Perang Vietnam

Babak Pembuka Perang Melawan Khmer Merah, 1977-1978, Sebuah Pengalaman Yang Tidak Menyenangkan Buat Vietnam

Kisah pertempuran yang kurang begitu dikenal, sering kali menjadi peristiwa yang terlupakan dan kerap menghalangi pemahaman tentang jalannya perang secara keseluruhan. Terkadang seluruh rangkaian peristiwa tersebut hanya digantikan dengan mitos propaganda sederhana. Salah satu dari pertempuran-pertempuran semacam ini terjadi dalam konflik bersenjata yang melibatkan Vietnam dan Kamboja yang dikuasai Khmer Merah pada penghujung dekade tahun 1970an. Mempelajari sejarah perang di Kamboja, bukanlah hal yang mudah, karena arsip militer Vietnam kerap kali tidak mungkin ditemukan, dan arsip militer Khmer Merah biasanya dihancurkan atau dihilangkan di suatu tempat (menurut beberapa laporan, arsip-arsip itu dibawa ke Hanoi setelah Vietnam menguasai Phnom Penh pada awal tahun 1979). Oleh karena sukar untuk mendapatkan informasi dari kedua belah pihak yang terlibat, maka arsip-arsip mengenai peristiwa tersebut hanya bisa ditemukan pada beberapa sumber dari pihak ketiga. Sumber-sumber yang kemudian bisa didapat, salah satunya berasal dari surat kabar Singapura “The Straits Times”, yang arsip teks lengkapnya dimuat di situs web Perpustakaan Nasional Singapura (bisa diakses di https://search.nlb.gov.sg/). Dari situ dapat dicari informasi-informasi yang menyebutkan nama khmer rouge (nama sebutan Khmer Merah yang umum digunakan pada waktu itu), untuk mendapatkan kisah-kisah yang lebih informatif. Informasi-informasi itu didapat para jurnalis, biasanya berasal dari kantor surat kabar di Bangkok, yang jika dirunut lagi mendapatkan informasi yang diberikan oleh pihak intelijen Thailand. Pihak berwenang Thailand waktu itu sangat tertarik dengan semua yang terjadi di Kamboja, karena Thailand adalah negara yang paling dekat dengan Kamboja (dimana rezim Khmer Merah yang berkuasa akan dikalahkan dalam kampanye militer berikutnya melawan Vietnam). Orang-orang Khmer Merah kemudian juga akan mengungsi ke wilayah perbatasan Thailand setelah orang-orang Vietnam masuk. Sementara itu, karena merasa kesulitan bekerja dengan mengandalkan agen, intelijen Thailand didesak untuk melakukan intersepsi radio. 

Sebuah gerobak sapi melewati tank Vietnam yang hancur di provinsi Svay Rieng Kamboja, Juli 1979. Perang yang pecah antara Vietnam dan pihak rezim Khmer Merah Kamboja yang terentang antara tahun 1977-1979 adalah salah satu konflik yang kerap terlupakan dengan informasi yang sukar diperoleh dan samar-samar, walau jelas memakan korban yang tidak sedikit. (Sumber: https://thediplomat.com/)

Intersepsi radio – intelijen Thailand – surat kabar The Straits Times. Begitulah jalur diperolehnya informasi dari medan perang dan dari pihak-pihak yang bertikai sampai  bisa masuk ke halaman surat kabar. Memang dengan cara seperti ini, berita yang didapat tidak semuanya akurat dan lengkap, bahkan bisa dibilang merupakan data mentah yang perlu diverifikasi, tetapi setiap berita tersebut dilengkapi dengan tanggal rilis informasi yang tepat diberitakan di surat kabar. Dengan menelusuri informasi semacam ini, dimungkinkan untuk disusun tabel yang merangkum kronologis peristiwa, dan titik geografis yang disebutkan dalam pesan memungkinkan untuk memetakan peristiwa yang diinformasikan di dalam peta. Dari potongan-potongan informasi yang dikumpulkan dan dirangkai, muncullah gambaran yang cukup menarik tentang sejarah perang antara Khmer Merah Kamboja dan pihak Vietnam, dimana ditemukan informasi pertempuran-pertempuran yang terlupakan yang tidak disebutkan oleh sumber lain mana pun. Ini adalah informasi mengenai pertempuran-pertempuran yang berlangsung dari bulan September 1977 hingga bulan Juni 1978, yaitu sepanjang musim kemarau tahun 1977/78, musim dimana biasanya pertempuran pecah di kawasan Indochina masa itu. Peristiwa-peristiwa ini terlupakan karena, boleh dikatakan, cukup tidak menyenangkan, bagi pihak Vietnam khususnya.

Pasukan Vietnam dan Pemberontak Kamboja Anti Khmer Merah “membebaskan” Phnom Penh tahun 1979. Meski pada akhirnya bisa menumbangkan kekuasaan Khmer Merah, namun militer Vietnam banyak mendapat pengalaman tidak menyenangkan dalam menghadapi pasukan Khmer Merah yang ahli gerilya dan sekaligus brutal. (Sumber: https://en.qdnd.vn/)

Citra Vietnam yang kerap dipuji-puji dalam pertempuran dan dianggap pernah mengalahkan Amerika, pada masa perang melawan Khmer Merah, dikabarkan pernah menderita kerugian besar dan terpaksa mundur. Mereka bisa menderita “kerugian besar”, dan melakukan pengunduran diri ini disebabkan oleh siapa? Jawabannya adalah oleh Khmer Merah, yang hanya 5-6 tahun sebelumnya, direkrut oleh pihak Vietnam sendiri di dalam hutan, dipersenjatai, dan dilatih untuk berperang! Artinya, ini sangat memalukan. Sulit bagi kita untuk membayangkan, misalnya, seolah-olah tentara DPR (Kelompok Separatis Donbass-Ukraina dukungan Russia) telah memukul mundur tentara Rusia Dalam pertempuran, begitulah gambaran rasa malu yang mungkin dirasakan oleh Vietnam. Jelas bahwa mengenai kekalahan ini Vietnam sama sekali tidak ingin membicarakannya. Toh, beberapa pihak menyebutkan bahwa pihak Vietnam tidak dipukul mundur, tetapi memang “sengaja” mengundurkan diri. Pada akhirnya, invasi skala besar yang kemudian dilakukan tentara Vietnam dan sukses menumbangkan rezim Pol Pot yang kejam, tampaknya menjustifikasi invasi ke Kamboja dan cukup mampu menyembunyikan rasa malu atas kerugian yang dialami mereka sebelumnya.

LATAR BELAKANG KONFLIK YANG TIDAK JELAS

Bagaimana awal mula perang “saudara” komunis dimulai antara Kamboja dan Vietnam (ini adalah kasus unik ketika Komunis bertempur di kedua sisi, setidaknya pada awalnya, sampai Khmer Merah menyatakan meninggalkan ideologi komunisme pada tahun 1981), menurut beberapa pihak disebut masih belum begitu jelas benar, terutama dari pihak-pihak yang berasal dari negara-negara komunis. Menurut mereka kedua negara diketahui memiliki ideologi yang sama, pernah bersekutu, kawan seperjuangan, dan lain-lain. Vietnam lebih dikenal pro-Soviet, sedangkan Kamboja lebih pro-China, tetapi alasan obyektif kenapa mereka sampai harus berperang tidak pernah terlihat dengan jelas. Dari golongan ini terdapat pendapat yang mengatakan bahwa, pihak komunis Vietnam dan Kamboja diadu oleh pemberontak anti-komunis Kamboja. Pihak yang curiga akan akan hal ini, berargumen bahwa di Vietnam selatan pada tahun 1978, dikabarkan mulai beroperasi detasemen Fam Nam Ha, dan kemudian bekas Komodor Angkatan Laut Vietnam Selatan, Hoang Koh Min membentuk pasukan Front Persatuan Pembebasan Nasional Vietnam (namun berdasar penelusuran di internet, sementara tidak ditemukan sumber-sumber yang mengklarifikasi akan kebenaran kisah ini). Pada bulan Mei-Juni 1977, dikabarkan juga telah terjadi pertempuran “aneh” di perbatasan daerah Ha Tien, yang masuk wilayah Vietnam Selatan dengan pasukan “liar” yang datang dari arah Kamboja. Pasukan “liar” ini kemudian ditulis oleh wartawan Singapura bahwa mereka adalah “pemberontak Kamboja atau Vietnam”. Meski demikian, muncul juga pihak lain yang meyakini bahwa pertikaian antara Khmer Merah dan Vietnam tidak mustahil terjadi dengan sendirinya, sebelumnya pada tahun 1976 sudah muncul perpecahan pertama dalam kepemimpinan Khmer Merah. Pol Pot dan para pembantu terdekatnya gagal memahami bahwa “gagasan gila” mereka tentang masyarakat utopia Kamboja terbukti gagal, sebaliknya mereka malah meluncurkan perburuan yang cenderung paranoid terhadap apa yang mereka sebut sebagai “pengkhianat” yang bertanggung jawab atas ” runtuhnya” revolusi yang mereka lancarkan. Fraksi lain dalam Khmer Rouge yang dicurigai adalah para pemimpin yang telah dilatih di Vietnam, mereka kemudian menjadi korban utama perburuan baru Pot dan ribuan orang dibantai dalam pembersihan partai yang berdarah. Hanya beberapa ratus dari mereka yang berhasil melarikan diri ke wilayah Vietnam, di mana mereka membentuk diri menjadi Front Persatuan Nasional untuk Penyelamatan Kampuchea (NUFSK), sebuah kekuatan yang mengklaim sebagai fraksi anti-Khmer Merah, dan meminta bantuan Vietnam untuk mendongkel Pol Pot dari kekuasaannya di Kamboja. Berdasar perkembangan ini, sebenarnya bisa dibilang benih-benih permusuhan antara Khmer Merah Kamboja dan Vietnam sudah tersemai.

Para pemimpin Khmer Merah Kamboja (Kiri-Kanan), Pol Pot, Noun Chea, Leng Sary, Son Sen dan pendukung lainnya berfoto di Phnom Penh selama pemerintahan rezim Khmer Merah, pada tahun 1975. (Sumber Foto: HENG SINITH / EPA / https://www.theguardian.com/)
Orang Kamboja bekerja keras pada proyek irigasi di provinsi Kompong Thom pada tahun 1976. Dalam waktu tidak terlalu lama setelah mereka berkuasa, menjadi jelas bahwa konsep masyarakat “utopia” ala Khmer Merah tidak berjalan dengan baik, dan bahkan membawa Kamboja kepada kemundurannya. Hal ini kemudian menimbulkan ketidakpuasan diantara anggota Khmer Merah sendiri. (Sumber: Pusat Dokumentasi Kamboja/https://www.ushmm.org/)

Sementara itu, pada perkembangan lain, hubungan antara kaum ultra-Maoistik di pihak Khmer Merah dan Cina semakin berkembang secara positif. Antara tahun 1975 dan 1977 Cina memasok rezim Pol Pot dengan lebih dari 200 tank, 16 pesawat tempur F-6C (MiG-19 Farmer versi China) beberapa kapal perang kecil untuk angkatan laut Kamboja, 30.000 ton amunisi, dan setidaknya 15.000 penasehat. Kehadiran orang-orang Cina di Kamboja ini berefek menyebabkan ketegangan yang semakin meningkat antara Pol Pot dan rezim Hanoi, yang secara historis memandang China sebagai sebuah ancaman. Disamping itu, meskipun sebagian dari pemimpin Khmer Merah secara ideologis bersekutu dengan Hanoi, bahkan sedari tanggal 1 Mei 1975, tepat setelah Vietnam Utara menaklukkan Vietnam Selatan, pasukan Khmer Merah telah memprovokasi dengan melancarkan serangan komando di Pulau Phu Quoc yang menjadi bagian wilayah Vietnam. Di situ pasukan Khmer Merah kemudian mundur tanpa bertempur, tetapi hanya sepuluh hari kemudian mereka berusaha mendarat di Pulau Tho Chu, di mana disini pihak Vietnam melakukan perlawanan dengan sengit. Pihak Khmer Merah lalu menyandera 515 warga sipil Vietnam dan mundur, namun kemudian mengeksekusi semua tawanan yang mereka sandera. Orang-orang Vietnam begitu marah, dan Angkatan Laut mereka kemudian melancarkan serangkaian operasi untuk menduduki kembali beberapa pulau yang dikuasai Khmer.

China memasok 16 pesawat tempur F-6C (MiG-19 Farmer versi China) ke Angkatan Udara Khmer Merah antara tahun 1975 dan 1978. Pesawat ini selamat selama invasi Vietnam pada tahun 1978, serta perang panjang pada dekade tahun 1980-an, dan saat ini dapat dilihat di gudang penyimpanan di Museum Angkatan Darat di Phnom Penh. Kedekatan rezim Khmer Merah dengan China menimbulkan kecurigaan pihak Vietnam yang senantiasa memandang curiga langkah-langkah China di kawasan Indochina. (Artwork by Tom Cooper/https://web.archive.org/)

Meskipun banyak orang merasa bahwa pemerintah komunis baru di Vietnam dan Kamboja pada akhirnya akan menyelesaikan perselisihan dengan semacam perjanjian politik, kebencian dan ketidakpercayaan mereka terhadap satu sama lain sudah terlalu dalam. Khmer Merah jelas mendapat dukungan dari Cina, saingan Vietnam di utara, sedangkan Vietnam dibantu oleh Uni Soviet, yang bersaing dengan Cina untuk menjadi pemimpin dunia komunis. Di samping itu, Pol Pot sendiri juga menunjukkan tanda-tanda sindrom “inferiority complex” yang parah ketika menyangkut komunis Vietnam, karena Vietnam-lah yang dulu pernah turut membantu komunis Kamboja mengatur diri mereka menjadi sebuah kekuatan politik. Bagi Pol Pot, fakta bahwa komunis Kamboja pernah membutuhkan bantuan dari luar untuk menyatukan tindakan mereka sangatlah memalukan sehingga dia membersihkan ribuan kader Khmer Merah hanya karena pemimpin KR tertentu mengakui bahwa partai komunis Kamboja didirikan pada tahun 1951, dimana pada saat itu komunis Vietnam terlibat dalam membantu pemberontakan komunis di Kamboja. Sementara itu, Pol Pot bersikeras bahwa partai tersebut tidak benar-benar memulai aktifitasnya sampai tahun 1960, ketika dia diangkat di Komite Sentral partai. Perbedaannya mungkin tampak seperti historikal akademis, tetapi paranoia ekstrem Pol Pot atas pengaruh Vietnam menyebabkan kematian banyak orang Kamboja yang terkait dengan orang-orang Vietnam pada awal 1950-an. Beberapa teman tertua Pol Pot disingkirkan dan dibunuh dalam pembersihan itu. Untuk menghapus gambaran bahwa seolah-olah Khmer Merah ada di bawah bayang-bayang komunis Vietnam, pihak Khmer Merah tampaknya bersedia memulai perang hanya untuk meningkatkan rasa kemerdekaan mereka. 

PERTEMPURAN-PERTEMPURAN KECIL DI PERBATASAN & PENINGKATAN ESKALASI

Pada tahun 1976 situasinya sudah sangat tegang, karena jumlah insiden perbatasan terus meningkat. Orang-orang Vietnam sekarang menerbangkan sejumlah misi pengintaian bersenjata untuk menunjukkan kekuatan mereka, tetapi mereka jarang menyerang. Namun demikian, pada tanggal 25 Februari, sebagai pembalasan atas serangan Khmer Merah lainnya, sebuah flight pesawat tempur MiG-21 yang lepas landas dari Pangkalan Udara Pakse, di selatan Laos, dan membom kota Sieam Reap di Kamboja. Juga, setelah itu pada bulan Juni 1976, pasukan Khmer kembali menyerang pos perbatasan Vietnam di daerah Tien Thuan, dan kemudian pada awal tahun 1977 mereka juga menyerbu masuk Vietnam lewat Provinsi Svay Rieng dengan kekuatan dua atau tiga resimen dan beberapa unit artileri, dari bulan April di tahun yang sama kekuatan udara membalas dengan sejumlah serangan yang dilakukan oleh pesawat-pesawat A-1, A-37 (keduanya bekas milik AU Vietnam Selatan) dan MiG-21. Kemudian, setelah itu Angkatan Darat Vietnam memasang beberapa posisi pemblokiran di dalam wilayah Kamboja. Sementara itu, pihak Hanoi juga mencurigai bahwa kini China dapat mengerahkan unit dari angkatan udara mereka di Kompong Chnang. Pada saat itu sumber-sumber asal Vietnam juga mengklaim bahwa Khmer Merah akan mendapatkan satu skuadron dengan selusin atau lebih pesawat pembom H-5 (copy pesawat Il-28 Beagle asal Cina). Ketika jumlah insiden perbatasan terus meningkat, Vietnam akhirnya mulai melancarkan serangan pasukan khusus dan bahkan melibatkan seluruh divisi tentara ke Kamboja sebagai tanggapan atas tindakan agresif Khmer Merah. Pada tanggal 30 April 1977, misalnya, Khmer Merah menyerang dan menduduki kota Chau Doc di Vietnam. Ribuan warga sipil dibantai sementara sejumlah besar Khmer Kroeum – warga Vietnam asal etnik Kamboja – dideportasi kembali ke Kamboja. Khmer Merah kemudian memperluas serangan mereka ke Provinsi Tay Ninh.

Pilot Angkatan Udara Vietnam Utara di samping pesawat tempur MiG-21, pada masa perang Vietnam, 18 Januari 1972. Dalam konflik perbatasan dengan Kamboja di tahun 1977, beberapa kali AU Vietnam mengirimkan pesawat-pesawat MiG-21 untuk menjalankan misi serangan ke wilayah Kamboja. (Sumber: ADN-Bildarchiv / ullstein bild via Getty Images/https://www.businessinsider.com/)

Pada bulan Juli 1977, Vietnam menandatangani perjanjian kerja sama dengan negara tetangga Kamboja, yakni Laos, yang juga telah menjadi komunis pada tahun 1975. Khmer Merah memandang hal ini sebagai langkah agresif mencolok terhadap Kamboja, mengingat geografi wilayahnya (Laos ada di utara Kamboja), Pol Pot menafsirkan perjanjian sebagai langkah selanjutnya dalam strategi Vietnam untuk mencekik Kamboja. Melihat perkembangan ini, pikirnya, Kamboja-lah yang seharusnya berusaha mencekik Vietnam lebih dulu. Saat itu bagian selatan wilayah Vietnam diketahui dihuni oleh banyak warga etnis Kamboja, Khmer Krom, yang telah berada di wilayah itu selama beberapa generasi. Jika Khmer Merah memainkan kartu mereka dengan benar, mungkin Khmer Krom bisa digunakan untuk memberontak melawan Vietnam dan merebut tanah tersebut dari rival etnis mereka. Impian Pol Pot adalah membayangkan terwujudnya Kamboja yang lebih besar, di mana orang-orang Khmer dapat merebut kembali tanah yang pernah mereka kuasai di bawah kerajaan Angkor kuno. Rezim Khmer Merah kemudian mencapai sikap finalnya pada bulan September 1977 ketika Pol Pot berbicara selama hampir lima jam di radio Kamboja. Untuk pertama kalinya, Pol Pot mengakui kepada dunia bahwa Kamboja kini dijalankan oleh pemerintahan komunis. Sehari setelah berpidato dia terbang ke Beijing untuk bertemu dengan Hua Guofeng, yang baru saja menjadi pemimpin Republik Rakyat China setelah kematian Mao Ze Dong. Orang-orang Cina berjanji untuk mendukung persaingan Khmer Merah dengan Vietnam tetapi merekomendasikan untuk tidak melakukan perang habis-habisan, karena tahu betul bahwa Vietnam berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk memenangkan pertarungan yang mungkin terjadi. Pertemuan tersebut mungkin memang bisa menunda serangan Kamboja yang akan datang di Vietnam, tetapi orang-orang Vietnam sebaliknya menafsirkannya sebagai tanda lain dari dukungan militer China terhadap Kamboja yang semakin berbahaya.

Pol Pot pada tahun 1977 meluncurkan kampanye anti Vietnam dengan menyingkirkan banyak tokoh-tokoh Khmer Merah pro Vietnam dan melakukan langkah agresif dalam berkonfrontasi menghadapi Vietnam. (Photo by Frederic REGLAIN/Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.gettyimages.dk/)

Sementara itu, pada bulan September 1977, pertempuran di barat wilayah Ha Thien pecah dalam skala besar, dengan melibatkan prajurit, artileri, dan kekuatan udara Vietnam. Pada bulan itu juga, artileri Khmer Merah menyerang beberapa desa Vietnam di sepanjang perbatasan, dan enam desa di Provinsi Đồng Tháp dikuasai oleh pasukan infanteri Kamboja. Tak lama kemudian, enam divisi Khmer Merah maju sekitar 10 km (6,2 mil) ke Provinsi Tay Ninh, di mana mereka membunuh lebih dari 1.000 warga sipil Vietnam. Padahal bersamaan dengan itu, pada bulan September 1977, PM rezim Khmer Merah Kamboja, Khieu Samphan kabarnya sempat memberi selamat kepada rekan-rekan Vietnamnya atas Hari Kemerdekaan Vietnam. Toh hal itu tidak banyak mengubah keadaan, pada bulan Oktober 1977 tidak kurang dari tiga divisi mereka – semuanya didukung oleh banyak senjata artileri kaliber 105mm, 122mm, dan 130mm, serta tank Type-62 dan APC M-113 – dikerahkan setidaknya sejauh sepuluh kilometer jauhnya ke wilayah Vietnam. Selama pertempuran di daerah tersebut, pesawat-pesawat T-28D (buatan Amerika bekas Republik Kamboja) Kekuatan udara Khmer Merah untuk pertama kalinya terlihat terbang dalam misi dukungan udara jarak dekat. Meski agresifitas Khmer Merah terlihat mencolok, namun masih butuh waktu sampai Hanoi bereaksi dengan keras. Pada akhir bulan Desember 1977, pertempuran besar yang melibatkan kekuatan artileri dan udara pecah di provinsi Svay Rieng di Kamboja; dimana pihak Vietnam kabarnya kehilangan sekitar 2 ribu orang, tetapi kemudian pihak Vietnam mulai mengembangkan serangan mereka masuk ke pedalaman wilayah Kampuchea di provinsi Takeo dengan mengerahkan kekuatan hingga 5 divisi. Sepertinya, ini adalah pertempuran resmi pertama antara pasukan Vietnam dan Kamboja. Mungkin latar belakangnya masih belum begitu jelas, seperti yang dilaporkan dalam surat kabar Singapura pada tanggal 7 Desember 1977 bahwa Pol Pot dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Chen Yonggui karena suatu alasan melakukan perjalanan ke perbatasan Kamboja-Vietnam dan memeriksa beberapa hal di sana. Bagaimanapun fakta-fakta yang bisa dipercaya sampai kini belum cukup menjelaskan untuk memahami latar belakang konflik Vietnam-Kamboja seluruhnya.

PENGALAMAN PAHIT YANG TAK TERDUGA 

Segera setelah pecah pertempuran di sekitar perbatasan, enam divisi pasukan Vietnam melintasi perbatasan dan merebut semua wilayah Kamboja sebelah timur hingga ke kawasan sepanjang Sungai Mekong. Pada tanggal 3 Januari 1978, radio Phnom Penh melaporkan bahwa garis depan pertempuran hanya berjarak sekitar 100 km dari ibukota, dan Phnom Penh terancam dapat direbut dalam waktu 48 jam. Dalam keadaan genting ini, hubungan antara Kamboja dan Vietnam segera terputus, dan personel kedutaan Vietnam diusir. Vietnam lalu menyerang dari dua arah, di utara di sepanjang jalan raya nomor (Highway) 7, mereka pertama-tama ke arah barat laut kemudian membuat belokan ke selatan; dan di selatan, di sepanjang jalan raya nomor 2 melalui provinsi Takeo menuju ke arah Phnom Penh. Sementara itu, pihak Khmer Merah memiliki daerah kantong militer besar di provinsi Svay Rieng, “menusuk” jauh ke dalam wilayah Vietnam, di sepanjang Jalan Raya Nomor 1. Pada prinsipnya, situasinya tampak tidak terlihat terlalu sulit bagi orang-orang Vietnam. Pasukan Vietnam merebut jalur perlintasan ferry menyeberangi Sungai Mekong menuju ke kota Neak Luong, dari mana disini Phnom Penh akan mudah dijangkau. Menurut perkiraan intelijen Amerika yang ditulis di surat kabar, setidaknya ada sekitar 60 ribu tentara Vietnam yang didukung dengan armada tank melawan pasukan Khmer Merah yang berjumlah sekitar 20-25 ribu orang. Analis militer mana pun, dengan mempertimbangkan semua keadaan, jelas bertaruh bahwa tentara Vietnam akan segera dengan cepat memasuki Phnom Penh. Dan mereka ternyata salah. Pada tanggal 6 Januari 1978, pihak Khmer Merah melancarkan serangan balik yang kuat dan pada 8 Januari benar-benar memukul mundur pasukan Vietnam, meski beberapa sumber menyatakan bahwa pihak Vietnam sengaja mengundurkan diri. Radio Phnom Penh lalu melaporkan kerugian tentara Vietnam sebanyak 29 ribu orang tewas dan luka-luka, sementara sekitar 100 tank-nya hancur. Kebanyakan dari mereka, yakni 63 diantaranya, dihancurkan oleh pasukan Khmer Merah dalam pertempuran di sekitar Highway 7. Jelas ini adalah berita yang terlalu bombastis membesar-besarkan jumlah korban di pihak Vietnam, namun berbagai sumber memang menunjukkan pasukan Vietnam tidak bergerak maju menuju Phnom Penh dan memilih mengundurkan diri.

Pasukan Khmer merah. Tidak diketahui apakah foto ini berasal dari era sebelum atau setelah invasi Vietnam di penghujung tahun 1970an, yang pasti saat konflik melawan Vietnam, pasukan Khmer Merah sudah lebih baik perlengkapannya dibanding saat mereka memenangkan perang saudara tahun 1975. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Menanggapi perkembangan ini, Pol Pot dan Khmer Merah secara terbuka merayakan penarikan itu sebagai tindakan mundur yang memalukan bagi Vietnam, tetapi semangat anti-Vietnam mereka membutakan mereka terhadap implikasi jangka panjang dari serangan itu. Orang-orang Khmer Merah Kamboja lebih jauh untuk menyatakan bahwa “kemenangan tanggal 6 Januari kami atas upaya pencaplokan dari musuh agresor Vietnam telah memberi kami semua kepercayaan yang lebih besar pada kekuatan rakyat dan bangsa kami, pada Partai Komunis Kamboja kami dan Tentara Revolusioner Kamboja kami, serta pada kebijakan Perang Rakyat dari Partai “. Pimpinan Kamboja dengan percaya diri mengklaim bahwa satu tentara Kamboja setara dengan 30 tentara Vietnam, jadi jika Kamboja dapat mengumpulkan dua juta tentara dari populasi mereka yang delapan juta, maka mereka dapat memusnahkan populasi Vietnam yang berjumlah 50 juta dan masih memiliki enam juta orang yang tersisa. Pada kenyataannya, para pemimpin Kamboja mengabaikan kondisi penduduk di negara mereka sendiri dan Vietnam; orang Vietnam, meskipun sama-sama miskin, memiliki kondisi fisik yang baik, sementara penduduk Kamboja secara fisik dan mental kelelahan akibat kerja paksa, kelaparan, dan penyakit selama bertahun-tahun. Selain disparitas jumlah penduduk, juga terdapat disparitas yang besar antara kemampuan tempur angkatan bersenjata kedua negara. Pada tahun 1977, Vietnam setidaknya diperkirakan memiliki 615.000 tentara dan 900 tank, didukung oleh 12.000 anggota angkatan udara dengan 300 pesawat tempur, termasuk satu skuadron pembom ringan. Sebagai perbandingan, militer Khmer Merah Kamboja hanya memiliki 70.000 tentara, beberapa tank berat, 200 kendaraan lapis baja, dan kemampuan udara yang terbatas, yang sebagian besar disuplai oleh China.

Seorang perwira Vietnam yang tidak dikenal (kemungkinan besar seorang letnan) di Penjara S-21 Tuol Sleng di Phnom Penh; tampaknya ditangkap dalam invasi yang gagal Vietnam di awal tahun 1978. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Pasukan Vietnam dengan senjata recoilless di Front Kamboja 1978-1979. Buat orang Vietnam, bertempur melawan orang-orang Kamboja bukanlah suatu pengalaman yang menyenangkan. (Photo by Jean-Claude LABBE/Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Sementara itu, ketika orang-orang Vietnam kembali ke wilayah mereka, mereka membawa serta banyak prajurit Khmer Merah yang mereka tangkap, serta banyak pembelot Khmer Merah yang khawatir mereka akan dibersihkan oleh Pol Pot. Orang Kamboja ini lalu dipersiapkan dengan hati-hati dengan harapan pada akhirnya akan bisa mendirikan pemerintahan Kamboja yang selaras dengan kebijakan Vietnam di masa mendatang. Di antara orang-orang Kamboja yang dibawa serta ini adalah seorang letnan muda Khmer Merah bernama Hun Sen, yang melarikan diri dari negara itu setelah menyadari bahwa dia juga bisa menjadi sasaran pembersihan (Hun Sen di kemudian hari akan menjadi pemimpin Kamboja yang masih memerintah hingga sekarang). Selama beberapa hari terdapat laporan yang saling bertentangan tentang siapa yang menang, tetapi pada 9 Januari – 20 Februari 1978, Menteri Luar Negeri Vietnam, Phan Hien, melakukan beberapa perjalanan ke Beijing untuk menawarkan pihak Kamboja pembicaraan damai untuk mengakhiri perang “saudara” sesama negara komunis itu. Dari langkah ini, nampaknya bahwa Khmer Merah benar-benar memberikan pengalaman tidak menyenangkan pada orang-orang Vietnam. Belakangan, pihak intelijen Amerika juga melaporkan bahwa tentara Vietnam bergerak mundur dan sekarang menempati jalur sekitar 20 km di pedalaman Kamboja dari perbatasan Vietnam. Sementara itu, Khmer Merah pada tanggal 9 Januari 1978 melancarkan serangan ke dalam wilayah Vietnam, yang mencakup wilayah provinsi Kien Giang, An Giang, Long An yang ada di dekat perbatasan dengan Kamboja dan pada tanggal 19 Januari menyerang kota Ha Tien – kota pelabuhan laut, ibukota provinsi Kien Giang. Orang-orang Vietnam  dikabarkan kehilangan provinsi penghasil utama beras di Vietnam Selatan, yakni An Giang, sementara situasi di selatan negara itu hampir mendekati kelaparan. Sebaliknya, orang-orang Kamboja juga mendapatkan pukulan balik; saat pihak Vietnam berhasil merusak jalur rel kereta api dari Phnom Penh ke ke pelabuhan Kampongsom (dikenal juga sebagai Sihanoukville) tempat senjata dan amunisi dari China dikirim.

SALING TUKAR MENUKAR SERANGAN 

Untuk beberapa waktu, kedua belah pihak tidak melancarkan serangan berskala besar, tetapi saling bertukar serangan yang intensif. Pada bulan Februari 1978, sekelompok besar tentara Vietnam, dengan dukungan 30 tank, helikopter, dan pesawat terbang, mencoba maju ke Phnom Penh di sepanjang Sungai Bassak, dari arah selatan. Serangan itu kabarnya berhasil dipukul, dan pasukan Vietnam kemudian mundur. Pasukan Khmer Merah yang ada di provinsi An Giang juga sangat berhasil menangkis serangan Vietnam, namun mereka tidak lagi memiliki kekuatan untuk menyerang dan merebut kota Ha Thien, padahal pusat kota hanya berjarak 2,5 km saja. Pihak Khmer Merah kemudian mencoba menyelesaikan masalah tersebut dengan melakukan pendaratan dari arah laut. Sekitar tanggal 10–13 Maret 1978, sebuah batalion Khmer Merah mendarat di sebelah barat Ha Thien dan berusaha untuk bergerak maju, namun upaya itu gagal dan mereka kembali ke belakang perbatasan. Pasukan Khmer Merah kemudian menyerang balik pasukan Vietnam yang masuk wilayah Kamboja, dan dalam satu kasus, unit lapis baja Vietnam berhasil dihancurkan oleh Khmer Merah setelah diserang secara intens. Setelah menderita banyak korban saat mencoba untuk menyelamatkan diri, para awak tank tank Vietnam menuju tempat terbuka di hutan dan kemudian dievakuasi oleh helikopter-helikopter Vietnam. Sementara itu, orang-orang Kamboja kembali beruntung. Pada tanggal 16 Maret 1978, di provinsi Kampongtyam, Kolonel Nguyen Binh Tinh, seorang perwira dari markas besar divisi ke-5 Vietnam, berhasil ditangkap. Dia setelah diinterogasi menginformasikan tentang rencana serangan yang akan datang di provinsi Svay Rieng, Prey Veng dan Kompong Cham, di timur dan di timur laut Phnom Penh, pada bulan April 1978. Perwira tersebut mengatakan yang sebenarnya, dan pada tanggal 13 April 1978, tentara Vietnam melakukan serangan, yang berakhir dengan hilangnya 8-10 ribu tentara mereka (jumlah yang sepertinya terlalu dibesar-besarkan), sambil meninggalkan tank-tank yang terbakar, pesawat yang ditembak jatuh. Pihak Khmer tetap agresif, pada tanggal 14 April 1978 mereka membuka front baru di daerah Ba Chuc, dan mengerahkan dua divisi. Kedua unit ini kemudian ditarik kembali ke Kamboja dalam waktu seminggu, tetapi hanya setelah mendeportasi 20.000 warga sipil Khmer Kroeum dan membantai 2.500 lainnya.

Skema umum operasi militer Vietnam vs Kamboja dari bulan Desember 1977 hingga Juni 1978. Merah tua: merah Khmer; merah muda: tentara vietnam. Angka-angka menunjukkan (merah muda – Vietnam): 1 – awal Desember 1977 – awal Januari 1978; 2 – serangan di Phnom Penh di sepanjang Sungai Bassak pada Februari 1978; 3 – ofensif pada bulan April-Mei 1978; (merah tua – merah Khmer): 1 – ofensif ke kedalaman Vietnam pada bulan Januari 1978; 2 – percobaan penyerangan di pelabuhan Ha Tien pada Maret 1978. (Sumber: https://en.topwar.ru/)
Tentara Vietnam (kanan) bersama dengan seorang personel Pasukan Anti Khmer Merah (kiri). Kelompok Anti Khmer Merah, cukup membantu pasukan Vietnam untuk pada akhirnya mengalahkan pasukan Khmer Merah. (Photo by Jean-Claude LABBE/Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)
Hun Sen muda, salah satu anggota Khmer Merah yang kemudian membelot. Hun Sen kemudian menjadi pemimpin Kamboja yang masih memimpin hingga kini. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Pertempuran itu berlangsung selama satu setengah bulan, tetapi hampir tidak ada berita penting yang dilaporkan tentang pertempuran ini di surat kabar. Sementara itu, musim semi tahun 1978 juga menandai penandatanganan perjanjian persahabatan antara Vietnam dan Uni Soviet, sebagai tanggapan langsung terhadap hubungan dekat Kamboja dengan China. Kamboja dan Vietnam sekarang terlihat menjadi pion persaingan China-Soviet, tidak seperti masa sebelumnya ketika Amerika dan Uni Soviet memanfaatkan ketidakstabilan regional dalam Perang Vietnam untuk memperjuangkan kepentingan mereka dalam Perang Dingin. Pihak Vietnam kemudian mengajukan tawaran gencatan senjata pada awal bulan Juni 1978, namun tidak digubris Khmer Merah. Pada bulan Juni 1978, kemudian AU Vietnam mulai membom posisi Khmer Merah di sepanjang wilayah perbatasan, menerbangkan sekitar 30 serangan udara per hari dan menimbulkan banyak korban di pihak Kamboja. Pada periode itu, sebagian besar pemimpin Zona Militer Timur yang masih hidup telah melarikan diri ke Vietnam, di mana mereka berkumpul di berbagai kamp rahasia dengan tujuan membentuk “tentara pembebasan” yang didukung Vietnam untuk berperang melawan pemerintah Khmer Merah. Sementara itu sebagai tanggapan atas sikap bandel Khmer Merah, seperti yang telah mereka lakukan terhadap Amerika dan Vietnam Selatan, Vietnam dengan sabar mempersiapkan saat yang tepat untuk menyerang lagi, untuk sementara waktu, Vietnam kemudian mengerahkan tujuh divisi di sepanjang perbatasan dan pada bulan Juni dan menciptakan zona penyangga ke wilayah Kamboja, yang pada gilirannya akan menyebabkan pertempuran sengit dengan Khmer, yang berlangsung hingga bulan Desember 1978. Hingga ofensif akhir di bulan Desember tersebut, pihak Vietnam merasakan bahwa perang melawan pasukan Pol Pot, bagaimanapun bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Menurut Mayor Jenderal Ngô Văn Dương, mantan wakil komandan Zona Militer 9, yang bertugas melindungi Provinsi Delta Mekong, yang memimpin batalion-batalion Kiên Giang bertempur di Kamboja selama periode tahun 1977-79, perang dengan pasukan Pol Pot jauh lebih “menjengkelkan” daripada perang melawan Amerika, karena gaya perang gerilya pihak musuh  telah mengubah jalannya perang menjadi perang atrisi.

SERANGAN FINAL VIETNAM & EVALUASI

Setelah mengalami beberapa kemunduran, seperti yang dikisahkan diatas, pihak Vietnam kemudian mulai mempersiapkan upaya yang lebih serius untuk menyerang Kamboja. Dengan alasan ingin menumbangkan Pol Pot, mereka mendukung organisasi pemberontakan anti-Polpot yang bercokol di zona timur Kamboja (pihak Vietnam berhasil membujuk seluruh kepemimpinan Khmer Merah di zona Timur dan sekelompok besar pemberontak dibentuk di sana) serta menghimpun kekuatan udara yang kuat. Selama paruh kedua tahun 1978, para pemimpin Vietnam mencurahkan banyak energi mereka untuk kampanye militer melawan pemerintah Khmer Merah, dengan mencari dukungan politik dari Uni Soviet. Dalam sebuah pengarahan dengan pejabat Kementerian Luar Negeri Vietnam pada 25 Juli 1978, perwakilan Soviet di Hanoi diberi tahu bahwa Pemerintah Kamboja telah mengerahkan 14 dari 17 divisi tentara reguler dan 16 resimen lokal mereka di sepanjang perbatasan dengan Vietnam. Kemudian, pada awal bulan September 1978, Lê Duẩn memberi tahu duta besar Soviet bahwa Vietnam berencana untuk “menyelesaikan sepenuhnya masalah Kamboja pada awal tahun 1979”. Sementara Vietnam meletakkan dasar politik untuk kampanye militer melawan Kamboja, kapal-kapal Soviet dilaporkan membongkar perangkat dan amunisi militer di Teluk Cam Ranh. Pada bulan Oktober 1978, radio Vietnam menyiarkan apa yang diklaim sebagai laporan pertama pemberontakan terhadap pemerintahan Khmer Merah, sembari mendesak anggota militer Kamboja untuk menggulingkan “klik Pol Pot-Ieng Sary” atau membelot ke pihak Vietnam.

Kendaraan pengangkut personal M-113 pasukan Vietnam memasuki wilayah Kamboja. (Photo by Jean-Claude LABBE/Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Dalam titik balik utama yang akan mempengaruhi hubungan diplomatik Soviet-Vietnam dan Sino-Vietnam, dan pada akhirnya invasi Vietnam ke Kampuchea, sebuah Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama ditandatangani antara pemerintah Vietnam dan Uni Soviet pada tanggal 3 November 1978, yang menjamin ketersediaan bantuan militer Soviet yang penting dalam skenario jika China ikut campur dalam konflik tersebut. Kemudian, pada bulan November 1978, sebuah markas besar komando dan kontrol didirikan untuk rencana invasi terencana ke Kamboja, dengan Jenderal Senior Lê Đức Anh mengambil kendali penuh atas unit PAVN di sepanjang daerah perbatasan. Pemerintah Vietnam juga merekrut 350.000 orang ke dalam militer untuk menggantikan kerugian sebelumnya dan menambah unitnya di sepanjang perbatasan. Sementara anggota baru menyelesaikan pelatihan, sepuluh divisi dikerahkan ke wilayah perbatasan Provinsi Long An, Đồng Tháp dan Tây Ninh. Vietnam juga memindahkan tiga divisi yang berbasis di Laos selatan menuju perbatasan Laos-Kamboja. Pada tanggal 13 Desember 1978, Pemerintah Cina memperingatkan Vietnam bahwa kesabarannya terbatas, dan bahwa Vietnam akan dihukum jika berperilaku “dengan cara yang tidak terkendali”. Menjelang invasi Vietnam, Khmer Merah diperkirakan memiliki 73.000 tentara di Zona Militer Timur yang berbatasan dengan Vietnam. Saat itu, semua cabang angkatan bersenjata Kamboja telah diperkuat secara signifikan oleh peralatan militer buatan China dalam jumlah besar, yang meliputi pesawat tempur, kapal patroli, artileri berat, senjata antipesawat, truk, dan tank. Selain itu, ada sekitar 10.000 dan 20.000 penasihat China baik dalam kapasitas militer maupun sipil, memberikan dukungan mereka kepada pemerintah Khmer Merah. Akhirnya, China kemudian menempatkan beberapa ratus ribu tentara di perbatasannya sendiri dengan Vietnam (yang pada akhirnya akan dikerahkan dalam Perang Sino-Vietnam yang singkat), serta hampir dua juta tentara di perbatasannya dengan Uni Soviet. Dunia komunis kini ada dalam ketegangan.

Pasukan Vietnam memasuki Kamboja. Meskipun pada akhirnya bisa mengusai Kamboja dan mengusir rezim Khmer Merah ke perbatasan Kamboja-Thailand, namun kemenangan Vietnam bukan didapat dengan mudah dan murah. (Photo by Jean-Claude LABBE/Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)
Pasukan Vietnam menandu rekannya yang terluka berat. Banyaknya korban di pihak Vietnam dalam perang melawan Khmer Merah, sebagian disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri. (Photo by Jean-Claude LABBE/Gamma-Rapho via Getty Images/https://www.gettyimages.com/)

Bagaimanapun Vietnam tidak bergeming dan kemudian terbukti melancarkan invasi final atas Kamboja, yang berhasil dan berpuncak dengan direbutnya Phnom Penh pada tanggal 7 Januari 1979. Meskipun demikian keberhasilan ini hanyalah merupakan pendahuluan yang akan menarik diri mereka semakin dalam perang yang panjang, berdarah dan hampir tidak berguna melawan kelompok-kelompok perlawanan Kamboja (termasuk bekas Khmer Merah) di wilayah Kamboja bagian barat, di sepanjang perbatasan dengan Thailand. Marah atas aksi Vietnam di Kamboja, pada awal tahun 1979, pecah perang singkat antara Vietnam dan China. Sementara itu alasan kegagalan Vietnam pada periode awal tahun 1978, tentu saja, berasal dari pihak Vietnam sendiri, yang melakukan beberapa kesalahan serius. Pertama, mereka meremehkan kekuatan musuh, meskipun tak lama sebelumnya Khmer Merah telah beralih ke struktur kekuatan setara divisi, menerima senjata baru dari China dan dilatih oleh instruktur China. Kedua, rencana untuk merebut Phnom Penh dengan serangan tank di sepanjang jalan sekilas nampaknya tidak buruk. Faktanya, pasukan Vietnam secara tak terelakkan membentuk barisan yang panjang, yang sangat rentan terhadap serangan dari sisi-sisinya; karena di sepanjang jalan terdapat medan yang tidak dapat ditembus kendaraan bermotor, pergerakan tank dan kendaraan hanya mungkin dilakukan di sepanjang jalan raya. Kesalahan ini dibuat di Kamboja lebih dari sekali oleh orang-orang Vietnam. Ketiga, adalah faktor kecerobohan yang ditunjukkan pihak Vietnam. Pasukan Khmer Merah, awalnya menunjukkan sedikit perlawanan, membiarkan tentara Vietnam masuk lebih dalam ke wilayah Kamboja, membiarkan diri mereka bergerak dalam konvoi, dan kemudian mereka menghantam dan menghancurkan mereka dengan serangan di kedua sisi. Hal ini semua memiliki efek yang mengejutkan pada orang Vietnam dan mengarah pada fakta bahwa pemimpin Vietnam siap untuk bertarung  lebih serius, dengan rezim Pol Pot. Perang yang terlupakan ini, memberikan pengalaman buruk bagi Vietnam, yang pada akhirnya memilih mundur dari Kamboja di penghujung tahun 1980an. Konflik Kamboja dan Vietnam bagaimanapun akan banyak mengubah dalam perjalanan sejarah dari kawasan Indocina.

Tentara Vietnam menunggu untuk meninggalkan Kamboja pada 20 September 1989, setelah penarikan pasukan dari Kamboja. Petualangan di Kamboja, bagaimanapun bukan sebuah kesuksesan bagi Vietnam, tentara mereka pada tahun 1989 kembali ke Vietnam dengan meninggalkan sekitar 30.000 rekan-rekannya yang gugur antara tahun 1975-1989 . (FOTO: AGENCE FRANCE-PRESSE/https://www.straitstimes.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

How the Khmer Rouge defeated the Vietnamese: the forgotten war of 1978 by Dmitry Verkhoturov; 8 July 2020

https://en.topwar.ru/172830-kak-krasnye-khmery-razbili-vetnamcev-zabytaja-vojna-1978-goda.html

The Vietnamese Invasion, Cambodia, 1954 – 1999; Part 3 By Albert Grandolini, Tom Cooper, & Troung; Jan 25, 2004, 06:25

https://web.archive.org/web/20130313103542/http://www.acig.org/artman/publish/article_411.shtml

The Fall of the Khmer Rouge, From Sideshow to Genocide by Andy Carvin, 1999

http://www.edwebproject.org/sideshow/khmeryears/fall.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cambodian%E2%80%93Vietnamese_War

Kiên Giang soldiers recount a decade in Cambodia, January, 07/2019

https://vietnamnews.vn/politics-laws/483295/kien-giang-soldiers-recount-a-decade-in-cambodia.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *