Aksi Keturunan Custer dalam Pertempuran di Renegade Wood, 1970
“Beri tahu aku apa yang kamu butuhkan, dan aku akan memastikan kamu mendapatkannya. Perhatikan disiplin tembakanmu. Kamu (tentunya) tidak ingin kehabisan amunisi (disana)”, kata Custer, yang ahli dalam mengoordinasikan kekuatan udara dan artileri.
Pada tahun 1970, kehadiran Amerika dalam Perang Vietnam mulai berkurang, dan batalion-batalion mereka mengalami beberapa perubahan misi dengan cepat. Meski demikian, hal ini bukan berarti pasukan Amerika menjauh dari misi-misi tempur yang mengharuskan mereka menghadapi unit-unit reguler Vietnam Utara, seperti tahun-tahun sebelumnya. Salah satu dari misi-misi tempur yang berakhir dengan pertempuran adalah kontak senjata di kawasan provinsi Tay Ninh, barat laut kota Saigon, yang dikenal sebagai hutan Renegade.

MISI PASUKAN RANGER
Pertempuran pada tahun 1970 di Hutan Renegade (pemberontak), seperti sebagian besar pertempuran sengit dalam Perang Vietnam, terjadi secara tiba-tiba seperti badai tropis yang dahsyat. Kawasan hutan lebat di Distrik Hieu Thien, Provinsi Tay Ninh yang terletak di bawah lekukan lebar di Sungai Vam Co Dong ini ditutupi oleh hutan lebat berkanopi ganda yang ditumbuhi tanaman merambat. Area terbuka hanya sedikit di wilayah hutan Renegade, dan area tersebut ditumbuhi rumput gajah dan dibatasi oleh pagar tanaman. Dekat dengan perbatasan Kamboja, kawasan yang telah lama menjadi sarang bandit dan penjahat ini menjadi lokasi ideal bagi unit Angkatan Darat Vietnam Utara (NVA) yang melintasi perbatasan. Ini jelas merupakan wilayah “liar”, di mana hanya keunggulan teknologi dan mobilitas pasukan gabungan yang dapat mengalahkan keunggulan pasukan NVA/Viet Cong (VC), yang biasanya dapat menghindari dan melarikan diri ke tempat-tempat perlindungan di Kamboja sebelum mengalami terlalu banyak kehancuran. Pada pukul 7 pagi, tanggal 2 April 1970, tim pengintai ringan helikopter dari Batalyon Penerbangan ke-25 melakukan pengintaian visual di daerah tersebut. Intelijen mengindikasikan bahwa unit utama musuh mungkin bergerak ke Hutan Renegade untuk membangun area pangkalan untuk melakukan operasi ofensif. Pada tanggal 30 Maret unsur Resimen ke-271 dan unsur Resimen ke-272 melakukan penyerangan terhadap Pangkalan Pendukung Tembakan Jay (XT0375) dari Divisi Kavaleri ke-1 (Airmobile), namun berhasil dipukul mundur dengan korban 70 KIA di pihak musuh. Setelah serangan tersebut, unit-unit ini dilaporkan bergerak ke area pangkalan untuk melakukan memulihkan diri. Pergerakan selanjutnya dari resimen-resimen ini tidak diketahui, namun pergerakan mereka ke selatan di sepanjang perbatasan dicurigai dan diawasi oleh pasukan Amerika. Meskipun zona pendaratan yang dimaksudkan tidak menunjukkan tanda-tanda aktivitas musuh, dua LZ (Zona Pendaratan) potensial lainnya di dekatnya memiliki tanda-tanda yang jelas, termasuk jejak kaki. Pada dasarnya tanpa pelindung atau penyembunyian, zona pendaratan hanya memiliki dua kawah bom yang menjadi satu-satunya perlindungan. 13 orang Tim Ranger ke-38 dan 39, dari Kompi F, Resimen Infanteri ke-75, dikerahkan ke daratan untuk menyelidiki, dan dalam beberapa menit sekitar pukul 08:40 sebuah senapan mesin ringan (LMG) menembaki mereka dari jarak dekat (sekitar 10-15 meter), menghancurkan radio Letnan Satu Philip Norton dan melukai Sersan Fred Stuckey. Stuckey dan Spc. 4 Donald Purdy kemudian berhasil membunuh awak senapan mesin musuh dengan granat tangan, tetapi pasukan Rangers mulai ditembaki dari segala arah, termasuk dengan granat berpeluncur roket (RPG).


Karena LMG biasanya ditemukan pada lawan dengan kekuatan setidaknya satu peleton yang diperkuat, kekuatan yang terlalu besar yang bisa mereka tangani, jadi Letnan Norton memerintahkan mereka untuk pindah ke tempat yang bisa diekstraksi atau diperkuat oleh dari udara. Sementara itu SFC Alvin Floyd, Asisten Ketua Tim, menghubungi helikopter gunship Cobra dengan radio yang tersisa dan meminta agar tembakan penekan ditempatkan di pepohonan bagian barat, dan pasukan reaksi cepat dikirim ke area tersebut. Tim lalu dibagi menjadi dua elemen, Tim 39 di bawah Norton bergerak ke arah timur sementara Tim 38 di bawah SFC Floyd memberikan tembakan pelindung. Baku tembak awal berlangsung tiga sampai lima menit dan mereda menjadi tembakan terisolasi pada saat Tim 39 mencapai ujung timur lahan terbuka (100 meter jauhnya) dan mulai bergerak ke dalam hutan. Selama penarikan ini, helikopter Cobra menembakkan minigun dan roket melewati garis pepohonan barat untuk memberikan perlindungan. Pada saat ini peluncur granat otomatis 40mm-nya macet setelah menembakkan hanya satu dari 250 peluru yang dibawanya. Helikopter observasi ringan (LOH) juga melancarkan tembakan dengan senapan mesin M-60 miliknya. Dua helikopter UH-1H (Centaur 23 dan 24) kemudian dikirim dari Cu Chi untuk mengirimkan pasukan reaksi cepat. Helikopter dengan kode panggilan Centaur 23 bermaksud mendarat dan mengekstraksi Stuckey, tetapi WO1 Strand tidak memberi izin karena tidak ada bantuan yang diminta dan tembakan di darat terlalu hebat. Dengan menggunakan tembakan dan manuver, kedua elemen tim Ranger bergerak menuju lokasi yang ditunjuk Norton. Elemen Norton berhasil mencapai lokasi, dan menemukan keamanan sesaat di kawah bom, namun elemen kedua, di bawah asisten ketua tim, Sersan Kelas 1 Alvin Floyd, tidak. Floyd dan Sersan Michael Thomas terbunuh (Floyd terkena tembakan di sekitar bagian tengah tubuhnya yang membuatnya hampir terbelah dua) oleh senjata ringan dan tembakan RPG, sementara Spc. 4 Donald Tinney jatuh terluka di tempat terbuka. Norton mampu menyeret Tinney ke kawah yang relatif aman. Radio SFC Floyd hancur akibat ledakan RPG, meninggalkan tim nya tanpa kontak radio. Saat Tim 39 memasuki barisan pepohonan di timur, mereka mulai menerima sejumlah besar tembakan dari senjata kecil dan dua atau mungkin tiga LMG. Tembakan penekan dikerahkan para Rangers ke segala arah untuk memungkinkan mereka semua mundur ke kawah yang menjadi satu-satunya perlindungan di area tersebut. Pada saat ini SFC Colin Hall membungkam LMG sebelah barat dan membunuh awaknya dengan granat tangan dan tembakan senapan M-16, sementara SGT Charles Avery membungkam penembakan RPG-7 dan pelontar granat M-79 dari lokasi LMG sebelah utara.


Begitu berada di dalam bibir kawah Norton menyeret SP4 Tinney ke tempat aman dan memperoleh mikrofon dari radio SFC Floyd, memungkinkan dia untuk berkomunikasi kembali. Dia mengulangi permintaannya untuk pengiriman pasukan reaksi cepat dan dukungan tempur, dan juga meminta evakuasi medis untuk tiga orang yang terkena tembakan RPG. Sementara itu, helikopter Cobra telah menggunakan sisa roket dan amunisi minigunnya (4000 butir peluru) untuk melakukan tembakan penekan. Helikopter LOH juga menghabiskan 600 peluru M-60-nya dan mulai membuang amunisi tambahan sebagai persiapan untuk upaya evakuasi medis dengan meninggalkan salah satu penembaknya di tanah untuk memberi ruang bagi yang terluka. Helikopter UH-1H mendengar panggilan tersebut dan kembali mengudara, setelah mencapai Cu Chi hingga Pabrik Prancis (XT3532). Para Ranger di dalam kawah menerima tembakan senjata ringan dari segala arah dan lemparan granat tangan dari ujung hutan ke barat daya. Namun, tembakan penekan mereka berhasil membungkam senjata yang ditembakkan oleh kru. Seorang tentara NVA lalu muncul dari pepohonan selatan untuk melemparkan granat tangan, tetapi terluka dan kemudian terbunuh oleh dua granat tangan yang dilempar oleh SGT Stuckey. PFC Raymond Allmon telah menembakkan 700 butir amunisi M-60 yang dibawanya dan sabuk 50 butir peluru yang dia ambil dari tubuh SGT Thomas, dan terpaksa menggunakan pistol kaliber .45 miliknya. PFC Steven Perez menghabiskan semua amunisi M-79 miliknya dan PFC Kenneth Langland menembakkan 860 peluru sebelum M-60 miliknya tidak berfungsi. Sekitar pukul 09.20 tim telah menghabiskan sebagian besar amunisinya dan mengalami banyak masalah senjata. Saat kekacauan di lapangan terjadi, Warrant Officer James Tonelli dan Kapten Philip Tocco membawa helikopter UH-1 miliknya ke ketinggian rendah di bawah tembakan keras, mendarat 15 kaki (4,5 meter) dari kawah. Setelah pasukan Ranger berlari ke helikopter dan naik, Tonelli berhasil membawa helikopter yang kelebihan muatan itu mengudara meskipun menerima beberapa serangan dari tembakan darat, bahkan ketika Letnan Satu David Parsons dengan pesawat OV-10 Broncomenembakkan senapan mesinnya dalam pemberondongan setelah ekstraksi. Helikopter tersebut menerima empat tembakan dari darat selama proses ekstraksi, dan kemudian diperiksa oleh para ahli dari Bell Aircraft yang menyatakan keheranannya bahwa helikopter tersebut masih bisa terbang. Juga salah satu pilot lain yang mendukung evakuasi melaporkan bahwa saat helikopter Tonelli lepas landas dari tempat baku tembak, dia melihat peluru RPG tampak lewat di antara bilah rotor utama helikopter dan boom ekor. Jadi upaya penyelamatan ini adalah sebuah keajaiban. Sementara 11 Rangers telah diselamatkan, dua orang tewas tertinggal di tempat terbuka beserta beberapa senjata dan peralatan yang hancur atau rusak.

WOLFHOUND
Saya (Howard Landon “Dutch” McAllister) adalah perwira operasi dari Batalyon ke-2, Resimen Infanteri ke-27, Wolfhounds, dan pada pukul 09.00 kami diperintahkan untuk ikut bertempur. Dua dari kompi Batalyon ke-2 sudah beroperasi di daerah tersebut. Malam sebelumnya, Kompi C bertugas sebagai kekuatan pemblokiran unit Angkatan Darat Republik Vietnam (ARVN) yang bertempur melawan musuh empat kilometer barat daya Hutan Renegade, dan Kompi B telah melakukan patroli penyergapan sembilan kilometer ke selatan. Kini Kompi C, di bawah pimpinan Kapten Jerry D. Bateman, dan Kompi B, yang dipimpin oleh Kapten Charles Criswell, segera pindah ke titik penjemputan helikopter. Kompi C adalah yang pertama terlibat dalam pertempuran, namun dengan hanya tersedia tiga helikopter, dibutuhkan waktu hingga pukul 11.00 sebelum mereka mendarat dan bergerak menuju pasukan NVA/VC. Pada pukul 11:40 semua peleton saling baku tembak dengan musuh. Saya mendengarkan transmisi radio antara komandan batalion dan komandan kompi dari pusat operasi taktis batalion di Pangkalan Dukungan Tembakan (FSB) Jackson, yang dibangun untuk memblokir jalur infiltrasi besar yang dikenal sebagai Koridor An Ninh. Rute ini memanfaatkan kanal dan dataran rendah berawa di Sungai Vam Co Dong di sebelah timur, yang di peta dikenal dengan bentuknya sebagai Sayap Malaikat. Segalanya sudah mulai tidak beres. Dua peleton telah bergerak maju untuk melakukan kontak dalam formasi paralel, dengan Peleton ke-1 di bawah pimpinan Letnan Satu Ronnie Clark, diikuti oleh Peleton ke-3, dipimpin oleh Letnan 2 Ronald Kolb. Peleton ke-2, yang dipimpin oleh Letnan 2 Monte Hack, bergerak sejajar di sisi kanan dua peleton lainnya, dipisahkan oleh pagar tanaman yang lebat. Segera setelah terlibat dalam pertempuran, peleton terdepan ditembaki oleh senapan mesin yang ditembakkan dari arah depan kanannya. Point man (prajurit yang memimpin di depan) terluka, disusul oleh Letnan Clark, yang tertembak di bagian perut akibat semburan tembakan musuh.

Saat Peleton ke-1 membalas tembakan, Kolb mencoba mengarahkan Peleton ke-3 ke arah kanan, tetapi orang yang ditunjuknya langsung terbunuh. Kolb lalu menarik anak buahnya mundur dan menggerakkan mereka untuk maju ke sisi kiri Peleton ke-1, namun dia terbunuh dalam semburan tembakan dari musuh yang tidak terlihat. Staf Peleton Pertama Sersan. Melvyn Hamana Kalili kemudian juga terbunuh saat dia bergerak maju dalam upaya membantu point man yang terluka. Ketika para pemimpinnya terbunuh, peleton-peleton itu merunduk ke tanah dan serangan terhenti. Ketika para pemimpin juniornya tumbang satu demi satu, Kapten Bateman, komandan Kompi C yang bertubuh kecil namun suka berkelahi, berusaha mempertahankan unitnya yang goyah dalam pertempuran, namun berpindah dari satu peleton ke peleton lainnya, ia menjadi sasaran tembak. Ketika dia terluka oleh tembakan senapan, Kompi C secara efektif berhenti bertempur, kecuali Peleton ke-2. Peleton Kedua telah terhindar dari tembakan gencar seperti yang dialami dua peleton lainnya, tetapi setelah bergerak cepat dalam panas terik dan kelembapan hutan di sisi lain pagar tanaman, pemimpin peleton Letnan Hack dan yang lainnya menjadi korban panasnya cuaca. Berbicara dengan Hack di radio, saya tahu penilaiannya terganggu. Peleton Kedua mundur ke darat, dan Kompi C tidak lagi efektif menjadi kekuatan tempur.
ANOTHER CUSTER
Saat aku mendengarkan situasi putus asa yang terjadi, aku buru-buru membersihkan senapan CAR-15-ku, memeriksa magasinku yang sudah dimuat dan menyiapkan peralatan webku untuk tinggal lebih lama di medan tempur. Komandan batalion saya, Letkol George Armstrong Custer III, cicit keponakan dari si “Rambut Kuning” (komandan kavaleri terkenal dalam bencana terburuk Angkatan Darat Amerika, di pertempuran “Little Bighorn” tahun 1876 selama perang Indian), bergegas kembali ke batalion dengan helikopter komando dan kendali (C&C) untuk menjemput saya. Custer adalah pemimpin yang lincah. “Botak, berwajah kotak, dan bermulut buruk” adalah gambaran dari komandan batalion lain di brigade tersebut, mengacu pada sifat agresif Custer dalam mendiskusikan masalah taktis dengan atasan dan bawahan. Dalam suatu diskusi sengit yang dilakukan Custer dengan komandan batalion lainnya, saya harus turun tangan secara pribadi. Yakin bahwa Custer akan mengarah ke letnan kolonel lain, saya mengambil segenggam bagian belakang seragamnya. Dia langsung berbalik, tersenyum lebar ke arahku dan berjalan keluar ruangan. Saya telah berada di bawah komando Custer selama sekitar tiga bulan dan telah melihat bagaimana sifat tak kenal takut dan keingintahuannya selalu menjauhkannya dari bencana. Tangguh, namun juga baik hati, ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk melakukan aksi kemanusiaan. Dia pernah memerintahkan pilotnya untuk mendaratkan helikopter observasi tak bersenjatanya di sebuah desa yang loyalitasnya dipertanyakan untuk membawa seorang anak yang sakit dan ibunya ke rumah sakit. “Kolonel, Anda harus berhenti melakukan hal ini,” kata saya kepadanya sesudahnya. “Anda akan membuat diri Anda sendiri—dan pilotnya—terbunuh di salah satu desa yang tidak aman ini.” Dia tersenyum menyesal, lalu menoleh ke arahku: “Kamu tidak boleh bicara seperti itu kepadaku,” katanya, masih tersenyum. “Saya komandanmu”. Saat kami terbang dari FSB Jackson menuju lokasi pertempuran di Renegade Woods, Custer dengan tenang memberi kesan pada saya perlunya mengambil alih situasi di lapangan. “Kamu tidak akan punya banyak waktu untuk mengendalikan keadaan sebelum gelap,” kata Custer. “Tidak ada cara untuk mengetahui seperti apa kondisi Kompi Charlie sampai kamu tiba di sana. Kamu harus menguasai situasi. Beri tahu aku apa yang kamu butuhkan, dan aku akan memastikan kamu mendapatkannya. Perhatikan disiplin tembakanmu. Kamu (tentunya) tidak ingin kehabisan amunisi (disana).” Kami telah sepakat bahwa akan menyederhanakan masalah komando jika saya masuk dengan satu radio di jaringan komando batalion, sehingga saya dapat bergerak di medan perang tanpa antena radio tambahan memancing tembakan. Saya akan meminta dukungan artileri dan udara darinya, dan dia akan menanganinya dari helikopter C&C.


MASUK KE HUTAN RENEGADE
Dilindungi oleh helikopter gunship (helikopter bersenjata) dari Kompi Helikopter ke-118, tujuh helikopter UH-1 slick (helikopter angkut) yang membawa Peleton ke-1 Kompi B, dua regu dari Peleton ke-2 dan kelompok komando Criswell mendarat pada pukul 14:23 di sebuah LZ yang terletak di dalam lengkung tapal kuda di Sungai Vam Co Dong di tepi utara Hutan Renegade. Huey C&C kami muncul dan mendarat di belakang helikopter slick terakhir. Custer menjabat tangan saya dan saya melompat keluar bersama operator radio saya, Spc. 4 Danny Klossner. Untung saja LZ-nya relatif tenang. Saya lalu mengadakan konferensi terburu-buru dengan Criswell, yang telah berada di lapangan selama beberapa hari. Saya mengatakan kepadanya bahwa kami harus mengendalikan situasi di lapangan dengan cepat, tanpa menunggu rombongannya yang lain. Saya tidak tahu berapa banyak waktu atau kekuatan tempur yang diperlukan untuk membersihkan musuh, tapi kami harus siap; kekuatan kami yang kecil dan sisa Kompi C harus bersiap untuk membuat pertahanan sebelum gelap. Kami tidak khawatir tentang dukungan yang bisa kami dapatkan. Custer, yang ahli dalam mengoordinasikan kekuatan udara dan artileri, mempunyai artileri yang siap dipanggil tanpa batas dan dukungan udara yang sangat banyak di posisinya, karena saat itu adalah hari yang tenang untuk beraksi di tempat lain di divisi tersebut. Dengan adanya Custer di helikopter di atas, kami tahu kami akan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Saya harus melakukan dua hal lagi sebelum kami mulai beraksi, yakni: Memberi Custer rencana pergerakan saya untuk melakukan kontak dengan musuh, dan menggunakan asap untuk menandai pergerakan kami melalui hutan. Kekhawatiran terbesar saya saat kami bergerak di bawah hutan kanopi adalah serangan salah sasaran dari dukungan udara dan artileri kami sendiri. Namun, di helikopter di atas, Custer telah mengatur hal ini dengan perwira penghubung artileri Kapten C. Merton Agena, dan dalam beberapa detik setelah asap membubung melalui kanopi, peluru artileri menghantam posisi musuh yang diketahui di depan kami. Laporan radio dari Kompi C yang sebagian besar tidak memiliki pemimpin dan bersembunyi di hutan mengindikasikan bahwa artileri kami mengenai posisi musuh, dan tembakan musuh telah jatuh tidak tepat sasaran, kecuali dari satu tempat di sisi kanan depan mereka. Saya lalu memerintahkan Kompi C untuk tetap di tempatnya dan terus menembaki musuh sampai orang-orang dari Kompi B melewati posisi mereka. Volume tembakan senjata kecil dari arah mereka tidaklah menggembirakan. Tampaknya sebagian besar merupakan tembakan musuh, dan beberapa peluru pelacak yang kami amati berwarna hijau.


Pada jam 14:45, elemen utama Peleton ke-1, Kompi B, mulai menerima tembakan senjata ringan dan senapan mesin ringan, namun tembakannya ringan dan tidak teratur, jadi saya memerintahkan penyerangan segera. Criswell menempatkan Peleton ke-2 yang kekurangan orang sejajar dengan Peleton ke-1 yang berkekuatan penuh dan memulai penyerangan. Peningkatan volume tembakan musuh memperlambat peleton terdepan, dan serangan dihentikan sebentar untuk mencegah peleton yang tertinggal menembak ke arah peleton tersebut. Pada titik ini, sekelompok kecil tentara musuh muncul dari pagar tanaman, berusaha melarikan diri atau mencoba melakukan serangan dari sisi. Peleton Pertama menembak jatuh dua orang, dan sebuah helikopter gunship membunuh dua orang lainnya saat mereka mengubah arah dan mencoba melarikan diri. Seorang pria dari Peleton ke-1 terluka dalam pertemuan singkat itu. Pada saat ini, Peleton ke-2 dapat melanjutkan penyerangan. Meskipun musuh tidak lagi mempertahankan posisi secara terorganisir, para sniper dibiarkan dalam misi bertahan atau tidak dapat mundur bersama unit mereka. Mereka membunuh Letnan 2 Orville Kitchen, pengamat artileri garis depan di Kompi B, dan Spc. 4 John Lyons, seorang operator telepon radio. Kami kemudian mengarahkan artileri dan serangan udara ke posisi tersebut, yang dengan cepat menjadi tidak dapat dipertahankan oleh NVA. Kecuali aktivitas penembak jitu, sekitar pukul 15:00, semua laporan mengindikasikan bahwa musuh telah menarik diri dari kontak, meninggalkan posisi yang telah disiapkan dan menyelinap pergi ke tempat yang lebih aman. Pada titik ini, Criswell mengalihkan perhatiannya ke titik panas yang dilewati, tempat point man yang mati masih terbaring. Sersan Stephen Adams, pemimpin regu Peleton 1, dan Spc. 4 Richard Nast, seorang petugas medis, mengajukan diri untuk mengambil jenazah tentara tersebut, namun upaya tersebut dibatalkan ketika senapan mesin ringan membuka tembakan kembali. Spesialis 4 Orlando Noriega, seorang penembak mesin Peleton 1, menembakkan senjatanya dan membungkamnya.
NDP
Pada pukul 18:00, cahaya di bawah kanopi yang suram mulai padam, dan saya tahu inilah saatnya untuk mulai beralih ke posisi bertahan malam (NDP). Sepanjang pertempuran sore itu, Custer terus memberiku informasi tentang rencana untuk menutup posisi pasukan musuh di Hutan Renegade, agar pasukan musuh bisa dikepung dan dihancurkan. Pasukan kami akan diperbesar keesokan harinya dengan penambahan dua kompi infanteri mekanis dari Batalyon ke-2, Resimen Infanteri 22, “Triple Deuce”. Ketika hari berakhir, kontak musuh berkurang menjadi sekedar tembakan sniper sesekali. Aku tahu masih banyak pertempuran yang harus dilakukan, tapi itu harus menunggu hingga besok karena amunisi kami hampir habis dan masih banyak yang harus dilakukan pada jam-jam terakhir siang hari. Lokasi NDP ideal: Dekat LZ, di tikungan yang dibentuk oleh sungai dan didukung oleh tembakan artileri dari Pangkalan Dukungan Tembakan Hull dan Hampton. Pada pukul 18:20, Sersan 1 Domingo Rodriguez-Colon tiba di LZ dengan sisa Kompi B, satu peleton penuh dan regu yang hilang dari Peleton ke-2 yang kekurangan orang. Dia diperintahkan untuk mulai mengorganisir NDP, membuka posisi penembakan jika diperlukan. Dua puluh menit kemudian, saya memerintahkan Kompi B untuk memutuskan kontak dan mundur ke NDP. Yang harus pertama kali dilakukan dalam urusan ini adalah mengumpulkan dan mengatur ulang Kompi C. Criswell agar segera membuat kompinya memiliki kekuatan penuh di lapangan, kecuali mereka yang sudah menjadi korban jiwa pada hari itu. Letnan Satu Cyril Weisner, pejabat eksekutif Kompi C, kemudian tiba bersama Sersan 1. Gengoro Higa untuk mengambil alih komando kompinya, yang telah kehilangan seluruh perwiranya karena tewas atau terluka dalam pertempuran hari itu. Kompi itu masih kekurangan pemimpin yang cukup untuk bisa menjadi efektif sepenuhnya, namun saya memutuskan bahwa mencoba memperkenalkan perwira pengganti di tengah-tengah pertempuran dapat mengakibatkan kebingungan dan keragu-raguan. Serangan udara terakhir hari itu dilakukan oleh pilot OV-10 Bronco Kapten John MacLeod. Ketika para petempur menarik tembakan dari darat, dia terbang berguling dan meledakkan sumber tembakan dengan roket dan senapan mesinnya sendiri. Tembakan musuh lalu berhenti. Setelah saya mengeluarkan perintah untuk menyelesaikan pertahanan malam kami, saya mengikuti beberapa percakapan radio dengan Kolonel Custer. Saya sudah tahu bahwa kami akan memulai operasi di pagi hari dengan bala bantuan yang signifikan. Kompi A dari batalion kami telah diterbangkan ke sekitar 1.000 meter di selatan kami, tempat mereka sedang mempersiapkan NDP. Dua kompi infanteri mekanis dari batalyon Infanteri 2-22 akan berada di bawah kendali operasional kami pada hari berikutnya. Bersama-sama, lima kompi dari gugus tugas ini akan menutup Hutan Renegade dan menghancurkan musuh.


Malam itu hanya terganggu oleh gumaman tembakan artileri di kejauhan dan pertunjukan memukau yang dilakukan oleh sebuah pesawat gunship AC-119 Angkatan Udara, yang menghujani tembakan ke posisi musuh di dekatnya. Aku tidak bisa tertidur nyenyak karena rasa sakit akibat pecahan RPG di lengan kiriku. Klossner, petugas radio saya, mengalami retak pada tulang rusuk akibat ledakan yang sama. Saya memaksanya untuk dibawa pergi ke Cu Chi dengan helikopter. Meskipun kami tidak mengetahuinya pada saat itu, kami menghadapi dua batalyon Resimen ke-271, Divisi VC/NVA ke-9, dan mereka mengalami banyak pertumpahan darah karena jumlah dan variasi sumber daya udara dan artileri yang dikerahkan pada hari pertama. Sebuah pertempuran, seperti permainan poker, menarik banyak pemain ketika tempat itu adalah satu-satunya yang ada di kota, dan tidak adanya aksi signifikan lainnya di area divisi pada saat itu menarik penggunaan bom dan peluru artileri dalam skala besar. Hal ini menimbulkan korban jiwa yang jauh melebihi apa yang akan diderita oleh pihak Komunis seandainya mereka mempunyai lebih banyak waktu untuk melepaskan diri dan melarikan diri ke tempat perlindungan mereka di Kamboja, seperti kebiasaan mereka biasanya. Kolonel Custer memiliki kecenderungan yang sama dalam mengambil risiko seperti kakeknya, tetapi keberuntungan dan waktunya lebih baik. Semua yang saya pelajari tentang aktivitasnya selama pertempuran hari itu, kecuali perintahnya yang tenang dan pertanyaan di radio, diambil dari komentar-komentar yang terkadang singkat dan terkadang heboh dari para pilot yang mengamatinya di udara. Si Rambut Kuning ‘berkuda’ lagi. Apa yang dia lakukan untuk pasukannya di darat adalah menempatkan kekuatan udara yang mematikan di tempat yang kami butuhkan, saat kami membutuhkannya. Dia membiarkan kami bertarung di lapangan. Tidak ada prajurit infanteri tempur yang bisa meminta lebih. Tanggal 3 April dimulai dengan pengintaian medan pertempuran di pagi hari. Aksi ini termasuk memulihkan dua Rangers dan tiga Wolfhound yang mayatnya tertinggal di medan perang semalaman, karena mengambil mereka dalam kondisi kurang cahaya di hadapan sniper musuh akan menjadi risiko yang terlalu besar. Kelompok komandoku yang mengecil, termasuk Danny Klossner yang menyeringai meski terluka, yang menaiki helikopter pasokan dari Cu Chi untuk bergabung kembali dengan kami, berpindah antara Kompi B Criswell dan Kompi C yang babak belur, dipimpin oleh satu-satunya perwiranya, Letnan Weisner. Kami bergerak ke barat untuk bergabung dengan Kompi A dan Kompi B mekanis, Batalyon Infanteri 2-22, maju dari arah selatan.
HAMMER & ANVIL
Masih ada satu tugas pemulihan lagi. Sehari sebelumnya, salah satu dari dua helikopter gunship UH-1C dari Kompi Helikopter ke-118 ditembak jatuh oleh tembakan darat. Pilotnya berhasil melakukan pendaratan darurat di tempat terbuka sekitar 800 meter sebelah barat lokasi kontak awal pertempuran. Para kru diselamatkan oleh rekan skuadron mereka di helikopter gunship lainnya. Pod roket di satu sisi helikopter yang terbakar dan “meledak” setelah awaknya pergi, namun sisa senjata dan persenjataan di dalamnya masih utuh. Ketika dua kompi Wolfhound kami mencapai lokasi helikopter yang jatuh, kami memindahkan persenjataannya agar dapat diangkat dengan helikopter angkut berat CH-54. Semakin pagi, kontak unit-unit penerbangan dengan musuh semakin sering terjadi, namun kontak antara prajurit infanteri menurun. Pukul 07.45, tim pengintai ringan yang ditugaskan di Pasukan Delta, Kavaleri 3-4, menerima tembakan yang tidak efektif dari tiga tentara musuh; dimana para pengintai membalas tembakan, membunuh ketiganya. Baku tembak serupa berlanjut sepanjang hari, namun kehadiran musuh jelas telah berkurang terlihat dari mereka yang mencoba melarikan diri. Selama dua hari berikutnya, sisa-sisa pasukan musuh dihancurkan melalui pemanfaatan kecepatan unit mekanis dalam gerakan hammer-and-anvil (palu dan landasan). Pada tanggal 5 April, Kompi A yang terdiri dari Batalyon Infanteri 2-27 diperintahkan untuk “mundur” selama 24 jam di Cu Chi sementara dua kompi infanteri mekanis dan dua kompi senapan melanjutkan misi pembersihan mereka, didukung erat oleh dukungan udara yang tersedia. Tidak ada lagi kebutuhan akan kendali terpusat di lapangan dan sudah waktunya bagi saya untuk kembali ke batalion. Skor akhir dari pertempuran di Hutan Renegade adalah pengingat mengerikan akan dampak perang. Sebanyak 101 mayat musuh dihitung di medan perang. Ada satu tawanan perang musuh, dan dua orang yang berpindah pihak dalam konflik. Penyimpanan berisi 49 peluru RPG, 70 peluru mortir kaliber 82 mm, dan 100 peluru mortir kaliber 60 mm ditemukan dan dievakuasi. Dua pon (sekitar 1 kg) dokumen, dua peluncur RPG, lima senapan AK-47, dua senapan SKS, tiga ranjau claymore ChiCom, 19 granat tangan ChiCom, satu radio lapangan ChiCom dengan S.O.I., 1500 butir amunisi senjata kecil, 400 butir amunisi kaliber .51, satu magasin RPD terisi, 23 butir amunisi senjata recoilless kaliber 75mm, empat pon (sekitar 2 kg) perlengkapan medis, sekantong beras, dua ransel NVA, empat kantin NVA, lima ponco NVA, tiga sekop NVA, dua senter, dan enam pon pakaian dan perlengkapan jaring lainnya dikumpulkan selama penyisiran di medan perang dan dievakuasi ke Cu Chi. Rampasan lain berisi 43 butir amunisi kaliber 82 mm, 30 butir amunisi kaliber 60 mm dan tiga butir amunisi kaliber 75 mm ditambah sebuah pembidik mortir kaliber 82 mm dan satu ton beras tanpa kantong ditemukan oleh kedua kompi pada pukul 11:36 dan dihancurkan.

BIAYA PERTEMPURAN
Korban kami sendiri berjumlah 12 orang tewas, termasuk satu orang yang kemudian meninggal karena luka yang diterima dalam pertempuran tersebut. Delapan di antaranya adalah anggota Wolfhound dari batalion kami, dua adalah personel Rangers dari Kompi F Resimen Infanteri ke-75, dan satu lagi adalah pengamat artileri garis depan dari Baterai B, Batalyon Artileri 2-77, di lapangan bersama Kompi B, Batalyon Infanteri 2-27. Tiga puluh lima pria lainnya terluka dan dirawat di rumah sakit, dengan delapan belas diantaranya segera kembali bertugas setelah menerima perawatan. Walaupun pastinya tidaklah sempurna, keberhasilan kami di Hutan Renegade hampir sama dengan contoh buku teks tentang aksi senjata gabungan. Empat baterai artileri, yang menembakkan meriam kaliber 105 mm dan howitzer kaliber 155 mm dan 8 inci (203 mm), telah menembakkan 741 peluru, sebagian besar berbahan peledak tinggi. Unit penerbangan Angkatan Darat yang mencakup Kompi A dan B dari Batalyon Penerbangan ke-25, kompi Helikopter Serbu ke-116, ke-118 dan ke-187, serta Pasukan D, Skuadron ke-3, Kavaleri ke-4, menerbangkan ratusan misi. Dukungan besar-besaran diberikan oleh Angkatan Udara. Saraf baja dari pilot-pilot kelompok Kontrol Udara Taktis Divisi Infanteri ke-25 menerbangkan 36 misi dengan pesawat OV-10 mereka untuk mengarahkan dan menandai lokasi di darat untuk 18 serangan udara dari pesawat COIN A-37 dan pesawat pembom tempur F-100 dari tiga wing tempur taktis. Serangan udara tersebut menjatuhkan total 92 bom berdaya ledak tinggi dari berbagai jenis, bersama dengan 48 bom napalm seberat 500 pon (226 kg) dan delapan bom napalm seberat 750 pon (340 kg). AU juga menerbangkan tiga misi dengan pesawat gunship AC-119 Shadow. Meskipun ada unsur keberuntungan dalam hal jumlah besar aset yang tersedia untuk mendukung pertempuran di Renegade Woods, saya ingat Custer pernah mengatakan kepada saya bahwa kitalah yang menciptakan keberuntungan kita sendiri. Namun pada intinya, Custer hanya mengikuti apa yang diajarkan di Sekolah Infanteri pada masa itu, yaitu: Perencanaan yang cermat diikuti dengan pelaksanaan rencana yang penuh kekerasan. Setelah bertugas di Wolfhounds, Howard Landon “Dutch” McAllister adalah komandan di Akademi Militer Carolina, perwira urusan publik di National War College dan kepala Layanan Berita Angkatan Darat sebelum pensiun pada tahun 1979.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
CHEWING UP CHARLIE IN THE RENEGADE WOODS By HOWARD LANDON “DUTCH” MCALLISTER; 5/9/2012
https://history.army.mil/documents/vietnam/reneg/rtxt.htm
Renegade Woods Battle 2 Apr 1970 – Corrections; Unofficial After Action Report
Phillip John Norton, Collin Hall, Don Purdy, Fred Stuckey – 75th Rangers (2022)
https://www.centaursinvietnam.org/WarStories/WarEssays/E_RenegadeWoodsAA.html
Command Sergeants Major by Howard Landon McAllister
