Perang Timur Tengah

“Predator Udara” Di Kawasan Timur Tengah: Catatan Impresif F-4 Phantom Israel dan Iran (1968-Sekarang)

Tidak diragukan lagi, F-4 Phantom adalah pesawat tempur terhebat di tahun 1960an dan akan tercatat sebagai salah satu pesawat tempur terbaik sepanjang masa. Pesawat tempur Phantom II awalnya didesain sebagai pesawat pencegat segala cuaca yang berpangkalan di kapal induk bagi Angkatan Laut dan Korps Marinir Amerika. Masuk dalam dinas operasional lewat seri F-4B di bulan Juni 1961, dalam waktu singkat pesawat ini mencatat berbagai rekor dunia yang kemudian menjadi headline berita di mana-mana. Tidak hanya sekedar itu, kemudian menjadi jelas bahwa pesawat ini bisa menjalankan berbagai tugas yang diembannya. Evaluasi yang dilakukan oleh AU Amerika pada tahun 1961 mengkonfirmasikan bahwa dalam berbagai aspek, F-4B versi dasar telah mengalahkan performa berbagai pesawat tempur, pesawat pencegat segala cuaca, dan pesawat serang yang dimiliki oleh AU Amerika saat itu, oleh karenanya tidaklah mengherankan jika pihak AU kemudian ‘mengekor’ untuk memesan Phantom versi mereka sendiri. Sementara itu, dengan segala performanya, maka tidak heran juga jika Phantom menjadi idaman bagi berbagai Angkatan Udara di dunia, meskipun tidak semuanya bisa mendapat keistimewaan dalam mengoperasikannya. Beberapa negara yang tergolong “beruntung” bisa memiliki pesawat Phantom adalah Israel dan Iran. Berikut adalah kisah mereka dalam mengoperasikan pesawat-pesawat Phantom yang legendaris ini.

F-4 Phantom Angkatan Udara Iran lepas landas. Iran bersama dengan Israel adalah dua negara Timur Tengah yang “beruntung” bisa mengoperasikan pesawat Phantom sedari akhir tahun 1960an. Bersama AU kedua negara, pesawat Phantom menjadi tulang punggung armada udara bangsa di saat-saat yang kritis. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

LATAR BELAKANG PHANTOM DI TIMUR TENGAH

Bagi Israel, pesawat ini adalah keajaiban teknis. Bagi Shah Iran, ia adalah sarana untuk mendominasi Teluk Persia. Ketika McDonnell Douglas F-4 Phantom mencapai Tel Aviv pada tahun 1969, pesawat tempur ini telah menandai perubahan dramatis – pertama kalinya bagi negara Israel, yang (saat itu) bukan sekutu formal, namun bisa menerima perangkat keras militer canggih dari Amerika Serikat. Ketika Phantom mencapai Iran, kehadiran pesawat itu masih merupakan sebuah pengadaan militer berkelas, seperti laksana kaviar bangsa Persia yang terkenal. Bagi dua negara Timur Tengah, yang tidak berjauhan namun sama sekali berbeda, F-4 Phantom adalah pesawat tempur terbesar, tercepat, terkuat, dan termahal yang pernah dibuat dan digunakan oleh mereka hingga saat itu. Pesawat ini, secara sederhana, menjadi standar ukuran kehebatan bagi pesawat tempur lainnya yang dibuat kemudian hingga akhir abad ke-20. Uniknya, dari sisi penampakan F-4 Phantom sebenarnya terlalu menarik. Pada kenyataannya, Phantom memiliki sayap yang bengkok, dengan bagian ekor horizontal yang mengarah ke bawah tajam, dan hidung yang runcing dengan badan pesawat yang membesar secara tiba-tiba untuk menampung dua mesin General Electric J79 yang kuat. Mesin turbojet itu menghasilkan daya dorong sebesar 17.000 pon (8.120 kilogram) dengan afterburning. Untuk digunakan oleh awak udara dalam suatu pekerjaan yang biasanya dipandang biasa dilakukan oleh pesawat tempur dengan pilot tunggal, Phantom justru memiliki dua kursi untuk dua orang awaknya. Di Vietnam Utara, orang-orang Amerika telah mengetahui bahwa memiliki dua orang awak di atas pesawat akan memberikan sepasang mata dan telinga tambahan. Keuntungan yang kedua, awak kedua memberikan kesempatan untuk bisa melihat lawan terlebih dahulu—walaupun pada tahun 1969 dua pilot digantikan oleh tim yang terdiri dari seorang pilot dan seorang operator radar. Dan dua mesin berarti pesawat memiliki kekuatan berlebih dan prospek yang lebih besar untuk bisa bertahan ketika terkena tembakan.

Sebuah pesawat tempur McDonnell F-4B-21-MC Phantom II (BuNo 152218) Angkatan Laut AS dari Fighter Squadron VF-21 “Free Lancers” terbang di atas Vietnam. Tidak diragukan lagi bahwa F-4 Phantom adalah pesawat tempur tercanggih di era 1960an. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Kanon M61A1 Vulcan ‘GatIing’ kaliber 20mm yang ditambahkan kemudian di bagian bawah hidung F-4E Phantom. Pengalaman di Vietnam menunjukkan bahwa kanon masih krusial digunakan dalam pertempuran udara jarak dekat. (Sumber: http://maybach300c.blogspot.com/)

Dalam perjumpaannya dengan pesawat-pesawat MiG di atas udara Hanoi-Vietnam, orang-orang Amerika telah belajar dari pelajaran paling pahit yang mereka alami. Phantom telah dirancang tanpa dilengkapi dengan kanon karena pihak Pentagon merasa sudah tibanya era rudal dan kanon tidak lagi dibutuhkan. Ini adalah kesalahan besar dan belakangan kanon M61A1 Vulcan ‘GatIing’ kaliber 20mm ditambahkan digantung di bawah hidung seri F-4E Phantom. Modifikasi tampak jelas seperti ditambahkan kemudian, dimana laras kanonnya menyembul dari kontur hidungnya yang tidak terlalu ramping. Pelajaran lain yang didapat di Vietnam adalah: Phantom membawa memang empat rudal berpemandu radar Sparrow di peluncur yang tersembunyi di bawah badan pesawat, dan dapat menggunakannya dalam pertempuran langsung di luar jangkauan visual—kemampuan yang tidak dimiliki pesawat-pesawat MiG Vietnam Utara—tetapi di Vietnam, aturannya, adalah bahwa ‘Anda harus bisa melihat dan mengidentifikasi pesawat musuh sebelum Anda bisa menembak’. Sparrow itu secara teoritis bisa digunakan untuk menembak sasaran hingga sejauh 15 mil (24 km) atau lebih, meski keuntungan ini tidak banyak digunakan di Vietnam; sebaliknya rudal AIM-4D Falcon yang dipandu radar (diperkenalkan dengan Phantom seri F-4D) bisa dibilang tidak berguna, dan pilot ace Kolonel Robin Olds bahkan melarang anak buahnya untuk menggunakannya. Pada jarak yang lebih dekat, rudal pencari panas inframerah Phantom adalah rudal Sidewinder, yang lebih bisa diandalkan. Sidewinder kemudian akan menjadi rudal udara-ke-udara paling penting pada masa itu. 

PERANG ATRISI 1967-1970 & MASA JEDA PERANG

Setelah Perang Enam Hari tahun 1967, Pasukan Pertahanan/Angkatan Udara Israel (IDF/AF), atau Tsvah Haganah Le Israel/Heyl Ha’Avir, membutuhkan sebuah pesawat tempur garis depan baru. Pada bulan Januari 1968, Amerika Serikat telah menyelesaikan pengiriman 48 pesawat A-4 Skyhawk yang dijanjikan sebelum perang, dan Presiden Johnson menawarkan 20 pesawat lagi kepada Perdana Menteri Eshkol. Tetapi tekanan mulai digalang untuk memasok Tel Aviv dengan pesawat tempur yang lebih baru. Sebelumnya, segera setelah produksi F-4E tersedia pada tahun 1967, AU Israel yang setelah melakukan evaluasi secara mendalam, meminta ijin untuk bisa membelinya. Awalnya Amerika menolak permintaan Israel, namun menjelang akhir masa Jabatannya, Presiden Johnson berubah sikap. Meskipun rencana penjualan Phantom oleh Presiden Johnson mendapat tentangan, namun ia memulai negosiasi pada tanggal 9 Oktober 1968, setelah kandidat presiden Richard M. Nixon turut mendukung kebijakan ini. Di samping itu, Presiden Johnson juga melihat meningkatnya pengaruh Soviet di Mesir dan Syria saat itu, sehingga dia membutuhkan Israel sebagai penyeimbang kawasan. Penjualan Phantom ke Israel sempat menjadi isu penting selama kampanye Pemilihan Presiden Amerika tahun 1968. Dukungan dari Senator Robert Kennedy (adik Presiden John F Kennedy) atas penjualan Phantom ke Israel mungkin juga telah menjadi faktor dalam pembunuhannya oleh seorang militan Palestina pada 5 Juni 1968. Pada tanggal 27 Desember 1968, setelah Nixon terpilih tetapi sebelum dia menjabat, pengumuman telah dibuat tentang penjualan 50 pesawat Phantom ke Israel yang akan dikirimkan mulai tahun 1969 dengan biaya sekitar $200 juta. Batch pertama ini akan dikirim bersama dengan tipe khusus model RF-4E, yang tidak lain adalah sebuah versi RF-4C dengan mesin dan ekor F-4E serta berbagai perbaikan pada sistemnya. Pada tahun itu juga, para awak pesawat dan kru perawatan Israel menjalani pelatihan di Amerika, dan Phantom (yang dinamai secara lokal sebagai “Kurnass” atau palu yang berat) Israel mulai tiba pada tanggal 5 September 1969 dengan diterima oleh PM Golda Meir dan Menhan Moshe Dayan.

F-4 Phantom Israel. Pada tanggal 5 September 1969, pesawat Phantom pertama mulai diterima oleh AU Israel. (Sumber: https://izwest.livejournal.com/)
Sistem rudal SAM SA-2 Guideline Mesir pada tahun 1967. Tidak butuh waktu lama, pesawat-pesawat Phantom Israel langsung dikerahkan untuk menyerang situs rudal SAM Mesir pada tanggal 22 Oktober 1969, sekitar 1,5 bulan setelah pesawat itu diterima oleh AU Israel. (Sumber: https://izwest.livejournal.com/)

Phantom Israel mulai digunakan untuk bertempur pada tanggal 22 Oktober 1969 untuk melawan situs SAM (rudal permukaan-ke-udara) SA-2 Guideline dan instalasi radar buatan Soviet di Abu Sueir, Mesir. Dalam misi itu masing-masing Phantom yang terdiri dari tim 2 pesawat membawa 11 bom. Mereka melintasi kanal Suez di utara Kuneitra dan menurut salah satu pilot, “kami terbang dengan kecepatan 1000 km/jam, kemudian membelok ke selatan dan menanjak ke ketinggian 6096 meter. Kami menghantam sasaran dengan baik, dan kami dapat melihat banyak asap mengepul dari target”. Perang atrisi (1967-1970) kemudian akan berkembang menjadi tempat di mana kekuatan udara dapat membantu Israel mengimbangi inferioritas mereka dalam hal senjata artileri di sepanjang Terusan Suez. Untuk memperbaiki ‘ketertinggalan dalam senjata artileri’, pesawat-pesawat Skyhawk dan Phantom Israel dikirim untuk membungkam situs-situs rudal, senjata antipesawat dan baterai artileri Mesir. Untuk negara yang terkepung, yang sangat bangga dengan kekuatan udaranya yang berani dan tidak kenal gentar, kedatangan F-4E Phantom yang wujudnya lebih besar dari pesawat tempur milik mereka sebelumnya dan masing-masing berharga $ 4.5 juta (Menjadikannya sebagai pesawat tempur yang termahal mereka), kehadiran Phantom dinilai sudah tepat. Pembelian Phantom, menurut mantan kepala staf intelijen militer Israel, Mayor Jenderal Chaim Herzog, “bisa jadi adalah satu langkah paling penting di masa jeda perang”. Berdasar catatan, sebuah F-4E dapat membawa jumlah bom yang sama dibawa oleh 8 pesawat Mirage dan Mystere. Di tangan kru Israel yang agresif dan bersemangat, pesawat-pesawat Phantom mengguncang para pemimpin Mesir yang menyaksikan jaringan pertahanan udara mereka dihancurkan secara sistematis dalam serangan di ketinggian rendah. Sementara pesawat-pesawat F-4E lainnya menyerang target jauh di dalam wilayah Mesir. Dalam waktu 5 tahun kedepan, pesawat-pesawat Phantom Israel dioperasikan utamanya untuk misi serang, untuk menghancurkan target-target paling berat dan dipertahankan dengan baik, dimana perlawanan pesawat tempur musuh diperkirakan akan kuat. Pada saat yang sama, tingginya biaya operasional F-4E telah menyebabkan Phantom hanya digunakan pada misi-misi terpilih, dan penggunaannya lebih jarang dibanding pesawat-pesawat A-4 yang lebih murah. Untuk misi udara ke udara melawan pesawat-pesawat MiG-21, pesawat Mirage IIICJ lebih dipilih. Phantom hanya akan digunakan jika radar dan rudal udara ke udara jarak jauhnya dibutuhkan.

2 Pesawat Phantom Israel terbang rendah. Karena tingginya biaya operasional pesawat-pesawat Phantom, AU Israel cukup selektif dalam menggunakannya, dan hanya digunakan ketika radar dan rudal udara ke udara jarak jauhnya dibutuhkan. (Sumber: http://www.geocities.ws/)

Sementara itu, pada pagi hari tanggal 4 November 1969, pesawat-pesawat Phantom Israel membangunkan warga Kairo dengan sonic boom yang memecahkan kaca-kaca, dan pada tanggal 11 bulan itu, Phantom Israel membukukan kemenangan udara pertamanya. Saat itu sebuah MiG-21 Mesir ditembak jatuh diatas Jebel Ataka oleh sebuah rudal yang dilepaskan pesawat Phantom. Di hari yang sama 2 MiG Mesir lainnya ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat tempur Mirage Israel. Tak lama setelah itu pada tanggal 9 Desember 1969, F-4 Israel pertama dijatuhkan oleh seorang pilot Mesir, Letnan Satu Ahmad Atef, yang menerbangkan MiG-21 F-13. Dalam penugasannya, F-4 Phantom Israel dapat membawa baik rudal udara ke udara inframerah AIM-9 Sidewinder maupun rudal yang punya jarak lebih jauh dan dipandu radar AIM-7 Sparrow. Sparrow dapat digunakan pada malam hari dan dapat menghantam sasaran saat berhadap-hadapan atau dari sisi, namun prosedur penembakannya yang rumit telah mengurangi efektifitasnya dalam pola pertempuran udara jarak dekat di Timur Tengah saat itu. Di sini kanon dan rudal bertindak saling melengkapi. Kanon diketahui efektif pada jarak 0 sampai 1.2 km, sementara rudak efektif dari jarak 0.762 meter sampai 8 km. Pada akhir tahun 1969, secara resmi Israel sudah mengoperasikan satu skuadron pesawat Phantom dan sedang dalam proses mempersiapkan skuadron kedua. Bersama dengan pengiriman pesawat-pesawat Phantom, Amerika juga mengirimkan sejumlah kecil peralatan elektronik countermeasures canggih, termasuk perangkat peringatan deteksi radar (Radar Homing and Warning Receiver/RHAW), pod jamming dan chaff. Peralatan ini, bersama dengan taktik terbang rendah, diharapkan bisa membuat pesawat-pesawat Israel lebih kebal terhadap pertahanan udara Mesir. Saat itu ketegangan militer antara Mesir dan Israel terus berlanjut.

Tampilan jarak dekat dari F-4 Phantom selama misi di atas Vietnam. Perhatikan tampilan mengesankan dari arsenal yang diangkut Phantom, dengan membawa empat rudal AIM-9 Sidewinder dibawah sayap dan dua rudal AIM-7 Sparrow. Rudal Sidewinder memiliki jarak jangkau yang lebih pendek namun lebih bisa diandalkan dibanding rudal Sparrow yang memiiki jangkauan lebih jauh. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Dalam salah satu misi tanggal 7 Januari 1970 yang dipimpin oleh pemimpin skuadron Samuel l Chetz, yang saat itu sudah menjadi ace (menembak jatuh minimal 5 pesawat lawan), pesawat-pesawat Phantom Israel menyerang sebuah situs rudal SA-2 di Dahshur, 33 km di selatan Kairo, dengan tanpa menderita korban. Chetz, yang dikenal karena semangat agresifnya, kemudian akan tewas dalam serangan lain di ketinggian rendah melawan situs SAM. Gugurnya Chetz membuat Tel Aviv mengungkapkan namanya meskipun identitas pilot yang masih aktif tetap dirahasiakan. Pada pagi hari tanggal 2 April, Israel dan Syria terlibat bentrokan besar, dan Israel segera melancarkan serangan udara lintas batas. Israel mengklaim menjatuhkan 3 pesawat MiG Syria, tetapi mengakui kehilangan sebuah pesawat Phantom. Sebuah pesawat MiG-21 yang dipiloti oleh pilot Mesir menembak jatuh sebuah F-4E pada tanggal 2 April, dan awaknya berhasil ditawan. Kemudian, pada malam tanggal 29 juni, orang-orang Mesir dengan dibantu oleh teknisi Soviet memindahkan 12 baterai rudal SAM SA-2, beberapa SA-3, senjata anti pesawat pelindung untuk membangun “tirai” pertahanan udara yang pararel dengan terusan Suez. Keesokan paginya, sebuah patroli pesawat Phantom Israel disergap oleh situs pertahanan udara baru ini dan 2 pesawat Phantom ditembak jatuh. Pesawat-pesawat pembom tempur Israel kemudian dengan agresif menggempur baterai-baterai pertahanan udara Mesir, namun orang-orang Mesir dengan cepat memperbaiki kerusakan dan melawan balik dengan tembakan berat rudal dan tembakan Anti pesawat. Dalam minggu berikutnya 7 baterai rudal Mesir dihancurkan oleh serangan-serangan udara Israel. Namun Israel kembali kehilangan sebuah Phantom. Melihat perkembangan ini, kepala staf Israel, Mayor Jenderal Haim Bar Lev, menyatakan bahwa Mesir bermaksud untuk merusak keunggulan udara Israel dan membangun kemampuan ofensif Mesir di sepanjang terusan Suez. Ia menambahkan, “Dari seluruh sistem (yang digunakan Mesir) kami merasa adanya campur tangan Russia dalam hal perencanaan, pengarahan dan pengoperasian dari seluruh sistemnya”. Pada tanggal 18 Juli, sebuah Phantom kembali ditembak jatuh oleh sebuah sistem rudal SA-3 dan sebuah F-4 lainnya mengalami kerusakan.

Rudal SAM jarak menengah SA-3. Pada tanggal 18 Juli 1970, sistem rudal SA-3 milik Mesir sukses menembak jatuh sebuah F-4 Phantom Israel. (Sumber: https://www.pinterest.pt/)

Pada tanggal 30 Juli 1970, pilot-pilot Soviet turut membantu orang-orang Mesir bertempur dengan pesawat-pesawat Phantom Israel dalam pertempuran udara sengit di atas Teluk Suez. Pada sore hari itu, sebuah flight Mirage Israel melakukan misi patroli pengintaian untuk memancing pilot-pilot Soviet. Lebih dari satu skuadron MiG-21 Soviet segera terbang untuk mengejar pesawat-pesawat Mirage dan mereka kemudian berhadapan dengan pesawat-pesawat Mirage dan Phantom. Itu adalah tes pertama bagi pesawat Phantom model E yang dilengkapi kanon dalam pertempuran. Pesawat-pesawat Israel kemudian menembak jatuh lima pesawat MiG-21 Fishbed Mesir yang diawaki oleh pilot-pilot Soviet. Segera setelah itu, dalam misi serangan maraton sejauh 2.000 mil ke Ras Banas, pesawat-pesawat Phantom mengebom dan menenggelamkan kapal cepat rudal kelas Komar dan kapal perusak kelas Z seberat 2.500 ton. Pada tanggal 3 Agustus 1970, Israel mengakui kehilangan sebuah lagi pesawat Phantom saat melakukan penyerangan di posisi pertahanan dekat terusan Suez. Phantom ini merupakan pesawat Israel ke-16 yang hilang dalam tugas melawan militer Mesir dan menjadi pesawat ke-26 Israel yang hilang dalam misi tempur sejak perang tahun 1967. Pada periode yang sama 113 pesawat Mesir, Syria dan Soviet ditembak jatuh oleh pilot-pilot Israel dalam pertempuran udara, sementara 25 lainnya ditembak dari darat. Pada tanggal 9 September 1972, dua pesawat serang Sukhoi Su-7 milik Suriah ditembak jatuh oleh Phantom dan Mirage Israel di atas Dataran Tinggi Golan, sementara empat MiG-21 Suriah dijatuhkan pada tanggal 8 Januari 1973 (semuanya oleh Phantom Israel). Sebuah insiden yang lebih kontroversial terjadi pada bulan Februari 1973. Phantom Israel mencegat sebuah pesawat Boeing 727 Libya ketika menembus Gurun Sinai yang diduduki Israel dengan dengan alasan misi pengumpulan-intelijen. “Kami berusaha mati-matian untuk memaksanya turun, bukan menembak jatuhnya,” kata Mayor Jenderal Mordechai Hod, kepala IDF/AF. Dua pilot Phantom bertukar isyarat tangan dengan pilot Libya tetapi tidak dapat membujuknya untuk mengikuti mereka ke Pangkalan Udara Bir Gifgafa. Sebuah Phantom menembakkan tembakan peringatan dengan kanon 20mm-nya. Pesawat itu sempat menurunkan rodanya tetapi mengangkatnya lagi dan membelok dalam upaya untuk melarikan diri. Phantom Israel kemudian menembaknya. Seratus lima dari 112 penumpang tewas. Sementara itu, bahkan setelah Anwar Sadat memberhentikan para penasihat Rusianya pada tanggal 18 Juli 1972, ketegangan tetap ada. Banyak orang di Israel khawatir bahwa konflik baru sebenarnya sudah dekat. 

Sebuah MiG-21RF Mesir. Pesawat Soviet di Mesir biasanya mengenakan tanda-tanda Angkatan Udara Mesir. Pada tanggal 30 Juli 1970, 5 MiG-21 yang dipiloti oleh pilot-pilot Soviet ditembak jatuh oleh gabungan pesawat Mirage III dan Phantom Israel. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Pada tanggal 13 Maret 1973, pejabat Departemen Luar Negeri melaporkan bahwa, selain F-4E Phantom yang telah dijanjikan, Washington akan menjual empat skuadron pesawat pembom tempur kepada Israel, yang terdiri dari campuran pesawat A-4 Skyhawk dan F-4E yang ditingkatkan kemampuannya dengan teknologi tercanggih, seperti maneuvering slats, TISEO (sistem identifikasi target, elektro-optik), dan perlengkapan yang lebih efisien akan dan akan dikirimkan pada bulan Januari 1974. TISEO adalah perangkat televisi jarak jauh buatan Northrop yang terdapat pada silinder yang diperpanjang pada sayap sebelah kiri pesawat Phantom, dan perangkat ini belum teruji dalam pertempuran udara-ke-udara, meskipun prinsip-penggunaan lensa zoom untuk memandu persenjataan visual-telah berhasil menjatuhkan bom tepat di tengah Jembatan Paul Doumer di dekat Hanoi. Pengiriman Phantom baru akan meningkatkan kekuatan militer Tel Aviv—tetapi pengiriman pada bulan Januari 1974, ternyata, akan terbukti terlambat. Pada perkembangan lain dengan kecepatan yang mencengangkan, di wilayah tersebut meletus konflik besar pada malam Yom Kippur, Hari Penebusan dosa tradisional orang Yahudi pada tanggal 6 Oktober 1973, dengan serangan dramatis yang dilakukan oleh pasukan Mesir, Suriah, dan beberapa negara Arab lainnya. Sebuah rilis resmi mengatakan bahwa 150 pesawat tempur Phantom menjadi ujung tombak di medan pertempuran, sebagai bagian dari upaya pertahanan pihak IDF/AF saat serangan mendadak dari negara-negara Arab dilepaskan. Hingga saat menjelang perang pecah, Israel telah kehilangan setidaknya delapan pesawat Phantom dalam berbagai pertempuran dengan pasukan Mesir dan Suriah, dengan satu dan mungkin dua di antaranya telah dijatuhkan oleh MiG-21. Sebagai gantinya, Phantom Israel telah menghancurkan 11 pesawat musuh.

PERANG YOM KIPPUR 1973 & KONFLIK LIBANON

Pada jam-jam awal pertempuran, pesawat pengebom Tupolev Tu-16 Mesir yang membawa rudal udara-ke-permukaan AS-5 melakukan serangan mereka jauh ke dalam wilayah Israel. Satu pesawat Tu-16 yang mendekati Tel Aviv pada hari pertama perang, tanggal 6 Oktober, ditembak jatuh oleh pesawat F-4E Phantom Israel. Dalam serangan pembuka Mesir pada 6 Oktober 1973, sepasang Phantom mampu menembak jatuh setidaknya tujuh pesawat musuh. Pada hari yang sama, Phantom mencegat armada helikopter Mil Mi-8 yang mencoba mendaratkan pasukan komando  Mesir di Sinai, dan sukses menghancurkan lima di antaranya. Phantom kemudian diterjunkan ke dalam pertempuran di kedua front dan menghadapi berbagai ancaman baru, termasuk sistem rudal pertahanan udara SA-6 yang dipasang pada kendaraan dengan mobilitas tinggi dan rudal permukaan-ke-udara SA-7 Strella yang bisa ditembakkan dari bahu. Israel lalu menyerang dengan gencar situs-situs rudal SAM Suriah pada tanggal 7 Oktober, dan mengakui hilangnya satu Phantom mereka dalam pertempuran itu. Di front Suriah, pesawat-pesawat tempur MiG-17 dan Sukhoi Su-7 buatan Soviet menerbangkan misi serangan darat yang dikawal oleh pesawat-pesawat tempur MiG-21 dan Hawker Hunter milik Irak. Pada tanggal 8 Oktober, pesawat-pesawat Phantom Israel menyerang lapangan udara Suriah dan berusaha untuk mengebom jembatan ponton Mesir yang telah dipasang melintasi Terusan Suez. Tiga pesawat MiG-17 dan satu MiG-21 Mesir kemudian ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat Phantom. Israel kemudian menyerang balik pada tanggal 9 Oktober dengan mengirimkan Phantom untuk mengebom pusat kota Damaskus. Pada akhir hari tanggal 9 Oktober, armada Skyhawk Israel telah menghancurkan lebih dari setengah baterai rudal SAM SA-6 di Golan.

Ilustrasi Pasukan Mesir menyeberangi Terusan Suez pada tanggal 6 Oktober 1973. Nampak pada gambar helikopter-helikopter Mi-8 yang mengangkut pasukan Komando Mesir terbang ke arah timur terusan yang dikuasai oleh Pasukan Israel. Pada hari itu pesawat-pesawat Phantom Israel berhasil menembak jatuh 5 helikopter Mi-8 Mesir. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pesawat-pesawat Phantom dan Mirage Israel yang memberi perlindungan udara juga telah menembak jatuh 27 MiG dalam satu hari di atas dataran tinggi Golan. Pada tanggal 9 Oktober, Phantom Israel melancarkan serangan terhadap markas tentara Suriah di Damaskus. Ini (sebagian) merupakan upaya untuk membuat Suriah mengalihkan beberapa SA-6 mereka yang mematikan dari Golan. Satu pesawat hilang, dan satu lagi rusak tetapi berhasil pulang. F-4E lain hilang selama serangan di lapangan terbang dan pembangkit listrik di Mesir. Pada 10 Oktober, Phantom menyerang berbagai pangkalan udara Mesir dan Suriah, tanpa menderita kerugian. Berusaha untuk menetralisir front kedua Arab dengan merebut Dataran Tinggi Golan dan menumpulkan potensi tempur Suriah. Pada tanggal 11 Oktober, dua pesawat F-4E ditembak jatuh oleh MiG-21 Mesir. Kemudian pada tanggal 13 Oktober, sebuah F-4 Israel rusak parah oleh tembakan senjata anti pesawat selama serangan di lapangan terbang Suriah dekat Damaskus. Pesawat itu diterbangkan di atas laut dan kru nya berhasil menyelamatkan diri. Serangan-serangan di lapangan udara Suriah berakhir pada tanggal 14 Oktober, tetapi serangan ke posisi-posisi Mesir terus berlanjut. Pada 15 Oktober, F-4 menembak jatuh sebuah MiG-21, tetapi satu Phantom hilang dan satunya lagi mengalami kerusakan parah. Tiga Phantom lainnya hilang dan yang keempat rusak selama serangan terhadap posisi SAM selama tiga hari berikutnya. Pada 18 Oktober, empat MiG-17 Suriah ditembak jatuh oleh pesawat Phantom IDF/AF, dengan setidaknya satu menggunakan rudal udara-ke-udara Shafrir yang baru. Pada tanggal 20 Oktober, dua Phantom lagi jatuh akibat rudal SAM Mesir.

Sistem Rudal SA-6 Gainful milik Mesir. Dalam Perang Yom Kippur SA-6 menjadi masalah besar bagi pesawat-pesawat serang AU Israel. (Sumber: http://edokunscalemodelingpage.blogspot.com/)

Sementara itu, tampaknya F-4E Phantom lebih digunakan terutama dalam peran serangan jarak udara jarak jauh, dengan perlindungan udara diberikan oleh pesawat-pesawat tempur Mirage III buatan Prancis, dan sebagian besar pertempuran udara-ke-udara tampaknya telah dilakukan terutama dengan menggunakan rudal pencari panas IR (inframerah) dari jarak cukup jauh daripada jarak dekat dengan menggunakan kanon. Ketika mereka menemukan diri mereka dalam pertempuran jarak dekat dengan MiG yang sangat baik bermanuver dan Sukhoi yang kurang begitu efektif, pilot-pilot Israel memanfaatkan teknik baru ‘energy maneuverability’ di mana pertempuran terjadi dalam tiga dimensi tanpa memperhatikan lokasi daratan atau (untuk memposisikannya dengan cara lain) untuk ‘naik’ dan ‘turun.’ Penekanannya adalah pada pentingnya kelebihan daya pada mesin pesawat, standar rasio dorong-dibanding-berat dicapai pada berbagai kondisi kecepatan, ketinggian dan manuver, meskipun teknik ini telah dirancang oleh orang-orang Amerika daripada orang Israel, dan datang terlambat untuk kampanye udara Linebacker di Vietnam Utara, beberapa veteran pilot masih menganggapnya sebagai kurang sempurna. Dalam situasi manuver tertentu, rasio daya dorong-dibanding-berat dari level 0.73 pada F-4E Phantom dapat ditingkatkan menjadi 0.9 atau lebih baik, dan dengan perhatian yang cermat pada manuver energi, F-4E bisa menang atas MiG-21 bahkan dalam pertarungan yang sangat dekat dan berlarut-larut. Sementara itu, meski pesawat-pesawat Phantom Israel digunakan mayoritas untuk menjalankan misi serangan darat, namun mereka juga menjalankan ratusan misi patroli dan pencegatan. Pesawat-pesawat Phantom menghantam target-target di garis belakang seperti pangkalan udara, fasilitas penyimpanan minyak, dan berbagai sasaran strategis lainnya yang dilindungi oleh pesawat-pesawat tempur Arab. Setelah menjatuhkan bom, para awak Phantom sering menghadapi sendiri pesawat-pesawat tempur musuh, dan menyerang mereka dengan rudal Sidewinder, Sparrow atau kanon kaliber 20 mm. Sepertiga kemenangan udara Israel selama perang Yom Kippur didapat oleh awak pesawat-pesawat Phantom Israel. Sekitar 2/3 kemenangan udara Israel berasal dari tembakan rudal udara ke udara, sebagian besar berasal dari rudal inframerah (Sidewinder atau Shafrir buatan Israel), sekitar 10 oleh rudal Sparrow, sedang 1/3 sisanya oleh kanon. Sebuah catatan yang cukup impresif dari sebuah perang yang sempat mengejutkan mereka. Pengalaman dari pilot turut membantu dalam hal ini, dan meskipun pilot IDF/AF tampak sangat muda, mereka telah menikmati keuntungan besar dalam hal pengalaman lewat penugasan terus menerus mereka dalam konflik panjang dengan kekuatan udara negara-negara Arab.

Lukisan Robert Taylor yang dramatis menggambarkan satu serangan yang terjadi pada tanggal 14 Oktober 1973 ketika pesawat pembom tempur F-4 Phantom Israel melakukan serangan simultan terhadap pangkalan udara Mesir di Mansoura dan Tanta di utara Kairo. Pertempuran udara berikutnya begitu intens sehingga pada satu titik lebih dari 180 pesawat tempur terlibat. Meskipun terdapat perlawanan sengit dari MiG-21 Mesir serta Mirage 5 Libya, misi AU Israel berhasil menghilangkan efektivitas Angkatan Udara Mesir dan sekutu Libya-nya. (Sumber: https://www.aviationarthangar.com/)

Sama seperti orang-orang Amerika di Vietnam menemukan diri berhadapan dengan, pilot yang sangat termotivasi dan dilatih oleh Soviet dengan kemampuan yang hebat, Israel menghadapi penerbang Mesir dan Suriah yang bakat dan agresivitasnya tidak bisa diremehkan. Semangat juang yang besar diperlihatkan oleh pilot MiG yang tampaknya terbang dipandu ground control intercept (GCI/Pengontrol Darat) dengan perintah untuk menyerang pesawat-pesawat Phantom Israel hanya ketika kondisi ketinggian, faktor kejutan, dan bahan bakar relatif mendukung mereka. Kadang-kadang, sepasang MiG-21 terbang di atas formasi Phantom untuk melakukan serangan tunggal, menyerbu menggunakan teknik pilot-pilot Vietnam Utara untuk mencegat pesawat-pesawat F-4E yang sarat muatan persenjataan pada posisi yang kurang menguntungkan. Meskipun IDF/AF mengakui kehilangan 33 pesawat Phantom karena rudal SAM dan tembakan dari darat atau pertempuran udara dalam Perang Yom Kippur, mungkin tampak kecil, namun totalnya, jika ditambahkan dengan kerugian 53 pesawat A-4 Skyhawk, mencapai 20 persen dari total pesawat tempur yang diterima Israel dari Amerika Serikat. Selama Perang Yom Kippur, pesawat-pesawat tempur Israel terlibat dalam 117 pertempuran udara (65 di front Syria dan 52 di front Mesir), yang melibatkan sekitar 450 pesawat. Pihak AU Israel mengklaim pilot-pilotnya menembak jatuh 334 pesawat negara-negara Arab dengan korban hanya 4 pesawat Israel. Beberapa sumber lain menyatakan pilot-pilot Israel mencetak 227 kemenangan udara selama perang itu.

Ilustrasi F-4 Phantom Israel menembak jatuh sebuah pesawat MiG-21. Meski dalam Perang Yom Kippur, pesawat-pesawat Phantom Israel umumnya ditugaskan untuk menjalankan misi serang, namun hal ini tidak menghalangi Phantom untuk membukukan 1/3 kemenangan udara AU Israel dalam perang singkat namun mematikan itu. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)

Sementara itu, Mayor Jenderal Benjamin Peled, komandan IDF/AF saat itu menyatakan bahwa selama perang Israel kehilangan 115 pesawat: 4 dalam pertempuran udara, 1 karena salah tembak, 10 karena sebab-sebab yang tidak diketahui, 48 karena rudal SAM, dan 52 karena tembakan senjata anti pesawat. Meski Israel hanya mengakui 4 pesawatnya hilang dalam pertempuran udara, beberapa perwira Israel mengakui bahwa banyak pesawat Israel yang hilang selama perang kemungkinan akibat ditembak jatuh oleh pilot-pilot Arab. Beberapa sumber menempatkan angka 21 pesawat Israel menjadi korban pertempuran udara, sementara AU Amerika memperkirakan korban pesawat Israel akibat pertempuran udara sekitar 10% dari total korban pesawat mereka selama perang. Jika perkiraan AU AS benar, dengan sekitar 11 pesawat Israel jadi korban pertempuran udara, pilot-pilot Israel akan mencatat kill ratio 25:1. Bahkan jika kerugian mereka dinaikkan menjadi 21 pesawat, kill rationya tetap mengesankan, yakni sekitar 13:1, jauh lebih baik dari kill ratio AU Amerika di Perang Korea dan Vietnam. Sementara itu, sebelum konflik Oktober 1973, Amerika Serikat telah mengirimkan Phantom ke Israel dengan kecepatan pengiriman dua pesawat per bulan. Ketika perang meletus, yang diikuti dengan Operasi Nickel Grass, di mana F-4E yang diambil langsung dari inventaris militer AS diangkut ke Israel dan segera dikirimkan ke dalam pertempuran, setelah dimodifikasi dengan perangkat pengisian bahan bakar gaya Israel di bagian depan kanan sebagai pengganti perangkat pengisian bahan bakar AS, yang ada di punggung. Salah satu model akhir F-4E yang dilengkapi dengan perangkat TISEO benar-benar terbang ke medan pertempuran dengan masih mengenakan kode ekor SJ yang memberi tahu dunia bahwa pesawat itu baru saja tiba dari unit Wing Tempur Taktis ke-4 pimpinan Kolonel Len C. Russell dari Pangkalan Angkatan Udara Seymour Johnson, N.C. Tiga puluh empat Phantom diketahui ditambahkan ke dalam inventaris AU Israel melalui Operasi Nickel Grass. 

Secara total AU Israel membeli 216 pesawat F-4 Phantom dari Amerika. Dalam dinas Israel, pesawat-pesawat Phantom diklaim menembak jatuh sekitar 116 pesawat musuh dalam pertempuran udara dari tahun 1969-1982. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Dengan turut menghitung pembelian lebih lanjut yang dilakukan setelah perang tahun 1973, pada tahun 1976 Israel secara keseluruhan menerima 204 pesawat Phantom dari Amerika. Tambahan 6 pesawat RF-4E diperoleh antara bulan maret dan mei 1977, melengkapi pembelian total 216 pesawat (terdiri dari 204 versi E dan 12 versi pengintai). Selepas perang Yom Kippur, pesawat-pesawat Phantom Israel masih aktif digunakan, termasuk dalam misi perlindungan pesawat-pesawat Hercules AU Israel hingga melewati Laut Merah, saat sedang dalam perjalanan ke Entebbe Uganda 4 Juli 1976. Pada tanggal 27 Juni 1974, sebuah penerbangan yang terdiri dari pesawat-pesawat F-4 Phantom dan A-4 Skyhawk terbang ke utara dari pangkalan-pangkalan Israel untuk menyerang target-target gerilyawan yang dicurigai di dekat Sidon dan Tyre di selatan Libanon. Serangan ini dilindungi oleh pesawat-pesawat tempur F-15 dan Kfir (buatan Israel). Pada tanggal 19 September 1979, pesawat-pesawat MiG-23 Flogger Syria menembakkan rudal udara ke udara pada pesawat pengintai RF-4 Phantom Israel, namun pesawat Phantom itu mampu menghindar dan kembali ke pangkalannya. Sementara itu pada tanggal 13 Maret 1981, sebuah MiG-25 Foxbat Syria menyerang sebuah RF-4 Phantom Israel yang lain. Dalam pertempuran udara yang berlangsung kemudian, Foxbat Syria itu berhasil dijatuhkan oleh rudal Sparrow yang dilepaskan sebuah F-15 Eagle Israel (menjadi yang pertama bagi MiG-25 yang mampu terbang 3 kali kecepatan suara). Dalam perang Libanon tahun 1982, pesawat-pesawat Phantom Israel bersama dengan pesawat F-16, Kfir, dan Skyhawk digunakan untuk menghancurkan situs rudal SAM SA-2, SA-3 dan SA-6, serta baterai anti pesawat milik Syria di lembah Bekaa. Serangan ini terhitung sukses dalam membungkam sistem pertahanan udara Syria, yang memungkinkan AU Israel mendominasi udara Libanon. Pada tanggal 25 Juli 1982, sebuah pesawat Phantom Israel ditembak jatuh oleh rudal SAM SA-8 Syria. Secara keseluruhan dalam kampanye udara yang dilakukan dari tanggal 6-11 Juni 1982, AU Israel mengklaim telah menembak jatuh 85 pesawat Syria. Sekitar 44 dibukukan oleh pesawat-pesawat F-16, Sementara kru F-15 dicatat menembak jatuh 40 pesawat Syria, sedangkan sebuah pesawat ditembak jatuh oleh kru pesawat F-4 Phantom. Kemenangan Phantom Israel terakhir dalam perang ini dibukukan pada tanggal 10 Juni 1982 oleh kru yang terdiri dari Ben-Ami Peri dan David Oakman. Total ada 116 kemenangan udara-ke-udara diklaim dicetak oleh pesawat-pesawat Phantom Israel antara awal masa Perang Atrisi pada tahun 1969 dan pertempuran Lembah Bekka tahun 1982. Israel sendiri telah mengakui kehilangan setidaknya 55 Phantom dalam pertempuran, sebagian besar karena ditembak jatuh oleh rudal SAM dan senjata anti pesawat dari darat.

PHANTOM IRAN

Di tempat lain, Iran yang makmur dari meroketnya harga minyak, mulai mempersenjatai diri pada tahun 1960an. Shah Iran mengatakan secara terbuka bahwa dia ingin menjadi kekuatan yang menentukan di wilayahnya. Seperti banyak transaksi lain antara Washington-Tehran, akuisisi F-4E Phantom oleh Iran dihasilkan dari percakapan empat mata antara Presiden Nixon dan Shah. Sayangnya, Nixon tampaknya mengabaikan berbagai nasihat bahwa teman dan sekutunya itu terlalu banyak mencurahkan anggaran negaranya untuk membeli senjata dan terlalu sedikit untuk memenuhi kebutuhan dalam negerinya. Pada tahun 1967 angkatan udara Iran telah memesan F-4D, yang pada saat itu model Phantom paling canggih yang tersedia. Pesanan awalnya adalah untuk 16 pesawat; yang pertama tiba pada 8 September 1968, dengan 16 lainnya ditambahkan kemudian, dan kemudian digunakan dalam beberapa upaya yang gagal untuk mencegat pesawat pengintai MiG-25R Soviet. Pada tahun 1968, Iran telah memperoleh 32 unit F-4D Phantom, yang tidak memiliki kanon tetapi dapat membawa pod senjata. Pada awal 1970-an, yang pertama dari 177 F-4E bersenjata kanon dan 16 pengintai RF-4E Phantom datang menyusul. Yang pertama dari RF-4E Iran tiba pada bulan Maret 1971. Angkatan Udara Kerajaan Iran (IIAF), atau Nirou Hayai Shaahanshahiye Iran, secara bertahap membangun hingga 11 skuadron pesawat Phantom (dua F-4D, delapan F-4D, satu RF-4E) di Pangkalan Udara Mehrabad, Shiraz dan Tabriz. Amerika secara total menjual 225 F-4D, F-4E, dan RF-4E Phantom ke Iran. Saat itu, Shah, yang dituduh oleh beberapa orang telah melihat senjata militer terbaru yang dibelinya sebagai mainan baru, bahkan bisa memperoleh 80 pesawat canggih eksklusif Grumman F-14 Tomcat. Iran, dengan berbagai persenjataannya, kemudian dianggap akan mampu mempertahankan diri dari ancaman Soviet di utara sambil mempertahankan stabilitas di sepanjang kawasan Teluk Persia. Sebaliknya pemikiran ini kemudian ditepis oleh para kritikus yang berpendapat bahwa Iran sebenarnya sedang mempertahankan diri dari Arab Saudi, bukan Rusia, dan bahwa kekuasaan Shah atas rakyatnya sendiri malah sedang melemah. Mungkin tidak jelas siapa musuhnya, tetapi angkatan udara dengan cepat melengkapi dirinya dengan pesawat-pesawat terbaru dan terbaik. Pilot dan personel angkatan udara Iran memang tidak sepopuler dan terlatih seperti Israel, tetapi Angkatan Udara Iran menikmati hubungan dekat dengan Amerika Serikat dan memiliki beberapa pilot yang sangat baik. Negara Persia ini telah menerbangkan pesawat tempur buatan Amerika sejak tahun 1940-an, dan sejumlah besar pilot Iran telah dilatih di pangkalan-pangkalan di Amerika Serikat dan di Furstenfeldbruck, Jerman, di bawah naungan Kelompok Penasihat Militer AS. 

Pilot-pilot Iran berfoto didepan pesawat Phantom kebanggaan mereka. Iran tercatat sempat membeli 225 pesawat Phantom berbagai versi dari Amerika. (Sumber: http://1host2u.com/)
F-4E Phantom II Iran dipersenjatai dengan rudal udara ke darat AGM-65 Maverick. Selain membeli sejumlah besar pesawat-pesawat canggih dari Amerika, Iran juga mendatangkan berbagai rudal canggih dalam kuantitas yang cukup untuk melengkapi pesawat-pesawatnya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Di sisi lain, Iran menggunakan versi pengintai Phantom-nya untuk mengawasi apa yang terjadi di negara-negara di dekatnya. Salah satu negara yang diawasi adalah Uni Soviet. AU Iran bersama dengan Dinas Intelijen Rahasia Amerika, CIA sempat meluncurkan program pengintaian udara atas wilayah Soviet pada tahun 1960an-1970an, yang diberi nama Project Dark Green. Pada tanggal 28 November 1973 terjadi pertempuran udara antara pesawat RF-4C Iran yang dipiloti oleh Major Shokouhnia dengan awak di kursi belakang Kolonel John Saunders asal AU Amerika dan sebuah pesawat tempur MiG-21 Soviet yang diterbangkan oleh Kapten Gennadii N. Eliseev. Pilot Soviet menembakkan dua rudal Vympel K-13 (AA-2 Atoll yang setara dengan rudal Sidewinder) ke pesawat Iran, namun gagal menghancurkannya. Dia kemudian diperintahkan oleh petugas kontrol darat untuk terus melakukan serangannya dengan biaya berapa pun, dan dengan kanonnya macet setelah tembakan pertama, dia melanjutkan dengan menabrak pesawat Iran dan pilot MiG itu kehilangan nyawanya dalam proses itu. Hantaman tersebut mengenai ekor RF-4C dengan sayapnya. Itu adalah serangan jet-ke-jet pertama yang disengaja oleh pesawat Soviet selama melakukan aksi pencegatan, serta dilakukannya sebuah praktik yang umum terjadi di zaman pesawat berbaling-baling  era Perang Dunia II. Eliseev kemudian secara anumerta dianugerahi sebagai Pahlawan Uni Soviet, sementara awak pesawat RF-4C ditangkap oleh pasukan darat Soviet dan dibebaskan setelah 16 hari. Selama bentrokan perbatasan pada bulan Juni 1975, F-4 Iran, yang dipersenjatai dengan rudal AGM-65 Maverick berhasil mengalahkan formasi darat kendaraan lapis baja Irak. F-4E terbukti telah mengubah keseimbangan kekuatan di wilayah tersebut; pesawat-pesawat ini tidak hanya efektif di medan perang, tetapi juga tersedia dalam jumlah besar. Meski demikian Iran kemudian menderita korban Phantom lain dalam misi pengintaian di wilayah Yaman Selatan pada tahun 1977, saat sebuah RF-4E Iran ditembak jatuh oleh rudal pemberontak yang ditembakkan dari bahu dan jatuh di tempat yang dangkal berair jernih sebening kristal di Teluk Persia, di mana ia masih tetap mudah dilihat dari kapal dan pesawat hingga hari ini. 

PECAHNYA PERANG IRAN-IRAK

Pada masa Pra Revolusi, AU Kerajaan Iran diatas kertas memiliki lebih dari 440 pesawat tempur, yang termasuk: 188 pesawat pembom tempur F-4D/E Phantom II (10 skuadron), 166 pesawat pembom tempur F-5E/F Tiger II (8 skuadron), 77 pesawat tempur/pencegat F-14A Tomcat (4 skuadron), dan 14 pesawat pengintai RF-4E Phantom II. Setelah jatuhnya Shah dalam Revolusi Iran tahun 1979, situasinya berubah secara dramatis. Pada tahun 1979 AS menempatkan embargo persenjataan terhadap Iran, yang mencegahnya mendapatkan banyak suku cadang untuk menjaga armada pesawat miliknya untuk bisa tetap terbang. Lebih buruk lagi, pemerintah teokratis yang baru melakukan pembersihan terhadap orang-orang yang diduga loyalis Shah di angkatan bersenjata, terutama di jajaran Angkatan Udara Iran. Akibatnya, pada tahun 1980 Angkatan Udara Iran Republik Islam (IRIAF) hanya bayang-bayang dari kebesaran mereka sebelumnya, dan ketika Irak menyerang Iran pada bulan September 1980, hanya 40 persen dari armada Phantom Iran yang masih bisa beroperasi. Ketika perang Iran-Irak pecah pada tanggal 23 September 1980, dengan serangan-serangan jarak jauh yang spektakuler, pesawat-pesawat Irak menembaki dan menghancurkan deretan pesawat F-4E Iran di darat di Teheran. Hasil serangan itu kelihatan tampak aneh, dimana hidung Phantom patah seperti batang botol. Analis intelijen AS mengatakan satu sama lain bahwa angkatan udara Ayatollah, yang sekarang dikenal sebagai Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF), akan dihancurkan dengan serangan-serangan serupa. Pilot-pilot dan kru perawatan terbaik telah setia kepada Shah telah disingkirkan oleh rezim baru. Intelijen AS juga yakin bahwa kaum revolusioner yang saat itu mengendalikan IRIAF tidak memiliki pengetahuan dan peralatan untuk bisa membuat Phantom yang masih tergolong canggih tetap terbang. Terlebih lagi, para ahli mengatakan, angkatan udara revolusioner tidak memiliki keahlian untuk memecahkan masalah dengan perlengkapan avionik – radar. Kaum revolusioner diperkirakan tidak akan pernah bisa mempertahankan dan merawat peralatan yang kompleks seperti mesin jet J79 atau sistem kendali penembakan yang menggunakan radar canggih Westinghouse APQ-120. Armada pesawat IRIAF kemungkinan akan di-grounded dengan cepat. Perang akan berlangsung dengan singkat (untuk kemenangan Irak). 

Bandara Internasional Mehrabad setelah mengalami serangan oleh jet-jet tempur Irak, 22 September 1980. Banyak pengamat menilai bahwa Irak akan bisa memperoleh dominasi udara dengan cepat dengan AU Iran yang dilemahkan setelah revolusi Iran tahun 1979. Fakta kemudian berbicara lain. (Sumber: https://historyofyesterday.com/)

Mereka kemudian akan terbukti salah dalam semua hal, termasuk salah dalam memprediksi penyebab Phantom Iran akan sulit untuk bisa bertahan di udara. Masalah sebenarnya adalah pada ban. Beberapa cara dapat ditemukan untuk memperbaiki yang tidak dapat diperbaiki, termasuk radar dan sistem pengendalian tembakan, tetapi dengan embargo Barat atas Iran, bahkan Ayatollah tidak dapat memecahkan masalah yang ditimbulkan oleh keausan normal pada ban karet dengan ukuran yang unik pada pesawat-pesawat Phantom yang menjadi tulang punggung IRIAF. Jika orang-orang Iran tidak bisa, orang-orang Israel bisa memecahkan masalah ini. Kerja sama antara Tel Aviv dan Teheran dalam menjaga agar Phantom IRIAF bisa tetap terbang kemudian akan menjadi salah satu kemitraan yang paling unik dalam sejarah modern. Sementara itu, pada hari-hari pertama perang, Irak gagal menghancurkan pangkalan angkatan udara Iran karena beberapa alasan, di antaranya karena pesawat-pesawat Irak tidak memiliki jangkauan yang cukup untuk menjangkau sasaran-sasaran di Iran. Alasan lainnya adalah bahwa pangkalan udara Iran telah dibangun untuk penempatan kekuatan udara USAF jika terjadi perang dengan Uni Soviet. Ini berarti bahwa pangkalannya sangat besar, tersebar dengan baik dan memiliki banyak suku cadang. Hal ini membuat target-target itu sulit untuk dihancurkan oleh angkatan udara Irak yang relatif kecil dibanding Iran. Angkatan udara Irak melakukan serangan yang sangat jauh lebih dari 837 km (520 mil) di dalam wilayah udara Iran, tetapi sebagian formasi kecil ini kemudian dicegat oleh dua pesawat F-4 Iran dan satu atau dua MiG hilang.

Pilot Iran didepan pesawat F-4 Phantom. Meski mengalami pukulan berat karena revolusi Iran, namun AU Iran masih mampu melakukan serangan balik pada kekuatan udara Irak. Armada pesawat-pesawat Phantom Iran kemudian menjadi tulang punggung serangan Iran. (Sumber: https://www.c-130.net/)

F-4 Iran menyerang balik pada hari berikutnya dalam Operasi Kaman 99 dan menghancurkan banyak sasaran strategis Irak dengan bom dan rudal. Diluncurkan hanya 3 jam setelah perang resmi pecah, serangan udara ini melibatkan 140 hingga 148 pesawat pembom tempur Iran, ditambah 60 pesawat pencegat dan tanker yang terlibat dalam operasi ini, dan setidaknya 380 personel angkatan udara juga diterjunkan, menjadikan serangan ini operasi paling besar yang dilakukan oleh Angkatan Udara Iran. Pada tanggal 23 September 1980 itu, 40 F-4 Phantom, yang dipersenjatai dengan bom Mark 82, Mark 83 dan Mark 84 dan rudal AGM-65 Maverick, lepas landas dari Pangkalan Udara Hamadan. Setelah mengisi bahan bakar di udara, pesawat-pesawat Phantom Iran mencapai ibukota Irak, Baghdad, di mana mereka menyerang pangkalan udara al-Rasheed, Habbaniyah dan Kut. Sementara itu, delapan pesawat F-4 lepas landas dari Mehrabad Teheran dan meluncurkan serangan kedua ke Pangkalan Udara al-Rasheed. Pesawat-pesawat Iran dikatakan terbang sangat rendah, sehingga papan iklan di kotamadya Basra tersangkut di ekor salah satu F-4 Iran, dan ditemukan saat mendarat di Pangkalan Udara Bushehr. Dalam Operasi Kaman 99 Saddam Hussein dan militer Irak mendapat pukulan berat. Semua Pangkalan Udara Irak di dekat Iran tidak dapat dioperasikan selama berbulan-bulan dan, menurut Iran, efisiensi udara Irak berkurang sebesar 55%. Sementara menurut sebagian besar pengamat, operasi ini adalah salah satu pertempuran udara terbesar dalam sejarah. Operasi ini, kemudian memungkinkan Iran untuk mengumpulkan kembali kekuatannya dan bersiap untuk menghadapi invasi Irak yang akan datang. Kemudian pada tanggal 30 September 1980 serangan udara lain dilakukan oleh Angkatan Udara Republik Islam Iran. Serangan ini berhasil merusak reaktor nuklir yang hampir jadi, yang terletak 17 kilometer (11 mil) tenggara ibukota Baghdad, Irak. Operasi itu dilakukan hanya delapan hari setelah Perang Iran-Irak meletus. Saat fajar pada tanggal 30 September 1980, empat jet F-4E Phantom Iran mengisi bahan bakar di udara dekat perbatasan Iran-Irak. Setelah menyeberang ke Irak, para pesawat tempur Phantom Iran naik ke ketinggian tinggi agar tetap tidak terdeteksi oleh sistem radar wilayah udara Irak. Beberapa saat kemudian, dua Phantom menukik dan turun ke ketinggian rendah lagi untuk menghindari deteksi radar internal dan mulai terbang diam-diam ke Pusat Penelitian Nuklir Tuwaitha di tenggara ibu kota Baghdad, dan tempat bagi reaktor nuklir Osirak.

Peta serangan udara Iran ke reaktor nuklir Osirak dekat Baghdad pada tanggal 30 September 1980. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Reaktor nuklir Osirak, Irak. (Sumber: https://www.timesofisrael.com/)

Meski operasi tersebut berhasil merusak fasilitas dan reaktor, serta menunda program nuklir Irak selama 3 bulan, namun serangan ini gagal menghentikan kemampuan Irak untuk melanjutkan pembangunan di sektor nuklir. Reaktor nuklir Osirak baru benar-benar bisa dilenyapkan dalam operasi udara kedua, yang disebut sebagai Operasi Opera, yang dilakukan oleh Angkatan Udara Israel delapan bulan kemudian pada 7 Juni 1981. Sementara itu pada tahun 1981, Iran bahkan mampu melakukan serangan balik atas Irak. Kekuatan udara Iran melakukan serangan berulang pada sasaran penyimpanan minyak, perbekalan dan pangkalan-pangkalan udara Irak. Pesawat-pesawat Iran menembus target dengan terbang rendah untuk menghindari deteksi radar. Dalam hampir setiap misi serangan, para pilot Iran hanya melintas diatas target sekali untuk menjatuhkan bom yang dibawanya, dan segera berbalik pergi dengan kecepatan tinggi ke markasnya. Taktik ini memampukan pesawat-pesawat Iran untuk menyusup diantara sistem peringatan dini Irak yang mengontrol sejumlah besar pesawat-pesawat pencegat MiG-21 dan MiG-23, serta sistem SAM SA-2, SA-3, dan SA-6. Ketika diperingatkan tepat waktu, baterai-baterai sistem senjata anti pesawat Irak akan mampu menembak jatuh sejumlah pesawat Iran. Akan tetapi para pilot Iran, berkat latihan dari Amerika yang mengajarkan taktik hasil dari pengalaman di masa Perang Vietnam, mampu membuat pesawat-pesawat F-4 dan F-5 mereka bermanuver menghindari tembakan rudal SAM Irak. Pada tanggal 4 April 1981 pesawat-pesawat tempur IRIAF menyerang pangkalan udara Angkatan Udara Irak di Pangkalan Udara H-3 di Irak barat. Orang-orang Iran menyatakan berhasil menghancurkan setidaknya 48 pesawat Irak di darat tanpa menderita kerugian diantara mereka sendiri. Jika klaim ini benar, maka serangan ini bisa dianggap sebagai salah satu serangan paling sukses dalam sejarah perang udara. Berada hampir 1500 kilometer dari markas pesawat tempur Iran di Pangkalan Udara Shahrokhi, H-3 berada di luar jangkauan dan jika memilih rute penerbangan langsung, pesawat Iran harus terbang di atas Baghdad dan melakukan pengisian bahan bakar udara dua kali di wilayah udara Irak, termasuk sekali di dekat Baghdad, yang dijaga ketat oleh situs pertahanan udara Irak. 

SERANGAN UDARA KE PANGKALAN H-3

Untuk meningkatkan peluang keberhasilan serangan mereka, para komandan Iran memutuskan untuk menerbangkan pesawat mereka ke atas Danau Urmia di Iran Utara terlebih dahulu dan mengisi bahan bakar di udara, dan kemudian dari sana mereka akan memiliki rute “aman” melewati pegunungan di perbatasan utara Irak-Turki, sambil menjaga ketinggian terbang kurang dari 300 kaki (100 m) untuk menghindari tangkapan radar Irak dan Turki. Rute yang harus dilalui sekitar 3.500 km. Dengan demikian, pesawat-pesawat Phantom Iran hanya dapat mencapai target mereka dengan melakukan pengisian bahan bakar di udara beberapa kali. Wing Tempur Taktis (TFW) ke-31 dan ke-32 IRIAF mengerahkan delapan pesawat F-4E Phantom, empat F-14A Tomcat, satu pesawat C-130H Khofaash, sebuah pesawat pos komando udara Boeing 747 (yang akan memantau komunikasi radio Irak, dan juga bertindak sebagai relai komunikasi antara armada penyerang dan markas besar IRIAF), dan dua pesawat tanker (Boeing 707 dan Boeing 747) untuk melakukan pengisian bahan bakar di udara untuk serangan itu. Operasi ini dimulai pada pukul 10:30 tanggal 4 April 1981. Sebuah formasi delapan F-4 Phantom (termasuk enam F-4E dan dua F-4D), dengan disertai oleh dua pesawat sebagai cadangan udara, berangkat dari Pangkalan Udara Hamedan (TAB 3) dan melanjutkan perjalanan menuju Danau Urmia, dan kemudian setelah melakukan mengisi bahan bakar di wilayah udara Iran, mereka menyeberang ke Irak, sementara dua pesawat cadangan kembali ke pangkalan. Sepasang F-14 Tomcat diperintahkan untuk berpatroli di daerah itu beberapa jam sebelum dan sesudah serangan dimulai untuk melawan kemungkinan upaya penyergapan oleh Angkatan Udara Irak. Sementara itu, tiga pesawat tempur F-5E Northrop dari Pangkalan Udara Tabriz (TFB.2) melakukan serangan pengalihan di Pangkalan Udara Hurriya dekat Kirkuk, dengan hasil yang tidak diketahui, tetapi tentu saja berhasil mengalihkan perhatian orang-orang Irak dari armada Phantom yang menyerang pangkalan udara H-3. Setiap pesawat Phantom mengisi bahan bakar selama empat kali dari pesawat tanker, pada ketinggian 300 kaki (100 m), yang sangat berisiko dan jauh di bawah standar keselamatan apa (pengisian bahan bakar udara biasanya dilakukan pada ketinggian 22.000 kaki (6.700 m)). Hal ini dilakukan untuk menghindari deteksi oleh radar Irak; namun, faktanya pesawat-pesawat tempur Iran itu sempat muncul beberapa kali di tangkapan layar radar, tetapi dikira sebagai pesawat tempur Turki yang berpatroli di perbatasan. Lebih-lebih lagi, Turki memang juga sama-sama mengoperasikan pesawat tempur Phantom seperti Iran.

Pesawat “langka” Boeing 747 versi tanker milik Iran mengisi bahan bakar di udara pesawat-pesawat Phantom. Pesawat tanker ini kabarnya turut dilibatkan dalam operasi serangan ke Pangkalan Udara H-3 Irak, 4 April 1981. (Sumber: https://www.pprune.org/)
Peta serangan udara ke pangkalan udara H-3 di wilayah barat Irak. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Saat mendekati pangkalan udara, armada Phantom Iran membagi formasi mereka menjadi dua kelompok, yakni Alvand dan Alborz. Pembagian formasi ini memungkinkan serangan datang dari beberapa arah di kompleks Pangkalan Udara H-3. Mereka kemudian mengebom ketiga lapangan udara di dalam kompleks H-3. Berhasil mencapai kejutan total, para pesawat tempur Iran membuat beberapa lintasan serangan terhadap ketiga pangkalan udara. Kedua landasan pacu di Al-Walid menjadi sasaran untuk mencegah pesawat Irak lepas landas. Bom cluster dari kelompok kedua pesawat-pesawat Phantom berhasil merusak tiga hanggar besar. Pesawat-pesawat Phantom Iran juga mampu membuat beberapa serangan pada beberapa target dengan tembakan kanon. Pada akhir serangan kelompok pesawat kedua, pasukan militer Irak tidak juga bisa menanggapinya dengan serangan balik yang terkoordinasi. Tembakan senjata anti-pesawat yang efektif juga terganggu karena serangan mendadak Iran. Pesawat-pesawat Irak lalu dikerahkan terbang dalam upaya yang gagal untuk mencegat pesawat-pesawat Iran. Setelah serangan itu usai, formasi pesawat Iran kembali ke pangkalannya dengan selamat. Pejabat militer Iran lalu menyatakan bahwa semua pesawat Phantom Iran tidak mengalami kerusakan selama serangan itu. IRIAF mengklaim telah menghancurkan total tiga pesawat angkut Antonov An-12BP, satu pembom Tupolev Tu-16, empat pesawat tempur Mikoyan-Gurevich MiG-21, lima pesawat serang Sukhoi Su-20/22, delapan pesawat tempur Mikoyan-Gurevich MiG-23, dua pesawat tempur Dassault Mirage F1EQ (yang dikirim hanya beberapa minggu sebelumnya) dan empat helikopter, serta merusak sebelas pesawat lainnya yang tidak dapat diperbaiki, termasuk dua pembom Tu-16. Dua pilot Irak dan empat belas personel tewas, bersama dengan tiga orang Mesir dan seorang perwira Jerman Timur, sementara 19 orang Irak, empat orang Mesir, dan dua orang Yordania terluka parah. Serangan ini kemudian dianggap mampu menurunkan kemampuan Irak untuk membalas.

KARIR PHANTOM IRAN SAMPAI SEKARANG

Selama fase pertama perang, pesawat-pesawat Iran yang memiliki keunggulan dalam hal daya tampung bahan bakar dan daya tahan, memenangkan sebagian besar pertemuan udara melawan pesawat-pesawat Irak, baik dengan dengan tembakan rudal AIM-9 atau dengan memaksa pesawat-pesawat Irak untuk mundur. Namun, pada tahap perang ini, rudal pelacak inframerah yang digunakan oleh pesawat tempur dari kedua belah pihak umumnya tidak efektif, selain hanya melakukan penembakan kearah ekor pesawat lawan di ketinggian sedang hingga tinggi. Selain itu, dalam sebagian besar waktu, radar APQ-120 dari F-4E Phantom Iran tidak dapat dioperasikan karena kurangnya suku cadang yang disebabkan oleh embargo senjata, yang berarti bahwa rudal Sparrow tidak dapat ditembakkan. Awalnya, pilot Iran memiliki keunggulan dalam pelatihan dan pengalaman, tetapi ketika perang berlangsung, keunggulan ini secara bertahap hilang karena pembersihan berulang dalam jajaran militer Iran yang menyingkirkan perwira dan pilot berpengalaman yang dicurigai tidak setia kepada rezim Islam fundamentalis atau karena mereka yang memiliki hubungan dekat atau simpati dengan pihak Barat. Kerugian selama 9 bulan pertama perang Iran-Irak diperkirakan mencapai 60 unit Phantom (dari sekitar 100 pesawat Iran yang hilang di tahun pertama perang), dengan lebih banyak lagi yang hilang karena prosedur kanibalisasi atau kurangnya suku cadang. Pertahanan udara Irak dianggap sebagai penyebab utama kehilangan pesawat Iran, selain sejumlah besar lain akibat kecelakaan dan masalah perawatan. Ditambah dengan masalah embargo, pada akhir tahun 1984, diperkirakan Iran hanya memiliki 75 pesawat tempur F-14, F-5 dan F-4 buatan Amerika yang masih operasional, karena kehilangan di medan perang dan kanibalisasi. Pada pertengahan tahun 1980-an dikabarkan hanya ada 20-30 pesawat Phantom Iran yang masih bisa terbang. Jumlah senjata dan suku cadang tidak cukup untuk menopang armada yang ada, tetapi Iran diyakini mendapat beberapa bantuan asing dengan pengiriman rahasia hingga 23 badan pesawat baru, ditambah suku cadang dari AS dan Israel (selama Skandal Iran- Contra), serta dari komponen dan senjata yang dirancang dan direkayasa secara lokal, dan penggabungan teknologi asal Soviet dan China. Dari pesawat F-4 Iran yang dibawa kabur membelot pada tanggal 31 Agustus 1984 ke Arab Saudi, setelah diperiksa, ditemukan memiliki suku cadang asal Israel dan Eropa yang terpasang pada pesawat itu.

F-4 Phantom II Angkatan Udara Iran mengisi bahan bakar di udara selama Perang Iran-Irak. Meski pada pertengahan tahun 1980an, hanya ada 20-30 pesawat Phantom Iran yang masih layak beroperasi, namun hal ini tidak menghalangi pesawat-pesawat Phantom Iran untuk berkontribusi hingga perang berakhir tahun 1988. Selama perang melawan Irak, sekitar 36 pesawat Irak berhasil dijatuhkan oleh pesawat-pesawat Phantom Iran. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
Pesawat MiG-29UB dan Su-24 AU Iran berpose di jajaran pesawat-pesawat Phantom Iran. Hingga kini sekitar 50-75 pesawat Phantom masih berdinas bersama dengan AU Iran. (Sumber: https://theglobepost.com/)

Pada tanggal 5 Juni 1984, dua pilot pesawat tempur Arab Saudi menembak jatuh dua (setidaknya satu yang dinyatakan secara pasti) pesawat tempur F-4 Phantom Iran, dalam sebuah duel sesama pesawat buatan McDonnell Douglas. Pilot Angkatan Udara Kerajaan Saudi (beberapa sumber menyatakan pilot asal Amerika) menerbangkan F-15 Arab Saudi dan menembakkan rudal udara ke udara untuk menjatuhkan setidaknya sebuah pesawat Iran. Pilot pesawat tempur Saudi ini memiliki pesawat tanker udara KC-135 dan pesawat pengintai Boeing E-3 Sentry AWACS yang membantunya dalam pertempuran itu. Dalam perang, F-4 Iran juga turut mengambil bagian dalam misi serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak dengan menggunakan rudal AGM-65 Maverick dan bahkan rudal udara-ke-udara AIM-9 Sidewinder, sementara bom tidak digunakan, yang mungkin karena kekurangan stok senjata ini. Meskipun kesiapan pesawat-pesawat Phantom tetap cukup rendah sepanjang sisa masa perang Iran-Irak, hingga akhir bulan Januari 1988, IRIAF masih dapat melakukan serangan roket selama perang tanker di kawasan Teluk. Ketika perang berakhir pada tahun 1988, IRIAF mungkin hanya memiliki selusin atau kurang pesawat Phantom yang masih dalam kondisi cukup baik untuk terbang. Namun, pada abad ke-21, pemerintah Iran diketahui masih memiliki antara 50 dan 75 F-4 dalam dinas operasionalnya. Di antaranya, masih ada beberapa F-4D asli yang diperbarui dengan avionik yang kemampuannya telah ditingkatkan, termasuk dengan pemasangan radar berkemampuan “look-down” terbatas. Pada tanggal 30 November 2014, Al Jazeera melaporkan bahwa pesawat-pesawat F-4 Iran telah melakukan serangan udara di wilayah Irak terhadap target-target kelompok ISIS. Amerika Serikat mengkonfirmasi serangan itu beberapa hari kemudian, tetapi pihak Iran sendiri tidak mengkonfirmasi atau menyangkal bahwa serangan udara Iran itu telah terjadi. Keduanya juga membantah bahwa mereka telah mengoordinasikan segala jenis serangan udara yang dilakukan terhadap pasukan ISIS di Irak. Selama masa dinasnya, pesawat-pesawat Phantom Iran diperkirakan mencetak sekitar 36 kemenangan di udara atas lawan-lawannya.

KEEP FLYING & STAY STRONG

Pesawat F-4G “Wild Weasel” AU Amerika sempat dikerahkan dalam Operasi Desert Storm tahun 1991 melawan situs-situs radar Irak. (Sumber: https://pixels.com/)

Saat beberapa angkatan udara di dunia tidak memiliki rencana kedepan untuk armada pesawat Phantom mereka selain untuk dipajang di museum, Israel mencurahkan banyak upaya untuk memperbarui armada Phantom-nya. Upaya itu dimulai dengan Israel Aircraft Industries (IAI) memulai dua program peningkatan. Program Super Phantom melibatkan rekayasa ulang F-4E dengan menggunakan mesin turbofan Pratt & Whitney PW1120, memberikan peningkatan performa yang dramatis. Phantom yang dimodifikasi dilengkapi dengan satu mesin PW1120 dan satu mesin J79 asli pertama kali terbang pada tanggal 24 April 1987. Selanjutnya, pengujian dilakukan dengan Phantom yang menggunakan dua mesin PW1120 yang muncul di pertunjukan udara di Paris bulan Juni 1987. Versi perbaikan berikutnya adalah Phantom 2000 Israel yang juga memiliki radar multimode canggih baru, HUD (head-up display) layar lebar, dengan tampilan multifungsi untuk kedua awak, sistem pengiriman senjata terkomputerisasi baru dan perangkat radio yang ditingkatkan. Pada tahun 1990-an, saat rencana ambisius pembuatan pesawat tempur asli Israel yang disebut Lavi telah dibatalkan, angkatan udara Israel akan mengandalkan pesawat tempur F-15C Eagle untuk peran tempur udara-ke-udara, F-16 Fighting Falcon untuk peran udara dan darat, dan Phantom yang telah diremajakan untuk misi serang tempur. Phantom 2000 diharapkan akan mengatasi kelemahan utama Phantom – salah satunya termasuk langkah dramatis yang dibuat dalam memperbaiki kemampuan radar tempur F-4E, sejak model ini diperkenalkan pada tahun 1966. Sementara itu, Israel juga menggunakan Phantom untuk berbagai misi uji coba, termasuk proyek pengembangan rudal anti-kapal Gabriel Mark 3. Karier tempur Phantom di Timur Tengah di era modern toh masih jauh dari selesai. Pada tanggal 16 Januari 1991, pasukan Irak kembali diserang oleh pesawat tangguh bersayap bengkok ini – kali ini bukan armada pembom tempur Iran, tetapi F-4G “Wild Weasel” Amerika dari Wing Tempur Taktis ke-35 yang berpangkalan di Pangkalan Angkatan Udara George, California. Pesawat ini terbang pada ketinggian rendah untuk melawan situs radar dan instalasi anti-pesawat mereka. Produksi Phantom berlangsung dari tahun 1958 hingga 1981 dengan total 5.195 pesawat yang dibuat, menjadikannya pesawat militer supersonik Amerika yang paling banyak diproduksi dalam sejarah, dan mengukuhkan posisinya sebagai pesawat tempur yang ikonik dalam Perang Dingin. F-4 juga dioperasikan oleh angkatan bersenjata dari 11 negara selain Amerika. Pada tahun 2000, Israel masih mengoperasikan sekitar 112 F-4E/Kurnass 2000, dengsn ditambah dua pesawat F-4E(S) dan 14 RF-4E, dengan nomor yang tidak diketahui disimpan di unit cadangan. Diyakini ada tiga skuadron IDF/AF Phantom yang tersisa – 119 Tayeset dan 201 Tayeset berbasis di Bacha 8 dan 142 Tayaset berbasis di Hatzerim. F-4E versi dasar yang tidak dimodifikasi semuanya sudah dihapus dari dinas operasional IDF/AF dan sekarang semuanya dalam penyimpanan. IDF/AF mempensiunkan F-4 terakhirnya pada tahun 2004. Pada tahun 2021, 63 tahun setelah penerbangan pertamanya, F-4 tetap dalam masih ada dalam dinas aktif bersama dengan angkatan udara Iran, Korea Selatan, Yunani dan Turki.

F-4E Phantom Kurnass 2000, versi Phantom terakhir yang digunakan oleh AU Israel. Kini Israel telah mempensiunkan semua armada pesawat Phantom-nya. (Sumber: https://fstudiosweb.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

McDonnell F-4 Phantom: Essential Aircraft in the Air Warfare in the Middle East by Ronald Drucker

Fighters Over Israel: The Story of the Israeli Air Force from the War of Independence to the Bekaa Valley by Lon Nordeen, 1990; p 99-101, p 110-113, p 144-145, p 160, p 175, p 178-179

Air Warfare in the Missile Age by Lon O. Nordeen, 1985; p 127, p 129, p 132, p 134-135, p 163, p 178-180, p 186-188

An Illustrated Guide To The Israeli Air Force, Bill Gunston, 1982; p 107-113

Phantom with Israel Last revised September 28, 2015

http://www.joebaugher.com/usaf_fighters/f4_41.html

Phantom with Iran Last revised March 30, 2004

http://www.joebaugher.com/usaf_fighters/f4_44.html

Attributed Israeli Air Combat Victories, Last revised: November 19 2006

http://aces.safarikovi.org/victories/victories-israel.html

Iranian Air-to-Air Victories, 1982 Today By ACIG Team; Sep 16, 2003, 03:00

https://web.archive.org/web/20130825053210/http://www.acig.org/artman/publish/article_211.shtml

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_Douglas_F-4_Phantom_II

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Project_Dark_Gene

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Scorch_Sword

https://en.m.wikipedia.org/wiki/H-3_airstrike

https://en.m.wikipedia.org/wiki/McDonnell_Douglas_F-4_Phantom_II_non-U.S._operators

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Kaman_99

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *