Kapal penjelajah kelas Sverdlov (Kode Soviet: Project 68bis), adalah kapal penjelajah konvensional bermeriam terakhir yang dibuat untuk Angkatan Laut Soviet. Kapal kelas ini dibangun pada tahun 1950-an dan didasarkan pada desain serta konsep dari Soviet, Jerman, dan Italia yang dikembangkan sebelum masa Perang Dunia Kedua. Kapal jenis ini lalu dimodifikasi untuk meningkatkan kemampuan melautnya, yang memungkinkan mereka untuk berlayar dengan kecepatan tinggi di perairan Atlantik Utara yang keras. Lambung dasar dari kapal ini lebih modern dan memiliki perlindungan lapisan baja yang lebih baik daripada sebagian besar desain kapal penjelajah bermeriam pasca Perang Dunia II yang dibangun dan digunakan oleh negara-negara lainnya. Kelas Sverdlov juga membawa peralatan radar modern dan sistem senjata artileri anti-pesawat yang lengkap. Soviet awalnya berencana untuk membangun 40 kapal di kelas ini, yang akan didukung oleh kapal jenis battlecruiser dan kapal induk kelas Stalingrad. Sementara itu, meskipun kelas Sverdlov akan menjadi lawan tangguh di lautan pada tahun 1938, namun jika dibandingkan dengan kapal penjelajah NATO di era Reagan di tahun 1980an, kapal ini jelas sudah sangat ketinggalan zaman.
SEKILAS KELAS SVERDLOV
Kelas penjelajah kelas Sverdlov dibuat untuk memuaskan keinginan Stalin, dan para pemimpin di Angkatan Laut Soviet, untuk sebuah kapal yang sesuai dengan doktrin Angkatan Laut yang berfokus pada tiga prioritas, yakni: mendukung pertahanan garis pantai Soviet, beroperasi di luar pangkalan angkatan laut di seluruh dunia, dan melindungi kepentingan Soviet di Arktik, Baltik, Mediterania, dan Laut Hitam. Misi sekunder yang direncanakan untuk kapal kelas ini adalah menyerang kapal-kapal dagang (saat perang) dan, dan menunjukkan kehadiran politik Soviet di dunia ketiga. Hingga saat itu Armada Laut Tentara Merah diketahui hanya memiliki armada kapal selam dan kapal kecil. Mereka kekurangan kapal-kapal perang besar. Tetapi kapal yang diinginkan Stalin dengan cepat segera dianggap usang, di zaman rudal di mana sumber daya pertahanan dan kemampuan anti kapal selam menjadi prioritas dari Perdana Menteri Soviet Khrushchev yang menggantikan Stalin dan staf Pertahanan Soviet. Alhasil, mereka hanya dengan enggan membiarkan beberapa kapal penjelajah untuk menjalankan peran terbatas sebagai kapal flagship (pemimpin) dalam operasi angkatan laut strategis dan taktis. Sementara itu gagasan penggelaran armada kapal-kapal tempur klasik dari penguasa Kremlin, yang mungkin memiliki pemikiran yang sama dengan Hitler dalam memunculkan kemegahan kekuatan laut tradisional, tidak lagi menjadi prioritas saat itu. Sebaliknya, Khrushchev yang mendapat nasihat baik dari kepala laksamana Soviet yang baru, memiliki rencana yang kurang ambisius, tetapi lebih praktis dan realistis, lewat pendekatan pragmatis untuk mendapatkan solusi inovatif guna menghadapi supremasi Angkatan Laut AS, ketimbang mencoba menandingi kekuatan Amerika dengan jumlah yang sama. Hal ini kemudian menjadi langkah awal kebijakan baru yang bertahan hingga tahun 1980-an. Khrushchev telah mengambil kebijakan radikal pada Angkatan Darat dan Angkatan Laut, dengan keyakinan – meskipun keliru – bahwa rudal dapat melakukan segalanya. Di darat perkembangan pembuatan artileri hampir terhenti, dengan hanya ditugaskan pada peran pendukung. Di laut dimulailah pengurangan armada laut dalam skala penuh, karena elemen ini dipandang sebagai komponen paling mahal dalam sistem produksi senjata. Di tengah era rudal, pembangunan sejumlah kapal perang dianggap tidak praktis bagi Khrushchev. Sementara itu di Angkatan Laut Soviet, para Laksamana terkemuka masih percaya, pada tahun 1959, bahwa memiliki lebih banyak kapal penjelajah besar akan berguna dalam jenis operasi yang direncanakan di Kuba dan untuk mendukung Indonesia. Kapal kelas Sverdlov juga merupakan ancaman bagi Angkatan Laut Inggris dan Belanda, yang tidak memiliki kapal induk berkemampuan 24 jam siang/malam sebelum munculnya sistem pengawasan berbasis satelit. Sverdlov dianggap sebagai ancaman nyata bagi kapal-kapal perang besar Royal Navy (Angkatan Laut Inggris), dimana keberadaannya menjadi pendorong pembangunan armada konvensional dan kapal-kapal induk, terutama untuk yang beroperasi di Atlantik Utara.
Sebagai tanggapan nyata atas ancaman kelas Sverdlov Inggris kemudian memperkenalkan Blackburn Buccaneer, sebuah pesawat serang berbasis kapal induk yang memiliki kinerja yang diperlukan untuk mendekati dan menyerang kapal-kapal kelas Sverdlov dari ketinggian yang sangat rendah, menggunakan serangan bom lempar (toss bombing) untuk mengirimkan senjata berhulu ledak nuklir, di luar jangkauan mematikan sejauh 5 km dari meriam Soviet kaliber 100 mm dan 37 mm. Ketika program pembangunannya dihentikan dan program battlecruiser serta kapal induk turut dibatalkan, kapal kelas Sverdlov dibiarkan tanpa perlindungan saat beroperasi di area di luar jangkauan perlindungan dari pesawat-pesawat darat. Misi sekunder mereka, yang beroperasi sendiri sebagai kapal bajak, juga menjadi semakin berbahaya karena mereka akan sangat rentan, dalam cuaca baik, terhadap Gugus Tempur Kapal-kapal Induk AL Amerika yang dilengkapi dengan pesawat-pesawat serang modern dan dari kapal penjelajah kelas Baltimore dan Des Moines yang masih tersisa yang dilengkapi dengan meriam-meriam kaliber 8 inci (203 mm). (Kapal penjelajah bersenjata meriam terakhir, dari kelas Crown Colony dan kelas Tiger milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, dan kapal perusak kelas Gearing dan Forrest Sherman AL Amerika, tidak memiliki lapisan baja, jangkauan dan kecepatan yang dibutuhkan untuk bisa melawan Sverdlov.) Pada tahun 1954 konstruksi lanjutan dari kapal kelas Sverdlov dibatalkan oleh Khrushchev setelah 14 kapal selesai dibuat. Dua lambung tambahan lalu dibesituakan dan empat kapal setengah jadi dari kelas Sverdlov yang diluncurkan pada tahun 1954 mengikuti nasib tersebut pada tahun 1959. Kapal-kapal kelas Sverdlov yang tersisa di Armada AL Soviet tetap beroperasi hingga tahun 1970-an, ketika mereka menjalani program modernisasi secara terbatas sebelum akhirnya dipensiunkan pada akhir tahun 1980-an. Satu-satunya kapal kelas ini yang masih tersisa, yakni Mikhail Kutuzov, kini disimpan sebagai museum apung di Novorossiysk.
SEJARAH PENGEMBANGAN
Kemunculan kapal penjelajah kelas “Sverdlov” merupakan kelanjutan cita-cita pembentukan “Armada Besar” Soviet dan suatu kondisi yang realistis pada awal 1937, dimana Angkatan Laut Tentara Merah Soviet telah menetapkan pengembangan kekuatan laut lintas samudra. Menurut rencana saat itu, selain membangun kapal battleship Tipe 23 kelas “Sovetsky Soyuz“, Uni Soviet juga akan membangun kapal battlecruiser Tipe 69 kelas “Kronshtadt” dan kapal penjelajah ringan kelas Tipe 68 “Chapayev“. Kemudian di bagian akhir Perang Dunia Kedua, setelah bertahun-tahun mengalami atrisi, Angkatan Laut Merah Soviet menghadapi beberapa kapal penjelajah berat yang tersisa dari Angkatan Laut Jerman dengan tanpa memiliki kapal perang kelas menengah dan besar untuk dapat menandinginya. Akibatnya mereka hanya bisa diam dan menonton saja kapal-kapal penjelajah angkatan laut Jerman memberikan dukungan tembakan artileri yang kuat bagi tentara Jerman yang bergerak mundur. Setelah berakhirnya Perang Dunia Kedua, dengan hilangnya musuh bersama Jerman, hubungan antara Uni Soviet dan sekutu Barat menjadi semakin tegang. Untuk menghindari menghadapi situasi ala invasi “Normandia” yakni jenis pendaratan amfibi skala besar, Uni Soviet membutuhkan armada laut yang kuat untuk memblokir musuh potensial mereka. Melalui pengalaman Perang Pasifik, Angkatan Laut Tentara Merah Soviet percaya bahwa kapal tipe penjelajah berkinerja baik dalam memberi pertahanan anti-kapal dan udara, dan dapat memberikan perlindungan yang memadai untuk kapal-kapal induk. Setelah perang, rencana pembangunan “armada besar” akan memberi tempat bagi kehadiran kapal-kapal jenis penjelajah.
Pada akhir Perang Dunia Kedua, Joseph Stalin merencanakan program modernisasi besar dan perluasan kemampuan Angkatan Laut Soviet, untuk mengubahnya menjadi angkatan laut kelas dunia yang dapat menandingi AL Amerika (US Navy). Untuk ini, sejumlah besar kapal penjelajah diperlukan, dengan peran termasuk mengawal kapal yang lebih berat dan memimpin armada kapal-kapal perusak. Kelas kapal besar yang diinginkan Stalin ini adalah untuk menjawab kehadiran armada kapal penjelajah Amerika dari kelas Cleveland dan Baltimore. Peran utama kapal perang ini adalah untuk melindungi garis pantai wilayah Soviet yang luas dengan area operasinya mulai dari Atlantik Utara yang tak kenal ampun hingga lingkungan perairan Mediterania yang lebih tenang. Kapal penjelajah ini dapat menyediakan peran anti-kapal, pertahanan udara, pengawalan konvoi, atau kemampuan menyerang. Selain itu, ada manfaat tambahan mengingat kemampuan militer negara-negara Eropa Barat yang tidak memiliki kapabilitas pencarian dan pelacakan mumpuni, sehingga hal ini akan memaksa mereka untuk berinvestasi besar-besaran, guna melawan armada permukaan dan bawah laut Soviet yang mengintimidasi mereka. Pada bulan Januari 1945 Komisi khusus dibentuk oleh Soviet. Mereka diberi tugas untuk merangkum dan menganalisis pengalaman perang di laut, dan mengeluarkan rekomendasi tentang jenis dan karakteristik kinerja kapal perang yang dianggap menjanjikan untuk Angkatan Laut Soviet.
Berdasarkan studi yang dilakukan komisi itu pada musim panas tahun 1945, proposal pihak Angkatan Laut untuk pembuatan kapal perang periode 1946-1955 dibuat. Menurut rencana yang disajikan, selama sepuluh tahun direncanakan untuk membangun 4 kapal tempur, 6 kapal induk besar dan kecil, 10 kapal penjelajah berat dengan meriam kaliber 220 mm, 30 kapal penjelajah dengan meriam kaliber 180 mm dan 54 kapal penjelajah dengan meriam kaliber 152 mm serta sejumlah kapal selam. Kapal tipe terakhir ini kemudian terwujud menjadi kapal project 68K. Perancang pertama proyek 68K (kemudian berkembang menjai 68bis) pertama-tama adalah A.S. Savichev, dan sejak tahun 1947 N.A. Kiselev. Untuk mempercepat proses produksi kapal ini, kemudian diputuskan untuk membangun versi perbaikan dari kapal penjelajah kelas Chapayev (atau dikenal sebagai Project 68) yang sudah ada sebelum Perang Dunia ke-II, alih-alih mengerjakan desain yang sama sekali baru (dikenal sebagai Project 65). Desain untuk kelas Sverdlov secara resmi disetujui pada tanggal 27 Mei 1947. Beberapa sumber menyatakan bahwa 30 kapal kelas Sverdlov pada awalnya direncanakan untuk dibuat, yang kemudian dikurangi lima demi pembuatan tiga battlecruiser kelas Stalingrad, tetapi sumber yang lain menyatakan bahwa total ada 30 kapal akan dibuat termasuk lima dari kelas Chapayev. Tiga kapal pertama dari kelas tersebut dinamai menurut kapal-kapal kelas Chapayev yang batal dibuat. Setelah kematian Stalin pada tahun 1953, pesanan kapal kelas ini dikurang menjadi 21 kapal saja. Setelah lima belas lambung pertama dikerjakan, Angkatan Laut Soviet memutuskan bahwa enam kapal yang tersisa diselesaikan dengan desain yang telah dimodifikasi (dikenal sebagai Proyek 68zif) dengan penambahan perlindungan terhadap dampak nuklir, tetapi tidak ada dari kapal versi ini yang selesai dibuat.
Rencana kemudian dikembangkan dan gambar dibuat untuk meningkatkan kapabilitas kapal ini guna mendukung kemampuan menembakkan rudal jelajah; namun, rencana ini dibatalkan dan konstruksi kapal baru dibatalkan pada tahun 1959; kapal-kapal yang belum jadi, kecuali Admiral Kornilov (yang sudah diapungkan) dibesituakan pada tahun 1961. Sementara itu, pengurangan jumlah kekuatan kapal-kapal penjelajah bertentangan dengan pandangan para komandan Angkatan Laut Soviet, yang bersikeras bahwa kapal penjelajah masih bisa memberikan kemampuan yang berharga untuk bertindak sebagai kapal komando untuk dukungan tembakan angkatan laut dalam operasi amfibi. Mereka juga berpikir bahwa mereka akan dapat menampilkan kehadiran politik Soviet di wilayah yang diperebutkan di dunia ketiga, misalnya di Kuba dan Indonesia. Seandainya lebih banyak kapal kelas Sverdlov tersedia pada saat Krisis Rudal Kuba pada tahun 1962, mereka pasti akan turut dikerahkan. Angkatan Laut Soviet bermaksud untuk menempatkan beberapa kapal penjelajah kelas Chapayev yang lebih tua di pelabuhan-pelabuhan Kuba, jika operasi itu berhasil. Sementara itu dengan berjalannya waktu, kapal-kapal kelas Sverdlov segera menjadi ketinggalan jaman sebagai kapal perang permukaan, karena kurangnya kemampuan menembakkan rudal jelajah anti-kapal. Modernisasi terbatas dari kapal-kapal kelas Sverdlov yang masih beroperasi pada tahun 1970-an lalu menurunkan peran mereka untuk bertugas sebagai platform dukungan tembakan angkatan laut. Praktik standar Soviet saat itu adalah menempatkan kapal penjelajah ini masuk dan keluar dari status cadangan. Sebagian besar kapal kelas Sverdlov diturunkan ke status cadangan pada awal tahun 1980-an dan benar benar dipensiunkan pada akhir dekade itu. Kapal kelas Sverdlov terdiri dari Sverdlov, Zhdanov, Admiral Ushakov, Admiral Senyavin, Alexandr Suvorov, Dmitri Pozharski, Ordzhonikidze, Alexandr Nevsky, Admiral Lazarev, Dzerzhinsky, Admiral Nakhimov, Mikhail Kutuzov, Oktyabrskaya Revolutsiya, dan Murmansk. Mereka dibagi rata di antara empat armada AL Soviet. Orzhonikidze kemudian dijual kepada Indonesia pada tahun 1962 sebagai KRI Irian. Namun, karena kualitas perawatan dari angkatan laut Indonesia yang buruk, kapal tersebut kehilangan kemampuan tempurnya pada tahun 1963. Meskipun kemudian Uni Soviet bersedia memperbaiki kapal Angkatan Laut Indonesia ini secara gratis, namun KRI Irian dengan cepat kehilangan efektivitas tempurnya. KRI Irian lalu dijual untuk dibesituakan ke Taiwan pada tahun 1972. Nakhimov dipensiunkan pada tahun 1961, yang lain pada tahun 1987-89. Masih ada tiga kapal penjelajah kelas ini yang beroperasi pada tahun 1990, yakni: Suvorov, Senyavin, dan Murmansk. Mereka pensiun pada tahun 1990-92, karena ketiadaan anggaran dan dianggap tidak ada gunanya untuk tetap mempertahankan mereka.
DESAIN
Kapal penjelajah kelas Sverdlov adalah versi perbaikan dari versi kelas Chapayev dan sedikit diperbesar. Kapal kelas ini memiliki persenjataan utama, mesin dan perlindungan samping yang sama dengan kapal-kapal sebelumnya, tetapi telah ditingkatkan kapasitas bahan bakarnya agar memiliki jangkauan yang lebih besar, sistem perlindungan bawah air yang ditingkatkan, serta memiliki jumlah senjata anti-pesawat yang lebih banyak dan dan radar yang kemampuannya ditingkatkan. Konstruksi kelas Sverdlov dikerjakan dengan teknik baru, dengan membuat (untuk pertama kalinya dalam pembuatan kapal Soviet) lambung yang dilas semuanya (bukan dengan dipaku), yang memungkinkan untuk mengurangi masa konstruksi lebih cepat dua kali lipat, yakni dalam waktu dua setengah tahun. Untuk pertama kalinya, insinyur Soviet menggunakan teknologi pengelasan pada lambung kapal dan pengelasan satuan badan kapal yang berbobot masing-masing 100–150 ton. Kelas Sverdlov memiliki bobot standar 13.600 ton dan 16.640 ton dengan beban penuh. Panjangnya secara keseluruhan 210 m (690 kaki) di dalam air dan panjang 205 m (673 kaki) di permukaan air, memiliki lebar 22 m (72 kaki) dan draft 6,9 m (23 kaki) serta biasanya memiliki awak 1.250 orang. Lambung Sverdlov kapal memiliki dasar ganda sepanjang lebih dari 75% dari panjang totalnya. Kapal itu juga memiliki 23 sekat kedap air. Keluarga kapal kelas Sverdlov memiliki enam ketel yang menyediakan uap untuk menggerakkan dua poros dengan mesin turbin uap yang menghasilkan kekuatan 118.100 tenaga kuda (88.100 kW). Mesin ini memberikan kapal kecepatan maksimum sebesar 32,5 knot (60,2 km/jam; 37,4 mph). Kapal penjelajah kelas Sverdlov memiliki jangkauan berlayar 9.000 mil laut (17.000 km; 10.000 mil) pada kecepatan rata-rata 18 knot (33 km/jam; 21 mph). Jika berlayar dengan kecepatan 16 knot (29 km/jam), jarak tempuh maksimumnya bisa mencapai 9.000 mil laut (16.668 km), dan bila ditingkatkan menjadi 32 knot (59 km/jam) jangkauannya berkurang menjadi 2.700 mil laut (5.000 km).
Dalam perancangannya kelas Sverdlov secara eksplisit meniru desain Italia, dan tampaknya mereka sangat mirip dengan kapal penjelajah berat Bolzano. Dengan mengurangi kaliber meriam utamanya, hal ini kemudian mampu meningkatkan kelaikan laut, kelayak huniannya, meningkatkan jangkauan jelajah, dan ruang perbekalannya, serta memiliki potensi besar untuk dimodernisasi. Persenjataan utama kapal penjelajah kelas Sverdlov termasuk dua belas meriam B-38 kaliber 152 mm (6 in.)/57 yang dipasang di empat turret berformat triple tipe Mk5-bis. Mereka juga memiliki dua belas meriam Model 1934 100 mm (4 in.)/56 cal dalam enam dudukan kembar tipe SM-5-1. Untuk persenjataan anti-pesawat, kapal penjelajah kelas Sverdlov memiliki tiga puluh dua senjata anti-pesawat kaliber 37 mm (1,5 in) di enam belas dudukan kembar dan juga dilengkapi dengan sepuluh tabung torpedo kaliber 533 mm (21 in) dalam dua dudukan masing-masing lima tabung. Kapal penjelajah ini menggunakan radar dan sistem pengendalian tembakan baru, ditambah dengan dudukan meriam kaliber 100 mm baru (dilengkapi perangkat penstabil penembakan SPN-500) untuk baterai sekunder mereka. Turret meriam utama 152 mm (6 in.) merupakan versi perbaikan dari kelas Chapayev. Sistem kontrol penembakan torpedo kelas Sverdlov menggunakan pembidik optik dan radar khusus (Zarya). Di atas dek, kelas Sverdlov dapat membawa 100 ranjau ranjau diatas kapal. Untuk melindungi bagian-bagian vital dari kapal saat dalam pertempuran, pendekatan perancangan tradisional digunakan: bangunan utama, menara dan menara pengawas dibuat antipeluru – terutama pada ruang tempur di dek atas dan bangunan atas.
Pada kapal ini digunakan lapisan baja homogen. Kelas Sverdlov memiliki sabuk pelindung utama dengan ketebalan 100mm (memiliki ketinggian 3,3m) yang terlindung di antara ujung barbette dan ditutup oleh sekat bagian depan setebal 120mm dan bagian belakang setebal 100mm. Terdapat juga sabuk tipis setebal 20mm antara bangunan utama dan ujung kapal. Dek utama setebal 50mm terhubung dengan tepi atas sabuk utama. Kompartemen roda kemudi memiliki sisi setebal 100mm dan bagian atapnya 20mm. Bagian turret utama memiliki ketebalan baja 175mm di bagian depan, 65mm di bagian sisi, sementara bagian belakang 60mm, dan atapnya 75mm. Barbette dilindungi oleh lapisan baja setebal 130mm. Turret sekunder memiliki ketebalan di bagian depan, samping dan belakang sebesar 20 mm, atap 10 mm, dan barbette 20 mm. Radar utama yang dipakai kapal penjelajah ini termasuk satu radar pencarian udara ‘Big Net‘ (jangkauan maksimum 274 km) atau ‘Top Trough‘ (jangkauan maksimum 262 km) satu radar pencarian udara ‘High Sieve‘ (jangkauan maksimum 37 km) atau ‘Low Sieve‘, satu radar pencarian udara ‘Knife Rest‘ (jangkauan maksimum 140 km) dan satu radar pencarian udara ‘Slim Net‘ (jangkauan maksimum 105 km) Untuk radar navigasi mereka memiliki satu tipe radar ‘Don-2‘ (jangkauan maksimum 64 km) atau ‘Neptunus’. Untuk tujuan pengendalian tembakan, kapal ini dilengkapi dengan dua radar ‘Sun Visor‘, dua radar ‘Top Bow‘ untuk meriam kaliber 152 mm dan delapan radar meriam ‘Egg Cup’. Untuk perangkat penanggulangan ancaman perang elektronik, kapal ini dilengkapi dengan dua sistem ECM tipe ‘Watch Dog‘. Kapal-kapal kelas Sverdlov juga dilengkapi dengan peralatan navigasi dan radio, komunikasi yang modern pada masa itu. Fitur penting dari kapal penjelajah ini adalah keberadaan stasiun radar khusus di samping perangkat optik untuk mengarahkan senjata pada target yang dituju.
MODIFIKASI
Pada awal tahun 1960-an, tabung torpedo dilepaskan dari semua kapal di kelas Sverdlov. Pada tahun 1957 kapal Admiral Nakhimov dipasangi peluncur rudal anti-kapal KSShch (kode NATO: SS-N-1 “Scrubber“) untuk menggantikan turret “A” dan “B”. Modifikasi itu disebut Proyek 68ER. Instalasi percobaan ini tidak berhasil dan kapal ini dengan cepat dinonaktifkan dan digunakan sebagai kapal target pada tahun 1961. Sementara itu kapal Dzerzhinsky memiliki peluncur rudal SAM (anti pesawat) untuk rudal M-2 Volkhov-M (SA-N-2 “Guideline“), yang menggantikan turret meriam utama ketiga atau “X” pada tahun 1960–62, dengan nama Proyek 70E. Konversi ini juga dianggap tidak berhasil dan tidak ada lagi kapal lain dari kelas Sverdlov yang dikonversi. Karena seluruh instalasi rudal berada di atas dek lapis baja dan rudal itu sendiri, berdasarkan rudal S-75 Dvina (SA-2 “Guideline“), berbahan bakar cair (asam/minyak tanah), hal itu akan menimbulkan potensi bahaya serius bagi kapal saat bertempur. Kapal Zhdanov dan Senyavin kemudian diubah menjadi kapal komando pada tahun 1971 dengan mengganti menara “X” dengan ruang akomodasi ekstra dan perangkat elektronik, empat meriam kembar AK-230 kaliber 30 mm, dan Sistem Rudal Permukaan-ke-Udara (SAM) 4K33 “Osa-M” (SA-N-4 “Gecko“). Kapal Senyavin juga melepas turret “Y” untuk memberi ruang bagi dek helikopter dan hanggar, serta empat dudukan meriam AK-230 tambahan dipasang di atas sistem rudal Osa-M. Kapal Zhdanov dan Senyavin masing-masing diberi kode sebagai Proyek 68U1 dan Proyek 68U2.
Kapal Oktyabrskaya Revolyutsia (Revolusi Oktober) dipasangi kembali dengan bridge yang diperbesar pada tahun 1977, dengan kapal Laksamana Ushakov dan Aleksandr Suvorov menerima modifikasi yang sama pada tahun 1979, dan kemudian diikuti Mikhail Kutusov. Kapal-kapal Sverdlov kemudian melepas empat dari dudukan meriam kembar 37 mm miliknya, dan delapan dudukan merian AK-230 kaliber 30 mm ditambahkan. Kapal-kapal ini lalu diberi nama sebagai Proyek 68A. Kapal penjelajah Project 68bis, sempat akan dimodifikasi menjadi kapal induk ringan, yang rancangannya telah dirancang dan penampilannya sudah diperkirakan. Tentu saja, kapal ini bukan kapal seperti Project 85 yang dirancang untuk memberikan pertahanan udara bagi kapal-kapal perang permukaan di laut dan dalam pertempuran. Pihak Angkatan Laut Russia mencoba mengembangkan rancangan kapal penjelajah Project 68bis untuk diubah menjadi kapal pengangkut helikopter yang bisa membawa 14 helikopter Ka-25 Hormone di atas kapal untuk menyediakan zona pertahanan jarak jauh. Angkatan Laut Soviet membatasi diri pada modifikasi satu kapal untuk percobaan dan menyempurnakan konsep, serta diharapkan dapat memasuki operasional pada tahun 1960-1962. Dalam masa ini selama 5-7 tahun Proyek 1123 (kapal induk helikopter), diperkirakan belum akan selesai. Masalahnya setelah menjalani proses desain ternyata 14 helikopter yang direncanakan dianggap tidak bisa melaksanakan patroli 24 jam di zona pencarian, seperti pada proyek 1123. Proyek 1123.3 (kelas Moskva) yang kemudian dipilih memiliki dimensi yang diperbesar dan bisa membawa lebih banyak helikopter.
DETAIL PERSENJATAAN
Meriam B-38 Pattern 1938 kaliber 152 mm
Panjang laras meriam utama dari tipe B-38 kaliber 152 mm dari kelas Sverdlov adalah 57 kali diameternya, dan dapat mengirimkan peluru ke jarak hingga 30 kilometer dengan laju penembakan maksimum 7,5 peluru per menit. Pada mode pertahanan udara, meriam angkatan laut jenis ini juga memiliki ketinggian tembak maksimum 8.900 meter, yang dapat menyerang pembom horizontal yang rata-rata digunakan saat itu. Meriam ini bisa melontarkan peluru penembus baja (Armor Piercing/AP) seberat 121 pon (55 kg) secara teoritis hingga jarak 34.080 yard (30.215 m) elevasi 48 derajat setiap sembilan detik atau lebih. Bila menggunakan elevasi 45 derajat, jarak tembaknya menjadi 23,4 Km. Hal ini berarti baterai 12 meriam nya dapat menembakkan 78 peluru dalam waktu singkat. Jenis proyektil yang ditembakkan bisa beragam, mulai dari HE (high explosive), distance granade, AP, dan semi-AP mod. Dengan meriam ini, daya tembak kelas Sverdlov kira-kira setara dengan kapal penjelajah ringan kelas Cleveland milik Angkatan Laut AS (bobot 14.500 ton, dengan meriam 4 × format triple kaliber 6″/47/152 mm) dari masa Perang Dunia II. Amerika diketahui telah menggelar 27 kapal kelas Clevelandpada akhir tahun 1945 (dari jumlah ini menjadi jelas mengapa Stalin menginginkan pembuatan 30 kapal kelas Sverdlov). Faktanya kapal kelas Sverdlov sebenarnya tidak dapat melakukan tembakan secara efektif menggunakan meriam kaliber 152 mm karena kurangnya sistem kontrol penembakan yang diperlukan. Dari sisi persenjataan kapal penjelajah kelas Cleveland dari Amerika yang menjadi salah satu pendorong pembuatan kelas Sverdlov memiliki keunggulan daya tembak (meriam kaliber 152 mm lebih cepat menembak, sementara jumlah senjata universal kaliber 127 mm lebih banyak yakni 8, dibanding 6 meriam kaliber 100 mm di Sverdlov). Meski demikian Sverdlov memiliki proteksi yang lebih baik.
Meriam SM-5-1 kaliber 100 mm
Sebagai senjata pertahanan udara khusus, selain 12 meriam utama kaliber 152mm yang dapat tugas-tugas pertahanan udara, kelas Sverdlov dilengkapi dengan 3 dudukan meriam SM-5-1 kaliber 100mm berformat ganda di setiap sisinya. Meriam anti pesawat untuk ketinggian tinggi ini memiliki fungsi ganda, dengan memiliki kaliber 56, jangkauan maksimumnya 24,2 kilometer, dan ketinggian tembak maksimumnya 7000 meter, dengan kecepatan penembakan terbatas 18 peluru per menit. Meriam ini dapat digunakan bersama dengan meriam kaliber 152 mm untuk melakukan misi pertahanan udara jarak menengah dan jarak jauh. Meriam SM-5-1bis memiliki perangkat penstabil, yang meningkatkan kemampuan penembakan, namun meningkatkan bobot senjata secara keseluruhan. Setiap baterai (tiga instalasi terletak di satu sisi kapal) memiliki sistem ZENIT-68bis-A sendiri, sebagai bagian dari unit kontrol penembakan terpusat TsAS-U, yang terdiri dari pemancar koordinat, sejumlah instrumen optik, stasiun pickup SPN-500 dan radar pengintai ” Stayat B ”. Perangkat kontrol penembakan memungkinkan untuk mendeteksi dan melacak target pada jarak hingga 24 km, untuk menembak target laut, udara, dan pesisir (termasuk yang tak terlihat). Sistem PUS Zenit-68bis-A menyediakan panduan terpusat dan penembakan otonom dari masing-masing meriam 100-mm nya. Jika terjadi kegagalan sistem maka terdapat perangkat cadangan yang bisa digunakan.
Meriam kaliber 37 mm
Kapal penjelajah kelas Sverdlov mampu mengerahkan kemampuan pertahanan udara jarak pendek dengan daya tembak yang kuat. Sebanyak 16 meriam cepat B-11M kaliber 37mm digelar di kapal. Teknologi meriam tembak cepat ini didapat dari senjata anti-pesawat “Bofors” Swedia. Laju penembakan maksimumnya adalah 180 peluru per menit, dengan ketinggian maksimum 3000 meter, dan jangkauannya 6.700 meter. Meriam ini bertanggung jawab atas tugas pertahanan udara lini terakhir di kapal ini. Meriam anti-pesawat kaliber 37 mm tidak memiliki perangkat pengendalian tembakan, dan ditembakkan dengan menggunakan bidikan optik. Agak kuno memang, tetapi jumlah senjata yang digelar dapat memberikan tembakan yang sangat padat pada jarak dekat.
Torpedo
Torpedo pada kelas Sverdlov ditempatkan di kedua sisi belakang anjungan, dengan peluncur torpedo berat berformat lima kaliber 533 mm ada di setiap sisi, yang dapat meluncurkan torpedo anti kapal berat tipe PTA-53. Jarak jangkau dari Torpedo tipe ini bervariasi, tergantung versinya, misal Tipe 53-65 memiliki jangkauan antara 18-22 km, dengan kecepatan maksimalnya antara 44-45 knot. Namun, karena Angkatan Laut Tentara Merah Soviet kemudian menemukan bahwa efek torpedo dalam pertempuran antar armada yang menentukan terbatas, semua peluncur torpedo kemudian dilepas.
SEJARAH PENGOPERASIAN
Kapal penjelajah pertama dari project 68bis, yang dinamai “Sverdlov“, mulai dibangun di galangan kapal Baltik pada tanggal 15 Oktober 1949, diluncurkan pada tanggal 5 Juli 1950 dan mulai beroperasi pada 15 Mei 1952 (hanya 6 unit yang dibangun di pabrik ini). Antara tanggal 11 – 18 Juni 1953 Sverdlovmengambil bagian dalam parade angkatan laut internasional di Portsmouth saat penobatan Ratu Inggris Elizabeth II, di mana krunya menunjukkan keahlian maritim yang sangat baik. Semua anggota kru kemudian dianugerahi lencana peringatan khusus, yang menggambarkan siluet kapal penjelajah Sverdlov. Pada tanggal 12 — 17 Oktober 1955 Sverdlov melakukan kunjungan kembali ke Portsmouth. Kemudian antara tanggal 20 – 25 Juli 1956 Sverdlov berkunjung ke Rotterdam (Belanda), dan setelah pengaktifannya kembali tanggal 5 – 9 Oktober 1973, Sverdlov berlayar ke Gdynia (Polandia). Pada tanggal 17 – 22 April 1974, sebuah detasemen kapal Soviet (yang terdiri dari penjelajah “Sverdlov“, kapal perusak Nakhodchivy dan kapal selam) di bawah komando Laksamana Muda V.I. Akimov melakukan kunjungan persahabatan resmi ke Aljazair. Lalu antara tanggal 21 — 26 Juni 1974 berkunjung ke Cherbourg (Prancis); 27 Juni – 1 Juli 1975 di Gdynia; 5 – 9 Oktober 1976 di Rostock (GDR) dan 21 – 26 Juni 1976 di Bordeaux (Prancis). Secara total, selama dinas operasionalnya, Sverdlovtelah berlayar sejauh 206.570 mil dalam waktu 13.140 jam. Sementara itu proses pembuatan kapal penjelajah kelas ini juga dikerahkan di Galangan Kapal Admiralty (3 unit), Sevmash (2 unit) dan Galangan Kapal Laut Hitam (3 unit). Pada tahun 1955 dari 30 unit yang direncanakan, hanya 14 kapal penjelajah dari proyek ini yang dibuat. Setelah penonaktifan beberapa kapal perang lama, kelas Sverdlov menjadi kapal terbesar di Angkatan Laut Soviet. Kebijakan Khrushchev dan rekan-rekan dekatnya lalu akan sangat mempengaruhi nasib kapal-kapal ini. Jadi, kapal yang hampir selesai sepenuhnya kemudian dibesituakan. Selain dua yang terakhir, kesiapan peluncuran kapal-kapal yang dibatalkan ini berkisar antara 68 hingga 84%, dan Kronstadt bahkan telah melalui proses uji. Sementara itu kapal-kapal penjelajah yang sudah dioperasikan lalu akan mengalami nasib yang berbeda-beda.
“Admiral Nakhimov” yang dijadwalkan untuk dipersenjatai kembali dengan pemasangan sistem rudal pertahanan udara, dikeluarkan dari armada laut Soviet pada tahun 60-an setelah berpartisipasi dalam proses pengujian. “Dzerzhinsky” kemudian di-upgrade dengan satu turret meriam utamanya dilepas dan sebagai gantinya dipasang sistem S-75M Volkhov SAM dengan 10 rudal anti-pesawat. Sistem ini dimaksudkan untuk pertahanan udara kapal terhadap serangan pesawat pengebom dan rudal. Roket tersebut adalah roket dua tahap tipe V-750, yang dimodifikasi untuk dapat digunakan di kapal, yang dikembangkan untuk sistem rudal pertahanan udara S-75 dan telah diuji pada pertengahan tahun 1955. Jangkauan SAM ini adalah hingga jarak 29 km, dengan ketinggian dari 3 hingga 22 km. Untuk mempersenjatai Dzerzhinsky dengan rudal tersebut, suspensi peluncur harus diubah, dan sejumlah bahan konstruksi diganti, dengan mempertimbangkan penggunaannya dalam kondisi di lautan. Karena dimensi rudal yang besar (panjangnya hampir 10,8 m, dan rentang stabilisator adalah 1,8 m), dimensi tempat penyimpanan amunisi kapal yang direkonstruksi tidak mencukupi, sehingga Dzerzhinsky harus membuat superstruktur khusus (di dek bawah) setinggi 3,3 meter, dengan memotong dek bawah dan atas, serta dek bangunan di atasnya. Atap dan dinding ruang penyimpanan di atas dek bawah dilapisi dengan pelindung anti peluru setebal 20 mm. Dari sepuluh rudal yang terletak di ruang amunisi, delapan disimpan di dua drum putar khusus (masing-masing empat rudal), dua rudal lainnya berada di luar drum dan dimaksudkan untuk mengisi ulang. Di ruang tersebut ditempatkan sistem peralatan pendukung dan roket. Ruang mesin yang terletak di bagian bawahnya, dipisahkan oleh “lantai kedap air”. Dalam wujud akhirnya setelah dimodifikasi Dzerzhinsky dipresentasikan untuk menjalani pengujian pada akhir tahun 1958, peluncuran dilakukan pada bulan Oktober, tes pengoperasian pabrik kapal dilakukan pada bulan Oktober, dan desain eksperimental sistem rudal M-2 dimulai pada bulan Desember. Menurut program pengujian ini, peluncuran rudal pertama dilakukan Dzerzhinsky, dilakukan untuk mengenali kinerja peluncur dan pengumpanan rudal dari ruang amunisi, serta keamanan untuk superstruktur kapal dari dampak peluncuran rudal.
Selama tahun 1959, sekitar 20 peluncuran rudal dilakukan, termasuk di sasaran udara. Target nyata pertama untuk sistem rudal M-2 adalah pembom Il-28, yang terbang di ketinggian 10 km dan ditembak jatuh oleh rudal pertama. Namun, dalam proses penggelarannya, kemudian diketahui bahwa tidak mungkin untuk mengimplementasikan semua yang direncanakan oleh para desainer. Jadi, terlepas dari upaya yang dilakukan untuk membuat sistem pengisian bahan bakar otomatis untuk motor roket, dalam versi finalnya diputuskan untuk dilakukan pengisian bahan bakar manual di ruang amunisi roket sebelum dikirimkan ke peluncur. Mengikuti hasil pengujiannya, Komisi Negara membuat kesimpulan berikut: “Sistem peluru kendali anti-pesawat M-2 efektif sebagai senjata pertahanan udara dan dapat direkomendasikan untuk mempersenjatai kapal angkatan laut sebagai senjata dengan akurasi tinggi dalam menembak sasaran udara. ” Pada saat yang sama, komisi menunjukkan perlunya pekerjaan tambahan di kapal. Secara khusus, perlu untuk memastikan perlindungan di kapal penjelajah itu dari semburan ledakan peluncuran rudal, dengan mengembangkan dan memasang sistem pemadam api otomatis di ruang amunisi, untuk membuat dan memasang di kapal sistem mempercepat pengisian bahan bakar rudal. Hasil yang diperoleh selama tes sistem M-2 pada tahun 1959-60 sebagian besar mendekati persyaratan yang ditentukan. Tetapi sejumlah kekurangan senjata ini ditemukan, pertama-tama, fakta bahwa M-2 ternyata terlalu berat dan berukuran besar, bahkan untuk kapal seperti Dzerzhinsky. Faktor lain yang membatasi kemampuan sistem ini adalah rendahnya laju penembakan karena waktu yang cukup lama yang dibutuhkan untuk memuat ulang peluncur, serta sedikitnya rudal yang dibawa. Selain itu, sistem bahan bakar dua tingkat yang digunakan sangat beracun serta meningkatkan bahaya kebakaran dan ledakan. Namun, mengingat sifat eksperimental penciptaan sistem rudal pertahanan udara pertama yang dibawa kapal perang Soviet, kekurangan ini tidak menjadi masalah dan bisa dimaklumi. Sementara itu, nasib kapal “Murmansk” dari kelas Sverdlov cukup tragis. Pada pelayaran terakhirnya, kapal penjelajah itu berlayar ditarik kapal tunda, pada akhir tahun 1994 untuk dibesituakan di India, di mana ia dijual. Namun, dalam pelayaran selama badai, setelah putusnya kabel penarik, kapal itu terdampat di perairan dangkal, di lepas pantai Norwegia, tidak jauh dari pintu masuk ke salah satu fjord. Untuk waktu yang lama kapal raksasa ini, yang sempat menjadi kebanggaan Angkatan Laut Soviet ini, terkatung-katung di pantai Norwegia, di North Cape.
Salah satu kapal dari kelas Sverdlov yang paling terkenal adalah Ordzhonikidze. Kapal ini diambil dari nama Grigol Ordzhonikidze (Орджоникидзе), seorang kelahiran Georgia dan teman Stalin. Ordzhonikidze diketahui memimpin Tentara Merah ke tanah kelahirannya yang memisahkan diri pada tahun 1921 untuk membawa mereka kembali ke pelukan Moskow. Ordzhonikidze meninggal pada tahun 1937 selama Pembersihan Besar (Great Purge) Stalin, dimana ia secara resmi dinyatakan meninggal akibat serangan jantung pada usia 50 tahun. Stalin pada awalnya menamai kapal penjelajah kelas Chapayev yang tidak pernah selesai selama Perang Dunia II menurut nama temannya ini, namun kemudian namanya diberikan pada kapal kelas Sverdlov yang lebih bagus, yang mulai dikerjakan di Plant #194 (Admiralty Shipyard, Leningrad) pada tanggal 19 Oktober 1949. Ordzhonikidze selesai dibuat dan bergabung dengan Armada Baltik pada tanggal 31 Agustus 1952, hanya beberapa bulan sebelum kematian Stalin sendiri. Sebuah kapal baru yang indah dari Armada Baltik, dia kemudian ditugaskan untuk melakukan beberapa kunjungan kenegaraan mengantar tokoh-tokoh politik Soviet—termasuk Khrushchev sendiri di atas kapal—dan berhenti di Helsinki selama empat hari pada tahun 1954 serta pada kunjungan berikutnya ke Kopenhagen. Perhentian internasional berikutnya adalah Pelabuhan Portsmouth Inggris– pertama kalinya para pemimpin Soviet mengunjungi Inggris– di mana ia tiba pada tanggal 18 April 1956 bersama dengan dua kapal perusak sebagai pengawal.
Semuanya berjalan normal seperti kunjungan kenegaraan biasa, namun, tampaknya sekelompok Spetsnaz Angkatan Laut Soviet yang mengenakan pakaian selam, yang melakukan patroli bawah laut di sekitar kapal, juga menemani kapal penjelajah itu. Pada tanggal 19 April, delegasi Soviet melakukan kunjungan makan malam di Royal Maritime College di Greenwich. Selama kunjungan itulah seorang personel manusia katak MI6 Inggris dan legenda penyelam tempur Perang Dunia II Lionel “Buster” Crabb menghilang pada tanggal 19 April saat diduga menyelidiki Ordzhonikidze. Sementara itu, pihak Soviet melaporkan kepada Inggris bahwa mereka telah melihat seorang penyelam berenang di permukaan pada pukul 7.30 pagi itu di antara kapal-kapal mereka. Hal ini kemudian memicu sesuatu insiden internasional yang misterius. Sekitar 14 bulan kemudian, apa yang tersisa dari sesosok tubuh dengan setelan pakaian pasukan katak Angkatan Laut Kerajaan Inggris berwarna hijau, yang tanpa kepala dan tangan, ditemukan mengambang di Pelabuhan Chichester. Pada tahun 2007, seorang mantan penyelam tempur Spetsnaz Angkatan Laut Soviet bernama Eduard Koltsov memberikan wawancara kepada BBC di mana dia menyatakan bahwa dia telah menggorok leher Crabb dalam pertempuran bawah laut dan dengan bangga menunjukkan pisau yang dia klaim dia gunakan serta medali Order of the Red Star yang dianugerahkan padanya atas tindakannya itu. Beberapa dokumen, yang telah banyak diedit, dirilis oleh Arsip Nasional Inggris, namun dokumen-dokumen ini tidak pernah benar-benar memverifikasi apa yang sebenarnya terjadi.
Kembali ke kisah kapal penjelajah Ordzhonikidze sendiri, kapal ini lalu dipindahkan ke Armada Laut Hitam, dan tiba di Sevastopol pada bulan Februari 1961, meskipun waktunya di Angkatan Laut Soviet akan berlangsung singkat. Di belahan dunia lain, Sukarno dari Indonesia menjadi semakin kuat, setelah membubarkan parlemen pada tahun 1960 serta beberapa partai politik berbasis Islam sambil bersandar pada dukungan dari Partai Komunis Indonesia (PKI) — yang membawa negara baru itu dengan mantap berpaling ke Moskow dalam mencari senjata saat melancarkan kebijakan Konfrontasi melawan Belanda atas kepemilikan wilayah Papua Barat (Irian). Pada bulan Februari 1960, Khrushchev mengunjungi Sukarno, dan segera setelah hubungan keduanya semakin menghangat. Kedekatan ini kemudian berubah menjadi pembelian besar-besaran peralatan militer, dimana Indonesia untuk sementara waktu menjadi yang kedua setelah China Komunis dalam hal menerima pengiriman senjata dari Soviet. Persenjataan ini mulai dari 150.000 senapan SKS-45 hingga jet tempur modern. Perkembangan ini juga pada akhirnya turut menjadikan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) menjadi kekuatan kapal selam paling kuat di kawasan Asia-Pasifik dengan memiliki satu skuadron penuh kapal selam kelas kelas Whiskey, dua torpedo retriever, dan satu kapal tender untuk kapal selam. Sebagai perbandingan, tidak ada negara Asia Tenggara lainnya yang memiliki kekuatan kapal selam dengan ukuran seperti itu. Angkatan Laut Australia sebagai pesaing saat itu baru memesan enam selam kelas Oberon buatan Inggris. Oleh karena itu, masuk akal jika satu-satunya kapal permukaan besar yang diekspor oleh militer Soviet era Perang Dingin dikirim ke Indonesia. Memang benar dalam periode ini ratusan kapal patroli, kapal bersenjata rudal, kapal perusak, dan fregat telah dijual ke negara-negara rekanan Soviet selain Indonesia, tetapi jika membicarakan tipe kapal penjelajah, kapal tempur, dan kapal induk sebelum tahun 1989 apakah ada yang dijual ke negara lain? Nyet! (artinya “Tidak” dalam bahasa Russia).
Kapal kelas Sverdlov diketahui dirancang untuk beroperasi di Laut Baltik yang beriklim dingin, namun karena kapal ini dibeli oleh Indonesia dan akan beroperasi di laut tropis, maka perlu dilakukan modifikasi besar-besaran. Pada tanggal 11 Januari 1961 Pemerintah Soviet mulai mengeluarkan instruksi kepada Central Design Bureau untuk memodifikasi Ordzhonikidze supaya ideal beroperasi di daerah tropis. Modernisasi skala besar kemudian dilakukan untuk membuat kapal ini bisa beroperasi pada suhu +40°C, kelembapan 95%, dan temperatur air +30°C. Tetapi perwakilan dari Angkatan Laut Indonesia yang kemudian mengunjungi kota Baltiysk, menyatakan bahwa pemerintah Indonesia tidak sanggup untuk menanggung biaya proyek sebesar itu. Akhirnya modernisasi dialihkan untuk pemasangan genset diesel yang lebih kuat, guna menggerakkan ventilator tambahan. Pada tanggal 5 April 1962, dengan beberapa personel militer asal Indonesia di atas kapal, Ordzhonikidze berangkat dari Sevastopol setelah menghabiskan 14 bulan menjalani modifikasi untuk dioperasikan di daerah tropis (dengan penambahan lebih banyak ventilator dan generator) berlayar ke Timur Jauh dengan awak para pelaut Indonesia di bawah komando Kolonel Frits Suak dan tiba pada tanggal 5 Agustus di Surabaya. Begitu tiba di Indonesia, krunya mulai bekerja berdampingan dengan 1.200 pelaut Indonesia yang dipilih selama enam bulan, melatih orang-orang yang tidak pernah merawat dan menggunakan kapal yang lebih besar dari fregat agar bisa mengendalikan kapal penjelajah berbobot 14.000 ton yang panduannya semua ditulis dalam bahasa Cyrillic. Beberapa spekulasi menyatakan bahwa kemungkinan juga beberapa awak “lokal” yang dimaksud hanyalah perwira dan awak kapal Soviet yang mengenakan seragam Indonesia. Dinas intelijen angkatan laut Belanda, MARID (Marine Inlichtingendienst), sempat menerima informasi pada musim panas tahun 1962 bahwa awak Soviet sebagian besar mengawaki kapal selam dan pesawat pengebom Tupolev berbendera Indonesia!
Sementara itu, Indonesia yang memulai Operasi Trikora, mengerahkan 16 kapal perusak dan fregat buatan Soviet yang baru diperoleh dan selusin kapal selam melawan empat kapal perusak dan tiga kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Belanda di daerah tersebut, sembari mendesak yang terakhir keluar sambil menyusupkan ke tim pendarat kecil dan pasukan terjun payung ke daerah Papua Barat. Meskipun Belanda memiliki tradisi pertempuran laut yang membanggakan sejak abad ke-16 dan tidak diragukan lagi akan memberikan penilaian yang baik tentang diri mereka sendiri jika sukses, kuantitas jelas memiliki kualitasnya sendiri. Pada tanggal 5 Agustus 1962, Belanda akhirnya mengakui klaim Indonesia atas Papua Barat dalam Perjanjian New York — tanpa kapal penjelajah besar yang baru dibeli Indonesia itu harus melepaskan tembakan atau bahkan berlayar perairan yang disengketakan. Pada bulan Oktober, pasukan penjaga perdamaian PBB tiba untuk melakukan transfer kedaulatan tersebut. Untuk meresmikannya, pada 24 Januari 1963, Ordzhonikidze dinonaktifkan oleh Soviet dan lima hari kemudian diserahkan kepada Angkatan Laut Indonesia yang segera mengoperasikannya sebagai Kapal Republik Indonesia Irian (C201). KRI Irian lalu segera menjadi flagship dari armada mereka. Pada tanggal 1 Mei, Indonesia secara resmi menamai Papua Barat sebagai Irian Jaya, provinsi ke-26 negara itu, sementara kapal dengan nama yang sama berlabuh di lepas pantai dengan membawa Yang Mulia Presiden Dr. Ir. H. Sukarno ke pulau itu untuk acara tersebut. Namun, dinas operasional selanjutnya dari KRI Irian sangat terbatas, terutama dengan meredanya krisis di Papua Barat.
Segera setelah dioperasikan, KRI Irian mengalami tabrakan dengan kapal selam dan kemudian kapal perusak yang mengawal dalam beberapa minggu kemudian. Pada bulan November 1963, tiga ketelnya hancur karena benturan hirolis saat naik ke permukaan, yang secara efektif melumpuhkannya sebagai kapal perang kurang dari setahun setelah ditransfer dari AL Soviet. Akibatnya KRI Irian hanya mampu berlayar dengan separuh tenaganya. KRI Irian kemudian perlahan-lahan berlayar menuju Vladivostok segera setelah pelabuhan itu bersih dari es pada musim semi 1964 dan menghabiskan musim panas di sana dengan diperbaiki oleh Soviet, yang dilaporkan terkejut melihat betapa buruk kondisinya dalam waktu singkat setelah dioperasikan oleh Indonesia. Terdapat banyaknya perbaikan kecil yang seharusnya sudah dilakukan oleh para teknisi kapal ternyata tidak dilakukan. Pada catatan yang lebih ringan, mereka terkejut melihat kamar perwira telah diubah menjadi tempat berdoa, sesuatu yang telah dilarang di kapal-kapal Soviet sejak tahun 1922. Dikawal kembali ke Surabaya oleh kapal perusak dan kapal tunda Angkatan Laut Soviet, KRI Irian lalu melanjutkan pengoperasiannya pada bulan Agustus 1964, yang terutama terdiri dari aktivitas meninggalkan pelabuhan setiap beberapa bulan selama beberapa hari dan kemudian kembali ke dermaga. Tahun berikutnya, dengan Sukarno tidak membutuhkan kekuatan luar untuk melawan Belanda lagi, terjadi perpindahan kekuasaan dari Sukarno ke Suharto. Setelah penumpasan kekuatan komunis yang diatur oleh Jenderal Suharto, kapal penjelajah itu menurut beberapa sumber kabarnya digunakan sebagai penjara terapung bagi orang-orang Komunis. Pada tahun 1967, KRI Irian berada dalam kondisi yang buruk.
Hal ini berlangsung selama beberapa tahun, dan dengan kemungkinan tenggelamnya KRI Irian di tambatannya, dia kemudian didamparkan di gundukan pasir pada tahun 1970. Seperti dilaporkan majalah Exspres (8 Agustus 1970), saat itu anggaran AL Indonesia seret, sementara biaya operional KRI Irian dinggap terlalu besar. Selain itu, ukuran KRI Irian yang sangat besar juga membuatnya hanya bisa singgah dan bersandar di Jakarta, Surabaya, dan Ambon. Menurut Laksamana Sudomo dalam biografinya yang ditulis Julius Pour, Laksamana Sudomo, Mengatasi Gelombang Kehidupan (tahun 1997 halaman 178), kebanyakan kapal perang dari Blok Timur kondisinya menurun karena tidak tersedianya suku cadang yang cukup sehingga tak ada jalan lain kecuali dipensiunkan. Saat Indonesia ingin membeli suku cadang, sementara Soviet hanya mau menerima pembayaran cash. Mereka berharap Indonesia mau melunasi hutangnya terlebih dahulu, pasalnya ada beberapa alutsista yang didatangkan ke Indonesia, belum dibayar cicilannya. Kondisi KRI Irian saat itu sudah semakin parah. Air sudah mulai membanjiri bagian dalam kapal. Dua tahun kemudian KRI Irian dijual untuk dibesituakan ke perusahaan Taiwan, di mana tidak diragukan lagi rahasia apa pun yang dimiliki kapal ini yang belum diketahui oleh AS kemudian terungkap. Secara keseluruhan, kapal ini dipakai lebih dari 10 tahun dan sampai hari ini tetap menjadi kapal perang terbesar yang pernah dioperasikan angkatan laut Indonesia, yang kemudian sejak saat itu mengoperasikan kapal jenis fregat dan kapal korvet kecil (berbobot di bawah 3.000 ton). Dari 13 kapal sekelas KRI Irian, sebagian besar tetap ada dalam dinas AL Soviet sampai akhir Perang Dingin meskipun kegunaan mereka dalam pertempuran laut di zaman rudal anti-kapal dan jet tempur dipertanyakan, walau beberapa diantaranya dilengkapi dengan peluncur rudal. Hanya ada satu kapal yang tersisa– Mikhail Kutuzov, yang dilestarikan sebagai kapal museum di Novorossiysk, sebagai bagian dari bukti kehadiran Rusia di Laut Hitam, di mana ia diam sebagai pengingat penting bagi orang-orang Ukraina akan jangkauan kekuasaan “Tsar” Putin. Adapun Lionel Crabb yang nasibnya tidak diketahui, dia kemudian dikenang dengan sebuah monumen di Milton Cemetery, Milton Road, Portsmouth. Hingga kini masih belum jelas bagaimana dia bisa menghilang. Sementara itu, di Papua/Irian, pemberontakan lokal melawan pemerintah Indonesia yang dimulai pada tahun 1963 masih berlanjut hingga hari ini.
SPESIFIKASI KELAS SVERDLOV
Tipe : Kapal penjelajah
Bobot
- 13,600 ton (13,385 long ton) standar
- 16,640 ton (16,377 long ton) saat muatan penuh
Panjang
- 210 m (689 ft 0 in) keseluruhan
- 205 m (672 ft 7 in) didalam air
Lebar : 22 m (72 ft 2 in)
Draught : 6.9 m (22 ft 8 in)
Mesin
- 2 × shaft geared steam turbines
- 6 × boilers dengan kekuatan 110,000 hp (82,000 kW)
Kecepatan : 32.5 knot (60.2 km/h; 37.4 mph)
Jangkauan : 9,000 nmi (17,000 km; 10,000 mi) pada kecepatan 18 knots (33 km/h; 21 mph)
Awak : 1,250
Persenjataan
- 4 × meriam B-38 guns in Mk5-bis pada turret berformat triple kaliber 15.2 cm (6.0 in)/57
- 6 × meriam Model 1934 pada dudukan SM-5-1 berformat ganda kaliber 10 cm (3.9 in)/56 cal
- 16 × meriam anti pesawat berformat ganda kaliber 3.7 cm (1.5 in) pada dudukan tipe V-11M
- 2 × tabung torpedo berformat quintuple kaliber 533 mm (21.0 in) pada dudukan tipe PTA-53-68-bis
Armour
- Belt: 100 mm (3.9 in)
- Conning tower: 150 mm (5.9 in)
- Dek: 50 mm (2.0 in)
- Turret: 175 mm (6.9 in) bagian depan, 65 mm (2.6 in) bagian samping, 60 mm (2.4 in) bagian belakang, 75 mm (3.0 in) pada atap
- Barbettes: 130 mm (5.1 in)
- Bulkheads: 100–120 mm (3.9–4.7 in)
Lihat juga artikel mengenai kapal penjelajah kelas Belanda Kelas De Zeven Provinciën berikut ini:
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sverdlov-class_cruiser
AN AGING RUSSKI THROWBACK, SOME 35 YEARS AGO TODAY; WARSHIP WEDNESDAY JUNE 8, 2016: INDONESIA’S BIGGEST STICK WITH A JAMES BOND TWIST
https://laststandonzombieisland.com/tag/sverdlov-class/
Cruisers project 68-bis by Linnik Sergey; 6 May 2013
https://en.topwar.ru/27495-kreysera-proekta-68-bis.html
Project 68-bis Sverdlov class
https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/68-bis.htm
Built 14 battleships, the last artillery cruiser, Soviet-made “Sverdlov“ class cruiser; 2020-03-29 16:04:47
https://www.google.com/amp/s/daydaynews.cc/en/military/amp/438327.html
Cruisers project 68-bis: useful old men by Roman Skomorokhov; 1 June 2018
https://en.topwar.ru/142329-kreysery-proekta-68-bis-takie-poleznye-starichki.html
Sverdlov class cruisers
https://naval-encyclopedia.com/cold-war/ussr/sverdlov-class-cruisers.php
Project 68-bis cruisers: the backbone of the post-war fleet Part of 1 by Andrei from Chelyabinsk; 30 September 2016
https://en.topwar.ru/101357-kreysera-proekta-68-bis-stanovoy-hrebet-poslevoennogo-flota-chast-1.html
KRI Irian: Uni Soviet, Operasi Trikora, dan Dihilangkan Orde Baru Penulis: Petrik Matanasi; tirto.id – 23 Jul 2020 13:00 WIB
Sejarah KRI Irian – Kapal Perang Terbesar yang Pernah Dimiliki Indonesia
Sverdlov (class) Cruiser Warship (1952)
https://www.militaryfactory.com/ships/detail.php?ship_id=sverdlov-class-cruiser-warship-soviet-union
SVERDLOV light cruisers (project 68bis) (1952 – 1955)
https://www.navypedia.org/ships/russia/ru_cr_sverdlov.htm
152 mm/57 (6″) B-38 Pattern 1938
http://www.navweaps.com/Weapons/WNRussian_6-57_m1938.php
152mm/57 – Meriam Maut Andalan KRI Irian oleh Haryo Adjie Nogo Seno
KRI Irian 201, Simbol Persahabatan Soviet dan Indonesia di Tahun 60-an; TEKNO&SAINS; AUG 14 2015; ALEXANDER KOROLKOV SPESIAL UNTUK RUSSIA BEYOND
KRI Irian : Monster Laut Kebanggaan Indonesia
Smarter (and Simpler) Radar in Harpoon
http://www.admiraltytrilogy.com/cic/Harpoon/Smarter_Radars_for_Hpn.pdf
Mengenal Kelas Whiskey Yang Pernah Membuat Indonesia Sebagai “Kolektor” Kapal Selam Terbesar di Asia Tenggara
