang kemudian menciptakan kebutuhan unit khusus untuk berpatroli di rel. Pasukan Australia yang dikerahkan menggunakan sepeda BSA lalu membuat sepeda beroda empat dengan delapan tempat duduk untuk tujuan seperti itu, dengan menyatukan beberapa rangka sepeda dan mengganti ban pneumatik dengan roda kereta api. Seperti sepeda lainnya, ini memungkinkan mereka untuk melakukan perjalanan dengan tenang dan lebih dekat ke tanah, memungkinkan mereka untuk mengamati aksi unit kommando Boer dan bahan peledak yang dipasang di rel. Pasukan delapan orang ini bisa turun lebih cepat dari sepeda mereka daripada dari atas lokomotif, dan dalam keadaan darurat mereka juga bisa menarik trailer yang dilengkapi dengan senapan mesin Maxim. “Sepeda perang” mereka juga dapat menampung tandu di antara rangka sepeda untuk membawa pulang personel yang terluka. Tentara pendudukan Inggris yang menyadari kapasitas sepeda untuk dikerahkan dalam peperangan asimetris; kemudian meluncurkan program perizinan wajib penggunaannya, dengan lampu diperlukan untuk dipakai pada malam hari. Ketentuan itu adalah sebagai berikut: “Tidak ada orang yang boleh mengendarai atau memiliki sepeda, sepeda roda tiga, atau mobil, kecuali kendaraan tersebut telah didaftarkan dengan sepatutnya di Kantor Komandan. Ketika sebuah kendaraan terdaftar, pelat logam bernomor akan dikeluarkan dan harus dipasang pada kendaraan di tempat yang mencolok. Pengendara sepeda yang melewati Pos Penjagaan akan melakukannya dengan kecepatan tidak lebih dari 6 mil (9,6 km) per jam dan akan turun jika diperintahkan untuk melakukannya. Sebuah lampu akan digunakan pada kendaraan apapun ketika dikendarai pada malam hari antara matahari terbenam dan matahari terbit.” Sementara itu sepeda Kapten Theron sendiri tidak terbukti lebih cepat daripada peluru yang melaju kencang. Saat mengintai sendirian, ia mencapai puncak kopfe, atau bukit kecil, hanya untuk menemukan tujuh tentara Inggris berkuda di sisi lainnya. Dia dengan cepat melepaskan tembakan dengan senapannya, menewaskan empat orang, dan melukai tiga lainnya. Sayangnya, baterai artileri yang menyertai pasukan itu mendengar tembakannya, dan memenuhi puncak bukit dengan tembakan artileri. Theron tewas pada tanggal 5 September 1900.

PERANG DUNIA I
Pada pergantian abad, militer dari semua kekuatan terkemuka dunia telah menggunakan sepeda. Sebelum Perang Dunia I, sepeda sudah digunakan oleh angkatan bersenjata di Inggris, Prancis, Italia, Belgia, dan Rusia. Batalyon infanteri ringan Jäger Jerman masing-masing memiliki kompi sepeda pada masa awal perang, dan mereka terbukti sangat berguna sehingga unit-unit sepeda tambahan dibentuk selama konflik. Akhirnya, beberapa di antaranya dibentuk menjadi batalyon sepeda. Tentara Inggris menciptakan dua divisi penuh, Divisi Sepeda ke-1 dan 2, dari kompi pengendara sepeda dan brigade kuda. Ujian besar pertamanya dalam pertempuran terjadi di Front Barat selama Perang Dunia I, meskipun baru digunakan di hari-hari menjelang berakhirnya konflik. Mengingat sifat statis dari perang parit ditambah dengan meluasnya penggunaan senapan mesin dan rentetan tembakan artileri besar-besaran, ruang lingkup aksi untuk pengendara sepeda pada awalnya terbatas. Mereka sering mendapati diri mereka melayani sebagai pengintai di daerah garis belakang, pembawa pesan atau ambulans, atau dalam kapasitas sebagai pengangkut. Tetapi ketika kebuntuan pecah pada bulan Agustus 1918 dengan serangan Sekutu yang dikenal sebagai ofensif Seratus Hari, unit-unit mobile menjadi semakin penting. Di antara mereka yang dikirim ke pertempuran adalah batalion pengendara sepeda Kanada. Dalam beberapa minggu setelah deklarasi perang Inggris pada tahun 1914, pemerintah Persemakmuran di Ottawa mengizinkan pembentukan Brigade Senapan Mesin Mobile Kanada—alias “Brigade Brutinel,” sesuai nama komandan Brigade tersebut, Brigadir Jenderal Raymond Brutinel. Sebagai pendahulu divisi lapis baja modern, konsep revolusioner ini termasuk batalion pengendara sepeda. Tetapi pada saat kedatangan mereka di Front Barat yang mengalami kebuntuan pada tahun 1915, para pengendara sepeda menemukan bahwa mobilitas mereka tidak banyak berguna.



Pada tahun 1918, untuk mengantisipasi ofensif Seratus Hari, pasukan bergerak di bawah pimpinan Brutinel direorganisasi sebagai Pasukan Independen Kanada yang digabungkan, yang terdiri dari enam unit: Brigade Senapan Mesin Motor ke-1 dan ke-2 (masing-masing terdiri dari lima baterai dengan 40-senjata), Korps Batalyon Pengendara Sepeda Kanada, unit mortir parit berkaliber 6-inci (152 mm) berbasis truk, batalyon sepeda motor dan Kompi Transportasi Mekanik Korps Senapan Mesin Motor Kanada (menyediakan dukungan logistik dan administrasi). Selama serangan yang akan datang, unit-unit mobil menyerang dengan kekuatan mereka sendiri, dan para pengendara sepeda akhirnya terlibat pertempuran. Dalam kata-kata pengendara sepeda Korps Kanada Kapten Wilfred Dancy “Dick” Ellis, “Batalyon pengendara sepeda membuang peran mereka sebagai tukang suruh korps dan engineer’s navvies (kru penggalian) dan mengambil peran yang telah disiapkan bagi mereka.” Menurut teori unit bersepeda dapat melakukan perjalanan di mana saja antara 50 dan 100 mil (80-160 km) sehari.



Di Amiens, setelah Divisi ke-3 Kanada mencapai tujuan awalnya, pasukan mobil Brutinel melindungi sayap kanan serangan dan menyediakan penghubung antara pasukan kavaleri dan infanteri. Di sisi itu tentara Prancis juga menyerang, tetapi jam H mereka datang sekitar 45 menit kemudian, membuat pasukan Kanada rentan terhadap serangan balik sementara itu. Pasukan mobil Kanada lalu mengisi celah itu sampai tentara Prancis menyusul. Reaksi cepat mereka memainkan peran kunci dalam kemajuan tak tertandingi Korps Kanada sejauh 8 mil (12,8 km) pada hari pertama serangan. Pada bulan Oktober, ketika kemajuan pasukan Kanada dipercepat, pasukan mobil kembali dikirim lagi. Catatan Sejarah dari Pasukan Ekspedisi Kanada mengatakan, “Untuk meningkatkan kecepatan pengejaran, Divisi ke-1 dan 4 masing-masing menerima 69 skuadron Berkuda Ringan Kanada, satu kompi Batalyon Pengendara Sepeda (Korps) Kanada, dua baterai senapan mesin sedang dan dua mobil lapis baja.” Beberapa minggu sebelum perang berakhir, Komandan Divisi Infanteri ke-4 Kanada Mayor Jenderal Sir David Watson menulis, “Pengendara sepeda sangat bermanfaat dalam menjalankan tugas patroli mereka yang sangat baik serta membawa kiriman dan mengamankan informasi mengenai pergerakan musuh dan posisi pasukan kita sendiri.” Meskipun mereka tidak akan pernah bisa menyerang seperti rekan-rekan pasukan berkuda mereka, Batalyon Pengendara Sepeda Korps Kanada telah mendemonstrasikan bahwa para pengendara sepeda dapat mengayuh ke garis depan dan bertempur turun dari sepeda sebagai pasukan infanteri ringan. Anggota korps pengendara sepeda selama perang dapat diidentifikasi dengan lencana di topi mereka dan lencana lainnya. (AS adalah satu-satunya negara besar yang terlibat dalam perang yang tidak menetapkan pengendara sepedanya dengan lencana topi.) Sebagian besar sepeda yang dikeluarkan militer adalah tipe kecepatan tunggal, meskipun beberapa model Inggris memiliki tiga setelan percepatan. Setiap negara yang terlibat dalam Perang Dunia I pada titik tertentu tercatat menggunakan sepeda. Sementara itu, unit bersepeda Jerman diketahui menghadapi kesulitan khusus di awal perang. Karet dijatah pada saat itu, dan pada satu waktu, pabrikan sepeda Jerman harus membuat ban dari kayu—atau, pengendaranya harus mengendarai pelek mereka. Pada tahun 1917, ban karet hanya diperbolehkan dipakai pada sepeda Jerman yang secara khusus disetujui untuk penggunaan perang.



Dalam Perang Dunia I, salah satu utusan sepeda der Weltkrieg, yang terkenal tidak lain adalah: Adolf Hitler. Bagaimanapun, pada akhir Pertempuran Ypres Pertama, resimen Hitler telah berkurang personelnya menjadi 600 orang, dari semula 3.600 orang. Hitler lalu dipromosikan dari Schtze (Prajurit) menjadi Gefreiter (Kopral), dan ditugaskan ke posisi Radfahrer bis Regiment (Pengendara Sepeda Resimen). Sebagai pembawa pesan bersepeda, Hitler akan mendapatkan dua medali Salib Besi, seperti yang didokumentasikan oleh Ancestry.com, dan salah satu medali Salib Besinya adalah ironisnya atas rekomendasi seorang perwira Yahudi. Ironisnya lagi, seperti yang ditunjukkan oleh sumber lainnya, pengalaman Hitler di atas sepeda tidak menghentikan Nazi untuk meloloskan undang-undang untuk melarang sepeda di jalanan demi memberi ruang bagi mobil. Sementara itu pasukan Australia dalam Perang Dunia I memiliki unit bersepeda yang digunakan dalam banyak pertempuran besar selama seperti di Messines pada bulan Juni 1917, dan Passchendale di bulan Juli 1917. Unit-unit ini dikerahkan ke garis depan serta memasang kabel, melakukan kontrol lalu lintas, dan pekerjaan pengintaian. Sepeda yang digunakan berasal dari Inggris dan diproduksi dari Birmingham Small Arms Company – atau lebih dikenal sebagai BSA. Perusahaan ini juga merupakan produsen senjata dan amunisi utama Inggris sejak Perang Krimea (1854-1856). Sangat menarik untuk dicatat bahwa sepeda tidak dilengkapi dengan tempat botol air seperti sekarang ini. Orang-orang akan membawa persediaan air seperti korps tentara reguler. Para prajurit juga diberikan senapan kaliber .303 tipe Short Magazine Lee Enfield (SMLE), yang memiliki pilihan untuk memasangkannya ke tabung bawah sepeda mereka atau menyandangnya di punggung mereka.

PERANG DUNIA II
Selama Perang Dunia II, selain kemajuan teknologi yang dibuat dalam hal motorisasi dan mekanisasi selama periode antar perang, sepeda menunjukkan nilainya yang berkelanjutan. Selama invasi kilat Jerman ke Denmark pada tanggal 9 April 1940, peleton infanteri Denmark yang menggunakan sepeda bertemu dengan para penyerbu di beberapa titik penyekatan. Meskipun hanya ada sedikit informasi dalam bahasa Inggris tentang kegiatan mereka, film perang Denmark pada tanggal 9 April 2015 menggambarkan satu peleton pengendara sepeda yang menghadapi serangan Jerman. Sementara itu Jepang, yang telah menggunakan 50.000 pasukan bersepeda selama invasi tahun 1937 ke China. Mereka juga mengandalkan pasukan infanteri yang mengendarai sepeda selama invasi di bulan Februari 1942 ke Singapura. Pada bulan Desember 1941, hanya beberapa jam sebelum serangan ke Pearl Harbor, tentara Jepang menyerbu Malaya Inggris (sekarang Malaysia) dari wilayah Indochina. Di ujung selatan semenanjung, pulau Singapura adalah rumah bagi pangkalan angkatan laut utama Inggris dan terlindungi dengan baik dari serangan amfibi. Serangan dari utara, lewat darat dianggap tidak mungkin karena hutan Malaya tampaknya tidak bisa dilewati. Tokyo lalu memanfaatkan anggapan itu. Ditemani oleh tank-tank ringan, pengendara sepeda Jepang melakukan perjalanan melintasi semenanjung sejauh 500 mil (804 km) di jalanan sempit. Sepeda dinilai menyediakan transportasi yang relatif senyap dan fleksibel bagi ribuan tentara, yang kemudian mampu mengejutkan unit-unit pertahanan lawan. Juga, dengan menggunakan pasukan sepeda, tentara Jepang bisa menghemat minyak karena mereka tidak memerlukan truk atau kapal untuk mengangkut tentara. Dengan menggunakan sepeda, tentara Jepang mampu bergerak lebih cepat daripada gerakan penarikan mundur pasukan Sekutu dan karenanya, lewat jalan-jalan perkebunan, jalur di pedalaman dan jembatan buatan, sering mengejutkan mereka, memotong gerak mundur mereka atau menyerang mereka dari belakang. Anehnya, mereka tidak membawa sepeda sendiri. Karena para perencana enggan untuk mengacaukan operasi amfibi mereka dengan palka kapal yang penuh dengan sepeda, para pengendara sepeda Jepang menyita sepeda Raleigh dan BSA Inggris milik warga sipil saat mereka mendarat, yang menurut informasi intelijen Jepang jumlahnya berlimpah di Malaya. Datang dalam jumlah puluhan ribu orang di ujung selatan semenanjung pada akhir bulan Januari, tentara Jepang melintasi Selat Johor yang sempit dengan tongkang dan perahu yang bisa dilipat, dengan cepat menaklukkan pertahanan dan menduduki pangkalan angkatan laut musuh.



Bahkan Wehrmacht Jerman, yang dibanggakan karena blitzkrieg mekanisnya, menganggap sepeda sangat diperlukan, sehingga mereka menyita sepeda-sepeda di seluruh Eropa yang diduduki di akhir perang. Sepanjang perang, seperti Inggris dalam Perang Boer, otoritas pendudukan Jerman telah bertindak untuk membatasi mobilitas warga sipil. Dari pendaftaran tempat tinggal hingga jam malam, pergerakan dipantau dan dibatasi. Komponen kunci dari kebijakan itu adalah perampasan kendaraan bermotor sipil, disertai dengan pembatasan perizinan dan pendaftaran, ditambah dengan penjatahan yang ketat dari pasokan bensin bagi warga sipil. ”Sepeda—segera menjadi keharusan bagi siapa pun yang tidak berjalan—menjadi semakin lazim,” sejarawan Ronald Rosbottom mengamati dalam bukunya When Paris Went Dark. “Tidak ada cara untuk melarang pemakaian sepeda, atau Paris akan berhenti berfungsi.” Bagi banyak orang sepeda sangat penting, kehilangannya merupakan ancaman eksistensial. “Pemiliknya menderita kekurangan karet ban dan oli,” catat Rosbottom. “Ban kempes atau roda gigi lepas bisa menjadi peristiwa besar dalam kehidupan seorang pekerja atau ibu yang bertanggung jawab atas kesejahteraan anak-anaknya.” Itu sama benarnya di London yang terkepung seperti halnya di Paris yang diduduki. Seluruh lapangan udara Inggris diketahui mengalami kekurangan kendaraan untuk mengangkut awak pesawat ke pesawat mereka yang menunggu. Personil yang ulet lalu mulai mengemis, meminjam dan mencuri sepeda untuk dikendarai dari ruang pengarahan ke pesawat-pesawat pembom mereka. Sepeda juga diam-diam berguna ketika dipakai untuk menyelinap pergi guna mengunjungi pub yang tidak sah. Di sisi lain, sepeda yang senyap juga membuatnya sangat penting untuk berbagai gerakan bawah tanah di Eropa. Sementara itu sepeda juga tercatat dipakai dalam pendaratan di Normandia, yang terkenal. Sebanyak 14.000 tentara Kanada yang mendarat di Pantai Juno pada D-Day, tanggal 6 Juni 1944, diketahui membawa serta beberapa peralatan yang tampaknya tak terduga, yakni: lebih dari seribu sepeda. Saat tentara Sekutu menyebar dari pantai pendaratan di Prancis utara, pasukan Kanada harus membangun tempat berpijak dan menuju pedalaman ke Caen. Sebagian besar sepeda lalu dibagikan pada pasukan infanteri untuk bisa menempuh perjalanan dengan lebih cepat dan lebih tenang, serta bisa disingkirkan ketika tidak lagi diperlukan. Sepeda bekas sering lalu diambil oleh warga sipil dan digunakan untuk moda transportasi mereka ketika terjadi kekurangan bahan bakar selama dan setelah perang. Sepeda tempur ini biasanya dikendarai sampai hancur dan hanya sedikit yang tersisa di saat ini.



Film dokumenter My Italian Secret tahun 2014 menyoroti pengendara sepeda Gino Bartali, pemenang Tour de France dua kali pascaperang yang selama masa pelatihan mengendarai kerap mengenakan pakaian balap yang penuh mengangkut dokumen palsu ke unit perlawanan Yahudi selama Perang Dunia II, untuk membantu menyelamatkan nyawa orang-orang Yahudi yang tak terhitung jumlahnya. Dia mulai pekerjaan berbahayanya ini dengan mengangkut dokumen perjalanan dan identitas palsu kepada orang-orang Yahudi yang bersembunyi di pedesaan, dengan kertas-kertas digulung dan dimasukkan ke bawah tabung kursi sepedanya. Patroli Jerman dan Fasis Italia akan kerap melihatnya keluar dengan sepedanya tetapi terlalu takut (dan memang karena kagum) untuk mengambil risiko kemarahan publik dengan mengganggu ‘legenda hidup’ seperti Bartali. Namun, jika dia tertangkap, dia pasti akan ditembak mati. Dalam contoh lain, Bartali sebenarnya menaungi sebuah keluarga Yahudi setempat di sebuah apartemen selama setahun, sebuah tempat yang dibelinya dengan uang hasil kemenangan bersepedanya. Putra Bartali, Andrea, ingat ayahnya setelah kematiannya, ketika diwawancarai, bahwa ayahnya mengatakan ini: “Jika Anda pandai olahraga, mereka akan menyematkan medali ke baju Anda dan kemudian mereka bersinar di beberapa museum. Apa yang diperoleh dengan melakukan perbuatan baik akan melekat pada jiwa dan bersinar di tempat lain.” Dalam memoarnya, penulis dan koki The Bicycle Runner, Gian Franco Romagnoli, menceritakan masa mudanya sebagai kurir untuk gerakan perlawanan Italia. Dia ingat ban dan tabung karet sintetis yang hampir tidak berguna, tambalan demi tambalan dan akhirnya beralih ke selang taman panjang yang diisi dengan serbuk gergaji sebagai ganti ban. Dia menggambarkan reaksi terhadap roda terakhir yang tidak dapat diperbaiki: “Seorang pria dewasa hanya akan duduk di tepi jalan di dekat kendaraan yang rusak dan tidak berguna dan menangis.”



Saat perang hampir berakhir, sepeda kembali tampil kedepan, kali ini di tangan People’s Storm (Volkssturm) yang membawa Tank Fists (senjata anti tank Panzerfaust). Anak laki-laki remaja Jerman kerap terlihat mengendarai sepeda untuk berperang dengan sepasang Panzerfaust yang dipasang di depan sepeda. Mereka ditugaskan menahan kemajuan Tentara Merah Soviet, tentara Amerika, dan pasukan Persemakmuran dari segala arah, dan diperintahkan untuk membuat setiap desa menjadi benteng pertahanan. Beberapa melakukannya dan membayar harganya. Sementara itu Tentara Finlandia, Swedia, dan Polandia juga menggunakan sepeda secara ekstensif selama perang. Selama Invasi Polandia tahun 1939, sebagian besar divisi infanteri Polandia memiliki sebuah kompi pengintai bersepeda. Perlengkapan masing-masing kompi sepeda ini meliputi 196 sepeda, satu sepeda motor dengan sespan, dan sembilan kereta perbekalan yang ditarik kuda, ditambah tiga hingga enam senapan anti-tank dan perlengkapan standar infanteri seperti senapan mesin, senapan, pistol, dan granat tangan. Swedia adalah salah satu pelopor teknologi sepeda untuk penggunaan militer, dan Resimen Infanteri Gotland ke-27 mengganti pasukan kavalerinya dengan pasukan yang mengendarai sepeda pada tahun 1901. Enam divisi infanteri bersepeda Swedia dilengkapi dengan sepeda militer buatan dalam negeri, yang paling penting adalah jenis m/42, sepeda dengan pilihan satu kecepatan. Setelah perang, sepeda ini terus digunakan di ketentaraan Swedia, hingga tahun 1970, saat sepeda-sepeda ini dijual. Mereka kemudian dengan cepat menjadi sangat populer di kalangan mahasiswa Swedia, yang mendorong sebuah perusahaan baru, Kronan, untuk memproduksi versi modern dari m/42 pada tahun 1997. Dari tahun 1948 hingga 1952, Swedia mulai menonaktifkan resimen infanteri sepedanya, dan pada tahun 1980-an hanya sebuah batalion senapan sepeda khusus yang masih tersisa. Sementara itu di Eropa Resimen sepeda Swiss bertahan paling lama. Dimulai pada tahun 1891, unit itu baru dibubarkan tahun 2001.

PERANG VIETNAM
Sepeda kemudian memainkan peran dalam peperangan tidak konvensional selama perang-perang besar di abad ke-20. Di Asia Timur, sepeda terus digunakan oleh tentara Merah China untuk melancarkan serangan gerilya terhadap pasukan Nasionalis. Konvoi truk pasukan nasionalis akan diserang oleh kelompok kecil partisan komunis. Di mana-mana sepeda di China memudahkan para partisan untuk berbaur, sebelum dan sesudah serangan mereka terhadap armada truk buatan Amerika milik tentara Chiang Kai Shek. Dan sepeda itu nantinya akan menjadi kunci kekalahan orang-orang Prancis mereka di Dien Bien Phu, Vietnam. Di Vietnam sepeda sudah umum dipakai sejak awal tahun 1900-an. Di daerah pedesaan mereka dapat bergerak melintasi jalan setapak yang tidak dapat diakses oleh mobil, seperti yang berada di atas tanggul di antara sawah. Orang-orang Vietnam terus menggunakan sepeda sebagai alat transportasi pribadi dan juga untuk pengangkutan, seringkali dengan muatan yang begitu banyak, sehingga pemiliknya harus memasang sambungan bambu ke setang untuk mengemudi sambil berjalan di belakang rangka yang kendur dan terbebani. Tidak mengherankan, sepeda—meskipun harus direkayasa ulang secara signifikan dan diperkuat untuk membawa beban hingga 500 pon (226 kg)—merupakan alat transportasi andalan di jalur Ho Chi Minh Trail selama tiga dekade konflik setelah berakhirnya Perang Dunia II.


Sampai sebagian besar digantikan oleh truk, sepeda sangat penting selama tahun 1950-an dan tetap begitu di mana saja truk tidak dapat melakukan perjalanan. Lebih mudah disembunyikan dan/atau disebarkan jika diserang oleh pesawat atau senjata artileri, mereka adalah komponen kunci dari sistem logistik yang memasok unit-unit Viet Cong dan Vietnam Utara yang beroperasi di Vietnam selatan. Secara total, ada lebih dari 200.000 porter sepeda, yang digunakan pihak komunis selama perang. Sementara Soviet memasok Vietnam Utara dengan lebih dari 600 truk berat setiap tahunnya, sebagian besar kargo tetap dibawa dengan lebih dari 64.000 sepeda. Truk-truk itu merupakan sasaran empuk bagi para pengebom Amerika. Sepeda, di sisi lain, jauh lebih sulit untuk dibom. Jika truk berbobot dua setengah ton akan terjebak di kawah di tengah jalan, seorang porter cukup mendorong sepedanya ke tepi. Atau, jika terjadi yang lebih buruk, pengendara akan turun dari sepedanya dan membawa serta muatannya melintasi kawah bekas bom. Porter biasanya akan menyamarkan sepeda mereka di siang hari, dan bergerak di malam hari untuk menghindari deteksi. Pada tanggal 13 Oktober 1967, Jack Salisbury, seorang reporter New York Times, bersaksi di depan Komite Hubungan Luar Negeri Senat, dengan mengatakan, “saya percaya bahwa tanpa sepeda pihak komunis harus keluar dari gelanggang perang”. Dia telah melihat secara langsung di Vietnam Utara bagaimana baik Viet Cong dan Tentara Vietnam Utara mengandalkan sepeda untuk memasok pasukan mereka. Senator Fulbright sempat melontarkan pemikiran, “Mengapa kita tidak berkonsentrasi pada pengeboman terhadap sepeda mereka daripada jembatan? Apakah Pentagon tahu tentang ini?” Menurut laporan, ruangan itu segera meledak dalam tawa pada gagasan pesawat pengebom Amerika berburu sepeda di Vietnam.
SEPEDA DALAM PEPERANGAN ASIMETRIS & PERANG RUSSIA VS UKRAINA
Pasukan penjaga perdamaian di Timor Timur dan Siprus diketahui menggunakan sepeda dalam patroli mereka. Kelompok Macan Tamil menggunakan sepeda secara ekstensif selama Perang Saudara Sri Lanka. Dalam beberapa dekade terakhir, pasukan non-reguler bahkan telah mempersenjatai sepeda. Pada tanggal 17 September 2006, saat Operasi Medusa—serangan NATO untuk mengusir Taliban dari benteng mereka di provinsi Kandahar, Afghanistan selatan—dinyatakan selesai, dan Letnan Jenderal David Richards, komandan pasukan NATO asal Inggris di Afghanistan, menyatakannya sebagai “keberhasilan yang signifikan.” Sehari kemudian, sebagai sikap menantang, seorang pengebom bunuh diri membunuh empat tentara yang sedang berpatroli di dekat Panjwai. Sistem pengangkutan yang dipilihnya? Sebuah sepeda. Meskipun bukan taktik baru (IRA menggunakan bom sepeda pada beberapa kesempatan selama Gejolak di Utara Irlandia), serangan itu menggambarkan fenomena yang berkembang. Di seluruh Timur Tengah yang dilanda konflik, sepeda, yang dikendarai atau didorong, sering kali sarat dengan tas dan kotak yang tampak tidak berbahaya. Mengganti kargo tersebut dengan bahan peledak menghasilkan IED (peledak improvisasi) yang mudah tersamarkan di jalanan adalah sebuah opsi yang menggoda. Perangkat semacam itu telah membunuh atau melukai sejumlah orang yang tidak bersalah di Afghanistan dan Irak saja.



Yang terbaru, di tahun 2022 para petempur Ukraina menggunakan sepeda listrik dalam pertempuran melawan invasi Rusia, sebagian besar untuk mendukung misi pengintaian, operasi penyapuan ranjau dan pengiriman perlengkapan medis, menurut salah satu pembuat sepeda listrik Ukraina yang terlibat. Mereka dilaporkan juga telah digunakan untuk melakukan serangan sniper. Sepeda memiliki kecepatan tertinggi 55 mil (88 km) per jam dan relatif tidak berisik — membantu pengendaranya mereka menghindari tembakan tentara Rusia. Perusahaan e-bike Ukraina Eleek awalnya memberikan beberapa sepeda kepada militer ketika perang dimulai, menurut manajer Roman Kulchytskyi. Segera setelah itu, mereka mulai memproduksi sepeda secara massal – dengan warna hijau militer, dengan bendera kecil Ukraina di roda belakang – untuk para petempur Ukraina. Bekerja dari tempat perlindungan bom, Eleek mulai membuat bank daya berdasarkan sel baterai lithium-ion yang tersisa. Setelah berjuang untuk memperoleh suku cadang, mereka beralih menggunakan rokok elektronik — meluncurkan kampanye media sosial untuk membuat orang mengirimkan perangkat mereka. Sepeda versi militer ini telah dilucuti untuk menghilangkan bagian-bagian seperti kaca spion dan lampu yang dianggap tidak perlu untuk pemasangan trail riding. Perusahaan kemudian menambahkan pijakan kaki untuk penumpang, meningkatkan waktu pengisian, memasang sistem kontrol baterai dan menyertakan output 220V, yang memungkinkan prajurit untuk mengisi daya gadget dan dapat membantu menyalakan terminal Internet satelit Starlink. Sepeda, yang dilengkapi dengan ban yang relatif gemuk, sangat berguna di daerah berhutan di mana pengendara dapat mencari jalur mereka sendiri di sepanjang jalur yang tidak tertutup. Beratnya sekitar 140 pon (63 kg) — ringan dibandingkan dengan sepeda motor — tetapi dapat membawa beban yang relatif cukup berat. Satu video yang diposting di media sosial menunjukkan seorang petempur Ukraina bersenjata meluncur di sepanjang jalan dengan sepeda elektrik, tampaknya melaju secepat kendaraan yang menyertainya. Keuntungan lain dari sepeda adalah bahwa mereka mungkin tidak terlihat pada sistem pencitraan termal, yang digunakan untuk mendeteksi perbedaan suhu dan membantu lawan menentukan target potensial. Itu karena motor listrik tidak memanas seperti mesin kendaraan bermotor. Jauh dari memudar dan menjadi tidak relevan di abad ketiga sebagai alat angkut, sepeda nampaknya masih akan memiliki dampak langsung pada peperangan. Tidak membutuhkan bahan bakar atau pakan ternak dan hanya perawatan sekedarnya, lebih cepat dan lebih tenang daripada manusia, ia akan terus menemukan tempatnya dalam penggunaan militer.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
WHEELS OF WAR By BOB GORDON; 7/29/2020
Bicycles at War By Siegfried Mortkowitz; October 14, 2019 at 11:41 am
Bicycles in the Anglo Boer War 1899-1902 by D R Maree
8 Ways Bicycles Helped Win World War I
https://www.bicycling.com/news/g27561042/world-war-1-bicycles/
The Bicycle in War by Lee Rodgers
https://www.google.com/amp/s/crankpunk.com/2020/05/27/the-bicycle-in-war/amp/
Military bicycles: a short history By Peter Suciu; Published: August 13, 2012 at 7:59 pm
https://www.bikeradar.com/features/military-bicycles-a-short-history/?image=1&type=gallery&gallery=0
Bicycles at war by Ellie Blue
https://grist.org/biking/2011-10-11-bicycles-at-war/
The Bicycle in Warfare
https://www.awm.gov.au/articles/blog/the-bicycle-in-warfare
Ukrainian fighters take to electric bikes in the war against Russia By Rachel Pannett; May 26, 2022 at 2:55 a.m. EDT
https://www.washingtonpost.com/world/2022/05/26/ukraine-russia-war-electric-bikes-weapons/
D-Day bicycle by Sharon Adams; June 6, 2022
Bicycles of war; April 11 2014
https://en.topwar.ru/43534-velosipedy-voyny.html
A Brief, Illustrated History of the Bicycle at War, Part 1: Boers on Bikes By Wesley Cheney; Aug 8, 2016
Bikes at War Part Two: The Great War By Wesley Cheney; Sep 16, 2016
“Geef me min fiets!” Give me my bike! The Bikes of World War II By Wesley Cheney; Nov 30, 2016
How the Bicycle Won the Vietnam War By Wesley Cheney; Jan 30, 2017
The Bikes of Future Past: Bicycles in the Cold War and Beyond By Wesley Cheney; Jul 10, 2017
