Krisis di Aden dan Akhir Kolonialisme Inggris di Semenanjung Arab (1963-1967)
Komisaris Tinggi Aden Sir Kennedy Trevaskis, berjalan melintasi jalur aspal berkilauan yang menjadi bagian dari bandara sipil Khormaksar, Aden. Di landasan pacu, terdapat badan pesawat monoplane bermesin ganda yang berkilauan, pilotnya menunggu kedatangan diplomat senior ini. Dengan agak tergesa-gesa, dan tentu saja menyadari keadaan genting waktu itu, Trevaskis memperpanjang langkahnya, memperpendek jarak antara dirinya dan pesawat yang tak bergerak (BAOC Flight BA 237) yang akan menuju London, Inggris, tempat ia akan berusaha untuk membahas perkembangan konstitusional Federasi Arab Selatan. Meskipun situasinya tidak akut, namun keadaannya mendesak, mengingat meningkatnya kerusuhan; protes terorganisir dan tindakan kekerasan telah meletus sebagai tanggapan terhadap pendudukan Inggris di wilayah itu. Trevaskis berpendapat bahwa peningkatan jumlah prajurit Inggris, bersama dengan pengiriman perangkat keras militer (pesawat, senjata api, dan kendaraan), dapat meredakan kegentingan lebih lanjut. Sejalan dengan utusan Inggris, ada juga George Henderson, Wakil Komisaris Tinggi, dan Donald Foster, Sekretaris Tetap. Dalam hitungan detik, rombongan Trevaskis sudah berada di samping pesawat udara dengan kerumunan penonton yang menonton. Saat Trevaskis menuju tangga badan pesawat, suara di belakang menarik perhatiannya. Namun, sebelum dia bisa berbalik, George Henderson bergerak ke belakang dan menerima ledakan penuh granat, yang dilemparkan oleh seorang gerilyawan, seorang anggota Front Pembebasan Nasional. Foster, sang Wakil, juga terluka, bersama 24 orang lainnya. Ironisnya, upaya pembunuhan tersebut menarik perhatian publik, lebih dari perundingan diplomatik yang mengikuti kemudian. Krisis memanas. Tanggalnya 14 Desember 1963, pada hari itulah keadaan darurat diumumkan. Keadaan itu ditetapkan sebagai Keadaan Darurat Aden.
LATAR BELAKANG
Pada tahun 1839 Inggris merebut kota Aden (sekarang bagian dari Yaman) di selatan Jazirah Arab. Pelabuhan, bersama dengan Hadhramaut (kesultanan Qu’aiti dan Kathiri yang bersejarah), direbut oleh unsur-unsur dari Perusahaan India Timur dan Angkatan Darat Inggris. Seperti penaklukan Siprus (1878) dan Mesir (1882), pendudukan Aden lebih bersifat strategis dibandingkan komersial. Aden awalnya menarik bagi Inggris sebagai pos anti-pembajakan untuk melindungi pelayaran di rute menuju India yang dikuasai Inggris. Dengan Somaliland yang dikuasai Inggris berada di ‘tanduk Afrika’, Aden memberikan kendali atas pintu masuk ke Laut Merah. Dengan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869, Aden selanjutnya berfungsi sebagai stasiun pengisian batubara dan untuk bertindak sebagai wilayah penyangga terhadap pengaruh Turki Ottoman yang menduduki Yaman. Meskipun awalnya dikendalikan oleh Kepresidenan Bombay, yurisdiksi wilayah tersebut, yang meliputi Permukiman Aden (pelabuhan) dan Protektorat (daerah pedalaman), diserahkan kepada Kementerian Luar Negeri pada tahun 1917. Ketakutan akan invasi Ottoman (Turki) telah mendorong pemindahan wilayah tersebut. Hal ini berlanjut hingga tahun 1928, ketika Komando Aden didirikan, tujuannya untuk memberikan keamanan wilayah dari faktor internal dan eksternal. Selama periode sejak aneksasi Aden, Inggris telah menandatangani banyak perjanjian perlindungan dengan para emir di pedalaman untuk mengamankan kekuasaan Inggris atas wilayah tersebut. Dalam sistem ini, meskipun para Syekh, Emir, atau Sultan terus memerintah wilayah kesukuan mereka seperti biasanya, setiap perilaku buruk mereka (seperti memulai perang dengan suku tetangga) akan mengakibatkan tindakan hukuman dari otoritas Inggris. Jika diinginkan, Inggris tidak akan segan-segan mengasingkan penguasa pembangkang secara sewenang-wenang, dan menggantinya dengan anggota keluarga (atau orang lain) yang lebih mau bekerjasama dengan Inggris. Hal ini serupa dengan kendali longgar terhadap batas-batas imperium yang telah mereka (dan sebelum mereka Romawi) terapkan dan berhasil dilakukan di India, Burma, dan tempat lainnya.
Pada tahun 1937 Aden menjadi Koloni Inggris (daerah yang dikelola oleh Gubernur yang bertindak atas nama raja). Karena pentingnya pelabuhan ini, pelabuhan ini berkembang pesat dan menjadi salah satu aset koloni Inggris terkaya. Memang benar, signifikansinya ditunjukkan oleh jumlah kapal yang memasuki pelabuhan Adem; misalnya, sekitar 5.329 kapal (besar dan kecil) berlabuh pada tahun 1955, menjadikannya tempat berlabuh tersibuk kedua di dunia setelah New York. Pelabuhan kuno dan alami di Aden terletak di kawah gunung berapi yang sudah punah yang membentuk semenanjung, dihubungkan ke daratan oleh tanah genting rendah. Aden waktu itu memiliki populasi sekitar 590.000 jiwa. Aden terdiri dari sejumlah kota kecil: Crater, kota pelabuhan asli, kota industri yang dikenal sebagai Aden Kecil dengan kilang minyaknya yang besar, dan Madinat ash-sha’b, pusat pemerintahan. Dua pinggiran kota, Khormaksar dan Sheikh Othman, terletak di utara Crater, kota tua, dengan bandara internasional terletak di antara keduanya. Aden Inggris terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah Koloni Aden yang luasnya 70 mil persegi terletak di sepanjang pantai Laut Merah. Di wilayah ini terdapat pelabuhan Aden, lapangan terbang RAF bernama Khormaksar, kilang minyak BP, kota Little Aden dan distrik Crater, yang menampung total tujuh ratus ribu orang Arab. Semua area ini terletak di sekitar pelabuhan laut dalam alami yang diciptakan oleh gunung berapi yang sudah punah.
Setelah kemerdekaan India pada tahun 1947, Aden menjadi kurang begitu penting bagi Inggris. Pada awal tahun 1950-an, kendali Inggris di Aden tidak lagi dilihat dari sisi untung-rugi (berkontribusi pada perekonomian), namun lebih sebagai sebuah tantangan terhadap identitas nasionalnya. Para pembangkang kemudian bermunculan, berusaha untuk menggusur pemerintahan barat, dengan bahaya terbesar datang dari Yaman, yang didukung oleh suku-suku militan di daerah pedalaman. Terlebih lagi, ketika Imperium Inggris mulai runtuh di akhir tahun 1940an dan dekade 1950an, Protektorat ini semakin penting, baik sebagai pelabuhan utama untuk mengakses minyak di Timur Tengah maupun sebagai benteng pertahanan Inggris yang tersisa di wilayah tersebut. Keadaan darurat yang kemudian berkembang di Aden ini sebagian besar dipicu oleh gelombang nasionalisme Arab yang menyebar ke Semenanjung Arab dan sebagian besar berasal dari doktrin sosialis dan pan-Arab dari pemimpin Mesir Gamel Abdel Nasser. Dalam periode ini, Pasukan Inggris, Prancis, dan Israel yang menginvasi Mesir setelah nasionalisasi Terusan Suez oleh Nasser pada tahun 1956 terpaksa mundur setelah adanya intervensi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet. Nasser bagaimanapun hanya menikmati sedikit keberhasilan dalam menyebarkan doktrin pan-Arabnya ke seluruh dunia Arab, dan upayanya pada tahun 1958 untuk menyatukan Mesir dan Suriah sebagai Republik Persatuan Arab gagal tiga tahun kemudian. Pada bulan Februari 1959 Inggris memberikan kemerdekaan kepada Federasi Arab Emirat (gabungan dari enam negara), yang dibentuk dari koloni Aden dan protektorat di sekitarnya, untuk menstabilkan wilayah tersebut, yang telah dirundung kerusuhan selama bertahun-tahun yang dipicu oleh nasionalisme Arab dan anti-kolonialisme. Pemberontakan anti-kolonial di Aden pada tahun 1963 lalu memberikan peluang potensial lain bagi doktrin Nasser, meskipun tidak jelas sejauh mana Nasser secara langsung menghasut pemberontakan di Aden, dibandingkan dengan kelompok gerilya Yaman yang mengambil inspirasi dari gagasan pan-Arab Nasser tetapi bertindak secara mandiri. Sementara itu setelah menggantikan Siprus sebagai basis Angkatan Darat Timur Tengah, Aden memiliki nilai strategis yang lebih besar bagi Inggris, dibanding mempertahankan kehadiran global Angkatan Darat Timur Jauh-nya di Singapura. Pada tahun 1962 pemerintah Inggris mengumumkan bahwa garnisun permanen Inggris akan dipertahankan di Aden.
PIHAK YANG BERHADAPAN
Pada bulan Januari 1963, sebagai tanggapan atas meningkatnya kerusuhan kelompok nasionalis di wilayah tersebut, Inggris membujuk wilayah syekh Protektorat Aden (yang sudah bertambah menjadi gabungan sembilan negara) untuk bergabung dengan Koloni Aden, dan pada 18 Januari 1963, Koloni Aden bergabung dengan koalisi, membentuk Federasi Arab Selatan (atau FSA). Wilayah-wilayah di sekitarnya memang selalu bersifat semi-independen, namun Inggris mampu mempengaruhi hubungan luar negeri mereka dan mendirikan garnisun lokal dengan imbalan perlindungan militer. Pada tahun 1964, sambil terus mengurangi komitmen kolonialnya, Pemerintah Inggris mengumumkan bahwa kemerdekaan akan diberikan kepada FSA yang baru dibentuk pada tahun 1968. Bagaimanapun, sepanjang pertengahan tahun 1960-an, Federasi baru bentukan Inggris ini menghadapi ancaman besar. Pada tahun 1963 dan tahun-tahun berikutnya, kelompok gerilya anti-Inggris dengan berbagai tujuan politik mulai bersatu menjadi dua organisasi yang lebih besar dan saling bersaing: pertama Front Pembebasan Nasional (NLF) yang berideologi Marxist dan didukung Mesir dan kemudian Front Pembebasan Yaman Selatan yang Diduduki (FLOSY), yang saling menyerang melawan Pemerintah Inggris. Persaingan diantara kedua kelompok perlawanan ini tidak main-main, misalnya menjelang akhir pemberontakan di awal tahun 1967 NLF membunuh sedikitnya 35 anggota FLOSY hanya dalam 32 hari. NLF didirikan pada bulan Juni 1963. Anggotanya terdiri dari orang-orang buangan dari Aden dan Federasi, bersama dengan pendukung dari suku-suku di pedalaman dan pelabuhan serta kilang di sepanjang pantai. Pemberontak Said Nasr menyatakan bahwa ada dua tipe pejuang NLF yang berbeda: ‘Warga suku yang bertempur di pegunungan dan daerah perbatasan’ dan ‘… mereka yang berasal dari kota yang bekerja sebagai fedayeen dengan bahan peledak.’ Sementara itu FLOSY yang adalah kelompok pro-Arab, menentang NLF yang beridiologi Marxist. Didirikan pada tahun 1964, FLOSY, seperti mitranya, merupakan gabungan dari para petempur dan termasuk mereka yang dididik di Mesir dan Yaman, bersama dengan kekuatan gabungan gerilyawan yang kurang terlatih, tidak memiliki perlengkapan yang memadai melancarkan perang pemberontakan. Meskipun mereka kurang berpengalaman, sebagian besar, seperti yang disimpulkan dalam laporan A note on terorism di Aden, termotivasi oleh: ‘Perasaan anti-Inggris dan anti-Federal yang kuat, didukung oleh perasaan simpati terhadap Sosialis Mesir dan… kekaguman terhadap Nasser sebagai… pemimpin.’
Di Aden mortir dan Bazooka digunakan untuk menyerang pasukan Inggris, namun tidak sering. Senjata-senjata ini tidak dipakai luas di kawasan perkotaan karena terlalu mencolok. Para pemberontak lebih memilih menggunakan pistol dan revolver karena relatif mudah disembunyikan. Dengan senjata ini, para korban diidentifikasi, dikuntit dan dieksekusi dengan satu tembakan di saat yang tepat, sebelum pelaku dapat melarikan diri di tengah keramaian. Untuk melawan ancaman-ancaman ini, terdapat Tentara Reguler Federal (FRA), yang terdiri dari sekitar lima batalyon, bersama dengan tambahan 30.000 personel asal Inggris, dan dilengkapi dengan mobil-mobil lapis baja Ferret. Mobil Pengintai Ferret Mark II dilengkapi dengan senapan mesin Browning kaliber .30. Mobil ini sangat kokoh digunakan baik di daerah perkotaan maupun pegunungan, dan dapat menghancurkan mobil teroris jika digunakan sebagai kendaraan pendobrak. Selain itu, Inggris juga menggunakan Kendaraan Pengangkut Personil Lapis Baja Saracen untuk membawa pasukan ke dalam lokasi kerusuhan dan melancarkan penyerangan, sehingga pasukan mereka dilindungi oleh lapisan pelindung sampai mereka benar-benar tiba di lokasi konflik. Saracen dapat membawa sepuluh tentara bersenjata dan dilengkapi dengan senapan mesin Browning kaliber .30. Kecepatan tertingginya adalah 45 mph (72,42 km/jam) dan didukung oleh mesin Rolls Royce. Banyak dari kendaraan-kendaraan ini yang ditingkatkan dengan penambahan lapisan baja untuk perlindungan ekstra. Kemampuannya untuk tetap beroperasi setelah dua dari enam rodanya meledak terbukti sangat berharga dalam banyak kesempatan. Sementara itu, meskipun hubungan pada awalnya harmonis, pemerintah kolonial segera menjadi curiga terhadap FRA, karena tingkat infiltrasi yang mengkhawatirkan oleh pemberontak NLF dan FLOSY, yang mengakibatkan ketegangan yang mendalam.
Secara eksternal, pemerintah republik Yaman, yang telah menggulingkan rezim royalis melalui kudeta September 1962, memberikan perlindungan dan menyalurkan dukungan Mesir dan Uni Soviet kepada para pemberontak. NLF dan FLOSY menggunakan kombinasi taktik gerilya serang lari klasik di wilayah protektorat terutama Radfan dan melancarkan aksi terorisme perkotaan di Aden yang ditandai dengan serangkaian pemboman, penembakan, dan serangan granat terhadap aparat dan infrastruktur pemerintahan sipil, personel militer, dan warga sipil. Pembalasan Inggris atas serangan-serangan tersebut cepat, keras dan sering kali tidak pandang bulu, kemudian menyebabkan kebencian di komunitas lokal dan menyebabkan mereka bergabung dengan para pemberontak. Karena kurangnya informasi mengenai musuh-musuh mereka, pasukan Inggris terpaksa melakukan operasi menghentikan dan pencarian diantara warga, serta patroli reguler di Aden, awalnya dengan berjalan kaki tetapi kemudian dengan didukung mobil lapis-mobil baja, untuk mengidentifikasi para pemberontak dan pendukung mereka. Meskipun pertikaian sudah terlihat jelas sebelum tahun 1960-an (dengan adanya pertemuan rahasia, pemogokan, dan slogan-slogan anti-imperialis yang ditempel di dinding untuk menunjukkan keluhan mereka), pertikaian tersebut tidak signifikan dan pada dasarnya tidak terorganisir. Kecuali eksekusi pejabat politik Peter Davey dan penikaman Mayor Seager yang hampir fatal tiga tahun kemudian (pada tahun 1950).
KRISIS
Permusuhan dimulai pada tanggal 14 Desember 1963, seperti yang telah dijelaskan di awal tulisan dengan serangan granat NLF terhadap Komisaris Tinggi Inggris Aden Sir Kennedy Trevaskis, yang terjadi ketika ia tiba di Bandara Khormaksar untuk mengejar penerbangan menuju London. Granat tersebut menewaskan penasihat Komisaris Tinggi dan seorang wanita, serta melukai lima puluh orang lainnya. Pada hari itu, keadaan darurat diumumkan di Aden. NLF dan FLOSY kemudian memulai kampanye melawan pasukan Inggris di Aden, dengan mengandalkan serangan granat. Salah satu serangan serupa dilakukan terhadap pangkalan RAF di Khormaksar saat pesta anak-anak, yang menewaskan seorang gadis dan melukai empat anak. Hal ini kemudian diikuti dengan pecahnya kekerasan secara umum, yang berpuncak pada kematian Inspektur Cabang Khusus Aden, Fadhl Khalil, pada tanggal 26 Desember dan seorang warga negara Arab yang ditembak oleh penjaga Inggris. Serangan gerilya yang terjadi di Aden sebagian besar terfokus pada pembunuhan perwira dan polisi Inggris yang sedang tidak bertugas. Sebagian besar kekerasan terjadi di Crater, kawasan Arab lama di Aden. Pasukan Inggris berusaha mencegat senjata yang diselundupkan ke Crater oleh NLF dan FLOSY di jalan Dhala, tetapi upaya mereka tidak membuahkan hasil. Meskipun pasukan Inggris menderita kerugian besar, jumlah korban tewas di kalangan pemberontak jauh lebih tinggi, sebagian besar disebabkan oleh pertikaian antar-faksi di antara kelompok pemberontak yang berbeda. Masalah kemudian berkembang di wilayah pegunungan Radfan, di mana para pemberontak suku setempat menyerbu jalanan yang menghubungkan Aden dengan kota Dhala dekat perbatasan Yaman. Karena panjangnya, jalan raya tersebut praktis sangat rawan, dimana para pemberontak bisa menyergap sasaran militer dan komersial dengan leluasa. Hal ini memerlukan respons kontra-pemberontakan, dan pada bulan Januari pasukan Inggris turun ke distrik pegunungan untuk memulihkan ketertiban, melalui dua kampanye yang saling berhubungan (satu dengan nama sandi Nutcracker, yang lain Cap Badge). Selama kedua kampanye ini, dukungan udara diberikan oleh helikopter-helikopter Wessex HAS. 1 RN (Royal Navy), helikopter Bristol Type 192 Belvedere dan Type 171 Sycamore, bersama dengan pesawat Avro Shackleton Mk II dan Hunter FGA. 9, keduanya melakukan misi pengintaian foto. Kebetulan, peran utama RAF di Aden adalah mendukung pasukan darat, dengan personelnya melakukan apa saja mulai dari misi evakuasi korban (biasanya disebut Casevac sejak Perang Vietnam), hingga pengintaian udara dan operasi ofensif.
Pada bulan Januari 1964, tiga batalyon Tentara Reguler Federasi (FRA), dengan dukungan udara Inggris, memulihkan keadaan. Namun ketika mereka mundur, masalah kembali berkobar, dan para pemberontak menerima dukungan NLF. Pada tahun 1964 Brigade Infanteri ke-24 Inggris tiba untuk melakukan operasi darat. Ia akan tetap berada di Aden dan Protektorat Aden hingga bulan November 1967. Meskipun berbagai operasi terjadi, yang paling terkenal terjadi pada tanggal 29 April 1964, saat pihak berwenang melakukan ekspedisi kedua, kali ini dengan tentara Angkatan Darat Inggris. Bersama dengan dua batalyon FRA mereka maju dengan cepat melalui medan yang sulit, merebut lereng bukit dan bukit yang mendominasi wilayah kesukuan. Dalam operasi ini muncul insiden yang tragis, ketika patroli tempur yang diarahkan oleh Kapten John Edwards dari Pasukan No. 3, Somerset dan Cornwall Light Infantry (SCLI), disergap, perwira senior tersebut, bersama dengan polisi John Warburton, ditangkap, dieksekusi, kepala mereka dipenggal dan dipajang di ibu kota Yaman, Sana’a. Pada tanggal 26 Mei 1964 mereka telah merebut benteng utama pemberontak di Wadi Dhubsan dan menumpas pemberontakan suku. Sejak bulan November 1964, NLF kemudian mengalihkan upayanya ke Aden sendiri, di mana mereka memulai kampanye teroris perkotaan. Tentara Inggris dan keluarga mereka, anggota pasukan keamanan setempat dan pendukung pemerintah semuanya diserang. Meskipun pasukan Special Air Service (SAS) dikerahkan secara diam-diam untuk melawan teroris, kampanye intimidasi yang dilakukan NLF mempersulit pasukan keamanan untuk mengumpulkan informasi intelijen, karena penduduk setempat tidak mau bekerja sama. Pada tahun 1965, pangkalan RAF Khormaksar mengoperasikan sembilan skuadron, termasuk unit transportasi dengan helikopter dan sejumlah pesawat pembom tempur Hawker Hunter. Mereka kerap diminta oleh pasukan Inggris untuk menyerang posisi pemberontak di mana mereka akan menggunakan roket berdaya ledak tinggi seberat 60 pon (27 kg) dan kanon ADEN kaliber 30 mm.
Salah satu tugas terpenting (Angkatan Darat), dan menuntut perhatian luar biasa terhadap detail, adalah menemukan dan menghancurkan tempat penyimpanan senjata para gerilyawan. Seorang pengamat mengatakan bahwa barang-barang tersebut, “… biasanya disembunyikan di dalam karung goni, terkubur sangat dalam di dalam tanah, sehingga dapat dengan mudah terlewatkan dalam operasi pembersihan.” Pada suatu kesempatan, pada bulan Juni 1966, pasukan keamanan dikerahkan ke sisa-sisa reruntuhan yang membara (dulunya sebuah rumah di Crater). Setelah mencari di tengah puing-puing, prajurit Inggris menemukan batang tubuh yang hilang pada kedua lengan dan kepala, bersama dengan setumpuk buku catatan dari tutorial sabotase yang dibuat di Kairo, Mesir. Jelas sekali, calon teroris tersebut secara keliru menyalakan bahan peledak yang ingin ia produksi, sehingga menewaskan dirinya sendiri. Sementara itu, beberapa prajurit Inggris memiliki beberapa pengalaman dalam memerangi para pemberontak di masa-masa ini. ‘Ada serangkaian kerusuhan anti-Inggris di kota Crater… Jadi kami memulai tugas IS, Keamanan internal, di mana kami membentuk apa yang disebut “The Box”. Kami memiliki sepasang pria dengan spanduk bertuliskan “bubar atau kami akan menembak”, tentu saja dalam bahasa Arab. Anda memiliki seorang juru kamera… untuk mengambil gambar orang-orang lokal yang mencurigakan di tengah keramaian. Anda mempunyai pasukan penembak di sekitar Anda dan Anda memiliki satu orang dengan pengeras suara, dan Anda memiliki petugas pencatat yang harus mencatat semua kejadian yang berjalan bersama dengan petugas di tengah “the box“, untuk menghindari lemparan batu. Dan ada beberapa kerusuhan yang cukup serius di Crater dan beberapa tembakan dilepaskan.’ Kata Sersan John Wells, di Aden antara tahun 1965-66. “Batalyon saya, ada dua orang yang tewas dan sejumlah lainnya luka-luka. Tapi kami memiliki tur yang sangat sukses. Kami menemukan banyak senjata ilegal dan… juga menangkap beberapa teroris. Suatu kali, kami mempunyai empat orang yang berjaga-jaga, termasuk komandan peleton saya, ketika lengannya tertembak. Dan kami bisa mengetahui dari mana tembakan itu berasal, jadi kami membuka tembakan ke arahnya untuk melihat apakah kami bisa memaksa keluar siapa pun yang sedang mencoba menembaki kami. Dan itulah pertama kalinya aku sebagai prajurit muda berada di bawah tembakan musuh, dan aku bisa merasakan lututku gemetar. Tapi kemudian… kami melihat bendera putih berkibar dari gedung, jadi jelas sekali mereka menyerah.’ Demikian catatan dari Kopral David Harding, Batalyon ke-3 Resimen Kerajaan Anglian antara tahun 1966-67.
Apa yang membuat posisi pasukan keamanan Inggris begitu sulit bukanlah taktik yang digunakan pihak lawan, namun lingkungan di mana mereka beroperasi. Crater, seperti yang diamati oleh arsiparis Museum Perang Kerajaan, Geoff Richards: ‘sebuah lubang kelinci yang dipakai berperang.’ Kota itu adalah sebuah labirin dengan jalan-jalan yang sempit dan berkelok-kelok, jalan buntu dan tempat-tempat yang tidak terlihat, yang memfasilitasi perang gerilya. Berusaha untuk menggagalkan upaya tersebut, dan dalam upaya untuk membendung para pemberontak, Company Royal Pioneer Corps (sebelumnya Korps Buruh), mendirikan barikade beton, sehingga memisahkan jalan raya dan membentuk penghalang yang dirancang untuk menghambat aktivitas gerilya. Namun, begitu didirikan, mereka dihancurkan. Lubang-lubang kemudian dibuat, menciptakan lorong-lorong untuk memudahkan pelarian. Di tengah jalan yang berbelit-belit dan kerumunan orang yang tiada habisnya, kemampuan prajurit Inggris untuk merespons ancaman berbahaya dengan tepat menjadi terhambat. Oleh karena itu, para prajurit dengan cepat belajar untuk memindai dan membalas dengan tembakan akurat ke sasaran yang melarikan diri. Memang benar, laporan Angkatan Darat Inggris mengenai serangan distrik Tawahi pada tanggal 2 Maret 1966, menunjukkan betapa efektifnya pasukan keamanan ketika seorang Letnan Marinir Kerajaan membunuh seorang pria berusia sekitar 20 tahun yang melarikan diri, dengan satu tembakan dari pistol Browning kaliber 9mm miliknya. Sayangnya, tugas mereka sangat terhambat oleh simpatisan lokal (terkadang perempuan dan anak-anak) yang melakukan penyembunyian. Oleh karena itu, para pemberontak, setelah mencapai tujuan mereka (biasanya pelemparan granat), dengan cepat disembunyikan oleh rekan-rekan konspirator, sehingga pembalasan akan menjadi masalah, dan bahkan tidak mungkin bisa dilakukan.
PEMBERONTAKAN DI ADEN
Pada tanggal 19-20 Januari 1967, NLF memprovokasi kerusuhan jalanan di Aden untuk melawan pendudukan. Di Aden, demonstrasi terkadang dipakai untuk memancing aparat keamanan ke zona mematikan. Akan tetapi demonstrasi dan kerusuhan semacam ini dilancarkan utamanya untuk menunjukkan kekuatan, dimana aparat sukar untuk mengontrolnya dan untuk tujuan propaganda. Setelah polisi Aden kehilangan kendali, Komisaris Tinggi Inggris Sir Richard Turnbull lalu mengerahkan pasukan Inggris untuk menumpas kerusuhan tersebut. Segera setelah kerusuhan NLF ditumpas, perusuh pro-FLOSY turun ke jalanan. Pertempuran antara pasukan Inggris dan perusuh pro-pemberontakan berlangsung hingga bulan Februari. Pasukan Inggris telah melepaskan tembakan sebanyak 40 kali, dan selama periode tersebut terjadi 60 serangan granat dan penembakan terhadap pasukan Inggris, termasuk penghancuran pesawat Douglas DC-3 Aden Airways, yang diledakkan di udara, yang menewaskan semua orang di dalamnya. Ini adalah korban pesawat kedua dari dua pesawat yang diserang oleh gerilyawan dengan pesawat pertama melakukan pendaratan darurat di Wadi Rabtah pada tanggal 22 November 1966, menyusul ledakan di dalamnya. Pesawat (VR-ANN) itu sedang dalam perjalanan dari Mayfa’ah menuju Bandara Internasional Aden. Sekitar 30 penumpang tewas, bersama dengan Amir Mohammed bin Said, Perdana Menteri Wahidi. Penyerangnya tak lain adalah putranya sendiri, Ali. Keadaan darurat ini semakin diperburuk dengan Perang Enam Hari pada bulan Juni 1967. Aden dipertahankan oleh Federal Regular Army (FRA) dan Federal National Guard (FNG) yang dibentuk secara lokal, yang kemudian digabungkan menjadi satu kekuatan, sebagai South Arabian Army (SAA). Kekuatan-kekuatan ini semakin tidak dipercaya oleh Inggris, karena infiltrasi besar-besaran yang dilakukan para pemberontak. Nasser mengklaim bahwa Inggris telah membantu Israel dalam perang tersebut, dan hal ini menyebabkan pemberontakan oleh ratusan tentara di Tentara Federasi Arab Selatan pada tanggal 20 Juni, yang juga meluas ke Polisi Bersenjata Aden.
Pemberontakan di Aden ini dimulai pada malam tanggal 19 Juni 1967. Keesokan harinya tentara Arab yang berpangkalan di Lake Lines memberontak dan membakar barak mereka. Penyebab pemberontakan ini adalah penghukuman tiga kolonel Arab dan persaingan antar suku yang terus-menerus di dalam SAA. Sebuah truk tiga ton berisi pasukan Inggris kemudian diserang saat melewati kamp SAA. Delapan personel dari Korps Transportasi Kerajaan tewas dalam serangan tak beralasan ini. Para personel SAA sekarang mengarahkan tembakan mereka ke Kamp Radfan dan menewaskan seorang perwira Inggris, dua polisi dan seorang pegawai pekerjaan umum. Kompi “C” dari Batalyon ke-1 King’s Own Royal Border Regiment lalu diperintahkan untuk menghentikan pemberontakan dengan menggunakan kekuatan minimum. Kompi ini berpindah ke Champion Lines ditemani oleh pasukan Queens Dragoon Guardssebagai pendukung. Saat truk Inggris pertama memasuki Champion Lines, truk tersebut mendapat tembakan senapan mesin. Seorang tentara Inggris tewas dan delapan lainnya luka-luka. Dua Land Rover Inggris juga diserang di Barak Polisi Arab. Hal ini mengakibatkan kematian selusin tentara lainnya, termasuk orang-orang dari Royal Northumberland Fusiliers dan Argyll and Sutherland Highlanders. Para pemberontak kemudian membunuh total 22 tentara Inggris dan menembak jatuh sebuah helikopter (Pilotnya harus meninggalkan upaya lepas landas dekat Crater, Aden setelah lututnya terkena peluru. Helikopter Sioux yang dikemudikannya jatuh dan terbakar tetapi ketiga penumpangnya bisa melarikan diri), dan akibatnya Crater diduduki oleh pasukan pemberontak. Kekhawatiran lalu meningkat mengenai kemampuan untuk memberikan keamanan yang memadai kepada keluarga-keluarga Inggris di tengah meningkatnya kekerasan, sehingga rencana evakuasi bagi keluarga-keluarga tersebut dipercepat secara signifikan. Personel Queen’s Dragoon Guards (QDG), bersama dengan King’s Own Royal Border Regiment (KORBR), dikerahkan untuk menahan pemberontakan lebih lanjut. Namun kerusuhan dengan cepat menyebar dan di Crater, elemen Polisi Bersenjata Aden (AAP) merebut barak resimen, menembaki kendaraan dari jendela yang terbuka, termasuk dua kendaraan yang berisi tentara Inggris.
Setelah pemberontakan, semua pasukan Inggris ditarik dari Crater (jika tidak mereka berisiko ditangkap), sementara Marinir Kerajaan Inggris dari unit Komando ke-45 mengambil posisi menembak di dataran tinggi dan membunuh 10 petempur bersenjata Arab. Namun, Crater tetap diduduki oleh sekitar 400 petempur Arab. Petempur NLF dan FLOSY kemudian turun ke jalanan dan terlibat baku tembak, sementara pembakaran, penjarahan, dan pembunuhan juga biasa terjadi. Pasukan Inggris kemudian memblokir dua pintu masuk utama ke Crater. Mereka mendapat tembakan sniper dari benteng Ottoman di pulau Sira, tetapi sniper itu berhasil dibungkam oleh peluru yang dilepaskan dari sebuah mobil lapis baja. Kelompok Komando NLF kemudian berkeliaran di jalan-jalan yang sepi, membalas dendam dan melepaskan tahanan politik. Sementara itu, sniper pemberontak menargetkan mereka yang memantau situasi dari luar kota. Meskipun perintah telah melarang kontak senjata langsung, para prajurit tetap diberi wewenang untuk menembaki pemberontak. Seorang sniper Royal Marine mengamati, setelah terbunuhnya dua gerilyawan, “Salah satu dari mereka memiliki senapan Inggris yang dirampas dari penyergapan minggu sebelumnya. Saya merasa senang saat melihatnya mati akibat tembakan saya.” Dapat dimengerti bahwa dalam situasi ini fasilitas umum ditutup, begitu pula toko-toko dan tempat usaha kecil lainnya. Sampah berserakan di jalanan (penyapu jalan telah meninggalkan pekerjaannya) dan harga produk makanan segar meningkat secara eksponensial setelah kekacauan tersebut. Sementara mayoritas dari 75.000 warga keturunan Arab, Hindu, dan Somalia berlindung di dalam rumah, warga negara Inggris (yang bekerja secara mandiri) mencari perlindungan di rumah mereka, berdoa agar mereka tetap tidak terdeteksi. Ketertiban kemudian dipulihkan pada bulan Juli 1967, ketika Argyll and Sutherland Highlander ke-1, bersama dengan mobil lapis baja Skuadron A, 1 QDC memasuki Crater di bawah komando Letkol Colin Campbell “Mad Mitch” Mitchell. Dia memimpin pasukan yang menduduki kembali dan menguasai kota Crater setelah 15 hari ditemani oleh para peniup bagpiper resimen yang memainkan “Scotland the Brave.” Mitchell dan anak buahnya berhasil menduduki seluruh distrik dalam semalam tanpa menderita korban jiwa. Secara keseluruhan selama krisis di Crater, 24 prajurit Inggris tewas dan sebuah helikopter hancur.
PENARIKAN MUNDUR INGGRIS
Inggris bagaimanapun menyadari bahwa kehadirannya di Aden akan berakhir lebih cepat. Pada bulan Februari 1966 Inggris mengumumkan bahwa pangkalan Aden tidak akan dipertahankan setelah kemerdekaan diberikan pada tahun 1968. Dengan pengumuman ini hanya sedikit penduduk lokal di Aden yang percaya bahwa pemerintahan FSA yang ada akan dapat bertahan tanpa dukungan Inggris dan oleh karena itu mereka khawatir jika dianggap mendukungnya. Pemerintah Federal kemudian runtuh pada bulan September 1967 dan digantikan oleh rezim Marxist. Serangan gerilya yang berulang-ulang oleh NLF akhirnya menyebabkan Inggris meninggalkan Aden pada akhir bulan November 1967, lebih awal dari yang direncanakan oleh Perdana Menteri Inggris Harold Wilson dan tanpa kesepakatan mengenai pemerintahan berikutnya. Menjelang tanggal penarikan Inggris pada bulan November 1967, NLF dan FLOSY mulai saling bertarung untuk menguasai Aden, dengan NLF lebih unggul. Pada minggu terakhir bulan November, sisa 3.500 orang dari garnisun Inggris dievakuasi. Setelah kepergian Inggris, NLF yang berhasil merebut kekuasaan mendirikan Republik Rakyat Yaman Selatan. Pada tahun 1990 negara ini bergabung dengan Yaman Utara untuk membentuk Republik Yaman. Korban militer Inggris pada periode 1963 hingga 1967 berjumlah 90 hingga 92 orang tewas dan 510 orang luka-luka. Kematian warga sipil Inggris berjumlah 17. Pasukan pemerintah lokal kehilangan 17 orang tewas dan 58 luka-luka. Sementara itu korban di antara pasukan pemberontak mencapai 382 orang tewas dan 1.714 luka-luka. Aden adalah kampanye kontra-pemberontakan kolonial terakhir Angkatan Darat Inggris dan salah satu kampanye yang paling tidak berhasil. Sama seperti di Siprus, Inggris tidak memiliki tujuan-tujuan politik yang jelas di Aden. Mereka memilih menggunakan solusi militer, yang pada akhirnya tidak sukses. Di lain pihak, kelompok perlawanan di Aden mampu memperoleh pijakan di komunitas sipil lewat bujukan maupun intimidasi, yang mana pihak Inggris tidak mampu mengatasinya. Penarikan Inggris dari wilayah Arab selatan melengkapi kemundurannya dari Inggris, yang telah dimulai 20 tahun sebelumnya dengan kemerdekaan India dan Pakistan.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
The Aden Emergency
https://www.militaria-history.co.uk/articles/the-aden-emergency/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Aden_Emergency
PSYOP OF THE ADEN EMERGENCY 1963-1967 By SGM Herbert A. Friedman (Ret.)
https://web.archive.org/web/20201109034725/https://www.psywar.org/aden.php
Aden Emergency
https://www.nam.ac.uk/explore/aden-emergency-1963-67
A Short History Of The Aden Emergency
https://www.iwm.org.uk/history/a-short-history-of-the-aden-emergency
The Aden Emergency 1963 – 1967 Contributed by Jim Herlihy
https://www.britishempire.co.uk/article/adenemergency.htm
WAR IN PEACE: An Analysis Of Warfare Since 1945, Consultant Editor: Sir Robert Thompson, Introduction by John Keegan; 1981, p 114, p 116-117
