From Hero to Zero: Kegagalan Konsep Perang Tank Jepang dalam Perang Dunia II
Ketika orang berpikir tentang militer Jepang dalam Perang Dunia II, mereka sering membayangkan pesawat tempur Zero yang menakutkan atau prajurit Jepang yang berjuang sampai mati, bukan tank dan mobil lapis baja yang membuat kekacauan diantara musuh yang tidak curiga. Kesan yang terakhir itu cenderung hanya untuk menggambarkan orang-orang Jerman. Pasukan lapis baja Jepang pada Perang Dunia II memang tidak pernah menjadi komponen penting dari mesin perang Kekaisaran Jepang dan kinerjanya selama perang sangat biasa-biasa saja. Tapi kenapa? Padahal Jepang adalah salah satu kekuatan militer pertama di dunia yang bereksperimen dengan kendaraan lapis baja. Ia bahkan mempraktekkan konsep tempur senjata gabungan bertahun-tahun sebelum Jerman melakukannya. Kemudian, melalui campuran pertikaian diantara korps perwira, kepribadian yang kolot, dan prioritas medan perang yang bergeser, Jepang menyia-nyiakan semua pencapaian itu. Ketika Heinz Guderian—arsitek Blitzkrieg legendaris Jerman dan penulis buku awal tentang perang lapis baja tahun 1937 berjudul Achtung-Panzer!—mencari konsep ke seluruh dunia untuk dipakai sebagai contoh pengembangan tank setelah Perang Dunia I, dia mengabaikan untuk melihat ke arah timur, ke Jepang, salah satu negara terkemuka pada periode antar perang dalam peperangan lapis baja.

PENGEMBANGAN AWAL TANK JEPANG
Selama Perang Dunia I, pasukan Kekaisaran Jepang secara aktif berperang melawan negara Blok Sentral di medan perang Pasifik. Angkatan laut mereka muncul sebagai kecabangan yang hampir independen dan memainkan peran kecil dalam Perang Dunia I, tetapi Angkatan Darat Jepang hanya melihat sedikit beraksi. Walau demikian, meskipun bukan peserta langsung dalam perang yang berdarah-darah dalam Perang Dunia I, Angkatan Darat Jepang, seperti banyak negara lain pada saat itu, telah mengirimkan pengamat-pengamat militer ke Front Barat. Ketika Mk I Inggris, tank pertama di dunia yang bertugas dalam pertempuran, dengan susah payah melintasi tanah tak bertuan di Somme, pengamat Jepang mengirim telegram berita tentang pemakaian alat tempur itu kembali ke Tokyo. Tentara Kekaisaran Jepang dengan cepat kemudian mengenali potensi revolusioner tank, dan pada awal tahun 1917, memulai diskusi tentang pembelian beberapa contoh tank dari luar negeri. Pada tanggal 24 Oktober 1918, kurang dari sebulan sebelum pertempuran berakhir dengan gencatan senjata, sebuah tank Mk IV “female” Inggris (varian yang dipersenjatai dengan lima senapan mesin tetapi tanpa kanon) tiba di pelabuhan Jepang Yokohama, yang ditujukan untuk sekolah infanteri di Prefektur Chiba. Studi serius tentang tank kemudian dimulai di akhir tahun depannya, ketika sekolah itu menerima pengiriman keduanya: enam tank Whippet Mk A Inggris (diuji dan digunakan dalam berbagai manuver hingga tahun 1930) dan 13 Renault FT-17 (dengan nama “FT-Ko“) dari Prancis. Sementara itu selain dari aspek teknis senjata baru itu, Jepang mencatat potensi signifikansi dari doktrin baru yang diwakilinya, yakni: perang lapis baja. Markas Besar Teknis Angkatan Darat, yang dibuat sebagai bagian dari reformasi tahun 1919 untuk mengawasi penelitian dan pengembangan senjata, menekankan pentingnya menggunakan “kekuatan mekanis selain kekuatan manusia dan hewan yang ada untuk operasi militer dan transportasi senjata.” Gagasan ini membangkitkan minat serius di antara para perwira infanteri yang lebih berpikiran terbuka. Pengalaman setelah Revolusi Bolshevik, dimana Jepang mengirim 70.000 tentara ke Siberia, untuk mendukung golongan Rusia Putih juga turut mendorong pengembangan unit tank. Hasil dan ongkos kampanye militer di Russia tidak dihargai dengan baik di tanah air, dan dalam konteks ini, kebutuhan akan tank muncul. Para perwira Jepang saat itu menyadari perkembangan tank yang dilakukan oleh kekuatan militer negara-negara barat.



Pada tahun 1921, Sekolah Tinggi Perang Angkatan Darat Jepang di Tokyo mulai menyelenggarakan kuliah ekstrakurikuler tentang perang lapis baja selama Perang Besar (sebutan dari Perang Dunia I), dan kata Jepang untuk tank—sensha, secara harfiah “mobil tempur”—diciptakan. Tank bukanlah satu-satunya senjata baru yang membangkitkan minat. Sementara Perang Besar adalah kesengsaraan tragis bagi bangsa-bangsa Eropa, bagi Jepang itu adalah peti harta karun teknologi, doktrin, dan pelajaran militer yang tak terbatas. Lusinan komite investigasi dan dewan teknologi muncul untuk meneliti senapan mesin ringan, komunikasi radio, kekuatan udara, mobilisasi nasional—apa pun yang menguntungkan ambisi militer Jepang. Namun dibandingkan topik lain, pengembangan tank tidak mendapat prioritas tertinggi. Pada tahun 1925 hal itu berubah. Menteri Perang Kazushige Ugaki menerapkan program perlucutan senjata besar-besaran untuk Angkatan Darat yang ditujukan untuk pengurangan jumlah personel dan modernisasi, atau mementingkan kualitas daripada kuantitas. Angkatan Darat membubarkan empat divisi infanteri dan beberapa sekolah Angkatan Darat dan rumah sakit, mengalokasikan kembali sumber daya yang dibebastugaskan untuk memperluas korps udara dan korps anti-pesawat Angkatan Darat dan membentuk korps tank profesional. Pada tanggal 1 Mei 1925, kekuatan lapis baja Jepang dibangun dengan pembentukan Batalyon Tank ke-1 di Kurume dan Batalyon Tank Sekolah Infanteri di Chiba. Tetapi dua batalyon—masing-masing terdiri dari lima tank Whippets Mk A dan Renault FT-17 yang sekarang sudah ketinggalan zaman—adalah unit eksperimental yang tidak mampu melakukan pertempuran sebenarnya. Selain itu, korps tank yang masih muda menghadapi skeptisisme besar dari para tradisionalis di Angkatan Darat, yang mempertanyakan potensi penemuan yang tidak masuk akal ini.

Namun kelompok komandan dan insinyur tank pertama Jepang tetap tidak gentar, dan perwira mudanya bertekad untuk membangun kekuatan lapis baja modern—dari awal jika perlu. Mengetahui perang dengan China, dan mungkin Uni Soviet, hanya masalah waktu, mereka kecewa dengan ketergantungan Jepang pada impor peralatan militer, yang sebagian besar berasal dari Prancis. Permintaan untuk tank produksi dalam negeri kemudian mendapat dukungan dari kepala Markas Besar Teknis Angkatan Darat, yang menugaskan proyek tank domestik Jepang kepada insinyur artileri berusia 30 tahun Kapten Tomio Hara dari Markas Besar Teknis Departemen Kendaraan Bermotor, pada bulan Juni 1925, saat sebuah desain sedang dikerjakan. Ada keraguan akan peluang Kapten Hara dan timnya untuk sukses; Pengalaman Jepang sebelumnya dalam memproduksi kendaraan bermotor militer terbatas pada truk empat ton dan traktor tiga ton. Namun, dua puluh bulan kemudian, Hara membuktikan pihak-pihak yang skeptis salah. Desain tank asli pertama Jepang datang setelah melakukan studi desain kontemporer dari Inggris, seperti tank Medium Mark C, di Sekolah Infanteri Chiba. Ini, bersama dengan informasi baru tentang taktik tank, mengarah ke tank eksperimental Tipe 87, pada tahun 1927. Desain ini diprakarsai oleh Laboratorium Militer ke-4 Biro Teknis Angkatan Darat Kekaisaran Jepang, dan terbuat dari baja lunak. Tank Eksperimental No. 1 (lengkapnya ditunjuk sebagai tank medium Tipe 87 Chi–I) memang memiliki kekurangan—berbobot 20 ton, berat dan sangat kurang bertenaga—tetapi karena lulus uji coba lapangan, pihak Angkatan Darat memberikan lampu hijau pada program tank domestiknya.



Hara dan timnya segera mulai meningkatkan desain itu untuk diproduksi massal dan, pada tahun 1929, menyelesaikan prototipe untuk tank menengah Tipe 89 I-Go—tank bertenaga diesel yang diproduksi secara massal pertama di dunia dan sebuah kendaraan lapis baja tulang punggung Angkatan Darat Jepang hingga tahun 1942. Pada tahun 1927, Jepang membeli 6 tankette Carden-Lloyd Mk.VI, dan menyalin sistem suspensi dan drivetrain-nya. Turunan pertamanya adalah “mobil tempur” Tipe 92 Jyu-Sokosha, yang dibuat untuk pasukan kavaleri. Kemudian, mereka membangun beberapa ratus tankette pengintai kecil, seperti Tipe 94 Te-Ke. Pada tahun 1929, Jepang juga memesan batch terakhir tank buatan luar negeri, yakni: 10 unit tank Renault NC-27 (disebut sebagai “Otsu” oleh Jepang, yang merupakan varian FT yang dimodernisasi dan ditingkatkan). Sejak saat itu, semua kendaraan lapis baja akan berasal dari buatan Jepang. Tipe 89 I-Go dibuat dalam jumlah besar, pertama dibuat dengan varian Ko, dan kemudian Otsu (masing-masing 278 dan 126 unit). Itu adalah tank infanteri lapis baja yang relatif cepat (memiliki kecepatan 25 km/jam), dilengkapi diesel, yang dibangun dari tahun 1929 hingga 1936. Tank ini menjadi andalan tentara Jepang di China, berpartisipasi dalam insiden Shanghai dan penaklukan China berikutnya. Pada tahun 1941 mereka sudah dianggap usang, tetapi banyak yang berpartisipasi dalam operasi militer di Filipina, bahkan tetap bertahan sampai tahun 1944.
PENGALAMAN DI CHINA
Meskipun Jepang memulai dengan pengalaman perang lapis baja yang lebih sedikit daripada rekan-rekan Baratnya, hal itu berubah selama invasi ke China. Pada tanggal 17 Desember 1931, Jepang membentuk Kompi Tank ke-1 di Kurume—unit sementara yang terdiri dari tank-tank Renault FT-17 dan NC-27 dari dua batalyon tank yang sudah ada—dan mengirimkannya ke medan perang di Manchuria. Pengalaman tempur mereka ternyata berjalan antiklimaks. Dipimpin oleh salah satu komandan tank paling menjanjikan di Jepang, Kapten Shunkichi Hyakutake yang berusia 34 tahun, tank-tank tersebut hampir tidak menemui perlawanan saat mereka perlahan-lahan bergemuruh di belakang pasukan infanteri. Aksi terbesar kompi itu dalam kampanye tersebut, adalah dalam Pertempuran Harbin, yang hanya berlangsung 17 jam sebelum pasukan panglima perang (Warlord) China yang tidak terlatih dan tidak termotivasi meninggalkan kota. Kurang dari sebulan kemudian, ketika kerusuhan anti-Jepang meningkat menjadi konfrontasi militer skala penuh di Shanghai, tentara Jepang mengirim kompi tank kedua—kali ini dengan lima unit tank Tipe 89 I-Go yang diproduksi di dalam negeri bersama dengan tank-tank Renault lama—untuk memperkuat pertahanan. Pasukan pendaratan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang terkepung di sana. Kompi Tank ke-2, yang dikomandani oleh rekan Hyakutake, Kapten Isao Shigemi, 37 tahun bernasib buruk di kota padat Shanghai, di mana pasukan infanteri China dapat dengan mudah menghentikan tank-tank Jepang di jalan-jalan sempit kota.


Performa yang tidak memuaskan ini bagaimanapun bukan berasal dari ketidakmampuan teknis tetapi kelemahan taktik. Periode antar perang telah memunculkan banyak hipotesis tentang bagaimana tank harus digunakan di medan perang modern — tetapi hanya memberikan sedikit kesempatan untuk mengujinya. Ahli teori militer mengusulkan doktrin yang sangat berbeda dan pada awal tahun 1930-an, dimana filosofi perang lapis baja sebagian besar dibagi ke dalam dua aliran pemikiran — Inggris dan Prancis. Banyak ahli teori militer Inggris, termasuk Mayor Jenderal J. F. C. Fuller dan Kapten B. H. Liddell Hart, menganjurkan pasukan lapis baja sebagai pasukan independen, dengan kekuatan gabungan senjata mekanis sebagai tulang punggung pasukan kecil mobile yang berpusat di sekitar tank. Sebaliknya, sebagian besar jenderal Prancis (kecuali jenderal masa depan Charles de Gaulle) bersikeras mempertahankan tentara yang berbasis infanteri gaya Perang Dunia I, dimana mereka menggunakan tank terutama sebagai unit pendukung pasukan infanteri. Alih-alih terkonsentrasi, kendaraan lapis baja akan disebar di antara formasi pasukan infanteri garis depan. Dengan Jepang sebagai importir utama tank Prancis, wajar saja bagi Jepang untuk mengadopsi doktrin dukungan infanteri Prancis. Selama tahun-tahun antar-perang, kekuatan Eropa tidak dapat menentukan teori mana yang benar, tetapi ketika Panzerwaffe Heinz Guderian dengan konsep senjata gabungan model Inggris akhirnya bentrok dengan tentara Prancis pada tahun 1940, jawabannya menjadi jelas. Seandainya saja orang-orang Eropa melihat ke timur ke Jepang, mereka bisa mendapatkan jawaban mereka lebih cepat.


Pada tahun 1933, IJA telah menciptakan tiga unit tank pertamanya, Resimen tank ke-1 dan 3 di Kurume dan Resimen ke-2 di Sekolah Tank Chiba. Pada tanggal 21 Februari 1933—saat Jepang mengamankan daerah yang direbutnya di Manchuria dan terus perlahan-lahan merambah wilayah China lainnya—Jepang melepaskan serangan besar, dalam Pertempuran Rehe, yang bertujuan untuk merebut provinsi Mongolia Dalam di utara Beijing. Pasukan Jepang membuat tentara panglima perang China yang tidak siap melarikan diri, tetapi Letnan Jenderal Yoshikazu Nishi, komandan Divisi ke-8 Angkatan Darat, menyadari bahwa pasukan infanteri tradisionalnya tidak akan mampu mengejar dan mengalahkan tentara China sebelum mereka membentuk garis pertahanan baru. Namun, yang dia miliki adalah Kompi Tank ke-1 yang sekarang sudah berpengalaman, terdiri dari 11 tank Tipe 89 dan dua mobil lapis baja berat Tipe 92, bersama dengan 100 atau lebih truk dan mobil lapis baja dari Kwantung Army Automobile Group. Nishi tahu cara untuk berimprovisasi. Pada tanggal 1 Maret, ia memerintahkan Mayor Jenderal Tadashi Kawahara dan Grup Tempur Kawahara—sebuah formasi ad-hoc yang terdiri dari Kompi Tank ke-1, sebuah kompi artileri gunung, sebuah kompi zeni, satu regu komunikasi radio, dan dua batalyon infanteri—untuk mengeksploitasi terobosan awal dan maju di depan kekuatan utama pasukan Jepang menuju Chengde, ibukota provinsi, untuk mengganggu pertahanan tentara China. Tank dan truk dari Battle Group Kawahara melaju ke depan di jalan raya Jinzhou-Chaoyang. Pasukan China, yang masih ada perlahan mundur ke garis pertahanan kedua, benar-benar lengah. Pertahanan mereka runtuh, dan Kompi Tank ke-1 melaju ke Chengde yang ditinggalkan pada tanggal 4 Maret, menempuh jarak 200 mil (321 km) yang menakjubkan—kira-kira sama dengan jarak dari perbatasan Belgia ke Paris—dalam waktu empat hari. Apakah Jenderal Nishi telah membaca teori senjata gabungan Liddell Hart sebelumnya mungkin tidak akan pernah diketahui, tetapi apa yang dia lakukan di jalan bergelombang di China utara telah mewujudkan impian ahli teori militer Inggris itu tentang doktrin tempur senjata gabungan yang berpusat pada tank. Hasilnya adalah kemenangan mekanis yang brilian melawan pasukan infanteri tradisional, dan secara signifikan, satu kesuksesan perang lapis baja yang digunakan jauh sebelum militer Jerman melakukannya.



Kemenangan di Rehe akhirnya memberi perwira pro-tank kekuatan untuk mendorong pembentukan formasi lapis baja terkonsentrasi dan mekanisasi senjata gabungan. Pada bulan Maret 1934, seruan mereka akhirnya dijawab dengan dibentuknya Brigade Campuran Independen ke-1 Angkatan Darat, yang terutama dilengkapi dengan tank Tipe 89 dan 94. Terdiri dari dua batalyon tank, satu resimen infanteri, satu batalyon artileri, dan satu kompi zeni, Brigade Campuran Independen ke-1 adalah formasi senjata gabungan operasional pertama Jepang—dan, dalam hal ini, contoh operasional awal dari apa yang telah diuji oleh kekuatan militer negara-negara Barat (kebanyakan di game-game perang pada masa damai). Ketika Perang China-Jepang Kedua meletus pada tahun 1937, Jepang segera mengirim brigade ini ke Provinsi Chahar di China utara sebagai bagian dari Pasukan Ekspedisi pimpinan Letnan Jenderal Hideki Tojo. Operasi berikutnya, bagaimanapun, adalah bencana. Tidak seperti Yoshikazu Nishi, Tojo—yang kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang selama sebagian besar masa Perang Dunia II—adalah seorang infanteri tradisionalis yang gigih, tanpa niat untuk bereksperimen dengan doktrin yang berpusat pada tank. Menurut kaum tradisionalis, pasukan China tidak memiliki tank dan hanya sedikit dilengkapi dengan senjata antitank yang mumpuni, jadi tank-tank ini berfungsi sebagai pillbox bergerak dan memberikan dukungan infanteri. Mengabaikan protes berulang-ulang dari komandan Brigade Campuran Independen ke-1 Mayor Jenderal Koji Sakai, Tojo membubarkan brigade tank dan batalyon infanteri-nya untuk memperkuat unit infanteri lainnya—meniadakan fungsi formasi lapis baja yang terkonsentrasi. Sakai berulang kali menemukan brigadenya ‘ditelanjangi’, dengan menyisakan hanya satu kompi zeni di bawah komandonya. Bahwa Sakai berani mengutuk senpai Akademi Angkatan Darat Kekaisaran Jepang itu sebagai “orang bodoh”—tindakan yang mengejutkan mengingat budaya sopan santun dan rasa hormat yang ketat di Jepang—dapat dimengerti. Memperburuk situasi, sebagian besar komandan infanteri unit lapis baja tidak tahu cara menggunakan kendaraan mereka secara efektif. Bahkan dalam peran pendukung infanteri, Brigade Campuran Independen ke-1 tampil buruk. Sebuah analisis pasca-pertempuran oleh Sekolah Tank Angkatan Darat Chiba menunjukkan bahwa selama Operasi Chahar dan serangan ke arah barat selanjutnya ke pedalaman Provinsi Shanxi, unit-unit lapis baja sering “digunakan dengan persiapan yang tidak memadai, dalam kondisi basah dan berlumpur, tanpa dukungan atau koordinasi dengan unit artileri. ”



Pasukan China yang melawan, termasuk dari pasukan elit Angkatan Darat Tengah, yang memiliki kemampuan anti-tank yang jauh lebih baik daripada tentara panglima perang lokal yang pernah dihadapi tentara Jepang sebelumnya. Selama Pertempuran Xinkou pada bulan Oktober 1937, komandan Divisi ke-5 memerintahkan Batalyon Tank ke-4 untuk menyerang secara frontal posisi anti-tank China yang bercokol di Yuanping. Dalam serangan yang menentukan itu, pasukan China yang menembakkan senjata anti-tank kaliber 37mm Pak 35/36 buatan Jerman membantai tank-tank ringan dengan lapisan baja tipis milik batalion, yang menewaskan tiga dari lima komandan kompi—di antaranya, sosok yang sedang naik daun, yakni Shunkichi Hyakutake. (Rekannya Isao Shigemi bernasib sedikit lebih baik, hidup melalui perang dan naik ke pangkat mayor jenderal, sampai dia mengendarai tanknya dalam serangan bunuh diri melawan tentara Amerika selama Pertempuran Luzon pada tahun 1945.) Meskipun Tojo dan rekan-rekan perwira infanterinya terutama harus disalahkan atas kinerja brigade yang buruk di China utara, pihak Angkatan Darat Jepang menganggap eksperimen taktik tempur senjata gabungannya sebagai kegagalan. Pada bulan Agustus 1938, Angkatan Darat Jepang menarik sebagian besar tank Brigade Campuran Independen ke-1, yang secara efektif membubarkan unit tersebut. Namun, kekuatan lapis baja Jepang terus berkembang, dengan Tomio Hara dan timnya merancang tank yang lebih baru dan lebih berat. Tapi tidak ada pembicaraan yang lebih serius tentang pembentukan formasi tank terkonsentrasi; sehingga nasib pasukan lapis baja sebagai unit pendukung yang tersebar dan bawahan telah dipastikan—keputusan yang disambut baik oleh banyak jenderal infanteri. Seperti kebanyakan negara Barat, hambatan terbesar Jepang untuk meningkatkan kekuatan lapis baja bukanlah kurangnya sumber daya atau sanksi dari negara luar, tetapi dari skeptisisme dan perlawan golongan tradisionalis di dalam Angkatan Bersenjata-nya sendiri yang tidak memahami inovasi atau ingin melihat cabang senjata baru bersaing melawan mereka. Di Barat, bagaimanapun, pasukan lapis baja akhirnya berhasil menebus diri mereka sendiri sebagai komponen utama dari senjata gabungan tank-infanteri-artileri modern. Di Jepang, penebusan itu terjadi sangat terlambat. Pada tahun 1937, 8 resimen tank telah dibentuk, dengan total 1.060 kendaraan. Pada bulan Juli tahun yang sama, tiga belas kompi tankette (dengan empat peleton masing-masing terdiri dari empat tankette) dikirim ke China. Jalan yang buruk dan medan umum di Manchuria adalah tempat pembuktian bagi banyak desain tank, di mana mesin, suspensi, trek, dan transmisi diuji secara menyeluruh. Dari tahun 1938-1942, sebagian besar unit tank Jepang beroperasi di bawah komando divisi infanteri tradisional. Kadang-kadang pihak Angkatan Darat secara longgar mengorganisir beberapa resimen tank dan unit infanteri dan artileri dalam jumlah terbatas ke dalam sensha dan, atau kelompok tank, tetapi mereka tidak permanen atau independen. Sebaliknya mereka berfungsi lebih seperti unit cadangan operasional, dengan unit dikirim ke garis depan setiap kali pasukan infanteri membutuhkan kekuatan mobile yang besar.



PERANG DUNIA II
Pada tahun 1938, dua Senshadan (1 dan 3) atau kelompok tank, dibentuk untuk mengontrol perbatasan Manchuria dengan Uni Soviet. Hanya setelah mengalami kekalahan memalukan pada bulan Mei-September 1939 oleh Tentara Merah pimpinan Jenderal Georgy Zhukov di Nomonhan—dikenal Soviet sebagai Pertempuran Khalkhin Gol—dan kemudian menyaksikan kekuatan destruktif Blitzkrieg Jerman di Eropa Barat pada bulan Mei-Juni 1940 barulah Orang-orang Jepang kembali mempertimbangkan mekanisasi dari unit senjata gabungan. Di Khalkhin Gol Pasukan Jepang dikalahkan oleh tank yang lebih baik dan taktik Soviet yang lebih agresif. Para jenderal, yang awalnya selalu melihat tank terutama sebagai sarana untuk menawarkan dukungan kepada infanteri, mulai melihat potensi mereka sebagai kekuatan tempur independen. Resimen Tank ke-3 dan ke-4 di Manchuria dilengkapi dengan semua model tank Jepang yang beroperasi saat itu. Menghadapi tank-tank Jepang, tank-tank Soviet jenis BT-5 dan BT-7 memakai meriam kaliber 45 mm dengan penetrasi tinggi yang awalnya digunakan pada kapal-kapal perang angkatan laut. Kecepatan tembak meriam ini sekitar dua kali lebih cepat dari meriam tank-tank Jepang. Dalam pertempuran mereka kehilangan 42 tank dari 73 tank yang dimilikinya, sedangkan Rusia kehilangan 32 tank BT. Setelah beberapa keberhasilan awal, tank-tank Jepang dikepung dan dihancurkan. Kegagalan ini memicu banyak perubahan dalam pemikiran taktis Angkatan Darat Jepang dan, sebagai tanggapan terhadap tank-tank Soviet, beberapa senjata antitank baru dan model tank baru dirancang. Jenderal Tomoyuki Yamashita lalu dikirim ke Jerman untuk mempelajari taktik Wehrmacht dan doktrin perang lapis baja. Dia kemudian membuat laporan penuh dengan rekomendasi untuk pembuatan tank medium baru dan peralatan infanteri yang lebih baik untuk melawan tank. Pada bulan April 1941, Angkatan Darat Jepang mendirikan Markas Besar Mekanisasi, yang didedikasikan untuk studi dan implementasi peperangan semacam itu. Pada bulan itu juga, unit lapis baja menjadi satuan independen, dengan Jenderal Shin Yoshida sebagai panglima tertinggi pertama. Pasukan tank di militer Kekaisaran Jepang terutama di bawah komando Angkatan Darat Jepang, dan bukan Angkatan Laut.



Pada masa awal Perang Pasifik, dalam pertempuran melawan pasukan Sekutu, tentara Jepang menggunakan tank ringan dan sedang, serta tankette, untuk mendukung pasukan infanteri dalam serangan frontal langsung. Setelah pasukan infanteri mencapai tujuannya, tank-tank ditarik tanpa berusaha memanfaatkan keuntungan yang terbatas. Di Malaya, tank-tank dipakai kemanapun jika pasukan infanteri tidak mampu bergerak maju. Tank-tank biasanya berusaha untuk memaksa membuka jalan bagi pasukan infanteri dengan melancarkan serangan frontal. Jika ini gagal, tank-tank akan dikirim ke sisi pasukan musuh. Namun, terkadang tank-tank Jepang menyerang dengan bergerak langsung di jalanan dengan infanteri mengikuti dengan truk. Kecuali pemblokiran jalan yang efektif disiapkan oleh pasukan Sekutu, tank-tank Jepang akan menyerang posisi artileri dan instalasi musuh lainnya sejauh 8 sampai 10 mil (12-16 km) di belakang posisi utama pasukan Sekutu. Ketika sebuah pemblokiran jalan ditemui, tembakan dari tank digunakan untuk menyerang di sisi-sisi pasukan lawan dengan taktik infiltrasi. Selama fase ini hanya sedikit operasi yang melibatkan tank Sekutu bertempur secara langsung melawan kendaraan-kendaraan lapis baja Jepang. Pada tanggal 24 Juni 1942, Jepang membentuk tiga divisi tank di China utara. Pada tanggal 4 Juli, divisi Tank ke-1 dan 2 bergabung dengan Brigade Tank Demonstrasi elit untuk membentuk unit Angkatan Darat Mekanis di Manchuria. Tampaknya Jepang akhirnya siap untuk mengaplikasikan konsep perang lapis baja. Namun, kenyataan tidak mendukung hal itu. Setiap divisi tank harusnya memiliki empat resimen tank, satu resimen infanteri, dan satu resimen artileri, dengan berbagai unit khusus (semuanya mekanis) yang ditambahkan. Tetapi divisi-divisi itu tidak pernah menerima cukup kendaraan pengangkut atau truk lapis baja; beberapa resimen terpaksa mengandalkan kuda untuk alat transportasi. Paling-paling, mereka hanya dapat dianggap sebagai semi-bermotor. Kemudian dengan penandatanganan Pakta Netralitas Soviet-Jepang pada tanggal 13 April 1941, dan serangan terhadap Pearl Harbor hanya kurang dari delapan bulan setelah itu, Angkatan Darat Jepang telah kehilangan prioritas produksi alat militer dari musuh bebuyutannya, angkatan laut Jepang. Di sisi lain tank-tank Jepang juga tidak dapat bertahan melawan lawan-lawan Sekutu mereka. Tipe 97-Kai Shinhoto Chi-Ha, tank terberat yang tersedia untuk divisi tersebut, berbobot 15,8 ton, memiliki meriam kaliber 47mm berkecepatan tinggi, dan hanya dilindungi oleh sekitar satu inci (25 mm) lapisan baja pada bagian paling tebalnya. Sebagai perbandingan, tank menengah M4A3 Sherman asal Amerika memiliki berat 33 ton, memiliki meriam utama kaliber 75mm, dan setidaknya 2,5 inci (63 mm) lapisan baja di bagian depan.


Kemudian dengan perang darat melawan Uni Soviet untuk sementara tidak mungkin terjadi dan konflik China-Jepang menemui jalan buntu, tidak ada lagi keperluan untuk membentuk formasi lapis baja besar di daratan Asia pada tahun 1930-an. Tak lama, Angkatan Darat Jepang menarik resimen demi resimen dari divisi tank untuk memperkuat medan perang selatan, akhirnya mereka membubarkan Angkatan Darat Mekanis sama sekali pada tanggal 30 Oktober 1943. Lebih jauh lagi, hutan-hutan Indochina dan pulau-pulau Pasifik secara alami tidak cocok untuk operasi lapis baja skala besar, dan jumlah tank yang relatif kecil membuat pasukan lapis baja Jepang sekali lagi menjadi unit pendukung pasukan infanteri. Tank-tank dikerahkan hanya di beberapa wilayah operasi skala besar, jika mereka dinilai bisa efektif dalam taktik gaya blitzkrieg. Ini termasuk di wilayah China, Filipina, Burma, Indonesia (Jawa), sementara beberapa tersebar untuk mendukung unit infanteri di Okinawa, Iwo Jima dan beberapa pulau lainnya. Jepang memiliki dua operasi penggunaan kendaraan lapis baja terkonsentrasi yang berhasil secara operasional selama perang, yakni dalam Kampanye Malaya di bulan Desember 1941-Januari 1942 dan Operasi Ichi-Go di bulan April-Desember 1944 di China timur dan selatan. Meskipun pihak Angkatan Darat juga mengerahkan tank di Filipina, kinerja mereka di sana jauh dari sukses. Ketika situasi militer Jepang memburuk dan pasokan bahan bakar berkurang, banyak komandan infanteri akhirnya terpaksa menggunakan tank sebagai artileri dan pertahanan statis. Pada tanggal 22 Desember 1941, dekat Damortis, di pulau Luzon (Filipina) bentrokan pertama antara tank Jepang dan Amerika terjadi. Tank-tank Jepang berhadapan dengan tank-tank ringan M3 dan M2A4 dari Batalyon Tank ke-192 Amerika. Meriam tank Chi-Ha yang berkaliber 57 mm (2,24 in), yang saat itu merupakan tank garis depan terbaik Jepang, terbukti tidak berguna melawan tank-tank Amerika. Di Burma, saat melawan tank ringan kelas dua dan tiga, dan sedikit tank Stuart dari Resimen Tank Kerajaan ke-2, tank-tank Jepang terbukti tidak lebih baik. Pada tahun 1943, SNLF, atau Kekuatan Lapis Baja Angkatan Laut Jepang, menerima tank amfibi pertamanya, seperti tank Ka-Mi. 223 unit tank ini akan dibuat sampai tahun 1945. Jerman diketahui juga telah mengirim dua tank Panzer III ke Jepang, yang diikuti kemudian dengan desain-desain tank mereka yang lebih maju. Namun, program upgradelambat datangnya dan pengembangan tank gaya Jerman yang benar-benar efektif tidak pernah benar-benar terwujud. Hanya sedikit dari tank tipe baru ini yang diselesaikan pada tahun 1945, dan banyak prototipe tidak pernah masuk lini produksi. Kekurangan bahan dan bensin, kapasitas industri Jepang terhambat sampai pada titik inefisiensi total. Tank terakhir yang dibuat dialokasikan ke unit pertahanan dalam, menunggu invasi (operasi Olimpyc), yang tidak pernah datang.


Sementara itu tank-tank Jepang di Manchuria juga tidak bernasib lebih baik. Ketika Soviet menginvasi Manchuria pada Agustus 1945, awalnya mereka menemukan kekuatan tank Jepang yang mengesankan, setidaknya di atas kertas, tetapi jurang yang dalam ternyata memisahkan kualitas tank-tank Jepang dan Soviet. Yang terakhir terus-menerus meningkatkan kualitas tank mereka dalam menanggapi tank-tank Jerman, dan jauh lebih baik dalam kecepatan, daya tembak dan perlindungan daripada rata-rata tank Jepang, yang ringan dan/atau usang menurut standar manapun saat itu. Ketika tiga front Tentara Merah yang dipelopori oleh tank-tank T-34/85 dan pesawat serang Ilyushin Il-10 Sturmovik melintasi perbatasan Mongolia-Uni Soviet-Manchukuo pada tanggal 9 Agustus 1945, divisi tank Jepang yang lemah pada dasarnya “menguap” di hadapan Manuver penjepit lapis baja besar-besaran Angkatan Darat Tentara Merah. Pada pagi berkabut tanggal 18 Agustus, tiga hari setelah pengumuman penyerahan Jepang, Kolonel Sueo Ikeda memimpin 40 atau lebih tank Tipe 97 dan Tipe 95 dari Resimen Tank ke-11 dalam serangan balasan melawan pasukan pendudukan Soviet yang mendarat di pulau Shumshu Jepang, di rantai Kepulauan Kuril. Sedikit catatan resmi yang tersedia dan tidak jelas apakah agresi Soviet, keputusasaan Jepang, atau hanya kesalahpahaman diantara keduanya yang memicu pertempuran. Hasilnya, bagaimanapun, tidak ambigu: Sementara Jepang membunuh atau melukai lebih dari 1.500 tentara Soviet, senjata anti-tank Soviet menghancurkan setengah dari tank resimen Jepang, membantai Ikeda dan anak buahnya—dan di sini kisah pasukan lapis baja Kekaisaran Jepang mencapai titik akhir yang menyedihkan.



RESUME TANK JEPANG
Tentara Jepang pada dasarnya menggunakan tiga kategori tank selama Perang Dunia Kedua, yakni Tankette (tank mini), Tank Ringan, dan Tank Medium. Hampir semua kendaraan ini, terlepas dari kategorinya, berukuran agak kecil menurut standar barat. Kompartemen tempurnya juga cenderung sempit, bahkan untuk tubuh yang lebih kecil dari rata-rata orang Jepang (ada yang menyebut bahwa tinggi rata-rata statistik untuk rekrutan yang diterima di Angkatan Darat Jepang selama Perang Dunia II adalah lima kaki tiga inci atau sekitar 164 cm). Sementara tank Jepang kecil, berlapis baja ringan, dan lemah senjatanya bernasib buruk melawan tank-tank utama Sekutu, perbedaan ini tidak mencerminkan kurangnya pengetahuan Jepang. Sebagian besar tank yang diproduksi Jepang selama tahun 1930-an sebelum perang memiliki kualitas yang setara dengan desain Barat di masa itu. Angkatan Darat Jepang sendiri tidak berencana untuk berperang di padang rumput terbuka Rusia selatan atau kawasan pagar tanaman Normandia, di mana konfrontasi tank versus tank sering terjadi, disamping Lawan Eropa relatif dekat dengan basis kekuatan mereka sendiri. Perang yang dihadapi Jepang akan terjadi di belahan dunia lain, di Asia dan di berbagai pulau Pasifik. Di sini lawannya adalah negara-negara Asia independen atau semi-independen lainnya, yang hanya akan memiliki sedikit armada kendaraan lapis baja ringan (atau malah tidak punya sama sekali) atau kekuatan kolonial barat, dari negara-negara Eropa yang sudah terlibat dalam perang yang memakan tenaga habis-habisan lebih dekat ke rumah mereka, yang semuanya akan bertempur pada jarak yang sangat jauh dari tanah asal mereka, dimana jalur pasokan akan sangat panjang. Mayoritas tank Jepang memiliki lapis baja ringan karena sepanjang paruh pertama Perang Dunia II, musuh utama Jepang adalah China yang tidak dilengkapi dengan baik—di mana kemampuan anti-tank pasukan infanterinya sering kali sama dengan serangan bunuh diri dengan granat tongkat yang dibundel. Selama pertengahan 1930-an, “aksi tank” Jepang di China terutama melawan pasukan infanteri lawan karena Tentara Revolusioner Nasional China hanya memiliki tiga batalyon tank yang terdiri dari tank ekspor Vickers dari Inggris, tank ringan PzKpfw I Jerman, dan tankette CV33 asal Italia. Selain beberapa kasus yang jarang terjadi, pertempuran tank-versus-tank juga tidak ada, jadi Jepang tidak membutuhkan tank berlapis baja tebal dan bersenjata besar. Dalam kondisi ini, kualitas teknis tank Jepang sering kali dinomorduakan dari fakta bahwa mereka memiliki tank yang tersedia, dan karena (setidaknya selama periode penaklukan Jepang di bagian awal perang) kepemilikan tank saja sering terbukti menjadi keuntungan besar, karena musuh mereka tidak memilikinya. Disamping itu tank-tank Jepang memang harus tetap ringan untuk bisa melintasi medan pegunungan dan infrastruktur terbatas di wilayah China selatan. Jepang memang sempat memproduksi tank yang lebih berat dalam jumlah terbatas yang dirancang untuk melawan ancaman baru Sekutu—misalnya, Tipe 3 Chi-Nu, dengan meriam kaliber 75mm. Tapi pihak Angkatan Darat menahan tank itu karena menganggapnya sebagai peralatan tempur berharga untuk mempertahankan daratan Jepang, bersama dengan Divisi Tank ke-4 yang elit, yang didirikan pada tahun 1944, untuk Hondo-Kessen—”pertempuran terakhir untuk pulau utama Jepang” yang, kenyataannya tidak pernah terjadi.

Harus dikatakan pula bahwa Jepang tidak pernah memiliki kapasitas untuk mengembangkan produksi persenjataan skala besar, setidaknya sebanding dengan kekuatan negara-negara barat. Bahkan selama perang, blokade angkatan laut AS, yang sebagian besar dilakukan oleh Angkatan Udara Angkatan Laut AS dan kapal selam, mulai terasa pada tahun 1943. Pada akhir tahun 1944, Jepang kehilangan semua jenis sumber daya industri, yang sebelumnya mereka ambil dari Asia Tenggara, dan industri mereka terus-menerus dihantam oleh gerombolan pengebom B-29 yang beroperasi dari China, dan kemudian dari Iwo Jima dan Okinawa. Upaya produksi harus dibagi antara kebutuhan Angkatan Darat dan Angkatan Laut, yang mengarah ke banyak spesifikasi dan banyak kendaraan yang diusulkan, hampir semuanya tidak pernah melampaui tahap prototipe atau pra-seri. Sepanjang periode 1931-45, Jepang membuat hampir 6.500 tank dari segala jenis (Mitsubishi, perusahaan terpenting dalam produksi tank Jepang, membuat 3.300, atau lebih dari setengahnya). Jumlah itu mungkin tampak tidak berarti jika dibandingkan dengan produksi tank dari beberapa negara kombatan lainnya – misalnya, Jerman membangun lebih dari 20.400 tank tempur dengan berat lebih dari sepuluh ton saja (dan 14.000 senjata self-propelled lainnya), Amerika memproduksi sekitar 49.000 tank Sherman – belum lagi jenis tank yang lain! Kemudian pada tahun 1942-45, Soviet memproduksi sekitar 40.000 T-34 saja antara tahun 1940-45, dan Inggris membuat 8.600 tank dari semua model dalam satu tahun, yakni 1942. Tetapi kekuatan Poros lainnya, Italia, sebagai pembanding cuma mampu menyelesaikan produksi hanya sedikit lebih dari 2.000 tank tempur dengan bobot lebih dari sepuluh ton selama perang, dan mungkin tambahan 2.500 tank ringan dan tankette. Dan orang-orang Italia yang malang itu memang terlibat dalam konflik sengit pada tahun 1940-42 di sebuah medan (Afrika Utara) di mana tank sering kali menjadi senjata yang menentukan, dan di mana peluang pertempuran tank-lawan-tank cukup besar. Lebih penting lagi, meskipun produksi keseluruhan relatif sedikit, tank-tank Jepang muncul di sejumlah besar medan perang di seluruh Asia dan Pasifik. Dan, seperti yang diuraikan diatas, mereka sering memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kemenangan di periode kesuksesan terbesar militer Jepang pada masa awal perang. Dengan fakta-fakta ini signifikansi mereka dalam konflik di Timur Jauh mungkin telah banyak diremehkan.
SEKILAS JENIS-JENIS KENDARAAN TEMPUR LAPIS BAJA JEPANG
Berikut ini adalah jenis-jenis kendaraan tempur lapis baja yang banyak digunakan Jepang selama Perang Dunia II
Type 87
Type 87 adalah salah satu kendaraan tempur lapis baja standar pertama di Jepang. Setidaknya selusin mobil lapis baja Vickers-Crossley ini dibeli dari Inggris pada akhir 1920-an. Mereka sebagian besar bertugas dalam aksi pendudukan di Shanghai, China pada tahun 1932, dimana terdapat jaringan jalan yang baik.

Tipe 97 Te-Ke
Tankette utama Jepang selama Perang Dunia II adalah Tipe 97, yang juga dikenal sebagai “Te-Ke” (dipercaya ini adalah fonetik Jepang dari singkatan “TK” untuk “tankette“). Ini adalah kendaraan kecil, dengan bobot empat setengah ton, dengan dua awak – pengemudi di lambung dan penembak, yang juga komandan kendaraan, di turret. Persenjataan normalnya di turret itu adalah meriam tunggal kaliber 37mm. Tipe 97 tidak membawa senapan mesin, meskipun ada varian di mana senapan mesin 7,7 mm dipasang menggantikan meriam 37 mm, sebagai satu-satunya senjata tankette ini. Namun, versi dengan meriam tampaknya yang paling umum dijumpai, setidaknya pada saat Pearl Harbor diserang. Lapisan baja dari Type 97 memiliki ketebalan sekitar dua pertiga inci (16mm) di permukaan depannya, di tempat lain (seperti perutnya) jauh di bawah ketebalan seperempat inci (4mm). Dengan kecepatan di jalanan yang cukup tetapi tidak spektakuler sekitar 25 mil per jam (42 km/jam), kendaraan ini bukanlah mesin tempur yang kuat. Meskipun demikian, Tipe 97 terbukti sangat serbaguna. Seperti disebutkan, peran awalnya seharusnya pengintaian, tetapi seringkali tankette kecil ini dipaksa bertempur dalam peran pendukung infanteri, memimpin atau mengikuti kelompok infanteri dalam serangan sebagai pengganti tank biasa untuk melakukan fungsi itu. Beberapa tankette Tipe 97 juga digunakan sebagai pos pengamatan garis depan lapis baja, serta sering digunakan oleh pengamat artileri maju. Oleh karena itu, Type 97 Te-Ke tidak hanya digunakan untuk peran dukungan infanteri, namun juga sebagai semacam unit kavaleri lapis baja, dan peran bantu artileri, bahkan juga digunakan dalam tugas-tugas pasokan. Kendaraan itu agak banyak digunakan sebagai pengangkut amunisi lapis baja garis depan (Jepang bahkan membangun sebuah trailer kecil dari Tipe 97 dalam peran ini). Karena keserbagunaan dan kegunaannya secara umum, Tipe 97 ditemukan hampir di mana-mana tentara Jepang bertempur selama Perang Dunia II, tetapi jarang ditemui dalam jumlah besar.

Tipe 89 I-Go/Chi-Ro
Tipe 89 adalah tank produksi pertama Jepang. Desain tank ini sangat terinspirasi oleh desain tank Vickers Medium Mark C yang dibeli Jepang dari Inggris pada tahun 1927. I-Go adalah tank medium pertama di Jepang dan mengalami banyak proses desain ulang selama masa produksinya. Meskipun ketinggalan jaman, tank ini digelar di keseluruhan masa Perang Dunia Kedua. Tank ini berbobot 12,79 metrik ton dan diawaki 4 orang. Lapisan armornya antara 6 hingga 17 mm (0,24–0,67 inci). Sebagai persenjataan utama Tipe 89 dilengkapi dengan meriam kaliber 57 mm Tipe 90 dengan persediaan amunisi 100 peluru. Meriam tank Type 90 kaliber 57 mm memiliki panjang laras 0,85 meter (33 in) (L14,9) dengan elevasi sudut penembakan 15 hingga +20 derajat, Azimuth 20 derajat, kecepatan larasnya 380 m/detik (1.200 ft/s), dan dapat menembus lapisan armor 20 mm pada jarak 500 m (0,8 in/550 yd). Selama tahap akhir Perang Dunia II, peluru HEAT dikembangkan untuk memberikan penetrasi yang lebih besar melawan kendaraan lapis baja musuh. Untuk persenjataan sekunder, terdapat 2 senapan mesin Tipe 91 kaliber 6,5 mm yang dipasang di bagian lambung, turret belakang dengan 2.745 peluru. Tank ini memiliki jangkauan operasional 170 km (110 mil) dan kecepatan maksimum 26 km/jam (16 mph).

Tipe 95 Ha-Go
Ha-Go adalah tank ketiga yang diproduksi oleh Jepang tetapi menjadi tank ringan pertama dan satu-satunya yang diproduksi secara massal di sana. Tank ini juga tercatat sebagai yang pertama menggunakan suspensi ‘bell-crank‘. Ha-Go adalah tank terakhir dari sistem penamaan “Iroha-Go“, dan tank Kekaisaran Japan yang paling banyak diproduksi. Sekitar 2.300 dari tank ini dibuat. Meskipun bertugas sangat efektif pada tahap awal perang di Manchuria dan Pasifik (ukurannya yang kecil membuatnya sempurna untuk peperangan di kepulauan), Ha-Go sudah ketinggalan zaman ketika Amerika Serikat, dengan tank seperti M4 Sherman memasuki gelanggang perang. Ha-Go melahirkan beberapa varian selama masa dinasnya. Varian ini termasuk Tipe 4 Ke-Nu (Ha-Go dengan turret tank Chi-Ha versi awal), Tipe 3 Ke-Ri (calon pengganti Ha-Go), dan Tipe 5 Ho-Ru (prototipe penghancur tank dengan meriam kaliber 47mm). Ha-Go juga merupakan satu-satunya tank Jepang era Perang Dunia II yang turut bertugas di Angkatan Darat negara lain. Ha-Go akan dikenal sebagai tank Tipe 83 di militer Thailand. Ha-Go memiliki bobot 7,4 ton dan panjang 4,38 m, Lebar 2,06 m (6 kaki 9 inci), dan tinggi 2,13 m (7 kaki 0 inci). Tank ini diawaki oleh 3 orang. Di lambung, pengemudi dan penembak senapan mesin duduk berdampingan (jika tank itu memiliki radio, karena hanya sedikit tank Jepang yang dilengkapi radio sebelum akhir tahun 1942, dalam kasus ini penembak di lambung juga menjadi operator radio). Kru ketiga berada di turret, yang memiliki meriam kaliber 37mm yang dipasang di depan, dan senapan mesin kedua berkaliber 7,7mm tank di belakang, di dudukan berbentuk bola (karenanya dibidik dengan tangan oleh awak di turret). Oleh karena itu, kru di turret memiliki banyak tugas untuk membuatnya selalu sibuk. Ha-Go dipersenjatai dengan meriam Tipe 94 (1934) kaliber 37 mm. Meriam ini memiliki elevasi antara 15 hingga +20 derajat. Ha-Go tercatat membawa dua jenis amunisi kaliber 37 mm, yakni tipe high-explosive dan armor-piercing (penembus baja). Untuk yang terakhir, kecepatan larasnya adalah 580 m/detik (1.900 ft/s) dan penetrasi armor-nya adalah 36 mm (1,4 in) pada jarak 275 m (902 ft). Sebagai persenjataan sekunder Ha-Go dilengkapi dengan 2 senapan mesin Tipe 97 kaliber 7,7 mm. Tank ini memiliki jangkauan operasional jangkauan 209 kilometer dan kecepatan maksimumnya di jalan raya mencapai 45 km/jam (28 mph). Fitur terbaik dari Ha-Go adalah mobilitasnya, dengan mampu melaju hingga kecepatan 28 mph di jalan yang bagus. Lebih jauh lagi, ada satu bidang desain di mana Jepang melakukan hal yang benar, dan itu adalah dalam penggunaan mesin diesel untuk tank tempur mereka, termasuk Tipe 95. Ini mungkin tampak logis di negara yang memulai perang terutama karena perselisihan mengenai pasokan minyak.

Type 97 Chi-Ha & Chi-Ha Kai
Type 97 Chi-Ha adalah Tank Medium Jepang berikutnya setelah I-Go dan menjadi tulang punggung kekuatan lapis baja Jepang selama Perang Dunia II. Kendaraan mulai beroperasi pada tahun 1939-40. Awalnya, tank ini dipersenjatai dengan meriam Tipe 97 kaliber 57mm berkecepatan rendah. Meskipun meriam ini adalah senjata pendukung pasukan infanteri yang baik, meriam ini seperti howitzer berlaras pendek berkecepatan rendah tidak memadai ketika berhadapan dengan target berlapis baja. Dengan ini kemudian muncul kebutuhan akan meriam anti lapis baja yang lebih besar. Jawabannya adalah Chi-Ha Shinhoto (“turret baru”), yang juga dikenal sebagai Chi-Ha Kai (“ditingkatkan”). Sederhananya, ini adalah varian upgrade yang menggantikan turret standar dengan yang turret lebih besar, yang dipersenjatai dengan meriam tipe 1 kaliber 47 mm yang baru. Meskipun daya tembak meriam ini lebih besar dibanding dengan tank seperti BT-5 Soviet atau M3/5 Stuart Amerika, meriam itu masih tidak cocok untuk dipakai melawan tank Sherman kecuali mereka menembak dari jarak dekat dan menyerang M4 dari samping. Sekitar 1.162 Chi-Ha sempat dibuat, ditambah dengan 930 versi upgrade Shinhoto/Kai. Chi-Ha diketahui berfungsi juga sebagai kendaraan dasar untuk banyak kendaraan lain, seperti SPG (meriam berpenggerak mandiri tipe Ho-Ni. Bobot Chi-Ha adalah 14,3 ton hingga 15,2 ton, dimana panjangnya 5,50 m (18 kaki 1 inci), lebar 2,33 m (7 kaki 8 inci), dan tinggi 2,21 m (7 kaki 3 inci). Tank ini diawaki oleh 4 orang. Chi-Ha dilindungi dengan lapisan baja setebal 8–25 mm (25 mm pada dudukan meriam). Persenjataan utama Chi-Ha adalah meriam tank tipe 97 kaliber 57 mm, dengan senjata sekunder berupa 2 senapan mesin kaliber 7,7 mm Tipe 97. Jangkauan operasionalnya adalah 210 km (130 mil) dan kecepatan maksimumnya 38 km/jam (24 mph). Sementara itu, pengganti dari Chi-Ha yang direncanakan adalah Tipe 1 Chi-He, tetapi hanya sejumlah kecil yang sempat dibuat dan mereka tidak pernah dipakai dalam dinas operasional.

Tipe 3 Chi-Nu
Chi-Nu adalah tank medium terakhir yang diproduksi massal di Kekaisaran Jepang. Hanya 144 hingga 166 tank ini yang sempat dibuat. Chi-Nu adalah tank medium pertama Jepang yang dipersenjatai dengan senjata anti-tank yang kuat. Dengan meriam kaliber 75mm Tipe 3, tank ini akan lebih dari mampu untuk menghadapi tank M4 Sherman Amerika. Seperti kebanyakan tank Jepang yang kemampuannya lebih baik, tank ini tidak pernah dipakai bertempur di Pasifik dan ditahan sebagai kekuatan cadangan untuk pertahanan pulau-pulau Jepang jika terjadi invasi Amerika yang tidak pernah datang. Chi-Nu berbobot 19 ton (21 ton), sementara panjangnya 5,64 m (18 kaki 6 inci), lebar 2,41 m (7 kaki 11 inci), tinggi 2,68 m (8 kaki 10 inci). Tank ini diawaki oleh 5 orang. Lapisan bajanya sekitar 20–50 mm. Sebagai persenjataan utama meriam tank kaliber 75 mm tipe 3 (L/38) digunakan. Meriam ini memiliki kemampuan penetrasi armor 90 mm pada jarak 100 m, 65 mm pada jarak 1.000 m. Persenjataan sekundernya adalah satu senapan mesin kaliber 7,7 mm Tipe 97. Tank ini memiliki jangkauan operasional 210 km (130 mil) dan kecepatan maksimum 39 km/jam (24 mph).

Tipe 2 Ka-Mi
Ka-Mi adalah salah satu dari banyak tank amfibi yang dikembangkan oleh Kekaisaran Japan. Ka-Mi, bagaimanapun, adalah satu-satunya yang sempat dipakai dalam pertempuran. Tank-tank dalam seri ini semuanya menggunakan komponen tambahan untuk memungkinkan mereka menjadi tank amfibi, seperti haluan dan buritan yang berbentuk seperti perahu. Begitu mendarat, kendaraan ini akan melepaskan komponen amfibinya dan beroperasi sebagai tank konvensional. Ka-Mi sangat berguna dalam kampanye militer lintas pulau dalam Perang Pasifik. Tank ini memasuki dinas operasionak pada awal tahun 1940-an, dan sekitar 184 sempat dibuat. Penggantinya yang direncanakan adalah Tipe 3 Ka-Chi yang berbasis Chi-Ha, dan Tipe 5 To-Ku berbasis Chi-Ri. Tank-tank pengganti ini tidak akan pernah meninggalkan fase prototipe. Ka-Mi memiliki bobot 12,3 ton (9,15 ton tanpa ponton flotasi), panjang 7,42 m (4,80 m tanpa ponton flotasi), lebar 2,79 m, tinggi 2,34 m, serta diawaki oleh 5 orang. Ka-Mi memiliki lapisan baja sekitar 6–12 mm di bagian depan. Ka-Mi dipersenjatai dengan meriam tank tipe 1 kaliber 37 mm dan senjata sekunder berupa 2 senapan mesin tipe 97 kaliber 7,7 mm. Jangkauan operasional Ka-Mi adalah 170 km (di darat) 140 km (saat berenang), sementara kecepatan maksimumnya 37 km/jam (di darat) dan 10 km/jam (saat berenang).

Tipe 1 Ho-Ni
Seri Ho-Ni Self-Propelled Gun (SPG) didasarkan pada tank medium Chi-Ha. Ini adalah salah satu dari sedikit kendaraan yang diterjunkan oleh Tentara Kekaisaran Jepang (IJA) yang dapat dengan cukup handal bisa menghadapi tank M4 Sherman. Ho-Ni berkaliber meriam 76 mm lalu disusul oleh Ho-Ni II yang dipersenjatai dengan Howitzer Tipe 91 kaliber 105mm, yang pada gilirannya, akan diikuti oleh Ho-Ni III yang dipersenjatai dengan Meriam kaliber 75mm Tipe 3, meriam yang sama dipakai oleh Chi-Nu.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
PRIDE BEFORE THE FALL: WHY JAPAN FAILED AT TANK WARFARE By JIAXIN “JESSE” DU; 2/27/2017
Tanks & Armored Vehicles of the Japanese Empire from 1918 to 1945
https://www.google.com/amp/s/tanks-encyclopedia.com/ww2/jap/ww2_ijn_tanks.php%3Famp
Japanese Armor In World War II
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_89_I-Go_medium_tank
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_95_Ha-Go_light_tank
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_97_Chi-Ha_medium_tank
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Type_3_Chi-Nu_medium_tank
Japanese Tanks and Tank Tactics; Military Intelligence Service, Special Series No. 26, November 15, 1944
https://www.lonesentry.com/manuals/japanese-tanks/tank-tactics.html
Nomonhan The Beginning and The End of the World War II
