Alutsista

Breguet Atlantic, Pesawat Patroli Anti Kapal Selam asal Prancis

Breguet Br.1150 Atlantic adalah pesawat patroli maritim jarak jauh yang dirancang dan diproduksi oleh pabrikan pesawat Perancis Breguet Aviation. Dirancang sebagai tanggapan terhadap spesifikasi NATO di tahun 1958 sebagai pengganti pesawat Lockheed P2V Neptune, pengajuan Breguet dinyatakan sebagai pemenang dari beberapa tawaran yang ikut bersaing. Untuk memproduksi Atlantic, sebuah konsorsium multinasional, Société d’Étude et de Construction de Breguet Atlantic (SECBAT), didirikan. Pada tahun 1963, pesanan awal untuk 60 pesawat Atlantic – 40 untuk Perancis dan 20 untuk Jerman – telah diterima. Pesanan lanjutan dari negara-negara lain segera menyusul setelahnya. Atlantic pertama kali diperkenalkan ke dinas operasional pada tahun 1965, dan setelahnya dioperasikan oleh sejumlah negara, yang umumnya menjalankan peran maritim seperti misi pengintaian dan perang anti-kapal selam. Atlantic juga mampu membawa amunisi udara ke darat untuk melakukan misi serangan darat; sejumlah kecil pesawat juga dilengkapi untuk melakukan operasi ELINT. Versi yang diperbarui, Atlantique 2 atau ATL2, diproduksi oleh Dassault Aviation untuk Angkatan Laut Prancis pada tahun 1980an. Model yang lebih ditingkatkan, Atlantique 3, sempat diusulkan pada tahun 1990-an tetapi akhirnya tidak dibuat. Operator Atlantic lainnya termasuk Angkatan Laut Jerman, Angkatan Udara Italia, Angkatan Laut Pakistan, dan Angkatan Laut Kerajaan Belanda.

Pesawat patroli maritim jarak jauh Breguet Br.1150 Atlantic digunakan oleh Angkatan Laut Jerman, Angkatan Udara Italia, Angkatan Laut Pakistan, dan Angkatan Laut Kerajaan Belanda. (Sumber: https://www.airvectors.net/)

SEJARAH PENGEMBANGAN

Pada tanggal 14 Desember 1956, anggota Dewan NATO menyimpulkan bahwa diperlukan pesawat pengintai anti-kapal selam dengan jangkauan operasi yang luas. Pada tahun 1958, NATO mengeluarkan spesifikasi pesawat patroli maritim jarak jauh untuk menggantikan Lockheed P2V Neptune desain era 1940-an, dengan desain Breguet, Br 1150, terpilih sebagai pemenang kompetisi (mengalahkan sekitar 24 desain yang diajukan dari sembilan kontraktor) pada tanggal 30 Januari 1959. Ke-15 negara anggota NATO menyetujui desain pesawat patroli maritim ini yang akan diproduksi oleh konsorsium multinasional. Desain Breguet ini adalah satu-satunya pesawat patroli maritim di dunia yang dirancang khusus untuk misinya dan bukan merupakan varian modifikasi dari pesawat komersial sipil. Pesawat ini juga merupakan proyek kerja sama tingkat Eropa pertama untuk jenisnya, dan mendapat keuntungan informasi dari berbagai angkatan laut mengenai konsep pertempuran bawah air. Kontrak pembangunan bersama dibuat pada bulan Februari 1959, yang mengatur pengerjaan Breguet Br.1150 Atlantic yang akan dibiayai oleh Belgia, Prancis, Jerman, Belanda dan Amerika Serikat, meskipun hanya Prancis dan Jerman pada saat itu yang menunjukkan minat dalam memperoleh tipe pesawat patroli maritim baru dalam jumlah operasional. Sementara itu kepentingan Belgia dan Belanda dipertahankan sebagai cara untuk memperoleh bagian dalam program produksi bagi perusahaan-perusahaan dalam negeri. Angkatan Laut Kerajaan Belanda telah menunjukkan minat mendapatkan lima belas pesawat Breguet Br.1150 Atlantic pada awal proses pengembangannya. Di sisi lain, pendanaan AS merupakan bagian dari dukungan umum negara tersebut terhadap NATO. Sebuah konsorsium multinasional, yaknj Société d’Étude et de Construction de Breguet Atlantic (SECBAT) kemudian didirikan untuk mengembangkan dan membangun Atlantic pada tanggal 2 Oktober 1961. Pekerjaan manufaktur dibagi antara empat negara peserta: 

  • Breguet dan Sud-Aviation di Perancis;
  • Fokker di Belanda;
  • Dornier dan Siebel di Jerman Barat;
  • SABCA, Fairey et Fabrique Nationale (FN) Herstal di Belgia.
Lockheed P2V Neptune. Pada tahun 1958, NATO mengeluarkan spesifikasi pesawat patroli maritim jarak jauh untuk menggantikan Lockheed P2V Neptune desain era 1940-an, dengan desain Breguet, Br 1150, terpilih sebagai pemenang kompetisi. (Sumber: https://mtgoodsmk.xyz/)

Mesin turboprop Tyne dipasok oleh perusahaan mitra Rolls-Royce, Snecma Hispano, FN dan MTU, sedangkan perangkat elektroniknya berasal dari Amerika Serikat. Jalur perakitan dan persiapan penerbangan pesawat berlokasi di Toulouse (Haute-Garonne, Prancis) di Breguet. Namun, dengan berjalannya waktu, pada akhirnya Angkatan Laut AS malah mengadopsi Orion dan Inggris serta Belgia juga menarik diri dari program tersebut.  Empat prototipe Atlantic kemudian dibuat. Prototipe pertama Atlantic melakukan penerbangan perdananya di Toulouse pada tanggal 21 Oktober 1961, dipiloti oleh Bernard Witt dibantu oleh Romeo Zinzoni dan René Périneau. Prototipe kedua terbang pada tanggal 25 Februari 1962, diikuti oleh dua pesawat praproduksi dengan badan pesawat yang lebih panjang pada bulan Februari 1963 dan September 1964. Pesanan awal untuk 60 Atlantic – 40 untuk Perancis dan 20 untuk Jerman – didapat pada tanggal 6 Juni 1963, dengan pengiriman dimulai pada tahun 1965 dan berlanjut hingga tahun 1968. Jalur produksi sebenarnya telah ditutup pada saat Belanda memesan sembilan Atlantic. Pembelian sembilan unit tersebut dikaitkan dengan pembentukan skuadron baru untuk membantu mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh penonaktifan kapal induk Karel Doorman. Karena kebutuhan mendesak, empat Breguet Br.1150 Atlantic dialihkan dari jalur produksi (sisanya berasal dari seri kedua, yang diluncurkan pada bulan Januari 1972) untuk digunakan awal oleh Angkatan Laut Kerajaan Belanda sambil menunggu pengiriman dari jalur produksi yang dibuka kembali. Sementara itu, pada tanggal 25 Oktober 1968, Italia memutuskan untuk membeli pesawat ini. Dua perusahaan Italia, Aeritalia dan Alfa-Romeo, bergabung dengan konsorsium dan produksi pesawat dilanjutkan untuk memproduksi 18 unit, ditambah 4 unit untuk menggantikan unit yang telah dijual Prancis ke Belanda. Pesawat-pesawat dari batch produksi kedua ini dikirim dari tahun 1972 hingga 1974. Pada tahun 1976, Angkatan Laut Perancis menjual tiga pesawatnya ke Pakistan. Secara kebetulan, Breguet kemudian bergabung dengan Dassault pada tahun 1971, sehingga menghasilkan perusahaan yang dikenal sebagai “Dassault-Breguet“, dan Atlantic 1 terkadang disebut sebagai produk Dassault.

Upacara peresmian pada tanggal 3 November 1961 di Fasilitas Breguet. (Sumber: https://fr.m.wikipedia.org/)
Kecelakaan prototipe kedua pada tanggal 19 April 1962, menewaskan ketiga penumpangnya. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Pemakaman tiga awak pesawatl Breguet Atlantic, 21 April 1962. (Sumber: https://fr.m.wikipedia.org/)

Pada pertengahan tahun 70an, untuk menghadapi meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh pengembangan kapal selam dan kapal permukaan, Angkatan Laut Perancis memutuskan untuk menggunakan pesawat Atlantic generasi baru. Varian baru dari keluarga Atlantique ini awalnya ditujukan untuk pasaran internasional, dan khususnya Eropa, untuk akuisisi atau penggantian armada udara pesawat patroli maritim angkatan laut negara-negars di kawasan tersebut. Pada tahun 1978, Pemerintah Perancis mengizinkan pengembangan versi Atlantic yang baru dan diperbarui, Atlantic Nouvelle Génération/ANG (yang kemudian dikenal sebagai Atlantique 2 ketika pesanan dari negara lain tidak diterima). Meskipun badan pesawat dan mesin pesawat baru tidak banyak berubah, peralatan dan avioniknya banyak direvisi; ini termasuk pemakaian radar baru, prosesor sonar baru, komputer taktis pengganti, dan turret kamera forward-looking infrared yang dipasang di bawah hidung. Kemampuan untuk membawa rudal anti kapal Exocet juga ditambahkan. Dua prototipe Atlantique 2 diproduksi dengan mengubah dua Atlantic yang ada dari batch produksi pertama (nomor 42 dan 69). Mereka dimodifikasi untuk membawa bagian-bagian berbeda dari sistem persenjataan baru dan dilengkapi dengan perbaikan yang direncanakan untuk pesawat standar produksi. Pesawat pertama melakukan penerbangan perdananya pada tanggal 8 Mei 1981, di Toulouse-Blagnac, dengan dipiloti oleh Jacques Jesberger, flight engineer Jean-Pierre Bussenot dan  Pierre Harquin. Pada bulan Juni 1982 Kementerian Pertahanan mengumumkan peluncuran produksi resmi ATL 2. Terlambat dua tahun dari jadwal yang telah ditetapkan karena alasan anggaran, produksi Atlantique 2 disahkan pada tanggal 24 Mei 1984, dengan 28 unit akhirnya dibuat, dari kebutuhan awal sebanyak 42 unit. Hal ini menyebabkan permulaan yang sangat lambat dan tingkat produksi tahunan yang rendah, yakni: satu pesawat setiap dua bulan. Pengiriman pesawat terakhir dilakukan pada tahun 1998.

Pada pertengahan tahun 70an, untuk menghadapi meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh pengembangan kapal selam dan kapal permukaan, Angkatan Laut Perancis memutuskan untuk menggunakan pesawat Atlantic generasi baru. (Sumber: https://www.airvectors.net/)

Badan pesawat ATL 2 diproduksi oleh Konsorsium Eropa SECBAT, sementara mesin turboprop Tyne dibuat bekerja sama dengan Inggris (Rolls-Royce), Prancis (Snecma) dan Belgia (FN). Pesawat model produksi pertama dikirim ke Angkatan Laut Perancis pada bulan Oktober 1989. Pada tahun 2012, Atlantique 2 telah berganti nama menjadi ATL2, dan Perancis memiliki total 22 unit yang beroperasi. Pada tahun 2012, 18 pesawat AtlantiquePerancis menjalani serangkaian peningkatan untuk meningkatkan efektivitas pesawat tipe ini dalam dua tahap, Tahap I untuk mengatasi masalah keusangan dan Tahap II menambahkan kemampuan baru. Juga pada tahun 2012, sebuah proyek terpisah dilakukan untuk mengintegrasikan torpedo MU90 Impact. Pesawat yang menerima peningkatan ini juga akan memiliki umur pemakaian yang lebih lama, sehingga memungkinkan pengoperasian Atlantique diperpanjang hingga sekitar tahun 2032. Atlantique 3 yang ditingkatkan lebih lanjut diusulkan untuk kompetisi Penggantian Pesawat Patroli Maritim (RMPA) Angkatan Udara Kerajaan Inggris, namun rencana ini ditarik pada tahun 1996 menyusul dugaan petunjuk dari pejabat Kementerian Pertahanan bahwa pengajuan tersebut tidak mungkin berhasil; kompetisi kemudian memilih BAE Systems Nimrod MRA4 sebagai gantinya. Atlantique 3 rencananya akan menampilkan berbagai peningkatan avionik, termasuk penggunaan glass cockpit untuk dua orang. Penggunaan mesin turboprop Allison AE2100H yang ditingkatkan untuk menggerakkan baling-baling komposit enam bilah buatan Dowty yang baru dan dilaporkan akan meningkatkan tenaga hampir 10% dan mengurangi konsumsi bahan bakar sebesar 15%. Pada akhir tahun 1996, Dassault (yang bergabung dengan Breguet pada tahun 1970an, sehingga memperoleh desain Atlantic) bermaksud untuk menawarkan Atlantique 3 ke Jerman, Italia, dan Perancis. Pada tahun 2005, Dassault telah meninggalkan upaya pemasaran Atlantique 3, dan memilih untuk mempromosikan varian jet komersial Dassault Falcon 900 sebagai pesawat patroli maritim.

DESAIN

Breguet Br.1150 Atlantic (Atlantic 1“, atau disingkat “ATL1”) adalah pesawat mid-winged monoplane bermesin turboprop ganda dengan badan pesawat berbentuk “gelembung ganda (seperti dua tabung yang dikawinkan atas dan bawah, dengan tabung atas berdiameter lebih besar)”, yang banyak menampilkan penggunaan konstruksi sandwich “sarang lebah”. Lobus atas terdiri dari kompartemen kru bertekanan, dan lobus bawah menampung tempat senjata sepanjang 9 m (27 kaki 6 inci), dengan tabung dispenser sonobuoy di belakang tempat senjata. Hal ini mendorong desain dek penerbangan yang dipasang tinggi dan bentuk hidung yang pendek. Jendela-jendela tersebar di sisi badan pesawat untuk observasi dari dalam pesawat, sementara jendela dek penerbangan semuanya dibingkai pada tempatnya, yang menawarkan pemandangan yang bagus ke depan dan ke samping pesawat. Pintu ruang senjata ditarik ke sisi badan pesawat untuk mengurangi hambatan dan mencegah menghalangi radar. Tabung dispenser dapat menjatuhkan sonobuoy AN/SSQ-47 (jangkauan 3,7 km) atau DSTV 4L LOFAR (jangkauan 7,4 km), suar, pelampung penanda, bom asap, dan peralatan pendeteksi kapal selam. Pemindai radar ditempatkan di radome bagian bawah badan pesawat yang dapat ditarik, sementara detektor anomali magnetik ditempatkan di tail boom. Pesawat ini didukung oleh sepasang mesin turboprop Rolls-Royce Tyne RTy.20 Mark 21, dengan masing-masing berdaya 4.555 eKW (6.105 eHP), yang menggerakkan baling-baling H8D empat bilah. Mesin ini dibuat di bawah lisensi oleh SNECMA dari Perancis. Pada pesawat Atlantic terdapat dua tangki bahan bakar integral di setiap sayap, dengan total kapasitas bahan bakar 21.000 liter (5.548 galon AS). Tampaknya tangki di ujung sayap pada prinsipnya dapat dipasang, tetapi sulit untuk menemukan gambar ATL1 yang membawanya. Terdapat turbin unit daya tambahan (APU) AiResearch di kanan depan badan pesawat, di depan ruang senjata, ditandai dengan knalpot yang menonjol. APU ini digunakan untuk menghidupkan mesin dan tenaga di daratan.

Gambar tiga sisi Breguet Br.1150 Atlantic. (Sumber: https://www.the-blueprints.com/)
Breguet Atlantic milik Angkatan Laut Perancis. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Sayap Atlantic rata di bagian dalam mesin, dengan bagian luar mesin membentuk sudut dihedral. Setiap sayap memiliki aileron outboard, dengan flap tiga bagian pada tiga perempat trailing edge — satu bagian di dalam mesin, dua bagian diluar. Ada tiga spoiler di depan outboard flap. Beberapa sumber juga menyebutkan adanya rem udara atas dan bawah pada masing-masing sayap, namun sulit untuk menemukannya secara spesifik. Rakitan ekornya berkonfigurasi konvensional, dengan elevator dan kemudi, bidang ekornya memiliki sudut dihedral yang menonjol. Tidak ada trim tabs, yang diimbangi dengan flight surfaces. Semua permukaan kontrol penerbangan digerakkan secara hidrolik. Ada de-icing boots penghilang lapisan es di tepi depan semua permukaan penerbangan. Baling-baling dan saluran masuk mesin dihilangkan esnya secara elektrik; mungkin begitu pula pada kaca depannya, tetapi sulit untuk dipastikan kebenarannya. Atlantic memiliki konfigurasi roda tricycle. Roda hidung ditarik ke belakang, sedangkan roda utama ditarik ke depan menuju nacelles mesin. Semua roda memiliki roda ganda dan digerakkan secara hidrolik. Awak Atlantic berjumlah 13 orang, termasuk 1 komandan, 1 pilot, 1 kopilot, dan 1 navigator; seorang koordinator taktis untuk menjalankan operasional pesawat; ditambah dua pengamat, 1 operator pendeteksi anomali magnetik, 1 operator radar, 2 operator sonobuoy dan 2 flight engineers. Kapasitas angkutnya sendiri bisa mencapai 25 orang. Akses ke kompartemen kru melalui bukaan di bawah ekor yang memiliki pintu “tangga udara”. Terdapat pintu keluar darurat di setiap sayap, serta di atas dan di bawah dek penerbangan. Hidungnya dilapisi kaca untuk pengamat, sementara terdapat gelembung kaca pengamat di setiap sisi badan belakang atas. ATL 1 bertekanan dan bisa dikondisikan berdasarkan iklim yang ada. Pesawat itu memiliki toilet, dapur, dan tempat istirahat; dan bisa membawa awak kedua untuk patroli jangka panjang.

Kokpit Atlantic. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Ruang Konsol untuk operator Atlantique. (Sumber: https://fr.m.wikipedia.org/)
Pintu keluar belakang dan area belakang tidak bertekanan. (Sumber: https://fr.m.wikipedia.org/)

Dengan struktur yang seluruhnya aluminium digunakan di seluruh badan pesawat Atlantic; korosi diduga menjadi masalah besar karena faktor lingkungan yang disebabkan oleh lingkungan maritim. Atlantic dirancang sesuai tujuannya, bukannya memperbaiki atau memodifikasi desain yang sudah ada. Meskipun misi utama Atlantic adalah perang anti-kapal selam dan anti-permukaan, peran sekundernya mencakup pencarian dan penyelamatan, peletakan dan deteksi ranjau, serta pengawasan maritim jarak jauh. Sistem avionik pada pesawat Atlantic bersifat umum, termasuk radio militer, sistem identifikasi teman atau musuh (IFF), autopilot, dan alat bantu navigasi/pendaratan. Radar pencari DRAA-2B (Jangkauan Min: 0,2 km, Jangkauan Maks: 370,4 km) ditempatkan di radome yang dapat ditarik di bawah badan pesawat bagian depan, sementara sistem detektor anomali magnetik (MAD) DHAX 1 berjangkauan 1,9 km ditempatkan di boom ekor, dan sebuah sistem electronic support measures (ESM) — untuk menemukan dan mengkarakterisasi pemancar radio — ditempatkan dibawa dalam fairing di atas sirip ekor. Atlantic dapat membawa delapan torpedo ASW berpemandu seperti Torpedo Mk 46, atau 12 bom dalam, dua rudal anti-kapal AM.39 Exocet (ATL2) di tempat bom internalnya atau delapan paket penyelamat yang bisa diterjunkan dengan parasut. Sementara itu, Atlantic Jerman biasanya hanya membawa torpedo Mk 46 dan terbang tanpa senjata selama tahun-tahun terakhir pelayanannya. Di sisi lain Atlantic Italia secara berkala dipersenjatai dengan bom nuklir yang disediakan NATO. Terdapat sumber yang menyebutkan bahwa ATL1 dapat membawa roket HVAR di bawah sayapnya, namun HVAR sudah ketinggalan zaman pada saat ATL 1 mulai digunakan, dan hanya ada sedikit tanda-tanda bahwa roket itu pernah dipasang. Pesawat ini juga dapat dilengkapi dengan dua pylon penyimpanan di bawah masing-masing sayap luar untuk membawa torpedo, bom dalam, dan amunisi lainnya – termasuk, tampaknya, rudal AS-12 yang dipandu dengan kabel – namun foto-foto menunjukkan bahwa pylon-pylon tersebut jarang dipasang, meskipun demikian tampaknya pylon luar terkadang dipasang untuk membawa pod lampu sorot. 

Bentuk badan pesawat berbentuk “gelembung ganda (seperti dua tabung yang dikawinkan atas dan bawah, dengan tabung atas berdiameter lebih besar)” dari Breguet Br.1150 Atlantic terlihat jelas dalam gambar ini. Navigator duduk di dek bawah. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Hidung kaca pengamat depan Atlantic 2. (Sumber: https://fr.m.wikipedia.org/)
Ruang senjata internal Atlantic; dua torpedo nampak pada gambar. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Misi utama Atlantic 1 adalah patroli anti-kapal selam dan peperangan anti-permukaan, dengan peran sekunder termasuk pencarian dan penyelamatan, peletakan dan deteksi ranjau, dan pengawasan maritim jarak jauh. Lima dari ATL1 Jerman diketahui dikonfigurasikan untuk misi intelijen sinyal (SIGINT), terutama diterbangkan di atas Laut Baltik. Mereka mempertahankan boom MAD, tailfin football, dan radar pencarian — tetapi mereka memperoleh kubah antena di bawah tempat bom dan pod ujung sayap, dengan dispenser sonobuoy di atasnya. Mereka terutama melakukan penerbangan pengawasan di sepanjang perbatasan dengan Blok Timur, dan di Balkan selama perang tahun 1990an. Tampaknya Perancis juga menggunakan Atlantic 1 untuk misi SIGINT, namun tampaknya tidak dengan banyak perubahan. Mereka digunakan dalam intervensi militer Perancis di Afrika. Semua ATL1 Prancis telah dihentikan penggunaannya pada tahun 1996, digantikan oleh Atlantic 2. Untuk menekan biaya, ATL2 menampilkan perubahan badan pesawat sesedikit mungkin, dengan perbaikan termasuk penguatan struktural dan perlindungan terhadap korosi, dengan fokus untuk meningkatkan umur badan pesawat. Pesawat varian baru ini bahkan mempertahankan mesin turboprop kembar Rolls-Royce Tyne RTy.20 Mark 21, meskipun dengan penyangga komposit baru. Salah satu perubahan internal yang signifikan adalah pengurangan jumlah tangki integral di setiap sayap dari tiga menjadi dua, dengan peningkatan kapasitas bahan bakar sebesar 10%. Sistem avionik ATL2 dibangun di sekitar komputer taktis terpusat, yang terhubung ke beberapa sistem tampilan taktis dengan kekuatan pemrosesannya sendiri. Radar pencarian telah diperbarui ke tipe Thomson-CSF “Iguane” (Jangkauan minimum: 0,4 km, Jangkauan maksimum: 370,4 km) dan terdapat sebuah forward-looking infrared/FLIR (Jangkauan maksimum: 55,6 km) di turret di bawah hidung, yang memberikan fitur pengenalan yang khas. Receiver sonobuoy, MAD DHAX 3 (Jangkauan maksimum: 1,9 km), dan sistem ESM semuanya dimodernisasi; football fairingyang menonjol di sirip ekor untuk ESM diganti dengan sebuah tonjolan kecil, sedangkan antena ESM dipasang di ujung sayap. Seiring dengan sistem komunikasi yang diperbarui, ATL2 memiliki sistem datalink Link 11, dan Sistem Pemosisian Global/sistem navigasi inersia (GPS-INS). Senjata yang bisa dibawa pada dasarnya sama dengan ATL1, satu-satunya perbedaan besar adalah penambahan rudal antikapal Exocet. Kapasitas angkut pylon juga ditingkatkan — tetapi sekali lagi, sulit untuk melihat pylon di bawah sayap dipasang, kecuali mungkin untuk membawa lampu sorot. Dalam layanan Perancis, 18 Atlantique ATL2 yang dimodernisasi dilengkapi dengan berbagai perangkat avionik dan sensor onboardbaru. Sistem tersebut mencakup Searchmaster yang berasal dari radar Active electronically scanned array RBE2-AA yang dikembangkan untuk Dassault Rafale, sistem pemrosesan akustik digital baru, sistem identifikasi teman atau musuh buatan Thales, dan perangkat lunak misi tempur LOTI (Logiciel Opérationnel de Traitement de l’Information) yang dikembangkan DCNS.

VARIAN

Br.1150 Atlantic

Operator pertama tipe ini adalah angkatan laut Perancis dan Jerman yang masing-masing membeli 40 dan 20 Atlantic melalui pesanan batch awal dari Breguet pada tahun 1963. Pesawat-pesawat ini dikirim ke pengguna mulai tahun 1965 dan berakhir pada tahun 1968. Pesanan tambahan yang melibatkan pasokan pesawat tersebut ke Belanda dan Italia tidak lama kemudian diterima, dan pesanan-pesanan ini dikirim pada tahun 1974. Produksi tipe ini dilakukan oleh konsorsium Eropa di bawah nama “Societe d’Etude et de Construction de Breguet Atlantic” (atau dikenal sebagai “SECBAT”) yang dipimpin oleh Breguet sendiri. Selain negara-negara Eropa tersebut, Pakistan juga menerima tiga pesawat Atlanticbekas milik Angkatan Laut Perancis pada tahun 1970an. Sebagai pesawat maritim anti-kapal dan anti-kapal selam, Atlantic dapat dilengkapi dengan torpedo (hingga 8 x seri Mk 46/7 x Murene), bom dalam, ranjau laut, dan bom konvensional sesuai kebutuhan – ini ditempatkan di tempat bom internal yang tidak bertekanan. Selain itu, pesawat tersebut diizinkan untuk menjatuhkan peralatan misi khusus untuk kapal karam.

Br.1150 Atlantic terbang bersama pesawat anti kapal selam berpangkalan kapal induk, Breguet Alize. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)

Atlantique 2

Atlantique 2 adalah keturunan langsung dari Bréguet Atlantic, dengan rincian sebagai berikut:

  • Tenaga untuk Atlantique 2 disuplai melalui 2 x mesin turboprop seri Rolls-Royce Tyne RTy.20 Mk 21 (poros kembar) yang masing-masing menghasilkan 6.100 tenaga kuda.
  • kecepatan maksimum 400 mil (643,7 km) per jam, kecepatan jelajah 200 mil (321,8 km) per jam.
  • jangkauan feri 5.635 mil (9.068,6 km).
  • waktu ketahanan misi hingga 18 jam.
  • beroperasi di ketinggian dari 100 kaki (30,48 meter) hingga 30.000 kaki (9.144 meter) melalui penggunaan kabin bertekanan dan dek penerbangan
  • Kecepatan menanjak pada 2.900 kaki (883,9 meter) per menit.
  • 2x rudal AM-39 Exocet (atau 2 x AS 37 Martel) ditambahkan ke persenjataan.
  • 6x MU90 Impact torpedo sejak bulan Juli 2014.

ATL2 telah beroperasi selama dua puluh tahun atau lebih, dan telah mengalami beberapa kali retrofit. Sebuah operasi renovasi sedang berlangsung (2019–25); dimana 18 dari 22 ATL2 Standar 5 yang dioperasikan oleh Angkatan Laut Perancis ditingkatkan ke versi baru yang disebut ‘Standar 6’. Peningkatan ini bersifat komprehensif dan memungkinkan pesawat tersebut beroperasi hingga tahun 2035. Peningkatan ini mencakup pengembangan sistem tempur baru yang disebut ‘Logiciel de traitement de l’information Operationelle nouvelle génération‘ (LOTI-NG). Sistem ini digunakan untuk membuat gambaran taktis berdasarkan data yang dikumpulkan oleh berbagai sensor pesawat. Stasiun operator digital baru telah menggantikan peralatan analog sebelumnya. Peningkatan besar lainnya adalah peningkatan subsistem penanganan akustik yang disebut ‘Sous-système de traitement acoustique numérique‘ (STAN). Sistem ini mampu mengoperasikan lebih banyak sonobuoydibandingkan pendahulunya dan memindai rentang frekuensi yang lebih luas. Sistem ini juga dapat mengoperasikan sonobuoy asal AS terbaru termasuk dalam mode multistatis. Turret elektro-optik (EO) Wescam MX-20 juga telah terintegrasi (sama dengan yang digunakan pada pesawat maritim Boeing P-8A Poseidon). Sistem ini telah dipasang pada beberapa ATL2. ATL2 sering digunakan di Afrika karena berfungsi sebagai cadangan dari pasukan darat.

Atlantique 2. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)
Atlantique 2 dalam penerbangan. (Sumber: https://www.dassault-aviation.com/)
Ruang kontrol Atlantique 2. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Elemen utama terakhir dari peningkatan Standar 6 adalah:

  • Radar baru Radar Thales Searchmaster Active Electronically Scaned Array (AESA). Menurut Thales, radar pengawasan multiperan ini menawarkan tingkat kinerja operasional tertinggi untuk mendeteksi target maritim yang diam dan bergerak, termasuk di kondisi laut lepas, pada jarak hingga 200 mil laut (370,4 km) (udara-ke-laut). Radar ini juga memiliki kemampuan untuk mendukung operasi pengawasan darat. Angkatan Laut Perancis juga akan menerima alat dan simulator persiapan misi baru.
  • Subsistem akustik baru dari Thales untuk mengumpulkan dan memproses sinyal dari sonobuoygenerasi terbaru yang dijatuhkan dari udara untuk mendeteksi kapal selam.
  • Konsol navigasi baru yang dirancang oleh Dassault Aviation.
  • Konsol baru untuk subsistem tampilan taktis yang dikembangkan oleh Angkatan Darat Perancis, “SIAé”.
  • Turret elektro-optik (EO) Wescam MX-20 yang terintegrasi ke dalam sistem tempur. Dengan peningkatan Standar 6, berbagai operator dapat mengakses gambar yang disediakan oleh MX-20 secara bersamaan.

Badan pengadaan Perancis Direction générale de l’armement (DGA) telah mengizinkan transfer dua pesawat patroli maritim (MPA) Dassault Atlantique 2 (ATL2) pertama yang ditingkatkan ke Angkatan Laut Perancis, dengan kementerian angkatan bersenjata Perancis mengumumkan pada tanggal 24 Oktober. Pada bulan Juli 2022, setengah dari delapan belas pesawat di inventaris Angkatan Laut Prancis telah ditingkatkan ke Standar 6. Peningkatan pesawat yang tersisa di armada akan dilanjutkan hingga tahun 2024. Pada bulan November 2022, pesawat yang ditingkatkan ini dikatakan telah mencapai tonggak sejarah yaitu mampu melakukan seluruh spektrum misi yang ditugaskan padanya. Pesawat upgrade ke-10 dikirimkan pada bulan Desember 2022 dan pesawat ke-11 menyusul pada bulan April 2023.

PERSENJATAAN

Rudal

AM39 Exocet

AM39 Exocet adalah versi udara dari keluarga rudal anti-kapal Exocet. Rudal ini dapat diluncurkan dari pesawat serang, Pesawat Patroli Maritim dan helikopter. Rudal ini dipandu secara inersia di tengah penerbangan dan kemudian menyalakan radar aktif bagian di akhir penerbangannya untuk menemukan dan mencapai targetnya. Dengan jangkauan antara 50 hingga 70 km, bergantung pada ketinggian dan kecepatan pesawat, rudal AM39 Exocet memungkinkan pesawat pembawa untuk tetap berada diluar jangkauan pertahanan udara musuh. Saat melakukan serangan ketinggian rendah, rudal juga dapat diluncurkan di bawah jangkauan radar kapal target pada ketinggian yang sangat rendah 1-2 meter di atas laut (sea skimming). Karena efek keterbatasan radar akibat cakrawala, ini berarti bahwa target mungkin tidak mendeteksi serangan Exocet yang masuk hingga rudal hanya berjarak 6.000 m dari waktu menabrak. Ini berarti hanya menyisakan sedikit waktu untuk bereaksi dan menggunakan sistem senjata jarak dekat (CIWS). Rudal AM39 Exocet memiliki hulu ledak seberat 165 kg (363 lb). Bobot kotornya adalah 654 kg (1.441 lb). Panjang rudal ini adalah 4,69 m (15,38 kaki), dengan diameter: 0,34 m (1,11 kaki) dan bentang sirip 1,01 m (3,31 kaki). Kecepatan maksimumnya adalah 1.050km/jam.

Atlantique 2 menembakkan rudal Exocet. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

AS.12

Rudal ini dirancang pada tahun 1955–1957 oleh Nord Aviation (kemudian Aérospatiale). SS.12 pada awalnya dimaksudkan sebagai senjata permukaan-ke-permukaan. Versi yang diluncurkan melalui udara, AS.12, diujicobakan pada tahun 1957. Rudal tersebut memiliki hidung menonjol yang khas dan empat sayap segitiga yang terpotong. Rudal itu memiliki dua motor roket berbahan bakar padat. Salah satunya adalah roket pendorong bertenaga yang menyala selama 2,2 detik, dan yang lainnya adalah motor penopang yang menyala selama 28 detik. Motor booster dibuang melalui dua nosel di sisi dekat tepi belakang sayap dan knalpot motor penopang terletak di bagian belakang rudal di tengah. Rudal tersebut dikendalikan menggunakan empat baling-baling logam di sekitar nosel dalam sistem vektor dorong yang mengarahkan daya dorong nosel motor penopang. Sinyal kemudi dikirim ke rudal melalui dua kabel yang keluar dari dua gulungan di bagian belakang rudal. Mekanisme persenjataan yang dioperasikan dengan gas disalurkan dari motor penopang, yang mempersenjatai hulu ledak 7,7 detik setelah peluncuran. Rudal ini memiliki kecepatan maksimum 370 km/jam. Waktu terbang maksimum rata-rata dari rudal ini adalah sekitar 30 detik, sehingga memberikan jangkauan maksimal 7.000 meter tergantung apakah rudal tersebut diluncurkan di darat atau diluncurkan di udara. Operator memandu berkas cahaya di sekitar jalur penerbangan dengan menggunakan joystick tangan kecil, untuk membimbing rudal ke arah target. Rudal tersebut dapat dilengkapi dengan tiga hulu ledak berbeda: 

  • OP3C – hulu ledak penembus semi-armor yang terutama digunakan untuk angkatan laut.
  • Hulu ledak HEAT untuk antitank.
  • Hulu ledak fragmentasi untuk penggunaan anti-personil.

Hulu ledak penembus semi-armor memiliki sumbu tunda yang memungkinkannya menembus lapisan armor setebal 20 mm yang kemudian bergerak sejauh dua meter sebelum meledak.

Rudal Nord AS.12. (Sumber: https://weaponsystems.net/)

AS.37 Martel

Martel adalah rudal Anglo-Prancis. Nama Martel merupakan singkatan dari Missile, Anti-Radiation, Television, yang mengacu pada opsi panduan rudalnya. Martel cocok untuk serangan anti-kapal karena jangkauannya yang jauh dan hulu ledak yang berat. Pada saat itu, belum ada rudal pelacak radar kecil seperti AGM-84 Harpoon dengan radar aktif, jadi satu-satunya solusi yang memungkinkan adalah penggunaan sensor video atau ARM. Dengan jangkauan yang relatif jauh, muatan peledak yang berat, dan kecepatan subsonik, rudal ini lebih sebanding dengan senjata antikapal seperti Exocet atau AS.34 Kormoran dibandingkan rudal antiradar. Beratnya sekitar tiga kali lipat dari rudal anti radar AGM-45 Shrike, dengan kecepatan setengahnya tetapi jangkauan dan daya ledaknya jauh lebih besar (150 kg). Martel memiliki jangkauan operasional maksimal 60 km (37 mil) (perkiraan, dan bergantung pada kondisi peluncuran),dengan Kecepatan maksimum Mach 0,9 +.

Rudal AS.37 Martel. (Sumber: https://www.key.aero/)

Bom

GBU-12 Paveway II

GBU-12 Paveway II adalah bom berpemandu laser udara asal Amerika, yang didasarkan bom serba guna Mk 82 seberat 500 pon (227 kg), tetapi dengan tambahan penjejak laser dan sirip yang dipasang di hidung untuk panduan menuju sasaran. Paveway II mulai digunakan sekitar tahun 1976. Pada Paveway II Guidance kit terintegrasi dengan computer control group di bagian depan sistem bom dan airfoil group yang terletak di bagian belakang. Dalam operasinya, bila sasaran sudah ‘disinari’ oleh laser, maka sirip pemandu (canard fins) pada bagian belakang akan bereaksi dan siap membawa bom ke sasaran. Sayap pada airfoil group akan mengembang dan menjaga aerodinamika bom untuk melakukan manuver. Dengan tambahan laser guidance kit dan airfoil group, bobot GBU-12 ditaksir mencapai 277 kg dengan hulu ledaknya seberat 87 kg. Dengan sayap yang mengembang di bagian belakang, maka bom tidak langsung jatuh bebas, sehingga GBU-12 dapat diarahkan menuju sasaran yang jauhnya 14,8 km dari titik pelepasan. Menurut informasi dari Raytheon mengenai Paveway II, 99 pengiriman amunisi terpandu akan menghasilkan kemungkinan kesalahan melingkar (CEP) hanya 3,6 kaki (1,1 m), dibandingkan dengan CEP 310 kaki (94 m) untuk 99 bom tanpa pemandu yang dijatuhkan di bawah kondisi serupa. 

GBU-12 Paveway II. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Bom Dalam/Depth charge

Depth charge adalah senjata anti-kapal selam (ASW). Senjata ini dimaksudkan untuk menghancurkan kapal selam dengan dijatuhkan ke air di dekatnya dan diledakkan, menyebabkan sasaran terkena kejutan hidrolik yang kuat dan merusak. Kebanyakan bom dalam menggunakan bahan peledak berkekuatan tinggi dan set bahan bakar untuk meledakkan peledak, biasanya pada kedalaman tertentu. Bom dalam dapat dijatuhkan oleh kapal, pesawat patroli, dan helikopter. Bahan peledak tinggi dalam bom dalam mengalami reaksi kimia yang cepat dengan kecepatan sekitar 8.000 m/s (26.000 ft/s). Produk gas dari reaksi tersebut untuk sesaat menempati volume yang sebelumnya ditempati oleh bahan peledak padat, tetapi pada tekanan yang sangat tinggi. Tekanan ini merupakan sumber kerusakan dan sebanding dengan kepadatan ledakan dan kuadrat kecepatan ledakan. Gelembung gas bom dalam mengembang untuk menyamakan tekanan air di sekitarnya. Kerusakan yang ditimbulkan oleh ledakan bawah air pada kapal selam berasal dari gelombang kejut primer dan sekunder. Gelombang kejut primer adalah gelombang kejut awal dari bom dalam, dan akan menyebabkan kerusakan pada personel dan peralatan di dalam kapal selam jika diledakkan pada jarak yang cukup dekat. Gelombang kejut sekunder adalah hasil dari siklus ekspansi dan kontraksi gelembung gas dan akan membengkokkan kapal selam ke depan dan ke belakang dan menyebabkan kerusakan lambung kapal yang dahsyat, dengan cara yang dapat disamakan dengan membengkokkan penggaris plastik dengan cepat ke depan dan ke belakang hingga patah. Radius mematikan bom dalam bergantung pada kedalaman ledakan, peledak bom dalam, dan ukuran serta kekuatan lambung kapal selam. Peledak bom dalam berbobot sekitar 220 lb (100 kg) TNT (400 MJ), yang biasanya memiliki radius mematikan (yang mengakibatkan pecahnya lambung kapal) hanya 9,8–13,1 kaki (3–4 m) terhadap kapal selam konvensional berbobot 1000 ton, sedangkan radius penonaktifan (saat kapal selam tidak tenggelam tetapi menjadi tidak berfungsi) kira-kira 26–33 kaki (8–10 m). Peledak yang lebih besar hanya meningkatkan radius sedikit karena efek ledakan bawah air berkurang seiring dengan bertambahnya pangkat tiga jarak ke target.

Bom dalam yang dijatuhkan dari udara. (Sumber: http://www.navweaps.com/)

Torpedo

Mark 46

Torpedo Mk-46, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1965, dapat ditembakkan dari kapal permukaan dan pesawat. Torpedo Mark 46 adalah tulang punggung torpedo anti-kapal selam ringan Angkatan Laut Amerika Serikat dan standar NATO, yang telah telah diakuisisi oleh lebih dari 25 negara. Torpedo udara ini dirancang untuk menyerang kapal selam berkinerja tinggi. Pada tahun 1989, program peningkatan Mod 5 ke Mod 5A dan Mod 5A(S) telah meningkatkan kinerja torpedo ini di perairan dangkal. Jangkauan Mark 46 adalah 12,000 yd (11,000 m), dengan kedalaman serang hingga > 1,200 ft (370 m). Torpedo ini memiliki kecepatan puncak > 40 kn (74 km/h; 46 mph) dan dipandu dengan sistem Aktif atau pasif/active acoustic homing.

Torpedo Mk-46. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

MU90 Impact Torpedo

MU90 Impact adalah torpedo anti-kapal selam ringan canggih generasi ke-3 yang dikembangkan oleh Prancis dan Italia untuk angkatan laut Prancis, Italia, Jerman, Denmark, Australia, dan Polandia. Torpedo ini dirancang untuk bersaing dengan dan mengungguli torpedo Mark 54 buatan Amerika Serikat dalam peran anti-kapal selam, dan juga telah dikembangkan dalam versi MU90 Hard Kill khusus untuk melawan pertahanan anti-torpedo. MU90 dibuat oleh EuroTorp, sebuah konsorsium perusahaan Prancis dan Italia. Prancis bermaksud menggunakan torpedo baru pada fregat mereka, pesawat Atlantique 2, helikopter Lynx dan helikopter NH90. MU90 memiliki bobot 304 kg (670 pon), dengan panjang 2,85 m (112 inci) dan diameternya 323,7 mm (12,74 inci). Jangkauan operasionalnya adalah >10 km (5,4 nmi) (dengan kecepatan maksimal) dan >23 km (12 nmi) (dengan kecepatan minimal), sementara kedalaman maksimumnya >1000 m. Kecepatan maksimum torpedo ini adalah 29 kn (54 km/jam) hingga 50 kn (93 km/jam). Kecepatan sebenarnya dari torpedo ini masih dirahasiakan. MU90 memiliki sistem panduan aktif atau pasif.

Torpedo MU90 Impact. (Sumber: https://defense-update.com/)

OPERATOR

Prancis

Pesawat Atlantic digunakan oleh Unit Penerbangan Angkatan Laut Perancis. Pesawat versi asli telah dihentikan penggunaannya pada tahun 1996, sementara generasi kedua, yakni Atlantique 2 ada dalam dinas operasional.

Atlantique 2 AL Prancis. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Bekas Operator

Angkatan Laut Jerman – AL Jerman menerima 20 pesawat Atlantic, dengan lima pesawat diubah menjadi pesawat ELINT. Menggantikan semua pesawat ASW dengan P-3 Orion bekas Belanda pada tahun 2005, versi ELINT rencananya akan digantikan oleh UAV EuroHawk yang sekarang dibatalkan. Karena Jerman memutuskan untuk tidak merombak P-3C mereka, mereka harus dipensiunkan pada tahun 2025. Perancis mengusulkan untuk meminjamkan empat Atlantic 2 tambahan (Standar 6) karena Maritime Airborne Warfare System (MAWS) tidak akan beroperasi sebelum tahun 2032. Namun Jerman kemudian memesan lima P-8A Poseidon pada tahun 2021.

Atlantic dari Marinefliegergeschwader 3 ‘Graf Zeppelin‘ akan berangkat dari RAF Fairford. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Angkatan Udara Italia – 18 pesawat diterbangkan oleh pilot-pilot dari Angkatan Udara Italia dan unit Penerbangan Angkatan Laut Italia, namun dikomandoi oleh pihak Angkatan Laut. Pesawat-pesawat ini digantikan oleh ATR 72MP.

Br.1150 Atlantic Angkatan Laut Italia. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Dinas Penerbangan Angkatan Laut Belanda – keberadaannya digantikan oleh P-3 Orion. 

Atlantic Angkatan Laut Kerajaan Belanda. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pakistan Naval Air Arm – Pesawat terakhir pensiun pada tahun 2012 dan digantikan oleh ATR 72MP.

Atlantic Pakistan. (Sumber: https://fr.m.wikipedia.org/)

INSIDEN & KECELAKAAN

19 April 1962 – Pesawat prototipe kedua jatuh, menewaskan ketiga penumpangnya, selama uji terbang setelah mencoba mengalihkan penerbangan karena kebakaran mesin.

31 Agustus 1967 – Breguet 1150 pengintai Prancis jatuh di pulau Prins Karls Forland, Norwegia, menewaskan 11 awaknya.

20 September 1968 – Atlantic Angkatan Udara Prancis menabrak kantor Royal Aircraft Establishment(RAE) saat melakukan pertunjukan di Farnborough Air Show, Hampshire, Inggris. Salah satu staf pemeliharaan sipil RAE tewas, begitu pula kelima awaknya.

15 Agustus 1973 – Breguet pengintai angkatan laut Belanda serial 257 mengalami masalah dengan elevator dan jatuh pada pukul 15.00 1,5 km di lepas pantai di Wassenaar, Belanda. Semua 14 kru selamat. Pesawat tersebut tetap mengapung dan berhasil diselamatkan, namun kemudian dibesituakan. 

Breguet Atlantic yang jatuh di Wassenaar. (Sumber: https://www.baaa-acro.com/)

14 September 1978 – Breguet pengintai Belanda berhasil mendarat di Laut Irlandia sebelah barat Skotlandia setelah ledakan mesin Rolls-Royce kanan. Tidak ada korban jiwa di antara awak pesawat.

15 Januari 1981 – Atlantic SP-13A Angkatan Laut Belanda membayangi kapal induk Angkatan Laut Soviet Kiev dalam cuaca buruk, dengan gelombang setinggi 30 kaki (9,14 meter) dan dalam kondisi badai salju. Awak Atlantic mentransmisikan Mayday pada pukul 09:58 setelah mengalami masalah kendali akibat kegagalan batang kendali pada penstabil horizontal. Ia tidak mampu mempertahankan ketinggian dan terpaksa mendarat darurat 113 mil (181,8 km) sebelah barat Inner Hebrides sekitar setengah jam kemudian. Sembilan orang yang selamat kemudian diselamatkan oleh helikopter Sea KingRAF sekitar dua jam setelah kecelakaan itu.

10 Maret – Tak lama setelah lepas landas dari Bandara Internasional Prince Said Ibrahim di Moroni, Komoro, dalam misi patroli maritim di Selat Mozambik, Breguet 1150 Atlantic nomor 29 Angkatan Laut Prancis dari Lann-Bihoué (Prancis) armada 23F jatuh ke gunung 15 kilometer (9,4 mil) dari bandara, menewaskan 18 orang di dalamnya. Satu mesin dikabarkan terbakar tak lama setelah lepas landas.

18 Mei 1986 – Saat terbang di awan, Atlantic Angkatan Laut Prancis menabrak gunung di Djibouti, menewaskan 19 orang di dalamnya.

10 Agustus 1999 – Di perbatasan Pakistan-India, enam belas awak udara Angkatan Laut Pakistan tewas dalam apa yang dikenal sebagai insiden Atlantique; Atlantic tempat mereka berada ditembak jatuh oleh Mikoyan-Gurevich MiG-21 angkatan udara India dengan rudal R-60 (AA-8 “Aphid“) setelah diduga menyusup ke wilayah udara India, hanya sebulan setelah Perang Kargil.

Seorang prajurit diantara reruntuhan Atlantic Pakistan. https://www.baaa-acro.com/)

SEJARAH PENGOPERASIAN

Prancis

Pada tahun 1987, satu Signals Intelligence (SIGINT) Atlanique dioperasikan oleh Prancis sebagai markas udara selama Opération Épervier, yakni intervensi Prancis terhadap unit militer Libya yang telah dikerahkan ke negara tetangganya Chad. Komunikasi yang disadap oleh pesawat Atlantique segera dipecah kodenya dan diterjemahkan sebelum digunakan untuk melakukan serangan terhadap pasukan Libya dengan akurasi yang lebih tinggi. Selama intervensi NATO dalam Perang Kosovo 1999, pesawat Atlantic Prancis melakukan penerbangan pengawasan di wilayah pertempuran; dimana penerbangan di wilayah udara Serbia dilakukan dengan pesawat tak bersenjata. Pada tahun 2009, sejumlah AtlanticPerancis dikirim ke Dakar, Senegal, untuk berpartisipasi dalam upaya pencarian multinasional untuk menemukan jatuhnya Air France Penerbangan 447. Pada bulan Januari 2013, pesawat-pesawat Atlantique-2 Angkatan Laut Prancis dikerahkan untuk bertindak sebagai pesawat serang darat selama Operasi Serval di Mali Utara; sejumlah bom GBU-12 berpemandu laser dikabarkan dijatuhkan oleh pesawat-pesawat Atlantique terhadap militan jihad Mali yang berusaha menggulingkan pemerintah Mali. Selama penempatannya, pesawat-pesawat Atlantique juga berfungsi sebagai platform Intelijen, pengawasan dan pengintaian (ISR), yang mampu memberikan kehadiran berkelanjutan tidak seperti alternatif lainnya, seperti kendaraan udara tak berawak (UAV) EADS Harfang. Pada tahun 2015, Atlantique-2 dikerahkan ke Irak pada awal Operasi Chammal melawan pasukan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL), awalnya melakukan misi ISTAR dan meneruskan misi kontrol udara. Pada tanggal 19 Agustus 2015, sebuah Atlantique-2 menerbangkan misi bersama dengan dua jet tempur Mirage 2000 dan menjatuhkan sebuah bom GBU-12 di gedung komando dan kendali, misi serangan pertama dalam operasi tersebut. Ketika operasi militer Prancis meluas ke Suriah pada bulan September 2015, pesawat Atlantique yang mampu terbang jarak jauh dari pangkalan mereka di UEA lebih dipilih digunakan saat melakukan operasi pengintaian, dibandingkan pesawat jarak pendek seperti Dassault Rafale.

Atlantic Angkatan Laut Prancis dalam pelayanan dengan 24 Flotille pada tahun 1973. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Atlantique-2 menjatuhkan sebuah bom GBU-12. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Jerman

Marineflieger Jerman mengoperasikan armada Atlantic antara tahun 1963 dan 2005. Pada tahun 2005 Jerman mengoperasikan 16 Dornier and Siebel Br 1150 Atlantic. Sejumlah pesawat ini sama seperti milik Prancis dimodifikasi untuk tugas SIGINT dan berbasis di Pangkalan Udara Angkatan Laut Nordholz. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 1966, 12 pesawat dikonfigurasi untuk misi Anti Submarine Warfare (ASW) dan Maritime Patrol (MP) sedangkan 4 sisanya digunakan untuk misi Electronic and Signals Intelligence (ELINT / SIGINT). Untuk menjalankan misi ELINT, mereka dilengkapi dengan perangkat sensor ARAR-10B (DR 2000A), yang memiliki jangkauan maksimum 926 km. Selama Perang Dingin, mereka biasanya terbang melintasi Laut Baltik dan sepanjang perbatasan dengan Jerman Timur; penerbangan ini sering kali membawa personel intelijen Amerika dan Inggris selain awak Jerman. Selama tahun 1990-an, Jerman mengerahkan Atlantic SIGINT untuk mengamati embargo PBB terhadap Yugoslavia dan untuk penerbangan pengintaian selama Perang Kosovo pada tahun 1999. Pada tahun 1992, Jerman sedang mempertimbangkan untuk mengganti Atlantic-nya dalam peran patroli maritim, dengan Atlantic-2 yang dimodernisasi dianggap sebagai calon penggantinya. Pada tahun 1996, rencana pengadaan pengganti ditunda demi program perpanjangan umur yang memungkinkan armada Atlantic terus beroperasi selama satu dekade berikutnya. Sebagai pengganti ASW / MP Br 1150, Jerman kemudian memilih untuk membeli 8 P-3C Orion dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda seharga $355 juta, dan menerima pengiriman antara bulan November 2005 dan Maret 2006. Untuk Br 1150 ELINT / SIGINT milik Jerman kemungkinan diganti dengan UAV program High Altitude Long Endurance (HALE) atau Medium Altitude Long Endurance (MALE). Jerman kemudian memesan lima P-8A Poseidon pada tahun 2021. Beberapa Atlantic Jerman telah disumbangkan ke museum, termasuk Museum Militärhistorisches Flugplatz Berlin-Gatow dan Museum Angkatan Udara Belanda, di Soesterberg, Belanda. 

Br 1150 Atlantic Jerman. (Sumber: https://www.seaforces.org/)

Belanda

Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Atlantic bersaing dengan Lockheed P-3 Orion untuk dipilih sebagai pesawat anti-kapal selam Angkatan Laut Kerajaan Belanda berikutnya. Proses seleksi, di mana Lockheed Corporation diduga terlibat dalam berbagai insiden suap, akhirnya memilih Atlantic. Namun, jumlah pesawat Atlantic yang diperoleh lebih sedikit dari yang direncanakan. Empat Breguet Br.1150 Atlantic pertama dikirim pada tahun 1996 ke Nimes-Garon di mana kru Belanda pertama menjalani pelatihan sebelum dikirim ke Skuadron 321 di Valkenburg NAS. Pesawat ini dilengkapi dengan lima Breguet Br.1150 Atlantic produksi baru pada bulan Januari 1971. Saat pelatihan berlangsung di Nimes-Garon, empat pesawat pertama (nomor 250 hingga 253) secara resmi dikirim ke angkatan laut Belanda pada tanggal 26 Juni 1969, Setelah pemindahan Breguet Br.1150 Atlantic ke Valkenburg NAS, skuadron 321 secara resmi diaktifkan kembali pada tanggal 8 Agustus 1969. Dengan pengiriman pesawat ini, angkatan laut Belanda memiliki pesawat pemburu kapal selam sejati pertama yang mereka operasikan. Pada tahun berikutnya skuadron ini mengalami beberapa masalah dengan suku cadang dan korosi, sehingga mengakibatkan status operasional pesawat yang buruk. Sejak tahun 1971 skuadron mulai berpartisipasi dalam latihan di St Mawgan, Lann Bidouext. Pada tahun berikutnya skuadron mencapai status operasional penuh dan penempatan pertama ke Hato di Karibia dilakukan. Pada tahun berikutnya skuadron Breguet Br.1150 Atlantic bekerja secara maksimal dengan berpartisipasi dalam lebih banyak latihan dan pertunjukan udara.

Br.1150 Atlantic Belanda. (Sumber: https://ronaldderoij.photo/)
Meski mengalami beberapa kecelakaan fatal Br.1150 Atlantic Belanda dinilai mampu memenuhi kebutuhan Belanda. (Sumber: https://ronaldderoij.photo/)
Lockheed P-3C Orion Belanda. (Sumber: https://www.jetphotos.com/)

Pada tanggal 16 April 1973 awak Breguet Br.1150 Atlantic nomor 254 membuat rekor ketahanan dan jangkauan pada pesawat jenis tersebut dengan penerbangan sejauh 4902 mil (7.889 km) dalam waktu 18 jam. Beberapa bulan kemudian Breguet Br.1150 Atlantic pertama hilang pada tanggal 15 Agustus ketika pesawat nomor 257 melakukan pendaratan darurat terkendali di lepas pantai dari Wassenaar. Setelah kendali pesawat hilang karena kegagalan kendali elevator, kru memutuskan untuk melakukan pendaratan darurat di atas air karena dianggap lebih aman daripada mendarat di Valkenburg. Para kru kemudian segera diselamatkan oleh penjaga pantai setempat dan pesawat ditarik ke Den Helder. Dari kerusakan yang didapat di pantai ini disimpulkan bahwa pesawat tersebut tidak dapat lagi diperbaiki. Pada tahun-tahun berikutnya terjadi latihan biasa dan penempatan serta partisipasi Breguet Br.1150 Atlantic dalam pertunjukan udara. Pada tahun 1977, pesawat kedua dengan nomor 253 hilang karena masalah mesin selama latihan ‘Northern wedding‘ di timur Skotlandia. Seperti pada kecelakaan pertama, pendaratan darurat terkendali dilakukan tanpa ada korban jiwa. Pada tahun-tahun berikutnya, skuadron melakukan tugasnya dalam memantau armada Soviet di samudera Atlantik untuk mencari kapal selam dan mengumpulkan data tentang kapal permukaan baru. Bahkan dengan armada kecil yang terdiri dari tujuh pesawat, skuadron tersebut berhasil dengan baik. Sayangnya periode ini diikuti oleh kecelakaan lain pada tanggal 18 Januari 1981 yang melibatkan pesawat nomor 255, lagi-lagi karena kesalahan kontrol elevator. Pada kecelakaan ini pesawat pecah dan tidak semua awak dapat mencapai sekoci penyelamat dan sayangnya tiga awak pesawat tewas dalam kejadian tersebut. Setelah kecelakaan dengan Breguet Br.1150 Atlantic nomor 255, penerbangan pesawat tipe ini dihentikan selama lebih dari setahun karena modifikasi akhirnya dilakukan pada pesawat yang masih tersisa. Modifikasi yang diusulkan adalah solusi sementara sampai usulan modifikasi yang lebih besar pada kontrol pesawat diterima oleh semua mitra dalam proyek, sehingga membuat sistem menjadi redundan. Ketika mitra lain memutuskan bahwa modifikasi ini tidak diperlukan, keputusan dibuat untuk mempensiunkan pesawat Atlantic Belanda dengan diperkenalkannya pesawat P-3 Orion. Secara operasional Breguet Br.1150 Atlantic mampu memenuhi kebutuhan Belanda, tetapi terdapat masalah korosi dan elevator yang mengganggu. Total tiga Atlantic dari armada Belanda yang beranggotakan sembilan pesawat hilang akibat kecelakaan. Breguet Br.1150 Atlantic  Belanda terakhir pensiun dari dinas operasional pada tahun 1984, digantikan oleh Lockheed P-3C Orion, yang ironisnya adalah pesawat yang dulunya menjadi kandidat pesawat anti kapal selam baru Belanda pada akhir tahun 1960-an bersama Atlantic!

Italia

Pada tahun 2005 Italia mengoperasikan 13 Br1150 Atlantic dan memiliki tambahan 5 unit lagi di penyimpanan. Pesawat-pesawat ini dijadwalkan akan diganti pada tahun 2012, namun Italia belum mengumumkan kelanjutannya. Pada bulan Desember 2008 Angkatan Udara Italia menandatangani kontrak untuk penyediaan empat pesawat ATR 72MP. Pesawat ini akan menjalankan tugas pengawasan, patroli maritim dan SAR. Pesawat baru ini akan menggantikan Breguet Atlantic dalam dinas operasional.

Br1150 Atlantic Italia. (Sumber: https://theaviationist.com/)

Pakistan

Pada tahun 1973, setelah Perang Indo-Pakistan tahun 1971, Angkatan Laut Pakistan memilih untuk membeli tiga Atlantic bekas dari Perancis, ditambah yang keempat pada tahun 1986, ketika armada tersebut dikirim untuk bisa membawa rudal antikapal Exocet. ATL1 Pakistan ditingkatkan dari tahun 1993, peningkatan tersebut dibuat oleh Thomson-CSF dari Perancis dan dilaksanakan oleh Pakistan sendiri. Inti dari peningkatan ini adalah pemasangan radar Thomson CSF Ocean Master, sistem misi baru, serta sistem avionik penerbangan dan misi baru. Pesawat-pesawat yang ditingkatkan ini dikirimkan kembali dari tahun 1995 hingga tahun 1999. Tiga ATL1 lagi tercatat diperoleh dari Perancis untuk digunakan sebagai persediaan suku cadang. Pada tahun 1999, Atlantic Angkatan Laut Pakistan secara tidak sengaja terbang ke wilayah udara India saat menyelidiki pertahanan udara India dan dicegat serta ditembak jatuh oleh jet tempur MiG-21FL Angkatan Udara India setelah pesawat Atlantic itu mengabaikan instruksi dan berupaya memaksanya mendarat di pangkalan India; peristiwa tersebut dikenal sebagai insiden Atlantique. Setelah 36 tahun bertugas, sisa pesawat Atlantic Pakistan secara resmi dipensiunkan pada bulan September 2012, menyusul kedatangan P-3 Orion untuk menggantikannya. 

ATL1 Pakistan. (Sumber: https://www.facebook.com/)
Reruntuhan Atlantique Pakistan yang ditembak jatuh oleh MiG-21FL Angkatan Udara India. (Sumber: https://www.baaa-acro.com/)

SPESIFIKASI UMUM

  • Kru: 12
  • Kapasitas: 12 awak atau kru penyelamat
  • Panjang: 31.62 m (103 ft 9 in)
  • Lebar: 37.42 m (122 ft 9 in) termasuk pod ujung sayap
  • Tinggi: 10.89 m (35 ft 9 in)
  • Luas area sayap: 120.34 m2 (1,295.3 sq ft)
  • Bobot kosong: 25,700 kg (56,659 lb)
  • Bobot kotor: 45,000 kg (99,208 lb)
  • Bobot maksimum takeoff: 46,200 kg (101,854 lb)
  • Mesin: 2 × Mesin turboprop Rolls-Royce 2 spool Tyne RTy.20 Mk 21, yang masing-masing berkekuatan 4.500 kW (6.100 shp) (setara)

Performa

  • Kecepatan maksimum: 648 km/h (403 mph, 350 kn)
  • Kecepatan jelajah: kecepatan patroli 315 km/h (196 mph, 170 kn)
  • Kecepatan Stall: 167 km/h (104 mph, 90 kn) flaps down
  • Daya tahan: 18 jam
  • Ketinggian jelajah: 9,145 m (30,000 ft)
  • Kecepatan menanjak: 14.7 m/s (2,900 ft/min)

Persenjataan

  • Hingga 3.500 kg (7.700 lb), termasuk torpedo, bom dalam, ranjau, rudal anti-kapal, bom biasa dan/atau buoy.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Br%C3%A9guet_1150_Atlantic

Dassault-Breguet Atlantic & BAE Nimrod by greg goebel v1.0.0 / 01 sep 23

https://www.airvectors.net/avatl.html

SERVICE HISTORY OF THE BREGUET BR.1150 ATLANTIC WITH THE MLD by Ronald de Roi

Br 1150 Atlantique Maritime Patrol Aircraft (MPA 2000)

https://www.globalsecurity.org/military/world/europe/atlantique.htm

ATLANTIC

https://www.dassault-aviation.com/en/passion/aircraft/military-dassault-aircraft/atlantic/

ATLANTIQUE 2

https://www.dassault-aviation.com/en/passion/aircraft/military-dassault-aircraft/atlantique-2/

Dassault-Breguet Br.1150 (Atlantique 2) 

Maritime Patrol / Anti-Submarine Warfare (ASW) Aircraft [ 1965 ]

https://www.militaryfactory.com/aircraft/detail.php?aircraft_id=1047

https://fr.m.wikipedia.org/wiki/Breguet_Atlantic

ARAR-10B [DR 2000A]

https://cmano-db.com/sensor/2890/

DHAX 1 (Atlantique 1)

https://cmano-db.com/sensor/4728/

Generic FLIR (DEPRECATED – 1st Gen, Surveillance & Periscope Search)

https://cmano-db.com/sensor/4790/

DRAA-2B

https://cmano-db.com/sensor/3143/

AN/SSQ-47 Julie Active Range-Only (1967-1995, SSQ-522, SSQ-947, HQS-31, A-Size, 12 Chn, 18/243m, 30min, Ranger Buoy, Exported)

https://cmano-db.com/weapon/910/

DSTV 4L LOFAR [TSM 8010] (1972, A-Size, MSR 810, 31 Chn, 20/300m, 1/3/8 Hrs)

https://cmano-db.com/weapon/2511/

DRAA-10A Iguane (TMV-118)

https://cmano-db.com/sensor/893/

DHAX 3 (Atlantique 2, Lynx)

https://cmano-db.com/sensor/4729/

Generic FLIR (DEPRECATED – 2nd Gen, Surveillance, 8x Magnification)

https://cmano-db.com/sensor/2928/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/SS.12/AS.12

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Martel_(missile)

https://en-m-wikipedia-org.translate.goog/wiki/GBU-12_Paveway_II?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=tc

Helikopter Angkut Berat Super Frelon, Yang Pernah Memperkuat TNI AU

GBU-12 LGBs: Bom Pintar NATO Berpemandu Laser, Sukses Diluncurkan Dari Sukhoi Su-30MKM Malaysia oleh Gilang Perdana

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Depth_charge

Dua Sisi Mata Uang NH90, Helikopter Canggih Standar NATO di Abad ke-21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *