Perang Dunia II

Masanobu Tsuji: Kolonel Fanatik dan Penjahat Perang Jepang yang Lolos Dari Hukuman

Malam Tahun Baru 1941, Letnan Kolonel Masanobu Tsuji dari Tentara Kekaisaran Jepang marah besar. Cemerlang, karismatik, dan terburu nafsu, Tsuji telah menyusun cetak biru penaklukan Malaya yang berjalan seperti jarum jam. Namun atasannya baru saja menolak rencananya untuk melakukan serangan frontal terhadap benteng musuh dan malah memerintahkan serangan dari sisi sayap. Pada jam 2 pagi tanggal 1 Januari 1942, Tsuji—dengan mata merah dan berlumuran lumpur setelah bergerak cepat lebih dari 60 mil (96,5 km) di jalan berlubang—menerjang ke markas kepala staf angkatan darat, Letnan Jenderal Sōsaku Suzuki. “Apa maksudmu memakai baju tidur saat aku melaporkan dari garis depan?!” teriak Tsuji. Jenderal Suzuki dengan patuh mengenakan seragam dan pedangnya. “Saya adalah Kepala Staf Operasi yang bertanggung jawab atas operasi seluruh Angkatan Darat,” lanjut Tsuji, seperti yang diceritakan dalam buku sejarah klasik karya John Toland, The Rising Sun. “Saya menyampaikan rencana saya berdasarkan kondisi garis depan yang sebenarnya. Penolakanmu berarti kamu tidak lagi percaya padaku.” Selama lebih dari satu jam, letnan kolonel itu menceramahi jenderal bintang tiga itu, lalu menulis surat pengunduran diri dan mundur ke markasnya, di mana dia merajuk selama beberapa hari sebelum melanjutkan tugasnya seolah-olah dia tidak pernah mengundurkan diri. Serangan dari sayap terbukti berhasil. Suzuki dan Jenderal Tomoyuki Yamashita, Panglima Angkatan Darat ke-25, secara resmi mengabaikan insiden tersebut, sebuah contoh dari sikap gekokujō (“junior mendominasi senior”)—sebuah tradisi khas Jepang mengenai perampasan wewenang oleh perwira staf tingkat menengah—yang membantu memimpin Jepang dan tentaranya menuju kehancuran dalam Perang Pasifik. Tsuji menjadi perwujudan gekokujō. Tsuji menempa karir militer dan politik yang menakjubkan. Dia mempunyai andil dalam keputusan Jepang untuk berperang dengan Amerika.

Letnan Kolonel Masanobu Tsuji, yang kontroversial. (Sumber: https://thehouseofhistory287381190.wordpress.com/2021/04/30/the-enigmatic-colonel-tsuji-masanobu-japans-fanatical-ideologue-staff-officer-and-cannibal/)

Tindakannya dalam Kampanye di Malaya-Singapura membuatnya terkenal di dalam negeri. Meskipun dianggap oleh para pendukungnya sebagai “Dewa Operasi,” ia mendambakan pertempuran dibandingkan perencanaan dan benar-benar berada di tengah-tengah pertempuran dari Manchuria, Guadalcanal, hingga Burma. Seorang rasis yang kejam dan pembunuh massal, ia lolos dari tuntutan sebagai penjahat perang dengan bantuan otoritas Amerika dan kemudian bekerja untuk CIA. Dia bertugas di parlemen Jepang selama sembilan tahun. Di mana pun dia bertugas, Tsuji menarik banyak pengagum setia—dan musuh. Kritikus mengutukinya sebagai seorang fanatik yang berbahaya. Tsuji dipenuhi dengan visi misi bahwa Jepang ditahbiskan oleh Tuhan menjadi pemimpin Asia, yakni lewat: gerakan Pan-Asia—“Asia untuk Orang Asia”—yang akan mengusir penjajah asing (kulit putih) dan membangun modernisasi yang mencerahkan, dengan Jepang sebagai kekuatan penuntunnya. Menumbuhkan aura estetika, Tsuji terkenal dalam anekdot yang mengatakan ia membakar sebuah rumah geisha—dengan sejumlah rekan perwira di dalamnya—untuk memprotes kerusakan moral di ketentaraan. Dia menyukai tempat yang sederhana dan menghindari alkohol serta makan malam seremonial. Dalam masyarakat yang menghargai kepatuhan dan penghormatan terhadap otoritas, Tsuji adalah orang yang asing. Sangat berpendirian keras, dia biasa berbicara pertama kali dalam diskusi dan mengesankan pandangannya pada orang lain karena kepribadian, kecerdasan, dan kepercayaan diri yang tinggi. Masanobu Tsuji adalah salah satu tokoh Jepang yang paling menonjol—dan terkenal kejam—pada masa perang, namun hanya sedikit orang di Barat yang mengetahui namanya.

KHALKIN GOL

Tsuji lahir pada pergantian abad ke-20 dari keluarga miskin di pedesaan Jepang. Tsuji diperkirakan lahir antara tahun 1900 dan 1903. Dalam tulisannya sendiri, Tsuji mengklaim tanggal lahirnya adalah 11 Oktober 1900, dan pada kesempatan lain 1901. Sumber lain berbeda-beda dan saling bertentangan, beberapa menyebutkan tanggal lahirnya paling lambat tahun 1903. Bagaimanapun, ia lahir di Prefektur Ishikawa yang terletak di tengah pulau utama Jepang, dan merupakan putra ketiga seorang pembuat arang. Pikirannya yang tajam menghuni tubuh setinggi lima kaki dua inchi (1,57 meter), yang sering kali sakit-sakitan. Terlepas dari asal usulnya yang sederhana, ia berhasil diterima di sekolah persiapan militer terkemuka, tempat ia bersinar secara akademis. Dia melanjutkan ke Akademi Militer (Rikugun Shikan Gakko) di Tokyo, lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya. Pada tahun 1931 ia lulus nomor tiga di kelasnya saat belajar di Rikugun Daigakko, Perguruan Tinggi Perang Angkatan Darat di Tokyo. Tulisannya sendiri mengungkapkan bahwa dia membentuk sekelompok teman inti dan loyalis di sekitarnya selama berada di Tokyo. Bisa dikatakan bahwa ‘jaringan anak-anak lama’ ini berkembang, yang akan bermanfaat baginya selama tiga dekade mendatang. Menjadi yang terbaik di kelasnya di War College berarti Tsuji menjadi bagian dari Guntogumi, “Klik Pedang Militer.” Kelompok ini, yang hanya diperuntukkan bagi segelintir perwira terpilih yang berprestasi, yang otomatis berarti promosi jalur cepat dan pengakuan di antara seluruh pasukan Jepang. Berkaitan hal ini, pada prakteknya, perwira senior yang tidak pernah mengenyam bangku kuliah bahkan harus memberi jalan kepada bawahannya karena gengsi yang melekat pada pendidikannya. Menteri Perang pada akhir tahun 1930-an, Itagaki Seishiro, menganggap Tsuji sebagai anak didiknya, sehingga perwira muda tersebut mendapatkan banyak pengaruh sejak dini. Penempatan di Staf Umum Angkatan Darat dan Perguruan Tinggi Perang yang bergengsi menandai dia sebagai perwira dengan masa depan cerah. Sejak tahun 1937 dan seterusnya, ia menjabat sebagai perwira staf di Tentara Kwantung Jepang. Dalam periode ini pertama kalinya Tsuji mempraktekkan gekokujō. Konsep ini mulai dikenal di Jepang sekitar abad ke-13. Tsuji adalah salah satu pendukung utama prinsip ini, namun dia bukan satu-satunya yang menyebarkannya. Tsuji menjadi terkenal pada tahun 1939 selama konflik perbatasan Soviet-Jepang. Saat itu seorang mayor, Tsuji adalah perwira staf operasi Tentara Kwantung Jepang, yang berbasis di Manchuria yang diduduki Jepang. Republik Rakyat Mongolia yang bertetangga berada di bawah perlindungan Soviet. Ada beberapa bentrokan perbatasan dengan Soviet karena perwira Jepang seperti Tsuji menolak perintah atasannya untuk mundur. Dalam salah satu insiden tersebut, Tsuji memimpin 40 perwira Jepang ke wilayah sengketa yang dijaga oleh tentara Soviet, hanya untuk melepaskan celana mereka, buang air kecil di depan mata, dan mundur lagi.

Tsuji menjadi yang terbaik di kelasnya di War College. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)
Pertempuran Khalkin Gol antara tentara Soviet dan Jepang. Sikap sembrono Tsuji di sekitar pertempuran ini tidak menghalangi kariernya kemudian. (Sumber: https://id.pinterest.com/pin/322077810829912789/)

Pada bulan April itu, Tsuji merancang perintah agresif mengenai pengamanan perbatasan yang mengabaikan batas-batas negara. “(Adalah) diizinkan untuk memasuki wilayah Soviet atau menjebak atau memikat pasukan Soviet ke wilayah Manchuria,” bunyinya, dan “bertempur sampai kemenangan diraih.” Tsuji membujuk Letnan Kolonel Taku-shirō Hattori, kepala Bagian Operasi, untuk mengadopsi kebijakan yang menghasut pada akhir bulan itu. Dalam beberapa hari, seorang komandan wilayah menerapkannya, yang memicu Insiden Nomonhan, bentrokan kecil antara penjaga perbatasan Mongolia dan Manchuria yang menunggang kuda yang berkembang menjadi perang yang tidak diumumkan pada musim semi dan musim panas antara Jepang dan Uni Soviet. Jepang saat itu sedang terlibat perang penuh dengan China. Baik komando tertinggi angkatan darat maupun pemerintah tidak ingin berperang dengan Uni Soviet. Namun Seksi Operasi Tentara Kwantung, yang didorong oleh Tsuji, terus melakukan intervensi untuk memperluas konflik. Sayangnya bagi Jepang, Moskow mengirimkan seorang komandan yang cakap, Georgy Zhukov, ke Mongolia, bersama dengan bala bantuan yang kuat. Zhukov, yang saat itu berusia 42 tahun, kemudian akan memimpin Tentara Merah mulai dari mempertahankan Moskow pada tahun 1941, melalui kemenangan di Stalingrad dan Kursk, hingga merebut Berlin. Ia dihormati sebagai pahlawan perang terhebat Uni Soviet. Insiden Nomonhan adalah komando tempur besar pertama Zhukov. Dalam insiden ini intelijen militer Jepang berulang kali gagal menemukan persiapan yang sedang dilakukan Soviet. Tsuji tetap agresif dan terlalu percaya diri sampai akhir—yang terjadi pada Agustus 1939, ketika Zhukov melancarkan serangan balasan yang menghancurkan. Korban di pihak Jepang melebihi 20.000 orang. Tujuh ratus orang Jepang melarikan diri dari pengepungan dengan berjalan kaki; Tsuji ada di antara mereka. Ketika Soviet memulangkan tawanan perang asal Jepang, Tsuji secara pribadi memerintahkan mereka untuk bunuh diri karena penangkapan mereka yang tidak terhormat.

GEKOKUJO

Tsuji menganut kepercayaan yang sejalan dengan asketisme yang berasal dari Buddhisme Zen, yang pada dasarnya hidup dalam pantangan. Dia tidak membiarkan dirinya menikmati kemewahan apa pun, menjalani kehidupan yang tenang, terasing dari rekan-rekan perwiranya. Sementara itu, politik Jepang pada tahun 1930an agak kacau, dimana banyak hal terjadi dalam waktu singkat. Salah satu peran utama Tsuji di era itu adalah perannya dalam mencegah kudeta oleh faksi saingannya. Perdana Menteri Jepang masa perang di masa depan, Hideki Tojo, harus berterima kasih kepada Tsuji karena telah menciptakan keadaan yang memungkinkan dia naik ke tampuk kekuasaan. Ketika perang di Pasifik mulai meningkat dan Tsuji menyaksikan lebih banyak pertempuran, keyakinan ini tertanam dalam tindakannya. Dia menjunjung standar ekstrem yang sama terhadap orang lain seperti yang dia lakukan terhadap dirinya sendiri. Bencana di Nomonhan (Khalkin Gol) seharusnya menghancurkan kariernya, namun Menteri Angkatan Darat Jenderal Seishirō Itagaki—yang merupakan seorang ultranasionalis dan contoh utama gekokujō lewat perannya dalam perebutan Manchuria pada tahun 1931—mengagumi Tsuji. Dalam kaitan ini ada satu elemen yang melekat dalam karier Tsuji dan bahkan setelah perang, yakni: pembangkangan dan sikapnya yang agak aneh. Meskipun gekokujō relatif umum di militer Jepang, Tsuji adalah contoh ekstremnya. Dia dipindahkan lebih dari satu kali karena para Jenderal tidak tahan dengan pembangkangannya. Menurut sejarawan militer Max Hastings, dalam bukunya tahun 2007 Nemesis: The Battle for Japan, 1944-45, selain berulang kali dipindahkan, bahkan atasannya yang sering ultranasionalis menganggapnya fanatik ekstrem. 

Perwira muda dan tentara Jepang dalam insiden 26 Februari 1936. Insiden ini merupakan contoh dari sikap sebuah contoh dari sikap gekokujō (“junior mendominasi senior”)—sebuah tradisi khas Jepang mengenai perampasan wewenang oleh perwira staf tingkat menengah. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/February_26_incident)

MENYERANG KE SELATAN

Pada bulan Desember 1940, Itagaki memindahkan Tsuji ke sebuah pos yang tidak jelas di Formosa (sekarang Taiwan). Itu adalah pilihan yang menentukan. Tentara Jepang diketahui tidak memiliki pengalaman berperang di daerah tropis atau melakukan serangan amfibi. Jabatan baru Tsuji, Departemen Riset Angkatan Darat Formosa, kemudian ditugaskan untuk mengumpulkan data tentang kemungkinan operasi di Asia Tenggara. Tsuji fokus di Semenanjung Malaya, belajar tanpa kenal lelah, mengirimkan mata-mata ke daerah tersebut, dan melakukan latihan amfibi. Para komandan Jepang banyak memuji Tsuji dalam merencanakan sebagian besar kampanye di Malaya, sehingga beberapa perwira menyebutnya sebagai ‘Dewa Strategi’. Dia lalu memenangkan promosi untuk menjadi letnan kolonel. Perang di Eropa membuat pekerjaan ini menjadi penting. Hitler telah menaklukkan Perancis dan Negeri-negeri dataran Rendah; sedangkan Inggris sedang berjuang untuk mempertahankan hidupnya, sehingga koloni Perancis, Belanda, dan Inggris di Asia menjadi sasaran empuk. Kemudian, pada bulan Juni 1941, Hitler menyerang Uni Soviet, menimbulkan kekalahan besar pada Tentara Merah, yang tampaknya berada di ambang kehancuran. Banyak pemimpin Angkatan Darat Jepang ingin bergabung dalam serangan Jerman ke Uni Soviet, seperti yang didesak oleh Hitler. Kemudian Amerika Serikat memberlakukan embargo minyak terhadap Jepang. Inggris pun mengikutinya. Hal ini memutus akses Tokyo terhadap hampir semua sumber minyak dan mengancam akan membuat Jepang bertekuk lutut. Salah satu solusi terhadap dilema ini adalah dengan merebut wilayah Hindia Belanda—Indonesia modern—yang pertahanannya lemah, yang merupakan produsen minyak utama. Para pemimpin militer Jepang percaya bahwa Amerika Serikat akan melawan jika Jepang mengambil langkah tersebut. Bagaimanapun Angkatan Laut Jepang tetap ingin menyerang ke selatan untuk mendapatkan minyak tersebut, sementara banyak pemimpin Angkatan Darat masih lebih suka menyerang ke utara untuk melawan Uni Soviet. Masalah ini akan diputuskan di Tokyo pada musim panas itu. Kolonel Hattori, dengan dukungan calon perdana menteri Jepang, Jenderal Hideki Tōjō, memimpin divisi operasi Markas Besar Kekaisaran (IGHQ). Hattori membawa Tsuji ke Tokyo pada bulan Juli 1941 sebagai salah satu kepala bagiannya. Hebatnya, kedua orang yang paling bertanggung jawab atas bencana di Nomonhan kini memegang posisi kunci pada saat kritis ini—posisi yang sekali lagi mereka anjurkan untuk melakukan agresi yang sembrono, yang mempunyai konsekuensi fatal bagi Jepang.

Tentara Nazi Jerman, didukung oleh pengangkut personel lapis baja, pindah ke desa Rusia yang terbakar di lokasi yang tidak diketahui selama invasi Nazi Jerman ke Uni Soviet. Banyak pemimpin Angkatan Darat Jepang ingin bergabung dalam serangan Jerman ke Uni Soviet, seperti yang didesak oleh Hitler. (Sumber: https://www.miningjournal.net/news/records/2024/06/today-in-history-june-22-hitler-and-the-nazis-invade-the-soviet-union/)
Embargo minyak Amerika ke Jepang mengubah rencana Tokyo dalam mengobarkan perangnya. (Sumber: https://x.com/)

Pada hari pertama Tsuji di IGHQ, terjadi perdebatan sengit mengenai apakah akan menyerang utara atau selatan. Tsuji sangat menentang menyerang ke arah utara, meskipun memilih jalur lain kemungkinan besar berarti perang dengan Amerika Serikat. Ia berpendapat bahwa Hitler, yang telah membuat perjanjian dengan Stalin selama konflik Nomonhan, tidak boleh dipercaya dan Tentara Merah masih melawan dengan keras. Tsuji dengan lantang mempertahankan posisi itu sepanjang musim panas. Jenderal Ryūkichi Tanaka, seorang pejabat senior di Kementerian Angkatan Darat, menulis setelah perang bahwa “protagonis yang paling gigih berperang melawan Amerika Serikat adalah Tsuji.” Tsuji bahkan membuat rencana untuk membunuh perdana menteri saat itu Fumimaro Konoe dan menggagalkan usahanya (yang tidak berhasil) untuk mengatur pertemuan di menit-menit terakhir dengan Roosevelt untuk menghindari perang. Banyak sejarawan Jepang modern menyimpulkan bahwa Tsuji membantu mengarahkan Jepang menuju ke Pearl Harbor. Pada bulan September 1941—setelah para pemimpin militer dan sipil Jepang memilih menyerang ke selatan dan kaisar menyetujuinya—Tsuji mendapat tugas yang akan membuat kariernya menjadi lebih baik, yakni sebagai kepala operasi dan perencanaan Angkatan Darat ke-25, yang ditugaskan untuk menyerang Malaya dan Singapura. Dia telah mempersiapkan hal itu selama setahun di Formosa. Dia sudah siap. Tak lama setelah Jepang melancarkan serangannya ke Pearl Harbor, Tsuji pun mengikuti rencananya. Meskipun 120.000 tentara Inggris di Malaya dan Singapura melebihi jumlah Angkatan Darat ke-25 dua lawan satu, Tsuji yakin akan kemenangan Jepang. Ia meragukan kualitas pasukan Inggris—terutama pasukan Persemakmuran dari India—dan yakin bahwa semangat juang dan persiapan Jepang, dipadukan dengan unsur-unsur kejutan, akan menang. Pada tanggal 8 Desember 1941, pasukannya melakukan pendaratan serentak di sepanjang pantai Thailand dan Malaya, di mana Jepang mengerahkan kekuatan yang setara atau lebih unggul terhadap sasaran tertentu. Pasukan Angkatan Darat Kekaisaran tidak berhenti untuk mengkonsolidasikan posisi atau menambah pasokan, namun terus menekan tanpa henti di jalan beraspal baik yang telah dibangun Inggris. Singapura, “Gibraltar Timur”-nya Inggris, adalah tulang punggung pertahanan Inggris di Asia. Namun arsitek pertahanan Singapura sebelum perang berasumsi bahwa ancaman terbesar adalah serangan angkatan laut dari laut. Serangan darat Tsuji membuat pertahanan mereka menjadi sangat rentan. Selain itu, pasokan air Singapura datang melalui jalur darat dari Malaya. Ketika Jepang mencapai jalan lintas yang memisahkan Pulau Singapura dari daratan, posisi Inggris menjadi tidak ada harapan.

Pasukan zeni militer Angkatan Darat Kekaisaran Jepang membentangkan jembatan sementara rekan-rekan tentaranya menyeberangi sungai sambil berbaris menuju Singapura pada 26 Januari 1942 di Malaysia. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)
Tentara Inggris dengan tangan terangkat menyerah kepada patroli tentara Jepang. di Singapura, 15 Februari 1942. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)
Ilustrasi kekejaman tentara Jepang dalam Perang Dunia II. Pada hari-hari pertama yang kacau setelah jatuhnya Singapura, Tsuji memerintahkan penangkapan dan eksekusi sistematis terhadap ribuan orang China yang dianggap memusuhi Jepang; pegawai negeri, guru, dan pengacara termasuk di antara mereka yang diangkut dengan truk ke pantai terpencil dan ditembak. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)

Pada tanggal 15 Februari 1942, 80.000 tentara Inggris, Australia, dan India menyerah kepada 30.000 tentara Jepang. Perdana Menteri Inggris Winston Churchill menyebutnya sebagai “bencana terburuk” dalam sejarah militer Inggris. Berkat reputasi yang diperolehnya dalam kampanye ini, ia kerap dikirim ke banyak garis depan sebagai pemecah masalah dan pengamat bagi markas besar. Dia dianggap berperan penting dalam mengorganisir kampanye melawan Inggris di Singapura, dan muncul sebagai pemenang dalam waktu sepuluh minggu. Namun di sisi lain, di setiap penugasan Tsuji, atasannya menganggap aksinya berlebihan dan brutal terhadap warga sipil dan tahanan, termasuk saat di Singapura. Kejahatan perang besar rutin pun terjadi. Selain sasaran militer, Tsuji bertanggung jawab atas pembantaian di Rumah Sakit Alexandra, salah satu dari banyak kekejamannya. Dalam sebuah pamflet yang dibagikan kepada pasukan Jepang di atas kapal pengangkut sebelum pendaratan, Tsuji menulis bahwa “seratus juta orang Asia dizalimi oleh 300.000 orang kulit putih” dengan bantuan kolaborator Asia, yaitu “Orang China Rantau.” Tsuji sebelumnya telah mengarahkan jaringan spionase Jepang yang bermarkas di Singapura untuk mengumpulkan nama-nama semua warga China yang anti-Jepang di pulau tersebut. Pada hari-hari pertama yang kacau setelah jatuhnya Singapura, ia memerintahkan penangkapan dan eksekusi sistematis terhadap ribuan orang China yang dianggap memusuhi Jepang; pegawai negeri, guru, dan pengacara termasuk di antara mereka yang diangkut dengan truk ke pantai terpencil dan ditembak. Pembantaian Sook Ching (“penumpasan melalui pembersihan”) menyebar ke utara hingga Malaya. Puluhan ribu orang terbunuh. Pembantaian Sook Ching memakan korban jiwa lebih dari 5.000 orang China dan China Malaya, meskipun beberapa sejarawan memperkirakan jumlah korban tewas mencapai 50.000 orang.

BATAAN DEATH MARCH

Pada bulan Maret, Hattori memanggil Tsuji ke Tokyo untuk tugas baru. Tsuji mengadakan konferensi pers dan menulis pamflet yang menyatakan bahwa ia mengklaim jasa penuhnya dalam Kampanye di Malaya-Singapura. Reputasinya sebagai pahlawan penakluk menyebar dengan cepat. Sementara itu, komando tertinggi angkatan darat kecewa dengan kegagalan Jenderal Masaharu Homma menyelesaikan penaklukan Filipina, yang juga diserang tak lama setelah Pearl Harbor. Tentara Amerika telah meninggalkan Manila pada tanggal 26 Desember 1941, dan mundur ke Semenanjung Bataan dan Corregidor, tempat para tentara AS dan Filipina menahan serangan Jepang selama berbulan-bulan. Pada tanggal 1 April, Tsuji terbang ke Manila dengan perintah untuk membantu mengakhiri pertempuran dengan cepat. (Hal ini terbukti tidak perlu; dua hari kemudian, Angkatan Darat ke-14 pimpinan Jenderal Homma melancarkan serangan yang telah dipersiapkan dengan baik dengan dukungan artileri dan udara yang luar biasa. Pada tanggal 9 April, tentara Amerika-Filipina di Bataan yang kurus dan terserang penyakit menyerah.) Para perwira staf di Manila menerima Tsuji, penakluk Singapura, dengan rasa hormat. Dia menyatakan bahwa dia berbicara untuk IGHQ, mengisyaratkan hubungan langsungnya dengan Perdana Menteri Hideki Tōjō, dan menarik banyak personel staf mengaguminya. Sementara Homma fokus menundukkan benteng Amerika di Corregidor, Tsuji mengalihkan perhatiannya ke tawanan perang di Bataan. Dia percaya bahwa membunuh mereka adalah tindakan yang adil secara moral dan politik. Jepang sedang melancarkan perang rasial di Filipina, tegasnya, dan penjajah kulit putih harus dibunuh. Orang-orang Filipina yang berjuang bersama mereka telah mengkhianati perjuangan Asia, akan menghambat pemerintahan Jepang, juga harus disingkirkan.

Invasi Jepang ke Luzon. Jenderal Masaharu Homma, panglima invasi ke Filipina, (kiri) mendarat dengan dibantu oleh ajudannya. (Sumber: https://www.fineartstorehouse.com/bettmann-archive/japanese-invasion-luzon-39331933.html)
Pasukan Jepang menjaga tahanan Amerika dan Filipina di Bataan di Filipina setelah mereka merebut Semenanjung Bataan pada tanggal 9 April 1942. Para tahanan kemudian dipaksa berjalan sejauh 100 kilometer dari Bataan ke Tarlac dalam apa yang dikenal sebagai Bataan Death March. Banyak laporan Jepang pada masa itu dan penelitian ilmiah selanjutnya mengkonfirmasi bahwa Tsuji mendorong, mendesak, dan, dalam beberapa kasus, memerintahkan pembunuhan terhadap tawanan perang dan warga sipil Amerika dan Filipina. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)

Banyak laporan Jepang pada masa itu dan penelitian ilmiah selanjutnya mengkonfirmasi bahwa Tsuji mendorong, mendesak, dan, dalam beberapa kasus, memerintahkan pembunuhan terhadap tawanan perang dan warga sipil Amerika dan Filipina. Kolonel Saburō Watanabe teringat pertemuannya dengan Tsuji di rute yang kemudian menjadi Bataan Death March. Melihat sejumlah besar tawanan perang Amerika di jalan, Tsuji mendesak Watanabe, “Bagaimana kalau kita bunuh mereka semua?” Watanabe dilaporkan keberatan, namun Tsuji menyiratkan bahwa dia menyampaikan keinginan IGHQ dan banyak perwira yang setuju dengannya. Ketika pemukulan dan pembunuhan dimulai, kebrutalan terhadap para tahanan menjadi hal biasa dan meluas. Sekitar 600 tawanan perang Amerika dan 5.000-10.000 tawanan perang Filipina tewas dalam Death March. Pasukan Jepang juga menangkap Ketua Mahkamah Agung Filipina Jose Santos di Filipina selatan. Mayor Jenderal Kiyotake Kawaguchi, komandan Jepang di selatan, mendesak agar Santos yang dihormati memiliki peran dalam pemerintahan Jepang di Filipina. Tsuji sebaliknya malah memerintahkan hakim agung itu dieksekusi. Ketika Kawaguchi mengetahui bahwa Jenderal Homma setuju dengan gagasannya untuk mempekerjakan Santos, dia bertanya kepada rekannya mengapa dia mengizinkan eksekusi tersebut. “IGHQ mendesak eksekusi Santos,” kata perwira tersebut, seperti dikutip dalam The Rising Sun karya Toland. “Apa maksudmu ‘IGHQ?!’” teriak Kawaguchi. “Yah, itu Tsuji,” jawab perwira itu tergagap. Jalan Tsuji dan Kawaguchi nantinya akan bertemu lagi. Selain Santos, Tsuji juga berupaya mengeksekusi Ketua DPR Manuel Roxas.

KOKODA

Selanjutnya, Tsuji berlayar ke Wilayah Pasifik Selatan untuk membantu Angkatan Darat ke-17 menaklukkan Fiji dan Samoa untuk memutus jalur pasokan Sekutu. Mengabaikan kekalahan telak mereka di Midway, Jepang terus merencanakan penaklukan pulau-pulau tersebut dan apakah mereka dapat mengirimkan pasukan ke Port Moresby di sepanjang Jalur Kokoda. Sesampainya di markas Angkatan Darat ke-17 di Davao pada bulan Juli, Tsujii bertemu dengan seorang komandan yang skeptis terhadap rencana agresifnya. Mayor Jenderal Horii Tomitaro berpikir bahwa pengiriman pasokan untuk pasukan infanteri Jepang tidak akan mungkin dilakukan ketika mereka terus maju hingga ke Port Moresby. Melangkahi Tsuji, dia menghubungi Markas Besar Kekaisaran. Mereka kemudian menyampaikan bahwa mereka akan menunggu penilaian oleh komandan misi pengintaian sebelum memberikan perintah terakhir. Tapi Tsuji, dengan kebiasaan tidak patuhnya, ingin mengambil inisiatif. Dia secara pribadi memerintahkan pasukan infanteri untuk melancarkan perjalanan dan menyerang Port Moresby, dengan menyatakan bahwa Markas Besar telah memberikan lampu hijau. Kenyataannya, Markas Besar belum memutuskan, tapi setelah Tsuji melancarkan serangan, Komando Kekaisaran secara surut memberikan perintah. Persiapan yang buruk dan keadaan yang kurang ideal menyebabkan kampanye ini menjadi bencana. Dalam waktu setengah tahun, lebih dari 15.000 tentara Jepang dan 3.000 tentara Sekutu menemui ajalnya dalam pertempuran tersebut. Tanpa banyak keberhasilan bagi Jepang. Tapi Tsuji tidak ada di sana untuk melihat hasilnya. Bersama perwira lainnya, pada bulan Juli 1942 dia berlayar dengan kapal perusak Asangi ke Cape Killerton, di Pasifik Selatan untuk mempersiapkan kampanye militer lain. Dalam perjalanan, Asangi diserang oleh satu skuadron pesawat pembom B-17 dan B-26 Sekutu. Mereka mengebom Asangi, dan Tsuji menderita luka tenggorokan yang parah akibat pecahan peluru dan segera dievakuasi ke Tokyo untuk memulihkan diri. Beberapa jenderal Jepang kemudian mengatakan bahwa lukanya sebenarnya tidak terlalu parah, namun mereka tetap memerintahkannya untuk menjauh dari garis depan sebelum dia dapat menimbulkan masalah lebih lanjut. Tsuji  untuk sementara harus mengesampingkan intrik di medan perangnya. 

Beberapa anggota Batalyon ke-39 Kompi D tentara Australia kembali ke markas mereka setelah pertempuran di Isurava. Dalam pertempuran di Kokoda, Tsuji kembali melawan otoritas diatasnya, yang berujung bencana. (Sumber: https://rslvic.com.au/news/remembering-kokoda/)

GUADALCANAL

Ia masih dalam masa pemulihan ketika Divisi Marinir ke-1 AS mendarat di Guadalcanal bulan berikutnya dan terjebak dalam perjuangan putus asa melawan para tentara Jepang. Pertempuran berkobar di sekitar landasan udara yang dikuasai Amerika di Henderson Field, tempat Marinir Amerika berhasil memukul mundur serangan tentara Jepang berulang kali. Pasukan Jepang kelelahan; banyak yang kekurangan jatah makanan menjadi kelaparan. Ketika Tsuji akhirnya mendarat di Guadalcanal pada bulan Oktober, dia ditugaskan mengatur perebutan Lapangan terbang Henderson. Di sana dia bertemu dengan Mayor Jenderal Kawaguchi, yang pernah bentrok dengannya di Filipina. Marinir telah menimbulkan banyak korban di brigade infanteri Kawaguchi beberapa minggu sebelumnya di “Bloody Ridge” dekat landasan udara. Tsuji meremehkan Kawaguchi yang dianggapnya lembut dan tidak efektif. Namun Letnan Jenderal Masao Maruyama, yang akan memimpin serangan mendatang, menghargai pengetahuan Kawaguchi tentang medan tersebut dan menginginkan dia ikut dalam operasi tersebut. Rencana Tsuji adalah menyerukan serangan terkoordinasi oleh tiga pasukan infanteri yang berkumpul di Henderson. Kawaguchi memimpin salah satunya. Saat Kawaguchi mendekati area persiapan, dia mengeluh kepada Tsuji bahwa rute yang ditugaskan kepadanya melintasi medan yang curam dan tidak mendukung. Dia menyarankan untuk menyerang beberapa mil lebih jauh ke timur. Tsuji mengatakan dia setuju dan akan mendapatkan persetujuan Maruyama untuk perubahan tersebut. Secara pribadi, Tsuji tidak setuju—dia menganggap ini sebagai tanda kurangnya agresivitas Kawaguchi—dan tidak mengatakan apa pun kepada Maruyama. Tak lama kemudian Kawaguchi, dengan asumsi Maruyama mengetahui perubahan rencana tersebut, menelepon letnan jenderal Maruyama untuk meminta penundaan serangan selama 36 jam sementara dia mengubah posisinya. Maruyama, yang frustrasi dengan usulan penundaan tersebut, khawatir bahwa Kawaguchi, yang telah gagal di Bloody Ridge, kini membahayakan keseluruhan operasi. Dia melepaskan komando Kawaguchi. Tsuji dengan tanpa rasa tidak enak secara blak-blakan menelepon markas besar militer, menyatakan: “Kawaguchi menolak untuk maju. Komandan divisi telah memecatnya dari komandonya.” Dia kemudian tidak menjelaskan lebih lanjut. Serangan itu berjalan sesuai rencana, dan merupakan sebuah bencana. Dalam tiga hari pertempuran sengit, setengah dari 5.000 prajurit Maruyama tewas. 

Tentara Jepang yang tewas tergeletak di lereng dekat Bukit 123 setelah pertempuran Bloody Ridge. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Edson%27s_Ridge)

KANIBALISME DI BURMA

Kekalahan itu mengejutkan Tsuji. Karena ditegur, dia mengatakan kepada IGHQ bahwa dia memikul tanggung jawab penuh: bahwa dia telah meremehkan musuh dan bersikeras pada rencana operasional yang cacat. “Saya pantas menerima sepuluh ribu kematian,” katanya. “Dewa Operasi” itu kini telah kehilangan status kedewaannya. Hastings menulis bahwa Tsuji secara pribadi bertanggung jawab atas beberapa kesalahan strategis paling parah yang dilakukan Jepang di Guadalcanal. Mereka menderita kekalahan telak saat mencoba merebut lapangan terbang Henderson, dengan lebih dari 20 korban orang Jepang untuk setiap orang Amerika. Tsuji sekali lagi menawarkan pengunduran dirinya, yang sekali lagi tidak menghasilkan apa-apa. Dipanggil ke Tokyo pada akhir tahun 1942, Tsuji ditugaskan sebagai instruktur di Akademi Militer. Dia kemudian dipromosikan menjadi kolonel penuh dan dikirim ke Nanking, China, daerah militer terpencil, di mana dia mendekam selama berbulan-bulan. Pada bulan September 1944, IGHQ menugaskan Tsuji ke Angkatan Darat ke-33 di Burma, menyusul kegagalan kampanyenya di India. Di sana Tsuji mendapat tawanan, Letnan Benjamin Parker, yang kemudian dieksekusi—bukan dengan pedang samurai tetapi dengan pisau suvenir Burma yang tumpul. Butuh tiga bacokan untuk memenggal kepala penerbang tersebut. Tsuji lalu memerintahkan sebagian paha orang mati itu dipotong, dimasak, dan disajikan kepada perwiranya. Beberapa memakan dagingnya; yang lainnya tidak. Tsuji mengklaim dia memperoleh kekuatan khusus dari memakan daging musuh yang dikalahkan. Ini bukanlah tindakan kanibalisme pertamanya; dia dilaporkan telah membual kepada perwira lain tentang “obat khusus” yang dimilikinya ini setidaknya sejak tahun 1942. Namun ini adalah satu-satunya kasus yang terdokumentasi yang melibatkan Tsuji, berdasarkan kesaksian seorang saksi asal Jepang. 

Tsuji dikabarkan melakukan aksi kanibalisme pada tawanan sekutu selama penugasannya di Burma. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/wiki/Masanobu_Tsuji)

LOLOS DARI DAKWAAN

Pada bulan Mei 1945, IGHQ mengirim Tsuji ke Bangkok untuk mengorganisir perlawanan Thailand terhadap pasukan Sekutu yang mendekat—sebuah tugas yang sia-sia. Menjelang penyerahan Jepang, Tsuji memutuskan untuk melarikan diri daripada menyerah. Dia tahu Inggris dan Amerika mencarinya atas pembunuhan di Singapura dan Bataan. Dengan visi Pan-Asia yang baru disesuaikan, China yang Nasionalis tampaknya merupakan kandidat yang paling mungkin untuk menjadi pemimpin Asia. Namun ibu kota masa perang Chiang Kai-shek di Chungking berjarak ribuan mil jauhnya. Tsuji lalu mengenakan jubah biksu Buddha, bersama dengan tujuh rekannya dan bersembunyi di kuil sambil diam-diam menghubungi agen Nasionalis China di Bangkok. Dia menawarkan jasanya dalam perjuangan mereka melawan Komunis China. Dengan melakukan perjalanan melalui Laos dan Vietnam, Kaum Nasionalis China kemudian membawanya ke Chungking. Tsuji lalu menghabiskan dua tahun di China sebagai penasihat dari Generalissimo Chiang Kai-Shek berperang dalam perang saudara melawan komunis, namun hanya menghasilkan sedikit prestasi. Selama persidangan di Tokyo, Kepala Intelijen Jepang, Seizo Arisue, menyinggung peran Tsuji sebagai penghasut dari Bataan Death March yang terkenal. Namun berkat keberadaannya yang tidak diketahui, ia terhindar dari tuntutan in absentia. Namun, Amerika Serikat tetap menandainya sebagai tersangka penjahat perang. Beberapa pejabat militer yang mengikuti perintah Tsuji, didakwa, dan dua di antaranya dieksekusi. Selama perang Jenderal Homma telah membatalkan banyak perintah eksekusi yang diajukan oleh kelompok Tsuji, termasuk perintah eksekusi terhadap calon presiden Filipina Manuel Roxas yang merupakan mantan ketua dewan perwakilan rakyat pada saat itu. Homma melihat perintah eksekusi ini sebagai pelanggaran etika bushido yang tidak terhormat. Namun, ironisnya Jenderal Douglas MacArthur menganggapnya bertanggung jawab atas tindakan bawahannya dan dia dieksekusi saat Tsuji sedang melarikan diri. Tsuji kemudian sangat gembira saat mengetahui bahwa rekannya, Hattori Takushiro, berada di Tokyo, bukan sebagai seorang tahanan tetapi seorang pegawai pasukan pendudukan Amerika dan—hampir sulit dipercaya—diam-diam digaji oleh intelijen militer AS. Tsuji menjalin komunikasi rahasia dengan Hattori, yang pada Mei 1948 memberitahunya bahwa dia dapat kembali ke Jepang dengan selamat. Dia sempat menjalani kehidupan menyendiri di kediaman milik teman masa perangnya, penguasa dunia hitam dan ultranasionalis, Yoshio Kodama. Hattori, kemudian memastikan Tsuji tidak akan muncul dalam daftar apa pun sampai pada tahun 1950 ketika Amerika Serikat mencabut statusnya sebagai tersangka penjahat perang. Dia menjadi salah satu dari banyak orang yang lolos dari kejahatan keji yang dilakukan selama perang. Selama masa ini, Tsuji menulis memoarnya: ‘Senko sanzenri.’ Dengan bantuan instrumental Kodama dalam menerbitkan dan mempromosikan bukunya, buku tersebut menjadi buku terlaris. Segera setelah itu, Tsuji menerbitkan buku keduanya tentang bagaimana ia berhasil menghindari penangkapan setelah perang, dan menjadi buku terlaris keduanya. Hattori adalah orang kepercayaan Mayor Jenderal Charles Willoughby, kepala intelijen Jenderal Douglas MacArthur dan seorang yang sangat anti-Komunis. Hattori meyakinkan Willoughby bahwa Tsuji memiliki pandangan yang sama dan dapat membantu mencegah penyebaran Komunisme di Jepang. Willoughby kemudian membujuk jaksa Amerika dan Inggris untuk membatalkan tuduhan kejahatan perang terhadap Tsuji.

Tentara Jepang menyerah kepada sekutu. Selepas perang Tsuji berhasil lolos dari kejaran sekutu. (Sumber: https://www.conciliators-guild.org/media/blog/seeing-the-enemy-with-clarity-masanobu-tsuji-singapore-malaya-world-war-two)

Pada tanggal 26 Mei 1948, Tsuji kembali ke Jepang. Hattori memasukkannya ke dalam daftar gaji AS dan membujuk embrio CIA untuk menjadikan Tsuji sebagai agen rahasia. Dokumen bahkan menunjukkan Tsuji sudah dipekerjakan oleh otoritas AS bahkan sebelum AS mencabut statusnya sebagai penjahat perang. Salah satu operasi rahasia tersebut adalah merekrut tentara Jepang untuk bertugas di Taiwan melawan kemungkinan invasi Komunis dari China daratan. Dokumen CIA mengungkapkan Tsuji mengirim mantan tentara Jepang ke pulau itu untuk bertugas di tentara nasionalis China (tentara Partai Kuomintang). Hattori juga melayani Amerika, meskipun dia dan Tsuji sering menggelapkan dana yang mereka terima dari CIA untuk agenda tersembunyi mereka, yakni: mempersenjatai kembali Angkatan Darat Jepang. Penilaian CIA kemudian menilai bahwa Tsuji tidak dapat diandalkan dan tidak efektif. Melalui Hattori dan teman-teman mantan perwira lainnya, Tsuji mengambil bagian dalam salah satu operasi rahasia Willoughby yang paling ambisius. Dia merencanakan invasi ke daratan China oleh tentara Kuomintang, yang diasingkan di Taiwan. Bersama Takushiro Hattori, Tsuji mendapat izin untuk mengambil alih perencanaan. Ini dimulai pada bulan Januari 1951. CIA kemudian mengirimkan beberapa peringatan serius kepada Willoughby bahwa kedua orang tersebut tidak dapat dipercaya. Salah satu peringatan tersebut berbunyi, “Baik dalam bidang politik maupun intelijen, (Tsuji) dikacaukan karena kepribadiannya dan kurangnya pengalaman… Tsuji adalah tipe orang yang, jika diberi kesempatan, akan memulai Perang Dunia III tanpa rasa was-was.” Namun, Tsuji tidak dapat melakukan banyak kerugian karena dalam waktu tiga bulan, rencana tersebut dibocorkan ke pihak komunis China, dan rencana tersebut dibatalkan. Sementara itu, meskipun Seizo Arisue menyebut peran brutal Tsuji selama Pengadilan di Tokyo, pada tahun 1950an, dia tetap merekrutnya untuk memperluas operasi intelijen Jepang di Asia Tenggara. Dia mengira Tsuji punya koneksi di sana berkat pengasingannya yang singkat di kawasan itu. Apa yang Arisue tidak sadari adalah sebagian besar koneksi itu justru membenci Tsuji. Setelah banyak keluhan, ia menggantikannya dengan mantan kepala Polisi Militer Jepang, Kempeitai. 

MENIPU SEKUTU

Namun hal ini tidak menghentikan upaya Tsuji melibatkan diri dalam sejarah militer dan politik Jepang. Sekitar waktu ini, Tsuji mulai menulis memoarnya. Dia menerbitkan buku volume pertama, Underground Escape, pada tahun 1950. Volume tersebut menjadi buku terlaris, mendorongnya menjadi terkenal di depan umum. Dia menerbitkan buku kedua, Guadalcanal, pada akhir tahun itu. Pada tahun 1952, ia menerbitkan laporannya tentang Kampanye Malaya-Singapura, yang mengklaim kejayaan bagi dirinya bahkan dalam judul Japan’s Greatest Victory, Britain’s Worst Defeat. Buku-bukunya berupaya menutupi kegagalannya dan mengabaikan kejahatannya. Dalam waktu kurang dari dua tahun, Tsuji menjadi salah satu tokoh paling terkenal di Jepang. Memanfaatkan ketenarannya, Tsuji dengan mudah memenangkan pemilihan Diet, majelis rendah parlemen Jepang, pada tahun 1952. Ia memposisikan dirinya sebagai anti-Komunis dan anti-Amerika, menentang Perjanjian Keamanan AS-Jepang, menyerukan penghapusan pasukan Amerika dari negara tersebut, dan menganjurkan persenjataan kembali dan netralitas bersenjata untuk Jepang. Tulisan Tsuji saat ini menunjukkan tujuan utamanya adalah mempersenjatai kembali Jepang dan mendirikan junta militer jika memungkinkan. Dia bersemangat bekerja sama dengan Amerika, karena, dalam kata-katanya, dia ingin “menipu sekutunya sebelum musuhnya.” Namun, Tsuji, bersama dengan Hattori dan Kodama, menjadi semakin kesal terhadap Perdana Menteri Jepang Yoshida Shigeru. Dia menganut kebijakan yang mengandalkan Amerika Serikat untuk perlindungan militer, menolak mempersenjatai kembali militer dan secara terbuka mengecam nasionalisme berlebihan. Hattori adalah orang pertama yang mulai merencanakan pembunuhan Shigeru untuk mengendalikan pemerintah dengan menggantikannya dengan politisi senior yang lebih reseptif seperti Hatoyama Ichiro atau Ogata Tektora. Namun Tsuji mencegah terjadinya pembunuhan tersebut, dengan alasan bahwa hal itu akan memprovokasi Amerika dan menjadi kontraproduktif dalam jangka panjang. Sebuah hal yang ironis saat seorang ultranasionalis dan penjahat perang Jepang mencegah pembunuhan PM yang bersahabat dengan AS, dimana hal ini luput dari perhatian banyak orang. Ia meningkatkan aktivitasnya di arena diplomatik, terutama bertemu dengan para pemimpin Dunia Ketiga, termasuk Jawaharlal Nehru dari India, Josip Broz Tito dari Yugoslavia, dan Gamal Abdel Nasser dari Mesir. Dia menulis lebih banyak buku tentang peran-perannya dan masalah dunia. Dia mengkritik pengeluaran pemerintah dan korupsi. Pada tahun 1959, ia memenangkan pemilihan majelis tinggi parlemen dengan selisih yang sangat besar, namun kemudian ranjau politik meledak di bawah kakinya.

Sekembalinya ke Jepang Tsuji melibatkan diri dalam sejarah militer dan politik Jepang. Sekitar waktu ini, Tsuji mulai menulis memoarnya. Dia menerbitkan buku volume pertama, Underground Escape, pada tahun 1950. Volume tersebut menjadi buku terlaris, mendorongnya menjadi terkenal di depan umum. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)

HILANG TANPA JEJAK

Pensiunan mayor jenderal Kawaguchi, yang dikhianati Tsuji di Guadalcanal, kembali ke rumah setelah bertahun-tahun dipenjara di Jepang dan Filipina atas pembunuhan Ketua Hakim Jose Santos—sebuah kejahatan yang diperintahkan Tsuji. Keberhasilan politik Tsuji membuat marah Kawaguchi, yang menulis laporan pedas tentang aktivitas Tsuji di masa perang, merinci peran Tsuji dalam pembantaian di Singapura, Bataan Death March, skandal Santos, dan kejahatan lainnya. Dia menuntut Tsuji mundur dari parlemen. Pers kemudian menangkap berita mengejutkan ini. Popularitas Tsuji segera anjlok. Dengan menurunnya kedudukan politiknya di dalam negeri, Tsuji memutuskan untuk mengubah narasinya. Indochina, tempat ia menghabiskan begitu banyak waktu, dilanda perang dan intrik politik. Pemerintahan baru Amerika Serikat, John F. Kennedy, mengirimkan penasihat politik dan militer Amerika ke Laos untuk membantu melawan pemberontakan yang dipimpin Komunis. Tsuji lalu memutuskan untuk kembali ke Indochina. Dia menulis surat kepada Presiden Kennedy, menyebutnya sebagai “teman perang” (sen’yū) dan menganjurkan netralitas Amerika di Asia Tenggara. Pada bulan April 1961, Tsuji mengambil cuti dari parlemen dan terbang ke Saigon, seolah-olah menjalankan misi pencarian fakta pribadi. Dia mengatakan kepada teman-teman dan kerabatnya bahwa dia berharap dapat membawa perdamaian di wilayah tersebut. Dia menyatakan Laos sebagai tujuannya, tetapi menyembunyikan rencana untuk memasuki wilayah utara Laos, yang dikuasai oleh gerilyawan Komunis Pathet Lao. Tsuji menghubungi Katsumi Akasaka, mantan tentara yang bekerja untuk pejabat Jepang di ibu kota Laos, Vientiane, dan memiliki hubungan dengan Pathet Lao. Keduanya berkendara dengan jip ke pinggiran utara Vientiane, di mana Tsuji, yang lagi-lagi mengenakan jubah biksu Buddha, diam-diam menghilang dari pandangan. Masanobu Tsuji tidak pernah terdengar lagi kabarnya. Setelah tujuh tahun, pemerintah Jepang secara resmi menyatakan dia meninggal. Sifat tidak resmi dari perjalanan Tsuji, reputasinya yang buruk, dan aktivitas rahasia di Laos memicu rumor dan teori konspirasi. Beberapa orang percaya bahwa ia berusaha untuk menghidupkan kembali reputasi dan karir politiknya dengan eksploitasi luar negeri yang berani. Yang lain menduga dia pergi untuk mengambil simpanan emas batangan yang diduga dia bantu keluarkan dari markas tentara Jepang di Bangkok pada hari-hari terakhir perang. Laporan lain mengklaim melihatnya di bandara Vientiane, menaiki pesawat Soviet menuju Hanoi. Nasibnya masih belum diketahui. Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa gerilyawan Komunis menangkap dan membunuhnya di dekat Dataran Plain of Jars Laos.

Tsuji menyamar sebagai Biksu Buddha. Petualangan Tsuji diyakini berakhir di Indochina. meski keberadaan pastinya masih menjadi misteri. (Sumber: https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f)

Namun ada satu rumor yang terus-menerus dan menarik—yang datang dari berbagai sumber, termasuk laporan CIA yang diungkap—menunjukkan bahwa Tsuji, dalam menjalankan visi Pan-Asianya, bergabung dengan Komunis yang berjuang untuk mengusir imperialis Amerika dari Asia Tenggara, dengan melanjutkan hidupnya di bawah radar bekerja bersama Tentara Rakyat Vietnam Utara. Mungkin Dewa Operasi ini mencium bau mesiu dan mendaftar dalam satu misi terakhir. Atau mungkin—karena frustrasi karena kemunduran politik dan rutinitas kerja parlemen—dia memilih misi bunuh diri, jiketsu yang ditunda, sebagai hukuman yang pantas atas dosa-dosanya. Tsuji dianggap masih hidup per tanggal 8 Agustus 1962 berdasarkan analisis tulisan tangan yang dilakukan terhadap tulisan di amplop yang dibawa pada tanggal 24 Agustus 1962. Namun, kabarnya tidak pernah terdengar lagi. Ia dinyatakan meninggal pada tanggal 20 Juli 1968. Meski demikian ada teori lain mengenai nasib Tsuji. Beberapa sumber menunjukkan bahwa Vo Nguyen Giap, panglima Tentara Rakyat Vietnam, secara diam-diam mempekerjakannya hingga tahun 1968. Dokumen CIA menunjukkan bahwa ia memang melakukan perjalanan ke Vietnam Utara pada bulan April 1961, dan beberapa sumber menempatkannya di Hanoi tujuh tahun kemudian. Teori ketiga menyatakan bahwa ia melintasi perbatasan dari Laos ke China, tempat Komunis China menangkapnya pada bulan Januari 1963. Setelah menyadari bahwa mereka menangkap Tsuji yang terkenal itu, mereka langsung mengeksekusinya. Sayangnya, sebagian besar dokumen CIA hanya berdasarkan desas-desus, dan nasib sebenarnya dari penjahat perang Jepang ini mungkin akan tetap menjadi misteri selamanya.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

THE FANATICAL COLONEL TSUJI STOPPED AT NOTHING TO SECURE VICTORY By STUART D. GOLDMAN AND YAROSLAV A. SHULATOV; 3/19/2019

https://www.historynet.com/the-fanatical-colonel-tsuji-stopped-at-nothing-to-secure-victory/?f

The Enigmatic Colonel Tsuji Masanobu: Japan’s Fanatical Ideologue, Staff Officer and Cannibal

https://thehouseofhistory287381190.wordpress.com/2021/04/30/the-enigmatic-colonel-tsuji-masanobu-japans-fanatical-ideologue-staff-officer-and-cannibal

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Masanobu_Tsuji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *