Perang Dunia II

Graziani, Penjahat Perang yang “Dihormati” di Italia

Kota Affile di wilayah Lazio, Italia, mendirikan sebuah mausoleum untuk Marsekal Angkatan Darat Italia Rodolfo Graziani pada bulan Agustus 2012. Peristiwa tersebut terjadi 57 tahun setelah kematian marshal kontroversial tersebut pada tanggal 11 Januari 1955. Sebagai pembawa acara upacara peringatan yang rumit tersebut, Walikota Ettore Viri didampingi oleh delegasi khusus dari Vatikan. Dihiasi dengan kata-kata “Tanah Air” dan “Kehormatan”, makam baru Graziani menelan biaya $160.000 yang dibebabkan kepada pembayar pajak Italia. Peristiwa tersebut kemudian memicu keributan karena peran Graziani dalam kejahatan perang di Ethiopia pasca Perang Italia-Ethiopia Kedua tahun 1935-1937. Akibatnya rezim parlementer Lazio membatalkan pendanaan untuk proyek tersebut pada tahun 2013 setelah adanya reaksi negatif pada pemilu daerah. Tindakan hukum Dewan Regional Lazio untuk menghapus nama Graziani dari monumennya sendiri kabarnya masih menunggu keputusan. Dalam situasi haus darah dari Partai Komunis Soviet pascaperang yang terjadi pada bulan April 1945, uniknya tidak ada pengadilan kejahatan perang Italia yang nyata seperti yang terjadi di Nuremberg dan Tokyo. Hal ini sebagian disebabkan karena hampir semua petinggi Partai Fasis Italia yang tertangkap telah ditembak mati begitu saja tanpa adanya dengar pendapat. Pembersihan dimulai dengan diktator Italia Benito Mussolini, yang diidentifikasi sebagai “Il Duce” oleh para pengikutnya sebagai pemimpin Partai Fasis Nasional, pada tanggal 28 April 1945, dan berlanjut ke tokoh-tokoh di bawahnya. Graziani lolos dari situasi ini.

Mausoleum yang didedikasikan untuk jenderal Fasis dan wakil raja kolonial Rodolfo Graziani di Affile (Roma). (Sumber: https://bsr.ac.uk/inconsci-anticoloniali-if-only-i-were-that-warrior/)

PENAKLUK DAN PENJAGAL LIBIA

Graziani lahir pada tanggal 11 Agustus 1882, di Felettino di Provinsi Frosinone di Savoyard Italia. Ayahnya, Filippo Graziani, adalah seorang dokter desa. Ia menempuh pendidikan di seminari di kota Subiaco dan kemudian melanjutkan studi di Liceo Torquato Tasso di Roma. Karena keterbatasan ekonomi, Graziani tidak dapat mendaftar ke Akademi Militer Modena dan memutuskan untuk belajar hukum di universitas, atas desakan ayahnya. Meski gagal diawal, pada akhirnya Graziani terjun ke dunia militer juga. Sedari awal karir di dunia militer, Graziani telah menyiratkan masa depan yang cerah. Pada tahun 1903 Rodolfo yang berusia 19 tahun bergabung dengan Regio Esercito (Tentara Kerajaan). Setelah lulus dari Akademi Militer Kerajaan di Modena, Graziani ditugaskan sebagai letnan dalam dinas militer Raja Victor Emmanuel III dari Wangsa Savoy hingga bulan September 1943. Penugasan pertama Letnan Graziani adalah ke koloni Italia di Eritrea, di mana ia sempat digigit ular berbisa setelah terjangkit malaria. Prajurit muda yang tangguh dengan tinggi 1,82 meter itu kemudian pulih, belajar bahasa Arab dan menguasai bahasa penduduk asli Tigray yang mendiami dataran tinggi Eritrea. Graziani bertempur untuk penugasan pertamanya dari beberapa tugas di Libya selama Perang Italia-Turki yang dimulai pada bulan September 1911 dan berakhir pada bulan Oktober 1912. Konflik tersebut menyaksikan munculnya kekuatan udara dalam peperangan modern, seperti Regia Aeronautica (Angkatan Udara Kerajaan) yang membomi Angkatan Darat Turki, sehingga membawa lagi satu bangsa yang ditaklukkan ke dalam wilayah kekuasaan kolonial Italia. Dipromosikan menjadi kapten, Graziani pada tahun 1913 menikah dengan Ines Chronetti, pernikahan tersebut berlangsung hingga kematiannya 42 tahun kemudian. Selama pemerintahan Liberal, dimana Italia bersekutu dengan Sekutu dalam Perang Dunia I, Kapten Graziani kembali lagi ke Libya, di mana ia melihat secara langsung bagaimana kekuatan poros Kekaisaran Jerman dan sekutunya Turki menghasut pemberontak Muslim setempat untuk menyerang pos-pos terpencil di gurun pasir wilayah kekuasaan Italia. Ketika ia sebagai komandan brigade kemudian dipindahkan ke Front Caporetto di Italia utara yang sedang berperang melawan Tentara Kekaisaran Austria yang merupakan kekuatan poros, Graziani dua kali terluka dalam pertempuran yang statik, dimana ia dicatat karena keterampilan bertempur dan keberanian pribadinya dalam pertempuran di bawah tembakan musuh. Di akhir perang, ia muncul sebagai kolonel termuda di Regio Esercito pada usia 36 tahun. 

Graziani dalam Perang Dunia I. Ia dicatat karena keterampilan bertempur dan keberanian pribadinya dalam pertempuran di bawah tembakan musuh. Di akhir perang, ia muncul sebagai kolonel termuda di Regio Esercito pada usia 36 tahun. (Sumber: https://italianmonarchist.blogspot.com/2012/05/marshal-of-italy-rodolfo-graziani.html)
Rodolfo Graziani dan Pasukan Amedeo D’Aosta di Kufra, 1931. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Rodolfo_Graziani)

Setelah Perang Dunia I, politik dalam negeri Italia membayangi jalur mobilitas Graziani yang hingga saat itu memiliki karier militer yang luar biasa. Ini adalah pertama kalinya hal ini terjadi, tetapi ini bukan yang terakhir. Dilaporkan ditandai untuk dibunuh oleh Partai Komunis Italia yang liberal dan berkembang pesat di Savoyard Italia, Graziani mengambil cuti dari dinas militer aktif, menunggu kembalinya iklim sosial yang lebih baik di dalam negeri. Namun, sebagai importir barang-barang Timur Jauh yang berbasis di Parma, ia tidak terlalu sukses dan bisnisnya akhirnya gagal. Mencoba taktik lain, Graziani sebagai warga sipil pada tahun 1924 bergabung dengan Partai Fasis yang dipimpin oleh Perdana Menteri Italia Benito Mussolini, dan tetap menjadi anggotanya hingga akhir partai tersebut pada bulan April 1945. Karena meningkatnya serangan pemberontak Muslim Libya terhadap keluarga kolonial Italia dan bisnisnya di tempat yang disebut Il Duce sebagai Pantai Keempat Italia, Graziani dipilih untuk memimpin komando militer di wilayah yang diperangi tersebut. Pada tanggal 11 Januari 1930, Graziani, meskipun tidak punya pengalaman memimpin divisi selama perang, sebagai komandan korps diberi wewenang untuk kembali lagi ke lokasi kemenangan perang gurun pertamanya untuk dengan kejam menumpas semua perlawanan dengan cara apa pun yang dianggapnya tepat. Baru diangkat sebagai gubernur Italia untuk wilayah Cyrenaica, Graziani mengerahkan tank, pesawat terbang, dan tindakan represif yang brutal membasmi sebagian besar perlawanan di wilayah tersebut dari tahun 1930-1932. Disini efektivitas militer dan kekerasan kebijakan politiknya sama-sama menonjol. Selain berperang langsung menggunakan matra udara dan darat, “pengamanan” yang dilakukan Graziani terhadap penduduk setempat mencakup pendirian kamp-kamp konsentrasi dan kamp-kamp kerja paksa yang mengakibatkan kematian ribuan warga kulit berwarna Libya yang bekerja terlalu keras. Di mata masyarakat kolonial Italia yang sangat gembira, ia malah disebut-sebut sebagai Penakluk Libya karena ia telah mengalahkan pemimpin pemberontak Muhammad ibn Ali as-Senussi dan para pengikutnya dalam pertempuran terbuka. Graziani kemudian menyuruh Senussi digantung di depan umum sebagai objek pelajaran. Pelajaran itu gagal diterapkan; namun demikian, kekuatan utama pemberontakan akhirnya berhasil ditumpas setelah perang selama dua dekade. Terlepas dari kontroversi aksinya, di Italia, Graziani dikenal sebagai Pacificatore Della Libia – Penakluk Libya. Namun, tindakannya terhadap penduduk sipil Cyrenaica memberinya gelar lain di kalangan orang-orang Arab; yakni Penjagal Fezzan. Di bawah perintahnya, banyak warga sipil yang ditahan di kamp-kamp, terpisah dari populasi pemberontak. Kamp-kamp tersebut kekurangan sanitasi yang layak dan makanan yang cukup, sehingga mengakibatkan banyak kematian di kalangan penduduk sipil. Selain itu, ia mengusir sebanyak 100.000 orang Badui dari pemukiman mereka untuk memberi ruang bagi pemukim Italia. Pada akhir masa penugasan Graziani di Afrika Utara, sebagian besar penduduknya telah meninggal atau mengungsi. Roma menyatakan penaklukan Libia selesai setelah penangkapan Omar Mukhtar, pemimpin utama pemberontakan. Perlawanan terhadap penjajahan Italia berakhir dengan eksekusi Mukhtar pada tanggal 16 September 1931 di depan 20.000 warga Libya.

Omar Mukhtar ditangkap oleh aparat Italia. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Omar_al-Mukhtar)

KEJAHATAN PERANG DI ETHIOPIA

Pada tahun 1934, Rodolfo Graziani kembali ke Italia. Mussolini kemudian menganugerahinya komando yang didambakan di Korps Angkatan Darat Udine dan tak lama kemudian, Graziani dipromosikan menjadi Generale Designato d’Armata, pangkat tertinggi di masa damai. Dari Roma, Mussolini kemudian mengirimnya ke komando kolonial gurun keduanya sebagai gubernur Somaliland Italia pada tahun 1935-1936. Wilayah kekuasaan dan pemerintahan Graziani lalu berkembang secara dramatis pada pertengahan tahun 1936 ketika ia menjadi raja muda dan gubernur jenderal seluruh wilayah Afrika Timur Italia. Nama Graziani kemudian semakin terkenal dalam kampanye Italia di Ethiopia. Ketika itu Ethiopia membagi koloni Italia di Somaliland dan Eritrea, sehingga negara ini telah lama menjadi sasaran target kebijakan luar negeri Italia. Selain itu, keinginan untuk membalas penghinaan atas kekalahan pada Pertempuran Adwa tahun 1895 hampir bersifat universal di Italia. Akhirnya, situasi mencapai puncaknya pada tahun 1935, dan persiapan dilakukan untuk melancarkan invasi dua arah pada tahun 1936. Upaya utama dilakukan di utara, di bawah pimpinan Marsekal Pietro Badoglio. Pasukan Graziani sebagai Gubernur Somaliland Italia hanya melakukan upaya pengalih perhatian dan defensif. Mengingat luasnya garis depan dan jumlah mereka yang kecil, mereka tampaknya tidak mampu berbuat lebih banyak. Graziani yang sombong terus dibayangi selama kampanye di Ethiopia tahun 1935-1936 oleh saingan lamanya, Badoglio, penakluk sebenarnya Addis Ababa. Graziani tidak puas. Dia lalu mengambil inisiatif dengan membeli truk-truk dan kendaraan sipil dari luar negeri untuk meningkatkan mobilitas pasukannya. Dengan melakukan hal tersebut, 60.000 anak buahnya mampu melancarkan aksi ofensif yang efektif melintasi Gurun Ogaden yang luas. Pengalamannya Graziani ini mungkin merupakan contoh pertama penggelaran peperangan senjata gabungan dan mobile modern yang membantu menyusun doktrin manuver tentara Italia. Kepemimpinannya dengan dinilai cukup baik ini membuat Mussolini mempromosikannya lagi ke jabatan tertinggi Angkatan Darat sebagai commando supremo, yang pada dasarnya adalah kepala staf umum, sebuah jabatan yang ia emban dari tahun 1939 hingga 1941 di Roma.

Pasukan kolonial Italia bergerak maju menuju Addis Ababa. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Italo-Ethiopian_War)
Ilustrasi Pembantaian Lechemti. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Italo-Ethiopian_War)

Penaklukan Italia yang dilakukan oleh pemerintahan fasis selama periode dua tahun yang dimulai pada tahun 1935 merupakan manifestasi dari upaya Il Duce untuk mendirikan Imperium Romawi Kedua yang meniru penaklukan jaman Romawi kuno. Namun Graziani menegaskan kepada dunia bahwa dia akan memastikan penaklukan Mussolini atas Ethiopia. “Duce akan memiliki Ethiopia, dengan atau tanpa orang-orang Ethiopia!” teriak Graziani. Kata-kata ini menjadi ungkapan khas masa kolonial Italia di Afrika abad ke-20. Periode ini ditandai dengan pembantaian dan kekerasan serta kriminalitas yang merajalela yang merugikan orang Ethiopia dan pihak lain. Selama Perang Italia-Ethiopia Kedua, Graziani memimpin front selatan, memimpin pasukannya dari Somaliland Italia masuk ke wilayah Ethiopia. Dia melawan orang-orang Ethiopia di Genale Doria dan Ogaden; Namun, upaya Graziani merupakan serangan sekunder sedangkan serangan utama datang dari Eritrea dan dipimpin oleh Jenderal Emilio De Bono dan kemudian dilanjutkan oleh Marsekal Pietro Badoglio. Badoglio memasuki Addis Ababa dengan penuh kemenangan. “Italia memiliki kekaisarannya sendiri!” Mussolini berteriak dari balkon Palazzo Venezia di Roma pada tanggal 9 Mei 1936, dalam perayaan penaklukan Ethiopia. 

Pasukan Italia di Addis Ababa, 1936. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Second_Italo-Ethiopian_War)
Graziani di Ethiopia, 1937. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Rodolfo_Graziani)

Tuduhan utama terhadap nama dan karakter mendiang marshal tersebut terletak pada pembantaian terkenal di Yekatit 12, tanggal dalam kalender Ethiopia yang setara dengan tanggal 19 Februari 1937, di Addis Ababa terhadap sekitar 19.200 warga kulit hitam Etiopia selama periode tiga hari. Pembantaian itu dimulai segera setelah Graziani berhasil selamat dari upaya pembunuhan. Diduga pihak Italia mengeksekusi 1.469 tawanan tambahan pada bulan berikutnya. Graziani selamanya dicap sebagai Penjagal Ethiopia. Tragedi ini menjadi lebih besar lagi dengan fakta bahwa yang dibantai termasuk 2.000 rahib kulit hitam dari Biara Ordo Koptik kuno Debre Libanos, serta para peziarah yang sedang merayakan hari suci Santo pendiri ordo mereka. Addis Ababa jatuh ke tangan Badoglio pada tanggal 5 Mei 1936. Meskipun Graziani ingin mencapai Harar sebelum Badoglio mencapai Addis Ababa, dia tidak dapat melakukannya. Namun demikian, karena perannya memimpin front selatan, Graziani dipromosikan menjadi marshal Italia. Selama tur ke gereja Ortodoks Ethiopia di Dire Dawa, Graziani jatuh ke dalam lubang yang ditutupi karpet berornamen, sebuah jebakan yang dia yakini telah dirancang oleh para pendeta Ethiopia untuk membunuh atau melukainya secara serius. Terlepas dari keyakinannya tentang asal mula serangan terhadap dirinya, Graziani telah mengumumkan rencana perayaan publik atas kelahiran Pangeran Napoli dari Italia baru-baru itu. Ia berencana membagikan uang kepada masyarakat miskin di ibu kota Ethiopia yang diduduki, Addis Ababa pada hari Jumat, 19 Februari 1937. Tempat yang dipilih untuk pendistribusian dana adalah bagian depan Istana Guenete Leul, istana kerajaan yang dikenal dengan sebutan Little Gebbi.

Graziani dan para pejabat Italia lainnya membagikan uang kepada warga miskin di tangga istana kerajaan di Addis Ababa. Beberapa menit kemudian, dua orang pembunuh melemparkan granat ke arah kelompok pejabat tinggi tersebut. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/article/italian-war-criminal-rodolfo-graziani/)
Graziani (kedua dari kiri, berseragam) sesaat sebelum upaya pembunuhan. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Yekatit_12)

Kerumunan di pagi itu termasuk sepasang calon pembunuh: Abraham Deboch dan Mogus Asgedom dari Eritrea. Mereka tiba di Addis Ababa sebagai siswa di Sekolah Menelik II di kota itu, yang diberi nama sesuai nama kaisar Ethiopia dari tahun 1889 hingga 1913. Ironisnya, kaisar tersebut mempunyai pekerjaan di Biro Politik Fasis, namun hal ini mungkin saja hanya upaya penyamaran karena ia sangat membenci kebijakan rasis pemerintah yang berkuasa terhadap semua bawahannya yang berkulit berwarna. Acara di Little Gebbi awalnya berjalan sesuai rencana. Raja Muda Graziani berbicara, dan bangsawan setempat memberikan penghormatan yang terpaksa kepadanya sebagai tuan mereka. Pesawat Regia Aeronautica menderu di atas untuk memberi hormat. Sumbangan kemudian dibagikan kepada masyarakat miskin pada pukul 11.00. Kedua calon pembunuh itu telah tiba di kaki tangga Little Gebbi. Mereka mengejutkan semua orang dengan melemparkan 10 granat tangan langsung ke arah Graziani yang tertegun. Terduga kaki tangan ketiga, sopir taksi lokal Simeyon Adefres, yang dilaporkan memasok granat tangan, lalu membawa pelaku pergi ke tempat aman. Tujuh orang tewas dan 50 lainnya luka-luka dalam aksi teror ini. Di antara korban yang terluka adalah Graziani, yang tubuhnya ditaburi sekitar 350 pecahan granat. Dilarikan ke rumah sakit terdekat di Italia, dia secara ajaib pulih setelah operasi darurat. Tanggapan Pemerintah fasis yang marah terhadap serangan itu terjadi segera setelah ledakan tersebut. Polisi Italia menembaki langsung ke kerumunan warga miskin yang berkumpul untuk menerima dana amal di tangga Little Gebbi. Sekretaris Federal Italia Guido Cortese konon mengeluarkan pistolnya dan menembak ke arah para pejabat Ethiopia yang berdiri di sampingnya di atas panggung. “Kawan-kawan, hari ini adalah hari dimana kita harus menunjukkan pengabdian kita kepada raja muda kita dengan bereaksi, dan menghancurkan orang-orang Ethiopia selama tiga hari!” Kata Cortese sambil mengeluarkan perintah pembalasan pertama. “Saya memberi Anda kekuasaan penuh untuk menghancurkan dan membunuh, dan melakukan apa yang Anda inginkan terhadap orang-orang Ethiopia!” Penindasan segera dimulai. Orang Italia meneriakkan “Il Duce!” sambil dengan kejam menikam orang-orang Ethiopia dengan belati atau memukul kepala mereka dengan pentungan.

Graziani dijuluki sebagai “Penjagal Ethiopia” akibat eksekusi-eksekusi mengerikan yang ia pimpin. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/article/italian-war-criminal-rodolfo-graziani/)
Para korban asal Ethiopia dalam peristiwa Yekatit 12 yang dijaga oleh tentara Italia. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Yekatit_12)

Aksi teror lalu meningkat dengan orang-orang Italia membakar rumah-rumah orang-orang kulit hitam dengan bensin, serta menyerbu rumah-rumah penduduk Yunani dan Armenia untuk menghukum mati para pelayan mereka. Foto-foto berdarah yang diambil menunjukkan warga sipil yang terbunuh, kepala mereka yang terpenggal ditunjukan oleh para pembunuh dari Italia. Marsekal tersebut dengan sepatutnya mendukung pertumpahan darah Cortese, dan menggunakannya untuk melaksanakan pembantaian terencana yang dirancang sejak tanggal 3 Mei 1936, terhadap semua intelektual masyarakat kulit hitam yang dikenal sebagai The Young Ethiopians. Orang-orang ini telah lulus dari perguruan tinggi di Amerika dan Eropa, dan dengan demikian dipandang sebagai calon pemimpin pemberontak di masa depan melawan pemerintahan kolonial Italia. Pada hari yang sama dengan upaya tersebut, pengadilan Angkatan Darat Italia diadakan. Pada malam itu, mereka telah menembak sebanyak 62 lulusan muda di Penjara Alem Bekagn di Addis Ababa sebagai pembalasan. Dengan demikian, orang-orang Italia memusnahkan seluruh pusat intelektual gerakan perlawanan baru dalam satu gerakan, yang kemudian dijuluki sebagai “Pembantaian Graziani.” Orang-orang Italia meningkatkan penindasan di berbagai kamp penahanan mereka, termasuk Danan, Ogaden, Nokra, dan Kepulauan Dahlak. Para penjaga Fasis memastikan para tahanan hanya menerima jatah makanan untuk sekedar hidup dan air yang paling sedikit. Di Nokra, misalnya, 1.500 orang menerima hukuman seumur hidup yang dijatuhkan oleh pengadilan ‘kanguru’ (pengadilan rekayasa) Fasis.

Graziani memerintahkan pembantaian tiga hari setelah upaya pembunuhan terhadap dirinya. (Sumber: https://www.theguardian.com/world/gallery/2018/feb/20/addis-ababa-massacre-memorial-service-in-pictures)

Ketika Graziani yang dirawat di rumah sakit mengetahui bahwa kedua pembunuh dan salah satu istri mereka telah menemukan perlindungan di Biara Koptik Debre Libanos, dan juga bahwa para biarawan mungkin sudah mengetahui sebelumnya tentang rencana serangan tersebut, dia mengirimkan pesan ke komandan setempat yang memberi instruksi kepada mereka untuk segera mengambil tindakan. “Oleh karena itu, eksekusi semua rahib tanpa membeda-bedakan, termasuk wakil pendeta!” tulis Graziani. Perintah fatal tersebut dilaksanakan keesokan harinya, yang kebetulan dilakukan pada hari suci pelindung ordo tersebut, Saint Tekle Haymanot. Seluruh penduduk biara kemudian ditembak. Jumlah ini mengakibatkan kematian 297 rahib dan 23 umat awam. Secara keseluruhan, pembantaian politik ini kemudian diperingati oleh warga Ethiopia setelah dibebaskan oleh Angkatan Darat Inggris. Orang-orang Ethiopia mendirikan Monumen Lapangan Yekatit 12, sebuah obelisk yang mengenang semua korban pembantaian terburuk yang dilakukan orang-orang Italia terhadap rakyat taklukan mereka. Sementara itu, dua pembunuh yang bersembunyi di Biara Debre Labanos dalam upaya mendapatkan suaka politik di Anglo-Mesir Sudan dibunuh oleh warga setempat. Bahkan saat ini jumlah sebenarnya korban kulit hitam yang terbunuh secara politik masih diperdebatkan dengan hangat, dengan perkiraan pada tahun 2017 berjumlah 19.200 jiwa, yang jika benar, maka akan berjumlah 20 persen dari populasi Addis Ababa pada tahun 1937. Salah satu dari jumlah tersebut diidentifikasi sebagai pelaku percobaan pembunuhan, yakni Ayale Gebre, yang ironisnya menjadi alat bagi penindasan Italia, hanya untuk kemudian dibunuh sendiri.  Bagaimanapun metode Graziani di Ethiopia tidak seefektif seperti di Libya. Akibatnya, dia meninggalkan Ethiopia pada 10 Januari 1938 dan kembali ke Italia.

PERANG DUNIA II

Marsekal yang terluka ini dipanggil kembali ke Italia oleh Mussolini yang prihatin. Graziani kemudian akan menerima jabatan yang lebih tinggi berturut-turut, baik di bidang militer maupun politik, hingga runtuhnya Republik Salo Italia yang Fasis pada bulan April 1945. Pada tahun 1939, di saat Perang Dunia Kedua pecah, Graziani diangkat menjadi Panglima Regio Esercito. Di sinilah Rodolfo Graziani mencatatkan namanya yang paling terkenal dalam buku sejarah. Diktator Italia Mussolini menyatakan perang terhadap Inggris dan Prancis pada 10 Juni 1940. Ketika Italia bergabung dalam konflik tersebut, Graziani memegang komando strategis atas pasukan yang tidak siap menghadapi perang. Invasi ke Perancis yang tidak terencana dan dilaksanakan dengan buruk adalah contoh pertama dari ketidaksiapan ini. Pasukan Italia yang sangat kekurangan perlengkapan berbaris ke medan Alpen yang keras dan berbenteng kuat, dengan hasil yang dapat diprediksi. Mereka menderita kerugian yang relatif besar dan hanya memperoleh sedikit wilayah, meskipun perlawanan Prancis tampaknya ringan. Namun, penyerahan Perancis menghilangkan konsekuensi strategis atas kegagalan ini. Tak lama kemudian Graziani mengalami kemajuan lain dalam karirnya ketika pesawat pribadi Marsekal Udara Italo Balbo terkena tembakan salah sasaran di Pelabuhan Tripoli. Tidak ada satu pun penumpang yang selamat dalam kecelakaan itu. Pada hari itu juga Mussolini menunjuk marshal Fasisnya yang paling terkenal ini untuk menggantikan Marsekal Udara yang terbunuh itu, sebuah jabatan yang dipegangnya hingga tanggal 15 Maret 1941. 

Graziani pada tahun 1940. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Rodolfo_Graziani)

Selama persinggahan terakhirnya di gurun Libya inilah reputasi Marsekal Graziani merosot dan tidak pernah bisa pulih. Hal ini disebabkan oleh tekad Il Duce bahwa panglima perang gurun barunya akan melakukan invasi ke negara tetangga, Mesir, yang diduduki Inggris. Mussolini sepenuhnya memperkirakan hal itu akan mencakup kehancuran total dari Angkatan Darat ke-8 Inggris. Graziani memberi tahu Mussolini dengan tegas bahwa Angkatan Darat ke-8 yang memiliki pasukan lapis baja lebih berat akan menghancurkan pasukan Italia. Namun Mussolini menutup telinga terhadap opini-opini negatif dan tidak dimintanya tersebut. Graziani memiliki pesimisme yang mendalam dan beralasan mengenai peluang Italia berperang dengan Inggris. Dia menuduh Badoglio mengirimnya ke garis depan tanpa senjata, terutama truk, tank, dan artileri modern, untuk invasi dan penaklukan Mesir. Di setiap kesempatan, dia menunda invasi sampai desakan Mussolini memaksanya untuk bertindak. Kekuatan awal 80.000 orang Angkatan Darat ke-10 Italia memiliki keunggulan dalam hal sumber daya manusia, dibandingkan dengan 36.000 orang di Pasukan Gurun Barat Inggris (Western Desert Force/WDF). Terlepas dari perbedaan yang terlihat, banyak dari unit-unit Italia terdiri dari pasukan kolonial yang tidak terlatih dan tidak memiliki perlengkapan yang memadai serta milisi fasis Baju Hitam.

Tankette L3/33 Italia di Afrika Utara, April 1941. Banyak dari unit-unit Italia terdiri dari pasukan kolonial yang tidak terlatih dan tidak memiliki perlengkapan yang memadai serta milisi fasis Baju Hitam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Compass)

Meskipun Angkatan Darat ke-10 memiliki persenjataan yang lebih berat daripada WDF, pasukan ini tersebar lemah. Masalah logistik dan transportasi kendaraan sangat tidak memadai, sehingga menghambat kemampuan mereka untuk berperang dan bermanuver. Bagaimanapun invasi Angkatan Darat Italia ke Mesir berjalan sesuai rencana pada tanggal 9 September 1940. Meskipun jumlahnya lebih besar, termasuk kavaleri ringan asli Spahi yang berwarna-warni serta unit Angkatan Darat reguler dan milisi fasis, Angkatan Darat Italia di bawah pimpinan Graziani tidak mampu melakukan tugasnya untuk menaklukkan Angkatan Darat ke-8 Inggris. Target untuk mencapai Terusan Suez dengan cepat berubah menjadi penetrasi sederhana sepanjang 65 km melewati perbatasan. Dengan penyerahan inisiatif tersebut, Inggris bebas memperkuat pasukan mereka di Mesir. Setelah dilengkapi dengan kendaraan bermotor dan tank yang lebih unggul, mereka melancarkan Operasi Compass. Rencana awalnya adalah tentara Inggris akan melakukan serangan terhadap pasukan Italia yang jumlahnya terlalu banyak, dan berpotensi meningkatkan tempo serangan jika berhasil. Namun, setelah mengetahui kelemahan Angkatan Darat ke-10, serangan itu berkembang menjadi serangan besar-besaran. Kekalahan telak Italia kemudian berlangsung cepat, dimana pada akhirnya 138.000 orang terbunuh atau ditangkap, dan seluruh wilayah Cyrenaica jatuh ke tangan Inggris. Italia dipermalukan oleh foto-foto ribuan tentaranya yang menyerah kepada segelintir tentara reguler Inggris. Mussolini lalu menyalahkan marshalnya atas bencana tersebut. Pengunduran diri Graziani dengan cepat diterima, dan dia sempat menghadapi ancaman pengadilan militer. Narasi yang ada menyalahkan pasukan Italia sendiri atas kekalahan di Libya; baik karena ketidakmampuan, moral yang buruk, atau kekurangan taktis kritis lainnya. Namun argumen kuat bisa dilontarkan bahwa Graziani tetap harus memikul tanggung jawab atas kekalahan tersebut. Keputusannya dalam operasi telah mengabaikan pengalaman dari Perang Saudara Spanyol dan doktrin Perang Kilat di Italia. Pertempuran Guadalajara menunjukkan bahayanya penggunaan milisi dan pasukan ringan dalam pertempuran konvensional. Sementara itu, Pertempuran Santander yang terjadi kemudian menunjukkan bahwa pasukan yang lebih sedikit, lebih lengkap, dan terlatih akan mencapai hasil yang jauh lebih baik. Secara teori, Perang Kilat menyatakan bahwa seseorang harus menggunakan kekuatan mekanis dan artileri secara ofensif untuk mendapatkan hasil yang menentukan. Apakah pesimisme Graziani membuatnya mencari aman dengan mengerahkan tentaranya secara massal atau apakah dia melupakan pelajaran ini, tidak ada yang tahu. 

Tank Matilda Inggris beserta awaknya mengibarkan bendera Italia yang berhasil direbut. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Compass)
Pasukan Italia dan Libya menjadi tawanan. Selama persinggahan terakhirnya di gurun Libya inilah reputasi Marsekal Graziani merosot dan tidak pernah bisa pulih. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Operation_Compass)

Pada tanggal 25 Maret 1941, Graziani yang dipermalukan kembali ke Italia dan pensiun hingga tanggal 25 Juli 1943, ketika Mussolini digulingkan saat perang berbalik melawan Fasis Italia. Pada bulan September 1943 Graziani mengakhiri empat dekade kesetiaannya kepada Raja Victor Emmanuel III dari Italia. Berbeda dengan jenderal-jenderal Italia lainnya yang memihak raja, Graziani malah memihak Mussolini yang telah jatuh, yang telah dikembalikan oleh Jerman ke kekuasaannya di wilayah Italia utara. Dari tahun 1943 hingga 1945, Graziani menjabat sebagai Menteri Pertahanan Nasional, negara boneka Jerman di Italia utara. Dalam jabatannya ini, Graziani,  sekali lagi mengejutkan semua orang dengan turut merancang kemenangan militer Italia terakhir dalam Perang Dunia II pada bulan Desember 1944 di Pertempuran Garfagna. Dia membantu merencanakan serangan tingkat divisi yang dimaksudkan untuk membuat pasukan Sekutu kehilangan keseimbangan. Di Garfagna, Graziani mengerahkan Divisi Alpen Monte Rosa dan Divisi Marinir San Marco, yang mengalahkan pasukan Sekutu. Ini merupakan pertempuran yang penuh kemenangan bagi pasukan Italia-Jerman, namun menawarkan lebih banyak makna propaganda daripada nilai militernya. Propaganda fasis dari RSI sangat menonjolkan Serangan di Garfagnana, dengan mengklaim bahwa itu adalah Serangan Ardennes versi kecil di Italia yang terjadi pada bulan Desember 1944 yang sama. Namun pada akhirnya gelombang pasang masih mengalir melawan Italia. Gerilyawan komunis membunuh Mussolini, sementara tank-tank AS menyerbu Milan. Pada tanggal 1 Mei 1945, Rodolfo Graziani menawarkan penyerahan terakhir pasukan Poros di Italia dan tentara Amerika menjadikan Graziani sebagai tawanan perang. Kembali ke Afrika untuk menyelamatkan diri saat pihak komunis membantai setiap pemimpin Fasis yang bisa mereka temukan, Graziani yang selamat kemudian kembali ke rumah saat pembunuhan mereda. 

SETELAH PERANG

Setelah perang, Ethiopia mendorong agar Graziani didakwa melakukan kejahatan perang atas tindakannya di negara mereka. Namun, hal ini sebagian besar dihalangi oleh pejabat Inggris dan tidak menghasilkan apa-apa. Penentangannya terhadap Republik Italia dan pengabdiannya kepada Repubblica Sociale Italiana pimpinan Mussolini memang mengakibatkan tuduhan pengkhianatan. Pada tahun 1950, pengadilan Italia menjatuhkan hukuman 19 tahun penjara kepada Graziani karena kerjasamanya dengan Nazi. Meski sudah divonis bersalah, dia hanya menjalani sebagian kecil dari hukuman 19 tahun yang ditetapkan. Dia kemudian menghabiskan empat bulan saja di penjara, tapi dia tidak pernah dihukum karena apapun. Graziani prajurit yang menjadi penulis memoar lalu mempertahankan kariernya dengan merilis buku-buku pascaperang, dan membangun kembali dirinya secara politik. Pada tahun 1955 Graziani muncul sebagai santo pelindung gerakan neo-Fasisme pascaperang yang akhirnya memilih Alessandra Mussolini, cucu perempuan Il Duce, menjadi anggota Parlemen Italia. Pada akhirnya, Rodolfo Graziani tetap menjadi seorang fasis yang vokal dan tidak menyesal hingga kematiannya pada tanggal 11 Januari 1955 di Roma, Italia pada usia 72 tahun. Lebih dari 100.000 orang datang ke pemakamannya di depan gereja Saint Bellarmino di Roma. Kerumunan orang yang membawa spanduk, menyanyikan lagu-lagu pujian dan memberikan penghormatan fasis memadati jalan-jalan. Pada saat kematiannya, marshal Fasis yang tidak menyesal atas tindakan-tindakan kejinya di masa lalu ini adalah perwira Italia yang paling terkemuka dan paling dicerca pada Perang Dunia II.

Setelah penyerahan diri Graziani pada tahun 1945, Sekutu mengabaikan daftar panjang kejahatan perangnya demi mewujudkan Italia yang demokratis pascaperang. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/article/italian-war-criminal-rodolfo-graziani/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Italian War Criminal Rodolfo Graziani By Blaine Taylor

https://warfarehistorynetwork.com/article/italian-war-criminal-rodolfo-graziani/

Rodolfo Graziani: A Marshal Loved and Hated written by; May 31, 2019

https://comandosupremo.com/rodolfo-graziani/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rodolfo_Graziani

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Garfagnana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *