23 Februari 1945: Operasi Penyelamatan Tawanan Perang di Los Banos, Filipina

Sejak pendaratan Angkatan Darat Ke-6 AS di Teluk Lingayen dan Tentara Ke-8 AS di Nasugbu, Batangas pada tanggal 9 Januari 1945 dan 31 Januari 1945, untuk merebut kembali Luzon, Tentara Kekaisaran Jepang berulang kali didesak mundur dan semakin menjadi putus asa, ketika itulah nasib tawanan perang dan tahanan sipil yang masih ada di tangan Jepang menjadi perhatian utama komando tertinggi Sekutu. khususnya di Filipina, terdapat ribuan orang yang selamat dari Bataan Death March, serta warga sipil Amerika dan Eropa, ditahan oleh tentara Jepang. Pada Februari 1945, perlakuan kejam dan tidak manusiawi yang biasa dilakukan oleh tentara Jepang terhadap musuh-musuh mereka sudah banyak dikenal dunia. Jenderal Douglas MacArthur, komandan A.S. di Filipina, memerintahkan bawahannya untuk melakukan segala upaya untuk membebaskan kamp-kamp di wilayah operasi mereka secepat mungkin. Operasi penyelamatan yang berani dirancang untuk membebaskan tawanan dan mereka yang ditahan sebelum serangan utama pasukan Amerika dilakukan, karena diduga bahwa orang-orang Jepang akan membantai para tawanan mereka sebelum mereka bisa diselamatkan. Ketakutan ini bukan omong kosong – lebih dari sekali, tawanan perang dibantai oleh penjaga Jepang mereka.

Catatan perlakuan buruk tentara Jepang terhadap tawanan sekutu menjadi perhatian khusus para komandan sekutu saat mulai merebut kepulauan Filipina.

Keputusan kemudian dibuat untuk melakukan penyelamatan tawanan sekutu di Penjara Cabanatuan. Penyelamatan ini, yang sering disebut sebagai “The Great Raid”, dilaksanakan di Cabanatuan pada tanggal 30 Januari 1945 yang dilakukan oleh Batalyon Ranger ke-6. Satuan tugas Ranger, dibantu oleh gerilyawan Filipina, menembus jauh ke dalam wilayah Jepang dan, setelah merangkak lebih dari satu mil, mereka menyerang penjara Cabanatuan dan membebaskan sekitar 500 tawanan perang, membawa mereka sejauh 20 mil ke tempat yang aman. Sementara itu di dekat Manila, unsur-unsur dari satuan Kavaleri Pertama menyerang kampus Universitas Santo Tomas dan membebaskan lebih dari 3.500 warga sipil. Para tahanan yang dibebaskan ini kemudian menggambarkan berbagai perlakuan mengerikan yang mereka alami selama ditawan serta kekejaman Jepang di Bataan Death March, setelah tentara Amerika menyerah di Filipina tahun 1942. Dari kisah-kisah mereka ini meyakinkan para komandan Sekutu untuk mencoba lebih banyak melakukan operasi serupa untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang ada didalam tawanan Jepang. Salah satu targe selanjutnya dari pasukan sekutu adalah Kamp Tawanan di Los Banos.

Divisi Airborne ke-11 di Filipina

Kamp tawanan Los Banos dikelilingi oleh pagar kawat berduri dimana di dalam pondok-pondoknya terdapat tawanan dari Amerika, Inggris, Australia, Belanda, Norwegia, Polandia, Italia, dan Kanada. Selain itu terdapat sebelas perawat angkatan laut di bawah komando Kepala Perawat Laura M. Cobb (beberapa perawat militer AS yang lebih dikenal sebagai “Malaikat Bataan dan Corregidor”) dan beberapa prajurit, sebagian besar interniran adalah pengusaha sipil, guru, bankir, dan misionaris yang ditangkap oleh Jepang selama perang dan dipenjara di berbagai kamp POW di negara ini. Para interniran dipaksa untuk bertahan hidup dalam kondisi kekurangan, pakaian yang terbatas, tempat tinggal yang buruk, dan sanitasi yang nyaris tidak ada, serta perlakuan sadis para penjaga kamp. Pada awal 1945, kondisi di kamp itu berubah menjadi neraka, dengan jatah makanan yang makin terbatas dan pelecehan yang semakin meningkat, atas perintah komandan keduanya, Warrant Officer Sadaaki Konishi.

The nearly 8,000 Western civilians interned by the Japanese in the Philippines faced disease and starvation at the hands of their captors. U.S. troops began to liberate the camps in 1944. (Image source: WikiCommons)

Los Baños berada sekitar 25 mil di sebelah tenggara Manila dan dengan demikian berada di luar garis utama pasukan Amerika yang bergerak maju. Terletak di Laguna de Bay, sebuah danau air tawar besar, Los Baños dapat diakses oleh pasukan amfibi dan darat. Karena Los Baños terletak di wilayah operasi Divisi Lintas Udara ke-11, cara penyerangan ketiga juga dimungkinkan: yakni serangan pasukan payung dari udara. Divisi Lintas Udara ke-11 telah tiba di Pasifik barat daya pada pertengahan 1944. Di bawah komando Mayor Jenderal Joe Swing, divisi ini telah menjalani pelatihan di New Guinea sebelum mengambil bagian dalam invasi Leyte. Tim Tempur Resimen ke-503 dan ke-11 adalah satu-satunya pasukan payung Amerika yang berperang di Pasifik. Setelah Leyte, elemen parasut ke-11 pindah ke Mindoro, sementara pasukan glider bersiap-siap untuk pendaratan amfibi di Teluk Nasugbu.

Los Banos
Kamp Tawanan Los Banos

Pada tanggal 31 Januari Resimen Glider ke-188 mendarat di Nasugbu bersama Tentara Kedelapan. Empat hari kemudian, infantri udara dari 511th Airborne Regimental Combat Team diterjunkan ke Tagaytay Ridge. Karena kekurangan transportasi yang tersedia, Artileri Lapangan Parasut ke-475 dan unit pendukung lainnya diterjunkan pada hari berikutnya. Begitu tiba di Luzon, Airborne ke-11 mulai bergerak menuju Manila setelah elemen parasut dan glider terhubung. Pada pertengahan Februari, Airborne ke-11 terlibat dalam pertempuran di sepanjang Garis Genko, sistem pertahanan pillbox yang saling mengunci yang membentang di sepanjang sisi selatan Manila. Meskipun divisi itu sudah terlibat dalam pertempuran sengit, Jenderal Swing dan anggota stafnya sangat menyadari bahwa mereka bertanggung jawab untuk membebaskan interniran Los Baños. Masalahnya adalah bahwa mereka belum menentukan metode terbaik untuk melaksanakan misi tersebut.

Gerilya Filipina

Kelompok gerilyawan Filipina yang beroperasi di daerah itu akan memainkan peran kunci dalam pembebasan kamp Los Banos. Gerilya Pemburu-ROTC (Korps Petugas Cadangan), yang awalnya terdiri dari mantan kadet Akademi Militer Filipina, adalah salah satu kelompok yang paling aktif, bersama dengan mantan siswa ROTC dan mantan mahasiswa lainnya. Kelompok-kelompok lain termasuk Gerilya pimpinan Presiden Quezon (PQOG), Gerilyawan Tiongkok Luzon dan Hukbalahap, sebuah kelompok Marxis dengan agenda mereka sendiri untuk Filipina. Untuk mengkoordinir para gerilyawan, Mayor Angkatan Darat AS, Jay D. Vanderpool telah membentuk komando gerilya gabungan yang dikenal sebagai Komando Gerilya Umum (GGC) Luzon. GGC akan mengoordinasikan operasi penyelamatan Los Baños.

Mayor Jay D. Vanderpool
Gerilya Filipina sekutu Amerika

Di dalam kamp sendiri terdapat beberapa pertikaian yang berkaitan tentang apakah para tahanan harus melakukan upaya untuk melakukan kontak dengan tentara Amerika dan efek dari operasi penyelamatan (misal reaksi Jepang, dsb). Los Baños dipenuhi oleh warga sipil, dengan pengecualian 12 perawat Angkatan Laut AS. Namun, beberapa di antara mereka adalah pria yang memenuhi syarat usia militer, dan satu atau dua orang diantaranya telah mencoba untuk mendaftar menjadi tentara AS tak lama setelah Pearl Harbor, tetapi tidak berhasil. Pada malam 12 Februari 1945, Freddy Zervoulakas, seorang Yunani-Filipina berusia 19 tahun, menyelinap keluar dari kamp dan melakukan kontak dengan para gerilyawan. Dia dikirim kembali ke kamp dengan membawa salinan surat dari Mayor Vanderpool yang menginstruksikan gerilyawan untuk melakukan segala upaya untuk membebaskan para tahanan – tetapi komite para tawanan yang bertanggung jawab di dalam kamp memutuskan bahwa akan lebih baik bagi para tahanan untuk tidak melakukan apa-apa. Meskipun demikian, beberapa tahanan pria nekad menyelinap di bawah pagar kawat berduri pada hari-hari sebelum penyelamatan.

Rencana Penyelamatan

Pada hari Minggu, 18 Februari, Mayor Henry Burgess, komandan Batalyon penerjun payung ke-1, diperintahkan untuk menarik batalionnya dari posisi-posisi di Jalur Genko dan melanjutkan perjalanan ke Manila. Sementara batalion beristirahat, Burgess melapor ke markas Divisi Lintas Udara ke-11, yang berlokasi di Paranaque. Mayor 26 tahun itu bertemu pertama kali dengan Kolonel Douglas Quant, divisi G-3 (petugas operasi), yang memberi tahu dia bahwa unitnya akan dilibatkan dalam pembebasan 2.000 tahanan sipil dari kamp di Los Baños. Burgess menghabiskan sisa hari itu di markas besar, bertemu dengan divisi Intelejen dan Operasi dan merencanakan misi. Hari berikutnya Burgess bertemu dengan Pete Miles, seorang interniran yang melarikan diri dari kamp pada hari sebelumnya dan dibawa oleh gerilyawan ke Divisi Lintas Udara ke-11. Miles memberikan informasi tentang tata letak kamp dan jadwal para penjaga, dan perincian yang penting untuk menyelesaikan misi dengan tepat dan tanpa membahayakan para tahanan.

Foto udara Kamp Tawanan Los Banos

Sebuah rencana dengan cepat kemudian disusun, kali ini sekutu akan menggunakan pasukan terjun payung dari Resimen Infantri Parasut ke-511. Sasarannya adalah kamp POW yang dulunya merupakan kampus Universitas Filipina di Los Baños. Di sana Jepang dikabarkan menahan lebih dari 2.000 orang dari negara-negara Sekutu, yang sebagian besar adalah warga sipil yang terperangkap dalam serangan Jepang di akhir 1941. Rencana pembebasan ini akan dibagi menjadi empat fase. Fase pertama adalah mengirimkan pleton pengintaian divisi Airborne ke-11 bersama dengan gerilyawan Filipina sebagai pemandu. Sebelum serangan, mereka akan menandai zona pendaratan untuk pasukan terjun payung dan tempat pendaratan di pantai untuk pasukan dengan menggunakan kendaraan Amtrac yang akan ikut masuk. Sementara itu sisa anggota pleton akan menyerang para penjaga dan pos-pos penjaga kamp yang dikoordinasikan dengan pendaratan pasukan terjun payung.

Kendaraan Amtrac turut dilibatkan dalam operasi pembebasan

Fase kedua terdiri dari pendaratan dan penyerangan oleh pasukan terjun payung. Satuan ini berasal dari Kompi B, Batalyon 1, Resimen Infantri Parasut ke-511 bersama dengan peleton senapan mesin ringan dari kompi markas besar batalion. Mereka dipimpin oleh Letnan Satu John Ringler. Bersamaan dengan pendaratan pasukan terjun payung, gerilyawan Filipina dari Resimen ROTC Pemburu ke-45 akan menyerang kamp penjara itu sendiri. Bersama-sama kedua kelompok ini akan melenyapkan tentara Jepang yang ada di dalam kamp dan orang-orang Amerika akan mengumpulkan para tawanan untuk diangkut keluar dari kamp.

Letnan Satu John Ringler

Fase ketiga dari operasi akan membawa sisa anggota dari Batalion-1 PIR ke-511 pimpinan Mayor Burgess melintasi Laguna de Bay dengan menggunakan Amtracs. Kendaraan ini kemudian akan digunakan untuk mengangkut para tahanan ke tempat yang aman. Akhirnya, elemen Lintas Udara ke-11 lainnya, Resimen Infantri Glider ke-188, akan melakukan serangan pengalihan di sepanjang jalan raya menuju kamp. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian tentara Jepang sehingga memungkinkan pasukan terjun payung untuk melarikan diri dengan para tahanan. Semua ini akan dilakukan dalam waktu nyaris secara bersamaan, sehingga diperlukan koordinasi antar pasukan yang sangat luar biasa.

Pasukan Payung dari 11th Airborne sedang mempersiapkan diri jelang Operasi Pembebasan di Los Banos

Salah satu faktor unik dalam misi Los Baños adalah bahwa perencanaan untuk serangan itu sendiri umumnya diserahkan kepada orang-orang yang akan melakukan pekerjaan itu. Ringler secara pribadi merencanakan fase udara misi, ia sengaja memilih ketinggian 500-kaki untuk terjun alih-alih 700-1.000 kaki biasa, sehingga prajuritnya akan melayang di udara dalam waktu yang singkat, seperti diketahui, posisi melayang adalah posisi paling riskan pada operasi terjun tempur. Ringler juga menentukan bahwa formasi terjun harus merupakan formasi tiga “V” berurutan dari tiga pesawat masing-masing formasi karena zona pendaratan yang kecil. Sembilan pesawat angkut Douglas C-47 dari Skuadron Pengangkut Pasukan ke-65 dari Grup Pengangkut Pasukan ke-54 dipilih untuk menerjunkan pasukan payung.

9 Pesawat C-47 dipilih untuk mengangkut pasukan payung.

Peleton pengintaian divisi di bawah pimpinan Letnan George Skau memainkan peran utama dalam operasi Los Baños. Peleton Skau yang terdiri dari 31-orang akan bertanggung jawab untuk menyusup ke daerah sekitar kamp sebelum penyerbuan dan bergabung dengan gerilyawan, kemudian mengintegrasikan pasukan lokal ke dalam upaya penyelamatan. Para prajurit peleton itu biasanya terdiri dari jenis ‘orang luar yang suka kegiatan di alam bebas’, seperti hiking, berkemah dan berburu sehingga cocok untuk misi penyusupan jauh di belakang garis musuh. Misi ditetapkan untuk dimulai pada jam 7 pagi pada 23 Februari 1945. Yang pertama kali berangkat adalah orang-orang dari peleton pengintai divisi pimpinan Letnan Skai, yang berangkat pada malam hari 21 Februari, 36 jam sebelum operasi dimulai.

Operasi Penyelamatan

Peleton pengintai Letnan Skau dengan menggunakan truk menuju ke barrio Wulilyos, di mana mereka bertemu dengan para pemandu Filipina dan kru dari tiga bancas (kapal layar yang biasanya digunakan untuk memancing dan berdagang di perairan pantai Filipina). Banca pertama berangkat pada jam 20.00 dengan Skau dan grup markasnya. Banca kedua yang lebih besar berlayar 15 menit kemudian. Yang ketiga dimaksudkan untuk berlayar tepat di belakang dengan membawa sebagian besar pasokan dan personel peleton, tetapi kapten kapal Filipina menemukan bahwa kemudi kapal rusak. Perbaikannya membutuhkan waktu dua jam. Perjalanan melintasi Laguna de Bay direncanakan memakan waktu dua atau tiga jam. Tetapi baru dini hari, banca pertama akhirnya menyentuh pantai dekat Los Baños setelah melewati perjalanan delapan jam karena angin sepoi-sepoi yang gagal memacu layar. Salah satu bancas masih berada di tengah danau saat fajar dan hanya bergerak sedikit. Awak kapal Filipina menghabiskan sisa hari itu mencoba setiap trik dalam buku untuk memungkinkan kapal yang sarat muatan bisa sampai ke tujuannya, tetapi hingga menjelang malam banca itu berhasil mencapai pantai. Sementara itu Para penerjun payung dari peleton pengintaian ini telah menghabiskan sebagian besar hari berjongkok dengan tidak nyaman di bawah kapal untuk menghindari agar tidak terlihat oleh kapal-kapal patroli Jepang yang masih menguasai perairan.

Setelah mencapai pantai dengan hanya sebagian dari pasukannya, Skau mulai membuat rencana untuk melaksanakan misinya dengan pasukan kecil yang telah mendarat bersamanya. Sementara orang-orangnya beristirahat, Skau bertemu dengan para pemimpin gerilyawan dan dua orang interniran yang melarikan diri di sebuah sekolah di barrio Nanhaya. Ben Edwards, salah seorang mantan tahanan, membuat sketsa tata letak kamp di papan tulis sekolah untuk para penerjun payung. Dengan asumsi bahwa banca terakhir akan tiba tepat waktu untuk penyelamatan, Skau membagi kelompoknya menjadi enam tim dan menugaskan delapan hingga 12 gerilyawan untuk masing-masing tim. Edwards dan interniran lainnya, Freddy Zervoulakos, masing-masing menemani salah satu tim. Larut malam itu, banca ketiga akhirnya mencapai pantai. Tak lama setelah tengah malam, tim peleton pengintaian mulai bergerak keluar dari titik pertemuan mereka di gedung sekolah untuk posisi serangan mereka.

Rute C-47 dan Amtrac menuju Los Banos tanggal 23 Februari 1945

Pada pagi hari tanggal 23 jam 0400, anggota Batalion-1, kecuali Kompi B naik ke 54 Amtrac dari Batalyon Traktor Amphibi ke-672 dan berangkat melintasi teluk menuju pantai pendaratan mereka di Laguna de Bay dari Mamatid. Mesin Amtrac yang berisik memberi tahu bahwa pasukan penyerang sedang dalam perjalanan. Dalam kegelapan pekat sebelum fajar dan tidak adanya landmark memaksa pengemudi Amtrac untuk bernavigasi hanya dengan menggunakan kompas. Pada 0530 di Landasan Udara Nichol di luar Manila orang-orang dari Kompi B naik ke 9 pesawat C-47 untuk penerbangan singkat ke Los Baños. Setengah jam kemudian, para pilot menyalakan mesin mereka. Setelah lepas landas, masing-masing pesawat mengorbit di atas lapangan sampai kesembilannya mengudara dan bergabung dengan formasi. Pada 0640 mereka telah berada di udara kebarah Tenggara Laguna de Bay menuju ke Los Banos. Lima belas menit kemudian, para pilot memberi tanda peringatan enam menit dengan menyalakan lampu lompat berwarna merah di kompartemen kargo pesawat mereka. Pada pukul 07.00 pagi tanggal 23 Februari 1945, serangan terkoordinasi atas kamp penjara di Los Baños dimulai. Letnan John Ringler adalah orang pertama yang keluar dari pintu C-47 yang memimpin di depan dari ketinggian 500 kaki (sekitar 150 meter). Setelah menandai zona penerjunan, peleton pengintai dan gerilyawan yang menyertainya, melihat pesawat-pesawat angkut pasukan mulai mendekat.

Calon bintang film Filipina Mario Montenegro menjadi anggota gerilya Filipina selama perang yang turut serta dalam operasi pembebasan tawanan di Los Banos.
Lukisan gerilya Filipina menaklukkan penjaga Jepang dengan pisau “Bolo” bertepatan dengan datangnya pesawat pembawa pasukan payung.

Menurut rencana peleton pengintai akan menyerang posisi penjaga dan pertahanan Jepang lainnya ketika pasukan payung itu masih melayang di udara, tetapi hanya dua dari lima tim yang berada di posisi pada jam-H. Saat melihat pesawat mulai menerjunkan pasukan di Los Baños, tiga tim lainnya segera meninggalkan persembunyiannya dan bergegas menuju kamp. Namun demikian, serangan itu kurang lebih seperti yang direncanakan. Banyak diantara tentara Jepang dengan cepat dilumpuhkan. Pada saat yang sama, 75 personel Resimen ROTC Pemburu ke-45 dari gerilyawan Filipina menyerang tiga sisi kamp. Di antara anggota gerilyawan Hunters-ROTC yang berpartisipasi dalam serangan itu adalah calon bintang film Filipina masa depan Mario Montenegro, yang saat itu baru berusia enam belas tahun. Saat ini terjadi pada pukul 07.15, pasukan terjun payung berkumpul di zona pendaratan dan satuan pemimpinnya segera bergegas menerobos perimeter terluar kamp. Serangan itu berlangsung tepat waktu, bertepatan dengan tidak hanya waktu pergantian penjaga, tetapi juga bertepatan dengan formasi pagi untuk tahanan dan tentara Jepang. Banyak tentara Jepang terperangkap di tempat terbuka, tidak bersenjata, karena sedang bersiap untuk melakukan latihan fisik pagi hari. Mereka ditumpas habis oleh tembakan pasukan penyerang. Beberapa orang Jepang mampu membangun pertahanan tetapi banyak yang melarikan diri di hadapan orang Amerika dan Filipina yang menyerang. Di antara yang terakhir ini adalah Warant Officer Sadaaki Konishi, perwira kejam yang merupakan orang kedua yang memerintah di kamp. Karena kebijakan Konishi untuk menahan makanan bagi para tawanan, para penerjun payung menemukan gerombolan interniran yang kelaparan, banyak di antara mereka yang beratnya cuma 100 pon.

Operasi Pembebasan Tawanan di Los Banos 23 Februari 1945.

Pada saat Batalion ke-1 tiba di kamp dengan Amtrac mereka, pertempuran sudah berakhir. Dalam waktu yang sangat singkat pasukan penyerbu telah menguasai dan mengamankan penjara. Di jalan raya, GIR ke-188 mampu membuat kemajuan bagus melawan tentara Jepang dan telah berhasil membangun posisi pemblokiran pada pagi hari. Rencana evakuasi yang semula adalah satuan tugas yang terdiri dari orang-orang dari Resimen Glider ke-188 di bawah Kolonel Robert Soule akan bertempur di jalan National Highway 1 menuju ke Los Baños, kemudian mengevakuasi para tahanan melalui darat ke Manila. Batalion amtrac hanya untuk mengirim sebagian besar batalion penerjun payung Mayor Burgess, lalu kembali ke Mamatid dengan kosong sementara para penyelamat kembali bersama para interniran. Namun, setelah satu jam di kamp, Burgess memutuskan dari suara tembakan bahwa gugus tugas Soule masih setidaknya tiga jam jauhnya dari Los Baños. Pada saat yang sama, ia sadar betul bahwa sekitar 10.000 Jepang dari Divisi “Tiger” ke-8, yang dipimpin oleh Letjen Shizuo Yokoyama Jepang, berada dalam jarak serang dari lokasinya.

Kolonel Robert H Soule (kanan)

Sementara itu karena perlakuan keras mereka, banyak tahanan yang kekurangan gizi dan sangat lemah sehingga mereka harus segera dievakuasi. Pada menit terakhir rencana kemudian diubah – Burgess memutuskan untuk tidak menunggu gugus tugas dari resimen glider. Para interniran akan dievakuasi dengan amtrac (setiap Amtrac bisa mengangkut 30 orang), dan pasukan terjun payung akan kembali ke Manila bersama gugus tugas Soule. Burgess mengarahkan komandan amtrac, Letnan Kolonel Joe Gibbs, untuk memerintahkan orang-orangnya memuat kendaraan mereka dengan orang-orang interniran, kemudian mengevakuasi mereka semua ke Mamatid sampai para interniran dan anggota-anggota tim penyerbu semuanya dapat dibawa ke tempat yang aman.

Deretan Amtrac menunggu para tawanan.

Mengorganisir para tahanan yang dibebaskan, yang kebanyakan terpencar-pencar di kamp dengan sedikit ketertiban, adalah masalah besar; para interniran sangat gembira karena diselamatkan, tetapi hampir tidak berminat untuk bisa diatur. Mayor Burgess mengamati bahwa para tahanan tampak menghindar saat api mulai membakar beberapa barak selama penyerbuan, jadi dia memerintahkan orang-orangnya untuk membakar kamp dengan cara sedemikian rupa sehingga api akan mendorong para tahanan bergerak ke arah gerbang utama, tempat amtrac menunggu. Pada 0900, dua jam setelah dimulainya serangan itu, beberapa perintah mulai diberikan di antara para interniran. Mereka yang bisa sudah mulai berjalan dua mil ke pantai, sementara mereka yang tidak bisa berjalan dimuat di atas amtrac. Ketika para interniran keluar dari kamp, Mayor Burgess dan pasukannya memulai pencarian sistematis untuk memastikan bahwa semua interniran tidak ada yang masih tertinggal di kamp.

Amtrac mengangkut para tawanan melintasi Laguna De Bay.

Karena banyak gerilyawan Filipina menghilang ke hutan setelah penyerbuan, banyak orang Amerika yang dibebaskan di Los Baños tidak pernah tahu sejauh mana pasukan Filipina itu berkontribusi pada pembebasan mereka. Pada pertengahan hari, satuan tugas Soule telah maju mengatasi perlawanan musuh ke titik di luar Los Baños. Pada saat itu evakuasi oleh amtrac telah berjalan cukup baik, karena para perwira dari gugus tugas dapat melihat dari kegiatan evakuasi yang berlangsung di danau. Kolonel Soule memilih untuk menghentikan gerakannya di Sungai San Juan dan untuk mempertahankan posisinya seandainya pasukan terjun payung harus menarik diri melalui darat seperti yang direncanakan.

Pasukan payung sang pembebas.

Dari Los Baños, para interniran melanjutkan perjalanan ke desa San Antonio, di mana barisan terdepan tiba sekitar pukul 10.00. Dari sana, amtrac, yang penuh diisi dengan para tawanan, dibentuk menjadi tiga kolom dan meluncur ke perairan danau untuk menjalani perjalanan dua jam ke Mamatid. Saat berada di danau, beberapa amtrak mendapat tembakan tentara Jepang yang ada di pinggir pantai. Hanya sedikit kerusakan yang terjadi, walaupun satu buah amtrac harus menurunkan muatan dan ditarik ke pantai oleh kapal lain. Menjelang siang sisa interniran dan barisan belakang Batalion ke-1 telah tiba di San Antonio. Sementara itu Burgess masih belum juga melakukan kontak dengan Soule, dan juga dengan markas Divisi ke-11. Pada dasarnya, dia sendirian. Sekitar waktu itu Jenderal Swing terbang di atas pantai dengan pesawat pengintai ringan. Setelah Burgess memberi tahu sang jenderal melalui radio bahwa serangan itu berhasil dan bahwa ia berencana untuk mengevakuasi sisanya dan orang-orangnya sendiri dengan amtrac yang sedang dalam perjalanan kembali ke San Antonio, mayor muda itu terperangah dengan jawaban komandannya. : “Mungkinkah dia membebaskan seluruh kota Los Baños, lalu pindah ke barat untuk bergabung dengan yang satuan ke-188 dan mempertahankan wilayah yang telah mereka kuasai?”

Evakuasi para tawanan.

Burgess sadar bahwa ia dan pasukannya ada di tengah-tengah wilayah perang, dengan kekuatan pasukan untuk tujuan terbatas, melakukan penyerbuan singkat, sementara pasukan musuh yang kuat masih ada di sekitar mereka. Dia tidak menjawab permintaan sang jenderal, tetapi setelah dengan hati-hati mempertimbangkan situasinya, dia hanya mematikan radionya dan pura-pura tidak tahu bahwa dia telah menerima pesan itu. Pada pukul 15.00 amtrac terakhir berangkat dari San Antonio dengan muatan terakhir para interniran dan pasukan penyerbu. Di Mamatid para interniran pindah ke bekas penjara Bilibid Baru, tempat mereka bersiap untuk perjalanan pulang ke rumah mereka di Amerika Serikat dan tempat lainnya. Ketika hari berakhir sebanyak 2.147 tahanan telah berhasil dibebaskan dari kamp penjara Los Baños.

Akhir kisah

Korban diantara orang-orang Amerika dan Filipina hanya sedikit. Di pihak Amerika 3 gugur dan 2 luka-luka, sementara di pihak Filipina 2 gugur dan 4 luka-luka. Di pihak Jepang setidaknya 70-80 prajurit tewas. Di antara mereka yang dievakuasi adalah Frank Buckles, seorang veteran Perang Dunia I, yang kemudian akan menjadi veteran terakhir yang masih hidup dari perang tersebut (Buckle wafat pada usia 110 tahun pada tahun 2011). “Saya ragu bahwa akan ada unit pasukan payung di dunia akan dapat menyaingi kesuksesan serangan penjara Los Baños,” kata Jenderal Colin Powell. “Operasi ini adalah operasi udara yang tepat untuk menjadi text book untuk segala usia dan semua jenis pasukan.”

Frank Buckes, veteran PD I survivor kamp tawanan Los Banos

Sementara pembebasan para tahanan di Los Baños berlangsung nyaris tanpa hambatan, ada catatan gelap dalam cerita kesuksesan tersebut. Setelah pasukan terjun payung Divisi Lintas Udara ke-11 meninggalkan daerah itu, tentara Jepang kembali masuk. Ironisnya, orang Amerika pertama yang masuk kembali ke sekitar Los Baños adalah pasukan terjun payung yang sama yang telah membebaskan kamp hanya beberapa hari sebelumnya. Apa yang mereka temukan di barrios di sekitar kamp kali ini sangat memuakkan dan menyedihkan. Seluruh keluarga di wilayah itu telah diikat ke tiang-tiang yang menopang rumah mereka, kemudian tempat tinggal mereka dibakar, runtuh menimpa bekas penghuni mereka yang tak berdaya. Burgess memperkirakan bahwa sekitar lebih dari 1.500 orang Filipina telah dibunuh dengan kejam, jelas hal ini merupakan bagian dari pembalasan atas penyelamatan para tahanan.

Sadaaki Konishi, komandan kejam Kamp Tawanan Los Banos, dieksekusi sebagai penjahat perang setelah perang berakhir.

Ada beberapa pertanyaan mengenai identitas mereka yang melakukan pembunuhan. Tentara Jepang di daerah itu diperkuat oleh unit-unit Filipina pro-Jepang yang dikomandoi oleh perwira dan NCO Jepang. Banyak warga desa di wilayah tersebut adalah penduduk ‘Makapili’ yang pro-Jepang yang sekaligus juga berselisih dengan warga Filipina lainnya yang lebih suka kembali ke kontrol Amerika. Salah satu tentara Jepang yang kemudian diidentifikasi berperan dalam aksi pembalasan di daerah tersebut – termasuk pembunuhan keluarga Amerika yang tinggal di dekat Los Baños namun belum diinternir – adalah Warrant Officer Sadaaki Konishi, komandan kedua yang sadis di kamp Los Baños. Setelah perang, Konishi bersama-sama beberapa orang Filipina lainnya, diadili karena kejahatannya, dan kemudian dieksekusi sebagai penjahat perang.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

The day we saved 2,147 POWs from Los Baños Prison by James Elphick; 24 January 2017

https://www.wearethemighty.com/articles/the-day-we-saved-2147-pows-from-los-banos-prison/amp

WORLD WAR II: LIBERATING LOS BAÑOS INTERNMENT CAMP

https://www.historynet.com/world-war-ii-liberating-los-banos-internment-camp.htm

Raid on Los Baños – The WW2 Prison Camp Rescue That History Forgot

https://militaryhistorynow.com/2015/04/08/raid-on-los-banos-the-ww2-prison-camp-rescue-that-history-forgot/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Raid_on_Los_Ba%C3%B1os

4 thoughts on “23 Februari 1945: Operasi Penyelamatan Tawanan Perang di Los Banos, Filipina

  • 6 April 2020 at 12:04 am
    Permalink

    Enjoyed reading the content above, really explains everything in detail, the article is extremely interesting and effective.
    Thank you and good luck in the upcoming articles.

    King regards,
    Mead Cannon

    Reply
    • 6 April 2020 at 11:48 pm
      Permalink

      Tks, you’re welcome

      Reply
    • 14 October 2020 at 9:25 pm
      Permalink

      Tks, I really appreciate if you can share this blog to the others

      Best Regard,
      Victor Sanjaya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *