Henry Buttelmann, “Ace” F-86 Sabre terakhir dalam Perang Korea

Dua bulan terakhir dari Perang Korea hanya memberi sedikit petunjuk kepada rata-rata prajurit yang bertempur bahwa konflik akan segera mereda. Sementara negosiasi terus dilakukan di Panmunjom, PBB dan pasukan komunis terus bertempur sekuat tenaga. Dua bulan terakhir itu juga menghasilkan beberapa pertempuran udara paling sengit dalam perang Korea, dan memberi kesempatan terakhir bagi pilot-pilot F-86 Sabre Amerika untuk mencetak kemenangan atas pesawat tempur Mikoyan-Gurevich MiG-15 lawannya. Di antara mereka yang mencatat torehan manis pada periode ini adalah Henry “Hank” Buttelmann yang berusia 23 tahun asal Brooklyn.

F-86F Sabre dari 51st Fighter Interceptor Wing berburu MiG diatas Korea. Dua bulan terakhir perang Korea memberikan kesempatan bagi pilot-pilot Sabre untuk mencetak kemenangan-kemenangan terakhir mereka atas MiG-15 AU negara-negara komunis. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Awal karir

Buttelmann lahir dari keluarga imigran Jerman pada 26 Juni 1929, di Corona, sebuah lingkungan di wilayah Queens, New York City. Pengenalan pertamanya tentang penerbangan adalah ketika ia memiliki tetangga yang merupakan pilot American Airlines. Dia mulai belajar di Universitas Bridgeport di Connecticut pada tahun 1948, dan dia juga sekaligus bertugas sebagai prajurit di Grup Pengangkut Pasukan 514 dari Air National Guard. Ia kemudian bekerja sebagai penjaga pantai di Jones Beach Island untuk menabung guna belajar terbang. Pada tahun 1950 ia dipanggil untuk bertugas aktif ketika Perang Korea pecah. Dia kemudian pergi ke Pangkalan Angkatan Udara Big Spring di Texas dan kemudian Pangkalan Angkatan Udara Nellis di Nevada selama tiga bulan pelatihan menembak lanjutan. Setelah bertugas dua tahun di bagian Cadangan Korps Marinir AS dan dua tahun di Cadangan Angkatan Udara AS, ia memasuki program pelatihan pilot Angkatan Udara kelas 52-E dan lulus sebagai letnan dua pada 2 Agustus 1952.

Letnan Satu Henry Buttelmann di Pangkalan Udara Suwon (Sumber: https://www.historynet.com/)

Buttelmann kemudian bergabung dengan Skuadron Tempur-Interceptor ke-25 dari Grup Tempur-Pencegat ke-51 pada bulan November 1952, di mana dia harus dilatih dalam pertempuran udara-ke-udara karena dia sebelumnya hanya belajar taktik tempur udara-ke-darat di Nellis. Ia kemudian dikirim ke Pangkalan Udara Suwon, Korea Selatan, pada tanggal 23 Desember, di mana ia menyelesaikan beberapa penerbangan di F-86 Sabre sebelum melakukan misi tempur pertamanya pada 15 Januari 1953. Seperti pilot Sabre lainnya, Buttelmann terbang juga di kawasan “MiG Alley”, nama panggilan yang diberikan ke daerah di sekitar perbatasan antara Korea Utara dan Cina di dekat Sungai Yalu di mana pilot Amerika biasa bertarung dengan pesawat tempur MiG-15 milik Tiongkok, Soviet, dan Korea Utara. Perang telah berubah menjadi jalan buntu pada saat Buttelmann tiba, jadi hanya ada sedikit MiG di langit saat itu. Karena hal ini, ia kemudian terbang dengan agresif, berkelana ke utara Yalu, masuk ke wilayah Cina, tetapi ia masih sempat melihat MiG dua kali selama lima bulan pertama, ketika ia menjadi seorang wingman. Pada misi ke-50, ia menemukan sebuah formasi MiG tetapi harus berhenti mengejar karena ia telah mencapai keadaan “bingo”, yang berarti ia berada di bawah kondisi minimum 1.200 pound (540 kg) bahan bakar yang diperlukan untuk kembali ke pangkalan dengan aman. Lapangan terbang tertutup awan ketika dia kembali, dan Buttelmann mengatakan dia beruntung bisa mendarat dalam kondisi seperti itu sementara bahan bakarnya nyaris habis.

Buttelmann menaiki kokpit F-86 Sabre saat Perang Korea tahun 1953. (Sumber: https://www.reviewjournal.com/)

Ace Termuda Amerika di Korea

“Dari bulan Februari dan seterusnya saya terbang tujuh hingga delapan misi sebulan,” Buttelmann kemudian berkata. Setelah menerbangkan 56 misi, ia mendapat promosi jabatan dari wingman ke pemimpin elemen. Kemenangan pertamanya datang pada sortie tempur berikutnya, pada 19 Juni. “Pada (jam) 1307 kami berada di dekat Uiju, menyisir area pada ketinggian 36.000 kaki, ketika saya melihat delapan MiG, menuju ke utara,” kenangnya. “Aku segera menyerang mereka, setelah melihat mereka terlebih dahulu. Kami menjatuhkan drop tank pesawat dan pemimpin flight saya menuntun kami turun dengan kecepatan tinggi, tetapi dia salah menilai jaraknya dan meluncur terlalu jauh di belakang MiG, karena mengerem terlalu lama, dan berakhir jauh di belakang MiG. Saya pikir saya bisa memperpendek jarak dan turun di MiG terdekat. Saya menempatkan pembidik tepat di tengah-tengah knalpotnya. Saya menembak pendek — dan tidak ada yang terjadi. Saya mengangkat pembidik dan menembak lagi; bunga api mulai keluar dari pesawat. Saya menembakkan tiga kali, setiap kali menghasilkan percikan api, kemudian pilot musuh keluar kanopi dan dia terjun dengan parasut. Itu adalah “kill” yang cepat dan mudah dikonfirmasi, yang membangun kepercayaan diri yang luar biasa! ”

MiG-15 Fagot lawan utama F-86 Sabre Amerika dalam Perang Korea. (Sumber: Pinterest)

Tiga hari kemudian, Buttelmann mendapatkan kemenangan keduanya diatas Yangsi. “Saya mengejar dan mendapatkan MiG itu di wilayah Korea Utara,” katanya. “Kami seharusnya pulang ke pangkalan ketika kami hanya tinggal memiliki 1.600 pound bahan bakar, tetapi pada saat setelah saya menjatuhkan MiG itu, saya tinggal memiliki 900 pound bahan bakar. Saya memberi tahu bahwa kami darurat bahan bakar dan kami terbang menuju ke perairan, kalau-kalau kami harus eject. Saya kemudian naik ke ketinggian 30.000 kaki dan menuju ke K-14 (Kimpo), karena ada langit mendung di atas pangkalan kami. Saya tinggal memiliki 300 pound bahan bakar di atas Kimpo, jadi saya menuntun wingman saya untuk mendarat lebih dulu. Di ketinggian 1.000 kaki kami keluar dari awan dan saya memberi jempol pada wingman saya untuk mendarat. Ketika kami mendarat, bahan bakar saya tinggal 100 pound dan wingman saya punya tinggal punya 70 pound. Saya berjanji tidak pernah main-main dengan bahan bakar lagi!

Pangkalan Udara Kimpo (K-14) tahun 1954. (Sumber: http://yocumusa.com/)

“Kill nomor tiga terjadi pada jam 1225, 27 Juni 1953,” lanjut Buttelmann. “Seorang pilot Angkatan Udara Kerajaan Inggris memimpin flight …. Kami pergi 50 mil, lalu 75 mil ke Manchuria. Ya—, tapi aku jelas merasa tidak nyaman. Kemudian pemimpin melihat dua buah MiG di udara. Melindungi pemimpin flight dalam serangan itu, wingman saya mengalami masalah oksigen dan akhirnya kehilangan jejak saya. Pada titik ini saya bertemu dengan dua MiG dan menyerang MiG yang ada di belakang. Kedua MiG berpisah, satu terbang tinggi, yang lain terbang rendah. Aku pergi untuk mengejar MiG dan menembaknya jatuh di atas Yonsu-Dong. “ Saat aku sedang berpikir, ‘Di mana MiG yang satunya?’ Lalu aku melihat dia berguling ke arahku. Saya melihat peluru 37mm seukuran bola softball putih. Saya juga mendapat tembakan dari darat. Lampu peringatan depan dan belakang menyala. Saya mengembalikan power kembali ke tingkat 92 persen. Saya memutuskan untuk menyelamatkan diri karena saya tidak punya pilihan dalam situasi ini. ‘Oke, sobat,’ pikirku, ‘segera, dapatkan ketinggian dan bersiap untuk eject.’ Namun, pada saat itu, MiG melintasi saya dan beranjak pergi. Saya berguling dan mengambil arah menuju selatan, ke Sungai Yalu — dan terbang langsung ke arah badai. Saya berhasil kembali, tetapi ada lubang di knalpot pesawat yang nyaris mengenai ruang pembakaran. “

Buttelmann memperoleh sambutan dari Kolonel William C Clark, komandan 51st Fighter Interceptor Wing atas pencapaiannya membukukan “kill” kelima nya hingga layak menyandang status “Ace” termuda dalam Perang Korea, 30 Juni 1953. (Sumber: https://www.reviewjournal.com/)

Buttelmann menjatuhkan sebuah MiG-15 lagi diatas Ch’eyung pada tanggal 29 Juni dan akhirnya menjadi ace ke-36 Angkatan Udara A.S. dalam Perang Korea — pada usia 24 tahun dan menjadi yang termuda — ketika ia mengantongi kemenangan lain di atas Uiju pada hari berikutnya. Disamping pencapaian pribadi Buttelmann, F-86 mengklaim total 14 MiG pada tanggal 30 Juni yang menjadi rekor tertinggi dalam satu hari. Pada bulan Juli, Buttelmann berkata, “Saya terbang bersama John Glenn dalam beberapa misi — ia adalah seorang marinir yang menjalani pertukaran pilot dengan Skuadron Tempur Tempur Ke-25.” Kru darat mengecat huruf “M” besar pada F-86F Mayor Glenn, dengan huruf-huruf tambahan untuk membentuk kata-kata “MiG Mad Marine.” Glenn akhirnya memperoleh apa yang ia inginkan pada 12 Juli, ketika dia menembak jatuh sebuah MiG, 40 mil di utara Yalu. Glenn mengatakan bahwa “taktik pilot-pilot MiG sangat buruk sehingga saya hanya membayangkan bahwa pertempuran itu seperti penerbangan latihan, atau (mereka) memang kekurangan bahan bakar, tetapi kami merasa sangat beruntung”.

Dalam Perang Korea Buttelmann beberapa kali terbang bersama Mayor John Glenn sebagai wingman dari F-86″MiG Mad Marine” milik Glenn. (Sumber: https://www.historynet.com/)

Pada 19 Juli Buttelmann menjatuhkan sebuah MiG di atas Sakchu dan Glenn mendapat yang MiG yang lain. Tiga hari kemudian, kata Buttelmann, “Pada pukul 1200 kita bertemu MiG-15 di sisi lain Sungai Yalu.” Glenn mencetak kemenangan ketiganya dalam perang, sementara Buttelmann mengklaim kemenangan ketujuhnya diatas langit Tongsong-ni. “Itu adalah yang terakhir,” katanya, “dan terakhir kali kita terbang bertempur.” Atas aksinya di Korea ia mendapatkan medali Silver Star. Setelah gencatan senjata ditandatangani pada 27 Juli, Buttelmann pulang ke Amerika. Setelah pulang dari Korea dengan catatan 65 misi tempur, Buttelmann kembali ke Nellis untuk bertugas sebagai instruktur. Selain itu ia sempat bertugas di beberapa negara seperti di pangkalan di Jepang, Filipina, Taiwan, dan Korea Selatan.

Karir setelah Korea

Buttelmann di dalam kokpit F-100 Super Sabre saat Perang Vietnam pada tahun 1969. (Sumber: https://www.reviewjournal.com/)

Buttelmann sedang ditempatkan di Pangkalan Angkatan Udara McConnell di Kansas ketika ia dikirim ke Pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand Takhli di Thailand pada bulan April 1965, setelah pecahnya Perang Vietnam. “Saya ditugaskan ke Angkatan Udara Ketujuh, di mana saya akan menjalankan misi di dua skuadron tempur yang beroperasi di Pangkalan Udara Thailand, Takhli.” Sebagai bagian dari Skuadron Tempur Taktis 562d, ia mencatat 46 misi di F-105 Thunderchief selama empat bulan penempatannya. “Aturan dasar di Vietnam pada tahun 1965 sangat buruk,” kata Buttelmann. “Kami tidak dapat menyerang sasaran apa pun di Hanoi, maupun di lapangan terbang, atau di pelabuhan Haiphong, tempat kami dapat melihat kapal-kapal Rusia membongkar perbekalan perang untuk memperkuat Vietnam Utata. Kami juga harus membiarkan jembatan dan sistem bendungan mereka. ” Setelah bertugas di belakang meja di Hawaii, Buttelmann melakukan tur Asia Tenggara lainnya pada Mei 1969 untuk tur tugas dua belas bulan yang kedua. Dengan pesawat F-100 Super Sabre, ia menerbangkan 232 misi tempur sambil memimpin Pengendali Udara Garis Depan dan Skuadron Tempur Taktis ke-308 hingga pertengahan 1970. Dia pensiun dari Angkatan Udara pada Oktober 1979, dengan catatan telah menjalankan 286 misi terbang tempur dalam Perang Korea dan Perang Vietnam. Pada 20 Mei 2015, Hank Buttelmann dan istrinya, Audrey, menghadiri upacara di Washington, D.C., yang secara kolektif memberikan penghargaan Congressional Gold Medal untuk semua kartu Ace pilot AS. Penghargaan ini disematkan oleh senator Nevada, Dean Heller. Buttelmann meninggal pada 16 September 2019, pada usia 90. Dia meninggal di Frankfort, Illinois, di mana dia dan istrinya, Audrey Buttelmann, pindah sejak tahun 2018. Buttelmann adalah salah satu dari dua Ace Perang Korea yang masih hidup ketika dia meninggal; yang lainnya adalah Charles G. Cleveland

Buttelmann tahun 2015 saat menerima penghargaan Congressional Gold Medal dengan ditemani anak dan cucunya. (Sumber: https://www.reviewjournal.com/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Last Sabrejet Ace of the Korean War By Jon Guttman

https://www.historynet.com/last-sabrejet-ace-of-the-korean-war.htm

Korean War ace, longtime Las Vegas resident Hank Buttelmann dies by Briana Erickson

https://www.google.com/amp/s/www.reviewjournal.com/news/military/korean-war-ace-longtime-las-vegas-resident-hank-buttelmann-dies-1856428/amp/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Henry_Buttelmann

Henry Buttelmann

https://airandspace.si.edu/support/wall-of-honor/henry-buttelmann

Henry Buttelmann

https://valor.militarytimes.com/hero/350195

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *