Pertempuran Biak Yang Membuat Frustasi MacArthur
Medan Tempur di Pasifik dalam Perang Dunia II telah menjadi tempat beberapa pertempuran paling mengerikan dalam perang akbar ini. Medan ini menghasilkan beberapa momen pertempuran paling terkenal dalam sejarah Amerika termasuk pertempuran-pertempuran di Iwo Jima, Okinawa, Midway dan Guadalcanal. Tetapi untuk setiap pertempuran dan pulau terkenal terkenal di Pasifik, terdapat tiga atau lebih yang tidak diketahui banyak orang. Perang di Pasifik antara Sekutu dan Jepang bukanlah beberapa konflik berbeda melainkan serangkaian pertempuran kecil yang terus-menerus, yang tampaknya tak berujung, untuk memperebutkan pulau-pulau kecil yang namanya sebagian besar dilupakan baik sebelum maupun setelah pertempuran. Ribuan pemuda telah kehilangan nyawa mereka di pulau-pulau ini yang namanya segera dilupakan. Sebagian besar pertempuran ini masing-masing berlangsung beberapa minggu dan tidak memunculkan foto-foto terkenal untuk dapat dikenang. Meskipun begitu, sebagian besar korban diantara pasukan Sekutu berasal dari pertempuran-pertempuran kecil seperti ini, dan mereka sebenarnya layak untuk dikenang. Pertempuran Biak adalah salah satu pertempuran semacam yang menggambarkan mikrokosmos sempurna dari perang berdarah di Pasifik ini.


“Yang saya tahu tentang Biak adalah bahwa itu adalah sebuah pulau di selatan khatulistiwa, salah satu dari kelompok kepualauan Schouten yang terletak di utara Teluk Geelvink menuju ujung barat New Guinea.” Demikian Kolonel Harold Riegelman membuat pengakuan tentang ketidaktahuannya tentang pulau ini, menjelang pertengahan bulan Juni 1944, tak lama setelah mendarat di pulau itu. Pada saat itu, Divisi ke-41 Angkatan Darat AS telah berjuang menuju daratan dari pantai pendaratan di selatan Biak selama hampir tiga minggu. Dalam minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang, Kolonel Riegelman akan belajar lebih banyak tentang Biak daripada yang bisa dia harapkan. Sebelumnya pada bulan April 1944, pasukan Area Pasifik Barat Daya pimpinan Jenderal Douglas MacArthur telah melakukan lompatan pergerakan raksasa sejauh 600 mil (965 km) di sepanjang pantai utara New Guinea dengan pendaratan mereka di Hollandia. Invasi itu benar-benar mengejutkan Jepang, dan sebagian besar dari sedikit orang Jepang yang muncul di dekat pantai invasi memilih untuk masuk ke dalam hutan. Operasi di Hollandia telah memotong Angkatan Darat ke-18 Jepang di timur laut New Guinea. Komandan udara MacArthur, Letnan Jenderal George C. Kenney, saat itu membutuhkan lapangan udara garis depan di wilayah Papua jajahan Belanda untuk membuka jalan bagi kembalinya MacArthur ke Filipina, yang dijadwalkan akan berlangsung menjelang akhir tahun 1944. Diharapkan bahwa daerah Hollandia akan menyediakan lapangan udara tersebut. Tapi tanah di tempat itu terbukti terlalu basah untuk bisa menampung pembom bermesin empat B-24 yang besar milik Kenney; sehingga lapangan terbang baru di sebelah barat Hollandia harus ditemukan. Akibatnya, MacArthur harus menggunakan Tim Tempur Resimen ke-163 AS untuk menyerang pulau kecil Wakde, 120 mil sebelah barat Hollandia, pada tanggal 17 Mei. Mereka akhirnya bisa merebut pulau itu setelah menghadapi perlawanan keras.
WAKDE TIDAK CUKUP BAGUS, KENNEY INGINKAN BIAK
Nyatanya kondisi Wakde yang sempit juga tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Kenney dan akan terbukti menjadi bencana pada awal bulan Juni ketika serangan udara Jepang menghancurkan sejumlah besar pesawat Angkatan Udara Kelima di darat. Oleh karena itu, Kenney sangat ingin mendapatkan lapangan terbang yang sangat baik di Biak, sebuah pulau karang 180 mil (290 km) sebelah barat Wakde dan 300 mil (483 km) sebelah barat Hollandia. Biak dinilai sebagai lokasi lapangan terbang terbaik yang ada diantara Hollandia dan Mindanao (sebuah pulau besar di Filipina), dan permukaan karangnya memungkinkan pesawat pengebom besar beroperasi tanpa kesulitan. Pulau ini memiliki panjang sekitar 45 mil (72 km) dengan lebar 20 mil (32 km) serta seluas 674 mil persegi. Jepang sendiri telah menyadari kegunaannya, dengan menyelesaikan tiga airdromes (lapangan udara) di sana, yakni di Mokmer, Sorido, dan Borokoe pada bulan Mei 1944. Lapangan udara Mokmer diketahui punya landasan sepanjang 3.750 meter. Merebut pangkalan-pangkalan udara ini tidak hanya akan membuat musuh tidak dapat menggunakannya, tetapi juga akan menempatkan pesawat-pesawat pengebom Amerika dalam jarak 800 mil (1.287,5 km) dari Kepulauan Filipina, tempat pasukan Amerika akan mendarat pada bulan Oktober 1944. Pada tanggal 28 April, pesawat-pesawat pembom B-24 dari Grup Pengebom Berat ke-43 dan ke-90, yang terbang dari Nadzab di timur Nugini, menyerang lapangan terbang Mokmer di Biak dalam serangan besar pertama di siang hari yang dirancang untuk “melunakkan” pertahanan pulau itu. Ini kemudian diikuti oleh serangan tambahan terhadap pulau itu oleh komando Pengebom ke-V dan XIII selama bulan Mei. Serangan-serangan ini menghantam posisi-posisi penempatan senjata, konsentrasi perbekalan, dan airdromes. Perlawanan udara Jepang diatas Biak, meskipun pada awalnya sengit, kemudian memudar sepenuhnya setelah minggu pertama bulan Mei. Tugas untuk merebut Biak sendiri lalu diberikan kepada Satgas Hurricane yang dikomandani oleh Mayjen Horace H. Fuller. Fuller berusia 57 tahun dan lulusan West Point tahun 1909. Dia telah bertugas di Filipina pada awal abad ke-20 dan kemudian memimpin resimen artileri lapangan selama Perang Dunia I. Di masa jeda perang, Fuller menjadi mahasiswa dan instruktur di Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, dan Army War College di Washington, DC. Pada bulan Juni 1941, ia menjadi komandan Command and General Staff College, dan pada bulan Desember mengambil alih komando Divisi ke-41, yang dikerahkan ke Australia pada bulan April 1942. Divisi tersebut, yang telah bertugas dengan baik dalam pertempuran di timur New Guinea dan Hollandia, serta telah menjadi salah satu unit yang paling dihormati SWPA (South West Pacific Area). Fuller, seorang perokok berat dan peminum, terlatih dan terdidik dengan baik di sekolah-sekolah Angkatan Darat. Dia efisien, melakukan hal-hal yang sesuai dengan buku panduan dan tampaknya ditakdirkan untuk memperoleh jabatan komando yang lebih tinggi. Sementara itu Gugus tugas Hurricane yang dipimpinnya, awalnya akan terdiri dari Tim Tempur Resimen (RCT) ke-162 dan 186 AS, dengan RCT ke-163 sebagai cadangan. Unit-unit tempur ini berasal dari Divisi Infanteri ke-41 Fuller, yang belum pernah bertempur sebagai divisi penuh, melainkan sebagai tim tempur individu, seperti yang dicontohkan RCT ke-163 dalam perebutan Wakde.


Biak akan menjadi ujian bagi kemampuan Fuller untuk mengoordinasikan operasi sejumlah besar pasukan—Satuan Tugas Hurricane diatas kertas berjumlah sekitar 28.000 orang, termasuk unit layanan dan pendukung yang bukan bagian integral dari Divisi ke-41. Hari penyerangan yang ditetapkan adalah tanggal 27 Mei 1944. Sebagai komandan satuan tugas, Fuller melapor langsung kepada Letnan Jenderal Walter Krueger, komandan Angkatan Darat Keenam AS dan Alamo Force, yang pada gilirannya bertanggung jawab langsung kepada MacArthur. Sementara itu, Letnan Jenderal Robert L. Eichelberger, yang memimpin Korps ke-I AS, tetap berada di Hollandia dan tidak memiliki tanggung jawab awal untuk operasi di Biak. MacArthur saat itu telah berjanji untuk mendukung invasi pasukan Pasifik Tengah pimpinan Laksamana Chester W. Nimitz di Mariana dari lapangan udara Biak. Pendaratan Nimitz di Saipan telah dijadwalkan untuk dilancarkan pada tanggal 15 Juni. Dengan ini, berarti Fuller akan berada di bawah tekanan kuat dari Krueger dan, secara tidak langsung, MacArthur, untuk menyelesaikan perebutan airdromes di Biak sesegera mungkin. Namun, entah kenapa, Fuller gagal memberi tahu komandan resimennya tentang perlunya kecepatan dalam perebutan ini. Semua airdromes terletak di pantai selatan Biak, sehingga operasinya nampak tidak terlihat terlalu sulit. Krueger memilih lokasi pendaratan di dekat kota Bosnek, di sebelah timur airdromes. Tampaknya orang-orang Fuller akan dapat bergerak di sepanjang jalan pantai untuk merebut lapangan udara pertama, yakni drome Mokmer, tanpa kesulitan besar, sehingga memberikan waktu bagi para pasukan zeni untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lapangan udara itu secara memadai untuk bisa mengoperasikan B-24 yang diperlukan untuk mendukung operasi Nimitz. Tetapi ternyata sangat sedikit yang diketahui tentang keadaan sebenarnya dari pertahanan Jepang di pulau itu, karena proses pengintaian pra-invasi sangat minim. Fuller tidak menyadari bahwa dia akan masuk ke dalam jebakan.
JEPANG MERANCANG PERTAHANAN KUAT DI BIAK
Bagi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, Biak sangat penting. Airdromes-nya diperlukan untuk memberikan dukungan bagi strategi besar Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, yakni Operasi A-GO. Rencana itu, sebelumnya dikenal sebagai Rencana Z, yang mana merencanakan Angkatan Laut Kekaisaran untuk memancing Armada Pasifik AS ke dalam konfrontasi langsung yang menentukan (dikenal dengan istilah Kantai Kessen alias pertempuran yang menentukan) di area yang ada dalam jangkauan kekuatan udara angkatan darat Jepang. Pada tanggal 11 Mei, Wakil Laksamana Jisaburo Ozawa, yang memimpin Armada Laut Mobile Pertama di Tawitawi Filipina, diperingatkan bahwa peluncuran Operasi A-GO yang akan segera dilaksanakan. Sementara itu, sebaliknya, jika Biak jatuh ke tangan MacArthur, Kenney akan dapat menggunakan lapangan terbangnya untuk secara menentukan mengganggu armada laut dan pergerakan udara Jepang yang melancarkan operasi A-GO. Oleh karena itu, Angkatan Laut Kekaisaran kemudian bersiap untuk melakukan upaya besar dalam mempertahankan kendali atas Biak, termasuk dengan menggunakan kapal tempur terbesarnya, Yamato dan Musashi. Sebaliknya berlawanan dengan kehendak Angkatan Laut, Angkatan Darat Kekaisaran telah memutuskan pada bulan Mei 1944 bahwa Biak akan dipertahankan hanya sebagai pos garis depan, tidak lagi menjadi bagian dari garis pertahanan utama di Papua Belanda. Ini berarti bahwa Biak akan ditahan selama mungkin, tetapi dikorbankan jika perlu sebagai bagian dari tindakan penundaan besar yang bertujuan untuk mencegah kembalinya MacArthur ke Filipina.

Ditugaskan untuk mempertahankan pulau adalah Detasemen Biak Angkatan Darat di bawah komando Kolonel Naoyuki Kuzume, ditambah dengan pasukan angkatan laut. Kuzume, adalah lulusan akademi militer tahun 1913, dan berusia 53 tahun. Sebagai perwira infanteri, ia pernah bertugas di Resimen Infantri ke-4, Divisi Pengawal Kekaisaran, selama 10 tahun, kemudian naik pangkat menjadi kapten. Setelah itu, ia mendapatkan serangkaian pelatihan dan posisi administrasi, serta tidak pernah menghadiri pendidikan tinggi staf militer dan pada tahun 1941 Kuzume memimpin distrik resimen yang bertanggung jawab untuk meningkatkan dan melatih anggota baru. Pada bulan Juli 1941, Kuzume mengambil alih komando Resimen ke-222, yang kemudian bertugas di China utara. Dia menghabiskan dua tahun berikutnya memimpin kampanye pasifikasi di pegunungan Provinsi Shanxi. Pada bulan Juli 1943, Resimen ke-222 menerima perintah penempatan di New Guinea, dan Oktober Kuzume mendarat di Biak. Dia adalah perwira Jepang yang tidak biasa, dengan tidak merokok atau minum, serta memiliki reputasi sebagai pekerja keras yang taat untuk mengikuti perintah atasan. Detasemen Biak pimpinannya dibentuk di sekitar Resimen ke-222 Divisi ke-36, sebuah unit tangguh dengan pengalaman tempur di China. Mengikuti doktrin kontra amfibi tentara Jepang konvensional, Kuzume diharapkan untuk mempertahankan lapangan terbang dan bekerja sama dengan unit-unit angkatan udara untuk menghancurkan musuh di garis air. Dia diatas kertas, ia memiliki sekitar 3.800 prajurit infanteri; dan 6.000 tentara lainnya dalam unit konstruksi serta pendukung, yang tidak bersenjata lengkap (memiliki total sekitar 1.000 senjata ringan dan beberapa ratus granat). Orang-orang yang tidak bersenjata kemudian diperintahkan untuk bertarung dengan tombak atau tongkat bambu. Juga di pulau itu terdapat Pasukan Khusus Pangkalan Angkatan Laut ke-28, dengan sekitar 1.400 tentara dan satu detasemen pengawal berjumlah 125 orang di bawah komando Laksamana Muda Sadatochi Senda. Hingga tanggal 27 Mei, terdapat sekitar 12.350 personel Jepang di Biak. Tapi G-2 (Unit intelijen) MacArthur, Brig. Jenderal Charles A. Willoughby, memperkirakan di Biak hanya ada 5.625 prajurit Jepang. Jadi faktanya tentara Jepang yang dihadapi Satgas Hurricane adalah dua kali lipat dari jumlah yang diperkirakan.

Willoughby sendiri menilai bahwa Satgas Hurricane akan menghadapi perlawanan musuh yang “keras kepala, tetapi tidak (akan) serius” di Biak. Para perencana juga memperkirakan proses pendudukan Biak akan memakan waktu sekitar satu minggu. Mereka juga ternyata salah tentang hal itu. Tanpa sepengetahuan Willoughby, Fuller, atau Krueger, para prajurit Jepang yang mempertahankan Biak telah mengantisipasi pendaratan Sekutu, dan Kuzume pada akhir bulan Mei telah membangun jaringan pertahanan yang tangguh di pulau itu. Mereka memang kalah jumlah dan senjata, menderita penyakit malaria, disentri amuba dan penyakit tropis lainnya, serta sampai akhir bulan April telah menghabiskan lebih banyak waktu mereka untuk membangun lapangan terbang, bukannya melakukan pelatihan tempur. Tapi pertahanan yang dibuat tentara Jepang tidaklah sia-sia. Seperti yang diceritakan dalam catatan sejarah Divisi ke-41, wilayah operasi utama Gugus Tugas Hurricane akan “dibatasi oleh lereng yang hampir tak terputus dari … terumbu karang yang sempit, bertingkat, yang di beberapa tempat naik hingga 330 kaki (100 meter) di sisi laut dan 160 kaki (49 meter) di sisi darat. Terumbunya ditutupi dengan hutan hujan yang tinggi dan seringkali terdiri dari punggung bukit paralel yang berfungsi sebagai penghalang tambahan di medan yang sudah cukup sulit.” Dalam topografi yang menguntungkan pihak yang bertahan ini, Kuzume membangun jaringan gua yang luas, yang akan menyediakan lebih dari cukup sarana untuk menundukkan setiap serangan tentara Amerika yang melewati jalanan pantai ke arah tembakan yang mematikan. Jika tentara Amerika entah bagaimana dapat mencapai airdrome Mokmer, Kuzume bisa membuatnya menjadi tidak dapat digunakan dengan mengarahkan tembakan berat ke tempat, dari posisi yang terletak di gua-gua tepat di atas airdrome. Dapat dikatakan, misi Satuan Tugas Hurricane akan terbukti lebih sulit daripada operasi MacArthur mana pun sejak penaklukan berdarah di Buna, Papua, hampir satu setengah tahun sebelumnya.
AMERIKA MENDARAT DI BIAK
Terumbu karang yang tak jauh dari pantai pendaratan menciptakan masalah yang disadari oleh para perencana angkatan laut. Keberadaan karang telah mengesampingkan kemungkinan penggunaan kapal pendarat konvensional untuk pendaratan. Sebagai gantinya, LVT dan DUKW amfibi dikerahkan. Keduanya mampu menyeberangi karang, mendaratkan pasukan, dan kembali ke LST lepas pantai untuk mendapatkan lebih banyak pasukan dan perbekalan. Menggunakan kendaraan amfibi mungkin sedikit tidak lazim, tetapi LVT dan DUKW terbukti bisa melaksanakan tugasnya. Pada tanggal 25 Mei Letnan Jenderal Takazo Numata, kepala staf Angkatan Darat Wilayah Kedua, terbang dari Menado, Nugini, untuk memeriksa persiapan pertahanan Biak. Di saat yang sama, pasukan pendaratan Fuller meninggalkan Teluk Humboldt (Hollandia). Fuller berharap setidaknya untuk bisa memperoleh kejutan taktis, dan sampai batas tertentu dia mendapatkannya, meskipun pesawat pengintai Jepang telah melihat armada invasi Laksamana Muda William Fletcher 24 jam sebelum pendaratan yang sebenarnya. Di tempat lain, pada tanggal 26 Mei, setelah Kuzume memberi tahu atasannya tentang situasinya, Numata bertanya kapan dia bisa mengantisipasi serangan musuh. Dua minggu lagi, adalah jawabannya, pada saat itu pertahanan yang dipersiapkan Kuzume diperkirakan akan selesai. Larut malam itu, para prajurit Jepang di pos-pos di sepanjang pantai selatan telah mendengar suara gemuruh dan melihat garis-garis besar kapal, tetapi orang-orang Jepang itu mengira bahwa ini adalah kapal-kapal perang Jepang yang bersiap untuk memperingati Hari Angkatan Laut pada tanggal 27 Mei. Pagi hari tanggal 27 Mei cukup cerah dan disinari matahari ketika gelombang pertama pasukan Fuller menuju ke pantai pada pukul 7:15, dengan didahului dan disertai oleh pemboman besar-besaran dari armada udara dan laut Sekutu. Tiga kapal penjelajah ringan AL Amerika, yakni Phoenix, Boise, dan Nashville, menembakkan total seribu peluru kaliber 6-inci (152,4 mm) ke sektor airdrome, sementara kapal-kapal perusak menghantam pantai pendaratan di dekat Bosnek. Sebuah rentetan tembakan sebelum fajar dari pihak Amerika telah menjebak Numata yang sedang dalam perjalanan ke lapangan terbang untuk mengejar penerbangannya kembali ke Menado. Kakinya terkena pecahan peluru, dan dengan dibantu oleh para prajurit patroli pantai, melakukan perjalanan yang menyakitkan kembali ke Gua Barat yang menghadap ke lapangan terbang. Sebagai perwira senior di pulau itu, Numata sekarang mengambil alih komando operasional, mendirikan markas besarnya di Gua Barat bersama Laksamana Senda dan memerintahkan serangan balik segera terhadap pendaratan AS yang sedang berlangsung di Bosnek. Dia juga mengambil komando pribadi dari dua dari tiga batalyon infanteri resimen dan kompi tanknya. Kuzume sekarang hanya akan memimpin satu detasemen yang terdiri dari batalion infanteri yang tersisa, kompi markasnya, dan unit sementara yang terdiri dari beberapa ratus prajurit. Numata selama ini menduduki jabatan perwira staf dan atase militer, bukan sebagai komandan tempur. Reaksinya atas pendaratan tentara Amerika adalah ingin untuk menghancurkannya di pantai, bahkan meski pantai itu sekitar 10 mil jauhnya dan ia harus menarik setiap pasukan cadangan yang tersedia dari lapangan terbang yang vital. Perintah itu tidak masuk akal bagi Kuzume. Mengapa melintasi semua medan yang berat dan terbatas itu untuk menyerang resimen infanteri AS yang lebih kuat dan utuh? Tapi dia tidak akan pernah berdebat dengan atasannya.



Di pantai Lima belas LCI (Landing Craft, Infanteri) dan 25 DUKW (truk amfibi) mengangkut empat gelombang pertama pasukan infanteri Amerika. Kendaraan-kendaraan ini harus melewati karang-karang lepas pantai yang besar, dan pengeboman sebelum invasi meninggalkan kabut asap di atas pantai yang mengaburkan titik-titik pendaratan yang telah dipilih. Pada pukul 7:30, Batalyon ke-2, Resimen Infanteri ke-186 adalah unit pertama yang mencapai pantai. Seharusnya mereka mendarat di dekat Bosnek, tetapi karena arus dan jarak pandang yang buruk, seluruh batalion mendarat di rawa bakau dekat Mandon, dua mil ke arah barat. Batalyon itu kemudian tetap bergerak ke pedalaman sampai mencapai jalan pantai. Mereka segera bergabung dengan Batalyon ke-3, Resimen ke-186, dan kedua batalyon mencapai tujuan awal masing-masing pada siang hari tanpa mendapat kesulitan. Sementara itu, Resimen ke-162 yang diberi tugas merebut lapangan terbang Mokmer, mendarat di sebelah timur Resimen 186, dan harus melewati posisinya untuk memimpin di jalanan pantai. Dapat dibilang 12.000 tentara—Asal Divisi ke-41, bersama dengan Resimen ke-162—serta senjata artileri dan 12 tank Sherman sukses didaratkan di Biak pada tanggal 27 Mei. Pada awalnya, perlawanan yang dihadapi ringan saja, dan pada siang hari, artileri pendukung Task Force Hurricane dan unit markas gugus tugas Fuller telah berada di darat dan dalam posisi di sekitar Bosnek. Perlawanan Jepang begitu kecilnya sehingga beberapa perwira senior berspekulasi bahwa tentara Jepang telah mengevakuasi pulau itu. Sebenarnya, pasukan pertahanan Jepang tidak menyangka akan adanya pendaratan itu dan tidak siap untuk melakukan serangan balik apa pun. Mereka kemudian menahan tembakan, mengatur ulang posisinya, dan menunggu hari berikutnya untuk memulai perlawanan mereka.
JEPANG MEMBANGUN PERLAWANAN
Jepang pertama kali memberikan perlawanan terorganisir di Parai Defile, sekitar empat mil sebelah barat Bosnek. Dari karang vertikal dan tebing batu kapur, sejumlah kecil pasukan pertahanan Jepang mampu menahan serangan Amerika selama beberapa jam, sampai tank dan tembakan angkatan laut berhasil mengusir mereka dari posisi bertahannya yang sangat baik. Menjelang malam pada hari pendaratan, Batalyon ke-3 dari Resimen 162 telah memantapkan dirinya di tengah-tengah area antara Parai dan Desa Mokmer, dalam perjalanan ke tujuannya di lapangan terbang Mokmer. Di tempat lain, Batalyon ke-2 mempertahankan posisinya di sekitar dermaga Parai, tepat di sebelah timur. RCT ke-186 kini telah memperluas tempat berpijaknya di sekitar Bosnek dan sedang menyelidiki medan kasar di utara kota, untuk kemudian menemui perlawanan terbatas. Pembongkaran perbekalan dan peralatan di Bosnek berjalan sangat baik, dan pada malam hari 2.400 ton kargo, 12 tank medium, 28 meriam howitzer, dan 500 kendaraan telah mendarat. Pada sore hari, pesawat tempur Jepang pertama muncul di atas pantai Bosnek. Pesawat-pesawat tempur P-47 dari Skuadron Tempur ke-342 AS segera mencegat para penyerang, menembak jatuh lima dan kehilangan satu dari antara mereka sendiri. Meski demikian, antara tanggal 27 Mei dan 3 Juni, Jepang telah melakukan 10 serangan udara terhadap tempat berpijak tentara Amerika tetapi mencapai hasil yang relatif tidak berarti. Sementara itu, kekuatan udara Angkatan Laut Kekaisaran sedikit lebih berhasil saat beroperasi melawan kapal-kapal di lepas pantai, dengan menembaki LST (Kapal Pendarat Tank) tanpa hambatan selama lebih dari satu jam pada tanggal 2 Juni dan merusak kapal perusak AS Kalk pada tanggal 12 Juni. Namun reaksi udara secara keseluruhan terhadap pendaratan di Biak secara mengejutkan tidak efektif, dan pada pertengahan bulan Juni perhatian Angkatan Laut Kekaisaran dan angkatan udaranya telah bergeser ke utara untuk melawan serangan Nimitz di Mariana, yang mengakibatkan pecahnya Pertempuran Laut Filipina yang membawa bencana (bagi Angkatan Laut Jepang). Kontras dengan aksi serangan udara yang terbatas, ancaman laut yang ditimbulkan oleh Angkatan Laut Kekaisaran lebih diwaspadai.

Pada tanggal 29 Mei, Markas Besar Kekaisaran telah menyetujui rencana penguatan Armada Gabungan di Biak, dengan nama sandi Operasi KON. Sebagai bagian dari rencana itu, Armada Gabungan bermaksud untuk “mencari peluang dilancarkannya Operasi (A-GO) dan memancing gugus tugas musuh untuk keluar.” Jepang sekarang sedang mencari cara untuk bertempur dalam pertempuran laut yang menentukan di lepas pantai Papua Nugini bagian barat. Tanggal pengiriman bala bantuan ke Biak adalah 3 Juni. Pada tanggal 31 Mei, Seksi Intelijen Angkatan Darat Keenam Krueger menyatakan dengan datar: “Intervensi angkatan laut musuh pada tahap operasi (Biak) tidaklah mungkin.” Tapi penilaian ini terbukti secara fundamental tidak benar. Willoughby tahu dari penyadapan perangkat ULTRA bahwa Jepang setidaknya berencana untuk memindahkan Brigade Amfibi ke-2 Angkatan Darat Kekaisaran dari Davao di Filipina ke Biak. Namun, pemikiran yang mengarah pada kesimpulan bahwa serangan balasan dari angkatan laut Jepang yang besar dianggap tidak mungkin terjadi. Meski demikian, ULTRA telah memungkinkan pesawat patroli Angkatan Laut AS yang beroperasi dari Wakde untuk mengantisipasi pergerakan pasukan Operasi KON, dan Jepang tahu mereka telah ditemukan jauh sebelum mencapai Biak. Oleh karena itu, Laksamana Soemu Toyoda, Panglima Armada Gabungan, memutuskan untuk menghentikan operasi pada tanggal 3 Juni. Namun, dia mengaktifkan kembali KON pada malam berikutnya. Menghadapi upaya Jepang ini adalah kekuatan laut kecil Sekutu di bawah pimpinan Laksamana Muda V.A. Crutchley, dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris.
KAMPANYE DARAT MENGALAMI KEMUNDURAN
Sementara angkatan laut masing-masing bersiap untuk menghadapi pertempuran, situasi di darat memburuk dengan cepat untuk Gugus Tugas Hurricane Fuller. Pada tanggal 28 Mei, Resimen ke-162 maju sampai Desa Mokmer. Patroli dari Resimen ke-162 telah maju ke sekitar 200 yard (183 meter) dari lapangan terbang Mokmer ketika tentara Jepang yang bertahan melepaskan tembakan dengan senapan mesin dan mortir. Gua batu kapur sekitar 1.200 meter di utara lapangan terbang Mokmer merupakan kunci pertahanan di desa Mokmer. Barisan gua lain membentuk pertahanan alami di bagian utara desa, dan bagian ketiga gua di sebelah barat pantai pendaratan, di daerah yang dikenal sebagai Parai defile, dibentengi dengan bunker-bunker pertahanan. Gua-gua ini memberikan keuntungan besar bagi tentara Jepang, yang memungkinkan mereka untuk menahan kemajuan pasukan Amerika menuju lapangan terbang selama hampir satu bulan. Kapal perusak USS Wilkes dan USS Nicholson kemudian datang sedekat mungkin ke bibir pantai ketika kapten mereka berpikir bijaksana, dengan menembakkan peluru 5 inci ke posisi Jepang di dekat Mokmer, tetapi tentara Jepang berpindah ke Parai defile, di mana mereka mempertahankan wilayah mereka dan melepaskan tembakan mematikan terhadap Pasukan Infanteri dari Resimen ke-162 yang bergerak maju. Jepang kemudian melancarkan serangan balik yang mendesak ke arah pantai, memotong Batalyon ke-3 pimpinan Letnan Kolonel Archie Roosevelt dan menembaki Batalyon ke-2 lebih jauh ke arah timur. Tembakan tentara Jepang sangat dahsyat. Kolonel Roosevelt (salah satu putra dari mendiang Teddy Roosevelt) dengan putus asa melaporkan melalui radio: “Mereka menghajar kita. Salah satu dari tiga tank saya hancur oleh tembakan keberuntungan. Dua lainnya kehabisan bensin. Kirimi saya amunisi, plasma darah, morfin, dan air. Ini mendesak!” “Artileri, tembakan senapan mesin, dan mortir menghujani pasukan kami,” kenang Kolonel Riegelman. “Batalion terdepan diisolasi oleh tirai baja dan timah yang tak terlihat dan mematikan.” Kemajuan dari Resimen ke-162 kini telah dihentikan tentara Jepang. Kendaraan-kendaraan LVT dari Brigade Khusus Zeni ke-2 kemudian berhasil membawa perbekalan ke pasukan Roosevelt dan mengevakuasi para prajurit yang terluka.


Batalyon ke-3 terpaksa mundur di sepanjang pantai, tetapi hanya bisa melakukannya ketika kombinasi tembakan artileri udara, laut, dan darat akhirnya membungkam sejumlah besar senjata Jepang yang membuat tentara Amerika terhalang hampir sepanjang hari. Pada saat ini, menjadi jelas bahwa lapangan terbang tidak akan bisa diambil-alih sampai tentara Jepang diusir dari gua-gua yang mendominasi area pendaratan. Vegetasi hutan yang lebat, kedekatan pasukan Amerika dengan daerah sasaran, dan terutama perlindungan yang diberikan oleh gua-gua membuat tembakan angkatan laut tidak mungkin untuk mengusir kekuatan musuh. Resimen ke-162 telah dikepung di tiga sisi dan di bawah tembakan terus-menerus dari posisi Jepang yang tersembunyi. Orang-orang Amerika dengan ini harus dievakuasi dari posisi mereka jika mereka tidak ingin dimusnahkan, dan hanya ada satu jalan keluar, yakni dengan kapal pendarat amfibi yang sama yang membawa pasukan ke darat harus membawa mereka pergi dari pantai. Semua kapal amfibi yang tersedia kemudian dioperasikan. Di bawah perlindungan artileri, tembakan angkatan laut, dan dukungan udara, orang-orang Amerika dievakuasi dari pantai pada sore hari tanggal 29 Mei. Menjelang malam, resimen ke-162 telah dievakuasi dari Parai dan mendarat sekitar 500 meter jauhnya untuk mendirikan posisi baru. Hampir saja menjadi bencana, tetapi evakuasi telah berhasil. Fuller sangat tertekan dengan perkembangan ini sehingga dia mengirim pesan radio kepada Krueger pada sore hari tanggal 28 Mei, ia telah meminta agar dia segera diperkuat dengan Tim Tempur Resimen ke-163 dan batalyon zeni tambahan. Dalam dua hari pertama pertempuran di Biak, Batalyon ke-2 dan 3 dari Resimen ke 162 telah menderita korban 12 persen dari pasukan mereka yang terlibat.

Hari berikutnya Kuzume meluncurkan tiga serangan balik independen terhadap Resimen ke-162 dengan menggunakan enam tank untuk mendukung pasukan infanteri. Tank-tank ini lalu menyebar di sekitar tank terdepan. Tanpa ruang untuk bermanuver di jalan sempit, tank-tank Jepang hanya bisa menyerang kedepan. Ini adalah pertama kalinya pasukan MacArthur menghadapi unit lapis baja Jepang setelah dua tahun bertempur di Papua. Tiba-tiba sekitar 40 yard (35 meter) di depan tank-tank Jepang itu, tank-tank medium Sherman dari Kompi Tank ke-603 muncul untuk menghadapi serangan ini, setelah bergerak dari Bosnik untuk mendukung pasukan infanteri Amerika. Seorang tentara membandingkan kehadiran tank-tank ini seperti adegan dari film Hollywood, dengan tank-tank Sherman datang untuk menyelamatkan “para prajurit yang terkepung” tepat pada waktunya. Pada saat yang sama sebuah serangan langsung dari pembom tempur AS menghancurkan salah satu tank Jepang. Tank-tank Jepang yang dikerahkan ini adalah dari jenis Type 95 Ha-Go, yang dilengkapi dengan meriam kaliber 37mm. Meriam ini tidak dapat merusak banyak tank-tank Sherman Amerika, tetapi sebaliknya meriam kaliber 75mm dari Sherman dengan mudah melubangi sisi-sisi tank Jepang. Peluru kaliber 37mm menghantam turret salah satu Sherman, mengunci meriamnya di tempatnya. Pengemudi memundurkan tank-nya ke dalam lubang bekas ledakan peluru artileri, yang kemudian mengangkat ujung depan tank bersama dengan meriamnya dan memungkinkan penembaknya untuk menembakkan meriam 75mm-nya ke tank Jepang. Sherman itu berhasil menghancurkan tank Type 95 itu meskipun mengalami kerusakan pada turretnya. Sementara itu tentara Jepang memang berhasil memotong beberapa pasukan Amerika terdepan, tetapi serangan balik yang gigih oleh dua kompi dari Resimen ke-162 membuat tentara Jepang mundur dan pada akhir hari, prajurit dari Resimen ke-162 sendirian yang telah membunuh lagi 400 tentara musuh. Fuller saat itu telah mengetahui, bagaimanapun, bahwa dia tidak bisa berharap untuk bisa merebut lapangan terbang Mokmer hanya dengan menggunakan jalan pantai. Dia juga perlu menduduki dataran tinggi di sebelah utara, yang akan membutuhkan pengiriman kekuatan tentaranya melewati pegunungan di titik timur dari posisi Jepang yang dibentengi di dekat Mokmer. Dalam persiapan untuk meluncurkan upaya terpadu seperti itu, seluruh Resimen ke-162 mundur ke arah Mandon, dengan dilindungi oleh satu peleton penghancur tank. Fuller kemudian menunggu kedatangan RCT ke-163 sebelum melanjutkan serangan.
PERTAHANAN ALOT GUA DI BIAK
Berhasil menghentikan tank-tank Jepang memang menghindarkan para prajurit Resimen ke-162 dari bencana, namun mereka sudah memiliki cukup banyak masalah dengan pulau itu sendiri. Jalur di dalam hutan telah memperlambat gerakan maju hingga ke kecepatan siput, sementara panas khatulistiwa telah memperlambat gerakan para prajurit, sama efektifnya, sementara air tawar sangat langka. Gua-gua di tempat itu memberi tentara Jepang sistem pertahanan alami yang jauh lebih efektif daripada apa pun yang bisa mereka bangun sendiri. Dari tempat itu pasukan Jepang bisa muncul tiba-tiba di tempat terbuka, menembaki orang-orang Amerika yang tidak curiga, dan menghilang lagi. Mortir dan artileri juga dibawa ke dalam gua, baik untuk melindungi mereka dan untuk menjaga mereka agar tidak terlihat. “Pertahanan gua” sangat efektif, yang membuat frustrasi para prajurit dari Divisi ke-41. Dengan cepat menjadi jelas bahwa mengambil alih Biak akan menjadi pekerjaan yang panjang dan suram. Gua-gua itu bukan hanya sekedar lubang di sisi gunung. Beberapa di antaranya dilengkapi dengan lampu listrik, lantai kayu, dan dapur. Beberapa di dalamnya memiliki dua atau tiga tingkatan. Serangkaian terowongan menghubungkan gua-gua dan mengarah ke pintu keluar tersembunyi. Orang-orang Jepang terus “melakukan penyergapan demi penyergapan,” kenang seorang prajurit.

RESIMEN KE-186 MEMULAI GERAK MAJU YANG SULIT
Pada tanggal 1 Juni, pasukan dari Resimen ke-163 tiba di Biak dan mengambil alih pertahanan pantai di Bosnek, membebaskan Resimen ke-186 untuk bergerak maju melewati pegunungan di utara kota. Pada tanggal 2 Juni, Resimen ke-186 berbelok ke barat, bergerak melintasi dataran tinggi di wilayah pedalaman dengan tujuan untuk masuk di belakang posisi tentara Jepang yang menghadap ke lapangan terbang Mokmer. Kekurangan air terbukti menjadi masalah, dengan para prajurit Resimen ke-186 “dibatasi minumnya hingga tiga kantin per orang untuk empat hari bergerak maju dalam panas yang menyengat.” Semua persediaan untuk Resimen ke-186 yang maju ke pedalaman harus dibawa dengan tangan melewati pegunungan dengan kesulitan yang cukup besar. Karena medan dan panas, resimen itu membuat kemajuan yang lambat, meskipun perlawanan musuh terhitung ringan. Krueger saat itu telah mengirim pengamat dari stafnya ke Biak segera setelah Fuller mengalami masalah. Para pengamat ini mencatat berbagai kekurangan, yang paling penting fakta bahwa pengintaian dari pasukan Amerika sangat buruk sehingga pasukan tidak tahu persis di mana tentara Jepang berada. Selain itu, “sangat sedikit anggota staf gugus tugas yang mengunjungi garis depan, sehingga Jenderal Fuller tidak mungkin memperoleh informasi yang lengkap dan akurat mengenai pertempuran di sana.” Pada awal Juni, Krueger mempertimbangkan untuk membebas-tugaskan Fuller dan menggantikannya dengan Eichelberger, tetapi menunda keputusan itu selama hampir dua minggu. MacArthur sendiri telah menyatakan kemenangan di Biak pada 3 Juni, dengan mengumumkannya kepada pers. Tapi ini terbukti terlalu dini, karena saat ini situasi di Biak masih tidak menentu. Faktanya, pada tanggal 5 Juni MacArthur mengirim pesan radio ke Krueger: “Saya menjadi prihatin atas kegagalan mengamankan lapangan terbang Biak. Semakin lama ini tertunda, semakin lama posisi kita di sana akan terancam terkena serangan udara musuh dengan kemungkinan menderita kerugian besar darinya. Apakah gerak maju di sana telah didorong dengan tekad yang cukup?”

Sementara itu, pada tanggal 2 Juni, sebuah kompi dari Resimen ke-163 telah merebut Pulau Owi, dua mil (3,2 km) di lepas pantai selatan Biak, untuk dijadikan alternatif lapangan udara selain Biak. Pasukan zeni mulai bekerja di Owi pada tanggal 7 Juni, dan pesawat pertama mendarat di sana pada tanggal 17 Juni. Sebagai pangkalan aju, ditempatkan di sana sebuah grup pembom, dua grup pesawat tempur, satu grup penempur malam P-61 Black Widow, dan garnisun yang terdiri dari 15.000 prajurit. Tetapi tentara Amerika di Owi didapati menderita penyakit tifus semak, yang segera menyebar ke Biak dan menyebabkan penyakit serius pada sejumlah besar pasukan Satgas Hurricane. Ketika Resimen ke-186, ditambah Batalyon ke-2 dari Resimen ke-162, melakukan perjalanan yang melelahkan ke barat melintasi dataran tinggi pedalaman Biak, sisa-sisa pasukan dari Resimen ke-162 mulai bergerak maju lagi di jalan pantai menuju airdromes. Fuller sekarang menggunakan resimen dengan cara yang awalnya dia bayangkan akan digunakan pada satuan setingkat batalyon. Sekali lagi, kemajuan Resimen ke-162 dihalangi oleh perlawanan kuat Jepang di Parai Defile, di mana tebing-tebingnya berada dalam jarak 50 yard (45 meter) dari garis pantai. Pada tanggal 3 Juni, Batalyon ke-3 Roosevelt dari Resimen ke-162 terpaksa mundur lagi karena tembakan musuh yang intens, dan semua upaya selama tiga hari berikutnya untuk memaksa kemajuan melintasi defile gagal. Akhirnya, pada tanggal 7 Juni, para pasukan zeni, dengan menggunakan kendaraan-kendaraan amfibi, membawa elemen-elemen dari Batalyon ke-3 berkeliling ke dermaga Parai. Parai Defile tidak akan dibersihkan dari pasukan Jepang sampai tanggal 12 Juni. Resimen ke-186 telah mampu maju 3.500 yard (3.200 meter) pada tanggal 3 Juni dengan melawan hanya tembakan penembak jitu sesekali, tetapi karena pepohonan tebal yang mencapai ketinggian 12 kaki (3,6 meter), jarak pandang pasukan terbatas sekitar 10 yard (9,1 meter). Pasukan dari Resimen ke-186 kemudian menghabiskan beberapa hari untuk meninjau kembali jalan setapak yang mengarah ke punggung bukit menuju lapangan terbang Mokmer.

Fuller saat ini berada di bawah tekanan yang semakin besar dari Krueger untuk merebut drome Mokmer sesegera mungkin. Dia memerintahkan Kolonel Oliver P. Newman, yang memimpin Resimen ke-186, untuk mengirim pasukannya langsung melewati pegunungan dan ke lapangan terbang dari arah utara, meskipun faktanya langkah ini akan membuat anak buah Newman terkena tembakan dari tentara Jepang, yang masih mempertahankan posisi di sepanjang pegunungan yang menghadap ke lapangan terbang Mokmer. “Kita akan masuk dalam neraka,” kata Newman, saat dia menolak perintah Fuller dan didukung keberatannya oleh Asisten Komandan Divisi Fuller, Brig. Jenderal Jens Doe. Fuller menolak keberatan tersebut, dan Resimen ke-186 melintasi pegunungan serta menduduki lapangan terbang pada 7 Juni. Benar saja, pasukan Kuzume menembakkan tembakan otomatis berat ke orang-orang Amerika yang malang selama empat jam sebelum tembakan counterbattery akhirnya membungkam banyak meriam Jepang. Beberapa gua yang lebih kecil kemudian “disegel” oleh semacam teknik pengeboman-lompatan (skip bombing) oleh pesawat-pesawat pengebom tempur Curtiss P-40 Tomahawk. Meski demikian menutup akses gua-gua lain tetap akan menjadi proses yang panjang dan lambat bagi para prajurit infanteri. Pasukan Jepang kemudian bertekad untuk merebut kembali airdrome dan mendekati posisi Amerika setelah gelap, bahkan dengan menggunakan anjing terlatih. Pada saat ini, pertahanan Kuzume terpecah menjadi tiga kubu yang terpisah jauh. Di utara Bosnek ia memiliki unit markas besarnya ditambah satu batalyon dari Resimen ke-222. Kemudian di Sektor Gua Timur antara posisi itu dan Mokmer dipertahankan oleh elemen dari dua batalyon dan unit-unit pendukung. Kemudian Di sektor Gua Barat yang sangat kuat (juga dikenal sebagai The Sumps), Kuzume memiliki hampir satu batalion ditambah unit konstruksi lapangan terbang, pasukan pendukung lainnya, dan pasukan angkatan laut. Pada tanggal 3 Juni, pasukan dari Resimen ke-186 untuk sementara berhasil mengepung unit markas besar Kuzume dan unit senjata berat (terdiri dari sekitar 150 orang) di dataran tinggi. Komandan Jepang itu akhirnya berhasil melarikan diri hanya setelah mengorbankan 20 tentaranya untuk bertugas sebagai penjaga di posisi belakang.

Di lapangan terbang Mokmer, Kuzume dipaksa menyerang pada tanggal 9 Juni oleh Letnan Jenderal Takazo Numata, kepala staf Angkatan Darat Area ke-2. Meskipun umumnya menyerahkan urusan operasional ke Kuzume, Numata bersikeras menggunakan semua unit yang tersedia untuk merebut kembali lapangan terbang, dan mengambil alih komando secara pribadi pasukan di sektor Gua Barat. Sesaat sebelum fajar pada tanggal 9 Juni, Batalyon ke-2 dari Resimen ke-222 menyerang dan akhirnya bertempur di tengah lapangan terbang sebelum dihentikan oleh tembakan tentara Amerika. Sebuah kompi pasukan angkatan laut berhasil menyusup sepenuhnya melintasi lapangan terbang, mencapai pantai di bagian belakang pasukan Amerika, tetapi tidak dapat mempertahankan posisi ini dan harus mundur ke sebelah barat lapangan terbang. Sementara itu, tentara Jepang terus menyerang pasukan Newman dengan tembakan keras dari ketinggian, tetapi serangan balik utama Numata untuk merebut kembali lapangan terbang Mokmer gagal. Numata sendiri kemudian meninggalkan posisinya di Gua Barat pada malam tanggal 10 Juni untuk kembali ke Markas Besar Angkatan Darat Area ke-2 di Manado, Sulawesi, meninggalkan Kuzume sebagai penanggung jawab di Biak sekali lagi. Di pihak Amerika sementara Resimen ke-186 mengalami cobaan berat di lapangan terbang, Resimen ke-162 melanjutkan operasinya untuk melemahkan posisi musuh di Parai Defile. Pada tanggal 10 Juni, kontak berhasil dibuat antara posisi Resimen ke-186 di lapangan terbang dan Resimen ke-162 di sebelah timur. Pasukan zeni konstruksi Angkatan Darat AS tiba di drome Mokmer pada malam tanggal 9 Juni untuk memperbaiki landasan pacu, tetapi mendapati diri mereka di bawah tembakan terus-menerus dari atas, dan pada tanggal 14 Juni mereka menangguhkan semua pekerjaan di landasan sampai kondisi pertempuran memungkinkan dimulainya kembali aktivitas pada tanggal 20 Juni.
KERUGIAN MENGECEWAKAN DI LAUT UNTUK JEPANG
Di laut, Jepang terus mengancam armada kecil pelindung pasukan invasi di Biak pimpinan Laksamana Crutchley hingga tanggal 13 Juni. Crutchley hanya memiliki tiga kapal penjelajah dan 14 kapal perusak dan tidak dapat mengharapkan bantuan tambahan. Namun upaya kedua untuk mengeksekusi Operasi KON, di bawah arahan Laksamana Muda Naomasa Sakonju, mengalami kesulitan pada tanggal 8 Juni ketika kapal-kapal perusak penarik tongkangnya terlihat di Semenanjung Vogelkop, Papua Belanda oleh 10 pesawat B-25 dari Skuadron Pengintaian ke-17 AS. Dalam pertemuan itu, tiga pesawat B-25 berhasil ditembak jatuh dan sisanya rusak parah, tetapi kapal perusak Harusame tenggelam dan tiga kapal perusak Jepang lainnya rusak. Meski demikian, konvoi bala bantuan tetap berjalan menuju Biak. Crutchley lalu disiagakan dan dipindahkan untuk mencegat armada Jepang pada malam tanggal 8 Juni. Dia kemudian menggambarkan pertempuran yang kemudian terjadi sebagai berikut: “(Kapal-kapal) Perusak bergerak keluar dan kapal penjelajah akan dikerahkan ketika jangkauan musuh dari kapal utama saya adalah 21.500 yard (19.660 meter) dan saat itu saya memiliki harapan untuk bisa memberikan pukulan secara simultan. Sejak saat itu, musuh berbalik dan melarikan diri dengan kecepatan 32 knot dan yang bisa dilakukan hanyalah melakukan pengejaran keras oleh dua divisi terdepan dari kapal perusak kita. Itu adalah kekecewaan yang pahit.” Meskipun menembakkan lebih dari dua ribu peluru kaliber 5 inci ke kapal-kapal yang melarikan diri, kelima kapal perusak Jepang berhasil lolos; namun, beberapa tongkang pengangkut pasukan mereka hanyut, dan satu ditenggelamkan oleh kapal perusak Australia. Sejumlah kecil tentara Jepang berhasil mendarat di Teluk Korim di pantai timur Biak. Sebagian besar pasukan dalam konvoi, bagaimanapun, kembali dengan kapal perusak ke pangkalan mereka di Sorong di Semenanjung Vogelkop. Karena hal ini, upaya ketiga operasi KON akan dibutuhkan.

Untuk upaya itu, kapal-kapal tempur besar Laksamana Ozawa akhirnya dikerahkan. Laksamana Muda Matome Ugaki, komandan pasukan kapal tempur Ozawa, mengambil alih operasi KON-3 secara pribadi, dan pada tanggal 11 Juni semuanya sudah siap di Batjan di kepulauan Maluku untuk memulai operasi. Termasuk dalam arahan Ugaki dari Armada Gabungan adalah instruksi tidak hanya untuk memperkuat Biak tetapi juga untuk terlibat dalam pertempuran armada besar “jika situasi memungkinkan.” Tetapi dua hari kemudian, KON-3 dibatalkan, dan upaya penguatan Angkatan Laut Kekaisaran di Biak berakhir selamanya ketika perhatiannya dialihkan ke peristiwa di wilayah Pasifik Tengah. Kuzume, bagaimanapun, menerima sedikit bala bantuan Pasukan Angkatan Darat di Biak, mulai minggu pertama bulan Juni. Pasukan ini tiba dengan kapal tongkang dan kapal kecil dari Vogelkop dan Pulau Noemfoor. Kuzume memanfaatkan mereka dengan baik, tetapi jumlah mereka terlalu kecil untuk dapat mempengaruhi hasil akhir pertempuran. Yang paling bisa dia harapkan untuk dapat dicapai adalah penundaan, bukan kekalahan, dari Gugus Tugas Hurricane. Dalam hal ini dia berhasil. Fuller semakin merasakan tekanan. Dia datang dengan rencana untuk menyapu pasukan Jepang dari posisi lereng mereka di atas airdrome Mokmer sambil secara bersamaan bergerak di dua airdromes di barat Mokmer. Sayangnya, rencana ini terlalu ambisius untuk dapat diselesaikan pada minggu kedua bulan Juni.
EICHELBERGER MENGAMBIL ALIH KOMANDO
Selanjutnya, MacArthur mengirimkan pesan radio ke Krueger pada 14 Juni: “Situasi di Biak tidak memuaskan.” Hal ini akhirnya memaksa Krueger untuk mengambil tindakan tegas, dan dia memanggil Robert Eichelberger dari Hollandia untuk mengambil alih Satgas Hurricane. Krueger meminta agar Eichelberger sekarang memegang komando tertinggi di Biak tetapi Fuller akan terus menjabat sebagai komandan Divisi ke-41. Fuller, bagaimanapun, sudah merasa muak, dan menuntut dibebastugaskan segera dari semua tanggung jawabnya dan dipindahkan dari medan operasi MacArthur. Dia bersumpah tidak akan pernah lagi bertugas di bawah Krueger dalam kapasitas apa pun, karena kesal atas pertanyaan agresif Krueger tentang niatnya selama hampir tiga minggu (gagal) menjalankan operasi di Biak. MacArthur mengabulkan permintaan Fuller, dan komandan Satuan Tugas Hurricane yang dibebastugaskan ini kemudian mengakhiri perang sebagai wakil kepala staf di Komando Asia Tenggara pimpinan Laksamana Mountbatten. Dengan kepergian Fuller, divisi ke-41 lalu diambil alih oleh Brig. Jenderal Jens A. Doe, yang sebelumnya memimpin Resimen ke-163. Eichelberger kemudian tiba di Biak pada pagi hari tanggal 15 Juni, “dalam suasana hati yang buruk. Dia kesal pada Krueger karena mengirimnya mengambil alih komando yang begitu berat dalam waktu sesingkat itu. ” Saat Eichelberger mulai mengatasi situasi, dia menyadari bahwa penangguhan singkat operasi ofensif diperlukan untuk menemukan posisi musuh dengan akurat. Dia lalu melakukan pengintaian pribadi yang berbahaya di garis depan dan “memerintahkan hari untuk beristirahat dan reorganisasi (tanggal 18 Juni)sehingga semua orang dapat mengetahui apa yang akan mereka lakukan. Saya kemudian menempatkan satu batalyon di posisi belakang kiri Jepang, dan dua batalyon untuk memotong di belakang mereka dari arah kanan. Serangan ini terjadi pada hari Senin (19 Juni) dan itu mematahkan pertahanan mereka.” Sebagian besar Resimen ke-186 menyerang posisi Gua Barat dari arah barat laut, sementara salah satu batalyonnya menyerang dari timur dan Resimen ke-162 melakukan serangan penunda di depan gua. Kedatangan Tim Tempur Resimen Infanteri ke-34 di Biak dari Divisi ke-24 AS pada tanggal 18 Juni juga kemudian memungkinkan Eichelberger untuk melaksanakan rencana Fuller untuk merebut pangkalan udara Borokoe dan Sorido di sebelah barat Mokmer. Perwira operasi Eichelberger berulang kali terbang di atas posisi Jepang di ketinggian rendah dengan pesawat observasi tak bersenjata untuk menemukan pintu masuk gua musuh.


komandan asli divisi tersebut, Jenderal Horace Fuller, dibebaskan dari tugas. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
PENGHANCURAN GUA-GUA DI BIAK
Tentara Amerika kini masih harus berurusan dengan perkara membersihkan gua dengan prospek yang tidak menyenangkan. Beberapa diantaranya menggunakan penyembur api, merangkak dalam jarak dekat dari pintu masuk di bawah perlindungan tembakan senapan dan membakar interior gua dengan aliran semprotan api yang panjang. Kadang-kadang api akan mengenai salah satu dinding gua dan memantul kembali ke posisi pasukan Amerika. Penyembur api terbukti tidak dapat mencapai cukup jauh di dalam beberapa gua yang lebih besar. Tas peledak, granat tangan, dan bensin biasanya digunakan untuk mengatasi masalah ini. Bensin kadang-kadang dituangkan ke salah satu lubang dan kemudian dibakar. Setelah beberapa menit, bunyi gedebuk dan gemuruh terdengar datang dari bagian dalam gua—menandakan tempat penyimpanan amunisi meledak, menghancurkan gua bersama dengan semua orang di dalamnya. Efek tas peledak sama mengerikannya dengan bensin. Setelah satu gua hancur, seorang prajurit masuk ke dalam untuk melihat apa yang tersisa. Dia keluar beberapa menit kemudian, mual dan muntah. “Ya Tuhan, ini seperti pemandangan dari neraka,” katanya. “Potongan tubuh manusia ada di seluruh lantai terowongan! Tubuh dengan perut terbuka karena efek ledakan! Darah mengalir dari telinga, hidung, mulut, dan mata orang Jepang yang mati! Ini menyebalkan!” Pada akhir bulan Juni, pasukan Amerika menyerang Gua Barat, di utara dan barat Mokmer. Saat itu, posisi Gua Barat telah menjadi ujung tombak pertahanan di Biak, terutama karena Kuzume sekarang telah memindahkan markasnya ke sana dari sektor Bosnek. Pasukan infanteri Amerika lalu menggunakan bensin, granat tangan, dan bahan peledak untuk menetralisir gua-gua Jepang satu per satu. Pekerjaan mematikan itu memakan waktu hampir 10 hari dan terkadang membutuhkan dukungan dari tank-tank Sherman. Gua-gua itu akhirnya dibersihkan pada akhir bulan. Sekarang mereka tidak lagi diganggu oleh tembakan musuh, para pasukan Zeni kini dapat membuat drome Mokmer beroperasi. Pada tanggal 22 Juni, lapangan terbang mulai didarati pesawat tempur.



Kolonel Riegelman memiliki kesempatan untuk melihat-lihat sekitar Gua Barat dan berbicara dengan beberapa orang yang terlibat dalam pertempuran sengit. Dia sebenarnya sedang melakukan proses evaluasi. “Saya melihat tank-tank Jepang yang rusak, memeriksa peleton mortir di dekatnya, berbicara dengan orang-orang itu, memperhatikan wajah dan mata mereka yang berjanggut, merah karena kurang tidur. Mereka tidak mengeluh.” Riegelman juga meneliti gua-gua di Biak dan membaginya menjadi empat jenis. Tipe Satu terdiri dari “gua di tebing” dengan kedalaman tiga hingga lima kaki (1-1,5 meter), yang digunakan baik untuk penempatan senapan mesin atau tempat penyimpanan makanan dan amunisi. Tipe Dua lebih besar dari itu, setinggi 20 hingga 30 kaki (6-9 meter), menghadap ke laut, dengan bukaan belakang dari sisi darat untuk akses. Akses masuk gua di depan “biasanya diperkuat” oleh “tempat senapan mesin dari beton” yang berfungsi untuk membuat posisi yang sudah kuat menjadi lebih kuat. Tipe Tiga terdiri dari “serangkaian rongga terbuka yang terhubung setinggi empat hingga delapan kaki (1,2-2,4 meter) dan kedalaman tiga hingga enam kaki (1-1,8 meter).” Gua Tipe Empat adalah yang terbesar, “berbentuk kurang lebih melingkar, berdiameter hingga 50 yard (46 meter), kedalaman 15 hingga 60 kaki (4,5-18 meter), dengan sisi yang curam atau miring.” Gua Tipe Empat mungkin juga merupakan “pintu masuk ke serangkaian kamar dan ruangan yang saling berhubungan,” yang sebenarnya merupakan jaringan gua dengan banyak pintu masuk sejauh 100 yard (91 meter). Gua-gua itu adalah keajaiban pertahanan, tetapi orang Amerika kemudian menjadi ahli dalam metode improvisasi untuk menetralisirnya. Seorang prajurit artileri ingat bahwa satu gua “kebal terhadap semua kaliber senjata yang bisa kami bawa. Pintu masuknya sukar dihancurkan. ” Ini jelas merupakan pekerjaan bagi pasukan zeni. Sekelompok pasukan zeni tiba di gua dengan apa yang dikenal sebagai kendaraan “trailer seperempat ton” yang membawa 850 pon (385,5 kg) TNT. Sebuah winch lalu dipasang, dan TNT diturunkan ke dalam gua. “Saya tidak tahu apa yang bisa dilakukan 850 pon TNT,” seorang perwira pengamat mengakui. “Saya hanya tahu itu adalah TNT dalam jumlah banyak.” Tidak ada orang lain yang tahu apa yang bisa dibuat oleh TNT sebanyak itu, tetapi tidak ada yang mau mengambil risiko. Semua pasukan kemudian diperintahkan untuk mundur 100 yard dari pintu masuk gua, dan tank-tank Sherman di dekatnya dibawa mundur kembali ke tempat yang lebih aman. Semua orang kemudian menelungkup, rata di tanah, dan menunggu ledakan. Saat TNT meledak, awan debu dan asap mengepul dari gua, diikuti oleh bunyi ratusan batu yang berjatuhan. Setelah asap hilang, para prajurit dan tank-tank Sherman diperintahkan kembali ke posisi semula. Orang-orang itu kemudian maju ke arah mulut gua yang menganga dan menatap ke dalam kegelapan. “Kegelapan itu balas menatap,” kata seorang pengamat. Para prajurit yang dikirim masuk ke dalam gua diperintahkan untuk menikam setiap tentara Jepang yang mereka temukan, apakah mereka bernafas atau tidak.
MISI SELESAI
Pada tanggal 20 Juni, landasan udara Borokoe dan Sorido akhirnya direbut oleh pasukan RCT ke-34. Sasaran utama di Biak—tiga lapangan terbang—kini telah direbut, tetapi masih ada pasukan Jepang yang cukup besar di pulau itu. Sekitar 1.000 tentara Jepang menduduki Gua Timur, yang terletak dekat dengan pantai pendaratan asli. Mereka terus menembakkan artileri secara sporadis yang diarahkan ke tiga pangkalan udara. Awalnya, tembakan dari gua-gua ini dianggap sekedar sebagai pengganggu. Setelah Gua Barat dibersihkan, Gua Timur kini menjadi target utama. Artileri kemudian mulai menembaki gua tak lama setelah Borokoe dan Sorido aman di tangan pasukan Amerika. Para prajurit zeni dan infanteri dari Mokmer kemudian berpindah ke area itu di bawah perlindungan tembakan meriam 75mm dari tank-tank Sherman dan mulai membersihkan gua menggunakan metode yang sama yang telah berhasil digunakan untuk menetralisir Gua Barat. Dengan akhir yang sudah dekat, Kuzume lalu membakar bendera Resimen ke-222 dalam sebuah upacara di gua-gua pada malam tanggal 21 Juni. Dia kemudian dikabarkan terbunuh dalam pertempuran. Ransum dan air telah habis, sehingga Gua Barat akhirnya ditinggalkan pada tanggal 22 Juni. Sementara itu, tidak semua tentara Jepang berlindung di gua-gua dan menunggu musuh menyerang. Pada malam tanggal 21-22 Juni, serangan balik dilakukan terhadap posisi Amerika di dekat Gua Barat. Menurut Letnan Jenderal Eichelberger, serangan dilakukan oleh 109 perwira dan tentara Jepang terhadap salah satu pos terdepan Resimen ke-186. “Sungguh nekad,” lapor Eichelberger. “Mereka datang berkerumun di jalan setapak yang diterangi cahaya bulan, meneriakkan banzai.” Posisi Resimen ke-186 itu ditempati oleh 12 prajurit yang menahan tembakan mereka sampai musuh yang menyerang hanya beberapa meter jauhnya. Tembakan senapan mesin menewaskan banyak penyerang. Seorang tentara Jepang tertembak saat mencoba menembak seorang sersan Amerika. Yang lain melompat ke lubang perlindungan dengan salah satu orang Amerika dan menarik pin pada granat tangannya. Granat itu meledak, menewaskan kedua orang itu. Setiap tentara Jepang yang menyerang terbunuh. “Skor akhir 109 banding 1,” kata Jenderal Eichelberger. Serangan lain juga dilakukan sepanjang malam itu. Masing-masing memiliki hasil yang sama. Tembakan senapan mesin mencabik-cabik pasukan Jepang. “Itu adalah eksekusi massal,” ingat seorang tentara Amerika, “bunuh diri massal dari orang-orang yang ingin mati.” Cerita kemudian mulai beredar tentang adanya satu regu Amerika membunuh hampir 200 orang Jepang. Tak satu pun dari mereka akan menyerah. Mereka lebih baik mati daripada menyerah. Seorang Amerika berkata, “Biasanya hal ini adalah pertanda bahwa orang Jepang tahu mereka kalah.” Lima hari kemudian, pasukan Amerika memasuki kompleks gua dan “menemukan ruang horor yang penuh dengan mayat yang membusuk dan digoreng atau berbagai komponennya, dan bahkan sebuah penyimpanan daging untuk tujuan kanibalisme.” Dengan melemahnya posisi gua Jepang di atas airdrome Mokmer, landasan akhirnya dapat digunakan, dan pesawat-pesawat P-40 dan B-24 mulai beroperasi dari Mokmer pada tanggal 22 Juni. lalu merebut airdromes Borokoe dan Sorido tanpa kesulitan. Namun semua ini sudah terlambat bagi MacArthur untuk memenuhi kewajibannya kepada Nimitz untuk mendukung operasi di Mariana dari pangkalan-pangkalan udara di Biak. Untungnya, dukungan seperti itu terbukti tidak perlu.


Pada tanggal 25 Juni, Eichelberger memberi tahu Krueger bahwa misinya di Biak telah selesai. Rencana yang berhasil dijalankan oleh Eichelberger tidak berbeda jauh dari Fuller, tetapi dengan kepemimpinan tempur yang kuat dan solusi Eichelberger untuk mengatasi kesulitan operasional di pulau itu terbukti menentukan. Fuller adalah komandan yang sudah kecapekan dan perlu diganti. Seperti yang dicatat Eichelberger pada saat itu, “(Di bawah Fuller) cara kami melawan Jepang akan berakhir dengan kemenangan bagi mereka atau pertempuran tidak akan berakhir sampai masa Natal berikutnya. Mereka (tentara Amerika) menggunakan serangan-serangan kecil yang tidak akan bisa merebut apapun.” Perlawanan di sektor Gua Timur dan di Kantong pertahanan Ibdi antara Bosnek dan Mokmer berlanjut selama beberapa waktu setelah jatuhnya Gua Barat, tetapi pada awal bulan Juli pertempuran telah memasuki tahap pembersihan. Jika orang-orang Jepang tahu bahwa mereka telah dikalahkan, mereka biasanya tidak akan membiarkan hal ini terlihat. Sasaran berikutnya bagi pasukan Amerika, khususnya Resimen ke-163, adalah Kantong perlawanan di Ibdi, sekitar 4.000 yard (3.658 meter) di sebelah timur Parai. Serangan kemudian dimulai pada pertengahan bulan Juni dan berlanjut hingga akhir bulan Juli. Lebih dari 40.000 mortir dan peluru artileri ditembakkan ke posisi Jepang selama dua minggu pertama, tetapi musuh berhasil melakukan perlawanan yang keras kepala. Meski demikian sebagian besar gua berhasil telah dinetralisir pada tanggal 5 Juli. Penghuninya telah terbunuh atau telah menyelinap ke dalam hutan. Pada tanggal 10 Juli, patroli Amerika melaporkan bahwa penembakan terus-menerus telah sangat melemahkan musuh. Kantong perlawanan itu telah dihancurkan secara metodis. Ini adalah berita yang menggembirakan bagi para prajurit Resimen ke-163, karena itu mereka memperbarui serangan mereka pada tanggal 11 Juli. Didukung oleh tembakan artileri, pesawat terbang, dan tank-tank Sherman, pasukan infanteri lalu menggunakan penyembur api dan bazoka melawan posisi musuh yang melemah. Pasukan Amerika di Biak terus melakukan serangan sepanjang bulan Juli, meskipun menderita cuaca panas dan penyakit hutan. Semua perlawanan terorganisir di Biak berakhir pada pertengahan bulan Juli, meskipun operasi pembersihan berlanjut hingga tanggal 25 Juli. Pulau itu kemudian baru dinyatakan aman pada tanggal 20 Agustus.

Melihat ke belakang, Biak menempati urutan sebagai operasi yang paling membuat frustrasi yang dilakukan oleh pasukan MacArthur selama masa dua setengah tahun terakhir perang. Eichelberger dipanggil untuk memperbaiki situasi yang membingungkan, seperti yang dia lakukan di Buna pada tahun 1942–1943, dan dia berhasil dengan mengagumkan. Tetapi setelah keberhasilan perebutan Hollandia yang mudah pada bulan April, keganasan perlawanan Jepang di Biak mengejutkan pasukan MacArthur. Krueger secara resmi menyatakan operasi Biak dihentikan pada tanggal 20 Agustus, meskipun patroli di Biak dan Pulau Soepiori yang berdekatan dilanjutkan setelahnya. Korban di pihak Amerika sampai bulan Agustus 1944 berjumlah 530 tewas, 2.570 terluka, dan 54 hilang. Lebih dari 6.000 tentara Amerika tambahan menjadi korban dari typus semak belukar dan penyakit lainnya. Hingga akhir bulan Agustus, 4.970-6.100 orang Jepang telah tewas dan 319 ditangkap. Di antara yang tewas adalah Kolonel Kuzume. Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada Kolonel Kuzume. Beberapa laporan mengklaim bahwa dia melakukan ritual bunuh diri setelah serangan balik yang gagal pada malam tanggal 21-22 Juni. Yang lain mengatakan bahwa dia terbunuh dalam pertempuran sesudahnya atau bahwa dia bunuh diri menjelang akhir pertempuran. Dalam narasinya tentang kampanye militer di Biak, sejarawan angkatan laut Laksamana Samuel Eliot Morison tidak bisa tidak untuk memuji Kolonel Kuzume dan pertahanannya di pulau itu. “Menyadari keputusasaan posisinya, perwira pemberani dan banyak akal ini meminta bendera resimennya terbakar pada malam 21-22 Juni. Apakah dia kemudian mengambil nyawanya sendiri atau terbunuh dalam aksi tidak diketahui, tetapi kematiannya menandai akhir dari pertahanan yang diarahkannya dengan baik dan keras kepala (di pulau itu).” Jumlah tentara Jepang yang tewas di Biak ini sebenarnya kecil jika dibanding semua prajurit yang tewas dalam perang Pasifik. Menurut Don Congdon dalam bukunya “Combat Pasific Theatre”, ratusan ribu (utamanya tentara Jepang) tewas dalam pertempuran “loncat kodok” Jenderal MacArthur dan Laksamana Nimitz sejak Rabaul, Biak, Truk, Carolina, Yap, Guam, Saipan terus ke utara Mariana dan Iwo Jima. Pada akhirnya, Biak memang menjadi kemenangan bagi Amerika. Tetapi pertempuran di sana terbukti merupakan pertanda yang tidak menyenangkan. Pengalaman di Biak menggambarkan jenis taktik pertahanan yang alot berbasis gua, yang akan digunakan Jepang di Peleliu dan Iwo Jima. Pertempuran Ini adalah pertempuran besar pertama yang dilakukan oleh Jepang dimana mereka menggunakan taktik yang memungkinkan pendaratan musuh berlangsung tanpa gangguan dimana kemudian mereka akan menciptakan killing zone di daerah pedalaman. Selain itu, pasukan MacArthur juga dapat membayangkan kembalinya mereka ke Filipina akan dihadapi dengan tekad yang sama dari pasukan Jepang, serta memiliki prospek yang suram.
SITUS GUA DI BIAK
Kini Biak tinggal menjadi Monumen yang selalu akan mengingatkan pada masa lalu dan kerasnya pertempuran. Di bagian lain dari Biak, di bukit karang yang lebih ke timur juga terdapat bangunan militer milik Belanda di era operasi Trikora dulu. Di punggung bukit karang ini juga masih berdiri sisa instalasi radar bekas milik Belanda. Menurut penduduk setempat, sampai pada tahun 1970-an, jarang ada orang yang berani masuk perut gua di Biak, karena dianggap angker. Pada malam-malam tertentu, kadang masih terdengar derap orang berbaris, teriakan-teriakan dalam bahasa Jepang, dan kadang juga tangis menyayat hati. Tapi sejak pemerintah Jepang mengangkut sisa-sisa tulang serdadu yang gugur disana, suara-suara itu sudah jarang terdengar. Kabarnya banyaknya tulang-tulang itu meliputi setengah kapal, walau sebenarnya belum seluruhnya terangkut. Menurut keterangan, dulu banyak turis Jepang yang berkunjung ke gua bekas pertahanan Jepang itu. Pada seputar Monumen kadang masih terdapat karangan bunga yang diletakkan oleh turis Jepang. Dulu diantara turis Jepang itu terdapat bekas serdadu Jepang yang lolos dari neraka pertempuran Biak. Ia masih dapat mengingat nama-nama teman sepasukannya, dan dimana posisi “kamar” kolonel Kuzume. Ketika memasuki gua itu, sang turis bekas serdadu Jepang itu hanya dapat menangis tersedu-sedu.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
General Douglas MacArthur’s Crisis at Biak by Marc D. Bernstein
The Battle of Biak: “A Terrifying Glimpse Into the Soul of Mankind” By David Alan Johnson
A Tale of Too Many Chiefs by Ed Drea
The Battle of Biak Is The Perfect Microcosm For The Horrors of the War in the Pacific by Grant Piper
Majalah Intisari No. 181 Agustus 1978
