Mengenal Korvet Kelas Pohang asal Korea Selatan yang ditawarkan ke TNI AL
PCC (Patrol Combat Corvette) kelas Pohang (bahasa Korea: 포항급 초계함, Hanja: 浦項級哨戒艦) adalah kelas kapal Angkatan Laut Republik Korea (ROKN) di bawah Proyek Yulgok ke-1 (1974-1986) untuk Angkatan Bersenjata Republik Korea. Awalnya direncanakan sebagai korvet kelas Donghae produksi Batch II, tetapi karena ada banyak perubahan pada desain secara keseluruhan, terutama menerapkan desain lambung fregat kelas Ulsan, sehingga AL Korea Selatan pada akhirnya mengklasifikasikan ulang kapal tersebut dalam kelas kapal tersendiri. Kapal ini dirancang untuk berpatroli di perbatasan, termasuk di Garis Batas Utara, melindungi zona pesisir, dan bertempur melawan kapal-kapal Korea Utara. Sejak tahun 1984, total ada 24 korvet kelas Pohang yang ditugaskan di Angkatan Laut Republik Korea. Penonaktifan kapal kelas ini dimulai pada tahun 2009, dan digantikan dengan kapal program FFX. Pada Januari 2023, 5 kapal masih tetap bertugas di ROKN, dan 7 kapal lainnya ditransfer ke angkatan laut negara lain.
PENGEMBANGAN
Seperti yang telah disinggung diatas korvet kelas Pohang awalnya dimaksudkan sebagai versi Batch II dari korvet kelas Donghae. Selama tahap desain korvet kelas Donghae, terdapat beberapa perdebatan di antara para desainer mengenai bentuk lambungnya. Kapten Eom Do-jae, yang juga mengawasi pembangunan fregat kelas Ulsan pada saat itu, percaya bahwa korvet baru harus memiliki lambung berbentuk V yang sempit, mirip dengan desain fregat kelas Ulsan. Namun, menurut desainer lain, berdasarkan pengalaman dari kapal yang dioperasikan oleh ROKN, PCEC (Patrol Craft Escort & Combatant) kelas Noryang (ex-kelas PCE-842) memiliki ukuran terbaik untuk misi tersebut, dan PCE (Patrol Craft Escort) kelas Sinseong (MSF ex-kelas Auk), yang memiliki lambung berbentuk U, menunjukkan stabilitas yang lebih baik pada kecepatan patroli (5-8 knot). Pertimbangan lebih lanjut adalah bahwa lambung berbentuk V akan memerlukan stabilisator sirip, yang tidak disukai oleh ROKN karena pengalaman mereka yang kesulitan mengoperasikan stabilisator sirip PGM (Patrol Gunboat Motor) kelas Baekgu (kelas Asheville yang dimodifikasi). Akibatnya, ROKN melanjutkan penerapan desain bentuk U untuk mencapai stabilitas berlayar kapal, dengan tanpa menggunakan stabilisator sirip pada kelas Donghae. Kapten Eom pada akhirnya berhasil membujuk komando angkatan laut ROKN untuk mengubah desain lambung untuk pembangunan korvet kelas Donghae batch kedua. Bentuk lambungnya mirip dengan kelas Ulsan, dan banyak struktur internal dan eksternalnya didesain ulang. Pada akhirnya versi Batch II ini cukup berbeda dari kelas Donghae asli sehingga direklasifikasi menjadi kelas Pohang. Keputusan untuk memasang stabilisator sirip pada korvet kelas Pohang diputuskan oleh ROKS hanya sebulan sebelum peluncuran ROKS Pohang karena masukan dari desain ROKS Ulsan (yang dibuat tanpa stabilisator sirip). Untuk memenuhi persyaratan penstabil sirip yang baru, bagian-bagian internal kapal lalu dipindahkan berdasarkan jadwal yang ketat. Kelas Pohang kemudian menjadi lebih panjang sekitar 10 m, 100 ton lebih berat, dan 1 knot lebih cepat (dengan kecepatan maksimum 32 knot) dibandingkan kelas Donghae berkat rasio kecepatan-panjang kapal yang lebih baik. Selama uji coba laut, ROKS Pohang mampu mencapai kecepatan hingga 35 knot. Pengujian stabilisator sirip yang berhasil lalu mendorong pemasangan selanjutnya di semua kelas Pohang dan Ulsan.
KARAKTERISTIK UMUM
Bentuk luar korvet kelas Pohang identik dengan kelas Tonghae. Desain serbaguna memungkinkan operator melengkapi kapal tersebut untuk misi-misi multi-peran. Kelas Pohang memiliki panjang 88,3m, lebar 10m, dan draft 3m. Bobot penuh kapal adalah 1.200 ton dan dapat menampung lebih dari 90 awak. Kelas Pohang didukung oleh satu mesin turbin gas General Electric LM2500 dan dua mesin diesel MTU Friedrichshafen 12V 956 TB82 untuk sistem propulsi tipe gabungan diesel atau gas (CODOG). Mesin ini yang menggerakkan dua poros melalui gearbox, menghasilkan tenaga 6.260SHP, yang memungkinkan kapal berbobot penuh 1.220 ton ini bergerak dengan kecepatan maksimum 32 knot (59,26 km/jam) dan kecepatan jelajah 15 knot (27,78 km/jam) hingga jarak 4.000nm (7.408 km). Persenjataan utama kelas Pohang difokuskan pada pertempuran permukaan untuk melawan banyak kapal kecil Korea Utara, yang dikendalikan oleh sistem kendali penembakan Signaal SEWACO ZK yang dikombinasikan dengan radar pencarian permukaan Raytheon AN/SPS-64 (jangkauan maksimum sekitar 118 km), radar kendali penembakan Signaal WM28 (jangkauan maksimum sekitar 60 km), dan Signaal LIOD optronic director. Untuk navigasi, kelas Pohang juga dilengkapi dengan SRN 15 TACAN (Tactical Air Navigation). Sementara itu untuk misi anti kapal selam, kapal ini dilengkapi dengan Radar pencarian permukaan Samsung atau Marconi ST-1810 (jangkauan sekitar 75 km), radar pengendali penembakan ST-1802 (jangkauan sekitar 40 km), sistem optronic Samsung atau Radamec 2400 dan Sonar Signaal PHS-32 (bisa melacak 4 target secara simultan). Namun, kapal tersebut tidak memiliki radar pencarian udara dan senjata anti-udara (yang merupakan faktor kritikal yang telah diperbincangkan di kalangan militer dunia setelah Perang Falklands), karena anggaran yang rendah. Kapal ini memiliki kemampuan pertahanan yang terbatas terhadap serangan udara dan rudal, dengan hanya dibantu oleh GoldStar ULQ-12K ESM (electronic support Measures) dan Mk 36 SRBOC (Super Rapid Bloom Offboard Countermeasures). Setiap peluncur terdiri dari empat sel dengan 36 granat. Magasin ini juga dapat diganti dengan tiga wadah suar IR, masing-masing menampung 21 decoy. Peralatan countermeasures lainnya termasuk intercept atau jammer Thorn EMI atau NobelTech.
Kelas Pohang jenis ASUW dipersenjatai dengan dua rudal anti kapal MM-38 Exocet, sedangkan varian ASW dilengkapi dengan empat rudal anti kapal Harpoon. MM-38 adalah rudal jelajah jarak pendek yang diluncurkan kapal yang dikembangkan oleh MBDA. Rudal tersebut memiliki jangkauan maksimum 40 km dan dapat membawa hulu ledak seberat 165 kg. Empat kapal pertama dilengkapi dengan meriam Oto Melara 76mm dan dua meriam antipesawat Emerson 30mm. Kapal jenis ASW dilengkapi dengan dua meriam OTO Melara 76mm dan dua meriam Breda 40mm. Meriam Oto Melara memiliki kecepatan tembakan 120 peluru per menit dan jangkauan 16 km. Varian ASW dipersenjatai dengan 2 x triple Mark 32 Surface Vessel Torpedo Tubes yang menembakkan torpedo Mark 46. Tabung tersebut total dapat meluncurkan enam torpedo terhadap kapal selam lawan. Torpedo yang ditembakkan bergerak dengan kecepatan 45 knot (83,34 km/jam) dan dilengkapi dengan pemandu homing aktif dan pasif serta hulu ledak seberat 44,5kg. Ada 12 bom dalam tipe Mark 9 yang juga tersedia untuk operasi anti-kapal selam. Kelas Pohang kemudian menerima banyak perubahan dan peningkatan selama proses konstruksi, dan dalam dinas operasional dengan Angkatan Laut Republik Korea. Sistem ESM dan sistem sensitif lainnya, tergantung pada penerimanya, dilepas dari kapal, sementara beberapa dipasang ketika ditransfer ke negara lain.
VARIAN
Kapal kelas Pohang dibagi menjadi varian perang anti-permukaan (ASUW) dan perang anti-kapal selam (ASW), sesuai dengan sistem senjata yang dipasang di kapal. Tipe ASUW berjumlah empat kapal sedangkan tipe ASW berjumlah 20 kapal. Kapal-kapal ini dibagi dalam beberapa batch sebagai berikut:
Batch II
4 kapal dibangun dalam batch ini. Di varian Batch II meriam kembar Bofors 40mm/60 dilepas, dan dipasangi dengan dua peluncur rudal permukaan-ke-permukaan Aérospatiale MM38 Exocet.
Batch III
4 kapal dibangun dalam batch ini. Batch III sangat meningkatkan sistem meriam dari kelas Pohang dengan memasang tambahan meriam OTO Melara 76 mm/62, dan mengganti 2 x meriam kembar Emerson EMERLEC 30 Oerlikon 30 mm/75 KCB dengan 2 x meriam Breda DARDO CIWS Bofors laras kembar 40 mm/70, yang mampu menyerang pesawat dan rudal jelajah. Sistem Sonar ditingkatkan dengan memasang Raytheon AN/SQS-58 untuk meningkatkan kemampuan perang anti-kapal selam sementara rudal MM38 Exocet dilepas dari kapal.
Batch IV
10 kapal dibangun dalam batch ini. Batch IV adalah peningkatan dan perubahan paling krititikal dari kelas Pohang. Kapal tersebut mengubah sistem tempurnya menjadi WSA-423 (Weapon Ship Automation-423) hasil kolaborasi Samsung Aerospace Industries (kemudian Hanwha Systems) dan Ferranti Inggris, yang menjadi tulang punggung sistem tempur Angkatan Laut Republik Korea saat ini yang dijuluki sebagai Naval Shield. Pemasangan sistem yang belum terbukti ini kemudian menyebabkan keterlambatan pengiriman kapal. Perubahan sistem tambahan dari batch 4 termasuk radar pengendali tembakan Marconi ST1802 dan Radamec 2400 optronic director, keduanya dibuat secara lokal oleh Samsung.
Batch V/VI
6 kapal dibangun untuk batch ini. Batch V/VI mempunyai perbedaan struktur dengan Batchsebelumnya. Radar pengendali tembakan dalam batch ini diubah menjadi Samsung/Marconi ST1802.
PERSENJATAAN
Rudal
MM38 Exocet
Exocet dibuat oleh MBDA, sebuah perusahaan rudal Eropa. Pengembangan Exocet dimulai pada tahun 1967 oleh Nord sebagai senjata yang diluncurkan kapal bernama MM38. Beberapa tahun kemudian, Aerospatiale dan Nord bergabung. Desain dasar bodinya didasarkan pada rudal taktis udara-ke-darat Nord AS-30. MM38 yang diluncurkan dari laut mulai beroperasi pada tahun 1975. Rudal yang relatif kompak ini dirancang untuk menyerang kapal perang berukuran kecil hingga menengah (misalnya fregat, korvet, dan kapal perusak), meskipun beberapa serangan secara simultan diyakini akan efektif terhadap kapal yang lebih besar, seperti kapal induk. Rudal ini dipandu secara inersia di tengah penerbangan dan mengaktifkan radar pelacak aktifnya di akhir penerbangannya untuk menemukan dan mencapai targetnya. Sebagai tindakan menghindar dari sistem pertahanan udara di sekitar target, Exocet mempertahankan ketinggian yang sangat rendah saat datang menuju sasaran, hanya satu hingga dua meter di atas permukaan laut. Karena efek cakrawala terhadap radar, ini berarti bahwa target mungkin tidak mendeteksi serangan yang datang sampai rudal hanya berjarak 6.000 meter (3,7 mil) dari titik perkenaannya. Kondisi ini menyisakan sedikit waktu untuk bereaksi dan merangsang dibuatnya sistem senjata jarak dekat (CIWS). Motor roket berbahan bakar padatnya memberikan MM38 Exocet jangkauan maksimum sekitar 42 km. Rudal ini sudah tidak lagi diproduksi.
RGM-84 Harpoon
Harpoon adalah rudal anti-kapal segala cuaca, over-the-horizon, yang dikembangkan dan diproduksi oleh McDonnell Douglas (sekarang Boeing Defense, Space & Security). Harpoon biasa menggunakan radar pelacak aktif dan terbang tepat di atas permukaan air untuk menghindari deteksi dan mengurangi waktu bagi reaksi pertahanan lawan. Versi yang diluncurkan dari kapal perang, yakni RGM-84, dilengkapi dengan pendorong roket berbahan bakar padat yang terlepas saat digunakan, untuk memungkinkan turbojet utama rudal mempertahankan penerbangan rudal menuju ke sasaran. Harpoonyang diluncurkan dari kapal memiliki panjang sekitar 15 ft (4.6 m) dan diameter 13.5 in (34 cm). Rudal ini memiliki hulu ledak sebesar 488 pounds (221 kg), dan versi umumnya dapat menjangkau sasaran hingga 140 km (75 nmi) pada kecepatan 850 km/h (460 knots, 240 m/s, atau 530 mph).
SSM-700K C-Star
SSM-700K C-Star (Haeseong) (Hangul: 해성, Sea Star) adalah rudal jelajah anti-kapal permukaan-ke-permukaan yang diluncurkan oleh kapal yang dikembangkan oleh Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan (ADD), LIG Nex1 dan Angkatan Laut Republik Korea pada tahun 2003. Sebagai rudal jelajah jarak menengah, Haeseong dikembangkan untuk peperangan jarak jauh, dan mampu menyerang sasaran hingga jarak 150 km (93 mil). Terbang pada ketinggian sea-skimming yang sangat rendah, rudal ini menggunakan mesin turbojet subsonik tinggi, berkapasitas tinggi, dengan sistem navigasi inersia (INS) dan Global Positioning System (GPS) untuk memandunya menuju targetnya, serta menggunakan radar altimeter untuk menjaga ketinggian. Radar aktif digunakan untuk penargetan pada fase terminal segera sebelum menabrak sasaran. Rudal ini dirancang untuk digunakan dalam lingkungan peperangan elektronik aktif, dilengkapi dengan sistem deteksi dan penanggulangan. Hulu ledaknya sendiri mirip dengan rudal Harpoon, dilengkapi dengan sumbu tumbukan atau penetrasi. Haeseong juga cocok untuk digunakan dalam pertahanan pantai yang diluncurkan dari darat baik dari platform darat tetap maupun bergerak. Badan pengembangan tersebut mengklaim “tingkat akurasi 100 persen dalam uji tembak langsung”, seperti pada Latihan RIMPAC. Bobot rudal ini adalah 792 kg (dengan peluncur: 1.061 kg), dan memiliki panjang 5,46 m, diameter 0,34 m. Berat hulu ledaknya 250kg, yang dilengkapi dengan mekanisme impact fuze. Rudal Haesong ditenagai oleh mesin turbojetHanwha Techwin SS-760K (kemudian SSE-750K), yang memampukannya memiliki jangkauan operasional 180+ km, terbang dengan ketinggian penerbangan menelusuri laut, pada kecepatan maksimum 1.162,8 km/jam (Mach 0,95).
Rudal Anti Pesawat Mistral
Missile Transportable Anti-aérien Léger (Bahasa Inggris: Rudal anti-udara ringan yang dapat diangkut), yang biasa disebut Mistral, adalah sistem pertahanan udara jarak pendek berpemandu inframerah asal Prancis yang diproduksi oleh MBDA (sebelumnya oleh Matra Defense dan kemudian Matra BAe Dynamics). Berdasarkan SATCP (Sol-Air à Très Courte Portée) Perancis, rudal portabel yang kemudian menjadi Mistral mulai dikembangkan pada tahun 1974. Versi awal rudal ini digunakan pada tahun 1988 (S1), kemudian pada tahun 1997 untuk versi kedua (M2), dan tahun 2019 untuk versi ketiga (M3). Mistral tergolong dalam sistem rudal pertahanan udara jarak pendek (SHORAD) yang dapat ditembakkan dari kendaraan, kapal permukaan, dan helikopter, serta dalam konfigurasi portabel. Ketika digunakan dalam peran MANPADS, rudal “Mistral” diangkut dalam kontainer pengangkutan dan peluncuran (MPC) bersama dengan interogator “friend or foe“, sumber tenaga dan tripod dengan perangkat penglihatannya. Mereka kemudian dioperasikan oleh sepasang kru sebagai komandan dan penembak. Ada juga unit peluncuran yang memungkinkan rudal ditembakkan dari kendaraan lapis baja, kapal atau helikopter (seperti Aérospatiale Gazelle, Denel Rooivalk, atau Eurocopter Tiger). Untuk mengalahkan suar yang dikeluarkan dari bagian belakang pesawat sasaran, navigasi proporsional menggunakan gyro sebagai referensi diadopsi untuk Mistral, yang tidak seperti metode pengejaran pada MANPADS yang dipandu IR (Infra merah) sebelumnya. Untuk lebih meningkatkan kemampuan ECCM, seeker Mistral memiliki bidang pandang yang sangat sempit untuk menolak decoy dan gangguan, dimana seeker dapat dimiringkan dalam kisaran +/− 38 derajat. Di peluncur, rudal menjalankan gyro dalam waktu 2 detik, dan total waktu reaksi adalah 5 detik. Sistem penjejak IR all-aspect two-color (2–4 dan 3–5 µm) pada Mistral dikembangkan oleh SAT (Societe Anonyme de Telecommunications), dan rudal tersebut mengadopsi baik sumbu peledak laser proximity dan impact fuzes. Jarak tembak yang efektif Mistral adalah hingga 6 km 8 km (Mistral-3), dengan dilengkapi hulu ledak berkekuatan tinggi, yang dilengkapi dengan bola tungsten berkepadatan tinggi. Berat hulu ledaknya sendiri adalah 2,95kg. Mistral ditenagai oleh mesin motor roket padat, 2 tahap, yang memungkinkannya terbang dengan kecepatan maksimum 930 m/s, atau kira-kira Mach 2,71 (supersonik tinggi).
Meriam/Kanon
Meriam OTO Melara kaliber 76 mm
Meriam OTO Melara kaliber 76 mm adalah meriam angkatan laut yang dibuat dan dirancang oleh perusahaan pertahanan Italia OTO Melara. Sistem meriam ini cukup kompak untuk dipasang pada kapal perang yang relatif kecil. Tingkat kecepatan penembakannya yang tinggi dan kemampuannya menggunakan berbagai jenis amunisi membuatnya mampu untuk dipakai dalam tugas pertahanan jarak pendek anti-rudal, anti-pesawat, anti-permukaan, dan dukungan tembakan target darat. Amunisi yang bisa dipakai meriam ini, termasuk peluru penembus lapis baja, pembakar, fragmentasi, dan peluru kendali yang mampu menghancurkan manuver rudal anti-kapal. Meriam OTO Melara 76 dapat menembak dengan sudut antara 15°/+85° pada kecepatan: 35°/detik dan dapat berputar 360° pada kecepatan: 60 °/detik. Kecepatan menembak normalnya adalah 85 peluru/menit, sedangkan pada mode super cepat dapat mencapai 120 peluru/menit, dengan kecepatan proyektilnya 915 m/s (3.000 kaki/dtk). Jarak tembak meriam ini menggunakan peluru HE-PFF adalah 16.000 m, SAPOMER 20.000 m, dan VULCANO hingga 40.000 m. Sistem pengisian pelurunya memiliki kapasitas penampungan: 80 peluru siap pakai pada dudukan kompak. Meriam ini juga dapat dipasang di turret berdesain siluman. Meriam OTO Melara 76 mm diketahui telah diekspor secara luas, dan digunakan oleh enam puluh angkatan laut negara-negara di dunia.
Kanon Oerlikon 30mm Emerlec EE-30
EE-30 adalah dudukan senjata tertutup dengan satu operator. Di kedua sisi dudukan, kanon otomatis yang dioperasikan dengan gas Oerlikon KCB kaliber 30 mm dipasang di dudukan di belakang operator. Setiap senjata diumpankan oleh satu sabuk peluru kontinu. Dudukan ini memiliki pengendalian tembakan jarak jauh dan lokal. Dalam sistem kendali jarak jauh, senjata-senjata tersebut digerakkan ke radar atau pengarah optronik. Pengendalian tembakan lokal mencakup penglihatan refleks dan pengoperasian joystick pada dudukan senjata. EE-30 dapat digunakan dalam untuk melawan rudal anti-kapal subsonik besar seperti P-15 Termit Soviet (NATO: SS-N-2 Styx). Namun, sistem ini tidak dapat dianggap sebagai sistem senjata jarak dekat karena peralatan pengendalian tembakan eksternalnya sering kali tidak diarahkan untuk deteksi dini dan pelacakan rudal tipe sea skimming atau supersonik. Daya tembak EE-30 sangat signifikan. Setiap autocannon KCB 30 mm memiliki laju tembakan siklik 600 rpm, sedangkan laju penembakan gabungannya adalah 1.200 rpm. Jangkauan efektif anti-pesawat kanon ini adalah 2,75 km. Kapal permukaan yang besar dapat diserang hingga jarak 6 km, dengan jangkauan efektif yang lebih pendek untuk target yang lebih kecil. Sebanyak 985 peluru tersedia per senjata. Amunisi HEI dan SAPHEI dapat digunakan oleh kanon ini. Kedua jenis amunisi ini memiliki kecepatan tembak lebih dari 1.000 m/detik, yang memungkinkan menembak akurat bahkan pada jarak yang lebih jauh dibandingkan dengan kanon otomatis era Perang Dunia ke-2. Platform EE-30 sebagian besar digunakan pada berbagai kapal patroli dan kapal serang cepat. Biasanya satu atau dua senjata dipasang per kapal. Korea Selatan juga menggunakan empat dudukan kanon ini pada fregat kelas Ulsan gelombang awal. Kanon ini juga dipasang pada korvet kelas Pohang. Korea Selatan dilaporkan kemudian beralih ke dudukan senjata kaliber menengah lainnya, karena keandalan dudukan senjata EE-30 yang tidak memuaskan.
Kanon Otomatis BREDA DARDO
DARDO (“Dart” dalam bahasa Italia) adalah sistem senjata jarak dekat (CIWS) yang dibuat oleh perusahaan Italia Breda dan Oto Melara. Senjata ini terdiri dari dua kanon Bofors kaliber 40 mm buatan Breda yang menembakkan peluru berpeledak tinggi (HE), dipandu oleh radar pengendali tembakan (RTN-10X) dan sistem kendali penembakan (RTN-20X dan Dardo). Ini adalah yang terakhir dari serangkaian sistem senjata antipesawat Italia yang berasal dari kanon otomatis Bofors kaliber 40 mm buatan Swedia (telah dipasang pada dudukan senjata buatan Breda seperti Tipe 64, Tipe 106, Tipe 107, Tipe 564, dan Tipe 520). Tujuan utama sistem ini adalah untuk mempertahankan diri dari serangan rudal anti-kapal, wahana udara tak berawak, dan senjata berpemandu presisi lainnya. Senjata ini juga dapat digunakan terhadap target pesawat konvensional dan sayap putar, kapal permukaan, kapal air kecil, sasaran pantai dan ranjau terapung. DARDO dipasang di turret tertutup dengan dua dudukan berbeda: Tipe A dengan magasin internal berkapasitas 440 peluru dan magasin bawah dek yang berkapasitas 292 peluru; dan Tipe B yang hanya menggunakan magasin internal berkapasitas 440 peluru (Tipe B tidak memerlukan penetrasi dek). Fast Forty adalah versi perbaikan dari sistem senjata ini dengan laju tembakan yang lebih tinggi, magasin ganda, dan mekanisme umpan ganda untuk memungkinkan peralihan dari peluru tipe HE ke tipe armour-piercing fin-stabilized discarding sabot(APFSDS) ketika sebuah rudal berada dalam jarak 1.000 meter dari kapal. Kanon ini memiliki ketinggian elevasi minimal −13° dan maksimum +85°. Kecepatan putarnya 60°/dtk (Fast Forty 70°/dtk). Kanon ini dapat berputar 360° penuh, dengan kecepatan: 90°/detik (100°/detik untuk Fast Fourty). Kecepatan tembak sistem senjata ini adalah 2 × 300 peluru/menit dan 2 × 450 peluru/menit untuk Fast Forty. Jarak tembak efektif untuk peluru tipe HE adalah 4.000 m (4.400 yard), sedangkan jarak tembak maksimum melawan target udara dengan peluru HE mencapai 8.700 m (9.500 yard). Sistem senjata ini diumpankan dari magasin berkapasitas 736 peluru HE (444 pada dudukan tipe B), sementara pada mekanisme pengumpanan ganda berkapasitas 736 peluru HE dan 200 APFSDS (Fast Forty).
Torpedo
Torpedo Mark 46
Torpedo Mark 46 adalah tulang punggung inventaris torpedo ringan anti-kapal selam Angkatan Laut Amerika Serikat dan juga merupakan torpedo standar NATO. Torpedo udara ini dirancang untuk bisa menyerang kapal selam berperforma tinggi. Pada tahun 1989, program perbaikan untuk dari varian Mod 5 menjadi Mod 5A dan Mod 5A (S) telah meningkatkan kinerjanya di perairan dangkal. Mark 46 awalnya dikembangkan sebagai REsearch TORpedo Concept I (RETORC I), sebagai salah satu dari beberapa sistem senjata yang direkomendasikan untuk diterapkan oleh Project Nobska, sebuah studi pada musim panas 1956 tentang perang anti kapal selam. Torpodo ini memiliki panjang 8 ft 6 in (2.59 m) dan berbobot 508 lb (230 kg), sementara diameternya 12.75 in (324 mm). Jangkauan torpedo ini sekitar 12,000 yd (11,000 m), lebih jauh dari torpedo Mark 44 yang digantikannya. Kedalaman operasinya hingga > 1,200 ft (370 m). Kecepatan maksimum Mark 46 adalah > 40 kn (74 km/h; 46 mph). Panduan torpedo ini menggunakan metode deteksi akustik aktif atau passive/active, dengan hulu ledaknya sebesar 96.8 lb (43.9 kg).
K745 Blue Shark
K745 Blue Shark (Hangul: 청상어 경어뢰) adalah torpedo anti-kapal selam ringan yang dikembangkan untuk Angkatan Laut Republik Korea pada tahun 2004. Torpedo Blue Shark dapat ditembakkan dari kapal permukaan, helikopter ASW, dan pesawat patroli maritim. Biaya produksi untuk setiap torpedo sekitar ₩ 1.000.000.000. Torpedo Blue Shark dipasang pada fregat kelas Incheon (FFX). Torpedo ini diketahui diekspor ke Filipina sebagai bagian dari proses akuisisi Fregat kelas Jose Rizal. Blue Sharkmemiliki bobot 280kg, panjang 2,7 m, lebar 0,32 m, serta memiliki jangkauan operasional 19 km. Torpedo yang dipandu dengan sistem akustik ini memiliki kecepatan maksimum 45+ knot (83+ km/jam).
Senapan Mesin
K6 Heavy Machine Gun (HMG)
ST Motiv (Daewoo) “K6” Heavy Machine Gun (HMG) adalah senapan mesin berat standar pasukan Korea Selatan. Ini adalah salinan Senapan Mesin Berat Browning M2 asal Amerika yang diproduksi secara lokal dan, oleh karena itu, menggunakan bentuk dan fungsi yang sama. K6 secara eksternal sangat persis dengan senapan aslinya, termasuk dilengkapi pegangan ala sekop di bagian belakang, receiver di sisi pelat, dan laras berlubang pendek di sekitar rakitan laras berpendingin udara yang panjang. K6, seperti M2, digunakan dalam berbagai cara – dipasang pada tripod untuk penembakan berkelanjutan, dipasang pada dudukan di kendaraan untuk memberi tembakan penekan terukur – dan dapat digunakan untuk melawan pasukan infanteri musuh, kendaraan lapis baja ringan, dan kendaraan lapis baja ringan dan berbagai ancaman udara. Sistem senjata ini dilengkapi dengan kartrid peluru kaliber 12,7x99mm dan diisi oleh magasin sabuk – peluru (tautan tipe M2 atau M9) yang telah terbukti memiliki nilai penetrasi yang kuat pada jangkauannya. Senapan mesin ini dioperasikan dengan sistem short recoil dan memiliki kecepatan tembak 450–600 peluru/menit (M2HB). Jarak tembak efektifnya adalah 1.800 m (2.000 kaki), sedangkan jarak tembak maksimumnya hingga 7.400 m (8.100 kaki).
M60 General Purpose Machine Gun
M60 adalah keluarga senapan mesin serba guna Amerika yang menembakkan peluru NATO kaliber 7,62x51mm dari sabuk tautan M13. Ada beberapa jenis amunisi yang disetujui untuk digunakan di M60, termasuk peluru standar, peluru pelacak, dan peluru penembus lapis baja. M60 dioperasikan dengan gas, berpendingin udara, diberi umpan dari sabuk peluru, yang menembak dari posisi bolt terbuka. M60 memiliki laju penembakan siklik sekitar 500–650 peluru per menit (RPM). Amunisi biasanya dimasukkan ke dalam senjata dari sabuk logam split-link yang terdiri dari 100 atau 250 butir peluru. Jarak tembak efektif M60 adalah 1.200 yard (1.100 m), sedangkan jarak tembak maksimumnya 4.073 kaki (3.724 m).
KAPAL-KAPAL DALAM KELAS POHANG
Nama kapal kelas Pohang diambil dari nama kota-kota di Korea Selatan. Pohang sendiri adalah kota pelabuhan yang terletak di pesisir Laut Timur dan terkenal dengan pabrik besi besar yang disebut Pabrik Besi Pohang. Sebanyak 24 kapal kelas Pohang dibangun oleh Korea Shipbuilding Corporation, Hyundai Heavy Industries, Daewoo Shipbuilding, dan Korea Takoma. Kapal pertama di kelas tersebut, Pohang (PCC-756), dikirim ke ROKN pada tahun 1984. Kapal yang tersisa, termasuk Gunsan (PCC-757), Gyeongju (PCC-758), Mokpo (PCC-759), Gimcheon (PCC-756), 761), Chungju (PCC-762), Jinju (PCC-763), Yeosu (PCC-765), Jinhae (PCC-766), Suncheon (PCC-767), Iri (PCC-768), Wonju (PCC-769 ), Andong (PCC-771), Cheonan (PCC-772), Bucheon (PCC-773), Seongnam (PCC-775), Jecheon(PCC-776), Daecheon (PCC-777), Sokcho (PCC-778) , Yeongju (PCC-779), Namwon (PCC-781), Gwangmyeong (PCC-782), Sinseong (PCC-783), dan Gongju (PCC-785) dikirimkan dari tahun 1984-1993. Kapal pertama di kelas tersebut, Pohang, kini telah dipensiunkan dan digunakan untuk latihan. Korvet kelas Pohang saat ini telah diganti dengan fregat kelas Incheon generasi baru.
SEJARAH PENGOPERASIAN
Pada tahun 1986, ROKS Pohang menenggelamkan kapal bersenjata Korea Utara karena mengabaikan peringatan setelah melintasi NLL Laut Jepang. Pada tahun 1991, ROKS Gimcheon mendeteksi kapal selam Uni Soviet yang menyelam di timur Pohang selama patroli. Kapal ini memantau dan mengejar kapal selam itu. Pada pukul 11:50 tanggal 20 April 1996, dua dari tujuh kapal patroli Korea Utara melintasi NLL selama latihan. Kapal-kapal korvet kemudian dikirim untuk mencegat, dan menghadang hingga kapal-kapal Korea Utara mundur kembali ke NLL pada pukul 13.20.
Insiden Infiltrasi Kapal Selam Gangneung 1996
Pada pukul 01.30 tanggal 18 September 1996, seorang sopir taksi lokal menemukan kapal selam kelas Sang-O Korea Utara yang kandas di pantai Gangneung. ROKS Gyeongju kemudian bersama dengan kapal-kapal lainnya dikirim untuk memblokir jalur melalui laut yang bisa dipakai oleh agen mata-mata Korea Utara, dan mengawasi kapal-kapal musuh di daerah tersebut. Pada pukul 14.05 tanggal 29 Mei 1997, sebuah kapal patroli Korea Utara melintasi NLL. Korvet kelas Pohang lalu dikirim dengan tiga kapal patroli untuk mencegat. Kapal-kapal Korea Utara kemudian kembali ke NLL pada pukul 15.00.
Insiden Infiltrasi Kapal Selam Sokcho 1998
Pada pukul 16.33 tanggal 22 Juni 1998, sebuah kapal nelayan Korea Selatan melaporkan bahwa sebuah kapal selam kelas Yugo Korea Utara terjerat jaring ikan di 20,7 km sebelah timur Sokcho. ROKS lalu mengirimkan kapal-kapal termasuk ROKS Gunsan dan ROKS Mokpo serta pesawat untuk mengamankan lokasi kejadian. Pada pukul 19.25, ROKS Gunsan mulai menarik kapal selam Korea Utara ke pangkalan angkatan laut terdekat. Semua operator Korea Utara kemudian ditemukan tewas di dalam kapal selam—mereka diduga melakukan bunuh diri berkelompok sebelum ditangkap.
Insiden Yeosu 1998
Pada pukul 23.15 tanggal 17 Desember 1988, seorang prajurit menemukan kapal semi-selam Korea Utara di dekat Yeosu menggunakan TOD. ROKS Namwon dan ROKS Gwangmyeong dikirim untuk mencari dan menangkap kapal semi-selam tersebut. Kapal Korea Utara kemudian melepaskan tembakan senapan mesin ke arah kapal yang mengejar, yang kemudian ditenggelamkan oleh ROKS Gwangmyeong.
Pertempuran Yeonpyeong Pertama
Pada pukul 09.10 tanggal 7 Juni 1999, sebuah kapal patroli Korea Utara melintasi NLL dengan alasan untuk melindungi kapal penangkap ikan. Sejak itu, beberapa kapal nelayan dan kapal patroli Korea Utara bolak-balik melintasi garis tersebut. Dua angkatan laut kemudian bertempur dengan saling bertabrakan, yang menyebabkan kerusakan parah pada dua kapal Korea Utara, selama berhari-hari. Pada tanggal 15 Juni, kapal torpedo Korea Utara melepaskan tembakan ke kapal kelas Chamsuridengan granat, senapan, dan meriam kaliber 25 mm. Pertarungan kemudian berlangsung selama 14 menit, yang menghasilkan kemenangan bagi Korea Selatan; dimana Korea Utara kehilangan satu kapal torpedo dan mengalami 1 kerusakan berat, 2 kerusakan sedang, dan 2 kerusakan ringan pada kapal-kapal patroli di antara 10 kapal mereka. AL Korea Selatan menerima kerusakan ringan pada 4 kapal kelas Chamsuri dan ROKS Cheonan. ROKS Jinhae, ROKS Cheonan, dan ROKS Yeongju terlibat dalam insiden tersebut. ROKS Yeongju mencetak tembakan tepat sasaran dan menenggelamkan kapal torpedo Korea Utara dengan meriam OTO Melara 76 mm/62. Pada tahun 1999, kapal-kapal Batch IV mulai dilengkapi rudal permukaan-ke-permukaan RGM-84C Harpoon. Sistem ini dilepas dari kapal kapal perusak kelas Chungbuk (bekas kelas Gearing) yang dipensiunkan, dan dipasang pada korvet kelas Pohang. Pada tahun 2000, rudal pertahanan udara jarak pendek MBDA Mistral MANPADS dipasang di kapal sebagai senjata anti-udara.
Pertempuran Yeonpyeong Kedua
Pada tanggal 29 Juni 2002, PKM-357 kelas Chamsuri menerima serangan mendadak dari kapal patroli Korea Utara. ROKS Jinhae dan ROKS Jecheon kemudian dikirim ke tempat kejadian untuk membantu; kapal-kapal tersebut berada di bawah ancaman radar rudal Styx dan Silkworm selama operasi, dan SRBOC Mk 36 digunakan untuk berjaga-jaga. Pada RIMPAC 2002, ROKS Wonju menjadi kelas Pohangpertama yang menembakkan rudal RGM-84C Harpoon. Rudal tersebut berhasil mencapai sasarannya. Pada tahun 2006, torpedo anti-kapal selam ringan K745 Blue Shark mencapai kemampuan operasi penuh. Torpedo baru ini akan ditambahkan ke sistem persenjaan korvet ini. Pada tanggal 29 September 2006, Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) menyetujui produksi batch 2 rudal permukaan-ke-permukaan SSM-700K C-Star untuk tahun 2007 hingga 2010. Bagian dari produksi rudal tersebut akan diterapkan untuk korvet kelas Pohang.
Pertempuran Daecheong
Pada tanggal 10 November 2009, ROKS Suncheon berpartisipasi dalam Pertempuran Daecheong untuk memberikan dukungan kepada kapal patroli kelas Chamsuri.
Tenggelamnya Kapal ROKS Cheonan
Pada awal tahun 2010, ROKS Cheonan telah bertugas di Angkatan Laut Republik Korea selama sekitar 21 tahun dan dijadwalkan akan dinonaktifkan pada tahun 2019. Pada tanggal 26 Maret 2010, dia berpatroli di Laut Kuning seperti biasa, sekitar satu mil (1,6 km) dari garis pantai. Pulau Baengyeong dekat garis batas antara Korea Utara dan Selatan. Pada pukul 21:21:57 (12:21:57 UTC) tanggal 26 Maret 2010, sebuah ledakan (atau dua ledakan) terjadi selama 1~2 detik di buritan ROKS Cheonan, yang menyebabkan pemadaman listrik dan masuknya minyak dan air laut, dan kapal miring 90 derajat ke kanan dengan sangat cepat. Ketika kru keluar ke geladak, mereka menemukan buritan sudah terendam. Kapten Choi Won il mengatakan kapal itu pecah menjadi dua dan buritannya tenggelam dalam beberapa menit. Lautnya sangat dingin dan diperkirakan korban yang selamat hanya akan bertahan selama beberapa jam di perairan dingin yang deras. Ruang radio Cheonan mengeluarkan isyarat S.O.S. dengan lintang dan bujur lokasi kapal saat itu. Pada pukul 22:40, Angkatan Laut dan Penjaga Pantai menyelamatkan 58 pelaut, termasuk kapten, dari 104 awak; sementara 46 orang tewas. Kapal tenggelam hanya di kedalaman 45 meter dengan sebagian lambungnya terlihat tepat di atas air. Ada kemungkinan beberapa orang masih hidup, terjebak di bagian kapal di bawah air, sehingga para penyelam angkatan laut dikirim untuk mencoba menyelamatkan. Kapal tambahan tiba untuk membantu termasuk dukungan dari AS dalam bentuk USNS Salvor (kapal penyelamat), USS Harpers Ferry (kapal pendarat dermaga LSD) dan USS Shiloh (kapal penjelajah berpeluru kendali kelas Ticonderoga) – yang terakhir untuk membantu memberikan cakupan perlindungan yang diperluas untuk sisa waktu operasi. Kapal tenggelam sekitar pukul 01:00 pada 27 Maret 2010. Haluan kapal melayang 6,4 kilometer (3,5 nmi) ke arah tenggara dari lokasi ledakan, kemudian tenggelam seluruhnya pada pukul 22:30 tanggal 27 Maret 2010. Pada tanggal 27 Maret, harapan untuk menemukan awak Cheonan yang masih hidup semakin memudar – operasi tersebut kini melibatkan lebih dari 25 kapal. Beberapa insiden dalam operasi itu sendiri menyebabkan kematian seorang penyelam Korea Selatan dan yang lainnya cedera. Sebuah kapal nelayan pribadi yang membantu penyelamatan bertabrakan dengan kapal barang Kamboja di dekatnya dan tenggelam, menewaskan dua orang di dalamnya dan tujuh awak lainnya hilang. Khawatir akan adanya lebih banyak korban jiwa, pemerintah Korea Selatan membatalkan penyelamatan pada tanggal 3 April dan mengalihkan upaya untuk menyelamatkan kapal tersebut. Sebuah derek apung besar ditarik ke lokasi dan, pada tanggal 15 April, bagian buritan diangkat dan dipulihkan. Sisa kapal diangkat dengan crane lain pada tanggal 25 April dan kapal tersebut dibawa ke pelabuhan dekat Seoul untuk penyelidikan lebih lanjut mengenai penyebab kerugian tersebut. Dari keseluruhan operasi pemulihan ekstensif, hanya satu jenazah dari 46 jenazah yang ditemukan.
Pada tanggal 25 April 2010 konferensi pers diadakan di Seoul dan menteri pertahanan Kim Tae-Young mengatakan teori “bubble jet” yang diajukan didukung oleh penyelidikan. Teori ini berpusat pada ledakan non-kontak oleh torpedo tepat di bawah lambung kapal. Ledakan yang diakibatkannya diyakini telah menghancurkan kapal menjadi dua. Angkatan Laut Korea Selatan pada awalnya mengatakan bahwa mereka belum dapat menentukan penyebab pasti insiden tersebut, namun laporan mengatakan ledakan tak dikenal mungkin telah membuat lubang di bagian bawah kapal. “Ada penyebab yang tidak diketahui menyebabkan kapal berlubang, yang menyebabkan kapal tenggelam. Upaya penyelamatan sedang dilakukan,” kata Kementerian Pertahanan. “Kapal tersebut melepaskan tembakan peringatan ke suatu benda tak dikenal, dan kemudian diduga benda tersebut adalah kawanan burung. Namun sedang kami periksa,” ujarnya. Sebuah komisi internasional yang dipimpin Korea Selatan yang menyelidiki tenggelamnya ROKS Cheonan kemudian memberikan temuannya pada tanggal 20 Mei 2010, dan mengindikasikan bahwa kapal tersebut ditenggelamkan oleh torpedo CHT-02D Korea Utara. Temuan tersebut diperoleh ketika area tersebut dikeruk dan ditemukan bagian torpedo di lokasi ledakan, yang terjadi pada tanggal 15 Mei. Ditemukan baling-baling kontra-rotasi berbilah 5×5, motor penggerak dan bagian kemudi – semuanya cocok dengan torpedo tipe CHT-02D yang digunakan oleh Korea Utara. Penandaan dalam bahasa Hangul, yang ditemukan di ujung bagian propulsi, juga konsisten dengan tanda yang ditemukan pada torpedo Korea Utara di masa lalu. Diduga kapal selam kelas Yono sengaja digunakan untuk menenggelamkan ROKS Cheonan. Dalam bantahan yang sudah diperkirakan, juru bicara Komisi Pertahanan Nasional DPRK Korea Utara, mengeluarkan pernyataan yang menolak klaim tersebut, dengan menyatakan bahwa Korea Selatan adalah sekelompok pengkhianat dan penyelidikan bersama didasarkan pada rekayasa belaka dengan tujuan untuk mendakwa Korea Utara atas tuduhan apa pun yang dapat ditemukannya. Pada tanggal 23 Mei 2010, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton memberikan konferensi pers yang menunjukkan bukti dan setuju dengan temuan Korea Selatan, dan menganggap Korea Utara bertanggung jawab atas kematian 46 pelaut Korea Selatan tersebut. Dewan Audit dan Inspeksi (BAI) kemudian merekomendasikan pada tanggal 10 Juni 2010 agar setidaknya 24 perwira didisiplinkan karena tidak menjamin kesiapan tempur pasukan Korea Selatan. Para pengawas merekomendasikan 13 jenderal, 10 perwira dan dua pejabat kementerian sipil menghadapi tuntutan hukum. Pada tanggal 13 Juni 2010 Jenderal Lee Sang-eui, ketua Kepala Staf Gabungan Korea Selatan, mengajukan pengunduran dirinya karena pergolakan yang terjadi atas penanganan struktur komando terhadap serangan pada ROKS Cheonan. Badan audit menyalahkan angkatan laut karena mengerahkan korvet tersebut di dekat perbatasan laut yang tegang meskipun rentan terhadap serangan kapal selam. Audit tersebut menemukan banyak masalah dalam pencegahan dan kesiapsiagaan tempur, manajemen krisis, dan pengelolaan rahasia militer.
Sebagai respons terhadap serangan kapal selam Korea Utara, kapal-kapal kelas Pohang lalu meningkatkan kemampuan perang anti-kapal selamnya dengan memasang SLQ-261K TACM (Torpedo Acoustic Counter Measure) dan mengganti kapal penyelamat lama menjadi RIB (Rigid-hulled Inflatable Boat) pada Batch IV dan varian selanjutnya pada awal tahun 2012. Pada tanggal 23 Maret 2014, pengembangan radar pencarian permukaan STX Engine SPS-300K, yang dapat mendeteksi objek kecil seperti periskop kapal selam, diumumkan setelah diuji pada ROKS Iksan. Tambahan 15 korvet (Batch IV – VI) akan menerima radar baru pada tahun 2015. Pada bulan Juni 2019, ROKS Andong menyelesaikan pengujian SLQ-201K ESM (Elektronic Support Measures). ESM mendeteksi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan dari rudal dan radar musuh, yang memungkinkan untuk melacak, menganalisis, mengidentifikasi, kemudian memperingatkan sistem utama untuk secara otomatis mengaktifkan perangkat pertahanan seperti Mk 36 SRBOC. Semua korvet yang beroperasi akan menerima peningkatan pada tahun 2020. Pada 17 Februari 2020, BRP Conrado Yap bertemu dengan korvet Tipe 056A Liupanshui Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat dalam misi patrolinya. Awak Conrado Yapsecara visual mengamati perangkat pengendalian senjata Liupanshui yang menunjuk ke arah mereka. Pada tanggal 17 Juli 2022, terjadi kebakaran di ruang mesin BAP Guise dan melukai 2 pelaut Peru selama RIMPAC 2022. Dengan bantuan dari Angkatan Laut Perancis dan Angkatan Laut AS, para pelaut yang terluka segera mendapat perawatan dan dirawat di rumah sakit di Honolulu dalam kondisi stabil. Api padam kemudian setelah 5 jam 40 menit. Penyebab kebakaran saat ini belum diketahui. Kapal tersebut telah menerima program pemeliharaan yang signifikan termasuk pembongkaran dan regenerasi mesin diesel dan turbin gas sebelum dipindahkan ke Angkatan Laut Peru. Perbaikan BAP Guise telah selesai pada bulan Februari 2023.
Kelas Pohang Untuk Indonesia
Dikutip dari Janes.com (1/3/2023), Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia telah menyetujui proposal yang sebelumnya ditolak untuk pembelian korvet bekas Pohang Class bekas Angkatan Laut Republik Korea dengan pinjaman sumber luar negeri. Persetujuan tersebut ditegaskan dalam pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan kepada Kementerian Pertahanan Indonesia pada tanggal 7 Desember 2022. Salinan pemberitahuan tersebut diberikan kepada Janesoleh sumber yang dekat dengan rencana pengadaan tersebut pada akhir Januari 2023. Pada bulan Oktober 2022 Kementerian Pertahanan telah meminta untuk mendapatkan setidaknya satu unit korvet Pohang Class sebagai tindakan sementara untuk mengisi arsenal armada Satuan Kapal Eskorta TNI AL. Kementerian juga telah mengusulkan agar pengadaan dibiayai dengan dana dari pemberi pinjaman asing. Proposal ini kemudian ditolak oleh Kementerian Keuangan, tetapi tidak ada alasan yang diberikan. Kabar penolakan tersebut kemudian dikonfirmasi dalam pemberitahuan yang dibuat oleh Kemenkeu kepada Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) pada bulan Oktober 2022. Rincian yang diberikan dalam pemberitahuan tanggal 7 Desember menunjukkan bahwa proposal ini telah diajukan kembali oleh Kementerian Pertahanan pada tanggal 28 Oktober 2022, selain daftar pengadaan lain yang diusulkan, seperti amunisi kapal. Kementerian Pertahanan sekarang telah mengizinkan Kementerian Keuangan untuk mengambil pinjaman luar negeri hingga US$21 juta untuk mendanai akuisisi yang diusulkan hingga tiga unit korvet Pohang Class.
“Akuisisi barang dan jasa yang bersumber dari luar negeri harus mempertimbangkan keterlibatan perusahaan lokal dan bagaimana perusahaan-perusahaan ini dapat berkontribusi pada penguatan industri strategis Indonesia,” demikian pemberitahuan dari Kementerian Keuangan. Dengan klausul pengadaan alutsista strategis dari luar negeri yang mengharuskan adanya alih teknologi, menjadi menarik untuk dicermati, pasalnya jarang alutsista bekas ketika dibeli menyertakan klausul transfer of technology (ToT). Akuisisi korvet Pohang Class sejatinya adalah hibah. Mengutip dari Tribunnews.com (20/1/2022), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) saat itu, Laksamana TNI Yudo Margono mengatakan siap bekerjasama dalam melaksanakan latihan, operasi maupun pengecekan terhadap kapal tersebut yang rencananya akan dihibahkan ke Indonesia. Seperti pada model hibah armada pesawat angkut C-130 Hercules dari Australia, dan hibah 24 unit jet tempur F-16 C/D dari Amerika Serikat, maka Pemerintah Indonesia harus mengeluarkan anggaran yang tak sedikit. Meski kapalnya hibah, tetap harus ditanggung biaya untuk perbaikan kapal sebelum dikirim ke Indonesia, pengiriman kapal ke Indonesia, instalasi peralatan baru (modernisasi pada perangkat tua), kesiapan persenjataan berikut amunisi, sistem pemeliharan, dan tentunya pelatihan bagi awak kapal perang tersebut. Jika nanti Pohang Class jadi dioperasikan TNI AL, maka status Indonesia akan sejajar dengan Filipina, Vietnam, Mesir, Peru dan Kolombia, yakni kelima negara tersebut juga mendapatkan paket hibah Pohang Class dari Korea Selatan. Dalam proyek hibah ke Kolombia, Korea Selatan menyerahkan korvet Pohang Class dalam kondisi yang cukup baik, setelah melewati program rekondisi, nampak saat diserahkan kapal perang masih dilengkapi meriam OTO Melara 76 mm dan Otobreda 40 L/70 mm. Di korvet Pohang Class, kedua paket senjata di haluan tersebut juga diadopsi dalam konfigurasi yang sama di bagian buritan, jadilah ada kanon kembar OTO Melara 76 mm dan Otobreda 40mm L/70 twin naval. Konfigurasi tersebut menjadikan postur kekuatan kapal perang ini merata pada bagian depan dan belakang.
KARAKTERISTIK UMUM
Tipe : Korvet
Bobot :
- 950 ton (kosong)
- 1,220 ton (penuh)
Panjang : 88.3 m (289 ft 8 in)
Lebar : 10 m (32 ft 10 in)[2]
Draft : 2.9 m (9 ft 6 in)[3]
Mesin :
- CODOG
- 1 x Mesin turbin gas GE LM2500
- 2 x Mesin diesel MTU 12V 956 TB82
Kecepatan :
- Maksimum: 32 knot (59 km/jam)
- Jelajah: 15 knot (28 km/jam)
Jarak jangkau : 4.000 mil laut (7.400 km)
Kru : 95 (10 perwira)
Sensor dan Sistem Pemrosesan:
Sistem Kontrol Penembakan :
- Signaal SEWACO ZK (Gelombang II – III)
- Samsung/Ferranti WSA-423 (Gelombang IV – VI)
Radar Pencarian Permukaan:
- Raytheon AN/SPS-64 (Batch II – IV)
- Samsung/Marconi S1810 (Batch V – VI)
- STX SPS-300K (Batch IV – VI, setelah tahun 2014)
Radar Kontrol Penembakan:
- Signaal WM28 (Batch II – III)
- Samsung/Marconi ST1802 (Batch IV – VI)
Optronic Director:
- Signaal LIOD (Batch II – III)
- Samsung/Radamec 2400 (Batch IV – VI)
Sonar:
- EDO 786 (Batch II)
- Raytheon AN/SQS-58 (Batch III – VI)
Peralatan Peperangan Elektronik & decoys:
- Mk 36 SRBOC
- GoldStar ULQ-12K ESM
- SLQ-261K TACM (Batch IV – VI, setelah tahun 2012)
- Victek SLQ-201K ESM (Batch IV – VI, setelah tahun 2019)
Persenjataan
Meriam Utama :
- 1 x Meriam OTO Melara 76 mm/62 (Batch II)
- 2 x Meriam OTO Melara 76 mm/62 (Batch III – VI)
Meriam Pelengkap :
- 2 x meriam Emerson EMERLEC 30 kembar Oerlikon 30 mm/75 KCB (Batch II)
- 2 x meriam Breda DARDO CIWS kembar Bofors 40 mm/70 (Batch III – VI)
Anti-Kapal Permukaan:
- 2 x MM38 Exocet SSM (Batch II)
- 2 x 2 RGM-84C Harpoon SSM (Batch IV, setelah tahun 1999)
- 2 x 2 SSM-700K C-Star SSM (Batch V – VI, setelah tahun 2007)
Anti-Kapal Selam:
- 2 x triple Mark 32 SVTT dimuat dengan torpedo Mark 46 ASW, atau torpedo K745 Blue Shark ASW (setelah 2006)
- 12 x Bom dalam Mk 9 atau KMk 9
Anti-Pesawat:
- Rudal MANPADS Mistral (setelah tahun 2000)
Persenjataan lain:
- 2 x K6 HMG
- 2 x senapan mesin M60
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Pohang-class_corvette
Pohang Class Patrol Combat Corvettes
https://www.naval-technology.com/projects/pohangclasscombatcor/?cf-view
ROKS Cheonan (PCC-772) Patrol Combat Corvette Warship [ 1989 ]
https://www.militaryfactory.com/ships/detail.php?ship_id=ROKS-Cheonan-PCC772
Pohang (PCC Patrol Combat Corvette) HDC 1200 KCX
https://www.globalsecurity.org/military/world/rok/pohang.htm
Tak Jadi Batal, Pengadaan Korvet “Hibah” Pohang Class Untuk TNI AL Telah Mendapat Lampu Hijau oleh Gilang Perdana
https://www.radartutorial.eu/19.kartei/07.naval/karte029.en.html
https://www.radartutorial.eu/19.kartei/11.ancient4/karte044.en.html
https://www.radartutorial.eu/19.kartei/11.ancient4/karte067.en.html
https://www.radartutorial.eu/19.kartei/11.ancient2/karte094.en.html
Signaal PHS 32 – Mengenal ‘Hull Mounted’ Sonar Di Korvet Fatahillah Class oleh Gilang Perdana
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Exocet
https://en.m.wikipedia.org/wiki/SSM-700K_C-Star
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mistral_(missile)
30mm Emerlec EE-30 Mark 74
https://weaponsystems.net/system/1555-30mm+Emerlec+EE-30
https://en.m.wikipedia.org/wiki/DARDO
https://en.m.wikipedia.org/wiki/K745_Blue_Shark
SNT Motiv K6 Heavy Machine Gun (HMG) [ 1990 ]
https://www.militaryfactory.com/smallarms/detail.php?smallarms_id=261#google_vignette
