Operasi Finale: Aksi Legendaris Penculikan Adolf Eichmann di Argentina
Pada tanggal 11 Mei 1960, penjahat perang NAZI Adolf Eichmann ditangkap oleh tim mata-mata Israel setelah bertahun-tahun dalam pelarian di Argentina, sekaligus mengakhiri perburuannya yang panjang. Sepuluh hari kemudian, dibius dan berpakaian sebagai anggota kru maskapai Israel El Al, Eichmann diselundupkan ke Israel oleh agen-agen Mossad dan diadili. Sebagai arsitek dari “Solusi Akhir” NAZI, di mana enam juta orang Yahudi Eropa dimusnahkan selama Perang Dunia II, Eichmann kemudian diadili dan digantung pada tahun 1962, dalam usia 56 tahun. Aksi penculikan Eichmann dan kisah-kisah yang mengikutinya, kemudian dikenal sebagai salah satu kisah spionase paling dramatis sekaligus kontroversial dalam sejarah. Berikut adalah kisahnya

EICHMANN DAN PELARIANNYA
Karl Adolf Eichmann lahir di Solingen, Jerman pada tahun 1906 dan menjalani kehidupan yang ‘agak biasa’ sebagai sales keliling di Austria untuk sebuah perusahaan minyak sebelum Perang Dunia II, seperti yang dijelaskan pada Encyclopedia Britannica. Eichmann adalah anak tertua dari lima bersaudara yang lahir dari keluarga Protestan Calvinis dan bersekolah di sekolah menengah yang sama di Linz, Austria tempat Adolf Hitler bersekolah 17 tahun sebelum dia, menurut buku The Eichmann Trialtulisan Deborah E. Lipstadt. Eichmann kehilangan pekerjaannya di Perusahaan Minyak Vakum AGselama masa Depresi Besar di seluruh dunia dan bergabung dengan Partai Nazi pada bulan April 1932, dimana ia dengan cepat menjadi anggota Schutzstaffel yang dipimpin oleh Heinrich Himmler – dikenal sebagai SS. Ketika dia pertama kali bergabung dengan partai NAZI Austria, hanya sedikit orang yang memperkirakan bahwa Adolf Eichmann memiliki masa depan sebagai seorang pembunuh massal yang menakutkan. Tetapi Eichmann adalah seorang birokrat yang terampil dan pribadi anti-Semit yang berkomitmen. Pada bulan Oktober 1934, Adolf Eichmann diangkat ke unit bagian Yahudi dari “dinas keamanan” SS. Sejak saat itu, ia menjadi sangat terlibat dengan perumusan dan pengoperasian “solusi akhir (Terminologi NAZI untuk perdebatan tentang bagaimana orang Yahudi Eropa harus diperlakukan).” Dia menikahi istrinya Veronica Catalina Liebl pada tahun 1935, dengan siapa dia akan memiliki empat orang putra. Dia kemudian menyusun ide deportasi orang-orang Yahudi ke dalam ghetto-ghetto, dan mulai mengkonsentrasikan orang-orang Yahudi di daerah-daerah terpencil dengan efisiensi yang mematikan. Dia diketahui menghadiri Konferensi Wannsee, pertemuan di mana sekelompok pejabat tinggi Nazi mengoordinasikan rincian dari apa yang mereka sebut “Solusi Akhir.” Meskipun dia tidak membuat keputusan di sana, dia mencatat hasil konferensi tersebut dan menyiapkan data yang digunakan oleh para pejabat tinggi untuk menentukan dengan tepat bagaimana cara membunuh populasi Yahudi Eropa.



Setelah konferensi, Eichmann membantu melaksanakan genosida, mengoordinasikan deportasi dan pembunuhan ratusan ribu orang Yahudi di daerah-daerah yang diduduki Jerman. Eichmann melaksanakan aktivitas itu saat menjadi kepala Seksi IV B.4 Gestapo. Dia sangat bangga dengan peran yang dia mainkan dalam proses kematian 6 juta terutama orang-orang Yahudi Eropa. Sejumlah petinggi Nazi kemudian ditangkap setelah perang dan diadili di Nuremberg, namun banyak yang lolos. Beberapa dari mereka lalu dicari oleh anggota Brigade Yahudi Angkatan Darat Inggris. Selain membantu imigrasi ilegal orang Yahudi ke Palestina, mereka juga mengorganisir diri ke dalam kelompok yang didedikasikan untuk melacak orang-orang Nazi. Mereka menyebut diri mereka “Nokmim” – Avengers. Mereka berhasil menemukan dan menangkap ratusan orang SS, terutama mereka yang terlibat dalam menjalankan operasi kamp konsentrasi. Setelah penangkapannya oleh pihak Amerika saat perang berakhir, Eichmann melarikan diri, mengubah identitasnya beberapa kali saat dia melakukan perjalanan ke seluruh Eropa pascaperang. Di Italia, ia diberi bantuan oleh para pastor dan uskup Katolik bersama dengan simpati pro-NAZI. Paspor yang dikeluarkan untuk Eichmann oleh Komite Internasional Palang Merah pada tanggal 1 Juni 1950, kemudian ditemukan oleh seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas San Martin pada pertengahan tahun 2007 yang sedang melakukan penelitian terhadap istri Eichmann. Nama di paspor Eichmann bertuliskan nama “Ricardo Klement,” dan mengklaim bahwa dia adalah “teknisi yang lahir di Bolzano, Italia, dan apolide (tanpa kewarganegaraan).”



Ketika Eichmann tiba di Argentina pada tahun 1950, dia tinggal selama hampir tiga tahun di sebuah kota yang tenang dekat Buenos Aires bernama San Fernando, di mana dia bekerja di sebuah pabrik logam. Eichmann berusaha untuk menghidupi dirinya sendiri di berbagai pekerjaan. Tapi dia bukan satu-satunya bekas pentolan NAZI di negara Amerika Selatan, dan dia tidak merahasiakan masa lalunya. Eichmann memiliki ikatan sosial dengan orang-orang NAZI yang melarikan diri, dan bahkan pernah duduk untuk menjalani wawancara ekstensif dengan seorang jurnalis pro-Nazi, yang kepadanya dia mengeluh bahwa dia telah melakukan kesalahan dengan tidak membunuh semua orang Yahudi Eropa. Dia kemudian pindah ke provinsi Tucuman, terletak lebih dari 600 mil (965 km) dari Buenos Aires, di mana dia bekerja di sebuah perusahaan teknik bernama perusahaan Capri, saat Juan Peron, presiden Argentina dan para simpatisan NAZI yang terkenal, mengerjakam banyak kontrak negara untuk memodernisasi administrasi air di provinsi-provinsi Argentina. Istri Eichmann dan dua anaknya lalu tiba di Argentina pada pertengahan tahun 1952, serta menemaninya ke Tucuman. Dia kemudian mendaftarkan kedua anaknya di sebuah sekolah Jerman, yang dikenal mempromosikan propaganda anti-Semit dan pro-Nazi pada saat itu, dengan nama Eichmann. Hal ini menunjukkan lagi bagaimana pemerintah Argentina membantu dan bersekongkol dengan para mantan Nazi dan simpatisan mereka. Pada bulan April 1953, perusahaan Capri menyatakan kebangkrutan dan Eichmann memindahkan keluarganya ke Buenos Aires. Dia dipekerjakan oleh Mercedes Benz pada bulan Maret 1959, di mana dia terus menggunakan nama alias Ricardo Klement.



TEROBOSAN PERTAMA
Pada tahun 1957, Fritz Bauer, seorang jaksa keturunan Yahudi (berkebangsaan Jerman) di provinsi Hesse, Jerman yang sedang berburu Eichmann, diberitahu oleh Lothar Herman, seorang pria buta keturunan setengah Yahudi kelahiran Jerman yang sempat ditawan di Dachau dan pindah ke Argentina, bahwa putrinya Sylvia telah pergi kencan dengan putra Eichmann, Klaus, yang membual tentang identitas ayahnya dan mengatakan kepadanya bahwa akan lebih baik jika Nazi “menyelesaikan pekerjaannya”. Hermann benar-benar pernah bertemu Eichmann di Argentina. Dia dan putrinya pergi ke restoran dan kebetulan duduk di dekat Klaus dan pria yang disebut Klaus sebagai pamannya. Silvia memperkenalkan kedua keluarga itu. Eichmann mengklaim bahwa namanya adalah Ricardo Klement. Hermann hampir buta sepenuhnya karena pemukulan parah yang dia terima saat dipenjara di kamp konsentrasi Dachau. Tapi dia mengatakan bahwa ia masih bisa mengenali suara Eichmann dari pengalamannya di Dachau. Sementara itu khawatir bahwa permintaan Jerman untuk ekstradisi akan mendorong Eichmann lebih jauh bersembunyi, Bauer malah memberi tahu Israel. Bauer memberi tahu Walter Eytan di Kementerian Luar Negeri Israel bahwa Eichmann masih hidup dan tinggal di Argentina. Eytan kemudian segera memberi tahu Isser Harel, kepala Mossad (Dinas Intelijen Israel). Harel menindaklanjuti laporan Bauer dan menghabiskan satu malam di musim gugur untuk membaca berkas-berkas mengenai Eichmann. Pada saat itu Harel tidak tahu banyak tentang dia. Seperti yang ditulis Harel dalam bukunya tentang penangkapan Eichmann, The House on Garibaldi Street:



“Saya tidak tahu pria macam apa Eichmann itu. Saya tidak tahu dengan semangat semengerikan apa dia mengejar pekerjaan pembunuhannya atau bagaimana dia berupaya untuk menghancurkan seorang Yahudi yang menyedihkan dengan semangat yang sama yang dia curahkan untuk memusnahkan seluruh komunitas. Saya tidak tahu bahwa dia mampu memerintahkan pembantaian bayi-bayi – sementara menggambarkan dirinya sebagai seorang prajurit yang disiplin; tetapi mengarahkan kemarahan pada para wanita – dan membanggakan kesetiaannya pada sumpah; atau mengirim orang tua yang tak berdaya ke kematian mereka – dan mengklasifikasikan dirinya sebagai sosok yang “idealis”…Tetapi saya tahu ketika saya bangun dari meja saya saat fajar bahwa dalam segala hal yang berkaitan dengan orang-orang Yahudi, dia adalah otoritas tertinggi dan dialah tangan yang menarik ‘tali” mengendalikan perburuan dan pembantaian. Saya tahu bahwa di semua pengadilan Nuremberg terhadap penjahat perang NAZI, pria ini dituding sebagai kepala ‘tukang jagal’. Saya tahu bahwa dia adalah ahli di masa lalu dalam metode kepolisian, dan bahwa dengan kekuatan keterampilan profesionalnya dan karena kurangnya hati nurani, dia akan menjadi sosok yang sangat berbahaya. Saya tahu bahwa ketika perang berakhir, dia telah berhasil menghapus semua jejak dirinya dengan keahlian level tertinggi.”



Harel atas arahan Perdana Mentri Israel David Ben Gurion, kemudian memutuskan bahwa orang ini harus dibawa ke pengadilan dan dihukum karena kejahatannya; para korban pembantaiannya bisa menuntutnya; beserta keadilan dan moralitas yang mengikutinya. Tapi hingga saat itu tidak ada yang mencarinya – tidak ada agen, tidak ada pemerintah, tidak ada pihak kepolisian yang mengupayakan hal itu. Sampai Mossad mengambil alih upaya itu. Upaya itu jelas tidak akan menjadi tugas yang mudah. Eichmann tentu saja hidup di bawah identitas yang disamarkan, dan memiliki teman-teman di dalam dan di luar pemerintahan Argentina. Selain itu, Harel memutuskan lebih baik menangkap Eichmann daripada membunuhnya dengan gaya para Avengers. Dia ingin membawanya ke Israel dan membuatnya diadili di hadapan orang-orang yang dia coba musnahkan. Harel lalu meminta izin kepada Perdana Menteri David Ben-Gurion dan Ben-Gurion memberikannya. Dengan dengan demikian mesin operasional untuk melakukan pencarian Eichmann mulai dijalankan, dimana Mossad akan menindaklanjuti di bagian ujungnya. Tetapi ketika mereka memeriksa alamat lama yang seharusnya menjadi rumah Eichmann, dia sudah tidak lagi tinggal di sana. Petunjuk itu tidak membawa ke mana-mana, selain mengklarifikasi bahwa salah satu putra Eichmann memang berada di Argentina bersama Adolf Eichmann. Investigasi terus berlanjut. Para agen kini harus berhati-hati agar tidak membuat Eichmann curiga bahwa dia sedang diburu. Mereka juga harus yakin bahwa mereka dapat secara positif mengidentifikasi bahwa Ricardo Klement adalah Eichmann karena “satu-satunya hal yang lebih buruk daripada kehilangan Eichmann yang asli adalah menangkap orang yang salah.” Tetapi penyidik memiliki tugas yang sangat sulit. Sebelum melarikan diri, Eichmann telah menghancurkan bukti dokumenter tentang aktivitasnya dan foto-foto yang dapat mengidentifikasi dirinya. Dia bahkan telah menghapus tato yang dimiliki semua personel SS di bawah ketiak kiri mereka. Selain itu semua penyelidik hanya memiliki gambar buram Eichmann sebelum masa perang dan tidak ada sidik jari yang tersedia.
FOTO
Terobosan itu datang pada tahun 1959 dari informasi yang diberikan oleh seorang ahli geologi Jerman bernama Gerhard Klammer yang pernah bekerja di perusahaan konstruksi Capri di Provinsi Tucuman, Argentina Utara pada waktu yang hampir bersamaan, “Ricardo Klement” bekerja di perusahaan yang sama. Ketika perusahaan itu kemudian mengalami masalah keuangan, Eichmann pindah ke Buenos Aires dan Klammer kembali ke Jerman. Klammer mengetahui identitas asli Klement karena Eichmann terkenal dan dilindungi oleh mantan Nazi yang tinggal di Argentina. Klammer mengatakan kepada pihak berwenang Jerman pada awal tahun 1950-an bahwa Eichmann berada di Argentina tetapi tidak ada tindak lanjut yang jelas. Pada tahun 1959, setelah dia kembali ke Jerman, Klammer memberi tahu seorang teman yang adalah seorang pastor bahwa dia pernah bekerja dengan Eichmann. Pastor itu kemudian menyampaikan informasi itu kepada uskupnya yang kemudian memberikan informasi itu kepada Bauer. Selain itu Klammer juga mampu memberikan tidak hanya alamat rumah Eichmann tetapi juga foto mereka berdua ketika mereka bekerja di perusahaan konstruksi.



Bauer adalah jaksa Yahudi paling kuat di Jerman pada saat itu. Eichmann sudah dikenal luas telah melarikan diri ke Argentina, tetapi Bauer adalah satu-satunya pengacara Jerman yang berniat membawanya ke pengadilan. Bauer lalu pergi ke Israel dan membawa informasi itu ke Harel dan jaksa agung Israel, serta Haim Cohn. Ketika tim Mossad menindaklanjuti alamat yang diberikan Klammer, mereka mengetahui bahwa Eichmann telah pindah ke lokasi yang berbeda. Tim Mossad kemudian mengikuti jejak putra Eichmann dan lewat pengamatan dari Zvi Aharoni membawa mereka ke Garibaldi Street di wilayah San Fernando-Buenos Aires, sebuah komunitas industri 20 kilometer (12 mi) di utara pusat kota Buenos Aires, dimana rumah Eichmann berada. Untuk mendapatkan alamat ini, Mossad bagaimanapun membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk menemukannya. Eichmann tinggal di sebuah rumah tanpa air ledeng yang mengalir dan listrik, di lingkungan San Fernando, di pinggiran kota Buenos Aires. Suatu hal yang mencengangkan bagi sosok yang pernah punya jabatan penting di rezim NAZI. Mossad lalu mengamati rumah itu terus-menerus, memotretnya dari setiap sudut dengan lensa telefoto, memfotonya dari jarak dekat dengan kamera kecil yang disembunyikan dari tas kerja, membuat catatan tentang kurangnya pagar, pintu papan seratnya, dindingnya yang tidak diplester. Mereka juga mengamati kebiasaan pria botak berkacamata yang tinggal di sana bersama keluarganya dan membandingkan fotonya dengan foto yang mereka dapatkan dari Klammer. Mereka mulai merasa yakin bahwa dia pasti Eichmann. Tapi mereka masih tidak yakin. Pada tanggal 21 Maret 1960, para agen mendapatkan buktinya. Malam itu, Ricardo Klement turun dari bus” dan berjalan perlahan menuju rumahnya. Di tangannya ada sebuket bunga.” Klement memberikan karangan bunga kepada wanita yang menyambutnya di pintu. Anak-anak mereka terlihat berpakaian untuk acara khusus. Kemudian mereka mendengar suara tawa, seperti orang-orang dalam suasana perayaan. 21 Maret ternyata adalah tanggal ulang tahun pernikahan perak Eichmann. Sekarang tidak ada lagi keraguan lagi.



OPERATION FINALE
Harel memutuskan untuk pergi ke Argentina untuk secara pribadi mengawasi proses penangkapan Eichmann. Tim Mossad telah menyusun rencana – “Operation Finale” – untuk “menangkap Eichmann dan menerbangkannya keluar dari Argentina dengan dokumen palsu. Setiap detail dikerjakan dengan rinci dan setiap kemungkinan direncanakan. Mobil dan rumah persembunyian harus disewa – hal yang jauh lebih sulit dilakukan pada tahun 1960-an di negara Amerika Latin yang ribuan mil jauhnya dari Israel daripada di masa sekarang. Perubahan kecil dibuat sesuai dengan informasi baru yang diberikan oleh tim di Argentina, yang pada saat ini membayangi setiap gerakan Eichmann.” Pada bulan Mei 1960, Argentina akan merayakan 150 tahun kemerdekaannya. Acara ini memberikan peluang bagi Israel, untuk menyamarkan operasinya. Israel berencana untuk mengirim pesawat asal Israel langsung ke Argentina, dimana pesawat yang akan membawa delegasi diplomatik Israel akan digunakan untuk menerbangkan Eichmann keluar Argentina menuju Israel. Perlu diketahui, pada saat itu maskapai penerbangan Israel, yakni El Al belum ada yang melayani rute ke Argentina. Personel operasi tambahan Israel lalu dikirim ke Argentina sehubungan dengan jumlah orang yang lebih besar yang akan hadir untuk mengikuti acara ulang tahun negara itu. Setiap pria dipilih sendiri oleh Harel karena kualitas khususnya yang dikembangkan dan dibuktikan selama bertahun-tahun dalam pekerjaan intelijen yang penuh penyamaran. Semua dari mereka telah mempertaruhkan hidup mereka di wilayah negara-negara Arab dan negara-negara lain. Masing-masing dapat dipercaya dan diandalkan pada saat penuh krisis. Komandan misi untuk menculik Eichmann diberikan kepada agen Mossad, Rafi Eitan, yang kemudian mengenang: “Ketika saya diberi misi ini, saya tahu bahwa jika kita berhasil, kita akan memasuki sejarah Israel dan sejarah kemanusiaan.” Rafi Eitan sebelumnya telah membuktikan keberaniannya membantu imigran Yahudi ilegal mendarat di pantai Palestina di bawah pengawasan Inggris. Dia kemudian juga turut mengambil tindakan langsung melawan terhadap Inggris. Dia juga pernah bertempur melawan orang-orang Arab dan terluka. Dia kemudian bergabung dengan Mossad pimpinan Harel. Sementara itu semua personel lainnya pernah selamat dari penganiayaan di jaman Nazi. Sebagian besar dari mereka telah melihat sebagian besar, jika tidak semua anggota keluarga mereka dimusnahkan di kamp konsentrasi NAZI. Pria yang dipilih untuk menculik dan menaklukkan Eichmann, misalnya telah kehilangan saudara perempuannya dan ketiga anaknya di tangan Nazi. Dia akhirnya akan mendapatkan kesempatan untuk melakukan bagiannya dalam membalaskan dendam mereka, sejauh yang dia bisa. Anggota tim lainnya adalah salah satu anggota asli dari “Nokmim”. Secara keseluruhan, ada lebih dari 30 anggota tim.


Tidak ingin ada yang terlewatkan, yang bisa menyebabkan kegagalan. Untuk memastikan bahwa tidak ada masalah dengan dokumen, koneksi pesawat, visa, sertifikat kesehatan, referensi karakter untuk masing-masing personel, agen perjalanan mini didirikan oleh Mossad di sebuah kota Eropa yang tidak dikenal. Mereka berusaha keras untuk tidak meninggalkan kesan bahwa mereka akan beroperasi dari Israel. Harel sadar bahwa Israel akan melanggar kedaulatan Argentina dengan menculik Eichmann dan membawanya ke luar negeri. Selain itu, mengingat peran Argentina sebagai surga bagi NAZI dan simpatisan mereka, dia khawatir pemerintah negeri itu akan mempersulit keadaan jika mereka tahu apa yang sedang terjadi. Argentina diketahui dekat dengan rezim NAZI sedari masa Perang Dunia II. Selepas perang mereka banyak menampung orang-orang ex-NAZI, yang beberapa ditugaskan untuk membantu industrialisasi dan kekuatan militer Argentina, misalnya dalam hal teknologi roket. Agen-agen Israel kemudian mulai terbang dari seluruh dunia seolah-olah untuk menghadiri perayaan ulang tahun ke 150 Argentina. Tidak ada dua orang dari tim yang berasal dari kota yang sama. Mereka menyewa rumah persembunyian dan terus-menerus berganti-ganti mobil (lengkap beserta plat nomor palsunya) untuk mengusir siapa pun yang mungkin mengawasi mereka atau yang akan curiga. Sementara itu upaya untuk menculik Eichmann, meski nampak sederhana, namun tidak mudah untuk dieksekusi dengan beberapa alasan sebagai berikut:
- Sebagian besar operator Mossad yang ditugaskan untuk menculik Eichmann tidak memiliki kemampuan berbahasa seperti layaknya orang Argentina.
- Rumah Eichmann yang sederhana berada di kawasan pinggiran Buenos Aires yang sangat sepi. Rumah Eichmann yang tanpa pagar benar-benar tidak memiliki tetangga yang berdekatan. Jika terdapat suatu hal yang mencurigakan, hal itu akan nampak kelihatan dari kejauhan. Oleh karenanya mereka akan berpura-pura memperbaiki mobil mereka yang mogok.
- Mengenai mobil mogok, ini adalah masalah lainnya. Di Argentina masa itu, mobil-mobil kebanyakan berkondisi buruk. Mogok bukanlah hal yang mengherankan, namun mengalami mogok disaat akan “menculik orang”, tentunya bukan pengalaman yang diharapkan terjadi.
Pada tanggal 11 Mei, para operator Mossad siap beraksi. Mereka tahu Eichmann, yang selalu tepat waktu pulang kerja sekitar pukul 19:40, dengan menggunakan bus umum yang sama. Mereka ada di sana (dekat rumah Eichmann) pada pukul 7:35. Dua operator Mossad mengotak-atik mesin mobil mereka. Mobil lain diparkir sekitar 30 yard (27 meter) di belakang yang pertama, dan para penumpangnya juga mengotak-atik mesin mereka. Seorang pengendara sepeda berhenti dan menawarkan untuk membantu mereka dalam upaya memperbaiki mobil mereka. Dia pasti terkejut ketika mereka dengan sopan tetapi dengan tegas menolak tawarannya. Dua bus datang dan lewat, tetapi Eichmann “tidak turun dari keduanya. Orang-orang yang menunggu mulai sedikit khawatir. Mungkinkah dia kembali lebih awal hari itu dan sudah pulang? Mungkinkah dia tidak datang sama sekali?” Empat hari telah berlalu sejak terakhir kali mereka mengamati Eichmann; mereka mulai bertanya-tanya apakah dia telah mengubah rutinitasnya. Bus lain juga lewat. Eichmann tidak ada di dalamnya. Setelah melakukan pengamatan atas rutinitas Eichmann berkali-kali, saat dimana Eichmann tidak tepat waktu dan menumpang bis yang sama adalah saat malam tanggal 11 Mei itu. Sungguh sebuah kebetulan yang tidak menyenangkan. Meskipun mereka mulai mempertanyakan apakah dia akan benar-benar datang, namun tidak ada yang menyuarakan keraguan mereka. Pukul delapan datang. Ini beberapa saat setelah Eichmann biasanya tiba, dan beberapa agen Mossad berpikir mereka harus membatalkan misi. Mereka tidak ingin “mengambil risiko merusak peluang mereka untuk mewujudkan rencana mereka di hari lain.” Namun, tanpa memberi tahu yang lain, sang pemimpin, Rafi, telah memutuskan untuk menunggu hingga pukul 20:30. Di mobil kedua, Ehud, telah memutuskan untuk terus menunggu juga – meskipun baik Rafi maupun Ehud tidak menyampaikan pikirannya kepada yang lain.

Pada lima menit setelah pukul 8 bus lain berhenti. Seorang pria mulai berjalan menuju Jalan Garibaldi. Personel Mossad di mobil pertama segera mengenali Eichmann; di mobil lain, mereka mengenalinya 15 detik kemudian. Eichmann mendekati mobil. Ketika dia mendekat, mereka melihatnya merogoh sakunya, membuat tim penculik curiga dia punya pistol. Salah satu agen Mossad, Peter Malkin berkata kepadanya dengan tiga kata yang diketahuinya dalam bahasa Spanyol, “Tunggu sebentar (Un momentito, Señor),” dan kemudian memukulnya ketika Eichmann itu dengan enggan menanggapinya dan mulai bergerak mundur. Sekali lagi, semuanya tidak berjalan mulus. Kedua pria itu berguling ke dalam selokan dan Eichmann, dengan gigi palsunya sekarang menancap di tenggorokannya, berteriak. Eichmann “meneriakkan teriakan yang mengerikan, seperti binatang buas yang terperangkap dalam perangkap…” saat dia jatuh ke tanah. Anggota tim harus menyalakan mesin mobil keras-keras untuk menutupi kebisingan. Situasi jelas genting, jika ada orang lain yang melihat hal itu dan meminta bantuan, celakalah mereka. Kemudian dengan bantuan 3 agen lainnya, Malkin menarik Eichmann yang panik ke salah satu mobil. Malkin juga sempat memastikan untuk memasukkan tangannya yang bersarung tangan ke dalam mulut Eichmann, untuk berjaga-jaga jika dia memiliki pil sianida yang tersembunyi di dalam gigi seperti yang diketahui banyak dimiliki oleh beberapa mantan petinggi NAZI, sebagai tindakan berjaga-jaga jika menghadapi penangkapan. Mereka lalu mengikatnya dan menutupinya dengan selimut di kursi belakang. Ajaibnya, tidak ada yang memperhatikan penculikan itu. “Seluruh operasi ini memakan waktu kurang dari sepuluh menit.” Kepala Eichmann ditekan di bawah pandangan orang yang lewat. Dia tidak menunjukkan perlawanan. Mereka mengikat tangan dan kakinya, memasang kacamata yang menghalangi penglihatannya dan menurunkannya ke lantai. Selama seluruh operasi, Eichmann tidak mengeluarkan suara. Tim Mossad membatasi kontak verbal mereka dengan dia dengan singkat, “Jika Anda tidak diam, Anda akan ditembak.” Eichmann dengan terbata-bata menjawab kepada para penculiknya: “Saya telah menerima nasib saya.” Mereka kemudian mulai mengemudi. Bekas Mata-mata Mossad, Zvi Aharoni, yang membayangi Eichmann dan duduk di belakangnya mengatakan: “godaan untuk mencondongkan tubuh ke depan dan mencekiknya hampir tak tertahankan. “Tapi saya tahu dia harus diadili dan tidak dibunuh untuk orang-orang yang dia bunuh,” katanya kepada AFP. Malam itu kedua mobil operator Mossad terus melaju sambil mengharap tidak ada satupun dari mobil mereka yang mogok atau dihentikan polisi Argentina. Di Argentina saat itu apabila mereka ketahuan melakukan operasi semacam itu, mereka bisa langsung dieksekusi atau ditahan dalam waktu lama, sedangkan Pemerintah Israel kemungkinan besar akan menjalankan taktik penyangkalan keberadaan mereka. Syukurlah mereka berhasil melaju ke rumah mereka dengan aman dan parkir di garasi. Saat itu pukul 8:55, 50 menit setelah bus Eichmann tiba.


Eichmann dibawa ke dalam rumah dan salah satu kakinya dibelenggu ke bingkai tempat tidur. Mereka menanggalkan pakaiannya dan mengenakan piyama padanya. Mereka kembali memeriksa racun di mulutnya untuk memastikan dia tidak akan mencoba bunuh diri seperti yang dilakukan tokoh NAZI lain untuk menghindari diadili. Mereka juga mencari tato SS di bawah ketiak kirinya untuk memastikan identitasnya, tetapi tato itu telah dihapus. Seorang interogator Mossad mencoba membuatnya mengakui identitasnya, dan setelah bersikeras bahwa dia adalah Ricardo Klement, akhirnya memberinya nama aslinya. Diminta untuk mengidentifikasi dirinya, pertama-tama dia memberikan nama alias Jerman, lalu identitas Argentina-nya. Pada pertanyaan ketiga kalinya, dia menjawab: “Saya Adolf Eichmann. Ini memang nama saya.” Kemudian, kenang Eitan, Eichmann meminta segelas anggur. Eichmann lalu mengungkapkan “bahwa dia sempat sebentar berada di tangan tentara Amerika setelah perang, dia juga mencoba menghapus nomor (tato) dengan pisau.” Mereka menemukan semua fitur pembeda lainnya yang mereka miliki dalam catatan. Eichmann memberikan kerja sama penuh dan tanpa ragu – bahkan patuh. “Lepaslah gambaran sosok perwira SS yang pernah melekat pada dirinya, dimana ia sempat memiliki ratusan orang yang siap sedia untuk menjalankan perintahnya. Sekarang dia ketakutan dan gugup, kadang-kadang dengan sangat menyedihkan ingin membantu penangkapnya.” Tim Mossad hampir tidak percaya bahwa penjahat mengerikan seperti itu bisa terlihat begitu luar biasa lemahnya. Tapi itu bukan hanya kesan mereka; semua orang yang melihatnya kagum dengan penampilannya yang biasa-biasa saja. Mereka membayangkan dia terlihat lebih jahat, lebih mengesankan, tetapi dia tampak tidak berbahaya. Mereka menahannya selama seminggu di sebuah kamar di rumah persembunyian, tidak pernah membiarkannya hilang dari pandangan mereka, khawatir dia akan bunuh diri. Selama hari-hari ini, Harel mencoba menemukan Josef Mengele, dokter Nazi terkenal dari Auschwitz, karena Mossad mendapat informasi bahwa dia juga tinggal di Buenos Aires. Dia berharap untuk bisa membawa Mengele kembali ke Israel dengan penerbangan yang sama. Namun, Mengele telah meninggalkan kediaman terakhirnya yang diketahui di kota, dan Harel tidak memiliki petunjuk lebih lanjut, sehingga rencana penangkapannya dibatalkan. Eitan mengatakan kepada surat kabar Haaretz pada tahun 2008 bahwa tim akhirnya memutuskan untuk tidak mengejar Mengele karena dapat membahayakan operasi Eichmann.

Sementara itu mereka kini harus merencanakan fase berikutnya – mengeluarkannya dari Argentina. Mereka telah mengatur agar sebuah pesawat El-Al meninggalkan Buenos Aires pada tanggal 20 Mei. Keberangkatannya tidak dapat dilakukan lebih awal karena takut akan menimbulkan kecurigaan pihak berwenang Argentina. Dalam penelitian kemudian ditemukan beberapa fakta baru. Misalnya, ada Rencana B, jika pengangkutan lewat udara gagal, yakni dengan menyelundupkan Eichmann di kapal barang yang mengangkut daging beku, dan bahkan Rencana C yang merencanakan Eichmann dibawa ke rumah singgah di Eropa sebelum perjalanan terakhir ke Israel. Sementara itu, Harel hampir sendirian di antara para operator Mossad yang merasa bahwa keluarga Eichmann tidak akan membuat keributan di publik mengenai ayah dan suami-nya yang hilang. Harel yakin keluarga itu tidak akan mengumumkan kepergiannya karena takut identitas aslinya akan terungkap dan mereka akan kehilangan dukungan publik. Rekan-rekan NAZI-nya juga harus tetap diam agar tidak ketahuan. Keluarganya memang menelepon rumah sakit dan klinik, tetapi menghindari untuk menelepon polisi. Mereka menghubungi teman-teman mereka tetapi tidak ada yang mau membantu. “Sebagian besar dari mereka berusaha menyelamatkan diri mereka masing-masing dan menyebar ke seluruh benua. Beberapa bahkan menuju Eropa – untuk berjaga-jaga jika kelompok yang berupaya menangkap antek-antek Hitler juga sedang mengejar mereka.” Mereka berasumsi bahwa orang-orang Israel telah melakukan segala upaya untuk mencari dan menangkap Eichmann di Amerika Selatan dan khawatir orang-orang Israel akan menginvestasikan tekad yang sama untuk menjebak mereka. Kini Mossad masih harus membawa Eichmann ke luar negeri dengan tanpa menimbulkan kecurigaan dari pihak berwenang Argentina.



Eichmann kemudian dibius oleh Dr. Yonah Elian (hingga baru-baru ini enggan mempublikasikan peran-nya. Elian Elian akhirnya memberikan penjelasan: Dia telah bertindak melawan sumpah Hipokrates, janji yang diambil para dokter untuk tidak menyakiti pasien mereka), sehingga indranya akan kabur saat dibawa ke pesawat dan tidak melawan. Dia masih bisa berjalan, tetapi perlu ditopang oleh agen di kedua sisinya. Mereka mendandaninya dengan seragam El Al dan membawanya ke pesawat. Kepada otoritas Argentina, orang-orang mengaku Eichmann yang diaku kru El Al dalam kondisi mabuk (sebuah alasan yang wajar di Argentina). “Tahanan NAZI ini bekerja sama sepenuhnya sehingga pada satu tahap dia mengingatkan para penculiknya bahwa mereka lupa mengenakan jaket penerbangannya. “Itu akan menimbulkan kecurigaan karena saya akan sangat berbeda dari personel lainnya yang berpakaian lengkap,” kata Eichmann. Orang-orang Mossad lalu mengendarai tiga mobil, dengan Eichmann di mobil kedua, ke bandara. Orang-orang di mobil pertama “mulai bernyanyi dan tertawa ketika mereka mendekati pintu masuk rumah jaga. Pengemudi itu dengan malu menjelaskan bahwa para lelaki itu sangat menikmati diri mereka sendiri sehingga beberapa masih tertidur. Penjaga itu tidak mempertanyakan tipu muslihat itu. Dua anggota Mossad membawa Eichmann yang setengah sadar ke dalam pesawat. Banyak kru merasa terganggu saat mengetahui Eichmann berada di dalam pesawat. Harel memastikan selama operasi bahwa tidak ada yang mengancam atau menganiaya dia. Eichmann lalu diselundupkan keluar dari Argentina dengan pesawat Bristol Britannia El Al yang sama yang membawa delegasi Israel beberapa hari sebelumnya ke perayaan resmi 150 tahun Revolusi Mei di Argentina. Sempat terjadi penundaan yang menegangkan di bandara saat akhirnya rencana penerbangan disetujui. Pesawat kemudian pesawat lepas landas ke Israel, berhenti di Dakar, Senegal untuk mengisi bahan bakar. Mereka tiba di Israel pada tanggal 22 Mei.

PENGUNGKAPAN
Pada tanggal 23 Mei 1960, Ben-Gurion mengungkapkan penangkapan Eichmann kepada Kabinetnya:
“Saya akan meminta izin kepada pembicara Knesset untuk membuat pengumuman di awal sesi (kemudian hari itu), dan akan mengatakan sebagai berikut: ‘Saya harus memberi tahu Knesset bahwa belum lama ini dinas keamanan Israel menemukan salah satu penjahat perang NAZI yang besar – Adolf Eichmann, yang bersama dengan para pemimpin NAZI lainnya bertanggung jawab atas apa yang mereka sebut sebagai solusi akhir untuk masalah Yahudi, yaitu pemusnahan enam juta orang Yahudi di Eropa. Adolf Eichmann sudah ditahan di Israel dan akan segera diadili di Israel, sesuai dengan hukum yang mengatur keadilan bagi orang-orang Nazi dan pembantu mereka.”
Menteri Perhubungan Yitzhak Ben-Aharon bertanya, “Bagaimana, dengan cara apa, di mana (penangkapan itu)?”
Ben-Gurion menjawab, “Itulah sebabnya kita memiliki dinas keamanan.”
Dua menteri lainnya kemudian mengatakan mereka pernah bertemu Eichmann pada tahun 1930-an. Ben-Gurion juga membacakan surat yang ditandatangani Eichmann:
“Saya, yang bertanda tangan di bawah ini, Adolf Eichmann, dengan bebas menyatakan: ‘Sekarang identitas asli saya telah terungkap, saya melihat tidak ada gunanya mencoba menghindari keadilan. Saya menyatakan bahwa saya bersedia melakukan perjalanan ke Israel dan diadili di sana di dalam pengadilan. Tak perlu dikatakan bahwa saya akan diberikan pembelaan dan akan dapat mengungkapkan … fakta-fakta dari tahun-tahun terakhir pengabdian saya di Jerman, sehingga generasi mendatang akan diberikan gambaran yang benar. Saya memberikan pernyataan ini atas keinginan saya sendiri. Saya tidak dijanjikan apapun dan mereka tidak mengancam saya. Saya ingin, pada akhirnya, mencapai kedamaian internal. Karena saya tidak dapat mengingat semua detailnya dan saya mungkin mencampuradukkannya dan membingungkan mereka, saya meminta bantuan untuk memberikan kepada saya dokumen dan kesaksian yang akan membantu saya untuk mengungkapkan hal-hal dengan cara yang sebenarnya.”



Pada tanggal 12 Juli 1960, dua bulan setelah penculikan Eichmann, istrinya Veronica pergi ke Pengadilan Federal Argentina dan mencela aksi penculikan suaminya dan memberikan dokumen yang menunjukkan masuknya Eichmann ke Argentina. Dalam pernyataannya, kepada Pengadilan, dia menyatakan, “Saya mengerti bahwa dengan pernyataan ini, saya tidak dapat disangkal mengakui bahwa Ricardo Klement adalah Adolf Eichmann. Sebagai catatan, ketahuilah bahwa dia tidak menyangkal namanya dan dia akan menghadapi tanggung jawabnya seperti yang telah saya emban dengan membawa pengetahuan tentang kejadian tersebut ke pengadilan.” Pengadilan Argentina lalu meninjau keluhannya dam bahwa suaminya ditolak proses hukumnya pada akhir tahun 1962 karena mereka tidak dapat mengidentifikasi para penculik Eichmann. Sementara itu beberapa tindakan balas dendam direncanakan oleh para simpatisan NAZI di Argentina setelah penculikan Eichmann, termasuk rencana aksi penculikan duta besar Israel dan pengeboman Kedutaan Besar Israel, meskipun keduanya tidak membuahkan hasil, menurut peneliti dan penulis Uki Goni. Salah satu insiden yang benar-benar terjadi adalah penyerangan terhadap mahasiswa Yahudi di Legions National Pimientos oleh sekelompok muda NAZI Argentina yang disebut “Huaraches” pada tanggal 17 Agustus 1960. Mereka sempat melepaskan beberapa tembakan dan melukai seorang mahasiswa berusia 15 tahun bernama Edgardo Vilnius.
PENGADILAN
Eichmann menghabiskan sembilan bulan di penjara, dan diadili karena kejahatan perang, genosida, dan kejahatan terhadap kemanusiaan pada tanggal 11 April 1961. Menurut Yad Vashem: Polisi Israel membentuk unit khusus, “Biro 06,” untuk tujuan mengumpulkan dokumen yang relevan; memilih saksi dan mempersiapkan mereka untuk kesaksian mereka; menetapkan penuntutan; dan membahas berbagai masalah hukum. 1.600 dokumen dipilih, sebagian besar bertanda tangan Eichmann. Demikian juga, daftar 108 saksi yang selamat telah disiapkan, serta satu lagi saksi ahli – sejarawan dan cendekiawan lainnya. Sekitar 450 wartawan asing, 100 pengamat dan diplomat menghadiri audiensi pengadilan yang berbeda-beda. Di antara mereka adalah penulis dan penyintas kamp konsentrasi Elie Wiesel dan filsuf Yahudi Amerika Hannah Arendt, yang menerbitkan pada tahun 1963 sebuah buku besar tentang masalah ini, “Eichmann in Jerusalem: A Report on the Banality of Evil.” Persidangan diadakan di pusat komunitas Beit Ha’am di Yerusalem. Tiga hakim dipilih untuk memimpin, yakni: Binyamin Halevi, Presiden Pengadilan Distrik Yerusalem; Yitzhak Raveh, Ketua Pengadilan Distrik Tel Aviv; dan Hakim Mahkamah Agung Moshe Landau. Jaksa Agung Gideon Hausner adalah jaksa dan Gavriel Bach dan Yakov Bar-Or adalah asistennya. Eichmann di pengadilan dibela oleh Dr. Robert Servatius dan asistennya, Dieter Wachtenbruch. The Jerusalem Post melaporkan pada 11 April.
“Pukul 08:57, pintu tersembunyi di dinding di belakang dok kaca anti peluru terbuka dengan tenang dan Eichmann diantar ke dok… Sebuah keriuhan mengalir melalui ruang sidang saat para penonton menyadari bahwa Eichmann telah muncul. Semua orang menoleh untuk melihatnya.”



Persidangan, dengan menceritakan kembali kejahatan mengerikan yang dilakukan NAZI terhadap orang-orang Yahudi, menimbulkan respons emosional yang bergejolak di antara publik Israel dan orang-orang Yahudi secara keseluruhan. Kenangan yang telah ditekan meledak di ruang sidang. Orang-orang berteriak dan menangis dan ingin menyerang dan membunuh Eichmann yang muncul di pengadilan di dalam kotak kaca antipeluru. Seluruh cerita tentang Eichmann yang mengarahkan pada aksi “solusi akhir” terungkap ke publik. Eichmann kemudian meminta pengertian dan belas kasihan dari orang-orang Yahudi – mengklaim bahwa dia telah bertindak “di bawah perintah”, bahwa dia hanyalah “roda penggerak dalam mesin”, dan bahwa itu adalah kesalahan pemerintah NAZI, bukan kesalahannya, atas apa yang telah dilakukan pada orang-orang Yahudi. Namun, penuntutan menunjukkan bahwa ia memainkan peran utama dalam penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi dan memiliki tanggung jawab pribadi atas deportasi ratusan ribu orang Yahudi ke Auschwitz dan kamp-kamp lain, yang ia izinkan bertentangan dengan keinginan atasannya bahkan setelah menjadi jelas Jerman telah kalah perang. Mengenai ini Hannah Arendt kemudian menciptakan istilah “banalitas kejahatan,” dengan alasan bahwa Eichmann bukanlah seorang psikopat, tetapi manusia normal. “Sebenarnya, Eichmann adalah tokoh kunci NAZI yang fanatik yang sangat senang melakukan bagiannya untuk mencoba dan membunuh orang Yahudi sebanyak mungkin,” kata Guy Walters, penulis buku Hunting Evil: The Nazi War Criminals Who Escaped and the Quest to Bring them to Justice. “Dia bukan hanya seorang pejabat.” Setelah perang pada tahun 1945, dia dikabarkan sempat berkata, “Saya akan masuk ke kuburan saya sambil tertawa karena” memiliki “lima juta manusia (yang telah saya bunuh) dalam hati nurani saya. (Ini) adalah sumber kepuasan yang luar biasa.”


Lebih dari 100 saksi bersaksi selama persidangan selama empat belas minggu, yang berakhir dengan pengumuman putusannya pada tanggal 11 Desember. Eichmann dihukum atas 15 tuduhan kejahatan terhadap orang-orang Yahudi, kejahatan terhadap kemanusiaan, kejahatan perang dan keanggotaan dalam organisasi kriminal. Hausner meminta hukuman mati untuk Eichmann. Dia berkata, Eichmann tidak pantas mendapatkan belas kasihan “karena dia tidak memiliki belas kasihan di dalam hatinya. Dia ingin semua korbannya mati.” Eichmann mengatakan kepada pengadilan, “Saya tidak beruntung terlibat dalam kengerian ini. Tetapi mereka tidak berkomitmen atas keinginan saya. Saya tidak pernah ingin membunuh siapa pun. Hanya pimpinan negara yang bersalah atas pembunuhan massal ini.” Pengacara Eichmann diketahui mengajukan banding ke Mahkamah Agung, yang menguatkan putusannya pada tanggal 29 Mei 1962. Eichmann dijatuhi hukuman gantung (satu-satunya dalam sejarah Israel bahwa hukuman mati telah diberlakukan) pada dini hari tanggal 1 Juni 1962, saat ia berusia 56 tahun. Eichmann meminta grasi, tetapi permohonan itu ditolak oleh Presiden Yitzhak Ben Zvi. UPI melaporkan pada hari eksekusinya:
“Saat dia berjalan dalam langkah terakhirnya ke tiang gantungan di penjara Ramle di luar Tel Aviv, dia memberi tahu Dr. Robert Hull, seorang misionaris Protestan Kanada: ‘Saya mengambilnya dengan tenang dengan kedamaian di hati saya, yang bagi saya bukti bahwa saya benar.’” Tepat sebelum dia meninggal, dia berkata: “Saya mencoba untuk mematuhi hukum perang dan negara saya.” Setelah dia dieksekusi, tubuhnya dikremasi dan sebuah perahu polisi menyebarkan abunya di laut Mediterania, tepat di luar wilayah teritorial Israel.

CIA DAN EICHMANN
Rabi Abraham Kalmanowicz dari Va’ad Hahatzala, sebuah organisasi yang terlibat dalam kegiatan penyelamatan atas nama para rabi Eropa dan mahasiswa yeshiva, diketahui sempat meminta CIA untuk “berurusan dengan Eichmann” sedari bulan September 1953 hingga Mei 1954. CIA kemudian mengeluarkan memorandum pada 9 Oktober 1953, sebagai tanggapan:
“Sementara CIA memiliki kepentingan yang berkelanjutan dalam keberadaan dan kegiatan individu seperti EICHMANN, kami tidak dalam aktivitas menangkap penjahat perang. Maka kami tidak dalam posisi untuk mengambil peran aktif dalam kasus ini; dan bahwa kami akan, bagaimanapun, waspada terhadap informasi apa pun mengenai keberadaan EICHMANN serta menyampaikannya kepada pihak yang berwenang (mungkin Pemerintah Jerman Barat) untuk tindakan seperti yang mungkin diindikasikan.”

CIA dan FBI, bagaimanapun, menulis banyak laporan tentang Eichmann. Misalnya, mereka memiliki laporan tentang Eichmann berada di Kairo pada awal tahun 1948 dan, kemudian, di Suriah. Laporan-laporan ini, bagaimanapun, adalah tentang Karl Heinrich Eichmann, orang yang berbeda. CIA juga terus mendapatkan laporan tentang dugaan keberadaan Eichmann. Simon Wiesenthal, sosok terkenal pemburu NAZI, misalnya, awalnya mengira dia bersembunyi di Austria. Laporan lain menunjukkan dia berada di daerah dekat Iran dan bekerja sebagai penasihat perusahaan minyak. Referensi pertama bahwa Eichmann ke Argentina ada dalam file, CIA yang muncul dalam surat tahun 1954 yang ditulis Wiesenthal, tetapi bukti kuat pertama tentang lokasinya dikirim oleh dinas intelijen luar negeri Jerman Barat (BND) pada bulan Maret 1958. BND mengatakan Eichmann telah hidup di Argentina dengan nama samaran Clemens sejak tahun 1952. CIA terkejut ketika mengetahui penangkapannya di Argentina. Direktur CIA lalu memberi selamat kepada Israel dan sangat ingin mendapatkan rincian laporan penangkapannya yang ditulis di New York Times (tanggal 2 Juni 1960) dan Time (tanggal 6 Juni 1960).
KESIMPULAN
Akhirnya, seorang penganiaya orang-orang Yahudi telah dipaksa untuk diadili dan telah dihukum oleh pengadilan Yahudi – pengadilan negara Israel. Setelah berabad-abad, mereka yang dengan bebas mempermalukan, mengucilkan, mendeportasi, mengusir, dan membunuh orang-orang Yahudi akan bertanggung jawab atas kejahatan mereka. Orang-orang Yahudi sekarang memiliki bangsa, dan tentara, serta dinas intelijen yang sangat efisien untuk menjaga kepentingan mereka di mana pun mereka tinggal. Seperti yang dikatakan oleh Hannah Arendt, “untuk pertama kalinya (sejak tahun 70, ketika Yerusalem dihancurkan oleh Romawi), orang-orang Yahudi dapat mengadili atas kejahatan yang dilakukan terhadap bangsa mereka sendiri.” Yad Vashem merangkum dampak persidangan Eichmann:
“Persidangan tersebut menjadi tonggak pertama dari proses panjang selama bertahun-tahun, perubahan haluan yang berkelanjutan dalam membentuk kesadaran akan Holocaust dalam opini publik Israel dan dunia….Gema persidangan akhirnya menarik perhatian dan kesadaran para penyintas Holocaust yang tinggal di antara kita, yang telah ragu-ragu sebelum persidangan, untuk menceritakan kisah pribadi mereka, karena keengganan dan tidak adanya keterbukaan di antara banyak warga Israel. Persidangan ini membawa perubahan signifikan di kalangan pemuda Israel dalam sikap mereka terhadap Holocaust. Bagi mereka dan pemuda Yahudi lainnya, Holocaust adalah masalah yang jauh dan abstrak. Sidang tersebut merupakan langkah penting dalam menyampaikan Holocaust kepada mahasiswa Israel dan masyarakat Yahudi….Persidangan Eichmann juga berfungsi sebagai katalis untuk mempromosikan pengadilan penting lainnya bagi tokoh-tokoh NAZI Jerman. Yang paling signifikan dari ini adalah pengadilan para penjahat kamp konsentrasi Auschwitz, diluncurkan pada tahun 1963 di Frankfurt am Main.”

Dua puluh satu hari setelah eksekusi Eichmann, kerusuhan pecah di Argentina. Pada bulan Juni 1962, ekstremis nasionalis menculik seorang gadis Yahudi berusia 19 tahun, menyiksanya, dan melukainya dengan lambang swastika. Di sisi lain Ben-Gurion dipuja sebagai pahlawan di komunitas Yahudi di Buenos Aires, sementara pemerintah Argentina mengeluhkan tindakan Israel kepada PBB. Pemerintah Argentina ditekan oleh kaum nasionalis untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, dan duta besar Israel memang diusir untuk waktu yang singkat. Empat bulan kemudian, ketegangan antara kedua negara mereda dan hubungan mereka kembali normal. Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi terhadap Israel yang menyatakan bahwa Israel melanggar kedaulatan Argentina. Tindakan Israel juga dikutuk oleh Amerika Serikat, Inggris, Prancis, China, dan Uni Soviet. Majalah Time bahkan menyebut keputusan Israel untuk menangkap Eichmann sebagai “rasisme terbalik.” Pengadilan Eichman bagaimanapun menunjukkan kekuatan Israel, sebagai sebuah negara di masa remajanya, yang mampu meminta pertanggungjawaban kepada para pembunuh bangsa mereka, dan menegaskan bahwa orang-orang Yahudi bisa menentukan nasib mereka sendiri, serta bersedia menempuh banyak rintangan demi mendapatkan keadilan. Momen ini membawa sepotong kecil keadilan bagi jutaan korban dan ribuan orang yang selamat dari Holocaust. Mossad sendiri sebagai pelaku tidak secara resmi mengakui keterlibatannya dalam penculikan Eichmann hingga bulan Februari 2005. Pria yang membantu Mossad mengidentifikasi Eichmann, yakni Gerhard Klammer, diketahui membuat Bauer berjanji untuk tidak mengungkapkan bahwa dia adalah sumber informasi yang mengarah pada penangkapan Eichmann. Bauer menepati janjinya dan nama Klammer tetap dirahasiakan sampai keluarganya memberi izin kepada surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung untuk mengungkapkannya pada tahun 2021, 32 tahun setelah dia meninggal, dan 50 tahun setelah persidangan Eichmann.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
The Capture of Nazi Criminal Adolf Eichmann – Operation Finale – and His Trial By Doron Geller and Mitchell Bard (May 1960)
https://www.jewishvirtuallibrary.org/the-capture-of-nazi-criminal-adolf-eichmann
Eichmann was nabbed by Mossad after tipoff from German co-worker, report reveals By TOI STAFF; 25 August 2021, 7:48 pm
The Daring Israeli Spy Operation to Capture Nazi Mass Murderer Adolf Eichmann BY ERIN BLAKEMORE; UPDATED: MAY 6, 2019 | ORIGINAL: MAY 2, 2019
Eichmann The Controversy of Justice
The photo that led Mossad to Adolf Eichmann – the architect of the Holocaust: Engineer in Argentina in the 1950s realized true identity of his colleague and told German authorities who IGNORED him – but Israel did NOT after seeing this snap
By Adam Manno For Dailymail.Com
03:20 25 Aug 2021, updated 16:16 25 Aug 2021
The Doctor Who Helped Israeli Spies Catch Eichmann But Refused Recognition For It by Daniel Estrin; July 16, 20191:42 PM ET
Adolf Eichmann’s capture, as told by the Mossad, in Israel exhibition by Harriet Sherwood in Tel Aviv; Wed 15 Feb 2012 11.20 EST
The True Story Behind the Movie Operation Finale by BY ELIANA DOCKTERMAN
AUGUST 29, 2018 8:57 AM EDT
https://www.google.com/amp/s/time.com/5373420/true-story-operation-finale/%3Famp%3Dtrue
The Mossad mission to capture architect of Holocaust Author: AFP|Update: 08.05.2020 12:12
https://today.rtl.lu/news/world/a/1514577.html
Revealed, How Mossad Nabbed Adolf Eichmann From Argentina, Airlifted Him, Hanged Him To Death In Israel
How Mossad snared the Holocaust mastermind By GUY WALTERS
13:38, Sun, Sep 2, 2018 | UPDATED: 14:48, Sun, Sep 2, 2018
