Batu Loncatan Di Pasifik: Ketika Morotai Menjadi Kunci Pembebasan Filipina
Penaklukan sebuah pulau kecil di Pasifik membawa kekuatan udara Amerika Serikat untuk secara signifikan “menekan” wilayah Filipina yang tengah dikuasai Kekaisaran Jepang. Secara historis, pulau ini berada dalam lingkaran pengaruh kekuasaan Kesultanan Ternate sejak abad ke-15 dan memegang peranan krusial dalam jaringan perdagangan rempah-rempah Nusantara, sekaligus menjadi salah satu titik kontak awal bangsa Eropa di Kepulauan Maluku. Operasi militer di Morotai ini dilancarkan guna melindungi sayap kiri dari setiap pergerakan maju pasukan Amerika Serikat yang tengah bertolak dari Papua Nugini menuju Filipina Selatan. Selain itu, kampanye ini bertujuan membawa kekuatan gabungan Sekutu (Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan NICA/Belanda) untuk masuk dan memegang kendali penuh atas Kepulauan Maluku. Pertempuran yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Medan Perang Pasifik di kawasan Indonesia Timur Laut pada masa Perang Dunia II ini secara resmi dimulai pada 15 September 1944, di mana kontak senjata berkala terus berlanjut hingga berakhirnya perang pada bulan Agustus 1945. Keberhasilan lompatan strategis menuju Morotai ini sendiri dimungkinkan setelah selesainya Operasi Globetrotter pada 30 Juli 1944 di Sansapor-Mar, ujung barat Semenanjung Vogelkop (Area yang dikenal sebagai “Kepala Burung”) Papua. Kala itu, Typhoon Task Force (Divisi Infanteri ke-6 AS) berhasil merebut pangkalan udara Mar dan Sansapor praktis tanpa pertumpahan darah (bloodless landing). Keberhasilan tersebut melumpuhkan dan mengisolasi lebih dari 15.000 prajurit Angkatan Darat ke-2 Jepang di Manokwari dan Sorong, sekaligus menyediakan landasan pacu awal yang krusial untuk mendukung penyerbuan amfibi ke Morotai.
MISI BARU MENUJU MOROTAI
Pada pertengahan Agustus 1944, Divisi Infanteri ke-33 dipindahkan dari kendali Angkatan Darat Keenam ke Angkatan Darat Kedelapan di Papua Nugini. Setelah pengenalan divisi tersebut dalam pertempuran, “hadiah Natal” bagi para prajuritnya adalah pelayaran mengarungi Pasifik Selatan menuju Morotai—sebuah pulau berbentuk oval (juga dikenal dengan nama Morty) di Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Pulau ini memiliki panjang membentang sekitar 40–50 mil (80 km) dari utara ke selatan dan lebar 25–26 mil (42 km) dari barat ke timur. Luas wilayah daratannya mencapai sekitar 700 mil persegi (1.800 km²), dan bahkan mencakup 902 mil persegi (2.337 km²) jika memperhitungkan Pulau Rao kecil di sebelah baratnya. Berjarak hampir 300 mil (483 km) di sebelah barat laut Sansapor, Papua Nugini, Morotai terletak tepat di sebelah timur laut Pulau Halmahera yang berukuran jauh lebih besar (berjarak sekitar 12 mil/19 km dan dipisahkan oleh Selat Morotai seluas 6,2 mil atau 10 km, di mana perairan selat ini kelak sering dilalui oleh tongkang bala bantuan Jepang).
Interior pulau ini bergunung-gunung serta diselimuti hutan hujan tropis yang lebat, dengan hamparan wilayah datar terbesar berada di Dataran Doroeba di sebelah barat daya (tempat kota terbesar pulau ini, Daruba, berada dan kini menjadi situs Bandara Leo Wattimena / ICAO: WAMG) serta kawasan rawa-rawa di pesisir barat daya. Komoditas dan hasil alam utama pulau ini adalah damar serta kayu. Sebelum pecahnya perang, pulau ini hanya dihuni oleh sekitar 9.000 jiwa, belum tersentuh pembangunan komersial, dan diadministrasikan oleh pemerintah kolonial Belanda melalui Kesultanan Ternate. Meskipun tentara Jepang sempat menduduki pulau ini pada awal 1942, mereka tidak pernah menempatkan garnisun kuat atau mengembangkannya secara militer—sebuah kelalaian strategis yang kelak terbukti fatal. Penduduk pribumi Morotai utamanya merupakan suku Tobelorese (Tobilorese) atau Galelorese yang berasal dari Pulau Halmahera, dengan populasi penganut agama Islam dan Kristen.
Staf Markas Besar Jenderal Douglas MacArthur (Komandan Wilayah Pasifik Barat Daya) menyadari bahwa jika pasukan AS berhasil menguasai pangkalan udara di gugusan pulau Hindia Belanda (NEI) ini, mereka akan memiliki pijakan strategis untuk melancarkan penyerbuan guna mendukung pembebasan Mindanao dan Kepulauan Filipina di akhir tahun tersebut (yang dijadwalkan mulai 15 November 1944), berjarak sekitar 400 mil (644 km) ke arah utara. Dalam perencanaan awal strategi RENO V, sasaran utama invasi Sekutu sebenarnya adalah Pulau Halmahera. Namun, laporan intelijen dan tim pemecah kode Sekutu menemukan bahwa pimpinan Tentara Area ke-32 Jepang (di bawah komando Letjen Fusataro Teshima) sejak awal hingga Mei 1944 telah memperkuat Halmahera beserta sembilan landasan udaranya dengan mengerahkan Divisi ke-32 (berkekuatan sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara) yang dibentengi secara sangat kokoh sebagai pusat pertahanan jalur selatan menuju Filipina. Oleh karena itu, pada Juli 1944, Jenderal MacArthur mengambil keputusan strategis untuk melompati (bypass) pertahanan Halmahera melalui doktrin “lompat katak” (leapfrogging) dan memilih Morotai, yang diperkirakan hanya memiliki pertahanan minimal berkisar 500 hingga 1.000 personel musuh (termasuk personel dari Unit Penyerbu ke-2, dengan pos terdepan terbesar berada di Ujung Sopi/Cape Sopi yang diisi sekitar 100 orang). Keputusan ini diambil guna mengisolasi kekuatan raksasa Jepang di Halmahera sekaligus meminimalisir korban jiwa di pihak Sekutu.
Upaya perebutan Morotai ini diberi nama sandi Operasi Tradewind (Operation Tradewind), dengan jadwal pendaratan amfibi ditetapkan pada 15 September 1944 (bersamaan dengan pendaratan Divisi Marinir ke-1 AS di Peleliu dalam Operasi Stalemate II). Untuk memenuhi jadwal kembalinya MacArthur ke Filipina pada bulan Oktober, operasi penyerangan dilaksanakan oleh Alamo Force di bawah pimpinan Letjen Walter Krueger melalui Tradewind Task Force yang dibentuk pada 20 Agustus di bawah komando Mayjen Charles P. Hall. Dari total 61.000 personel yang dikerahkan (terdiri dari 40.105 prajurit AD AS, serta 16.915 personel USAAF dan RAAF—dengan Divisi ke-6 ditunjuk sebagai pasukan cadangan di Papua Nugini), pasukan pendarat gabungan Amerika Serikat dan Australia—termasuk pasukan dari ketiga resimen infanteri Divisi ke-31 (Dixie Division) di bawah Mayjen Clarence A. Martin serta Tim Tempur Resimen ke-126 / 126th RCT dari Divisi Infanteri ke-32 (Red Arrow)—mendarat di sudut barat daya dan pantai Morotai pada 15 September (D-Day). Pasukan dari RCT ke-126 menaiki kapal-kapal transpor mereka di Aitape, Papua Nugini, dan konvoi armada tersebut berangkat menuju Morotai pada tanggal 11 September pukul 10.00 pagi. MacArthur sendiri ikut menyertai gugus tugas ini di atas kapal penjelajah besar USS Nashville, meskipun ia tidak memegang komando operasional langsung di lapangan. Jumlah pasukan invasi Sekutu ini jauh melampaui kekuatan bertahan Jepang di pulau tersebut dengan rasio kekuatan lebih dari 100 banding 1. Pada puncaknya, sekitar 36.000 tentara Amerika Serikat ditempatkan secara langsung di pulau ini untuk mendukung pembangunan basis militer terbesar Sekutu di Asia Tenggara.
Operasi amfibi skala raksasa ini dipimpin oleh Laksamana Thomas C. Kinkaid dari Armada Ketujuh AS dan didukung oleh tiga gugus tugas Armada Ketujuh serta Armada Pasifik Utama. Armada penyerang dan pendukung yang besar ini (di mana separuhnya terdiri dari kapal-kapal pendarat amfibi) mencakup 22–24 kapal perusak (destroyers), 8 kapal perusak pengawal (destroyer escorts), 5 kapal transpor perusak (APD), 4 kapal frigat, 2 LSI Australia, 1 LSD, lebih dari 60 kapal transpor (24 LCI, 45 LST, 20 LCT, serta 11 LCI bersenjata roket), 6 kapal penjelajah (termasuk kapal penjelajah berat Australia dan kapal penjelajah ringan AS), serta gugus dukungan udara (TF 78) di bawah Laksamana Thomas L. Sprague yang membawa 6 kapal induk pengawal (escort carriers). Konvoi armada utama tiba di lepas pantai Morotai pada 15 September 1944 pukul 06.00 pagi. Selain itu, Angkatan Udara Timur Jauh AS (Far East Air Forces / FEAF) di bawah komando Letjen George C. Kenney dan Angkatan Udara ke-13 mengerahkan Angkatan Udara V dan XIII untuk melancarkan kampanye pengeboman intensif pra-invasi (air interdiction). Pengeboman ini bertujuan menetralkan serta mengisolasi pangkalan-pangkalan udara musuh di Halmahera, Ambon, Seram, Buru, Celebes (Sulawesi), dan Davao (Mindanao) agar armada udara Jepang tidak dapat memberikan bantuan udara ke Morotai selama proses pendaratan.
Dalam mendukung logistik operasi amfibi dan pembangunan pangkalan, armada kapal niaga yang dikawal oleh Naval Armed Guard (Pasukan Pengawal Bersenjata Angkatan Laut) serta kapal-kapal pendarat amfibi seperti kapal pendarat tank LST-695 memegang peranan krusial dalam mengangkut perbekalan perang dan elemen pendukung. Setelah pemboman udara dan laut yang gencar oleh kapal perang Sekutu melumpuhkan pangkalan Jepang sekitarnya dan membakar beberapa desa mulai pukul 06.30 pagi (meski menimbulkan sedikit korban pada pihak Jepang karena mereka menyamar dan membuat kamp tiruan), pendaratan awal dimulai pukul 08.30 pagi di dua sektor pantai barat Semenanjung Gila, yaitu White Beach (diapit Resimen Infanteri ke-124 di sayap kanan) dan Red Beach (diapit Tim Tempur Resimen ke-155 dan ke-167 di sayap kiri). Pasukan penyerang berkumpul dengan cepat dan segera bergerak ke pedalaman menghadapi perlawanan yang sangat minim. Pendaratan amfibi pada 15 September 1944 ini kemudian mencatatkan paradoks militer tersendiri dalam sejarah Perang Pasifik. Berbeda dengan pendaratan brutal Korps Marinir AS di Peleliu yang terjadi pada hari yang sama dan memakan korban jiwa sangat besar, pendaratan di Morotai berlangsung praktis tanpa pertumpahan darah (bloodless) karena minimnya perlawanan awal musuh di tepi pantai. Keberhasilan pendaratan hemat korban jiwa pada D-Day ini membuktikan keakuratan keputusan strategis MacArthur dalam menerapkan doktrin leapfrogging.
Meskipun Red Beach dan White Beach terbukti memiliki medan yang sangat buruk—berbeda jauh dari perkiraan intelijen awal—berupa lumpur tebal yang dalam, karang terjal, serta terumbu karang yang menyulitkan kapal pendarat hingga prajurit harus merayap di air setinggi dada, pendaratan ini berhasil mengejutkan dan mencerai-beraikan kekuatan musuh. Pada akhir D-Day, Sekutu berhasil mengamankan seluruh target hari pertama dan menguasai perimeter sejauh 2.000 yard (1,8 km / 1.830 m) ke pedalaman dengan perlawanan minimal. Pasukan invasi berhasil mengamankan tujuan utama pendaratan mereka dalam waktu dua minggu. MacArthur sendiri ikut mendarat dua jam setelah gelombang pertama untuk meninjau lokasi secara langsung dan menatap ke arah Filipina. Gelombang pasokan dan pasukan penguat terus mengalir dari pangkalan-pangkalan Papua Nugini seperti Teluk Humboldt, Teluk Maffin, dan Aitape. Pada D+3 (18 September), konvoi 12 kapal pendarat tank termasuk LST-695 tiba mengangkut Divisi Infanteri ke-41 (yang diperkuat) AD AS. Ketika mendekati daratan pada pukul 05.30 pagi di bawah tembakan gencar senjata anti-pesawat di Pulau Mitita, kapal-kapal pendarat ini sempat diserang oleh pembom medium Jepang yang melepaskan bom near-miss di dekat LST-562 dan kapal perusak pengawal, sebelum akhirnya mendarat dengan selamat di Pantai Pitoe (Pitoe Beach).
Pembangunan Morotai menjadi pangkalan Sekutu dimulai segera setelah pendaratan. Pangkalan udara dan fasilitas raksasa segera dibangun oleh Satuan Zeni Angkatan Darat AS (U.S. Army Engineers) di Dataran Doroeba—mencakup pengerahan 7.000 prajurit zeni (di mana 84 persen di antaranya merupakan tentara keturunan Afrika-Amerika). Mereka bertugas membangun akomodasi dan fasilitas logistik untuk 60.000 personel, rumah sakit lapangan berkapasitas 1.900 tempat tidur, area penyimpanan bahan bakar massal, fasilitas dok kapal, pangkalan kapal torpedo PT (PT-boat base), serta pembangunan dua landasan udara utama (airfield/runway) yaitu Wama Airstrip (untuk pesawat tempur/pembom sedang) dan Pitu Airstrip (landasan udara operasional berukuran besar untuk pembom berat B-24 Liberator di dekat Pitu di ujung barat daya pulau sebagai Bandara Leo Wattimena). Dua lapangan udara utama tersebut siap digunakan dan beroperasi penuh pada bulan Oktober. Kompleks pangkalan ini dirancang secara khusus untuk menampung pesawat pembom berat Consolidated B-24 Liberator dari Angkatan Udara ke-13, pembom medium B-25 Mitchell, serta skuadron pesawat tempur kawal P-38 Lightning dan P-47 Thunderbolt. Pada 20 September, perimeter seluas 15 mil yang diperluas berhasil didirikan, menjadi perlindungan yang memadai dari sisa-sisa elemen kecil tentara Jepang yang tak terorganisir di Morotai. Jenderal Walter Krueger secara resmi menyatakan fase awal kampanye pendaratan selesai pada 4 Oktober 1944. Keterlibatan resmi Divisi Infanteri ke-33 di Morotai berlangsung dari pendaratan di bulan September hingga November 1944 (di mana partisipasi aktif unit pendukung Divisi ke-32/RCT ke-126 secara resmi dicatat berlangsung dari 15 September hingga 10 November 1944) sebelum elemen-elemennya disiapkan untuk kampanye di Filipina.
Pesawat-pesawat tempur Sekutu mulai mengawal pesawat-pesawat pembom pada 7 Oktober dan B-25 beroperasi penuh pada 13 Oktober. Dari pangkalan udara Morotai ini, Sekutu melancarkan serangan udara berkelanjutan yang terbukti memainkan peran krusial dalam Pembebasan Filipina selama tahun 1944 dan 1945—termasuk menetralkan kekuatan udara Jepang di Hindia Belanda, menghancurkan cadangan pesawat musuh di darat maupun udara, memutus jalur pasokan bahan bakar minyak (BBM) dan logistik penerbangan Jepang menuju Filipina, serta menyediakan jangkauan perlindungan dan pengawalan udara (air umbrella) bagi penyerbuan besar-besaran Armada Sekutu ke Teluk Leyte, Filipina. Selain itu, kapal cepat PT (PT-boats) dan pesawat dari Angkatan Udara ke-13 AS serta Angkatan Udara Taktis Pertama Australia yang berbasis di Morotai secara efektif mengganggu posisi pertahanan Jepang di seluruh wilayah Hindia Belanda dan Filipina Selatan. Selain menjadi pangkalan aju untuk operasi pembebasan Filipina, fasilitas logistik dan pangkalan udara strategis yang dikembangkan dari perebutan bekas pangkalan militer utama Jepang ini diperluas lebih lanjut pada tahun 1945 untuk mendukung operasi ‘Oboe’ yang dipimpin oleh Australia di Borneo (Kalimantan), dengan Korps I Australia menggunakan Morotai sebagai pangkalan pengerahan utama (staging ground). Karena pangkalan menjadi sangat padat, beberapa perkemahan pasukan Australia terpaksa ditempatkan di luar perimeter pertahanan Amerika, yang membuat mereka sempat rentan terhadap serangan berkala Jepang. Morotai tetap menjadi pusat logistik dan komando penting hingga pasukan Australia mengadministrasikan wilayah Hindia Belanda bagian timur usai perang sampai April 1946 ketika pemerintah kolonial Belanda didirikan kembali.
Kehadiran kapal-kapal niaga dan kapal pendarat amfibi di perairan Morotai sepanjang September hingga November 1944 diwarnai perlawanan sengit Armed Guard dan awak kapal terhadap serangan udara malam dan gangguan udara dari pihak musuh. Kapal-kapal seperti India Victory (mengalami 37 peringatan bahaya dan serangan jarak dekat), Joseph E. Wing (mengalami 39 peringatan serta terkena serpihan amunisi anti-pesawat pada 30 September), Thomas Corwin, Lindy M. Garrison, W. W. McCrackin (menembak jatuh satu pesawat musuh pada 8 Oktober), Carl G. Barth, Maria Sanford, W. B. Rodgers (mengalami 27 peringatan bahaya merah dan 14 kali serangan bom antara 11 Oktober hingga 8 November), serta LST-695 (yang membalas tembakan pesawat Jepang di Pitoe Beach pada 30 September dengan menembakkan 112 amunisi caliber 40mm dan 556 amunisi caliber 20mm) secara gigih mempertahankan perairan Morotai. Beberapa kapal niaga dan kapal amfibi yang telah menyelesaikan misi di Morotai ini kemudian melanjutkan pelayaran untuk mendukung invasi di Teluk Leyte.
KONSOLIDASI DAN PERLAWANAN MUSUH
Setelah pasukan sekutu mendarat, tentara Jepang bergerak cepat untuk melawan pasukan Amerika. Menyadari Morotai telah jatuh dan lapangan udaranya akan mengancam posisi Jepang di Filipina, pimpinan Tentara Area ke-35 Jepang di Halmahera berusaha mengirimkan bala bantuan. Ketika pasukan ‘Golden Cross’ (Divisi ke-33) sedang dalam perjalanan untuk mengambil alih tugas dari Divisi ‘Dixie‘ (Divisi ke-31), pihak Jepang mendaratkan Kolonel Kisou Ouchi di Morotai pada bulan Oktober untuk mengorganisir dan memegang komando atas sisa-sisa pasukan mereka di sana. Melalui serangkaian pergerakan antarpantai pada malam hari (barge runs) dari Pulau Halmahera di dekatnya antara bulan September dan November 1944, Jepang mengerahkan kekuatan utama dari Resimen Infanteri ke-211, satu batalyon dari Resimen Infanteri ke-210, serta tiga detasemen penyerbu untuk memperkuat pasukan di Morotai menjadi sekitar 4.000 hingga 5.000 personel sebagai persiapan serangan balasan. Meskipun harus menembus barikade kapal cepat (PT-boat) Angkatan Laut AS dan serangan pesawat-pesawat ringan yang menimbulkan kerugian besar di pihak Jepang (di mana sekitar 200 tentara Jepang tewas saat tongkang mereka ditenggelamkan), pada bulan Desember—saat Divisi ke-33 berlayar menuju pulau tersebut—sebagian besar Resimen Infanteri ke-211 Jepang telah berada di posisinya. Namun, karena pasukan bantuan ini tiba tanpa makanan, amunisi, atau pasokan medis yang memadai, Jepang gagal menembus perimeter pertahanan Sekutu maupun melancarkan serangan yang efektif.
Kolonel Jepang tersebut mengumpulkan pasukannya di area Bukit 40 (Hill 40), tempat mereka menimbulkan ancaman serius bagi instalasi udara dan laut Amerika. Ia mengirim patroli pengintai dan memerintahkan prajuritnya untuk mengganggu perimeter pangkalan Amerika. Kolonel ini mempertahankan taktik itu hingga 14 Desember, saat terlihat jelas bahwa ia sanggup melakukan serangan berskala besar. Dokumen yang disita mengindikasikan bahwa Jepang berencana keluar dari hutan dan merebut Semenanjung Gila dari Amerika, termasuk pangkalan udaranya. Untuk menghilangkan ancaman ini, musuh harus dicari hingga ke sarangnya dan dihancurkan. Pasukan garnisun AS di pulau itu terikat pada tugas pertahanan perimeter ketika Divisi ke-33 didatangkan dari Papua Nugini. Resimen Infanteri ke-136 dari divisi tersebut mendapat tugas utama untuk menanggung beban pekerjaan ini.
RINTANGAN MEDAN DAN SERANGAN MALAM
Sejak awal terdapat hambatan berat. Resimen tersebut akan terputus dari pangkalan pesisir dan dituntut beroperasi secara independen. Pasokan logistik harus diangkut secara manual melintasi jalur hutan yang terjal di bawah pengawalan ketat, atau dijatuhkan lewat udara (airdrop). Hanya sedikit tenaga pengangkut lokal yang tersedia. Akhirnya, musuh memiliki keunggulan karena bertempur di medan mereka sendiri. Sebelum bergerak melakukan serangan, Divisi ke-33 menjadi sasaran serangan udara dari pesawat-pesawat pembom musuh yang berbasis di Halmahera dan Borneo.
Malam Natal menjadi malam yang sangat sibuk; pesawat-pesawat pembom Jepang menjatuhkan deretan bom tepat di atas pangkalan udara, menghancurkan beberapa pesawat B-24. Pesawat tempur malam yang berpatroli di semenanjung berhasil menghadang dua pesawat Jepang dan menjatuhkan keduanya dalam kobaran api. Santapan malam Natal bisa saja dinikmati di lingkungan yang lebih elegan; meski demikian, Kompi Perbekalan (Quartermaster) ke-108 menyajikan hidangan pesta tradisional bagi unit-unit tempur. Beberapa prajurit yang dijadualkan menuju garis depan pada pagi hari Natal menyantap makanan liburan mereka pada malam tanggal 24, sementara yang lain menyantap kalkun untuk sarapan pada tanggal 25. Seorang prajurit senapan dari Kompi A, Infanteri ke-136, terlihat mengambil paha kalkun dari saku bajunya dan mengunyahnya saat truk yang membawanya ke garis depan mulai berangkat.
PERGERAKAN MELALUI HUTAN BELANTARA
Kolonel Ray E. Cavenee, komandan Resimen Infanteri ke-136, memerintahkan pergerakan ke pedalaman pada 26 Desember. Dua barisan pasukan bertugas mendekati kekuatan musuh. Resimen tersebut, minus Batalyon ke-3, bergerak menuju Sungai Pilowo, sedangkan Batalyon ke-3 tetap berada di Radja. Artileri pendukung dipindahkan ke Pulau Ngelengele, di lepas pantai barat Morotai. Jalur hutan terbukti lebih sulit dilalui daripada yang diperkirakan pasukan AS. Para prajurit yang membawa beban punggung berisi mortir berat, senapan mesin, dan amunisi dengan cepat mengalami kelelahan, sehingga beban harus dipindahkan ke pengangkut yang baru setiap 15 menit. Ketika pasukan berada satu mil di pedalaman, sinyal radio terputus, memutus komunikasi antara kedua kolom. Sebuah pesawat penghubung artileri mengambil alih tugas komunikasi antar-barisan, terbang di atas kepala dari satu barisan ke barisan lainnya dan menyampaikan pesan. Barisan Pilowo baru bertemu musuh pada 30 Desember, ketika patroli pengintai yang beroperasi di sayap kiri (utara) berpapasan dengan sekelompok kecil tentara Jepang di sekitar Sungai Pilowo, sebelah selatan Bukit 40. Patroli tersebut kemudian diarahkan ke sayap kiri, di mana mereka bergerak ke utara Pilowo pada 1 Januari dan menemukan kekuatan musuh yang telah membuat parit pertahanan.
PERTEMPURAN SENGIT DI GARIS DEPAN
Batalyon ke-1, di bawah komando Mayor Lewis L. Hawk, telah berbelok ke utara dan diperintahkan untuk menyerang. Pada awal 2 Januari, batalyon tersebut melakukan pengintaian sebelum serangan dan menemukan bahwa posisi Jepang membentang lebih jauh ke timur dari yang mereka perkirakan sebelumnya. Kolonel Cavenee, yang mempertahankan komando resimennya bersama Batalyon ke-1, menyadari bahwa kekuatan musuh terbentengi dengan kuat dan memutuskan untuk melancarkan serangan terkoordinasi pada pagi hari tanggal 3 Januari. Batalyon ke-2, di bawah komando Letkol Arthur T. Sauser, diperintahkan menuju ke sebelah barat posisi Jepang untuk mendukung pengepungan kekuatan musuh, sementara Batalyon ke-1 diperintahkan menyerang dari selatan. Bantuan artileri dari Ngelengele memberikan dukungan sebelum perintah bergerak diberikan. Pada pukul 10 pagi, kedua batalyon menyerang secara bersamaan.
Dua ratus yard (183 meter) dari posisi musuh, tempat patroli sebelumnya berkeliaran dengan bebas sehari sebelumnya, para penyerang dihujani tembakan dari penembak jitu (sniper) di atas pohon. Untuk menambah masalah, banyak tentara Jepang melemparkan peledak TNT bersumbu pendek dari posisi tersamar di bawah akar-akar pohon. Terlepas dari gangguan ini, kedua batalyon berhasil maju. Ketika tembakan penembak jitu semakin gencar, upaya dilakukan untuk memotong jalan. Ini berarti harus bergerak keluar dari jalur melintasi hutan yang pengap dan membuat sesak, di mana jarak pandang paling jauh hanya 20 kaki (6 meter) dan setiap langkahnya sangat berat. Batalyon ke-1, yang menyerang menuju dataran tinggi di bawah tembakan senjata ringan yang mematikan, terhenti 80 yard (73 meter) di depan posisi musuh. Pada jarak tersebut, posisi tentara Jepang sulit dipastikan, namun front tembakan musuh yang luas dan suara senjata otomatis memberikan indikasi posisi mereka. Saat Batalyon ke-1 mengevakuasi korban luka, Batalyon ke-2 di sebelah barat terlibat dalam baku tembak yang sengit. Serangannya dimulai ke arah sayap musuh, tetapi rimbunnya hutan yang tak tertembus, ditambah tembakan penembak jitu, memaksa Batalyon ke-2 mengalihkan serangannya ke arah selatan. Batalyon ke-2 menerobos dua posisi terdepan musuh dan memusnahkannya. Sore harinya, Batalyon ke-2 berada di sayap barat Batalyon ke-1. Batalyon ke-2 berbalik menghadap ke utara dan menggali parit untuk bertahan di malam hari.
RINTANGAN LOGISTIK DAN EVAKUASI KORBAN
Cavenee merenungkan banyak masalah yang dihadapinya. Pasokan logistik menjadi masalah utama—resimennya telah menghabiskan amunisi melebihi kapasitas pengisian ulang dan pengangkutan manual, serta jatah makanan K (K-rations) semakin menipis. 100 tenaga pengangkut lokal yang diperbantukan pada resimen hanya mampu mengangkut sebagian kecil dari apa yang dibutuhkan. Pasokan udara tampaknya menjadi satu-satunya solusi. Cavenee memerintahkan area 500 yard (457 meter) di belakang resimen dibersihkan untuk menerima penerbangan kargo logistik (airdrop). Evakuasi korban luka tampaknya menjadi tugas yang hampir tidak mungkin. Evakuasi medis memerlukan petugas medis dengan tandu, tetapi dibutuhkan tiga orang lagi untuk membawa prajurit yang terluka ke pos pertolongan pertama (aid station). Evakuasi ke pantai dari pos pertolongan pertama memerlukan perjalanan dua hari sekali jalan dan membutuhkan delapan orang untuk setiap korban. Tuntutan pasokan dan evakuasi mengurangi kekuatan tempur secara signifikan. Untuk menghemat personel, keputusan diambil untuk mengubur prajurit yang gugur di dekat lokasi, untuk digali kembali dan dipindahkan ke pantai kelak. Rapatnya medan mencegah penggunaan senapan mesin berat dan mortir. Kompi meriam dan anti-tank juga harus ditahan di area pesisir. Setiap upaya untuk menggunakan mortir menghasilkan ledakan di tajuk pohon (tree bursts) yang membahayakan pasukan sendiri. Kurangnya area tembak—dengan jarak pandang terbaik hanya 20 kaki—membuat senapan mesin berat tidak berguna. Kompi senjata berat lalu ditarik dari pertempuran dan bertanggung jawab untuk menerima pasokan udara, memasok ulang pasukan garis depan, dan mengevakuasi korban. Sementara itu, dipastikan bahwa kelompok perlawanan Jepang terdiri dari sekitar dua batalyon infanteri. Musuh tidak memiliki lebih dari dua mortir kecil, setidaknya memiliki dua senapan mesin, dan tidak memiliki artileri.
TAKTIK MUNDUR DAN PEMBOMAN ARTILERI
Saat fajar pada pagi hari tanggal 4 Januari, artileri AS berkonsentrasi pada posisi musuh. Batalyon ke-1 dan ke-2 dari Resimen Infanteri ke-136 bergerak ke utara, tetapi sebelum mereka maju 40 yard (36,5 meter), tembakan gangguan dari penembak jitu di pohon dan suara khas senapan mesin ringan Nambu Jepang mulai menyambar semak-semak. Beruntung, tembakan Jepang sebagian besar tidak akurat. Pertempuran dengan cepat merosot menjadi tembak-menembak di tingkat regu. Jarak yang sangat dekat antara kedua pihak yang berhadapan tidak memungkinkan penggunaan artileri. Senjata individu para prajuritlah yang akan menentukan hasil pertempuran. Para penembak jitu dicari dan ditembak. Prajurit musuh secara individu yang berada di dalam lubang pertahanan diserang dari posisi sayap dan dihancurkan dengan granat tangan. Kemajuan berjalan lambat. Resimen Infanteri ke-136 bertempur di sisa hari itu sebelum mendekati posisi utama musuh. Menjelang malam, Cavenee harus membuat keputusan penting. Haruskah ia menarik pasukannya ke posisi yang lebih aman, atau haruskah ia bertahan di posisinya saat ini sepanjang malam? Posisi pertahanan Jepang utamanya berupa lubang berdiri dengan batas depan kayu tanpa penutup atas. Posisi ini akan sangat rentan terhadap artileri, tetapi rentetan tembakan yang efektif memerlukan penarikan mundur pasukan. Cavenee memutuskan untuk menarik mundur pasukan dan membiarkan artileri bekerja.
Kedua batalyon ke-136 baru saja menyelesaikan pembuatan lubang perlindungan (foxhole) dangkal untuk dua orang sejauh 100 yard di sebelah selatan posisi Jepang ketika meriam howitzer kaliber 105mm dari unit Artileri Lapangan ke-210 dan Batalyon Artileri Lapangan ke-123 mulai menembak. Serpihan peluru terbang di atas kepala pasukan resimen ke-136 sepanjang malam. Di sela-sela jeda tembakan artileri, musuh kembali ke puncak pohon dan menghujani dengan tembakan senjata ringan. Sambil memegang senter di balik ponconya, sang kolonel mempelajari peta dan pesan-pesannya. Beruntung, situasi pasokan logistik jauh membaik. Penjatuhan pasokan udara berjalan efektif dengan tingkat keberhasilan pemulihan 95 persen, dan pasukan senjata berat telah mengatasi rintangan besar dalam menyalurkan pasokan ke depan. Namun, pasokan ulang bukan tanpa masalah. Hanya pasokan medis yang dijatuhkan dengan parasut; sisanya didorong keluar dari pintu pesawat angkut Douglas C-47 saat terbang rendah di ketinggian 200 kaki (60,96 meter). Semua gulungan kawat komunikasi rusak dan tidak dapat digunakan. Dua orang tewas dan beberapa lainnya luka-luka karena tidak menjauh dari area pengedropan. Ijin dan kreativitas kemudian membantu upaya evakuasi. Rakit bambu dibuat untuk mengapungkan korban luka menyusuri Sungai Pilowo menuju area pesisir. Batang bambu sepanjang 8 kaki (2,5 meter) dan berdiameter 3 inci (7,62 cm) diikat menjadi satu lapisan untuk membuat rakit selebar 5 kaki (1,5 meter). Daya apungnya pas untuk satu orang yang terluka, namun rakit cukup ringan untuk memungkinkan pembawa mengangkatnya melewati bagian yang dangkal. Para pengangkut memandu rakit dengan mengarungi air atau berenang di sampingnya saat prajurit yang terluka terapung ke hilir. Perjalanan ke hilir kini hanya memakan waktu satu hari, bukan dua hari, dan hanya membutuhkan empat pembawa tandu per orang, bukan delapan.
PENYERANGAN AKHIR TERKOORDINASI
Para prajurit sudah sangat lelah, tetapi Cavenee tahu bahwa musuh yang menghadapinya tidak lebih dari dua batalyon dengan kekuatan yang telah berkurang. Batalyon ke-3 resimen Jepang telah diidentifikasi sebagai unit yang berada di jalur kolom Batalyon ke-3 miliknya sendiri, yang kini hanya berjarak 2.000 yard (1.829 meter) di sebelah utara, mendekati Bukit 40. Kolonel Cavenee memastikan bahwa dengan kemajuan yang wajar, Batalyon ke-3 miliknya dapat bergabung dalam pertempuran pada sore hari tanggal 5 Januari. Setelah pertimbangan lebih lanjut, ia memutuskan tidak ingin menunggu batalyon ini bergabung untuk serangan terkoordinasi. Ia memutuskan untuk melancarkan serangannya pada pagi hari tanggal 5 Januari dengan Batalyon ke-1 dan ke-2. Batalyon ke-3 akan bergabung dalam pertempuran dari utara secepat mungkin.
Dua ribu yard di sebelah utara, Batalyon ke-3 sedang menggali parit untuk bertahan malam itu. Perjalanannya dari Radja dimulai dengan buruk. Sejak awal, unit tersebut terus diganggu musuh. Dari tanggal 26 hingga 28 Desember, unit ini diserang secara ganas setiap malam oleh kekuatan musuh. Informasi intelijen mengungkapkan bahwa itu adalah Batalyon ke-3 dari Resimen Infanteri ke-211 Jepang yang telah dipisahkan dari resimen untuk misi khusus ke Radja guna menanti dan memandu bala bantuan yang datang dari Halmahera menggunakan tongkang. Namun, tongkang-tongkang Jepang tersebut diadang setelah menyusup dari penyergapan PT-boat Angkatan Laut dan dihancurkan bersama dengan 50 ton makanan dan pasokan. Batalyon ke-3 pimpinan Mayor Ralph Pate telah mengalami rintangan perjalanan terberat sejauh ini dalam kampanye tersebut. Rimbunnya hutan yang mereka terobos lebih lebat daripada yang dihadapi oleh barisan Pilowo. Selain itu, untuk bergabung dalam pertempuran Bukit 40, Batalyon ke-3 dari Resimen ke-136 harus meninggalkan jalur setapak dan melintasi daerah liar tanpa jalan. Berulang kali, Batalyon ke-3 tidak yakin akan posisi pastinya. Setiap kali Batalyon ke-3 tersesat di dalam hutan, pesawat penghubung yang sangat membantu akan datang menolong. Melalui arahan radio, pesawat pertama-tama akan menemukan barisan pasukan yang tidak terlihat dari udara. “Terbang ke utara sedikit,” pinta pasukan di darat. “Sekarang miring ke kanan sekitar 45 derajat… Anda tepat berada di atas kami sekarang!” Dengan ditemukannya barisan tersebut, pesawat akan melaporkan posisi barisan secara relatif terhadap fitur-fitur tertentu dari medan di sekitarnya. Meskipun batalyon tersebut telah berbaris dan bertempur membuka jalan selama 10 hari, kondisi tempurnya masih cukup baik. Jumlah tentara Jepang yang ditemukan tewas dan dikubur di sepanjang jalan menunjukkan kerugian sangat besar yang diderita musuh. Mayor Pate percaya bahwa ketiadaan perlawanan Jepang selama dua hari sebelumnya mengindikasikan bahwa musuh telah mundur. Nyatanya, ia kemudian mengetahui bahwa Batalyon ke-3 dari Resimen Infanteri ke-211 Jepang telah dihancurkan sepenuhnya sebagai kekuatan militer.
KEHANCURAN PERTAHANAN MUSUH DI BUKIT 40
Tanda bahaya dibunyikan pada pagi hari tanggal 5 Januari saat Kompi B, di bawah komando Kapten Charles Kissel, mulai bergerak di sebelah kanan Batalyon ke-1. Pasukan Amerika segera mengambil posisi dan bersiap di senjata otomatis mereka. Sebuah serangan sedang menerjang sayap paling kanan dari posisi AS, namun prajurit Jepang langsung ditembak jatuh di tempat. Perwira komando yang mengayunkan pedang telah melaju hingga jarak 10 yard (9 meter) dari posisi Amerika ketika rentetan tembakan senapan otomatis Browning (BAR) menghentikannya seketika seperti menabrak tembok bata. Tindakan terakhirnya adalah melemparkan pedang Samurainya ke arah posisi AS. Perwira tersebut dan delapan prajurit musuh lainnya ditemukan tewas. Hal ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Mengapa pasukan Jepang meninggalkan benteng pertahanan mereka untuk bertempur di tempat terbuka? Apakah ini mengindikasikan bahwa mereka sedang mengosongkan posisi mereka? Orang Amerika tidak pernah mengetahui jawabannya.
Batalyon ke-3 tiba tepat waktu untuk berpartisipasi dalam serangan terkoordinasi oleh ketiga batalyon dari Resimen ke-136, yang dimulai sesuai jadwal pada pukul 7 pagi, setelah rentetan tembakan artileri terakhir. Suasana hutan menjadi tidak biasa cemasnya, tanpa ada tembakan dari posisi musuh. Pasukan yang maju mulai waspada. Kompi B dari Resimen ke-136 berada di sebelah kanan dan bergerak mudah di sepanjang jalur, maju cepat melintasi bukit kecil. Tepat di depan adalah posisi musuh. Tanpa menyadarinya, satu regu bergerak tepat ke jalur senapan mesin Jepang yang tersamar dengan cerdik. Kurang dari 10 kaki (3 meter) dari regu tersebut, senapan mesin menyemburkan tembakan, dan dalam waktu lima detik delapan anggota regu terbaring tewas atau terluka. Regu berikutnya di barisan langsung merayap ke tanah hanya 50 (15,24 meter) kaki dari posisi musuh. Empat orang di sebelah kanan regu bergerak ke timur dan mengepung posisi senapan mesin tersebut. Dua granat mengakhiri riwayatnya.
Ketika senapan mesin menembaki Kompi B, posisi musuh lainnya di seberang Kompi G juga mulai menembak. Terlihat jelas bahwa kedua posisi senapan mesin musuh tersebut adalah bagian dari rencana tembakan perlindungan akhir di mana tembakan dari satu posisi merupakan sinyal bagi posisi kedua untuk membuka tembakan. Beruntung, Kompi G belum tiba di posisinya saat senapan ini menembak, sehingga merupakan tugas kecil bagi mereka untuk memusnahkan senapan mesin yang terlalu dini membocorkan posisinya tersebut. Kedua senapan mesin itu terbukti menjadi pertahanan terorganisir terakhir Jepang. Batalyon ke-1 dan ke-2 kemudian menerjang sisa-sisa penembak senapan musuh dan melanjutkan pembersihan posisi musuh. Kehancuran di perimeter pertahanan Jepang sangat luar biasa. Pos pertolongan pertama dan pos komando telah hancur berkeping-keping oleh tembakan artileri. Terdapat bukti banyak ledakan di tajuk pohon, dan serpihan peluru yang terbang telah memakan korban yang mengerikan. Selama pertempuran tiga hari tersebut, pihak Jepang telah mengubur prajurit mereka yang gugur di dalam kuburan-kuburan dangkal. Pihak Jepang kekurangan makanan tetapi memiliki pasokan peralatan medis, sinyal, dan teknik yang memadai. Perangkat radio dan instrumen pengendali tembakan tampak berkualitas dan dibuat dengan sangat baik. Terdapat 150 topeng gas di tempat penampungan pusat, tetapi tidak ada pasokan bahan kimia lainnya. Hasil tangkapan terbesar yang disita adalah sebuah papan tanda bertuliskan Morita (211) CP (Pos Komando Morita/211). Batalyon ke-1 dan ke-2 terus bergerak ke utara, mengejar tentara Jepang yang tersisa dan bergabung dengan Batalyon ke-3. Pasukan bertemu pada pukul 2 siang tanpa menemui tentara musuh lagi. Tak lama setelah itu, diverifikasi bahwa Resimen Infanteri ke-211 Jepang, minus Batalyon ke-3, merupakan kekuatan yang memberikan perlawanan di Bukit 40. Pasukan ini telah diperintahkan untuk mempertahankan posisi dengan harga berapa pun, dan hanya diperkirakan 40 tentara musuh—beberapa di antaranya terluka—yang berhasil meloloskan diri.
PENGORBANAN DAN AKHIR KAMPANYE MOROTAI
Resimen Infanteri ke-130 dari Divisi ke-33 juga berpartisipasi dalam apa yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran Kedua Morotai. Edward Rosenfeld, seorang komandan peleton di Kompi A, mengingat peran unitnya dalam pertempuran tersebut: “Misi kami adalah mempertahankan perimeter yang aman di sekitar lapangan udara dan melakukan patroli pengintaian. Dalam satu aksi tertentu, Kompi B dari Resimen ke-130 menderita beberapa korban. Namun dengan bala bantuan dari Kompi A, kami mampu menyusun barisan pengintai yang terdiri dari hampir 200 orang, termasuk seorang pengamat artileri dan seorang personel zeni.” Semua prajurit Amerika harus berhadapan dengan usaha bergerak menembus hutan yang secara harfiah tak tertembus. Rosenfeld mengenang bahwa ada tempat-tempat di mana siang hari tidak pernah terlihat. Ia juga mengingat bahwa kemajuan pasukan berjalan sangat lambat: “Kami harus meretas jalan kami hampir di setiap kaki hutan tempat jarak maksimum yang dapat kami tempuh dalam sehari adalah 1.000 yard.”
Mayor Jenderal P.W. Clarkson memuji unit artileri lapangan atas kinerjanya selama kampanye tersebut. Ketika Resmen Infanteri ke-136 dan musuh berada dalam posisi jalan buntu yang memakan banyak korban di Bukit 40, meriam howitzer dari Batalyon Artileri Lapangan ke-123 dan ke-210-lah yang mengubah keseimbangan kekuatan. Rentetan tembakan mereka yang berkepanjangan mematahkan pertahanan musuh yang gigih yang tidak mau tunduk pada senapan dan granat. Mike Morrone, yang berada di Baterai A dari Artileri ke-210, mengonfirmasi akurasi meriam howitzer 105mm milik baterainya. “Kami bisa memiliki enam peluru di udara sebelum peluru pertama mendarat,” katanya. “Saya ingat Brigjen Alexander Paxton, Komandan Artileri Divisi, mengamati tembakan kami dan merespons dengan: ‘Sempurna!'”
Jenderal Clarkson juga secara khusus mengapresiasi detasemen medis Batalyon ke-2, Resimen Infanteri ke-136, yang dipimpin oleh Kapten Harold Tannenbaum. Berulang kali, petugas medis dari detasemen ini secara sukarela masuk ke jalur hutan selebar 20 yard yang memisahkan kedua pasukan yang berhadapan untuk mencari korban luka. Petugas medis di pos pertolongan pertama batalyon tidak luput dari bahaya. Penembak jitu dan kelompok penyergap Jepang juga terus mengganggu fasilitas medis tersebut. Keberanian Prajurit Marion Urban adalah contoh nyata. Sebagai petugas medis Kompi F, Prajurit Urban berulang kali melakukan perjalanan ke no man’s land (area tak bertuan) untuk menyeret korban luka kembali ke tempat aman. Urban tewas menjelang akhir kampanye saat berusaha menyelamatkan seorang komandan regu Kompi F yang terjebak dalam tembakan silang yang mematikan di area terbuka. Urban kemudiaan dianugerahi penghargaan medali Silver Star secara anumerta.
Pahlawan adalah hal yang biasa di seluruh jajaran Resimen Infanteri ke-136 di Morotai. Cavenee, yang pernah bertugas sebagai prajurit infanteri garis depan selama Perang Dunia I, memberikan contoh bagi pasukannya dengan memimpin langsung serangan terakhir. Sersan Staf Adolph Stebe menerjang senapan mesin Jepang yang menahan regunya di jalur hutan. Saat ia melemparkan granat ke posisi tersebut dan memberi isyarat kepada anak buahnya untuk maju, ia ditembak jatuh oleh penembak senapan musuh dari jarak dekat. Regu Sersan Joseph Wujcik berada dalam situasi serupa. Bertekad membawa anak buahnya melewati musuh, pemimpin regu tersebut berdiri, menarik perhatian tembakan senapan mesin menjauh dari anggota regunya yang lain. Memanfaatkan pengalihan perhatian tersebut, para penembak senapan menyerbu posisi musuh, tetapi tidak sebelum Wujcik terbunuh.
Kampanye militer utama di Morotai berakhir pada 14 Januari 1945, 20 hari setelah pertempuran pedalaman dimulai. Selama pertempuran sengit tersebut, lebih dari 870 tentara Jepang tewas dalam pertempuran langsung dan 10 orang ditangkap. Korban untuk tiga batalyon dari Infanteri ke-136 berjumlah total 46 tewas dalam aksi (killed in action) dan 104 luka-luka. Meskipun pertempuran terorganisir berakhir pada pertengahan Januari, pertempuran berkala, aksi gerilya, dan bentrokan skala kecil berlarut-larut hingga menyerahnya Jepang pada Agustus 1945—sebuah perang atrisi lambat yang ditandai bukan hanya oleh kontak senjata melainkan oleh wabah penyakit tropis dan kelaparan hebat. Sisa-sisa prajurit Jepang yang melarikan diri ke hutan pedalaman menderita penderitaan berkepanjangan tanpa adanya pasokan logistik, di mana banyak dari mereka tewas karena penyakit dan kelaparan sebelum sempat menyerahkan diri.
Salah satu kisah paling legendaris dari prajurit Jepang yang terisolasi di hutan Morotai adalah kisah Teruo Nakamura (nama asli: Attun Palalin), seorang prajurit etnis Amis Taiwan dari Unit Sukarelawan Takasago Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Terpisah dari pasukannya setelah invasi September 1944, Nakamura berhasil bertahan hidup sendirian di hutan belantara Morotai selama 30 tahun (sebagian dibantu secara rahasia oleh warga lokal bernama Baicoli dan putranya) hingga akhirnya ditemukan dan menyerah secara damai kepada personel TNI Angkatan Udara Indonesia pada 18 Desember 1974—menjadikannya serdadu Kekaisaran Jepang terakhir (the last Japanese holdout) yang menyerahkan diri pasca-Perang Dunia II.
Secara keseluruhan, keberhasilan menguasai Morotai membuktikan efektivitas doktrin leapfrogging dan berhasil membuat sekitar 30.000 hingga 40.000 tentara Jepang di Halmahera terisolasi penuh hingga akhir perang tanpa pasokan logistik dan tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu pertahanan Jepang di Filipina. Di samping itu, Morotai juga menjadi lokasi penting pada masa penutupan Perang Dunia II, di mana pulau ini menjadi tempat berlangsungnya sejumlah upacara penyerahan diri menyusul menyerahnya Jepang; salah satunya terjadi pada 9 September 1945 ketika Jenderal Australia Thomas Blamey secara resmi menerima penyerahan diri Angkatan Darat Kedua Jepang dalam sebuah upacara yang diadakan di lapangan olahraga Korps I di Morotai. Di pihak Sekutu sendiri, Morotai juga mencatat peristiwa politik-militer menarik pada bulan April 1945 yang dikenal sebagai Morotai Mutiny (Pemberontakan Morotai), di mana delapan perwira senior dan pilot tempur Skuadron 1 RAAF mengajukan pengunduran diri sebagai bentuk protes atas perintah operasi serangan udara yang dinilai tidak memiliki nilai strategis nyata terhadap perang.
Besarnya pengerahan militer dan skala pertempuran yang terjadi menjadikan Pulau Morotai seperti museum terbuka Perang Pasifik hingga saat ini. Ribuan artefak sejarah bekas Perang Dunia II dari pihak Sekutu maupun Jepang—mulai dari selongsong amunisi, helm militer, koin, piring tentara, hingga sisa-sisa peninggalan sisa perbekalan dan peralatan perang—masih banyak tertanam dan sering ditemukan oleh warga setempat di area hutan pedalaman, daratan, serta di dasar laut perairan Morotai. Banyak situs bangkai perang (wrecks) peninggalan pertempuran masih tersisa hingga kini, seperti sisa-sisa bangkai pesawat pembom B-24 Liberator, B-25 Mitchell, pesawat tempur P-38 Lightning, P-47 Thunderbolt, instrumen radar, serta kendaraan militer peninggalan tentara AS dan Jepang di pedalaman. Sementara itu, di perairan Selat Morotai dan pesisir pantai pulau, tersisa situs bangkai kapal pendarat (LST, LCI), perahu torpedo PT, serta puluhan bangkai tongkang kayu/besi Jepang (Japanese barges) yang ditenggelamkan oleh patroli Sekutu saat berusaha menyelundupkan bala bantuan dari Halmahera.
Diterjemahkan, disunting dan ditambahkan Kembali dari:
https://historynet.com/world-war-ii-capture-of-morotai
https://www.historyofwar.org/articles/battles_morotai.html
https://www.ibiblio.org/hyperwar/AAF/USSBS/PTO-Campaigns/USSBS-PTO-8.html
https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Morotai
https://www.history.navy.mil/research/histories/ship-histories/danfs/l/lst-695.html
https://www.pulaumorotaikab.go.id/page/sejarah
https://ww2db.com/battle_spec.php?battle_id=203
https://www.nationalww2museum.org/war/articles/liberation-morotai-bloodless-peleliu
https://www.britannica.com/place/Morotai-island-Indonesia
https://collectionswa.net.au/items/c14691ef-9741-4901-aea8-f8a729b49cc4
https://codenames.info/operation/battle-of-morotai
https://qualla.com/battle-of-morotai/#list/wb75/battle-of-morotai-wp
https://pacificwrecks.com/location/irian_morotai.html
http://johnshaplin.blogspot.com/2016/10/the-invasion-of-morotai-by-james-p-duffy_5.html
https://www.ibiblio.org/hyperwar/USA/USA-P-Approach/USA-P-Approach-20.html
https://www.ibiblio.org/hyperwar/USA/USA-P-Approach/USA-P-Approach-19.html
https://thestoly.com/2021/07/last-japanese-soldier-to-surrender-the-story-of-teruo-nakamura
