Alutsista

Mengenal Kelas Whiskey Yang Pernah Membuat Indonesia Sebagai “Kolektor” Kapal Selam Terbesar di Asia Tenggara

Sekitar 236 kapal selam serang diesel-elektrik kelas Whiskey dibuat antara tahun 1951 dan 1957 di empat galangan kapal yang berbeda di Soviet dan di dua galangan kapal China. Seperti kelas Romeo, jumlah produksi yang direncanakan berkurang (dari awalnya 340) karena diperkenalkannya tenaga penggerak nuklir pada kapal selam. Bersama dengan saudaranya yang lebih besar, yakni kelas Zulu, kelas Whiskey memperlihatkan banyak kesamaan dengan kapal selam U-boat buatan Jerman pada Perang Dunia II. Sementara Zulu adalah Tipe XXI yang sebenarnya, Whiskey adalah kapal yang lebih kecil, kurang kemampuannya, jaraknya lebih pendek, dan dirancang lebih untuk pertahanan pantai dan operasi di wilayah pesisir Eropa. Kelas Whiskey hadir dalam lima jenis, yaitu: tipe I dan IV, yang memiliki meriam di depan menara komando, tipe II yang memiliki meriam di kedua ujungnya, serta tipe III dan V tidak memiliki meriam. Kelas Whiskey terbukti menjadi kapal selam ekspor yang sangat populer, dengan empat puluh unit ditransfer ke setengah lusin negara berbeda. Sementara itu, terlepas dari usianya, kapal selam kelas Whiskey bertugas hampir pada sebagian besar masa Perang Dingin dan pada tahun 1986 sekitar lima puluh unit masih beroperasi, dengan enam puluh lima lainnya disimpan sebagai cadangan.

Sebuah kapal selam serang kelas Whiskey Soviet pada tanggal 10 Maret 1987. Kapal selam kelas Whiskey adalah salah satu kapal selam pertama buatan Soviet setelah Perang Dunia II, yang bertugas cukup lama, hampir pada sebagian besar masa perang dingin, dari tahun 1950an sampai akhir 1980an. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

LATAR BELAKANG DESAIN

Fakta yang menarik adalah bahwa Uni Soviet memiliki armada kapal selam yang jumlahnya lebih besar daripada yang dimiliki oleh Jerman pada saat memasuki Perang Dunia 2 (1939-1945). Namun, selama perang, negara komunis ini tidak banyak memanfaatkan kekuatan kapal selamnya dalam konflik yang pecah dari bulan Juni 1941 hingga berakhirnya perang. Sementara itu, setelah perang, Soviet, kemudian memiliki fokus yang lebih besar pada kekuatan kapal selam selama perlombaan senjata mereka dengan negara-negara Barat. Paska Perang Dunia II, desain kapal-kapal selam Soviet, awalnya amat dipengaruhi oleh desain masa perang asal Jerman yang berhasil mereka rampas. Dengan demikian, secara teknologi, mereka umumnya tertinggal dari lawan-lawan mereka sampai sekitar tahun 1970-an, ketika semakin banyak desain baru muncul, yang mulai mengungguli apa pun yang dimiliki di negara-negara Barat. Dalam tahun-tahun setelah Perang Dunia II, Angkatan Laut Soviet segera melakukan program pembangunan besar-besaran kapal selam, yang dikenal sebagai “Proyek 613” (kode NATO untuk kapal selam “kelas Whiskey”). Banyak karakteristik kapal selam Tipe XXI asal Jerman ditambahkan dalam desain kapal selam Proyek 613 TsKB-18 ini. Desain ini telah dimulai pada tahun 1942, sebagai Proyek 608, tetapi ditolak oleh komando tinggi angkatan laut karena bobotnya 50 ton lebih besar daripada yang telah ditentukan dalam persyaratan. Desain ulang Proyek 608 yang berubah menjadi proyek 613, lalu dimulai oleh biro desain Lazurit pada tahun 1946 di bawah pengawasan Captain 1st Rank Vladimir N. Peregudov, yang menggabungkan beberapa fitur yang diperoleh setelah mempelajari kapal selam U-boat Tipe VIIC dan Tipe XXI Jerman. Salah satu kapal tipe pertama, U-250, telah ditenggelamkan oleh Soviet di Teluk Finlandia pada 30 Juli 1944 dan kemudian bisa diselamatkan dan diperiksa dengan cermat.

Kapal selam U-201 Type VIIC asal Jerman pada masa Perang Dunia II. Beberapa desain kapal ini masih mempengaruhi pembuatan desain kapal selam Soviet sehabis Perang Dunia II. (Sumber: https://www.1zoom.me/)
Kapal selam Jerman Type XXI amat mempengaruhi desain kapal selam kelas Whiskey yang dibuat Soviet pada awal tahun 1950an. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Dalam Perang Dunia II rencana ambisius Jerman untuk membangun kapal selam samudra rancangan Walter, seperti Tipe XVIII 1.600 ton, digagalkan oleh jalannya perang yang semakin tidak menguntungkan Jerman. Tipe XVIII lalu dimodifikasi menjadi “kapal selam listrik” Tipe XXI yang sangat sukses, dimana dengan menggunakan baterai yang lebih besar mampu memberikan kecepatan saat menyelam hingga 17 knot, yang dapat dipertahankan selama 90 menit. Inovasi itu, dan adopsi penggunaan snorkel, menghasilkan kombinasi kuat yang sangat memengaruhi desain kapal selam bertenaga konvensional pascaperang. Selama lima tahun setelah berakhirnya Perang Dunia II, eksploitasi Soviet terhadap kapal selam Type XXI faktanya masih tertinggal jauh dan ada dibawah kekhawatiran Amerika sebenarnya. Intelijen AS awalnya meramalkan pada tahun 1946, Soviet akan memiliki kekuatan 300 kapal selam setara Type XXI pada tahun 1950, padahal pada saat itu Soviet masih melakukan pengembangan. Lambung dan menara kapal pada Proyek 613 dirancang ramping, dan buritannya diberi konfigurasi serupa “pisau”, dengan kemudi besarnya diposisikan di belakang baling-baling kembar. Poros baling-baling didukung di luar lambung oleh stabilisator horizontal, bukan dengan penyangga (seperti yang digunakan di sebagian besar kapal selam buatan AS). Stern diving (horizontal) buritan juga ditempatkan di belakang baling-baling. Konfigurasi “pisau/knife” ini memberikan potensi kapal selam yang lebih mampu bermanuver daripada konfigurasi kapal selam GUPPY asal Amerika. Sebuah pusat komando serang kecil, atau coning tower, dipasang di menara kapal Proyek 613, sebuah fitur yang dihapus dari Tipe XXI. Saat ditarik kembali, berbagai periskop dan perangkat elektronik ditempatkan sepenuhnya di dalam superstruktur kapal.

Desain kapal selam kelas Whiskey. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Tenaga penggerak saat kapal berlayar di permukaan disediakan oleh dua mesin diesel dengan total output 4.000 tenaga kuda; sementara tenaga penggerak saat kapal berlayar menyelam disediakan oleh dua motor listrik utama yang menghasilkan kekuatan 2.700 tenaga kuda ditambah dua motor yang lebih kecil yang menyediakan kekuatan 100 tenaga kuda untuk pengoperasian yang lebih senyap atau ekonomis. Fitur ini berasal dari motor “creeping” asal Jerman – merupakan fitur Jerman pertama yang ditambahkan ke dalam desain kapal selam asal Soviet. Selain itu dua kelompok besar baterai dengan masing-masing 112 sel dipasang pada kapal. Kemudian sistem snorkel akan dipasang untuk pengoperasian mesin diesel saat kapal menyelam. Sistem penggerak semacam ini mengharuskan kapal untuk muncul ke permukaan guna mengisi baterainya dan mengeluarkan gas CO2 yang menumpuk. Sistem propulsi ini, diketahui dapat menggerakkan kapal selam kelas Whiskey dengan kecepatan 18,25 knot di permukaan air dan 13 knot saat menyelam (ciri-ciri dari kapal selam gaya lama, dimana generasi kapal selam selanjutnya akan membalikkan tren ini, dengan menawarkan kecepatan di bawah air yang lebih tinggi dibanding dengan kecepatan di permukaan air). Kemampuan tempur utama dari kelas Whiskey adalah enam tabung torpedo (empat di bagian haluan dan dua buritan), dengan enam cadangan torpedo di ruang torpedo depan-total ada 12 torpedo yang bisa dibawa. Kemampuan angkut torpedo ini terbilang lebih kecil dibandingkan dengan yang bisa dibawa oleh kapal selam asal Amerika dan Tipe XXI dari Jerman, tetapi cukup sebanding dengan konfigurasi lima tabung dan 15 torpedo yang bisa dibawa pada kapal selam U-boat Tipe VIIC. Tabung-tabung torpedo tersebut dilengkapi dengan sistem penembakan pneumatik wakeless yang dapat meluncurkan torpedo dari permukaan hingga kedalaman hampir 100 kaki (30 m); dalam versi peningkatan berikutnya, kedalaman tembaknya ditingkatkan menjadi 230 kaki (70 m). Uni Soviet, seperti negara lainnya, telah memproduksi kapal selam khusus untuk melepas ranjau. Dimulai dengan kelas Whiskey, kapal selam Soviet juga bisa melepas ranjau melalui tabung torpedo mereka (seperti juga kapal selam asal Amerika). Dalam peran penyebaran ranjau, kapal selam kelas Whiskey dapat membawa dua torpedo untuk pertahanan diri ditambah dengan 20 ranjau yang diluncurkan lewat tabung. Desain awal dari Proyek 608/613 telah menyediakan dudukan untuk meriam kaliber 76 mm ganda untuk menghadapi kapal-kapal permukaan (desain warisan era Perang Dunia II). Dengan desain kemudian diperkirakan bahwa kapal dalam sebagian besar atau misi patroli tempurnya dilakukan di bawah air, persenjataan meriam lalu dikurangi menjadi dua dudukan anti-pesawat kaliber 57 mm di belakang menara komando dan dudukan antipesawat 25 mm kembar di tangga depan menara. (Senjata-senjatanya ini dipasang di kapal selam Soviet hingga tahun 1956.)

Tabung peluncur torpedo belakang kapal selam kelas Whiskey. Konsep peluncur torpedo di buritan merupakan konsep warisan desain era Perang Dunia, yang kemudian menghilang pada desain-desain kapal selam kontemporer. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)
Berbagai konfiguras menara pada kapal selam Kelas Whiskey. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Dengan penggunaan lambung bertekanan yang sepenuhnya dilas dan menggunakan  material SKhL-4 alloy steel, Whiskey memiliki kedalaman uji menyelam hingga 655 kaki (200 m) dan kedalaman operasionalnya adalah 560 kaki (170 m). Ini jauh lebih dalam daripada kemampuan selam kapal Tipe XXI serta kelas K1 dari Amerika yang baru, dan hampir sedalam pada kelas Tang, yang juga buatan Amerika. Sayangnya, dalam mencapai kedalaman pengoperasian yang paling layak sambil tetap menjaga bobot kapal, para perancang terlalu membatasi akomodasi bagi awak Whiskey (seperti pada kelas kapal selam diesel-elektrik berikutnya). Sementara itu, Proyek 613 / Whiskey memperkenalkan level baru peningkatan kinerja bawah laut pada kapal selam Soviet, dengan menggabungkan banyak fitur desain asal Jerman yang akan ditemukan pada kapal selam Soviet generasi mendatang. Rancangan kontrak desain terakhir TsKB-18 disetujui oleh Angkatan Laut Soviet pada tahun 1948, dan proses konstruksi dimulai tidak lama kemudian di galangan kapal Krasnoye Sormovo di kota pedalaman Gor’kiy, sekitar 200 mil (320 km) di sebelah timur Moskow. Kapal selam yang dibuat di Gor’kiy lalu akan dibawa menyusuri Sungai Volga dengan dok transporter untuk diselesaikan pembuatannya di galangan kapal Kaspia dan Laut Hitam. Kapal selam pertama dari Proyek 613, yakni S-80 mulai dibuat di Gor’kiy pada tanggal 13 Maret 1950, yang diikuti oleh produksi tambahan di galangan kapal Baltisky (Baltik) di Leningrad, Chernomorskiy di Nikolayev-Laut Hitam, dan galangan Leninsky Komsomol di Komsomol’sk-Timur Jauh. Sistem pengelasan otomatis dan prefabrikasi banyak digunakan dalam konstruksi dari Proyek 613. S-80 lalu diluncurkan dari fasilitas perakitan horizontal, pada tanggal 21 Oktober 1950 ketika 70 persen pengerjaannya selesai. Dia kemudian segera diangkut dengan tongkang menyusuri Sungai Volga ke pelabuhan Baku di Laut Kaspia, dan tiba disana pada tanggal 1 November. Setelah selesai dan diuji-coba secara ekstensif, S-80 dioperasikan pada tanggal 2 Desember 1951.

Kapal Selam Kelas ‘WHISKEY’ di permukaan, beroperasi dengan helikopter. Ini mungkin varian dari kelas ‘WHISKEY III’, yang tidak memiliki senjata dek seperti versi ‘I’ dan ‘II’ yang asli, tetapi tetap mempertahankan platform dek untuk meriam, di belakang menara. Kapal Selam kelas Whiskey merupakan proyek kapal selam terbesar yang dibuat selepas Perang Dunia II, total ada 236 kapal kelas ini yang dibuat di Soviet dan China. (Sumber: https://www.hazegray.org/)

Program Proyek 613 / kelas Whiskey yang dibuat secara besar-besaran, lalu menghasilkan 215 kapal selam untuk Angkatan Laut Soviet hingga tahun 1958 (yaitu, rata-rata lebih dari 2 1/2 kapal selam per bulan dibuat dari desain ini). Semua kapal diberi kode penomoran berawalan “S”, yang berbeda dengan kode “B” untuk kapal selam konvensional besar seperti kelas Foxtrot atau Zulu, atau “K” untuk kapal selam nuklir (berat) dan “TK” untuk seri Typhoon (super berat), atau “SS” untuk unit khusus. Armada kapal selam kelas Whiskey Soviet dinomori sebagai S-80 hingga S-393 dalam urutan yang tidak berurutan, dan dibangun antara tahun 1951 (S-80, prototipe) hingga 1958 (yang terakhir, S-365), di galangan Gorkiy, Nikolayev, Baltic dan Komsomolsk. Ini adalah program kapal selam terbesar dalam sejarah Soviet, melebihi tonase gabungan program pembuatan kapal selam yang dibuat pada era Soviet hingga saat itu. Memang, dalam jumlah lambung yang dibuat, Proyek 613 akan menjadi program kapal selam terbesar di dunia pada era Perang Dingin. (Menurut catatan yang ada, total ada 340 kapal selam dengan desain ini sempat direncanakan untuk dibuat.) Pada tahun 1954, dokumentasi dari desain konstruksi Proyek 613 diberikan ke China, dan tiga kapal selam tambahan dibuat di Uni Soviet, diurai, dan dikirim ke China untuk dirakit di Galangan kapal Jiangnan di Shanghai. China kemudian akan membuat 15 kapal selam di galangan kapal daerah pedalaman di Wuhan, di Sungai Yangtze, dimana awalnya mereka akan menggunakan pelat baja, sonar, persenjataan, dan peralatan lain yang disediakan oleh Soviet. Unit-unit kapal selam lainnya buatan Soviet lalu juga ditransfer ke Bulgaria (2), Mesir (8), Indonesia (14), Korea Utara (4), Polandia (4), dan Suriah (1). Kuba dan Suriah diketahui masing-masing menerima satu unit kapal selam sebagai platform pengisian baterai stasioner untuk mendukung kapal selam lainnya. Uni Soviet juga mengirim dua kapal selam ke Albania pada tahun 1960 dan dua unit tambahan yang dirampas di pelabuhan oleh pemerintah Albania ketika hubungan dengan Uni Soviet putus karena alasan ideologi pada tahun 1961.

Kapal selam kelas Whiskey Long Bin dengan modifikasi pada bagian struktur menaranya untuk bisa menampung peluncur rudal jelajah SS-N-3C Shaddock. (Sumber: http://www.subart.net/)

Kapal selam Proyek 613, kemudian juga akan menjadi dasar untuk pembuatan kapal selam pembawa rudal jelajah Soviet yang pertama dan akan dikonfigurasi untuk sejumlah peran penelitian khusus. Kapal selam Whiskey yang bisa membawa rudal jelajah, memiliki kemampuan untuk menembakkan satu hingga empat rudal jelajah SS-N-3 Shaddock. Pada tahun 1956, prototipe pertama kapal ini sudah siap. Kapal itu sebenarnya adalah kelas Whiskey biasa yang dimodifikasi dengan penambahan tabung peluncuran di belakang menara utama yang berisi satu rudal jelajah SS-N-3c. Kapal ini dikenal di Barat sebagai Whiskey Single Cylinder. Antara 1958 dan 1960, enam kapal selam kelas Whiskey tambahan diubah untuk membawa peluru kendali. Kapal-kapal ini memiliki dua tabung rudal di belakang menara, dan dikenal di barat sebagai Kapal selam Whiskey dengan Silinder Kembar, dan disebut sebagai kapal Proyek 644 oleh Soviet. Antara tahun 1960 dan 1963, enam kapal dengan menara yang diperpanjang, yang mampu memuat hingga empat rudal Shaddock dibuat. Tipe terakhir ini disebut sebagai Whiskey Long Bin di Barat dan Proyek 665 di Uni Soviet. Semua varian peluru kendali kelas Whiskey membawa rudal serang darat P-5 / NATO SS-N-3c Shaddock, harus muncul ke permukaan untuk menembakkan rudal mereka. Kapal dari kelas silinder tunggal dan kembar juga harus menaikkan tabung rudal mereka, yang biasanya diposisikan secara horizontal. Kapal “Long Bin” diketahui tidak dapat dikendalikan dengan baik, dengan tabung peluncur rudalnya telah menyebabkan masalah stabilitas, dan aliran air di sekitar perlengkapan rudal dikenal sangat bising.

kapal radar picket (SSR) dari kelas Whiskey. Nampak penambahan perangkat radar pada bagian atas menara. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Empat kapal selam lalu diketahui diubah menjadi konfigurasi kapal radar picket (SSR) di galangan kapal Krasnoye Sormovo di Gor’kiy, dengan yang pertama selesai pada tahun 1957. Kapal ini dilengkapi dengan radar pencari udara Kasatka (kode NATO: Sail Boat) yang besar serta peralatan radio tambahan. Dikenal sebagai Project 640 (kode NATO: Canvas Bag), kapal selam ini awalnya berbasis di Baku di Laut Kaspia, tampaknya untuk menyediakan jangkauan radar pertahanan udara bagi wilayah itu. Salah satu kapal selam Proyek 640 dilengkapi dengan tautan satelit di galangan kapal Sevmorzavod di Sevastopol pada tahun 1966 (Proyek 640T). Pada tahun 1960, sebuah kapal selam diubah menjadi konfigurasi Proyek 613S untuk menyediakan sistem penyelamatan tingkat lanjut. Pekerjaan itu juga dilakukan di galangan Gor’kiy. Pada tahun 1962, di tempat yang sama, kapal selam Proyek 613 lainnya dimodifikasi menjadi Proyek 666, yakni kapal selam penyelamat dengan ruang bawah air yang ditarik, yang memiliki kedalaman selam hingga 655 kaki (200 m). Pada tahun 1969, kapal selam itu dimodifikasi lagi untuk menguji tekanan dalam waktu yang lama. Satu kapal selam kemudian dibangun kembali dengan konfigurasi Proyek 613Eh untuk menguji sistem propulsi siklus tertutup. Dan pada akhir 1950-an salah satu kapal selam ini, yakni S-148, dilucuti dan diubah menjadi kapal penelitian sipil. Berganti nama menjadi Severyanka, dia dioperasikan oleh All-Union Institute for the Study of Fisheries and Oceanography dengan kru sipil. Dua kapal selam Proyek 613 diketahui hilang, yakni S-80, kapal radar piket, di Laut Barents pada tahun 1961, dan S-178 di Pasifik pada tahun 1981. Pada tahun 1982, hanya ada 60 kapal kelas Whiskey yang masih tersisa di Angkatan Laut Soviet (45 aktif, 15 dalam unit cadangan operasional); semuanya lalu dipensiunkan pada akhir Perang Dingin.

WHISKEY PEMBAWA RUDAL JELAJAH

Saat Angkatan Laut Amerika mengembangkan rudal jelajah yang bisa diluncurkan dari kapal selam untuk misi serangan taktis dan kemudian beralih ke rudal balistik untuk peran yang lebih strategis, Angkatan Laut Soviet menunjukkan minat besar pada kedua jenis rudal tersebut untuk peran strategis mereka sendiri. Dalam sejarahnya, Uni Soviet bukanlah target rudal jelajah V-1 Jerman, namun pada bulan Juli 1944, bagaimanapun, Inggris memberikan roket V-1 buatan Jerman yang rusak kepada Uni Soviet, dan efeknya pada akhir perang, pekerjaan desain rudal jelajah sedang dilakukan di biro desain pesawat yang dipimpin oleh Georgi M. Beriev, Vladimir N. Chelomei, Sergei V. Ilyushin, dan Seymon A. Lavochkin. Chelomei lalu akan menjadi yang paling sukses dalam mengembangkan rudal jelajah yang diluncurkan oleh kapal perang Soviet. Antara tahun 1952-1953, pembuatan desain dimulai pada Proyek 628 (kelas Golf), kapal selam seri XIV Soviet (kelas K) yang diperbarui yang dikonfigurasi untuk melakukan peluncuran eksperimental rudal jelajah subsonik 10XN Volna (gelombang). Rudal yang dikembangkan oleh biro desain Chelomei ini didukung oleh mesin ramjet kembar. Rudal itu diluncurkan dari peluncur miring dengan bantuan roket pendorong tunggal. Meskipun pihak intelijen Barat melaporkan bahwa peluncur rudal dipasang di dekat Leningrad dan Vladivostok, faktanya rudal ini tidak digunakan oleh angkatan darat atau angkatan laut. Rudal itu ditolak oleh angkatan laut karena keterbatasan pada perangkat panduan, konsumsi bahan bakar yang tinggi dari mesin ramjet, dan adanya pengembangan rudal supersonik yang sedang berlangsung. (Sebuah versi rudal 10XN sempat beroperasi dengan Angkatan Udara Soviet pada tahun 1953.)

Konsep desain kapal selam U-Boat peluncur roket V-2 dari Jerman. Selepas Perang Dunia II, konsep kapal selam yang bisa menembakkan rudal Jelajah dikembangkan oleh Amerika dan Soviet. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Sementara itu versi perbaikan lebih lanjut dari desain roket V-1 oleh Chelomei dikembangkan menjadi rudal 15X, berdasarkan ketersediaan turbojet sentrifugal Rolls-Royce Nene, yang disediakan oleh pemerintah Partai Buruh Inggris untuk penggunaan sipil di Uni Soviet. Mesin ini, yang juga digunakan untuk pesawat tempur turbojet MiG-15 yang terkenal, dan dengan menggunakan sistem panduan titik-ke-titik yang canggih, sepertinya memiliki prospek menjanjikan untuk menjadi senjata strategis yang efektif dapat diluncurkan dari kapal selam. Kapal selam pembawanya akan transit ke posisi peluncuran yang telah dipilih sebelumnya dengan rudal baik di kontainer peluncuran yang ditarik atau dipasang di kontainer di dek kapal selam. Konsep ini sebelumnya telah dikembangkan oleh Jerman untuk menembakkan rudal balistik V-2 dari bawah air. Sayangnya, biro desain Chelomei dibubarkan pada bulan Desember 1952 karena intrik politik dalam industri pertahanan. Keputusan penutupan biro Chemomei adalah salah satu dokumen terakhir yang ditandatangani oleh diktator Josef Stalin, yang kemudian meninggal pada Maret 1953. Fasilitas Chelomei kemudian diambil alih oleh perancang pesawat Artyem I. Mikoyan. Sejak bulan Januari 1953, sebagai profesor di Institut Bauman dari Universitas Teknik Moskow, Chelomei terus mengerjakan desain rudal. Pada tahun 1954 ia mendapatkan ide untuk meluncurkan rudal dengan sayap yang secara otomatis mengembang dalam penerbangannya. Hal ini akan memungkinkan rudal untuk bisa dibawa dalam kontainer yang pada dasarnya berukuran sama dengan badan rudal.

USS Grayback sebelum konversi dengan rudal jelajah Regulus-I yang siap diluncurkan. Pengembangan kapal selam peluncur rudal Jelajah oleh Amerika, mendorong pihak Soviet untuk membuat versi mereka sendiri. (Sumber: http://www.hisutton.com/)

Perbaikan aerodinamis kemudian memungkinkan rudal diluncurkan langsung dari tabungnya, tanpa harus menggunakan peluncur konvensional. Konsep ini diterapkan pada rudal 20X yang, dengan panduan yang lebih fleksibel, akan menjadi rudal P-5 (kode NATO: SS-N-3c Shaddock). Tabung yang dipasang di dek ini kemudian akan diadopsi oleh Angkatan Laut Soviet, dengan struktur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan peluncuran rudal, yang menyederhanakan pemasangannya di kapal permukaan serta di kapal selam. Ini berbeda dengan metode Angkatan Laut AS, yang menggunakan tabung hanya sebagai tempat penyimpanan, dengan rudal harus diekstraksi secara manual, ditempatkan di rel peluncuran, sayap direntangkan, dan harus menjalani berbagai proses manual lainnya dilakukan sebelum rudal bisa diluncurkan. Konsep Chelomei ini lalu mendapat dukungan dari pemimpin Soviet Nikita S. Khrushchev. Pada bulan Agustus 1955 biro desainnya diresmikan kembali sebagai OKB-52, yang awalnya ditugaskan untuk mengembangkan rudal jelajah yang diluncurkan oleh kapal selam. Tahun itu menyusul keputusan dibuat untuk memproduksi rudal jelajah P-5 / Shaddock oleh biro desain Chelomei dan rudal jelajah P-10 yang sedang dikembangkan oleh OKB-48 di bawah perancang pesawat amfibi Beriev. Kedua rudal itu dimaksudkan untuk menjalankan misi serangan strategis terhadap sasaran darat. Sebuah desain tunggal kapal selam Proyek 611 / Zulu telah dimodifikasi pada tahun 1955 menjadi konfigurasi Proyek P-611 guna menguji peluncuran rudal P-10. P-10 dirancang untuk ditempatkan di hanggar, dengan misil diekstraksi dari hanggar, sayapnya direntangkan, dan kemudian diluncurkan (seperti desain rudal Regulus asal Amerika). Hangar itu berada di casing dek, di belakang menara komando, dengan rudal untuk ditembakkan ke depan, melewati haluan. Kapal selam itu dimodifikasi di galangan kapal Molotovsk (kemudian berganti nama menjadi Severodvinsk). Selama musim gugur tahun 1957, empat rudal P-10 diluncurkan dari kapal selam P-611. Tetapi pengerjaan rudal ini dihentikan karena uji coba rudal P-5 rancangan biro desain Chelomei berhasil baik, dengan kemampuan terbang subsonik (Mach 0,9), memiliki jangkauan 300 nm (570 km), dan memiliki beberapa keunggulan lain jika dibandingkan dengan rudal P-10.

Kapal Selam Kelas Whiskey Twin Cylinder yang bisa membawa 2 tabung peluncur rudal jelajah SS-N-3C Shaddock. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Lubang peluncuran rudal jelajah SS-N-3C Shaddock pada kontainer Whiskey Long Bin. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Konsep artis dari peluncuran rudal Shaddock pada Whiskey Long Bin. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Pada tahun yang sama, Proyek P-613 – modifikasi dari kapal selam Proyek 613 / Whiskey S-146 – dilakukan untuk melakukan uji coba rudal P-5. Modifikasi itu, seperti pada proyek P-611, di bawah pimpinan desainer Pavel P. Pustintsev dari TsKB-18. Pekerjaan itu dilakukan di galangan kapal Krasnoye Sovormo di Gor’kiy, di pedalaman Sungai Volga. Tabung rudal untuk kapal selam ini juga ditempatkan di belakang menara komando, dan sekali lagi, peluncuran dilakukan di permukaan, di atas haluan kapal. Setelah tes penembakan rudal P-5 / Shaddock di Kapustin Yar pada tahun 1956, rudal P-5 pertama diluncurkan dari kapal selam S-146 pada tanggal 22 November 1957 di Laut Putih. Setelah pengujian yang ekstensif, sistem rudal P-5 mulai beroperasi pada tahun 1959 dan dipasang di kapal selam operasional. Enam kapal selam Project 644 / Whiskey Twin-Cylinder dimodifikasi pada tahun 1960 di Gor’kiy menjadi desain Pustintsev. Setiap kapal selam dilengkapi dengan tabung rudal ganda di belakang menara komando, dibangun di dalam selubung dek, yang diangkat dan ditembakkan dari buritan. Bersamaan dengan upaya ini, kapal selam berpeluru kendali Proyek 646 dikembangkan berdasarkan Proyek 641 / Foxtrot. Kapal ini memiliki bobot selam lebih besar dari kelas Whiskey, dimana desain dasarnya bisa membawa empat rudal P-5 atau dua rudal P-10; dibandingkan dengan Proyek 644P yang bisa membawa dua rudal P-5. Namun, pengembangan lebih lanjut dari desain ini tidak dilakukan. Sebaliknya, desain definitif dari Proyek 613 / Whiskey SSG (Whiskey pembawa rudal) terwujud dalam Proyek 665, yang lebih dikenal kalangan NATO sebagai Whiskey Long-Bin (menurut wujud struktur menara komandonya yang diperbesar). Ini adalah kapal selam konstruksi baru dari desain yang dikembangkan oleh TsKB-112 di bawah desainer B. A. Lyeontyev. Masing-masing kapal selam tipe ini memiliki kemampuan untuk membawaa empat rudal P-5 / Shaddock yang ditembakkan ke arah depan yang dipasang di bagian depan menara conning besar yang bulat. Tabung peluncur dipasang pada sudut 14 derajat ke atas. Dari tahun 1961 hingga 1963, galangan kapal Gor’kiy dan galangan kapal Baltik di Leningrad bersama-sama mengirimkan enam kapal selam tipe Long-Bin. Rudal jelajah serang darat P-5 / Shaddock diketahui memiliki jangkauan 300 nm (550 km), dengan kecepatan terminalnya adalah Mach 0,9, dan akurasinya plus-minus dua nm (empat km). Meskipun memiliki keterbatasan dalam hal jangkauan dan efektivitas rudal, kapal selam ini setidaknya memberi Angkatan Laut Soviet pengalaman dan pelatihan yang berharga dalam mengoperasikan dan mengembangkan kapal selam peluncur rudal jelajah. Tidak seperti dua kapal konversi yang digunakan oleh Angkatan Laut AS dalam program Regulus (Barbero dan Tunny), kapal selam Proyek 665 Soviet tidak menjalankan misi patroli rudal jarak jauh.

KEMAMPUAN OFENSIF WHISKEY CLASS

Seperti yang telah disinggung diatas, kapal selam serang kelas Whiskey (berbagai varian) tercatat dapat membawa beragam senjata baik torpedo, meriam anti pesawat hingga rudal jelajah. Berikut adalah deskripsi singkat dari persenjataan yang dapat dipasang pada kapal selam ini.

Type 53 Torpedo

Torpedo tipe 53 digunakan pada hampir semua kapal selam Soviet dan banyak kapal perang permukaannya. Kapal permukaan menggunakan varian anti-kapal selam, kecuali untuk kapal torpedo di awal Perang Dingin yang juga menggunakan varian anti-kapal. Kebanyakan Tipe 53 yang digunakan dalam peran anti-kapal permukaan menggunakan hulu ledak berbobot 200 hingga 300 kg. Varian anti-kapal selam memiliki ukuran hulu ledak lebih kecil antara 100 hingga 200 kg. Sistem peledakannya berdasarkan deteksi akustik, kontak atau peledakan berdasar waktu tertentu, atau kombinasi keduanya. Jarak jangkau dari Torpedo tipe 53 bervariasi, tergantung versinya, misal Tipe 53-65 memiliki jangkauan antara 18-22 km, dengan kecepatan maksimalnya antara 44-45 knot. Sedangkan tipe SAET (Samonavodiashaiasia Akustisticheskaia Elektricheskaia Torpeda)-50 memiliki jangkauan pendek sekitar 6 km saja. Tipe 53 juga ada yang memiliki hulu ledak nuklir berkekuatan 20 kT yang akan meledak di lokasi yang telah ditentukan. Versi terakhir di kelas ini adalah torpedo laut berat UGST (Fizik-1) memiliki jangkauan hingga 60 km (versi ekspor dibatasi hingga 40 km).

Sosok torpedo SAET-50 di museum AL Rusia. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)
Torpedo yang digunakan oleh KRI Pasopati, kapal selam kelas Whiskey milik Indonesia. (Sumber: https://www.indomiliter.com/)

Meriam SM-24-ZIF kaliber 57 mm

Kapal selam kelas Whiskey II dipersenjatai dengan dua meriam SM-24-ZIF kaliber 57 mm. Pengembangan meriam ini dimulai pada tahun 1947 sebagai senjata anti pesawat pada kapal selam. Prototipe dudukan kembar SM-24 dibuat pada tahun 1948-1950. Selama pengujian pada prototipe ditemukan beberapa cacat dan harus dimodifikasi ulang. Versi yang ditingkatkan ini lalu diuji dari tahun 1951-1953. Versi ini kemudian diterima dan mulai beroperasi pada tahun 1955. Pada tahun 1991 ada sekitar 70 sistem meriam ini yang digunakan di Angkatan Laut Soviet. Meriam-meriam ini dikabarkan memiliki masalah operasional yang signifikan, sebagian besar terkait dengan fakta bahwa senjata tersebut berada di dudukan terbuka, yang menyebabkan masalah bagi kapal yang beroperasi di perairan Samudra Arktik dan bahwa mereka tidak memiliki perlindungan terhada ancaman NBC (Nuklir-Biologi-Kimia). Meriam ini tercatat memiliki kemampuan menembak hingga 100-150 peluru per menit. Sayangnya senjata itu sendiri disuplai peluru dengan format klip, sehingga menurunkan kemampuan tembak praktisnya. Pada prakteknya, meriam ini hanya bisa menembakkan 50 peluru dalam satu waktu sebelum mereka harus didinginkan dengan mengalirkan air laut melalui laras selama 1-1,5 menit dengan menggunakan nosel khusus. Laras meriam ini terbuat dari konstruksi monoblok. Mekanisme otomatis dioperasikan dengan kekuatan recoil. Kedua meriam dipasang pada dudukan biasa. Amunisi dipasok dalam bentuk klip dengan masing-masing klip memuat 3 peluru. Peluru yang digunakan terdiri dari 3 jenis, yaitu: tracer, fragmentasi dan High Explosive (HE). Laras meriam memiliki elevasi penembakan antara -6 / +85 derajat dan dilengkapi dengan perangkat pembidik tipe MZP-57-2A-1. Untuk sasaran pesawat terbang dengan kecepatan hingga 600 knot (1.080 kph), meriam ini mampu menjangkau hingga jarak 5,580 yards (5,100 m); sedangkan untuk target permukaan meriam ini bisa menyasar hingga jarak 8,000 yards (7,320 m).

Dudukan SM-24 untuk meriam kaliber 57 mm pada kapal selam. (Sumber: http://www.navweaps.com/)

Meriam 25mm 2M-8

2M-3 adalah tipe turret meriam angkatan laut asal Soviet. Turret ini dikembangkan tak lama setelah Perang Dunia II untuk mempersenjatai berbagai kapal perang permukaan kecil, kapal selam dan kapal sipil yang mendukung tugas-tugas angkatan laut. Penggunaan kanon otomatis kaliber 25mm 110-PM pada turret ini terhitung unik, karena hanya angkatan laut Soviet yang memakainya. Mereka tidak digunakan pada aplikasi senjata berbasis pesawat atau darat. Desainnya didasarkan pada kanon otomatis kaliber 25mm 84-KM yang sudah ada sebelumnya. Senjata ini dipasang pada dudukan beratap terbuka yang dikontrol secara sederhana dan dilengkapi dengan dua kanon otomatis 110-PM, dengan yang satu laras ditempatkan di atas yang lainnya. Dalam sistem ini seorang operator tunggal duduk di sebelah kiri, sementara kanonnya sendiri terletak di tengah dan amunisi disimpan di sebelah kanan. Biasanya dudukan dioperasikan secara hidraulik tetapi kontrol manual juga dipasang sebagai cadangan. Kanon tersebut berpendingin udara, tetapi didinginkan dengan menggunakan selang air selama penembakan dalam rentetan panjang. Kanon otomatis 110-PM menembakkan peluru bertenaga kaliber 25x218mm dengan kecepatan tembak 450 rpm. Tingkat tembakan efektifnya adalah 270 hingga 300 peluru per menit. Peluru 25mm yang ditembakkannya memiliki jangkauan 2,5 km dan dapat mencapai ketinggian hingga 1,7 km. Namun karena senjata ini diarahkan secara manual, penggunaannya terhitung terbatas terhadap pesawat tempur yang bergerak cepat. Sistem senjata 2M-3 dipasang pada berbagai jenis kapal kecil seperti kapal rudal kelas Komar dan kapal torpedo motor P-4 dan P-6. Hanya untuk beberapa tahun sistem senjata 2M-8 digunakan pada kapal selam kelas Quebec, Whale, Whiskey dan Zulu.

Dudukan kanon kembar otomatis kaliber 25 mm pada kapal perang buatan Soviet. (Sumber: https://military.wikia.org/)

Rudal Jelajah SS-N-3 Shaddock

Kapal selam kelas Whiskey tipe “Single Cylinder”, “Twin Cylinder”, dan “Long Bin” tercatat mampu membawa dan menembakkan rudal jelajah SS-N-3 Shaddock dalam peluncur khusus. SS-N-3 sendiri adalah keluarga rudal jelajah bertenaga turbojet, yang dibuat dengan tiga varian (kerap membingungkan, intelijen Barat yang memberi kode varian P-5 awal dengan nomor tertinggi, yakni SS-N-3c). P-5 (SS-N-3c Shaddock), merupakan sebuah peluru kendali inersia, dapat diluncurkan dari kapal selam kelas Echo II, konversi kelas Whiskey, dan Juliett dan mampu terbang hingga jarak maksimum 250 nm dengan kecepatan mach 0,9. Tipe ini adalah yang tertua dari tiga jenis rudal SS-N-3 yang dibuat dan hampir identik dengan rudal SSC-1a (Shaddock) Angkatan Darat Soviet. Rudal jelajah P-5 dirancang pada tahun 1950-an oleh biro desain Chelomey. P-5 memiliki sistem khusus dengan dua sayap yang bisa dilipat “ARK-5″, yang memungkinkannya diluncurkan dari kapal selam dengan silinder berdiameter relatif kecil. P-5 memiliki jangkauan sejauh 500 km pada ketinggian 100-400 meter dan kecepatan hingga 345 m / s (Mach 0,9). Sementara varian P-7 yang lebih baru dikabarkan memiliki jangkauan 1000 km. Dengan karakteristik seperti ini, maka memungkinkan P-5 untuk secara efektif menembus sistem pertahanan udara pesisir Amerika pada awal tahun 1960-an. Kesalahan akurasi dari rudal ini mungkin terjadi pada jarak maksimum 3.000 m, yang lalu dikompensasi dengan pemakaian hulu ledak nuklir berkekuatan 200-350 kt atau peledak berbobot 930 Kg, “RDS-4”. Seperti rudal Regulus dari Angkatan Laut AS, untuk menembakkan SS-N-3c, platform kapal selam harus muncul ke permukaan, mempersiapkan dan mengaktifkan radar pelacak, dan tetap berada di permukaan untuk memandu rudal jelajah dalam penerbangan melalui datalink, berdasarkan data pelacakan yang berasal dari radar kapal selam.

Rudal Jelajah SS-N-3 Shaddock. (Sumber: https://missiledefenseadvocacy.org/)

DINAS OPERASIONAL 

Pada tanggal 27 Januari 1961, kapal selam kelas Whiskey milik Soviet, S-80 hilang akibat kebanjiran yang tidak disengaja saat kapal menyelam. Katup yang seharusnya mencegah air masuk ke dalam snorkel, dikabarkan tidak berfungsi dengan baik. Kemudian pada tanggal 24 November 1972, kapal selam kelas Kobben KNM Sklinna dari Angkatan Laut Kerajaan Norwegia melakukan “kontak” dengan apa yang mereka anggap sebagai kapal selam kelas Whiskey, setelah 14 hari “berburu” di Sognefjord. Dokumen militer yang dirilis pada tahun 2009 mengkonfirmasi kejadian ini. Pada dekade akhir perang dingin, tanggal 21 Oktober 1981, S-178 ditabrak oleh kapal dagang Refrizherator-13 di Golden Horn Bay, Vladivostok. Sementara itu, sejak awal tahun 1980-an Swedia tercatat menderita penyusupan terus menerus atas perairan teritorialnya oleh kapal selam asing yang bisa dipastikan milik Uni Soviet. Berbagai laporan telah dikeluarkan oleh angkatan laut Swedia, tetapi baru mendapat perhatian baik oleh publik Swedia dan media internasional pada tanggal 27 Oktober 1981, ketika kapal selam kelas Whiskey milik Soviet kandas di daerah terlarang di kepulauan Karlskrona dalam sebuah insiden yang umumnya disebut sebagai “Whiskey on the rock.” Pemerintah Swedia kemudian mengeluarkan protes formal yang keras, tetapi pihak Soviet menganggap peristiwa itu terjadi karena kesalahan navigasi yang tidak disengaja. Pada tanggal 19 Juni 1984, sebuah kapal selam kelas Whiskey diketahui terjerat di jaring ikan dan muncul di zona ekonomi eksklusif Norwegia. Pada tanggal 5 Februari 2007, S-194 yang dinonaktifkan tenggelam di lepas pantai Denmark saat ditarik untuk menjadi bagian dari museum angkatan laut. Pada tahun 2009, kapal selam kelas Whiskey yang sebelumnya tidak dikenal ditemukan di ZEE Swedia dekat dengan pulau Gotland. Itu adalah kapal selam nonaktif yang tenggelam saat ditarik untuk dibesituakan di Denmark. Berita penemuan itu tidak dipublikasikan hingga bulan Maret 2011. Dalam pengoperasiannya di AL Soviet, Kelas Whiskey akhirnya mulai digantikan oleh dua kelompok kapal selam baru di kelas Romeo dan kelas Juliett yang tiba pada 1950-an dan 1960-an – yang pertama digunakan untuk menggantikan kapal selam serang standar kelas Whiskey dan yang terakhir menggantikan kelas Whiskey pembawa rudal.

“Whiskey on the rock.” Pada tanggal 27 Oktober 1981, sebuah kapal selam kelas Whiskey terdampar di perairan Swedia. Peristiwa ini menjadi salah satu gambaran paling jelas dari operasi kapal-kapal selam Soviet di perairan negara-negara sekitarnya selama perang dingin. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Angkatan Laut Cina diketahui pernah memiliki 21 kapal selam diesel-listrik Tipe 03. Jenis kapal selam ini didasarkan pada perjanjian tanggal “4 Juni” yang ditandatangani antara Partai Komunis China dan Uni Soviet pada tahun 1953, dimana Uni Soviet memberikan desain kapal selam konvensional kelas Whiskey sebagai hadiah. Gambar desain dan bahan-bahan pembuatannya dikirim ke China untuk menjalani proses perakitan dan konstruksi. Kelas kapal selam ini, yang dikenal sebagai kapal selam Type 03, yang seperti versi Sovietnya, memiliki bobot standar 1.050 ton, dengan bobot di permukaan 1.300 ton, dan bawah air 1.600 ton; panjang 254 kaki, lebar 24 kaki, dan draft 14 kaki. Berlayar di permukaan menggunakan mesin diesel berkekuatan 4.000 tenaga kuda dan punya kecepatan 16 hingga 17 knot; sementara saat menyelam menggunakan daya baterai berkekuatan 2.500 tenaga kuda dan bisa berlayar dengan kecepatan antara 13 hingga 16 knot. Jangkauan melautnya adalah 13.000 hingga 16.500 mil laut. Kapal pertama dibuat di Galangan Kapal Jiangnan pada bulan April 1955. Kapal ini diluncurkan pada bulan Oktober 1957 dan diberi nama “New China 15”, dengan nomor lambung “115”, kapten pertamanya adalah Li Guoan. Pada pagi hari tanggal 10 Januari 1956, sebelum peluncuran, Mao Zedong pergi ke pabrik Jiangnan untuk memeriksa kapal tersebut. Pada hari yang sama 13 tahun kemudian, Partai Komunis China memberi kapal itu nomor kehormatan “56-110”. Galangan kapal kedua, Wuchang yang berpartisipasi dalam proyek pembuatan kapal selam type 03, memulai pembangunan kapal pertamanya pada tahun 1956, dan diluncurkan pada bulan Juli 1958, dan berdinas pada bulan Desember tahun yang sama. Sebuah kapal bernomor “130” diketahui tiba-tiba tenggelam saat memasuki pabrik untuk menjalani renovasi pada 2 November 1966. Tujuh awak kapal terperangkap di dalam kabin, dan setelah 10 jam penyelamatan, semua personel berhasil diselamatkan dan kapal bisa diangkat. Kapal kelas ini sekarang telah sepenuhnya dinonaktifkan oleh China.

Kapal Selam Type 03 (Kelas Whiskey) PLAN. China dikabarkan membuat sendiri 15 unit kapal selam kelas Whiskey di galangan kapal Jiangnan dan Wuchang. (Sumber: https://www.naval-encyclopedia.com/)

Selain Soviet dan China, Angkatan Laut Indonesia tercatat sebagai salah satu pengguna terbesar dari kapal selam kelas Whiskey, dengan membeli 12 kapal selam plus 2 unit untuk persediaan suku cadang. Kapal selam-kapal selam ini utamanya didatangkan dalam mendukung aksi militer Indonesia melawan Belanda yang dianggap masih menduduki wilayah papua barat (dikenal di Indonesia sebagai Irian). Setelah melalui berbagai usaha dan lobi akhirnya pada 12 September 1959 diresmikan dua kapal selam pertama Indonesia, yakni RI Tjakra dan RI Nanggala. Dengan berjalannya waktu, kemudian terbukti bahwa bukan hanya dua Kapal Selam yang dipesan Indonesia. Sebanyak 10 kapal selam lain dari kelas yang sama juga didatangkan dari Rusia. Sebagai persiapan penerimaan kapal selam gelombang berikutnya, para awak Indonesia lalu berlatih di Vladivostok, tempat di mana terdapat pangkalan kapal selam terbesar milik Rusia di Pasifik. Gelombang kedua sebanyak 4 kapal selam datang pada Desember 1961 dan diberi nama: RI Nagabanda, RI Trisula, RI Nagarangsang, RI Tjandrasa. Menurut Buku Sejarah TNI Angkatan Laut, 1959-1965 yang diterbitkan Dinas Penerangan TNI AL pada 2001, Kesatuan Kapal Selam (KKS -15) resmi terbentuk pada 1 Juli 1962. KKS ini terdiri dari empat kapal selam dan sebuah kapal tender, AL Bengawan yang sekaligus berperan sebagai kapal markas (HQS) dipimpin oleh Kolonel (P) RP. Poernomo. Tak lama setelah diresmikan, KKS-15 bertolak dari pangkalan Surabaya, dan sejak 5 Juli 1962 sudah berada di daerah operasi Mandala, sebagai bagian dari kampanye Trikora untuk merebut Papua Barat dari Belanda. Pengendalian operasional dari tiap unsur ada di bawah Komandan KKS-15 yang berkedudukan di AL Bengawan. Komando KKS-15 secara operasional langsung di bawah Panglima Komando Armada Tugas (Komartu). Nama sandi operasi tersebut adalah operasi Cakra. Pada satu waktu di posisi dekat Putau Mapia, kapal selam RI Nagabanda diserang Destroyer musuh sebanyak 61 kali. Sementara dalam operasi yang dramatis lainnya tiga kapal selam tercatat melakukan infiltrasi di pantai utara Papua Barat, tetapi diketahui oleh kekuatan laut Belanda. Hanya RI Tjandrasa yang dinakhodai Mayor Laut Mas Mardiono, yang berhasil mendaratkan 15 anggota RPKAD di Tanah Merah pada pukul 21.45, 30 kilometer utara pelabuhan udara Sentani pada 21 Agustus 1962. Atas keberhasilan ini semua ABK RI Tjandrasa mendapat Bintang Sakti berdasarkan Keppres No.14/1963. Baru kali ini Indonesia menganugerahkan Bintang Sakti bagi seluruh anggota, biasanya bintang tertinggi ini dianugerahkan kepada perorangan atas jasa luar biasa di luar tuntutan tugas. Memang tugas awak kapal selam jauh dari publikasi dan jarang terlihat lawan maupun kawan. Bagaimanapun perang tak jadi meletus karena pada tanggal 15 Agustus 1962 Belanda mengajak gencatan senjata dengan Indonesia.

Armada kapal selam Kelas Whiskey ALRI saat sedang merapat untuk keperluan logistik di KRI Sam Ratulangi. Pada masanya Angkatan Laut Indonesia mengaktifkan 12 unit kapal selam, yang menjadikannya sebagai kolektor kapal selam terbesar di Asia Tenggara. (Sumber: http://garudamiliter.blogspot.com/)
Nama-nama kapal selam kelas Whiskey yang pernah dimiliki oleh Angkatan Laut Indonesia. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Sementara itu, sejalan dengan kampanye Trikora yang digelorakan oleh Presiden Soekarno untuk merebut Papua Barat dari tangan Belanda, satu tahun setelah kedatangan gelombang pengiriman 4 kapal selam sebelumnya (pengiriman kedua), tepatnya pada bulan Desember 1962 datang lagi enam kapal selam baru yang dipersenjatai torpedo jenis SAET-50. Torpedo fire and forget ini merupakan salah satu torpedo terbaik pada zamannya, sedangkan keenam kapal selam tambahan tersebut diberi nama : RI Widjajadanu, RI Hendradjala, RI Bramasta, RI Pasopati, RI Tjundamani, RI Alugoro. Semua nama Kapal Selam itu diambil dari nama senjata dari dunia pewayangan. Saat keenam kapal selam ini datang, konfrontasi dengan Belanda sudah mendekati akhir. Toh, selama dioperasikan Indonesia, satuan kapal selam selalu dilibatkan dalam berbagai operasi rahasia. Usai konfrontasi dengan Belanda, kapal selam RI juga ikut ambil bagian dalam konfrontasi terbentuknya persekutuan negara baru Malaysia. Pada tanggal 17 Oktober 1965, dua kapal selam, yang ada di bawah komando Kapten Pelaut Basuki (RI Nagarangsang) dan Kapten Pelaut Jasin Sudirdjo (RI Bramasta) ditugaskan berangkat ke Pakistan dalam kesiagaan tinggi. Hal ini merupakan tugas yang sangat mencekam, mengingat Indonesia baru saja dilanda tragedi G-30S. Saat itu, Pakistan dan India baru menjalani gencatan senjata setelah terlibat pertempuran berdarah selama hampir 20 hari. Baik India maupun Pakistan habis-habisan mengerahkan prajurit dan mesin perangnya dalam pertempuran di laut, di darat, juga di udara. Ditaksir, hampir 7000 prajurit India dan Pakistan tewas dalam baku tembak. Setelah Persatuan Bangsa-bangsa, Amerika Serikat dan Uni Soviet, turun tangan, baru kedua negara menarik mundur tentara dan mesin perangnya pada 23 September 1965. Kedua kapal selam dikabarkan hanya diperintahkan secara lisan untuk menuju Karachi menyusul Gugus Tugas X yang telah berada di Chitagong, Pakistan Timur, yaitu dua kapal cepat serta sejumlah prajurit KKO (kini Marinir TNI AL). Dari Surabaya dua kapal selam itu diperintahkan ke Jakarta untuk mempersiapkan perjalanan panjang. Sebelum bertolak, dua perwira Angkatan Laut Pakistan bergabung dengan mereka sebagai perwira penghubung. Mayor Yastur Malik untuk RI Nagarangsang dan Kapten M. Sultan untuk RI Bramastra. Kelak Yastur Malik menjadi pimpinan tertinggi di Angkatan Laut Pakistan, begitu juga M. Sultan memimpin Angkatan Laut Bangladesh.

RI Widjajadanu. (Sumber: http://garudamiliter.blogspot.com/)

Rupanya perjalanan ke Karachi tidak semulus yang direncanakan. Laksamana Muda (Purn) Soentoro yang saat itu bertugas di RI Nagarangsang sebagai Perwira Navigasi menuturkan dalam perjalanan 19 hari perjalanan kapal yang diawakinya mengalami berbagai kerusakan. Kerusakan paling signifikan, ujar Soentoro, terjadi pada kompresor yang digunakan untuk mengisi udara tekanan tinggi. Udara tekanan tinggi ini sangat penting untuk proses muncul ke permukaan dari posisi menyelam. “Perbaikan kompresor itu tidak berhasil, bahkan kompresor yang satu lagi ikut rusak,” ujar Soentoro, dikutip dari buku 50 Tahun Pengabdian Hiu Kencana 1959-2009. Kerusakan itu membuat RI Nagarangsang tak bisa menyelam. Padahal pelabuhan tujuan masih sangat jauh. “Kami hanya berdoa mesin diesel tidak ikut mati,” tulis Soentoro. Perjalanan akhirnya tetap dilanjutkan dengan kondisi terbatas. “Untungnya kami bertemu dengan Angkatan Laut Pakistan walau meleset puluhan mil dari titik yang sudah ditentukan.” Sesampai di Pangkalan Angkatan Laut Pakistan, RI Nagarangsang segera mendapat perbaikan. Latihan perang bersama Angkatan Laut Pakistan dimulai setelah dua kapal cepat Angkatan Laut RI ikut bergabung. Beberapa kali latihan digelar di lepas pantai Pakistan yang berbatasan langsung dengan wilayah laut India. Situasi perang India-Pakistan mereda saat kapal perang dan prajurit ALRI berada di kawasan tersebut. Bahkan akhirnya kedua negara yang bertikai itu meneken perjanjian damai di Tashkent, Uni Soviet (sekarang Uzbekistan), pada 10 Januari 1966. “Kemungkinan besar karena pengaruh kehadiran kami bisa mencegah pertikaian lebih besar,” ujar Handogo. Operasi Gugus Tugas X resmi berakhir pada Maret 1966. Sebelum meninggalkan Karachi para perwira diundang khusus Presiden Pakistan Ayub Khan ke Istana Presiden. 

KRI Cakra (401), salah satu dari 2 kapal type 209 asal Jerman yang dipilih TNI AL untuk menggantikan armada kapal selam kelas Whiskey buatan Soviet pada tahun 1980an. Jika dibandingkan, dalam hal akomodasi awaknya, kapal type 209 jauh lebih nyaman dibanding kelas Whiskey. (Sumber: https://militermeter.com/)

Sayangnya, gonjang-ganjing politik di dalam negeri memanas dengan adanya Gerakan 30 September 1965. Dampaknya, bantuan militer dari Sovyet pun terhenti, salah satu yang terdampak adalah kesiapan armada kapal selam kelas Whiskey yang dioperasikan oleh Indonesia. Kapal-kapal selam kelas ini lalu secara perlahan dipensiunkan karena kelangkaan suku cadang, dan kemudian digantikan oleh 2 unit kapal selam Type 209 dari Jerman yang diberi nama KRI Cakra dan KRI Nanggala. Dari 12 kapal selam Whiskey class yang dimiliki TNI-AL, KRI Pasopati 410 bisa disebut yang paling kondang disebut-sebut. Pasalnya, Pasopati adalah kapal selam terakhir dari kelas Whiskey yang beroperasi. Langkah kanibalisasi suku cadang terus dilakukan setelah peristiwa G30S, dan KRI Pasopati tercatat baru dinonaktifkan dari jajaran TNI-AL pada 25 Januari 1990. Di sisi lain, walau dalam sejarah pengoperasiannya kemampuan Whiskey class terbukti cukup mampu menggetarkan armada kapal Belanda, tapi seperti kebiasaan produk keluaran Rusia pada umumnya, unsur kenyamanan pada awak kurang diperhatikan. Walau bisa dipersenjatai senjata anti serangan udara dan memiliki peluncur torpedo di buritan dan haluannya, namun Whiskey class tidak dibekali fasilitas MCK (mandi, cuci, kakus). Hal inilah yang membuat derita awak kapal selam selama pengoperasiannya. Selama pelayaran para awak sangat jarang mandi, mandi lebih mengandalkan air hujan saat kapal naik ke permukaan laut. Lebih parah, banyak awak kapal selam TNI-AL dikala itu yang terserang penyakit ginjal. Pasalnya tak ada MCK, jadi para awak harus menghemat konsumsi air agar tidak sering kencing. Atau bila ingin kencing harus ditahan, tak jarang air kencing harus disimpan dulu dalam wadah plastik. Di dalam kapal juga tidak tersedia fasilitas sanitasi dan sistem penyaringan dari air laut ke air tawar. Hal ini masih ditambah tidak adanya fasilitas pendingin udara, yang baru pada masa-masa akhir pengabdiannya, Pasopati dilengkapi AC. Kondisi ini berbeda 180 derajat dengan generasi kapal selama TNI-AL type 209 buatan Jerman (KRI Cakra dan Nanggala). Meski demikian dengan segala kelebihan dan keterbatasannya, kapal selam kelas Whiskey telah banyak berjasa dalam menjaga kedaulatan Indonesia. Sementara itu, di masa sekarang setelah kapal-kapal selam kelas Whiskey dipensiunkan, diketahui terdapat 2 kapal selam kelas Whiskey yang dipertahankan untuk dimuseumkan, yakni S-189 yang ada di Saint Petersburg, Rusia dan KRI Pasopati (ex-S-290) yang dimuseumkan di Surabaya, Indonesia.

Monumen kapal selam kelas Whiskey, KRI Pasopati di kota Surabaya, Indonesia. (Sumber: https://www.surabayarollcake.com/)
Kapal selam kelas Whiskey, S-189 dipamerkan sebagai kapal museum di Saint Petersburg. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

SPESIFIKASI KAPAL SELAM KELAS WHISKEY

Tahun pembuatan:

  • 1950 – 1958 (USSR)
  • 1956 – 1960 (China)

Total kapal yang diselesaikan:

236 (215 di Uni Soviet + 21 di China)

Type: Kapal Selam Serang Diesel-electrik

Bobot:

  • Permukaan: 1,050 ton (1,030 long tons)
  • Menyelam: 1,340 ton (1,320 long tons)

Panjang: 76 m (249 ft 4 in)

Lebar: 6.3 m (20 ft 8 in) sampai 6.5 m (21 ft 4 in)

Draft: 4.55 m (14 ft 11 in)

Tenaga Penggerak:

  • Dua Mesin Diesel Elektrik:
  • 2 mesin diesel × 4,000 bhp (3,000 kW)
  • 2 mesin motor listrik × 2,700 hp (2,000 kW)
  • 2 electric creep motors × 100 hp (75 kW) untuk mode berlayar senyap

Kecepatan:

  • Permukaan: 18.25 knots (33.80 km/h)
  • Menyelam:13.1 knots (24.3 km/h)

Jangkauan:

  • Permukaan: 8,580 nmi (15,890 km) pada kecepatan 10 knot (19 km/h; 12 mph)
  • Menyelam: 335 nmi (620 km) pada kecepatan 3 knot (5.6 km/h; 3.5 mph)

Ketahanan Menyelam: 166 jam

Jumlah awak: 52

Persenjataan:

  • 6 tabung torpedo × 533 mm (21 in) (4 halauan + 2 buritan) untuk:
  • 12 × torpedo atau,
  • 22 × ranjau
  • 1 × dudukan kanon anti pesawat kaliber 25 mm (1.0 in) 
  • 2 × dudukan kanon anti pesawat kaliber 57 mm (2.2 in)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

THE WHISKEY CLASS

https://www.google.com/amp/s/weaponsandwarfare.com/2017/06/10/the-whiskey-class/amp/

Project 665/Whiskey Long-Bin

https://www.google.com/amp/s/weaponsandwarfare.com/2019/01/15/project-665-whiskey-long-bin/amp/

Whiskey class submarines by dreadnaughtz666

https://www.google.com/amp/s/www.naval-encyclopedia.com/coldwar/USSR/whiskey-class-submarines/amp/

Project 613 Whiskey class

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/613.htm

Type 003 / 6603 – Whiskey-class submarine

https://www.globalsecurity.org/military/world/china/whiskey.htm

Whiskey (class) / (Project 613) Diesel-Electric Attack Submarine

https://www.militaryfactory.com/ships/detail.asp?ship_id=Whiskey-Project-613-Attack-Submarine

Kapal Selam Whiskey Class

http://garudamiliter.blogspot.com/2012/02/kapal-selam-whiskey-class_17.html?m=1

SEKELUMIT SEJARAH KAPAL SELAM INDONESIA BY DIANEKO_LC; 2 JANUARY 2017

OPERASI RAHASIA AL DI PERAIRAN PAKISTAN BY DIANEKO_LC; 30 AUGUST 2017

KRI Pasopati 410 – Kapal Selam Pemburu Tanpa MCK oleh Haryo Adjie Nogo Seno

Mengenal kelas Krivak, kapal frigate anti kapal selam standar AL Soviet

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Whiskey-class_submarine

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_53_torpedo

Torpedo SAET-50 : Senjata Pamungkas Korps Hiu Kencana Era-60an by Haryo Adjie Nogo Seno

57 mm/78.7 (2.24″) SM-24-ZIF and ZIF-31

http://www.navweaps.com/Weapons/WNRussian_57mm-78_zif-31.php

25mm 2M-3

https://weaponsystems.net/system/474-25mm+2M-3

https://en.m.wikipedia.org/wiki/SS-N-3_Shaddock

SS-N-3 SEPAL/SSC-1a SHADDOCK

https://fas.org/nuke/guide/russia/theater/ss-n-3.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *