Waffen SS Belanda, Bertempur Dengan Seragam Musuh dalam Perang Dunia II (1941-1945)
Tersesat dan hampir membeku pada malam pertamanya di garis depan, serta tanpa perlindungan di Rusia pada bulan Desember 1941, Hendrik C. Verton melihat apa yang menurutnya akan menjadi penyelamatnya: sebuah bus militer Jerman miring ke satu sisi jalan di depan. Dia dan seorang rekan prajurit mendekat dan, tidak dapat membuka paksa pintu, lalu menggaruk embun beku di jendela bus. Apa yang mereka lihat di dalam membuat Verton “terguncang”: lusinan tentara Jerman yang tidak bergerak, membeku saat mereka duduk tegak di kursi mereka. Bagi rekrutan SS Belanda berusia 18 tahun, itu adalah sambutan yang mengerikan untuk kengerian yang dingin di Front Timur. Pemikiran tentang para kolaborator Nazi Belanda mungkin membuat siswa sejarah masa kini terkesima. Peran Belanda dalam Perang Dunia II secara umum membangkitkan citra kisah Anne Frank dan keluarganya; juga Operation Market Garden, yang dikenang dalam buku dan film A Bridge Too Far; tentang pertempuran pembebasan tahun 1945; dan Perlawanan orang-orang Belanda, yang banyak ditulis dalam buku. Namun, faktanya Belanda di masa perang, kolaborasi bukanlah hal yang aneh: jauh lebih banyak orang Belanda yang bertempur atas nama Nazi daripada dalam gerakan perlawanan bersenjata terhadap pendudukan Jerman di negara mereka. Verton dan rekan-rekannya termasuk di antara 22.000 hingga 25.000 orang Belanda yang bertugas di Waffen-SS, sayap bersenjata elit SS—Schutzstaffel atau “Eselon Pelindung” dari Partai Nazi—yang meresapi doktrin Nasional Sosialis dan menyatakan kesetiaan kepada Adolf Hitler. Gerakan Perlawanan bersenjata orang-orang Belanda terhadap pendudukan Nazi, sebaliknya, hanya berjumlah antara 5.000 sampai 12.000, dimana sebagian besar bergabung pada tahun terakhir perang.

PAHAM NASIONAL SOSIALIS DI BELANDA
Belanda sangat menderita akibat keruntuhan ekonomi global pada tahun-tahun sebelum perang, dan penduduknya memandang pemulihan ekonomi Jerman di bawah ideologi Sosialisme Nasional dengan rasa iri dan curiga. Partai Nasional Sosialis Belanda sendiri, NSB (Nationaal-Socialistische Beweging in Nederland) telah menguat sepanjang tahun 1930-an. Didirikan pada tahun 1931, NSB meniru Partai Nazi di Jerman. Partai ini awalnya mendapat minat terbatas dari kelas menengah ke bawah Belanda tetapi tidak pernah mendapat dukungan yang luas. NSB disurvei hanya memperoleh dukungan tiga persen pada tahun 1939. “Nasional Sosialis menjanjikan kehidupan yang lebih baik,” jelas Gerardus Mooyman, putra seorang peternak sapi perah dari jantung Belanda, yang bergabung dengan Waffen-SS pada usia 17 tahun. Di militer Belanda yang kekurangan dana, senapan dan memakai artileri yang berasal dari abad ke-19, jumlahnya sedikit, dan moralnya berada di titik terendah. Dengan pembelanjaan militer seminimal mungkin, Belanda berharap dapat menangkis ekspansionisme Jerman dengan kebijakan netralitas yang ketat. Namun pada bulan Mei 1940, pasukan lintas udara Jerman dengan mudah melompati pertahanan Belanda, memicu penyerahan negara itu hanya enam hari kemudian. Antusiasme yang berdisiplin dari pasukan Jerman yang diperlengkapi dengan baik kemudian membuat orang-orang Belanda yang mudah terpengaruh seperti Hendrik Verton terkagum-kagum. Hendrik muda memiliki wajah yang segar dan fisik yang sehat seperti orang yang tumbuh di luar ruangan. Ayahnya, seorang industrialis skala kecil, mengagumi apa yang dilihatnya sebagai keunggulan teknologi dan etos kerja Jerman, dan meneruskan pandangan tersebut kepada anak-anaknya. Dengan sedikit keterpaparan pada dunia di luar keluarga Kristen konservatifnya dan rumahnya di pulau Schouwen-Duiveland, dekat perbatasan Belgia, Verton menyerap nilai-nilai ini. Bagi pemuda seperti dia, moto SS, “Kehormatanku adalah kesetiaanku,” adalah kata-kata yang harus dianggap serius. Terlepas dari propaganda anti-Jerman yang terus-menerus di Belanda, Verton dan rekan-rekannya iri saat melihat foto Pemuda Hitler mengendarai sepeda motor atau pesawat layang terbang. Verton dan kawan-kawan berbagi pandangan yang berkembang bahwa Belanda adalah daerah terpencil di Eropa, sementara Nazi Jerman mewakili masa depan. SS memanfaatkan sentimen tersebut. Dengan Wehrmacht yang mendominasi rekrutmen militer di Jerman, SS mencari rekrutan yang cocok di luar perbatasan Jerman, awalnya berfokus pada negara-negara keturunan Jermanik di Eropa—yang memiliki kredensial “Arya”, termasuk Belanda, Swedia, Norwegia, Denmark, dan Belgia. Saat perang berlangsung dan populasi laki-laki Arya menipis di medan perang Eropa, SS dan tentara reguler Jerman mulai merekrut orang-orang dari Prancis, Kroasia, Bosnia, Latvia, Estonia, Spanyol, Finlandia, India, Asia Tengah, dan jutaan Volksdeutsche— etnis Jerman yang tinggal di Eropa Timur selama berabad-abad, banyak dari mereka berbicara sedikit atau tidak bisa sama sekali berbahasa Jerman.



PEMBENTUKAN WAFFEN-SS BELANDA
Pada hari-hari awal perang, Waffen-SS memiliki reputasi sebagai unit elit pemuda yang cerdas, atletis, dan tak kenal takut. Kakak laki-laki Hendrik, Evert, adalah yang pertama di keluarganya yang bergabung. Ketika Evert yang berseragam kembali ke rumah untuk merayakan Natal tahun 1940 dengan lencana Kepala Kematian di topinya dan antusiasme yang terpancar untuk “Eropa Baru”, Hendrik dengan penuh tekad menyatakan: “Saya memutuskan untuk mengikutinya dan tidak ada dapat yang menghalangi saya.” Hendrik menjelaskan bahwa saudaranya telah memilih untuk mengenakan “seragam musuh” karena dia “bersedia berkorban untuk tanah air ini, di Eropa masa depan.” Rekrutan Belanda memiliki berbagai motivasi untuk bergabung dengan Waffen-SS di luar tujuan yang dinyatakan bertujuan untuk menghancurkan Bolshevisme Rusia guna menciptakan “Eropa Baru”. Beberapa diantara mereka ingin menghindari kerja paksa atau masalah hukum; yang lain mencari petualangan atau—karena tanah air mereka kelaparan pada tahun 1944—prospek untuk makan tiga kali sehari. Pada tahap akhir perang, perekrut bahkan menawarkan pembebasan dari penjara. Beberapa tanpa latar belakang NSB bergabung hanya untuk memberontak melawan orang tua non-Fasis mereka. Anti-Semitisme mungkin berperan bagi sebagian orang, tetapi sebenarnya ada banyak kesempatan untuk terlibat dalam kegiatan anti-Semit di kepolisian Belanda setempat dengan sedikit risiko kehilangan nyawa dan anggota tubuh. Beberapa rekrutan juga berasal dari tentara Belanda yang kalah, meskipun setidaknya satu calon prajurit profesional mengajukan diri karena dia tidak senang dengan pelatihan yang dia terima di sana. Pada akhir tahun 1940 dibentuk SS Volunteer Standarte Nordwest, khusus untuk memasukkan warga Belanda dan Belgia ke dalam jajaran SS. SS Volunteer Standarte Nordwest lalu dipecah menjadi unit-unit nasional dengan Unit Sukarelawan SS Niederlande yang terdiri dari kaum fasis asal Belanda. Berkantor pusat di Hamburg, Jerman, relawan pertama mulai berdatangan untuk pelatihan pada bulan April 1941. Semua perwira senior, sebagian besar bawahan mereka, dan hampir semua NCO di unit Waffen-SS Belanda adalah orang Jerman. Pelatihan adalah proses fisik yang melelahkan, kata seorang rekrutan, “membuat lidah saya menggantung seperti dasi merah.” Moto kamp pelatihan adalah “Terpujilah semua yang tangguh.” Verton mengamati bahwa “mentalitas liberal khas Belanda kami” tidak selalu selaras dengan ekspektasi SS. Orang-orang Belanda yang direkrut dengan cepat mengetahui bahwa ritual keagamaan seperti mengucap syukur sebelum makan malam tidak disukai di kamp pelatihan SS. Saat kelulusan, para sukarelawan mengucapkan sumpah setia kepada Hitler dan masing-masing memiliki tato golongan darah di bawah lengan kirinya. Tato yang diberikan hanya untuk anggota SS itu dimaksudkan untuk mempercepat penanganan medis di medan perang. Nazi yang percaya diri tidak pernah mempertimbangkan implikasi tato dalam kasus kekalahan mereka.


Hendrik Verton ditugaskan ke Divisi Panzer SS ke-5 Wiking, yang pada bulan Mei 1941 memiliki lebih dari 600 tentara asal Belanda di bawah komando Jenderal Felix Steiner. Steiner, yang berusia 45 tahun, adalah seorang perwira veteran Prusia dan anggota awal Partai Nazi. Dengan sesama jenderal Prusia Paul Hausser, Steiner membentuk sukarelawan asing Waffen-SS menjadi kekuatan tempur yang agresif. Verton bertugas di resimen divisi Westland bersama orang-orang Denmark, Norwegia, Flemish, dan Jerman, membantu invasi ke Rusia pada musim panas tahun 1941 sebagai bagian dari Operasi Barbarossa. Pada fajar tanggal 22 Juni 1941, pasukan Reich Ketiga melintasi perbatasan dengan Uni Soviet, memulai Operasi Barbarossa, salah satu invasi militer terbesar dalam sejarah. Berita itu menyebar dengan cepat ke seluruh dunia dan semua negara sekutu utama Jerman segera menyatakan perang terhadap Uni Soviet untuk mengambil bagian dalam perang “suci” melawan Bolshevisme. Negara-negara ini adalah Italia, Rumania, Hongaria, Slovakia, dan Kroasia. Mesin propaganda Jerman, yang diarahkan dengan baik oleh Joseph Goebbels, segera berusaha mengubah serangan itu menjadi perang “suci” yang nyata dengan mengadu peradaban Eropa yang menentang barbarisme Soviet; di atas segalanya dia ingin membuat seluruh dunia berpikir bahwa ini adalah serangan preventif, untuk menghentikan invasi Komunisme di jantung Eropa, sesuatu yang sudah ditetapkan dalam rencana Stalin. Setelah berhasil melibatkan sekutu utama Reich Ketiga, propaganda Jerman (dalam proyek mereka untuk menginternasionalkan perang di Timur) mengorganisir pusat-pusat perekrutan di seluruh Eropa, dengan maksud untuk membentuk unit-unit sukarela, yang disebut Freiwilligen Legionen (Legion of Volunteers). untuk dikerahkan melawan Soviet. Untuk tujuan ini, pameran, konferensi, dan acara diselenggarakan untuk mengumpulkan dukungan untuk Perang “Suci” baru melawan Bolshevisme dan terutama untuk merekrut sukarelawan untuk pelatihan sukarela baru, khususnya kaum muda asal Jermanik (seperti Belanda), Swiss, Swedia, Denmark, Norwegia, dan Flemish.


Di Belanda, sehari setelah dimulainya Operasi Barbarossa, pembentukan legiun sukarela untuk bertempur di front Timur segera dimulai, dengan dukungan dari National-Socialistche Beweging (NSB), gerakan utama sayap kanan Belanda, pimpinan Anton Adrian Mussert. Pendaftaran dimulai pada bulan April 1940 dengan pembentukan dua resimen: Resimen Waffen-SS Nordland (untuk sukarelawan asal Denmark, Norwegia, dan Swedia), dan Resimen Waffen-SS Westland (untuk sukarelawan asal Belanda dan Flemish). Pada tanggal 10 Juli 1941, Reichskommissar di Belanda, Arthur Seyss-Inquart, secara resmi mengumumkan lahirnya Legiun Belanda, Legiun Freiwilligen Niederlande. Letnan Jenderal H. A. Seyffardt, mantan Kepala Staf Angkatan Darat Belanda, terpilih sebagai komandan pertama. Formasi itu seukuran batalion infanteri yang diperkuat, dengan lima kompi bermotor. Keesokan harinya, kampanye dimulai di seluruh negeri, didorong oleh bagian dari partai NSB. Banyak anak muda mendaftar, terutama anggota Weerbaarheidsafdeling, yang ditambahkan ke 1.400 sukarelawan Belanda dari resimen Northwest yang dibubarkan. Relawan Flemish juga tiba dari wilayah Flanders didekatnya. SS-Freiwilligen Legion Niederlande, terdiri dari tiga ribu sukarelawan, dan diorganisir dalam tiga batalyon infanteri, masing-masing dengan empat kompi, ditambah kompi meriam infanteri ketiga belas dan kompi anti-tank keempat belas. Para sukarelawan dipindahkan ke Truppenübungsplatz di Arys, Prusia Timur pada pertengahan bulan Oktober 1941, di mana mereka memulai pelatihan di bawah bimbingan instruktur Jerman yang ketat. Pelatihan dasar untuk Legiun baru dilanjutkan di Hamburg sementara tentara yang baru dibentuk dikirim ke Truppenübungsplatz untuk menjalani pelatihan khusus dan teknis. Motivasi tinggi mencirikan pasukan baru seperti halnya keinginan untuk mempelajari keahlian keprajuritan. Setelah menyelesaikan pelatihan, Legiun dipindahkan ke front Volkhov, di utara Danau Ilmen, dan berada di tengah serangan balasan musim dingin Soviet.
SUKARELAWAN BELANDA DALAM OPERASI BARBAROSSA
Pada bulan Juli 1941, yang pertama dari tentara Legiun Sukarelawan asal Belanda berangkat ke Front Timur. Mereka dalam perjalanan untuk berperang bersama dengan tentara Jerman. Di kereta mereka, mereka menulis: ‘Ke sudut (orang-orang) Yahudi’ dan ‘Kami akan mendapatkan Stalin’, dan mereka menggambar lambang swastika. Namun mereka dengan cepat menemukan bahwa kenyataan di Rusia tidak memiliki kemiripan dengan poster-poster perekrutan SS berwarna mencolok, yang memperlihatkan orang-orang Belanda berseragam Jerman menekan dengan mudah serta menginjak-injak kaum “barbar” Bolshevik. “Kami belum menemukan ‘petualangan’, atau ‘daun salam kemenangan’,” Verton kemudian menulis, “tetapi lumpur, kutu, kondisi seperti di kutub, dan kematian.” Orang-orang Belanda segera mulai menemukan sisa-sisa rekannya yang telah ditawan dan disiksa atau dimutilasi oleh orang-orang Rusia. “Kami terus menekan pelatuk dan mencium bau desa yang terbakar di lubang hidung kami,” kenang Verton. Di depan, kematian mengintai di balik setiap bayang-bayang dan menyebar ke seluruh lanskap dalam deru angin malam. Penjaga menghilang dalam kegelapan; patroli berakhir berdarah akibat dari ranjau yang tersembunyi dengan baik; dan, saat musim dingin semakin dingin, selimut salju yang terlihat damai menyembunyikan orang-orang Siberia yang menerobos ke posisi Jerman. Saat-saat pembantaian yang mencengangkan kadang-kadang menghancurkan rutinitas sehari-hari yang penuh ketakutan dan gesekan. Pada dini hari tanggal 19 November 1941, unit Verton menyaksikan 1.000 pasukan kavaleri Rusia, dengan pedang yang bersinar di bawah sinar matahari terbit, berlari menuju senapan mesin modern tentara Jerman di resimen itu. Bertahun-tahun kemudian Verton menggambarkan bagaimana “tanah rendah yang tertutup salju berubah menjadi medan perang berlumuran darah antara tembakan dari senapan mesin dan mortir, peluru pecah, yang melontarkan segala yang ada di jalurnya sejauh delapan meter ke udara. Itu tidak lebih seperti bunuh diri dengan cara disembelih.”


Sementara tentara Jerman membuka jalan mereka melalui stepa Rusia, SS mulai merekrut “Legiun” Eropa berdasarkan asal negara, tidak seperti unit campuran tempat Verton berada. Legiun Relawan SS Niederlande yang telah dibentuk kemudian diberi perintah operasional dan dipindahkan ke desa Selo-Gora di kawasan Leningrad. Dikirim untuk menggantikan Resimen Infanteri ke-20 dari Divisi Infanteri 90, dan bergabung dengan Grup Angkatan Darat Utara pimpinan Jenderal Wilhelm Ritter von Leeb pada bulan Januari 1942, mereka siap bergabung dalam perang melawan musuh Nasional Sosialisme. Area hutan di sepanjang garis depan relawan Belanda dipenuhi dengan bunker Soviet yang membutuhkan patroli hampir konstan untuk membasmi dan menggantikannya dengan posisi pertahanan Belanda. Perbentengan pasukan asal Belanda merupakan tanggapan langsung terhadap pengeboman artileri Tentara Merah yang tampak tak pernah berhenti seperti jarum jam. Sebaliknya, tentara legiun Belanda sangat mahir dalam menghancurkan posisi pasukan Soviet sehingga propaganda Angkatan Darat Jerman yang disiarkan di daerah tersebut memilih menonjolkan aksi tempur mereka. Pasukan asal Belanda juga harus berurusan dengan partisan lokal yang beroperasi di bagian berhutan lebat di wilayah tanggung jawab Legiun. Semua partisan yang tertangkap relawan Belanda diinterogasi dan kemudian dieksekusi mati. Pada bulan Februari 1942 memunculkan seorang komandan baru, yakni SS-Brigadeführer Gottfried Klingemann, dan kunjungan yang meningkatkan semangat dari pemimpin National Socialistische Beweging Anton Mussert. Mussert berperan penting dalam pembentukan Legiun dan membawa panji-panji militer Belanda yang terlahir kembali. Euforia kunjungan Mussert dengan cepat memudar ketika kengerian perang datang kembali dalam bentuk serangan Tentara Merah pada tanggal 10 Februari. Sejumlah besar pasukan infanteri Soviet baru dipukul mundur setelah kehilangan puluhan tentara relawan Belanda. Serangan lanjutan sepanjang bulan menghasilkan hasil yang sama, kerugian Soviet yang tinggi, bersama dengan puluhan korban di pihak Legiun dan turunnya moral relawan Belanda. Bahkan penyerahan beberapa medali Iron Cross kepada tentara Legiun tidak dapat membangkitkan semangat relawan Belanda.


Mengenakan lambang “Bendera Pangeran” Belanda yang bersejarah, berwarna jingga, putih, dan biru, sebuah Legiun SS Belanda tiba di rawa-rawa dan hutan di Front Timur di tengah musim dingin tahun 1941-1942—musim dingin terdingin dalam 140 tahun, dengan suhu tercatat -52 derajat Fahrenheit. Sepatu bot kulit yang berpaku dikenakan para prajurit harus menahan hawa dingin, menyebabkan radang dingin dan kadang terpaksa amputasi. Sekutu orang-orang Finlandia, yang terbiasa dengan dinginnya kawasan Arktik, mengejek dengan mengatakan orang-orang Belanda mungkin telah berlarian di salju dengan kaus kaki mereka. Helm baja juga sama saja, menyebabkan tentara mati tiba-tiba saat cairan otak mereka membeku. Para prajurit kemudian mengenakan setiap potong pakaian yang mereka miliki. Namun di tengah pertempuran, para sukarelawan berkeringat begitu banyak sehingga mereka harus melawan keinginan untuk melepaskan mantel mereka, suatu dorongan yang akan menyebabkan kematian. Orang-orang itu terpaksa menggunakan granat tangan untuk menggali tanah beku untuk kuburan rekan-rekan yang gugur. Surat dari rumah jarang sampai—Petugas pos Belanda memilih untuk membuang daripada mengirimkan surat ke Front Timur sebagai tindakan perlawanan. Kemudian dalam perang, kelompok Perlawanan Belanda mulai membunuh kerabat dekat sukarelawan Waffen-SS. Pada awal tahun 1943 misalnya, ayah dari sahabat Verton di SS dibunuh di Belanda utara saat mengendarai sepeda pulang. Temannya sendiri telah meninggal karena serangan mortir setahun sebelumnya. Pada tanggal 6 Februari, Jenderal Seyffardt sendiri, saat berkampanye untuk memperoleh rekrutan baru di Amsterdam, dibunuh oleh gerakan perlawanan Belanda.


Di front timur tahun 1942, datangnya musim semi tidak membantu apa pun untuk meningkatkan moral relawan Belanda yang sudah suram. Genangan setinggi pinggang di parit secara dramatis meningkatkan kasus penyakit sekaligus membuat kondisi garis depan menjadi menyedihkan. Pasukan Infanteri Soviet melakukan yang terbaik untuk menambah kesulitan ini dengan melakukan serangan berulang kali ke sektor relawan Belanda. Unit elit seperti Resimen Senapan ke-1002 dari Divisi Siberia ke-305 berusaha menyerbu parit relawan Belanda pada akhir bulan Maret, tetapi berhasil dipukul mundur dengan kerugian besar di kedua pihak. Sementara itu di bulan April membawa peningkatan dalam kondisi penerbangan dan dengan itu, serangan bom Soviet mulai berdatangan. Serangan ini sering dikoordinasikan dengan serangan pasukan infanteri setelahnya, yang sedikit demi sedikit mengurangi jumlah dan moral Legiun asal Belanda. Semangat kemudian bangkit kembali begitu musim panas tiba; ketika cuaca yang lebih baik ditambah dengan kesempatan untuk akhirnya melakukan ofensif terhadap pasukan komunis. Sebuah area di dekat Danau Fuhovga menjadi saksi serangan pertama relawan Belanda di front timur ketika Batalyon ke-III kembali bertarung dengan Divisi Siberia ke-305. Sejumlah besar senjata dan amunisi lalu menyertai penangkapan lebih dari 3.500 tawanan perang Soviet, termasuk Letnan Jenderal Vlassov dari Pasukan Kejut ke-2. Vlassov, penerima medali Pahlawan Uni Soviet, dideportasi ke sebuah kamp di Ukraina dan mulai mengorganisir “Tentara Pembebasan Rusia”, sebuah organisasi militer yang didedikasikan untuk melenyapkan rezim represif Stalin.

Sementara itu, setelah membuktikan dirinya dalam pertempuran, Legiun dipindahkan ke Brigade Infanteri SS ke-2 dan dikirim dari Front Wolchov ke Front Leningrad. Antara tahun 1942 dan 1943, para sukarelawan Belanda terlibat pertempuran di garis depan di Leningrad, pertama di sektor Selo-Gora dan kemudian di Krasnoje-Selo, dalam pertarungan sulit melawan musuh yang sengit dengan kondisi medan Rusia yang mengerikan. Pada bulan Juli SS-Obersturmbannführer Josef Fitzthum mengambil alih komando Legiun Belanda yang jumlahnya tinggal hanya 1.400 orang siap tempur. Dari 1.400 orang ini, 176 dianugerahi medali Iron Cross oleh komandan baru mereka. Beruntung bagi orang-orang Belanda, sisa bulan Juli relatif tenang dan memberikan waktu bagi mereka untuk menjalani pelatihan dan pemulihan. Bagaimanapun, ketika Operasi “Nordlicht” dimulai pada pertengahan bulan Agustus 1942, Legiun Belanda mendapati dirinya tidak memiliki perlengkapan memadai dan persiapannya yang buruk. Moral telah menurun setelah unit-unit tersebut disergap di Krasnoje-Selo dalam perjalanannya ke Front Leningrad dan terus menurun saat orang-orang Belanda melakukan serangan bersama Divisi infanteri ke-6 dan Divisi SS-Polizei ke-4. Unit intelijen Tentara Merah telah mengetahui serangan musim panas Jerman dan bersiap dengan baik untuk menghadapi 13 divisi Grup Tentara Utara Jerman yang dikirim untuk mengusir mereka dari Leningrad. Setelah serangan Jerman yang gagal, Soviet melancarkan serangan di Ladoga yang dirancang untuk (pada) akhirnya mematahkan pengepungan di Leningrad. Perlawanan sengit dari Legiun Belanda dan Jerman memperlambat dan akhirnya menghentikan serangan Rusia pada akhir tahun 1942 karena cuaca kembali menjadi tidak dapat dipertahankan. Pada tanggal 12 Januari, tugas pertama komandan SS-Brigadefuhrer Friedrich Scholz yang baru diangkat adalah untuk memukul mundur serangan lapis baja Soviet, yang sekali lagi ditujukan ke Ladoga. Dibantu oleh Legiun Norwegen (Relawan Norwegia) dan Divisi Lapangan Luftwaffe, Legiun Belanda mampu menghalau serangan tersebut.
GERARDUS MOOYMAN
Berjuang dengan gagah berani bersama unit Jerman dan formasi sukarelawan asing lainnya, sukarelawan Belanda sangat menonjol. Tentara Waffen-SS Belanda yang paling terkenal muncul dalam pertempuran sengit di luar kota Leningrad, saat pasukan dan unit lapis baja Rusia berjuang untuk mematahkan cengkeraman Jerman di kota itu. Sturmmann Gerardus Mooyman, putra peternak sapi perah, sudah berada di garis depan selama lebih dari setahun, mendapatkan medali Iron Cross First dan Second Class. Di usianya yang baru 19 tahun—lebih terlihat seperti anggota Pemuda Hitler daripada veteran perang SS—dia menampilkan prestasi spektakuler di Danau Ladoga, 25 mil (40 km) sebelah timur Leningrad. Pada bulan Februari 1943 Mooyman menghancurkan 13 tank Rusia dalam satu hari dengan senjata antitank Pak-40 kaliber 7,5 cm—sebagian dari total 23 tank yang dihancurkannya semasa perang. Para komandan dan rekan-rekannya mempercayainya tidak memiliki rasa takut, tetapi sebenarnya dia takut mati dan bahkan lebih takut lagi untuk menjadi tawanan Rusia. Relawan muda itu kemudian menjadi orang non-Jerman pertama yang dianugerahi penghargaan tertinggi Jerman, Knight’s Cross. Waffen-SS kemudian menyingkirkan Mooyman dari garis depan untuk mengirimnya ke kegiatan propaganda yang tampaknya tak ada habisnya yang dimaksudkan untuk menginspirasi pemuda Belanda lainnya agar berani bertempur seperti dirinya. Foto menunjukkan Mooyman tampak bingung dan sedikit kewalahan. “Saya kesal ketika Nazi menggunakan saya sebagai objek publisitas,” katanya kepada sebuah majalah Belanda 26 tahun kemudian. “Ketika (mereka) ingin menamai sebuah alun-alun dengan nama saya, saya menolak karena prajurit lain, yang tewas dalam pertempuran, sama beraninya dengan saya. Pertempuran membuat saya terpesona berkali-kali lebih dari semua masalah yang menyertainya.”

PERTEMPURAN NARVA
Saat perang darat terus berlangsung, unit baru Waffen-SS Belanda muncul untuk menggantikan mereka yang hilang dalam pertempuran. Setelah menderita lebih dari 80 persen korban di Rusia, Legiun Belanda dibubarkan pada bulan April 1943. Ditarik dari Front Leningrad, sisa-sisa Legiun dikirim ke Sonneberg untuk berlatih dan dilengkapi kembali untuk menghadapi musim panas. Yang selamat lalu bergabung dengan unit Norwegia dan Latvia untuk membentuk kelompok tempur baru. Dengan masuknya perwira baru, bersama rekrutan baru asal Belanda, dan Volksdeutsche Rumania, Legiun tersebut dinamai ulang Brigade SS-Freiwilligen-Panzergrenadier ‘Nederland’ dan disiapkan untuk penempatan kembali ke Balkan. Mengikuti praktik Jerman dalam memanipulasi sentimen nasionalisme ketika menguntungkan mereka, dua resimen Panzergrenadier brigade tersebut menggunakan nama-nama tokoh Belanda terkemuka. Brigade yang baru ditunjuk itu dipimpin oleh SS-Oberführer Jurgen Wagner dan melekat pada SS-Panzerkorps ke-III untuk melaksanakan tugas-tugas anti partisan di Balkan pada bulan September 1943. Bertempat di Oroslavje dan Donja Stubica, Kroasia, brigade tersebut menyerap 1.500 orang Belanda dari SS-Panzergrenadier Division ke-5 “Wiking” untuk mengisi dua resimen barunya, SS-Panzer Grenadier Regiment ke-1, “General Seyffardt” dan SS-Panzer Grenadier Regiment ke-2, “De Ruyter.” Saat ini, kekuatan unit ini mencapai 9.342 orang. Masa tinggal brigade ini di Kroasia singkat tetapi berdarah karena ditugaskan untuk membasmi pasukan partisan lokal, yang selalu yang berakhir dengan mengeksekusi semua tahanan. Brigade Nederland yang melakukan operasi melawan partisan, secara rutin disebut kerap menggantung tahanannya. Meskipun tidak sepenuhnya diperlengkapi atau dipasok ulang, brigade tersebut menerima perintah bergerak pada Hari Natal tahun 1943. Kembali ke Front utara Leningrad, sebagai bagian dari Korps Panzer SS (Jerman) ke-III pimpinan Felix Steiner, orang-orang Belanda datang tepat pada waktunya untuk menerima beban serangan musim dingin menghadapi pasukan Rusia yang jumlahnya sangat banyak. Steiner memuji kinerja brigade itu melawan serangan Soviet di bulan Januari 1944 yang diluncurkan dari kantong Oranienbaum, benteng Soviet di barat Leningrad yang gagal direbut oleh pasukan Jerman pada tahun 1941. Dalam pertarungan selama seminggu, orang-orang Belanda membantu mencegah pasukan Soviet meruntuhkan posisi sayap tentara Jerman. Steiner kemudian menyatakan dia “bangga memiliki pasukan seperti itu di Korps Jerman.”


Tiba di Oranienbaum pada awal bulan Januari 1944, brigade tersebut dikelompokkan dengan SS-Freiwilligen-Panzergrenadierdivision ke-11 ‘Nordland’ dan SS-Polizei Panzergrenadierdivision ke-4. Bala bantuan diperlukan di sektor ini karena Grup Angkatan Darat Utara memperkirakan mereka akan menghadapi Tentara Merah yang melakukan upaya pendobrakan dari Leningrad. Menyerang bagian front yang diawaki oleh unit Luftwaffe, tentara Soviet menerobos garis pertahanan pasukan Nazi. Serangan itu begitu sukses sehingga para prajurit Wehrmacht terpaksa mundur ke Narva, Estonia dan membangun benteng di sepanjang Sungai Narva. Untuk lebih mengkonsolidasikan komando & kontrol di daerah tersebut, Angkatan Darat ke-18 membentuk “Grup Angkatan Darat Narva”, yang terdiri dari Brigade SS-Panzergrenadierdivision ke-11 “Nordland” asal Belanda dan unit Estonia yang baru diwajib-militerkan, yakni Divisi Waffen-SS Grenadier ke-20. Musim dingin dan musim semi tahun 1944 menyaksikan banyak upaya dilakukan oleh pasukan Soviet untuk membangun dan mempertahankan jembatan di seberang Sungai Narva dan Danau Peipus. Brigade Belanda sekali lagi membuktikan kemampuannya dalam mempertahankan garis pertahanan Jerman di sepanjang Sungai Narva Estonia mulai dari bulan Februari 1944, di mana sejumlah besar petempur asing SS ada di sana sehingga menyebabkan orang-orang yang selamat menyebutnya sebagai “Pertempuran SS Eropa”. Tentara dari Belanda, Belgia, Denmark, dan Norwegia bertempur bersama rekan-rekan Estonia mereka untuk mencegah tentara Soviet menduduki kembali negara kecil di Baltik itu. Meskipun perbekalan dan jumlah personelnya berkurang, Brigade SS Belanda berulang kali memblokir upaya Tentara Merah untuk membuat jembatan permanen di atas Sungai Narva. Pada tanggal 8 Maret, tentara Soviet yang mendapatkan pijakan yang lemah di tepi sungai bagian barat mengirim kedua resimen lapis baja untuk mengeksploitasi celah tersebut, hanya untuk dipukul mundur dengan kerugian besar. Baru pada akhir bulan Maret brigade Belanda disuplai kembali dengan senjata anti-tank dan artileri yang memungkinkan pertahanan yang sesuai untuk “Festung Narva” yang baru diperintahkan oleh Hitler. Bulan April berlalu dengan cukup tenang saat Tentara Merah yang berlumuran darah berkumpul kembali untuk melakukan serangan musim panas. Brigade Belanda menggunakan masa jeda ini untuk membentengi dan mempersenjatai kembali. Orang-orang Belanda sekali lagi mendapat pujian dari Steiner — tetapi pada akhir bulan Maret, pertempuran mengerikan di sana telah menghabiskan satu hingga dua pertiga kekuatan brigade tersebut.

ESTONIA
Seperti kartu domino di peta, runtuhnya Angkatan Darat Grup Pusat di Operasi Bagration membuat tentara Jerman di bagian utara menghadapi ancaman pengepungan dan pemusnahan. Batalyon Straf ke-172 dengan dukungan Divisi Senapan ke-191 membanjiri area sungai pada tanggal 12 Juni, sangat bertekad untuk melakukan penebusan dengan mengorbankan nyawa para sukarelawan. Brigade ‘Nederland‘ dan ‘Nordland‘ sama-sama terpukul oleh batalion orang-orang hukuman Soviet, tetapi mampu mendesak pasukan Soviet kembali melintasi Narva. Menyadari keputusasaan mempertahankan Narva yang terkepung, Grup Angkatan Darat Utara memulai persiapan untuk melakulan penarikan ke Tannenberg, tepat di sebelah barat Narva. Bertempur di barisan belakang adalah prajurit dari Resimen Infanteri ke-48 “Jenderal Seyffardt”, yang memberikan waktu kepada rekan-rekan mereka untuk mundur ke garis pertahanan baru. Namun, Resimen “Jenderal Seyffardt” membayar mahal atas upaya mereka, karena kepemimpinan yang buruk menempatkan mereka di bawah serangan bom Angkatan Udara Merah. Pada bulan Juli 1944, serangan angkatan udara Soviet melenyapkan sisa-sisa salah satu resimen brigade, hingga nyaris sampai ke orang terakhir. Sekarang ditugaskan ke bagian Pernau dari garis pertahanan tersebut, orang-orang Belanda masih diganggu oleh kekurangan personel dan pasokan yang buruk. Yang memperparah masalah ini adalah pertanyaan mengenai kesetiaan orang-orang Estonia. Saat pasukan Jerman mundur semakin dekat ke wilayah Jerman, pasukan Estonia menjadi semakin tertarik untuk membebaskan tanah air mereka daripada mempertahankan Reich Jerman. SS-Brigadeführer Wagner, yang baru dipromosikan melangkah lebih jauh dengan mempertahankan sebuah kompi sebagai cadangan untuk mencegah setiap ancaman yang dirasakan dari orang-orang Estonia.


Dengan pasukan Sekutu memasuki Belanda pada awal bulan September, dan gerakan Perlawanan Belanda menjanjikan hari pembalasan bagi para kolaborator yang mereka sebut “Hari Kapak”, NSB dengan segera runtuh dalam kepanikan yang luar biasa. Pada tanggal 5 September 1944, 65.000 anggota NSB naik kereta dan jalan dalam pelarian ke Jerman. Meskipun beberapa kemudian mundur setelah operasi pembebasan Belanda oleh Sekutu ditunda, otoritas mereka telah lenyap dalam apa yang kemudian dikenal sebagai “Selasa Gila”. Di front timur, mundur kembali lagi, kali ini ke Kurland pada bulan Oktober, orang-orang Belanda baru saja tiba di stasiun sebelum harus menghalau serangan pasukan komunis di Libau. Dihadapkan oleh Tentara Merah di depan mereka dan partisan Lituania di belakang mereka, SS-Brigadeführer Wagner terpaksa mengeksekusi warga sipil untuk menjaga agar penduduk lokal tetap patuh. Pasukan Soviet kemudian melakukan reorganisasi dan pada akhir bulan Desember menghajar pasukan Belanda di Libau dan Frauenberg dengan serangan artileri massal, yang memicu serangan infanteri besar-besaran. Gelombang manusia ini dipukul mundur dengan hanya kerugian kecil pada pasukan SS. Pada bulan Januari 1945 dilakukan pengulangan taktik dari bulan Desember dengan hasil yang sama. Brigade SS Belanda secara umum terus terlibat secara eksklusif di front Timur (kecuali untuk penugasan awal singkat di Kroasia), berpartisipasi dalam beberapa pertempuran pertahanan tersulit di front timur laut, mulai dari front Leningrad, Narva bridgehead, garis Tannenberg, Dorpat, Curlandia dan terakhir di Pomerania. Saat tahun 1945 dimulai, pasukan Soviet menjebak resimen Brigade Nederland yang tersisa di Semenanjung Courland, Latvia, sehingga mengurangi jumlah mereka menjadi tinggal 80 orang. Yang selamat kemudian mundur melalui laut, dan unit itu dibentuk kembali dengan bala bantuan dari Volksdeutsche Belanda, Jerman, dan Rumania di Prusia Barat.
PERTEMPURAN FINAL
Perintah baru untuk brigade diberikan pada akhir bulan Januari; mereka akan berlayar ke Stettin dan digunakan untuk menutup lubang di garis pertahanan Berlin. Meskipun hanya memiliki 1.000 tentara siap tempur, brigade tersebut dinamai kembali sebagai 23. SS-Freiwilligen-Panzergrenadierdivision “Nederland” pada tanggal 10 Februari 1945. Sayangnya bagi orang-orang Belanda status baru ini tidak dapat mencegah Tentara Merah terus mendesak ke ibu kota dari “Reich Seribu Tahun” Hitler. Bahkan bala bantuan dari Kampfgruppe “Rehder” pada bulan Maret tidak dapat mempertahankan divisi tersebut pada level pertempuran fungsional untuk waktu yang lama. Orang-orang Belanda kemudian mengambil bagian dalam Operasi Sonnenwende yang gagal, dan pertempuran di dekat Altdamm pada bulan Februari 1945. Divisi ini dihancurkan lagi oleh serangan Rusia di Pomerania yang dimulai pada bulan Februari 1945. Pada bulan April 1945, divisi tersebut dipecah menjadi dua kelompok tempur. Lonceng kematian divisi tersebut berbunyi pada tanggal 16 April ketika dua Front Pasukan Soviet mendobrak garis pertahanan Jerman yang mengepung Berlin. Serangan Soviet pada tanggal 16 April telah mematahkan garis pertahanan Jerman pada tanggal 25 April, dan memotong jalur komunikasi antara kedua unit asal Belanda. Pada tanggal 3 Mei, relawan Belanda telah cukup menghadapi Tentara Merah dan, setelah memukul mundur satu serangan pasukan komunis terakhir, melarikan diri ke barat dan menyerah kepada sebuah batalion tank Amerika. Setelah menunjukkan keberanian di medan tempur, sebagian orang-orang Belanda memilih untuk mencari pengampunan dari pihak Sekutu Barat daripada mengambil risiko memelas belas kasihan kepada Tentara Merah yang ingin membalas dendam. Sisa-sisa unit yang masih tersisa lalu diserap ke dalam Kampfgruppe Vieweger dari Divisi Grenadier Waffen SS ke-15 (Latvia ke-1). Unit itu kemudian dihancurkan di kantong Halbe.


Sementara itu di Hongaria, pasukan SS Belanda lainnya di Divisi Wiking terlibat dalam upaya sia-sia untuk menahan pasukan Rusia yang maju sebelum pasukan Soviet mendesak mereka ke Austria dan ke pengasingan di Amerika. Di Belanda, SS membentuk divisi Waffen-SS baru yang berkekuatan lemah pada bulan Februari 1945. Banyak dari anggota unit tersebut tewas pada awal Pertempuran Berlin. Tentara Merah menembak beberapa anggota yang ditawan; yang lain menyerah dengan pasukan Amerika yang bergerak. Bulan Maret itu, divisi Penjaga Dalam Negeri SS baru, yang diorganisir di bawah pimpinan veteran Nazi, melawan pasukan Kanada dan Inggris di hilir Sungai Rhine, bahkan bentrok dengan anggota unit-unit yang tergabung dalam Tentara Kedua Inggris dari pasukan Belanda yang lolos dari invasi Jerman. Ketika pasukan Kanada mendekat, seorang mantan prajurit Legiun Belanda yang terluka di Front Timur, Andries Jan Pieters, mengorganisir kelompok anti-Perlawanan yang melakukan pemerkosaan dan penyiksaan sedemikian rupa sehingga seorang komandan SS memerintahkan penangkapan mereka. (Pemerintah Belanda kemudian akan mengeksekusi Pieters pada tahun 1952). Hendrik Verton lalu menyelesaikan perang di kota Breslau Jerman (sekarang Wrocław, Polandia) sebagai bagian dari Resimen Waffen-SS Besslein ad-hoc. Pada tanggal 1 April 1945, serangan artileri, pembom, dan roket telah mengubah Breslau menjadi neraka hitam yang tertutup awan seperti jamur. Selokan yang rusak dan mayat yang membusuk membuat udara tidak bisa dihirup. Kondisinya sangat tidak tertahankan sehingga 100 hingga 120 warga dan tentara bunuh diri setiap harinya. Di tengah neraka ini, Verton dan setiap rekannya menerima sebotol anggur dari petugas propaganda Partai Nazi untuk merayakan ulang tahun Führer pada tanggal 20 April. Rusia lalu mengintensifkan pengeboman mereka untuk menandai event itu. Delapan hari kemudian, peluru sniper menembus lengan Verton. Pada tanggal 6 Mei 1945—dua hari sebelum Jerman menyerah—pengepungan selama 82 hari di kota itu berakhir. Dari 25.000 orang Belanda yang bertugas di Waffen-SS, seperempat sampai sepertiganya tewas. Sementara itu empat sukarelawan Belanda tercatat menerima medali Knight’s Cross.
SETELAH PERANG
Banyak rekan senegaranya yang menderita di bawah kekuasaan Nazi di kampung halamannya menyerukan untuk mengeksekusi para anggota Waffen-SS Belanda yang kembali setelah perang. Pemerintah kemudian mencabut kewarganegaraan mereka, tetapi sebagian besar sukarelawan menerima hukuman yang relatif ringan, yaitu empat hingga lima tahun. Mereka yang berperang melawan Sekutu Barat menerima hukuman yang lebih lama. Mengintegrasikan kembali para pemuda ini ke dalam masyarakat Belanda merupakan sebuah tantangan – sebagian besar telah diindoktrinasi secara menyeluruh dengan ajaran Nazi. Diragukan apakah sebagian dari mereka dapat disembuhkan dari pemikiran anti-Semitisme yang telah mereka serap di SS. Beberapa veteran Waffen-SS Belanda rupanya mendapatkan kembali kewarganegaraannya dengan bertempur di Indonesia pada tahun 1945-1949 melawan para pejuang kemerdekaan yang ingin mengusir kembalinya rezim kolonial Belanda. Wagner, sebagai salah satu komandan unit Belanda selama perang tercatat diekstradisi ke Yugoslavia pada tahun 1947 untuk diadili atas kejahatan perang. Dinyatakan bersalah di hadapan pengadilan militer Yugoslavia, ia dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada tanggal 27 Juni 1947. Sementara itu, Jenderal SS Paul Hausser memimpin gerakan pascaperang untuk membersihkan catatan Waffen-SS dengan mengalihkan kesalahan atas kekejaman yang dilakukan. Sebagai seorang prajurit profesional Prusia yang tidak ingin turun-temurun menjadi pemimpin sekelompok penjahat perang, Hausser menekankan susunan anggota SS yang tersebar luas di Eropa dan mengidentifikasi sikap anti-Komunisme sebagai motivasinya, dengan menyatakan bahwa “SS benar-benar tentara NATO dalam bentuk prototipe.” Pernyataan tersebut menjadi inti dari sebagian besar catatan revisionis tentang Waffen-SS, meskipun hanya sedikit sejarawan yang menanggapinya dengan serius. Setelah menjalani tur propaganda, Gerardus Mooyman kembali bertempur di Front Narva pada tahun 1944 sebagai SS-Untersturmführer, atau letnan dua. Pada bulan Mei 1945, pasukan Amerika menangkapnya di Jerman; ia melarikan diri dua kali sebelum pengadilan Belanda pada tahun 1946 menjatuhkan hukuman enam tahun penjara. Dia menjalani tiga tahun di antaranya dan pindah ke Belanda utara di mana, tidak seperti kebanyakan rekan-rekannya, orang-orang sebangsanya memaafkan karirnya di SS sebagai ketidaksengajaan di masa muda. Mooyman mengaku “hancur” ketika dia mengetahui luasnya kejahatan Nazi dan membaca buku-buku tentang peristiwa ini, yang membuatnya “terbangun di malam hari sambil berteriak-teriak.” Dia meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil pada tahun 1987.

Soviet menahan Hendrik Verton di Breslau pada 9 Mei 1945. Dia mencoba menghapus tato golongan darahnya, tetapi para penangkapnya, yang memisahkan anggota SS dari tahanan lain untuk mendapat “perlakuan khusus”, menganggap bekas luka itu sebagai bukti keanggotaan SS-nya. Namun, yang mengejutkannya, luka tembak sniper di lengannya membuatnya dibebaskan, bahkan ketika rekan-rekannya yang sakit dan terluka digiring ke Gulag di Siberia. Verton mengira seorang dokter perempuan muda Rusia mungkin bersimpati padanya, tetapi ia tak tahu mengapa ia terhindar dari perlakuan yang lebih kejam. Untuk menghindari pembalasan di negaranya, Verton tetap tinggal di Jerman dan tidak kembali ke Belanda hingga tahun 1954, ketika pemerintah Belanda menawarkan amnesti kepada anggota Waffen-SS yang masih hidup. Dia meninggal di sana pada bulan Maret 2006, tiga tahun setelah menulis memoarnya, In the Fire of the Eastern Front. Seperti banyak buku sejenisnya, bukunya mengurangi pengaruh paham Nasional Sosialisme terhadap para sukarelawan Waffen-SS sembari menekankan pentingnya perang melawan Komunisme. Verton, tidak seperti Mooyman, sebagian besar tidak menyesal. “Pengorbanan adalah nasib para ‘sukarelawan.’” kata Verton. “Panen dari menabur benih sikap anti-Komunis mereka adalah pencemaran nama baik, dan penganiayaan yang dialami dimana ini adalah tragedi atas kehormatan mereka.” Bagi Hendrik Verton, menanggung kengerian yang dimulai pada malam pertamanya di depan perang ketika dia mengintip melalui jendela bus ke rekan-rekannya yang membeku hanyalah harga yang diminta dari sikap “idealis” seperti dirinya.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
IN THE UNIFORM OF THE ENEMY: THE DUTCH WAFFEN-SS By ANDREW MCGREGOR; 12/21/2017
SS-Freiwilligen-Panzergrenadier Brigade ‘Nederland’ History by Heath Alexander
https://www.flamesofwar.com/Default.aspx?tabid=108&art_id=1206&kb_cat_id=18
The Dutch volunteers in the Waffen-SS By Osprey on Sunday, May 31, 2020
https://ospreypublishing.com/uk/osprey-blog/2020/the-dutch-volunteers-in-the-waffen-ss/
Dutch volunteers in the Waffen-SS; July 26, 1941
https://www.annefrank.org/en/timeline/79/dutch-volunteers-in-the-waffen-ss/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Volunteer_Legion_Netherlands
