Problem Russia dalam Perang Sniper di Chechnya dan Ukraina
Perang Chechnya Pertama, juga dikenal sebagai Kampanye Chechnya Pertama, atau Perang Rusia-Chechnya Pertama adalah perang yang pecah karena pemberontakan oleh Republik Chechnya Ichkeria terhadap Federasi Rusia, yang terjadi dari bulan Desember 1994 hingga Agustus 1996. Perang pertama ini didahului oleh Intervensi Rusia di Ichkeria, di mana Rusia secara diam-diam berusaha menggulingkan pemerintah Ichkeria. Setelah kampanye militer di awal tahun 1994–1995, yang berpuncak pada Pertempuran Grozny yang menghancurkan, pasukan federal Rusia berusaha untuk menguasai daerah pegunungan Chechnya, tetapi mereka menghadapi perlawanan keras dari gerilyawan Chechnya dan mendapat serangan di dataran-dataran tersebut. Terlepas dari keunggulan luar biasa Rusia dalam hal senjata, personel, persenjataan, artileri, kendaraan tempur, serangan udara dan dukungan udara, demoralisasi meluas yang timbul diantara pasukan federal dan oposisi yang hampir universal dari publik Rusia terhadap konflik menyebabkan pemerintah Boris Yeltsin mengumumkan gencatan senjata dengan para pemberontak Chechnya pada tahun 1996, dan akhirnya perjanjian damai disetujui pada tahun 1997. Secara militer Perang Chechnya Pertama adalah “kekalahan” memalukan dari Pasukan Federasi Russia. Tentara Russia terlihat kewalahan dalam menangani para pemberontak yang menggunakan taktik gerilya di pegunungan dan perkotaan, serta menjalankan peperangan yang didukung unit-unit sniper terlatih. 27 tahun setelah bertempur melawan unit-unit sniper terlatih di Chechnya, Russia kembali menghadapi masalah yang sama saat mereka meng-invasi Ukraina mulai tanggal 24 Februari 2022, dimana konflik ini masih berlangsung hingga sekarang.

TEROR SNIPER DI CHECHNYA
Selama bentrokan bersenjata pertama di wilayah Republik Chechnya pada musim dingin 1994-1995, telah mengungkapkan kurangnya persiapan pasukan Rusia untuk perang menghadapi sniper. Selama pertempuran di Chechnya pada tahun 1995-1996, lebih dari 26 persen luka-luka yang dialami tentara federal adalah akibat luka tembak. Menurut beberapa saksi mata, dalam pertempuran untuk memperebutkan Grozny, di Korps Angkatan Darat ke-8 pada awal Januari 1995, hampir semua perwira yang ditempatkan pada satuan setingkat peleton-kompi tertembak oleh sniper. Misalnya, di resimen senapan bermotor ke-81 pada awal bulan Januari, hanya tersisa sepuluh prajurit dan satu perwira yang masih ada di satuan itu. Untuk pertahanan kota secara umum dan untuk perang sniper, khususnya, militan Chechnya telah bersiap terlebih dahulu: posisi pertahanan mereka dilengkapi dan dipersiapkan, jalur komunikasi dibuat, aksi-aksi mereka dikoordinasikan, dan taktik yang mereka gunakan berhasil. Ada cukup banyak waktu bagi Dzhokhar Dudayev (pemimpin Chechnya) untuk melatih para militan. Senjata bagi mereka juga mencukupi, dimana ketika meninggalkan Chechnya setelah runtuhnya Uni Soviet pada bulan desember 1991, tentara Soviet meninggalkan sebanyak 533 senapan sniper SVD di antara senjata-senjata lainnya. Dengan persenjataan-persenjataan yang ditinggalkan ini, militan Chechnya kemudian membentuk unit-unit sniper. Dalam operasinya, sniper-sniper Chechnya diketahui bekerja dengan sangat kompeten, efisien dan brutal. Paling sering, pasangan sniper berfungsi sebagai basis dari kelompok tembak bergerak, yang selain terdiri dari sniper, termasuk juga dua penembak sub machine gun, seorang penembak senapan mesin dan penembak peluncur granat berpelontar roket.



Sementara itu prajurit Infanteri Russia sama sekali tidak siap untuk menghadapi perang sniper di kawasan perkotaan. Ada kasus di mana seorang kolonel pasukan infanteri mengirim seluruh kompi senapan bermotor untuk “mengatasi” sniper yang sangat menjengkelkan, yang “duduk di suatu tempat.” Namun, militer Russia tidak sepenuhnya melupakan pengalaman tempur yang mereka dapatkan dalam Perang Patriotik Besar. Selama persiapan operasi militer ke Chechnya, beberapa kelompok sniper dibentuk di resimen Pasukan Khusus Pasukan Lintas Udara. Selama pertempuran di pusat kota Grozny, Korps Pengawal ke-8 Volgograd pimpinan Jenderal Lev Rokhlin kewalahan akibat tembakan sniper Chechnya dengan kehilangan 30 prajurit sehari, dan setelah unit sniper Pasukan Khusus Pasukan Lintas Udara beroperasi di sana, kerugian tentara Russia berkurang menjadi hanya dua orang sehari. Pada awal bulan Februari, sebagian besar sniper profesional Dudayev telah dihancurkan – ini dibuktikan, pertama-tama, oleh perubahan sifat luka yang diderita oleh pasukan federal. Namun demikian, penarikan di bulan pertama pertempuran menunjukkan bahwa tentara Rusia dipaksa untuk memulai lagi dari awal dan menumpahkan darah mereka untuk mempelajari apa yang seharusnya diajarkan kepada mereka jauh sebelum pertempuran. Di akhir perang “Chechnya pertama”, kepemimpinan militer Russia membuat kesimpulan logis bahwa mereka kalah dalam perang sniper. Selama sekitar setengah abad sejak berakhirnya Perang Dunia ke II, Angkatan Bersenjata Rusia tidak memiliki unit pelatihan khusus untuk sniper, akibatnya pengalaman penggunaan taktis mereka hilang dalam keterampilan yang harusnya dikuasai mereka. Pasukan Russia juga tidak memiliki senjata modern yang memenuhi persyaratan, atau peralatan untuk sniper militer mereka, padahal dalam peperangan sniper kerap memiliki peran yang krusial.
COUNTER SNIPER
Konfirmasi yang jelas tentang betapa efisiennya kader sniper profesional, dapat dilihat pada pusat pelatihan sniper Rusia di Solnechnogorsk (dalam pasukan biasanya disebut hanya sebagai “K-43” – sesuai dengan surat perintah pembentukannya). Unit pelatihan ini dibentuk pada bulan September 1999 atas arahan Panglima Angkatan Darat Russia. Kader sniper di sekolah itu berasal dari distrik-distrik militer Russia, dimana yang paling terlatih dalam bidang menembak tepat dikirimkan. Kader terpilih ini kemudian menerima pelatihan selama 6 bulan dan menerima gelar instruktur sniper. Tugas utama kompi pelatihan Solnogorsk adalah melatih instruktur untuk sekolah sniper di distrik-distrik militer, mengembangkan kurikulum dan memperdalam pengembangan aksi taktis sniper tunggal dan kelompok sniper dalam berbagai jenis operasi tempur. Di kompi pelatihan, para prajurit dengan dinas tetap yang telah menjalani seleksi kualifikasi yang ketat juga belajar disitu. “K-43” secara teratur mengirim siswanya untuk menjalani pelatihan tempur di Republik Chechnya. Menurut laporan media, selama kampanye kontra-terorisme di Republik Chechnya, para sniper Russia menewaskan 44 militan, termasuk 16 komandan junior, 3 komandan lapangan terkemuka dan 12 instruktur, termasuk tentara bayaran asing yang berjumlah 7; serta menonaktifkan 8 unit peralatan. Selama penyerbuan ke Grozny pada musim semi 2000, unit ini mengeliminasi 51 petempur, termasuk 30 komandan lapangan tingkat menengah, 8 komandan lapangan terkemuka, 6 instruktur, tentara bayaran; dan melumpuhkan 20 unit peralatan. Selama seluruh periode pertempuran di musim semi dan musim panas 2000, sniper Rusia mengeliminasi 28 sniper Chechnya, sehingga turut menyelamatkan nyawa puluhan tentara Russia. Saat ini, kompi pelatihan Solnogorsk terus menggabungkan pengalaman, peningkatan aplikasi taktik, dan mengembangkan teknik sniper untuk mencetak kadet yang lebih baik. Selain melatih instruktur untuk sekolah lain di Solnechnogorsk, mereka membuat program pelatihan tempur untuk sniper bagi berbagai unit militer, mengembangkan taktik untuk menggunakan sniper dan kelompok sniper di berbagai jenis pertempuran dan di berbagai medan, menentukan kebutuhan senjata dan peralatan penembak jitu. Dalam hal pengembangan taktik, perang di Chechnya telah memberi banyak pelajaran berharga. Kini adalah penting untuk tidak kehilangan pengalaman tempur berharga itu, agar tidak perlu lagi mengulang pengalaman buruk yang memakan banyak korban jiwa.

TAKTIK SNIPER MILITAN CHECHNYA
Salah satu ciri khusus pertempuran di wilayah Kaukasus Utara adalah penggunaan besar-besaran sniper dalam perang gerilya. Selama perang di kawasan Dagestan dan Chechnya (1999-2000), skala dan keefektifannya sedemikian rupa sehingga militer Rusia dengan tepat menyebutnya sebagai “perang sniper”. Sniper Chechnya diketahui tidak hanya menggunakan senjata sniper biasa buatan Rusia (SVD dan VSS), tetapi juga senapan mesin yang dilengkapi dengan pembidik optik, serta senapan olahraga yang disesuaikan untuk tugas-tugas sniper. Tipikal senjata unit-unit militan, yang terdiri dari 9-10 orang, adalah 6 senapan serbu Kalashnikov berbagai tipe (AKM atau AKMS kaliber 7,62 mm), 1 senapan mesin (RPK kaliber 7,62 mm, RPK-74 kaliber 5,45 mm atau PKM kaliber 7,62 mm) 1 peluncur granat berpelontar roket RPG-7, 4-5 peluncur granat sekali pakai (RPG-18, RPG-22 atau RPG-26) dan satu senapan sniper SVD. Teknik utama operasi tempur formasi bersenjata para militan adalah menembaki garnisun, pos jaga, pos pemeriksaan dan pengawalan; melakukan penyerangan; penyergapan; melakukan sabotase dan aksi teroris; perampasan perlengkapan-perlengkapan berharga dan penyanderaan. Saat melakukan penembakan, formasi ini terdiri dari 10 hingga 50 orang terpilih. Penembakan paling sering dilakukan pada malam hari, menggunakan semua jenis senjata yang tersedia, termasuk senapan sniper. Penyergapan paling sering dilakukan di jalan atau kemungkinan jalur pergerakan pasukan federal dengan tujuan menghancurkan personel, menangkap tahanan, merampas senjata, dan material. Kelompok sniper, yang biasanya merupakan bagian dari kelompok tembak, memastikan tewasnya personel, penghancuran peralatan, dan menghalangi manuver musuh. Selama pertempuran di wilayah Dagestan (Agustus-September 1999), pejuang pemberontak Chechnya secara aktif menggunakan metode taktis dengan karakteristik penggunaan sniper. Secara khusus, mereka mempraktikkan perebutan wilayah ketinggian yang dominan, rute yang paling menguntungkan, lintasan dan lokasi senjata artileri jarak jauh yang mungkin ada di sana, juga termasuk keberadaan sniper di tempat-tempat itu. Sering juga digunakan kelompok tembak kecil, yang terdiri dari personel penembak mortir, peluncur granat dan sepasang sniper. Pada saat yang sama, sniper menembak di bawah perlindungan suara dari tembakan mortir dan peluncur granat dari gua dan tempat perlindungan lainnya. Dalam pelaksanaan penarikan mundur, para militan menggunakan kelompok pelindung yang memberikan penembakan terkonsolidasi, yang terdiri dari 1-2 penembak mortir, 2 penembak senapan mesin kaliber besar, 2 sniper, 2 penembak peluncur roket, 1-2 penembak pelontar granat otomatis AGS-17.


Beberapa waktu kemudian, dalam pertempuran di wilayah Republik Chechnya (November 1999), kelompok-kelompok bersenjata militan menggunakan metode perang partisan. Sama seperti selama konflik Chechnya pertama tahun 1994-1996, mereka tidak mengadakan kontak langsung dengan pasukan federal. Para militan lebih suka beroperasi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 3-5 orang, termasuk personel yang membawa granat berpeluncur roket, personel sniper, dan 1-2 orang penembak senapan mesin. Kelompok ini dalam banyak kasus termasuk personel zeni yang meranjau posisinya setelah kelompok itu pergi. Prinsip aksi mereka sangat sederhana: kelompok utama melepaskan tembakan (kadang-kadang bahkan tidak benar-benar akurat) ke objek-objek pasukan federal, dan sniper akan memilih target dan menghancurkan mereka di bawah perlindungan kebisingan pertempuran. Militan tidak mengharapkan hasil yang bagus, dan cukup puas dengan penembakan yang singkat tapi sering dan sukses tanpa menimbulkan kerugian di pihak mereka. Para sniper sering menempati posisi di pepohonan. Tidak jauh dari para penembak (pada satu titik atau diujung hutan), ada pengamat yang mengamati sasaran dan mengarahkan sniper ke arah mereka. Perhatian khusus diberikan pada taktik yang disebut sebagai “unit tempur bertiga”, yang terdiri dari sniper, penembak pelontar granat, dan penembak senapan mesin. Metode tempur ini dilakukan oleh militan Chechnya bahkan selama serangan pertama di Grozny pada musim dingin tahun 1995. Di medan tempur, unit seperti itu disebar. Dalam taktik ini penembak senapan mesin ringan memulai pertempuran, menembaki musuh dan dengan demikian menyebabkan datangnya tembakan balasan pada dirinya sendiri; sniper lalu mengidentifikasi posisi penembak lawan yang telah mengidentifikasi diri mereka dengan memberikan tembakan balasan, dan mengeliminasi mereka. Di saat yang hampir bersamaan penembak granat berpeluncur roket, menggunakan suara-suara di medan pertempuran sebagai penyamaran, menghantam kendaraan lapis baja dan kendaraan lainnya.


Saat menuju posisi bertahan, segera sebelum dimulainya tembakan artileri oleh pasukan federal atau selama serangan, kelompok-kelompok militan berlari dengan cepat menuju pasukan Rusia ke zona yang aman dan bersembunyi di tanah. Setelah dimulainya serangan pasukan federal, para militan menembak para prajurit hampir dari jarak dekat sekitar 100-150 meter. Pada saat yang sama, sniper berusaha di menit-menit pertama pertempuran untuk menghancurkan staf komando dan prajurit dan sersan untuk menabur kepanikan. Kelompok sniper yang paling efektif digunakan oleh militan dalam pertempuran di suatu wilayah. Pertama-tama, mereka akan melumpuhkan perwira, pengemudi, dan operator radio. Setiap sniper beroperasi dengan perlindungan dari lima atau enam militan lainnya, salah satunya setidaknya adalah penembak granat berpeluncur roket. Posisi penembakan biasanya dipilih sesuai dengan prinsip klasik – di lantai tengah bangunan atau di belakang ruangan. Retakan atau lubang di dinding rumah banyak juga digunakan. Penembak senapan mesin menempati lantai bawah, dan penembak granat berpeluncur roket terletak di lantai atas. Sangat umum di antara sniper Chechnya untuk memakai taktik guna menghancurkan sebanyak mungkin personel, dimana ia pertama-tama “menembak” satu tentara (biasanya menimbulkan luka pada anggota badan korban), kemudian melumpuhkan rekan-rekannya yang mencoba membantunya dengan cara yang sama dan akhirnya melukai atau melumpuhkan semua orang. Sniper-sniper ini, adalah personel profesional, yang merencanakan tindakan mereka sebelumnya secara terperinci, memilih posisi dengan profil rendah yang paling menguntungkan di loteng dan lantai atas rumah (lebih sering di apartemen pada sudut yang lebih mudah untuk menembak ke beberapa arah). Posisi yang disiapkan dilengkapi dengan tempat penyimpanan senjata dan amunisi. Sebagai ciri khas lain dari perang di Chechnya, yang perlu diperhatikan adalah penggunaan senjata sniper khusus buatan Rusia oleh para militan — senapan kaliber besar OSV-96 dan senapan senyap VSS Vintorez dan VSK-94. Namun, terlepas dari semua kesulitan, sniper Rusia berkali-kali membuktikan keterampilan mereka dalam perang ini. Secara khusus, penembak jitu Alexander Chernyshov untuk keberanian dan kepahlawanan yang ditunjukkan selama operasi kontra-teroris di Republik Chechnya, dianugerahi gelar Pahlawan Federasi Rusia. Sayangnya bagi Russia, pengalaman pahit di Chechnya ini nampaknya tidak meninggalkan perbaikan permanen hingga mereka berperang kembali 27 tahun kemudian. Kali ini di Ukraina.



PROBLEM SNIPER DI PERANG LAWAN UKRAINA
Pada tahun 2014, Rusia menginvasi dan mencaplok Krimea, sementara kelompok separatis yang didukung Rusia merebut sebagian Wilayah Donbas di tenggara Ukraina, yang terdiri dari oblast Luhansk dan Donetsk, yang kemudian memicu perang regional. Pada tahun 2021, Rusia memulai penumpukan kekuatan militer besar-besaran di sepanjang perbatasannya dengan Ukraina, mengumpulkan hingga 190.000 tentara dan peralatan mereka. Dalam pidato yang disiarkan televisi sesaat sebelum invasi, presiden Rusia Vladimir Putin mendukung pandangan kaum irredentist, yang menantang hak Ukraina untuk menjadi sebuah negara, dan secara keliru mengklaim Ukraina diperintah oleh kelompok neo-Nazi yang menyiksa etnis minoritas Rusia. Pada tanggal 21 Februari 2022, Rusia mengakui Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk, dua negara bagian yang memisahkan diri di wilayah Donbas yang dikendalikan oleh separatis pro-Rusia. Hari berikutnya, Dewan Federasi Rusia mengizinkan penggunaan kekuatan militer, dan pasukan Rusia secara terang-terangan memasuki kedua wilayah tersebut. Invasi dimulai pada pagi hari tanggal 24 Februari, ketika Putin mengumumkan dilancarkannya “operasi militer khusus” untuk “men-demiliterisasi dan denazifikasi” Ukraina. Beberapa menit kemudian, rudal dan serangan udara menghantam Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv. Invasi darat yang besar lalu mengikuti dari berbagai arah.

Kini perang di Ukraina telah berlangsung lebih dari 100 hari dan belum ada tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat. Meski diramalkan pada mulanya pasukan Russia akan bisa menaklukkan pasukan Ukraina dalam hitungan minggu, nyatanya pasukan Ukraina terus bertahan dan menimbulkan banyak korban diantara prajurit Russia mulai dari level terendah hingga perwira tinggi, dan bahkan jenderal. Sejumlah Jenderal Rusia tewas di Ukraina dengan kecepatan yang sangat tidak biasa. Kemungkinan mereka terbunuh di medan perang karena sniper Ukraina, menurut pensiunan jenderal bintang empat, Jenderal David Petraeus. Petraeus, mantan direktur CIA, percaya bahwa sniper Ukraina telah menyadap percakapan telepon seluler dari para perwira tinggi Rusia. Sniper Ukraina kemudian menemukan target mereka dari sinyal yang disadap ini. Mereka juga menggunakan senapan sniper yang disediakan oleh negara-negara lain. Karena ini adalah perkembangan yang sangat langka, maka ilustrasi terbaik untuk menggambarkan perang sniper di Ukraina, adalah dengan melihat lebih dalam taktik sniper dan senapan yang mereka gunakan. Pihak Ukraina mengklaim bahwa mereka telah membunuh lima jenderal Rusia dalam pertengahan bulan Maret 2022 (kini di bulan Juni jumlahnya telah bertambah menjadi setidaknya 8 orang). Petraeus percaya bahwa hal ini jarang terjadi dalam peperangan modern. Dia mengatakan kepada CNN selama wawancara pada tanggal 21 Maret bahwa kehilangan jenderal di medan perang adalah “sangat, sangat jarang.” Petraeus berpikir bahwa para perwira tinggi ini adalah korban dari sistem komunikasi Rusia yang buruk. Mereka tidak memiliki rencana untuk berkomunikasi di jalur komunikasi yang aman selama berminggu-minggu di seluruh wilayah luas seperti Ukraina. Ukraina, sementara itu telah menggunakan peperangan elektronik untuk menghambat komunikasi pasukan Rusia. Tanpa enkripsi yang tersedia, menurut Petraeus, Rusia telah memutuskan untuk menggunakan telepon seluler komersial. Sinyal seluler ini kemudian disadap oleh pasukan Ukraina yang memungkinkan sniper mereka untuk menemukan dan menembak pemimpin paling senior. “Jadi, apa yang terjadi adalah saat sebuah konvoi Russia dihentikan, seorang jenderal yang tidak sabar duduk di sana dengan kendaraan lapis baja — atau kendaraan apa pun —, dia lalu maju untuk mencari tahu apa yang terjadi karena tidak ada inisiatif di antara perwira junior-nya. Dia berdiri disana, dan orang-orang Ukraina yang memiliki sniper-sniper yang sangat, sangat bagus, menembaki mereka, dari arah kiri dan kanan. Dan setidaknya empat dari lima jenderal ini benar-benar terkonfirmasi tewas, ”kata Petraeus.



Sniper Ukraina menyiapkan tembakan dengan baik dan menyelesaikan pekerjaan dengan sempurna. Bagian dari kesuksesan mereka adalah penggunaan senapan sniper yang disumbangkan oleh negara-negara seperti Republik Ceko dan Belanda. Dua senapan yang menonjol adalah: senapan sniper ZVI Falcon kaliber 12,7 mm dari Ceko dan senapan Accuracy International AX .308 atau .338 dari Belanda. ZVI Falcon adalah senapan anti-materi kaliber menengah buatan Ceko yang dapat menembak target hingga jarak satu mil (1,6 km) jauhnya. Pelurunya bisa menembus lapisan baja setebal 25mm. Menurut pabrikan, senapan sniper bolt-action ZVI Falcon “adalah senapan tipe kokangan manual berpeluru tunggal dengan kamar peluru terkunci seperti senapan Mauser dan casing bull-pup yang diperpendek.” Senapan ini memiliki pembidik untuk digunakan siang dan malam. Senjata ini hanya memiliki dua bagian utama (selubung senapan dan laras senjata) yang dapat dibongkar pasang dengan cepat tanpa menggunakan alat. Desain pada moncong laras mampu mengurangi gaya tolak balik senapan ini. Senapan itu beratnya 28 pon (12,7 kg). Sementara itu, Belanda yang memiliki kelebihan stok senapan sniper Accuracy International AX buatan Amerika, menyumbangkan sebagian senapannya ke Ukraina. Ini adalah senapan yang hebat. AX menembakkan peluru kaliber .308 Winchester atau .338 Lapua Magnum. Dengan pergantian laras, senapan itu juga dapat menembakkan peluru kaliber .300 Win Mag. Sistem senapan bolt-action AX memiliki magasin 10 peluru. Senapan ini memiliki sistem peredam hentakan be-ruang ganda pada moncong larasnya dan dapat dilengkapi dengan peredam suara. Senapan seberat 15 pon (6,8 kg) ini dilengkapi dengan rel untuk dipasangi aksesori yang umum dipakai pada senapan sniper modern seperti pembidik optik dan pencitraan termal. AX memiliki pegangan berbentuk pistol dan pelatuk dua tahap, ditambah pelindung pipi dan bantalan popor yang dapat disesuaikan untuk kenyamanan yang lebih baik. Dengan senapan ini dan para sniper yang termotivasi, Rusia nampaknya akan terus memiliki masalah. Ketika seorang jenderal terbunuh, itu merupakan pukulan yang signifikan terhadap moral pasukan. Jika perwira Rusia terus menggunakan ponsel, orang-orang Ukraina tidak hanya dapat mendengarkan tetapi juga dapat menemukan sinyal dan menyiapkan tembakan sniper. Jenderal Rusia, meskipun terpaksa memimpin dari depan dalam kekacauan, dalam perang atrisi, yang sepertinya adalah hal yang benar dan perlu untuk dilakukan, mereka tetap akan membutuhkan bawahan mereka untuk berdiri dan memimpin dengan percaya diri dan berinisiatif sehingga para jenderal-jenderal ini dapat tetap aman di garis belakang.
IRONI SNIPER RUSSIA & SEJARAH YANG BERULANG
Membahas problem sniper yang dihadapi militer Russia dalam 2 konflik militer terbesar negeri itu di masa setelah runtuhnya komunisme, sebenarnya meninggalkan jejak yang ironis. Di sepanjang abad ke-20 militer Russia (dulu sempat dikenal sebagai Uni Soviet) bukannya pihak yang awam dalam peperangan sniper, bahkan mereka menjadi salah satu “pengguna” sniper yang paling ekstensif dalam sejarah. Selama Perang Dunia II, 428.335 individu, termasuk partisan, diyakini telah menerima pelatihan sniper Tentara Merah Soviet, dan 9.534 dari antara mereka memperoleh kualifikasi di level yang lebih tinggi. Berbeda dengan militer negara lain, sniper ini bisa laki-laki atau perempuan. Meski demikian dalam berbagai konflik militer yang mereka jalani, Russia kerap kali kewalahan dalam menghadapi perang sniper. Dalam Winter War (1939-1940) melawan Finlandia, tentara Russia banyak terbunuh oleh aksi sniper. Dalam perang ini, seorang sniper Finlandia, yakni Simo Häyhä diyakini telah membunuh lebih dari 500 orang selama itu, yang merupakan jumlah tertinggi bagi sniper manapun dalam konflik perang besar. Hal sama kemudian berulang di Chechnya dan kini di Ukraina. Meski begitu meremehkan militer Russia karena kegagalan mereka dalam melakukan perang kontra-sniper adalah sebuah kesalahan besar. Dengan determinasi para prajurit Russia dan sikap keras kepala dari para pemimpinnya, yang kerap mengabaikan jumlah korban di pihak mereka, militer Russia pada akhirnya berhasil memenangkan Winter War dan perang di Chechnya (dalam perang yang kedua, 7 Agustus 1999 – 30 April 2000). Jika mereka berhasil di Finlandia dan Chechnya, entah sekarang di Ukraina…..apapun itu, seharusnya dengan banyak belajar dari sejarah, mereka dapat menghindari jatuhnya korban-korban yang tidak perlu.


Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Sniper war in Chechnya; December 14 2012
https://en.topwar.ru/21943-snayperskaya-voyna-v-chechne.html
We Think We Know Why Russia’s Generals Keep Getting Killed In Ukraine By Brent M. Eastwood Published; March 24, 2022
https://en.m.wikipedia.org/wiki/First_Chechen_War
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Lev_Rokhlin
https://en.m.wikipedia.org/wiki/2022_Russian_invasion_of_Ukraine
https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_Russian_generals_killed_during_the_2022_invasion_of_Ukraine

Artikelnya bagus, tapi lebih bagus lagi kalau dikasih “PARAGRAF”. Plis deh gan, coba dibaca artikelmu di HP, kayak Kereta Babaranjang (orang jadi males baca). Setidaknya 2-3 kalimat itu paragraf (untuk standar website)
Ya memang artikel berat, urusan malas atau nggak tergantung yang baca….sama juga kl saya malas terjemahin materi yang banyak, artikelnya juga nggak bakal ada.