Perang Timur Tengah

Penenggelaman Eilat, “Pembalasan” Mesir kepada Israel yang Mengubah Konsep Peperangan Laut

Dibandingkan dengan perang yang dimenangkan Israel, kerugian salah satu kapal perusak, empat bulan kemudian, tampaknya kecil. Namun, tenggelamnya kapal Eilat yang berbobot 1.700 ton menjadi penting bagi angkatan-angkatan laut negara-negara barat karena kapal tersebut ditenggelamkan oleh rudal buatan Rusia yang ditembakkan dari kapal rudal kelas “Komar” buatan Rusia yang berbobot ‘cuma’ 75 ton, yang berlabuh dengan aman di sebuah pelabuhan Mesir 13 mil (21 km) jauhnya.

HMS Zealous (nantinya menjadi INS Eilat) ditambatkan di Gourock, Maret 1945. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
INS Eilat yang berbobot 1.700 ton, ditenggelamkan oleh kapal rudal kelas “Komar” buatan Rusia yang berbobot ‘cuma’ 75 ton. (Sumber: https://www.reddit.com/)

KAPAL PERUSAK EILAT

Pada tanggal 21 Oktober 1967, kapal perusak Israel Eilat (diberi nama menurut kota pesisir selatan Israel, Eilat, menggantikan kapal INS Eilat sebelumnya) sedang berpatroli di lepas pantai Port Said, Mesir. Dibangun oleh Inggris pada tahun 1944 sebagai HMS Zealous, Eilat telah berada dalam layanan Israel selama belasan tahun. Dalam Perang Dunia II, kapal ini berpartisipasi dalam operasi di Laut Utara dan lepas pantai Norwegia, sebelum mengambil bagian dalam pengamanan beberapa konvoi di perairan Arktik. Kapal itu kemudian dijual ke Angkatan Laut Israel dan berpartisipasi dalam Krisis Suez pada tahun 1956, menyerang kapal-kapal Mesir, serta berpartisipasi penangkapan kapal perusak Mesir, Ibrahim el-Awal (yang kemudian oleh Israel ubah namanya menjadi Haifa), yang menembaki kota Pelabuhan Haifa. Eilat masih aktif hingga pecahnya Perang Enam Hari pada tahun 1967. Eilat dipersenjatai dengan 8 tabung torpedo, 4 meriam kaliber 4,5 inci (113 mm) dan 5 meriam kaliber 40 mm. Eilat hari itu ditugaskan untuk melakukan patroli rute guna melindungi pantai utara Semenanjung Sinai, yang diperoleh dalam Perang Enam Hari empat bulan sebelumnya. Segala sesuatunya tidak sepenuhnya tenang dalam patroli. Tiga bulan sebelumnya, Eilat ikut serta dalam aksi melawan sepasang kapal torpedo Mesir yang berangkat dari Port Said dan menyeberang ke perairan Israel. Dia dibantu dalam menenggelamkan kapal-kapal Mesir itu dengan dua kapal torpedo Israel, tapi malam ini dia sendirian.

Kapal perusak HMS Zealous, yang kemudian dibeli Israel dan diberi nama sebagai INS Eilat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Dilengkapi dengan baik, untuk misi patroli dalam perang, dan didukung dengan awak yang sangat terlatih, INS Eilat tidak dapat dipandang dengan sebelah mata di kawasan Timur Tengah. (Sumber: https://www.usni.org/)
Sebuah kapal meriam Israel melewati Selat Tiran dekat Sharm El Sheikh selama Perang 6 hari, 8 Juni 1967. Eilat masih aktif hingga pecahnya Perang Enam Hari pada tahun 1967 dan aktif dalam memerangi kapal-kapal Mesir di sekitar pantai utara Sinai. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)

Yitzhak Shoshan, kapten kapal Eilat, sudah berhati-hati dalam menjaga kapalnya untuk tetap berada di perairan internasional (tentu tidak seperti itu dari sudut pandang Mesir, yang menilai Eilat berlayar di wilayah perairannya), namun baik dia maupun orang lain di dalamnya tidak menyangka akan terjadi masalah saat matahari terbenam mendekat. Satu-satunya hal yang luar biasa adalah sinyal radar yang tidak biasa yang ditangkap oleh peralatan ESM (Electronic Support Measures) kapal perusak Israel itu. Eilat yang berada tidak jauh dari Port Said, telah dilacak hampir sepanjang hari – pertama oleh helikopter Mesir pagi itu, dan kemudian terus menerus oleh stasiun radar pantai sepanjang sisa hari itu. Meskipun Shoshan sebelumnya adalah kepala perwira elektronik Angkatan Laut Israel, baik dia maupun orang lain di dalamnya tidak mengenalinya sebagai radar pelacak dari kapal rudal Mesir di pelabuhan Port Said. Eilat dilengkapi dengan perangkat ESM – sistem Bat Kol, namun sistem ini sangat intensif secara manual sehingga untuk menggunakannya memerlukan pengetahuan dan praktik operator yang signifikan agar dapat digunakan secara efektif hanya dalam operasi-operasi di masa damai (Pada patroli ini, operator utama Bat Kol ditinggalkan di pantai untuk mengikuti sekolah dua minggu selama pelayaran Eilat ini). Salah satu permasalahan terbesarnya adalah kebutuhan untuk mengkorelasikan informasi sinyal secara manual dengan manual yang diterbitkan untuk memastikan ancaman yang datang. Untuk menunjukkan tingkat upaya dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam mengoperasikan perangkat ini, kapten Eilat mencatat dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada tahun 2008 bahwa ia menghabiskan banyak waktu di lokasi untuk mencoba memahami ancaman di sekitarnya.

RUDAL STYX

Uni Soviet diketahui mulai mengerahkan rudal-rudal anti-kapal dalam jumlah besar pada pertengahan tahun 1950-an, sebagai cara untuk mengatasi keunggulan angkatan laut negara-negara NATO. Senjata-senjata baru ini bahkan memungkinkan kapal-kapal kecil untuk menyerang kapal perang terbesar, meskipun ini bukanlah sesuatu yang baru, karena torpedo sudah lebih dulu melakukannya. Yang baru adalah kecepatan dan jangkauannya, serta fakta bahwa rudal dapat dipandu dengan lebih efektif. Soviet dengan cepat mengambil keuntungan dari hal ini, dengan membangun ratusan kapal rudal kecil yang masing-masing dipersenjatai dengan dua atau empat rudal P-15 Termit/SS-N-2 Styx. Lusinan kapal tersebut dikirimkan kepada klien-klien Soviet di seluruh dunia, dan Mesir menerima kapal pertama dari 15 kapal pada tahun 1962. Suriah juga menerima beberapa kapal, namun kedua negara menahan kapal-kapal tersebut di pelabuhan selama Perang Enam Hari, dan Israel percaya bahwa musuh-musuh mereka tidak dapat menggunakan senjata-senjata itu secara efektif. Tragisnya bagi kru Eilat, hal ini tidak terjadi, ketika kapal cepat rudal kelas Komar yang bisa berlayar dengan kecepatan 44 knot (81 km/jam) menembakkan rudal Styx-nya. Rudal Styx sendiri memiliki panjang sekitar 20 kaki (5.8 m) memiliki sayap pendek, berkecepatan sub-sonik, hulu ledak berbobot 1.000 pon (454 kg), dan memiliki jangkauan maksimum 20 hingga 25 mil (40 kilometer). Panduan rudal ini disediakan oleh inputan radar sebelum penembakan, dimana rudal kemudian terbang dengan sistem autopilot selama fase jelajah, dan radar homing untuk panduan terminalnya. 

Rudal anti kapal P-15 Termit (NATO: SS-N-2 Styx). (Sumber: https://weaponsystems.net/)
Kapal cepat rudal kelas Komar. (Sumber: https://yoursay.suara.com/)

TENGGELAMNYA EILAT

Menjelang sore hari tanggal 21 Oktober, saat Eilat mencapai titik berbalik di sisi paling barat, cuaca sangat cerah, laut dan angin tenang. Faktanya, cakrawala pelabuhan Port Said terlihat jelas oleh awak Eilat saat mereka bersiap untuk kembali ke timur. Pada saat yang sama, dua kapal kelas Komar sedang berlayar dari pelabuhan bagian dalam, menuju suatu titik di dekat pemecah gelombang. Dengan menggunakan informasi yang diperoleh dari fasilitas pantai sepanjang hari ditambah pengetahuan yang diperoleh selama berminggu-minggu dari mengamati pola patroli Israel yang tidak berubah, awak kapal Mesir segera mendapatkan Eilat di layar radar MR-331 Rangout mereka. Setelah mengaktifkan sistem pengendalian tembakan, dua rudal P-20 Termit diluncurkan, dari salah satu kapal kelas Komar (kapal nomor 504). Pada pukul 17:16, seorang pengamat di Eilat melaporkan “Roket hijau di sebelah kanan”. Semua mata tertuju pada Port Said, dan melihat cahaya kehijauan berubah menjadi oranye-kuning dari knalpot rudal saat benda gelap itu naik ke langit dan berbalik menuju kapal perusak Israel. Radar Eilatsendiri tidak menunjukkan adanya aktivitas atau pergerakan mencurigakan karena pihak Mesir meluncurkan rudal dari dalam pelabuhan. Awalnya pihak Israel salah menebak laporan tersebut sebagai peluncuran roket ke arah pantai dan peringatan tidak dibunyikan, namun dalam waktu singkat hal itu berubah. Rudal pertama terlihat dan tampaknya mungkin meleset jauh di belakang hingga pada jarak enam mil (9,65 km) ketika tiba-tiba berbelok ke dalam, langsung menuju ke kapal. Shoshan kemudian memanggil krunya ke posisi pertempuran dan memberi perintah kepada penembaknya untuk melepaskan tembakan, serta memerintahkan kapal berlayar dengan kecepatan maksimum dan mengarahkan buritannya ke arah rudal yang datang, untuk meminimalkan profil targetnya. Perintah selanjutnya adalah kepada operator radio, untuk menginformasikan markas besar tentang serangan terhadap Eilat.

Sekuen pertempuran yang berakhir dengan tenggelamnya INS Eilat. (Sumber: https://steeljawscribe.com/)
Kapal cepat rudal kelas Komar Mesir menembakkan rudal Styx dari sekitar kawasan pelabuhan. (Sumber: https://www.usni.org/)

Beberapa meriam Bofors milik kapal perusak Israel melepaskan tembakan, tetapi mereka tidak mampu menghentikan rudal Styx Mesir, yang menghantam ruang ketel di sisi kanan. Hulu ledak rudal seberat ribuan pon menghancurkan bagian tengah kapal perusak, memutus semua aliran listrik, memicu kebakaran besar dan mengganggu petugas radio sebelum dia dapat mengeluarkan informasi lebih dari kode panggilan kapal. Pada pukul 17:28, panggilan darurat dikirim. Yang lebih buruk kemudian terjadi ketika awak kapal yang tidak sibuk berjuang untuk menyelamatkan kapal, segera melihat rudal kedua, yang ditembakkan oleh kapal rudal kelas Komar yang sama yang menembakkan rudal Styx pertama. Gerakan memutar sudah dimulai sebelum serangan rudal pertama, dan kini sisi kiri Eilat terekspos, sehingga rudal kedua mendapat sasaran sempurna saat ia menabrak dua menit setelah hantaman rudal pertama. Beberapa senjata antipesawat (AA) Eilat melepaskan tembakan, namun tidak lebih efektif daripada sebelumnya saat mencoba menghadang rudal pertama, dan corong kapal perusak runtuh akibat ledakan tersebut. Meski mengalami dua serangan, Eilat masih bertahan meskipun miring, dan krunya mulai melawan bahaya ganda yaitu kebakaran dan banjir. Walaupun kehilangan sebagian besar ahli pengendalian kerusakan di ruang mesin, mereka mampu menahan kobaran api. Dan tim komunikasi berupaya memasang radio dan meminta bantuan. Mereka akhirnya berhasil, dan meskipun kontak dengan markas besar Angkatan Laut terbukti mustahil, mereka mampu mencapai unit Angkatan Darat di Sinai, yang menyampaikan bahwa mereka membutuhkan penyelamatan.

Hantaman rudal Styx ketiga Mesir secara telak menenggelamkan INS Eilat. (Sumber: https://www.navalgazing.net/)

Saat ini, Eilat sudah mulai tenang, dan dengan jaminan bahwa bantuan akan segera datang, Shoshan mulai melakukan persiapan untuk meninggalkan kapal perusak yang dilanda bencana tersebut. Rakit-rakit yang biasa digunakan awak kapal telah hancur dalam kebakaran di tengah kapal, dan rakit-rakit baru harus dibuat seadanya, dengan awak yang terluka paling parah dimuat ke rakit tersebut dan diapungkan. Buku kode dibuang ke laut dalam tas yang diberi pemberat, dan bom dalam diamankan untuk memastikan bom tersebut tidak meledak dan melukai atau membunuh para penyintas. Akhirnya, perintah diberikan kepada awak kapal untuk meninggalkan kapal, sekitar dua jam setelah serangan rudal pertama. Shoshan tetap berada di atas kapal untuk melakukan penyisiran terakhir bagi para korban selamat yang terabaikan, dan baru saja selesai ketika rudal Mesir ketiga yang diluncurkan kapal kelas Komar kedua (kapal nomor 501) tiba pukul 19:45. Rudal itu menghantam dekat buritan, menyalakan tempat penyimpanan amunisi dan memicu serangkaian ledakan, serta menghancurkan daya apung yang tersisa di Eilat. Shoshan kemudian harus bergegas masuk ke dalam air, berbalik tepat pada waktunya untuk melihat anjungan komandonya berada di atas ombak. Saat, 15 menit setelah hantaman rudal ketiga, kapal itu tenggelam, dan rudal keempat tiba. Rudal itu meledak di perairan dekat tempat tenggelamnya Eilat, menyiram para korban dengan pecahan peluru dan membakar bahan bakar yang berceceran. Pasukan penyelamat tiba di lokasi kejadian lebih dari dua jam setelah panggilan darurat awal, sementara itu pihak Mesir tidak ikut campur dalam upaya penyelamatan dan pemulihan. Aksi balas dendam dari pihak Israel kemudian datang pada tanggal 24 Oktober tepat setelah tiga hari penenggelaman Eilat. Hari itu dimulai dengan aksi duel senjata-senjata artileri dari kedua sisi terusan, yang kemudian diikuti serangan Israel mengebom tempat penyimpanan dan kilang minyak di Port Said menggunakan mortir berat. Serangan ini menyebabkan kerugiannya yang diperkirakan sebesar $50 Juta, dimana dua dari tiga kilang minyak di lokasi tersebut hancur dan satu kilang terkecil masih berdiri. Kilang-kilang tersebut memproduksi seluruh gas untuk memasak dan pemanas Mesir, serta 80% minyaknya.

ANALISA PENYEBAB PENENGGELAMAN

Dari 199 awak kapal Eilat, 47 orang tewas, lebih dari seratus orang luka-luka, dan 16 dinyatakan hilang. Eilat kemudian menjadi kapal pertama yang ditenggelamkan oleh kapal bersenjata rudal di masa perang. Hal ini juga menunjukkan kepada dunia bahwa kapal patroli pesisir kecil angkatan laut yang dilengkapi dengan rudal memiliki daya tembak untuk menghancurkan kapal-kapal besar. Ini merupakan tonggak penting dalam peperangan di laut. Keberhasilan Mesir kemudian mendorong banyak negara untuk mengkaji ulang pendekatan mereka terhadap konfigurasi angkatan lautnya dan banyak negara yang berupaya menambahkan rudal anti kapal yang mempersenjatai kapal-kapal kecil ke dalam inventaris mereka. Hasil dari upaya ini akan terlihat empat tahun kemudian, namun di wilayah yang berbeda ketika India dan Pakistan terlibat dalam Perang Indo-Pakistan pada bulan Desember 1971. Sementara itu, hilangnya Eilat merupakan pukulan besar bagi angkatan laut Israel, dan insiden tersebut mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh dunia angkatan laut. Untuk pertama kalinya, rudal permukaan-ke-permukaan menenggelamkan kapal perang di laut, dengan akurasi yang mencengangkan. Tiga dari empat rudal berhasil mengenai sasaran, dan rudal keempat meleset hanya karena sasarannya sudah tenggelam di bawahnya. Angkatan Bersenjata Israel (IDF) kemudian melakukan dua penyelidikan atas tenggelamnya kapal tersebut, salah satunya masih dirahasiakan hingga saat ini. Namun, informasi dari penyelidikan pertama ditambah memoar yang diterbitkan sejak tenggelamnya kapal itu menawarkan beberapa pengamatan berikut:

  • Kegagalan Intelijen.

Ada laporan bahwa intelijen militer Israel mengetahui rencana Mesir untuk melakukan serangan semacam itu lewat penyadapan komunikasi. Laporan tentang helikopter yang mengamati Eilat dan peringatan umum yang diumumkan di sepanjang garis pantai Mesir berhasil dicegat pada awal tanggal 21. Namun yang lebih penting adalah dua laporan berikutnya yang menginformasikan unit artileri Mesir disiagakan di wilayah Port Said dan pencegatan komunikasi keempat yang secara khusus melarang peluncuran rudal dari wilayah pelabuhan namun memberikan izin peluncuran di luar pelabuhan melewati area pemecah gelombang. Tak satu pun dari laporan ini sampai ke Eilat. 

Aktifitas militer Mesir di sekitar Port Said sebelum penenggelaman, tidak sampai ke INS Eilat. (Sumber: https://www.navalgazing.net/)
  • Kepuasan Operasional.

Pada saat patroli Eilat pada tanggal 11 Oktober, pihak Mesir (dan penasihat Soviet mereka) sangat menyadari kehadiran dan pola operasional angkatan laut Israel. Para pemimpin angkatan laut Israel memilih untuk terus menggunakan kapal perusak besar untuk melakukan patroli kehadiran di dekat garis pantai Mesir dan berada di dekat Port Said karena pesan visual yang dikirimkannya, daripada mempertimbangkan kegunaan taktis yang diperoleh dari kapal kecil yang beroperasi di dekat pantai. Iklim operasional dan komando di atas kapal Eilat pada tingkat tertentu mencerminkan kepuasan operasional tanpa adanya variasi pada pola patroli dan keputusan untuk meninggalkan sejumlah besar awak kapal di darat. Kekurangan pelatihan dan peralatan yang terungkap dalam pertempuran bulan Juli dengan kapal torpedo Mesir tampaknya dibiarkan begitu saja. Diantaranya adalah pengenalan ancaman, kesadaran taktis dan kesulitan dengan amunisi untuk senjata baterai meriam utama, yang memaksa kapal untuk mendekat dan menyerang serta menenggelamkan kapal torpedo dengan meriam kaliber 40mm.

Meriam Bofors kaliber 40mm, yang digunakan Eilat tidak mampu menangkal serangan rudal Styx. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)
  • ESM

Seperti disebutkan diatas, meskipun dipasang, perangkat ESM Bat Kol adalah peralatan “padat karya” yang menawarkan kesadaran taktis yang dipertanyakan terhadap ancaman dan platform ancaman. Komandan kapal (CO), yang menghabiskan sebagian besar karirnya di bidang EW dan merupakan tokoh utama dalam pengembangan Bat Kol sendiri, sering kali merasa frustrasi dalam mencoba menerapkan informasi dari peralatan ke lingkungan EW yang padat di sekitar kapal. Tidak ada indikasi bahwa Bat Kol diawaki atau informasi darinya digunakan untuk menilai ancaman terhadap Eilat pada tanggal 21, apalagi selama serangan rudal. Fakta bahwa Mesir mengoperasikan semua peralatan mereka tanpa mempertimbangkan kemungkinan deteksi balasan oleh Israel sekaligus juga menunjukkan tingkat pemahaman tentang tindakan balasan dan peralatan EW pada saat itu di kedua angkatan laut.

Kapal rudal kelas Komar meluncurkan rudal Styx. Pada saat serangan perangkat ESM Eilat dianggap tidak memadai. (Sumber: https://www.navalgazing.net/)
  • Serangan dan Penanggulangan.

Kondisinya ideal bagi para penembak – dan pihak yang diserang, mulai dari cuaca hingga informasi penargetan yang memungkinkan terjadinya pertempuran. Tidak ada tindakan pencegahan yang dilakukan oleh Eilat, kecuali tembakan yang dimulai terlambat dan tidak adanya petunjuk arah pada radar yang dapat memberikan manfaat apa pun. Hal ini termasuk kurangnya roket chaff dalam bentuk apa pun, karena ini bukanlah konsep baru bagi Angkatan Laut Israel. Memang benar, salah satu kapal perusak mereka telah menggunakannya sebagai sarana pemancing untuk mengalihkan perhatian dari operasi selama Perang Enam Hari. Meski begitu, dengan manuver mengelak, rudal pertama hampir meleset – manuver berputar tiba-tiba pada jarak 6nm (11 km) menunjukkan perangkat penjejak di rudal mengarah pada Eilat, namun bahkan jika perangkat pencari tersebut meleset, serangan rudal kedua merupakan pukulan mematikan karena menyebabkan kapal kehilangan tenaga dan menyebabkan kerusakan besar di tengah kapal. Rudal ketiga jelas menamatkan riwayat Eilat. Hulu ledak HE yang besar dikombinasikan dengan sisa bahan bakar setelah tembakan dilakukan dari jarak kurang dari jangkauan maksimum rudal berkontribusi terhadap kerusakan parah yang diderita Eilat. Jelas bahwa keberadaan kapal rudal dan muatannya diketahui oleh Israel, namun mengingat pengalaman baru-baru ini dengan militer Mesir, kemungkinan adanya ancaman yang dapat menimbulkan kerusakan signifikan pada pasukan Israel diremehkan. Apakah pencegatan komunikasi pada tanggal 21 akan mengubah nasib Eilat masih belum terjawab mengingat Mesir mengetahui pola-pola patroli kapal-kapal sebelumnya.

Rudal anti kapal SS-N-2 Styx yang diluncurkan dibawah jangkauan maksimumnya turut andil dalam membuat kerusakan besar pada INS Eilat. (Sumber: https://www.defencetalk.com/)
Penenggelaman INS Eilat, menunjukkan pentingnya perangkat jammer dan chaff. (Sumber: https://alert5.com/)

Banyak yang menyatakan keusangan kapal permukaan besar Israel ini di hadapan kapal rudal, namun mereka tidak mengetahui beberapa faktor yang menentukan. Mereka yang lebih berkepala dingin menunjukkan bahwa Eilat telah berusia dua dekade dan belum dimodernisasi, dengan persenjataan anti pesawat yang menyedihkan dan tidak ada sistem pertahanan elektronik yang memadai, sehingga dia telah memberikan target terbaik bagi pihak Mesir. Dengan tindakan penanggulangan teknis dan taktis, masalah ini tampaknya dapat diatasi, dan baik AL Inggris (RN) maupun AL Amerika (USN) telah memikirkannya selama sekitar satu dekade. Perangkat jammer dan chaff kemudian segera dipasang di sebagian besar kapal perang, dan banyak angkatan laut merevisi doktrin mereka untuk meminimalkan ancaman rudal baru. Dalam jangka panjang, rudal baru seperti Harpoon dikembangkan untuk menyerang kapal-kapal serang cepat/FAC (seperti kelas Komar yang menenggelamkan Eilat) sebelum mereka dapat menyerang. Dan jika gagal, rudal tersebut akan ditangani oleh sistem pertahanan aktif, rudal anti pesawat/SAM, dan senjata otomatis. 

DAMPAK PENENGGELAMAN EILAT

Peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak tahun 1967 telah banyak menegaskan kebijaksanaan dari langkah-langkah diatas. Israel sendiri mulai mengembangkan rencana untuk desain kapal yang dipengaruhi desain Jerman yang lebih cocok untuk pertempuran rudal, terutama kapal kecil dan efisien yang dipersenjatai dengan rudal, mampu berpatroli di pantai-pantai Israel dan melakukan operasi lepas pantai dengan kecepatan tinggi, sekaligus mampu menghindari pelacakan musuh dan rudal. Desain akhir ini kemudian menghasilkan kapal-kapal bersenjata rudal baru yang lebih gesit (seperti kapal rudal kelas Sa’ar 2). Sementara itu, meskipun Angkatan Laut Israel, yang telah meninggalkan kapal-kapal perang besar dan memilih kapal bersenjata rudal setelah tenggelamnya Eilat, mencapai keberhasilan melawan kapal-kapal rudal Mesir dan Suriah pada Perang Yom Kippur tahun 1973, hal ini sebagian besar disebabkan oleh penggunaan sistem peperangan elektronik yang efektif dan keterbatasan rudal Styx dalam kondisi pertempuran. Faktor-faktor lain juga telah membuat keterbatasan kapal rudal kecil kemudian menjadi sangat nyata. Kapal kecil hanya memiliki ruang terbatas untuk perangkat sensor dan kru komando, dan batasan terbesar dalam penggunaan rudal anti-kapal modern adalah menemukan targetnya. Kapal yang lebih besar, yang biasanya dibantu oleh helikopter yang dibawanya, jauh lebih baik dalam hal ini, dan hampir pasti akan bisa menghancurkan kapal rudal tersebut sebelum kapal tersebut dapat mengerahkan daya tembaknya. Mungkin contoh terbaiknya adalah dalam Pertempuran Bubiyan pada tahun 1991, ketika Angkatan Laut Irak mencoba melarikan diri ke Iran untuk menyelamatkan diri. 21 dari 22 kapal dalam armada tersebut (gabungan kapal FAC, kapal pendarat, kapal penyebar/penyapu ranjau, dan lainnya) ditenggelamkan, terutama oleh helikopter-helikopter yang beroperasi dari kapal-kapal terdekat. Saat ini, histeria seputar FAC telah mereda, namun dampak dari masa ketika FAC akan membuat semua kapal permukaan konvensional menjadi usang masih dapat dirasakan hingga saat ini. Di sisi lain, untuk mengingat tenggelamnya Eilat, satu set tabung torpedo yang dikeluarkan dari Eilat yang sebelum tenggelamnya disimpan di Museum Imigrasi dan Angkatan Laut Klandestin, Haifa, dan Monumen tenggelamnya INS Eilat didirikan tepat di luar Museum, hasil dari karya pematung Igael Tumarkin.

Kapal rudal kelas Sa’ar 2 dan 3 Angkatan Laut Israel. Angkatan Laut Israel, yang telah meninggalkan kapal-kapal perang besar dan memilih kapal bersenjata rudal setelah tenggelamnya Eilat, mencapai keberhasilan melawan kapal-kapal rudal Mesir dan Suriah pada Perang Yom Kippur tahun 1973. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Kapal-kapal patroli kecil Irak ditenggelamkan pasukan sekutu dalam Pertempuran Bubiyan pada tahun 1991. (Sumber: https://www.thinkdefence.co.uk/)
Monumen tenggelamnya INS Eilat, di Haifa. karya pematung: Igael Tumarkin. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Eilat

https://www.navalgazing.net/Eilat

The Sinking of the INS EILAT: 50th Anniversary of the First Surface to Surface Engagement with ASCM’s By Steeljawscribe; 21 October 2017

https://steeljawscribe.com/2017/10/21/the-sinking-of-the-ins-eilat-50th-anniversary-of-the-first-surface-to-surface-engagement-with-ascms

Sinking Eilat destroyer – 50 years on

https://www.egypttoday.com/Article/1/51097/Sinking-Eilat-destroyer-%E2%80%93-50-years-on

Aftermath of the Elath By Commander Robert D. Colvin, U. S. Navy; October 1969

https://www.usni.org/magazines/proceedings/1969/october/aftermath-elath

41 years on sinking the Eilat destroyer

https://egyptianchronicles.blogspot.com/2008/10/41-years-on-sinking-eilat-destroyer.html?m=1

https://en.m.wikipedia.org/wiki/HMS_Zealous_(R39)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *