Flogger Yang “Malang”: Jejak MiG-23 Dalam AU Mesir-Libya-Irak
Mikoyan-Gurevich MiG-23 (Rusia: Микоян и Гуревич МиГ-23; kode NATO: Flogger) adalah pesawat tempur bersayap variabel-geometri, yang dirancang oleh biro desain Mikoyan-Gurevich di Uni Soviet. Flogger adalah jet tempur generasi ketiga Soviet, seangkatan dengan pesawat pembom tempur Su-17 “Fitter“. MiG-23 adalah pesawat tempur Soviet pertama yang memiliki radar look-down/shoot-down, RP-23 Sapfir, dan salah satu pesawat tempur pertama dipersenjatai dengan rudal jarak jauh yang bisa ditembakkan diluar jangkauan visual. Produksi pesawat tempur ini dimulai pada tahun 1969 dan akhirnya dibuat dalam jumlah besar, yang mencapai lebih dari 5.000 pesawat. Jumlah ini menjadikannya pesawat bersayap variabel yang paling banyak diproduksi dalam sejarah. Hingga kini MiG-23 tetap dalam digunakan secara terbatas dengan beberapa negara. Diantara pemakai utamanya adalah 3 negara Arab, yakni: Mesir, Libya, dan Irak. Berikut adalah catatan karir Flogger di 3 negara itu.

MIG-23 MESIR & PENGKHIANATAN SADAT
Jauh sebelum MiG-23MS Suriah terlibat pertempuran udara dengan jet-jet tempur Israel dalam pertempuran udara besar yang terjadi di langit Lebanon, tiga angkatan udara negara-negara Arab lainnya juga sedang dalam proses membeli banyak jet tempur MiG-23 Flogger. Yang pertama adalah Mesir, yang pada awal tahun 1974 membeli total delapan pesawat pencegat MiG-23MS, delapan pesawat penyerang MiG-23BN dan empat pesawat latih MiG-23U, serta memusatkan mereka pada satu Resimen – Resimen ke-251 – yang berbasis di Mersa Matruh AB (Air Base/Pangkalan Udara). Kehadiran Flogger di tangan Mesir jelas menimbulkan ancaman nyata bagi Israel. Pada masanya, menurut berbagai sumber di barat, mereka menganggap MiG-23 lebih bagus dalam bermanuver dan sedikit lebih cepat daripada F-4 Phantom II, yang merupakan ujung tombak dari angkatan udara Israel. Pembelian MiG-23 oleh angkatan udara negara-negara Arab kemudian menyebabkan tekanan bagi Israel untuk segera melakukan pembelian F-15 Eagle, pesawat tempur terbaik yang saat itu hanya digunakan oleh Angkatan Udara Amerika. Karier Flogger dengan EAF (Egypt Air Force/AU Mesir) bagaimanapun tidak terlalu lama, karena pada tahun yang sama hubungan antara Kairo dan Moskow membeku dan Mesir sekarang semakin beralih ke Barat – terutama Prancis. Akibatnya, sudah pada akhir tahun 1975, semua MiG-23 Mesir ditarik dari tugas aktif dan ditempatkan di gudang penyimpanan, menunggu pengiriman jet tempur Mirage tambahan pesanan Mesir dari Prancis. Pada akhirnya MiG-23 mewakili bagian dari pengiriman senjata besar terakhir ke Mesir dari Uni Soviet, dengan presiden baru negara itu, yakni Anwar Sadat memilih mengambil posisi beralih ke Blok Barat dan menurunkan hubungan diplomatik dan pertahanannya dengan Moskow.



Selama tahun-tahun berikutnya, Mesir menjalin kontak yang baik dengan China, diikuti oleh AS, dan kedua negara segera menunjukkan minat untuk dapat mengakses teknologi MiG-23 Mesir. Setelah beberapa proses negosiasi, pada tahun 1978, China membeli dua MiG-23MS, dua MiG-23BN, dua MiG-23U, sepuluh MiG-21MF, dan sepuluh rudal jelajah AS-5 Kelt ASM dengan imbalan suku cadang dan dukungan teknis armada besar jet tempur Mesir jenis MiG-17 dan MiG-21 yang dipasok Soviet sebelumnya. China lalu menggunakan pesawat tersebut sebagai dasar untuk proyek pesawat tempur J-9 mereka, yang tidak pernah melampaui tahap penelitian. Tak lama setelah perjanjian serupa dengan AS juga dilakukan, kali ini untuk enam MiG-23MS dan enam MiG-23BN yang tersisa, serta 16 MiG-21MF, dua Su-20, dua MiG-21U, dua helikopter Mi-8 dan sepuluh rudal jelajah AS-5 ASM, yang semuanya dibeli untuk Divisi Teknologi Asing, departemen khusus dibawah Komando Materiel AU AS/USAF, yang bertanggung jawab atas evaluasi teknologi “lawan”, dengan imbalan dukungan senjata dan suku cadang buatan AS, termasuk rudal jarak pendek pencari panas AIM-9J/P Sidewinder, yang dipasang pada sisa armada jet tempur MiG-21 Mesir.



Kepala Staf Mesir Saad Al Shazly, yang kemudian dicopot dari posisinya dan diasingkan oleh pemerintah Sadat, menyatakan dalam memoarnya mengenai peran Mesir dalam membocorkan teknologi persenjataan Soviet termasuk jet MiG-23 dan sistem pertahanan udara rudal SAM 2K12 Kub (Kode NATO: SA-6 Gainful) yang baru: “Uni Soviet memasok senjatanya hanya dengan dua syarat: bahwa senjata itu tidak digunakan untuk melawan kepentingan Soviet, dan rahasia (persenjataan) mereka harus dijaga. Untuk alasan yang telah diberikan, Uni Soviet menganggap bahwa perjuangan melawan Israel adalah untuk kepentingannya juga. Dan desakan pada faktor kerahasiaan ini mencerminkan fakta bahwa Uni Soviet memasok senjata yang hampir sama kelasnya kepada orang-orang Arab dengan yang dipakai sekutunya di Eropa. Dengan kenyataan ini, maka di masa setelahnya Soviet menuntut dalam persyaratan kerahasiaan yang lebih kepada pemakai persenjataan buatannya setelah pengkhianatan Sadat. Ketika Sadat putus hubungan dengan Soviet pada tahun 1974, Sadat segera menyerahkan akses semua persenjataan canggih Soviet yang dimiliki angkatan bersenjata Mesir kepada Amerika. Kerusakan yang diakibatkan atas manuver Sadat ini pada militer Arab tidak terhitung; dan efeknya akan terasa selama bertahun-tahun setelahnya. Ketika laporan mulai muncul di akhir 1970-an bahwa Sadat telah mengirimkan pesawat tempur MiG-23 Mesir ke Amerika Serikat, berita ini dengan keras dibantah di Mesir. Pada tanggal 26 April 1984, kematian Jenderal Angkatan Udara AS Robert Bond saat mengemudikan MiG-23 mengkonfirmasi rahasia ini, yang mana bahkan dulu Sadat malu untuk mengakuinya. Tapi tentu saja akibat dari pengkhianatannya, selama bertahun-tahun yang akan datang, bukan kematian orang-orang Amerika lah yang dihasilkan, melainkan kematian orang-orang Arab. Keberhasilan Angkatan Udara Israel dalam menghancurkan 18 batalyon rudal anti-pesawat SAM SA-6 (2K12 Kub – sistem pertahanan udara paling canggih yang digunakan dalam Perang Yom Kippur) Suriah buatan Soviet di Lebanon pada Juni 1982, dan membuka kemenangan kemenangan Israel di Lebanon, hanya mungkin karena para ahli Amerika telah menyerahkan kepada Israel hasil studi panjang mereka tentang kelemahan rudal-rudal itu, yang diberikan oleh Sadat.”
MIG-23 LIBYA
Sementara itu, Libya, yang menjalin koneksi ke Moskow melalui Mesir pada awal tahun 1970-an, telah mendapatkan total 54 unit MiG-23MS antara akhir tahun 1974 dan awal tahun 1976, diikuti oleh MiG-23BN dalam jumlah yang serupa. Libya total menerima total 54 MiG-23MS dan 15 MiG-23UB antara 1975 dan 1978, serta 35 hingga 38 MiG-23BN. Pesawat-pesawat ini memasuki dinas operasional dengan Skuadron 1040, 1050, 1060 dan 1070. Skuadron 1040 dan 1050 dikelola oleh para personel dari Angkatan Udara Suriah. Sementara sejumlah besar pesawat ini segera masuk ke dalam penyimpanan, setidaknya 20 MiG-23MS dan MiG-23UB memasuki dinas operasional dengan Skuadron ke-1023, yang awalnya berbasis di pangkalan udara Tarrabalus (sisi militer dari lapangan terbang di kota Tripoli), yang pada akhir tahun 1970-an, bersama dengan MiG-23BN dari Skuadron ke-1124, dipindahkan ke Umm Atitiqah AB, ketika pangkalan ini mulai beroperasi. Pesawat-pesawat MiG-23 Libya hanya memainkan peran kecil selama perang singkat dengan Mesir, pada bulan Juli 1977, tetapi salah satunya berhasil ditembak jatuh oleh MiG-21 Mesir saat mendukung serangan Libya yang sedang berlangsung untuk menyerang lapangan terbang di Mersa-Matruh, dan pesawat-pesawat lainnya terpaksa membatalkan misi. Situasi itu terulang kembali pada awal tahun 1979 ketika bentrokan singkat lainnya dengan pesawat-pesawat tempur Mesir terjadi di as-Solum. Selama pertempuran singkat, dua pilot MiG-23MS Libya membuat kesalahan dengan bertempur melawan dua MiG-21MF EAF, yang dilengkapi dengan rudal AIM-9P3 Sidewinder yang baru dikirim dari AS – dalam pertarungan yang segera berbalik arah. Mayor Sal Mohammed dari Mesir kemudian berhasil menembak jatuh sebuah MiG-23, sementara pesawat Libya lainnya menggunakan akselerasinya yang lebih superior untuk kabur.


Terlepas dari hasil buruk seperti itu, dan meskipun ada pembelian lebih lanjut sekitar 80 MiG-25PD Foxbat, MiG-23MS tetap menjadi pesawat pencegat taktis utama Libyan Arab Republic Air Force/LARAF hingga awal tahun 1980-an, dan terlibat dalam berbagai insiden internasional berikutnya. Pada pertengahan tahun 1980-an, versi MiG-23 yang lebih baru mulai beroperasi dengan Angkatan Udara Libya. Sekitar 20 MiG-23MF diterima pada tahun 1984 untuk melengkapi kembali Skuadron 1060. 48 MiG-23MLD juga dipesan pada periode yang sama. Dua Skuadron, 1023 dan 1024, ditunjuk untuk mengoperasikan pesawat-pesawat ini. Pada tanggal 18 Juli 1980, puing-puing MiG-23MS LARAF ditemukan di sisi utara Gunung Sila setinggi 1,929 meter, di tengah provinsi Calabria, Italia. Tubuh pilotnya masih terikat di kursi lontarnya, dan di helmnya, namanya tertulis: Ezedin Koal. Penyelidikan menemukan, bahwa Koal telah mati setidaknya selama 15 hingga 20 hari, dan karena itu, kecelakaan MiG ini lalu dikaitkan dengan kecelakaan misterius pesawat DC-9, pada tanggal 27 Juni 1980, di dekat pulau Italia Ustika. Teori tentang keterlibatan MiG-23MS Koal dalam insiden muncul dalam informasi yang berbeda-beda: menurut beberapa orang, Koal jatuh saat mencoba membelot tetapi kehilangan orientasi di malam hari; yang lain mengatakan, Koal menembak langsung DC-9 atau bahwa DC-9 itu ditembak jatuh oleh rudal udara-ke-udara yang ditembakkan oleh para pesawat tempur NATO yang mengejarnya; sementara teori utama mengatakan bahwa MiG-23 itu kemungkinan besar bertabrakan dengan pesawat DC-9 itu saat terbang dekat di bawahnya untuk menghindari pengejaran pesawat-pesawat tempur NATO. Singkatnya, hingga kini masih belum diketahui apa yang sedang dicari MiG-23MS itu, yang terbang begitu jauh dari Libya dan ada di sebelah utara Sisilia!

Sama misteriusnya adalah pembelotan nyata dari pilot Libya lainnya, yang menerbangkan MiG-23MS atau BN-nya ke Mesir, sekitar awal tahun 1980-an. Kabarnya, pesawat inilah yang menewaskan Jenderal USAF Robert Bond dalam kecelakaan yang terjadi di Nevada pada tahun 1984. Sebaliknya, MiG-23MS Libya dipastikan terlibat dalam insiden internasional lain yang terjadi pada tanggal 16 September 1980, ketika tidak kurang dari 15 pesawat tempur Libya mencegat sebuah pesawat mata-mata RC-135U (bernomor 64114847) dari 55th SRW USAF saat terbang di atas Teluk Syrte. Rincian yang tepat tentang insiden ini masih samar-samar, tetapi tampaknya pada suatu saat pesawat-pesawat tempur Libya mengancam akan melepaskan tembakan atau memang melepaskan tembakan dan merusak pesawat pengintai itu sebelum pesawat RC-135U itu “dikawal” oleh pesawat-pesawat tempur US Navy (AL AS). Bagaimanapun, insiden tersebut menandai dimulainya berbagai insiden lain antara kekuatan udara Libya dan AS yang terjadi selama sembilan tahun berikutnya.


MiG-23 Libya tercatat digunakan selama konflik Chad-Libya untuk melakukan peran yang berbeda-beda, mulai tahun 1981. Selama tahun-tahun pertama keterlibatan mereka, baik varian MiG-23MS dan MiG-23BN digunakan, hampir secara eksklusif untuk misi serangan darat. Kemudian dalam perang, beberapa patroli udara tempur juga diterbangkan, dengan varian MiG-23MF dan MiG-23MLD yang lebih canggih digunakan. Pada tanggal 5 Januari 1987, sebuah MiG-23 Libya ditembak jatuh dan beberapa bulan kemudian, pada tanggal 5 September 1987, pasukan Chad melakukan serangan darat terhadap Pangkalan Udara Maaten al-Sarra di Libya, menghancurkan beberapa pesawat Libya di darat, di antara mereka, terdapat tiga MiG-23. Pada tanggal 8 Oktober 1987, sebuah MiG-23BN ditembak jatuh oleh tembakan darat, dengan pilotnya diselamatkan oleh sebuah helikopter. Pesawat-pesawat pencegat MiG-23 juga digunakan oleh Libya selama berbagai aksi di Teluk Sidra pada tahun 1986 menghadapi Angkatan Laut Amerika. Meskipun mereka diterbangkan secara agresif, dengan pilot mereka kadang-kadang mencoba untuk masuk ke posisi menembak di belakang pesawat-pesawat tempur Amerika (dengan sedikit keberhasilan), baik MiG-23 maupun lawan mereka tidak ada yang berani menembak. Konfrontasi Flogger Libya dengan Angkatan Laut Amerika kemudian berakhir dengan jatuhnya dua MiG-23MF LARAF oleh pesawat-pesawat F-14A Tomcat dari US Navy, pada tanggal 4 Januari 1989.


Dalam perang saudara Libya yang pecah tahun 2011, MiG-23 Angkatan Udara Libya digunakan untuk mengebom posisi para pemberontak. Pada tanggal 15 Maret 2011, sebuah situs pemberontak melaporkan bahwa pasukan oposisi mulai menggunakan pesawat-pesawat MiG-23 yang dirampasnya dan sebuah helikopter untuk menenggelamkan 2 kapal loyalis dan mengebom beberapa posisi tank mereka. Pada tanggal 19 Maret 2011, sebuah MiG-23BN dari Free Libyan Air Force ditembak jatuh di Benghazi oleh pertahanan udaranya sendiri, yang mengira itu adalah pesawat loyalis. Pilot pesawat itu tewas setelah dia terlambat keluar dari pesawat. Kemudian pada tanggal 26 Maret 2011, lima MiG-23 bersama dengan dua helikopter Mi-35 dihancurkan oleh Angkatan Udara Prancis saat diparkir di bandara Misrata, laporan awal yang beredar salah mengidentifikasi pesawat-pesawat itu sebagai pesawat latih G-2 Galeb. Pada tanggal 9 April, sebuah MiG-23 pemberontak dicegat di Benghazi oleh pesawat NATO dan dikawal kembali ke pangkalannya karena melanggar zona larangan terbang PBB. Sejumlah MiG-23 yang selamat dari perang saudara Libya 2011 dan pemboman NATO lalu terlibat dalam berbagai serangan udara dalam Perang Saudara Libya Kedua dengan kedua pihak memakai sejumlah pesawat jenis itu. Pada tanggal 23 Maret 2015, pihak Kongres Nasional Umum Baru yang mengoperasikan sebuah MiG-23UB ditembak jatuh saat mengebom pangkalan udara Al Watiya, yang dikendalikan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Libya. Penembakan itu mungkin menggunakan rudal panggul Igla-S. Kedua kru pesawat tewas. Pada awal tahun 2016, pasukan DPR Libya menguasai tiga pesawat MiG-23 antara lain dua MiG-23MLA dan satu MiG-23UB. Mereka semuanya hilang dalam tiga kesempatan terpisah dengan MiG-23MLA pertama, serial 6472, hilang di dekat pangkalan udara Benina pada tanggal 4 Januari, setelah serangan udara, lalu MiG-23MLA kedua, dengan nomor seri 6132, hilang pada tanggal 8 Februari saat melakukan serangan udara melawan ISIS di dekat Derna dan yang terakhir MiG-23UB, nomor seri 7834, hilang pada tanggal 12 Februari 2016 saat beroperasi di barat Benghazi. Pesawat ini diklaim ditembak jatuh oleh ISIS dengan pemerintah resmi menghubungkan kerugian tersebut dengan tembakan artileri antipesawat. Dalam semua kesempatan awak pesawat berhasil melontarkan diri, sementara penyebab dua kecelakaan pertama tetap diperdebatkan antara tembakan musuh dan karena alasan mekanis.

Pada tanggal 28 Februari 2016, sebuah MiG-23MLA nomor seri 6453 dikembalikan ke status layak terbang setelah beberapa tahun, menjadi satu-satunya MiG-23 dalam dinas operasional Angkatan Udara Libya pada bulan Maret 2016, melakukan misi melawan posisi dan kendaraan musuh sejak bulan Maret 2016. Dalam minggu-minggu berikutnya, baik Angkatan Udara Tentara Nasional Libya dan Libyan Dawn Air Force yang berlawanan, memulihkan sejumlah MiG-23BN, MiG-23ML dan MiG-23UB ke status layak terbang dan mereka direkam saat terbang di atas langit Libya dan waktu menyerang posisi musuh. Pada tanggal 6 Desember 2019, sebuah MiG-23MLD Tentara Nasional Libya (LNA) ditembak jatuh oleh pasukan yang setia kepada Government of National Accord (GNA). Dalam Perang Saudara Libya yang sedang berlangsung, kedua pihak menggunakan kembali beberapa pesawat yang sebelumnya disimpan setelah mendapat perbaikan dengan bantuan pihak asing. Jet tempur dengan nomor seri 26144, direstorasi menggunakan sayap dari dua badan pesawat yang berbeda dan dapat diterbangkan kembali pada bulan Agustus 2019, setelah sekitar 20 tahun ada di tempat penyimpanan. Jet itu kemudian tertembak di garis depan Yarmouk di Tripoli selatan dan jatuh di kota Al Zawiya, dimana pilotnya, Amer Jagem ditahan setelah melontarkan diri. Sebuah video yang muncul menunjukkan pesawat menukik saat menyerang dengan tentara di darat menembakkan rudal MANPADS Strela-2M sebagai balasan. LNA melaporkan bahwa mereka kehilangan sebuah MiG-23 karena kesalahan teknis, dan menyangkal bahwa pesawat itu jatuh karena tembakan musuh.
MIG-23 SOVIET VS CHINOOK IRAN
Yang berikutnya menggunakan MiG-23 dalam pertempuran di kawasan Timur Tengah adalah Angkatan Pertahanan Udara Soviet (V-PVO). Selama tahun tahun 1970-an banyak insiden terjadi di perbatasan Soviet-Iran dan Afghanistan-Iran, yang memaksa Soviet untuk menempatkan sebuah resimen MiG-23M di Ak-Tepe AB, dekat perbatasan dengan Afghanistan, yang saat itu merupakan Distrik Militer Turkmenistan. Salah satu insiden yang paling serius terjadi pada dini hari tanggal 21 Juni 1978, pada pukul 06:21, ketika situs radar Soviet yang berbasis di dekat desa Bagir, tidak jauh dari Ashhabad, mendeteksi empat kontak yang bergerak lambat yang berasal dari arah Iran dan menembus 15 hingga 20 kilometer jauhnya ke wilayah udara Soviet dekat Dushak, di Turkmenistan. Lima menit kemudian, target ini berhasil terdeteksi oleh situs radar Pangkalan Udara Ak-Tepe, dan wakil komandan 152 IAP, Lt.Col. J. A. Miloslavsky, memerintahkan satu pesawat MiG-23M, yang diterbangkan oleh Kapten A. V. Dem’janov, untuk terbang dan mencegat target itu. Setelah melewati daerah itu, Dem’janov hanya menemukan satu helikopter, tetapi salah mengidentifikasinya sebagai helikopter kawan. Selain itu, ia mendapat perintah dari posko, agar jangan nyalakan senjata dan jangan terlalu dekat dengan sasaran“. Karena jawaban Dem’janov atas panggilan dari stasiun GCI terdengar tidak pasti, akhirnya ia diperintahkan kembali ke Ak-Tepe AB dan sebagai akibatnya, pada 06:52, Lt.Col. Miloslavsky mengirimkan lagi sebuah MiG-23M, yang diterbangkan oleh Kapten Valery I. Shkinder. Shkinder mendekati keempat kontak itu, dan bisa mengidentifikasi mereka dengan benar sebagai helikopter-helikopter CH-47C Chinook dari Angkatan Udara dari Iran. Shkinder kemudian segera mendapat perintah untuk menyerang. Pada saat itu, helikopter-helikopter Chinook Iran terbang dalam formasi dua pasang terbang ke barat laut di sepanjang Terusan Garagum, tetapi ketika kru mereka mendeteksi adanya pesawat pencegat di atas mereka, mereka berbelok ke barat daya dan terbang menuju pegunungan Kopet dan perbatasan Iran.


Menukik di belakang dua Chinook paling belakang, Kapten Shkinder menembakkan dua rudal udara-ke-udara IR-homing R-60 (AA-8 Aphid). Kedua rudal menemukan sasarannya dan meledakkan helikopter paling belakang, yang puing-puingnya jatuh di dekat desa Gjaurs, menewaskan delapan awak. Kapten Shkinder melaporkan ke markasnya tentang penghancuran target pertamanya dan memberitahukan serangannya pada helikopter kedua. Berbalik, dia menempatkan MiG-23M-nya di belakang helikopter yang rusak dan melepaskan tembakan dengan kanon GSh-23L 23-mm, menghabiskan total 72 peluru dalam dua lintasan dan mengenai mesin kanan CH-47C nomor 5-4092. Pilot Iran itu cukup beruntung dan berhasil mendarat di dekat pos perbatasan Soviet di Gjaurs. Semua empat awak selamat, tetapi kemudian ditangkap oleh penjaga perbatasan Soviet. Dua Chinook yang tersisa pergi, menyeberang kembali ke wilayah udara Iran. Meskipun menyebabkan kehilangan banyak korban bagi AU Iran/IIAF, insiden itu diredam oleh kedua belah pihak, dan Soviet kemudian mengizinkan helikopter Chinook yang rusak untuk diperbaiki oleh orang-orang Iran dan diterbangkan kembali ke Iran, bersama dengan keempat awaknya: Kapten Valery Shkinder juga tidak mendapat penghargaan atas prestasinya, meski ada proposal agar dia mendapatkan Penghargaan Combat Red Flag, dengan pihak Kremlin menolak proposal “karena situasi internasional yang sangat kompleks”. Hingga saat ini, latar belakang lengkap dari insiden tersebut masih belum jelas, seperti dalam kasus operasi MiG-23MS Libya di musim panas dan musim gugur tahun 1980.
MIG-23 IRAK
Ketika empat MiG-23 pertama dikirim ke Suriah, pada bulan Oktober 1974, mereka segera menarik perhatian pilot-pilot Irak yang sedang bekerja sama dengan SyAF (Syrian Air Force) pada saat itu, dan IrAF (Iraq Air Force) dengan cepat memesan 24 pesawat pencegat dan varian serang dari Flogger. Pada awal tahun 1974, total 18 MiG-23MS, 18 MiG-23BN, dan empat MiG-23UB dikirim ke IrAF, yang kemudian membentuk Skuadron ke-23 dan ke-26, yang dilengkapi dengan varian pesawat pencegat, dan Skuadron ke-77 dengan varian MiG-23BN. Mungkin karena ekspektasi mereka yang tinggi dari tipe tersebut, orang-orang Irak awalnya sangat kecewa dengan versi MS dan BN. Mereka sebenarnya mengharapkan MiG-23 menjadi lawan yang ideal untuk menghadapi F-14A Tomcat, yang dipesan oleh Iran. Perbedaannya, bagaimanapun, cukup besar, dan Tomcat jauh lebih unggul dari MiG dalam semua aspek termasuk sistem avionik dan senjata, jangkauan, muatan dan kemampuan manuvernya. Selain itu, bagi Irak, MiG-23 perawatan dan cara menerbangkannya, awalnya tampak hampir serumit seperti F-14! Salah satu alasan utama kekecewaan Irak adalah paket avionik MiG-23 yang dikirimkan kepada mereka, yang sebenarnya didasarkan pada sistem avionik dari MiG-21MF, dan hanya mencakup perangkat navigasi VOR/ILS sederhana. Perangkat radio UHF, dan Transponder IFF SRO-3-nya memang kompatibel dengan pesawat serupa yang dikirim ke Mesir dan Suriah (sesuatu yang sangat penting bagi Irak, yang selama perang dengan Israel, pada tahun 1973, telah kehilangan lebih banyak pesawat karena SAM (Surface to Air Missile/Rudal Permukaan ke Udara) Suriah daripada akibat sistem pertahanan Israel!), tetapi pesawat-pesawat itu tidak memiliki RWR (Radar Warning Receiver/perangkat peringatan deteksi radar).

Akibatnya, Komando Pertahanan Udara IrAF awalnya tidak menggunakan MiG-23MS sebagai pesawat pencegat tetapi menurunkannya – bersama dengan semua versi MiG-23BN – ke Komando Dukungan (IrAF/ASC). Menariknya, untuk IrAF/ASC, MiG-23BN menjadi – terlepas dari kelemahan dengan perangkat avioniknya – aset penting ketika IrAF terlibat dalam aksi memerangi gerilyawan Kurdi, yang didukung oleh unit reguler Angkatan Darat Iran, di Irak utara, antara tahun 1974 dan 1975. Irak, kemudian bahkan menolak untuk menggunakan MiG-23BN sampai Moskow menjanjikan pengiriman 15 pesawat tambahan! Pesawat-pesawat tambahan ini memang sangat dibutuhkan, karena antara bulan April dan November 1974, IrAF kehilangan setidaknya empat MiG-23BN akibat sistem SAM Iran dan dua dalam kecelakaan operasional. Karena pilot-pilot Irak sangat puas dengan kemampuan angkut senjata dari Flogger, IrAF kemudian segera memesan 60 MiG-23BN tambahan dan sepuluh MiG-23UB, dan ini dipasok oleh Uni Soviet antara tahun 1976 dan 1977. Namun, pengiriman cepat dalam jumlah besar pesawat-pesawat baru dan lebih kompleks tersebut (dibanding tipe sebelumnya, seperti MiG-21), dalam waktu yang relatif singkat menyebabkan masalah yang cukup besar bagi Komando Dukungan Udara Irak, dan, meskipun pada tahun 1976 berjumlah tidak kurang dari 15 skuadron – yang bertanggung jawab untuk mendukung operasi darat – awaknya kurang terlatih dan berpengalaman. Banyak dari pesawat-pesawat yang baru dibeli tidak dioperasikan dan disimpan sebagai cadangan. Dari empat skuadron yang dilengkapi dengan MiG-23, misalnya, hanya dua yang bisa dianggap beroperasi penuh.
ARMADA FLOGGER MELAWAN IRAN
Terlepas dari semua aspek negatif yang disebutkan diatas, seiring berjalannya waktu Irak menjadi lebih percaya diri menggunakan MiG-23 dan pada tahun 1980, pesawat jenis itu – selain jet tempur MiG-21 dan pesawat pembom tempur Su-20 – menjadi aset paling penting dari IrAF. Sejumlah besar Flogger – terutama tipe MiG-23BN – digunakan sejak awal perang melawan Iran. Pada pecahnya perang, Irak memiliki setidaknya 62 MiG-23, yang terdiri dari: 36 MiG-23BN (asal skuadron ke-29 dan 49), 18 MiG-23MS (asal skuadron ke-39) dan 8 MiG-23UB (asal skuadron ke-27). Nantinya total sebanyak 54 MiG-23BN, 18 MiG-23MS, 18 MiG-23MF, 54 MiG-23ML dan beberapa lusin MiG-23UB akan terkirim ke Irak. Pada awal konflik, Angkatan Udara Irak belum begitu lama menerima MiG-23MS dan MiG-23MF dari Uni Soviet. Para kru masih belum memiliki cukup waktu untuk menguasai sepenuhnya Flogger yang mereka terbangkan ketika perang pecah, dan bantuan Soviet ke Irak kemudian berhenti karena Soviet menentang invasi Irak ke Iran. Oleh karena itu, pilot-pilot Mesir yang lebih berpengalaman dalam menerbangkan MiG-23 diundang ke negara itu sebagai instruktur. Penerbangan-penerbang Irak kemudian harus menghadapi pesawat Iran buatan Amerika, utamanya F-4D/E “Phantom II“, F-5E “Tiger II” dan F-14A “Tomcat“. Namun, keterlibatan pertama MiG-23 Irak dalam melawan Iran – selama fase pertempuran berkepanjangan di musim panas tahun 1980 – terbukti tidak begitu sukses. Pada tanggal 13 September, dua MiG-23MS dicegat oleh pesawat-pesawat Phantom Iran saat mendukung operasi pengintaian dari pesawat MiG-21R di wilayah Chogar, dan satu MiG Irak ditembak jatuh. Pada tanggal 22 September 1980, Irak melancarkan serangan udara besar-besaran atas pangkalan-pangkalan udara Iran dengan 128 pesawat, termasuk menggunakan 36 MiG-23. 12 MiG-23BN menyerang pangkalan udara Dezful. Tiga jet tempur F-5 Iran dikabarkan hancur, bersama dengan satu sistem rudal HAWK, 18 personel darat yang tewas. Di samping itu landasan pacu dan sistem radarnya juga terkena. 5 MiG-23BN lainnya menyerang pangkalan udara Ahajari, yang mengakibatkan dua landasan pacunya rusak. 6 MiG-23BN lalu menyerang pangkalan udara Hamedan, yang merusak landasan pacu dan gudang amunisi. Di tempat lain 11 MiG-23MS menyerang pangkalan udara Kermanshah dan merusak landasan pacunya.

Sementara itu 2 MiG-23MS yang menyerang pangkalan udara Ahvaz berhasil mengenai landasan pacunya. Dalam serangan gelombang kedua, 19 MiG-23 turut berpartisipasi. 5 MiG-23BN kembali menyerang pangkalan udara Ahajari, yang menyebabkan depot amunisi dan penyimpanan bahan bakar di tempat itu rusak. Kemudian 1 MiG-23MS yang dikawal 4 MiG-21bis, kembali menyerang pangkalan udara Ahvaz. Hampir 50% dari misi yang diterbangkan selama serangan pembukaan Irak pada tanggal 22 September 1980, diterbangkan oleh MiG-23BN dari Skuadron ke-77 dan ke-78 IrAF, termasuk yang paling terkenal – menyerang lapangan terbang dan pangkalan udara Mehrabad, dekat Teheran. Dua trio pesawat MiG-23BN awalnya ditugaskan untuk menyerang Mehrabad, tetapi hanya tiga yang mencapainya setelah terbang sejauh 520 km ke Iran. Rupanya, pilot Irak terkejut dengan fakta bahwa mereka berhasil mencapai target tanpa gangguan, dan mereka terlambat mengaktifkan senjata: oleh karena itu, hasil serangan terhadap lapangan terbang yang dipenuhi sejumlah besar pesawat militer dan sipil terbatas. Serangkaian bom yang dijatuhkan oleh MiG-23BN yang memimpin formasi jatuh di landasan di depan fasilitas Industri Pesawat Iran, meledakkan bagian hidung F-4E seperti batang botol. Kedua pengawal itu kemudian menembakkan roket tanpa pemandu kaliber 68mm dan menghantam sebuah pesawat Iran Air Boeing 707-321B (EP-IRJ) dan merusak sebuah C-130E IRIAF yang kemudian tidak bisa diperbaiki lagi. Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai sembilan orang Iran. Namun, saat membersihkan area target, formasi pesawat Irak tersebut dicegat oleh dua jet F-4E Phantom II yang dikerahkan dari Mehrabad dan setidaknya satu MiG – mungkin bisa jadi dua – ditembak jatuh. Pilot – dilaporkan seorang Mesir – ditangkap tak lama setelah itu oleh orang-orang Iran; hanya pemimpin flight dari ketiga MiG-23 Irak, yakni Mayor berinisial “N” yang selamat untuk menceritakan kisahnya. Sebaliknya menurut sumber-sumber Irak, mereka tidak menyinggung adanya kerugian di pihak mereka. Pada tanggal 23 September, pesawat-pesawat MiG-23 kembali melakukan beberapa serangan terhadap Iran. Pangkalan udara Vahdati dekat Dezful diserang oleh 12 MiG-23BN. Mereka datang di bawah tembakan gencar anti-pesawat yang kuat dan satu diantaranya ditembak jatuh, dimana pilotnya R. Sadon tewas. Pada tanggal 24 September MiG-23BN Irak menyerang pangkalan angkatan laut Iran Bushehr. Beberapa kapal patroli Iran ditenggelamkan oleh serangan bom Irak, sementara kerusakan berat dialami oleh fregat kelas PF-103 Naghdi akibat serangan bom, selanjutnya kapal penyapu ranjau MSC-268 Shahrokh menerima hantaman bom dan terbakar.

Selama fase awal perang Teluk Persia I, IrAF menggunakan pesawat-pesawat MiG-23BN sebagai interdiktor, dengan mengirimkan formasi kecil antara dua dan empat pesawat untuk menyerang sasaran jauh di dalam wilayah Iran. Memanfaatkan blind-spot di jaringan radar Iran, sebagian besar serangan ini tidak terdeteksi. Namun, berkali-kali, beberapa sempat dicegat oleh jet-jet Tomcat dan Phantom Iran, dan hasil dari pertempuran udara berikut biasanya menjadi bencana besar bagi armada pesawat-pesawat Irak. Ada beberapa alasan untuk ini: sebelum Revolusi Islam, pada bulan Februari 1979, beberapa pilot Iran sempat dikirim ke Amerika, di mana mereka mengevaluasi pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-23 yang digunakan oleh USAF. Israel – yang bekerja sama dengan Iran sangat intensif selama tahun 1970-an – ditengarai juga turut memasok banyak pengetahuan mereka sendiri tentang tipe-tipe pesawat itu ke IIAF, selain itu, peralatan MiG-23 Irak benar-benar buruk: pesawat mereka tidak memiliki perangkat RWR jenis apa pun, dan biasanya tidak akan mampu mengenali serangan oleh rudal udara-ke-udara jarak menengah dan jauh, yang dipandu radar, sebelum terlambat. Pada tanggal 24 September 1980, misalnya, ketiga MiG-23BN yang menerbangkan sebuah serangan efektif terhadap instalasi di Pulau Khark, ditembak jatuh oleh pesawat-pesawat Tomcat Iran. Kerugian serupa juga dialami dalam pertempuran udara lainnya pada tanggal 3, 13, 18, dan 19 Oktober, di mana total tidak kurang dari sebelas jet MiG-23BN dikonfirmasi berhasil ditembak jatuh oleh jet-jet F-14 Iran, sebagian besar di utara Teluk Persia, antara Abadan dan Bushehr.

Unit-unit Irak yang dilengkapi dengan MiG-23MS juga tidak mengalami pengalaman yang mudah. Setelah pertempuran kecil pada bulan Agustus dan September 1980 dan serangan awal Iran yang jauh masuk kedalam wilayah Irak, jelas menunjukkan bahwa MiG-21 tidak memiliki jangkauan untuk melawan pesawat-pesawat tempur Phantom dan Tiger (F-5E/F) Iran yang terbang cepat di ketinggian rendah. IrAF menempatkan Skuadron ke-81, yang ditempatkan di Salman Pak, di bawah komando ADC, dan pada pagi hari tanggal 25 September, enam pesawat dari unit ini dikerahkan untuk mencegat serangan udara besar Iran yang menyasar sasaran di daerah Baghdad. Hampir 30 detik setelah mengudara, bagaimanapun, formasi itu dicegat oleh dua jet tempur F-14A dan dua MiG ditembak jatuh dengan segera. Empat sisanya langsung berbalik dan harus mendarat ke lapangan terbang lainnya. Kerugian serupa dialami setidaknya dalam dua atau tiga pertempuran lain pada akhir tahun 1980, dan pada akhir bulan Januari 1981, IrAF hanya memiliki kurang dari 40 MiG-23 operasional dari semua versi, yang dikerahkan dalam enam unit terpisah. Di sisi lain, pilot-pilot MiG-23 Irak hanya dapat mengklaim lima atau enam pesawat tempur Iran, termasuk satu F-4D, dua F-4E, dan empat F-5E – dua di antaranya diklaim oleh Kapten Ahmed Sabbah pada hari pertama perang. Pada tanggal 4 April 1981, menurut pernyataan Iran, delapan MiG-23BN dihancurkan oleh pesawat-pesawat “Phantom” Iran di lapangan terbang H-3, sebaliknya menurut data resmi Irak, tidak ada MiG-23 yang menjadi korban selama serangan itu (hanya sebuah MiG-21 yang tertembak).
MENGUBAH TAKTIK
Setelah mempelajari pengalaman dan situasi mereka, dan terutama setelah kedatangan instruktur Prancis untuk pertama kalinya pada musim dingin dan musim semi tahun 1981, IrAF mengubah cara mereka menggunakan MiG-23. Alih-alih menggunakan formasi yang lebih besar, sekarang hanya sepasang MiG-23BN atau MiG-23MS yang akan dikirim terbang tidak lebih dari 50 km di belakang garis pertahanan lawan. Selalu beroperasi di bawah kendali yang sangat ketat oleh Ground-controlled interception (GCI/Pengendali Darat Untuk Melakukan Pencegatan), mereka akan terbang pada ketinggian rendah (selalu di bawah 1.500 kaki/500 meter), kemudian baru naik hanya sesaat sebelum menembakkan senjatanya. Secara bersamaan, pesawat-pesawat pencegat MiG-23MS juga dilarang untuk beroperasi di luar area yang dicakup oleh kontrol darat, dan hanya melakukan “serangan singkat”, dengan kecepatan tinggi dari belakang ke target mereka untuk menembakkan udara- rudal ke udara dari jarak maksimum. Selain itu, pilot-pilot Flogger diinstruksikan untuk tidak bermanuver melawan pesawat tempur musuh, tetapi menggunakan akselerasi superior dari pesawat mereka untuk menghindari, dan juga untuk mencegah berhadapan dengan jet-jet F-14 Iran dengan “segala cara”. Taktik baru ini membawa beberapa keberhasilan, terutama pada bulan April dan Mei 1981, ketika IrAF mulai menggunakan pasangan pesawat MiG-23BN sebagai umpan melawan pesawat pencegat Iran. Pesawat-pesawat MiG-23 akan menyerang posisi Angkatan Darat Iran, dengan mengebom dan memberondong, dan kemudian tetap berada di suatu tempat di dekat area target hanya dalam waktu cukup lama untuk memberi waktu pesawat pencegat IRIAF untuk mengudara. Ketika pesawat-pesawat Iran akan melakukan pengejaran, MiG-23 Irak akan berakselerasi menjauh, memancing lawan melewati situs rudal SAM atau AAA (senjata anti pesawat), atau berhadapan dengan jet-jet tempur MiG-21 dan MiG-25 yang mengawal, yang menunggu kesempatan mereka untuk menyerang dari belakang di ketinggian rendah. Hasilnya langsung segera terlihat, terutama terhadap pesawat-pesawat F-4E Iran, beberapa di antaranya ditembak jatuh atau rusak parah dalam pertempuran berikutnya. Namun, taktik tersebut kurang berhasil melawan jet-jet tempur F-5E, karena pesawat ini tidak memiliki kecepatan, akselerasi, dan jangkauan untuk menyerang atau mengejar pesawat-pesawat MiG-23.

Situasi menjadi sangat tidak menyenangkan bagi orang-orang Iran, sehingga pada pertengahan bulan Mei 1981 mereka terpaksa mengerahkan untuk sementara skuadron penuh dari jet-jet tempur F-14A andalannya ke Vahdati AB, dekat Dezful, yang masih berada di dalam jarak serangan artileri dan roket Irak yang datang terus-menerus, dalam rangka untuk membangun kembali keunggulan udara lokal. Setelah bentrokan pertama antara pesawat-pesawat Tomcat ini dan dua MiG-23BN, dikawal oleh jet-jet MiG-21 dan didukung oleh sebuah MiG-25RB, bagaimanapun, MiG-23 Irak tidak pernah berkelana begitu jauh di belakang perbatasan Iran selama lima tahun ke depan, dan sisa tahun 1981 dan 1982, jumlah pertempuran udara-ke-udara dengan MiG-23 di front selatan menyusut dengan cepat, dengan IrAF sekarang mengerahkan MiG-23MS untuk berpatroli lebih dalam di belakang front, atau di atas rig minyak Irak di kawasan utara Teluk. Pada tahun 1982, dengan terjalinnya kembali kerjasama dan persahabatan antara Baghdad dan Moskow (awalnya menentang invasi Irak). IrAF kemudian mulai membeli MiG-23MF dalam jumlah yang terus meningkat, diikuti oleh varian MiG-23ML pada tahun 1983, dan sebagai efeknya MiG-23MS diturunkan ke misi pertahanan udara sekunder, sedangkan MiG-23BN terus dipakai di setidaknya delapan unit terpisah (juga setelah berakhirnya perang dengan Iran). Namun, pada saat itu, setidaknya tiga pilot MiG-23MS Irak menjadi terkenal karena keberhasilan mereka dalam pertempuran udara, meskipun masih belum diketahui berapa banyak kemenangan yang mereka cetak saat menerbangkan tipe dan versi tersebut, karena mereka juga menerbangkan versi MiG-23MF dan beberapa tipe yang lainnya. Varian baru MiG-23ML yang dikirimkan ke Irak, kabarnya mampu menjatuhkan 6 pesawat dan 1 helikopter, sementara mengalami kehilangan 3 pesawat. Kapten Ahmed Sabbah, yang mengklaim menembak jatuh dua F-5E Iran pada tanggal 23 September 1980, telah ditembak jatuh dan terbunuh pada bulan Oktober tahun yang sama, oleh rudal AIM-54A Phoenix, yang ditembakkan dari pesawat Tomcat Iran, selama pertempuran di kawasan Irak utara. Kapten Omar Goben, misalnya, diketahui telah menerbangkan MiG-21 dan MiG-23, dan telah mencetak dua kemenangan yang dikonfirmasi terhadap pesawat-pesawat F-5E Iran, keduanya pada tahun 1980 dengan menggunakan Fishbed. Pada bulan Desember 1982, dengan menerbangkan MiG-23MF dia menembak jatuh F-5 lainnya.

Pada tanggal 20 Februari 1986 Goben, yang kini menerbangkan MiG-23ML menembak jatuh pesawat angkut militer Iran Fokker F27 (dipiloti oleh Kolonel Abdolbaghi Darvish), yang sedang terbang ke garis depan membawa delegasi militer dan pejabat pemerintah Iran (membunuh 2 awak dan 49 penumpangnya). Goben kemudian mengklaim sepuluh kemenangan udara tambahan pada tahun 1982, 1983, dan 1985, tetapi tidak satupun dari kemenangan ini yang pernah dikonfirmasi. Dia selamat dari perang dengan Iran, hanya untuk ditembak jatuh dan terbunuh oleh jet tempur F-15C USAF saat menerbangkan MiG-29, pada tahun 1991. Pilot lain, Kapten Ali Sabah, lebih dikenal publik Irak sebagai “Macan Irak”, saat terbang dengan MiG-23 dan Mirage F.1EQ. Selama karirnya, ia diketahui telah mencetak setidaknya tiga kemenangan udara terkonfirmasi dan tiga kemungkinan kemenangan lainnya. Dia juga selamat dari perang dengan Iran, tetapi terbunuh pada tahun 1993 – tampaknya oleh aksi dari rezim Irak sendiri. Sementara itu, Pilot Mayor Muafak Mohamed Yasin yang menerbangkan MiG-23MS dan MiG-23MF dari Skuadron ke-39 dicatat mencetak setidaknya 2 kemenangan di udara. Sebaliknya, bab terakhir dari pemakaian MiG-23MS yang digunakan sebagai pesawat pencegat taktis utama oleh IrAF dan IrAF/ADC tidak ada hubungannya dengan kesuksesan sama sekali. Pada pagi hari tanggal 2 Desember 1981, seorang pilot Irak dari Skuadron ke-84 membelot dengan pesawat MiG-23MS-nya ke Vahdati AB. Dia berhasil mendarat dengan selamat, dan kemudian aksinya ini terbukti menjadi sumber intelijen yang luar biasa bagi IRIAF, namun, pesawat itu – karena kesalahan dalam rantai komando Iran – dibiarkan terbuka selama beberapa jam terlalu lama, dan pada sore hari IrAF mengirimkan serangan luar biasa terhadap pangkalan-pangkalan Iran. Pilot pesawat-pesawat Su-20 Irak langsung menemukan MiG-23MS yang “hilang” itu dan meledakkannya dengan beberapa tembakan roket kaliber 68mm tanpa pemandu.
EPISODE KONYOL
Meskipun sebagian besar sumber Irak menyatakan bahwa F-14A Iran tidak pernah terbukti sangat efektif, dan tidak pernah mencetak banyak kesuksesan selama Perang Iran-Irak, pemeriksaan dari dokumen yang tersedia dari kedua belah pihak meninggalkan sedikit keraguan tentang fakta bahwa pencegat tangguh yang dibuat oleh Grumman ini tetap menjadi ancaman utama bagi Irak. Tidak mengherankan, selama pertempuran memperebutkan Faw, Angkatan Udara Irak – bekerja sama dengan pemerintah di Baghdad – memulai berbagai upaya untuk mengekang aktivitas Tomcat Iran. Sementara itu, selain berupaya memperoleh Remora ECM-pod dari Prancis, IrAF juga meminta untuk disediakan sistem RWR/RHAW yang lebih canggih dari Prancis dan Uni Soviet, yang seperti telah disinggung diatas menjadi kelemahan Irak. Selanjutnya, selama pertemuan dengan para diplomat dari negara-negara Arab di Teluk Persia, Presiden Irak Saddam Hussein mengumumkan bahwa beberapa pilot F-14 Iran akan membelot ke Irak. Seperti yang diceritakan oleh Tom Cooper dalam bukunya MiG-23 Flogger in the Middle East Mikoyan i Gurevich MiG-23 in service in Aljazair, Egypt, Iraq and Syria, 1973-2018, dengan keberadaan dinas intelijen Iran di negara-negara seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab, tidak butuh waktu lama bagi Teheran untuk mengetahui pernyataan ini, dan berulang kali memberhentikan banyak pilot Tomcat-nya selama periode itu. Cerita terakhir ini sebenarnya memiliki beberapa dasar, karena intelijen militer Irak, sejak tahun 1982, telah mencoba untuk menjalin kontak dengan beragam pilot Angkatan Udara Republik Islam Iran (Islamic Republic of Iran Air Force/IRIAF) yang dan meyakinkan mereka untuk membelot. Operasi ini dijalankan melalui panggilan telepon, yang dialihkan melalui Turki, di mana penelepon telah berbicara kepada pilot yang ditargetkan dalam bahasa Inggris.

Irak mencapai keberhasilan pertama mereka pada tanggal 27 Agustus 1984, ketika Mayor Rahman Ghanat Pishnee membelot dengan jet tempur F-4E dari TFB.6 (Bushehr) ke Ali Ibn Abu Thalib AB. Jet Phantom II ini lalu diperiksa dengan cermat tetapi tidak pernah diuji terbang: kemudian, diparkir di dalam hanggar di mana ia dihancurkan oleh bom AS, pada bulan Januari 1991. Setelah kesuksesan ini, dengan berani Intelijen Militer Irak kemudian terus mencoba dan akhirnya berhasil menjalin kontak dengan Kapten Ahmed Moradi Talebi, seorang pilot F-14 yang berbasis di TFB.8 (Esfahan). Pada musim semi 1986, Moradi meminta izin untuk menikmati liburan keluarganya di luar Iran. Permintaan ini dikabulkan, dan pada bulan Agustus tahun yang sama ia bepergian dengan istrinya ke Jerman. Moradi kembali tanpa istrinya, pada akhir bulan yang sama tetapi – cukup mengejutkan – diberikan izin untuk melanjutkan dinas miiternya. Apa yang tidak diketahui oleh unit kontra-intelijen Iran adalah bahwa pada saat itu dia telah berhubungan dengan Irak dan pembelotannya direncanakan pada 3 September 1986. Agar bisa dikenali sebagai pembelot, Moradi harus menerbangkan Tomcat-nya di sepanjang rute yang sangat spesifik, dengan kecepatan dan ketinggian tertentu.

Perang Iran-Irak waktu itu berlangsung di bawah beberapa kondisi cuaca paling keras yang pernah ada. Panas yang mendidih sering mengakibatkan suhu melebihi 48°C (120°F) selama musim panas. Sejalan dengan itu, kedua belah pihak membatasi aktivitas mereka dari pagi hingga sore hari. Tidak ada yang terbang berani terbang antara pukul 11.00 pagi dan 16.00 sore. Di malam hari, Irak cenderung melancarkan serangan udara yang menargetkan kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Iran dari Pulau Khark. Jadi sekitar pukul 15.30 sore setiap hari, sepasang F-14 diluncurkan dari Esfahan dan menerbangkan patroli udara tempur di dekat Bushehr. Salah satu pilot yang terpilih untuk menerbangkan patroli sore pada 2 September 1986 adalah Talebi. Setelah misi dua Tomcat dibatalkan sebelum lepas landas, ia lepas landas dengan pesawat ketiga, yang hanya dipersenjatai dengan rudal Sparrow dan Sidewinder. Setelah mengudara, Moradi mengisi tangki bahan bakarnya dari pesawat tanker, dan kemudian berbelok ke barat — ke arah Irak. Perwira yang ditugaskan untuk menerima pembelotan Moradi adalah Ahmad Sadik. Dia hadir di ADOC tetapi tidak mengharapkan orang Iran ini membelot pada tanggal 2 September 1986. Dia mengingat drama yang terjadi sore itu: “Saya memasuki aula utama dan melihat layar besar di tengahnya. Di sana saya bisa melihat jejak pesawat Iran bergerak ke barat dari Esfahan, mendekati perbatasan Irak melalui Khoramabad, dan kemudian berbelok ke barat daya menuju al-Kut. Perwira yang bertugas lalu mengirimkan sepasang MiG-23ML dari al-Bakr AB dan sistem kami segera menghitung titik intersepsi mereka di dekat kota Numanya, jauh di dalam Irak.’

Tak lama setelah berbelok ke kanan dengan mulus, dua jet tempur MiG-23ML dari Skuadron No. 63 meluncur hampir 15 kilometer (8nm) di belakang F-14A, yang sementara itu terbang jauh di dalam wilayah udara Irak. Pemimpin pasangan jet Irak ini kemudian kehilangan tangkapan radarnya karena kegagalan fungsi: dia tidak punya pilihan selain menyarankan wingman-nya untuk mengambil alih. Letnan muda wingman-nya kemudian berhasil melakukan penguncian dan menembakkan satu rudal R-24T (kode NATO: AA-7D Apex). Rudal besar dan kuat ini meledak di bawah F-14A, membakarnya, dan memaksa kru pesawat untuk melontarkan diri. Sementara itu, kedua MiG Irak itu sudah sangat kekurangan bahan bakar. Mereka terbang mendekat hanya cukup untuk mengidentifikasi dan melaporkan jenis pesawat yang jatuh sebelum pergi. Hanya pada saat itulah Sadik menyadari apa yang sedang terjadi: Irak baru saja melewatkan kesempatan emas untuk mendapatkan sebuah jet tempur F-14A Tomcat yang sepenuhnya utuh ke tangan mereka. Tentu saja, kru Iran ini lalu ditangkap dan diinterogasi secara ekstensif. Moradi bahkan membawa manual penerbangan bersamanya. Namun, hampir semua informasi yang dia berikan sudah diketahui oleh orang-orang Irak. Selebihnya, F-14A yang diterbangkan mereka hancur total dalam kecelakaan itu, seperti yang diingat oleh Sadik, yang memeriksa reruntuhan pada hari berikutnya: “Saya sangat kecewa, bagian depan pesawat hancur total. Tidak ada satu pun radar atau kokpit yang bisa diselamatkan. Satu-satunya senjata yang bisa kami temukan adalah kanon M61A1 Vulcan. Itu juga benar-benar hancur, sangat bengkok dan terbakar. Kedua mesin pesawat itu relatif utuh, tetapi keduanya sudah tua dan tidak memiliki nilai intelijen bagi kami. Akhirnya, kami tidak mengetahui apa pun dari reruntuhan itu, kecuali bahwa beberapa bagian badan pesawat memakai nomor seri AS, dan yang lainnya tidak dapat diidentifikasi asalnya.” Maka berakhirlah kisah percobaan pembelotan oleh pilot F-14 Iran ke Irak. Diluncurkan sehari lebih awal dari yang disepakati dengan Irak, upaya itu gagal total ketika Tomcat yang mau dibawa membelot ditembak jatuh oleh dua MiG-23ML Irak – secara tidak sengaja.
KARIR MIG-23 IRAK SELANJUTNYA
Selama pertempuran di Ahvaz pada bulan Maret 1986, 56 pembom tempur Irak (kebanyakan dari jenis MiG-23BN) menyerang konsentrasi kendaraan lapis baja Iran, yang mengakibatkan hingga 500 kendaraan lapis baja Chieftain, M60 dan M113 hancur dan rusak. Kemudian pada tanggal 4 April 1986, sebuah bom berbobot 250 kg yang dijatuhkan dari sebuah MiG-23BN Irak menyebabkan kerusakan pada kapal tanker Iran Shrivan. Menurut beberapa peneliti Barat yang merujuk pada sumber yang tidak pasti, antara bulan September 1980 hingga Januari 1981, setidaknya 40 pesawat MiG-23 ditembak jatuh. Rupanya, data ini didasarkan pada pernyataan-pernyataan pihak Iran. Sebaliknya Iran mengklaim bahwa selama seluruh perang hanya 78 pesawat tempurnya yang ditembak jatuh dalam pertempuran udara. Jika kita membandingkan jumlah MiG-23 Irak yang tersedia pada masa awal perang, kemudian yang diterima selama masa perang dan yang masih tersisa pada saat perang dengan Kuwait, maka selama 10 tahun, tidak lebih dari 30 pesawat MiG-23 yang hilang atau hancur dalam perang melawan Iran (antara 20 dan 28 diantaranya ditembak jatuh oleh senjata anti pesawat, pesawat tempur musuh atau tembakan salah sasaran). Kerugian tersebut terdiri dari 16 MiG-23BN, 6 MiG-23ML, 4 MiG-23MF dan 3 MiG-23MS. Setelah perang, Irak dikabarkan mengirim 9 MiG-23ML untuk menjalani perbaikan dan upgrade di Serbia. Menurut peneliti Tom Cooper, F-14 Iran disebut bertanggung-jawab dalam menyebabkan kerugian yang sangat besar pada MiG-23 Irak (kebanyakan dari mereka adalah varian pembom, yakni model MiG-23BN) di awal perang. Selama Perang Iran-Irak setidaknya menurut klaim Iran, 58 MiG-23 diklaim ditembak jatuh oleh F-14 (15 di antaranya bisa dikonfirmasi menurut Cooper), dan 20 MiG-23 lainnya diklaim oleh F-4 (16 bisa dikonfirmasi menurut cooper). Meski menderita kerugian besar terhadap Tomcat Iran, namun Flogger Irak juga mampu menembak jatuh 3 F-14 (1 saat pembelotan, seperti yang sudah disinggung diatas). Kolonel Angkatan Udara Iran, Mohammed-Hashem All-e-Agha ditembak jatuh oleh MiG-23ML Irak saat menerbangkan F-14A-nya pada tanggal 11 Agustus 1984. Kemudian Kapten Angkatan Udara Iran Bahram Ghanei ditembak jatuh oleh MiG-23ML saat menerbangkan F-14A-nya pada tanggal 17 Januari 1987. MiG-23MS/MF Irak (varian tempur) yang digunakan di paruh pertama perang mencatat skor tidak kurang dari 8 kemenangan udara sementara menderita kerugian 2 MiG-23MS dan 4 MiG-23MF. Sementara itu MiG-23ML (varian tempur yang lebih baru) digunakan di paruh kedua perang. Mereka mungkin mencetak 7 kemenangan udara (termasuk atas 3 F-14) sementara kemungkinan menderita 3 kerugian.



Irak diketahui menggunakan MiG-23 selama Perang di Teluk Persia (1990-1991) melawan pasukan koalisi. Sebelum perang, menurut data resmi Irak, Irak memiliki 127 MiG-23, yang terdiri dari: 38 MiG-23BN, 39 MiG-23ML, 14 MiG-23MF, 15 MiG-23MS dan 21 MiG-23UB. Pada tanggal 2 Agustus 1990, Angkatan Udara Irak mendukung invasi ke Kuwait dengan pesawat tempur MiG-23BN dan Su-22 sebagai aset serang utamanya. Selama serangan di Kuwait, MiG-23BN Irak menghancurkan dua unit Mirage F1CK Kuwait di pangkalan udara Ali al-Salem. Selama serangan di pangkalan udara al-Jaber, pesawat-pesawat MiG-23 menjatuhkan bom di jalur lepas landas, yang mengakibatkan tiga pesawat Skyhawk Kuwait hancur. Pada tanggal 3 Agustus, sebuah MiG-23BN Irak ditembak jatuh oleh senjata antipesawat yang dikendalikan oleh awak berkebangsaan Amerika, pilotnya, M. al-Shawi tewas. Ini adalah satu-satunya “MiG” yang menjadi korban dalam perang singkat antara Kuwait dan Irak. Kemudian selama operasi Badai Gurun, menurut data Irak, MiG-23MF menembak jatuh satu F-16, menggunakan rudal udara ke udara R-23 (AA-7 Apex) Menurut peneliti Argentina Diego Zampini, MiG-23 Irak, juga pada malam pertama konflik, berhasil merusak dua pesawat elektronik EF-111A Raven dengan rudal udara-ke-udara R-23. Akibat kerusakan yang diterima, kedua pesawat ini dinonaktifkan. Secara resmi, Amerika menyebut hilangnya EF-111 dan F-16 miliknya sebagai akibat tembakan senjata anti-pesawat. Menurut pernyataan Amerika, pesawat-pesawat tempur F-15 miliknya menembak jatuh 6 pesawat tempur MiG-23MF dan 2 pesawat tempur MiG-23 tipe lainnya selama periode 26-29 Januari. Dokumen Irak kemudian mengkonfirmasi hancurnya total 43 unit MiG-23 karena berbagai sebab, dengan 10 lainnya rusak dan 12 lainnya melarikan diri ke Iran. Ini meninggalkan Irak dengan setidaknya 76 MiG-23, dengan rincian sebagai berikut: 17 MiG-23BN, 21 MiG-23ML, 12 MiG-23MF, 13 MiG-23MS dan 13 MiG-23UB. Amerika mengatakan bahwa total selama perang enam MiG-23 ditembak jatuh (semuanya oleh F-15C). Namun, pesawat-pesawat tempur Irak juga melawan. Pada hari pertama konflik, sepasang MiG-23ML menembak jatuh pesawat pengebom tempur Tornado ADV Italia di atas Bagdad. Pers Irak juga melaporkan kemenangan udara MiG-23 atas jet tempur F-16. Atas klaim ini, pihak Amerika Serikat menyatakan bahwa hilangnya F-16C miliknya disebabkan oleh tembakan rudal permukaan-ke-udara 2K12 Kub (SA-6) dan S-125 Neva/Pechora (SA-3) dan bukan oleh pesawat musuh. Juga, tidak ada kerugian pesawat Tornado yang dikaitkan dengan aksi pesawat musuh menurut Angkatan Udara Kerajaan Inggris dan Angkatan Udara Italia. Pada tahun 1992, Iran kabarnya mengirim 10 MiG-23 bekas milik Irak ke Sudan. Pada tahun 90-an, pesawat-pesawat ini digunakan untuk menyerang gerilyawan di wilayah Sudan selatan. Pada tanggal 17 Januari 1993, F-16C USAF menghancurkan sebuah MiG-23 Irak dengan rudal AIM-120 AMRAAM. Bentrokan terakhir antara MiG-23 Irak dengan pesawat musuh terjadi pada tanggal 9 September 1999. Pada hari ini, di atas “zona larangan terbang” sekelompok pesawat tempur F-14 Amerika mencoba mencegat satu pesawat MiG-23ML Irak. Satu pesawat Amerika meluncurkan rudal jarak jauh AIM-54 Phoenix. Pesawat Irak itu menghindari rudal dan kemudian pergi kembali ke lapangan terbangnya. Namun, pesawat itu kemudian jatuh saat pilotnya mencoba mendarat. Pada tahun 2003, selama Operasi Pembebasan Irak, seluruh pesawat Angkatan Udara Irak tidak aktif dengan beberapa pesawat kemudian ditemukan oleh tentara AS dan pasukan sekutu di sekitar pangkalan udara Irak dalam kondisi terlantar setelah invasi. Invasi tersebut lalu menandai berakhirnya karir MiG-23 Irak.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Early MiG-23M/MS Floggers in Action By Tom Cooper; Sep 26, 2003, 09:35
https://web.archive.org/web/20060613024359/http://www.acig.org/artman/publish/article_273.shtml
MiG-23
https://mikoyanmig29.wixsite.com/mig-23flogger/combat-over-the-persian-gulf
That time an IrAF MiG-23ML mistakenly shot down an IRIAF F-14A that was defecting to Iraq by Dario Leone
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mikoyan-Gurevich_MiG-23
How Egypt Ruined the MiG-23 and Compromised Soviet Aerial Warfare Capabilities: President Anwar Sadat’s Cold War Betrayal, March-30th-2020
Soviet MIG‐23 Shipment To Egyptians Is Reported By Drew Middleton;Feb. 19, 1975
FLOGGERS IN ACTION: EARLY MIG-23S IN OPERATIONAL SERVICE by Tom Cooper
