Kelas Leander/Van Speijk, Fregat “Tua” Era Perang Dingin Andalan TNI AL
Fregat kelas Leander, atau Tipe 12I (Improved), dibuat hingga dua puluh enam kapal, sehingga menjadikannya termasuk di antara kelas fregat yang paling banyak diproduksi dan berumur panjang dalam sejarah modern Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Kelas ini dibangun dalam tiga batch antara tahun 1959 dan 1973. Kelas Leander dikenal luas oleh publik karena serial drama televisi BBC Warship yang populer. Siluet dari Fregat Leander kemudian menjadi identik dengan kekuatan Royal Navy pada tahun 1960-an hingga 1980-an. Desain Leander atau turunannya diketahui juga dibuat untuk angkatan laut negara-negara lain, sebagai berikut:
- Angkatan Laut Kerajaan Selandia Baru, dikenal sebagai kelas Leander
- Angkatan Laut Chili: Kelas Condell
- Angkatan Laut Australia: Kelas River
- Angkatan Laut India: Kelas Nilgiri
- Angkatan Laut Kerajaan Belanda: Kelas Van Speijk
Dengan pihak AL Inggris (Royal Navy) membangun 26 kapal dan 18 kapal lain dari subkelas Leander juga dioperasikan oleh angkatan laut negara lainnya, maka dengan total 44 kapal dibuat, fregat kelas ini membuat rekor jumlah kapal perang yang terbanyak dibuat pasca tahun 1945 untuk jenis fregat dan kapal perang yang lebih besar di luar buatan Amerika Serikat dan Rusia.

DESAIN
Kebijakan yang diadopsi oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris selama tahun 1950-an adalah untuk mendapatkan jenis fregat yang dirancang untuk peran-peran khusus, seperti peran anti-kapal selam, anti-pesawat dan pengarah pesawat. Fregat-fregat ini kemudian diwujudkan dalam Fregat anti kapal selam (Tipe 12), antipesawat (Tipe 41), pengarah pesawat (Tipe 61) dan utilitas (Tipe 16), yang terbukti tidak memuaskan. Meskipun desai fregat-fregat itu sendiri telah terbukti berhasil, namun kurangnya standarisasi antara kelas yang berbeda telah menyebabkan peningkatan biaya selama proses konstruksi dan juga dalam pemeliharaan setelah kapal-kapal tersebut beroperasi. Selain itu, tidak selalu mungkin untuk memiliki kapal dengan kemampuan yang diperlukan yang tersedia untuk tugas tertentu. Langkah pertama untuk menciptakan fregat yang benar-benar serba guna datang dengan hadirnya fregat Type 81 kelas Tribal, yang awalnya dipesan pada tahun 1956. Kecepatan 24 knot (44,45 km/jam) dari kelas Tribal dianggap sebagai kecepatan maksimum yang dimungkinkan untuk melacak keberadaan kapal selam dengan sonar jarak menengah yang baru memasuki dinas operasional. Turbin gas dari tipe 81 membuat fregat itu bisa berlayar dengan cepat, tanpa menghabiskan waktu berjam-jam menyalakan turbin uap. Sementara itu adanya tambahan helikopter untuk melaksanakan misi serangan jarak jauh, dianggap sangat penting di zaman nuklir. Kapal-kapal ini terutama dimaksudkan untuk beroperasi di daerah tropis, tetapi sayangnya tidak memiliki kecepatan dan persenjataan yang dibutuhkan untuk menjalankan peran pengawalan armada kapal induk yang diprioritaskan digunakan di wilayah Timur Suez, di mana kemampuan kapal radar piket yang cepat sangatlah penting, seperti halnya kemampuan anti-kapal selam. Jadi fregat baru yang kemudian dirancang akan menggabungkan peran dari Fregat Type 12 dan Type 61. Rencana untuk membangun lebih lanjut fregat kelas Tribal lalu ditinggalkan demi memodifikasi desain fregat Tipe 12 ini. Varian Fregat kelas Rothesay Angkatan Laut Selandia Baru yang sepenuhnya ber-AC, HMNZS Otago, kemudian digunakan sebagai desain rujukan yang untuk pembuatan fregat Tipe 12 yang berkemampuan lebih, sekaligus juga untuk menilai apakah fregat Tipe 12 dapat membawa 2 helikopter anti kapal selam Wessex yang lebih besar. Pengamatan yang digunakan, kemudian digunakan sebagai dasar dari desain Kapal Fregat AL Inggris Type 12 Leander Enhanced.

Pada tanggal 7 Maret 1960, Civil Lord of the Admiralty C. Ian Orr-Ewing menyatakan bahwa “Fregat anti-kapal selam kelas Whitby tipe 12 terbukti sangat sukses… dan kami memutuskan mengembangkan kualitasnya untuk membuat kapal yang lebih punya kemampuan serbaguna. Tipe 12 yang kemampuannya ditingkatkan ini akan dikenal sebagai kelas Leander. Lambung dan mesin turbin uap yang digunakan pada Fregat baru ini akan secara substansial sama dengan kelas Whitby. Fitur baru utama yang direncanakan akan dipasang adalah radar peringatan udara jarak jauh, peluru kendali anti-pesawat Seacat, peralatan deteksi anti-kapal selam yang ditingkatkan dan helikopter ringan yang dipersenjatai dengan torpedo homing. Kami juga akan memasang AC dan meningkatkan kondisi ruang akomodasi bagi para crew. ” Buku Jane’s Fighting Ships edisi 1963 sendiri menggambarkan kelas Leander sebagai “(Kapal perang), yang misi utamanya adalah anti-kapal selam tapi cukup fleksibel dan serba guna”. Kelas Leander memiliki lambung dan mesin turbin uap yang secara substansial sama dengan kelas Whitby, tetapi merupakan desain yang telah diperbarui dan (lebih) canggih, yang akan memenuhi peran komposit sebagai kapal anti-kapal selam, anti-pesawat, serta punya kemampuan sebagai pengarah udara. Meriam anti pesawat kaliber 40mm dari kelas Leander pada akhirnya akan digantikan oleh peluncur rudal Seacat. Kapal-kapal tersebut juga dilengkapi dengan perangkat VDS (Variable Depth Sonar), yang sebelumnya dikenal sebagai dipping asdic. — kutipan dari buku Jane’s Fighting Ships.


Perbedaan antara kelas Leander (Tipe 12I) dan Whitby (Tipe 12) yang paling jelas adalah bahwa quarterdeck bertingkat dari Tipe 12 telah dihilangkan, yang kemudian menghasilkan karakteristik flush deck, dengan pengecualian forecastle yang ditinggikan. Struktur bagian atas telah digabungkan menjadi satu blok di tengah kapal dan desain anjungan baru untuk memberikan visibilitas yang lebih baik. Sebuah hanggar dan dek penerbangan disediakan di bagian belakang kapal untuk pengoperasian helikopter anti-kapal selam ringan Westland Wasp, yang masih dalam tahap prototipe ketika kapal pertama dipesan. Penghapusan tabung yang dipasang di dek untuk torpedo berat Mk 20E yang dibatalkan, kemudian memungkinkan dibuatnya desain superstruktur yang lebih besar sambil tetap menyisakan tempat pada bagian dek untuk proses pengisian ulang logistik. Sementara itu, sehubungan dengan sistem bahan bakar baru yang dikompensasikan dengan air laut, maka tangki bahan bakar setelah dikosongkan dari minyak dapat diisi dengan air laut untuk mempertahankan keseimbangan kapal yang tepat. Hal ini menghilangkan keberadaan tangki trim pemberat air terpisah seperti pada Tipe 12, dan memungkinkan relokasi alat berat sebagai gantinya dengan tetap mempertahankan profil kapal tetap rendah. Seluruh kapal kelas Leander ber-AC dan tanpa porthole untuk meningkatkan ketahanan kapal terhadap ancaman senjata nuklir, biologi, dan kimia. Semua kapal yang dibuat kemudian diberi nama yang sebelumnya diberikan kepada kapal penjelajah Angkatan Laut Kerajaan Inggris, sebagian besar menggunakan karakter dari mitologi klasik, kecuali HMS Cleopatra dan Sirius.


Varian boiler Y160 yang digunakan pada kapal kelas Leander Batch 3 (seperti Jupiter) juga menggabungkan perangkat atomisasi uap pada suplai bahan bakar sehingga bahan bakar diesel yang masuk ke boiler melalui tiga burner utama diatomisasi menjadi semprotan halus untuk mendapatkan efisiensi pembakaran yang lebih baik. Beberapa kapal dengan Boiler Y100 juga diubah menjadi seperti itu, salah satunya adalah HMS Cleopatra. Temperatur yang sangat panas dari Y160 dikendalikan secara manual oleh petty officer ruang ketel pada suhu antara 750–850 °F (399–454 °C) dan uap yang disuplai ke turbin utama berada pada tekanan 550 psi (3.800 kPa). Fregat kelas Leander memang memiliki boiler buatan Babcock & Wilcox tetapi dengan desain dua drum yang lebih konvensional, satu drum air dan satu drum uap, sangat mirip dengan boiler buatan Yarrow tanpa drum air kedua. Drum air digeser ke satu sisi dan di bawah tungku serta drum uap. Kedua boiler yang dipasang ‘disuplai’ dengan drum air di dalamnya. Banyak kelas Leander memiliki tungku berjumlah enam (dikenal sebagai Five and a Half Boiler) dan tenaga yang dihasilkan bervariasi dengan mengatur jumlah tungku yang digunakan. Desain Kelas Leander kemudian terkenal karena kinerjanya yang kuat dalam berlayar di cuaca buruk dan laut yang bergelombang. Ini dimungkinkan melalui desain kemudi kembar, baling-baling kembar, dan penstabil sirip yang tidak dapat ditarik. Kelas Leander terdiri dari 26 kapal, adalah kelas terbesar dari kapal perang besar yang dibangun untuk Angkatan Laut Kerajaan Inggris sejak akhir Perang Dunia Kedua. Program pembangunannya telah berlangsung selama tiga belas tahun dan menyediakan pekerjaan bagi lebih dari selusin pembuat kapal. Program konstruksi kapal kelas ini juga merupakan yang terakhir menggabungkan Royal Dockyards, dimana HMS Andromeda adalah kapal perang terakhir yang dibangun di Portsmouth Dockyard dan HMS Scylla yang terakhir dibangun di Devonport Dockyard.
KELAS VAN SPEIJK BELANDA
Fregat kelas Van Speijk dibangun untuk Angkatan Laut Kerajaan Belanda pada tahun 1960-an. Mereka adalah versi fregat kelas Leander Inggris, yang dilengkapi dengan radar buatan Belanda. Desain Inggris dipilih untuk memungkinkan proses konstruksi cepat untuk menggantikan kapal perusak kawal tua dan dengan cepat mengambil sebagian tugas patroli NATO dari kapal induk perang anti-kapal selam Karel Doorman yang dinonaktifkan. Pihak Belanda membatasi perubahan yang mereka lakukan pada desain Leander, dengan terbatas pada penggantian peralatan elektronik dan kelistrikan buatan Inggris dengan buatan pabrikan Belanda. Hollandse Signaalapparaten kemudian ditunjuk untuk memasok seluruh perangkat elektronik. Khususnya untuk radar pengawasan udara jarak jauh LW-02, radar pencarian udara/permukaan jarak menengah DA-02 dan gabungan radar dan sistem pengendali penembakan optik M45 untuk meriam kaliber 4,5 in (110 mm). Radar Pengarah/visual HSA M44 Belanda untuk rudal antipesawat Seacat dapat secara otomatis menargetkan ketinggian dan arah, yang memungkinkan peluncur rudak Seacat tunggal di kapal versi Inggris ditingkatkan menjadi dua peluncur di kapal varian Belanda, masing-masing dengan pengarahnya sendiri. Mulai bulan Desember 1976 setiap kapal Van Speijk Belanda menjalani modernisasi paruh waktu yang membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyelesaikannya. Turret meriam kembar kaliber 4,5 inci kemudian digantikan oleh meriam tunggal OTO Melara kaliber 76 mm dan dua dudukan berformat empat untuk rudal anti-kapal Harpoon, yang dipasang di belakang cerobong.


Mortir Mk 10 Limbo ASW lalu digantikan oleh sepasang peluncur torpedo berformat tiga Mk 32, satu dudukan di setiap sisi hanggar, dan dudukannya diperkuat sehingga dek penerbangan dapat ditingkatkan kemampuannya untuk memungkinkan kapal membawa helikopter Westland Lynx yang lebih besar, sebagai pengganti Wasp yang dibawa sebelumnya. Penghapusan sonar variabel-kedalaman dari quarterdeck ke interior di bagian buritan juga memungkinkan lebih banyak ruang untuk dek penerbangan. Perangkat elektronik juga ditingkatkan, radar LW-02 diganti dengan LW-03 dan DA-02 digantikan oleh radar DA-05. Dikutip dari thales7seas.com, disebutkan radar LW-03 dirancang untuk menghadapi beragam situational awareness. Radar yang beroperasi di frekuensi L-band ini mulai dikembangkan pada akhir dekade tahun 50-an. Dirunut dari spesifikasinya, radar 2D (dua dimensi) ini dapat mendeteksi sasaran di ketinggian maksimum 30.480 meter. Sementara untuk jarak deteksi maksimum sejauh 185,2 km dan jarak deteksi minimumnya 0,9 km. Dari kualifikasinya, LW03 masuk dalam kelompok medium long range surveillance and warning radar. Sementara itu, DA05 merupakan radar dengan high power E/F band (S-band) dengan kualifikasi medium range surveillancce radar yang punya jarak jangkau deteksi udara hingga 135 km. Yang terpenting, sistem manajemen tempur otomatis, SEWACO V, dipasang untuk membantu kapten kapal dalam pengambilan keputusan. Mesin kapal juga diotomatisasi secara ekstensif. Secara keseluruhan perubahan ini memungkinkan jumlah kru untuk dikurangi dari awalnya 254 menjadi sekitar 175, yang pada akhirnya memungkinkan dilakukan peningkatan standar kenyamanan tinggal bagi para awaknya.
PROGRAM REFIT PARUH UMUR
Seluruh kapal kelas Leander dirancang untuk membawa senjata standar yang direncanakan pada saat pembuatannya, dengan meriam Mark 6 kaliber 4,5 inci (114 mm) dudukan kembar, sistem rudal GWS-22 Seacat dan mortir anti-kapal selam Limbo, meskipun tujuh kapal pertama yang masuk dinas operasional masih dilengkapi dengan dua meriam Bofor tunggal kaliber 40 mm, yang dipasang pada bagian atap hanggar, dan bukan rudal Seacat, sistem SAM dipasang kemudian menyusul dipasang. Semua kelas Leander kecuali satu kapal memiliki sistem rudal anti pesawat GWS-22 Seacat (dengan pengecualian adalah Naiad, yang memiliki sistem SAM GWS-20 Seacat). Sementara itu, skala program pembangunan dan periode pembuatan kelas Leander yang cukup lama, berarti bahwa pada saat kapal terakhir memasuki dinas operasional, desainnya sebagian besar sudah ketinggalan zaman, dengan tidak memiliki peluru kendali baru dan peralatan anti kapal selam jarak jauh. Tujuh kapal pertama bahkan belum dilengkapi dengan sistem rudal Seacat. Untuk menghindari keusangan dari kapal ini, kemudian diperlukan upgrade peralatan dan teknologi terbaru. Secara garis besar konversi yang dilakukan pada kelas Leander dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar pembaharuan, sebagai berikut:
- Ikara – pemasangan sistem rudal Ikara ASW sebagai pengganti dudukan meriam kaliber 4,5 inci, dengan ditambah sistem rudal Seacat tambahan.
- Exocet/Seacat – pemasangan sistem rudal anti-kapal Exocet sebagai pengganti dudukan meriam 4,5 inci, ditambah dua sistem rudal Seacat tambahan.
- Exocet/Seawolf – pemasangan sistem rudal anti-kapal Exocet sebagai pengganti dudukan meriam 4,5 inci; serta penggantian Seacat dengan sistem rudal permukaan-ke-udara GWS-25 Seawolf tunggal.
- Meriam – mempertahankan dudukan meriam kaliber 4,5 inci dan sistem rudal Seacat.

Batch 1, Konversi Ikara
Delapan dari sepuluh kapal kelas Leander produksi pertama diperbaharui, dengan sebutan konversi “Batch 1” atau “Ikara“, yang menambahkan rudal anti-kapal selam Ikara dipasang di posisi meriam kaliber 4,5 inci, pemasangan sistem SAM Seacat tambahan, dan penghapusan radar Tipe 965 dan antena AKE(1)-nya. Ruang internal yang sebelumnya digunakan oleh radar Tipe 965 kemudian digunakan untuk pemasangan perangkat ADAWS yang dibutuhkan untuk Ikara.

Batch 2, Konversi Seacat/Exocet
Dua dari kapal Leander dengan mesin tipe Y-100, dan lima dari enam kapal dengan mesin Y-136, diupgrade dalam program konversi “Batch 2” atau “Exocet“. Konversi ini menambahkan rudal anti-kapal Exocet sebagai pengganti dudukan meriam kaliber 4,5 inci, serta 2 sistem rudal SAM Seacat tambahan, serta kemampuan untuk mengoperasikan helikopter Lynx, yang dapat dipersenjatai dengan rudal anti kapal Sea Skua. Sementara itu, pertahanan udara dengan cakupan perlindungan 360° disediakan oleh dua peluncur Seacat berformat empat: satu dipasang di hangar, yang lain di forecastle. Dua meriam Bofor Mk9 kemudian ditambahkan ke superstruktur sementara 6 tabung torpedo ditambahkan untuk menggantikan mortir Limbo, tiga di kedua sisi hangar.

Batch 2, konversi kapal pelatihan navigasi
Juno, yang mulai dioperasikan pada tanggal 18 Juli 1967, kemudian diubah menjadi kapal pelatihan navigasi. Proses pengerjaan di Rosyth dimulai pada bulan Januari 1982 dan selesai pada Februari 1985. Konversi ini melibatkan penghapusan radar Tipe 965 dan semua persenjataannya. Dek penerbangan kemudian diperpanjang dengan menutup lubang mortir; sistem torpedo STWS 1 dan dua kanon kaliber 20 mm dipasang. Juno menggantikan HMS Torquay dalam peran pelatihan, serta bertugas sebagai kapal uji coba untuk perangkat sonar Tipe 2050.

Batch 3, Konversi Seawolf
Konversi Seawolf memberikan Fregat kelas Leander yang berdek lebar rudal anti-kapal Exocet sebagai pengganti dudukan meriam kaliber 4,5 inci, sistem rudal SAM Seawolf untuk menggantikan Seacat, Sonar 2016, dan kemampuan untuk mengoperasikan helikopter Lynx. Semua sistem radar lawas telah dihapus dan digantikan oleh radar Tipe 967, 968, 1006 dan 910. Hanya lima kapal dari kelas Leander yang berdek lebar diubah untuk dapat membawa rudal SAM Seawolf karena biayanya besar (£ 70 juta untuk setiap upgrade) dan, sebagai pertimbangan yang lain, adalah untuk mempertahankan beberapa kapal yang mampu memberikan dukungan tembakan angkatan laut dengan meriam-meriam lamanya.

Batch 2 TA & Batch 1B – konversi towed array
Pada tahun 1981 Angkatan Laut Inggris mengatakan bahwa mereka bermaksud untuk mengerahkan “sumber daya yang substansial untuk meningkatkan efektivitas sensor dan senjata anti-kapal selam … Ini termasuk sistem sonar towed array (sonar tarik) pasif baru yang kami harap akan dapat diperkenalkan ke dinas operasional tahun depan.” Bekas kapal perusak Matapan dan fregat Lowestoft kemudian digunakan untuk menguji prototipe sonar tersebut pada 1978–1981. Perangkat sonar baru ini rencananya akan dipasang pada Fregat kelas Rothesay yang dikonversi, tetapi hal ini tidak dapat dilakukan karena adanya pemogokan industri saat itu. Penjadwalan ulang, kemudian membuatnya lebih mudah untuk memasukkan perangkat ini ke dalam konversi empat Fregat kelas Leander Batch II. Kompensasi untuk tambahan 70 ton bobot atas termasuk menurunkan peluncur rudal Exocet. Empat konversi ini kemudian diikuti oleh rencana konversi berikutnya atas lima Fregat kelas Leander Batch III, tetapi yang terakhir ini dibatalkan oleh Menteri Pertahanan John Nott. Kapal kelas Leander kelima, HMS Arethusa yang membawa sistem senjata Ikara, kemudian dilengkapi dengan sonar tarik pada tahun 1985, tahun yang sama ketika kapal uji coba sonar tarik Lowestoft ditarik dari dinas operasional.”

Laksamana Sir Julian Oswald kemudian berkata kepada Komite Pertahanan pada tahun 1989, “untuk memanfaatkan perkembangan yang sangat menarik dan penting dari perangkat sonar tarik, kami harus membawanya ke laut sesegera mungkin. Satu-satunya pilihan yang masuk akal dan hemat biaya, yang terbuka bagi kami adalah untuk mengambil beberapa kapal yang relatif lebih tua – Leander – dan mengubahnya dengan cepat menjadi kapal pembawa sonar tarik. Kami telah melakukannya dengan sukses besar, dan patroli di masa damai telah mencapai beberapa hasil yang luar biasa, tetapi ada harga yang harus dibayar karena usia kapal-kapal itu (yang sudah tua).” Secara umum, “dengan bertambahnya usia kapal, ia cenderung akan menjadi lebih berisik – pada bagian lambung dan juga sistem propulsinya”. Pada pertemuan Komite Pertahanan yang sama, Oswald uniknya berbicara “untuk melawan anggapan bahwa kapal yang lebih tua menjadi lebih berisik. Itu belum tentu benar dan itu tidak benar, menurut pengalaman saya, dalam kasus Leander karena pemahaman tentang masalah kebisingan yang dihasilkan kapal semakin meningkat sepanjang waktu dan teknik kami untuk melawannya menjadi semakin baik – prosedur pemantauan kebisingan kami dan sebagainya – jadi, terlepas dari kenyataan bahwa kapal-kapal ini semakin tua, mereka dalam banyak kasus berhasil meningkatkan kinerjanya sehubungan dengan kebisingan kapal.” Kapten Geoffrey Biggs mengatakan “Leander sangat tenang saat dioperasikan dan (berdasar) pengalaman kami adalah bahwa mereka telah menjadi platform sonar tarik yang sangat baik.” Lima kapal lalu dikonversi untuk menggunakan sonar tarik Type 2031(I) Waverley (dengan perangkat pencarian pasif berfrekuensi sangat rendah).
PERSENJATAAN
Dalam masa dinasnya, kapal fregat kelas Leander/Van Speijk dilengkapi dengan beragam persenjataan, diantaranya adalah sebagai berikut:
Meriam kaliber 4.5 inci Type Mark 6
Meriam QF (tembak cepat) kaliber 4.5 inci telah menjadi meriam standar kaliber menengah yang digunakan oleh Angkatan Laut Kerajaan Inggris sebagai senjata jarak menengah yang mampu digunakan melawan target pengeboman di darat, pesawat dan pantai sejak tahun 1938. Selama tahun 1950-an, perubahan dibuat dengan klasifikasi meriam kaliber 4.5 inci lebih berfokus pada dudukan meriamnya ketimbang meriamnya itu sendiri. Bersamaan dengan perubahan dari angka Romawi, meriam QF Mark V pada dudukan ganda Mark VI dikenal menjadi Mark 6. Meriam ini memiliki jarak tembak maksimum 20,750 yard (18,970 m) pada kecepatan peluru sebesar 2,449 kaki/detik (746 meter/detik), sedangkan untuk target udara meriam ini dapat menjangkau ketinggian hingga 41,000 ft (12,500 m). Elevasi penembakannya adalah 0° hingga +80° dan dapat berputar 360°.

Meriam OTO Melara kaliber 76 mm
Meriam OTO Melara kaliber 76 mm adalah meriam angkatan laut yang dibuat dan dirancang oleh perusahaan pertahanan Italia OTO Melara. Sistem meriam ini cukup kompak untuk dipasang pada kapal perang yang relatif kecil. Tingkat kecepatan penembakannya yang tinggi dan kemampuannya menggunakan berbagai jenis amunisi membuatnya mampu untuk dipakai dalam tugas pertahanan jarak pendek anti-rudal, anti-pesawat, anti-permukaan, dan dukungan tembakan target darat. Amunisi yang bisa dipakai meriam ini, termasuk peluru penembus lapis baja, pembakar, fragmentasi, dan peluru kendali yang mampu menghancurkan manuver rudal anti-kapal. Meriam OTO Melara 76 dapat menembak dengan sudut antara 15°/+85° pada kecepatan: 35°/s dan dapat berputar 360° pada kecepatan: 60 °/s. Kecepatan menembak normalnya adalah 85 peluru/menit, sedangkan pada mode super cepat dapat mencapai 120 peluru/menit, denngan kecepatan proyektilnya 915 m/s (3.000 kaki/dtk). Jarak tembak meriam ini dengan peluru HE-PFF adalah 16.000 m, SAPOMER 20.000 m, dan VULCANO hingga 40.000 m. Sistem pengisian peluru memiliki kapasitas penampungan: 80 peluru siap pakai pada dudukan kompak. Meriam ini juga dapat dipasang di turret berdesain siluman. Meriam OTO Melara 76 mm diketahui telah diekspor secara luas, dan digunakan oleh enam puluh angkatan laut negara-negara di dunia.

Rudal SAM Seacat
Seacat adalah sistem rudal permukaan-ke-udara jarak pendek Inggris yang dimaksudkan untuk menggantikan meriam Bofors 40 mm yang dipakai di atas kapal perang dari semua ukuran. Seacat adalah sistem rudal pertahanan titik untuk kapal perang, yang operasional pertama kali di dunia, dan dirancang agar meriam Bofors dapat diganti dengan modifikasi minimum pada kapal penerima dan (awalnya) menggunakan sistem pengendalian tembakan yang sudah ada. Versi sistem berbasis darat dari rudal ini yang mobile dikenal sebagai Tigercat. Versi awal GWS.20 dikontrol secara manual, sesuai dengan kebutuhan akan sistem yang dikembangkan dan dapat diterapkan dengan cepat. Beberapa varian berikutnya; GWS.21 menambahkan kontrol manual berdasar petunjuk radar untuk penggunaan di malam hari dan cuaca buruk, GWS.22 menambahkan mode panduan otomatis SACLOS, dan GWS.24, yang terakhir dengan sistem interaksi otomatis penuh. Tigercat berdinas relatif singkat sebelum digantikan oleh sistem rudal Rapier, sementara Seacat berdinas lebih lama sampai digantikan oleh Sea Wolf dan sistem senjata pertahanan udara jarak dekat dengan teknologi yang lebih baru. Seacat dan Tigercat sama-sama sukses di pasar ekspor dan beberapa tetap beroperasi hingga hari ini. Seacat memiliki jangkauan antara 500–5,000 m (1,600–16,400 kaki) atau lebih, dengan kecepatan maksimumnya adalah Mach 0.8.

Rudal SAM Sea Wolf
Sea Wolf adalah sistem rudal permukaan-ke-udara angkatan laut yang dirancang dan dibuat oleh BAC, yang kemudian menjadi British Aerospace (BAe) Dynamics, dan sekarang MBDA. Sea Wolf adalah sistem senjata point-defence otomatis yang dirancang sebagai pertahanan jarak pendek terhadap rudal dan pesawat anti-kapal dan rudal anti-kapal. Royal Navy telah menerjunkan dua versi Sea Wolf, dalam bentuk GWS-25 Conventionally Launched Sea Wolf (CLSW) dan GWS-26 Vertically Launched Sea Wolf (VLSW). Dalam dinas operasional Sea Wolf Royal Navy kini digantikan oleh Rudal Sea Ceptor. Sea Wolf ditenagai oleh roket berbahan bakar padat Blackcap, yang dapat membawanya terbang hingga kecepatan maksimum 2 Mach, dan dapat mencegat target pada jarak antara 1.000 dan 6.000 m (1.100 dan 6.600 yd) dan ketinggian dari 10 m (33 kaki) hingga 3.000 m (9.800 kaki). Hulu ledak Sea Wolf memiliki berat 14 kg (30,9 lb) dan merupakan tipe HE-fragmenting dengan sumbu ledak tipe proximity fuze. Mode standar penembakannya sepenuhnya otomatis dan menggunakan panduan radar. Deteksi target dilakukan dengan menggunakan radar kapal. Di fregat Tipe 22 kelas Leander yang dilengkapi dan Sea Wolf, rudal ini dikombinasikan dengan radar Tipe 967–968; D-band Type 967 yang memberikan pengawasan jarak jauh dan radar E-band Type 968 memberikan indikasi target pada jarak pendek.

Rudal anti kapal MM38 Exocet
Exocet (pengucapan bahasa Prancis: [ɛɡzɔsɛ]) adalah rudal anti-kapal buatan Prancis yang berbagai versinya dapat diluncurkan dari kapal permukaan, kapal selam, helikopter, dan pesawat sayap tetap. Exocet menjalani karir tempur perdananya selama Perang Falklands tahun 1982. Rudal yang relatif kompak ini dirancang untuk menyerang kapal perang ukuran kecil hingga menengah (misalnya, fregat, korvet, dan kapal perusak), meskipun beberapa serangan efektif bisa dilakukan terhadap kapal yang lebih besar, seperti kapal induk. Rudal ini dipandu secara inersia di tengah penerbangan dan baru menyalakan radar aktifnya di saat akhir penerbangan untuk menemukan dan mencapai targetnya. Sebagai pencegahan terhadap pertahanan udara di sekitar target, Exocet mempertahankan ketinggian terbangnya di ketinggian yang sangat rendah saat meluncur ke sasaran, hanya satu hingga dua meter di atas permukaan laut. Karena keterbatasan radar oleh efek cakrawala, ini berarti bahwa target mungkin tidak mendeteksi serangan Exocet yang datang sampai rudal itu hanya berjarak 6.000 m. Kecepatan maksimum dari Exocet itu sendiri mencapai Mach 0,93 atau 1.148 kilometer per jam, sehingga hanya akan menyisakan sedikit waktu bagi target untuk bereaksi. Motor roket rudal Exocet, didorong oleh propelan padat. Rudal MM38 Exocet diketahui memiliki Jangkauan maksimum 42 km. Rudal Exocet versi MM38 kini sudah tidak diproduksi lagi.

RGM-84 Harpoon
Harpoon adalah rudal anti-kapal segala cuaca, over-the-horizon, yang dikembangkan dan diproduksi oleh McDonnell Douglas (sekarang Boeing Defense, Space & Security). Harpoon biasa menggunakan radar pelacak aktif dan terbang tepat di atas permukaan air untuk menghindari deteksi dan mengurangi waktu reaksi pertahanan lawan. Versi yang diluncurkan dari kapal perang, yakni RGM-84, dilengkapi dengan pendorong roket berbahan bakar padat yang terlepas saat digunakan, untuk memungkinkan turbojet utama rudal mempertahankan penerbangan rudal menuju ke sasaran. Harpoon yang diluncurkan dari kapal memiliki panjang sekitar 15 ft (4.6 m) dan diameter 13.5 in (34 cm). Rudal ini memiliki hulu ledak sebesar 488 pounds (221 kg), dan versi umumnya dapat menjangkau sasaran hingga 140 km (75 nmi) pada kecepatan 850 km/h (460 knots, 240 m/s, atau 530 mph).

Rudal Anti Kapal C-802
C-802 adalah versi ekspor dari rudal YJ-83. C-802 ini didukung oleh mesin TRI 60-2 turbojet buatan Perancis dan memiliki jangkauan hingga 65 mil laut (120 km), dengan kecepatan maksimum 0,9 Mach. Rudal ini kabarnya dipasang pada fregat kelas Ahmad Yani milik AL Indonesia.

Rudal Jelajah Anti Kapal SS-26 Yakhont
P-800 Oniks (Rusia: -800 ; Inggris: Onyx), juga dikenal di pasar ekspor sebagai Yakhont (Rusia: онт; Inggris: ruby), adalah rudal jelajah antikapal supersonik asal Soviet/Rusia, yang dikembangkan oleh NPO Mashinostroyeniya sebagai versi ramjet dari rudal P-80 Zubr. Rudal ini memiliki nama kode NATO SS-N-26 “Strobile“. Pengembangan dari rudal ini secara resmi dimulai pada tahun 1983, dan pada 1990-an rudal anti-kapal ini diujicobakan di kapal Project 1234,7. Kecepatan maksimun Yakhont di permukaan adalah Mach 2 dan memiliki jangkauan 120–300 km / 600 km untuk model non-ekspor yang dikerahkan oleh kapal perang Russia. Hulu ledak Yakhont versi Russia berbobot 300 kg dengan tipe semi-armor piercing HE, termonuklir; sedangkan versi ekspornya adalah 200 kg dengan jenis HE. Akurasi dari Yakhont kabarnya mencapai radius hanya 1,5 meter kemelencengannya.

Mortir anti kapal selam Limbo
Limbo, atau Anti Submarine Mortar Mark 10 (A/S Mk.10), adalah pengembangan terakhir dari senjata anti-kapal selam Squid, yang dirancang selama Perang Dunia Kedua dan dikembangkan oleh Admiralty Underwater Weapons Establishment di tahun 1950-an. Limbo dipasang di quarterdeck kapal pengawal Angkatan Laut Kerajaan Inggris dari tahun 1955 hingga pertengahan tahun 1980-an, serta kapal perusak kelas Daring dan kapal perusak kelas River buatan Australia. Limbo dimuat dan ditembakkan secara otomatis dengan kru di bawah pelindung dan distabilkan dalam gerak pitch and roll. Jarak tembak mortir ini dikendalikan dengan membuka ventilasi gas. peluru mortir bisa ditembakkan dari jarak 400–1.000 yard (370–910 m). Penembakan Mortar Mk 10 dikendalikan oleh sonar serang Tipe 170 (dan kemudian 502) dari Ruang Kontrol Sonar (SCR), yang umumnya terletak di sebelah ruang operasi pada kapal perang. Sonar type 170 memiliki tiga operator yang mempertahankan kontak sonar dengan target dan mengarahkan senjata, jangkauan, serta kedalaman serangnya. Penembakan Limbo dilakukan dengan menggunakan pegangan pistol dan pelatuk yang dipasang ke geladak. Senjata itu dihubungkan dengan sistem sonar kapal, dan menembak sesuai perintah ketika target berada dalam jangkauan. Peluru diproyeksikan untuk bisa jatuh dalam pola segitiga di sekitar target ke segala arah di sekitar kapal. Bobot sistem Limbo adalah 35 ton, yang termasuk 51 proyektil (untuk 17 kali salvo). Senjata ini digunakan dalam Perang Falklands 1982 dan tetap digunakan di Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan angkatan laut negara-negara Persemakmuran Inggris hingga tahun 1990-an.

Ikara ASW
Rudal Ikara adalah rudal anti-kapal selam buatan Australia yang diluncurkan dari kapal perang. Rudal ini dinamai menurut kata dari bahasa Aborigin untuk “tongkat lempar”. Roket Ikara dirancang untuk meluncurkan torpedo akustik hingga jarak 10 mil laut (19 km), yang memungkinkan serangan reaksi cepat terhadap kapal selam pada jarak yang relatif aman, tanpa menempatkan kapal dalam risiko yang terlalu besar. Dengan terbang ke target yang jauh, tempo pertempuran secara dramatis dapat lebih pendek daripada yang bisa dilakukan oleh senjata yang berjarak pendek, sekaligus memberikan target lebih sedikit waktu untuk merespons serangan. Ikara ditenagai oleh mesin roket Murawa berbahan bakar padat dua tahap, yang dikembangkan oleh Bristol Aerojet Ltd di Inggris dan dipandu oleh panduan komando radio hingga mencapai jarak sekitar kapal selam, yang ditentukan oleh kontak sonar kapal. Setelah roket ditembakkan pertama-tama akan dibuang sirip perut bagian belakang dan penutup belakang torpedo dan kemudian melepaskan torpedo anti-kapal selam kaliber 12,7 inci tipe Mark 44 atau Mark 46 yang dipandu secara akustik. Muatan torpedo akan turun dengan parasut sementara rudal itu sendiri diprogram untuk meluncur agak jauh untuk menghindari gangguan pada sistem pencari torpedo akustik yang dilepaskan. Torpedo kemudian akan memulai pola pencarian dengan gerakan melingkar untuk menemukan dan mengunci kontak kapal selam. Jangkauan maksimum penembakan Ikara adalah 10 mil laut (19 km), dengan jarak minimumnya (jarak aman): 914 meter (1.000 yd). Ketinggian penerbangan ikara adalah 335 meter (1.099 kaki), dengan Kecepatan maksimum: 713 kilometer per jam (443 mph), sementara kecepatan jelajahnya adalah: 658 kilometer per jam (409 mph). Ketinggian maksimum peluncurannya 55 °, dengan Interval waktu penerbangan maksimumnya: 100 detik.


Torpedo Mark 46
Torpedo Mark 46 adalah tulang punggung inventaris torpedo ringan anti-kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat dan juga merupakan standar NATO. Torpedo udara ini dirancang untuk bisa menyerang kapal selam berperforma tinggi. Pada tahun 1989, program perbaikan untuk dari varian Mod 5 menjadi Mod 5A dan Mod 5A (S) telah meningkatkan kinerjanya di perairan dangkal. Mark 46 awalnya dikembangkan sebagai REsearch TORpedo Concept I (RETORC I), sebagai salah satu dari beberapa sistem senjata yang direkomendasikan untuk diterapkan oleh Project Nobska, sebuah studi pada musim panas 1956 tentang perang anti kapal selam. Torpodo ini memiliki panjang 8 ft 6 in (2.59 m) dan berbobot 508 lb (230 kg), sementara diameternya 12.75 in (324 mm). Jangkauan torpedo ini sekitar 12,000 yd (11,000 m), lebih jauh dari torpedo Mark 44 yang digantikannya. Kedalaman operasinya hingga > 1,200 ft (370 m). Kecepatan maksimum Mark 46 adalah > 40 kn (74 km/h; 46 mph). Panduan torpedo ini menggunakan metode deteksi akustik active atau passive/active, dengan hulu ledaknya sebesar 96.8 lb (43.9 kg).

Torpedo Stingray
Stingray adalah torpedo ringan akustik homing Inggris (LWT) yang diproduksi oleh GEC-Marconi, yang kemudian dibeli oleh BAE Systems. Ini mulai beroperasi pada tahun 1983. Jarak tembak maksimum dari Stingray adalah 8 hingga 11 km (8.700 hingga 12.000 yd). Torpedo ini menggunakan hulu ledak Torpex, dengan berat hulu ledaknya sebesar 45 kg (99 pon). Stingray ditenagai dengan mesin Pompa-jet listrik Baterai magnesium/perak-klorida, yang mampu membawa torpedo ini meluncur hingga kecepatan maksimum 45kn (83 km/jam). Sistem pemandu Stingray mengandalkan sistem Sonar aktif dan pasif. Stingray dapat diluncurkan dari kapal perang jenis fregat, perusak, dan juga oleh helikopter, dan pesawat anti kapal selam Nimrod.

Peluncur Torpedo Mark 32
Sistem Mark 32 Surface Vessel Torpedo Tubes (Mk 32 SVTT) adalah sistem peluncuran torpedo yang dirancang untuk Angkatan Laut Amerika Serikat. Mark 32 telah menjadi sistem peluncuran torpedo anti-kapal selam standar di atas kapal permukaan Angkatan Laut Amerika Serikat sejak diperkenalkan pada tahun 1960, dan digunakan di atas kapal perang beberapa angkatan laut lainnya. Kebanyakan versi (disebut sebagai modifikasi atau mod) terdiri dari tiga tabung peluncur yang dapat diputar untuk menghadap kearah target. Mark 32 dapat menembakkan torpedo kaliber 12,75 inci (324 mm) dari tipe Mark 44, Mark 46, Mark 50 (dari tabung Mod 17 dan seterusnya, serta Mark 54) dan dapat dimodifikasi untuk meluncurkan torpedo tipe lain (seperti MU90 Impact yang dipasang di atas fregat Royal Australian Navy, atau Royal Navy yang menggunakan torpedo Stingray). Tabung torpedo ini dirancang untuk bisa ditembakkan dari jarak jauh, tetapi kontrol penembakan manual tetap dipasang sebagai cadangan untuk semua tipe kecuali Mod 15 yang dipasang pada perusak kelas Spruance, karena semua aspek pengoperasian tabung torpedonya dikendalikan dari jarak jauh. Peluncuran torpedo ini didukung oleh udara terkompresi di tabung belakang, yang juga berfungsi ganda sebagai lubang pengisian masing-masing tabung, dan torpedo yang digunakan adalah tipe senjata fire and forget. Peluncur torpedo ini dapat dibuat dari fiberglass, atau dengan liner fiberglass yang terbungkus logam. Tabung Mark 32 dirancang agar tahan cuaca dan mampu menyimpan torpedo untuk waktu yang lama, tetapi ini hanya bisa didapat dengan perawatan rutin. Setiap set yang terdiri dari tiga tabung memiliki berat sekitar 2.230 pon (1.010 kg), dengan bobot bervariasi antar variannya.

DINAS OPERASIONAL
Selama masa dinasnya yang lama bersama Royal Navy, kapal-kapal Fregat kelas Leander digunakan saat konfrontasi Indonesia-Malaysia pada tahun 1963-1966, Perang Cod 1973 dan 1975-1976 di mana HMS Diomede mengalami kerusakan parah dengan lubang selebar 30 kaki (9 meter) pada lambungnya setelah ditabrak oleh kapal Penjaga Pantai Islandia. Fregat ini dengan lambung tipisnya kurang cocok untuk tugas ini dibandingkan kapal patroli lepas pantai yang lebih baru. Kapal kelas Leander juga turut berpartisipasi dalam berbagai operasi, latihan dan pengerahan kekuatan laut. Mereka sering mewakili kontribusi Inggris untuk berbagai komitmen NATO termasuk Standing Naval force Atlantic dan Naval On Call Force Mediterranean (NAVOCFORMED) dan karenanya merupakan bagian penting dari pertahanan Inggris pada masa Perang Dingin. Kelas Leander juga turut bertugas sebagai penjaga di Gibraltar, Hindia Barat, Timur Jauh dan lokasi lain untuk ‘menunjukkan kehadiran Inggris’, serta memberikan efek deterrent yang kredibel. Beberapa Fregat Kelas Leander juga berpartisipasi dalam Patroli Beira. Patroli ini dilakukan antara tahun 1965 dan 1975 dan merupakan bagian dari sanksi ekonomi yang dijatuhkan setelah deklarasi kemerdekaan sepihak pemerintahan Ian Smith di Rhodesia. Patroli itu dirancang untuk mencegah aliran minyak dari Afrika Selatan mencapai Rhodesia melalui Beira dan pelabuhan Portugis lainnya di Mozambik. Empat kapal kelas Leander turut berpartisipasi dalam Perang Falklands 1982, yakni tiga kapal konversi Batch Kedua, HMS Argonaut, HMS Minerva dan HMS Penelope. Argonaut sempat mengalami 15 kalo serangan udara di San Carlos Sound dan terkena sejumlah bom dan tembakan meriam; kapal ini sempat terdampar selama enam hari, dengan dua bom bersarang di tempat penyimpanan rudal Seacat bagian depan dan ruang ketel.

Sementara itu kapal konversi Seawolf pertama HMS Andromeda, adalah salah satu dari hanya tiga fregat bersenjata Seawolf, yang dilengkapi dengan rudal terbaru Angkatan Laut Kerajaan Inggris itu dalam perang tersebut dan bertugas selama perang sebagai “penjaga gawang” – garis pertahanan terakhir untuk kapal induk HMS Invincible selama perang. Lima kapal kelas Leander yang belum diupgrade, bersenjatakan meriam, tiba di zona perang pada minggu terakhir konflik dan segera setelah itu bertugas dengan satuan tugas pascaperang yang dipimpin oleh kapal induk baru HMS Illustrious. Sebuah tim penyelam angkatan laut Argentina kabarnya sempat melakukan upaya serius untuk menempatkan ranjau limpet (tempel) di HMS Ariadne di Gibraltar selama konflik tersebut. Kapal kelas Leander terakhir yang diluncurkan pada tahun 1973 ini, seperti dua buah yang dibuat untuk AL Chili, membawa sistem peperangan elektronik khusus, untuk melawan rudal Exocet, dan pihak Argentina mungkin telah mengantisipasi hadirnya Ariadne dijadwalkan untuk bertugas di Zona Eksklusif, yang sebenarnya tidak akan dilakukannya sampai setelah akhir perang. Kapal-kapal tersebut diketahui berkinerja sangat baik dalam dinas Angkatan Laut Kerajaan Inggris, dengan tingkat kebisingan yang relatif rendah sehingga sonar tarik 2031(I) miliknya memiliki jangkauan lebih dari 100 mil (161 km), lebih baik daripada sonar 2031(Z) yang lebih canggih ketika dipasang di fregat Tipe 22. Namun, semua kelas Leander dalam dinas operasional Angkatan Laut Kerajaan Inggris dinonaktifkan pada awal tahun 1990-an karena desain kapal yang telah menua dan jumlah awaknya yang tinggi. Fregat Scylla ditenggelamkan pada tanggal 27 Maret 2004 sebagai terumbu buatan di lepas pantai Cornwall, sebelas tahun setelah penonaktifannya pada tahun 1993.

Sementara itu, Fregat kelas Leander juga berhasil diekspor untuk bertugas di Angkatan Laut Selandia Baru dan Angkatan Laut Chili; dalam yang dinas AL Chili mereka dikenal sebagai kelas Condell. Fregat yang dimodelkan dari fregat kelas Leander ini juga dibangun di bawah lisensi di Australia sebagai kelas River untuk Angkatan Laut Australia, di India dikenal sebagai kelas Nilgiri dan di Belanda sebagai kelas Van Speijk. Kapal-kapal kelas Leander kemudian dijual dan digunakan oleh angkatan laut Chili, Ekuador, Selandia Baru (Bacchante menjadi HMNZS Wellington dan Dido menjadi HMNZS Southland), India dan Pakistan. Kelas Condell milik Angkatan Laut Chili terdiri dari dua frigat kelas Leander yang baru dan kemampuannya telah ditingkatkan. Keduanya diberi nama sebagai Almirante Condell dan Almirante Lynch. Mereka ditugaskan oleh pemerintah Chili pada tahun 1969 sebagai fregat ASW. Kapal-kapal tersebut dibuat antara tahun 1969 dan 1973, dengan modifikasi sesuai permintaan Chili, oleh galangan kapal Yarrow (Shipbuilders) Ltd. di Scotstoun, Glasgow. Almirante Condell tiba di Chili pada tahun 1973, dengan diikuti oleh Almirante Lynch pada tahun 1974. Almirante Lynch dinonaktifkan pada tanggal 4 Juli 2007 setelah 33 tahun bertugas. Almirante Condell dinonaktifkan pada tanggal 18 April 2008, sebelum keduanya dijual ke Angkatan Laut Ekuador pada hari yang sama. Kedua fregat ini di AL Chili kemudian digantikan oleh HMS Norfolk, HMS Marlborough, HMS Grafton; tiga kapal Fregat kelas Tipe 23 yang dibeli dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris. Kedua fregat kelas Condell saat ini masih dalam dinas operasional aktif dengan Angkatan Laut Ekuador sebagai BAE Morán Valverde (FM-01) dan BAE Presidente Eloy Alfaro (FM-02). Di tempat lain Pakistan menonaktifkan fregat kelas Leander terakhirnya, Zulfiqar, pada bulan Januari 2007.

Di India, Fregat kelas Leander yang dikenal sebagai kelas Nilgiri, merupakan versi terbaru dari kelas Leander, dirancang dan dibangun untuk Angkatan Laut India oleh Mazagon Dock Limited di Mumbai. Enam kapal kelas Nilgiri dibangun antara tahun 1972-1981. Kapal-kapal kelas tersebut kemudian membentuk Skuadron Frigat ke-14. Kapal pertamanya INS Nilgiri adalah kapal perang besar pertama yang dibangun di India bekerja sama dengan Yarrow Shipbuilders dari Inggris. Pada bulan November 1960, pembangunan tiga fregat kelas Leander disetujui oleh pemerintah India. Fregat pertama dipesan pada bulan Juli 1965 dan dua berikutnya dipesan pada bulan September 1967. Tiga fregat lainnya dipesan pada bulan Juli 1970. Kelas dan kapal utamanya, INS Nilgiri diberi nama menurut Perbukitan Nilgiri di India. Kapal-kapal berikutnya di kelas ini juga dinamai berdasarkan nama pegunungan India. Ketika Inggris menolak untuk memberikan lisensi produksi perangkat radar, Angkatan Laut India bekerja sama dengan Signaal dari Belanda untuk membangun secara lisensi perangkat radar pencarian, pelacakan dan kontrol penembakan serupa di India, yang mana pemasangan perangkat ini dilakukan lima kapal terakhir. Versi radar pencarian dari Signaal yang kemampuannya telah ditingkatkan terus dipasang di kelas kapal lain milik Angkatan Laut India selanjutnya. Dua kapal terakhir, INS Vindhyagiri dan INS Taragiri dimodifikasi secara signifikan dengan penambahan helikopter Sea King ASW (ditempatkan pada hanggar buatan Kanada yang dapat dilipat), tabung torpedo ILAS berformat tiga tabung kaliber 324 mm dan mortir ASW berlaras kembar buatan Bofors. Dua kapal terakhir ini memiliki mesin yang lebih kuat daripada kapal-kapal sebelumnya.

Proses desain ulang ini dilakukan sendiri oleh Angkatan Laut India memberikan mereka pengalaman dan kepercayaan diri yang sangat dibutuhkan dalam mendesain dan memodifikasi kapal perang. Kapal-kapal ini juga dilengkapi dengan sistem informasi pengendalian penembakan ASW buatan India, yang merupakan yang pertama untuk industri elektronik India. Proyek ini dipimpin oleh Kapten (kemudian Laksamana Muda) Prakash N Gour. Saat itu, Inggris yang dengan tegas menolak untuk memperpanjang garansi desain mereka untuk modifikasi India, yang kemudian terbukti sukses. Fregat kelas Nilgiri menjadi andalan dan digunakan secara ekstensif oleh Angkatan Laut India selama tahun 1980-an dan awal 1990-an. Taragiri pernah mengalami kebakaran serius pada bulan Juli 1994, tetapi diperbaiki dan kembali beroperasi aktif pada tahun 1995. Westinghouse kabarnya telah memasok sistem sonar ASW kepada Angkatan Laut India, dengan dua hull mount array dan tiga variable depth sonar array yang dipasang di dalam towed body yang dibuat oleh Fathom Ocean Ltd. Elemen transduser keduanya diketahui identik. Sementara itu INS Udaygiri tercatat pernah menjalani reparasi di Naval Dockyard, Mumbai. INS Himgiri kabarnya sempat digunakan sebagai kapal platform percobaan untuk sonar APSOH (Advanced Panoramic Sonar Hull) buatan dalam negeri. Kelas Nilgiri kini telah dinonaktifkan oleh angkatan laut India, dengan masuknya Fregat kelas Shivalik. Lima kapal telah dinonaktifkan dan satu tenggelam dalam sebuah kecelakaan. INS Taragiri adalah kapal terakhir dari kelas yang dinonaktifkan, pada tanggal 27 Juni 2013 di Mumbai, setelah menjalani 33 tahun masa dinasnya dalam angkatan laut India.

Dalam AL Australia (RAN) enam kapal Kelas River ini diklasifkasikan sebagai kapal perusak kawal (awalnya disebut fregat anti-kapal selam). Rencana untuk mengakuisisi empat kapal, berdasarkan desain fregat Tipe 12M (atau kelas Rothesay) buatan Inggris, dimulai pada bulan Agustus 1950. Dua kapal pertama mengalami sedikit modifikasi desain, sedangkan dua kapal berikutnya mengalami perubahan lebih lanjut. Awalnya kelas River rencananya akan dibuat enam buah, dengan proses konstruksi dibagi antara Cockatoo Island Dockyard di Sydney dan Williamstown Naval Dockyard di Melbourne, tetapi kemudian hanya empat kapal yang disetujui. Dua kapal pertama, Parramatta dan Yarra, didasarkan langsung pada desain kelas Rothesay, dengan perubahan pada sistem pengendalian penembakan, radar peringatan udara, dan akomodasi awaknya untuk memenuhi kondisi operasional RAN. Kapal batch kedua, yakni Stuart dan Derwent, dimodifikasi untuk bisa membawa sonar kedalaman variabel Tipe 199 di atas buritan; namun Tipe 199 tercatat gagal dan kemudian dihapuskan dari desain. Pada tahun 1964, kapal induk Melbourne bertabrakan dengan kapal perusak Voyager, yang mengakibatkan kapal perusak tersebut tenggelam. Untuk menggantikan kapal yang hilang, pemerintah Australia memesan dua kapal kelas River lainnya, yakni Swan dan Torrens. Tidak seperti empat kapal sebelumnya, kapal baru ini didasarkan pada desain Tipe 12I (atau kelas Leander) yang lebih canggih.

Senjata yang dipasang pada empat kapal pertama saat pertama kali dioperasikan terdiri dari dua meriam Mark 6 kaliber 4,5 inci di turret tunggal berlaras kembar, dua meriam Bofor kaliber 40 mm pada dudukan kembar, dan dua mortir anti-kapal selam Limbo. Selama tahun 1960-an, peluncur rudal anti-pesawat Sea Cat berformat empat dipasang di tempat bekas dudukan Bofors, dan salah satu mortir Limbo dipindahkan demi memberi tempat bagi peluncur rudal Ikara. Stuart adalah kapal RAN pertama yang dilengkapi dengan Ikara, sedangkan Derwent adalah yang pertama membawa rudal Sea Cat. Pada awal tahun 1990-an, sistem rudal ini telah digantikan dari semua kapal kelas River yang masih aktif, dengan sistem SAM jarak pendek RBS 70 milik Angkatan Darat, yang tersedia untuk digunakan jika diperlukan. Selama karir mereka, kapal kelas River menghabiskan sebagian besar waktu mereka di perairan Australia atau latihan multinasional, tetapi secara teratur dikerahkan ke Unit Cadangan Strategis Timur Jauh, dan melihat bertugas selama masa Konfrontasi Indonesia-Malaysia. Selama tahun 1967 dan 1968, Stuart dan Yarra digunakan untuk mengawal kapal pengangkut pasukan HMAS Sydney dalam perjalanannya ke Vietnam. Selama pertengahan tahun 1970-an, Yarra menjalani reparasi paruh waktu, yang mencakup penghapusan sisa mortir Limbo-nya, dan pemasangan sonar Mulloka. Parramatta mengalami modernisasi yang lebih luas selama akhir tahun 1970-an, dengan pemasangan sistem pengendalian penembakan baru, modifikasi boiler dan sistem kelistrikan, serta peningkatan fasilitas akomodasinya. Stuart dan Der mengalami modernisasi serupa antara tahun 1979 dan 1985.

Program modernisasi, sebenarnya direncanakan dilakukan pada Swan dan Torrens selama pertengahan tahun 1980-an, tetapi kurangnya dana berarti bahwa kapal hanya menjalani reparasi paruh waktu saja. Pada awal tahun 1984, Stuart menjadi kapal RAN pertama yang ditugaskan secara permanen ke HMAS Stirling, pangkalan baru di Australia Barat. Yarra diketahui telah dinonaktifkan pada tanggal 22 November 1985. Terdapat rencana untuk mempertahankannya sebagai kapal pelatihan, tetapi keputusan akhir yang diambil adalah mempertahankan HMAS Vampire dalam peran ini, dan Yarra ditempatkan sebagai kapal cadangan. Kapal-kapal lain dari kelas tersebut dinonaktifkan selama tahun 1990-an. Derwent tenggelam selama proses pengujian bahan peledak pada tahun 1994. Swan ditenggelamkan sebagai terumbu buatan pada tahun 1997. Torrens ditorpedo oleh kapal selam kelas Collins, HMS Farncomb selama tes senjata pada tahun 1999. Tiga kapal lainnya dibedituakan. Sementara itu di negara tetangga terdekat Australia, HMNZS Canterbury, fregat kelas Leander berpenggerak mesin turbin uap terakhir di Angkatan Laut Selandia Baru, dinonaktifkan di Auckland tanggal pada 31 Maret 2005 setelah 33 tahun dalam dinas layanan operasional. Pada tahun 2006 diumumkan bahwa kapal tersebut akan ditenggelamkan sebagai bagian dari atraksi menyelam di Bay of Islands, dan hal ini akhirnya dilakukan pada tanggal 3 November 2007 di Deep Water Cove. Kapal ini diletakkan di dekat kapal rekannya HMNZS Waikato.

Di Indonesia, bagi Gugus Tempur Laut TNI AL, keberadaan fregat Van Speijk sangatlah vital, karena pada tipe Fregat, kelas inilah menjadi yang terbanyak dimiliki, yakni ada enam unit (terdiri dari KRI Ahmad Yani 351, KRI Slamet Riyadi 352, KRI Yos Sudarso 353, KRI Oswald Siahaan 354, KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355, dan KRI Karel Satsuit Tubun 356). Sebelumnya TNI AL punya fregat Tribal Class buatan Inggris, jumlahnya ada 3 unit, namun kini telah pensiun. Merujuk ke referensi internasional, kini fregat Van Speijk disebut sebagai Ahmad Yani Class (mengikuti penamaan kapal pertama di antara kapal sejenis atau lead ship/KRI Ahmad Yani 351). Meski demikian, masih banyak pula yang menyebutnya dengan kelas aslinya, Van Speijk. Bila menilik tahun usianya, kapal perang buatan Belanda ini merupakan alutsista yang usianya sudah cukup tua. Meski demikian, letalitasnya tetap harus diperhitungkan, lantaran TNI AL secara berkala melakukan peningkatan kemampuan tempur pada kapal yang pernah jadi andalan armada Belanda di tahun 60-an ini. Secara teknis, usia kapal perang permukaan (surface warship) memang bisa sangat panjang. Namun sekali lagi hal itu sangat tergantung dari perawatan dan peningkatan sistem-sistem yang terkandung di dalamnya (propulsi, sensor, manajemen tempur, serta senjata). Mulai 1986, keenam Van Speijk Class mulai dipensiunkan secara bertahap oleh AL Belanda dan kemudian dijual ke Indonesia. Dari sisi tenaga, aslinya Van Speijk class dan Leander class ditenagai sepasang mesin turbin uap (steamed turbin) yang mampu menyemburkan daya sebesar 30.000 shp. Daya sebesar itu mampu menggeber kapal hingga 28 knots (52 km per jam). Tentu soal kecepatan menjadi poin penting, mengingat salah satu tugas kapal ini sebagai pemburu kapal selam Uni Soviet. Namun, harus diakui jika mesin turbin uap tergolong berat, relatif boros bahan bakar, dan keseluruhan sistemnya makan tempat, serta cenderung sulit dalam perawatan. Menyikap hal tersebut, TNI AL yang punya budget serba terbatas, secara bertahap mulai tahun 2003, mulai melakukan penggantian sistem propulsi sebagai bagian dari upaya peningkatan performa Van Speijk class. Proyek pertama dimulai pada KRI Karel Satsuit Tubun 356 yang diganti mesinnya dengan jenis diesel Caterpillar CAT DITA, disusul kapal lainnya dalam kurun waktu tahun 2007 – 2008. Pengecualian ada pada KRI Oswald Siahaan 354 yang mesinnya diganti dengan diesel SEMT Pielstick, mirip (meski dari sub tipe berbeda) dengan yang mentenagai korvet SIGMA class TNI AL. Dengan repowering, kini Van Speijk class mampu berlayar dengan kecepatan 24 knots (45 km per jam). Memang agak turun kemampuan pada kecepatan dibandingkan mesin turbin uap, namun daya jelajahnya meningkat lantaran lebih irit konsumsi bahan bakar. Akselerasi dan kelincahan kapal pun lebih baik lantaran respon semburan tenaga mesin diesel lebih cepat ketimbang turbin uap.

Sementara itu setidaknya beberapa, jika tidak semua, kapal Indonesia telah mengganti peluncur Seacat mereka dengan dua peluncur Simbad (varian rudal SAM jarak pendek Mistral buatan Prancis) ganda. Simbad merupakan sistem rudal hanud yang dioperasikan secara manual dengan peluncur ganda. Rudal ini berdimensi lebih ringkas dengan jangkauan tembak sekelas Seacat. Sistemnya pun sudah modular, sehingga jika diperlukan Simbad dapat diganti dengan peluncur Tetral, jenis SAM yang digunakan juga pada korvet SIGMA class TNI AL. Baru-baru ini, dua peluncur Harpoon berformat quadruple juga digantikan oleh peluncur rudal Yakhont (SS-N-26) yang dibeli dari Rusia, karena rudal Harpoon versi awal yang dipasang sebelumnya mendekati masa kadaluarsanya. Ada juga beberapa laporan yang berbeda, yang menyatakan bahwa rudal Harpoon diganti dengan rudal C-802 buatan China dan bukan diganti dengan Yakhont Rusia. Ada beberapa gambar yang beredar di internet menunjukkan beberapa kapal kelas ini yang membawa peluncur kotak yang terlihat terlalu kecil untuk menjadi peluncur Yakhont, tetapi ukurannya cocok untuk rudal C-802. Gambar yang dirilis pada bulan Maret 2011 menunjukkan bahwa modifikasi telah dilakukan pada KRI Oswald Siahaan dengan 4 sel peluncur rudal VLS (vertikal) SS-26 Yakhont yang terletak di quarterdeck di samping hanggar helikopter. Saat berdinas di AL Belanda, Van Speijk disandingkan dengan helikopter AKS (Anti Kapal Selam) jenis Westland Lynx. Namun, saat Van Speijk menjadi milik TNI AL, varian helikopternya turun kelas. Meski tetap menggunakan jenis helikopter AKS, tapi yang digunakan adalah Westland Wasp. Kedua helikopter AKS ini sama-sama buatan Inggris, bedanya usia Wasp sudah lebih tua dan kuno. Dibandingkan kapal perang TNI AL lainnya, maka Van Speijk punya perlakuan khusus untuk heli, yakni dengan adanya fasilitas hangar. Saat Puspenerbal TNI AL memensiunkan Wasp, sebagai penggantinya adalah helikopter NBO-105C rakitan PT Dirgantara Indonesia. Sayangnya, NBO-105 TNI AL tidak punya kemampuan AKS. NBO-105 tercatat cukup lama menjadi bagian dari frigat Van Speijk. Karena tak punya kemampuan AKS, paling banter helikopter ringan ini dipakai untuk dukungan misi SAR, intai terbatas, dan bantuan tembakan udara ringan, dengan dipasangkannya door gun berupa senapan mesin FN MAG kaliber 7,62 mm.

Dalam dinas Indonesia, kelas Van Speijk dikenal sebagai kelas Ahmad Yani sesuai dengan nama kapal pertama di kelas ini. Fregat kelas Ahmad Yani rencananya akan digantikan oleh fregat kelas Martadinata (SIGMA PKR 10514); yang pertama, diberi nama Raden Eddy Martadinata (331), telah ditugaskan pada tanggal 7 April 2017. Dalam pengabdiannya, pada tahun 1992, fregat kelas Van Speijk (Kelas Ahmad Yani) AL Indonesia, yakni KRI Ki Hajar Dewantara bersama KRI Yos Sudarso dan KRI Teluk Banten sempat mencegat kapal Portugis Lusitania Expresso di Timor Timur. Kolonel Widodo, Asisten Deputi Armada Timur Angkatan Laut Indonesia, mengatakan kepada Radio Republik Indonesia dari atas kapal perang Indonesia KRI Yos Sudarso bahwa kapal feri itu memasuki perairan Indonesia pada pukul 5:28 pagi waktu setempat pada tanggal 11 Maret 1992. Pukul 6:07 , Lusitania Expresso telah melakukan perjalanan dua hingga tiga mil laut (3,7 hingga 5,6 km; 2,3 hingga 3,5 mi) ke dalam wilayah Indonesia dan Kapten Luis Dos Santos (kapten Lusitania Expresso) diperintahkan untuk segera pergi. Kolonel Widodo mengatakan bahwa kapten kapal Portugis itu mematuhi perintah itu dan membalikkan kapalnya dan kembali ke arah laut. Dalam kiprahnya yang paling baru untuk memberi bantuan tembakan bagi Satgas Gultor TNI saat memburu perompak Somalia, yang membajak kapal MV Sinar Kudus pada bulan Maret 2011. Helikopter NBO-105 yang lepas landas dari KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355. Dalam operasi air cover tersebut, NBO-105 dipasangi GPMG FN MAG 7,62 mm dan penembak sniper. Dalam operasi militer yang dramatis ini, TNI AL mengerahkan dua kapal Van Speijk Class, yakni KRI Yos Sudarso 353 dan KRI Abdul Halim Perdanakusuma 355 sebagai kapal komando.


Pada bulan Februari 2016 tersiar kabar bahwa Mabes TNI AL secara bertahap akan mulai memensiunkan keenam frigat Van Speijk Class mulai tahun 2017 hingga berakhir di tahun 2022. Rencana TNI AL tersebut tentu sangat masuk akal, mengingat Van Speijk Class telah mengabdi 30 tahun lebih di Satuan Kapal Eskorta (Satkor) TNI AL, dan setengah abad berlayar sejak dioperasikan AL Kerajaan Belanda pada dekade 60-an. Namun dalam kabar terbarunya, jadwal pensiun armada Van Speijk Class TNI ditunda, dan fregat ini tampaknya masih akan terus melaut. Pertimbangan penundaan periode pensiun Van Speijk Class didasarkan atas risiko kesenjangan tingkat operasional armada kapal perang utama TNI AL. Saat ini memang flagship kapal kombatan TNI AL berada di PKR (Perusak Kawal Rudal) RE Martadinata Class (KRI RE Martadinata 331 dan KRI I Gusti Ngurah Rai 332), namun level kesiapan tempur kedua PKR tersebut dinilai belum memadai, lantaran beberapa sistem senjata andalan di kedua kapal perang tersebut belum terpasang. Alasan lain terkait penundaan pensiun, dikarenakan beberapa Van Speijk Class masih sangat diandalkan untuk meronda di kawasan Laut Cina Selatan. Menyandang status sebagai fregat, menjadikan Van Speijk Class unggul untuk misi dengan endurance yang lebih panjang ketimbang kapal tipe korvet. Belum lagi, kapasitas personel yang dibawa juga lebih besar. Maka tak salah bila Van Speijk Class yang dipercaya untuk menjalankan misi tempur lintas laut jarak jauh (Satgas Merah Putih) dalam operasi pembebasan sandera MV Sinar Kudus dari tangan perompak Somalia pada bulan Maret 2011. Karena masuk kategori alutsista strategis, beragam program peremajaan dipercepat oleh TNI AL untuk memaksimalkan kemampuan tempur Van Speijk, selain upgrade sistem persenjataan rudal hanud (pertahanan udara) dan rudal anti kapal (anti ship missile), TNI AL juga mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk merenovasi sistem elektronik kapal kelas ini, seperti perangkat Combat Management System yang baru dipasok oleh PT Len.
KARAKTERISTIK UMUM FREGAT KELAS LEANDER
Bobot
- 2,350 ton untuk versi standar, 2,500 ton (kemudian 2,790 tons) untuk versi lambung lebar standar
- bobot penuh 2,860 ton, untuk bobot penuh versi lambung lebar 2,962 ton (kemudian 3,300 ton)
Panjang
113.4 meter (372 ft)
Lebar
12.5 meter (41 ft), versi lambung lebar 13.1 meter (43 ft)
Draught
4.5 meter (15 ft) normal, 5.5 meter (18 ft) bobot penuh, versi lambung lebar 5.5 meter (18 ft) (kemudian 5.8 metres (19 ft)) dengan bobot penuh
Mesin
2 Babcock & Wilcox oil-fired boilers, geared steam turbines, dengan kekuatan 22,370 kilowatts (30,000 hp), 2 shafts
Kecepatan
27 knots (50 km/h; 31 mph)
Jangkauan
7,400 kilometer (4,600 mi; 4,000 nmi) pada kecepatan 15 knots (28 km/h; 17 mph)
Jumlah awak : 260
Sistem sensor dan pemrosesan
- Radar:
- Type 965 (radar peringatan udara dicopot pada saat konversi Ikara), Type 992 Q, Type 903, Type 974/978
- Sonar:
- Type 162, 184, 199, & kemudian sonar Type 2031 and Type 2016
Persenjataan
- Awalnya:
- 2 meriam kaliber 4.5 inchi (pads dudukan ganda Mk.6)
- 1 peluncur rudal SAM Seacat
- 2 kanon kaliber 20mm (dalam dudukan tunggal)
- 2 meriam Bofors Mk VII (dudukan tunggal) kaliber 40mm pada 7 kapal awal, sebelum diganti rudal Seacat & kanon kaliber 20mm
- 1 mortir Limbo ASW
Batch 1 – Ikara:
- 1 peluncur rudal anti kapal selam Ikara
- 2 peluncur rudal SAM Seacat
- 2 meriam kaliber 40mm – dalam dudukan tunggal
- 2 peluncur torpedo STWS-1 format triple kaliber 324 mm (12.75) untuk torpedo Mk 46 dan Stingray
- 1 peluncur mortir Limbo ASW
Batch 2 – Exocet/Seacat:
- 4 peluncur rudal anti kapal MM.38 Exocet
- 3 peluncur rudal SAM Seacat
- 2 meriam kaliber 40mm guns – dudukan tunggal
- 2 peluncur torpedo STWS-1 format triple kaliber 324 mm (12.75) untuk torpedo Mk 46 dan Stingray
Batch 3 – Exocet/Seawolf:
- 4 peluncur rudal anti kapal MM.38 Exocet
- 1 peluncur sextuple GWS.25 dengan 30 rudal SAM Seawolf
- 2 kanon AA kaliber 20mm
- 2 peluncur torpedo STWS-1 format triple kaliber 324 mm (12.75) untuk torpedo Mk 46 dan Stingray
Helikopter
Versi awal dan Batch 1:
- 1 Helikopter Anti Kapal Selam Westland Wasp
Batch 2 dan Batch 3:
- 1 Helikopter Anti Kapal Selam Westland Lynx
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Leander-class_frigate
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Van_Speijk-class_frigate
Leander Class General Purpose Frigate (Type 12 Improved)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nilgiri-class_frigate_(1972)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Condell-class_frigate
https://en.m.wikipedia.org/wiki/River-class_destroyer_escort
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ahmad_Yani-class_frigate
Van Speijk Class: “Benteng Laut Nusantara” – Tiga Dasawarsa Flagship Armada Eskorta TNI AL oleh Haryo Adjie, 29/09/2014
LEANDER Class General-purpose Frigates (as built)
http://www.hazegray.org/navhist/rn/frigates/leander/
Tunggu Kesiapan Tempur PKR Martadinata Class, TNI AL Tunda Jadwal Pensiun Frigat Van Speijk Class oleh Bayu Pamungkas, 21/10/2017
Thales LW03 – Radar Intai Udara Utama Di Frigat KRI Karel Satsuit Tubun 356 oleh Gilang Perdana, 19/01/2020
https://en.m.wikipedia.org/wiki/QF_4.5-inch_Mk_I_%E2%80%93_V_naval_gun
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Seacat_(missile)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Limbo_(weapon)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Ikara_(missile)
The First & The Last: Kisah Kapal Penjelajah Nuklir Kelas Long Beach (1956-1995)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sting_Ray_(torpedo)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Exocet
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sea_Wolf_(missile)
Korvet Kelas Parchim Bekas Jerman Timur Milik TNI AL, Kapal Perang Dengan Banyak Cerita
https://en.m.wikipedia.org/wiki/OTO_Melara_76_mm
