Fenomena REMF dan Realita Yang Tidak Terbayangkan Banyak Orang Mengenai Perang Vietnam
“Perang adalah neraka” demikian bunyi slogan tulisan tangan yang terlihat pada helm GI muda di salah satu dari banyak foto terkenal dari Perang Vietnam. Dan setelah melihat gambar-gambar Perang Vietnam di televisi, gambar-gambar yang diambil oleh para koresponden perang, dan cerita-cerita tentang kekejaman perang, sebagian besar masyarakat Amerika pada tahun 1960-an cenderung setuju akan uneg-uneg GI muda itu. Akan tetapi ungkapan itu mungkin tidak berlaku pada beberapa atau bahkan bagi sebagian besar prajurit Amerika yang pernah bertugas di Vietnam. Pada bulan Agustus 1970, surat kabar Army Reporter mengulas beberapa petugas Divisi Infanteri ke-25 yang suka bersenang-senang di Vietnam. Bekerja jauh dari neraka pertempuran, orang-orang ini tidak akan pernah mendapatkan medali untuk keberanian di medan perang, jadi mereka membuat sendiri: Silver Paper Clip. Dalam sebuah upacara yang penuh dengan ironi, mereka menganugerahkan kehormatan kepada salah satu rekan mereka, bersama dengan kutipan ini: Specialist Howard menunjukkan pengorbanannya dengan kegagahan yang mencolok dan keberanian dalam mempertaruhkan nyawanya ketika dia seorang diri menjawab lebih dari 200 panggilan telepon dan memproses lima belas orang baru, membuat dirinya menghadapi banyak pertanyaan. Dia pindah dari situasi nyaman yang relatif di mejanya ke bagian P.X. di mana dia berulang kali membeli kotak soda. Dia mengatur dan memimpin bagiannya saat mereka menyapu bersih hootch (tempat tinggal) mereka. Mengabaikan personel NCO, dia membersihkan mesin tiknya, mengambil surat, membelai empat anjing, melepaskan tiga stensil dan mengambil pil malarianya.” Sementara itu terima kasih untuk pengaruh film-film seperti Platoon, orang-orang Amerika saat ini masih membayangkan tipikal tentara AS di Vietnam sebagai seorang prajurit infanteri yang berpatroli di hutan dan menghadapi kematian serta teror setiap hari. Tetapi kenyataannya adalah bahwa sebagian besar pasukan Amerika di Vietnam lebih seperti Specialist Howard daripada Chris Taylor dari film Oliver Stone itu. Penggunaan teknologi tinggi dalam perang Amerika di Asia Tenggara dan kemampuan logistiknya yang hebat berarti bahwa sekitar 75 persen dari 2,5 juta tentara yang bertugas di sana bekerja dalam peran pendukung, keluar dari bahaya dan relatif nyaman. ‘Pada dasarnya ada dua perang yang berbeda di sini (di Vietnam). Saat kami berada di medan tempur hidup seperti binatang, masalah terbesar prajurit di garis belakang adalah dia hanya dapat menikmati satu stasiun televisi’ demikian kata seorang veteran.


THE GRUNTS & BATTLEFIELD
Kebanyakan pasukan infanteri di garis depan melihat hanya pangkalan garis belakang dalam perjalanan masuk atau keluar menuju medan perang, tapi mereka tidak pernah lama di tempat itu. Mereka memiliki pekerjaan mereka sendiri untuk dilakukan. Secara resmi, tujuan mereka adalah untuk mempertahankan Vietnam Selatan agar tidak jatuh ke tangan komunis, menemukan dan membasmi Viet Cong, dan memenangkan hati dan pikiran penduduk setempat. Tapi kebanyakan yang mereka lakukan adalah berjalan kaki. Mereka berjalan selama berhari-hari dan berminggu-minggu, berpatroli di wilayah terpencil untuk mencari para pejuang gerilya Viet Cong atau anggota Tentara Vietnam Utara. Mereka berjalan tanpa mandi, makan makanan panas, atau tidur nyenyak. Mengenai makanan misalnya, satu hal yang tidak bisa hilang dari pikiran mereka — sekaligus satu hal yang hampir tidak mungkin mereka dapat — adalah makanan yang enak dan panas. Ransum yang dibawa para prajurit menyedihkan. Pada awalnya, ada ransum tipe C, makanan basah siap pakai yang disajikan dalam kaleng, tetapi ternyata terlalu berat untuk operasi khusus yang membutuhkan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. Sebaliknya, pihak militer kemudian mengembangkan ransum patroli jarak jauh untuk menggantikan mereka. LRP adalah ransum lapangan kering-beku dan dehidrasi yang disimpan dalam kantong tahan air, serta jauh lebih ringan daripada kaleng besar yang dibawa tentara sebelumnya. Rasanya, bagaimanapun, tidak enak. Ransum ini biasanya dibandingkan dengan makanan anjing basah, dan satu-satunya cara untuk memanaskannya di lapangan adalah dengan menggunakan bahan peledak yang berpotensi berbahaya jika digunakan. Larry Michael, mantan prajurit infanteri di Vietnam, melaporkan bahwa “jika Anda benar-benar menginginkannya panas, Anda harus membongkar ranjau claymore … mengeluarkan C-4 (bahan peledak), menyalakannya dan kemudian menghangatkannya. Tapi itu adalah satu-satunya cara Anda makan panas.” Dalam menjalankan tugasnya, mereka berjalan sampai mereka mendapatkan infeksi tropis parah, dimana kulit terinfeksi akibat terlalu lama memakai alas kaki yang tidak memadai dan lembab. Mereka biasa berjalan dengan ransel berat, membawa semua keperluan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup di medan yang sulit. Mereka membawa jatah makanan, jaket pelindung pecahan peluru, senapan dan amunisi. Yang paling penting, mereka membawa obat nyamuk dan kaus kaki kering. Mereka kerap membawa ketakutan bahwa setiap saat, serangan mendadak dari pihak musuh bisa saja membunuh mereka. Tujuan mereka seperti dijelaskan diatas adalah untuk menemukan dan mengalahkan Viet Cong, tetapi bagi mereka seringkali terasa seperti tidak ada tujuan nyata kecuali menjadi umpan manusia untuk memprovokasi para pejuang gerilya bertempur guna mengungkapkan posisi mereka. Faktanya selama perang Vietnam sebagian kontak tembak di medan tempur diinisiasi oleh pihak komunis. Viet Cong sering selangkah lebih maju dari tentara Amerika, dengan bersembunyi di pepohonan atau berbaur dengan penduduk setempat, sehingga desa-desa di Vietnam Selatan tidak pernah benar-benar aman, dan lokasi para pejuang gerilya tidak pernah pasti. Jadi para prajurit infanteri Amerika harus terus berjalan untuk menemukan mereka.



“Tanah Vietnam itu sendiri bisa membunuhmu,” kenang Tim O’Brien, penulis sekaligus veteran Perang Vietnam. Ya, Viet Cong dan Tentara Vietnam Utara mencoba membunuh mereka. Tetapi begitu juga kawanan nyamuk yang menyebarkan demam berdarah ke seluruh kamp, dan dengan 30 jenis ular berbisa yang gigitannya terbukti berakibat fatal. Dan jika tanah Vietnam tidak secara aktif membunuh mereka, setidaknya akan membuat mereka sengsara. Dapat dipahami bahwa semangat kerja di Vietnam rendah selama musim hujan, misalnya, ketika hujan lebat akan membasahi para prajurit dan membanjiri sawah selama lebih dari enam bulan. Dan saat tidak hujan, panas dan lembab menyengat semua orang. Di antara hujan dan keringat, tubuh para prajurit tidak pernah benar-benar bisa kering. Jika mereka tidak terlalu basah atau sangat panas, mereka dengan susah payah harus menembus semak-semak hutan dan rumput gajah dengan daun yang begitu lebat dan tajam sehingga mereka bisa berdarah. Para prajurit juga kerap dihisap darahnya oleh lintah yang membuat rumah mereka di persawahan. Tanah Vietnam adalah musuh yang berbahaya, tetapi ancaman terbesarnya adalah bahaya yang disembunyikannya. Apakah di tengah hutan atau jauh di dalam sawah, pemandangan itu aneh bagi tentara AS, tetapi itu akrab bagi Viet Cong, yang dengan ahli menyembunyikan diri di area sekitar. Pasukan Amerika, dengan daya tembak mereka yang jauh lebih unggul, berada di atas angin saat bertempur berhadapan, tetapi Viet Cong kerap sengaja menghindari konflik skala besar di mana mereka bisa kalah dalam hal persenjataan. Sebaliknya, mereka menunggu di pepohonan hingga malam hari, saat meredanya cuaca buruk atau saat-saat menguntungnya lainnya. Mereka juga menyembunyikan ranjau darat dan jebakan untuk menimbulkan korban dan meningkatkan ketakutan yang dirasakan para GI Amerika di setiap langkahnya. Tentara Amerika kemudian melawan balik dengan kampanye pengeboman yang menghancurkan desa-desa, dan menyemprotkan napalm yang membakar kulit para Viet Cong dan warga sipil yang sial. Mereka menggunakan Agen Oranye untuk meruntuhkan dedaunan tropis, menghancurkan tempat persembunyian yang digunakan Viet Cong guna melawan mereka. Tapi mereka pada akhirnya tidak pernah bisa mengalahkan determinasi para pejuang gerilya, meski senantiasa mampu menimbulkan korban besar di pihak lawan. Bagi orang-orang Amerika, setiap korban yang ditimbulkan di pihak lawan, berarti juga setiap dolar turut mereka dihabiskan (ini juga tidak murah), dan setiap protes anti-perang di tanah air semakin menghilangkan keyakinan mereka bahwa perang di Vietnam bisa menjadi perang yang dapat dimenangkan. Demikianlah gambaran frustasi dari prajurit tempur Amerika di Vietnam, namun itu bukan satu-satunya pengalaman mereka dan sebagian besar prajurit Amerika yang dikirimkan ke sana.


REMFs
Tentara modern selalu membutuhkan operasi dukungan raksasa, tidak terkecuali dengan tentara Amerika. Tapi Vietnam berbeda. Untuk pertama kalinya, militer AS mengubah pangkalan garis belakangnya menjadi replika dari rumah-rumah mereka, dengan banyak barang mewah dan barang konsumsi yang merefleksikan kemakmuran pasca-Perang Dunia II di Amerika. Kelimpahan ini memiliki efek samping yang tidak diinginkan: Distribusi ketidaknyamanan dan bahaya yang tidak merata memicu kebencian pasukan tempur terhadap pasukan pendukung, yang dicemooh sebagai “bajingan eselon belakang (rear echelon motherfuckers/REMFs).” REMFs dan pasukan tempur mungkin telah bertugas di sisi yang sama, tetapi mereka tidak bertugas dalam situasi perang yang sama. Sementara itu karena rumor cenderung bersifat “hitam putih”, REMFs biasanya digambarkan sebagai seseorang yang beruntung, atau sebagai seseorang yang melakukan pekerjaan yang terlihat membosankan tetapi vital, tetapi sekaligus sebagai seseorang yang mencium banyak lemak, dan kenikmatan di garis belakang, seperti digambarkan pada film komedi Perang Dunia II, Kelly’s Heroes (1970). Seorang REMFs dianggap sebagai sosok yang licik atau meminta Ayah mereka menelepon orang yang tepat untuk bisa mendapatkan pos yang nyaman bagi anaknya. Dia bisa jadi anak Senator, atau selebriti, atau dia punya banyak uang di bank. Ini bukan masalah keberuntungan, atau keterampilan yang sebenarnya, itu lebih soal siapa dia dan siapa yang dia kenal. Di sisi lain fakta di kehidupan nyata, tentu saja, berbeda. Militer adalah organisasi besar, dan memang banyak pekerjaan penting yang tidak terlibat dalam pertempuran, yang berarti tidak segampang menempatkan para “bajingan” secara acak. Seringkali, dan mungkin bertentangan dengan stereotip yang populer, anak-anak dari orang-orang penting dan/atau kaya, banyak yang ingin bergabung dengan militer karena mereka ingin mengabdi. Untungnya atau sayangnya, para petinggi militer tidak bodoh dan tahu bahwa jika anak seseorang penting meninggal dalam pengawasan mereka, mereka akan berada dalam masalah. Jadi, bukan karena kesalahannya sendiri, anak-anak dengan background dan privilage golongan kelas atas mungkin menghabiskan masa perang di belakang meja di suatu tempat untuk mengetik laporan. Ini sebenarnya bukan hal yang aneh, situasi yang sama dapat berlaku untuk selebriti: seandainya Muhammad Ali menerima tugas wajib militernya selama Perang Vietnam, kemungkinan besar dia akan menghabiskan waktu dengan mengadakan pertandingan eksibisi untuk menghibur pasukan, seperti yang dilakukan Joe Louis selama Perang Dunia II (meskipun Louis tidak ikut wajib militer).



Ketika pertempuran di Vietnam semakin intensif pada pertengahan tahun 1960-an, mesin-mesin perang Amerika membutuhkan sumber daya yang sangat besar tidak hanya untuk menaklukkan musuh tetapi juga untuk menopang operasi pasukannya. Sebuah legiun yang terdiri dari tukang daging, tukang roti, dan pembuat es krim ditugaskan untuk memberi makan pasukan Amerika. Pustakawan menyimpan buku-buku di perpustakaan pangkalan, unit spesialis hiburan merencanakan kunjungan lapangan dan pertunjukan yang dimaksudkan untuk meningkatkan moral, penjaga toko kerajinan memperhatikan tempat pembakaran dan kamar gelap, dan penjaga pantai terus mengawasi di kolam renang. Gerai dan bar ritel yang dikelola militer mempekerjakan lebih banyak personel untuk menyimpan rak, menuangkan minuman, memesan band, dan menghitung slug di mesin slot. Di pangkalan belakang, pasukan tukang ledeng, tukang listrik, dan tukang reparasi kulkas menjaga air agar tetap mengalir, lampu menyala, dan minuman dengan es yang dingin tersedia. Faktanya, dalam angkatan bersenjata modern, ada sekitar 10-15 REMF yang bekerja untuk mendukung setiap prajurit yang benar-benar menarik pelatuk senjata di garis depan.
SEBAGIAN BESAR PRAJURIT BUKAN PRAJURIT TEMPUR
Pilihan taktik Search and Destroy (cari dan hancurkan) yang digunakan militer Amerika dalam perang Vietnam turut menciptakan jurang realita perang diantara prajurit garis depan dengan eselon garis belakang. Meskipun Amerika telah menempatkan perang anti gerilya sebagai bagian dari taktik militer mereka sejak tahun 1961, akan tetapi Divisi, Resimen, dan Batalion-batalion Amerika masih dirancang untuk lebih cocok digunakan untuk peperangan konvensional. Hal ini berarti, sebuah pendekatan kualitatif akan terbukti lebih mahal dari sisi personel dan sumber daya. Pada tahun 1965, angka kematian perwira Amerika di Vietnam Selatan meningkat menjadi diatas 5% dibanding saat Perang Dunia II dan Perang Korea. Jumlah total korban meninggal pada musim panas tahun 1966 adalah 4.000 terbunuh dan 21.000 terluka. Jumlah totalnya akan terus meningkat tajam hingga akhir tahun. Yang menyedihkan, dari total 240.000 personel Amerika di Vietnam saat itu, hanya kurang dari 50.000 yang benar-benar pasukan tempur, dan mereka inilah yang menderita paling banyak korban. Ketidakadilan ini memang pahit, namun tidak dapat dihindari. Dalam Perang Dunia II, perbandingan antara pasukan tempur dengan pasukan pendukung adalah 36,2% : 63,8%, dalam Perang Korea 33% : 67 %, kemudian terus melebar menjadi 22,2% : 77,8% di Vietnam. Pada bulan Desember 1967, jumlah total prajurit Amerika di Vietnam adalah 473.200 orang. Dari jumlah ini didapat 90 batalion infanteri tempur. Kekuatan masing-masing batalion pada saat itu adalah 700 orang, dimana 150 orang adalah staff markas besar, sopir, petugas administrasi, tukang masak, dan lain sebagainya, yang menyisakan 550 personel tempur. Dari sini jumlah nyata prajurit tempur Amerika di Vietnam adalah “cuma” 49.500 orang. Jadi dari 473.200 prajurit Amerika di Vietnam hanya 10,46% merupakan prajurit infahteri tempur. Dari sisanya 12% merupakan personel artileri dan zeni, 2% adalah awak udara, dan 75% sisanya adalah unit markas besar serta logistik. Di sisi lain, kekuatan batalion VC/NVA lebih kecil dibanding rata-rata batalion Amerika, dengan jumlah totalnya sekitar 320 personel. Dari jumlah ini sebagian kecil adalah personel markas dan administrasi, yang kemudian menyisakan 280-290 prajurit tempur yang efektif. Pada tahun 1967 kekuatan VC/NVA di Vietnam Selatan diperkirakan ada sekitar 152 batalion (total: 43.320 personel), 196 kompi (total: 17.640 personel), dan 70 pleton (total: 2.100 personel) dengan total 63.060 prajurit. Mengingat jumlah ini dan sifat dari perang gerilya dimana untuk bisa sukses, jumlah pasukan anti gerilya harus lebih besar beberapa kali lipat dari gerilyawan yang ingin mereka tumpas, maka bukan yang aneh jika, militer Amerika dan sekutunya gagal untuk secara efektif menumpas kekuatan komunis di Vietnam Selatan. Sementara itu, fakta-fakta diatas yang menunjukkan gap antara pasukan tempur yang membesar dan perbedaan kondisi hidup dan risiko yang dihadapi, tidak mengherankan jika ada sentimen tidak menyenangkan diantara keduanya.



KENIKMATAN REMF DI LONG BINH
Mengidentifikasi REMF di pangkalan itu cukup mudah. Prajurit infanteri yang kembali dari medan tempur umumnya kurus dan beruban, seragam dan sepatu bot mereka memutih karena lecet dan terik matahari. Sementara itu, personel REMFs mengenakan seragam yang sering kali berwarna hijau dan segar dengan sepatu bot yang tetap berkilau. Mess-hall yang berkelimpahan dan tugas menetap berarti bahwa mereka bisa menikmati banyak hal. Sebagian besar pasukan pendukung bekerja di pangkalan garis belakang, yang banyak di antaranya menyerupai kota-kota besar Amerika. Yang terbesar adalah Long Binh Post, sekitar 20 mil (32 km) sebelah utara Saigon. Dibangun dari waktu ke waktu dengan biaya senilai lebih dari $ 130 juta, Long Binh akhirnya memiliki 3.500 bangunan dan 180 mil (289 km) jalan yang meliputi area yang lebih besar dari kota Cleveland. Seorang kolonel bercanda, “Jika kita benar-benar diserang, V.C. harus menggunakan layanan bus terjadwal untuk berkeliling pangkalan.” Tempat bagi markas besar tentara Vietnam Selatan, Long Binh, dalam kata-kata seorang tentara yang tinggal disitu, adalah “benteng nyata bagi REMF.” Hingar bingar perang jauh dari tempat itu, dan tentara yang ditempatkan di sana memiliki banyak waktu. Untuk membuat mereka sibuk, otoritas militer menyediakan banyak kesempatan untuk rekreasi. Pada bulan Juli 1971, pos tersebut memiliki 81 lapangan basket, 64 lapangan voli, 12 kolam renang, 8 lapangan serbaguna, 8 lapangan softball, 6 lapangan tenis, 5 toko kerajinan, 3 lapangan sepak bola, 3 ruang angkat beban, 3 perpustakaan, 3 klub servis , 2 lapangan golf mini, 2 kompleks lapangan bola tangan, lintasan lari, lapangan panahan, driving range golf, lapangan skeet, area pesta, dan amfiteater untuk menampilkan film dan pertunjukan langsung. Pada tahun 1972, Long Binh Post bahkan memiliki jalur go-cart, lengkap dengan stand di garis start awal, sistem alamat publik, dan bengkel untuk perbaikan di tempat.



Klub-klub tempat makan terbuka, yang menyajikan makanan dan alkohol dan sering menampilkan hiburan langsung, berlimpah di seluruh Vietnam Selatan. Pada puncaknya pada tahun 1969, sistem klub di Long Binh memiliki 40 bar dengan kekayaan bersih $1,2 juta, termasuk $270.000 dalam bentuk tunai. Jika prajurit tidak menyukai apa yang ada di klub, toko ritel Long Binh menyediakan makanan dan alkohol untuk mengadakan pesta pribadi di kolam renang, barak, atau tempat barbekyu. Rumah bordil tidak resmi, “male beauty bar” dengan layanan salon, dan film luar ruangan melengkapi apa yang bisa ditawarkan di Long Binh. Pembangunan fasilitas rekreasi baru di Long Binh Post berlanjut hingga masa akhir perang. Sampai akhir tahun 1970, lebih dari satu tahun sejak dimulainya penarikan pasukan Amerika dari Vietnam, Angkatan Darat AS masih berencana untuk membangun dua bioskop berkapasitas 474 kursi, lapangan bola tangan tambahan, dua kolam renang dengan pemandian, dan danau rekreasi. Pihak militer kemudian membatalkan proyek konstruksi yang lebih mahal sebagai tanggapan atas kemarahan publik, tetapi fasilitas pos masih terus berkembang sampai musim panas tahun 1971. Long Binh dan pos-pos lainnya memiliki toko ritel yang akan menyaingi gerai-gerai big box masa kini dalam hal pilihan mereka, jika bukan dalam hal ukurannya. Salah satu dari P.X. (toserba militer) di Long Binh yang menghasilkan lebih dari $800.000 dalam hal penjualan bulanan pada akhir tahun 1971, dan itu bahkan bukan yang terbesar di Vietnam. Toko-toko ini menawarkan pilihan produk yang, pada masa pra-Walmart, tidak seperti apa pun yang pernah dilihat kebanyakan orang-orang Amerika. Seorang reporter untuk sebuah surat kabar divisi mengoceh tentang P.X. di Camp Radcliff di Dataran Tinggi Tengah Vietnam: “Ada banyak pusat perbelanjaan—bahkan, seluruh kota—di Amerika di mana Anda tidak dapat menemukan tembakau, ikan teri, baby oil, dadu, lampu kilat, radio, dan saus steak di toko yang sama, atau bahkan di area umum yang sama. Tetapi di Camp Radcliff Anda dapat membeli hampir semua hal yang Anda inginkan.”


UNEK-UNEK PARA GRUNTS
Keberlimpahan seperti itu dikombinasikan dengan keamanan relatif saat penugasan di garis belakang membuat perang itu sendiri tampak seperti problem yang jauh dari pikiran para prajurit. Menulis tentang Pangkalan Udara Da Nang dalam memoarnya, Vietnam: The Other War, polisi militer Charles Anderson merefleksikan rasa keterasingan ini: “Semua kenyamanan dan layanan ini menjadikan dunia di garis belakang sebagai laksana kapsul rahim yang hangat, terisolasi, di mana hal yang berkeringat, kotor, menjerit, berdarah, menggeliat-geliat dalam debu panas yang wajar dalam perang jarang mengganggu.” William Upton, yang bertugas di dekat pusat R&R (rekreasi) di Vung Tàu, memberi tahu ibunya sekembalinya ke rumah, “Seringkali Anda tidak tahu bahwa Anda sedang berperang.” Pasukan tempur sering melewati pangkalan garis belakang dalam perjalanan mereka ke dan dari Amerika Serikat, R&R, atau rumah sakit. Pertemuan-pertemuan ini membuat mereka dibingungkan oleh para komandan yang seolah memberi paling banyak kepada mereka yang paling sedikit mengambil risiko, dan membenci pasukan non-tempur yang menikmati kenyamanan dan keamanan yang relatif. Meskipun pejabat Angkatan Darat A.S. membantah adanya gesekan antara pasukan tempur dan pendukung, tentara garis depan marah dengan cara rekan-rekan mereka hidup. Dalam memoarnya Nam Sense: Surviving Vietnam with the 101st Airborne, Arthur Wiknik Jr.—seorang komandan pasukan infanteri dan veteran serangan berdarah di Hamburger Hill—berpikir: “Sejauh yang saya tahu, satu-satunya bahaya yang dihadapi REMF adalah dari terkena gonore (penyakit kelamin) atau ditabrak oleh pengemudi truk yang mabuk. Dan kesulitan terbesar yang dihadapi REMF adalah ketika generator rusak dan bir (nya) menjadi hangat atau tidak ada film malam itu.”


HORMAT REMF PADA PARA GRUNTS
Pada bulan April 1969, 30 anggota unit infanteri tempur mengungkapkan keluhan mereka di depan umum. Menulis kepada Presiden Richard M. Nixon, mereka berpendapat bahwa “pada dasarnya ada dua perang yang berbeda di Vietnam. Sementara kita berada di lapangan hidup seperti binatang, mempertaruhkan hidup kita dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, masalah terbesar orang di belakang adalah dia hanya dapat menerima satu stasiun televisi. Tidak ada perbandingan yang lebih jelas diantara keduanya….Prajurit di garis belakang tidak tahu bagaimana rasanya membakar lintah dari tubuhnya dengan sebatang rokok; untuk tidak mandi selama berbulan-bulan pada suatu waktu … atau untuk bangun dengan suara mortir yang datang dan teriakan teman Anda yang berteriak, Medis!’” Setahun kemudian, pensiunan perwira John H. Funston menulis kepada New York Times dengan alasan bahwa tentara harus memberi penghargaan kepada prajurit infanteri dengan bayaran ekstra untuk bahaya yang mereka hadapi di lapangan. Gagasan tentang bayaran tempur, menurutnya, telah diremehkan karena setiap prajurit menerimanya, “terlepas dari pangkatnya atau apakah dia seorang prajurit infanteri garis depan yang ditembaki atau penjaga pantai di kolam renang tempat rekreasi.” Prajurit di garis belakang, sementara itu, memandang pasukan tempur dengan kekaguman yang dalam. Dalam perjalanannya ke R&R luar negeri, juru ketik Dean Muehlberg bertemu dengan sebuah kompi infanteri yang sedang antrean di pusat pemrosesan di Da Nang. “Kami kagum pada para Marinir,” katanya. “Kami tidak berbicara dengan mereka atau menghalangi mereka. Kami tidak tahu bahasa mereka. Anda merasakan bahwa setelah ancaman kematian yang terus-menerus, bahaya yang mengerikan, tidak ada lagi yang membuat mereka takut.” Muehlberg menulis sebuah memoar, REMF “War Stories” di mana dia mengolok-olok dirinya sendiri, pekerjaan yang membosankan, dan pemikiran bahwa dia sedang berperang. Tanda kutip dalam judul bukunya memang disengaja; tur-nya di tahun 1969 begitu jauh dari pertempuran sehingga pada senapannya benar-benar tumbuh jamur saat dibiarkan tergeletak di raknya. Muehlberg bekerja di bagian Penghargaan dan Dekorasi, di mana dia memproses rekomendasi untuk medali dan memutuskan pujian apa yang pantas. “Untuk bulan pertama sepertinya itu pekerjaan kotor,” tulisnya. “Saya tidak merasa layak! Saya sedang duduk di tempat yang relatif aman membaca kisah-kisah mengerikan dan menakjubkan tentang keberanian saudara-saudara saya yang tidak begitu beruntung yang berada di tengah-tengahnya. Dan kemudian duduk untuk memberi penilaian pada ‘tingkat’ keberanian mereka, perbuatan mereka.”

MENGHADAPI PERANG YANG SAMA DI NEGERI SENDIRI
Setelah perang, permusuhan antara prajurit garis depan dan REMF bertahan dalam berbagai memoar pribadi dan, kemudian, situs web. Tetapi dalam beberapa kasus, kepahitan prajurit tempur terhadap REMF berhenti ketika para veteran bersatu untuk menghadapi musuh bersama setelah kembali ke rumah, yakni: ketidakpedulian publik dan pemerintah. Mereka yang bergabung dalam protes sebagai bagian dari gerakan G.I. movement to end the war dan bahwa demi kepentingan bersama para veteran sengaja mengubur perasaan buruk mereka untuk meningkatkan jumlah mereka dan menghadirkan front persatuan. Ribuan REMF kemudian berbaris bersama para veteran tempur. Kelompok-kelompok veteran antiperang hampir tidak menyadari bahwa perpecahan diantara mereka pernah ada. Bagi publik, semua tentara yang kembali hanyalah “veteran Vietnam.” Hanya veteran-lah yang tahu bahwa mereka pernah bertugas di pihak yang sama dalam perang yang berbeda.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
EASY LIVING IN A HARD WAR: BEHIND THE LINES IN VIETNAM BY MEREDITH H. LAIR
WHAT LIFE WAS LIKE AS A SOLDIER IN THE VIETNAM WAR BY AIMEE LAMOUREUX/FEB. 25, 2020 10:27 AM EDT
https://www.grunge.com/190522/what-life-was-like-as-a-soldier-in-the-vietnam-war/
Soldiers at the Rear
https://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/Main/SoldiersAtTheRear
The Vietnam War: The Illustrated History of the Conflict in Southeast Asia, Salamander Book-1983; p 147
War in the Shadows the Guerrilla in History Vol II by Robert B. Asprey, 1975; p 1145
WAR IN PEACE: An Analysis Of Warfare Since 1945, Consultant Editor: Sir Robert Thompson, Introduction by John Keegan; 1981, p 195
