4 Mei 1978: Penyerangan Pasukan Payung Afrika Selatan ke Basis Gerilyawan Marxist SWAPO di Cassinga
Afrika Selatan pada musim semi 1978 adalah negara yang terkepung. Negara apartheid ini semakin tidak populer di kalangan tetangganya dan tidak mampu mengendalikan populasi kulit hitamnya sendiri yang bergolak. Dalam pandangan minoritas kulit putih yang berkuasa, negara itu tidak hanya diserang di dalam negeri tetapi juga diserang secara internasional oleh pemerintah negara-negara tetangga yang berpihak pada Kremlin. Gerakan antikolonial telah menyapu orang-orang Belgia dari Kongo, orang-orang Portugis dari Angola dan Mozambik, orang kulit putih Rhodesia dari Zimbabwe, dan orang Afrika Selatan dari Namibia yang baru diganti namanya.

KETIDAKSTABILAN DI AFRIKA BARAT DAYA
Masalah paling mendesak dari pemerintah Afrika Selatan adalah provinsi Afrika Barat Daya. Wilayah itu, yang disebut Namibia sejak tahun 1968, telah dipercayakan kepada Afrika Selatan setelah Perang Dunia I di bawah mandat Liga Bangsa-Bangsa. Afrika Selatan telah ditugaskan untuk mempersiapkan penduduk bekas jajahan Jerman ini untuk bisa memperoleh kemerdekaan akhirnya. Beberapa dekade berlalu dan Afrika Barat Daya untuk semua tujuan praktisnya telah diubah menjadi provinsi de factoAfrika Selatan, dan kekayaan alamnya yang melimpah mengalir ke pundi-pundi Pretoria. Setelah tahun 1945, mandat Afrika Selatan diubah menjadi perwalian Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan jadwal kemerdekaan yang dipercepat. Pada tahun 1966, Organisasi Rakyat Afrika Barat Daya (South-West Africa People’s Organization/SWAPO), yang mulai mendukung ideologi Marxist untuk menarik dukungan dari sekutu negara-negara Dunia Ketiga melancarkan serangan-serangan gerilya terhadap tentara Afrika Selatan. Bagi orang-orang kulit putih Afrika Selatan, gagasan kehilangan sumber kekayaan yang tetap karena gerakan Marxis SWAPO tidak mungkin diterima, terutama dengan kekacauan dan konflik yang saat itu berkecamuk di Angola, tepat di bagian utara. Peristiwa di Portugal menambah ketidakstabilan kawasan. Pada tanggal 25 April 1974, Revolusi Bunga, sebuah kudeta militer oleh para perwira sayap kiri, dengan cepat menguasai Lisbon. Pemerintah kiri baru memberikan kemerdekaan kepada semua koloni Portugis di Afrika. Akibatnya di Angola terjadi kekosongan politik yang memberi energi pada tiga kekuatan bersenjata yang sudah mencari kemerdekaan Angola sejak lama. Gerakan Populer Marxis untuk Pembebasan Angola (The Marxist Popular Movement for the Liberation of Angola/MPLA) di bawah pimpinan Augustino Neto, Front Nasional untuk Pembebasan Angola (National Front for the Liberation of Angola/FNLA) di bawah pimpinan Holden Roberto, dan Persatuan Nasional untuk Kemerdekaan Total Angola (The National Union for the Total Independence of Angola/UNITA) di bawah pimpinan Jonas Savimbi semuanya berjuang untuk kemerdekaan Angola—dan sekaligus memperoleh kendali penuh atas pemerintahan negara itu. MPLA, yang mengendalikan ibu kota, Luanda, menerima bantuan Soviet yang besar, bersama dengan dukungan Kuba di bawah Fidel Castro. Pasukan Kuba yang dikirim ke Angola tidak hanya berfungsi sebagai kader pelatihan MPLA, tetapi juga sebagai batalion independen yang bertujuan untuk memperkuat MPLA dalam perjuangannya melawan FNLA dan UNITA. Para pemimpin Afrika Selatan kemudian memandang peningkatan masuknya pasukan Kuba sebagai ujung tombak lapis baja kelompok revolusioner yang pada akhirnya akan menyebar ke Namibia.



AFRIKA SELATAN MEMBANTU FNLA DAN UNITA
Pretoria lalu melihat peluang untuk melemahkan pemerintah Angola baru dengan mendukung pasukan FNLA dan UNITA dan mendestabilisasi rezim Marxis negara itu. Beberapa perwira Angkatan Darat Afrika Selatan kemudian bergabung dengan FNLA di Angola untuk Operasi Savannah. Pada tanggal 2 Oktober 1975, dua unit FNLA seukuran batalion, yang disebut Satuan Tugas Foxbat dan Satuan Tugas Zulu, bergerak ke utara dari perbatasan Angola-Namibia dan mendekati ibu kota Luanda sebelum dihentikan oleh perlawanan keras tentara Kuba dan MPLA. Kegagalan operasi ini kemudian justru memperkuat kontrol MPLA di negara itu. Dengan naiknya MPLA, UNITA untuk sementara bergabung dengan FNLA untuk melanjutkan perang gerilya di Angola timur. Bertekad untuk menghancurkan kedua kelompok tersebut, Neto menegosiasikan kesepakatan antara MPLA dan SWAPO pada bulan Maret 1976. Gerilyawan Marxis kemudian akan diberi pelatihan dan perlindungan oleh Angola dan Kuba sebagai imbalan atas pengaruh SWAPO yang meningkat melintasi perbatasan di Namibia. Neto berharap untuk mengalihkan bantuan Afrika Selatan dari UNITA dan FNLA dan memaksa Afrika Selatan untuk mempertahankan perbatasan Namibia-Angola. Pada tanggal 27 Oktober 1977, sebuah patroli menghadapi sekitar 80 pemberontak SWAPO. Pertarungan yang berlangsung mengakibatkan 61 personel SWAPO tewas, dengan 5 tewas di pihak Afrika Selatan. Penyerangan ini, yang merupakan operasi SWAPO terbesar hingga saat itu, menunjukkan gelombang kekerasan baru yang dimaksudkan untuk memengaruhi negosiasi antara negara-negara Barat, Afrika Selatan, dan SWAPO atas masa depan Namibia. Interogasi terhadap tahanan dan pembelot menggambarkan SWAPO baru yang bahkan lebih radikal. Gerilyawan merencanakan infiltrasi besar-besaran ke Namibia, didukung oleh pangkalan-pangkalan di Angola yang lebih besar. Jumlah pemberontak SWAPO yang pindah ke Namibia dijadwalkan meningkat sampai organisasi tersebut menjadi cukup kuat untuk mengalahkan pasukan Afrika Selatan dan kepolisian setempat serta mencegah mereka mengkonsolidasikan kendali di Namibia.



MERENCANAKAN SERANGAN LINTAS UDARA YANG BERANI
Untuk menyediakan pangkalan logistik yang cukup besar guna mendukung operasi tersebut, Angola memberi SWAPO kendali atas beberapa kota di Angola selatan. Pangkalan ini diperkuat dengan parit pertahanan yang saling mendukung dan senjata antipesawat. Pangkalan terbesar terletak di Cassinga, dengan nama kode “Moskow” atau “Pertanian”. Mulai tahun 1976, para kombatan SWAPO PLAN secara teratur melakukan perjalanan ke selatan melalui jalan darat dari Huambo melalui Cassinga, sebuah kota pertambangan Angola yang ditinggalkan yang terletak sekitar setengah jalan menuju medan pertempuran di perbatasan Namibia. Kota ini memiliki sekitar dua puluh bangunan yang sebelumnya melayani tambang bijih besi setempat sebagai gudang, akomodasi, dan kantor. Sekelompok gerilyawan PLAN yang dipimpin oleh Dimo Hamaambo menduduki Cassinga beberapa minggu setelah mereka mulai menggunakannya sebagai titik persinggahan. Menurut Charles “Ho Chi Minh” Namoloh dan Mwetufa “Cabral” Mupopiwa, yang menemani Hamaambo ketika desa tersebut pertama kali diduduki, penduduk pertama Cassinga di Namibia seluruhnya terdiri dari petempur PLAN yang terlatih. Tidak lama setelah pendirian kamp PLAN di Cassinga, kamp itu juga mulai berfungsi sebagai kamp transit bagi orang-orang pengasingan Namibia. Pemerintah Angola kemudian mengalokasikan desa terbengkalai ini ke SWAPO pada tahun 1976 untuk mengatasi masuknya ribuan pengungsi dari Afrika Barat Daya, diperkirakan pada Mei 1978 berjumlah 3.000 hingga 4.000 orang. Dua hari sebelum penyerangan pasukan Afrika Selatan, UNICEF melaporkan adanya kamp yang “dikelola dengan baik dan terorganisir dengan baik” tetapi “tidak diperlengkapi dengan baik” untuk mengatasi peningkatan pengungsi yang cepat pada awal tahun 1978.



Cassinga kemudian menjadi rumah bagi sekitar 2.000 pemberontak, bersama dengan tempat penyimpanan amunisi dan peralatan untuk gerilyawan SWAPO yang menyusup ke Namibia. Desa itu juga menjadi markas Komando Taktis Garis Depan Kepala Staf SWAPO Dimo Amaambo. Intelijen militer Afrika Selatan percaya bahwa pangkalan itu berisi sekitar 1.200 rekrutan. Techamutete yang ada di dekatnya adalah rumah bagi pasukan reaksi cepat — satu batalion pasukan mekanis Kuba yang mengendarai kendaraan lapis baja BTR-152, halftrack, dan tank T-34. Menurut data intelijen SADF, “Perencanaan logistik dan penyediaan perbekalan, senjata dan amunisi untuk pemberontak yang beroperasi di Ovamboland tengah dan timur dilakukan dari Cassinga”. Pangkalan ini ditemukan secara tidak sengaja oleh penerbangan pengintai Angkatan Udara Afrika Selatan, yang sedang mencari lubang air yang sebelumnya digunakan SWAPO sebagai pangkalan operasi. SAAF waktu itu masih memegang superioritas udara atas Angola, dimana hal ini memungkinkan Skuadron ke-12 untuk melakukan pengintaian foto udara dengan pesawat B12 Canberra pada musim semi tahun 1978. Foto-foto ini menunjukkan infrastruktur militer yang baru dibangun termasuk bunker ‘drive-in‘ beton untuk kendaraan tempur lapis baja melindungi jalan pendekatan, parit zigzag yang mengelilingi pangkalan, lubang perlindungan untuk senapan mesin/kru mortir – dan struktur dasar beton ‘berbentuk bintang’ yang sangat khas untuk baterai rudal anti pesawat S-75/SA-2 “Guideline” dan kendaraan radar/komandonya. Juga dapat diidentifikasi dari citra adalah sebuah bus bertingkat sipil. Kombatan PLAN di Cassinga mengetahui tentang penerbangan mata-mata itu, dan dalam surat tertanggal 10 April 1978, komandan kamp Hamaambo menyatakan keprihatinannya kepada atasannya tentang “niat invasi yang akan segera dilakukan oleh musuh kami di kamp kami di Angola Selatan”. Menanggapi penerbangan pengintaian, pertahanan lalu ditingkatkan melalui pembuatan kamp sekunder di utara kamp utama, penambahan lebih banyak parit, penggalian lubang untuk perlindungan persediaan makanan, dan penyediaan senjata AAA (Anti Pesawat).



Penemuan pangkalan SWAPO baru di kota-kota Angola kemudian segera mengirimkan gelombang kejut ke rantai komando militer Afrika Selatan – dengan ini SWAPO malah secara tidak langsung memberikan kesempatan emas kepada Afrika Selatan. Dengan pengetahuan sebelumnya bahwa operasi SWAPO berskala besar yang baru akan dimulai pada bulan Juni atau Juli, Afrika Selatan memilih untuk menyerang lebih dulu. Dalam merencanakan penyerangan, berbagai masalah bermunculan, salah satunya adalah fakta bahwa Cassinga jaraknya 250 km dari perbatasan Afrika Barat Daya. Dengan ini serangan konvensional akan memberi waktu bagi gerilyawan SWAPO untuk bereaksi. Untuk mengatasi problem ini Letnan Jenderal Constand Viljoen mengusulkan serangan ke Cassinga dilakukan oleh pasukan penerjun payung. Serangan semacam ini tidak akan disangka-sangka oleh SWAPO, sementara kurangnya senjata berat di pihak pasukan Afrika Selatan dikompensasi oleh unsur kejutan yang dihadirkan. Rencana serangan ini tidak seperti operasi-operasi sebelumnya di Afrika. Yang menjadi kekhawatiran terbesar Afrika Selatan adalah kemungkinan rencana ini bocor, sehingga pasukan payung mereka masuk dalam jebakan. Letnan Jenderal Constand Viljoen dan staff-nya kemudian memutuskan untuk menggunakan rencana latihan darat udara besar di Kimberley pada bulan Mei 1978 sebagai kedok untuk menutupi rencana serangannya. Untuk menyembunyikan operasi tersebut, yang diberi nama sandi Operasi Reindeer, Angkatan Darat Afrika Selatan mengorganisir latihan lapangan, yang disebut Operasi Quicksilver, terdiri dari pasukan gabungan mekanis dan penerjun payung. Operasi Reindeer sendiri sebenarnya lahir dari pengembangan Operasi “Bruilof (Wedding)”, yang merancang tentara Afrika Selatan menyerang enam basis SWAPO di Chetequera, sebelum ditemukannya basis SWAPO di kota pertambangan Cassinga. Operasi Reindeer terdiri dari tiga aksi utama, yakni: Serbuan pasukan payung di Cassinga, serangan mekanis di kompleks Chetaquera di 17.1287°S 14.8938°BT – yang juga melibatkan serangan pertahanan-penekanan dari SAAF – dan serangan di kompleks Dombondola di 17.333°S 14.8334°BT oleh pasukan infanteri ringan. Para perencana operasi dihadapkan pada masalah yang signifikan.

Sementara kompleks Chetequera dan Dombondola hanya berjarak sekitar 35 km dari perbatasan dengan Afrika Barat Daya/Namibia (saat itu berada di bawah kendali Afrika Selatan), sehingga memungkinkan serangan konvensional, Cassinga berada 260 km dari perbatasan dan jauh di dalam Angola. Ini berarti bahwa pasukan penyerang konvensional mana pun harus berjuang masuk dan keluar, dan hampir pasti akan memberikan peringatan dini kepada tentara PLAN (Tentara Pembebasan Rakyat Namibia – sayap bersenjata SWAPO) di Cassinga, serta membiarkan mereka dan para pemimpin seperti Jerobeum ‘ Dimo’ Amaambo (Panglima PLAN, yang saat itu tinggal di Cassinga) dan Greenwell Matongo untuk melarikan diri. Cassinga selanjutnya terletak di sebuah bukit kecil, diapit oleh sungai di sisi baratnya, dan lapangan terbuka di arah lain, faktor-faktor yang digabungkan untuk memberikan keuntungan bagi setiap mereka yang bertahan. Namun, laporan intelijen Pasukan Pertahanan Afrika Selatan (SADF) telah memastikan bahwa SWAPO – dan mungkin penasihatnya – terbuai dalam rasa aman palsu karena jarak Cassinga dari perbatasan Namibia di selatan. Pengarahan intelijen militer Afrika Selatan sebelum operasi tersebut menunjukkan tidak adanya kesadaran akan perlu adanya unit infanteri atau lapis baja pendukung terdekat untuk mendukung pangkalan tersebut melawan serangan darat, dan meskipun SWAPO telah membangun sistem parit pertahanan terintegrasi dan titik tembak untuk kendaraan AFV (kendaraan tempur lapis baja) beroda/berantai dan unit AAA (senjata anti pesawat), mereka kemudian tidak siap untuk menghadapi serbuan udara gabungan. SADF sebelumnya tidak menunjukkan kemampuan seperti itu, hal ini memberikan analis militer tidak memiliki alasan yang cukup untuk curiga bahwa opsi seperti itu tersedia bagi para perencana SADF. Oleh karena itu, para perencana percaya bahwa mereka dapat melakukan serangan mendadak di pangkalan hanya dengan menggunakan pasukan lintas udara bersenjata ringan. Awal tahun itu, Skuadron ke-12 SAAF telah memulai pelatihan untuk peran serangan di ketinggian rendah, menggunakan senjata anti-personil seperti bom cluster. Orang-orang Afrika Selatan tahu tentang keberhasilan Operasi Eland dan Operasi Dingo, serangan pre-emptive yang dilakukan dalam dua tahun sebelumnya oleh Rhodesian Selous Scouts melawan pasukan gerilya yang berbasis di Mozambik, dan mencontohkan serangan mereka dengan banyak prinsip yang sama. Meskipun merupakan rencana yang berisiko, diputuskan bahwa elemen kejutan akan lebih besar daripada kerugian karena tidak adanya elemen lapis baja pendukung di darat.

Untuk memimpin batalion penerjun payung dalam serangan itu, Afrika Selatan memilih seorang veteran dari padang semak Angola, Jan Breytenbach. Sebanyak 377 penerjun payung dibagi menjadi empat kompi (Alpha, Bravo, Charlie, Delta) dan dua peleton senapan. Para penerjun payung akan dijatuhkan dari pesawat C-130 Hercules dan C-160 Transall, didukung oleh empat pesawat pengebom Canberra, lima pesawat pengebom tempur Buccaneer, dua pesawat pengebom Mirage untuk perlindungan udara, dan sebuah pesawat Douglas DC-4 untuk mengacaukan komunikasi radio musuh. Tugas dari DC-4 ini adalah untuk mencegat semua transmisi radio pihak Angola, Kuba dan SWAPO, sebelum mengganggu jaringan komunikasi mereka pada waktu yang tepat. Keberhasilan pengacauan jaringan komunikasi SWAPO, Angola dan Kuba adalah salah satu alasan keterlambatan reaksi oleh salah satu dari dua negara terakhir dalam menanggapi serangan tersebut. Memainkan peran pendukung adalah sebuah pesawat Cessna C-185, yang terbang di area target dan bertindak sebagai pos pengamatan serta pesawat relai radio. Lima helikopter Super Frelon dan 13 helikopter Puma akan digunakan sebagai armada ekstraksi (penarikan mundur). Rencana tersebut, yang dibagi menjadi empat tahap, akan dimulai pada pukul 08.00 pada tanggal 1 Mei. Fase pertama, penerjunan itu sendiri, akan dimulai lima menit setelah pengeboman udara di Cassinga oleh pesawat pengebom Canberra dan Buccaneer. Fase kedua akan dimulai dengan pasukan terjun payung yang dibentuk menjadi dua kelompok, pasukan penyerang dan pasukan pengeblokan. Kompi Alpha dan Bravo akan mendarat di sisi barat Cassinga, menyerang dari barat ke timur ke dalam kompleks. Kompi Charlie dan Delta akan mendarat di sisi timur dan selatan, sebagai pasukan pengeblokan. Dua peleton senapan independen akan terjun payung di sebelah utara Cassinga untuk membersihkan dan mempertahankan tepi utara desa.



Fase kedua akan berakhir pada pukul 09.45. Fase ketiga adalah fase pembersihan, dengan para tahanan dikumpulkan dan informasi intelijen dikumpulkan. Fase terakhir, ekstraksi, akan dilakukan dalam dua shift. Operasi akan berakhir pada pukul 12.00. Komando keseluruhan berada di tangan Mayor Jenderal Ian Gleeson, yang akan tetap berada di Namibia selama serangan berlangsung. Breytenbach akan turun bersama pasukannya, seperti halnya perwira eksekutif serangan, Komandan Lewis Brand. Kompi Alpha dipimpin oleh Kapten Gerrit Swart, yang di bawah komandonya terdapat dua peleton senapan dan dua mortir kaliber 60mm. Kompi Bravo, di bawah pimpinan Kapten Hugo McQueen, terdiri dari dua peleton senapan dan dilengkapi dengan mortir. Kompi Charlie berada di bawah Komandan Monty Forbes dan terdiri dari dua peleton senapan. Kompi Delta dikomandani oleh Kapten Tommy Smit. Di samping dua peleton senapan, ada sekelompok pasukan zeni dan spesialis antitank. Dua peleton senapan dibagi antara Letnan Johan Witt dan Piet Botha. Dalam melancarkan serangan darat ini Afrika Selatan juga menguji-coba taktik dan peralatan tempur baru, seperti kendaraan tempur Ratel, yang dipersenjatai dengan kanon kaliber 20 mm (nantinya akan ditingkatkan menjadi meriam kaliber 90 mm, yang terbukti mampu menghadapi tank T-55), dan kendaraan anti ranjau Buffel, yang didasarkan pada chassis truk Unimog. Kendaraan yang terakhir ini nantinya akan sukses diekspor ke negara-negara seperti Uganda dan Sri Lanka. Sementara itu para prajurit Afrika Selatan tidak dipersenjatai dengan senapan “Galil” Israel yang berkaliber 5.56 mm, yang nantinya akan dilisensi sebagai senapan R4. Elemen pasukan payung Afrika Selatan masih menggunakan varian senapan FN FAL Belgia yang dikenal sebagai R1. Sebagian besar personel pasukan payung yang diterjunkan ke Cassinga nantinya akan menghargai kemampuan stopping power dari peluru kaliber 7.62 x 51mm yang digunakan oleh R1. Beberapa gerilyawan SWAPO yang bersembunyi dibalik tembok di Cassinga, kabarnya berhasil dinetralkan tentara Afrika Selatan cukup dengan menembaki tembok yang dipakai bersembunyi. Ini adalah pencapaian yang tidak mampu dilakukan oleh senapan R4.


Sementara itu senjata terberat yang digunakan oleh pasukan payung Afrika Selatan adalah mortir M4 Commando kaliber 60 mm yang dikenal juga sebagai Patmor (Patroli Mortar). Kemudian untuk menghadapi ancaman kendaraan lapis baja, mereka mengandalkan granat berpeluncur roket RPG-7V, yang ironisnya menjadi senjata standar SWAPO. Jika para penyerang mendapat serangan dari FAPLA (sayap militer dari MPLA) dan pasukan Kuba, Angkatan Udara Afrika Selatan diharapkan dapat menetralisir ancaman ini dan mengevakuasi pasukan penyerang dengan menggunakan helikopter. Namun karena embargo yang dialami Afrika Selatan, jumlah helikopter yang tersedia terbatas, khususnya helikopter besar Super Frelon. Tulang punggung armada helikopter AU Afrika Selatan (South Africa Air Force/SAAF) adalah helikopter Puma, yang hanya bisa mengangkut 10 prajurit masing-masing. Untuk mengatasi masalah ini Helicopter Admin Area (HAA) harus dibuat di wilayah Angola, dimana helikopter-helikopter akan menunggu sampai operasi selesai sebelum melakukan penjemputan. Ini sendiri mengandung risiko. Jika sampai rahasia operasi di Cassinga terbongkar, pasukan yang dilibatkan terancam terjebak tanpa ada sarana untuk menyelamatkan diri. Di sisi lain yang mengkhawatirkan adalah keberadaan pasukan gabungan Kuba/FAPLA di Techamutete yang dilengkapi dengan tank T-34 dan kendaraan lapis baja BTR-152. Walau berdasar standar di era modern kendaraan-kendaraan tempur ini sudah ketinggalan jaman, dan akan menjadi santapan mudah bagi pasukan konvensional, akan tetapi menghadapi pasukan payung yang akan diterjunkan di Cassinga, mereka adalah ancaman yang mematikan. T-34 dilengkapi dengan meriam kaliber 85mm sedangkan BTR-152 dipersenjatai dengan senapan mesin kaliber 12,7mm dan bisa membawa 12 prajurit. Jika pasukan Kuba memutuskan untuk menyerang, mereka bisa mengandalkan dukungan udara dari jet-jet tempur MiG-21, yang sudah ditempatkan di Angola sejak akhir bulan Desember 1976. Jika skenario terburuk ini terjadi, pasukan Afrika Selatan bisa dibantai seperti pasukan payung Inggris di Arnhem selama Operasi Market Garden tahun 1944.



Pada tanggal 23 Maret, Letnan Jenderal Constand Viljoen memberitahu Jenderal Magnus Malan, bahwa berdasar informasi intelijen, SWAPO telah memprediksi bahwa pasukan diluar Bloemfontein dilatih untuk melakukan penyerangan ke Angola. Kebocoran informasi ini diduga berasal dari Commodore Dieter Gerhardt dari Angkatan Laut Afrika Selatan. Gerhardt pada tahun 1983 terungkap telah menjadi mata-mata Soviet sejak awal tahun 1960-an. Bagaimanapun persiapan terus berlangsung. Dalam minggu-minggu terakhir sebelum serangan, batalion-batalion pasukan payung berlatih, kru mortir membiasakan diri menembakkan mortir kaliber 60mm dengan tidak menggunakan bipod alas dan pembidik, para penembak RPG berlatih menghancurkan bunker, sementara unit-unit infanteri berlatih taktik menembak dan bergerak. Kini semua menjadi sadar bahwa sesuatu sedang terjadi. Bagi para prajurit ini adalah latihan paling intensif yang mereka jalani. Pada tanggal 30 April latihan lengkap dilakukan dan di tanggal 2 Mei mereka yang terlibat dalam serangan di-briefing oleh Kolonel Breytenbach. Total kekuatan yang dikerahkan adalah 1/3 dibawah kekuatan batalion pada umumnya. Seperti biasanya, Breytenbach tidak berbasa-basi. “Cara tercepat dan termudah untuk membunuh pasukan payung adalah menembaknya tepat setelah ia mendarat, tetapi jika kamu membiarkannya untuk mengkonsolidasikan diri, kamu akan kehilangan kesempatanmu.”, demikian katanya. Namun seperti petuah Napoleon, “tidak ada satupun rencana serangan yang bertahan setelah 5 menit”, penerjunan ke Cassinga tidak terkecuali. Kabinet Afrika Selatan sebenarnya ragu-ragu untuk mengizinkan operasi tersebut, karena takut akan reaksi internasional, tetapi pada tanggal 2 Mei 1978 Perdana Menteri, John Vorster, akhirnya menyetujui operasi tersebut. Tanggal 4 Mei secara khusus dipilih karena waktu itu debat Dewan Keamanan PBB tentang Afrika Barat Daya telah berakhir. Ini dilakukan untuk “menghindari mempersulit posisi negara-negara yang mendukung Afrika Selatan”.
KEKUATAN LAWAN
PLAN, unit bersenjata SWAPO, adalah tentara gerilya dan karena itu tidak memiliki struktur komando dan kendali tradisional. Dengan demikian, tidak mungkin menentukan komposisi unit-unit ini di dalam Cassinga. Menurut temuan TRC (Truth and Reconciliation Commission), unit pertahanan diri yang ditempatkan di Cassinga terdiri dari sekitar 300 kader PLAN pria dan wanita (sumber lain menyatakan sekitar 300 hingga 600 orang). Bagian area militer di Cassinga dengan mudah dipisahkan dari bagian non-militer. Komandan keseluruhan PLAN di kota adalah Dimo Amaambo, yang bertanggung jawab atas koordinasi semua tindakan PLAN di Angola Selatan, termasuk penyerangan ke Afrika Barat Daya/Namibia. Markas besar seperti Cassinga menempati urutan kedua setelah Lubango, yang merupakan markas besar militer SWAPO secara keseluruhan di Angola. Selain sistem parit dan bunker, peralatan pertahanan di Cassinga termasuk dua senjata anti-pesawat ZPU-4 kaliber 14,5 mm, satu senjata anti pesawat ZU-23-2 kaliber 23 mm, dan sekitar satu atau dua senjata anti pesawat kaliber 12,7 mm. Senjata-senjata ini juga mampu digunakan dalam peran serangan darat. Kehadiran militer Kuba terdekat adalah 15 km di selatan Cassinga, di desa Techamutete, terletak di 15.2332°S 16.04°BT. Pasukan Kuba terdiri dari batalion mekanis yang diperkuat dari setidaknya empat tank T-34, 17 kendaraan pengangkut personel lapis baja BTR-152, tujuh truk dan empat senjata anti-pesawat, disertai sekitar 400 tentara. Unit ini diketahui intelijen SADF, yang telah mencegat lalu lintas radio mereka, dan juga mengetahui operasi anti-UNITA yang dilakukan mereka. Kekuatan mereka diperkirakan mencapai 144 personel pada bulan Oktober 1977, dan merupakan faktor utama dalam pemilihan operasi serbuan udara daripada serangan darat. Dalam pengarahan bagi awak pesawat yang menyerang, Kepala Staf Intelijen SAAF secara spesifik mengatakan bahwa tidak ada formasi militer yang diketahui dalam jarak 80 mil (128 km), kecuali satu detasemen ‘polisi Afrika’ dengan satu truk. Dalam tanya jawab, ketika ditanyai oleh komandan dan awak pesawat dari 2 komponen serangan, yang terdiri dari pesawat-pesawat Canberra dan Buccaneer, dia bersikeras bahwa formasi Kuba yang hanya berjarak sekitar 15 km ke selatan di Techamutete adalah suatu ‘kejutan total dan pasti telah dikerahkan di sana dalam beberapa hari terakhir’. Tentu saja, tidak ada pengintaian foto atas persimpangan desa/jalan yang diperintahkan, tetapi dapat dengan mudah dimasukkan dalam penerbangan PR Canberra di Cassinga nantinya.



MENGADAPTASI RENCANA AWAL
Pada pukul 16:30 tanggal 3 Mei, pasukan payung meninggalkan Bloemfontein dan mendarat di Grootfontein pada pukul 20:30. Para prajurit kemudian menggunakan waktunya untuk mengecek lagi persenjataan dan peralatannya. Senjata dan magasin-nya dibongkar dan dibersihkan, peledak pada mortir kaliber 60mm diperiksa, roket RPG-7V dicek, baterai baru untuk radio A52 dimasukkan, peralatan komunikasi dicek, dan berbagai urusan pribadi diatur, termasuk menulis surat untuk orang-orang terkasih. Mereka kemudian tidur pada pukul 22.00. Dalam waktu kurang dari 6 jam lagi mereka akan memulai misi. Pada sore hari tanggal 3 Mei, Pangkalan Angkatan Udara di Waterkloof sibuk, saat para kru mengisi 4 pesawat pembom Canberra dengan masing-masing “300 bom golf“. Bom ini adalah hasil kreasi Rhodesia, yang didesain untuk terlontar 10 meter setelah jatuh diatas tanah sebelum meledak. Ini adalah bom anti personel yang sangat baik. Sementara itu 5 pesawat serang Buccaneer dari Skuadron ke-24 (yang dikenal sebagai The Pirates) dipasangi dengan 36 roket SNEB kaliber 68mm dan 7 bom berpeledak tinggi ukuran 450 kg. Di Ondangwa, sabuk peluru berpeledak tinggi dan penembus baja kaliber 30mm dipasang pada kanon 4 pesawat tempur Mirage III yang dipersenjatai hanya dengan rudal udara-ke-udara Sidewinder yang mendarat pada pukul 16:50. Kemudian di Oumani, helikopter-helikopter menunggu perintah penugasan. Para prajurit pasukan payung bersiap lagi pada pukul 01.00 dinihari tanggal 4 Mei 1978. Senapan dicek lagi, pin granat dipastikan aman dan diisolasi di tempatnya (pin pengaman diluruskan untuk kemudahan pelepasan), magasin senapan diisi peluru, dengan memastikan peluru kedua terakhir adalah peluru tracer, penembak RPG memastikan peluru roket yang dibawanya dan memastikan pin pengamannya aman, sedangkan kru mortir memastikan peledaknya dalam kondisi kering. Makan pagi yang dihidangkan terdiri dari roti coklat dan kopi. Tidak banyak juga yang mengambil makanan. Beberapa hanya meneguk kopi dan merokok. Setiap orang lalu mengecek peralatan rekannya. Pada pukul 04:15 para prajurit bergerak menuju pesawat transport yang siap menerbangkan mereka, yakni 4 pesawat C-130 Hercules dan 5 pesawat C-160 Transall.


Penerbangan pertama pesawat-pesawat pembom Canberra lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Waterkloof dekat Pretoria pada pukul 0519 tanggal 4 Mei. Mereka diikuti oleh 4 pesawat serang Buccaneer dari Skuadron ke-24 yang terbang lebih lambat 20 menit kemudian, keduanya akan tiba di atas Cassinga sekitar pukul 0750. ‘Buccaneer‘ yang bermuatan berat hanya dapat terbang pada ketinggian sedang, jadi kecepatan udara sebenarnya (TAS) mereka jauh lebih rendah daripada ‘Canberra‘, yang terbang lebih dari 10.000 kaki (3.000 m) lebih tinggi. Pesawat Buccaneer kelima dari unit serang Buccaneer tertunda penerbangannya karena masalah rem, sehingga menyisakan empat Buccaneer yang tersedia untuk serangan awal. Pesawat-pesawat angkut lepas landas dari Pangkalan Angkatan Udara Grootfontein di Namibia pada pukul 06.00. Dua dari pesawat C-160 Transall, membawa kompi cadangan yang terdiri dari 116 pasukan payung, lepas landas dan terbang dalam pola holding pattern tepat di selatan perbatasan agar siap sedia untuk menjatuhkan bala bantuan selama pertempuran. Enam pesawat angkut yang tersisa melanjutkan perjalanan menuju titik penahanan beberapa mil di sebelah timur Cassinga. Sekitar pukul 06.30, pesawat ELINT/EW Douglas DC-4 mengudara dan menetap di pola holding pattern tepat di selatan perbatasan.


Saat 9 pesawat angkut lepas landas, sebuah pesawat Buccaneer lain, yang dipersenjatai dengan 72 roket SNEB kaliber 68mm meninggalkan Waterkloof menuju ke Grootfontein dimana mereka akan siap sedia jika dukungan udara dibutuhkan. Sebelumnya dua helikopter Puma berangkat dari Omauni untuk mempersiapkan HAA. Pilot yang menerbangkan helikopter pertama adalah Commandant John Church yang akan memimpin elemen helikopter selama operasi. Letnan Jenderal Constand Viljoen menjadi yang pertama kali mendarat di helikopter pertama. Viljoen, seperti pendahulunya dalam Perang Boer, percaya bahwa pemimpin harus ada di depan. Kebiasaannya ini, nyaris membunuhnya dalam operasi Reindeer, saat ia terlempar keluar dari sebuah Ratel yang menginjak ranjau anti-tank TM46. Tidak ada satupun orang di HAA, kemudian memberikan kelegaan bagi semua orang. Radio pengarah lalu dipasang untuk membantu navigasi pesawat-pesawat penyerang dan perintah aman diinfokan ke Ondangwa. 10 helikopter Puma dan 5 Super Frelon lalu berangkat menyusul pada pukul 06.00, terbang di atas puncak-puncak puncak pohon ke area berkumpul helikopter yang ditentukan (HAA), 14 mil (22,5 km) sebelah timur Cassinga, tiba pada pukul 06.30 dan bersiap dengan peralatan pengisian bahan bakar (lengkap dengan 86 drum bahan bakar berkapasitas masing-masing 200 liter) untuk helikopter, 6 personel medis, 42 pasukan keamanan, dan suar radio untuk membantu pengarahan navigasi pesawat-pesawat di atas kepala. Afrika Selatan telah menyempurnakan taktik mempersiapkan HAA jauh dibelakang garis lawan selama perang di Rhodesia, ketika mereka membantu pemerintahan Ian Smith dalam menghadapi ZANLA dan ZIPRA. HAA kemudian siap, dan 17 helikopter mengisi bahan bakar serta menunggu panggilan untuk mengevakuasi pasukan payung setelah penyerangan selesai. Juga sekitar pukul 07.00 pesawat Cessna C-185 lepas landas dan mulai terbang menuju Cassinga. Perannya dalam operasi tersebut adalah menjadi pos pengamatan udara, memberikan izin untuk penerjunan pasukan terjun payung, serta menjadi pesawat relai radio (dikenal sebagai “tugas Telstar” di SAAF). Nantinya pesawat ini akan terpaksa mundur karena tembakan anti-pesawat yang berkelanjutan. Sekitar pukul 07.50 dua pesawat tempur Mirage III lepas landas, langsung menuju Cassinga.


Dua menit setelah dimulainya operasi, pesawat-pesawat pembom Buccaneer dan Canberra memulai pengeboman. Keterlambatan dua menit ini karena navigator pesawat pemimpin gagal mempertahankan penyesuaian waktu yang efektif selama fase penerbangan pendekatan di ketinggian rendah sejauh 200 mil laut (370 km). Ini bagaimanapun tidak membuat perbedaan pada efek yang diinginkan. Pesawat-pesawat Canberra sengaja terbang kearah timur 20 km menjauh dari target untuk menjaga unsur kerahasiaan sebelum berbalik ke Cassinga. Sekitar ada pukul 08:00 para pengebom melintasi desa dari utara ke selatan pada ketinggian 500 feet (150 m) dengan kecepatan 300 knot (555,6 km/jam), membanjirinya dengan ratusan bom anti-personil. Bom-bom “Golf” berfungsi dengan baik saat memantul keudara dan meledak dengan menjatuhkan hujan pecahan logam tajam seperti jarum yang bisa menembus daging dan tulang. Karena pengeboman telah diatur waktunya bertepatan dengan apel harian SWAPO di lapangan parade, sebagian besar orang di kamp berkumpul di tempat terbuka ketika pesawat-pesawat Canberra memulai serangan bom fragmentasi di ketinggian rendah dari utara. Masing-masing dari empat pesawat Canberra menjatuhkan 300 bom “golf” (masing masing merupakan bom berbobot 10-kilogram). Sebuah zona berukuran sekitar 800 meter kali 500 meter terefek bom, dimana setiap pesawat memiliki ‘jalur pengebomannya’ sendiri. Senjata-senjata itu sangat efektif melawan kelompok yang berkumpul di bawah, yang menyebabkan sebagian besar korban SWAPO pada hari itu, dan juga menghancurkan kendaraan, tangki penyimpanan POL (“Petroleum Oil Lubricants“, akronim militer untuk cairan yang mudah terbakar) dan bangunan “lunak” lainnya. Setelah para pengebom Canberra menjalankan tugasnya, pesawat-pesawat Buccaneer gantian menyerang dengan yang menerbangkan pengeboman tukik di sepanjang sumbu timur-barat dari ketinggian 150 meter menjatuhkan bom-bom berbobot 450 kg berpeledak tinggi. Tiga pesawat Buccaneer ditugaskan untuk menyerang kota, sedang satu lagi menyerang kamp Veteran. Pesawat yang terakhir benar-benar luput dalam menghantam sasaran, tetapi dua pesawat Mirage III kemudian menembaki sasaran dengan kanon kaliber 30mm. Hasil foto dari kokpit salah satu pesawat menunjukkan garis grafik dari serangan bom sebelumnya, yang kemudian dirilis ke pers Afrika Selatan keesokan harinya. Dari total tiga puluh dua bom konvensional seberat 1.000 lb (450 kg) yang dijatuhkan oleh empat Buccaneer di ‘titik sasaran’ yang teridentifikasi, 24 bom jatuh tepat sasaran, menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Semua pesawat kecuali sebuah Buccaneer yang melaksanakan tugas CAS kemudian terbang kembali ke pangkalan udara di Afrika Barat Daya (Namibia) untuk mengisi bahan bakar dan mempersenjatai kembali untuk memberikan dukungan udara jarak dekat jika diperlukan – Mirage terbang ke pangkalan angkatan udara Ondangwa, Canberra, Buccaneer dan C-130/C-160 ke pangkalan angkatan udara Grootfontein, tempat tim pendukung dan material mereka telah diangkut dari Pretoria pada pagi hari. Pesawat-pesawat Canberra dan Buccaneer kemudian digunakan untuk serangan selanjutnya di kompleks Chetequera.



Setelah pesawat pesawat serang menyelesaikan pengeboman mereka, enam pesawat angkut, yang telah menunggu di timur, memulai penerbangan formasi mereka menuju Cassinga di ketinggian 200 kaki (60 m). Sesaat sebelum mencapai Cassinga, enam pesawat naik ke ketinggian 600 kaki (180 m), ketinggian penerjunan, dan berbaris untuk melakukan penerjunan. Para pembom menyebabkan kerusakan signifikan pada lapangan parade, meninggalkan pemukiman yang dirusak oleh ledakan dan terbakar akibat serangan udara. Meskipun hancur, senjata antipesawat dari pangkalan membuka tembakan ke pasukan terjun payung Afrika Selatan. Banyak pasukan terjun payung segera menyadari bahwa kesalahan kritis telah dibuat. Penerbangan pengintaian setelah penemuan Cassinga dilakukan pada ketinggian yang kurang optimal. Petugas intelijen yang membantu merencanakan operasi mengira foto-foto itu diambil di tempat yang lebih tinggi. Saat merencanakan penerjunan penting antara Cassinga dan sungai terdekat, mereka yakin pasukan terjun payung akan memiliki lebih banyak ruang. Menambah kesalahan, penerjunan dimulai tiga detik terlambat. Pilot-pilot pesawat angkut tidak dapat melihat zona penerjunan karena asap bergolak dari Cassinga menutupi zona pendaratan. Angin timur laut yang bertiup kencang menggeser pasukan terjun payung ke barat daya. Dua pertiga mendarat di sebelah timur sungai. Sebagian besar Kompi Bravo berakhir di sisi barat sungai dengan unit staf batalion. Breytenbach, yang tiba di tepi timur, segera menyadari situasi yang mengerikan itu. Garis waktu Fase 1 meminta pasukan terjun payung untuk berkumpul kembali dalam 15 menit untuk menyerang Cassinga. Ketidakmungkinan pelaksanaan rencana itu mengakibatkan perubahan harus dibuat di tempat. Alih-alih bergerak dari barat ke timur, kedua kompi penyerang akan menyerang ke timur laut dan bergerak dari selatan ke utara saat membersihkan kota. Kompi Alpha dan Swart, sudah menyeberangi sungai, bergerak ke timur laut, membersihkan kantong-kantong SWAPO secepat mungkin. Mengikuti di belakang adalah Breytenbach dan campuran pasukan terjun payung dan unit mortir Alpha dan Bravo. Para pemimpin SWAPO, banyak dari mereka keluar dari Cassinga setelah serangan udara yang brutal, gagal mengatur pertahanan pangkalan yang signifikan. Demoralisasi oleh serangan tiba-tiba dan tanpa arah yang jelas, gerilyawan SWAPO hanya berfungsi sebagai penahan kecepatan sementara bagi pasukan terjun payung yang maju dan bersenjata lebih baik. Kompi di bawah Forbes terjun ke timur Cassinga. Angin mengakibatkan penerjunan dua mil (3,2 km) lebih jauh ke selatan dari yang direncanakan. Bingung, Forbes menyia-nyiakan waktu penting bergerak ke selatan dan bertemu dengan Kompi Delta di bawah pimpinan Smit. Kembali ke utara, Kompi Charlie terlambat 45 menit di sisi timur Cassinga, menjadi semakin frustrasi saat menunggu perintah dari Breytenbach.

SERANGAN KE CASSINGA DIMULAI
Kompi Delta mendarat di sebelah barat, kemudian berkumpul kembali, dan melanjutkan untuk membersihkan kompleks teknis. Dengan menggunakan roket antitank, granat, dan senapan, Kompi Delta melanjutkan untuk membersihkan bangunan-bangunan tersebut, mengusir sebagian besar gerilyawan SWAPO ke semak-semak di sebelah selatan. Yang paling dekat dengan bahaya bagi Kompi Delta adalah ketika tempat penyimpanan amunisi di dekatnya meledak dan pasukan Kompi Bravo mulai menembaki pasukan penerjun payung Kompi Delta secara keliru. Setelah mengatur zona tembak mereka, pasukan Smit dapat membersihkan beberapa bunker tersembunyi dan memasang ranjau darat serta zona pembunuhan untuk roket antitank mereka. Dua peleton senapan independen, No.9 dan No.11, diterjunkan dengan cukup akurat ke sebelah utara. Mereka segera beraksi, bergerak melalui sebuah kemah tenda di barat laut Cassinga, melewati daerah yang dibom. Perlawanan sengit sempat terjadi tetapi berumur pendek, dan total 54 mayat musuh dihitung oleh kedua peleton sebelum mereka mengambil posisi mereka di sepanjang ujung utara pangkalan untuk menutup rute pelarian musuh. Peleton pimpinan Botha terus bergerak ke arah tenggara menuju parit-parit di Cassinga. Witt turun ke sebuah kompleks perumahan di sebelah utara yang juga dibersihkan dengan cepat. Dengan membangun penghalang jalan di jalan utara, Witt bergerak ke selatan, bergabung dengan Botha, dan terus bergerak ke selatan, mencapai kompleks parit yang mempertahankan Cassinga. Peleton Witt memanjat ke dalam parit dan menggunakan senapan dan granat untuk membersihkannya. Serangan ke Cassinga seharusnya selesai pada pukul 09.45. Namun, pada saat itu, Kompi Alpha dan Bravo masih melakukan serangan setelah bergerak ke utara dan bergabung dengan Kompi Delta. Peleton Witt terlibat dalam pertempuran di parit parit, dan Kompi Charlie semakin gelisah sambil menunggu perintah lebih lanjut. Di sekelilingnya, pasukan SWAPO memasang pertahanan terakhir di seluruh medan perang. Kompi Bravo mendapat perlawanan terbatas saat pasukan terjun payung secara metodis membersihkan rumah-rumah di bagian selatan Cassinga, merebut rumah sakit dan menangkapi gerilyawan SWAPO. Kompi Charlie bergerak menyerang, menyerang parit-parit di sisi timur Cassinga dan menemukan parit-parit pelarian yang digunakan oleh personel SWAPO untuk menghindari barisan penerjun payung. Dengan menyisir parit-parit tersebut secara metodis, pasukan Forbes membersihkan bagian timur Cassinga. Tembakan sniper berat diarahkan ke pasukan payung dari sejumlah pohon di dalam pangkalan, mereka menjadi sasaran tembakan senjata recoilless B-10, dan beberapa gerilyawan SWAPO telah berkumpul kembali, menggunakan rumah sebagai perlindungan untuk menembaki pasukan payung, yang melukai dua orang secara kritis. Sementara itu dua kompi yang menyingkir, setelah bergerak ke timur laut untuk mencapai Cassinga, terpecah menjadi dua formasi. Kompi Alpha dan Breytenbach memulai serangan melintasi semak-semak terbuka di sebelah barat Cassinga, membersihkan tempat parkir kendaraan tetapi ditembaki oleh senjata antipesawat ZPU-2 kaliber 14,5 mm. Perlindungan udara – dari pesawat-pesawat tempur Mirage III, pesawat pembom Canberra, dan pesawat pembom Buccaneer – tidak dapat menyerang sedekat itu dengan pasukan mereka. Brand, mengikuti Kompi Bravo, mendirikan markas lapangan di rumah sakit yang berhasil direbut.



McQueen memerintahkan Kompi Bravo bergerak mengepung senjata antipesawat, tetapi tembakan yang menyapu membuat mereka tidak bisa mendekati emplasemen senjata. Brand lalu memerintahkan Kompi Delta bergerak ke utara untuk mendukung kompi Alpha dan Bravo. Pada akhirnya, Kolonel Breytenbach memerintahkan komandan Kompi Delta untuk mengambil beberapa orang dan bergerak menuju senjata anti pesawat musuh dengan menyerang parit di sebelah barat Cassinga. Dia juga memerintahkan peleton mortir untuk mulai menyerang senjata anti pesawat. Saat memasuki parit, orang-orang dari Kompi Delta terkejut menemukan sejumlah warga sipil, yang kemudian mereka nyatakan digunakan sebagai tameng manusia oleh gerilyawan yang bersembunyi di dalam. Gerilyawan menembaki pasukan payung, memaksa pasukan payung untuk memasuki apa yang mereka gambarkan kemudian sebagai mode “membunuh atau dibunuh”, di mana tidak mungkin untuk mencegah kematian warga sipil di parit. Meskipun sejumlah warga sipil terbunuh di parit-parit itu, saat pasukan payung bergerak maju, semakin sedikit mereka bertemu dengan warga sipil sampai semakin dekat senjata, semua yang ada di parit, pria dan wanita, mengenakan seragam SWAPO gaya Kuba. Sementara itu, Peleton ke-9 telah memasuki parit dari utara, meskipun bergerak lambat karena mereka menarik perhatian para penembak. Setelah kombinasi serangan melalui parit dan tembakan mortir, senjata anti pesawat musuh bisa dibungkam. Jumlah korban yang timbul hingga itu dapat diterima oleh orang Afrika Selatan; setidaknya ada 95 petempur SWAPO tewas di dalam parit dan di sekitar senjata anti pesawat. Tiga pasukan terjun payung diketahui juga telah tewas. Setelah menyelesaikan penyerangan kompleks insinyur, Kompi Delta pindah ke selatan untuk membuat garis pemblokiran dan mencegah gerilyawan melarikan diri melalui rute itu. Mereka juga mengirim peleton anti-tank untuk menyergap tank di jalan menuju Techamutete.
PENARIKAN DIBAWAH TEMBAKAN GENCAR
Dengan penghancuran senjata antipesawat dan penghapusan ancaman serius terakhir terhadap pasukan terjun payung, pasukan Afrika Selatan mulai mengatur ulang untuk proses ekstraksi dan pengumpulan data intelijen. Saat itu serangan telah terlambat dua jam dari jadwal, dengan proses ekstraksi helikopter pertama seharusnya telah dilakukan pada pukul 10.00 sesuai rencana awal. Brigadir Du Plessis, selaku komandan Brigade Pasukan Payung memberi tahu Kolonel Breytenbach tentang hasil intersepsi radio, yang menunjukkan bahwa pasukan Kuba di Techamutete sedang dikerahkan. SADF telah diberikan instruksi operasional yang eksplisit untuk menghindari konflik dengan tentara Kuba, tetapi penundaan yang terjadi dari pihak SADF sekarang membuat kemungkinan yang berbeda. Brigadir Du Plessis bersikeras untuk segera mengeluarkan semua pasukan, namun Kolonel Breytenbach ingin mengamankan LZ terlebih dahulu. Sebuah kompromi kemudian disepakati di mana setengah dari pasukan terjun payung akan dipindahkan ke LZ di mana 12 helikopter Puma akan mengekstraksi mereka, sementara sisanya akan melanjutkan operasi pembersihan, serta mengumpulkan setiap dan semua dokumen yang bernilai intelijen. Setelah menyelesaikan pengumpulan data intelijen dan tahanan, kompleks utama akan diledakkan oleh tim penghancur. Brand lalu memanggil helikopter untuk bisa diekstraksi. Ekstraksi seharusnya dimulai dengan Kompi Bravo, tetapi Brand memerintahkan yang terluka dibawa keluar terlebih dahulu. Dua belas helikopter Puma tiba dan memulai proses ekstraksi. Pagi yang berangin berganti menjadi sore yang berdebu dan panas. Saat helikopter mundur, pada pukul 13:00 pesawat-pesawat pengebom Buccaneer dan Canberra melihat barisan 30 tank, kendaraan lapis baja dan truk Kuba yang mendekat. Kemajuan orang-orang Kuba membuat orang-orang Afrika Selatan sibuk. Pengangkutan helikopter kedua dipanggil dan pasukan terjun payung dipanggil kembali ke zona pendaratan timur. Di antara mereka dan barisan tentara Kuba yang bergerak maju adalah barisan penembak antitank dan Angkatan Udara Afrika Selatan. Barisan tentara Kuba dipimpin oleh lima tank T-34 dan sejumlah besar kendaraan pengangkut personel lapis baja BTR-152. Di atas kepala, pengebom Buccaneer dan pesawat-pesawat Mirage membom dan memberondong barisan yang mendekat. Pesawat-pesawat tempur dan pengebom berhasil menghancurkan atau melumpuhkan sejumlah kendaraan lapis baja BTR-152, memaksa mereka berlindung di hutan dan semak belukar.


Tetapi kemudian pesawat-pesawat serang harus kembali ke pangkalan angkatan udara Grootfontein untuk mempersenjatai kembali dan mengisi bahan bakar, meninggalkan sekitar 200 pasukan terjun payung yang tersisa untuk sementara tidak terlindungi. Yang berdiri di antara mereka dan pasukan lapis baja musuh yang bergerak maju hanyalah 22 orang dari peleton anti-tank, yang hanya dipersenjatai dengan 10 peluncur roket RPG-7 dan lima ranjau anti-tank yang telah mereka tanam di jalan. Sebuah tank T-34 lalu diledakkan oleh roket antitank dari pasukan pemblokiran Kompi Delta. Mereka juga membunuh sekitar 40 tentara Kuba sebelum melakukan ‘pertempuran sambil bergerak mundur’ dan kembali di sepanjang jalan menuju Zona Pendaratan Helikopter (HLZ) di timur Cassinga tempat Breytenbach mengatur pasukan payung yang tersisa untuk diekstraksi. Di hadapan barisan lapis baja yang mendekat, Breytenbach memerintahkan pembentukan garis pertahanan yang tipis, tetapi menyadari bahwa pasukan payung bersenjata ringan memiliki sedikit peluang melawan kendaraan lapis baja, sehingga mereka bersiap untuk mundur ke semak-semak ke LZ darurat sambil segera meminta dukungan udara. Keberhasilan awal serangan SADF sekarang tampaknya seperti akan berubah menjadi bencana dengan prospek pasukan mereka akan segera dihancurkan oleh pasukan lapis baja Kuba, 150 mil (240 km) ke dalam wilayah musuh. Jenderal Viljoen, yang hingga saat ini mengenakan pangkat dan baretnya, kemudian mencopot dan menyembunyikannya. Pada pukul 14:20, ketika kendaraan AFV Kuba sudah terlihat oleh pasukan terjun payung yang terkepung, sebuah Buccaneer dan dua Mirage III tiba di atas kepala. Seorang Forward Air Controller (FAC) yang berpengalaman di antara pasukan payung mulai mengarahkan ketiga pesawat itu untuk menyerang pasukan lapis baja Kuba yang bergerak maju. Pesawat Mirage III, dengan kanon kaliber 30 mm mereka, menghancurkan 10 BTR-152 sebelum kehabisan bahan bakar dan kembali ke pangkalan angkatan udara Ondangwa. Kanon Mirage tidak dapat menghancurkan tank mana pun, tetapi satu-satunya Buccaneer menghancurkan setidaknya dua tank, posisi senjata antipesawat, dan sejumlah kendaraan lain dengan roket udara-ke-darat SNEB 68 mm. Opsi penggunaan roket sebenarnya telah dihilangkan dari Perintah Operasi asli, tetapi untungnya Komandan Skuadron Buccaneer secara kebetulan memilih untuk memasukkannya ke dalam persenjataan yang diangkut ke pangkalan angkatan udara depan Grootfontein oleh pesawat C-130 Hercules, dengan awak darat dan suku cadang pemeliharaannya. Pilot Buccaneer terus menerus ditembaki oleh senjata anti-pesawat 14,5 mm yang ditarik, di mana dia harus melakukan dua lintasan sebelum dia dapat menghancurkannya dengan roket.


Saat tank T-34 lainnya menabrak ranjau dan meledak, tank-tank T-34 yang tersisa bergerak ke utara dari jalan raya, menuju ke arah helikopter terakhir. Pasukan pemblokiran mundur dan bergabung dengan kompi campuran pasukan terjun payung yang tersisa, menunggu penarikan mereka. Satu-satunya Buccaneer yang tersisa kehabisan amunisi pada saat ini, tetapi ini bertepatan dengan kedatangan 17 helikopter Super Frelon dan Puma untuk mengekstraksi pasukan terjun payung yang tersisa di gelombang kedua. Kedatangan helikopter bagaimanapun membuka posisi LZ bagi pasukan Kuba yang tersisa, yang mulai bergerak maju ke daerah tersebut. Meskipun tidak dapat melihat kendaraan lapis baja, pasukan payung dapat mendengar mesin dan tembakan mereka, dan dapat melihat pepohonan dilindas di jalan yang mereka lewati yang jaraknya cuma sekitar 200 meter (660 kaki) dari posisi pasukan payung. Menembus semak-semak demi semak-semak di belakang pasukan terjun payung adalah sepasang tank T-34. Begitu berada dalam jangkauan meriam, tank T-34 berhenti dan melepaskan tembakan. Dalam upaya putus asa untuk mencegah tank-tank Kuba menembaki helikopter yang rentan dan pasukan Afrika Selatan yang sedang berkumpul menunggu untuk dijemput, pilot Buccaneer menukikkan pesawatnya sangat rendah, hampir menabrak pohon saat dia terbang dekat di atas tank dalam serangan pengecoh, untuk membingungkan kru dan memaksa mereka menghentikan serangan yang berkembang di posisi pasukan payung. Akibatnya ada beberapa lubang di badan pesawat, termasuk satu di kaca pelindung depan berlapis baja, yang perlu segera ditambal oleh awak darat setelah mendarat, mengisi bahan bakar, dan mempersenjatai kembali. Karena disorganisasi dengan proses ekstraksi helikopter gelombang pertama, hampir tidak ada cukup ruang untuk semua pasukan terjun payung dan tahanan yang tersisa pada gelombang kedua. Dalam kekacauan dan kepanikan yang terjadi kemudian untuk berebut naik helikopter, 40 tahanan SWAPO, yang dimaksudkan untuk dibawa kembali ke Afrika Barat Daya untuk diinterogasi, harus dibebaskan untuk meringankan pesawat. Beberapa perlengkapan dan amunisi berlebih juga dibuang dari helikopter yang kelebihan muatan. Rentetan tembakan terakhir dari pasukan terjun payung menghentikan kendaraan-kendaraan lapis baja Kuba yang mendekat cukup lama untuk menyelesaikan proses ekstraksi pasukan terjun payung yang telah berkumpul.



Terlepas dari bahaya dimana mereka akan segera dimusnahkan dari jarak dekat, helikopter mendarat, memuat, dan mulai lepas landas, dengan dibebani pasukan terjun payung. Namun sepuluh menit setelah helikopter-helikopter Super Frelon dan Puma yang tersisa lepas landas dan kemudian terbang rendah di atas semak-semak Angola menuju ke Namibia, dua helikopter Puma di bawah sinar matahari sore diarahkan untuk kembali ke Cassinga, karena dikhawatirkan ada beberapa pasukan payung tertinggal. Mereka melihat sekelompok orang berkerumun bersama, tetapi pemeriksaan lebih dekat mengungkapkan bahwa mereka adalah para tahanan yang tertinggal. Sebuah helikopter lalu terbang dengan total melakukan empat lintasan rendah untuk mencari pasukan payung, ketika salah satu pilot helikopter melihat sebuah tank Kuba muncul dari semak-semak. Dia memperingatkan pilot Pumalainnya, yang mampu membelok tepat pada waktunya sehingga tembakan peluru tank meleset. Tidak ada pasukan terjun payung yang ditemukan dan kedua Puma kemudian kembali ke HAA. Pembongkaran HAA lalu berlanjut sepanjang sisa hari itu. Pada pukul 15.00, salah satu Mirage III kembali ke Cassinga, dan sekali lagi memberondong kendaraan Kuba yang masih ada di jalan, membakar setidaknya satu dari mereka. Pesawat itu diganti pada pukul 15:30 oleh pesawat lain dan sebuah Buccaneer yang mulai menghancurkan lebih banyak kendaraan dan bangunan. Sekitar satu kilometer di selatan Cassinga, pesawat Buccaneer menyerang barisan kendaraan lain, dan diserang tembakan anti-pesawat dalam prosesnya. Buccaneer lain tiba pada 16:45, mengejutkan beberapa orang Kuba yang bergerak melalui reruntuhan dan menghancurkan sebuah tank T-34 dan beberapa senjata antipesawat dalam prosesnya, sementara serangan Mirage dan Buccaneer lebih lanjut pada 17:10 dan 18:35 menghancurkan tank lain dan peralatan lainnya. Hasilnya adalah saat malam tiba hampir seluruh batalyon Kuba telah dihancurkan, menewaskan sekitar 150 tentara Kuba, yang merupakan jumlah korban satu hari terbesar negara itu selama keterlibatan militernya di Angola. Pasukan bantuan brigade tank Angola yang lengkap, tiba saat senja, terlambat untuk memberikan dampak apa pun dan hanya menemukan pemandangan kehancuran di tempat yang dulunya adalah Cassinga. Cassinga akhirnya ditinggalkan sama sekali oleh pasukan Afrika Selatan. Kota itu yang seperti bangkai kapal yang terbakar, kemudian ditempati oleh batalion mekanis Kuba yang hancur. Malamnya, pasukan MPLA muncul untuk merebut kembali kota itu.
KEMENANGAN MILITER, BENCANA DALAM PEMBERITAAN
Pemerintah Afrika Selatan menyatakan serangan terhadap Cassinga sebagai keberhasilan militer yang besar, meskipun bencana nyaris terjadi jika tidak ada intervensi dari SAAF, dan Afrika Selatan harus menghadapi kampanye propaganda SWAPO yang menyebut peristiwa itu sebagai pembantaian. Serangan ke Cassinga memang mencapai banyak tujuan militernya. Penghancuran pangkalan SWAPO telah membawa kemunduran organisasi gerilya itu selama beberapa bulan dan mencegah infiltrasi yang akan datang ke daerah perbatasan. Korban di pihak SADF sangat kecil untuk serangan semacam itu. Hal ini merupakan faktor penting di Afrika Selatan di mana publik tidak toleran terhadap jumlah korban yang tinggi. Berdasarkan catatan pihak Afrika Selatan, tiga tentaranya tewas, satu hilang dalam aksi diduga tewas (mendarat di sungai, gagal muncul lagi), dan sebelas terluka. Menurut Jenderal Constand Viljoen, serangan di Cassinga telah menetapkan strategi SADF untuk sepuluh tahun ke depan, yaitu meluncurkan serangan pre-emptive pada posisi SWAPO di dalam wilayah Angola, meskipun operasi-operasi selanjutnya akan menggunakan kendaraan lapis baja daripada menggunakan metode serbuan udara. Sementara itu meski menimbulkan banyak korban, namun SADF tidak membunuh atau menangkap Dimo Amaambo atau pemimpin senior SWAPO lainnya. Di sisi lain implikasi politik penyerangan itu adalah masalah yang berbeda. Kampanye media telah dipersiapkan dengan hati-hati jauh sebelum operasi dan rilis media dikelola untuk menciptakan kesan bahwa intervensi SADF atas permintaan administrasi SWA (South West Africa), dan untuk melawan laporan negatif tentang tindakan dan klaim militer Afrika Selatan telah membunuh warga sipil tak berdosa. Kampanye ini termasuk fabrikasi dan distorsi tindakan SWAPO. Salah satu batalion parasut secara khusus ditugaskan untuk mengambil foto dan diinstruksikan untuk fokus pada gambar yang mendukung upaya Afrika Selatan. Misalnya korban hanya difoto dengan senjata di sisinya. Citra negatif, seperti korban yang menderita, harus dihindari. Namun demikian, terlepas dari instruksi ini, gambar mayat tanpa senjata dan pasukan payung SADF yang tewas tetap diambil. Menurut buku putih pemerintah Angola, korban resmi Serangan di Cassinga adalah total 624 tewas dan 611 warga sipil terluka serta kombatan. Di antara korban tewas adalah 167 perempuan dan 298 remaja dan anak-anak. Karena banyak kombatan adalah perempuan atau remaja dan banyak kombatan tidak berseragam, jumlah pasti warga sipil yang tewas tidak dapat ditentukan. Sebuah laporan rahasia kepada Komite Pusat SWAPO menyebutkan 582 tewas dan 400 luka-luka.


Siaran pers SWAPO menggambarkan kamp tersebut sebagai pos pengungsi yang diserang oleh orang-orang Afrika Selatan karena kemarahan rezim apartheid yang brutal. Sumber-sumber SWAPO menunjukkan gambar-gambar wanita dan anak-anak yang mati dan deskripsi yang jelas tentang pembantaian brutal, yang merenggut nyawa sekitar 150 tentara Kuba dan sejumlah tentara dan warga sipil yang jumlahnya disengketakan. Sebuah laporan Palang Merah kemudian menemukan bahwa kamp tersebut adalah campuran antara kamp pengungsi dan pejuang gerilya—tidak mungkin untuk mengatakan berapa banyak dari masing-masing. Perdebatan tentang apakah Cassinga adalah kamp militer atau kamp pengungsi (atau keduanya) terus berkecamuk. Senjata dan instalasi militer terlihat dan didokumentasikan di kamp. Pada tahun 1998 Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Afrika Selatan juga menyimpulkan hal itu: “Jelas bahwa dari sudut pandang SADF, Kassinga adalah fasilitas militer daripada kamp pengungsian atau fasilitas transit pengungsi, seperti yang selalu diklaim SWAPO. Bukti fotografis yang diperlihatkan kepada Komisi di arsip SADF menunjukkan adanya dimensi militer di kamp tersebut. Namun, ini tidak dapat dianggap sebagai bukti konklusif bahwa Kassinga adalah pangkalan militer. Dalam konteks perang yang sedang berlangsung di Angola, beberapa benteng pertahanan fasilitas SWAPO mana pun, baik sipil maupun militer, telah menjadi praktik standar.” Apa pun kebenaran utamanya, penyerangan itu merupakan bencana publikasi bagi pemerintah Afrika Selatan. Dunia internasional mulai menjatuhkan sanksi terhadap Afrika Selatan, yang pada akhirnya memprakarsai kematian negara apartheid tersebut. Di Namibia, Hari Cassinga diperingati tiap tahun pada 4 Mei untuk memperingati serangan itu dan para korbannya. Perayaan peringatan semacam itu di Afrika Selatan yang menekankan serangan brutal pasukan terjun payung dihentikan 2 tahun setelah Nelson Mandela menjadi presiden pada tahun 1994. Pada tahun 2007, nama-nama tentara Kuba yang tewas diukir di dinding Freedom Park di Afrika Selatan. Sementara itu, para veteran dari berbagai batalion parasut Afrika Selatan masih secara pribadi merayakan Hari Cassinga untuk mengenang sejauh mana kemenangan dan mereka yang meninggal di hari itu.
Baca Juga:
Jejak Keterlibatan Militer Kuba Dalam Perang Saudara Di Angola (1975-1991)
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
South African Paratroopers’ Raid on Cassinga By Thomas B. Blevins
South African Paratroopers’ Raid on Cassinga
Cassinga 4 May 1978
http://flecha.co.uk/CASSINGA.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Cassinga
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Operation_Reindeer
Cassinga! … truths and myths
