Kiprah Pesawat Tempur Unik F-82 Twin Mustang, Pencetak Kemenangan Udara Pertama Dalam Perang Korea

Bagi banyak penggemar dunia penerbangan masa Perang Dunia II, banyak yang menilai bahwa tidak ada yang lebih hebat dari pesawat tempur North American P-51 Mustang, pesawat tempur ikonik berwarna keperakan yang mendominasi udara di setiap medan perang, dimana mereka diterbangkan. Tapi kira-kira apakah yang bisa lebih baik dari P-51 Mustang? Setidaknya menurut salah satu desainer North American, satu-satunya pesawat yang bisa lebih baik adalah dua pesawat P-51 Mustang yang dijadikan satu. Meski tampak aneh, F-82 Twin Mustang adalah pesawat yang luar biasa, dimana bisa berfungsi sebagai pesawat tempur siang / malam dan mampu dioperasikan dalam segala cuaca di masanya. Bagaimanapun “The Twin ‘Stangs” adalah tipe pesawat yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan tertentu pada waktu tertentu saja. Pertama kali terbang pada tahun 1945, pesawat tersebut segera dengan cepat dianggap tidak dibutuhkan setelah pesawat tempur P-51 Amerika bertemu pertama kali dengan pesawat jet Jerman. Direncanakan untuk dihapuskan dari dinas operasional, F-82 diberi kesempatan kedua tahun 1947, ketika Boeing B-29 yang dibuat tiruannya, yakni Tu-4 Bull terlihat terbang dengan lambang bintang merah selama parade Hari Penerbangan Soviet. Dengan tidak adanya pesawat yang saat ini mampu mencegat B-29 dalam waktu singkat, F-82 (yang pada saat itu dikenal sebagai P-82) akhirnya masuk untuk mengisi kekosongan kebutuhan pesawat semacam itu, setidaknya sampai munculnya pesawat yang lebih baru dan lebih canggih. Namun Perang Korea yang pecah di tahun 1950, membuat Twin Mustang menjalankan peran lebih dari sekedar pesawat pencegat bomber, sekaligus menorehkan prestasi bagus menjelang masa-masa akhir pengabdiannya yang singkat.

F-82 Twin Mustang adalah salah satu pesawat tempur yang berwujud paling aneh dan unik dalam sejarah penerbangan militer. (Sumber: https://war-book.ru/)

LATAR BELAKANG KELAHIRAN TWIN MUSTANG

Pada awal tahun 1945 tampak jelas bagi Sekutu bahwa Jepang tidak akan pernah menyerah dan satu-satunya cara untuk mencapai kemenangan total dalam Perang Pasifik adalah dengan invasi. Prospek suram ini — dan kebutuhan untuk memenangkan superioritas udara atas Jepang — menyebabkan munculnya permintaan militer AS untuk pesawat tempur jarak jauh guna mengawal pesawat pembom Boeing B-29 ke Kepulauan Utama Jepang. Para Perencana Sekutu telah mengantisipasi bahwa Jepang kemungkinan akan mengirim ratusan pesawat bunuh diri untuk menghabisi armada pembom B-29, jadi guna menghindari bencana, maka para pembom harus memiliki perlindungan tempur yang memadai. Saat itu satu-satunya pesawat yang dianggap untuk mampu memenuhi permintaan itu pada bulan Februari 1945 adalah pesawat tempur North American P-51D Mustang. Dengan membawa tangki bahan bakar eksternal, pesawat ini akan dapat lepas landas dari lapangan terbang yang baru direbut di Iwo Jima dan melakukan perjalanan pulang-pergi sejauh hampir 1.500 mil (lihat buku “Sun Setters Over Japan”). Tetapi Mustang tidak memiliki kemampuan untuk menghabiskan banyak waktu di Jepang bersama pembom yang dikawalnya, dan ditambah kelelahan pilot selama misi 7½ jam juga menjadi faktor yang memberatkan. Apa yang benar-benar dibutuhkan Angkatan Udara AS pada kenyataannya adalah pesawat tempur jarak jauh yang bisa membawa dua pilot, mampu bertahan mengawal B-29 selama misi dan lebih disukai bisa diluncurkan dari pangkalan yang sama dengan pembom-pembom tersebut (di Guam). Dua desain kemudian dianggap sesuai dengan kebutuhan tersebut, yakni: pesawat tempur dua kursi Northrop P-61E Black Widow dan North American P-82 Twin Mustang, yang kemudian akan menjadi pesawat tempur bermesin piston terakhir yang dipesan untuk diproduksi bagi USAAF. 

Pesawat-pesawat tempur P-51 Mustang mengawal misi pengeboman bomber B-29 Super Fortress menuju ke Jepang. Meski Mustang mampu melakukan pengawalan jarak jauh, namun keterbatasan ketahanan pilot dan lama terbang mempengaruhi kekuatan udara Amerika untuk mencari pesawat tempur yang berkemampuan terbang jarak jauh dan berawak dua orang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Meskipun dikembangkan dari P-51 dan secara penampilan dari luar, wujudnya seperti dua pesawat Mustang digabung dengan sayap tengah dan stabilizer horizontal, Twin Mustang sebenarnya adalah desain yang sama sekali baru. Badan pesawatnya yang dibuat lebih panjang mampu menampung tangki bahan bakar tambahan, yang bersama dengan tangki eksternal memberi P-82 jarak tempuh lebih dari 2.000 mil. Enam senapan mesin kaliber .50 dipasang di bagian sayap tengah untuk mendapatkan daya tembak terkonsentrasi, dan sayap luarnya diperkuat serta memiliki cantelan untuk membawa tangki atau persenjataan tambahan. Terlepas dari konfigurasi badan pesawat ganda, Twin Mustang terhitung cepat dan secara mengejutkan mampu bermanuver dengan bagus. Ketika bom atom kemudian mengakhiri perang dunia Pasifik secara tiba-tiba, P-82E masih ada dalam produksi dan belum sempat mencapai medan perang Pasifik. Setelah perang, sementara banyak kontrak untuk pesawat tempur propeller dibatalkan pada bulan September 1945, Twin Mustang tidak termasuk di dalamnya. Pesawat ini terus diproduksi dan diubah menjadi pesawat tempur segala cuaca yang akan menggantikan pesawat tempur malam P-61 Black Widow. Komando Udara Strategis (Strategic Air Command/SAC) kemudian menggunakan Twin Mustang sebagai pesawat pengawal jarak jauh untuk Pembom strategis baru, Convair B-36 Peacemaker, karena pesawat itu adalah satu-satunya pesawat tempur propeller yang dianggap dapat mengimbangi pembom raksasa itu. 

Pesawat tempur Northrop P-61 Black Widow, pesawat tempur malam beradar yang digantikan perannya oleh P-82 Twin Mustang. (Sumber: https://www.treefrogtreasures.com/)

Pangkalan udara di Jepang dan Okinawa termasuk yang pertama dalam menerima P-82. Pada tahun 1948, F-61 Black Widow (demikian Angkatan Udara AS yang baru dibentuk memberi kode ulang pesawat tempur mereka dari kode P/Pursuit menjadi F/Fighter) yang sudah kenyang pengalaman tempur, mengalami masalah perawatan yang berat karena kurangnya suku cadang dan sudah siap untuk dipensiunkan. Tetapi mereka harus bertahan sampai Twin Mustang baru yang bisa dioperasikan dalam segala cuaca tiba. Skuadron Tempur ke-4 (Skuadron Tempur Segala Cuaca) di Okinawa dan dua skuadron tempur di Jepang (ke-68 dan ke-339) kemudian akan menerima F-82G mereka pada pertengahan tahun 1949. Beberapa modifikasi drastis telah dilakukan pada model pesawat segala cuaca Twin Mustang yang dilengkapi dengan radar. Kokpit kanan sekarang menampung petugas operator radar daripada sebagai personel pilot kedua. Kemudian sebuah pod radar besar, yang diproyeksikan di depan baling-baling untuk mencegah gangguan sinyal, dipasang di bawah sayap di antara dua badan pesawat. Ketika pasukan Korea Utara melintasi garis paralel ke-38 pada 25 Juni 1950, yang memulai Perang Korea, tiga skuadron F-82G di Timur Jauh telah dilengkapi dengan peralatan lengkap dan siap beraksi. Namun, pada saat itu jet Lockheed F-80 Shooting Star, yang menggantikan F-51D Mustang, adalah pesawat tempur pilihan utama Angkatan Udara Timur Jauh (Far East Air Force/FEAF). 

Salah satu dari empat pesawat F-82E yang dikerahkan oleh 27th Fighter Escort Wing ke Davis AFB, Aleutian pada bulan Desember 1948 untuk membantu dalam transisi Skuadron Fighter (All-Weather) ke-449 dari pesawat P-61 Black Widows ke Twin Mustang. Dengan berakhirnya Perang Dunia II dan diperkenalkannya pesawat tempur jet, pesawat seperti Twin Mustang dengan cepat menjadi ketinggalan jaman. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

KEBUTUHAN PESAWAT TEMPUR JARAK JAUH DI KOREA

Sementara itu, meskipun Korea Selatan yang bersekutu dengan Amerika memiliki semangat juang, namun mereka tidak memiliki tank dan dukungan udara, seperti yang dimiliki Korut dalam jumlah melimpah. Pada hari Minggu tanggal 24 Juni 1950 pukul 04.00 (25 Juni Waktu Korea), tujuh divisi infanteri Tentara Rakyat Korea Utara (NKPA), didukung oleh satu divisi lapis baja, yang dilengkapi dengan tank-tank T-34 buatan Rusia, melintasi garis paralel ke-38 menuju ke wilayah Republik Korea Selatan (ROK). Kemajuan pesat Tentara Korea Utara segera menciptakan situasi kritis di Seoul, yang segera memicu evakuasi lewat udara dan laut dari pelabuhan di Inchon. Militer AS telah menyadari bahwa Seoul cepat atau lambat akan jatuh dan evakuasi udara darurat segera diatur dengan cepat untuk semua personel AS dan PBB yang tersisa. Ketika ada banyak warga sipil Amerika di ibu kota Korea Selatan itu yang harus segera dievakuasi, saat itu hanya ada sedikit sekali lapangan terbang yang dimiliki Korea Selatan yang tersisa dari masa pendudukan Jepang, dan sepertinya tidak ada alasan bagi mereka untuk memperbaikinya hingga saat itu. Kondisi ini berarti pesawat-pesawat tempur F-80 harus diluncurkan dan terbang kembali dari pangkalan di Jepang, yang memberi mereka hanya sedikit waktu untuk berkeliaran di atas Seoul. Kolonel John ‘Jack’ Price, komandan Wing Udara Kedelapan segera menyadari kesulitan dalam menjalankan misi ini karena tugas ini membutuhkan perlindungan udara terus menerus oleh pesawat konvensional yang bisa terbang dalam jarak jauh. Dalam kondisi ini, F-82G adalah satu-satunya pesawat pencegat yang mampu menempuh jarak lebih dari 300 mil dari Itazuke ke wilayah Seoul / Sungai Han dan masih memiliki bahan bakar yang cukup untuk mengorbit dalam waktu yang lama untuk kemudian kembali ke pangkalan.

Tentara Korea Utara dengan didukung oleh tank-tank T-34 memasuki kota Seoul. Pada saat invasi, kekuatan udara Amerika memang tidak siap untuk menghadapi invasi skala penuh atas sekutunya ini. (Sumber: https://theconversation.com/)

Sialnya informasi akurat mengenai angkatan udara Korea Utara sangatlah minim, tetapi diketahui bahwa Soviet telah memberi mereka sejumlah besar pesawat tempur tipe Yak dan Lavochkin dari masa Perang Dunia II, serta beberapa pesawat serang darat tipe Ilyushin Il-10. Jika pesawat-pesawat ini terbang ke selatan garis paralel 38 derajat yang membagi kedua Korea, mereka akan dapat mengancam proses evakuasi warga sipil, jadi dipandang sangat penting untuk menyediakan perlindungan udara yang memadai untuk pesawat-pesawat transport Douglas C-54 yang dikirim dari Jepang untuk misi evakuasi itu. Skuadron udara ke-68 lalu ditempatkan di dekat Fukuoka, di Pangkalan Udara Itazuke, Pulau Kyushu-Jepang merupakan pangkalan terdekat ke wilayah Semenanjung Korea. Sementara itu untuk menyediakan perlindungan udara, Price hanya memiliki dua belas pesawat F-82G dari Skuadron ke-68 ‘Lightning Lancers’ F (AW) di Itazuke, Jepang, dimana jumlah itu dirasa tidak cukup untuk menjalankan misi tersebut. Angkatan Udara Kelima, kemudian meminta bantuan pesawat-pesawat tempur F-51 Mustang Angkatan Udara Australia (RAAF), tetapi Inggris dan negara-negara Persemakmuran saat itu belum memutuskan untuk mengerahkan kekuatan militer mereka dalam konflik tersebut. Oleh karena itu, Angkatan Udara Kelima memerintahkan Skuadron ke-339 F (AW/All Weather) untuk memindahkan pesawat-pesawat Twin Mustang mereka dari Yokota, Jepang, untuk bergabung Skuadron ke-68 di Itazuke.

Pesawat tempur Yak-9 milik Korea Utara. Pada saat Korea Utara menyerang, sialnya pihak Amerika tidak memiliki informasi akurat mengenai kekuatan udara Korea Utara. (Sumber: http://wp.scn.ru/)

Pengerahan kedua skuadron tersebut masih dinilai belum cukup dan Brigjen Jarred V. Crabb, Direktur Operasi FEAF (Far East Air Force), yang lalu memerintahkan Angkatan Udara Kedua Puluh untuk mengirim delapan pesawat F-82 dari Skuadron ke-4 (AW) ke Itazuke dari pangkalan mereka Naha Air Base, Okinawa. Pihak Angkatan Udara Amerika dengan cepat membentuk tiga skuadron tempur malam menjadi Grup Fighter (All-Weather) (F (AW) G) ke-347 di bawah komando Letnan Kolonel John F. Sharp, yang sebelumnya merupakan komandan F (AW) S ke-4, yang dijuluki the ‘Fightin’ Fuujins’, menurut nama dewa angin Okinawa. Grup tempur ke-347 itu, secara resmi memiliki kekuatan 33 pesawat F-82 pada akhir bulan Juni 1950 tetapi pada kenyataannya jumlah yang siap untuk bertempur hanya mencapai sembilan belas pesawat, dimana dari Skuadron ke-4 memiliki lima dari sebelas pesawat yang siap tempur, Skuadron ke-68 dengan enam dari sepuluh pesawat, dan Skuadron ke-339 dengan delapan dari dua belas pesawat yang dimilikinya. Angkatan Udara, yang saat itu tidak memiliki jet tempur malam jarak jauh, mengandalkan sepenuhnya pada F-82 untuk melakukan segala misi tempur udara di Korea mulai dari pertempuran udara-ke-udara, pemboman, dukungan udara dekat, pengintaian cuaca, pengendalian udara tembakan darat, hingga untuk misi penyusupan malam.

Foto tampak samping Twin Mustang FQ-383 dari Skuadron Udara ke-38 yang menampilkan tangki aluminium yang tidak dikamuflase dengan ekor vertikal yang menampilkan lambang kesatria abad pertengahan, icon Skuadron tersebut. Pada saat pecah perang, pihak Amerika terpaksa mengumpulkan setiap Twin Mustang yang ada di wilayah Jepang untuk memenuhi kebutuhan perlindungan udara di Korea. (Sumber: https://weaponsandwarfare.com/)

Bersama dengan itu pihak Amerika lalu membentuk armada yang terdiri dari dua pesawat transport Douglas C-54 Skymaster dan 11 pesawat C-47 Skytrain yang dikumpulkan dari unit-unit yang berbeda di Jepang untuk mengevakuasi personel yang tersisa dari Pangkalan Udara Kimpo dan Suwon, mulai saat fajar. Khawatir bahwa Angkatan Udara Korea Utara mungkin akan mencoba untuk menembak jatuh pesawat-pesawat angkut atau menyerang kapal-kapal transport di pelabuhan, pihak Angkatan Udara diminta untuk menyediakan perlindungan udara saat kapal-kapal dan pesawat angkut dimuat dan diberangkatkan. Pesawat-pesawat angkut yang dilibatkan dalam proses evakuasi ini, kemudian dikawal ketat oleh pesawat-pesawat F-82 dengan jet tempur F-80, memberikan perlindungan diatasnya. Pada malam tanggal 25 Juni, pilot F-82G Letnan George Deans dan petugas radarnya (R / O), Letnan Marvin Olsen, menerbangkan misi tempur bersenjata pertama yang tercatat dalam Perang Korea. Dengan perang baru berumur beberapa jam saja, Skuadron ke-68 telah menyiapkan beberapa pesawatnya siaga di landasan. “Kami telah dipindahkan dengan cepat dari markas detasemen kami di Ashiya ke Itazuke,” kenang Letnan Deans. “Cuaca di Korea Selatan dan Laut Jepang saat itu buruk, dan salah satu situs radar kami menemukan adanya objek ‘tidak diketahui’ yang datang dari arah Korea Selatan menuju langsung ke Pulau Kyushu. Kami lalu disiagakan dan bergegas untuk mencegatnya. Untungnya, objek yang tidak diketahui itu bukanlah musuh, tapi kami tetap dipersenjatai untuk sekedar berjaga-jaga. Objek yang tidak diketahui ternyata adalah pesawat SB-17 dari Skuadron Penyelamatan Udara ke-3 dari Pangkalan Udara Ashiya. Keesokan paginya, kami berpasangan dengan Letnan William ‘Skeeter’ Hudson dan R / O-nya untuk menjalankan misi patroli udara tempur pertama di atas area Inchon. Saat itu langit masih mendung dengan kami terbang sedikit di bawah ketinggian 3.000 kaki. Tujuan utama kami adalah berpatroli di jalur evakuasi utama antara Seoul dan Inchon. ” 

Pesawat angkut tipe C-54 Skymaster yang turut dilibatkan dalam misi evakuasi di Seoul. Mengawal pesawat-pesawat angkut semacam ini adalah tugas utama Twin Mustang dalam hari-hari pertama Perang Korea. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

FIRST BLOOD IN KOREA

Perlindungan udara yang diberikan oleh Twin Mustang di Korea dimulai pada pagi hari tanggal 26 Juni dengan sebuah flight yang terdiri dari empat pesawat F-82 yang mengorbit di area Seoul / Inchon sepanjang hari sebagai upaya perlindungan bagi arus pengungsi yang menuju pelabuhan Inchon. Beberapa jam pertama dari hari pertama berlalu tanpa masalah, tetapi pada pukul 13.33, sepasang pesawat tempur Lavochin La-7 Korea Utara (buatan Rusia) muncul dan mengancam dua Twin Mustang daro Skuadron ke-68. Salah satu F-82, yang dipiloti oleh Letnan William A. ‘Skeeter’ Hudson dengan operator radarnya Letnan Carl S. Fraser, sedang dalam proses menyediakan perlindungan udara untuk dua kapal pengangkut di Pelabuhan Inchon ketika sepasang pesawat tempur Korea Utara menyerang. Hudson dan Fraser berasumsi bahwa di bawah aturan yang ada, mereka dibatasi untuk melakukan tindakan ofensif dan mereka hanya bisa membela diri jika ditembaki lebih dulu oleh pasukan musuh. Menurut Fraser, ‘Kami seharusnya menjadi pelindung bagi dua kapal evakuasi di Inchon, tetapi setelah kami berada di sana selama sekitar tiga puluh menit, petugas pengendali kami memberi tahu melalui radio agar kami melanjutkan penerbangan ke wilayah pedalaman menuju Pangkalan Udara Kimpo dan memberi perlindungan konvoi bermotor yang membawa orang-orang dari Seoul ke Inchon, ‘katanya. Pesawat ‘Skeeter’ Hudson dengan Twin Mustang lainnya pergi ke daratan pada ketinggian 500 kaki sementara dua F-82 lainnya menyediakan perlindungan di atas awan pada ketinggian 3.000 kaki. “Setelah naik turun jalan beberapa kali, kami melihat beberapa pesawat Lavochkin La-7 buatan Rusia, pada ketinggian di posisi jam 11.

Pesawat tempur La-7. Pesawat tipe ini menjadi pesawat Korea Utara pertama yang bertindak agresif terhadap pesawat-pesawat tempur Twin Mustang Amerika dalam Perang Korea. (Sumber: https://military.wikia.org/)

Kami diperintahkan untuk tidak menembak kecuali ditembaki, jadi kami tidak melakukan tindakan agresif ke arah mereka, ‘kata Fraser. ‘Mereka mulai membelok ke arah kami dan kami berupaya terus membuat mereka tetap ada dalam jarak pandang. Tiba-tiba, pemimpin penerbangan musuh menempel ketat dan mulai menyerang kami, dengan wingman-nya tepat di belakangnya. Ketika kami melihat bahwa dia akan menyerang, kami menjatuhkan tangki bahan bakar eksternal kami, meningkatkan power mesin, menyalakan sakelar senjata dan mulai menanjak berbelok ke arahnya. Bagaimanapun, kedua F-82 itu beranggapan bahwa mereka tidak akan menyerang sebelum ditembaki lebih dulu. Fraser melanjutkan, ‘Karena kami dipaksa menunggu dia untuk melakukan langkah agresif, pilot musuh berada dalam posisi yang baik untuk bisa mengalahkan kami, tetapi dia terlalu bersemangat, atau masih “hijau”, karena dia mulai menembak dari jarak yang terlalu jauh dan pelurunya tertinggal di belakang kami. Wingmannya mulai beralih ke wingman kami, tapi dia tidak dalam posisi yang cukup baik untuk bisa menembak. Mereka berhenti dan mulai berbalik, jadi kami berhenti di tengah mendung. Kami membayangkan bahwa, jika mereka terus mengejar, kami akan menerima tantangan itu. Namun mereka jelas memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh, karena mereka tidak pernah muncul lagi. “

Pada jam-jam awal pecahnya Perang Korea, awak Twin Mustang Amerika masih terikat dengan ketentuan untuk tidak bertindak agresif terhadap pesawat-pesawat lawan. Namun hal ini kemudian segera diubah. (Sumber: https://militaryhistorynow.com/)

Keputusan pilot Twin Mustang untuk tidak melawan musuh membuat marah Komando Timur Jauh dan memberi perintah ke FEAF yang mengamanatkan agar setiap pesawat tempurnya untuk melawan dan menghancurkan setiap pesawat NKPA yang mendekati pasukan Republik Korea dan Amerika. Pada tanggal 27, FEAF mengklarifikasi aturan pertempuran di mana setiap pesawat tempur AS akan melawan setiap pesawat militer Korea Utara yang beroperasi di wilayah udara Korea Selatan. Sementara itu, proses evakuasi di daerah Inchon terus berlanjut meski Kolonel Price menjadi khawatir atas efektivitas personel skuadron-skuadron F-82 karena faktor kelelahan awak pesawat. Seorang pilot dikabarkan telah terbang selama lima belas jam dari tiga puluh delapan jam terakhir tetapi Price tidak punya pilihan lain. Pesawat-pesawat Twin Mustang harus tetap melanjutkan dengan misi karena kemampuan terbang jarak jauh mereka tidak tergantikan. Berkaitan dengan aturan pertempuran baru Amerika yang lebih agresif, hal itu segera berdampak instan. Di kesempatan berikutnya, pesawat-pesawat serang Il-10 — yang dikawal oleh pesawat-pesawat tempur Yak-9, Yak-11 dan La-7 — datang pada tanggal 27 dan 29 Juni, mencoba untuk mengebom lapangan udara di Kimpo dan Bandara Kota Seoul. Pesawat-pesawat Il-10 ini juga melakukan serangan udara di stasiun kereta Anyang dan sasaran militer antara Seoul dan Suwon. Pesawat-pesawat F-80 dan F-82 yang berpatroli di area tersebut segera mendominasi pertempuran udara besar yang terjadi. Pilot-pilot USAF diketahui mencetak tujuh kemenangan udara yang bisa dikonfirmasi pada tanggal 27 dan lima pada tanggal 29, tanpa adanya korban di pihak Amerika pada hari-hari tersebut. Twin Mustang tercatat membukukan tiga kemenangan udara pertama dalam perang itu, yakni atas: sebuah pesawat tempur Yak-11 dan sepasang La-7. 

Perpisahan dari keluarga Kapten Angkatan Udara Johnnie Gosnell, yang terbang bersama Skuadron Interceptor Fighter All-Weather ke-68 di Itazuke AB Jepang untuk terbang dalam misi tempur melintasi Semenanjung Korea. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sebelas pesawat Twin Mustang milik skuadron ke-4, ke-68, dan ke-339 bersama dengan pesawat-pesawat F-80C Shooting Star dari 8th Fighter-Bomber Wing (FBW) bergiliran menyediakan perlindungan untuk kapal barang Norwegia Reinholte yang mengevakuasi warga sipil di Pelabuhan Inchon dan untuk misi serupa melindungi sebuah pesawat angkut Douglas C-54 di Pangkalan Udara Kimpo. Empat F-82 dari Skuadron ke-68 mengorbit area di sekitar Lapangan Udara Kimpo dan Suwon pada ketinggian 4.000 kaki sementara tiga Twin Mustang dari Skuadron ke-339 terbang pada ketinggian 8.000 kaki dan empat pesawat tempur Skuadron ke-4 memberikan perlindungan di atasnya pada ketinggian 12.000 kaki. Misi evakuasi yang dilakukan Amerika sebenarnya tidak terhalang pada pagi hari tanggal 27 itu, sementara KPAAF (AU Korea Utara) berkonsentrasi pada target-target yang lain lain, tetapi pada siang hari sekitar pukul 11.50 sebuah Yak-11 yang memimpin empat pesawat Yak-9P mulai datang untuk mengganggu proses evakuasi. Untuk mencapai pesawat-pesawat angkut Amerika tersebut tersebut, pesawat tempur KPAAF terlebih dahulu harus melalui Combat Air Patrol (CAP)/Pengawalan pesawat-pesawat F-82. Melintasi Seoul pada ketinggian 10.000 kaki, mereka menukik ke empat pesawat F-82 dari Skuadron Fighter ke-68 (All-Weather), yang membentuk CAP di ketinggian rendah sekitar 4.000 kaki. Lima pesawat tempur Korea Utara itu menyerang sebuah F-82 yang tertinggal dalam penerbangan yang terdiri dari empat pesawat. Pilotnya, Letnan Charlie Moran, melihat para penyerangnya tepat ketika salah satunya menembak, dan dia mengambil tindakan menghindar yang ketat, meskipun tidak tepat pada waktunya untuk bisa menghindari hujan timah panas yang merobek salah satu stabilizer vertikal-nya.

Para pengungsi melarikan diri saat tentara Korea Utara menginvasi Korea Selatan. Melindungi arus pengungsi adalah salah satu tugas dari pesawat-pesawat Twin Mustang di Korea pada akhir bulan Juni 1950. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Keempat Twin Mustang lalu menjatuhkan tangki bahan bakar eksternal mereka untuk mengurangi hambatan. Selama beberapa menit berikutnya, pesawat-pesawat F-82G membuat catatan mereka di buku rekor. Skeeter Hudson dan R / O-nya, Letnan Carl Fraser, membelok dalam manuver berbelok dengan efek gaya G tinggi untuk bisa berada tepat di belakang sebuah Yak-11 yang menyerang. “Kami sedang berputar-putar di atas Kimpo ketika dua pesawat tempur Korea Utara keluar dari awan rendah dan mulai mengejar pesawat Charlie Moran dan Fred Larkins, yang menerbangkan pesawat Nomor Empat dalam penerbangan kami. “(Saat itu) ada pertempuran di darat di utara kota, tetapi tugas kami adalah menghentikan gangguan udara terhadap pesawat-pesawat C-47 dan C-54 yang sibuk mendarat dan lepas landas di bawah kami. Kami melihat Letnan Moran ditembak dan kemudian berputar tepat di belakang para penyerang. Penembakan dari pesawat Korea Utara itu sedikit lebih baik daripada kemarin dan mereka berhasil mengenai ekor pesawat Charlie. Kelima pesawat musuh itu mencoba menyerang pesawat-pesawat pengangkut saat mereka lepas landas. “Sebelum pilot Yak bisa bereaksi, kami telah mengunci ekornya dengan perangkat pembidik Mk.18, jadi dia menarik hidung pesawatnya ke awan. Tapi sudah terlambat karena kami begitu dekat dengannya. Kami terus mengamatinya saat menanjak. Kami menembakkan rentetan tembakan yang bagus dengan keenam senapan mesin, dan mereka menemukan sasaran mereka saat potongan stabilizer dan badan pesawat Yak meledak dan kami menghindarinya saat mereka terbang melewati kami. Pada saat itu, pilot Yak memutar pesawat tempurnya dalam belokan tajam ke kanan, dengan kami tetap berada di ekornya. Letnan Hudson menembakkan tembakan lain yang mengenai seluruh sayap kanan Yak, yang menyebabkan salah satu tangki bahan bakarnya terbakar. Dua detik kemudian, sayap kanan dan aileronnya beterbangan dan mereka nyaris mengenai pesawat kami, dan karena kami terbang sangat dekat, kedua pesawat hampir saja bertabrakan. 

Twin Mustang ditakdirkan menjadi pencetak kemenangan udara pertama dalam Perang Korea. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

“Saya dapat dengan jelas dapat melihat pilot Yak itu berbalik dan mengatakan sesuatu kepada pengamat di kursi belakangnya,” lanjut Fraser. “Dia kemudian mendorong kanopi ke belakang, melangkah keluar dari sayap dan sekali lagi mengatakan sesuatu ke crew di kursi belakangnya. Kesan saya bahwa dia (yang duduk di kursi belakang) terluka parah atau mati pada saat itu karena dia tidak pernah berusaha untuk keluar dari pesawat tempur yang lumpuh itu. Pilot kemudian menarik tali penambatnya dan parasut terbuka, menyeretnya dari sayap saat terbuka. Pada saat itu, Fraser mengambil kamera 35mm yang diangkatnya tinggi-tinggi dan mengambil fotonya. Sebagian besar pertempuran saat itu terjadi di bawah ketinggian 1.000 kaki. Kami melakukan pengamatan cepat 180 derajat untuk melihat di mana pilot itu mendarat. Ia jatuh tepat berada di tengah-tengah sekelompok besar tentara Korea Selatan. Saya pikir pilotnya telah menyerah, tetapi saya kemudian mengetahui dari seorang mayor Korea Selatan bahwa pilot itu mulai menembaki anak buahnya dengan pistol dan mereka membalas tembakan, yang akhirnya membunuhnya. Pada saat kami mengitari pilot yang jatuh, kemudian kami menemukan bahwa Moran sedang berusaha menghindari pesawat Yak, tetapi saat melakukan itu dia pesawatnya stalled. Ketika dia berhasil memulihkan diri, dia mendapati dirinya ada tepat di belakang La-7 musuh dan menembaknya jatuh di atas lapangan terbang Kimpo. ” Meski demikian, F-82 milik Lt C. B. Moran dan Lt F. Larkins bagaimanapun rusak parah dan mereka harus melakukan pendaratan paksa di Suwon (K-13).

Kemenangan udara Skeeter Hudson tertangkap kamera yang tidak operator radarnya, Letnan Carl Fraser. Lambang Korea Utara dari Yak-11 dan pengamat di kokpit belakang cukup jelas. (Sumber: Angkatan Udara AS/https://weaponsandwarfare.com/)
Kerusakan pada ekor pesawat F-82 Twin Mustang Letnan Charlie Moran terlihat jelas di foto ini. Pesawat tempur Yak-11 yang menyerang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan-nya karena ditembak jatuh rekan satu skuadron Moran, yakni Letnan William “Skeeter” Hudson. (Sumber: Angkatan Udara AS/https://www.historynet.com/)

Kedua kemenangan udara itu dicetak dalam jarak pandang yang jelas dari bandara Kimpo, sehingga langsung bisa dikonfirmasi tanpa perlu bergantung pada film dari kamera senjata. Sementara itu, bala bantuan dari Skuadron ke-339 (AW) yang sedang berpatroli didekat tempat itu segera bergabung dalam pertempuran dan menyumbang sebuah kemenangan lainnya. Dalam beberapa menit setelah Moran membukukan kemenangan, Mayor James Little, CO dari Skuadron ke-339, mengunci sebuah La-7 lainnya dan melepaskan tembakan panjang, yang serta merta mengirimkan lawannya ke bumi. Semua pertempuran ini terjadi di ketinggian rendah, dimana para pilot dituntut untuk hanya menyisakan sedikit ruang untuk kesalahan. Little menembak jatuh lawannya di utara dari Bandara Kimpo, dan itu tidak disaksikan oleh orang-orang yang ada di darat, jadi proses konfirmasinya datang kemudian. Di tempat lainnya, dalam sebuah aksi yang berlangsung lebih jauh ke utara, dua lagi pesawat F-82 dari Skuadron ke-339 bertemu dengan jet tempur milik Korea Utara. Saat itu Kapten David Trexler dan wingman-nya, Letnan Walter Hayhurst, sedang sibuk selama beberapa menit menghadapi beberapa pesawat Yak. “Wingman saya dan saya menyerang pesawat Yak terdekat, yang segera membelok ke kiri, yang menempatkannya tepat di depan saya,” kenang Trexler. “Saat saya mendekatinya di ketinggian sekitar 3.000 kaki, saya menembakkan tembakan pendek, yang menyebabkan pilot Yak itu tiba-tiba berbelok ke kanan dengan hidung mengarah ke bawah. Pada saat itu saya terus membuntutinya dengan sempurna sambil melepaskan tembakan kedua. Dia mengubah belokannya lagi sementara saya menembakkan semburan ketiga dari senapan-senapan mesin kaliber .50 ke pesawatnya. Sekarang jaraknya menjadi kurang dari 1.000 kaki. Kedua pesawat kami berada pada kecepatan penuh dan mengarah ke bawah, yang menempatkan kami pada IAS (kecepatan udara terindikasi) 425 mph. “Peluru-peluru tembakan yang saya lepaskan sekarang menyebabkan beberapa masalah bagi pesawat Yak itu, saat pilotnya berguling ke kiri dalam posisi terbalik dan jatuh ke lapisan awan di bawah. Saya langsung menepi karena ada beberapa gunung yang menonjol menembus awan. Karena kami tidak pernah melihatnya jatuh ke tanah atau pilotnya melompat dengan parasut, kami dicatat dengan kemungkinan sebuah kemenangan (probable). Ketika hari itu berakhir, pesawat-pesawat F-82 kami mencatat tiga kemenangan yang bisa dikonfirmasi, tetapi banyak dari pilot kami mengklaim mereka mencetak banyak kemenangan…. Kemungkinannya, ada beberapa kemenangan lain yang kami bukukan, tetapi dengan lapisan awan yang tebal kami tidak pernah dapat mengikuti pesawat-pesawat lawan dan melihat mereka jatuh. ” 

JATUHNYA KORBAN DI PIHAK TWIN MUSTANG

Tiga skuadron F-82 memang bertanggung jawab untuk melindungi area yang luas, dan dengan demikian terbukti mereka menjalankan tugasnya dengan baik selama pertempuran udara sore hari tanggal 27 Juni. Sekitar satu jam kemudian, serangan lain di lapangan terbang Kimpo dilakukan oleh formasi sembilan pesawat Il-10 yang terbang dari Yonpo. Namun, ketika mereka mendekati target mereka, mereka dicegat oleh empat pesawat F-80 dari Skuadron Pembom Tempur ke-35 (FBS) dari pangkalan udara dari Itazuke, yang menembak jatuh empat Il-10 dan merusak parah lainnya. Sisa formasi pesawat Korea Utara kemudian tersebar ke awan dan kembali ke pangkalannya. Meski mencatat sukses, namun pesawat-pesawat F-80 itu harus terbang secara bergantian, karena mesin jet Shooting Star yang boros dengan Jarak tempuhnya hanya 800 mil (bahkan kurang dari itu jika dilengkapi dengan persenjataan eksternal), tidak memberikan banyak waktu bagi mereka untuk terbang berlama-lama diatas Kimpo (tidak lebih dari beberapa menit saja). Tidak butuh waktu lama bagi para pesawat-pesawat tempur Korea Utara untuk mundur karena sejumlah F-82 dan F-80 yang mereka hadapi. Meskipun demikian, pesawat-pesawat musuh tetap berhasil memberondong dan mengebom lapangan udara Suwon, 19 mil selatan Kimpo, di mana mereka menghancurkan sebuah F-82 bernama ‘B.O. Plenty ‘(yang terpaksa mendarat di lapangan terbang itu karena kerusakan yang dialaminya dalam pertempuran), serta sebuah pesawat angkut Douglas C-54.

Pesawat-pesawat jet tempur F-80 Shooting Star menambah 4 kemenangan udara lagi bagi kekuatan udara Amerika pada sore hari tanggal 27 Juni 1950. Meski mampu bertempur, namun Shooting Star terkendala oleh jarak jangkaunya yang terbatas dan konsumsi bahan bakarnya yang boros untuk bisa menjalankan misi dalam jangka panjang di langit Korea. (Sumber: https://www.wallpaperflare.com/)

Tapi hari-hari kejayaan Twin Mustang dalam pertempuran udara jarak dekat hanya akan berumur pendek, dimana medan perang Korea akan segera menjadi tempat duel antara pesawat tempur jet-versus-jet. Twin Mustang kemudian akan ditugaskan untuk menjalankan misi dukungan udara jarak dekat dan misi pengintaian bersenjata jauh di wilayah utara, dimana mereka membuktikan diri sebagai pembom tempur yang handal selama periode bulan Agustus-September yang membantu terciptanya pertahanan yang sukses di Perimeter Pusan dan upaya pendobrakan yang menyusul kemudian. Sementara itu meskipun masa tugas dari Skuadron ke-4 dalam perang Korea hanya berumur pendek, namun para awaknya terlibat dalam banyak misi tempur selama waktu yang singkat itu. Letnan Kolonel John Sharp, CO dari Skuadron ke-4, memimpin unit komposit sementara yang menggabungkan ketiga skuadron F-82. Dia mengambil bagian dalam misi penerbangan malam pada tanggal 4 Juli 1950, yang sayangnya menghasilkan korban pertama dari awak pesawat USAF dalam Perang Korea. Sharp mengenang: “Sejak tanggal 25 Juni, Korea Utara menyerbu ke selatan praktis tanpa lawan, dan dengan perlindungan awan yang rendah membuat kami terus menebak berapa banyak dan seberapa jauh mereka telah bergerak maju. Pada malam ini, saya mengirim dua pesawat F-82 kami untuk mengawasi jika ada jeda di awan sehingga kami bisa turun dan melaporkan aktivitas musuh di darat.

Kedua kru Twin Mustang mengelilingi seorang perwira intel menceritakan aksi hari mereka di tanggal 27 Juni 1950. Dari kiri: Moran, Letnan Satu Fred Larkins, perwira intel yang tak dikenal namanya, Hudson dan Fraser. (Sumber: Angkatan Udara AS/https://www.historynet.com/)

“Kapten Warren Foley dan Ernest Fiebelkorn tetap terbang selama beberapa jam tanpa istirahat. Dalam laporan terakhirnya, Kapten Fiebelkorn memberi tahu Foley bahwa dia akan mencoba turun ke bawah awan. Beberapa menit kemudian, kontak radio hilang dengan pesawat F-82 miliknya. Saat bahan bakar Kapten Foley mencapai posisi ‘bingo,’ dia kembali ke Itazuke dan dia menyatakan bahwa dia mengira wingman-nya telah hilang, dan kami kemudian menemukan bahwa itu persis seperti yang dia duga. Sebagai letnan pertama, Fiebelkorn adalah salah satu ace dengan skor tertinggi di Grup Tempur ke-20 dalam Perang Dunia II (dengan catatan 9,5 kemenangan udara). Kapten Foley kemudian menyatakan bahwa mereka yakin bahwa formasi awan mulai pecah, dan dengan informasi ini saya meminta pesawat dipersenjatai dan menyuruh crew darat untuk memuat salah satu pesawat kami dengan delapan roket kaliber 5 inci. ” Letnan Kolonel Sharp lalu lepas landas pada tengah malam. Benar saja, awan telah terkuak di Korea Selatan, sehingga dia bisa melihat jalan-jalan dipenuhi kendaraan — diperkirakan adalah truk musuh — yang berjarak 20 mil di selatan garis pemboman, menunjukkan bahwa pihak Korea Utara telah maju lebih jauh dari yang diantisipasi. Dia dan R / O-nya, Sersan George Umbarger, setuju bahwa menyerang truk yang bergerak jauh dari garis depan akan menimbulkan masalah karena mereka mungkin saja adalah pasukan kawan. Sharp dan Umbarger kemudian memutuskan untuk pergi ke utara dengan persenjataan yang mereka bawa. 

F-82G; nomor 46-375; dari Skuadron No-68 FIS lepas landas dari landasan kasar di Korea. Meskipun unit zeni penerbangan telah menyelesaikan landasan pacu beton beraspal pertamanya pada akhir tahun 1951, banyak dari pangkalan di Korea tetap tidak diaspal sampai akhir perang. (Sumber: https://www.historynet.com/)

“Kami akhirnya sampai di daerah yang saya tahu mestinya masih dikuasai musuh,” lanjut Sharp. “Target pertama yang kami serang telah menyebabkan ledakan sekunder yang terang benderang. Sedikit lebih jauh ke utara, saya melihat sebuah kendaraan yang melaju kencang dengan lampu menyala di jalanan bergerak ke selatan. Ini pastilah mobil staf yang mencoba mengejar waktu ke garis depan! Saya segera membidikkan roket, memejamkan mata dan menembakkan dua roket kaliber 5 inci yang saya bawa. Beberapa detik kemudian… BLAM! Kedua roket tersebut menghantam tepat di dasar kendaraan dan lampunya segera menjadi gelap. Itu adalah tembakan roket terbaik yang pernah saya buat! ” Sementara itu, secara keseluruhan bulan Juli adalah bulan yang suram bagi pasukan darat PBB. Bulan Agustus berikutnya tidak akan membawa perubahan yang signifikan kecuali penambahan besar pesawat-pesawat pasukan PBB yang akhirnya berkontribusi pada runtuhnya kekuatan Tentara Korea Utara. Pada saat itu, Skuadron ke-68 adalah satu-satunya skuadron F-82 yang tersisa dalam perang tersebut, dan skuadron itu tersebar luas untuk melaksanakan banyak tugas yang dibebankan. Pada pagi hari tanggal 7 Agustus, tragedi kembali terjadi ketika Letnan Charlie Moran, pilot yang telah mencetak kemenangan kedua dalam perang, lepas landas dengan R / O -nya Letnan Francis Meyer pada pukul 03.00 dalam misi penyerangan rutin dan menghilang tanpa jejak atau meninggalkan transmisi radio apa pun. Sementara itu berkat keberhasilan pendaratan amfibi di Inchon pada pertengahan bulan September, pasukan darat PBB berhasil mendobrak keluar dari Perimeter Pusan. Saat mereka bergerak maju ke utara, pasukan PBB menemukan puing-puing pesawat Twin Mustang milik Moran di lembah dekat kabel terputus yang tergantung dari punggung bukit satu ke bukit lainnya. Moran jelas sudah melihat adanya pergerakan di jalanan lembah dan turun untuk menyerang saat pesawatnya menabrak kabel. Bahaya semacam ini kemudian akan mengganggu beberapa pesawat-pesawat F-51 Mustang dalam beberapa bulan berikutnya selama misi penerbangan saat matahari terbit atau tenggelam, ketika jaringan kabel sulit dilihat. 

MENJALANKAN MISI SERANGAN DARAT

Selama hari-hari kejayaan F-82 di medan perang Korea (Juli 1950 hingga 1951), pengisian bahan bakar udara belum tersedia untuk pesawat-pesawat jenis pembom tempur yang melakukan misi penerbangan di atas Korea Utara, sehingga membatasi jangkauan mereka. Twin Mustang yang besar, sebaliknya, bisa lepas landas dari Itazuke dengan muatan penuh persenjataan dan terbang sampai ke Sungai Yalu, dekat perbatasan Korea dan China untuk mencari targetnya. Jika F-82 kehilangan sebuah mesinnya, pesawat itu juga masih bisa mencapai targetnya dan kembali dengan selamat ke pangkalan dengan hanya satu mesin. Saat menjalankan misi beberapa F-82 terkena tembakan di radome radar mereka, yang sulit untuk diganti, dan karena radome itu kemudian dicopot, pesawat-pesawat itu berubah menjadi pesawat tempur yang hanya bisa dioperasikan di siang hari. Dalam peran pendukung pasukan darat, F-82 terbukti dapat mencapai bagian mana pun dari medan perang Korea dengan total muatan persenjataan lebih dari 1.800 kg (4.000 lb). Masing-masing terdiri dari enam senapan mesin kaliber .50 inci yang membawa 400 peluru tiap pucuknya. Senjata ini digunakan dengan baik untuk menyerang banyak target di darat. Misi pengawalan yang diterbangkan bersama pembom B-26 Invader membawa F-82 terbang jauh hingga ke wilayah Korea Utara. Terbang dengan tangki bahan bakar eksternal, dalam banyak kesempatan Twin Mustang perlu untuk menjatuhkan tangki-tangki itu, menghindari risiko kebakaran atau meledak jika tembakan musuh mengenai salah satu tangki tersebut. Pada tanggal 10 Juli, pesawat-pesawat F-82 dari skuadron ke-4 dan ke-68 berpartisipasi dalam salah satu serangan terbesar dalam perang terhadap target darat. Bergabung dengan pesawat-pesawat B-26 dan F-80, Twin Mustang menghantam sejumlah besar kendaraan pasukan Korea Utara. Diperkirakan 117 truk, 38 tank, dan tujuh kendaraan pengangkut personel hancur, bersama dengan sejumlah besar pasukan musuh tewas ketika pesawat-pesawat pembom B-26 menghancurkan jembatan di Pyongtaek, yang kemudian menyebabkan kemacetan besar.

Sebuah Flight dari F-82G FS Ke-339 (Nomor 46-403, 46–390, 46–366, 46–394) sedang menuju Korea pada bulan Juni 1950. Perhatikan radome radar dibawah badan pesawat. Dengan berjalannya waktu, beberapa radome radar Twin Mustang yang dikirim ke Korea rusak karena tembakan lawan, sehingga kemudian dicopot dan Twin Mustang dioperasikan menjadi pesawat tempur siang hari. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Pada tanggal 5 Juli, Skuadron ke-339 ditarik dari medan pertempuran dan dikembalikan ke pangkalan udara Johnson. Tak lama kemudian, Skuadron ke-4 kembali ke Okinawa, dengan Grup Sementara ke-347 dinonaktifkan dan kendali Skuadron ke-68 diserahkan ke Grup Tempur ke-8. Hingga saat itu Skuadron Ke-339 telah bertempur total selama 10 hari (dari 26 Juni – 5 Juli), menerbangkan 44 misi tempur, yang mana mereka tidak diberikan pelatihan sebelumnya. Sementara itu Skuadron ke-68 yang masih tersisa terus melanjutkan pertempuran. Sepanjang bulan Juli dan Agustus 1950, F-82 dari Skuadron ke-68 menyerang kereta-kereta api, kendaraan, dan banyak bangunan musuh, dan terus-menerus memberondong pasukan Korea Utara di sepanjang jalan yang mereka jumpai. Pada malam tanggal 27 Agustus, sebuah elemen pesawat F-82 sedang berpatroli di atas Korea Selatan dalam cuaca mendung tebal ketika mereka menerima permintaan mendesak untuk memberikan dukungan udara bagi beberapa pasukan darat yang terdesak. Kegelapan mendekati ketika mereka, saat mencapai daerah itu dan menemukan pasukan darat PBB terjepit oleh serangan mortir. Pilot-pilot F-82 kemudian membuat beberapa lintasan untuk bersiap membuka kontak dengan personel pengontrol darat, dan segera setelah target musuh ditentukan, pesawat bersenjata berat itu memulai serangan yang akan berlangsung selama 45 menit dan menggunakan semua persenjataan yang mereka punyai. Ketika pesawat berhenti untuk terakhir kalinya, posisi mortir musuh sudah diam dan pasukan darat kemudian menunjukkan bahwa lebih dari 300 prajurit musuh tewas dalam serangan yang dilakukan pesawat-pesawat Twin Mustang itu.

BERGESER KE MISI PENGINTAIAN

Dalam minggu-minggu terakhir tahun 1950, dimulai dari awal bulan Oktober, F-82 dari Skuadron ke-68 ditugaskan untuk melakukan pengintaian cuaca jarak jauh di wilayah Utara. Pada saat yang sama, skuadron itu juga akan bertanggung jawab untuk mempersiapkan setidaknya tiga pesawat dalam keadaan siaga di lapangan udara di wilayah Seoul (K-13 (Suwon) dan K-14 (Kimpo)), meskipun didalam kegelapan dan cuaca buruk. Ini kemudian akan menjadi misi utama F-82 hingga akhir tahun 1950, karena pesawat-pesawat F-51, F-80 dan F-84 akan mengambil alih sebagian besar misi serangan darat yang mana F-82 telah dipaksakan untuk menjalaninya di masa-masa awal perang. Sementara itu dengan masuknya pasukan Komunis China ke dalam perang, situasi di medan tempur mulai memburuk dengan cepat. Pada akhir bulan Desember, pesawat-pesawat Skuadron ke-68 telah mulai menerbangkan misi yang dilakukan dua pesawat pada siang hari dan misi pesawat tunggal pada malam hari dari pangkalan udara Kimpo. Pada tanggal 7 Januari, FEAF memerintahkan Skuadron ke-68 untuk mulai menerbangkan misi pengintaian bersenjata untuk memeriksa jalan-jalan di wilayah Korea Utara bagian selatan karena pasukan PBB dengan cepat mundur ke selatan karena serangan China. Ini adalah mimpi buruk karena tentara-tentara Cina mengalir deras ke selatan, dan tampaknya situasinya akan menjadi seperti pada bulan Juni sebelumnya.

Di masa-masa akhir kiprahnya di Korea, Twin Mustang ditugaskan untuk menjalankan misi-misi pengintaian udara jarak jauh. (Sumber: https://www.thedrive.com/)

Dalam periode ini, salah satu pilot dari Skuadron ke-68, Letnan R.K. Bobo, memberi contoh ketahanan dari Twin Mustang selama misi-misi pengintaian yang panjang: “Misi pengintaian cuaca yang kami terbangkan, dalam banyak kasus, seperti latihan melawan kebosanan. Terkadang kami diperintahkan untuk melihat area target tertentu. Tetapi sebagian besar waktu kami ditugaskan untuk mengevaluasi kondisi cuaca di area luas yang akan diserang pesawat-pesawat pembom tempur di kemudian hari. Pada misi ini, kami membawa muatan penuh amunisi kaliber .50 dan tangki bahan bakar cadangan untuk memberi kami kemampuan terbang dalam jarak yang lebih jauh. Dalam satu misi yang tak terlupakan, kami berangkat untuk menjelajahi area di sepanjang Sungai Yalu di sudut barat laut Korea. Dari sana, kami akan terbang ke timur, tepat di selatan sungai. Seluruh Korea Utara berada di bawah awan tebal dan sungai membeku, yang membuat radar kami hampir tidak berguna karena kami bergantung padanya untuk membedakan antara perairan terbuka dan daratan. Juga, kami disitu kerap melawan angin kencang. R / O saya kemudian memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk bisa mencapai wilayah pantai timur dan Laut Jepang. “Kami terbang dalam waktu yang sangat lama tanpa mencapai garis pantai. Ketika kami akhirnya berhasil, kami berbelok cepat dan menuju ke selatan dan mulai mencoba menghubungi stasiun DF di Wonsan untuk meminta perbaikan. Karena bahan bakar kami menipis akibat penerbangan panjang kami, kami harus mendarat di Pangkalan Udara Kimpo. Setelah di darat, kami mulai menghitung waktu kami di udara dan jarak yang kami tempuh ke arah timur. Angka kami menunjukkan bahwa kami pasti sudah tepat di atas Vladivostok sebelum berbelok ke selatan! Rusia mestinya melacak telah kami di radar dan mengira kami bukan ancaman. Jika tidak, kami tentunya akan berada dalam masalah serius. ” Pada tanggal 26 Januari, misi pengintaian bersenjata dihentikan dan F-82 ditempatkan untuk menjalankan misi patroli udara tempur terus menerus di atas Lapangan Udara Kandong dekat Pyongyang dan di atas kedua lapangan terbang utama Pyongyang, (K-23, Pyongyang dan K-24, Pyongyang Timur) untuk memantau aktivitas udara musuh. Ini penting karena setiap pesawat China yang beroperasi di luar pangkalan ini akan berada dalam jangkauan garis depan PBB. Aksi Skuadron ke-68 tersebut kemudian mengklaim mampu menghancurkan setidaknya 35 truk, dan merusak banyak lainnya.

PENUTUP

Dengan berjalannya waktu di tahun 1951, pesawat-pesawat F-82 dari Skuadron ke-68 terus melanjutkan misi pertahanan udara di atas Seoul dan menerbangkan penerbangan pengintai cuaca; namun, tugas tempurnya menjadi semakin terbatas. Kontribusi F-82 di Korea dengan cepat mendekati akhir. Pada akhir bulan Agustus 1951, hanya delapan pesawat F-82 yang masih beroperasi dengan Skuadron ke-68, karena kebutuhan akan pesawat-pesawat tipe ini telah sangat berkurang, dengan penggantinya, Lockheed F-94 Starfire mulai tiba di Jepang, mengambil alih misi yang sebelumnya diterbangkan oleh Twin Mustang. Pada bulan Maret 1952, Skuadron Interceptor-Fighter ke-319 yang dilengkapi dengan pesawat-pesawat Starfire tiba dari Moses Lake AFB, Washington dan kemudian berpangkalan di K-13. Sementara itu dengan diperkenalkannya jet tempur seperti MiG-15 oleh pihak komunis di Korea segera menandakan akhir dari era pesawat tempur propeller, dan langit di atas Korea segera dipenuhi dengan pesawat-pesawat jet tempur F-86 Sabre dan MiG-15 yang terlibat dalam duel udara mematikan di zaman atom. Bulan maret 1952 adalah bulan terakhir operasi untuk pesawat propeller jarak jauh yang besar ini, yang telah menjembatani kesenjangan antara pensiunnya pesawat P-61 Black Widows lama dengan kedatangan jet tempur baru yang bisa beroperasi dalam segala cuaca. Pada tanggal 28 Maret 1952, F-82G terakhir dikirim untuk menerima modifikasi agar bisa dioperasikan di cuaca dingin, dan kemudian dikerahkan ke wilayah Alaska. Pada pertengahan bulan April 1952, F-82 di Okinawa juga dikirim ke mainland Jepang untuk dimodifikasi dan juga dikirim ke Alaska. Tanggung jawab pesawat tempur segala cuaca FEAF sekarang berada di tangan pesawat-pesawat F-94. Selama Perang Korea, USAF mengklaim bahwa Twin Mustang telah menghancurkan 20 pesawat tempur musuh, empat di udara dan 16 di darat selama konflik itu. Dalam perang itu, 22 F-82 dinyatakan hilang, termasuk 11 dalam misi tempur dan 11 karena alasan non-tempur. Dalam prosesnya, meski singkat, bagaimanapun Twin Mustang telah memberikan kontribusi yang signifikan pada saat-saat paling kritis dalam konflik besar pertama di masa Perang Dingin, dan mendapatkan tempatnya dalam sejarah pertempuran udara dengan catatan yang membanggakan.

Twin Mustang Nomor 46-371 dariSkuadron Ke-68 di Itazuke AB. Meski karirnya tidak berumur panjang, namun Twin Mustang telah menorehkan prestasi yang cukup bagus dalam dunia penerbangan militer. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

This Forgotten Fighter Drew First Blood in Korean Skies by Warren E. Thompson

Twins over Korea Posted on December 31, 2016

F-82 Twin Mustang navigator explains how he and his pilot scored the first air-to-air victory of the Korean War by Dario Leone

https://www.google.com/amp/s/theaviationgeekclub.com/f-82-twin-mustang-navigator-explains-how-he-and-his-pilot-scored-the-first-air-to-air-victory-of-the-korean-war

Forgotten fighter in the sky: Remembering some historic moments of the F-82 Twin Mustang by Andy Wolf; April 17, 2019

This Weird Fighter Got The First Air-To-Air Kill Of The Korean War BY BRAD HOWARD; JULY 09, 2018

https://en.m.wikipedia.org/wiki/North_American_F-82_Twin_Mustang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *