Others

Desingan Jet Phantom Amerika dalam Kudeta di Filipina, Desember 1989

Upaya kudeta paling serius terhadap pemerintahan Presiden Filipina Corazon Aquino dilakukan pada tanggal 1 Desember 1989, oleh anggota Angkatan Bersenjata Filipina yang tergabung dalam Gerakan Reformasi Angkatan Bersenjata (RAM) dan tentara yang setia kepada mantan Presiden Ferdinand Marcos. Kawasan Metro Manila terguncang oleh kudeta Natal ini yang hampir merebut Istana Malacañang. Kelompok ini kemudian berhasil dikalahkan sepenuhnya oleh pemerintah Filipina pada tanggal 9 Desember 1989. 

Pasukan pemerintah Filipina selama kudeta tanggal 1 Desember 1989. (Sumber: https://www.positivelyfilipino.com/)

LATAR BELAKANG

Politik Filipina antara tahun 1986 dan 1991 diselingi oleh berbagai perjuangan putus asa Aquino untuk bisa bertahan secara fisik dan politik dari serangkaian upaya kudeta, yang berpuncak pada upaya kudeta yang besar, berdarah, dan didanai dengan baik pada bulan Desember 1989. Upaya ini melibatkan lebih dari 3.000 tentara, termasuk pasukan elit Scout Ranger dan marinir, dalam serangkaian serangan terkoordinasi di Kamp Crame dan Kamp Aquinaldo, Benteng Bonifacio, Pangkalan Angkatan Laut Cavite, Pangkalan Udara Villamor, dan Istana Malacañang sendiri, yang dibom oleh pesawat serang antik T-28 Trojan. Meskipun Aquino tidak terluka dalam serangan ini, situasinya tampak menyedihkan, karena tidak hanya para komandan militer di seluruh negeri yang menunggu untuk melihat pihak mana yang akan menang di Manila, tetapi juga masyarakat Manila, yang turun ke jalan hanya untuk sekedar menonton dan menyaksikan tank dan tentara seperti pada bulan Februari 1986 saat berlangsung People Power yang terkenal mendudukkan Aquino sebagai presiden menggantikan diktator Ferdinand Marcos, yang sudah berkuasa puluhan tahun.

Corazon Aquino dilantik sebagai presiden Filipina ke-11 pada tanggal 25 Februari 1986, di Sampaguita Hall (Sekarang Kalayaan Hall). Setelah dilantik, Aquino menghadapi serangkaian pemberomtakan selama memerintah. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Meninggalkan Kamp Aguinaldo pada hari Minggu, 23 Februari 1986, Menteri Pertahanan Juan Ponce Enrile (tengah) melakukan pembelotan terkenal ke Kamp Crame, di mana ia akan bergabung dengan Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata Letjen Fidel V. Ramos. Nampak pada gambar Enrile didampingi oleh Gregorio Honasan (berjaket gelap). Keduanya kemudian akan terlibat dalam pemberontakan tahun 1989. (Sumber: https://kahimyang.com/)
Pendukung pro-Aquino berkumpul di sekitar tentara pemberontak yang memisahkan diri dari pemerintahan Marcos dan bermarkas di Kamp Aguinaldo dan Kamp Crame di sepanjang EDSA. Tidak seperti pada bulan Februari 1986 saat berlangsung People Power, dalam pemberontakan tahun 1989, masyarakat Manila, yang turun ke jalan hanya untuk sekedar menonton dan menyaksikan tank dan tentara. (Sumber: https://www.positivelyfilipino.com/)

JALANNYA KUDETA

Kudeta tersebut dipimpin oleh para perwira militer, antara lain Letkol Gregorio Honasan, Jenderal Edgardo Abenina, Jenderal Jose Ma. Zumel dan Kapten Proceso Maligalig, dan digalangi oleh aliansi RAM yang dipimpin oleh Honasan, dan Zumel. Strategi dasar kudeta ini adalah dengan melakukan serangan terpadu yang dilaksanakan dengan cepat, tiba-tiba, dan tepat sasaran terhadap fasilitas-fasilitas penting pemerintahan Filipina yang sedang mengalami krisis, baik yang nyata maupun yang dirasakan. Upaya terkoordinasi ini diharapkan akan langsung menyebabkan keruntuhan pemerintahan Aquino. Namun, strategi seperti ini memerlukan pengerahan total dari seluruh kekuatan kudeta pada saat yang bersamaan. Dalam upaya kudeta ini, para pemberontak memanfaatkan Latihan Balikatan, sebuah latihan militer Filipina-AS, untuk menutupi keterlibatan pasukan mereka. Kudeta pada bulan Desember 1989 dimulai secara tidak tepat pada tanggal 29 November 1989, ketika tim pasukan elit Scout Ranger (untuk kudeta masing-masing personel awalnya dibekali dengan senapan M-16 dan 60 butir peluru dengan magasin per prajurit) menghancurkan stasiun komunikasi AFP di Tagaytay sebelum waktunya. Misi ini seharusnya baru dilaksanakan pada tanggal 30 November, karena dimaksudkan untuk menandai Hari-H kudeta pada tanggal 1 Desember. Meskipun dilaksanakan dengan permulaannya salah, pasukan darat dan udara pemberontak mulai menyerang sasaran yang telah mereka pilih hampir secara bersamaan pada sore hari tanggal 30 November dan dini hari tanggal 1 Desember.

Kelompok RAM dipimpin oleh Kolonel Gregorio “Gringo” Honasan (berdiri dengan seragam kamuflase). Kudeta tahun 1989 dipimpin oleh para perwira militer, antara lain Letkol Gregorio Honasan, Jenderal Edgardo Abenina, Jenderal Jose Ma. Zumel dan Kapten Proceso Maligalig. (Sumber: https://www.positivelyfilipino.com/)
Personel elit Scout Ranger. Unit elit militer Filipina ini terlibat dalam kudeta tahun 1989. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Pada waktu yang hampir bersamaan ketika dua kompi Marinir pemberontak, dengan didukung oleh tiga kendaraan lapis baja LVT dan dua V-150, melancarkan serangan terhadap Pangkalan Udara Villamor (VAB), tiga kompi Resimen Scout Ranger Pertama (FSRR) menduduki Markas Besar (HQ) FSRR, mengepung dan mengamankan Pusat Operasi Angkatan Darat (AOC), dan hampir menangkap Panglima Angkatan Darat Filipina (CG PA) dalam prosesnya. Pada pukul 10:30 malam saluran listrik di Benteng Bonifacio diputus, yang mengakibatkan pemadaman total. Pasukan pemberontak lalu mengambil alih Gerbang 1 Benteng Bonifacio di Pateros. Pasukan ini merupakan siswa Kursus Mortar FSRR. Mereka mengambil senjata api, senapan mesin M-60 yang masing-masing berisi 300 peluru, dari Sekolah Pasukan Resimen. Setelah itu mereka mengambil alih sisa Benteng Bonifacio tanpa menemui perlawanan berarti. Sesudah menguasai berbagai fasilitas dan lokasi penting di Fort Bonifacio, pasukan Scout Rangers berusaha memperoleh persenjataan tambahan. Pasukan Kompi “B” dan Kompi “C, 1 SRB, FSRR lalu diinstruksikan untuk mengambil senapan M-16 beserta magasin dan amunisi 140 butirnya. Namun, pemberontak tidak dapat menggunakan kendaraan lapis baja dari Brigade Armor Ringan (LABde), maupun artileri Resimen Armor Ringan Angkatan Darat Filipina (PALAR), yang jangkauannya mampu mencapai Kamp Aguinaldo dan Malacañang, karena unit-unit tersebut tetap setia kepada pemerintah. Sementara itu, Marinir pemberontak berhasil memasuki VAB, melumpuhkan Wing Helikopter ke-205 (205 HW) dan asetnya, menyegel Panglima Angkatan Udara Filipina (CG PAF) di lantai tiga markasnya, merusak Gedung Markas 205 HW, serta menonaktifkan helikopter dan mengambil alih seluruh pangkalan. 

Seorang Prajurit Korps Marinir Filipina sedang makan selama upaya kudeta Filipina tahun 1989. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Kendaraan lapis baja V-150 Commando pemberontak selama Upaya Kudeta tahun 1989 terhadap Mantan Presiden Filipina Corazon Aquino. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Pada awal kudeta, para pemberontak dengan cepat merebut Pangkalan Udara Villamor, Benteng Bonifacio, Pangkalan Udara Sangley, Pangkalan Udara Mactan di Cebu, Channels 2 dan 4, dan sebagian dari Kamp Aguinaldo. Di pangkalan udara Mactan diketahui terdapat 27 pesawat PAF pada saat itu, yang terdiri dari: empat jet tempur F-5, tiga pesawat angkut C-130, satu pesawat serang T-28, satu pesawat latih T-33, tujuh pesawat Nomad, dua helikopter S-76 (Sikorsky), dan sembilan helikopter Huey. C-130 dan helikopter Huey mampu untuk digunakan untuk menggerakkan pasukan. Terdapat juga 13 pesawat komersial di bandara internasional alternatif Mactan; dua pesawat Boeing 747 (yang dialihkan ke Cebu karena NAIA ditutup untuk lalu lintas udara), dua BAC-111, enam Sunriser, dua Fokker, dan satu AVRO LBC. Para pemberontak juga melakukan patroli di sekitar landasan pacu Bandara Internasional Ninoy Aquino yang secara efektif menutupnya. Dari Pangkalan Udara Sangley, pemberontak meluncurkan pesawat dan helikopter untuk membombardir dan memberondong Istana Malacañang, Kamp Crame, dan Kamp Aguinaldo. Sekitar pukul 06:25, tiga pesawat serang T-28 (Tora-Tora, sebutannya di Filipina), diawaki oleh pilot pemberontak dan dibantu oleh sebuah pesawat Norman Islander buatan Inggris yang bertindak sebagai pengontrol udara garis depan, lepas landas dari Pangkalan Udara Sangley. Mereka melakukan pengeboman dan pemberondongan di kompleks Istana Malacanang. Ketika Malacañang dibom oleh pesawat pemberontak, tentara pemberontak yang sebagian besar berpakaian sipil, dan warga sipil, bersenjatakan senjata api berdaya tembak tinggi seperti senapan serbu M-16, pelontar granat M203, senapan mesin M60 dan senjata anti-tank menempatkan penghalang jalan dan pos pemeriksaan di berbagai tempat strategis di Sta Mesa. Para pemberontak memblokir jalan-jalan menuju Malacañang untuk mengisolasi Malacañang dari pasukan pemerintah yang datang untuk mempertahankannya. Pada pukul 09:00 dua pesawat Tora-Tora dengan dibantu helikopter Sikorsky membom Camp Crame yang mengakibatkan terbakarnya markas besar. Pukul 09:45, pesawat-pesawat Tora-Tora menjatuhkan empat bom di tempat tinggal Jenderal de Villa; dan pada pukul 10:00 helikopter Sikorsky menyerang Kamp Aguinaldo dua kali. Meski dua jet tempur F-5 dari Pangkalan Udara Basa dikerahkan untuk mencegat pesawat Tora-Tora, namun tidak terjadi pertempuran udara. Sementara itu, tentara pemberontak yang sebagian besar berpakaian sipil memblokir jalur pendekatan tertentu yang mengarah ke Malacañang untuk mencegah penguatannya. Namun, Satuan Tugas yang terdiri dari Kelompok Pengamanan Presiden (PSG) dan personel kepolisian Manila, ditambah dengan tujuh kendaraan tempur infanteri lapis baja, menyerang posisi pemberontak di dalam dan sekitar distrik Sta Mesa. Sekitar pukul 19.00, kawasan ini dibersihkan dari tentara pemberontak oleh Satgas.

Pesawat serang T-28 milik AU Filipina. Beberapa dirampas oleh pemberontak selama kudeta tahun 1989. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Pangkalan Udara Mactan. Di pangkalan udara Mactan diketahui terdapat 27 pesawat PAF pada saat kudeta tahun 1989, yang terdiri dari: empat jet tempur F-5, tiga pesawat angkut C-130, satu pesawat serang T-28, satu pesawat latih T-33, tujuh pesawat Nomad, dua helikopter S-76 (Sikorsky), dan sembilan helikopter Huey. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Pejabat Pentagon kemudian mengatakan Honasan telah mencoba memutus komunikasi luar dengan istana presiden, dengan harapan dapat mengumumkan kepada rakyat Filipina bahwa pemerintahan sementara sedang berkuasa. Honasan mengatakan pada saat upaya kudeta tahun 1987 bahwa dia gagal karena dia tidak memiliki perlindungan udara, kini dalam kudeta di bulan Desember 1989, pasukan pemberontak lebih siap dan mendapat dukungan udara. Para pejabat Pentagon mengatakan pasukan pemberontak telah menguasai kontingen angkatan udara Filipina yang terdiri dari sekitar 14 pesawat serang T-28 dan helikopter serang dan mulai memberondong serta membom istana presiden sekitar fajar hari Jumat 1 Desember 1989 di Filipina. Selama upaya kudeta tahun 1987, warga sipil turun ke jalan untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap Aquino dan pasukan pemerintah. Kali ini, responsnya berbeda, masyarakat tetap berada di rumah pada hari Jumat dan keluar lebih awal pada hari Sabtu-nya hanya untuk menyaksikan peristiwa yang terjadi. Sementara itu, kawasan bisnis Makati tampaknya berada di luar rencana awal para pemberontak. Tiga jam setelah jatuhnya Pangkalan Udara Villamor, Aquino mengudara untuk berpidato di depan negara tersebut, dan berkata bahwa “Kami akan menghancurkan upaya terang-terangan (pemberontak) ini sekali lagi”. Pada saat itulah serangan balik pasukan pemerintah dimulai. Tujuh truk tentara menuju Channel 4, dan pertempuran sengit terjadi di sana. Ramos dan Renato de Villa memantau krisis dari Camp Crame, markas besar Constabulary. Ketika pasukan setianya mendapat tekanan keras dari pemberontak, Aquino meminta bantuan militer AS, atas perintah komandan militernya, yang kemudian dikabulkan. 120 prajurit marinir, bagian dari kontingen AS berkekuatan 800 orang yang ditempatkan di Pangkalan Angkatan Laut Subic, dikerahkan di halaman Kedutaan Besar AS sebagai tindakan pertahanan. Presiden Aquino kemudian menyatakan bahwa pasukan setia tidak memiliki kemampuan untuk menahan kekuatan pemberontak. Bantuan Amerika sangat penting bagi Aquino, karena bisa membersihkan udara dari pesawat pemberontak dan memungkinkan para loyalis untuk mengkonsolidasikan kekuatan mereka. Meskipun banyak pemberontak yang menyerah, Aquino menyatakan: “Kami memberi mereka dua pilihan; Menyerah atau mati. Saya menyarankan mereka untuk memilih dengan bijak”. Aquino mengatakan pertempuran akan terus berlanjut sampai semua perlawanan telah dilenyapkan. 

Serangan pasukan pemberontak pada markas-markas militer Filipina selama kudeta tahun 1989. Honasan mengatakan pada saat upaya kudeta tahun 1987 bahwa dia gagal karena dia tidak memiliki perlindungan udara, kini dalam kudeta di bulan Desember 1989, pasukan pemberontak lebih siap dan mendapat dukungan udara.(Sumber: https://lakansining.wordpress.com/)

Jet-jet tempur F-5 pemerintah kemudian diterbangkan dan menantang pesawat-pesawat pemberontak, sayangnya tentara pemberontak di Mactan berhasil menjebak sebagian besar pesawat tempur F-5 dan pilot yang siap tempur, sehingga mencegah mereka mengganggu operasi pemberontak. Sementara itu, di Pangkalan Udara Basa, hanya ada tiga jet tempur F-5A dan satu F-5B yang masih memiliki kemampuan menjalankan misi secara parsial. Komandan Skuadron, Danilo Atienza (38 tahun) dari Skuadron Tempur Taktis (Cobras) ke-6 memerintahkan kru pemeliharaannya untuk mempercepat pengoperasian kembali pesawat-pesawat F-5 ke dalam status operasi penuh. Sekitar pukul 13.00, aset udara pemberontak dan tempat penyimpanan bahan bakar di Sangley berhasil dihancurkan oleh sebuah pesawat F-5 pemerintah yang dipiloti oleh Mayor Danilo Atienza. Aksi ini diikuti oleh dua F-5 yang menembakkan kanon, memberondong lapangan terbang, dan mengebom hanggar. Penghancuran pesawat-pesawat T-28 pemberontak membalikkan keadaan menguntungkan pasukan pemerintah, tetapi harus dibayar dengan mengorbankan F-5A yang diterbangkan oleh Atienza, yang tewas dalam salah satu serangannya. Atienza kemudian dianugerahi medali Medal of Valor atas kepahlawanannya, dan lapangan terbang di Sangley Point diganti namanya untuk mengenangnya. Jika bukan karena aksinya, pemerintahan Aquino mungkin akan bisa digulingkan. Menjelang sore, unsur gabungan dari Komando Polisi Nasional/Polisi Terpadu Cavite, Laguna, dan Batangas Filipina (PC/INP) melancarkan serangan yang akhirnya berhasil merebut kembali Sangley. Selain itu, dua batalyon pemberontak yang sebelumnya tiba dari Bataan dengan kapal penangkap ikan diizinkan kembali ke pangkalannya. Dengan demikian, pada sore hari tanggal 1 Desember, Sangley Point kembali berada di tangan pemerintah. 

Mayor Danilo Atienza dari Skuadron Tempur Taktis (Cobras) ke-6. (Sumber: https://www.facebook.com/)
F-5A Freedom Fighter AU Filipina. (Sumber: https://www.facebook.com/)
T-28 pemberontak rusak kena berondong pesawat pemerintah. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Pada tanggal 2 Desember, menjelang tengah hari, Scout Rangers mulai meninggalkan benteng mereka di Fort Bonifacio dan membawa senjata api, tabung mortir, dan meriam Howitzer kaliber 105 mm yang berjangkauan 11 km ke Gerbang nomor 1 dan 2. Pusat Komunikasi Angkatan Darat Filipina (PACOMCEN) dan AOC ditinggalkan oleh pasukan pemberontak saat mereka mulai berkonsolidasi di dekat Gerbang 2 dan Markas Besar Angkatan Darat Filipina (HPA). Upaya untuk menegosiasikan penyerahan Scout Rangers terjadi pada saat ini tetapi ketika gagal, sebagian besar pasukan pemberontak yang berjumlah 500 orang lalu pindah dari Fort Bonifacio menuju kawasan bisnis Makati. Mereka kemudian menduduki 22 gedung bertingkat di sepanjang kawasan bisnis Ayala di Makati. Sniper dikerahkan di atap-atap bangunan yang berlokasi strategis, didukung oleh pasukan yang bermanuver di lapangan. Sebagai tanggapan, pemerintah membentuk Satuan Tugas Makati, yang awalnya terdiri dari unsur-unsur CAPCOM dan PC dari Laguna dan Batangas, untuk memblokir rute pelarian dan akhirnya merebut kembali Makati. Pada saat ini dan beberapa hari setelahnya, terjadi bentrokan sesekali dan baku tembak antara pemberontak dan pasukan pemerintah. Sementara itu di tempat lain, pasukan Marinir pemberontak, yang berasal dari Villamor dan PTV-4, menggunakan kendaraan lapis baja LVT dan V-150, memulai serangan mereka di Kamp Aguinaldo, secara bergantian di antara Gerbang 1, 2, dan 3, namun, pasukan pemerintah tetap mempertahankan posisi bertahan mereka. Di tempat lain, pemberontak yang berada di dekat Gereja Mormon di White Plains sering menjadi sasaran serangan udara. Tidak ada terobosan berarti yang dilakukan pemberontak pada hari ini. Keesokan harinya, pasukan pemberontak, yang datang dari daerah White Plains, memulai serangan gabungan ke kamp Aguinaldo menggunakan meriam artileri dan mortir. Didukung oleh kendaraan lapis baja LVT Marinir dan kendaraan lapis baja lainnya, serangan darat diluncurkan di sekitar area utara (Gerbang nomor 1 Kamp Aguinaldo dan Gerbang Utama LOGCOM), serta di sekitar area timur (perimeter LOGCOM). Namun pasukan yang setia kepada pemerintah berhasil menghalau serangan tersebut dengan menggunakan senjata artileri, mortir, dan senjata recoilless, yang melumpuhkan serangan lapis baja musuh. Sebuah kendaraan lapis baja V-150 pemberontak dilaporkan dihancurkan, sementara sebuah LVT terbakar habis dan sebagian memblokir Gerbang nomor 1.

Kendaraan LVT pemberontak selama kudeta di Filipina tahun 1989. Pasukan Marinir pemberontak, yang berasal dari Villamor dan PTV-4, menggunakan kendaraan lapis baja LVT dan V-150, memulai serangan mereka di Kamp Aguinaldo. (Sumber: https://www.alternatehistory.com/)
V-150 Commando yang dirampas pemberontak rusak selama kudeta tahun 1989. (Sumber: https://www.alternatehistory.com/)

Pasukan pemerintah kemudian merebut kembali semua pangkalan militer kecuali Pangkalan Udara Mactan pada tanggal 3 Desember. Pada pukul 09.30 tanggal 3 Desamber, empat elemen pasukan pemerintah menghadapi pemberontak di Ayala Avenue di Distrik Makati. Satu kendaraan lapis baja V-150 milik pemerintah terkena senjata anti-tank pemberontak. Dua prajurit tewas dan Kapten Tagaca serta lima anggota kelompok penyerang lainnya terluka. Tak lama setelah itu, P/Lt Nelson Yabut juga terluka ketika pemberontak menembakkan senjata recoilless kaliber 90 mm mereka saat dia menaiki sebuah V-150. Akhirnya, pada pukul 10:45, sebuah V-150 berhasil dilumpuhkan oleh tentara pemberontak saat sedang menjalankan misi pengintaian di sudut EDSA dan Ayala Avenue. Brigadir Jenderal Aguirre dari pasukan pemerintah yakin para pemberontak mempunyai “peralatan komunikasi yang canggih… bukan dari jenis biasa yang digunakan oleh militer Filipina” yang mampu mengganggu jaringan radio pasukan pemerintah. Sekitar pukul 16.00 tanggal 3 Desember, sebuah helikopter BO-105 dengan nomor ekor RP 183 milik PC Aviation Group, yang dikemudikan oleh Letkol Alfredo Silapan bersama Capts Tito Ticman dan Dante delos Trinos, serta di bawah bimbingan Letkol Meynardo Carpio, CO PC RIU, lepas landas dari helipad CAPCOM dan melanjutkan perjalanan ke kawasan Makati. Helikopter tersebut bermanuver di atas Fort Bonifacio dan menembakkan beberapa peluru senapan mesin berat kaliber .50 ke arah pemberontak yang terletak di tempat parkir bertingkat di belakang Intercon. Pada upaya kedua dan ketiga, senjata helikopter tidak berfungsi sehingga memaksanya kembali ke markas CAPCOM. Pemerintah mengklaim kudeta berhasil digagalkan, namun pertempuran sengit terus berlanjut hingga akhir pekan, dengan Kamp Aguinaldo ditembaki oleh meriam howitzer pemberontak. Di Makati dan Mactan, periode antara tanggal 4 hingga 9 Desember dihabiskan dengan kedua belah pihak sesekali melakukan ancaman, memperkuat posisi, bertempur atau bernegosiasi. Untuk mencegah hilangnya nyawa warga sipil dan meminimalkan kemungkinan kerusakan harta benda, pasukan pemerintah memutuskan untuk merebut kembali Makati dari pemberontak “blok demi blok, bangunan demi bangunan… sniper ke sniper.” Rencana umumnya adalah dengan perlahan-lahan membatasi wilayah yang dikuasai pemberontak, sampai para pemberontak menyadari bahwa, karena mereka telah dikepung oleh kekuatan yang lebih unggul, dan sudah waktunya bagi mereka untuk menyerah.

Jenderal Cunanan di luar gerbang utama Kamp Aguinaldo memimpin pasukan dan unit lapis bajanya serta mengatur serangan balasan terhadap komplotan kudeta. (Sumber: https://www.positivelyfilipino.com/)
Di Camp Aguinaldo Grandstand setelah upaya kudeta berhasil ditumpas. Duduk dari kiri: Jenderal Thelmo Y. Cunanan, Kepala Staf Jenderal Renato De Villa, Menteri Pertahanan Fidel V. Ramos, Jenderal Rodolfo Biazon, Jenderal Javier D. Carbonel. (Sumber: https://www.positivelyfilipino.com/)

Akhirnya, pada pukul 02.30 tanggal 6 Desember sebagai hasil perundingan yang dipimpin oleh Brigadir Jenderal Arturo Enrile, Inspektur Akademi Militer Filipina (PMA), dengan para pemberontak, gencatan senjata diumumkan, yang berpuncak pada keesokan paginya dengan pemberangkatan turis asing dan penghuni apartemen dari wilayah Makati yang diduduki pemberontak. Pada tanggal 7 Desember, sekitar pukul 09.00, para pemberontak mengakhiri pendudukan mereka di distrik komersial Makati dan kembali ke barak mereka di Fort Bonifacio. Pendudukan di Mactan mengikutinya pada tanggal 9 Desember ketika pemberontak, dipimpin oleh Brigadir Jenderal Comendador, secara resmi menyerah kepada Brigadir Jenderal Palma di tengah Jembatan Mandaue. Jumlah korban resmi kudeta ini adalah 99 orang tewas (termasuk 50 warga sipil) dan 570 luka-luka. Militer Amerika Serikat tercatat mendukung pemerintahan Aquino selama kudeta ini. Operasi “Classic Resolve” yang melibatkan penggunaan kekuatan udara AS dari kapal induk USS Midway dan USS Enterprise serta pesawat-pesawat tempur F-4 Phantom II dari Pangkalan Udara Clark. Jet-jet Angkatan Udara Amerika Serikat merebut kembali langit Filipina untuk pemerintahan Aquino. Pesawat-pesawat AS kabarnya mempunyai izin untuk “…menerbangkan pesawat mereka di pangkalan para pemberontak, menembak mereka jika ada yang mencoba lepas landas, dan menembak jatuh mereka jika mereka melakukannya”.

KETERLIBATAN AMERIKA

Pemerintah Aquino merasa perlu untuk meminta dukungan Amerika Serikat untuk menghentikan pemberontakan. Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Colin Powell ingat Aquino menelepon Gedung Putih dan meminta AU Amerika (USAF) untuk mengebom pangkalan udara terdekat untuk mencegah pesawat-pesawat pemberontak menyerang Istana Malacañang. Powell dan Laksamana Huntington Hardisty kemudian malah memutuskan untuk menginstruksikan dua pilot F-4 AS untuk lepas landas dari Pangkalan Udara Clark pada 1 Desember jam 2 siang dan terbang diatas pangkalan udara pemberontak dengan cara yang menunjukkan “niat bermusuhan yang ekstrem”, dengan instruksi lebih lanjut untuk menembak jatuh pesawat mana pun yang lepas landas. Pada bulan November – Desember 1989 pasukan AS bergerak untuk mengevakuasi warga Amerika selama upaya kudeta, dan secara umum lebih ditugskan untuk melindungi kepentingan AS di Filipina. Selama operasi ini, pasukan operasi khusus yang besar dibentuk, pesawat-pesawat tempur USAF berpatroli di atas pangkalan udara pemberontak, dan dua kapal induk ditempatkan di lepas pantai Filipina, berada dalam jarak 150 hingga 200 mil (241-321 km) dari Manila. Rencana darurat militer memerintahkan helikopter AS bersiaga untuk mengevakuasi Aquino ke kapal induk jika diperlukan. Akan tetapi, tidak ada perintah yang diberikan untuk mengevakuasi satu pun dari 20.000 anggota militer dan warga sipil AS yang tinggal di Filipina, kata para pejabat Pentagon. Sekitar 15.000 personel Departemen Pertahanan ditempatkan di sana: 9.000 di Pangkalan Angkatan Udara Clark, 5.000 personel Angkatan Laut dan 800 personel Marinir di Teluk Subic, dan 200 anggota kelompok militer Angkatan Darat.

Marinir AS di dek USS Tuscaloosa saat berlabuh di Naval Station Subic Bay, Desember 1989. Pada awal bulan Desember 1989, USS Enterprise berpartisipasi dalam Operasi Classic Resolve, sebagai tanggapan Presiden Bush terhadap permintaan dukungan udara dari Presiden Filipina Corazon Aquino selama upaya kudeta pemberontak. (Sumber: https://kahimyang.com/)
Deretan jet tempur F-4 Phantom II Amerika di Pangkalan Clark, Filipina. Operasi “Classic Resolve” yang melibatkan penggunaan kekuatan udara AS dari kapal induk USS Midway dan USS Enterprise serta pesawat-pesawat tempur F-4 Phantom II dari Pangkalan Udara Clark. Jet-jet Angkatan Udara Amerika Serikat merebut kembali langit Filipina untuk pemerintahan Aquino. (Sumber: https://www.facebook.com/)

Pada awal bulan Desember 1989, USS Enterprise berpartisipasi dalam Operasi Classic Resolve, sebagai tanggapan Presiden Bush terhadap permintaan dukungan udara dari Presiden Filipina Corazon Aquino selama upaya kudeta pemberontak. Bush menyetujui penggunaan jet-jet tempur F-4 AS yang ditempatkan di Pangkalan Udara Clark di Luzon. Unjuk gigi dari pesawat-pesawat AS segera menyebabkan kudeta gagal. Pada tanggal 2 Desember 1989, Presiden Bush melaporkan bahwa pada tanggal 1 Desember pesawat-pesawat tempur AS dari Pangkalan Udara Clark di Filipina telah membantu pemerintahan Aquino untuk mengusir upaya kudeta. Selain itu, 100 marinir dikirim dari pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Subic untuk melindungi Kedutaan Besar AS di Manila. Sementara itu, USS Enterprise tetap berada di posisinya saat melakukan operasi penerbangan di perairan luar Teluk Manila. Dokumen CIA menyatakan bahwa Aquino meminta bantuan untuk melakukan serangan udara terhadap posisi RAM, namun Washington menolak karena hal itu “berisiko secara politik”. Menyinggung keterlibatan Amerika, mantan Senator Juan Ponce Enrile dalam memoarnya yang diterbitkan pada tahun 2012, mengatakan: “Dua jet Phantom AS dari Pangkalan Udara Clark yang menderu di Manila menunjukkan bahwa Amerika berada di pihak mana.” Namun Komisi Davide – yang dibentuk oleh Presiden Aquino pada tahun 1990 untuk menyelidiki upaya kudeta terhadap pemerintahannya – mengabaikan peran Amerika setelah diketahui bahwa Letnan Atienza sudah menghancurkan kekuatan udara pemberontak pada pukul 12:45 sore hari, tanggal 1 Desember, sehingga “penerbangan persuasi” dari pesawat-pesawat Amerika pada jam 2 siang hari itu “dipertanyakan efektifitasnya,” seperti yang dijelaskan dalam laporan komisi. 

DAMPAK

Secara politis kudeta ini merupakan bencana bagi Aquino. Wakil presidennya, Salvador Laurel, secara terbuka bersekutu dengan komplotan kudeta dan menyerukan agar dia mengundurkan diri. Bahkan para pendukung Aquino yang paling setia melihat kebutuhannya akan dukungan udara Amerika Serikat sebagai tanda kelemahan yang sangat besar. Di sisi lain permintaan bantuan Aquino kepada Amerika memunculkan komentar miring “Sino ang traydor? Ako o ang tumatawag sa Kano para upakan ang Pilipino (Siapa pengkhianatnya? Saya atau orang yang meminta Amerika untuk menyerang orang-orang Filipina)?” kata Gubernur Cagayan Rodolfo Aguinaldo yang terlihat sangat marah menceritakan hal ini kepada seorang wartawan pada bulan Maret 1990 ketika ia melarikan diri dari pasukan pemerintah karena keterlibatannya dalam kudeta tahun 1989. Yang paling parah, ketika pemberontak terakhir akhirnya menyerah, mereka melakukannya dalam parade kemenangan yang disiarkan televisi dan dengan janji dari pemerintah bahwa mereka akan diperlakukan “secara manusiawi dan adil”.

Pemberontak dan tentara yang setia kepada Presiden Corazon Aquino bersorak dan berpelukan di atas kendaraan lapis baja pemberontak setelah pasukan pemberontak menarik diri dari Pangkalan Udara Mactan dan kembali ke barak mereka, mengakhiri upaya kudeta selama seminggu tanggal 09 Desember 1989 di Mandaule, Filipina tengah, untuk menggulingkan Presiden Aquino. (Sumber: https://www.gettyimages.com.au/)

Salah satu dampak buruk dari pemberontakan ini adalah ketika perekonomian akhirnya tampak membaik, para investor menjadi takut, terutama karena sebagian besar pertempuran terjadi di surga bisnis Makati. Pasukan pemerintah tidak mengantisipasi perebutan gedung-gedung tinggi Makati oleh pemberontak. Ketika semuanya sudah selesai, mereka berteori bahwa itu hanyalah sebuah taktik penundaan untuk memungkinkan bala bantuan pemberontak tiba dan untuk mencegah pasukan pemerintah tambahan membantu rekan-rekannya di Kamp Aguinaldo. Di sisi lain, Walikota Makati, Jejomar Binay, menyebutnya sebagai “pertahanan terakhir” yang diambil oleh pemberontak yang telah dikalahkan di Fort Bonifacio. Dalam wawancara dengan salah satu pemimpin pemberontak, Mayor Purugganan yang dilakukan oleh jurnalis Sheila Coronel dari Pusat Jurnalisme Investigasi Filipina pada tanggal 14 Januari 1990, Purugganan mengatakan bahwa Makati Commercial Center diperhitungkan dalam perencanaan sebelum kudeta tanggal 1 Desember sebagai posisi defensif saat mundur. Mayor Purugganan berkata: “Sekarang, jika Anda mau memperhatikan, “Saya kira ada lebih dari 40 kedutaan di sana dan . . . 109 pusat multinasional di Makati. Dan di posisi itu jika anda mampu menempatinya, dan melihat area lain yang berdekatan. . . tempat itu seperti benteng. Dan menguasai wilayah itu berarti menguasai seluruh Makati.” Pengambilalihan Makati adalah insiden yang sangat merugikan. Nyawa melayang; properti hancur; dan selama beberapa hari kehidupan finansial di Metro Manila, dan sebagian besar negara lainnya, lumpuh. Pariwisata, yang merupakan penghasil devisa utama, juga terhenti dan mengalami pukulan yang sangat serius. Para pemimpin dunia usaha memperkirakan pemberontakan ini merugikan perekonomian Filipina sebesar US$1,5 miliar. Sebagai contoh, tepat setelah kudeta, Menteri Pariwisata Peter Garrucho memperkirakan okupansi hotel di Metro Manila bisa turun hingga 40 persen.

Bus tingkat Leyland Metro Manila Transit Corp (MMTC) di sepanjang Ayala Avenue, Makati sekitar tahun 1980-an. Salah satu dampak buruk dari pemberontakan ini adalah ketika perekonomian akhirnya tampak membaik, para investor menjadi takut, terutama karena sebagian besar pertempuran terjadi di surga bisnis Makati. (Sumber: https://www.esquiremag.ph/)

Menyusul kegagalan kudeta ini, Presiden Aquino membentuk komisi pencarian fakta yang dipimpin oleh ketua COMELEC Hilario Davide Jr. untuk menyelidiki dan memberikan laporan lengkap mengenai serangkaian upaya kudeta terhadap pemerintahannya. Laporan tersebut kemudian dikenal sebagai Laporan Komisi Davide. Peserta kudeta bulan Desember 1989 kemudian menyalahkan kekurangan yang dirasakan dalam pemerintahan Aquino di berbagai bidang seperti korupsi, inefisiensi birokrasi, dan perlakuan lunak terhadap pemberontak komunis sebagai alasan kudeta tersebut. Sebagai tanggapan, Komisi Davide merekomendasikan beberapa tindakan penanggulangan jangka pendek dan jangka panjang, termasuk pembentukan pasukan polisi nasional sipil, tindakan keras terhadap korupsi di militer, peninjauan kinerja pejabat pemerintah yang ditunjuk, dan reformasi dalam proses promosi militer, tinjauan undang-undang pemilu menjelang pemilu presiden tahun 1992, dan pernyataan definitif dari pihak Aquino mengenai apakah ia bermaksud mencalonkan diri kembali pada pemilu tahun 1992. Dibuka kedoknya oleh komisi Davide sebagai salah satu warga sipil di balik kudeta, mantan senator Enrile masuk penjara (selama tujuh hari) pada tahun 1990 karena perannya dalam pemberontakan tersebut. Terlepas dari pengkhianatan dalam upaya perebutan kekuasaan, para pemimpin kudeta direhabilitasi statusnya. Kolonel Gregorio Honasan II kemudian malah menjadi senator republik dan menjabat menteri teknologi informasi dan komunikasi di bawah pimpinan Presiden Duterte.

Rodolfo Aguinaldo (kanan), yang melarikan diri dari pasukan pemerintah karena perannya dalam upaya kudeta pada bulan Desember 1989. Aguinaldo dibunuh pada tahun 2001. (Sumber: https://newsinfo.inquirer.net/)
Presiden Cory Aquino menghadiri pemakaman pilot AU filipina Letnan Danilo Atienza di Kota Batangas. Atienza tewas dalam serangan bom di Sangley Point yang membantu menumpas pemberontakan anti-Aquino. (Sumber: https://newsinfo.inquirer.net/)

Pada tahun 1990, muncul upaya kudeta lainnya pada bulan Maret dan Oktober. Pengepungan Hotel Delfino terjadi pada tanggal 4 Maret, ketika Gubernur Cagayan Rodolfo Aguinaldo, yang diskors dan didakwa mendukung kudeta tahun 1989, mengarahkan pasukan pribadinya yang diperkirakan berjumlah 300 orang untuk merebut ibu kota provinsi Tuguegarao. Brigadir. Jenderal Oscar Florendo, kepala Hubungan Sipil Militer angkatan bersenjata, kemudian dikirim oleh Presiden Aquino untuk menghadap Aguinaldo dengan surat perintah penangkapan. Florendo kemudian disandera di Hotel Delfino bersama lebih dari 50 tamu lainnya. Setelah berjam-jam kebuntuan antara kedua belah pihak, hampir 1.000 tentara pemerintah melancarkan serangan untuk mengusir pasukan Aguinaldo dari hotel; pemerintah menang ketika lebih dari 100 anak buah Aguinaldo menyerah dan sekitar 90 orang ditangkap. Florendo ditembak di Delfino oleh salah satu anak buah Aguinaldo dan kemudian meninggal karena luka-lukanya. Setidaknya selusin orang lainnya tewas di dalam atau sekitar hotel; sejumlah warga sipil pendukung Aguinaldo ditangkap; dan sebuah truk dengan senapan serbu, mortir, dan peti amunisi disita, Selama huru-hara ini, Aguinaldo melarikan diri dengan sekitar 90 pengikutnya ke pegunungan di utara. Tujuh bulan kemudian pada tanggal 4 Oktober, upaya kudeta kesembilan dan terakhir terjadi di dua pangkalan militer di Mindanao di mana Kolonel Alexander Noble dan pasukannya memberontak selama dua hari hingga mereka menyerah pada tanggal 6 Oktober. Beberapa upaya kudeta tercatat dilakukan terhadap pemerintahan “Cory” Aquino sejak ia berkuasa. Dia kemudian digantikan sebagai presiden oleh Fidel V. Ramos dan kembali ke kehidupan sipil pada tahun 1992. Setelah kematiannya pada 1 Agustus 2009, monumen dibangun dan landmark publik diberi nama untuk menghormati Corazon Aquino di seluruh Filipina. Aquino dianggap sebagai Ibu Demokrasi Filipina.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/1989_Philippine_coup_attempt

The Final Report of the Fact-Finding Commission: V: The Failed December 1989 Coup: Pre-Coup Events and Battle Zone Narratives; October 3, 1990

https://www.officialgazette.gov.ph/1990/10/03/the-final-report-of-the-fact-finding-commission-v-the-failed-december-1989-coup-pre-coup-events-and-battle-zone-narratives/

MANILA TURNS BACK COUP BID WITH HELP OF U.S. AIR POWER By Criselda Yabes; December 2, 1989

https://www.washingtonpost.com/archive/politics/1989/12/02/manila-turns-back-coup-bid-with-help-of-us-air-power/62895eef-23e2-4311-bf1b-4da4a63267f0/

The 1989 coup attempt: Unsung heroism, unmasked ploys By: Danny Petilla

https://newsinfo.inquirer.net/1522043/the-89-coup-attempt-unsung-heroism-unmasked-ploys

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Coup_attempts_against_Corazon_Aquino

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Corazon_Aquino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *