Bernhard Arp Sindberg, Pahlawan kemanusiaan bagi rakyat China asal Denmark

Pada dasarnya setiap negara memiliki Oskar Schindler (yang menyelamatkan para pekerja Yahudi nya dari persekusi Nazi) masing-masing – tetapi tidak semuanya mendapatkan ucapan terima kasih atau penghargaan yang selayaknya. Misalnya, apakah Anda tahu bahwa Gert Frobe, aktor yang memerankan tokoh Goldfinger dalam film James Bond tahun 1964, tidak pernah mendapat penghargaan yang layak karena menyelamatkan nyawa keluarga Yahudi saat ia bertugas di tentara Jerman selama Perang Dunia II? Hal itu baru diketahui hanya setelah dia menderita dikejar-kejar media dunia karena Daily Mail salah mengutip kisah dia setelah filmnya dirilis. Dia mengalami satu tahun kesengsaraan selama periode yang seharusnya merupakan masa-masa paling bahagia dalam hidupnya. “Selama Reich Ketiga saya beruntung dapat membantu dua orang Yahudi, meskipun saya adalah anggota partai Nazi” secara resmi” Tentu saja saya adalah seorang Nazi ” – sebuah’ pengakuan ‘yang menyebabkan film-filmnya sempat dilarang ditayangkan di Israel. Akhirnya seorang pria Yahudi mengatakan bahwa Frobe telah menyelamatkan nyawanya dan ibunya. Lima puluh tahun kemudian, belum ada satupun pihak yang melangkah maju untuk menggugat integritas Daily Mail. Namun memang terkadang pengakuan baru diberikan bertahun-tahun, bahkan setelah pelaku meninggal dunia.

Gert Frobe, aktor film seri James Bond, Goldfinger tercatat pernah membantu menyelamatkan dua orang Yahudi saat Perang Dunia II (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Bernhard Arp Sindberg (19 Februari 1911-1983) menyelamatkan ribuan orang Cina selama pembantaian oleh tentara kekaisaran Jepang di Nanking pada tahun 1937. Dia baru saja mendapatkan status pahlawan nasional di Denmark tahun ini. Ratu Margrethe II meresmikan patung perunggu Sindberg setinggi 3 m (10 kaki) di sebuah taman di Aarhus, kota kelahirannya, pada hari Sabtu. Upacara itu berlangsung hampir 36 tahun setelah kematiannya di AS. Patung itu adalah sebuah penghargaan untuk kota Aarhus dari kota Nanjing – patung ini merupakan karya dari tiga orang seniman pemenang penghargaan: Shang Rong dan Fu Licheng dari Cina dan Lene Desmentik dari Denmark. Keberanian Sindberg dapat dibandingkan dengan Oskar Schindler, industrialis Jerman yang menyelamatkan 1.200 orang Yahudi dari Holocaust Nazi dengan mempekerjakan mereka di pabrik-pabrik, dan yang kemudian diabadikan dalam film Schindler’s List. Sindberg kemudian disebut Schindler dari Denmark dan dikenal juga sebagai “Shinning Buddha” dan “Greatest Dane” di Cina. Lalu apa yang sebenarnya dilakukan Sindberg hingga ia layak mendapatkan penghargaan seperti ini?

Siapa itu Sindberg?

Terlahir sebagai orang yang terbiasa melarikan diri, upaya pertama Bernhard untuk melarikan diri dilakukan pada usia 2 tahun. Saat itu ia berhasil mencapai selokan di ujung lain kota. Kali kedua, dengan bantuan sepeda, ia berhasil mencapai ujung lain negara itu untuk bergabung dengan Jambore pramuka. Ketiga kalinya ia sampai sejauh Hamburg dan ingin menaiki sebuah kapal uap Amerika sebelum dikenali sebagai penumpang gelap. Orang tuanya bercerai pada 1930-an dan ayahnya kehilangan bisnisnya karena Depresi Hebat di dekade itu. Dalam kondisi semacam ini, Bernhard ingin keluar dari kota kelahirannya, Aarhus. Pada usia 17 tahun, Bernhard akhirnya berhasil pergi, kali ini ia pergi ke Amerika dan meninggalkan sekolahnya. Dia sempat bekerja di atas kapal. Tiga tahun kemudian ia menghabiskan beberapa bulan di satuan Legiun Asing Prancis sekitar tahun 1933, tetapi kemudian melakukan desersi karena merasa gurun di Maroko membosankan. Setelah 10 bulan bertugas, ia lari ke gunung dan berhasil keluar dari negara itu sebagai penumpang gelap di atas kapal.

Bernhard Arp Sindberg (Sumber: https://ospreypublishing.com/)
Sindberg sempat beberapa bulan bergabung dengan Legiun Asing Prancis yang bermarkas di Maroko, sebelum kabur ke China pada tahun 1934. (Sumber: https://www.bbc.com/)

Dia desersi dan melarikan diri dengan kapal menuju Shanghai. Saat di atas kapal, ia berkelahi dengan seorang anggota awak kapal dan mendapati dirinya dikurung di sebagian besar perjalanan ke Tiongkok! Dia tiba di Cina pada tahun 1934. Saat itu Shanghai adalah surga bagi petualang-petualang seperti Sindberg. Selama berada di sana, ia pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya termasuk menjalankan tugas sebagai “demonstrator” bagi pedagang senjata Denmark yang berharap mendapat banyak uang dari menjual senjata Denmark kepada orang-orang Cina. Ketika Jepang menginvasi Shanghai pada Agustus 1937, Bernhard bekerja sebagai sopir/asisten jurnalis Inggris Pembroke Stephens (1903-1937) yang meliput berita untuk Daily Telegraph. Selama berminggu-minggu keduanya berkeliling Shanghai, menulis berita tentang perang. Mereka kemudian memanjat menara air untuk mengamati serangan udara Jepang di kota itu, tiba-tiba tentara Jepang menembaknya dengan senapan mesin dan membunuh Stephens, mungkin karena mengira dia adalah seorang penembak jitu. Bernhard mendapati dirinya kemudian menganggur, namun karena hubungannya dengan pedagang senjata sebelumnya, ia mulai bekerja sebagai kepala petugas keamanan untuk pabrik semen Denmark, Jiangnan Cement Works yang besar (F.L. Smidth) di Qixiashan, 20 km timur laut dari pusat kota Nanking. Di pabrik, Bernard bertemu dengan satu-satunya orang asing di pabrik itu, Dr. Karl Günther dari Jerman (1903–1987) yang mampu berbicara bahasa Cina dengan sempurna. Karl lahir di Cina dan berada di Nanjing sebagai manajer pabrik, pekerjaan yang akan ia pegang hingga tahun 1950. Pekerjaan di tempat barunya ini berbahaya, tetapi bayarannya bagus.

Kepahlawanan Sindberg di Nanking

Sebelas hari Sindberg bekerja di tempat yang baru itu, Jepang menyerbu dan kekejaman pun dimulai. Bernhard kemudian berkeliling Nanking dan daerah sekitarnya, mendokumentasikan kekejaman Jepang dengan kameranya. Bukti foto hitam putih pudar yang dibuatnya ini kemudian dikumpulkan dalam sebuah album, yang saat ini ditampilkan di sebuah museum di Texas. Sindberg baru berusia 26 tahun ketika ia menyaksikan kekejaman tentara Jepang di Nanking – yang kemudian dikenal sebagai “Pembantaian Nanking” atau “Pemerkosaan Nanking”. Kota – yang juga dikenal sebagai Nanjing – adalah ibu kota Republik Tiongkok saat itu. Soren Christensen, kepala Arsip Kota Aarhus, mengatakan Sindberg tercatat menyediakan tempat penampungan dan perawatan medis bagi 6.000 hingga 10.000 warga sipil di sebuah pabrik semen di pinggiran kota, di mana ia dan seorang kolega Jermannya bekerja sebagai penjaga. Menurut perkiraan Cina jumlah warga sipil yang diselamatkan lebih tinggi – sekitar 20.000 orang. Mr Christensen menggambarkan Sindberg sebagai “seorang pria yang mati dalam kemiskinan dan dilupakan, tetapi mungkin, adalah salah satu pahlawan terbesar yang pernah kita miliki”. Rekan Jermannya, Karl Günther, membantu Sindberg untuk menciptakan tempat yang perlindungan – kamp darurat dan rumah sakit – untuk orang-orang Cina. Jepang kemudian mengamuk di kota selama enam minggu, menyiksa, memperkosa dan membunuh warga sipil dan menangkap tentara Cina, dalam pembantaian yang menelan korban sekitar 300.000 jiwa. Banyak dari korban adalah perempuan dan anak-anak. Jumlah perempuan yang diperkosa sekitar 20.000.

Tentara Jepang masuk Kota Nanking 14 Desember 1937. (Sumber: https://www.globalresearch.ca/)
Eksekusi semacam ini menjadi hal yang biasa dalam Pembantaian di Kota Nanking tahun 1937. (Sumber: https://allthatsinteresting.com/)

Selain banyak saksi dari Tiongkok, banyak orang Barat seperti Sindberg yang mendokumentasikan kekejaman Jepang itu. Berbagai pejabat dan sejarawan Jepang membantah jumlah korban tewas sejak perang pecah, sebuah hal yang membuat marah Cina. Sindberg melukis bendera Denmark besar (Dannebrog) di atap pabrik semen, untuk menangkal bom Jepang. Dia dan Günther juga mengibarkan Dannebrog dan bendera swastika Jerman di sekitar lokasi, sebagai pencegah terhadap tentara Jepang yang bisa bertindak macam-macam. Pada saat itu, kekaisaran Jepang tidak memusuhi Denmark atau Jerman Nazi, sehingga bendera keduanya dihormati. Dengan bantuan beberapa perawat Cina, Bernhard menciptakan sebuah klinik kecil di pabrik dan melakukan yang terbaik untuk menyediakan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan dari Palang Merah kepada pasien. Tidak puas hanya menyelamatkan 6000 orang, Karl dan Bernhard kemudian pergi ke Xixia Temple dan menciptakan “zona aman” lainnya, disini ia menyelamatkan 15.000 orang lainnya, dengan memagari kuil dengan serangkaian bendera Dannebrog dan Swastika yang dilukis dengan tangan yang dilukis dengan rapi. Bagaimanapun, Bernhard pernah memang pernah dilatih sebagai pembuat tanda sebelum ia berangkat ke Amerika!

Apa yang orang katakan tentang Sindberg?

Peter Harmsen, penulis buku tentang Sindberg, mengatakan bahwa “sebelum perang, sama sekali tidak ada yang istimewa dari dia. “Orang Cina di Nanjing memanggilnya Sindberg sebagai Mr. Xin atau Xinbo, karena tidak ada yang bisa menyebutkan namanya. Zhou Zhongbing, seorang bocah lelaki berusia 15 tahun pada waktu itu, mengatakan: “Ada sebuah kamp pengungsi yang dikelola oleh orang Denmark. Kamp itu memiliki orang-orang yang bertugas menjaga dan berpatroli di daerah itu. Ketika Jepang datang untuk membuat masalah, orang Denmark itu akan berjalan keluar dan menghentikan mereka. ” Saksi Tionghoa lain yang dikutip Harmsen adalah Guo Shimei, seorang wanita petani berusia 25 tahun pada 1937. “Ketika Jepang tiba di kamp pengungsi, orang asing [Sindberg] itu akan berjalan keluar untuk berbicara dengan mereka, dan setelah beberapa saat mereka akan menghilang,” katanya. “Jika Jepang datang mencari wanita, orang asing itu akan mengeluarkan bendera [Denmark], dan setelah mereka bertukar beberapa kata, orang-orang Jepang akan berbalik dan pergi.”

Sindberg sadar bahwa menentang Tentara Jepang mengandung risiko tinggi, namun rasa kemanusiaannya memberinya keberanian untuk menyelamatkan ribuan warga sipil China dari keganasan tentara Jepang. (Sumber: https://www.bbc.com/)
Foto bayi China yang sudah meninggal, kemungkinan foto ini diambil Sindberg sendiri. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)

Dalam sebuah surat kepada seorang teman, Sindberg menggambarkan keterkejutannya pada pembantaian Nanking: “Anda tidak tahu berapa banyak darah di mana-mana. Sejak Agustus saya punya banyak kesempatan untuk melihat kengerian perang. Darah, darah, dan lebih banyak darah. ” Dai Yuanzhi, seorang jurnalis Tiongkok yang telah meneliti pembantaian itu, mengatakan kondisi di kamp kerja pabrik semen sangat buruk. Dikutip oleh Harian Shenzhen, Dai menulis: “Kerumunan besar orang berdiri atau duduk di samping satu sama lain. Gudang sangat sempit; bahkan tidak ada ruang untuk toilet.” Di dalam area pabrik, para pengungsi berjuang melawan penyakit, kedinginan dan kelaparan. Sindberg mulai berada di bawah tekanan, ketika tentara Jepang di kota mencoba menyabot usahanya.

Bendera Dannebrog (Denmark) menjadi senjata ‘andalan’ Sindberg dalam melindungi warga sipil China yang diselamatkannya. (Sumber: https://ospreypublishing.com/)

Setelah hampir tiga bulan, Jepang akhirnya kehabisan kesabaran, dan Bernhard dideportasi dari Tiongkok dan dipaksa untuk kembali ke Eropa. Setibanya di Italia, Bernhard disambut oleh ayahnya, karena selama perjalanannya di Nanking, Bernhard telah berkorespondensi dengan seorang teman di Aarhus yang segera menceritakan kembali kisah itu ke surat kabar lokal. Ia tidak menyadari bahwa Sindberg Senior, ayahnya telah beralih profesi dari seorang pedagang keju menjadi editor surat kabar. Dalam perjalanan pulang, ayah dan anak itu pergi ke Jenewa, di mana Bernhard diberi ucapan terima kasih oleh delegasi Cina di Liga Bangsa-bangsa. Namun Bernhard meminta kepada para wartawan agar tidak mencantumkan namanya dalam artikel mereka karena dia masih takut bahwa Legiun Asing Prancis masih akan mencarinya! (Karena desersi)

Setelah Nanking dan pengakuan jasa-jasa Sindberg

Sindberg mendokumentasikan kekejaman yang dia saksikan di Nanking, dan pergi ke Amerika Serikat segera setelah pembantaian. Dia bertugas di kapal dagang Amerika saat Perang Dunia Kedua, dan tindakannya selama perang diakui oleh Presiden Harry S. Truman. Dia tinggal di AS selama sisa hidupnya. Dia menikah dengan Blair Sinberg pada 4 Mei 1941, tetapi mereka lalu bercerai, tanpa memiliki anak. Kemudian ia menetap di California dan jarang berbicara tentang kengerian di Nanking serta menghindari publisitas. Dia meninggal pada tahun 1983. Karena hal inilah jasa luar biasa Bernhard tetap tersembunyi dan baru setelah penerbitan buku harian John Rabe (anggota partai Nazi yang juga membantu menyelamatkan banyak orang Cina saat Jepang menguasai Nanking) pada tahun 1997, orang-orang pertama kali mendengar tentang orang Denmark dengan nama Tuan Xin ini. Rabe mencatat dalam buku hariannya bahwa pada tanggal 20 Desember 1937, ia bertemu Sindberg di markas Komite Zona Keamanan di Ninhai Lu. Sindberg telah berusaha membawa pekerja yang terluka ke Nanking tetapi dihentikan oleh militer Jepang. Sindberg menghabiskan beberapa waktu di Zona Keamanan dan tampaknya telah sering bepergian antara tempat itu dan pabriknya dengan mobil. Di Qixiashan, ia dan manajer pabrik Jerman, Karl Günther, telah menciptakan zona aman. Menurut salah satu laporan dari Christian Kröger, sekitar 4000 orang Cina tinggal di sana. Mirip dengan Rabe di Nanking, mereka melindungi daerah tersebut dari serangan Jepang dengan menampilkan bendera Nazi serta bendera Denmark ((Dannebrog ’). Pada 21 Januari 1938, Rabe menulis: “Sindberg ada di kota lagi dan membawakanku enam telur dan dua puluh bebek hidup. Tiga dari mereka mengambil napas terakhir mereka selama jam di kantor saya yang harus mereka habiskan di dalam karung. Tukang masak berkata: ‘Tidak masalah – ke chifan – (yang penting) bisa makan!” Dari catatan-catatan Rabe kisah kepahlawanan dan peran Sindberg di Nanking pada hari-hari itu mendapat konfirmasi kuat.

Selepas meninggalkan Nanking, dalam Perang Dunia II, Sindberg mengabdi menjadi awak kapal dagang Amerika yang turut berperan dalam memenangkan perang. (Sumber: https://www.bbc.com/)

Pada tahun 2000, sebuah pameran yang disponsori pemerintah China tentang Pembantaian Nanking tiba di Aarhus. Koran lokal Aarhus Stiftstidende memuat artikel untuk mencari orang-orang yang mengenal orang Denmark yang pernah berada di Nanjing pada tahun 1937-1938 itu. Bitten Stenvig Andersen yang berusia 74 tahun tengah mengisi teka-teki silang hariannya ketika dia membaca artikel koran Stiftstidende itu. Bitten segera tahu bahwa itu adalah kakak laki-lakinya yang mereka cari. Dia menghubungi kedutaan Cina di Denmark, dan kemudian kisah Sindberg diketahui hingga kini. Kepahlawanannya di Nanking lalu dihormati dengan mawar kuning yang disebut “Nanjing Forever” yang ditunjukkan langsung kepada Ratu Denmark, Margrethe II- the Sindberg Rose”, yang sekarang tumbuh di Nanjing Memorial dan diciptakan oleh pembudidaya mawar Denmark, Rosa Eskelund. Di dalam museum, sebuah syal sutra bertuliskan “Perbuatan Berani dari Orang Samaria yang Baik Hati” (mengutip kisah dalam Alkitab tentang orang asing yang menyelamatkan orang yang tidak ia kenal) yang diberikan kepada Bernhard oleh orang-orang yang ia selamatkan ada di samping paspornya dan foto dirinya dengan Karl. Tiga kerabat Bernhard, Bitten Andersen, Mariann Arp Stenvig, dan Ole Sindberg, telah beberapa kali ke China untuk menerima penghargaan atas namanya setelah kematiannya; mereka juga telah bertemu dengan orang-orang yang selamat yang telah berbicara tentang perincian apa saja yang Bernhard lakukan selama di Nanking. Salah satunya, Wang Yongli, sempat tinggal 100 hari di pabrik semen ketika masih remaja. Dia melaporkan ke surat kabar China Daily: “Tanpa bantuannya, kita tidak akan memiliki kesempatan untuk bertahan hidup. Kami berharap kebaikan orang-orang seperti Sindberg akan terus hidup.”

Ratu Denmark, Margrethe II dengan bunga yang diberi nama menurut nama Sindberg saat mengunjungi Nanking Memorial tahun 2011.(Sumber: https://www.bbc.com/)

Peter Harmsen mengatakan kepada BBC bahwa tindakan Sindberg yang “membuka pintu bagi para pengungsi Cina, secara metaforis juga membuka pintu bagi jiwanya sendiri”. “Hal ini membuat kisah kepahlawanan Sindberg menjadi kisah kemanusiaan yang universal. Dengan tinggi 172,5cm, rata-rata pria muda Denmark pada akhir 1930-an. Dia hanya mendapat nilai rata-rata di sekolah. “Tapi sesuatu yang luar biasa terjadi padanya selama musim dingin yang gelap tahun 1937-1938 di Nanking. Menghadapi kekejaman dari tentara Jepang, dia memutuskan untuk bertindak.” Kisah dia adalah tentang apa artinya menjadi manusia dan responnya dalam kondisi yang ekstrem. Tak satu pun dari kita yang tahu pasti bagaimana kita akan bereaksi jika ditempatkan di depan sebuah ketidakadilan yang hebat. Akankah kita berpaling melihat ke arah lain? Apakah kita akan menyembunyikannya? Atau akankah kita bertindak? “Untung sebagian besar dari kita tidak pernah menghadapi cobaan seperti itu. Sindberg menghadapinya, dan dia lulus ujian dengan baik.”

Patung Sindberg di kota kelahirannya Aarhus. (Sumber: https://www.bbc.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Nanjing Massacre: Denmark honours hero who rescued Chinese By Laurence Peter; 2 September 2019

https://www.bbc.com/news/world-europe-49524779

The Unlikely Shining Buddha – Bernhard Arp Sindberg by Benjamin Lai on 13 August 2017

https://ospreypublishing.com/blog/bernhard_arp_sindberg/

BERNHARD SINDBERG Based on: Benjamin Lai, The Unlikely Shining Buddha – Bernhard Arp Sindberg,  Osprey Publishing Blog, 2017

Memorial honors Dane who saved thousands in ‘forgotten Holocaust’ By Wang Mingjie

https://www.chinadaily.com.cn/a/201909/02/WS5d6d39c4a310cf3e3556945f.html

Long overdue recognition for Dane who provided salvation to thousands of Chinese in the folds of the Dannebrog by Ben Hamilton, August 21st, 2019

http://cphpost.dk/news/long-overdue-recognition-for-dane-who-provided-salvation-to-thousands-of-chinese-in-the-folds-of-the-dannebrog.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Bernhard_Arp_Sindberg

One thought on “Bernhard Arp Sindberg, Pahlawan kemanusiaan bagi rakyat China asal Denmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *