Perang Vietnam

1958-1962: Saat Laos Dan Bukan Vietnam Menjadi Medan Perang Utama Amerika di Asia Tenggara

Pada tahun 1959 Amerika Serikat ditarik ke dalam konflik lokal di sebuah kerajaan kecil di Asia, dengan mengandalkan tentara rahasia, taktik khas Perang Dingin, bersama dengan sikap yang meremehkan musuh. Terdengar sebagai suatu hal yang familiar? Hampir 60.000 orang Amerika kemudian akan tewas dalam Perang Vietnam, bersama dengan banyak orang Vietnam, Kamboja, dan Laos yang tak terhitung jumlahnya. Banyak pengorbanan diantara mereka digunakan untuk mendukung pihak-pihak yang berkonflik di daerah-daerah perbukitan berkabut di Laos pada 1950-an, jauh sebelum banyak orang Amerika menaruh perhatiannya pada wilayah Asia Tenggara. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya di Laos dari tahun 1958 hingga 1962 melawan pasukan Komunis—Pathet Lao dan Vietnam Utara—adalah intervensi yang dimaksudkan untuk mendorong Laos agar berpihak pada Perang Dingin. Sebaliknya, keterlibatan mereka malah memunculkan konflik baru, yakni sebuah perang saudara yang menghidupkan kembali perjuangan bersenjata di Asia Tenggara yang telah berakhir dengan kekalahan Prancis di Dien Bien Phu pada tahun 1954. Dan perang rahasia itu, di mana aksi lebih dominan dibanding dengan kalkulasi kepentingan nasional, pada akhirnya akan menjadi pendahuluan dan cikal bakal dari kegagalan Amerika Serikat di Vietnam selama dekade berikutnya. Memang, jalan menuju Perang Vietnam terbentang melalui Laos, tidak hanya secara politik dan strategis tetapi juga secara fisik. Secara politis, Washington dan Hanoi telah mengembangkan kepentingan mereka di Laos—sejak tahun 1950-an—yang mana mereka enggan untuk menyerah satu sama lain. Washington di satu sisi mencari benteng untuk bisa melawan penyebaran pengaruh Komunisme; sedangkan Hanoi, yang telah memainkan peran formatif dalam penciptaan gerakan Komunis Laos, pada awalnya bertujuan untuk melindungi investasi mereka itu, dan kemudian menggunakan wilayah Laos untuk membantu upayanya memasok gerilyawan komunis di Vietnam Selatan. Presiden John F. Kennedy, yang akhirnya menolak intervensi terbuka di Laos yang negerinya terkurung daratan, kemudian merasa berkewajiban untuk bertindak secara lebih menentukan di Vietnam. 

SP4 Nelson A. Parker menggunakan telepon lapangan untuk meminta bantuan kekuatan udara saat unit patroli Vietnam-nya dikepung oleh pasukan Komunis Viet Cong di hutan 20 mil sebelah utara Saigon di Vietnam pada tanggal 15 Februari 1965. Di sampingnya adalah Sersan. Lloyd E.Rath. Keduanya adalah penasihat AS dengan patroli tersebut. Keterlibatan mendalam Amerika di Vietnam, sudah lebih dulu diawali di Laos pada tahun 1950an. (Sumber: https://www.pennlive.com/)

LATAR BELAKANG KONFLIK

Secara strategis, Laos menjadi medan pertempuran di mana kedua belah pihak bebas bertindak dengan tidak banyak menarik perhatian domestik di dalam negeri mereka masing-masing. Sementara mayoritas para pendukung Vietnam di Amerika Serikat mendesak untuk diberikannya bantuan ke Vietnam Selatan, namun untuk Laos tidak ada opini mainstream sama sekali atas negeri itu. Presiden Amerika dengan demikian memiliki kebebasan penuh untuk mencoba kebijakan mereka—serta menjalankan spektrum penuh taktik militernya  secara terselubung maupun terbuka. Di pihak lain beberapa pemimpin Hanoi mencurahkan perhatian mereka di Laos. Mereka berpendapat bahwa ada kedekatan alami antara Komunisme Vietnam dan Laos dan menemukan bahwa rekan-rekan Laos mereka setuju dengan pemikian yang sama. Disamping itu perbatasan terbuka yang panjang antara Vietnam dan Laos, serta hutan belantara di negeri itu memungkinkan Hanoi untuk bertindak dalam penuh kerahasiaan yang nyaris sempurna. Secara fisik, Laos mewakili jalan nyata bagi Vietnam Utara untuk menuju ke selatan, yang mutlak diperlukan untuk menyusupkan perbekalan dan terutama pasukan ke Vietnam Selatan, yang dengan hal ini, pada akhirnya mengharuskan pihak Utara untuk bertindak melindungi kepentingannya di Laos. Sekarang, catatan rahasia dari pemerintah Amerika Serikat sebelumnya memperjelas bahwa keterlibatan Amerika dalam perang saudara Laos dimulai lebih awal dari yang diyakini sebelumnya, dan campur tangan Amerika Serikat yang tidak kompeten di Laos telah menyiapkan panggung bagi perang yang jauh lebih besar di mana negara kecil dan terbelakang itu menjadi salah satu garis depannya. Dengan kelemahan politik sekutu Laosnya, Washington tidak akan pernah memiliki kesempatan serius untuk mengendalikan front itu, sehingga memberi jalan terbuka bagi Hanoi untuk memanfaatkan negeri itu sebagai “jalan lebar” menuju ke Vietnam Selatan. 

Pasukan Vietnam Utara bergerak di Ho Chi Minh Trail tahun 1969. Jalur Ho Chi Minh Trail banyak menggunakan wilayah di Laos yang seharusnya menjadi negara yang netral dari intervensi militer bangsa asing. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Akar konflik Laos di abad ke-20 sudah berakar pada masa kolonialisme Prancis di Indocina. Prancis pertama kali memperoleh pengaruh di wilayah Laos melalui para keluarga kerajaan Laos di istana Luang Prabang, di mana Prancis menawarkan perlindungan terhadap para perampok Cina yang dikenal sebagai Haw, dan memberikan kesempatan bagi penguasa Laos untuk melepaskan belenggu dari dominasi Kerajaan Siam (Thailand). Seiring dengan berjalannya waktu, Prancis berhasil menguasai kerajaan itu, dan menyebarkan kekuasaan mereka ke seluruh Laos. Karena Prancis menganggap Vietnam dan Laos sebagai satu kesatuan, yakni Indochina, adalah suatu hal yang logis kemudian untuk melihat bagaimana gerakan nasionalis melawan Prancis di Vietnam, yang diwujudkan oleh Viet Minh, menyebar ke Laos, sehingga gerakan komunis Pathet Lao pada dasarnya merupakan perpanjangan dari gerakan komunis Ho chi Minh. Lebih dari itu enam puluh persen dari populasi di enam wilayah perkotaan Laos adalah orang Vietnam, dengan orang-orang Vietnam banyak memegang posisi kunci sebagai birokrasi sipil dan polisi, menunjukkan betapa eratnya hubungan kedua bangsa. Sejak tahun 1930-an, Partai Komunis Indocina juga telah mendirikan sel-sel Vietnam sepenuhnya di Laos. Sementara itu, kaum royalis (kerajaan) Laos, yang diwakili oleh keluarga pangeran Luang Prabang, Vientiane, dan Champassak, tetap menjadi boneka Prancis. Terletak di pedalaman Indochina, Laos kerap menyebut dirinya sebagai “negeri sejuta gajah.” Terkurung daratan dan dikelilingi oleh kedua Vietnam (saat itu Utara dan Selatan), Kamboja, Thailand, Burma, dan Republik Rakyat Cina, pada 1950-an Laos adalah negeri miskin yang berpenduduk jarang dengan sedikit sumber daya. Sejujurnya tidak banyak yang dipertaruhkan di sini. Laos adalah negara monarki konstitusional dengan pusat kerajaan ada di satu kota, yakni Luang Prabang, dan ibukota administratifnya seratus mil jauhnya, yakni di Vientiane. Sebuah elit politik kecil menjalankan negara ini. Bahkan lebih daripada di Vietnam, banyak dari para pemimpin ini telah saling mengenal satu sama lain, seringkali bahkan sejak kecil. Keturunan keluarga kerajaan mendominasi kekuasaan dan politik utama mereka berputar di sekitar netralitas Laos. Pada satu waktu ada lima bersaudara pangeran di Laos. Tiga di antaranya kemudian akan menjadi tokoh politik di negerinya dengan memilih jalannya masing-masing. Yang tertua, Pangeran Phetsarath, adalah yang pertama kali mendeklarasikan Laos sebagai negara merdeka, bebas dari pemerintahan Prancis, pada tahun 1945, atas desakan Jepang yang mengusir kekuasaan Prancis. Namun, dalam enam bulan, Perang Dunia II berakhir, dan Prancis kembali datang dan memberi tahu Phetsarath dan rekan-rekannya bahwa “pesta telah berakhir”, dan bahwa dia dan teman-temannya lebih baik pergi, karena Prancis telah kembali. Jadi mereka kemudian melarikan diri ke Thailand. Saudara kedua, adalah Pangeran Souvanna Phouma yang adalah seorang pemimpin kelompok netral yang penting. Pangeran Souvanna, lalu akan kembali ke Laos sebagai Perdana Menteri yang bernasib buruk dari sebuah negara yang terpecah belah – tujuh kali dalam dua puluh tahun!

Laos negeri yang terisolasi dari lautan, dengan tetangga-tetangganya yang memiliki banyak kepentingan. Meski miskin sumber daya, namun letak geografisnya membuat Laos menjadi persimpangan strategis di kawasan Indochina. (Sumber: http://www.getamap.net/)
3 Pangeran Laos yang akan mendominasi perpolitikan di Laos setelah era kolonial Prancis. (Sumber: https://twitter.com/)
Prajurit Pathet Lao di Sam Neua, tahun 1953. Kedekatan Pathet Lao dengan kaum komunis Vietnam, membuka jalan bagi intervensi Hanoi di Laos sepanjang Perang Vietnam. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Lalu ada saudara tirinya, Pangeran Souphanouvong, yang memimpin Neo Lao Hak Xat, sebuah front patriotik nasional yang mendukung kelompok Pathet Lao Komunis. Pangeran Souphanouvong, bersama dengan Kaysone Phomvihane, yang setengah Laos – setengah Vietnam, bersekutu dengan Ho Chi Minh dan komunis Viet Minh, dan menyebut pasukan mereka Pathet Lao, atau Negeri Bangsa Lao. Didirikan di Utara Vietnam selama Perang Indochina pertama antara Prancis dan Vietminh, Pathet Lao berkomitmen pada perjuangan komunis melawan kolonialisme. Pada tahun 1953, gerilyawan Pathet Lao menyertai invasi Viet Minh ke Laos dari Vietnam dan kemudian mendirikan pemerintahan di Sam Neua di Laos utara dan melawan monarki boneka yang dipasang Prancis di wilayah itu. Sementara itu, netralitas Laos secara eksplisit diakui dalam perjanjian Jenewa tahun 1954 yang mengakhiri perang Prancis di Vietnam. Pembagian penting lainnya adalah dalam hal etnis, antara suku Lao di sekitar Mekong dan lembah sungai lainnya, dan suku minoritas di pegunungan dan dataran tinggi. Perang Dingin kemudian membawa Laos ke dalam pergolakan. Perjanjian Jenewa masih meninggalkan pasukan Komunis Vietnam Utara di negara itu bersama dengan kelompok Pathet Lao bersenjata, yang mengendalikan sejumlah wilayah yang signifikan. Sebenarnya sudah terdapat upaya berulang-ulang dari tahun 1954 dan seterusnya untuk memaksa Vietnam Utara keluar dari Laos, tetapi terlepas dari kesepakatan atau konsesi apa pun, Hanoi tidak berniat menarik diri dari negara itu atau meninggalkan sekutu komunis Laosnya. Sementara itu pembicaraan di antara faksi-faksi di Laos menghasilkan pengaturan baru di bulan Maret 1955 untuk mengintegrasikan semua faksi politik, termasuk Pathet Lao, ke dalam pemerintahan. Rencana tersebut termasuk dilakukannya pemilihan umum dan pembentukan kabinet koalisi, serta memasukkan pasukan Pathet Lao ke dalam Angkatan Bersenjata Kerajaan Laos.

KETERLIBATAN AMERIKA

Tetapi rencana itu bertentangan dengan kebijakan Perang Dingin pemerintahan Eisenhower. Washington memiliki tiga agenda di Laos. Yang pertama mereka anti-Komunis, dan mereka berupaya untuk menghalangi menguatnya pengaruh Vietnam Utara dan Cina. Yang kedua adalah upaya untuk memaksimalkan peran Amerika Serikat dan meminimalkan peran Prancis, yang baru saja melepaskan kendali atas Laos pada tahun 1954. Yang ketiga adalah mengupayakan orang-orang Laos untuk berpihak dengan Amerika dalam Perang Dingin. Dalam peran terbukanya, setelah Perjanjian Jenewa Amerika Serikat memimpin menciptakan aliansi pertahanan yang disebut Organisasi Perjanjian Asia Tenggara (SEATO), yang pada awalnya mencakup Australia, Prancis, Selandia Baru, Pakistan, Filipina, Thailand, Inggris, dan Amerika Serikat. Di bawah aturan Jenewa, Laos tidak bisa menjadi bagian dari SEATO, tetapi Washington memastikan bahwa Laos menjadi “negara protokol,” status ambigu yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa aliansi itu mungkin bisa bertindak di sana. Pemerintah AS bahkan juga membayar gaji seluruh Tentara Kerajaan Lao, menjadikan Laos sebagai penerima bantuan AS per kapita tertinggi yang pernah ada, dan dengan para pembayar pajak Amerika sendiri bahkan tidak menyadari ke mana uang mereka pergi. Sementara itu, seperti di Vietnam Selatan, pemerintahan Eisenhower berencana untuk menggantikan posisi Prancis. Upaya mereka itu memperoleh kemajuan pada pertengahan tahun 1954, ketika Perdana Menteri Souvanna Phouma mengundurkan diri setelah adanya pembunuhan seorang menteri pertahanan pro-Prancis. Peristiwa ini menguntungkan agenda rahasia Amerika Serikat. Seorang dari kelompok nasionalis sayap kanan lalu menggantikan Souvanna yang netral, dan bantuan Amerika mulai mengalir ke Laos pada tanggal 1 Januari 1955. Tetapi setelah perubahan politik ini, Pathet Lao meninggalkan proses integrasi ke dalam pemerintahan Laos. 

Presiden Eisenhower berperan aktif dalam mendorong Amerika terlibat di Laos pada tahun 1950an. (Sumber: https://www.npr.org/)

Pada Natal tahun 1955, Pemerintah Kerajaan Laos mengadakan pemilihan umum yang mengecualikan kelompok Pathet Lao, yang pada akhirnya justru semakin memperumit proses rekonsiliasi. Yang membuat Washington khawatir, pemilihan tersebut malah menghasilkan mayoritas untuk faksi netral, bukan yang pro-Amerika. Pada tanggal 21 Maret 1956, Souvanna Phouma memulai masa jabatan keduanya sebagai perdana menteri. Dia membuka dialog dengan saudaranya, Souphanouvong. Pada bulan Agustus, mereka mengumumkan niat untuk mendeklarasikan gencatan senjata dan mengintegrasikan kembali Pathet Lao dan wilayah pendudukan mereka ke dalam pemerintahan. Namun, Pathet Lao mengklaim hak untuk mengelola provinsi yang mereka duduki. Pada saat yang sama, mereka dan pendukung Vietnam Utara mereka menjalankan kampanye perekrutan besar-besaran, dengan tujuan membentuk sembilan batalyon pasukan. Banyak dari rekrutan baru dikirim ke Vietnam Utara untuk mengikuti sekolah dan pelatihan. Hal ini menyebabkan kekhawatiran Amerika Serikat bahwa Angkatan Darat Kerajaan Laos tidak akan siap menghadapi Pathet Lao, karena karena hanya ada satu misi militer kecil Prancis yang bekerja untuk melengkapi dan melatih tentara Laos. Musim panas berikutnya Souvanna Phouma menyusun rencana persatuan baru, yang dikonfirmasi pada akhir tahun 1957, dan Laos tampaknya kembali ke jalan menuju netralitas yang ditetapkan Perjanjian Jenewa. Dia ingin membentuk pemerintahan koalisi dengan anggota Pathet Lao, dan pada bulan Februari 1958 beberapa pasukan Pathet Lao bersiap untuk bergabung dengan tentara nasional. Sebuah pemilihan baru terjadi. Meskipun bantuan Amerika dirancang untuk membantu kandidat yang bersahabat, Pathet Lao dan sekutu politiknya malah memenangkan mayoritas kursi. Menteri Luar Negeri John Foster Dulles mengatakan dalam telegram 10 hari sesudahnya bahwa tugas yang sulit adalah meyakinkan Prancis untuk bertindak bersama-sama dengan Amerika Serikat dan membuat Pemerintah Kerajaan Laos mencap Pathet Lao “sebagai agen (dari) kelompok komunisme dunia dan (orang-orang Laos) harus bersatu dalam perjuangan yang efektif (untuk) mengalahkan mereka.” Kini permusuhan terbuka sudah dimulai. Souvanna juga mengunjungi ibukota komunis Hanoi dan Beijing. Semua ini membuat AS kesal. Pemerintah koalisi tidak dapat diterima, Konvensi Jenewa atau tidak ada Konvensi Jenewa, kata Menteri Luar Negeri, John Foster Dulles. Sejak bulan Juni 1958, Central Intelligence Agency (CIA) telah mendukung politisi konservatif Laos yang membentuk Komite untuk Pertahanan Kepentingan Nasional. Washington juga menghentikan bantuannya kepada pemerintah Laos begitu pihak netral mengambil alih, yang lalu menyebabkan krisis keuangan dan menyebabkan jatuhnya pemerintahan Souvanna Phouma. Sebagai pengganti adalah seorang sayap kanan yang mengeluarkan Pathet Lao dari pemerintah meskipun mereka memiliki kekuatan dalam parlemen. Komite untuk Pertahanan Kepentingan Nasional sementara itu menjadi basis kekuatan bagi kolonel Laos Phoumi Nosavan, yang segera menjadi tokoh kunci di kancah perebutan kekuasaan di Laos. 

Mayor Jenderal Phoumi Nosavan, yang akan menjadi sekutu kunci Amerika di Laos. (Sumber: https://alchetron.com/)

Pada bulan Mei itu, Amerika Serikat telah mempertimbangkan untuk mengirimkan bantuan militer bagi Laos. Aksi Washington ini memiliki konsekuensi yang besar. Sebelumnya Amerika Serikat telah mendirikan Program Evaluation Office (PEO) di Laos pada akhir tahun 1955, yang dikelola oleh mantan personel militer AS yang telah diberi mandat untuk bertugas di luar negeri. Dipimpin oleh Brigjen Angkatan Darat. Rothwell H. Brown, yang sebelumnya bertugas dengan kelompok penasihat di Saigon, stafnya dengan cepat bertambah dari 10 personel menjadi 60 orang. Di bawah aturan Jenewa, yang melarang kehadiran militer asing selain dari negara bekas kekuatan kolonial, Prancis kemudian tetap bertanggung jawab untuk tugas pelatihan dan pengawasan militer di Laos, dan peran Amerika terbatas pada perencanaan anggaran dan penjadwalan kedatangan peralatan. Kemudian, penasihat PEO melakukan inspeksi penggunaan akhir, dan masih juga memberikan saran pelatihan kepada pihak Prancis. Prancis terus mempertahankan pangkalan di Seno di kawasan panhandle Laos (diberi nama tangkai panci, karena wujud wilayah Laos yang serupa di peta), mengendalikan satu-satunya lapangan terbang di Laos yang memiliki lampu landasan pacu, menara kontrol, dan pengarah navigasi. Frustrasi oleh terbatasnya peran Amerika Serikat dan mereka sendiri yakin bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada orang-orang Prancis, PEO melobi Duta Besar Horace H. Smith untuk mendatangkan penasihat militer. Tetapi Smith khawatir bahwa menggunakan orang-orang militer yang masih aktif akan melanggar pembatasan dalam perjanjian Jenewa. Washington memihak duta besarnya: sementara sebuah kelompok penasihat bisa menjadi kunci peran Amerika di masa depan tetapi saat itu mereka hanya bisa mengandalkan warga sipil. Keputusan tentang ide pengiriman penasihat AS ini memiliki efek yang tidak terduga. Presiden Dwight D. Eisenhower kemudian memilih untuk tidak secara ketat mematuhi aturan perjanjian Jenewa. Sebaliknya, presiden memerintahkan kebijakan campuran antara kerjasama resmi dan berbagai inisiatif rahasia. Keputusan ini memperluas peran CIA dan mereka dengan konsisten menggunakan kebijakan Ike ini dalam berbagai peran mereka di Perang Dingin, seperti di negara-negara semacam Iran, Guatemala, Indonesia, dan Suriah, sambil tetap terlihat mematuhi pembatasan dalam perjanjian Jenewa. Amerika Serikat akan terus mempertahankan sikap kebijakan dasar Ike itu selama perang mereka di Laos. 

AWAL PERANG RAHASIA DI LAOS

Dari sini lahirlah apa yang dikenal sebagai perang rahasia di Laos. Dalam sejarah, Presiden John F. Kennedy dan Lyndon B. Johnson kemudian telah dikritik karena tidak meninggalkan kerangka ketentuan Perjanjian Jenewa untuk melakukan perang terbuka di Laos, tetapi faktanya pilihan itu telah dibuat oleh pemerintahan Eisenhower. Washington terus melanjutkan bantuannya pada bulan Oktober 1958, dan menyediakan dana hampir $500 juta pada 1960, tahun terakhir Eisenhower menjabat. Catatan yang kemudian dibuka menunjukkan bahwa dua pertiga dana itu digunakan untuk membiayai biaya militer Laos. (Ironisnya uang dalam bentuk hibah untuk pembangunan dan kerja sama teknis lainnya hanya berjumlah $7,9 juta.) Pelanggaran pertama dari pembatasan perjanjian Jenewa tahun 1954 terjadi saat itu ketika peran pelatihan Amerika Serikat di angkatan bersenjata Laos diperluas. Sejarah Angkatan Udara AS yang sebelumnya dirahasiakan mencatat bahwa empat tim pelatihan mobile Pasukan Khusus AS (Baret Hijau) sudah berada di Laos sebelum akhir tahun 1958. CIA lalu menambahkan 72 instruktur Filipina melalui Operation Brotherhood, sebuah upaya bantuan teknik sipil yang menyembunyikan fungsi militer mereka yang lebih banyak. Saat itu kepala PEO baru, Brig. Jenderal John G. Heintges, menuntut partisipasi terbuka Amerika Serikat dalam pelatihan, dengan memindahkan selusin tim mobile dengan penugasan selama enam bulan. Upaya ini pada akhirnya akan berkembang menjadi Operasi White Star yang terkenal, yakni upaya militer AS pertama yang diakui dengan baik di Laos, meskipun untuk saat itu oposisi dari pihak Prancis terus berusaha menunda langkah tersebut. Mulai bulan September 1958, Komandan Teater Pasifik (CINCPAC), Laksamana Harry D. Felt, mulai menekan Washington untuk memaparkan rencana Strategi Perang Dingin untuk Laos, termasuk perkiraan pendanaan dan logistik yang diperlukan, sebagai langkah pertama dalam serangkaian rencana untuk melakukan intervensi di Laos. 

Prajurit Pasukan Khusus Amerika melatih personel Angkatan Darat Kerajaan Laos keahlian menembak dasar menggunakan senapan Thompson. Pada tahun 1950an, Amerika berupaya meningkatkan pengaruh mereka di Laos menggeser Prancis. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Tetapi pada tanggal 15 Januari 1959, menurut risalah Dewan Keamanan Nasional yang kemudian diungkap, Direktur CIA Allen W. Dulles mengatakan kepada NSC bahwa “bahaya kemungkinan pengambilalihan kekuasaan oleh pihak Komunis di Laos semakin meningkat setiap hari.” Anggota dewan pada saat itu tercengang. Dalam waktu kurang dari setahun, Laos telah berubah dari negara netral berkembang menjadi krisis bagi keamanan Amerika. Pemerintahan Eisenhower jelas telah melebih-lebihkan kekuatan pro-Amerika Serikat dan efektivitas bantuan dan aksi militernya sendiri, sementara gagal memberikan bantuan ekonomi yang mungkin mampu memperkuat Pemerintah Kerajaan Laos. Mereka juga jauh meremehkan kebulatan tekad kaum netralis—dan pengaruh dari komunis Pathet Lao. Pada pertengahan tahun 1959, Kepala Staf Gabungan membuat rencana darurat pertama mereka untuk Laos, dengan menyediakan Satuan Tugas Gabungan 116 untuk merencanakan operasi militer dan melaksanakannya jika diperlukan, dimana mereka mengalokasikan unit Angkatan Darat dan Marinir AS untuk diangkut lewat udara ke Seno dan Vientiane, dan armada transport Angkatan Udara untuk membawa mereka kesana. Perencanaan logistik lebih menimbulkan bermasalah karena semua perbekalan harus diimpor dari Vietnam atau Thailand dan jalan-jalan di Laos yang primitif sangat membatasi tonase yang dapat diangkut. Rencana Kepala Staf Gabungan itu akhirnya akan tetap tersimpan tanpa sempat diwujudkan sampai nantinya.

IKATAN PATHET LAO & HANOI

Catatan kontemporer menunjukan Pathet Lao tidak lebih dari kaki tangan dari Vietnam Utara, namun gerakan kemerdekaan Laos yang sama yang telah menciptakan kelompok netralis, juga telah turut melahirkan Pathet Lao. Namun demikian, ada hubungan erat antara Hanoi dan Pathet Lao, dan Vietnam Utara telah membuat keputusan penting bagi pertumbuhan Pathet Lao Komunis dan front patriotiknya, Neo Lao Hak Xat. Hal itu sebenarnya bisa ditarik kembali dari masa-masa selama konferensi Jenewa 1954, ketika komandan Vietnam Utara Jenderal Vo Nguyen Giap, dalam mengantisipasi kewajiban untuk menarik tentara Vietnam dari Laos, memerintahkan pembentukan kader penasihat, yang terpisah dari unit pasukannya, untuk membantu Pathet Lao. Lima hari sebelum negosiasi Jenewa berakhir, Hanoi telah membentuk kelompok penasihatnya sendiri, Doan 100, yang dipimpin oleh spesialis suku minoritas di pegunungan, yakni Chu Huy Man, mantan pejabat politik Divisi ke-316 Tentara Rakyat Vietnam. Unit tempur Vietnam Utara diharuskan mundur dari wilayah Laos setelah Perjanjian Jenewa, tetapi para penasihat Vietnam Utara yang menyamar tetap tinggal. Sarjana Kanada Christopher Goscha, lewat analis paling tajamnya meneliti peristiwa ini, menemukan bahwa kedua keputusan ini telah membentuk kebijakan Hanoi kemudian. Setelah itu Komite Kader untuk wilayah Laos Barat, penasihat politik dari Hanoi, dan unit Doan 100 bergabung untuk mengubah Pathet Lao menjadi gerakan yang lebih luwes dan mandiri yang menguasai provinsi Sam Neua dan Phong Saly. Komite Kader berfungsi di bawah arahan Nguyen Khang, seorang anggota Komite Sentral Partai Buruh Vietnam, yang telah membantu membentuk partai Pathet Lao ketika pertama kali dibentuk. Antara tahun 1954 dan 1957 sekitar 318 orang Vietnam bertugas dengan unit Doan 100 dan 531 orang lainnya bekerja di Komite Kader. Ringkasan catatan bantuan Vietnam menunjukkan bahwa Hanoi menyediakan dana sekitar $2,5 juta untuk dalam proyek Laosnya. Tujuan Hanoi adalah untuk mengatur ulang Pathet Lao dalam waktu tiga tahun. Vietnam kemudian membantu Pathet Lao dengan membentuk staf umum, biro logistik, dan kantor politik, selain melatih perwira dan pasukannya. Rekan Lao mereka yang paling penting adalah Kaysone Phoumvihane, komandan pertama tentara kemerdekaan Lao (Lao Issara), seorang menteri Pathet Lao dalam pemerintahan koalisi Laos yang pertama. Lebih dari 9.000 orang Laos berkumpul kembali di provinsi-provinsi yang dikendalikan Pathet Lao, dan sekitar 7.200 orang direkrut untuk menjadi tentara Pathet Lao, yang mengubah kelompok-kelompok gerilya menjadi unit-unit batalyon. Pada awal tahun 1957, Doan 100 telah mengawasi pembentukan delapan batalyon pasukan utama dan dua batalyon senjata berat, dua belas kompi independen, tiga kompi transportasi, satu kompi untuk intelijen militer, dan unit lainnya. Orang-orang Vietnam melatih orang-orang Laos dalam taktik dan ideologi tetapi juga dalam melakukan mobilisasi politik, administrasi desa, dan propaganda. Doan 100 lalu kembali ke Vietnam Utara pada awal tahun 1958.

Jenderal Chu Huy Man (kiri) di observatorium militer pada bulan Juni 1972. Pada tahun 1950an, Chu Huy Man menjadi penasehat Pathet Lao. (Sumber: https://radio.voh.com.vn/)

Sementara itu, Pathet Lao menyadari apa yang terjadi di Vientiane. Insiden pertempuran antara Pemerintah Kerajaan dan pasukan Pathet Lao dimulai pada tahun 1955, oleh sekitar 685 personel Pathet Lao menurut catatan Vietnam. Mereka terlibat dalam beberapa pertempuran sengit termasuk di mana Jenderal Chu Huy Man sempat memberikan nasihat penting. Kemudian seperti yang sudah disinggung diatas, Pathet Lao tidak diikutkan dalam pemilihan Laos pertama. Souphanouvong dan Kaysone juga dipecat dari pemerintahan. Setelah sempat menyetujui proses integrasi, Pathet Lao merasa terancam oleh manuver Amerika Serikat menggulingkan netralis, Souvanna Phouma. Ketika tiba saatnya untuk mengintegrasikan personel Pathet Lao ke dalam angkatan bersenjata pemerintah, otoritas Vientiane hanya memilih 1.500 personel untuk berpartisipasi dalam militer, sementara yang bergabung, beberapa kali banyak yang dijadwalkan untuk didemobilisasi. Kelompok yang akan didemobilisasi ini, terdiri dari dua batalyon, termasuk 133 anggota partai Pathet Lao yang memiliki kedekatan rahasia ke komando tinggi Pathet Lao dan Vietnam. Ketika mereka mengamati komandan Pemerintah Kerajaan Laos mengambil tindakan untuk melemahkan mereka, Pathet Lao mengakhiri inisiatif mereka untuk berintegrasi dengan pemerintah. Pasukan pemerintah kemudian mengepung perkemahan Pathet Lao pada Mei 1959 dan menuntut kesetiaan mereka. Satu unit membiarkan dirinya berintegrasi. Sementara itu, Batalyon ke-2 keluar dari kampnya dan berhasil menghindari pasukan pemerintah yang melakukan pemblokiran, termasuk pasukan terjun payung pemerintah yang dijatuhkan di sepanjang rute pelarian mereka. Pertempuran lalu segera dimulai, meskipun belum dalam skala besar. Beberapa bulan kemudian perkiraan dari dokumen CIA, yang sekarang dibuka, menyimpulkan bahwa, “dimulainya kembali perang gerilya Komunis di Laos terutama merupakan reaksi terhadap sikap anti-Komunis yang lebih kuat oleh Pemerintah Laos dan inisiatif AS yang baru-baru itu mendukung Laos.” Perang saudara telah pecah. 

MEMPERSIAPKAN ESKALASI

Pada hari yang sama di bulan Januari 1959, Allen Dulles mengatakan kepada Presiden Eisenhower bahwa Laos sangat terancam, perombakan kabinet di Vientiane lalu menempatkan orang-orang yang berkuasa dari Komite Pertahanan Kepentingan Nasional yang didukung CIA. Yang paling penting diantara mereka adalah Kolonel Phoumi Nosavan. Ini adalah waktunya Phoumi mengambil alih kewenangan, ketika tindakan keras membuat rekonsiliasi menjadi tidak mungkin dilakukan. Sebagai menteri pertahanan, Phoumi memastikan pemerintah menggunakan kekuatan maksimum dan tidak membuat kompromi di menit-menit terakhir. Namun dia melakukannya tanpa menimbulkan risiko terhadap basis kekuatannya sendiri—Phoumi berasal dari Savannakhet di wilayah panhandle Laos dan memimpin Daerah Militer Ketiga Laos, yang tidak terlibat dalam tindakan keras pemerintah terhadap Pathet Lao. Ketika angkatan bersenjata menciptakan wilayah militer baru di sekitar Vientiane sendiri, Phoumi mengambil alih, dengan menempatkan sekutu tepercaya di bekas tempat komandonya itu. Dari sudut pandang Eisenhower, Phoumi adalah sekutu yang sempurna. Hal itu menjadi nampak lebih baik lagi pada akhir tahun 1959, ketika Phoumi bisa merekayasa jatuhnya kabinet di mana dia menjadi anggotanya. Dia muncul sebagai orang kuat militer dengan promosi ke brigadir Jenderal dan jabatan menteri pertahanan, menguasai pemerintahan di belakang layar. Dalam kapasitasnya itu, Phoumi mencurangi hasil pemilihan umum di bulan April 1960 untuk memastikan kandidat kelompok kiri bisa dikalahkan. Sementara itu, ketika Amerika Serikat berusaha meningkatkan perannya. Prancis telah menolak tawaran PEO tahun 1958 untuk memiliki partisipasi yang lebih luas dalam pelatihan dengan alasan yang dapat diprediksi bahwa aksi Amerika itu akan membatalkan perjanjian Jenewa. Tetapi Paris saat itu harus menghadapi revolusi di Aljazair, sebuah prioritas yang lebih besar, dan hanya dapat menyisihkan sedikit orang dan sedikit uang untuk Laos. Mereka lalu mengurangi personel misi pelatihannya dari 1.500 penasihat menjadi hanya beberapa ratus orang saja. Tawaran Amerika, dan, yang lebih penting, dana Amerika, terbukti menjadi tak tertahankan. Akhirnya Prancis setuju, dan perang rahasia di Laos pun berkembang. 

LTC Arthur D. ‘Bull’ Simons, komandan pasukan khusus Amerika di Laos. (Sumber: https://arsof-history.org/)

Pada akhir tahun 1959, jumlah personel PEO telah meningkat menjadi 531, termasuk 190 spesialis asal Filipina, tetapi juga ada lebih banyak personel militer Amerika. Orang-orang Filipina menggantikan orang-orang Prancis yang telah bekerja dengan angkatan udara dan dinas maritim Laos, beberapa sebagai penasihat lapangan. Selusin tim Pasukan Khusus AS pertama untuk Operasi White Star tiba pada bulan Juli 1959. Ada unit lapangan yang disebut detasemen “A”, dengan unit kontrol yang disebut tim “C” di markas besar, di bawah pimpinan Letnan Kolonel Arthur “Bull” Simons. Seorang tokoh legendaris di antara Pasukan Khusus Amerika hingga hari ini, Simons menyewa sebuah rumah Vientiane untuk markas besarnya, dan menyebarkan tim “A” ke empat pangkalan regional angkatan bersenjata Laos yang menjadi pusat pelatihan. Untuk Operasi White Star, ukuran detasemen dikurangi menjadi delapan orang dan disebut “tim hotfoot”; secara keseluruhan, operasi ini melibatkan 108 orang Amerika. Sementara itu, CIA juga meningkatkan aktivitasnya. Henry Hecksher, yang menjalankan operasinya di Vientiane, merasa bebas. Duta Besar Smith berpikir sebaliknya, tetapi di bawah aturan yang berlaku pada saat itu, Hecksher bisa memutuskan apa yang harus diberitahukan kepada duta besar—atau yang perlu dijauhkan darinya. Para diplomat Amerika merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan CIA pada Komite untuk Pertahanan Kepentingan Nasional Laos, tetapi tidak berdaya untuk mengendalikan operasi-operasi itu. Hecksher menugaskan seorang petugas ke setiap tokoh kunci Laos—John Hasey pada Phoumi adalah contohnya—dan memberi mereka kebebasan. Hasey akan mengatur agar uang, beras, dan senjata tertentu dikirimkan langsung ke Phoumi tanpa melalui program bantuan sama sekali. Ketika Gordon Jorgensen menggantikan Hecksher, pengaturan itu tetap berlaku. 

Direktur CIA Allen W. Dulles, yang agresif mendesak peran yang lebih besar bagi Amerika dan CIA di Laos. (Sumber: https://theintercept.com/)

Di Washington, pertemuan dengan perwakilan Departemen Luar Negeri dan Kepala Staf Gabungan pada awal bulan Januari 1959, Jenderal Charles P. Cabell, wakil direktur CIA, menyatakan perlunya segera penanganan apa yang dipandang CIA sebagai situasi yang memburuk di Laos. Badan tersebut lalu mengambil peran utama dalam mengorganisir sebuah program di Filipina di mana beberapa kelas perwira Angkatan Bersenjata Kerajaan Laos diinstruksikan dalam teknik-teknik scout-ranger. Sementara itu, Allen Dulles terus memberi pengarahan kepada Dewan Keamanan Nasional dengan nada yang muram. Perkiraan Intelijen Nasional CIA pada bulan Mei, yang sekarang telah dibuka, memperingatkan bahwa kemampuan militer pemerintah sedang terkikis. Pada bulan Agustus, agensi membawa masuk Air America (baru saja dikonversi dari maskapai Civil Air Transport) untuk melakukan pengangkutan udara di Laos. Dulles dan kepala operasinya Richard Bissell, yang menghadiri pertemuan Menteri Dalam Negeri-Pertahanan-CIA lainnya pada bulan September dan memperingatkan bahwa Laos adalah medan yang ideal untuk perang gerilya, sambil menambahkan bahwa fakta di lapangan sulit didapat dan bahwa pihak Komunis telah menyatakan perang saudara. Sebuah konflik sipil tidak diragukan lagi sedang berlangsung di Laos, tetapi belum akan meletus dalam perang skala penuh. Ancaman yang paling nyata datang pada akhir bulan Juli dan awal Agustus 1959, ketika unit reguler Pathet Lao menyerbu beberapa pos pemerintah di provinsi Sam Neua dan menantang pihak Vientiane untuk bisa menguasainya kembali. Terdapat juga laporan—yang terlalu cepat diterima sebagai kebenaran oleh pihak AS—bahwa pasukan Vietnam Utara turut bersama dengan orang-orang Pathet Lao. Sebuah misi pencari fakta Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dikirim ke Laos, menemukan banyak hal yang membingungkan tetapi tidan mendapat bukti yang meyakinkan tentang kehadiran orang-orang Vietnam Utara. Sebenarnya, Hanoi sebenarnya memang memiliki unit-unit penasehat ad hoc di Laos pada waktu itu, tetapi hanya membuat membuat misi permanen untuk bekerja dengan pihak Komunis Laos pada bulan September. Pathet Lao kemudian meningkatkan ancaman mereka, dan lalu menghilang ke dalam hutan sementara pihak Amerika Serikat mempercepat langkahnya sendiri menuju keterlibatan yang lebih dalam di Laos. 

Pesawat Civil Air Transport dengan bendera Taiwan. Maskapai ini kemudian dikonversi menjadi Air America yang merupakan kepanjangan tangan dari CIA. (Sumber: https://www.baaa-acro.com/)

Kepala Staf Gabungan sekali lagi menuntut agar PEO diubah menjadi kelompok penasihat militer standar, dan bahwa sebagai konsekuensi kebijakan Amerika Serikat membebaskan diri dari semua batasan atas tindakannya. Satuan Tugas Gabungan 116 di bawah komando Mayor Jenderal Marinir Carson Roberts siap bergerak melaksanakan rencana untuk menerbangkan tim tempur resimen marinir ke Laos. Pada tanggal 8 September, Jenderal Thomas H. White, kepala staf Angkatan Udara AS, meminta Kepala Staf Gabungan untuk mengizinkan pengerahan satu skuadron pesawat pengebom Boeing B-47 dari Komando Udara Strategis ke Pangkalan Angkatan Udara Clark di Filipina. Dari sana mereka akan bersiap untuk melaksanakan kampanye udara melawan Pathet Lao—dengan menyerang target tertentu di wilayah Vietnam Utara dengan senjata nuklir konvensional dan taktis. Jenderal White menyebut skema gila ini sebagai “penghentian pertikaian yang menentukan di Laos.” Semua ini terjadi meski terdapat sedikit aktivitas Pathet Lao, bahkan di wilayah jantung pergerakan mereka di Sam Neua. Meski demikian, Presiden Eisenhower tetap bersikap dingin, mungkin karena bereaksi terhadap seruan langsung menggunakan kekuatan nuklir ini, ia malah menyerahkan masalah itu kepada sekutu regional Amerika. Pihak Australia, Inggris, dan Selandia Baru semuanya menyatakan keraguan. Atase militer Prancis di Vientiane bersikeras bahwa tidak ada bukti aktivitas Vietnam Utara di Laos. Kepala Staf Gabungan lalu membatalkan proposal dari pihak Angkatan Udara dan membatalkan intervensi satuan tugas gabungan. 

Diktator militer Thailand, Marsekal Sarit Thanarat yang memiliki hubungan keluarga dengan Phoumi Nosavan. Lewat Thailand, Amerika banyak mengirimkan bantuan ke Nosavan di Laos. (Sumber: https://alchetron.com/)

Pada sekitar musim gugur musyawarah di Washington menghasilkan beberapa keputusan. Amerika Serikat meningkatkan pendanaannya untuk angkatan bersenjata Laos dan untuk milisi pertahanan diri lokal yang dikenal dengan nama Prancis mereka, “Auto-Défense de Choc”. Mereka berkonsentrasi pada perekrutan milisi dari kalangan minoritas suku di Pegunungan Annamite. Para perencana Amerika tahu bahwa suku-suku ini sebagian besar berselisih dengan pemerintah Vientiane. CIA membawa inisiatif itu, seperti yang dilakukan dalam mendorong partisipasi dari pihak Thailand. “5412 matters”—sebuah eufemisme yang dipakai Gedung Putih untuk menamai operasi rahasia CIA—yang ditinjau oleh Presiden Eisenhower baik pada tanggal 25 September dan 30 November 1959, mungkin berkaitan dengan permulaan aktivitas tentara rahasia di Laos, yang dimulai dengan CIA merekrut Laotian Auto-Défense de Choc. Sementara itu hubungan antara keluarga Phoumi Nosavan dengan diktator militer Thailand, Marsekal Sarit Thanarat, yang telah mengambil alih kekuasaan pada akhir tahun 1957, membantu menjelaskan mengapa orang Amerika menyukai Phoumi. Hubungan Sarit-Phoumi telah membuka pintu bagi Thailand untuk menjadi pilar utama dalam perang di Laos. Hampir bersamaan dengan perluasan bantuan dari pihak Washington pada musim gugur tahun 1959, Thailand setuju untuk menjadi tuan rumah bagi program pelatihan delapan minggu untuk orang-orang Laos di Kamp Erawan, dekat Lopburi. Dalam latihan ini, seluruh pasukan para Laos memoles taktik kontra-pemberontakan. Pada musim panas tahun 1960, dengan didesak oleh kepala stasiun CIA di Bangkok, Marsekal Sarit setuju untuk menyediakan tim Airborne Ranger rahasia Thailand untuk proyek tentara rahasia CIA yang baru. Dan Bangkok menutup mata ketika perusahaan milik CIA Sea Supply, yang telah lama aktif di Thailand, menjadi saluran utama untuk logistik klandestin ke Laos, sementara agen milik Air America menggunakan lapangan udara Thailand untuk melakukan ekspansi dengan cepat ke zona perang. Awal tahun 1961, pihak Thailand mengizinkan CIA untuk membangun kamp-kamp di mana para pegawai agen melatih unit rotasi reguler dari batalyon-batalyon Laos. Beberapa dari mereka bekerja langsung dengan Angkatan Darat Kerajaan Thailand. Sarit juga mengizinkan Angkatan Udara AS untuk mendirikan perusahaan palsunya sendiri sebagai kedok bagi pilot dan awak pesawat tempur Amerika yang menerbangkan misi serangan dan penyelamatan di Laos dan melatih awak pesawat asal Laos. Perang rahasia Laos tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuan dari Thailand.

PERANG SAUDARA

Konflik meletus menjadi pertikaian secara penuh selama tahun 1960, dan mencapai klimaks awal pada tahun 1961 dan 1962. Sebuah kesimpulan dapat ditarik bahwa katalis utama dari perang saudara adalah aksi dari sekutu Amerika Serikat, Phoumi Nosavan—dan peristiwa-peristiwa penting terjadi di Vientiane, bukan di pedalaman Laos. Phoumi bermanuver untuk menggulingkan pemerintah pada bulan Desember 1959. Duta Besar Smith kemudian ingin mendukung perdana menteri yang sedang menjabat, yang di masa jayanya telah dipuji di kalangan Washington sebagai sahabat Amerika. CIA juga mendukung Phoumi. Selama sebagian besar periode ini, Pathet Lao fokus dalam membangun kekuatan, bukan meningkatkan serangan. Mereka hanya bergerak ketika manuver dari Phoumi malah menciptakan kebencian di kalangan elit Laos. Diselenggarakan oleh Phoumi, pemilihan pada bulan April 1960 adalah sebuah lelucon. Tidak ada kandidat sayap kiri yang menang. Sayap kanan mengumpulkan ribuan suara di kubu Pathet Lao; sementara golongan kiri hanya puluhan. Di satu distrik, seorang kiri mengumpulkan lebih sedikit suara daripada jumlah anggota keluarganya yang memenuhi syarat untuk memilih, sementara kandidat Phoumi kembali mengumpulkan ribuan. Hasilnya adalah pemilu yang berbau arogansi, dan pandangan ini tidak hanya berasal dari kaum kiri. Phoumi juga memperlakukan militer Laos dengan cara yang angkuh, namun mengharapkan mereka untuk mendukungnya di setiap kesempatan. Sikap-sikap tidak fleksibel ini terbukti terlalu berat bagi Kapten Kong Le, yang memimpin pasukan terjun payung ke-2, batalion terbaik di angkatan darat Laos. Awal Agustus, Kong mengalihkan anak buahnya dari sebuah operasi terjadwal dan malah menduduki Vientiane, menggulingkan pemerintah Phoumi.

Kong Le, perwira pasukan payung Kerajaan Laos yang berupaya menggulingkan kekuasaan Phoumi dan memihak pada kaum Netralis pimpinan Souvanna Phouma. (Sumber: https://www.newmandala.org/)

Tindakan ini menandai awal dari kekacauan politik perebutan kekuasaan yang memicu perang dan meresahkan Laos selama hampir satu dekade. Kong Le mengumumkan tujuannya, yakni: mengakhiri pertempuran di Laos, memberantas korupsi, dan menetapkan kebijakan perdamaian dan netralitas. Pasukannya bukan masuk golongan kanan atau kiri, tapi netralis, seperti Souvanna. Mengingat pengalaman koalisi pertama ketika negara itu sementara waktu sempat damai, Kong Le Le mengundang Pangeran Souvanna Phouma untuk menjadi Perdana Menteri dan membentuk kabinet netralis baru. Souvanna lalu membentuk koalisi baru untuk mencapai tujuan itu, dengan mengundang Pathet Lao kembali ke pemerintahan. Di Washington, selama seminggu atau lebih, Eisenhower tidak yakin bagaimana ia bisa melanjutkan kebijakannya: Amerika Serikat bahkan memperingatkan perwira-perwiranya yang bersama dengan Phoumi untuk tidak mendorongnya melawan kaum netralis. Tapi di sinilah AS mulai terlihat konyol. Departemen Luar Negeri dan duta besar AS di Laos masih mendukung Souvanna, tetapi Departemen Pertahanan dan CIA berada di belakang Poumi. Tapi segera mereka kembali ke peran yang ditetapkan sejak awal, menugaskan perwira senior PEO langsung ke Phoumi dan menyalurkan bantuan di luar saluran pemerintah (yang sekarang netral) dan langsung ke pasukan Phoumi di sekitar wilayah Luang Prabang. Souvanna kemudian pergi ke Khang Khay, sebuah kota kecil di plain of jars (sebuah dataran yang dipenuhi dengan situs-situs jaman megalitik, dengan ciri khas batu-batu besar berwujud guci), sambil bersikeras bahwa dia masih menjadi Perdana Menteri yang sah. Meskipun Inggris, Prancis, dan bahkan secara resmi Amerika Serikat, menerima pemerintahan Souvanna sebagai pemerintahan sah Laos, ini tetap tidak menghalangi Amerika Serikat untuk memperluas dukungannya kepada pasukan Poumi. Pada tanggal 18 Agustus, Ike mengatakan kepada para pejabat tinggi bahwa penting “membuat ketidakpuasan terhadap pemerintahan di Vientiane,” yang pada dasarnya adalah membuat musuh bagi pemerintah resmi Laos. Segera Washington kemudian merenungkan bagaimana mereka akan menyelesaikan “masalah Kong Le.”

Pangeran Boun Oum yang memihak pada Jenderal Phoumi. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada awal bulan September Jenderal Phoumi, yang menarik dukungan dari anggota kerajaan lain, Pangeran Boun Oum, mendeklarasikan “revolusi” melawan pemerintah netralis, dan mulai bergerak melawan Vientiane. Gencatan senjata singkat pada bulan Oktober dengan cepat hancur. Pada tanggal 13 Desember, tentara Phoumi memulai pemboman tiga hari di Vientiane. Lima ratus warga sipil dan tujuh belas prajurit pasukan terjun payung Kong Le tewas oleh tembakan. Pasukan Phoumi merebut Vientiane pada tanggal 17 Desember. Pada saat itu, apa yang terjadi di Laos meletus menjadi krisis internasional. Pemerintah netral Souvanna meminta bantuan asing. Uni Soviet lalu menanggapi tetapi meminta pihak netralis untuk bersekutu dengan Pathet Lao. Kudeta konstitusionalis pada 8 Desember, yang dirancang untuk mendukung Souvanna dan mencegah aliansi semacam itu, semakin memperumit masalah. Tanpa banyak alternatif, para netralis melakukan seperti yang diminta Soviet, dan membuat kesepakatan di Hanoi pada tanggal 10 Desember. Pesawat-pesawat Soviet segera mengirimkan pengiriman awal beberapa senjata artileri ke Vientiane. Para pejabat Rusia kemudian melaporkan upaya ini sebagai operasi udara terbesar Soviet sejak masa Perang Dunia II, dan ketika para netralis diusir dari Vientiane, dan berlindung di kawasan plain of jars, Rusia melanjutkan pengiriman bantuan ke lapangan terbang yang ada di sana. Penarikan mundur kelompok netralis ini dilindungi oleh tembakan artileri oleh howitzer kaliber 105 mm tentara Vietnam Utara yang bergegas datang dari Hanoi, dan didukung oleh pasokan perbekalan, amunisi, dan radio dari Soviet melalui udara. Dalam gerak mundurnya, Kong Le membawa serta 400 rekrutan, yang dengan demikian meningkatkan kekuatannya menjadi 1.200 orang. Untuk beberapa waktu laporan intelijen telah mengakui bahwa Pathet Lao memperluas kendali mereka atas desa-desa di banyak daerah, khususnya di plain of jars, sementara memperkuat basis mereka di Sam Neua dan Phong Saly, namun hanya ada sedikit pertempuran terbuka, kecuali yang dimulai oleh Angkatan Bersenjata Kerajaan Laos. Pada bulan Maret 1960 Allen Dulles melaporkan bahwa Pathet Lao berusaha mencapai tujuan mereka melalui aksi subversi. Atase militer di tempat kejadian melihat dan menilai Pathet Lao “mampu” untuk melanjutkan pemberontakan mereka. Tetapi munculnya pemerintahan koalisi baru—dan serangan balasan dari pihak Phoumi—mengakhiri masa jeda pertempuran. Pada bulan Oktober, mendahului terbentuknya aliansi sebenarnya antara Souvanna dan Kong Le dengan Pathet Lao, laporan CIA merujuk adanya pasukan “Kong Le–PL”, dan Dulles mengklaim Pathet Lao “telah mendapatkan kekuatan (tambahan).” Pada bulan Desember Pathet Lao memulai ofensif mereka sendiri, dengan secara terbuka membersihkan provinsi-provinsi di dekat perbatasan Vietnam. Mundurnya pemerintah Souvanna ke plain of jars lalu memperkuat aliansi Pathet Lao-netral. 

PEMBENTUKAN KEKUATAN UDARA LAOS & PASUKAN SUKU HMONG

Faktor-faktor baru mulai bermain di kedua belah pihak pada tahun 1960. Bagi Pathet Lao, perubahan besar adalah hubungan mereka dengan Vietnam Utara. Hanoi telah membentuk Doan 800, unit ad hoc yang dibuat untuk membantu Pathet Lao pada awal tahun 1959, diikuti pada akhir tahun itu dengan unit Doan 959 yang permanen. Unit ini akan memberi bantuan nasihat kepada Pathet Lao selama perang Laos. Pada bulan Desember 1960, Hanoi juga mengirimkan sejumlah kecil pasukan reguler. Sama pentingnya, Hanoi kemudian memutuskan untuk membantu pemberontak di Vietnam Selatan dengan memindahkan kader dan pasokan ke sisi timur dari wilayah panhandle Laos, dan menyusupkan ke mereka di sepanjang rute yang dikenal sebagai Jalur Ho Chi Minh. Rute pasokan strategis ini memberi Hanoi “taruhan” yang jauh lebih besar di Laos, yang pada akhirnya menghasilkan peningkatan bantuan Vietnam Utara ke Pathet Lao, yang aksi-aksinya mencegah pemerintah Phoumi yang dibentuk kembali untuk fokus pada jalur tersebut. Kolonel Pasukan Khusus Amerika pimpinan Bull Simons, yang segera menyadari timbulnya ancaman dengan sangat cepat, meyakinkan atasannya untuk membiarkan dia mencoba membentuk pasukan non reguler di wilayah selatan Laos, terutama di Dataran Tinggi Bolovens, untuk menutup jalur Ho Chi Minh Trail, dan dalam hal ini sebagian dari tim White Star-nya aktif di sana sampai tahun 1960. Sekarang misi-misi serangan udara ofensif dimulai. Karena Royal Laotian Air Force (AU Kerajaan Laos) Phoumi tidak memiliki pesawat serang, Presiden Eisenhower memerintahkan agar kekuatan udara tersebut diperbaiki pada musim gugur tahun 1960. Sekali lagi Thailand memegang peran kuncinya. Thailand kemudian memasok 10 pesawat latih North American T-6 Harvard yang telah dimodifikasi sebagai pesawat pembom tempur. Namun karena Laos saat itu juga tidak memiliki pilot tempur, “sukarelawan” asal Thailand lah yang menerbangkan pesawat itu. Di bawah Project Millpond, instruktur asal AS dan Thailand kemudian melatih pilot Laos di Thailand. Meski begitu, pilot Thailand terus menerbangkan misi operasional di Laos untuk waktu yang lama. Keempat T-6 yang dikonfigurasi ulang ini dipersenjatai dengan dua senapan mesin kaliber .30 dan roket kaliber lima inci, serta dapat membawa bom seberat 100 pon. Empat pilot Laos yang sebelumnya dilatih melakukan pelatihan transisi di Thailand; pada tanggal 9 Januari, pilot-pilot ini menerbangkan pesawat pembom tempur RLAF baru ke Vientiane. Dua hari kemudian, mereka menerbangkan serangan pertama mereka, melawan tentara Vietnam Utara dan Pathet Lao yang melindungi mundurnya Kong Le ke plain of jars. Ike lalu juga memerintahkan Angkatan Udaranya untuk memberikan helikopter dan pesawat angkut ke Air America, dan membuat unit rahasia yang dilengkapi dengan pembom Douglas B-26. 

Pusat Pelatihan Angkatan Bersenjata Laos di Khang Khai, Laos, Maret 1960. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pasukan gerilya Hmong anti-komunis pada tahun 1961. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pasukan non reguler menjadi kunci perubahan lainnya. Selain pasukan White Star Simon, Amerika Serikat meminta CIA memulai Project Momentum, untuk memobilisasi suku Hmong di wilayah Laos utara. Kemudian, dengan nama kode yang berbeda, mereka mengajukan pembentukan unit serupa dari Montagnard lainnya. Sebuah elemen utama dalam aktivitas CIA, mereka merekrut secara klandestin Hmong armée, atau tentara rahasia, yang mengalir langsung dari AutoDéfense de Choc. Vang Pao, seorang pejabat pemerintah Laos dan orang asli suku Hmong, direkrut oleh CIA untuk memimpin pasukan suku Hmong; dan Bill Lair, yang mendapatkan persetujuan dari Jenderal Phoumi, menggerakkan Project Momentum. Dia kemudian meyakinkan orang-orang Thailand untuk menyumbangkan penasihat sukarelawan yang bisa berbicara dengan orang-orang Hmong dalam bahasa mereka dan kemudian menghubungkan mereka dengan CIA, sembari menjaga agar jumlah orang-orang Amerika tetap sedikit. Pada akhir tahun 1960, tentara rahasia Hmong ini berjumlah lebih dari 4.000 dan, dengan didorong oleh perintah langsung dari Presiden Eisenhower untuk berkembang, mereka melewati angka 9.000 personel pada awal tahun 1961. Pada musim gugur akan ada sekitar 18.000 pasukan rahasia. Vang Pao kemudian akan menjadi jenderal dalam Angkatan Bersenjata Kerajaan Laos dan orang-orang Hmong-nya akan menjadi petempur terbaik di pihak pemerintah, meski hanya dibayar $2.00 seharinya. Mereka hampir merupakan satu-satunya pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Laos di wilayah dataran tinggi Laos ketika Pathet Lao bergerak untuk menguasai wilayah tersebut.

WARISAN BUSUK EISENHOWER BAGI KENNEDY

Semua perkembangan ini terjadi ketika Eisenhower berkuasa di Gedung Putih, tetapi pada tahun 1961 ia digantikan oleh John F. Kennedy. Selama minggu-minggu terakhir Ike menjabat, peristiwa di Laos berkembang dengan cepat. Pasukan Jenderal Phoumi, setelah merebut Vientiane dari Kong Le, mengangkat Pangeran Boun Oum sebagai perdana menteri pemerintahan baru Phoumi. Pasukannya perlahan mengejar para netralis, yang berkumpul kembali di plain of jars dan bergabung dengan Pathet Lao. Rusia kemudian memulai pengangkutan udara mereka. Pathet Lao menyerang di pegunungan. Tentara rahasia Hmong sedang bergerak di sepanjang tepi dataran tersebut. Dimulai pada tanggal 1 Januari, koalisi baru Kong Le-Kaum Neutrali, Pathet Lao, dan Vietnam Utara berhasil mengusir 9.000 tentara Royal Lao Army dari Plain of Jars. Laporan juga mengklaim bahwa pasukan Vietnam Utara menyerang negara itu. Pada tanggal 7 Januari, kehadiran Vietnam Utara ditingkatkan oleh empat batalyon tambahan; dua batalyon segera berpindah ke titik konflik, di Rute 7, yang terhubung ke Vientiane. Sebuah batalion Vietnam Utara ketiga bergerak di Tha Thom, selatan Plain of Jars. Pada tanggal 15 Januari, seluruh Brigade Independen ke-925 dari Vietnam Utara telah menyeberang ke Laos untuk memperkuat koalisi Pathet Lao/Neutralis. Selama masa transisi presiden, Ike kemudian memperingatkan Kennedy bahwa Laos akan menjadi masalah terbesarnya. John F Kennedy akan menjadi presiden yang aktif, tetapi ia mendapati bahwa Laos adalah arena krisis yang buruk. Vietnam Selatan jauh lebih disukai—meskipun infrastruktur pelabuhan dan transportasinya buruk, ia memiliki fasilitas yang jauh lebih baik daripada Laos. Kennedy merasa sulit untuk memindahkan pasukan AS ke Laos dan bahkan lebih sulit lagi untuk mempertahankan mereka di sana. Sekutu lokal juga memiliki kemampuan yang sangat terbatas. Suku Hmong tampaknya merupakan sekutu yang menarik bagi CIA sebagian karena orang-orang Laos sekutu Phoumi adalah petempur yang buruk. Pasukan Phoumi bergerak lambat dan sering melarikan diri ketika pertempuran menjadi tidak menguntungkan. Kemajuan mereka yang tidak meyakinkan ini terhenti di hadapan sejumlah senjata berat yang relatif kecil yang diberikan Soviet kepada pasukan Kong Le–Pathet Lao. 

Prajurit Laos sedang menempati pos di Ban Na, Kawasan Plain Of Jars. (Sumber: https://www.newmandala.org/)

Sementara itu unit pembom B-26 rahasia, yang direncanakan sebagai bagian dari proyek CIA di Laos, jumlahnya kurang, ketika badan tersebut, yang sedang sibuk dengan operasi Teluk Babi (yang mengerahkan unit kekuatan udara yang serupa dengan diterbangkan oleh personel orang-orang Kuba di pengasingan), tidak dapat mengumpulkan jumlah kru yang mencukupi. Upaya untuk merekrut personel dari orang-orang Cina nasionalis juga gagal. Kennedy terpaksa menggunakan awak Angkatan Udara AS, melanggar aturan keterlibatan tempur orang-orang Amerika di Laos. Sementara itu Pathet Lao melakukan serangan balik, berhasil menduduki pos-pos penting pemerintah dan memaksa orang-orang Hmong keluar dari desa leluhur mereka. Washington lalu mempertimbangkan kembali untuk melakukan intervensi, meskipun dalam kondisi yang buruk. Semua opsi penting melibatkan perpindahan pasukan melalui Thailand. Sebagian besar skema tidak hanya melibatkan unsur-unsur SEATO tetapi juga membutuhkan perbaikan infrastruktur di Thailand dengan membuat jalan, lapangan terbang, dan pelabuhan yang cukup untuk dapat digunakan guna mengakomodasi perbekalan yang dibutuhkan oleh pasukan tempur. Kennedy menyetujui pekerjaan infrastruktur tersebut, dan secara singkat mengaktifkan kembali Satuan Tugas Gabungan 116 untuk menandakan tekadnya dengan gugus tugas ini rencananya bisa mencakup 60.000 orang dari pasukan darat Amerika, yang akan dikerahkan di Laos selatan. Tetapi di sisi lain Kennedy juga mendorong proses negosiasi Perjanjian Jenewa yang baru untuk meredakan situasi ketegangan di Laos. Sementara itu Amerika untuk melawan eskalasi kekuatan komunis mereka mengirimkan senjata ke 7.000 gerilyawan Hmong di akhir bulan Januari. Angkatan Laut AS kemudian mentransfer empat helikopter H-34 ke unit CIA di Laos, yakni Air America. Pada awal bulan Februari 1961, empat pilot Thailand pertama tiba untuk menerbangkan empat T-6 lagi yang dipasok ke Royal Laotian Air Force (RLAF). Pilot Thailand ini telah secara resmi diberhentikan dari Royal Thai Air Force (RTAF) dan tidak memegang posisi resmi di RLAF. Pertumbuhan RLAF dihambat oleh korban yang berjatuhan, karena lima dari T-6 mereka hilang dalam tugas pada akhir bulan Maret. Pada tanggal 9 Maret, pasukan komunis merebut satu-satunya persimpangan jalan antara Luang Prabang dan Vientiane. Ketika pasukan Laos diperintahkan untuk melakukan serangan balik dan merebut kembali persimpangan, mereka menjatuhkan senjata mereka dan memilih lari. Pasukan Khusus Tim Moon lalu ditugaskan sebagai penasihat unit pasukan Laos. Pada tanggal 22 April 1961, Team Moon diserang. Dua sersan tewas, dan pemimpin tim, yakni Kapten Walter H. Moon ditangkap; dia kemudian dieksekusi ketika mencoba melarikan diri dari penahanan. Sersan lain dibebaskan enam belas bulan kemudian. Sementara itu, pada tanggal 3 Mei kedua belah pihak menyatakan gencatan senjata, yang keduanya dengan cepat melanggar sambil bersikeras bahwa gencatan senjata itu masih berlaku. Pembicaraan dimulai di Jenewa dan berlangsung selama berbulan-bulan. 

Pesawat pembom-serang B-26 Invader. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Helikopter H-34 milik Thailand. Beberapa helikopter tipe ini ditransfer Amerika ke Laos untuk dipakai oleh unit Air America. (Sumber: https://www.helis.com/)

Kerumitan baru muncul ketika pasukan bayaran Cina Nasionalis memasuki Laos dari arah Burma, tempat dimana mereka telah lama didirikan, dan mengambil posisi di sebuah kota bernama Nam Tha. Beberapa personel Cina Nasionalis memutuskan untuk pergi tetapi Jenderal Phoumi memasukkan sisanya sebagai batalion khusus Angkatan Bersenjata Kerajaan Laos, lengkap dengan tim pelatihan dari Amerika. Sementara itu terlepas dari gencatan senjata, Jenderal Phoumi memperkuat mereka dan memulai serangan ke wilayah kekuasaan Pathet Lao pada bulan Oktober 1961. Pasukan Phoumi bergerak maju tetapi Vietnam Utara mengirimkan pasukan yang jumlahnya melebihi yang pernah ada sebelumnya untuk melawan mereka. Pasukan Phoumi mundur ke Nam Tha, sebuah posisi yang rentan tanpa koneksi jalan ke pangkalan pemerintah yang ada lebih jauh ke selatan, dan hampir sejauh wilayah Dien Bien Phu dengan Luang Prabang. Pada bulan Januari 1962, Vietnam Utara mengepung Nam Tha. Para penasihat Amerika mendesak Phoumi untuk meninggalkan Nam Tha. Sebaliknya, Phoumi malah mengirim lebih banyak pasukan terjun payung dan artileri Tentara Kerajaan Laos. Brigadir. Jenderal Andrew J. Boyle, yang memimpin kelompok penasihat militer (yang akhirnya menggantikan PEO), menolak tuntutan Phoumi agar Air America menerjunkan pasukan terjun payung. Ketika Amerika Serikat menolak permintaan Phoumi untuk melakukan pemboman dengan menggunakan pesawat-pesawat T-6 milik Laos/Thailand, sang jenderal mendapatkannya melalui kerabatnya, Marsekal Sarit dari Thailand. Nam Tha kemudian menjadi pengepungan bergaya Dien Bien Phu. 

Pesawat latih T-6 yang dimodifikasi menjadi pesawat serang milik AU Kerajaan Laos. Beberapa diantaranya sempat dipiloti oleh pilot-pilot asal Thailand. (Sumber: https://www.pinterest.co.uk/)
Presiden Kennedy dan mantan presiden Eisenhower. Sebelum meletakkan jabatannya, Eisenhower telah menyerahkan tugas berat di Laos pada presiden Kennedy. (Sumber: https://www.allposters.com/)

Saat ini, Presiden Kennedy telah menjadi frustrasi dengan Phoumi, melihat petualangan politik sang jenderal sebagai ancaman bagi perhitungan hati-hati pihak Amerika Serikat di Laos. Kebijakan-kebijakannya telah menghambat kesepakatan dalam negosiasi, dan kepemimpinan militernya yang biasa-biasa saja terbukti memalukan. Buatnya, Phoumi harus pergi. Risalah yang kemudian dibuka menunjukkan bahwa pada tanggal 5 Februari 1962, Grup Khusus 5412, dewan ultrarahasia Washington yang mengendalikan operasi rahasia, mempertimbangkan berbagai rencana untuk menetralisir Phoumi. Skema itu berkisar dari suap untuk membujuk dia pergi, untuk menangkap, dan aksi yang lebih buruk lagi. Sebagai gantinya, Amerika Serikat menarik wakil CIA bagi Phoumi, John Hasey, dan memotong aliran uang padanya. Tetapi kebijakan Amerika Serikat itu tidak berjalan di Laos, dan Phoumi tetap mempertahankan jabatannya. Sementara itu, Nam Tha telah membuat Kennedy takut. Pada bulan Mei, ketiga batalyon pasukan terjun payung pemerintah dan lima unit infanterinya berada di dalam atau di dekat kamp tetapi tidak dapat mempertahankannya. Pada tanggal 6 Mei 1963, serangan Pathet Lao dan pasukan Vietnam Utara mengambil alih Nam Tha, hampir tepat sembilan tahun sejak jatuhnya Dien Bien Phu. CIA menyimpulkan bahwa kekuatan penyerang lebih kecil dari 4.500 tentara Phoumi yang mempertahankan Nam Tha. Banyak dari mereka yang bertahan tewas dan 2.000 tentara Phoumi berbaris ke dalam tahanan, sementara yang lain mundur ke Thailand. Presiden Kennedy menghadapi tekanan baru untuk melakukan eskalasi konflik, meskipun dia juga terkejut ketika Dwight D. Eisenhower, yang diberi pengarahan oleh utusan Kennedy, mengirim pesan bahwa dia tidak akan ragu untuk menggunakan senjata nuklir jika diperlukan. Kennedy lalu mengaktifkan kembali Satuan Tugas Gabungan 116, mengirim marinir ke Thailand untuk mengambil posisi di sepanjang perbatasan Laos. Amerika Serikat juga menggandakan upaya untuk memperbaiki jalan dan lapangan udara di Thailand. Tetapi upaya negosiasi di Jenewa sekarang membuahkan hasil dan kesepakatan baru dicapai pada akhir bulan Juni, yang memperbarui status netral Laos dan menyediakan pemerintahan koalisi baru, sekali lagi di bawah pimpinan Souvanna Phouma, untuk menggantikan kabinet Phoumi. Phoumi Nosavan bagaimanapun tidak bisa selamat dari bencana yang terjadi di Nam Tha. Diwajibkan untuk melepaskan jabatan militernya, ia kemudian bergabung dengan koalisi pemerintahan Souvanna Phouma sebagai wakil perdana menteri dan menteri keuangan. Dia akan semakin terpinggirkan, dan ketika sekutu militernya mencoba melakukan kudeta dan manuver politiknya yang gagal. Pada bulan Februari 1965, Phoumi berangkat ke pengasingannya di Thailand. Di pihak lain, Kong Le juga terpinggirkan, dan dia juga diasingkan.

Unit anti pesawat Pathet Lao. Di medan tempur pasukan pemerintah Kerajaan Laos kerap kalah motivasi dibandingkan dengan pasukan komunis. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/)

Perang telah dimulai kembali pada musim semi tahun 1963, dipicu oleh pembunuhan timbal balik terhadap para netralis dan sekutu Pathet Lao-nya. Ketika pertempuran dilanjutkan, resep untuk menjalankan perang sudah dibuat: CIA kemudian akan memimpin perang di Laos bagi Amerika Serikat, dengan tentara rahasia Hmong adalah instrumennya yang paling kuat; sementara itu Pemerintah Kerajaan Laos secara resmi netral tetapi sebenarnya berjuang bersama Amerika Serikat, yang bersikeras berdiri di belakang perjanjian Jenewa tahun 1962. Angkatan bersenjata Laos jumlah terbatas meskipun kekuatan mereka tumbuh. Kekuatan udaranya didominasi, dengan skema operasional Amerika Serikat untuk menjalankan perang jarak jauh dari Thailand dan menggunakan Thailand sebagai sekutu pentingnya. Vietnam Utara semakin memperkuat upayanya dan akhirnya menaungi kekuatan Pathet Lao. Seandainya Laos tetap netral, tidak akan ada Jalur Ho Chi Minh, dan invasi Vietnam Utara ke Laos yang dirancang untuk menciptakannya akan menjadi tindakan agresi terbuka yang dapat dihadapi Washington dengan lebih banyak dukungan internasional dan dukungan aliansi. Yang menarik adalah bagaimana perkembangan awal di Laos ini kemudian mengawali keterlibatan Amerika yang semakin dalam di Vietnam. Bersamaan dengan intriknya di Laos, Amerika Serikat lalu bergerak lebih jauh dari sekedar mendukung pemerintah anti-Komunis di Vietnam Selatan menjadi mendukung para pemimpin Saigon dalam upaya mereka untuk membasmi kader musuh—yang semuanya diawali di zaman Eisenhower. Ketika pihak Komunis membalas, dengan menggunakan jaringan mereka untuk melakukan pemberontakan, dan Hanoi campur tangan untuk mempertahankan mereka, hal ini menciptakan ancaman yang semakin meningkat bagi pemerintahan Kennedy dan Johnson, wilayah kemudian Panhandle Laos menjadi “jalan lebar” bagi Hanoi untuk membantu perang mereka di selatan. Pada akhirnya, “keberhasilan” Dwight Eisenhower dalam mendorong Laos keluar dari sikap netral Perang Dingin pada akhirnya akan menjadi dasar bagi salah satu sakit kepala terbesar yang akan dihadapi oleh komandan Amerika di Vietnam Selatan.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Laos: The Road to Vietnam by John Prados; Summer 2009

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Laotian_Civil_War

The Secret War

http://plainofjars.net/war.htm

Pathet Lao Uprising in Laos

https://web.archive.org/web/20170904012248/http://www.globalsecurity.org/military/world/war/laos.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *