Pertempuran Selat Badung, 19-20 Februari 1942, Pertempuran Menentukan Yang Mengisolasi Pulau Jawa

Keberhasilan yang dinikmati Sekutu dalam pertempuran laut di Balikpapan tidak banyak menghambat momentum serangan Jepang yang tiada henti dan kekalahan Jepang di laut tidak akan terulang kembali pada minggu-minggu berikutnya, meskipun terdapat beberapa upaya pasukan ABDA untuk menyerang konvoi kapal-kapal Jepang yang membawa pasukan invasi Jepang. Kota Kendari jatuh pada tanggal 24 Januari, Seram pada tanggal 31 Januari, Makassar pada tanggal 8 Februari dan Banjarmasin pada tanggal 10 Februari. Jepang kini telah menyelesaikan pendudukan mereka atas pulau Kalimantan dan Sulawesi dan kini mereka siap untuk menuntaskan tahap akhir serangan mereka, yakni penaklukan pulau Jawa, yang menjadi “permata” di Hindia Belanda. Langkah pertama yang diambil oleh pasukan Jepang adalah dengan mengamankan sayap kanan kiri pasukannya yang akan menyerbu ke Jawa. Pada tanggal 14 Februari sebuah pasukan mendarat di Sumatera di sisi barat. Setelah itu Bali yang ada di sebelah timur pulau Jawa adalah agenda berikutnya. Dalam proses merebut pulau Bali, kemudian pecah pertempuran yang dikenal sebagai Pertempuran Selat Badoeng, yang terjadi pada malam tanggal 19/20 Februari 1942 di Selat Badung antara armada laut sekutu Amerika-Inggris-Belanda-Australia (ABDA) dan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang.

Terbakar oleh ledakan bom langsung di dekat haluan, kapal tanker Inggris ini, yang terlihat miring ke kanan, tenggelam tanggal 16 Februari 1942, di Laut Bangka lepas pulau Sumatera. Setelah kekalahan dalam Pertempuran Laut di Balikpapan, awal tahun 1942, armada laut Jepang tidak pernah mengalami kekalahan lagi dan terus mengurung posisi sekutu yang berpusat di Pulau Jawa. (Sumber: https://www.navytimes.com/)

LATAR BELAKANG

Serangan ke Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941, menandai dimulainya serangan besar-besaran Jepang ke Asia Tenggara, dengan merebut ladang-ladang minyak dan kilang-kilang minyak yang tersebar luas di wilayah Hindia Belanda (sekarang Indonesia) sebagai tujuan utamanya. Minyak ini sangat penting bagi Jepang untuk memungkinkan mereka melanjutkan perang penaklukannya di Tiongkok, yang telah berlarut-larut sejak tahun 1931. Menanggapi hal ini kekuatan utama Sekutu di wilayah tersebut membentuk komando bersama untuk mengoordinasikan pertahanan wilayah dan jajahan masing-masing. Komando bersama tersebut, yang disebut sebagai ‘ABDA’ (diambil dari akronim Amerika, Inggris, Belanda dan Australia), strukturnya terputus-putus dan tidak terorganisir dengan baik, begitu pula pertahanan Sekutu yang dibentuk untuk dikoordinasikan. Dalam minggu-minggu pertama setelah serangan ke Pearl Harbor, balatentara Jepang telah menjelajahi wilayah Pasifik Barat tanpa perlawan berarti. Mereka menyerang pasukan Amerika di Filipina dan membuat mereka dalam posisi bertahan; memaksa Inggris menyerahkan benteng yang ‘tak tertembus’ mereka di Singapura; memusnahkan pangkalan pasokan utama ABDA di Darwin, Australia, dalam serangan kapal induk yang efeknya lebih merusak daripada Pearl Harbor; dan mendesak Belanda ke wilayah selatan, yakni ke pantai Jawa, jantung wilayah kemaharajaan mereka di Hindia Timur. Pertahanan di pulau Jawa pada akhirnya bergantung pada kedatangan bala bantuan udara yang tepat waktu dari Australia. Tanpa mereka, pulau itu berada di bawah ancaman dominasi pembom-pembom Jepang. Rute udara dari Australia ke Jawa adalah terdiri dari serangkaian landasan terbang primitif yang membentang dari Darwin melalui pulau Timor dan Bali hingga ke pulau Jawa. Tetapi Jepang juga tahu bahwa ABDA membutuhkan bala bantuan udara, dan oleh karenanya mereka berusaha memutus aliran bantuan tersebut dengan menyerang Darwin dan menyerang pulau Timor. 

Serangan udara Jepang atas kota Darwin di Australia Utara, 19 Februari 1942. Penyerangan atas Darwin yang menjadi sumber pasokan sekutu untuk pertahanan di Hindia Belanda, merupakan pukulan yang menentukan bagi pasukan ABDA. (Sumber: https://www.begadistrictnews.com.au/)
Foto udara Lapangan Udara Kendari II tahun1942. Meskipun dikuasainya lapangan udara Kendari memampukan Jepang untuk menjangkau wilayah udara Pulau Jawa, namun dengan kondisi cuaca yang tidak menentu di Kendari, membuat Jepang menginginkan direbutnya lapangan udara di Denpasar, Bali. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Awalnya Jepang tidak tertarik dengan merebut Bali, karena mereka sudah menguasai lapangan terbang di Kendari di Pulau Celebes/Sulawesi, yakni lapangan udara Kendari II, yang selesai dibangun pada tahun 1940, dan merupakan fasilitas modern yang dilengkapi dengan landasan pacu besar dan beraspal yang menjadikannya salah satu lapangan terbang terbaik di Asia Tenggara. Direbutnya pangkalan udara di Kendari menempatkan pangkalan angkatan laut utama ABDA di Soerabaja, di wilayah pantai utara Jawa, ada dalam jangkauan armada pembom Jepang. Namun kemudian mereka mendapati bahwa meskipun cuaca cerah, Jepang dengan cepat menemukan bahwa pola cuaca yang berubah-ubah di Kendari sering kali meminimalkan waktu terbang yang sebenarnya. Ketidakmampuan membom Soerabaja secara rutin dari Kendari inilah yang mendorong Jepang berminat untuk merebut Bali. Perebutan lapangan terbang Denpassar di ujung selatan Bali akan memberi mereka pangkalan udara aju yang letaknya hanya dua mil dari lepas pantai timur Jawa. Merebut Bali juga akan memastikan bahwa jalur udara ABDA terputus dan akan memungkinkan bagi Jepang untuk melancarkan serangan udara ke Soerabaja dan ke Tjilatjap, dua pangkalan angkatan laut penting Sekutu, dan ke lapangan udara Sekutu di Blimbing dan Madiun. Para perencana Jepang yakin mereka kemudian dapat memberikan pukulan menentukan pada kekuatan udara ABDA. Pada saat yang sama, mereka dapat menghambat pergerakan laut ABDA yang dikirim untuk melawan invasi yang direncanakan akan dilancarkan ke Jawa. Karena Jepang menilai operasi merebut Bali sangat rentan terhadap serangan udara dan laut. Mereka ingin mendaratkan pasukan darat dan membersihkan kapal mereka dari daerah itu secepat mungkin sebelum kekuatan ABDA dapat membalas. Terlepas dari risiko yang ada, pasukan invasi Jepang meninggalkan Makassar, di Pulau Celebes, menuju Bali pada malam tanggal 17 Februari 1942. Konvoi invasi itu terdiri dari kapal angkut Sasago Maru dan Sagami Maru, dengan kapal perusak Asashio, Oshio, Arashio dan Michishio sebagai kapal pengawal di dekatnya. Sementara itu, kapal penjelajah ringan Nagara, kapal bendera Laksamana Muda Kuji Kubo, dan kapal perusak Hatsushimo, Nenohi, dan Wakaba mengikuti di belakang dan memberikan kekuatan perlindungan jarak jauh dari posisi di Laut Banda. Selama pelayaran yang akan dilakukan kapal-kapal angkatan laut dari Makassar ke Bali, mereka akan dilindungi oleh pesawat-pesawat tempur A6M Zero dari Grup Udara ke-3 dan dari Grup Udara Tainan, yang berbasis di Makassar, untuk menggagalkan setiap serangan udara Sekutu selama melakukan penyeberangan di Laut Flores.

RENCANA TEMPUR

Pasukan pendaratan Jepang terdiri dari satu batalion minus satu kompi, satu peleton meriam gunung, unit radio dan lapangan, satu peleton zeni dan bagian dari Resimen Infantri Formosa ke-1 dari Divisi Infanteri ke-48. Semua telah ditarik dari Filipina ketika unit lain di Kalimantan tidak dapat menemukan alat transportasi laut yang memadai pada waktunya untuk memenuhi tanggal keberangkatan yang dijadwalkan. Daerah yang dipilih sebagai tempat pendaratan di Bali adalah pantai-pantai kecil di dekat Jalan Sanur, di pantai tenggara pulau itu dan sangat dekat dengan Denpassar yang menjadi tujuan utama Jepang. Satuan ABDA berhasil menemukan konvoi tersebut melalui pengintaian udara, tetapi pada awalnya mereka tidak dapat berbuat banyak. Dari jalur berlayar yang diambil Kubo, pihak Sekutu tidak dapat secara positif mengidentifikasi tujuannya, meskipun sebagian besar mengira targetnya adalah pulau Timor. Selain itu, unit angkatan laut Sekutu dalam posisi tersebar dan tidak dapat dengan mudah dikonsentrasikan, menyusul operasi sebelumnya di Selat Bangka di lepas barat pulau Jawa, di mana kekuatan ABDA gagal mencegah invasi ke Sumatera bagian selatan. Saat itu kapal penjelajah ringan milik Belanda, De Ruyter dan Java bersama kapal perusak Belanda dan Amerika, yakni Piet Hein, Kortenaer, Pope dan John D. Ford ada di pelabuhan Tjilitjap, di pantai selatan Jawa, sedangkan kapal perusak Amerika, Barker dan Bulmer, juga berada di Tjilitjap, tetapi karena kerusakan substansial akibat bom yang meledak dalam jarak dekat di Selat Bangka, tidak ada dari antara kapal-kapal itu yang mampu melakukan tindakan ofensif, dan kemudian keputusan telah dibuat untuk mengirim mereka ke Australia untuk diperbaiki dan diperlengkapi kembali. Sementara itu kapal penjelajah ringan Belanda Tromp berada di Soerabaja, sedangkan kapal perusak milik Amerika Stewart, John D.Edwards, Parrott dan Pillsbury telah mengisi bahan bakar di Teluk Ratai di selatan Sumatra sebelum fasilitas di sana dihancurkan untuk mencegah penangkapan mereka setelah evakuasi Sekutu di Sumatra selesai. Di Soerabaja, kapal perusak Belanda Witte de With dan Banckert disiapkan untuk mengambil bagian dalam aksi melawan pasukan Laksamana Kubo, tetapi tidak dapat melakukannya. Witte de With sedang menjalani overhaul dan tidak dapat disiapkan tepat waktu. Banckert bisa beroperasi, tetapi rusak parah dalam serangan udara pada pagi hari tanggal 18 Februari dan juga terpaksa memasuki dok kering. Sementara kapal perusak Belanda Evertsen juga tersedia, tetapi sedang bertugas menjaga konvoi yang berlayar antara Samudra Hindia dan Singapura. 

Rear Admiral Karel W. Doorman, komandan pasukan laut ABDA saat invasi Jepang ke Hindia Belanda tahun 1942. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Dengan pasukannya yang tersebar begitu parah, Laksamana Muda Belanda Karel W. Doorman tidak dapat berbuat banyak ketika dia menerima kabar bahwa kekuatan laut Jepang sedang bergerak. Namun, setelah pengintaian udara memastikan bahwa tujuan konvoi tersebut adalah Bali, Doorman memerintahkan kapalnya untuk berlayar dan menuju Selat Badoeng sambil merumuskan rencana tempurnya. Selat Badoeng sendiri adalah jalur laut selebar 15 mil yang memisahkan Bali dari pulau Noesa Besar, sebuah pulau kecil di Kepulauan Flores. Jalur tersebut adalah rute terdekat yang bisa dilalui kapal yang menuju ke Jawa bagian timur, serta merupakan jalur utama kapal dagang di Hindia Timur yang melakukan perdagangan dengan Australia. Doorman dan komandannya Admiral Helfrich bertemu pada tanggal 17 Februari, dimana Doorman memberi tahu atasannya tentang ketidakmampuan kekuatan laut ABDA untuk beroperasi di Laut Jawa Barat dengan tanpa mendapat perlindungan udara. Doorman juga memberi tahu Helfrich bahwa sampai ABDA dapat memberikan perlindungan udara yang memadai untuk operasi armadanya di masa mendatang, ia berniat untuk memusatkan armada lautnya di Laut Jawa Timur. Mengetahui keadaan sebenarnya dari kekuatan udara Sekutu di pulau Jawa, Helfrich tidak dapat berbuat banyak kecuali setuju dengan keputusan Doorman. Tak terhindarkan, rencana yang kemudian dibuat adalah rencana yang buruk, yang didikte oleh keperluan yang suram. Karena waktu sangat kritis, Doorman tidak dapat mengelompokkan kapalnya yang tersebar luas menjadi satu kekuatan. Akibatnya, serangannya harus terdiri dari tiga elemen yang berlayar dari tiga titik berbeda di sekitar Jawa dan Sumatera bagian selatan. Bentrokan yang terjadi berikutnya kemudian disebut sebagai Pertempuran Selat Badoeng dan Pertempuran Selat Lombok.

Kapal-kapal sekutu di pelabuhan Tjilatjap, 27 Februari 1942. Selain Soerabaja, Tjilatjap merupakan pelabuhan yang penting bagi pertahanan sekutu di Pulau Jawa saat invasi Jepang. Dari pelabuhan tersebut aliran bala bantuan dari Australia didatangkan, begitu juga dari pelabuhan ini juga proses evakuasi keluar dari Hindia Belanda dilakukan pada saat-saat terakhir. (Sumber: https://www.msabbekerk.nl/)

Grup tempur pertama, yang terdiri dari De Ruyter dan Java dengan kapal-kapal perusaknya yang mengiringi, meninggalkan Tjilitjap pada malam hari tanggal 18 Februari. Nasib buruk segera terjadi ketika Kortenaer kehilangan kendali kemudinya untuk sementara dan kandas di jalur pelabuhan sempit yang berbahaya di Tjilitjap. Kapal perusak tersebut tidak bisa ditarik hingga air pasang pagi datang, dan kemudian terpaksa berlayar ke Soerabaja untuk diperbaiki. Tidak dapat menunggu, Doorman melanjutkan pelayarannya dengan hanya menyertakan Piet Hein, Pope dan John D. Ford untuk mengawal kapal penjelajahnya. Gelombang kedua terdiri dari Divisi Perusak ke-58 Amerika, di bawah komando Komandan T.H. Binford, dan kapal penjelajah ringan Belanda Tromp. Kapal-kapal perusak Stewart, Parrott, John D. Edwards dan Pillsbury diperintahkan untuk meninggalkan Tanjung Ratai dengan kecepatan penuh dan bergabung dengan Tromp di Soerabaja. Mereka bergabung dengan kapal penjelajah ringan Belanda itu pada tanggal 18, dan mereka berangkat sore itu juga. Grup kapal ketiga terdiri dari tujuh kapal motor torpedo (MTB) Belanda. Delapan kapal awalnya direncanakan untuk berpartisipasi dalam serangan itu, tetapi saat meninggalkan Soerabaja, MTB TM-6 menabrak pelampung, memaksanya masuk ke dok kering. Akibatnya hanya menyisakan kapal torpedo TM-4, -5, -7, -9, -10, -11 dan -12 untuk melanjutkan pelayaran. Mereka berangkat dari Soerabaja pada pagi hari tanggal 19 Februari menuju Teluk Pangpang di pantai timur Jawa. Di sana, mereka mengisi bahan bakar dari kapal pelepas ranjau Belanda Krakatau dan kemudian menempuh pelayaran jarak dekat dari Jawa ke Bali. 

Kapal penjelajah ringan Nagara, kapal bendera Laksamana Muda Kuji Kubo. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Rencana tempur Doorman meminta masing-masing dari tiga grup tempur untuk menyerang secara mandiri. Grup pertama mendekati pintu masuk selatan Selat Badoeng, di jalur selebar 15 mil yang memisahkan Bali dari Pulau Nusa Besar, tak lama setelah tengah malam pada tanggal 19. Namun saat itu, Laksamana Kubo sudah mendaratkan pasukannya di pantai kecil dekat Denpassar dan siap beranjak pergi dengan kecepatan penuh. Dia telah memilih untuk tidak mempertaruhkan seluruh kekuatannya di selat sempit itu. Nagara dan kapal-kapal perusaknya tetap berada di Laut Banda, meninggalkan Oshio, kapal bendera Divisi Perusak pimpinan Kapten Toshio Abe, bersama dengan Asashio, Arashio dan Michishio, untuk melindungi dua kapal angkut yang mendaratkan pasukan. Satu-satunya kekuatan angkatan laut ABDA di sekitar Bali saat itu adalah kapal selam Amerika Seawolf dan kapal selam Inggris Truant. Seawolf, di bawah pimpinan Letnan Cmdr. Fred B. Warder, telah ditempatkan di Selat Badoeng untuk mengantisipasi invasi Jepang. Dia melakukan kontak dengan musuh pada pukul 2 pagi tanggal 18. Warder membawa kapalnya melalui “jaring pengaman” kapal-kapal perusak Jepang di permukaan laut sebelum dipaksa untuk menyelam. Dengan peta yang buruk dan arus laut yang sukar dilewati, Seawolf mengalami kesulitan besar dalam menjelajahi selat tersebut. Pagi harinya, Warder tersesat sehingga dia tidak dapat memastikan posisinya menggunakan periskop. Namun, dia bisa melihat tiang-tiang beberapa kapal di kejauhan. Saat Seawolf berpindah, dia kandas di atas pasir. Warder berusaha mampu mundur dengan sedikit kesulitan dan melanjutkan pelayaran sampai Seawolf tiba-tiba kandas lagi. Kali ini, situasinya lebih serius. Warder melakukan beberapa upaya yang gagal untuk membebaskan Seawolf sambil tetap menyelam. Akhirnya, dia memberi perintah untuk melepaskan tangki pemberat utama dan naik permukaan meskipun dengan ini akan membuat kapalnya berada dalam jangkauan visual konvoi musuh. 

SERANGAN KAPAL SELAM DAN UDARA

Kapal selam itu beruntung. Saat Seawolf muncul ke permukaan, hujan badai bertiup di atasnya, dan Warder mampu mendekati konvoi di permukaan laut selama 30 menit lagi sampai hujan berhenti. Kemudian dia dipaksa untuk menyelam lagi. Berlayar dengan diam, Warder mendekat hingga ke dalam jangkauan tembak torpedo, berbalik dan menembakkan torpedo dari dua tabung di buritannya saat dia mundur. Warder mendengar dua ledakan di kejauhan sebelum kapal perusak Jepang menemukan kapal selamnya. Seawolf kemudian menerima serangan yang mengerikan, tetapi, meskipun bom-bom dalam yang dilepaskan kapal-kapal Jepang meledak di dekatnya saat berlayar di selat yang dangkal, dia berhasil melarikan diri tanpa kerusakan serius. Namun, Seawolf juga tidak pernah merusak satupun kapal Jepang disana. Torpedonya telah meledak sebelum waktunya (suatu problem yang menjadi masalah umum bagi torpedo-torpedo Amerika hingga tahun 1943), atau malah menghantam pantai Bali. Pada saat yang hampir bersamaan Seawolf berada di selat, kapal Truant tiba di lokasi, setelah diperintahkan untuk berlayar dari Soerabaja tanpa ada pengarahan apapun, termasuk pemberitahuan tentang keberadaan Seawolf. Warder sendiri juga tidak menyadari kehadiran Truant. Truant kemudian menghadapi kekuatan pelindung Jepang di Laut Banda dalam perjalanan ke Bali, dengan mudah menembus tabir kapal-kapal perusak Jepang dan bersiap melakukan serangan ke Nagara. Kapal selam itu menembakkan enam torpedo dan masuk ke dalam lautan. Keenamnya luput, dan kapal perusak kemudian melaju ke arah Truant, yang mundur ke Soerabaja. 

USS Seawolf (SS-197), bersama kapal selam Inggris Truant, menjadi yang pertama dalam menyerang armada invasi Jepang yang mendarat di Pulau Bali. (Sumber: https://www.oneternalpatrol.com/)
Pesawat pembom tukik Douglas A-24 Banshee. Selain mendapat serangan dari kapal selam ABDA, pasukan invasi Jepang juga mengalami serangan bertubi-tubi dari kekuatan udara sekutu, namun kerusakan yang ditimbulkan relatif kecil. (Sumber: https://7lafa.com/)

Pesawat-pesawat Amerika yang terbang dari Jawa tiba di atas selat saat fajar. Berita pertama mengenai pendaratan Jepang telah mencapai Jawa pada pukul 2 pagi, dan perintah diberikan untuk menyiapkan 13 pembom berat B-17 Flying Fortress dan tujuh pembom tukik Douglas A-24 untuk beraksi. Pesawat pertama tiba di Bali pada jam 7 pagi, dan serangan terus-menerus mereka berjumlah 18 kali saat senja. Sayangnya, klaim mereka tentang empat bom yang tepat sasaran dan 12 nyaris kena, dengan banyaknya jumlah kapal yang tenggelam dan rusak, tidak sejalan. Hanya kapal angkut Sagami Maru yang mengalami kerusakan parah akibat ledakan bom di ruang mesinnya. Di darat, garnisun dengan 600 milisi lokal yang bermotivasi buruk meninggalkan segera posisi-posisi mereka setelah pendaratan Jepang. Komandan Belanda yang memimpin mereka semakin muak mengetahui bahwa lapangan udara Denpassar ternyata belum diledakkan. Perintahnya untuk tidak menunda penghancuran telah salah dibaca oleh para pasukan zeni, yang mengira bahwa dia ingin operasi penghancuran ditunda. Kebingungan itu memungkinkan pasukan Jepang merebut lapangan terbang itu dengan utuh. Sementara itu dengan selesainya misinya, Kubo ingin meninggalkan pantai Bali yang terbuka secepat mungkin dan menuju Makassar. Pada pukul 11 malam, pasukan perlindungannya sudah berada jauh di utara Selat Badoeng. Dia meninggalkan Arashio, Michishio, Asashio dan Oshio untuk mengawal dua kapal angkut ke Makassar. Arashio dan Michishio ditugaskan untuk membantu Sagami Maru yang lumpuh, yang akhirnya berhasil mulai berlayar pada pukul 10 malam, setelah melakukan perbaikan darurat di ruang mesinnya. 

PERTEMPURAN LAUT

Ketika angkatan laut ABDA pertama tiba di kawasan itu, ketiga kapal Jepang itu berada di dekat pintu masuk utara Selat Badoeng. Yang tersisa hanya Oshio, di bawah pimpinan Kapten Abe dan nakhodanya sendiri, Commander Kiyoshi Yoshikawa, dan Asashio, di bawah Komandan Goro Yoshii, untuk mengawal kapal transport yang tersisa, Sasago Maru, keluar dari selat. Mereka baru saja mengangkat jangkar ketika kapal yang mendekat terlihat pada pukul 10 malam. Grup pertama kapal perang Sekutu tiba di ujung selatan Bali pada pukul 21:30. pada tanggal 19 Februari dalam formasi beriringan. De Ruyter dan Java memimpin, dengan kapal-kapal perusak 5.500 yard di belakang. Piet Hein memimpin dua kapal perusak Amerika, yang membuntutinya pada jarak yang sama. Itu adalah malam yang gelap dengan sedikit angin dan laut yang tenang. Kecepatan kapal-kapal Sekutu adalah 27 knot. Pada pukul 10.30 malam, De Ruyter melihat sebuah kapal di sebelah kanan, tapi dengan cepat menghilang di belakang Pulau Nusa Besar. Faktanya tidak ada kapal Jepang yang berada di bagian selat itu, jadi kapal itu hanyalah penampakan atau kapal penduduk asli. Tiga puluh menit kemudian, Java melihat tiga siluet samar-samar di pelabuhan di dekat pantai Bali yang gelap, yang dilaporkan oleh para pengintai sebagai kapal perusak, kapal pengangkut, dan kapal pendarat. Rencana penyerangan armada laut sekutu yang dikomandoi oleh Doorman secara praktis mengikuti strategi yang sama yang diadopsi oleh kapal-kapal perusak Amerika dalam Pertempuran Balikpapan (24 Januari 1942), yaitu; kapal-kapal penyerang Sekutu harus ditempatkan di antara garis pendaratan pasukan Jepang. Serangan awal akan dilakukan oleh meriam dari kapal-kapal penjelajah ringan, pada jarak dekat untuk menimbulkan kerusakan maksimum dalam waktu yang singkat. Setelah itu kapal perusak akan menyusul dengan melakukan satu serangan torpedo. Java membuka lampu sorot dan menembakkan starshell. Salvo pertamanya menyusul beberapa detik kemudian pada jarak 2.200 yard. Target Java adalah Asashio; sementara De Ruyter menyerang dengan Oshio, yang disalahartikan sebagai kapal pendarat. Kapal-kapal perusak Jepang segera meninggalkan Sasago Maru dan menyerang kapal-kapal penjelajah Belanda di sebelah timur. Hal itu memungkinkan mereka untuk menyerang kapal Admiral Doorman dengan segera, dan ada tembakan gencar di kedua sisi. Java menembakkan sembilan salvo dan De Ruyter dengan jumlah yang hampir sama saat mereka melanjutkan perjalanan ke selat. 

Kekuatan Laut yang terlibat dalam Pertempuran di Selat Badung, 19-20 Februari 1942. (Sumber: http://www.microworks.net/)
Peta serangan pertama Pertempuran Selat Badung, 19 Februari 1942. (Sumber: http://www.microworks.net/)

Java mengklaim beberapa tembakan tepat sasaran di Asashio, seperti yang dilakukan De Ruyter di Oshio. Pada kenyataannya, tidak ada kerusakan pada salah satu kapal-kapal perusak Jepang, yang melanjutkan perjalanan mereka melintasi kapal penjelajah Belanda. Asashio, meski demikian mampu mengirimkan tembakan peluru meriam kaliber 5 inci tepat ke bagian tengah Java. Peluru itu tidak menyebabkan hilangnya kecepatan, dan berkat pengendalian kerusakan yang efisien, tidak ada kebakaran. Kapal-kapal penjelajah itu kemudian kehilangan kontak. Percaya bahwa mereka telah menimbulkan kerusakan besar, De Ruyter dan Java mundur ke timur laut dan kemudian ke utara dengan kecepatan penuh melalui Selat Lombok. Aksi mereka dalam pertempuran hanya berlangsung kurang dari 10 menit. Kapal-kapal perusak pengawal mereka masih sekitar tiga mil di belakang dan sekarang bertemu Asashio dan Oshio. Asashio terus berlayar ke timur selama beberapa menit setelah mundurnya De Ruyter dan Java, kemudian berbelok ke tenggara. Oshio mengikuti dengan jalur paralel tetapi pergi lebih jauh ke timur sebelum berbelok. Perubahan jalur itu membawa Asashio berhadapan langsung dengan Piet Hein, yang, sendirian, berada di jalurnya berlayar ke utara. Pada pukul 23:05, Pope dan John D. Ford melihat Piet Hein berlayar zigzag dari kiri ke kanan dan berbelok tajam ke kanan di balik tabir asap. Meskipun ada asap, kapal Jepang itu mampu memusatkan tembakan mereka pada Piet Hein. Pope dan John D. Ford kemudian meningkatkan kecepatan menjadi 28 knot dan berbelok ke timur untuk mendekati Piet Hein. Pada pukul 11:10 malam, Piet Hein kembali berbelok – kali ini ke selatan – dan menembakkan lima torpedo saat dia menghentikan tembakan meriam deknya. Asashio membalas tembakan dan dengan cepat mencetak tembakan tepat sasaran, menghancurkan platform lampu sorot kapal perusak Belanda itu dan memotong pipa uap utama di ruang mesin belakangnya. 

HNLMS de Ruyter, kapal penjelajah ringan Belanda yang menjadi kapal bendera Laksamana Muda Karel Doorman. (Sumber: https://www.pinterest.fr/)
HNLMS Piet Hien, yang tenggelam di Selat Badung, 19 Februari 1942. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Piet Hein berhenti total di atas permukaan air, terbakar terang benderang di malam hari. Oshio kemudian bergabung dengan Asashio, dan bersama-sama mereka meluncurkan sembilan torpedo ke kapal perusak Belanda yang hanyut tanpa arah, yang seketika tenggelam dengan korban jiwa yang besar pada pukul 11:16 malam. Kapten Piet Hein, Letnan Cmdr. J.M.L.I. Chömpf, dan perwira lainnya menerima medali anumerta untuk keberanian dalam aksi mereka. Tiga lagi perwira dan beberapa awak hilang ketika kapal-kapal Jepang memberondong kapal perusak Belanda itu dengan tembakan senapan mesin saat mereka lewat. Setelah tenggelamnya Piet Hein, Pope dan John D. Ford langsung ditempatkan di posisi bertahan. Kapal-kapal Amerika sebelumnya telah diperintahkan untuk terus ke utara sampai Selat Badoeng, menyerang target apa pun yang muncul. Tetapi ketika kapal perusak Belanda tenggelam, mereka meninggalkan pertempuran saat John D. Ford melawan Asashio. Oshio saat itu masih tersembunyi dari kapal-kapal perusak Amerika oleh karena asap yang ditimbulkan Piet Hein. Pope dan John D. Ford terus berputar ke selatan saat mereka mencoba untuk kembali ke jalur utara sesuai dengan perintah Admiral Doorman, mengeluarkan asap dan saling menembak dengan Asashio dan Oshio. Tekanan dari kapal-kapal-kapal Jepang begitu kuat sehingga kapal-kapal perusak Amerika tidak pernah menyelesaikan putarannya ke utara. Keempat kapal itu sejajar satu sama lain, saling menukar torpedo dan tembakan saat Pope dan John D. Ford melanjutkan upaya mereka berlayar ke utara. Ketika kapal-kapal Jepang menggagalkan manuver terbaru ini, kapal-kapal perusak Amerika berusaha berlindung di pantai Pulau Nusa Besar. Manuver itu melibatkan gerakan menbelok ke pelabuhan, membawa Pope dan John D. Ford melintasi haluan Asashio dan Oshio dan mengarah ke aksi panas lainnya. Tapi sekarang, orang Amerika sudah muak. Pope meluncurkan lima torpedo ke kanan saat John D. Ford mengeluarkan asap untuk menutupi buritannya. Aksi ini mampu menahan kapal-kapal perusak Jepang cukup lama bagi kapal-kapal Amerika untuk melepaskan diri dan mundur ke selatan dengan kecepatan penuh.

Destroyer Amerika John D. Ford (DD-228) yang beruntung berhasil selamat dalam Pertempuran Selat Badung. (Sumber: https://www.navytimes.com/)

Saat Oshio berlayar ke utara, dia melihat sebuah kapal yang gelap, yang dia anggap sebagai musuh, dan melepaskan tembakan. Tapi itu ternyata Asashio, yang membalas tembakan rekannya yang juga salah identifikasi. Aksi saling tembak itu berlangsung beberapa menit, yang membuat heran kapal-kapal perusak Amerika saat mereka mundur ke Tjilitjap. Meskipun saling menembak dengan gencar, namun pihak Jepang beruntung menyadari kesalahan mereka sebelum salah satu kapal rusak. Kapal-kapal perusak Jepang itu kemudian beriringan dan kembali ke Sasago Maru. Menarik untuk dicatat bahwa buku catatan kedua kapal dengan hati-hati menghilangkan informasi kesalahan identifikasi memalukan itu. Pada laporan pertama mengenai keberadaan kapal ABDA di selat, Laksamana Kubo memerintahkan Arashio dan Michishio untuk meninggalkan Sagami Maru dan kembali ke selat. Mereka baru saja melewati selat ketika mereka menerima perintah, dan jarak yang harus mereka lewati menyebabkan mereka kehilangan seluruh fase pertama pertempuran dan sebagian besar fase kedua. Pada saat yang sama, Kubo mengembalikan kekuatan pelindungnya kembali ke Bali dengan kecepatan penuh. Kapal-kapal ABDA dari Grup kedua mengitari ujung selatan pulau Bali pada pukul 01.09 pada tanggal 20 setelah melewati Selat Bali. Mengamati tembakan suar dan ledakan, Komandan Binford gagal melakukan kontak radio dengan Pope dan John D. Ford selama gerak mendekatnya. Setelah tengah malam, Tromp mundur. Perannya adalah mengikuti di belakang dan menggunakan meriam kaliber 5,9 inci miliknya untuk menghabisi semua kapal yang lumpuh akibat tembakan torpedo dari kapal-kapal perusak. Faktanya, dia akhirnya bertugas sebagai penjaga belakang melawan sepasang kapal perusak Jepang yang sangat agresif. 

Destroyer Parrott (DD-218) yang nyaris menabrak rekannya Stewart dalam Pertempuran Selat Badung. (Sumber: https://www.navytimes.com/)

Saat kapal-kapal ABDA mengarungi selat dengan kecepatan 20 knot, dengan Kapten J.B. de Meester di atas kapal Tromp sebagai komandan, mereka menghadapi nyala lampu hijau yang tak terbaca. Apakah mereka kapal Sekutu atau Jepang? Ini adalah salah satu bahaya yang dihadapi pasukan serang multinasional yang memiliki sedikit pengalaman operasional sebelumnya. De Meester ragu-ragu. Binford, bagaimanapun, tahu bahwa kejutan sangat penting dan memerintahkan kapal perusaknya untuk meluncurkan torpedo ke target-target yang ada di pelabuhan. Stewart dan Parrott masing-masing menembakkan enam torpedo dan Pillsbury tiga lagi pada Asashio dan Oshio, yang mengitari kapal-kapal transport mereka di dekat Jalan Sanur. Melihat torpedo bercahaya yang meluncur di air yang tenang, orang-orang Jepang dengan mudah menghindarinya. Binford kemudian kehilangan kontak dengan kapal-kapal Jepang yang gelap di pantai Bali yang gelap. Sebuah permainan mematikan menyusul, karena kedua belah pihak saling mengintai di malam yang hangat. Stewart kemudian melihat Asashio dan Oshio di sisi kanannya. Dia menembakkan peluru-peluru cahaya dan torpedo pada pukul 1:36 pagi dan melepaskan tembakan tujuh menit kemudian. John D. Edwards mencoba menembakkan empat torpedo pada saat yang sama, tetapi hanya dua yang bisa ditembakkan. Yang lainnya tergantung macet di tabung mereka. Sekali lagi kapal-kapal Jepang mampu menghindari torpedo-torpedo itu. Mereka kemudian membalas dengan memberi “para pendatang baru” itu sambutan seperti yang diterima grup kapal-kapal perang Amerika sebelumnya. Salvo tembakan pertama mereka menghantam Stewart, dan pada pukul 1:46 pagi sebuah peluru yang memantul menewaskan seorang pelaut dan melukai pejabat eksekutifnya. Serangan langsung itu mampu membanjiri ruang mesin kemudi, yang secara efektif membuat Stewart lepas kendali. 

Kapal penjelajah Belanda HNLMS Tromp dalam lukisan Pertempuran Selat Badung oleh Keinichi Nakamura, 1943. (Sumber: https://laststandonzombieisland.com/)

Hasilnya adalah kekacauan. Parrott hampir saja menabrak Stewart, yang memimpin, sementara John D. Edwards bisa menghindari Parrott hanya dengan berbelok tajam ke arah kanan. Pillsbury juga berbelok ke kanan, menyebabkan dia kehilangan formasi rekan-rekannya selama sisa pertempuran. Dengan beralih ke perangkat kontrol tambahan, Stewart akhirnya kembali memimpin, diikuti oleh John D. Edwards; Parrott kemudian mengambil posisi di sisi kiri mereka. Sementara Pillsbury berakhir di sisi lain selat dan akhirnya bekerja sama dengan Tromp. Sekali lagi, Asashio dan Oshio telah menggagalkan strategi utama kekuatan laut ABDA untuk membuat kapal-kapal perusak mereka menyerang ke pelabuhan tempat kapal-kapal pengangkut Jepang berada, dan menenggelamkan sebanyak mungkin kapal Jepang. Sebaliknya, mereka malah dipaksa pergi dan menuju pintu masuk utara selat itu. Jepang mempertahankan jalur dari arah tenggara, yang memungkinkan mereka menyeberang di belakang posisi Stewart, John D. Edwards dan Parrott untuk mengisolasi Pillsbury. Asashio dan Oshio melakukan kontak langsung dengan Tromp, yang masih tertinggal dari Divisi Destroyer ke-58. Kapal penjelajah itu membidikkan lampu sorot biru besar, menjadikannya target yang sangat baik untuk tembakan dua kapal perusak Jepang. Ketiga kapal itu paralel satu sama lain selama sembilan menit. Tromp mengalami bagaimana hebatnya kemampuan tembak meriam Jepang yang hebat, dimulai pada pukul 02:07 dengan hujan peluru dari Asashio. Yang pertama menghantam anjungan navigasinya di dekat tabung torpedo, merusak kontrol penembakan Tromp. Peluru kedua menghancurkan anjungan dan menghancurkan kontrol kendali penembakan utama. Hal itu memaksa meriam kaliber 5,9 inci dan senjata antipesawat 40 mm milik kapal penjelajah tersebut untuk terus dikendalikan secara manual selama sisa pertempuran. Sembilan peluru lagi sebagian besar jatuh di sekitar area anjungan, menyebabkan kerusakan serius. Tromp juga mengalami kerusakan kritis di bawah garis air. Bersamaan dengan itu, kapten Tromp menghindari tembakan torpedo dari Oshio. Rentetan kejadian itu menewaskan Letnan Satu Kelas S.C. Ritsema van Eck, Sub-Lt. A.C.V. Kriesfeld dan delapan awak lainnya. Tiga puluh orang lainnya terluka. 

Kapal penjelajah ringan Belanda HNLMS Tromp. (Sumber: https://laststandonzombieisland.com/)

Dengan rusaknya perangkat pengendali penembakannya, Tromp mengalami kesulitan untuk bergerak dan tidak mampu membalas tembakan sampai pukul 2:10 pagi. Tapi dari pukul 2:10 hingga 2:16 penembaknya menembakkan 71 peluru kaliber 5,9 inci dan beberapa ratus butir amunisi kaliber 40mm. Di tengah kobaran api itu, Oshio hanya menerima satu tembakan tepat sasaran di depan anjungannya yang menewaskan tujuh orang. Ketiga kapal tersebut kemudian memutuskan kontak senjata. Asashio dan Oshio berputar kembali ke Sasago Maru, yang tetap tak tersentuh, sementara Tromp terus ke utara dan bergabung dengan Pillsbury. Satuan Sekutu lalu melanjutkan perjalanan ke utara dengan maksud menarik diri dari selat itu. Kapten Tromp mengira perannya dalam pertempuran telah berakhir dan ingin mengembalikan kapalnya yang rusak berat secepat mungkin. Tapi dia sekarang menghadapi Arashio dan Michishio, yang telah meninggalkan Sagami Maru satu jam sebelumnya. Kedatangan mereka sangat mengejutkan kapal-kapal ABDA, yang masih tersebar. Namun, kebingungan ini justru membantu Sekutu. Dalam manuver berikutnya, Parrott kandas di pulau Bali tetapi mampu mundur dengan hanya mendapat kerusakan ringan. Dia melanjutkan perjalanan ke utara dan tidak kembali lagi ke medan pertempuran. Pada pukul 2:41 pagi, John D. Edwards dan Stewart mempertahankan formasi beriringan saat mereka bergerak ke arah timur laut. Tromp mempertahankan jalur pelayarannya ke timur 8.000 yard dari bagian kanan mereka. Pillsbury mengikuti jalur pelayaran ke arah timur laut 3.000 yard dari sisi kanan kapal penjelajah Belanda itu saat dia mencoba bergabung dengan Tromp. 

Kapal Perusak Jepang Michisio yang rusak berat dalam Pertempuran Selat Badung. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Menuju kearah barat dan barat daya, Arashio dan Michishio masuk ke tengah formasi sekutu yang tidak beraturan ini dan segera menemukan diri mereka di tempat yang sempit. John D. Edwards dan Stewart berada di sebelah kanan, dengan Tromp dan Pillsbury di sebelah kiri. Pada pukul 2:47 pagi, Stewart membuka lampu sorotnya dan meluncurkan torpedo, diikuti dengan tembakan. Menerima tembakan dari arah kiri dan kanan, Michishio berbelok keras ke kanan untuk menghindari sorotan Stewart. Mencoba berbelok ke arah utara, Michishio menemui hujan tembakan dari John D. Edwards, yang membuatnya lumpuh. Dengan ruang mesinnya rusak, Michishio berhenti di atas permukaan air dengan 96 orang tewas dan terluka. Dia diserang beberapa kali saat kapal-kapal ABDA yang tersisa lewat. Setelah pertempuran singkat itu, kedua belah pihak melanjutkan pelayaran dengan di jalur masing-masing dengan kecepatan tinggi. Kapal-kapal Sekutu berhasil lolos dan tidak menunjukkan keinginan untuk menghabisi Michishio yang telah lumpuh saat mereka mundur. Sementara itu pihak Jepang terus mencari kapal musuh di selatan. Kira-kira tiga jam kemudian, ketujuh kapal MTB Belanda sampai di selat. Mereka berpisah menjadi kelompok-kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga kapal, yang datang dekat pantai, dan kelompok kedua yang terdiri dari empat kapal, yang datang sekitar empat mil jauhnya. Meskipun melihat tanda-tanda pertempuran sengit selama mereka mendekat, kapal-kapal MTB itu tidak menemukan adanya kapal di tengah selat. Salah satu kapal kemudian melaporkan adanya sebuah kapal di sebelah selatan, tetapi tidak dapat mengejarnya karena kapal itu mundur dengan kecepatan tinggi. Karena profil rendah dari kapa-kapal MTB mengakibatkan bidang pandang mereka buruk, dan mereka hanya dapat melihat sedikit. Mereka kemudian kembali ke Teluk Pangpang dan mengisi bahan bakar dari kapal Krakatau sebelum pulang ke Soerabaja. 

USS Stewart (DD-224) setelah direbut kembali dari Angkatan Laut Jepang dan ditugaskan kembali di US Navy. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Menjelang fajar tanggal 20, Tromp dan kapal-kapal perusaknya telah berada jauh di utara selat. Namun, siang hari keberadaan mereka kembali menarik perhatian kekuatan Jepang dalam bentuk sembilan pesawat pengebom yang terbang dari Makassar. Tetapi dengan keberuntungan dan manuver yang terampil, semua bom yang dilepaskan oleh pesawat-pesawat Jepang dapat dihindari. Sementara itu meskipun ada permintaan bantuan berulang kali, tetapi tidak ada perlindungan udara yang muncul. Tidak ada pesawat yang tersisa di Jawa untuk bisa dikirimkan membantu mereka. Setibanya di Soerabaja malam itu, Stewart langsung masuk ke dok kering. Tapi para pekerja di dermaga gagal menahannya dengan benar, dan kapal perusak itu terguling saat dermaga dikeringkan. Kerusakan tambahan yang timbul akibat insiden itu sangat parah sehingga Stewart tidak dapat diperbaiki sebelum pulau Jawa jatuh, dan dia akhirnya harus diledakkan di dalam dermaga. Orang-orang Jepang kemudian memperbaikinya, dan mengubahnya menjadi kapal anti-kapal selam. Mengaktifkannya kembali sebagai Kapal Patroli No. 102. Dia berhasil selamat dalam perang dan kemudian dikembalikan ke Angkatan Laut AS. Sementara itu, Tromp yang rusak parah dan membutuhkan perbaikan yang terlalu sukar untuk dilakukan secara lokal, jadi dia dikirim ke Australia untuk diperbaiki. Diharapkan dia bisa segera kembali dan melanjutkan pertempuran. Namun, karena invasi Jepang ke Jawa telah mencegah hal itu, dan dia tidak kembali ke Hindia Belanda sampai bulan-bulan terakhir Perang Pasifik. 

HNLMS Tromp di Sydney setelah menjalani perbaikan akibat kerusakan yang diderita selama pertempuran. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

KESIMPULAN 

Pertempuran Selat Badoeng merupakan bencana bagi komando laut ABDA. Meskipun telah melancarkan serangan udara berat dan adanya upaya dari dua kapal selam, tiga kapal penjelajah ringan, tujuh kapal perusak dan tujuh MTB, kerusakan parah yang diderita Jepang hanya pada satu kapal angkutnya yang kosong dan satu kapal perusak, dengan kerusakan ringan pada kapal perusak kedua. Yang lebih menyedihkan lagi, kekuatan Sekutu yang lebih besar ini tidak pernah menghadapi lebih dari dua kapal perusak Jepang sekaligus. Salah satu dari dua grup kapal pertama seharusnya lebih dari cukup untuk mengalahkan armada kecil Jepang. Sebaliknya, ABDA malah kehilangan satu kapal perusak yang tenggelam, dengan kapal perusak kedua dan sebuah kapal penjelajah ringannya rusak. Kapal-kapal perusak Amerika yang tersisa hanya memiliki sedikit torpedo yang tersisa dan kapal-kapal ini menjadi tidak banyak berguna dalam pertempuran tanpa adanya torpedo. Hanya sedikit keraguan di pihak ABDA bahwa kekalahan Bali merupakan pukulan maut bagi pertahanan mereka di Jawa. Direbutnya lapangan terbang Denpassar oleh Jepang, di pantai selatan Bali, telah memutuskan rute udara antara Australia dan Jawa, serta memastikan bahwa ABDA tidak akan menerima bala bantuan lagi. Pesawat-pesawat Jepang sekarang mampu mendominasi Jawa; dengan dikombinasikan kekuatan udara dari Sumatra bagian selatan, mereka sekarang mengendalikan, atau setidaknya akan segera mengendalikan semua wilayah udara di atas pulau Jawa. Keberanian dari rencana perang mereka telah membuahkan hasil yang besar bagi Jepang. Mereka dengan cepat meningkatkan dominasi udaranya di atas Jawa dan segera melenyapkan sebagian besar kekuatan udara ABDA yang tersisa. Ketika konvoi invasi Jepang mendekati Jawa, mereka hampir tidak menghadapi perlawanan di udara. Ketika angkatan laut ABDA lain berusaha menghentikan konvoi di Laut Jawa seminggu kemudian, mereka sangat kekurangan perlindungan udara dalam bentuk apa pun.

Lukisan seni Koleksi Angkatan Laut Amerika yang menggambarkan kapal perusak Laffey tepat setelah dia menyeberang di samping haluan kapal tempur Jepang Hiei dan menyerang kapal Jepang tersebut dengan meriam kaliber 5 inci dan 20 mm dalam jarak dekat pada pertempuran malam tanggal 13 November 1942 di lepas pantai Guadalkanal. AL Jepang dikenal sebagai ahli dalam pertempuran malam selama Perang Dunia II. (Sumber: https://usnhistory.navylive.dodlive.mil/)

Rencana pertempuran Admiral Doorman di Selat Badoeng terbukti lemah dan bahkan mungkin memiliki kelemahan fatal. Dia menunjukkan penilaian taktis yang buruk dengan menempatkan terlalu banyak ketergantungan kekuatan mereka pada tembakan diatas permukaan laut. De Ruyter dan Java telah melewati selat itu dengan menembak terlalu cepat, yang merusak peluang didapatnya serangan kejutan. Kecepatan aksi mereka, penembak yang tidak berpengalaman, dan malam yang gelap semuanya andil dalam menghasilkan pertempuran yang berakhir buruk. Sebaliknya serangan Torpedo mungkin akan memberikan hasil yang lebih baik. Kapal-kapal Jepang tidak diragukan lagi dikejutkan oleh serangan kapal-kapal penjelajah Belanda di awal pertempuran tetapi kemampuan pelatihan mereka yang hebat dalam pertempuran malam memungkinkan mereka untuk menanggapi serangan itu dengan benar. Selain Java yang dihantam oleh satu peluru 5 inci, kapal penjelajah ringan Belanda itu sebenarnya memiliki banyak momen keberuntungan dalam fase awal pertempuran ini, dimana gerak mundur cepat mereka yang dipertimbangkan dengan baik mampu menghindarkan mereka dari kerusakan lebih lanjut, serta menyelamatkan mereka dari menjadi korban serangan torpedo. Di sisi lain, aksi Piet Hein sama sekali tidak bisa dimaafkan. Perusak Belanda ini seharusnya tidak membiarkan dirinya terisolasi dalam pertempuran. Jepang memiliki jumlah kapal yang lebih kecil selama pertempuran tetapi pada saat armada kecil itu, yakni Asashio dan Oshio bertemu dengan Piet Hein mereka bekerjasama dan mampu mendapat keunggulan taktis dan dari sana mereka mengambil keuntungan besar ketika menyerang dan menenggelamkan kapal Belanda itu. Piet Hein seharusnya ikut bertempur menemani kapal penjelajah ringan Belanda atau kapal-kapal perusak Amerika. Jika saja dia mengikuti cara-cara ini, hasil pertempuran mungkin akan berbeda.

Torpedo Long Lance Jepang yang lebih unggul dari milik sekutu di masa-masa awal perang Pasifik. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Sementara itu, meskipun Angkatan Laut AS jarang berlatih untuk pertempuran di malam, orang-orang Belanda telah melakukannya begitu sering  sehingga menganggap diri mereka mahir. Tetap saja, kapal-kapal Jepang jauh mengungguli kapal-kapal Amerika dan Belanda. Crew Jepang memiliki keterampilan menembak meriam yang luar biasa dan torpedo Type 93 Long Lance mereka sangat mematikan. Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sampai saat itu adalah yang terbaik di dunia dalam hal aksi pertempuran malam. Pertempuran Selat Badoeng membuktikan bahwa angkatan laut Jepang yang menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk berlatih intensif di malam hari yang memakan banyak biaya selama bertahun-tahun sepadan dengan usahanya. Hal itu juga menumbuhkan kepercayaan pada taktik, senjata, dan kepemimpinan mereka, sembari mengungkap kekurangan yang mencolok pada angkatan laut Sekutu. Pertempuran Selat Badoeng adalah yang pertama dari serangkaian pertempuran berdarah yang terjadi antara Sekutu dan Jepang. Hanya dengan pengalaman pertempuran yang diperoleh dengan susah payah dan radar yang canggih, barulah mereka mampu mengatasi keterampilan pertempuran malam musuh, yang dibuktikan pada Pertempuran di Cape St. George tanggal 25 November 1943. Namun hingga saat itu terjadi, Angkatan Laut Jepang tetap menjadi penguasa pertempuran laut di malam hari. Sementara itu di pihak AL Amerika, untuk memperingati Pertempuran di Selat Badung ini, mereka kemudian menamai sebuah kapal induk pengawal mereka kelas Commencement Bay dengan nama USS Badoeng Strait (CVE-116), yang diluncurkan pada tanggal 15 Februari 1945. Kapal induk USS Badoeng Strait, kemudian akan berperan aktif dalam Perang Korea (1950-1953).*

Kapal induk pengawal USS Badoeng Strait (CVE-116) di lepas pantai Korea tahun 1952. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Battle of Badoeng Strait: World War II Naval Duel off Bali by Tom Womack

The fall of Bali and the naval battle of the Badoeng Strait 18 – 20 of February of 1942 By: Felipe C. Ramires

https://web.archive.org/web/20070101073645/http://smmlonline.com/articles/badoeng.html

Battle of Badung Strait February 18/19, 1942 by Vincent P. O’Hara

http://www.microworks.net/pacific/battles/badung_strait.htm

Bali and the Battle of Badung Strait by Tom Womack

https://www.netherlandsnavy.nl/battle_balitimor.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Badung_Strait

https://en.m.wikipedia.org/wiki/USS_Badoeng_Strait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *