Perang Vietnam

Ed “Too Tall” Freeman: Nyaris Ditolak Menjadi Penerbang, Jadi Pahlawan di Ia Drang

Pahlawan sering kali adalah orang-orang yang menjadi sukarelawan untuk misi-misi yang mereka tahu mungkin akan menjadi misi terakhir mereka. Menerbangkan helikopternya sebanyak 14 kali ke zona pendaratan yang ‘panas’, Pilot helikopter Ed Freeman memperoleh Medali Medal of Honor pada Pertempuran Lembah Ia Drang di Vietnam karena dengan gagah berani menyelamatkan puluhan tentara. Ini adalah kisah yang mungkin tidak disadari oleh banyak orang karena merupakan subjek dari film perang epik yang dibintangi Mel Gibson, We Were Soldiers (2002). Meskipun Hollywood sering kali suka mengambil kebebasan berkreasi dengan sejarah, dalam film tersebut mereka tampaknya telah menangkap intensitas dan kepahlawanan yang ada pada masa itu.

Ed “Too Tall” Freeman yang diperankan Mark McCracken dalam film We Were Soldiers (2002). (Sumber: https://www.imdb.com/pt/name/nm0566850/mediaviewer/rm31921152/)

DARI PERANG DUNIA II KE VIETNAM

Edward ‘Ed’ Freeman lahir pada tanggal 20 November 1927 di McLain, kawasan pertanian Hattiesburg, Neely, Mississippi, sebagai anak ke-6 dari 9 bersaudara pasangan William Ed dan Caroline Freeman. Setelah menyaksikan ribuan prajurit bermanuver melewati rumah pertanian keluarga mereka, Freeman yang berusia tiga belas tahun merasa terinspirasi untuk menjadi seorang tentara. Orang tuanya tidak terkejut bahwa pada usia 17 tahun dan sebelum lulus dari Sekolah Menengah Washington, Freeman bergabung dengan Angkatan Laut AS. Selama Perang Dunia II ia bertugas selama dua tahun di kapal USS Cacapon, sebagai oiler, yang menyediakan bahan bakar untuk kapal-kapal perang yang dikerahkan di wilayah Pasifik selama Perang Dunia II. Setelah perang berakhir, Freeman kembali ke kampung halamannya dan menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya, seperti yang dilakukan banyak rekrutan muda lainnya. Tetapi dia telah jatuh cinta dengan kehidupan militer dan mendaftar kembali di militer setelahnya, kali ini bertugas di Angkatan Darat pada bulan September 1948. Tahun 1950-an bergulir, dan bersamaan dengan itu terjadilah konflik yang pecah di Semenanjung Korea, dimana Freeman kemudian dikirimkan. Awalnya, ia bertugas sebagai pasukan zeni Angkatan Darat. Pada tahun 1953 selama Perang Korea, Freeman menjadi Sersan Satu. Dia bertugas selama Pertempuran Bukit Pork Chop yang terkenal. Dari 257 orang, dia adalah salah satu dari 14 orang di unitnya yang selamat pada tahap awal pertempuran itu dan menerima kenaikan pangkat di medan perang sebagai letnan dua dari Jenderal James Van Fleet sendiri. Freeman kemudian diberi komando Kompi B dan dikirim kembali ke atas bukit. Untungnya bagi Freeman, penugasannya di Korea berarti impian seumur hidup menjadi mungkin karena sebagai perwira, dia dapat melamar pelatihan pilot. Sayangnya, dengan tinggi badan 6′ 4″ (1,93 meter) ia dianggap “terlalu tinggi (too tall)” 4 inchi dari maksimum tinggi pilot Angkatan Darat waktu itu, yang kemudian menjadi julukannya saat ia masih berdinas di militer. Untungnya pada akhirnya, Angkatan Darat tersebut menyesuaikan persyaratan ketinggian yang memungkinkan Freeman menjadi penerbang yang terampil.  Pada tahun 1955 ia akhirnya diterima dan dilatih terlebih dahulu dengan pesawat sayap tetap di Sharpe General Depot, California, dari bulan Juli 1956 sampai dengan Desember 1957, sebelum berlatih menjadi pilot helikopter berpengalaman. Ia kemudian terbang keliling dunia dalam berbagai misi pemetaan untuk mendapatkan lebih banyak jam terbang, hingga dikirim ke Vietnam pada tahun 1965. 

Edward ‘Ed’ Freeman, merupakan veteran Perang Dunia II yang bertugas di Angkatan Laut Amerika sebelum bergabung di Angjkatan Darat tahun 1948. (Sumber: https://www.taraross.com/post/tdih-ed-freeman-moh)
Ilustrasi pertempuran Pork Chop Hill dalam Perang Korea. Pada tahun 1953 selama Perang Korea, Freeman menjadi Sersan Satu. Dia bertugas selama Pertempuran Bukit Pork Chop yang terkenal. Dari 257 orang, dia adalah salah satu dari 14 orang di unitnya yang selamat pada tahap awal pertempuran itu dan menerima kenaikan pangkat di medan perang sebagai letnan dua dari Jenderal James Van Fleet sendiri. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/article/battle-of-pork-chop-hill-infantrymans-war/)

LANDING ZONE X-RAY

Perang Dunia II dan Perang Korea datang dan pergi, namun karir militer Freeman terus berkembang. Pada saat Perang Vietnam pecah, Too Tall sedang bertugas di Batalyon Helikopter Serbu sebagai pilot helikopter berpengalaman. Saat ini juga, dia sudah mendekati masa pensiun. Kapten Freeman adalah komandan kedua di unitnya yang terbang bersama Kompi A, Batalyon Helikopter Serbu ke-229, Divisi Kavaleri ke-1. Pada bulan November 1965, ia dihadapkan pada salah satu pertempuran paling epik di Vietnam. Sebagai bagian dari misi pencarian dan penghancuran yang lebih besar, Amerika mengirimkan kontingen besar tentara ke Lembah Ia Drang untuk membasmi Tentara Vietnam Utara (NVA). Di sisi lain, NVA merencanakan serangan besar-besaran dan juga mengumpulkan sejumlah besar pasukan di daerah tersebut. Pertempuran di Ia Drang Itu kemudian menjadi pertempuran pertama dan salah satu pertempuran paling sengit yang terjadi antara Pasukan Amerika dan pasukan Vietnam Utara. Sekarang bertugas sebagai pemimpin penerbangan dan wakil komandan unit pengangkutan yang terdiri dari 16 helikopter, Freeman, ditugaskan untuk menurunkan pasukan infanteri ke zona pendaratan terpencil di samping Lembah Ia Drang di kaki timur di wilayah dataran tinggi tengah Vietnam.

Pasukan dan helikopter Amerika selama Pertempuran Ia Drang. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/instant-articles/pilot-ed-freeman.html)
Area perimeter LZ X-Ray, malam tanggal 14 November. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Ia_Drang)
Pasukan Batalion ke-1, Resimen Kavaleri ke-7 mendarat di LZ X-Ray. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Ia_Drang)

Pada tanggal 14 November, Freeman dan unitnya mengangkut satu batalion tentara ke lembah dan menurunkan mereka di zona pendaratan X-Ray. Misi pengangkutan dimulai seperti misi lainnya hingga helikopter gelombang kelima tiba, tembakan musuh mulai menghujani Freeman dan krunya dengan deras. “Kami melakukan empat kali penerbangan ke sana tanpa menerima tembakan,” Freeman kemudian menjelaskan, “(dan) saya berpikir: akan menjadi penerbangan yang mudah lagi di sini. Pada pengangkutan kelima mereka membelah kami menjadi dua. . . . tiga resimen musuh datang dari sisi bukit itu—dimana mereka bersembunyi.” Keempat orang yang berada di dalam helikopter itu terluka, termasuk Freeman. Serangan itu begitu hebat sehingga mereka tidak punya pilihan selain menghentikan operasi helikopternya. Setelah lebih banyak gelombang pasukan Amerika mendarat, mereka mulai masuk ke dalam hutan. Sekitar tengah hari, hujan peluru dan roket RPG terdengar menyerang mereka. Terkejut karena mereka mendapat serangan hebat dari pasukan Vietnam Utara yang tampaknya lebih besar dari yang diperkirakan, pasukan Amerika membalas tembakan dan mengirim bantuan melalui radio. Selama pertempuran, satu kompi tentara terisolasi dari batalion lainnya, dan situasi buruk dengan cepat berubah menjadi lebih buruk.

TERBANG KEMBALI

Ketika Freeman kembali ke markasnya, dia mengetahui bahwa para prajurit berada di bawah tembakan musuh yang hebat dan menderita banyak korban. Karena besarnya daya tembak, zona pendaratan ditutup untuk evakuasi medis. Mengevakuasi prajurit yang terluka memang bukanlah tugas dari pilot helikopter serbu seperti Freeman, yang misinya adalah mengangkut prajurit infanteri ke medan tempur. Mengangkut prajurit yang terluka adalah tugas dari helikopter medis. Tapi ini adalah hari-hari awal Perang Vietnam, dan para komandan helikopter medis telah menyatakan bahwa helikopter-helikopter mereka tidak akan mendarat di zona pendaratan yang ‘panas’. Di sisi lain mungkin mengingat kembali hari-harinya di Pork Chop Hill, Freeman tahu apa yang dialami para prajurit di Lembah Ia Drang. Dia tahu, para prajurit yang dikirimkan di zona pendaratan masih di sana dan bertempur, nyaris tidak bisa mempertahankan perimeter pertahanan mereka karena amunisi dan perbekalan semakin menipis. Jadi para perwira di pusat operasi taktis perlu mengambil keputusan dengan cepat, sehingga komandan Freeman, Mayor Angkatan Darat Bruce Crandall meminta seorang sukarelawan untuk pergi dan terbang kembali bersamanya untuk membantu orang-orang yang terjebak di Ia Drang. Hanya satu orang yang mengangkat tangannya. Dan tangan itu milik Freeman. Baginya, itu bukanlah suatu pilihan. Dalam sebuah wawancara dengan Library of Congress, Freeman kemudian mengatakan bahwa karena dia menerbangkan para prajurit itu ke zona yang panas itu, dia juga akan membantu mengeluarkan mereka. Crandall dan Freeman telah menjadi satu tim selama bertahun-tahun, dan kerap terbang bersama di berbagai area yang paling berat di dunia. Mereka berdua telah terbang di kawasan Arktik, gurun di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, serta hutan-hutan di Amerika Tengah dan Selatan dalam menjalankan misi-misi pemetaan di Angkatan Darat. Satu-satunya ‘pertengkaran’ diantara mereka adalah soal mana diantara mereka berdua yang merupakan ‘pilot terbaik kedua’ di dunia. Crandall tahu tekad dari kawannya ini. “Ed dan saya berdiskusi mengenai misi ini selama beberapa detik, dan sadar bahwa berdebat dengannya hanya membuang-buang waktu, jadi saya memutuskan bahwa kami berdua akan menerbangkan misi sukarela ini.”

Bruce Crandall memimpin – helikopter UH-1 sesaat sebelum lepas landas di Vietnam. Mayor Angkatan Darat Bruce Crandall meminta seorang sukarelawan untuk pergi dan terbang kembali bersamanya untuk membantu orang-orang yang terjebak di Ia Drang. Hanya satu orang yang mengangkat tangannya. Dan tangan itu milik Freeman. (Sumber: https://www.warhistoryonline.com/instant-articles/pilot-ed-freeman.html)
Ilustrasi evakuasi prajurit Amerika yang terluka dalam Pertempuran Ia Drang. (Sumber: https://www.reddit.com/r/BattlePaintings/comments/i92aom/battle_of_ia_drang_valley_vietnam_1965_by_bal%C3%A1zs/)
We Were Soldiers Once…and Young: la Drang – The Battle That Changed the War in Vietnam adalah buku terbitan tahun 1992 karya Letnan Jenderal Harold G. Moore (Purn.) dan jurnalis perang Joseph L. Galloway mengenai Perang Vietnam. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/We_Were_Soldiers_Once…and_Young)

Menerbangkan helikopter UH-1 Huey yang berlapis baja ringan dan tidak bersenjata, keduanya tahu bahwa yang diperlukan hanyalah tembakan RPG atau bahkan tembakan senjata ringan untuk menjatuhkan mereka. Terbang ke Lembah Ia Drang melalui hadangan tembakan musuh, Freeman dengan ahli menavigasi helikopternya kembali ke zona pendaratan X-Ray. Dia dan Crandall mengirimkan amunisi, air, dan pasokan medis yang sangat dibutuhkan ke batalion yang terkepung dan mengevakuasi korban luka parah, karena helikopter medis menolak memasuki LZ yang panas karena terus-menerus dihujani tembakan musuh. Pertempuran begitu intens dan terjadi dalam jarak yang begitu dekat di LZ X-Ray. Crandall mengingat, “helikopterku mengangkut delapan orang yang terluka serius. Ketika kami disana seorang Kapten yang terluka membantu perwira lain naik ke Huey-ku, tertembak dan kemudian terbunuh. Kami mengangkut dia keluar juga. Ed bisa mengangkut lima orang di helikopternya.” Setelah itu Crandall dan Freeman menerbangkan dua misi lagi ke X-Ray dengan membawa lebih banyak amunisi. Selama sekitar 14 jam berikutnya, Crandall dan Freeman menerbangkan helikopter tak bersenjata bolak-balik. Freeman melakukannya sebanyak 14 kali. Evakuasi yang dilakukan Freemen, disebutkan menyelamatkan nyawa sekitar 30 tentara yang terluka parah — beberapa di antaranya tidak akan selamat jika dia tidak bertindak. Semua penerbangan dilakukan di zona pendaratan darurat kecil dalam jarak 100 hingga 200 meter dari garis pertahanan di mana unit-unit yang bertempur menghadapi berbahaya menahan unsur-unsur musuh yang menyerang secara bergelombang. “Saya menghabiskan waktu 14 setengah jam pada hari itu, masuk dan keluar dari LZ, melakukan hal-hal itu. Dan pada pukul 10:30 (malam), saya melakukan pendaratan terakhir dengan seorang pria memegang senter dan menyeret orang-orang itu keluar, “kenang Freeman. Pada saat mereka mendaratkan Huey yang rusak parah, Kapten Freeman telah terluka empat kali akibat tembakan darat. Dia dan Crandall telah terbang nonstop sejak pukul 6 pagi. Ini adalah perang ketiga Freeman, namun pengalamannya dalam Pertempuran Ia Drang adalah momen menentukan yang akhirnya membawanya mendapatkan penghargaan keberanian tertinggi. Dalam pertempuran ini, meski banyak korban jiwa ditimbulkan di pihak mereka, pasukan Amerika dan Vietnam Selatan menganggap Pertempuran Ia Drang sebagai sebuah kemenangan karena mampu bertahan dari gelombang serbuan tentara NVA dan Vietcong yang tiada henti. Pertempuran Ia Drang kemudian menginspirasi penulisan buku terkenal “We Were Soldiers Once … And Young,” yang lalu diabadikan dalam film berjudul serupa, “We Were Soldiers,” pada tahun 2002. Dalam film Freeman diperankan oleh aktor Mark McCracken.

MEDALI MEDAL OF HONOR

Atas tindakannya hari itu Ed Freeman dinominasikan untuk memperoleh medali Medal of Honor. Namun karena melewati tenggat waktu, ia ‘hanya’ dianugerahi medali Distinguished Flying Cross. Ketika batas waktu 2 tahun kemudian dihapuskan, Freeman akhirnya menerima penghargaannya pada 16 Juli 2001. Pada upacara tersebut, Presiden George W. Bush dengan singkat menceritakan tindakan Freeman yang berani dan tanpa pamrih, menekankan bagaimana dia telah “melawan tembakan musuh tidak hanya sekali, tidak (sepuluh) kali, tetapi setidaknya 21 kali.” Bush juga mencatat bagaimana “satu helikopter membawa air, amunisi, dan perbekalan yang menyelamatkan banyak nyawa di darat. Dan pilot yang sama menerbangkan lebih dari 70 tentara yang terluka ke tempat yang aman.” Kutipan resmi dari MOH Kapten Freeman menyatakan: “….tindakan tanpa pamrih dengan keberanian yang besar, ketekunan dan keberanian yang luar biasa jauh melampaui panggilan tugas atau misi dan memberikan contoh kepemimpinan dan keberanian yang luar biasa bagi semua rekan-rekannya. Kepahlawanan dan pengabdian Kapten Freeman yang luar biasa terhadap tugas sejalan dengan tradisi tertinggi dinas militer dan mencerminkan penghargaan besar terhadap dirinya sendiri, unitnya, dan Angkatan Darat Amerika Serikat.” Crandall, yang turut menghadiri upacara dan mempertaruhkan nyawanya bersama Freeman di Ia Drang, pada akhirnya juga menerima penghargaan Medal of Honor enam tahun kemudian.

Freeman kemudian dipromosikan ke pangkat Mayor, ditunjuk sebagai Master Army Aviator, dan dipulangkan dari Vietnam pada tahun 1966. (Sumber: https://www.lylefrancispadilla.com/freemanmarm.html)
Freeman menerima medali Medal of Honor pada tanggal 16 Juli 2001 dari Presiden George W. Bush. (Sumber: https://www.war.gov/News/Feature-Stories/story/article/1822476/medal-of-honor-monday-army-capt-ed-freeman/)
Freeman meninggal pada tahun 2008 pada usia 80 tahun, karena komplikasi penyakit Parkinson dan dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Pemakaman Veteran Negara Bagian Idaho. (Sumber: https://www.cmohs.org/recipients/ed-w-freeman)

Freeman kemudian dipromosikan ke pangkat Mayor, ditunjuk sebagai Master Army Aviator, dan dipulangkan dari Vietnam pada tahun 1966. Tugas terakhirnya di angkatan darat adalah menjadi instruktur pilot di Sekolah Helikopter Dasar Angkatan Darat A.S. di Fort Wolters, Texas. Freeman pensiun dari karir militernya sebagai mayor pada bulan September 1967 setelah 23 tahun berdinas dan bersama keluarganya menetap di kawasan Treasure Valley di Idaho, negara bagian asal istrinya Barbara. Pada tanggal 30 April 1954, Freeman menikah dengan Barbara Morgan. Mereka memiliki dua putra, Mike, lahir pada tahun 1956 dan Doug, lahir pada tahun 1962. Salah satu putra Freeman bekerja sebagai konsultan di industri perminyakan, sedang yang lainnya menjadi sersan Angkatan Udara yang sempat bertugas dalam Perang Teluk. Dia terus menerbangkan helikopter untuk Departemen Dalam Negeri selama 20 tahun tempat dia menggembalakan kuda liar, melakukan sensus hewan, dan memadamkan kebakaran hutan, sebelum pensiun pada tahun 1991, dengan jam terbang kumulatif sekitar 22.000 jam (17.000 jam terbang di helikopter dan 5.000 jam terbang di pesawat sayap tetap). Dia meninggal pada tahun 2008 pada usia 80 tahun, karena komplikasi penyakit Parkinson dan dimakamkan dengan penghormatan militer penuh di Pemakaman Veteran Negara Bagian Idaho. Nama Freeman kemudian diabadikan sebagai nama kantor pos, “Major Ed W. Freeman Post Office” di kota masa kecilnya McLain, Mississippi pada bulan Maret 2009.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Pilot Ed Freeman: Awarded the MOH for service at the Battle of Ia Drang Valley by Jeff Edwards

https://www.warhistoryonline.com/instant-articles/pilot-ed-freeman.html/amp

Steering Through Heavy Fire: How Ed Freeman Earned his Medal of Honor in Vietnam by SOFREP News Team; May 21, 2023

https://sofrep.com/news/medal-of-honor-recipient-ed-freeman

Captain Ed Freeman | Biography, Military Career & Medal of Honor

https://study.com/academy/lesson/medal-of-honor-winner-captain-ed-freeman.html

Ed W. ‘Too Tall’ Freeman, Major, U.S. Army, Medal of Honor Recipient Vietnam War

https://militaryhallofhonor.com/honoree-record.php?id=954

Medal of Honor Monday: Army Capt. Ed Freeman | By Katie Lange; April 29, 2019

https://www.defense.gov/News/Feature-Stories/story/article/1822476/medal-of-honor-monday-army-capt-ed-freeman

This Day in History: Captain Ed Freeman’s Vietnam helicopter rescue

https://www.taraross.com/post/tdih-ed-freeman-moh

ED W FREEMAN

https://www.cmohs.org/recipients/ed-w-freeman

REMEMBERING CAPTAIN ED FREEMAN: IDAHO’S VIETNAM WAR HERO; Idaho Senior Independent; July 29, 2020

https://www.idahoseniorindependent.com/captain-ed-freeman

We Were Soldiers Once… and Young: Ia Drang – The Battle that Changed the War in Vietnam by Harold G. Moore & Joseph L. Galloway, 1993; p 125-128, p 132, p 159, p 414-415

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *