Others

Kisah Heroik 3 Pilot Tempur Ulung Keturunan Asia Tengah

“Pengalaman perang memungkinkan kita mengambil kesimpulan seperti itu. Setiap resimen memiliki sekitar 5, maksimum – 7 pilot yang mampu menembak jatuh lebih banyak daripada yang lain dalam pertempuran udara (mereka menyumbang sekitar setengah dari semua pesawat musuh yang ditembak jatuh) ” – G.Zimin. “Tactics in Combat Examples: Fighter aviation division”. 

Keberadaan pilot Ace yang memiliki catatan lebih menonjol dari pilot rata-rata dalam pertempuran menjadi fenomena tersendiri dalam sejarah perang udara. (Sumber: https://warlord-community.warlordgames.com/)

Fenomena kemunculan pilot ace masih menjadi misteri terbesar dalam kiprah pilot-pilot pesawat tempur dalam sejarah penerbangan. Intuisi profesional, keterampilan menerbangkan, dan penglihatan yang tajam menjadi atribut mutlak bagi kesuksesan mereka. Selain itu apakah faktor keberuntungan biasa atau hasil akumulasi pengalaman tempur dalam pertempuran yang melelahkan dengan musuh yang turut menentukan kemampuan mereka? Sains hingga sekarang tidak mengetahui resep pasti mereka untuk sukses. Orang-orang seperti itu dilahirkan di negara yang berbeda-beda dan pada waktu berbeda. Dan, setiap saat, mereka menjadi salah satu “beberapa orang langka yang beruntung” yang membawa setengah dari kemenangan udara skuadron (resimen, divisi – meskipun skalanya berubah, proporsinya tetap sama) mereka. Sementara itu di tengah fenomena ace dalam sejarah pertempuran udara, kiprah pilot-pilot Soviet asal timur (keturunan Asia Tengah, khususnya) adalah hal yang rumit untuk dijelaskan. Memang benar adat istiadat penduduk Muslim di Timur pada dasarnya berbeda dari norma-norma yang dianut dalam masyarakat Kristen Eropa. Beda adat, lain pula cara perkembangan peradabannya. Masa lalu yang gemilang di Asia Tengah telah hilang seiring berjalannya waktu – selama beberapa abad terakhir, kawasan ini secara obyektif kalah dengan bangsa-bangsa Eropa dalam hal perkembangan ekonomi, industri, dan ilmu pengetahuan. Para imigran dari masyarakat Kaukasus dan Asia Tengah kemudian mendapatkan status umum yang merendahkan sebagai “pekerja tamu” dan “pedagang aprikot yang malas”. Mereka juga dianggap benar-benar tidak cocok untuk mengoperasikan peralatan yang canggih, rumit dan mahal seperti pesawat tempur. Tapi benarkah?

Meski pandangan sinis diatas bukannya tidak berdasar, namun tidak sepenuhnya akurat. Berikut adalah beberapa pilot asal Asia Tengah yang berprestasi dan cukup menonjol dalam sejarah penerbangan militer.

Kru udara keturunan Asia (tengah) pada kekuatan udara Soviet saat Perang Dunia II. Kemampuan pilot-pilot Non-Eropa kerap diremehkan. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

AMET KHAN SULTAN

Amet Khan Sultan (20 Oktober 1920 – 1 Februari 1971) adalah pilot militer, letnan kolonel (1957), Pilot Uji Kehormatan Uni Soviet (1961), dan penerima dua kali medali Pahlawan Uni Soviet (1943 dan 1945). Lahir di Krimea, di Alupka, Amet memiliki ayah asal Dagestan dan ibu keturunan Tatar Krimea. Amet termasuk di antara 50 pilot pesawat tempur Soviet paling sukses dalam Perang Patriotik Hebat (sebutan orang-orang Soviet untuk Perang Dunia II), dan salah satu dari lima ace Soviet yang berhasil melampaui catatan menerbangkan 600 misi tempur (bersama dengan Aleksey Alelyukhin, Alexander Pokryshkin, Nikolai Skomorokhov dan Lev Shestakov). Selama tahun-tahun masa perang, Amet-Khan Sultan melaksanakan 603 misi tempur, terlibat dalam 150 pertempuran udara, dan melakukan 70 misi tempur untuk menyerang pasukan darat musuh. Secara pribadi Amet mencetak 30 kemenangan udara dan menembak jatuh 19 pesawat musuh secara bersama-sama. Ia dianggap sebagai pilot terbanyak yang menjatuhkan pesawat He-111 (tujuh pembom jenis ini yang dijatuhkannya). Perlu dicatat bahwa sejak pertengahan tahun 1943, pembom Heinkel membawa persenjataan pertahanan yang diperkuat: bagian belakangnya dilindungi oleh 4 posisi penembakan, yang menjadikan upaya intersepsinya sebagai tugas yang mematikan. Selama tahun-tahun masa perang, Amet sebagai seorang pilot berbakat mampu menerbangkan beberapa jenis pesawat tempur, diantaranya: Polikarpov I-153, Yakovlev Yak-1, Yak-7B, yang merupakan pesawat buatan lokal serta pesawat tempur Hawker Hurricane asal Inggris, dan Bell P-39 Airacobra asal Amerika. Kemenangan Amet Khan Sultan terakhir didapat saat ia menerbangkan pesawat tempur Lavochkin La-7. Secara total, selama terbang sebagai pilot militer dan pilot uji, ia menguasai 96 jenis pesawat, dengan total mengumpulkan 4237 jam terbang! 

Amet Khan Sultan, salah satu Ace terbesar Soviet yang memiliki latar belakang keturunan Asia. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Grup musik keturunan Tatar Krimea “Haitarma”, Moskow, 1935. Amet memiliki garis keturunan Tatar Krimea dari pihak ibu. (Sumber: https://euromaidanpress.com/)

Di masa kecilnya keluarga Amet tinggal di Alupka, Crimea yang kemudian menjadi bagian dari negara bagian Rusia Selatan (sekarang Ukraina) yang berumur pendek selama Perang Saudara Rusia. Pada tahun 1937, ia lulus dari sekolah menengah dan kemudian belajar di sekolah pekerja kereta api di Simferopol serta di aeroclub yang berbasis di Bandara Zavodskoe, di mana ia lulus dari pelatihan penerbangan pada tahun 1938, saat ia bekerja sebagai tukang di depo kereta api setempat. Pada bulan Februari 1939, ia bergabung dengan Tentara Merah dan dikirim untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut di Sekolah Pilot Penerbangan Militer Tinggi Kacha, tempat ia lulus pada tahun 1940, dan ditugaskan ke Resimen Penerbangan Tempur ke-122. Nama Amet-khan terkadang mengundang ejekan dari teman-temannya, namun ia sendiri sering mengolok-olok namanya, sambil bercanda bahwa “Saya sendiri adalah Khan sekaligus Sultan.” Di sisi lain, sebagian besar teman dan keluarganya memanggilnya sebagai Amet-khan, bukan Sultan. Ketika Nazi Jerman menginvasi Uni Soviet pada tahun 1941, Amet-khan adalah seorang pilot di Resimen Penerbangan Tempur ke-4 dan segera dikerahkan ke garis depan untuk melakukan serangan defensif dengan menerbangkan pesawat tempur Polikarpov I-153 yang sudah usang di atas Rostov-on-Don. Pada musim dingin 1942 setelah menderita banyak korban, resimen tersebut dilatih ulang dan diajarkan untuk menerbangkan pesawat tempur Hawker Hurricane buatan Inggris yang lebih baru. Pada bulan Maret 1942, resimen tersebut dikerahkan untuk mempertahankan kota Yaroslavl.

Amet memulai perang dengan pesawat “usang” Polikarpov I-153. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Pesawat tempur Hawker Hurricane buatan Inggris termasuk peralatan militer pinjam sewa yang diberikan Inggris kepada Soviet selama Perang Dunia II. Pada musim dingin 1942 setelah menderita banyak korban, resimen tersebut dilatih ulang dan diajarkan untuk menerbangkan pesawat tempur Hawker Hurricane buatan Inggris yang lebih baru. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Seperti banyak ace lainnya (misalnya seperti Gerhard Barkhorn dari Jerman), Amet Khan memulai karirnya dengan tidak memuaskan. Pada tahun pertama perang, ia tidak pernah berhasil menembak jatuh satupun pesawat musuh. Dia baru mendapat kemenangan udara pertamanya pada tanggal 31 Mei 1942 dalam keadaan yang sangat tidak biasa. Waktu itu Amet mengejar pesawat Junker Ju-88 pengintai pada ketinggian maksimum, menembakkan semua amunisinya, dan kemudian menabrak pesawat musuh, dengan menyerangnya dari bawah menggunakan sayap kirinya. Hantaman kuatnya meremukkan lampu pesawatnya dan sesaat membuat Amet tidak sadarkan diri. Amet Khan kemudian sadar kembali dari keterkejutannya dengan mendengar suara seperti peluit yang memekakkan telinga. Ju-88 musuh yang terbakar jatuh ke tanah, mengaitkan “Hurricane” miliknya dan membawanya serta jatuh. Asap tebal menyelimuti kabin, membuat Amet terengah-engah karena kekurangan udara. Pada saat bahaya mendekat, kesadarannya memunculkan satu-satunya pemikiran yang bijak: “Lompat!” Dengan gerakan cepat, dia melepaskan sabuk pengamannya dan bergegas keluar dari kokpit, namun segera terhenti. Kabin pesawat tempurnya ditutupi dengan sayap kanan pesawat “Junkers” itu, dan pintu keluarnya diblokir. Dengan mengerahkan upaya fisik yang luar biasa, Amet-khan pada akhirnya berhasil mendorong pesawatnya menjauh(!) dan keluar dari kobaran api dengan selamat. Amet terjun payung ke tanah, dengan luka ringan di lengan dan kepala, beberapa karena kepalanya terbentur dashboard kokpit. Dia mendarat di sebuah peternakan di mana seorang pekerja mengarahkan garpu rumput ke arahnya karena khawatir Amet-khan adalah salah satu pilot Luftwaffe, tetapi setelah Amet melipat mantel pilotnya dan menunjukkan kepada petani itu Orde Bintang Merahnya mereka menunjukkan rasa hormatnya dan membantu memeriksa lokasi jatuhnya pesawat. Kedua pilot Ju-88 kemudian diidentifikasi oleh penduduk desa saat Amet-khan beristirahat. Amet-khan tinggal di pertanian itu selama satu malam untuk memulihkan diri dan dikunjungi oleh komisaris resimen, yang membangunkannya dan mengucapkan selamat atas keberhasilan serangannya. Dia lalu segera kembali ke resimennya untuk terbang lagi setelah tinggal sebentar di rumah sakit, di mana dia diejek oleh beberapa rekan pilotnya karena menabrakkan pesawatnya ke atas alih-alih menabrak ke bawah dan hanya menghancurkan roda pendaratan pesawatnya melawan Ju-88, yang mungkin memungkinkan dia melakukan pendaratan di perut dan pergi tanpa goresan. Dari informasi yang didapat, pembom Jerman tersebut ternyata sedang menjalankan misi pengintaian, sehingga pengorbanan pesawat Amet tidak terlalu merugikan Angkatan Udara Soviet. Atas kemenangannya ia dihadiahi sebuah arloji berukir alun-alun kota Yaroslavl dan kemudian dianugerahi Order of Lenin.

Amet memperoleh kemenangan udara pertamanya dengan cara yang tidak biasa, yakni dengan menabrak pesawat Ju-88 musuh. (Sumber: https://www.rbth.com/)

Dengan berjalannya waktu dan dengan setiap misi yang dijalankannya, keterampilan terbang, taktis, dan menembak Amet terus meningkat, sehingga jumlah kemenangannya bertambah, dan kepercayaan dirinya meningkat. Pada musim panas 1942, Amet-khan mencetak sembilan kemenangan udara lagi, kebanyakan di antaranya saat terbang berkelompok di atas Voronezh dalam pesawat Hawker Hurricane sebelum dia ditugaskan kembali pada bulan Agustus ke Stalingrad, di mana dia menerbangkan Yak-7B dan dipuji oleh komandannya karena menjadi salah satu yang pertama di resimennya yang menyerang pesawat musuh di malam hari. Dia sempat mengemudikan Yak-1 di atas Voronezh pada musim panas itu dan tidak mencetak kemenangan udara apa pun selama kurun waktu itu, tetapi kemudian dalam perang tersebut dia mencetak beberapa kemenangan saat menerbangkan salah satunya. Pada musim gugur tahun 1942, ia menjabat sebagai komandan skuadron ke-3 dari Resimen Tempur Ke-9, salah satu unit tempur terbaik angkatan udara Tentara Merah. Resimen ini telah direorganisasi menjadi seluruhnya terdiri dari para ace untuk melawan serangan udara Jerman di daerah tersebut. Anggota resimen tersebut termasuk Mikhail Baranov, ace Soviet paling sukses pada saat itu, dan Lydia “Lilya” Litvak, ace wanita pertama. Sebagai bagian dari resimennya, Amet Khan terlibat dalam pertempuran Stalingrad, mengambil bagian dalam pembebasan Rostov-on-Don, Kuban dan Krimea, bertempur di kawasan Prusia Timur, serta berpartisipasi dalam perebutan Kota Berlin. Di Stalingrad pada bulan Agustus 1942 Amet-khan harus terjun payung keluar dari pesawatnya untuk kedua kalinya setelah Yak-7B miliknya ditembak jatuh. Dari bulan November 1942 hingga akhir perang ia tetap menjadi komandan skuadron ketiga Resimen Penerbangan Tempur Pengawal ke-9. Setelah berlatih ulang untuk menerbangkan Bell P-39 Airacobra pada tahun 1943, ia bertempur di Rostov-on-Don dan menyaksikan pertempuran sengit di wilayah Kuban sebagai bagian dari kampanye untuk merebut kembali kendali atas Taganrog, Melitopol, dan Semenanjung Krimea. Pada tanggal 24 Agustus 1943, Amet dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet atas keberhasilannya berkontribusi pada pertahanan udara di front Selatan, Bryansk, dan Stalingrad, serta di Moldova, Ukraina selatan, dan Yaroslavl. Meskipun tidak dicatat dalam dokumen resmi Soviet, sejarawan Inggris Thomas Polak dan Christopher Shores menghubungkan serangan kedua terhadap Ju-88 dengan menabrakkan diri dengan aksi Amet-khan, yang terjadi selama Pertempuran Stalingrad pada musim dingin tahun 1943. Hanya tujuh belas pilot Soviet yang diketahui telah melakukan dua kali serangan semacam itu; dua pilot Soviet melakukan tiga kali serudukan, dan satu pilot, Boris Kovzan, yang melakukan empat kali serudukan, memegang rekor serudukan udara terbanyak.

Pesawat tempur Yak-7. Amet menerbangkan Yak-7 saat bertugas di Stalingrad. (Sumber: https://twitter.com/)
Amet-khan Sultan dengan pesawat tempur Yak-7 miliknya di Stalingrad. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Para pilot Soviet dan kru daratnya. Pada musim gugur tahun 1942, Amet menjabat sebagai komandan skuadron ke-3 dari Resimen Tempur Ke-9, salah satu unit tempur terbaik angkatan udara Tentara Merah. Resimen ini telah direorganisasi menjadi seluruhnya terdiri dari para ace untuk melawan serangan udara Jerman di daerah tersebut. Anggota resimen tersebut termasuk Mikhail Baranov, ace Soviet paling sukses pada saat itu, dan Lydia “Lilya” Litvak, ace wanita pertama. (Sumber: https://www.super-hobby.com/)

Antara tanggal 18 hingga 20 Mei 1944, Amet diizinkan mengambil cuti tiga hari dari pertempuran untuk mengunjungi keluarganya di Alupka, tidak lama setelah Soviet mengambil alih kembali Krimea, dengan membawa beberapa temannya, termasuk sesama Pahlawan Uni Soviet Pavel Golovachev. Di sini pengalaman pahit dalam hidupnya terjadi. Suatu pagi, seorang petugas NKVD menerobos masuk ke rumah Amet-khan berusaha memaksa Amet-khan dan orang tuanya meninggalkan Krimea, namun mereka awalnya menolak untuk pergi dan pertikaian pun terjadi hingga Amet-khan mengidentifikasi dirinya sebagai Pahlawan Uni Soviet kepada perwira NKVD yang menyerangnya dan statusnya sebagai pahlawan perang dibenarkan oleh Pavel Golovachev yang hadir di lokasi kejadian. Perwira NKVD itu kemudian mulai menanyainya tentang latar belakang etnisnya, memutuskan bahwa Amet-khan secara teknis adalah orang Dagestan, dan menjelaskan bahwa ada perintah untuk mendeportasi seluruh orang Tatar Krimea dan bahwa saudaranya Imran dicari karena berkolaborasi dengan Jerman. Sepanjang hari NKVD terus mendeportasi orang-orang Tatar Krimea, dan ibunya, yang merupakan seorang Tatar Krimea, dikirim ke tempat pemindahan, tetapi setelah anggota Angkatan Udara lainnya yang merupakan teman Amet-khan menjelaskan kepada pihak NKVD bahwa dia dan seluruh keluarga dekatnya dibebaskan dari deportasi karena dia menikah dengan seorang Lak dan karenanya tidak lagi dianggap sebagai Tatar Krimea di mata hukum, dia dan suaminya terhindar dari deportasi; namun, mereka disarankan untuk sementara waktu pindah ke Dagestan. Akhirnya Imran, adik Amet dijatuhi hukuman pada tahun 1946, namun orang tua Amet-khan masih diizinkan untuk tetap tinggal di Krimea. Setelah menyaksikan deportasi yang kejam, Amet-khan kembali ke resimennya dan terus menunjukkan kemampuan tempurnya dalam pertempuran, tetapi menderita depresi berat. 

Deportasi bangsa Tatar Krimea pada tanggal 18-20 Mei 1944 merupakan salah satu contoh kejahatan terburuk yang dilakukan pemerintah Soviet selama Perang Dunia II. Dalam tragedi ini, keluarga Amet nyaris menjadi salah satu korbannya. (Sumber: https://crimea.suspilne.media/)
Lavochkin La-7 (bahasa Rusia: Лавочкин Ла-7) adalah pesawat tempur Soviet bermesin piston yang dikembangkan selama Perang Dunia II oleh Biro Desain Lavochkin (OKB). Pesawat ini adalah pengembangan dan penyempurnaan dari Lavochkin La-5, dan menjadi yang terakhir dari keluarga pesawat yang dimulai dengan LaGG-1 pada tahun 1938. Penerbangan pertamanya dilakukan pada awal tahun 1944 dan mulai beroperasi dengan Angkatan Udara Soviet pada akhir tahun itu. Amet menerbangkan pesawat jenis ini di tahun terakhir Perang Dunia II. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Dia menerbangkan pesawat tempur Lavochkin La-7 di akhir perang dalam kampanye di Königsberg, Berlin, dan Prusia Timur. Dalam Pertempuran Königsberg Amet dan resimennya terbang bersama sekelompok pilot Prancis dari resimen Normandie-Niemen. Amet-khan menyelamatkan nyawa salah satu rekannya di Königsberg; setelah Chubukov dan Khvostov terlibat pertempuran udara dengan kelompok yang awalnya terdiri dari enam pesawat; dua pesawat tempur Jerman menukik saat menyerang Khvostov, dan Chubukov dikepung oleh empat pesawat tempur lainnya ketika Amet-khan bergegas menuju pesawat-pesawat Jerman dan menyelamatkan Chubukov agar tidak ditembak jatuh. Mayor Amet-khan Sultan, membukukan kemenangan udara terakhirnya, pada tanggal 29 April 1945, dengan menembak jatuh pesawat tempur Focke Wulf FW-190 di atas lapangan terbang Tempelhof di Berlin. Atas prestasi yang ditunjukkan setelah menerima penghargaan Pahlawan Uni Soviet yang pertama (pada tahun 1943) dalam berbagai kampanye, ia dianugerahi penghargaan kedua pada tanggal 29 Juni 1945. Sementara itu, meskipun ia mampu menghindari deportasi ke Uzbekistan ketika seluruh bangsa Tatar Krimea ditindas pada tahun 1944 karena latar belakang ayahnya yang keturunan Lak (salah satu etnik di kawasan Kaukasus), ia menolak untuk mengubah daftar kewarganegaraan paspornya menjadi Lak atau mengidentifikasi dirinya sebagai orang Lak sepanjang hidupnya meskipun ada tekanan dari badan pemerintah Soviet. 

Pesawat Tempur La-7, Musim Semi 1945. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Amet Khan pada tahun 1945. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Awalnya setelah perang Amet belajar di Akademi Angkatan Udara di Monino, karena perintah Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata Soviet mengharuskan semua penerbang ace yang selamat dari perang untuk mengikuti pendidikan tersebut. Namun karena pendidikan menengahnya yang minim, ia merasa kursus tersebut sulit dan akhirnya meminta izin untuk putus sekolah dan diizinkan keluar pada tahun 1946. Setelah meninggalkan penerbangan untuk sementara waktu, ia mengalami depresi berat, karena ia tidak bisa melihat dirinya sebagai pilot maskapai penerbangan sipil. Akhirnya teman-temannya dari masa perang yang juga seorang pilot pesawat tempur, termasuk Alexander Pokryshkin, Aleksey Alelyukhin, dan Vladimir Lavrinenkov mendorongnya untuk menjadi pilot uji coba di Flight Research Institute di Zhukovsky, yang dilakukannya pada bulan Februari 1947. Dari sini Amet-khan dengan cepat naik pangkat di institut tersebut, dengan mencapai pangkat pilot uji coba kelas satu pada tahun 1952. Pada bulan April 1949, bersama dengan Yakov Vernikov, ia melakukan penerbangan pertama pesawat tempur jet dua tempat duduk Mikoyan-Gurevich I-320. Pada bulan Juni 1949, dia dan Igor Shelest melakukan pengisian bahan bakar otomatis pertama di udara di Uni Soviet; Amet-khan saat itu mengemudikan jet tempur Yak-15 dan Shelest menerbangkan pembom Tupolev Tu-2 yang terlibat dalam prosedur tersebut.

Jet dua tempat duduk Mikoyan-Gurevich I-320 yang diuji Amet pada bulan April 1949. (Sumber: http://www.fiddlersgreen.net/)
Jet tempur Yak-15. Amet mengujinya melakukan pengisian bahan bakar otomatis pertama di udara. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Dari tahun 1951 hingga 1953, ia bersama Sergey Anokhin, Fyodor Burtsev, dan Vasily Pavlov melakukan uji coba berawak dari KS-1 Komet, sebuah rudal udara-ke-permukaan anti-kapal. Selama proses pengujian, Amet-khan adalah pilot pertama yang menerbangkan Komet dari darat, (melakukannya pada tanggal 4 Januari 1951) serta menjadi pilot pertama yang meluncurkan Komet dari pesawat, yang ia lakukan pada bulan Mei di tahun yang sama. Dalam satu uji terbang, setelah melepas kopling KS-1, mesinnya tidak menyala, namun alih-alih langsung terjun payung, ia berulang kali mencoba menghidupkan kembali mesinnya, sampai akhirnya berhasil melakukannya tidak jauh dari menyentuh tanah, yang menyelamatkan prototipe tersebut. Atas tindakannya dalam menguji KS-1 ia dianugerahi Stalin Prize second class, namun beberapa anggota tim lainnya dianugerahi bintang emas. Ketika pencalonan Amet-khan untuk mendapatkan medali bintang emas ketiga sampai ke meja Stalin, yang telah menyetujui deportasi bangsa Tatar Krimea, ia menjadi sangat marah setelah mengetahui seorang Tatar Krimea diizinkan menjadi pilot uji coba. Ketika disebutkan bahwa Amet-khan hampir mati saat menguji KS-1 untuk menyelamatkan prototipe tersebut, diputuskan bahwa ia akan dianugerahi Order of the Red Banner dan Stalin Prize second class, karena menganugerahkan penghargaan bintang emas ketiga kepada seorang keturunan Tatar Krimea tidak terpikirkan oleh kalangan internal Uni Soviet saat itu, apa pun prestasinya.

Mikoyan-Gurevich KSK, versi berawak dari rudal jelajah anti-kapal KS-1 “Komet”. Amet nyaris kehilangan nyawanya saat mengujinya. Atas prestasinya menyelamatkan prototype ini Amet akan dianugerahi Order of the Red Banner dan Stalin Prize second class. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Banyak penerbangan yang kemudian dilakukan Amet-khan dalam karirnya adalah untuk pengujian sistem pelontaran diri untuk pesawat militer, sebuah prosedur yang berisiko. Saat menerbangkan jet tempur MiG-15 agar penerjun payung Valery Golovin dapat menguji kursi lontar yang dirancang untuk pesawat Sukhoi Su-7 dan Su-9 pada 12 November 1958, mekanisme lontar ditembakkan sebelum waktunya, mengakibatkan ledakan yang memecahkan tangki bahan bakar. Ledakan tersebut mengakibatkan kursi lontar menekan Golovin. Kokpit pesawat lalu dipenuhi asap dan gas, membatasi pandangannya sementara minyak tanah mulai memenuhi kokpit. Dengan ancaman kebakaran yang tidak dapat dikendalikan dan Golovin tidak dapat terjun dengan parasut, Amet berhasil melakukan pendaratan darurat dengan pesawat tempur yang tertimpa musibah tersebut, sembari menolak untuk meninggalkan rekannya bahkan setelah Golovin dan komandan mereka memerintahkan dia untuk melontarkan diri dari pesawat dan menyelamatkan dirinya sendiri. Dari tahun 1958 hingga 1960, Amet menerbangkan kosmonot yang sedang dalam pelatihan termasuk Yuri Gagarin dengan pesawat Tupolev Tu-104 yang dimodifikasi untuk berlatih tugas dalam keadaan tanpa bobot. Awalnya ia bertugas sebagai co-pilot untuk Yuri Garnaev dalam prosedur tersebut. Pekerjaannya yang lain termasuk menguji prototipe pesawat pengintai NM-1, yang ia lakukan penerbangan pertamanya pada tanggal 7 April 1959, tetapi pengujian pesawat tersebut selanjutnya dilakukan oleh Rady Zakharov setelah Amet-khan sempat dirawat di rumah sakit dan untuk sementara dilarang terbang karena komplikasi kesehatan akibat penerbangan yang panjang, meskipun ia akhirnya benar-benar dilarang menerbangkan pesawat berkecepatan tinggi sama sekali. Atas jasanya sebagai pilot penguji, ia dianugerahi gelar bergengsi “Pilot Uji Terhormat Uni Soviet” pada tanggal 23 September 1961.

Amet-khan sebagai pilot uji. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pesawat angkut Tu-104. Dari tahun 1958 hingga 1960, Amet menerbangkan kosmonot yang sedang dalam pelatihan termasuk Yuri Gagarin dengan pesawat Tupolev Tu-104 yang dimodifikasi untuk berlatih tugas dalam keadaan tanpa bobot. (Sumber: https://www.etsy.com/)

Amet-khan meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1971 pada usia 50 tahun saat mengemudikan pesawat pembom Tu-16 yang dimodifikasi. Berdasarkan informasi, bagian dalam kabin pesawat itu dimodifikasi untuk berfungsi sebagai laboratorium terbang dan penerbangan dilakukan untuk menguji mesin jet baru. Motor yang diuji ditempatkan di dalam badan pesawat TU-16 dan diturunkan untuk diluncurkan. Ketika kru mulai menyalakan mesin, operator radio melaporkan ke “menara” tentang dimulainya misi penerbangan. Ini adalah pesan terakhir dari pesawat itu. Tu-16 itu kemudian jatuh ke rawa-rawa. Kelima penerbang yang berada di dalam pesawat tewas dalam kecelakaan itu. Penyebab kecelakaan tersebut tetap dirahasiakan untuk waktu yang lama, sehingga menimbulkan spekulasi tentang penyebabnya, dan dugaan bahwa hal itu disebabkan oleh kegagalan mesin yang tidak terkendali dari mesin baru yang sedang diuji, namun kesimpulan resmi yang diumumkan ke publik menyatakan bahwa apakah kecelakaan itu disebabkan oleh pecahnya flap terluar, yang berada pada posisi mendarat ketika pesawat sedang melaju hingga kecepatan instrumen lebih dari 500 km/jam, sehingga menyebabkan pesawat terbalik dan pecah di udara; namun, alasan pasti mengapa atau bagaimana flap ada di posisi seperti itu belum diketahui, karena kebakaran akibat bencana yang terjadi kemudian merusak badan pesawat. Sebuah tugu peringatan untuk pilot-pilot yang tewas dalam kecelakaan itu kemudian dibangun dan Amet-khan dimakamkan di Pemakaman Novodevichy dengan penuh penghormatan. Pemakamannya dihadiri oleh berbagai orang terkenal dari Uni Soviet, mulai dari anggota gerakan hak-hak sipil Tatar Krimea, veteran perang, jenderal, dan pilot penguji, termasuk Vladimir Ilyushin, Aleksey Ryazanov, dan Abdraim Reshidov. 

Laboratorium terbang berdasarkan pesawat pembom Tu-16. Amet-khan meninggal dunia pada tanggal 1 Februari 1971 pada usia 50 tahun saat mengemudikan pesawat pembom Tu-16 yang dimodifikasi. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Pada musim panas 1944 saat berada di Moskow untuk berlatih menerbangkan pesawat tempur La-7 yang baru, Amet bertemu dengan seorang wanita bernama Faina Maksimovna Danilchenko, dan mereka kemudian menikah pada tahun 1952. Pasangan itu memiliki dua anak, yakni Stanislav dan Arslan, keduanya nantinya akan ikut jejak ayahnya bertugas di militer. Nama keluarga kedua anak tersebut dituliskan sebagai Amet-khan. Faina sebenarnya menentang suaminya bekerja sebagai pilot penguji karena aspek pekerjaannya yang berbahaya, namun suaminya menolak berhenti dari pekerjaannya bahkan setelah ada saran agar dia pensiun pada ulang tahunnya yang ke-50. Baik Faina dan Arslan meninggal tak lama setelah Amet-khan. Amet-khan adalah salah satu orang pertama di Uni Soviet yang secara terbuka meminta rehabilitasi dan hak kembalinya bangsa Tatar Krimea. Bersama beberapa anggota Partai Komunis lainnya yang pernah tinggal di Krimea, ia menandatangani petisi kepada Komite Sentral Partai Komunis Uni Soviet, namun permintaan tersebut ditolak meskipun Khrushchev telah mengutuk deportasi tersebut dan mengabulkan tuntutan penuh hak untuk kembali bagi bangsa-bangsa lain yang dideportasi termasuk Chechen dan Karachay pada tahun 1950an. Amet-khan tidak pernah hidup untuk melihat hak pengembalian penuh diberikan kepada bangsa Tatar Krimea yang baru terjadi di era Perestroika. Di tahun-tahun terakhirnya, ia bertemu dengan banyak aktivis dan pemimpin Tatar Krimea, termasuk Yuri Osmanov, Zekie Chapchakchi, Ablyakim Gafarov, Safie Kosse, Seitmemet Tairov, dan Mustafa Selimov di Moskow serta Ayshe Seitmuratova, Ilyas Mustafaev, dan Mustafa Konsul di Samarkand. Pada tahun 1974, patung Amet-khan karya Sadri Akhun ditambahkan ke kuburan di Pemakaman Novodevichy. Pada tahun 2010, sebuah monumen memperingati aksi Amet-khan di atas Yaroslavl dipasang di tanah di bawah lokasi tempat ia menabrak Ju-88. Pada tahun yang sama, patung serupa ditambahkan ke Walk of Glory di Kiev. Patung-patung yang mirip dengannya terdapat di seluruh Ukraina dan Rusia di kota-kota termasuk Alupka, Makhachkala, dan desa kecil Tsovkra di Dagestan. Alun-alun kota Simferopol menggunakan namanya selain jalan-jalan di Alupka, Sudak, Volgograd, Zhukovsky, Kaspiysk, Sakah, dan Makhachkala. Aeroclub tempat dia belajar, sebuah planet kecil, bandara, beberapa sekolah, dan sebuah puncak di Dagestan semuanya dinamai namanya untuk menghormatinya. Pada tahun 2015, Verkhovna Rada Ukraina memutuskan untuk mengganti nama Bandara Simferopol untuk menghormatinya, namun karena pendudukan Rusia di Krimea, pemungutan suara ini lebih bersifat simbolis. 

Kartu pos Ukraina tahun 2020 menampilkan Amet-khan. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Amet-khan adalah protagonis utama dalam film Krimea-Tatar tahun 2013 Haytarma. Pada tanggal 26 Oktober 2020, sebuah monumen Amet-Khan Sultan diresmikan di pusat Aqmescit (Simferopol). Terlepas dari status ikonik Amet-khan Sultan sebagai pahlawan asal Tatar Krimea, partisipasinya dalam gerakan hak asasi Tatar Krimea, dan fakta bahwa ia secara resmi mencantumkan dirinya sebagai orang Tatar dan bukan Lak atau Dagestan di semua dokumen resmi, ada banyak upaya untuk memberinya label secara anumerta sebagai seorang Dagestan dan mendelegitimasi identitas Tatar Krimea miliknya sebagai bagian dari kampanye detatarisasi Krimea yang sistematis. Berita kematiannya menggambarkan dia sebagai “putra bangsa Dagestan yang pemberani”, meskipun ia tidak pernah mengaku sebagai orang Dagestan selama hidupnya tetapi secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai orang Tatar Krimea. Selama hidupnya ia sering diminta untuk mengubah daftar kewarganegaraan di paspornya, namun meskipun ada tekanan terus-menerus dari para Chekist dan rekan-rekannya, ia menolak untuk memisahkan identitas dirinya sebagai orang asal Krimea, dan dengan bangga mengatakan, “Saya adalah putra Tatar Krimea!” ketika ditanya tentang identitas nasionalnya. Pada tahun 2016, Republik Dagestan menciptakan “Medali Amet-khan Sultan”; Bandara Uytash di Dagestan dinamai untuk menghormatinya, meskipun ada petisi berulang kali dari organisasi Tatar Krimea kepada pemerintah Rusia agar Bandara Simferopol diberi nama menurut namanya. Amet-khan bagaimanapun tidak lahir atau besar di Dagestan dan dia tidak bisa berbicara satu pun bahasa Dagestan.

TALGAT BIGELDINOV

Selama Perang Dunia II, bersama dengan 15 republik Soviet lainnya, Republik Soviet Kazakh dengan sepenuh hati terlibat dalam upaya perang yang digalang Moskow. Lebih dari 1,2 juta tentara dimobilisasi dari republik ini. Mereka membentuk 12 divisi senapan dan 4 divisi kavaleri, 7 brigade senapan, dan sekitar 50 resimen dan batalyon terpisah. Pada masa awal Perang, Soviet mengalami kekalahan demi kekalahan melawan bala tentara Jerman. Korban jiwa dalam periode ini mencapai jutaan. Dalam situasi ini, orang-orang Kazakhstan dikirim ke bagian paling berbahaya di garis depan. Kemenangan besar pertama bagi Soviet dalam perang adalah saat memukul mundur pasukan Jerman dalam mempertahankan kota Moskow. Pasukan dari Divisi Panfilov turut mengambil bagian dalam pertahanan Moskow pada titik kritis Perang Dunia II ini. Keberanian Divisi Panfilov yang sebagian anggotanya adalah orang-orang Kazakhstan digambarkan dengan salah satu kata-kata perwiranya yang menjadi legenda. Dia adalah seorang pejabat politik bernama Klochkov yang menyatakan: “Rusia hebat, namun tidak ada tempat untuk mundur – Moskow ada di belakang kita!” Kata-katanya bergema di seluruh Uni Soviet. Kelompok tentara lain yang bertempur dengan gagah berani demi Moskow adalah batalion di bawah komando Letnan Baurzhan Momyshuly. Komandan legendaris itu dianugerahi gelar Pahlawan Uni Soviet. Orang Kazakh lainnya, Tolegen Toktarov, menerobos masuk ke markas komando Jerman di desa Borodino dan membunuh lima perwira selama pertempuran di Moskow. Secara total, dia membunuh 115 tentara dan perwira musuh. Daftar pahlawan Kazakh yang panjang juga mencakup para pembela Leningrad. Salah satunya, Sultan Baimagambetov yang menutup lubang bunker pertahanan musuh dengan tubuhnya sendiri agar rekan-rekannya dapat melintasi lubang tersebut dengan selamat. Kiprah prajurit asal Kazakhstan tidak hanya di palagan tempur di daratan. Pilot Sergey Morozov meledakkan satu barisan tank musuh dengan pesawatnya yang terbakar. Banyak pilot Kazakstan lainnya yang juga menunjukkan diri mereka sebagai pahlawan perang yang sebenarnya. Prestasi Kapten Gastello diulangi oleh pilot Kazakh Nurken Abdirov yang mengirimkan pesawatnya yang terbakar ke arah barisan tank Jerman. Diluar nama-nama itu, pilot hebat keturunan Kazakh lainnya adalah Talgat Bigeldinov.

Tentara Soviet keturunan Kazakh dalam Perang Dunia II. Mereka membentuk 12 divisi senapan dan 4 divisi kavaleri, 7 brigade senapan, dan sekitar 50 resimen dan batalyon terpisah. (Sumber: https://asianreviewofbooks.com/)

Talgat Bigeldinov adalah Pilot pesawat serang Soviet, dua kali penerima gelar Pahlawan Uni Soviet, dengan memegang rekor jumlah misi penerbangan pada pesawat Ilyushin Il-2 Shturmovik dan jumlah pesawat musuh yang ditembak jatuh di atasnya. Dalam perintah kepemimpinan taktis pilot Luftwaffe, larangan tegas diberlakukan dalam hal melakukan serangan terhadap pesawat serang Il-2 dari arah depan. Bahkan diperintahkan untuk tidak perlu mencoba untuk menyerang Il-2 dari arah “depan atas”, karena pesawat serang berlapis baja dengan kanon kaliber 23 mm dan senapan mesin ShKAS kaliber 7,62 mm ini akan menyapu target apa pun di jalur penerbangannya dengan tembakan. Daya tembak dan daya tahan – inilah keunggulan pesawat yang diterbangkan dengan baik oleh Talgat Begeldinov. Di tangannya, pesawat “Ilyushin” yang lambat dan canggung ini berubah menjadi benteng terbang yang perkasa, mampu membela diri dalam pertempuran udara dengan pesawat tempur “Messerschmitt” mana pun milik Luftwaffe. Para komandannya sangat mempercayai pilot muda ini sehingga dia sering membiarkannya melakukan misi serangan dengan tanpa perlindungan dari pesawat-pesawat tempur. Talgat Jakypbekuly Begeldinov lahir pada tanggal 5 Agustus 1922 di desa Maibalyk, wilayah Akmola, di Kazakh ASSR (Wilayah Otonomi) dalam sebuah keluarga petani. Berdasarkan kebangsaan dia berasal dari keturunan Kazakh. Ia dibesarkan di kota Frunze, dan setelah lulus dari aeroclub lokal pada tahun 1939 dan menyelesaikan pendidikan sekolah menengah kelas sepuluh dia, sebelum masuk Militer Soviet pada bulan April 1940. Pada bulan September 1940, ia memasuki sekolah pilot penerbangan militer Balashov, dan kemudian dipindahkan ke sekolah penerbangan militer Chkalov di kota Orenburg, tempat ia lulus pada musim panas tahun 1942. Dari bulan Agustus 1942 hingga Januari 1943 ia menjadi sersan di Resimen Penerbangan Cadangan ke-34. Ia menjadi anggota Partai Komunis pada tahun 1943. Bigeldinov dikirim ke garis depan Perang Dunia Kedua pada bulan Januari 1943 untuk bertugas di Resimen Penerbangan Serangan ke-800. Meskipun awalnya berpangkat sersan, ia diangkat menjadi letnan junior pada bulan Mei 1943 dan pada tahun 1945 ia menjadi kapten dan komandan skuadron. 

Talgat Jakypbekuly Bigeldinov. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Ilyushin Il-2 Shturmovik, pesawat yang diterbangkan Bigeldinov. Dalam perintah kepemimpinan taktis pilot Luftwaffe, larangan tegas diberlakukan dalam hal melakukan serangan terhadap pesawat serang Il-2 dari arah depan. Bahkan diperintahkan untuk tidak perlu mencoba untuk menyerang Il-2 dari arah “depan atas”, karena pesawat serang berlapis baja dengan kanon kaliber 23 mm dan senapan mesin ShKAS kaliber 7,62 mm ini akan menyapu target apa pun di jalur penerbangannya dengan tembakan. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Setibanya di resimen tempat ia ditugaskan, Bigeldinov segera mulai menerbangkan misi tempur dengan pesawat serang darat Il-2 di front Kalinin, dan pada tanggal 6 Mei 1943 pesawatnya ditembak jatuh oleh tembakan musuh; kaki kiri dan bahu kirinya terluka dalam insiden tersebut. Setelah Bigeldinov dan penembaknya P.V. Yakovlenko terjun payung keluar dari pesawat yang terkena serangan, mereka mendarat di wilayah musuh. Saat mencoba menuju wilayah Soviet, mereka terpaksa berenang menyeberangi sungai Severky Donets; Yakovlenko meninggal saat berenang menyeberangi sungai tetapi Bigeldinov selamat dan dikirim ke rumah sakit sebelum dia kembali ke resimennya. Pada bulan Februari 1944, resimennya dianugerahi gelar Pengawal dan berganti nama menjadi Resimen Penerbangan Serang Pengawal ke-144. Pada tanggal 6 Juni 1943, dia secara pribadi menghancurkan satu pesawat tempur Bf-110 dan 2 Bf-110 di darat selama misi menyerang lapangan terbang di Kharkov. Dia terbang dalam pertempuran untuk memperebutkan Dnieper sebagai komandan penerbangan di skuadron di bawah komando Kapten S.D.Poshivalnikov. Dalam satu penerbangan ia berhasil meredam tembakan yang datang dari baterai antipesawat berkaliber tinggi sebelum ia mengebom musuh yang menyeberang di sungai dengan tingkat akurasi yang tinggi. Atas prestasinya dalam menyelesaikan 155 misi serangan darat dengan menerbangkan Il-2, ia dinominasikan untuk mendapat gelar Pahlawan Uni Soviet pada tanggal 27 Juni 1944. Ia menerima gelar tersebut pada tanggal 26 Oktober tahun itu juga. Pada tanggal 15 Maret 1945 ia dinominasikan untuk mendapatkan bintang emas kedua karena telah menerbangkan 275 misi penerbangan. Medali kedua untuk Kapten Talgat Bigeldinov ini dianugerahkan pada tanggal 27 Juni 1945 atas kepemimpinannya yang terampil dalam skuadronnya dan aksi tempurnya ketika menyerbu pasukan dan peralatan musuh dalam pertempuran di kota Krakow, Oppeln (sekarang Opole) dan Berlin. Bigeldinov termasuk di antara 65 pilot militer yang dianugerahi dua kali penghargaan tertinggi ini terkait dengan tindakan heroiknya. Ini adalah gelar yang bergengsi, karena hanya sekitar 10 ribu orang yang menerimanya (Jumlah tersebut sebanding dengan ukuran satu divisi senjata gabungan, akan tetapi terhitung kecil jika dibandingkan dengan jumlah mereka yang berperang di pihak Soviet). Di antara penerima medali Pahlawan Uni Soviet, terdapat perwakilan dari lebih dari seratus bangsa yang bertempur di pihak Tentara Merah atau Tentara Soviet, dimana orang-orang Kazakh ada di urutan keenam setelah orang-orang keturunan Rusia, Ukraina, Belarusia, Yahudi, dan Tatar dalam hal jumlah penerima terbanyak. Secara total, selama dua tahun perang, Talgat Bigeldinov menerbangkan 305 misi tempur untuk menyerang personel dan peralatan musuh. Selain menyerang sasaran darat dalam misi-misi tersebut, dia secara pribadi menembak jatuh empat pesawat tempur Bf-109, satu pesawat pembom tukik Ju-87, dan memperoleh dua kemenangan secara bersama-sama di udara dalam 7 pertempuran udara. 

Secara total, selama dua tahun perang, Talgat Bigeldinov menerbangkan 305 misi tempur untuk menyerang personel dan peralatan musuh. Selain menyerang sasaran darat dalam misi-misi tersebut, dia secara pribadi menembak jatuh empat pesawat tempur Bf-109, satu pesawat pembom tukik Ju-87, dan memperoleh dua kemenangan secara bersama-sama di udara dalam 7 pertempuran udara. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Talgat Begeldinov pada tahun 1944-1945. Bigeldinov dua kali menerima gelar Pahlawan Uni Soviet, dengan memegang rekor jumlah misi penerbangan pada pesawat Ilyushin Il-2 Shturmovik dan jumlah pesawat musuh yang ditembak jatuh di atasnya. (Sumber: https://astanatimes.com/)
Pada tahun 2007 Begeldinov dianugerahi Ordo Otan, salah satu ordo tertinggi Kazakhstan untuk layanan khusus dalam kegiatan kenegaraan dan publik, oleh Presiden Pertama Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev. (Sumber: https://astanatimes.com/)

Setelah perang, Bigeldinov tetap berada dalam dinas militer hingga bulan Agustus 1956. Pada tahun 1950 ia lulus dari Akademi Angkatan Udara di Monino, setelah itu ia menjabat sebagai wakil komandan resimen penerbangan serbu di wilayah Kiev. Pada tahun 1953 ia dipromosikan menjadi letnan kolonel, dan mulai bulan Maret 1956 ia mengajar di sekolah penerbangan militer di Krasnodar. Dari tahun 1957 hingga 1968 ia menjabat sebagai wakil ketua Departemen Penerbangan Sipil SSR Kazakh. Dipicu oleh minatnya pada arsitektur dan perencanaan kota, pada tahun 1968 Begeldinov lulus dari Institut Teknik dan Konstruksi Moskow dan mulai bekerja di sistem Komite Pembangunan Negara SSR Kazakh. Dari tahun 1968 hingga 1971 Bigeldinov menjadi kepala departemen konstruksi di galangan kapal di Feodosia, Krimea. Dari tahun 1971 hingga 1974 ia bekerja sebagai wakil manajer proyek Kazstalmontazh, dan dari tahun 1974 hingga 1976 ia menjadi asisten ketua Komite Pembangunan Negara SSR Kazakh. Begeldinov terlibat dalam pembangunan landasan di Almaty, Aktobe, Karaganda, Kostanai, Zhambyl, Ust-Kamenogorsk, dan pusat regional lainnya, serta melakukan yang terbaik dalam membangun infrastruktur perkotaan. Dari 1979 hingga 1984 ia menjadi ketua Dewan Pengendara Motor SSR Kazakh. Pada tahun 1984 ia diangkat menjadi direktur Rumah Kreativitas Dana Sastra Uni Soviet cabang SSR Kazakh, tetapi ia meninggalkan posisinya pada tahun 1985 untuk menjadi direktur di United Driving School dan konsultan di Union of Drivers of RSK Kazakh. Bigeldinov juga menjadi wakil di Dewan Soviet Tertinggi dari tahun 1946 hingga 1954. Setelah pembubaran Uni Soviet, ia diangkat menjadi Mayor Jenderal Angkatan Udara Kazakhstan pada tahun 1992. Ketika Begeldinov ditanya apakah dia pernah takut mati selama karir panjangnya sebagai pilot dan banyak menerbangkan misi tempur, Bigeldinov mengatakan dia tidak pernah memikirkan kemungkinan untuk terbunuh. “Saya tidak memikirkan kemungkinan terbunuh, tapi saya juga tidak membuat rencana untuk masa depan. Tugas saya adalah menghancurkan Nazi. Itu saja! Hanya itu yang kami pikirkan,” kata Begeldinov dalam wawancaranya pada tahun 2011 untuk proyek I Remember yang mengumpulkan kenangan para veteran Perang Dunia II. “Kegelisahan datang hanya ketika kami mendengar telepon berdering di ruang istirahat kepala staf. Dia mengangkat telepon mengatakan: ‘Saya mendengarkan… ya… desa itu…’ dan pada saat yang sama, dia menggambar peta dengan pensil. Saat itulah Anda merasa gugup,” kata Begeldinov. Begeldinov diketahui menulis tiga buku – “ILs Attack,” “305 Raids” dan “Battle in the Air” – yang mengisahkan karirnya di bidang penerbangan selama perang dan periode pasca perang. Bigeldinov meninggal karena serangan jantung di kota Almaty pada tahun 2014 di usia 92 tahun dan dimakamkan di pemakaman Kensayskom. Untuk menghormati pilot pemberani ini, patung perunggu diresmikan di Koksetau dan Bishkek dan sebuah monumen di Nur-Sultan. Namanya kemudian diabadikan di Institut Militer Angkatan Pertahanan Udara dan Sekolah Republik Karaganda Zhas Ulan. Hari Peringatan Talgat Begeldinov pada tanggal 5 Agustus adalah hari libur tahunan di Kazakhstan.

Prangko Kazakhstan menampilkan Bigeldinov. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

GULAM MUSTAFA KHAN

Angkatan udara Republik Demokratik Afghanistan terkenal berkinerja buruk di kalangan pilot-pilot militer Soviet. Pilot-pilot Afghanistan berasal dari keluarga bangsawan suku Pashtun dan Tajik – oleh karena itu, mereka menganggap diri mereka laksana “raja” penguasa di udara dan tidak memperhatikan berbagai taktik dan instruksi. Mereka hanya sedikit terbang dan melakukannya dengan enggan, dengan waktu jeda ibadah wajib yang ditentukan oleh Al-Qur’an pada hari Jumat. Mereka lebih suka menjatuhkan bom secara acak – dan setelahnya segera kembali ke pangkalan. Tentu saja, orang-orang Soviet tidak akan terlalu memperhatikan kiprah medioker dari “sekutunya” itu jika saja mereka tidak secara teratur membajak pesawat dan menerbangkannya Pakistan, serta tidak “berbagi” informasi tentang operasi yang akan datang kepada komandan lapangan Mujahidin, yang menjadi lawan rezim Kabul. Namun, bahkan dalam kumpulan orang-orang payah, parasit dan cenderung menjadi pengkhianat (dari sudut pandang pemerintah Kabul dan Soviet tentunya) ini, masih terdapat pilot-pilot yang benar-benar berdedikasi dan siap memenuhi panggilan tugas mereka sampai akhir. Sedikit dari pilot-pilot berdedikasi ini adalah Ghulam Mustafa Khan (1953-1994), yang menjabat sebagai Deputi Resimen Udara ke-355 DRA. Setelah menerima pelatihan penerbangan yang baik di Uni Soviet, Mustafa kembali ke tanah airnya, di mana ia terdaftar di resimen udara pesawat pembom tempur Afghanistan di pangkalan udara Bagram. Sudah dari awal, pilot-pilot muda dibedakan oleh keterampilan terbangnya yang baik, literasi teknis, dan kualitas moral dan kemauannya. Pada tahun 1987, Mustafa menjadi satu-satunya pilot dari seluruh resimen yang diizinkan terbang pada malam hari dan dalam kondisi cuaca buruk. Pada tahun yang sama terjadi tragedi, dimana gerilyawan Mujahidin membantai keluarga Mustafa. Mulai saat itu, kemarahan pilot ini menjadi tidak mengenal batas.

Pilot-pilot MiG-21 dari 322 IAP Angkatan Udara Republik Demokratik Afghanistan berpose dengan salah satu pesawat mereka, akhir tahun 1980-an. Pilot-pilot Afghanistan dikenal dengan performa yang medioker. (Sumber: https://www.facebook.com/)
Pesawat Su-22M4 “804” Afghanistan yang membelot ke Pakistan selama Krisis Afghanistan pada tahun 1989. (Sumber: https://twitter.com/)
Ghulam Mustafa Khan (kanan) saat menjalani pelatihan di Uni Soviet. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Mustafa Ghulam kemudian melakukan beberapa misi serangan setiap harinya, menjatuhkan berton-ton bom di pegunungan dan jurang-jurang Afghanistan. Selama pertempuran untuk memperebutkan Jallalabad, dia benar-benar tidak keluar dari kokpit pesawat serang Su-22 miliknya (versi ekspor dari Sukhoi Su-17 Fitter), terbang dengan beban maksimum untuk seorang pilot dengan menerbangkan 10-11 misi tempur per hari! Dalam salah satu serangan, Mustafa ditembak jatuh, tulang punggungnya terluka. Setelah menjalani perawatan yang lama, ia menerima pangkat jenderal dan dianugerahi penghargaan “Pahlawan Republik Demokratik Afghanistan”. Tetapi bahkan setelah pindah ke posisi staf, dia tidak bisa meninggalkan kemudi pesawat tempur. Selama percobaan kudeta militer pada tanggal 6 Maret 1990, ketika sebagian unit tentara memberontak melawan pemerintahan Najibullah, Jenderal Mustafa secara pribadi memimpin operasi menyerang pangkalan udara Bagram, yang berpihak pada pemberontak. Lepas landas sebagai pemimpin grup penerbangan dari lapangan terbang dekat kota Mazar-i-Sharif, dia mengebom landasan pacu di Bagram, sehingga memastikan gagalnya pemberontakan. Untuk itu ia kembali diberi penghargaan tertinggi Republik Afghanistan. Mustafa kemudian gugur dalam salah satu serangan saat mengebom posisi salah satu faksi pada tanggal 30 Januari 1994 dalam perang saudara di Afghanistan. Jenderal Mustafa dikabarkan dicegat oleh sebuah pesawat tempur MiG-21. Pesawat Mustafa jatuh di pegunungan barat laut Salang Pass. Lokasi kecelakaan dan sisa-sisa pilot pemberani ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2009 dan kemudian dimakamkan kembali di Kabul dengan penghormatan militer.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Pilot Aces of the East by Oleg Kaptsov; March 4 2014

https://en.topwar.ru/40666-letchiki-asy-vostoka.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Amet-khan_Sultan

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Talgat_Bigeldinov

Kazakhstan Celebrates 100th Anniversary of Fighter Pilot Begeldinov Who Flew 300 Combat Missions During World War II

BY AIBARSHYN AKHMETKALI in SOCIETY on 5 AUGUST 2022

https://astanatimes.com/2022/08/kazakhstan-celebrates-100th-anniversary-of-fighter-pilot-begeldinov-who-flew-300-combat-missions-during-world-war-ii/

Bravery of Kazakhs in World War II

https://azh.kz/en/news/view/3781

Heroes of the Soviet Union as batyrs from the Kazakh heroic epics by Rashid SATTAROV; December 24 2012

https://en.topwar.ru/22387-geroi-sovetskogo-soyuza-kak-batyry-iz-kazahskih-geroicheskih-eposov.html

Amet Khan Sultan; March 17 2015

https://en.topwar.ru/70925-amet-han-sultan.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *