Perang Vietnam

September-Oktober 1950, Jenderal Giap Hancurkan Garnisun-Garnisun Prancis di Perbatasan China-Vietnam

Selama Perang Indochina Pertama (1945–1954), Pertempuran di Route Coloniale 4 adalah rangkaian pertempuran yang membawa bencana yang menyebabkan pasukan Prancis menderita kerugian besar. Pertempuran itu terjadi di sepanjang Route Coloniale 4 (RC4, juga dikenal sebagai Highway 4), sebuah jalan kasar yang digunakan untuk memasok pangkalan militer Prancis di Cao Bang. Ketika asap menghilang dari medan pertempuran di kawasan itu, Prancis telah mengalami kekalahan kolonial terbesar sejak tahun 1749, tulis sejarawan Prancis Bernard Fall.

Route Coloniale 4 tahun 1950, tempat terjadinya berbagai pertempuran sengit selama Perang Indochina Pertama. (Sumber: https://www.flickr.com/)

ROUTE COLONIALE

Kebutuhan dan pentingnya benteng pertahanan dalam konflik yang terjadi di Asia Tenggara tidaklah berlebihan. Prancis, dalam Perang Indochina (1945-1954), tercatat membangun dua posisi perbentengan linier yang luas dalam upaya untuk mengendalikan pengaruh Viet Minh. Akan tetapi nilai penting dan dampak dari benteng-benteng ini kemudian melemah karena Viet Minh berhasil menyusup ke wilayah-wilayah yang mereka kuasai. Salah satu posisi perbentengan ini berada di sepanjang perbatasan China, di wilayah Lang Son-Cao-Bang. Jejak dari garis ini, mungkin bisa dirunut keberadaannya sedari abad ke-19 dan terus diperbaiki sejak saat itu. Garis semacam inilah yang kemudian menjadi pertahanan yang dihadapi oleh tentara China selama aksi ofensif mereka pada tahun 1979 terhadap wilayah Utara Vietnam selama perang Sino-Vietnam. Route Coloniale 4 adalah sebuah jalan di Vietnam, yang berbatasan dengan perbatasan China dari Hanoi hingga Cao Bang. Wilayah Indochina memang berbatasan dengan China, namun garis perbatasannya tidak pernah ditetapkan. Perbatasan sebenarnya adalah serangkaian benteng dan pos terdepan Prancis yang dihubungkan oleh Route Coloniale No. 4 yang berkelok-kelok di antara bukit terjal dan hutan lebat ini. Benteng-benteng tersebut dimaksudkan untuk memisahkan tentara pemberontak Viet Minh Komunis pimpinan Ho Chi Minh dari kekuatan Komunis China, yang sedang terlibat perang saudara dengan tentara China Nasionalis. Rencana Perancis adalah mengisolasi para pemberontak di daerah perbukitan liar yang terletak di antara perbatasan dan Sungai Merah di sebelah barat. Dengan menguasai perbatasan dan lahan persawahan yang subur di delta Sungai Merah, Prancis berharap dapat membuat kaum Komunis kelaparan. Untuk sementara, sepertinya rencana itu akan berhasil. Di delta Sungai Merah, kapal-kapal patroli Prancis menyergap kapal-kapal pengangkut beras yang menuju ke basis pasukan komunis di sebelah utara. Akibatnya, lewat radio, Ho kemudian mendesak para pendukungnya untuk menghemat beras, “setiap butir sama berharganya dengan setetes darah”, katanya.

Rangkaian perbentengan Prancis di sepanjang Route Coloniale 4. (Sumber: https://alchetron.com/)
Kawasan Lang Son tahun 1950. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Garnisun Prancis di perbatasan tahun 1950. (Sumber: https://www.flickr.com/)

VIET-MINH DITEMPA OLEH PENGALAMAN

Selama Perang Indochina-Perancis, pasukan Perancis berusaha untuk membangun kembali kendali pemerintah kolonial atas Vietnam, sementara kekuatan nasionalis yang dipimpin oleh Ho Chi Minh berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Awalnya, Tentara Viet Minh gagal menghadapi pasukan Perancis yang lebih terlatih dan bersenjata lengkap. Namun dengan berjalannya waktu Tentara Viet Minh terus berkembang dengan ditempa pengalaman sehingga mampu mengimbangi Tentara Prancis. Perang Indochina dimulai dengan sungguh-sungguh pada bulan Desember 1946. Fase pertama berlangsung hingga bulan November 1949 dan terdiri dari pertempuran keras di awal yang mendesak Viet Minh ke pedesaan, serta serangan untuk menghancurkan kepemimpinan Viet Minh dan perbekalan. Serangan Prancis hampir berhasil (dalam Operasi Lea), dengan menargetkan Ho Chi Minh sendiri. Setelah itu perang kemudian berlanjut dalam pola perang gerilya yang tidak menentu. Pola gerilya Viet Minh tidak berjalan lama, karena dengan berjalannya waktu mereka mampu mengorganisir serangan besar ke posisi-posisi tentara Prancis. Serangan besar pertama Viet Minh dalam Perang Indochina Pertama dilakukan pada tanggal 25 Juli 1948 di RC3 selama serangan di pos Phu Tong Hoa. Lebih dari 3.000 pasukan infanteri Viet Minh melancarkan serangan malam hari ke pos tersebut, yang terletak di dekat Bac Khan di persimpangan Jalan Ba Be. Saat fajar, para Legiuner masih melawan, dan para penyerang mundur. Setelah serangan ini, para jenderal Prancis memutuskan untuk mengevakuasi RC3 dan mengumpulkan pasukan mereka di poros Cao Bang–Lang Son. 

Jenderal Leclerc melakukan inspeksi terhadap unit-unit dari demi brigade ke-13 Legiun Asing, tahun 1946. Awalnya, Tentara Viet Minh gagal menghadapi pasukan Perancis yang lebih terlatih dan bersenjata lengkap. Namun dengan berjalannya waktu Tentara Viet Minh terus berkembang dengan ditempa pengalaman sehingga mampu mengimbangi Tentara Prancis. (Sumber: https://en.topwar.ru)
Tentara Viet Minh selama pertemuan di akhir tahun 1950 atau awal 1951. pistol mitraliur MP-40, Thompson dan senapan mesin ringan BAR terlihat. dari waktu ke waktu Viet Minh menjadi semakin profesional dan dipersenjtai dengan baik. (Sumber: https://twitter.com/)
Kolonel Dang Van Viet, yang juga dikenal sebagai Macan Abu-abu RC4. (Sumber: https://www.secretindochina.com/)

Sementara itu Viet Minh memilih strategi yang didasarkan pada serangan-serangan gangguan terhadap pasukan Prancis, dan untuk melaksanakannya mereka membentuk Resimen ke-174 (resimen RC4), yang dipimpin oleh Kolonel Dang Van Viet yang terkenal, yang juga dikenal sebagai Macan Abu-abu RC4, Napoleon-nya Vietnam, Raja RC4, dan Jenderal Tanpa Bintang. Di sisi lain, Prancis memilih untuk memperkuat dan membentengi instalasi di sepanjang sumbu jalan RC4. Jalan tersebut menjadi yang rute paling berdarah di Indochina. Disebut Boulevard de la Mort (Jalan Kematian), jalan berdarah ini berkelok-kelok di bawah tebing berbatu di sepanjang jalan curam dengan ketinggian yang tertutup semak – sangat cocok untuk penyergapan. Konvoi menuju Cao Bang yang membawa makanan, amunisi, dan warga sipil, sering diserang. Beberapa kota garnisun tersebar di rute tersebut, termasuk Dong Khe dan That Khe. Pada bulan Juni 1949, Jenderal Revers mengusulkan rencana untuk meninggalkan zona perbatasan, tetapi rencana tersebut ditolak oleh M. Pignon, Komisaris Tinggi Prancis di Indochina, yang memandang gerak mundur tersebut akan mempermalukan citra Prancis. Nantinya pada tahun 1950, setelah serangan Viet Minh yang lebih sukses, rencana evakuasi Jenderal Revers akhirnya diadopsi, tetapi sudah terlambat. Dalam operasinya, Giap dan Kolonel Viet Minh itu mengadopsi prinsip Seni Perang Sun Tzu, yakni: “Musuh maju, kita mundur. Musuh berhenti, kita mengganggunya. Musuh sudah lelah, kita serang dia. Musuh mundur, kita kejar.” Selain taktik yang tepat, Viet Minh juga diuntungkan karena sangat mengenal wilayah utara Vietnam. Pada tahun 1941, ketika Ho Chi Minh, yang saat itu menjadi agen Komintern, kembali ke Vietnam setelah meninggalkannya selama 30 tahun, ia mendirikan markas besarnya di sebuah gua dekat Cao Bang. Di sinilah dia, Jenderal Giap dan Pham Van Dong, yang nantinya akan menjadi Perdana Menteri Vietnam, mendirikan Viet Minh.

SERANGAN PERTAMA KE DONG KHE

Pada awal tahun 1950, komandan militer Viet Minh, Jenderal Vo Nguyen Giap, memulai serangan terhadap pasukan Prancis. Para prajurit muda dari Divisi ke-308 Jenderal Vo Nguyen Giap yang baru dibentuk, yang baru dilatih dan diperlengkapi oleh komunis China, memamerkan keterampilan mereka dalam operasi sembunyi-sembunyi melawan Prancis pada bulan Mei 1950. Empat batalyon infanteri Giap mendaki ketinggian batu kapur yang curam di sekitar kota Dong Khe di timur laut Tonkin, wilayah paling utara Vietnam, tanpa terdeteksi meskipun mereka sedang mengangkut lima howitzer kompak kaliber 75 mm buatan Amerika. Saat fajar tanggal 25 Mei, 2.500 prajurit Viet Minh melepaskan tembakan dengan serangan berkelanjutan yang menghancurkan pertahanan Prancis dan garnisun beranggotakan 800 orang, yang sebagian besar terdiri dari prajurit Maroko di bawah pimpinan perwira Prancis. Giap, panglima pejuang kemerdekaan Viet Minh yang dipimpin orang-orang komunis yang telah berperang dengan penguasa kolonial Prancis sejak bulan Desember 1946, menghentikan serangan artileri setelah dua hari penembakan. Pasukannya kemudian menyerang dalam taktik gelombang manusia, yang berhasil menguasai markas dan hampir memusnahkan para prajurit kolonial yang tersisa, beberapa di antaranya melarikan diri ke dalam hutan. Pada tengah hari tanggal 27 Mei, 48 jam setelah serangan dimulai, Viet Minh telah menguasai Dong Khe. Prancis kemudian merespons serangan tanggal 27 Mei dengan cepat, dengan menjatuhkan Batalyon Parasut Kolonial ke-3 ke pangkalan yang dikuasai pada pagi hari yang sama dan mengejutkan pasukan Viet Minh yang sedang terlibat dalam penjarahan. Setelah beberapa jam pertempuran sengit, sering kali terjadi lewat pertarungan jarak dekat, pasukan Viet Minh meninggalkan posnya dan kembali ke dalam hutan. Giap sendiri memang tidak pernah bermaksud untuk mempertahankan markas itu, dan Jenderal ini menilai Viet Minh telah mencapai tujuannya untuk saat itu. 

KEANGKUHAN CARPENTIER

Serangan di bulan Mei adalah kesempatan terakhir Giap untuk mempersiapkan para prajurit Divisi ke-308 untuk melakukan tugas-tugas berat di masa depan. Dia sedang bersiap untuk melancarkan serangan besar-besaran terhadap enam pos perbatasan Prancis—termasuk Dong Khe—di sepanjang Rute Kolonial 4 dekat perbatasan dengan China ketika hujan monsun berakhir pada akhir bulan September atau awal bulan Oktober. Persiapan yang sulit selama berbulan-bulan terbentang di hadapan Giap. Setelah Viet Minh menarik diri dari Dong Khe, panglima tertinggi Perancis, Jenderal Marcel Carpentier, yang sama sekali asing dengan situasi di Indochina, sebenarnya bisa saja menghindari serangan Viet Minh lainnya dengan mengevakuasi benteng-benteng perbatasan, yang menampung hampir 12.000 tentara Perancis dan Afrika Utara, Legiuner Asing Perancis, anggota suku Tai yang bersekutu, dan penghuni kamp lainnya. Dia punya cukup waktu untuk mengevakuasi mereka. Namun, dia gagal melakukannya. Carpentier mungkin mengidap keangkuhan, sikap menghina terhadap musuh yang menginfeksi banyak perwira Prancis—dan kemudian Amerika—Mereka terlalu meremehkan kemampuan bertarung musuh dan terlalu melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri.

Panglima Perancis, Jenderal Marcel Carpentier. April 1950. Carpentier mengidap keangkuhan, sikap menghina terhadap musuh yang menginfeksi banyak perwira Prancis—dan kemudian Amerika—Mereka terlalu meremehkan kemampuan bertarung musuh dan terlalu melebih-lebihkan kemampuan mereka sendiri. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Personel garnisun Prancis di kawasan Lang Son. Personel militer Prancis di kawasan itu beragam, mulai dari tentara Perancis dan Afrika Utara, Legiuner Asing Perancis, hingga anggota suku Tai yang bersekutu. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Prajurit Resimen Kelima Legiun Asing di Vietnam Utara, 1950. (Sumber: https://en.topwar.ru)

TAHUN PENTING DALAM PERANG DINGIN

Pada akhir tahun 1949, Giap meningkatkan tekanan pada konvoi pasokan besar Prancis yang mencoba melewati Rute 4 untuk mencapai benteng-benteng di sekitar itu. Konvoi tersebut bergerak menuju penyergapan yang mematikan, penghalang jalan, dan jembatan yang hancur. Di sisi lain meningkatnya kehadiran kehadiran pasukan komunis pimpinan Mao Zedong di wilayah China selatan—yang baru-baru ini menang dalam Perang Saudara China melawan kaum Nasionalis pimpinan Chiang Kai-shek—mendorong Giap untuk menyerang pos-pos di sepanjang Rute 4 pada akhir tahun 1950. Jenderal Giap merasa bisa mendapat banyak keuntungan dengan menyerang garnisun-garnisun tersebut. Pertama, ia dapat mempermudah proses pengiriman perbekalan dan pasukan dari China ke markas besarnya di Viet Bac dan ke pasukannya di lapangan; kedua, dia ingin memberi pasukannya pengalaman tempur langsung; ketiga, dia tahu bahwa kemenangan yang menentukan akan meningkatkan moral pasukannya; dan yang terakhir dia ingin para perwiranya mendapatkan pengalaman dalam mengerahkan unit-unit konvensional dalam pertempuran. Bukan kebetulan juga, ofensif Giap bersamaan dengan situasi yang tidak menguntungkan bagi pasukan komunis dalam perang di Korea, dimana pihak komunis kemudian menginginkan sebuah pukulan balasan di Indochina. Pada saat yang sama, seribu enam ratus mil ke utara, Marinir AS telah merebut Inchon dan bertempur untuk merebut Seoul, serta Angkatan Darat ke-8 bergerak perlahan ke utara menuju ibukota Korea Utara, Pyongyang dan bentrokan dengan tentara China di Sungai Yalu, sepertinya tidak akan terhindarkan. Ini adalah musim gugur yang penting dalam sejarah Perang Dingin. Mendukung hal ini surat-surat kabar di Moskow lalu memberi ruang pemberitaan yang sama besarnya kepada konflik di Indo-China seperti halnya di Korea. 

Tentara Pembebasan Rakyat China yang menang memasuki Beijing pada tahun 1949. Meningkatnya kehadiran kehadiran pasukan komunis pimpinan Mao Zedong di wilayah China selatan—yang baru-baru ini menang dalam Perang Saudara China melawan kaum Nasionalis pimpinan Chiang Kai-shek—mendorong Giap untuk menyerang pos-pos di sepanjang Rute 4 pada akhir tahun 1950. (Sumber: https://socialistworker.co.uk/)
Marinir AS membalas tembakan dari sniper Korea Utara saat mereka bertempur dari jalan ke jalan di ibu kota Korea Selatan, Seoul pada bulan September 1950. Ini adalah musim gugur yang penting dalam sejarah Perang Dingin. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

TUJUAN OFENSIF GIAP

Giap sementara itu telah menghabiskan waktu berbulan-bulan yang melelahkan di wilayah Viet Bac, sebuah wilayah terpencil di utara dan timur laut Tonkin dimana pemberontak Viet Minh bermarkas. Ia mengorganisir 100.000 pasukan regulernya (Chu Luc) menjadi enam divisi mobile (berkekuatan 70 batalion) yang didukung oleh senjata-senjata artileri, yang sebagian besar terdiri dari senjata-senjata buatan AS yang direbut dari kaum Nasionalis China yang dikalahkan. Pasukan reguler Giap ini masih didukung juga oleh tambahan 33 batalyon pasukan regional (berkekuatan 40.000 orang) dan 60.000 personel pendukung lokal. Giap kini siap memberikan pasukannya pengalaman pertama dalam peperangan konvensional. Sasaran Viet Minh adalah rangkaian perbentengan Prancis Route 4 yang terisolasi, yakni: Dong Khe, Cao Bang, That Khe, Nam Nung, Tien Yen dan Lang Son. Benteng lainnya, Lao Cai, didukung oleh empat benteng di sekitarnya, berada di Dataran Tinggi Tai, sebelah barat Sungai Merah yang melintasi perbatasan China. Kemenangan yang menentukan bagi Viet Minh akan membersihkan pasukan Prancis dari seluruh area Tonkin utara di sebelah timur Sungai Merah, sehingga memungkinkan pergerakan pasukan dan pasokan dari komunis China ke Viet Bac tanpa hambatan. Sebagai bonus, hal ini akan memberi pasukan Giap kemenangan yang meningkatkan moral dalam ujian besar pertama mereka di medan perang. 

Tentara Viet Minh tahun 1954. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

STRATEGI PRANCIS VS GIAP

Pada bulan Mei 1949 pemerintah Perancis mengirim Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Georges Revers ke Tonkin dalam misi pencarian fakta. Dia merekomendasikan agar pos-pos perbatasan diperkuat atau ditinggalkan sesegera mungkin. Prancis pada akhirnya tidak melakukan keduanya. Setelah merebut kembali Rute 4 pada tahun 1947 selama Operasi Lea, Prancis memasang garnisun permanen secara berkala di sepanjang “jalan”—sebenarnya, tidak lebih dari jalan tanah satu jalur yang sudah usang, lebar terlebarnya sekitar 12 kaki (3,65 meter) dan diapit di kedua sisinya dengan dikelilingi perbukitan berhutan lebat, hutan belantara, dan puncak-puncak batu kapur yang bergerigi. Pada tahun 1950, Rute 4 sudah dikuasai oleh Viet Minh. Benteng-benteng tersebut tidak dapat saling menopang dan dapat diserang satu per satu sesuai keinginan Giap. Mereka tidak hanya rentan tetapi juga mengikat ribuan pasukan yang dibutuhkan di Delta Sungai Merah, dimana Viet Minh terus menambah jumlah desa yang mereka kuasai. Sementara itu, Giap tidak pernah menganggur selama bulan-bulan basah di sela-sela musim kampanye. Dari tahun 1948 hingga 1950 ia membangun sistem logistik yang sepenuhnya mampu mendukung divisi-divisi gabungan bersenjatanya yang besar dalam jarak dan jangka waktu yang jauh. Dia beruntung mendapatkan sekutu kuat dalam diri Mao. Rekan komunisnya di China membantu Giap menyelesaikan masalah persenjataan berat dan pasokannya yang rumit, serta mengirim perwira berpengalaman ke Viet Bac untuk bertindak sebagai pelatih dan mentor, dan membentuk kelompok penasihat militer di tingkat batalion dan lebih tinggi untuk membantu Giap dan perwiranya merencanakan strategi. Jenderal Giap dan stafnya menghabiskan waktu berjam-jam untuk mempersiapkan serangan. Pasukan infanteri menggunakan model skala benteng yang ditargetkan untuk diserang, hari demi hari. Selama serangan yang akan datang, Giap tidak pernah menyerang tanpa setidaknya memiliki keunggulan kekuatan 3 lawan 1, dan kadang-kadang bisa mencapai 8 lawan 1. 

Perbentengan Prancis di Indochina. Benteng-benteng tersebut tidak dapat saling menopang dan dapat diserang satu per satu sesuai keinginan Viet Minh. (Sumber: https://monlegionnaire.files.wordpress.com/)
Cao Bang pada akhir tahun 1950. (Sumber: https://en.topwar.ru)
Artileri Viet Minh. Dari tahun 1948 hingga 1950 Giap membangun sistem logistik yang sepenuhnya mampu mendukung divisi-divisi gabungan bersenjatanya yang besar dalam jarak dan jangka waktu yang jauh. Dia beruntung mendapatkan sekutu kuat dalam diri Mao. Rekan komunisnya di China membantu Giap menyelesaikan masalah persenjataan berat dan pasokannya yang rumit. (Sumber: https://www.quora.com/)

PRANCIS MEMILIH MENGEVAKUASI CAO BANG

Pada akhir tahun 1950, penghalang jalan, ranjau dan penyergapan Viet Minh di sepanjang Rute 4 telah menimbulkan kerugian besar pada tentara dan peralatan Prancis dalam perjalanan mereka ke pangkalan besar di Cao Bang, yang dipimpin oleh “Fighting Legionnaire,” Letkol. Marcel Charton. Karena terhambat di darat, Prancis mulai memasok Cao Bang hanya melalui udara. Mereka mengevakuasi pos-pos Rute 4 yang lebih kecil, dengan meninggalkan Cao Bang, Lao Cai, That Khe dan Dong Khe sebagai satu-satunya benteng yang masih ditempati di wilayah pedalaman dari markas besar regional di Lang Son. Rute 4 kala itu menjadi jalan paling mematikan di Indochina. Seperti yang dikatakan oleh para Legiuner, “Rute Coloniale No. 4 adalah sebuah jalan yang hanya dilalui seseorang sekali seumur hidup.” Pada awal bulan September Carpentier mengumumkan bahwa Prancis akan menyerang dan merebut kota Thai Nguyen di Rute Kolonial 3. Setelah itu, garnisun di Cao Bang akan mengungsi dan berjalan ke selatan di Rute 4, meninggalkan senjata-senjata artileri dan alat angkutan beratnya. Carpentier menginstruksikan Charton untuk melakukan penarikannya dengan memanfaatkan unsur “kecepatan dan kejutan,” yang keduanya tidak mungkin dilakukan di sepanjang Rute 4. Thai Nguyen tidak memiliki koneksi taktis ke benteng-benteng di Route 4. Merebut tempat itu pada dasarnya adalah aksi publisitas untuk mengalihkan perhatian dari evakuasi di Cao Bang. Sementara itu, konvoi bantuan akan bergerak ke utara dari Lang Son. Ketika mencapai Cao Bang, pasukan gabungan akan bergerak ke selatan menuju Delta Sungai Merah yang relatif lebih aman. Carpentier dengan bodohnya berharap kedua tujuan tersebut dapat diselesaikan pada pertengahan bulan Oktober sebelum berakhirnya musim hujan dan sebelum Giap siap untuk operasi mobile—walaupun, pada kenyataannya, dia sudah siap. Jenderal tersebut telah memindahkan setidaknya 14 batalyon infanteri dan tiga batalyon artileri ke wilayah perbatasan. Jauh sebelum Carpentier dapat melaksanakan rencana evakuasinya, lima batalyon Divisi ke-308 Viet Minh, yang didukung oleh satu batalion senjata berat, menyerang Dong Khe pada tanggal 16 September, yang menandai babak pembuka serangan Giap terhadap pos-pos perbatasan, yang dikenal sebagai operasi Le Hong Phong II.

Pada akhir tahun 1950, penghalang jalan, ranjau dan penyergapan Viet Minh di sepanjang Rute 4 telah menimbulkan kerugian besar pada tentara dan peralatan Prancis dalam perjalanan mereka ke pangkalan besar di Cao Bang. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Pesawat angkut Junker yang digunakan oleh Angkatan Udara Prancis untuk pengangkutan udara Lang Son-Cao Bang selama Perang Indochina Pertama, pada bulan September 1950. (Photo by -/AFP via Getty Images/https://www.gettyimages.co.uk/)
Tentara Prancis dalam posisi pertahannya di Indochina tahun 1950. (Photo by Keystone-France\Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.historynet.com)

DONG KHE DIREBUT VIET MINH

Untuk serangan ini, pasukan Viet Minh telah menghabiskan waktu berminggu-minggu mempersiapkan dan merencanakan serangannya, sebuah ciri khas dari operasi-operasi penting mereka. Pada awal serangan, markas besar Giap diperingatkan oleh laporan-laporan yang menyatakan bahwa sebuah resimennya yang tersesat, gagal mencapai titik awal. Setelah serangan mortir dan artileri, pasukan komando Viet Minh, yang hanya mengenakan celana pendek dan membawa torpedo Bangalore (tabung berisi bahan peledak) dan tas berisi bahan peledak, mendekati benteng. Mereka melubangi kawat perimeter dan diikuti oleh gelombang pasukan penyerang. 300 prajurit yang mempertahankan benteng dari kompi ke-5 dan ke-6, Batalyon ke-2, Resimen Infantri Legiun Asing ke-3, kemudian harus bertempur tanpa mendapat dukungan udara karena naungan awan tebal. Dalam situasi ini pasukan Prancis masih mampu memukul mundur serangan berulang-ulang dari Viet Minh, saat korban bertambah di kedua pihak. Situasi genting, namun Ho Chi Minh, yang telah berjalan bermil-mil untuk menyaksikan serangan, meminta para komandannya untuk tetap tenang dan tetap gigih. Para penyerang kemudian dengan meyakinkan terus bertahan selama lebih dari dua hari. Pada tengah hari tanggal 18 September, setelah pertempuran sengit, selama 52 jam mereka akhirnya menyerbu dan menaklukkan Dong Khe. Garnisun beranggotakan 300 orang itu dihancurkan: 140 Legiuner ditangkap, 12 melarikan diri ke That Khe, dan sisanya tewas atau hilang. Direbutnya Dong Khe mungkin tampak seperti hadiah yang tidak terduga. Namun ketika Vietminh akhirnya menyerang dan memusnahkan Dong Khe, dengan nyaris tanpa menyisakan seorang pun yang selamat, itu kemudian akan menjadi awal dari fase yang menentukan dalam perang kemerdekaan Indochina. Setelah jatuhnya Dong Khe, That Khe kemudian diperkuat pada tanggal 17 September, dan pasukan Prancis tetap di sana sementara pasukan kolonial Prancis berkumpul di Lang Son. Meskipun kalah di Dong Khe, Carpentier tetap melanjutkan rencananya. Dia menyerang Thai Nguyen pada akhir bulan September dengan dua divisi infanteri, yang didukung oleh unit-unit lapis baja, artileri dan perlindungan udara. Pasukannya merebut kota itu pada pertengahan bulan Oktober dengan menghadapi perlawanan terbatas. Karena Thai Nguyen hanya memiliki sedikit nilai dan musuh tidak berusaha merebut kembali kota tersebut, Prancis hanya tinggal di sana selama 10 hari sebelum meninggalkannya. Persiapan menyeluruh Giap telah membuahkan hasil. Dengan pasukannya mengangkangi Rute 4 dan mempertahankan Dong Khe, dia jelas mendapatkan inisiatif. 

Ho Chi Minh mengarahkan pertempuran Dong Khe (16/9/1950) yang mengakibatkan kekalahan besar Perancis. Pertempuran ini adalah salah satu dari banyak pertempuran di rute 4. (Sumber: https://9gag.com/)

KESALAHAN STRATEGI CARPENTIER

Setelah jatuhnya Dong Khe, Carpentier mempunyai pilihan: pertama, adalah melakukan evakuasi lewat udara garnisun-garnisunnya yang terisolasi, kedua adalah menembus kepungan, tetapi Carpentier memutuskan untuk menghubungkan sepanjang RC 4 antara pasukan yang terkepung dari benteng-benteng di utara dan pasukan yang akan dia kirim untuk menemui mereka. Dari sini, Carpentier berharap mereka akan bisa berjuang untuk kembali ke kawasan Delta Sungai Merah yang dikuasai Prancis. Itu adalah rencana yang membutuhkan kecepatan tinggi dan kerahasiaan untuk bisa memiliki peluang sukses. Khawatir Cao Bang akan dikepung, Carpentier memerintahkan Charton untuk menghancurkan senjata-senjata artileri dan kendaraan-kendaraan bermotor beratnya, kemudian mulai mundur ke selatan pada malam tanggal 2 Oktober. Pemimpin Legiun diperintahkan untuk mengambil Rute 4, bukan Rute 3 yang lebih aman menuju ke Thai Nguyen. Hal ini terbukti merupakan kesalahan besar dan merugikan, mengingat Viet Minh memblokir Rute 4. Carpentier sesuai rencananya, kemudian mengumpulkan sebuah pasukan bantuan di Lang Son. Dalam operasi yang diberi nama Tiznit dan dipimpin oleh Letkol Marcel Le Page, pasukan ini terdiri dari tiga batalyon asal Afrika Utara—Tabor Maroko ke-1 dan ke-11 serta satu batalion dari Resimen Senapan Maroko ke-8. Pasukan Le Page, yang berkekuatan 3.500 orang, yang dikenal sebagai Satuan Tugas Bayard, diperintahkan ke utara menuju That Khe, dan tiba pada tanggal 19 September dan bergabung dengan salah satu unit yang paling terkenal dan tangguh dalam pertempuran di Indochina, Batalyon Parasut Legiun Asing ke-1. Para perwira batalion parasut segera menjadi khawatir dengan keragu-raguan dan kurangnya pengalaman Le Page. Sebuah “kesenjangan kepercayaan” muncul antara pasukan terjun payung Legiun dan pasukan bersenjata asal Afrika. Le Page jelas tidak cocok untuk misi tersebut. Sebagai seorang prajurit artileri, dia tidak terbiasa dengan peperangan di hutan. Dia juga mempunyai masalah kesehatan, tidak yakin dengan kemampuan orang-orang Afrika-nya, dan sepertinya tidak yakin pada dirinya sendiri.

Pasukan Prancis yang bersenjata lengkap maju ke sebuah desa melalui kabut pagi. (Photo by CORBIS/Corbis via Getty Images/https://www.historynet.com)
Pasukan Prancis asal Maroko di Indochina. (Sumber: https://saigoneer.com/)
Prajurit Batalyon Parasut Pertama Legiun Asing Prancis, di Vietnam, tahun 1950. (Sumber: https://en.topwar.ru)

SATUAN TUGAS BAYARD

Pada tanggal 30 September, Le Page menerima perintah yang mustahil dilakukan dalam kondisi saat itu: Satuan Tugas Bayard diperintahkan bergerak ke utara dan merebut kembali Dong Khe, yang berjarak 11 mil (17,7 km) pada tanggal 2 Oktober. Tanpa informasi intelijen mengenai situasi di Dong Khe, Le Page dengan segera menjadi ragu-ragu. Hujan deras membuat perlindungan udara tidak mungkin dilakukan dan mengubah Rute 4 menjadi rawa berlumpur sehingga tidak ada senjata artileri atau truk-truk yang menemani gugus tugas. Selain itu, Giap telah mengerahkan setidaknya 10 batalyon infanteri, yang didukung oleh resimen artileri penuh, di sekitar Dong Khe. Harapan Le Page agar perintah itu dicabut tidak terwujud. Ketika pasukan itu bergerak keluar, dia berkata kepada temannya, “Kami tidak akan pernah kembali.” Saat malam tiba tanggal 30 September, Le Page dan gugus tugas beranggotakan 3.500 orang menuju Dong Khe dengan Batalyon Parasut Legiun Asing ke-1 memimpin di depan. Pada jam 5 sore. Keesokan harinya, 1 Oktober, Le Page dan pasukannya, secara mengejutkan, berhasil melewati berbagai rintangan dan mencapai pinggiran timur kota, di mana sang kolonel akhirnya berhenti setelah terkena tembakan senapan mesin berat dan artileri dari reruntuhan benteng. Le Page dengan berani mencoba melakukan gerakan menjepit pada tanggal 2 Oktober, mengirimkan para Legiuner menyerang satu sisi musuh dan pasukan asal Maroko menyerang sisi lainnya. Kedua serangan tersebut gagal di tengah hutan lebat, serangan balik yang kuat, dan puncak batu kapur yang curam. Pasukan Le Page terpaksa harus melewati benteng itu. Le Page lalu diperintahkan meninggalkan Rute 4 dan bergerak ke barat keesokan harinya, tanggal 3 Oktober.

Tentara Perancis di Route Nationale 4 (RC 4). (Sumber: https://www.historynet.com)

EVAKUASI DARI CAO BANG

Dengan Batalyon Parasut Legiun Asing ke-1 di depan, Satuan Tugas Bayard bertempur ke barat lalu ke utara dari puncak bergerigi ke puncak bergerigi lainnya di sepanjang Jalur Quang Liet sebelum berhenti di Na Pa, hanya 3 mil (4,8 km) dari Dong Khe. Malam itu pasukan Le Page, yang meringkuk dalam “mangkuk” di sisi bukit, diserang gelombang demi gelombang serangan Viet Minh, namun mereka tetap bertahan. Diperintahkan untuk meninggalkan Cao Bang saat malam tiba tanggal 2 Oktober, Charton gagal menghancurkan senjata-senjata artileri dan alat transportasi bermotornya seperti yang diinstruksikan. Sebaliknya, ia memuat semua anak buahnya ke dalam truk-truk dan baru berangkat pada siang hari tanggal 3 Oktober. Dipimpin oleh Batalyon ke-3, Resimen Infantri Legiun Asing ke-3, pasukan Charton yang panjangnya bermil-mil terdiri dari 1.000 tentara Prancis, 600 Legiuner, 1.000 orang sebagian besar petempur suku Tai dan keluarga mereka, korban luka dan 500 pria, wanita dan anak-anak yang tinggal di Cao Bang. Kemajuannya diperlambat oleh penyergapan dan penghalang jalan yang biasa terjadi, sehingga Charton hanya melakukan perjalanan sejauh 9 mil (14,5 km) saat matahari terbit pada tanggal 4 Oktober, ketika rombongan berhenti di dekat Nam Nung di Rute 4. 

Seorang tentara Perancis yang kelelahan dan terluka meringis kesakitan saat ia diturunkan ke tandu setelah dievakuasi dari pasukan Komunis Viet Minh di bawah gencatan senjata yang disponsori Palang Merah. (Sumber: https://www.historynet.com)

VIET MINH MEMBURU

Sekitar tengah hari, Charton menerima berita meresahkan dalam dua pesan radio dari Lang Son: Pertama, konvoi Le Page, setelah meninggalkan Rute 4 sore sebelumnya, kini dikepung di hutan sebelah barat dan selatan Dong Khe dan diserang habis-habisan; kedua, pasukan Charton harus bergerak secepat mungkin untuk membantu Le Page. Dengan diblokirnya Rute 4 oleh Viet Minh, Charton menghancurkan truk-truk dan senjata artileri yang kini tidak berguna, meninggalkan para pengungsi dan bergerak ke arah barat dari Rute 4 hingga ke semak-semak dengan Batalyon ke-3, Resimen Infantri Legiun Asing ke-3, memimpin saat orang-orang tersebut melakukan peretasan melalui vegetasi yang hampir tidak bisa ditembus. Charton, setidaknya, memiliki peta wilayah tersebut dan berhasil menemukan Jalur Quang Liet yang mengarah ke selatan menuju Lembah Quang Liet, di mana ia berharap untuk bertemu di Bukit 477 dengan konvoi Le Page. Sementara itu, batalyon parasut Legiun Asing Le Page masih terjebak di atas bukit, dikelilingi tebing kapur tinggi yang menghadap ke lembah dan dusun kecil Coc Xa di sebelah barat. Satu-satunya jalan keluar mereka hanyalah melalui sebuah lorong sempit, Ngarai Coc Xa, di ujung lembah. Para prajurit yang berjalan kemudian mulai berjatuhan dan menghilang, orang-orang yang terluka seperti ditakdirkan untuk mati dan tidak akan pernah terlihat lagi. Setiap orang harus memanjat jalur yang berat dengan memanggul peralatan yang berat, sementara hujan lebat membuat dukungan udara tidak bisa dikerahkan. Pasukan Viet Minh sebenarnya juga kelelahan, setelah berhari-hari melakukan perburuan, akan tetapi mereka bisa mencium aroma kemenangan, mereka tahu bahwa orang-orang Prancis dalam situasi yang putus asa. Giap kemudian mengeluarkan pesan menguatkan pada tanggal 6 Oktober, katanya: “Musuh lebih lapar dan kedinginan dibanding kalian!”

Lokasi-lokasi pertempuran di RC 4, September-Oktober 1950. (Sumber: https://simple.wikipedia.org/)
Area RC4 kini. Tergambar jelas beratnya medan yang harus dilalui tentara Prancis pada tahun 1950. (Sumber: https://www.secretindochina.com/)

Dengan kemajuan yang sangat lambat karena medan yang keras dan kehadiran musuh yang besar, pasukan Charton dengan gigih bergerak ke selatan sepanjang jalan setapak yang samar selama dua hari, mendekati Lembah Quang Liet dan melakukan kontak radio dengan pasukan terjun payung Legiun Asing pada tanggal 6 Oktober. Perintah baru meminta konvoi Charton untuk mempertahankan Bukit 590 dan sisa lembah sementara pasukan terjun payung di barisan depan Satuan Tugas Bayard akan memaksa melewati ngarai dan bergerak kearah Coc Xa. Sementara itu, pasukan Le Page terus berjuang mati-matian melawan musuh yang sangat banyak di kawasan bervegetasi lebat dan puncak-puncak batu kapur di barat daya Dong Khe. Setelah beberapa unit Perancis disergap dan dihancurkan, mereka yang selamat diburu seperti binatang di hutan yang dipenuhi tentara Viet Minh yang berteriak dalam bahasa Perancis: “Serahkan dirimu, tentara Perancis. Kau tersesat!” Saat fajar menjelang pada tanggal 7 Oktober, sisa-sisa Satgas Bayard masih terjebak di bukit. Dikepung oleh dua batalyon musuh, Le Page meminta batalion parasut Legiuner untuk menerobos “hambatan” di Ngarai Coc Xa. Sebelum matahari terbit, mereka telah melakukannya namun hampir dimusnahkan dalam prosesnya. Hanya 130 prajurit dari 500 prajurit batalion yang selamat pada pagi harinya, melarikan diri dengan menuruni tebing setinggi 75 kaki (22,86 meter) dengan membawa rekan-rekan mereka yang terluka di punggung mereka. Konvoi Le Page lainnya juga bertempur keras dengan pihak musuh. Ketika tanggal 7 Oktober berakhir, hanya 530 prajurit dari 3.500 orang Satuan Tugas Bayard yang tersisa. Sisa-sisa pasukan Le Page yang kelelahan akhirnya bergabung dengan barisan depan pasukan Charton yang sudah habis, Batalyon ke-3, Resimen Infantri Legiun Asing ke-3, di sebelah timur Coc Xa, namun cobaan berat masih jauh dari selesai. 

PENGHANCURAN SATGAS BAYARD

Para penyintas dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, meninggalkan korban yang luka-luka bersama petugas medis sukarela, dan berusaha melewati hutan yang dipenuhi Viet Minh menuju That Khe, 10 mil (16 km) ke arah timur. Malam itu, kompi penyelamat yang terdiri dari 270 orang dari Batalyon Parasut Komando Kolonial ke-3 dan 130 orang dari Kompi Pengganti Batalyon Parasut Legiun Asing ke-1 diterbangkan ke That Khe. Viet Minh memilih pagi itu untuk melancarkan serangan terberat mereka terhadap pasukan Charton dan berhasil melukai serta menangkap Charton sendiri. Segalanya berubah dari buruk menjadi lebih buruk ketika kepanikan menyebar dari kelompok prajurit asal Afrika Utara yang dipimpin Le Page yang ketakutan—yang secara fisik hancur, mengigau dan hampir tidak terkendali—hingga kelompok Charton, yang kemudian jatuh ke dalam kekacauan. Hanya Legiuner yang bersatu sebagai unit tempur yang efektif, namun jumlah mereka segera menyusut. Ribuan tentara Viet Minh kemudian berdatangan dan pertarungan segera berakhir. Sekitar 300 orang berhasil mencapai That Khe pada tanggal 8 dan 9 Oktober, termasuk 29 orang yang selamat dari batalion Parasut Legiun Asing ke-1, batalion lintas udara Prancis pertama yang kalah dalam pertempuran. That Khe lalu ditinggalkan pada tanggal 9 Oktober karena tergesa-gesa. Garnisun, penduduk kota dan orang-orang yang selamat dari konvoi Le Page dan Charton mengalir ke Rute 4. Pasukan Batalyon Parasut Komando Kolonial ke-3/Batalyon Parasut Legiun Asing ke-1 yang jumlahnya semakin menipis, enggan untuk pergi sementara rekan-rekan mereka tersesat di hutan tidak jauh dari situ, bertindak sebagai penjaga belakang. 

Seorang tentara Perancis menjalani operasi di hutan pada bulan Oktober 1950 setelah Pertempuran Route Coloniale 4, rute RC4 yang digunakan untuk memasok pangkalan militer Perancis di Cao Bang dan Dong Khe. Pasukan Prancis harus mengevakuasi seluruh wilayah perbatasan dengan China ketika Viet Minh melancarkan serangan di timur laut Vietnam pada awal tahun 1950-an dan menguasai pos-pos penting Prancis di Tonkin. (Photo by AFP) (Photo by -/AFP via Getty Images/https://www.gettyimages.co.uk/)

KEMENANGAN TOTAL GIAP

Dalam suasana panik, komandan perbatasan di Lang Son memerintahkan penarikan umum di sepanjang Rute 4 dari That Khe, yang menambah kekacauan dan kerugian. Pasukan parasut Komando Kolonial ke-3/Legiun Asing ke-1, berkekuatan 400 orang ketika mengevakuasi That Khe pada 10 Oktober, menghadapi perlawanan sengit pasukan komunis di tengah jalan menuju Lang Son dan kehilangan separuh pasukannya. Sekali lagi, para penyintas terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil dan berusaha menerobos hutan menuju tempat aman, namun mereka terbunuh hampir semuanya, menjadikan Batalyon Parasut Komando Kolonial ke-3 sebagai batalion lintas udara kedua yang kalah dalam pertempuran. Pada tanggal 17-18 Oktober, Prancis meninggalkan Lang Son meskipun tidak ada ancaman militer langsung, sehingga perbekalan, peralatan dan senjata dalam jumlah besar yang ditinggalkan tetap utuh—makanan, pakaian, pasokan medis, senjata, amunisi, dan perlengkapan yang cukup untuk memasok sebuah divisi Viet Minh setidaknya selama satu tahun. Para petempur Tai (Koalisi 12 suku membentuk Federasi Tai, yang bersahabat dengan Prancis dan telah diberi status semi-otonom dalam Uni Prancis pada tahun 1948 dan ibu kotanya di Lai Chau, tepat di sebelah barat Sungai Merah di perbatasan China-Vietnam) yang menguasai empat benteng kecil satelit di sekitar Lao Cai berjuang menuju Lao Cai. Kemudian seluruh pasukan dievakuasi dan Lao Cai ditinggalkan, menjadikan kemenangan Giap lengkap.

Senjata dan amunisi, yang ditinggalkan oleh pasukan Viet Minh ketika mereka mundur dengan tergesa-gesa dari markas mereka di Phu Doan, Indochina, ditumpuk untuk diselamatkan atau dimusnahkan, 9 November 1952. Pada tanggal 17-18 Oktober 1950, Prancis meninggalkan Lang Son meskipun tidak ada ancaman militer langsung, sehingga perbekalan, peralatan dan senjata dalam jumlah besar yang ditinggalkan tetap utuh—makanan, pakaian, pasokan medis, senjata, amunisi, dan perlengkapan yang cukup untuk memasok sebuah divisi Viet Minh setidaknya selama satu tahun. (AP Photo/https://www.flickr.com/)

KEKALAHAN TERBESAR KOLONIAL PRANCIS DALAM 200 TAHUN

Namun, kemenangan Giap harus dibayar mahal. Dari 30.000 orang yang dikerahkan, sebanyak 9.000 tentara Viet Minh tewas. Banyak di antara mereka yang terluka dan meninggal sebelum mereka dapat dibawa ke garis belakang, karena layanan medis tentara Giap yang tidak memadai tidak mampu menangani korban jiwa yang besar. Namun demikian, kemajuan Giap yang belum pernah terjadi sebelumnya membuat Prancis berada dalam kekacauan. Delta Sungai Merah dikhawatirkan akan diserang, dan seruan untuk mengevakuasi kaum kolonis dari Tonkin terdengar. Giap kini menguasai seluruh perbatasan timur laut dengan China, sehingga memungkinkan aliran pasokan dari China yang komunis tidak terhentikan. Untungnya bagi Perancis, krisis ini kemudian berlalu. Mereka segera menyambut panglima tertinggi baru yang kompeten dan legendaris, Jenderal Jean de Lattre de Tassigny, yang benar-benar membalikkan nasib Prancis dalam waktu satu tahun, mengembalikan kepercayaan diri dan kebanggaan pada pasukan tempurnya. Meski begitu, rasa kekalahan masih tetap ada. “Ketika asap sudah hilang,” tulis sejarawan Prancis Bernard Fall, “Prancis menderita kekalahan kolonial terbesar sejak Montcalm tewas di Quebec pada tahun 1749. Mereka kehilangan 6.000 tentara (4.800 tewas), 13 senjata artileri, 125 mortir, 450 truk, tiga peleton lapis baja, 940 senapan mesin, 1.200 pistol mitraliur dan lebih dari 8.000 senapan. Selain itu Viet Minh juga menawan 3.000 orang dari pihak Prancis, dimana cuma 1.000 yang akan kembali selepas perang. Hanya 700 dari tentara dan warga sipil Prancis yang ambil bagian dalam operasi tersebut yang berhasil kembali garis pertahanan Prancis. Perbekalan mereka yang terbengkalai saja sudah cukup untuk melengkapi sebuah divisi tambahan Viet-Minh.” Perbekalan yang ditinggalkan, termasuk 11.000 ton amunisi dan ratusan liter bensin, memungkinkan pasukan Viet Minh untuk terus bergerak maju menuju Hanoi, di mana mereka dihentikan oleh kekuatan udara Prancis yang sangat besar. Giap kemudian merayakan kemenangan Viet Minh ini dengan mabuk bersama para penasehat China-nya, dimana ia mengklaim bahwa itu pengalamannya yang pertama dalam hidupnya. Sementara itu, tanpa cukup banyak orang atau kemauan politik yang diperlukan untuk menyukseskan Perang Indochina Pertama (1946-54), upaya Prancis untuk mempertahankan koloni-koloni di Indochina akhirnya berakhir dengan menyedihkan pada pertengahan tahun 1954, di reruntuhan berlumpur sebuah benteng kecil di sebuah lembah bernama Dien Bien Phu.

Tentara Prancis membawa seorang pria yang terluka ke rumah sakit. “Ketika asap sudah hilang (di RC4),” tulis sejarawan Prancis Bernard Fall, “Prancis menderita kekalahan kolonial terbesar sejak Montcalm tewas di Quebec pada tahun 1749. Mereka kehilangan 6.000 tentara (4.800 tewas), 13 senjata artileri, 125 mortir, 450 truk, tiga peleton lapis baja, 940 senapan mesin, 1.200 pistol mitraliur dan lebih dari 8.000 senapan. (Sumber: https://en.topwar.ru/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

THE DISASTERS BEFORE DIEN BIEN PHU: IN 1950, THE VIETNAMESE ROUTED THE FRENCH IN CHINESE BORDER BATTLES By JOHN WALKER; 2/26/2022

DISASTER ON HIGHWAY 4 BY DIGBY GREENHALGH

The battle of the Route Coloniale 4

https://www.secretindochina.com/indochina-unvaulted/memories-of-war/the-battle-of-the-route-coloniale-4

ROUTE COLONIALE 4 (RC4)

https://offroadvietnam.com/planning/destination-maps/highway-4

Route Coloniale 4 / RC4

https://www.globalsecurity.org/military/world/europe/fr-forts-rc4.htm

Fall of Dong Khe to China Recalls a French Defeat By Fox Butterfield; Special to The New York Times; March 4, 1979

Vietnam Vignette: French Defeats Along RC 4 – Indochina, Fall 1950

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Route_Coloniale_4

Vietnam: An Epic Tragedy, 1945-1975 by Max Hastings, 2018; p 25-27

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *