Operasi Badr, 1973: Mengguncang Israel, Naikkan Moral Bangsa Arab (Part I-Persiapan)
Operasi Badr (bahasa Arab: لية ; Amaliyat Badr) atau Plan Badr (خطة بدر; Khitat Badr) adalah nama sandi operasi militer Mesir untuk menyeberangi Terusan Suez dan merebut Garis Bar Lev (perbentengan Israel) pada tanggal 6 Oktober 1973. Diluncurkan bersamaan dengan serangan yang dilancarkan Suriah di Dataran Tinggi Golan, serangan ini menandai dimulainya Perang Yom Kippur. Operasi Badr didahului oleh berbagai pelatihan yang dimulai pada tahun 1968, perencanaan operasionalnya mulai dari tahun 1971 dan seterusnya serta operasi-operasi penipuan. Pada tahap awal serangan, yang dikenal sebagai “penyeberangan” (العبور; al-‘obour), pasukan zeni tempur Mesir menggunakan kanon air dengan cepat membersihkan banyak jalan melalui dinding pasir yang melapisi tepi timur kanal, memasang jembatan dan mengoperasikan feri, yang memungkinkan kendaraan-kendaraan Mesir untuk menyeberangi terusan. Serangan itu berhasil mengejutkan Israel, dan pada tanggal 7 Oktober penyeberangan selesai, sementara tepi timur terusan diduduki oleh lima divisi infanteri Mesir. Pasukan infanteri Mesir lalu membentuk posisi pertahanan di pijakan yang membentang sejauh 160 kilometer (99 mil). Selain mampu menyeberangi terusan Suez, militer Mesir berhasil melakukan blokade laut terhadap Israel di Laut Merah dan Laut Mediterania. Operasi pembuka ini kemudian akan menjadi pembalasan yang manis bagi Mesir setelah kekalahan yang memalukan mereka pada perang 6 hari tahun 1967.

LATAR BELAKANG
Pada akhir Perang Enam Hari, Israel menguasai seluruh semenanjung Sinai, kecuali Port Fouad. Kemenangan Israel dalam Perang Enam Hari membawa rasa aman “palsu” di dalam Israel; wilayah yang diduduki menambah kedalaman strategis yang berguna bagi pertahanan negara mereka. Akibatnya, dengan berbagai pertimbangan masing-masing, Israel dan Mesir memilih mengabaikan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNSCR) nomor 242, yang menyerukan penarikan mundur pasukan Israel dari wilayah-wilayah yang didudukinya dalam Perang 6 hari dengan imbalan pengakuan negara mereka oleh negara-negara Arab. Dengan ini negosiasi antara Israel dan negara-negara Arab berhenti. Perdana Menteri Israel Golda Meir di sisi lain berencana untuk mempertahankan status quo dan percaya bahwa kekuatan militer negaranya akan menjamin perdamaian dengan negara-negara Arab, sesuai dengan syarat-syarat yang menguntungkan Israel. Kebijakan serupa juga diambil oleh Mesir (dengan alasan berbeda), yang mengikuti kebijakan “tiga tidak” negara-negara Arab, dimana mereka menolak untuk mengakui Israel atau bahkan bernegosiasi secara langsung, serta lebih memilih melakukan pembicaraan melalui pihak ketiga. Perang tahun 1967 bagaimanapun telah sangat menguras kekuatan militer Mesir, karena sebagian besar angkatan udara dan sejumlah besar peralatan tempur mereka hancur. Sementara itu Soviet kemudian membantu militer Mesir untuk memulai pembangunan kembali angkatan bersenjata mereka tak lama setelah perang, dan pada bulan September 1968 pasukan darat Mesir telah cukup pulih untuk bisa menantang kehadiran militer Israel di sebelah timur terusan Suez. Perang Atrisi lalu pecah diantara kedua negara, dimulai dengan rentetan tembakan artileri dan serangan pasukan komando Mesir ke wilayah Sinai, yang kemudian dilawan dengan serangan udara dan serangan helikopter dari pihak Israel yang cukup dalam masuk ke wilayah Mesir. Ketidakmampuan Mesir untuk menantang superioritas udara Israel kemudian menyebabkan penyebaran aset pertahanan udara yang dioperasikan oleh operator-operator asal Soviet untuk melindungi bagian-bagian interior Mesir, menghalangi kekuatan udara Israel untuk meluncurkan serangan menembus masuk dalam wilayah Mesir dan memungkinkan Mesir untuk membangun kembali pertahanan udara mereka. Peningkatan pertahanan udara Mesir ini pada akhirnya menimbulkan peningkatan kerugian pada kekuatan udara Israel. Hal ini kemudian mengarah pada gencatan senjata yang disetujui pada bulan Agustus 1970 (yang berlangsung hingga tahun 1973). Nasser meninggal pada bulan September 1970 dan digantikan oleh Anwar Sadat. Kematian Nasser adalah kehilangan besar bagi dunia perpolitikan di Mesir dan dunia Arab. Nasser sejauh ini adalah sosok pemimpin Arab yang tidak ada bandingannya dan berhasil masuk dalam jajaran pemimpin berpengaruh di dunia. Anwar Sadat, penggantinya, terlihat kurang berpengaruh dan diperkirakan hanya akan menjabat sebentar, namun tidak butuh waktu lama bagi Sadat untuk bisa menunjukkan bahwa ia tidak dapat dipandang sebelah mata.



STRATEGI MESIR
Presiden Sadat percaya bahwa masalah ekonomi, politik, sosial dan militer di Mesir adalah akibat dari Perang Enam Hari. Dia percaya bahwa solusi untuk masalah ini terletak pada penghapusan penghinaan atas kekalahan tahun 1967, yang mana untuk hal ini Mesir perlu untuk merebut kembali Sinai. Pada tahun 1971 Sadat mulai membuat landasan politik dan militer yang terkoordinasi untuk mencapai hal ini. Sadat pada dasarnya adalah pro-barat dan berupaya meminta dunia barat dan Amerika khususnya untuk membantu tercapainya penyelesaian konflik Arab-Israel. Pada bulan Februari, ia mengusulkan penarikan tentara Israel secara bertahap dari Sinai, yang akan diikuti oleh pembukaan kembali Terusan Suez, dan pemenuhan resolusi UNSCR Nomor 242 oleh Israel, termasuk menyelesaikan masalah pengungsi Palestina. Sebagai imbalannya Mesir akan menandatangani perjanjian damai dengan Israel dan membangun kembali hubungan dengan Amerika Serikat. Namun desakan didalam negeri Israel untuk mempertahankan wilayah yang diperlukan guna keamanannya mengakhiri upaya diplomatik. Secara bersamaan, Sadat berusaha untuk meningkatkan kemampuan militer Mesir, dan pada bulan Maret memulai perjalanan pertama dari empat kali perjalanannya ke Uni Soviet untuk mendapatkan senjata dan amunisi untuk menutupi kerugian yang diderita dalam Perang Atrisi. Sadat kemudian secara terbuka menyatakan keinginannya untuk berperang dan menandai tahun 1971 sebagai “tahun keputusan”. Namun, Soviet gagal memberikan pasokan yang dijanjikan, dan Sadat mengesampingkan dilancarkannya serangan pada tahun itu. Menjelang akhir tahun 1971, ancaman Sadat sudah dianggap sebagai retorika bangsa Arab yang hampa. Ditambah dengan posisi politik mereka yang sudah lemah, para pemimpin Arab mencapai konsensus pada tahun 1972 bahwa solusi diplomatik untuk konflik itu tidak ada harapan. Di sisi lain mediasi dari pihak Amerika terus menurun, dan berhenti sepenuhnya pada pertengahan tahun 1973.


Amerika sebenarnya ingin adanya stabilitas di Timur Tengah. Saat itu, Amerika sedang terlibat penuh di Vietnam dan menghadapi tekanan karena munculnya berbagai revolusi di kawasan Amerika Latin. Amerika beranggapan bahwa dengan mempersenjatai Israel, akan menghadirkan keseimbangan di Timur Tengah, pada akhirnya akan bisa mencegah pecahnya perang. Di samping itu pada tahun 1972 Amerika Serikat dan Uni Soviet fokus pada strategi détente. Uni Soviet juga percaya bahwa serangan Mesir atas Israel akan merusak keseimbangan kawasan, menolak untuk menjual senjata tertentu yang akan mengganggu stabilitas, seperti jet tempur baru MiG-23 Flogger, dan menjual hanya sedikit sistem senjata tertentu (seperti rudal permukaan ke permukaan SS-1 Scud), serta memperlama pengiriman tank-tank T-62 baru untuk mencegah Mesir maju berperang. Orang-orang Arab lalu khawatir, karena itu berarti situasi militer mereka sehubungan dengan Israel akan tetap tidak menguntungkan. Percaya jalan diplomatik telah mencapai jalan buntu, Sadat kemudian fokus pada mengambil tindakan militer yang tegas. Konflik baru dengan Israel pikirnya jelas akan mengganggu détente antara Soviet-Amerika, memaksa intervensi negara adikuasa dan membuat solusi atas konflik Arab-Israel menjadi masalah utama bagi Israel, AS, dan Uni Soviet. Sejumlah komandan Mesir juga ingin melakukan perang besar untuk mendapatkan kembali setidaknya sebagian besar wilayah Sinai. Pandangan ini terutama dipegang oleh Menteri Perang, Jenderal Mohammed Ahmed Sadek. Namun, pada Januari 1972 Sadek mengakui bahwa Angkatan Bersenjata Mesir belum siap untuk berperang merebut kembali tanah mereka sebelum sekitar lima sampai sepuluh tahun. Sadek mengutip studi yang menentang dilancarkannya serangan terbatas; Analisis di pihak Mesir memperkirakan akan jatuhnya 17.000 korban saat proses penyeberangan kanal, sementara perkiraan Soviet menempatkan angka korban di angka sekitar 35.000 prajurit. Sadek menekankan bahwa kerugian besar yang akan diderita akan menutupi keuntungan militer dan politik apa pun dari serangan terbatas, yang memerlukan tindak lanjut dengan membebaskan semua atau sebagian besar wilayah Sinai.


Karena alasan politik, Sadat menepis argumen Sadek. Posisi politik pemerintah berbahaya karena publik Mesir, yang marah dengan situasi “Tanpa Perang, Tanpa Damai” dengan Israel, menuntut dilakukannya sebuah tindakan nyata. Ekonomi Mesir, yang sudah menderita dari hilangnya pendapatan Terusan Suez dan ladang minyak di Sinai, tidak dapat mempertahankan keutuhan negara yang senantiasa ditentukan oleh pijakan perang untuk waktu yang lama. Perang adalah pilihan yang putus asa, dan serangan terbatas dalam situasi saat ini adalah satu-satunya solusi. Pada sidang Dewan Pertahanan Gabungan Liga Arab pada tanggal 27-30 Januari 1973, Mesir menyampaikan laporan yang menekankan bahwa serangan terhadap Israel harus dilakukan secara serentak dari arah Mesir, Suriah dan Yordania karena superioritas udara Israel. Menurut laporan itu, angkatan udara Mesir dan Suriah, jika diperkuat dengan 16 skuadron udara dari negara-negara Arab lainnya akan mencapai keunggulan secara nominal. Namun, Israel bisa mengimbangi ini dengan pelatihan yang lebih superior, perangkat avionik canggih, muatan pesawat dan persenjataan yang mereka gunakan. Bagaimanapun sebuah serangan simultan dari militer negara-negara Arab dinilai akan dapat melemahkan efektivitas Angkatan Udara Israel (IAF), dan akan memaksa pasukan darat Israel untuk berperang di dua front. Selama bulan itu juga, Presiden Suriah Hafez al-Assad menunjukkan niatnya untuk berperang melawan Israel. Mesir dan Suriah kemudian sepakat untuk mengoordinasikan aksi-aksi militer mereka melalui negosiasi, dan masing-masing Menteri Perang kedua negara merumuskan strategi militer bersama yang akan digunakan. Disamping itu, Mesir meminta dukungan politik dari beberapa negara Arab lagi, beberapa diantaranya adalah produsen minyak. Sadat membahas kemungkinan menggunakan minyak sebagai senjata ekonomi untuk menekan pemerintah Barat agar mengadopsi kebijakan yang lebih pro-Arab. Selama perang, nantinya negara-negara Arab penghasil minyak, terutama Libya dan Arab Saudi, memprakarsai embargo minyak, dan beberapa mengirim kontingen pasukan kecil ke garis depan. Sadat lalu menanamkan kehati-hatian kepada para komandannya, bahkan memperingatkan Menteri Perangnya yang kemudian, Ahmed Ismail Ali, “untuk tidak kehilangan tentara seperti yang terjadi pada tahun 1967.” Pada tanggal 3 Juni 1971 ia menguraikan visinya tentang perang terbatas:
“Saya ingin kita merencanakan (serangan) yang sesuai dengan kemampuan kita, tidak lebih. Seberangi kanal dan pertahankan bahkan (meski cuma) sepuluh sentimeter Sinai. Saya melebih-lebihkan, tentu saja, tetapi itu akan sangat membantu saya dan mengubah sepenuhnya situasi politik internasional dan di dalam lingkup negara-negara Arab.”


Sadat telah mencapai kesimpulan utama, yakni orang-orang Arab tidak perlu memenangkan perang, mereka “hanya perlu” memenangkan 2 hal saja, yang pertama melawan Israel dan media massa dunia. Strategi Sadat memang sedari awal dirancang untuk mencapai kesuksesan politik tanpa memerlukan kemenangan militer yang komprehensif, dan oleh karena itu, mengingat inferioritas militer Mesir yang nyata dibanding militer Israel, maka ini hanya membutuhkan sebuah perang dengan tujuan terbatas. Sebuah operasi terbatas juga didukung oleh Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mesir Saad El Shazly. Ia berpendapat bahwa Israel memiliki dua kelemahan fatal. Yang pertama adalah ketidakmampuannya untuk menerima jumlah korban manusia yang tinggi karena terbatasnya personel yang tersedia. Yang kedua adalah ketidakmampuan untuk bertahan dalam perang yang berkepanjangan karena memobilisasi sekitar 18% dari populasi total orang-orang Yahudi. Perang defensif terbatas yang berkepanjangan dipandang dapat memanfaatkan kedua kelemahan tersebut dengan sebaik-baiknya.
PERENCANAAN
Di bidang militer Sadat melanjutkan kebijakan Nasser setelah perang 6 hari, dimana promosi dalam tentara ditentukan oleh kemampuan militer dibandingkan loyalitas. Sadat sendiri juga berupaya tidak terlalu turut campur dalam perencanaan militer. Seperti Nasser di tahun-tahun terakhirnya, Sadat hanya menunjuk perwira yang kompeten dan profesional, serta memecat mereka yang menunjukkan ketertarikan pada dunia politik. Sebagai hasilnya Sadat membentuk tim Jenderal kelas satu dalam rencananya menyerang Israel. Sadat memanggil Jenderal Ismail Ali dari masa pensiunnya untuk mengepalai bagian intelijen. Kemudian pada tahun 1972, Sadat menunjuk Ismail menggantikan Jenderal Sadek, yang dianggap mencampuri urusan politik sebagai menteri perang. Selain itu Sadat juga menunjuk Letnan Jenderal Saad el-Shazly sebagai kepala staff, jenderal Mohamed Abdel Ghani al-Gamasy sebagai kepala staff operasional, dan yang terakhir menunjuk Marsekal Udara Hosni Mubarak sebagai kepala AU Mesir. Pihak militer Mesir secara simultan berupaya meningkatkan kualitas taktisnya. Yang pertama, Mesir mengenali problem utamanya dari konflik-konflik sebelumnya yakni pada kepemimpinan taktisnya, jadi mereka lalu berfokus pada peningkatan kualitas perwira yunior-nya. Setelah tahun 1967, beberapa pengecualian dibatalkan dan banyak lulusan sekolah tinggi diwajib-militerkan (umumnya untuk ditugaskan sebagai perwira yunior) selama periode tertentu. Sebagai bandingan pada tahun 1967 kurang dari 2% perwira Mesir adalah lulusan universitas, namun pada tahun 1973 lebih dari 60% adalah lulusan universitas. Total, 100.000 dari 800.000 tentara Mesir di tahun 1973 lulusan universitas, sebuah proporsi yang tidak umum di militer manapun. Kemudian pada tahun 1967, hanya 25% prajurit Mesir adalah lulusan sekolah menengah atau lebih tinggi, akan tetapi di tahun 1973 jumlah ini melonjak jadi 51%. Sebagai tambahan, militer Mesir juga merekrut pria-pria dengan kemampuan teknis untuk mengurangi kelemahan-kelemahan mereka sebelumnya. Sebelum meninggal, Nasser sempat mewajibkan setiap komandan tank atau perwira yang bertanggung-jawab atas peralatan elektronik harus lulusan permesinan atau sekolah teknik. Pada permulaan perang tahun 1973, separuh dari ahli mesin di Mesir bertugas di Angkatan Bersenjata, sebagian besar di Angkatan Udara atau Unit Pertahanan Udara. Secara khusus perwira senior mendorong kemampuan adaptasi, improvisasi, dan kemandirian bertindak dalam seluruh struktur komando. Begitu juga seluruh komandan tempur Mesir ingin mendapat semua laporan yang 100% akurat, tidak peduli apakah laporan itu buruk atau memalukan. Intinya mereka lebih mengedepankan realitas.



Dalam perencanaan, Mayor Jenderal Mohammed Fawzi, yang merupakan pendahulu Sadek sebagai menteri pertahanan, secara teratur mengadakan simulasi komando. Latihan-latihan ini memiliki tujuan yang tidak realistis dan tujuan operasional yang jauh di luar kemampuan militer Mesir. Ketika Letnan Jenderal Saad El Shazly menjadi Kepala Staf pada 16 Mei 1971, belum ada rencana ofensif. Sebaliknya, ada kode rencana pertahanan bernama Operasi 200, dan alternatif yang lebih agresif bernama Operasi Granit. Meskipun Granit menggabungkan serangan pendadakan dan serangan ke Sinai, itu pada dasarnya bersifat defensif. Dalam penilaiannya tentang kemampuan militer, ia menyimpulkan angkatan udara adalah bagian terlemah dari militer Mesir. Mereka kalah dengan lawan Israelnya dalam berbagai aspek, dan pilot-pilot Israel juga lebih berpengalaman. Keunggulan penting lainnya bagi AU Israel (IAF) adalah armada pesawat-pesawat F-4 Phantom II, pesawat tempur/pembom generasi ketiga yang dimilikinya. Pada saat pecahnya perang pada bulan Oktober 1973, IDF (Angkatan Bersenjata Israel) memiliki 122 F-4E dan 6 RF-4E (R menunjukkan varian pengintaian) dalam dinas operasionalnya. Israel sendiri meski meyakini bahwa kemungkinan militer Mesir melancarkan serangan melintasi Suez tetap ada, namun berdasarkan pengalaman 6 hari, pihak Mesir dinilai tidak akan menyerang dan membuka perang baru sampai mereka memiliki kemampuan serang yang cukup untuk menyerang pangkalan-pangkalan udara dan menetralisir AU Israel. Untuk mencapai tujuan ini, Mesir membutuhkan skuadron-skuadron pesawat pembom tempur (seperti Jaguar, Phantom II, dan MiG-23) untuk bisa menyerang pangkalan-pangkalan udara Israel secara simultan. Dengan kata lain, sebelum mereka memiliki squadron-squadron pesawat tipe ini yang mencukupi, mereka tidak akan maju berperang. Pihak intelijen Israel berasumsi bahwa tidak akan ada ancaman nyata sampai kira-kira tahun 1975. Akan tetapi, Presiden Sadat yang memiliki berbagai permasalahan politik internal tidak dapat menunggu hingga selama itu, dan oleh karenanya mencari solusi alternatif. Untuk mengimbangi kelemahan kekuatan udara Mesir, Mesir kemudian mengembangkan kekuatan pertahanan udara mereka. Mereka tercatat menerjunkan sistem rudal pertahanan udara (SAM) statis SA-2 dan SA-3, yang menjadi tulang punggung pertahanan udara mereka, serta sistem SAM mobile SA-6 dan ZSU-23-4 SPAAG (Self Propelled Anti-Air Gun), dan rudal anti pesawat portabel SA-7, selain ribuan senjata artileri pertahanan udara konvensional. Pertahanan udara ini akan memberikan “payung” pelindung atas pasukan darat Mesir. Namun, sistem SA-2 dan SA-3, karena tidak dapat bergerak, hanya dapat dipindahkan selama paling lama sembilan jam, membuat pertahanan udara mengalami penurunan tingkat proteksi jika terjadi pemindahan untuk mengimbangi pergerakan pasukan yang bergerak maju. Di sisi lain, sistem SA-6 yang tersedia dalam jumlah terbatas tidak cukup untuk memberikan perlindungan yang memadai untuk pasukan lapis baja yang bergerak maju.



Karena keterbatasan ini, Shazly mendukung perang terbatas untuk merebut kembali hanya tepi timur kanal, yang bertentangan dengan pemikiran Sadek. Namun, Sadek mengizinkan perencanaan dua rencana ofensif, dimulai pada bulan Juli 1971. Yang pertama adalah Operasi 41, yang melibatkan serangan di sepanjang Terusan Suez dengan tujuan merebut jalur-jalur kunci di Sinai. Rencana itu dikembangkan bekerja sama dengan para penasihat Soviet. Karena itu, tujuan operasi berada di luar kemampuan militer Mesir dan Shazly melihatnya hanya sebagai sarana untuk mendorong Soviet untuk memasok lebih banyak senjata dan peralatan. Rencana itu juga akan mendorong Suriah untuk bergabung dalam serangan terhadap Israel. Operasi 41 selesai pada bulan September 1971, dan bulan berikutnya, Sadat serta Sadek terbang ke Moskow untuk menyelesaikan kesepakatan pembelian senjata terbesar Mesir. Dalam kesepakatan ini Mesir akan menerima 100 pesawat tempur MiG-21, 10 pembom Tu-16, rudal anti-pesawat (AA) SA-6 dan artileri berat. Operasi 41 kemudian berganti nama menjadi Operasi Granit Dua. Sementara itu rencana kedua—dengan nama sandi “High Minarets“—merencanakan penyeberangan di lima area terpisah di sepanjang kanal. Orang Mesir akan bergerak maju 10–15 kilometer (6,2–9,3 mil), kemudian membangun posisi bertahan. Dengan membatasi kemajuan mereka, pasukan darat Mesir akan tetap berada dalam jangkauan pertahanan SAM mereka sendiri, yang akan memberikan “payung” pelindung, dan meniadakan keuntungan Israel di udara. Dengan cara ini High Minarets direncanakan sesuai dengan kemampuan Angkatan Darat Mesir. Garis besar rencana itu diselesaikan pada bulan September 1971 dan tetap disimpan dalam kerahasiaan mutlak.


Karena Sadek terus menolak konsep perang terbatas, ketegangan meningkat antara dia dan Sadat. Setelah pertemuan para komandan senior yang memanas, Menteri Perang ini dipecat. Penggantinya, Mayor Jenderal Ahmed Ismail, mendukung serangan terbatas. High Minarets lalu terus dikembangkan sebagai satu-satunya rencana ofensif yang dianggap layak, dengan musim semi tahun 1973 menjadi tanggal pelaksanaan yang memungkinkan. Berdasarkan perkiraan intelijen, serangan balik utama Israel akan terjadi dalam waktu 6-8 jam setelah serangan dimulai oleh tiga divisi lapis baja, sementara dukungan unit lapis baja untuk penyeberangan tidak akan tersedia sebelum setidaknya 12 jam. Untuk mengatasi hal ini, infanteri Mesir akan dipasok dengan sejumlah besar peluru kendali anti-tank (ATGM) dan granat berpeluncur roket (RPG). Senjata anti-tank portabel pada dasarnya adalah tipe RPG-7 dan rudal AT-3 Sagger berpemandu kabel yang jumlahnya lebih sedikit, serta ratusan senjata recoilless dan senjata konvensional. Rudal Sagger yang dipandu secara manual memiliki jangkauan yang jauh dan hulu ledak yang kuat tetapi memiliki kecepatan rendah dalam penerbangannya, yang memungkinkan target (seperti tank) memiliki cukup waktu untuk melakukan manuver mengelak atau membalas tembakan. Jangkauan minimumnya 500–800 meter (1.600–2.600 kaki) menciptakan area “kosong” yang signifikan, yang harus ditutupi oleh RPG, bersama dengan senjata recoilless B-10 dan B-11. Selain itu, ada juga granat anti-tank RPG-43. Sementara itu pasukan infanteri penyerang dilengkapi dengan perangkat penglihatan malam, teropong inframerah, dan kacamata tukang las untuk melawan taktik yang sering digunakan oleh orang-orang Israel; yakni memasang lampu sorot xenon pada tank dan kendaraan untuk membutakan pasukan infanteri musuh di malam hari. Untuk memungkinkan infanteri membawa berbagai macam persenjataan berat—ATGM, RPG, penyembur api, senapan mesin, dan ranjau—sebelum jembatan dipasang, dicapai dengan dua cara. Pertama, lima peralatan lapangan berbeda dibuat dengan lebih ringan, mampu menampung botol air yang lebih besar dan dapat membawa persediaan makanan 24 jam. Setiap perlengkapan lapangan dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan berbagai tim penyerang. Solusi lainnya adalah menggunakan gerobak kayu roda empat untuk mengangkut peralatan, persenjataan dan amunisi. Lebih dari 2.200 gerobak seperti itu akan digunakan saat penyeberangan, yang menyediakan kapasitas untuk mengangkut hampir 330 ton (150.000 lb) material. Tangga tali dengan tangga kayu juga akan dikerahkan untuk mengangkat amunisi dan alat berat, seperti senjata recoilless B-11, ke atas tembok pasir.



High Minarets merencanakan pasukan infanteri penyerang untuk membangun pijakan sedalam 5 kilometer (3,1 mil) dan lebar 8 kilometer (5,0 mil). Perimeter yang relatif pendek ini akan meningkatkan kepadatan daya tembak, dan awalnya serangan itu akan menerima tembakan pendukung dari benteng pasir di tepi barat. Setelah bala bantuan dan kendaraan lapis baja menyeberang, pijakan di tepi timur terusan akan diperdalam hingga 8 kilometer (5,0 mil). Ini harus diselesaikan dalam waktu 18 jam sejak dimulainya operasi. Pasukan lintas udara dan laut kemudian akan melakukan serangan dan penyergapan untuk menunda pasukan cadangan Israel bergerak menuju garis Bar Lev. Musim semi tahun 1973 berlalu tanpa adanya serangan yang diluncurkan. Pada tanggal 21 Agustus tahun itu, dengan sangat rahasia, enam komandan senior Suriah, dengan menggunakan nama palsu dan paspor, tiba dari Latakia di pelabuhan Alexandria dengan kapal penumpang Soviet yang membawa turis. Di antara komandan Suriah, terdapat, Menteri Pertahanan Jenderal Mustafa Tlass dan Kepala Staf Jenderal Yusuf Shakkour. Selama dua hari berikutnya, mereka berkumpul dengan rekan-rekan Mesir mereka di Markas Besar Angkatan Laut Mesir di Istana Ras El Tin. Pada tanggal 23 Agustus, dua dokumen diratifikasi oleh Shazly dan Shakkour yang menyimpulkan bahwa angkatan bersenjata Mesir dan Suriah siap berperang. Yang tersisa kini hanyalah memilih tanggal penyerangan; yakni tanggal 7–11 September atau 5–10 Oktober. Tanggal ini akan dipilih bersama oleh Presiden Sadat dan Hafez al-Assad, dan mereka diminta untuk menyampaikan keputusan mereka kepada komandan mereka lima belas hari sebelum tanggal serangan.


Ketika tanggal 27 Agustus, lima belas hari sebelum tanggal 7 September, berlalu tanpa jawaban dari Sadat atau Assad, jelas tidak akan ada serangan yang terjadi pada bulan September. Selama tanggal 28 dan 29 Agustus, Sadat bertemu dengan Assad di Damaskus, di mana mereka setuju untuk memulai perang pada bulan Oktober. Mereka menetapkan tanggal 6 Oktober sebagai Hari-H, dan memberi tahu Ahmed Ismail dan Tlass pada tanggal 22 September, yang pada gilirannya menyampaikan keputusan itu kepada Kepala Staf. Atas permintaan Ahmed Ismail, Sadat mengeluarkan instruksi presiden untuk melancarkan perang. Oleh karena itu, baru pada bulan September, kurang dari sebulan sebelum penyerangan, tanggal 6 Oktober akhirnya dipilih sebagai D-Day. Serangan terkoordinasi akan dimulai pada pukul 14:00 (Waktu Setempat Kairo). 6 Oktober dipilih karena beberapa alasan. Kecepatan arus air dan pasang surut optimal untuk operasi penyeberangan, dan hampir sepanjang malam ada bulan purnama, memfasilitasi pembangunan jembatan. Tanggal itu juga bertepatan dengan Yom Kippur, Hari Penebusan Orang Yahudi. Ini merupakan faktor penting dalam memilih 6 Oktober sebagai waktu untuk melancarkan serangan. Orang-orang Yahudi yang taat berpuasa pada hari itu, tidak akan menggunakan api atau listrik (yang berarti transportasi akan terhenti), dan sebagian besar tentara Israel akan didemobilisasi. Oktober juga bertepatan dengan bulan Ramadhan dalam Kalender Muslim, yang berarti bahwa tentara Muslim akan berpuasa. Pada bulan Ramadhan, umat Islam memenangkan kemenangan pertama mereka di Pertempuran Badar pada tahun 624. Mengganti nama operasi dengan sesuatu yang lebih inspiratif dari nama High Minarets, maka nama Operasi Badr dipilih oleh komandan Mesir sebagai nama sandi untuk serangan itu.
ZENI TEMPUR
Dalam upaya penyeberangan Terusan Suez oleh pasukan Mesir, keberhasilan sangat bergantung pada kinerja Korps zeni tempur Mesir, yang memiliki beberapa tugas berat untuk diselesaikan. Pasukan zeni Israel telah membangun penghalang pasir buatan besar yang membentang 160 kilometer (99 mil) dari tepi timur kanal (kecuali di Great Bitter Lake, di mana lebar kanal membuat penyeberangan tidak mungkin dilakukan). Untuk mencegah erosi, penghalang pasir ditopang oleh beton, yang tingginya satu meter (3⅓ kaki) di atas air saat air pasang, dan tiga meter (10 kaki) di atas air saat air surut. Kanal itu memiliki lebar 180–220 meter (590–720 kaki) dan kedalaman sekitar 18 meter (59 kaki). Para pasukan zeni harus membersihkan tujuh puluh jalur melalui dinding pasir ini, masing-masing selebar tujuh meter (23 kaki). Ini berarti diperlukan pemindahan 1.500 meter kubik (2.000 cu yd) pasir untuk setiap bagian. Awalnya, metode konvensional diuji untuk menembus dinding pasir. Ditemukan bahwa, untuk membersihkan satu bagian diperlukan 60 orang, 1 buldoser, 600 pon bahan peledak dan waktu lima sampai enam jam, yang tidak terganggu oleh tembakan musuh. Karena lokasi penyeberangan kemungkinan akan padat dan berada di bawah tembakan musuh, metode ini terbukti tidak praktis dan terlalu mahal. Solusi untuk dilema ini sederhana namun cukup cerdik. Akhir tahun 1971, seorang perwira Mesir menyarankan penggunaan pompa berbahan bakar bensin yang kecil, ringan, yang dapat diangkut melintasi kanal dengan rakit karet untuk menembus melalui penghalang pasir dengan teknik hydraulic mining. Saran tersebut terbukti bermanfaat, dan Militer Mesir memesan sekitar 300 pompa buatan Inggris. Pengujian menunjukkan bahwa lima dari pompa ini dapat menghilangkan 1.500 meter kubik pasir dalam waktu tiga jam. Pada tahun 1972, 150 pompa buatan Jerman yang lebih kuat dibeli. Kombinasi tiga pompa buatan Inggris dan dua pompa buatan Jerman memungkinkan untuk membersihkan jalan dalam waktu dua jam. Setelah jalur dibersihkan, pasukan zeni harus membangun sepuluh jembatan berat (menggunakan pemasang jembatan MTU, pemasang jembatan TMM dan jembatan ponton), lima jembatan ringan, sepuluh jembatan ponton dan 35 feri. Jalur-jalur itu harus dibuka dalam waktu lima sampai tujuh jam, yang segera diikuti oleh feri, lalu jembatan dua jam kemudian, sambil dilaksanakan di bawah tembakan musuh. Untuk jembatan berat, orang-orang Mesir hanya memiliki dua jembatan lipat berat PMP buatan Soviet, yang dapat didirikan dalam waktu yang lebih singkat daripada kebanyakan jembatan lain dalam inventaris mereka, sehingga menghemat beberapa jam yang kritis. Jembatan-jembatan ini juga lebih mudah diperbaiki. Kecepatan pasukan zeni membersihkan lorong dan memasang jembatan serta menyeberang dengan feri akan mempengaruhi jalannya seluruh operasi. Pasukan zeni juga harus mengatur kapal yang akan menyeberangkan pasukan infanteri penyerang pada awalnya. Akhirnya, mereka harus menembus ladang ranjau di sekitar pertahanan Israel untuk memungkinkan pasukan infanteri menyerang.



PERTAHANAN ISRAEL
Pasukan Israel sementara itu telah membangun serangkaian benteng di sepanjang kanal yang disebut Garis Bar Lev, yang dianggap tidak dapat ditembus. Hambatan utama dari pertahanan ini adalah dinding pasir buatan besar yang didirikan oleh para insinyur Israel, setinggi 18–25 meter (59–82 kaki) dengan kemiringan 45–60 derajat, di sepanjang Terusan Suez. Benteng ini diperkuat dengan beton yang juga mencegah upaya kendaraan amfibi untuk memanjat dinding pasir. Untuk meledakkan penghalang pasir yang diperkirakan orang Israel akan memakan waktu setidaknya dua puluh empat, mungkin empat puluh delapan jam. Di belakang benteng ini terdapat serangkaian 22 benteng yang terdiri dari 35 titik perkuatan. Rata-rata, benteng-benteng itu terpisah sejauh 10 kilometer (6,2 mil). Sebuah titik perkuatan memiliki beberapa lantai yang dibangun jauh ke dalam pasir dan memberikan perlindungan dari bom seberat 1000 pon (~ ½ ton). Titik perkuatan ini menggabungkan parit pertahanan, kawat berduri, ladang ranjau sedalam 200 meter, banyak bunker dan tempat perlindungan pasukan, dan posisi menembak untuk tank. Setiap titik perkuatan memiliki reservoir bawah tanah yang diisi dengan minyak mentah. Minyak dapat dipompa ke Terusan Suez melalui sistem pipa, dan dinyalakan untuk menciptakan suhu yang mencapai 700 °C (1.292 °F). Garis pertahanan kedua, yang berada 300–500 meter (980–1.640 kaki) di belakang garis pertahanan utama, dikonsentrasikan di area dimana penyeberangan kemungkinan besar dilakukan, dan dirancang untuk ditempati oleh pasukan lapis baja, yang dilengkapi dengan posisi menembak tank. Garis pertahanan ketiga, berada 3–5 kilometer (1,9–3,1 mil) di belakang benteng pasir, memiliki pertahanan yang terkonsentrasi di jalan-jalan utama dan rute-rute utama bagi penyerang. Di belakang jalur pertahanan utama di kanal adalah area konsentrasi untuk persenjataan dan pasukan infanteri, depot pasokan, banyak posisi artileri dan sebagainya.



Komando Israel mengembangkan rencana pertahanan dasar dengan nama kode Dovecote (Shovach Yonim), yang rinciannya diketahui oleh orang-orang Mesir. Rencana tersebut membagi Garis Bar Levmenjadi tiga sektor, yakni: sektor utara yang mempertahankan Arish di pantai hingga El-Qantarah el-Sharqiyya, sektor tengah mempertahankan Ismailia hingga Abu-Ageila, dan sektor selatan mempertahankan wilayah tersebut dari Danau Pahit Besar hingga ujung Terusan Suez, dan mencegah serangan ke Mitla dan Gedy Passes. Divisi Lapis Baja ke-252, yang dipimpin oleh Mayor Jenderal Albert Mandler, ditugaskan untuk mempertahankan Garis Bar Lev, terdiri dari gabungan tiga brigade lapis baja. Diposisikan 5–9 kilometer (3,1–5,6 mi) di belakang rangkaian perbentengan adalah brigade yang terdiri dari 110–120 tank, dipimpin oleh Kolonel Reshef. Brigade ini dipecah menjadi tiga batalyon yang masing-masing terdiri dari 36–40 tank, dengan satu batalyon untuk tiap sektor. Dalam kasus adanya serangan Mesir, brigade harus bergerak maju untuk menduduki platform tank dan posisi menembak di sepanjang Garis Bar Lev. Lebih jauh 20–35 kilometer (12–22 mi) di belakang kanal terdapat dua brigade lapis baja tambahan yang dipimpin oleh Kolonel Gabi Amir dan Dan Shomron, masing-masing dengan sekitar 120 tank. Satu brigade akan memperkuat brigade lapis baja yang ada di garis depan, sementara brigade lainnya melakukan serangan balik terhadap serangan utama Mesir. Garnisun Israel di Sinai berjumlah 18.000 orang, didukung oleh 300 tank dan 80-100 pucuk senjata artileri, dengan bala bantuan diharapkan akan siap dalam waktu 24 jam. Komandan keseluruhan garnisun ini adalah Shmuel Gonen, yang menjabat sebagai kepala Komando Selatan Israel. Dari garnisun yang ditempatkan di Sinai, satu brigade infanteri menduduki titik-titik perkuatan di terusan pada tanggal 6 Oktober, sementara 8.000 lainnya dapat dikerahkan ke garis dalam waktu 30 menit hingga dua jam bersama dengan unit-unit lapis baja.
TIPU MUSLIHAT DI HARI-HARI TERAKHIR
Total kekuatan militer Mesir jelang pecahnya perang adalah termasuk sekitar 800.000 (salah satu yang terbesar di dunia), 2.200 tank, 2.300 senjata artileri, 150 baterai SAM, dan 550 pesawat tempur garis depan. Dari jumlah ini lima divisi dan beberapa brigade independen (infanteri dan lapis baja) dikerahkan di sepanjang kanal Suez, dengan didukung oleh tiga divisi mekanis dan dua divisi lapis baja. Setiap divisi infanteri memiliki sebuah batalion tank untuk setiap satu dari tiga brigadenya, yang membuat total ada 120 tank pada setiap divisi infanteri. Tiga divisi mekanis terdiri dari dua brigade mekanis dan satu brigade lapis baja, dengan total 160 tank per divisi. Sementara itu dua divisi lapis baja terdiri dari dua brigade lapis baja dan satu brigade mekanis, dengan total 250 tank per divisi. Selain itu terdapat juga brigade-brigade tank independen, dua brigade pasukan payung, sekitar 28 batalion pasukan komando dan sebuah brigade marinir. Dalam operasi Badr, Tentara Mesir ke-2 bertanggung-jawab pada area utara kanal, sedangkan tentara ke-3 bertanggung-jawab pada area selatan. Front Tentara ke-2 dipertahankan oleh Divisi infanteri ke-18 (dari area Port Said sampai Kantara, dan Firdan Bridge), Divisi infanteri ke-2 (dari Firdan Bridge sampai utara danau Timsah), dan Divisi infanteri ke-16 (dari danau Timsah sampai ujung utara danau Pahit). Batas antara kedua Tentara Mesir ada di tengah-tengah danau Pahit. Sementara itu Tentara ke-3 Mesir mengomandoi Divisi infanteri ke-7 (bertanggung-jawab atas sektor danau Pahit sampai ujung selatab kanal Suez) dan Divisi infanteri ke-19 yang menjagai area selatan, termasuk kota Suez. Setiap divisi infanteri penyerang pada saat menyeberang diperkuat dengan sebuah brigade lapis baja, yang diambil dari divisi lapis baja dan divisi mekanis. Sementara itu memposisikan Tentara Kedua dan Ketiga dengan peralatan penyeberangan mereka di sepanjang kanal dalam persiapan untuk Operasi Badr akan membuat pasukan Israel dalam kondisi siaga tinggi. Tanpa unsur kejutan pasukan Mesir jelas akan menderita kerugian besar dalam serangan itu (perkiraan korban sudah mencapai ribuan). Direktorat Intelijen Militer (disingkat Aman), yang merumuskan perkiraan intelijen Israel dan dikenal karena kompetensinya, ditugaskan untuk mendeteksi pergerakan dan aktivitas pasukan Mesir dan Suriah; dimana aktivitas militer yang akan sangat intensif pada hari-hari terakhir sebelum penyerangan. Rencana penipuan yang kemudian digelar oleh orang-orang Mesir untuk mencegah deteksi pihak Israel, termasuk dinas intelijen mereka, mengandalkan serangkaian peristiwa dan insiden, secara militer dan politik, internasional dan nasional, yang bertujuan meyakinkan analis intelijen Israel bahwa dunia Arab tidak bersiap untuk perang. Di antara rencana itu adalah bahwa komandan eselon senior menjaga kenormalan saat bekerja secara rahasia pada persiapan akhir untuk serangan itu. Inti dari rencana penipuan Mesir didasarkan pada mentalitas Israel yang lazim menyusul kemenangan secepat kilat mereka atas pasukan Arab dalam Perang Enam Hari 1967. Mentalitas ini tergambar dengan jelas dalam pepatah Israel berikut ini: “Damaskus hanya berjarak satu jam berkendara, dan Kairo mungkin dua jam”. Dalam tesisnya tentang Perang Yom Kippur, Mayor Marinir Amerika Michael C. Jordan menjelaskan bahwa kutipan ini dan pendapat umum yang diwakilinya sebelum bulan Oktober 1973: “… juga mencerminkan sikap meremehkan Israel atas kemampuan militer tetangga Arabnya, yakni Mesir dan Suriah. Kemenangan pada tahun 1967 begitu lengkap dan dimenangkan dengan harga yang sangat murah, sehingga orang-orang Israel memandang pasukan militer mereka tidak terkalahkan, dinas intelijen mereka tidak tertandingi, dan musuh Arab mereka lebih rendah kemampuannya dan tidak kompeten.”


Orang-orang Israel mengharapkan akan mendapat peringatan empat puluh delapan jam sebelumnya dari dinas intelijen mereka jika negara-negara Arab menyerang. Bagaimanapun, mereka yakin bahwa setiap serangan Arab akan dengan cepat dihancurkan oleh AU Israel (IAF). Orang-orang Mesir kemudian berusaha untuk mengeksploitasi kepercayaan diri Israel ini untuk keuntungan mereka. Sejak menjabat, Sadat terus mengancam Israel dengan perang, sampai pada tahapan ancamannya diabaikan oleh Israel dan dunia. Untuk memposisikan pasukan mereka untuk menyerang Israel, orang-orang Mesir mengumumkan latihan di tepi terusan. Latihan ini telah dilakukan berkali-kali sebelumnya, dan pada bulan Mei dan Agustus 1973 alarm palsu telah menyebabkan tentara Israel bergerak untuk menanggapi latihan ini, yang merugikan Israel sekitar $10 juta setiap kali latihan. Kali ini, ketika tentara Mesir memulai latihan pada tanggal 1 Oktober hingga 7 Oktober, Aman mengabaikan aktivitas militer yang meningkat sebagai sekedar manuver pelatihan saja. Pergerakan pasukan di front Suriah juga terdeteksi, tetapi Aman menyimpulkan bahwa Suriah tidak akan berperang tanpa Mesir. Dalih latihan lalu memungkinkan orang Mesir untuk menyembunyikan persiapan mereka. Ini lebih lanjut dibantu oleh fakta bahwa Tentara Lapangan Kedua dan Ketiga Mesir biasanya ditempatkan di sepanjang Terusan Suez untuk pertahanan. Pasukan infanteri, unit lapis baja, dan yang terpenting, peralatan penyeberangan, dipindahkan ke area konsentrasi mereka selama lima belas malam hingga malam tanggal 5/6 Oktober, dengan puncak aktivitas terjadi selama lima malam terakhir.

Sejak menduduki Sinai pada tahun 1967, Israel telah secara terbuka menyatakan akan tetap berada di Sharm el-Sheikh untuk memastikan jalur laut ke pelabuhan Eilat melalui Selat Tiran tetap terbuka (penutupan selat untuk kapal-kapal Israel pada tahun 1967 adalah salah satu penyebab pecahnya Perang Enam Hari). Mesir kemudian bertujuan untuk meniadakan arti penting Sharm el-Sheikh bagi Israel dengan memberlakukan blokade laut di selat Bab-el-Mandeb, hampir 2.500 kilometer (1.600 mil) jauhnya dari Israel. Untuk tujuan ini, pengaturan dibuat dengan Pakistan yang akan menerima kapal-kapal Mesir untuk diperbaiki pada awal tahun tahun 1973. Persetujuan dicari, dan diperoleh, dari Sudan dan Yaman untuk menerima kapal-kapal selam Mesir dalam perjalanan mereka ke Pakistan di Port Sudan dan Aden untuk melakukan kunjungan persahabatan. Persetujuan pihak Pakistan untuk menerima kapal-kapal Mesir diumumkan kepada publik. Pada tanggal 1 Oktober, sebuah armada yang terdiri dari beberapa kapal selam, kapal perusak dan kapal bersenjata rudal berlayar pada rute yang direncanakan untuk memastikan kedatangan mereka di Bab-el-Mandeb pada tanggal 6 Oktober dengan keheningan radio total; yang berarti tidak ada cara untuk menarik kembali kapal-kapal selam setelah mereka berlayar. Para perwira komandan, yang tidak mengetahui misi mereka yang sebenarnya, diberikan amplop tertutup yang merinci perintah dan misi mereka, dan diperintahkan untuk membuka amplop tersebut pada tanggal 6 Oktober, hanya beberapa jam sebelum perang dimulai, di mana mereka akan memecah keheningan radio mereka. Setelah armada berlayar pada hari itu, 1 Oktober, “perang telah dimulai secara efektif”. Militer Mesir terus berusaha mempertahankan kesan aktivitas normal. Tepat sebelum Ramadhan dimulai pada tanggal 26 September, Kementerian Perang mengumumkan secara terbuka bahwa personel militer dapat mendaftar untuk mengambil cuti untuk melakukan umrah (ziarah) di Mekah. Surat kabar Mesir mengumumkan bahwa perlombaan perahu layar akan diadakan, yang pesertanya termasuk beberapa perwira tinggi Angkatan Laut Mesir. Selain itu, kunjungan yang direncanakan pada tanggal 8 Oktober (dua hari setelah serangan yang dijadwalkan) oleh Menteri Pertahanan Rumania ke Mesir juga dipublikasikan oleh Kementerian Perang, dan sebuah program untuk kunjungannya diumumkan. Kunjungan kebetulan ini kemudian akan segera dibatalkan setelah perang pecah pada tanggal 6 Oktober, tetapi terbukti berguna sebagai bagian dari rencana penipuan Mesir.

Pada tanggal 27 September, sejumlah besar pasukan cadangan diberi perintah untuk dimobilisasi. Untuk menghilangkan kecurigaan, para Menteri Kabinet Pemerintah Mesir diundang melakukan kunjungan terbuka ke Markas Besar Jenderal, di mana semua perencanaan dan koordinasi operasi berlangsung. Kelompok cadangan lainnya dipanggil pada tanggal 30 September. Untuk menghilangkan kecurigaan sekali lagi, orang Mesir mengumumkan secara terbuka pada tanggal 4 Oktober demobilisasi pasukan cadangan yang telah dipanggil pada tanggal 27 September, tetapi mereka hanya mendemobilisasi 20.000 orang. Sejak tanggal 1 Oktober dan seterusnya, perintah perang mulai menyebar di luar lingkaran komandan senior di Mesir. Jenderal Saad Mamoun dan Abdel Munim Wasel, masing-masing komandan Angkatan Darat Kedua dan Ketiga, diberitahu tentang keputusan untuk melaksanakan Operasi Badr. Pada tanggal 3 Oktober, mereka memberi tahu komandan-komandan divisi mereka. Komandan-komandan brigade diberitahu pada tanggal 4 Oktober, komandan batalyon dan kompi pada tanggal 5 Oktober, sedangkan komandan peleton dan pasukan diberitahu pada tanggal 6 Oktober, enam jam sebelum dimulainya serangan. Sadat sementara itu juga memainkan perannya dalam rencana penipuan; pada bulan September dia menghadiri konferensi negara-negara Non-Blok di Aljazair, dan sekembalinya dia dikabarkan sakit. Sadat tetap, selama beberapa hari menjelang tanggal 6 Oktober, tidak terlihat oleh publik. Intelijen Mesir kemudian menyebarkan cerita palsu tentang penyakitnya di media dan memulai upaya pencarian untuk sebuah rumah di Eropa, di mana Sadat akan menerima perawatan, guna semakin menambah kredibilitas rumor itu. Pelaksanaan operasi penipuan ini bagaimanapun tidak sepenuhnya berjalan tanpa insiden. Awalnya Soviet tidak mengetahui niat Mesir untuk berperang. Sebaliknya, pada tanggal 2 Oktober, mereka diberitahu bahwa sebuah serangan Israel diperkirakan akan terjadi. Selama dua hari berikutnya direktur Badan Intelijen Pertahanan, Jenderal Fouad Nassar, memberi tahu Kepala Perwira Penghubung Soviet, Jenderal Samakhodsky, bahwa serangan itu diperkirakan akan menjadi serangan skala besar, ditambah dengan serangan udara. Meskipun Samakhodsky awalnya tampak percaya cerita Nassar, menjadi jelas bagi orang-orang Mesir bahwa Soviet curiga. Secara khusus, para penasihat Soviet yang bekerja dengan unit militer Mesir dan Suriah pada 3 Oktober melaporkan aktivitas yang luar biasa tinggi dari pasukan Mesir dan Suriah. Baik Sadat maupun Assad memutuskan untuk memberi tahu Soviet tentang niat mereka untuk berperang pada tanggal 3 Oktober. Segera, Soviet lalu meminta izin untuk mengevakuasi personel mereka di Mesir, dan kedua pemimpin dengan enggan setuju. Para komandan Mesir benar-benar terkejut ketika, mulai larut malam pada tanggal 4 Oktober, para ahli Soviet yang bertugas di unit-unit lapangan, personel kedutaan dan keluarga mereka dengan tergesa-gesa dievakuasi. Pada tanggal 5 Oktober, evakuasi selesai. Insiden ini akan menjadi faktor penting dalam meyakinkan Israel bahwa perang mungkin terjadi.

Tanggal 4 Oktober juga memberikan insiden mengkhawatirkan lainnya kepada para komandan Mesir, yang menyadari malam itu bahwa EgyptAir, maskapai penerbangan nasional negara itu, telah membatalkan semua penerbangannya dan mengatur perlindungan bagi armada udara pesawat sipilnya dengan memencarkan pesawatnya ke tempat-tempat perlindungan di luar Mesir. Perintah itu datang dari Menteri Penerbangan Ahmed Nuh. Markas Besar Umum segera turun tangan untuk membalikkan perintah tersebut, dan pada tanggal 5 Oktober penerbangan kembali ke jadwal normal mereka. Diyakini insiden itu merupakan pelanggaran keamanan dan adanya kebocoran rencana perang Mesir. Namun, tidak jelas bagi para komandan Mesir, apakah Israel mengetahui insiden tersebut. Pada tanggal 13 September 1973, terjadi pertempuran udara antara pesawat-pesawat tempur Suriah dan Israel. Itu adalah pertempuran yang mengkhawatirkan di mana dua belas pesawat Suriah ditembak jatuh sementara Israel hanya kehilangan satu pesawat tempur. Ketegangan segera meningkat antara kedua negara. Orang-orang Mesir khususnya sangat prihatin; pada tanggal 7 April 1967, pertempuran udara antara Suriah dan Israel telah meningkatkan situasi militer dan menjadi salah satu penyebab pecahnya Perang Enam Hari. Sadar bahwa perang akan diluncurkan hanya beberapa hari kemudian, Suriah memilih untuk tidak membalas. Pertempuran udara bagaimanapun membantu Suriah dalam memusatkan kekuatan mereka untuk berperang, karena Israel menafsirkannya sebagai reaksi defensif dari pihak Suriah. Israel memantau dengan cermat penumpukan kekuatan ini di dekat garis depan mereka, tetapi pihak intelijen tetap bersikukuh bahwa Suriah tidak akan berperang tanpa Mesir, yang diyakini Israel saat ini sedang disibukkan dengan masalah internal. Sepanjang bulan September 1973, Aman telah menerima sebelas peringatan, termasuk peringatan dari Raja Hussein dari Yordania, bahwa Mesir dan Suriah bertekad untuk berperang, tetapi semuanya diabaikan, karena Aman mempertahankan keyakinan bahwa orang-orang Arab tidak akan melancarkan serangan. Direktur Mossad Zvi Zamir tetap berpendapat bahwa perang bukanlah pilihan bagi negara-negara Arab.



Namun, masih ada terlalu banyak tanda untuk diabaikan oleh Israel, yang utama di antaranya adalah evakuasi personel Soviet yang tergesa-gesa dari Kairo dan Damaskus, dan penumpukan pasukan yang konstan di front Suriah ketika Mesir, diasumsikan, tidak akan memasuki perang. Meskipun Kepala Staf, David Elazar, yakin bahwa kemungkinan perang tetap kecil, ia mengambil langkah-langkah pencegahan pada tanggal 5 Oktober. Elazar menempatkan seluruh militer Israel dalam kondisi siaga, membatalkan semua cuti, dan memerintahkan Angkatan Udara untuk mengambil sikap siaga penuh. Dia juga memerintahkan Brigade Lapis Baja ke-7 untuk pindah dari Sinai ke Dataran Tinggi Golan. Ini meningkatkan jumlah kekuatan Israel di Dataran Tinggi Golan menjadi 177 tank dan 44 senjata artileri pada tanggal 6 Oktober. Untuk menggantikan Brigade Lapis Baja ke-7, Sekolah Unit Lapis Baja, di bawah komando Kolonel Gabi Amir, diperintahkan untuk mengaktifkan brigade tanknya untuk melaksanakan pengangkutan udara segera di Sinai pada tanggal 6 Oktober, sebelum perang dimulai. Namun pada akhirnya, tidak ada perintah untuk melakukan mobilisasi yang dikeluarkan untuk pasukan cadangan; Elazar dan komandan senior lainnya masih mengharapkan adanya peringatan 24-48 jam dari dinas intelijen jika negara-negara Arab bertekad untuk berperang. Pada malam tanggal 5/6 Oktober, Zvi Zamir pergi ke Eropa untuk bertemu secara pribadi dengan Ashraf Marwan, seorang agen ganda Mesir. Marwan kemudian memberitahu Zamir bahwa serangan gabungan Mesir-Suriah sudah dekat. Dikombinasikan dengan peringatan dan insiden lainnya, peringatan Marwan akhirnya meyakinkan Zvi Zamir tentang perang yang akan segera terjadi. Eli Zeira, direktur Aman, mengirim peringatan perang yang pasti kepada para pemimpin Israel pada pukul 04:30 tanggal 6 Oktober. Aman salah ketika menyimpulkan bahwa orang-orang Arab akan menyerang pada pukul 18:00, perkiraan sebenarnya terlambat empat jam. Perdana Menteri Israel Golda Meir lalu bertemu dengan Menteri Pertahanan Moshe Dayan dan Jenderal David Elazar pada pukul 08:05 selama lebih dari satu jam. Meir meminta kedua pria itu untuk mempresentasikan pandangan mereka, yang saling bertentangan: Dayan terus percaya bahwa perang bukanlah suatu kepastian, sementara Elazar percaya sebaliknya, sebagai alasan untuk melakukan serangan udara pendahuluan terhadap Suriah. Dayan juga mengusulkan mobilisasi sebagian unit cadangan, dengan jumlah total yang dimobilisasi tidak lebih dari 50.000 orang, sementara Elazar mendukung mobilisasi seluruh Angkatan Udara, dan empat divisi lapis baja, dengan total sekitar 100.000–120.000 tentara. Meir mengakhiri pertemuan dengan menyatakan bahwa tidak akan ada serangan pendahuluan yang akan diluncurkan, untuk memastikan dukungan dari Amerika Serikat, tapi dia memihak Elazar pada masalah mobilisasi, dan perintah dikeluarkan untuk memobilisasi pasukan cadangan. Aman menyampaikan peringatannya kepada komandan Israel hanya sembilan setengah jam sebelum pecahnya perang, jauh dari periode peringatan 24-48 jam yang diharapkan. Orang-orang Arab dengan ini telah memenangkan perang intelijen, mencapai kejutan penuh dan mendapatkan inisiatif di medan perang.
Bersambung……..
Baca Part II:
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Badr_(1973)
Arabs at War: Military Effectiveness, 1948-1991 (Studies in War, Society, and the Military) by Kenneth M. Pollack; September 1, 2004; P 98-99, p 104, p 106-108, p 111-113
The Arab-Israeli Wars: War and Peace in the Middle East from the War of Independence through Lebanon by Chaim Herzog, 1982; p 247, p 251, p 262-265, p 281
The Road to Ramadan by Mohamed Heikal, 1976, p 209-211
WAR IN PEACE: An Analysis Of Warfare Since 1945, Consultant Editor: Sir Robert Thompson, Introduction by John Keegan; 1981, p 230-231
