Perang Vietnam

Catatan Kelam unit Tiger Force yang Kontroversial dalam Perang Vietnam

Pada puncak Perang Vietnam, warga sipil dibantai oleh unit tentara Amerika dan pembantaian tersebut ditutup-tutupi. Tapi ini bukan My Lai. Pembantaian berdarah ini baru terungkap pada tahun 2003 – dan tidak ada satu pun wartawan media elit Amerika yang bisa mengetahui penyebabnya. Itu adalah berita besar. Namun surat kabar yang mengungkap kekejaman tersebut bukanlah New York Times atau Washington Post, yang masih berpuas diri dalam mengungkap skandal Watergate. Bukan pula New Yorker, yang terkenal karena investigasi jurnalismenya yang mendalam. Surat kabar itu adalah Toledo Blade, surat kabar harian dengan sirkulasi hanya sekitar 150.000 yang melayani kota Toledo di Ohio, di tepi Danau Erie.

Foto diambil oleh fotografer Angkatan Darat AS Ronald L. Haeberle pada 16 Maret 1968, setelah Pembantaian My Lai yang memperlihatkan sebagian besar perempuan dan anak-anak tewas di jalan. Pembantaian My Lai masih menjadi fokus dari pemberitaan kejahatan perang tentara Amerika di Vietnam, akan tetapi beberapa aksi lain masih tertutupi. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

AWAL PENYELIDIKAN

Toledo Blade menceritakan kisah pembantaian warga sipil Vietnam yang tidak bersalah oleh unit Angkatan Darat AS yang disebut sebagai Tiger Force. Kisah ini segera dipuji sebagai penemuan ‘My Lai baru’, merujuk pada pembantaian terkenal terhadap penduduk desa Vietnam yang membuka tabir kebrutalan militer AS pada masa perang Vietnam. Harian-harian dan jaringan-jaringan TV Amerika yang lebih besar dibiarkan berjuang keras untuk menyelesaikan mengungkap kisah ini – bukan tugas yang mudah. Dua reporter Blade diketahui telah menghabiskan waktu delapan bulan hanya untuk meneliti berita-berita tersebut. Yang lain mulai bergabung di tengah jalan. Bersama-sama, mereka mewawancarai lebih dari 100 orang, melacak mantan prajurit di Tiger Force dan akhirnya melakukan perjalanan ke Vietnam untuk mewawancarai para penyintas dan saksi. ‘Reaksinya luar biasa. Sikap pemerintah selama 36 tahun terakhir adalah merahasiakan hal ini,’ kata Ron Royhab, editor eksekutif Blade. Ceritanya dimulai dengan informasi kepada biro Blade di Washington tentang beberapa dokumen rahasia. Informasi tersebut diteruskan kembali ke Ohio, tempat seorang reporter, Mike Sallah, yang kemudian mulai menggali informasi. Pada tanggal 19 Oktober 2003, Sallah, memperoleh catatan rahasia komandan Angkatan Darat AS Henry Tufts yang belum pernah dirilis. Salah satu berkas dalam catatan ini mengacu pada investigasi kejahatan perang yang sebelumnya tidak dipublikasikan yang dikenal sebagai Coy Allegation. Untuk menyelidiki hal ini lebih lanjut, Sallah memperoleh akses ke banyak koleksi dokumen yang dihasilkan oleh penyelidikan yang sudah diadakan dalam Arsip Nasional di College Park, Maryland. Proses itu mulai memunculkan referensi tentang penyelidikan rahasia terhadap Tiger Force. Permintaan dokumen militer berulang kali ditolak, yang berarti tim Toledo Blade harus melacak sendiri para saksi dan korban. Perincian mengenai berita ini sangat mengerikan, baik bagi para penyintas asal Vietnam maupun banyak tentara Angkatan Darat AS yang masih hidup.

Michael Sallah (bersama Mitch Weiss), reporter Toledo Blade yang mengungkap kejahatan perang unit Tiger Force di Vietnam. (Sumber: https://kids.jamespatterson.com/)

GERILYA LAWAN GERILYA

Pada tahun 1967, Amerika Serikat telah terlibat terlalu jauh dalam perang di Vietnam. Pada tahun itu sudah terdapat 485.600 tentara Amerika di negara itu. Jumlah sebesar itu sama dengan mempersenjatai seluruh penduduk Kansas City dan mengirimkan mereka seluruhnya berperang ke negara lain. Jadi ya, singkatnya banyak tentara Amerika berkeliaran di penjuru Vietnam Selatan. Namun sejak awal, terlihat bahwa Perang Vietnam tidak seperti perang yang pernah dijalani Amerika sebelumnya. Di Vietnam tidak ada garis depan yang nyata, seperti misalnya dalam PD II saat prajurit Amerika dapat maju selangkah demi selangkah menaklukkan musuh di Eropa dan di Pasifik, di Vietnam musuh bisa berada di mana saja, dan yang paling penting, mereka tidak selalu bertempur seperti tentara konvensional di medan gunung, hutan, atau sawah. Sementara itu, Amerika berkomitmen dalam perang dengan target dan eskalasi yang terbatas, dengan “hanya” berusaha menjaga tentara Vietnam Utara agar tidak menyusup atau mengambil alih Vietnam Selatan dan bukan untuk menaklukkan wilayah dan pemerintahan Vietnam Utara. Mereka juga menggunakan kampanye pemboman dan operasi lain (seringkali dengan data-data dan perhitungan yang tidak akurat) lebih untuk menimbulkan efek ketakutan dan goyahnya kepercayaan rezim Vietnam Utara untuk terus mengobarkan perang di Vietnam Selatan. Upaya-upaya militer Amerika ini sejauh itu tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Lalu pada periode ini hadirlah sosok Mayor David Hackworth. 

Anggota Divisi Kavaleri ke-1 dengan tahanan Viet Cong yang ditangkap setelah misi di Lembah An Lao. Foto diambil di bulan Februari 1967.Pada tahun 1967, Amerika Serikat telah terlibat terlalu jauh dalam perang di Vietnam. Pada tahun itu sudah terdapat 485.600 tentara Amerika di negara itu. (Sumber: https://pixels.com/)
Kolonel David H. Hackworth, pendiri unit elit Tiger Force. (Sumber: https://www.historynet.com/)
Badge Tiger Force dari Divisi Lintas Udara ke-101 Angkatan Darat Amerika Serikat. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada tahun 1965 Hackworth ditugaskan membangun unit komando elit dari unit patroli pengintai jarak jauh yang sebenarnya sudah terhitung satuan elit. Misi dari satuan yang seluruhnya sukarelawan ini dan kemudian ia beri nama “Tiger Force”,  tugasnya lebih dari sekadar pengumpulan data intelijen. Ketika dia mengatakan bahwa dengan satuan ini dia ingin “mengalahkan gerilya dengan taktik gerilya.” David Hackworth meyakinkan atasannya bahwa pasukan Amerika akan mencapai kesuksesan yang lebih besar jika menggunakan unit yang lebih kecil, bersenjata lengkap, dan tersamar yang dapat bergerak dengan tenang melalui hutan. Tiger Force kemudian menjadi unit pengintaian jarak jauh dari Batalion ke-1 (Lintas Udara), Infanteri ke-327, Brigade ke-1, Divisi Lintas Udara ke-101. Mengenakan seragam kamuflase Perancis, seringkali membawa senapan shotgun yang diperpendek dan senapan AK-47, dan tidak ada seorang pun yang mengenakan helm, para prajurit Tiger Force seperti tahu benar apa yang mereka kerjakan. Sebagai unit tempur berukuran 45 personel, Tiger Force (Recon) 1-327 menjadi salah satu unit kecil yang paling mendapat banyak penghargaan di Vietnam, dan membayar reputasinya dengan banyaknya korban (musuh) yang mereka catat. Pada Oktober 1968, batalyon induk Tiger Force dianugerahi Presidential Unit Citation oleh Presiden Lyndon B. Johnson, yang mencakup penyebutan peran penting Tiger Force di Đắk Tô pada bulan Juni 1966. 

Tiger Force, bulan Juli1968. (Sumber: https://www.war-stories.com/)

BODY COUNT

Tahun 1967, Hackworth telah keluar dari Tiger Force, saat unit ini ditugaskan di Dataran Tinggi Tengah Vietnam, di mana mereka melakukan kampanye teror selama enam bulan di Song Ve Valley dan menjadi bagian dari Operation Wheeler (11 September 1967 – February 1968). Misi ini begitu brutal dan Tiger Force menyusup masuk begitu dalam di wilayah musuh, sehingga anggota Tiger Force tidak banyak berharap untuk bisa keluar hidup-hidup. “Kami tidak banyak berharap untuk tetap hidup. Tidak ada orang-orang dalam satuan kami yang waras punya pikiran untuk bisa tetap hidup,” kata Sersan. William Doyle kemudian memberi tahu The Telegraph. “Cara kami untuk tetap hidup adalah dengan membunuh karena kamu tidak perlu khawatir tentang siapa pun yang terbunuh.” Dalam perang di mana militer AS mengukur kesuksesan strategi perang mereka pada jumlah mayat (musuh) yang dihasilkan sebagai ukuran keberhasilan, Tiger Force siap melakukan bagiannya. Hackworth pernah berkata, “Nilai Kartu yang kamu peroleh didasarkan oleh jumlah mayat (body count) yang kamu dapatkan” Jumlah body count yang dicatat oleh Tiger Force tinggi dan diakui serta didukung oleh para pejabat militer. Kolonel Morse (callsign: Ghost Rider), salah satu komandan batalion, memerintahkan pasukan Tiger Force untuk mengumpulkan body count sebanyak 327 agar sesuai dengan nomor infanteri batalyon, ke-327, namun pada akhir kampanye gila ini, para prajurit yang diberi selamat atas aksi mereka mencatat body count yang ke-1000. Mereka yang tewas dicatat sebagai prajurit musuh di bawah sistem penghitungan body count resmi, meski terkadang membedakan warga sipil dan prajurit musuh tidaklah mudah.

Prajurit Kavaleri ke-1 mengambil foto GI Angkatan Darat AS dan tentara Vietnam yang tewas setelah pertempuran dalam Perang Vietnam. Dalam perang di mana militer AS mengukur kesuksesan strategi perang mereka pada jumlah mayat (musuh) yang dihasilkan sebagai ukuran keberhasilan, Tiger Force jumlah body count yang tinggi. (Sumber: https://www.nikwheeler.com/)
Deskripsi singkat Tiger Force. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

KEGILAAN TIGER FORCE

Pada bulan Mei 1967, ketika para komandan Amerika menjadi frustrasi oleh jalannya perang, di mana musuh-musuh mereka dapat berbaur dengan penduduk sipil, Tiger Force dikirim ke provinsi Quang Ngai untuk memindahkan warga sipil ke pusat-pusat relokasi sehingga para petani tidak bisa menanam padi, sekaligus merampas pasokan makanan bagi pasukan musuh. Tiger Force kemudian beroperasi di luar kendali di dataran tinggi Vietnam selama tujuh bulan. Pada puncak kegilaannya, peleton Tiger Force sedang beroperasi beberapa puluh mil dari dusun Quang Ngai yang oleh Angkatan Darat disebut My Lai 4, dan di sana, pada bulan Maret 1968, lebih dari lima ratus warga sipil Vietnam dibantai oleh satuan tugas, yang pemimpin peletonnya termasuk William L. Calley, Jr. Bergerak melintasi wilayah tersebut, peleton Tiger Force yang terdiri dari 45 pasukan terjun payung melakukan hal yang tidak berbeda jauh dengan pasukan Calley dengan membantai para petani tak bersenjata beserta istri dan anak-anak mereka. Mereka menyiksa dan memutilasi korbannya. Serangkaian kengerian bermunculan – seorang bayi dipenggal karena kalung yang dikenakannya, seorang remaja laki-laki karena sepatu tenisnya. Seorang mantan sersan Tiger Force, William Doyle, mengatakan kepada wartawan bahwa dia melepas kulit kepala seorang perawat muda untuk menghiasi senapannya. Investigasi Blade menyimpulkan bahwa ratusan orang mungkin tewas. “Kami tidak menghitungnya,” kata Ken Kerney, mantan tentara yang kini menjadi petugas pemadam kebakaran California, kepada surat kabar tersebut. ‘Saya tahu itu salah, tapi itu adalah praktik yang bisa diterima.’ Yang lain, Rion Causey, yang waktu itu adalah seorang petugas medis berusia 19 tahun dan sekarang seorang fisikawan nuklir, berbicara tentang bagaimana penduduk desa secara rutin ditembak: ‘Jika mereka lari, kami tembak, dan jika mereka tidak lari, kami tetap menembak mereka.’ Kieu Trac teringat ketika para prajurit Tiger Forcemengamuk di dusun kecil Hanh Tin. Dia mengatakan 10 petani tua dibunuh oleh tentara Amerika. Trac bersembunyi di gubuknya sampai tentara meninggalkan desa, lalu dia menguburkan mayat-mayat mereka. Bertahun-tahun kemudian, Trac mengatakan dia masih tidak mengerti mengapa tentara Amerika membantai warga sipil di desanya. “Mereka hanya petani yang bekerja di ladang. Saya tidak tahu kenapa orang Amerika datang ke sini. Kenapa?” dia bertanya dalam bahasa Vietnam. Hyunh Thi Gioi sedang mencoba mencari perlindungan di bunker bersama putranya yang berusia 6 tahun ketika tentara Amerika datang ke Hanh Tin. Saat Gioi melarikan diri sambil menggendong putranya di bahunya, dia ditembak. Peluru menembus bahunya dan mengenai putranya, yang kemudian meninggal. Gioi masih mengunjungi makam putranya secara rutin, menyalakan dupa, dan mencoba memahami tragedi tersebut. Dia bergidik ketika dia melihat badge bertuliskan lambang Tiger Force, dan dia menunjuk ke lengannya, mengingat para prajurit yang memakai badge yang sama — prajurit yang membunuh putranya. 

Anggota Tiger Force bergerak di sepanjang jalur infiltrasi, 1968. Pada bulan Mei 1967, ketika para komandan Amerika menjadi frustrasi oleh jalannya perang, di mana musuh-musuh mereka dapat berbaur dengan penduduk sipil, Tiger Force dikirim ke provinsi Quang Ngai untuk memindahkan warga sipil ke pusat-pusat relokasi sehingga para petani tidak bisa menanam padi, sekaligus merampas pasokan makanan bagi pasukan musuh. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Anggota Tiger Force sedang berpatroli pada bulan Oktober 1967. (Sumber: https://1960sdaysofrage.wordpress.com/)
Personel Tiger Force berfoto dengan perwira yunior NVA yang ditangkapnya. (Sumber: https://1960sdaysofrage.wordpress.com/)

Dua mantan anggota peleton lalu mengatakan kepada penyelidik Angkatan Darat bahwa banyak anggota dari unit tersebut telah minum bir sepanjang sore pada tanggal 23 Juli 1967, ketika mereka mendatangi lelaki tua yang sedang membawa angsa. Dia adalah seorang tukang kayu bernama Dao Hue, 68 tahun, dalam perjalanan pulang ke keluarganya. Ketika dia mulai mengoceh ketakutan, seorang sersan memukulnya dengan senapan M-16. Ketika seorang petugas medis mencoba merawat luka-luka pria itu dan berlutut di depannya, pemimpin peleton, Letnan James Hawkins, mengangkat Dao Hue dan menembak tepat di wajahnya dengan senapan CAR-15, hanya satu mil (1,6 km) dari gubuk yang dia tinggali bersama keponakannya. Saat seorang prajurit mencoba untuk menghentikan Letnan Hawkins, tetapi dia mengancam akan menembaknya karena mencampuri urusan si Letnan. Keponakan Dao Hue, Tam Hau, memberi tahu Toledo Blade bahwa dia dan seorang penduduk desa lainnya menarik tubuh pamannya dari rumput keesokan paginya. “Bahkan setelah 30 tahun, hal itu terasa menyakitkan,” kata Tam. “Aku bertanya pada diriku sendiri mengapa pamanku harus mati.” Hau sampai sekarang masih mengunjungi gundukan tanah tak bertanda tempat pemakaman pamannya. James Hawkins, 76 tahun, yang pensiun dari militer pada tahun 1978 sebagai mayor, tidak dapat dihubungi. Tetapi dalam sebuah wawancara dengan Toledo Blade pada tahun 2003, dia mengatakan dia menembak tukang kayu tua karena dia “membuat banyak suara. Saya membunuhnya saat itu juga. ” para prajurit Tiger Force berkilah bahwa Dao ditemukan dengan membawa senjata. Disisi lain beberapa saksi mengatakan tukang kayu itu tidak membawa senjata. 

Dalam Perang Vietnam membedakan warga sipil dan prajurit musuh tidaklah mudah, akan tetapi apa yang dilakukan oleh unit Tiger Force sudah melampaui batas. (Sumber: https://www.newyorker.com/)
Seorang pria dan anak tak teridentifikasil yang tewas di jalan. Unit Tiger Force sering melakukan pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada minggu-minggu berikutnya, lebih banyak warga sipil dieksekusi oleh anggota Tiger Force dalam rantai kekejaman yang selamanya akan mengubah Lembah Song Ve, kata para korban yang selamat kepada Toledo Blade. Anggota pleton menembak dan menewaskan empat petani tua di sawah ketika mereka berlari mencari perlindungan. Kemudian, para prajurit menggiring dua orang buta yang ditemukan berkeliaran di lembah ke sebuah sungai dan menembak mereka di situ. Salah satu petani, Nguyen Dam, mengingat bau busuk yang menusuk di udara dari tubuh mereka yang jadi korban. “Kami tidak bisa menguburkan mereka satu per satu,” kata Nguyen kepada The Toledo Blade. “Kami terpaksa mengubur mereka semua dalam satu liang kubur.” “Orang-orang kami tidak pantas mati seperti itu. Kami adalah petani. Kami bukan tentara. Kami tidak menyakiti siapa pun,” katanya. Anggota Peleton Tiger Force menembaki warga sipil setelah diperintahkan untuk membunuh apa pun yang bergerak, kata mantan tentara mengatakan kepada penyelidik, tetapi pemimpin tim memerintahkan mereka untuk tutup mulut. “Para komandan memberi tahu saya, ‘Apa yang terjadi di sini, tetap di sini (jangan sampai informasi keluar dari anggota Tiger Force). Anda tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang apa yang terjadi di sini. Jika kami tahu Anda melakukannya, Anda tidak akan menyukainya.” kata Ken Kerney memberi tahu The Toledo Blade. Petugas medis Rion Causey, 55, yang sekarang menjadi insinyur nuklir di California, mengatakan dia menyaksikan para tentara membunuh warga sipil tak bersenjata. Dia memperkirakan unit tersebut membunuh 120 warga sipil dalam periode lima minggu saja. “Kekerasan yang dilakukan oleh Tiger Force mencapai puncaknya ketika pasukan mereka menghadapi pertempuran sengit dengan tentara Vietnam Utara di provinsi tetangga pada bulan September. Dalam 18 hari, lima anggota pleton terbunuh dan 12 lainnya luka-luka. Pasukan yang selamat merasakan kenyataan pahit dan merasa amat marah, Kata Causey (mantan anggota) mengenang. Lebih dari 33 hari, katanya, Tiger Force kemudian mengamuk di seluruh provinsi. Komandan pleton memberi tahu para prajuritnya, dan wartawan The Toledo Blade bertahun-tahun kemudian, bahwa penembakan diizinkan karena mereka berada di “zona bebas tembak”, di mana pasukan Amerika di Vietnam dapat menembak sesuka hati tanpa persetujuan komandan, suatu kebijakan yang menyebabkan timbul banyak korban sipil di seluruh Vietnam. Namun kebijakan itu tidak mengizinkan penembakan terhadap warga sipil yang tidak bersenjata, kata para pakar militer. Banyak anggota peleton mengatakan rangkaian kekerasan terhadap warga sipil berakhir ketika Tiger Force dipaksa untuk bertempur melawan tentara musuh selama Serangan Tet dan kemudian anggota Tiger Force mendapatkan orang-orang baru sebagai tenaga pengganti.

INVESTIGASI

Hingga saat ini, investigasi kejahatan perang yang paling terkenal dalam Perang Vietnam adalah pembantaian My Lai pada bulan Maret 1968, di mana tentara AS membunuh sebanyak 400 warga sipil Vietnam. Dari tentara yang diadili, hanya Lt. William Calley yang dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Masa hukumannya akhirnya dikurangi menjadi 10 tahun penjara, dan dia kemudian dibebaskan bersyarat pada tahun 1975 setelah menjalani tahanan rumah selama tiga setengah tahun. Sallah dan kawan-kawannya menemukan bahwa antara tahun 1971 dan 1975, Komando Investigasi Kriminal Angkatan Darat telah menyelidiki unit Angkatan Tiger Force untuk dugaan kejahatan perang yang dilakukan antara bulan Mei dan November 1967. Dokumen-dokumen itu termasuk pernyataan dibawah sumpah dari banyak veteran Tiger Force, yang merinci kejahatan perang yang diduga dilakukan oleh anggota-anggota Tiger Force selama operasi di Song Ve Valley dan keikutsertaan mereka dalam Operasi Wheeler. Pernyataan-pernyataan, dari dua individu yang diduga salah satunya berpartisipasi dalam kejahatan perang dan satu lainnya yang tidak terlibat, menggambarkan beberapa tindak kejahatan perang seperti berikut: 

1. Penyiksaan dan eksekusi tahanan yang dilakukan secara rutin.

2. Praktik rutin membunuh penduduk desa Vietnam yang tidak bersenjata termasuk pria, wanita, anak-anak, dan orang tua .

3. Praktik rutin memotong dan mengumpulkan telinga korban. 

4. Praktik mengenakan kalung yang terdiri dari telinga manusia.

5. Praktik memotong dan mengumpulkan kulit kepala korban.

6. Insiden yang melibatkan di mana terdapat tentara yang memasang senjata mematikan pada tubuh penduduk desa Vietnam yang telah terbunuh.

7. Sebuah insiden di mana seorang ibu muda diberi obat bius, diperkosa, dan kemudian dieksekusi.

8. Sebuah insiden di mana seorang tentara membunuh seorang bayi dan memotong kepalanya setelah ibu bayi itu terbunuh.

Diapit oleh dua petugas polisi militer, Letnan Satu William L. Calley Jr. meninggalkan pengadilan di Fort Benning, Ga., setelah dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada bulan April 1971. Masa hukumannya akhirnya dikurangi menjadi 10 tahun penjara, dan dia kemudian dibebaskan bersyarat pada tahun 1975 setelah menjalani tahanan rumah selama tiga setengah tahun. Ketika publik tertuju pada kejahatan perang Calley, aksi brutal Tiger Force tidak pernah dibawa ke pengadilan. (Sumber: https://www.washingtonpost.com/)

Para penyelidik menyimpulkan bahwa banyak kejahatan perang memang benar-benar terjadi. Hal ini termasuk juga laporan tentang pembunuhan terhadap mantan personel ARVN, pembunuhan dua saudara yang buta, orang lumpuh dan orang tua serta pembunuhan yang sering dilakukan terhadap wanita dan anak-anak. Catatan juga menunjukkan bahwa anggota Tiger Force menembak atau menikam setidaknya 81 warga sipil yang melanggar hukum militer. Kini terserah kepada komandan Angkatan Darat untuk memutuskan apakah akan mengadili secara militer para prajurit tersebut. Pada akhirnya, Angkatan Darat memutuskan untuk tidak melanjutkan laporan tersebut pada tahap penuntutan. Detailnya tidak diumumkan ke publik, dan masih dirahasiakan. “Kasus Tiger Force adalah investigasi kejahatan perang terpanjang dalam Perang Vietnam,” kata Sallah. “Itu membutuhkan empat setengah tahun. My-Lai tidak ada artinya jika dibandingkan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menyelidikinya.” Seorang penyelidik utama, yang meminta agar namanya tidak disebutkan, mengatakan kepada ABCNEWS, “Komandan memiliki yurisdiksi akhir untuk mengajukan kasus dilanjutkan atau tidak. “Saya mengajukan laporan saya dan dibagikan kepada seluruh komandan (di Departemen Investigasi Kriminal) dan itulah akhir dari keterlibatan mereka. Saya tidak menulis surat dakwaan,” katanya.

TANPA RASA SESAL

Bill Carpenter, mantan prajurit infanteri khusus di Tiger Force, percaya bahwa mantan komandan regu, Lt James Hawkins, harus bertanggung jawab. Dia ‘sangat menikmati pembunuhan’ dan, sekarang pensiun di Florida, dengan masih membela aktivitas peletonnya di masa perang. ‘Saya tidak menyesali apa pun,’ kata Hawkins. Toledo Blade juga menemukan cerita luar biasa dari internal personel Tiger Force itu sendiri. Seorang tentara, Gerald Bruner, menyerang anak buahnya sendiri dan memerintahkan mereka untuk berhenti menembak warga sipil atau dia akan melepaskan tembakan. Karena hal ini, dia dimarahi oleh seorang komandan dan disuruh menemui psikiater. Bruner hampir sendirian dalam melawan pembunuhan tersebut. Namun kebrutalan tersebut meninggalkan warisan mentalnya. Barry Bowman, seorang petugas medis Tiger Force, mengatakan kepada Toledo Blade bahwa dia dihantui oleh mimpi buruk setelah menyaksikan eksekusi seorang pria lanjut usia asal Vietnam. Yang lain menggambarkan kilas balik yang mereka alami dan banyak yang mencari terapi untuk mengatasi kejahatan mereka di masa lalu. Yang lain tidak menyatakan penyesalan. Selain itu, tuntutan pidana kemungkinan besar tidak akan diajukan.

Sersan. William Doyle, tengah, dengan topi bertepi lembut, menerima medali di Phan Rang pada bulan November 1967. Dia mengaku membunuh warga sipil Vietnam. (Sumber: https://sofrep.com/)

Tiga jurnalis tersebut mengatakan bahwa pasukan komando Angkatan Darat itu, ditugaskan jauh dari daerah yang bersahabat dan pergi menjalankan tugasnya tanpa dukungan, secara rutin melanggar hukum perang, membunuh warga sipil tak bersenjata, melemparkan granat pada wanita dan anak-anak, dan menutupi pelanggaran yang mereka lakukan selama penyelidikan resmi yang dilakukan oleh pihak Angkatan Darat. Beberapa anggota Tiger Force hari-hari ini bahkan tidak membantah tuduhan-tuduhan itu. Doyle, bersama dengan mantan anggota yang lain, mengaku bahwa mereka sudah tidak menghitung lagi berapa banyak orang yang mereka bunuh. “Aku telah melihat banyak kekejaman di Vietnam yang membuat Tiger Force terlihat seperti anak-anak sekolah Minggu,” kata Doyle kepada New York Times. “Semua orang yang saya bunuh, saya bunuh untuk bertahan hidup. Hal-hal ini menjadikan Tiger Force sebagai bagian dari kejahatan perang. Namun tindakan ini juga yang membuat Tiger Force sebagai unit yang efektif dalam menjalankan misinya. Toh pada akhirnya juga tidak ada yang akan mengerti dan memahami kejahatan perang yang pernah saya lihat. Pembunuhan bukanlah hal yang aneh,” Doyle, 70 tahun (tahun 2006) mengatakan kepada ABCNEWS, sambil membenarkan apa yang kini terungkap dalam dokumen Angkatan Darat. “Itu kurang lebih merupakan aturan saat itu.” Doyle, yang menerima banyak penghargaan atas keberaniannya, mengaku membunuh penerjemah bahasa Vietnam di tim-nya sendiri, yakni seorang tentara Vietnam Utara yang ditangkap. “(Apakah) Saya akan mempercayakan nyawa anak buah saya padanya? Itu adalah sesuatu yang cuma bisa anda impikan di Washington, D.C.,” kata Doyle. “Kami sama sekali tidak memercayai siapa pun,” katanya. “Kau tahu, itu peraturan nomor satu.” Doyle mengatakan dia menyesali setiap tentara Amerika yang terbunuh, yang menjadi buta atau terluka dalam perang, namun dia tidak menyesali apa yang terjadi pada orang-orang Vietnam. “Saya tidak membunuh orang Vietnam mana pun sampai saya tidak merasa bahwa dengan membunuh mereka, saya memperpanjang hidup saya sendiri dan teman-teman saya, serta orang-orang di bawah komando saya,” katanya. “Saya tidak bermaksud membunuh orang dengan darah dingin tanpa alasan. Itu merupakan kejahatan perang. Saya tidak bersalah atas hal itu.” “Dari cara saya melihatnya, (saya melakukannya) karena ketakutan pada malam hari, besok, ranjau kaki, dan situasinya.” Doyle juga mengatakan dia bangga dengan apa yang dia lakukan di Vietnam.

Seorang Kit Carsons di Divisi Infanteri ke-9 AS, menembakkan senapan mesin M60.Doyle, yang menerima banyak penghargaan atas keberaniannya, mengaku membunuh penerjemah bahasa Vietnam di tim-nya sendiri, yakni seorang Kit Carsons. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Kini orang-orang yang terlibat dengan bebas mengakui kepada ABCNEWS apa yang mereka lakukan, dan mengatakan bahwa tindakan mereka diperlukan untuk menjamin keselamatan tentara Amerika. “Anda harus memiliki naluri membunuh, Anda harus memiliki naluri bertahan hidup yang kuat,” kata Doyle, yang kini sudah pensiun dan tinggal di Missouri. “Kamu harus cepat mengambil tindakan. Kamu harus sangat kejam.” “Jika Anda berjalan di sepanjang pematang sawah, dan para petani di luar sana sedang menanam padi, dan salah satu dari mereka melihat ke arah Anda dan melakukan kontak mata, dan kontak mata tersebut adalah jenis kontak yang salah – karena Anda dapat membunuh karena tatapan—dia sudah mati,” katanya. “Sebaiknya kau tidak memandang dengan kebencian. (Hanya) Rasa ingin tahu—mungkin dia akan tetap hidup. Tapi saat dia melakukan kontak mata, jika kau mendeteksi kebencian, kau mungkin akan membunuhnya.” Anggota unit tersebut mengatakan bahwa mustahil bagi mereka untuk mengetahui siapa petempur musuh dan siapa penduduk desa biasa. James Hawkins, mengatakan dia dan anak buahnya belajar mencium bau musuh atau siapa pun yang mungkin menimbulkan ancaman. “Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana baunya sebenarnya,” katanya kepada ABCNEWS. “Tapi baunya sangat khas, Anda tahu, jika mereka ada di sana, Anda pasti sudah menyusuri jalan setapak. Anda, Anda bisa mencium bau di mana mereka berada di sana baru-baru itu.” Causey teringat saat ia mengejutkan sekelompok orang Vietnam, yang menyebabkan mereka keluar dari gubuk dengan tangan terangkat. Ketika Causey dan rekan-rekan tentaranya memanggil pemimpin peleton untuk mencari tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap mereka, “satu menit kemudian dia menjawab bahwa mereka harus ditembak. Jadi kami membawa mereka ke dinding dan berbaris dan kami menembak mereka, kata Causey, yang tidak pernah diselidiki atau dituduh melakukan kesalahan apa pun.

Seorang tersangka wanita Viet Cong diinterogasi dengan laras senapan di kepalanya oleh petugas polisi nasional Vietnam Selatan di Tam Ky, sekitar 350 mil sebelah utara Saigon, Vietnam, November 1967. Senapan M-16 dipegang oleh seorang tentara AS selama operasi Brigade Lintas Udara ke-101, memeriksa desa-desa di area pantai untuk mencari tersangka di daerah kantong Viet Cong. Kontak mata yang salah bisa berujung kematian dalam situasi semacam ini. (Sumber: https://www.flickr.com/)

“Apa yang mereka lakukan pada dasarnya adalah membunuh tahanan, membunuh tentara, membunuh penduduk desa, dan memotong telinga untuk dijadikan kalung,” kata Sallah kepada ABCNEWS. “Dua puluh tujuh personel Tiger Force memberikan kesaksian selama penyelidikan Angkatan Darat bahwa mereka telah mengambil bagian dalam ritual tersebut atau bahwa mereka telah menyaksikannya secara langsung – pemotongan telinga untuk dijadikan kalung.” Angkatan Darat menginvestigasi tuduhan-tuduhan yang diajukan ke Tiger Force selama empat setengah tahun dan merekomendasikan 18 prajurit didakwa dengan pembunuhan, penyerangan dan melalaikan tugas, tetapi kemudian tidak ada tuduhan yang diajukan, sementara itu beberapa personel dari Tiger Force bahkan menjadi beberapa prajurit yang paling mendapat penghargaan dalam Perang Vietnam. Unit mereka bahkan dianugerahi Presidential Unit Citation. Atas usaha yang mereka lakukan, Angkatan Darat mengatakan kepada “Toledo Blade” bahwa, kecuali ada bukti baru yang muncul, penyelidikan akan tetap ditutup, keputusan ini diambil bahkan setelah membandingkan informasi dari surat kabar tersebut dengan catatan resmi yang mereka miliki. 

UPAYA YANG DITUTUPI

Pada tahun 1975 penyelidikan secara diam-diam ditutup. Pada saat itu, enam tersangka telah diizinkan mengundurkan diri dari Angkatan Darat, yang berarti mereka dikeluarkan dari yurisdiksi militer. Satu-satunya tentara yang secara resmi dihukum adalah seorang sersan yang memicu penyelidikan dengan melaporkan bahwa seorang anggota Tiger Force telah memenggal kepala seorang bayi. (Dia ditegur karena menyatakan bahwa dia telah menyaksikan kejadian tersebut padahal sebenarnya dia mengetahuinya dari orang lain.) Dua mantan anggota Tiger Force mengatakan kepada The Blade bahwa mereka telah didorong oleh penyelidik Angkatan Darat untuk tidak mengatakan apa pun tentang apa yang telah terjadi; selain itu, para penyelidik gagal mendapatkan petunjuk dan tidak berupaya mewawancarai saksi mata di Vietnam Selatan. “Ada yang ditutup-tutupi,” kata Weiss dari Toledo Blade. “Tidak ada keraguan tentang hal itu.” “Saat ini kami tidak tahu siapa yang menghentikan penyelidikan ini,” kata Sallah. “Kami tidak tahu mengapa tidak ada yang didakwa. Kami tahu kasus ini sudah sampai ke tingkat tertinggi pemerintahan.” Angkatan Darat telah mengirimkan laporan rutin mengenai penyelidikan tersebut ke presiden Nixon di Gedung Putih antara tahun 1971 dan 1973, Sallah dan Weiss melaporkan.

Seorang anggota pasukan elit “Tiger Force” dari Brigade Lintas Udara ke-101 menanyai seorang tentara Vietnam Utara yang terluka yang ditangkap saat brigade tersebut menerobos hutan lebat selama “Operasi Hawthorne“. (Sumber: https://www.gettyimages.dk/)
Presiden Ford (kiri) dan Henry Kissinger. Sebagai penerus Nixon, pemerintahan Gerald Ford tidak ingin muncul publikasi seperti kasus My Lai. (Sumber: https://www.usatoday.com/)

Keputusan akhir untuk merahasiakan kasus ini dan tidak mengadilinya dibuat pada bulan November 1975, ketika penerus Nixon, Gerald Ford, mendesak negaranya untuk memulihkan diri dari luka-luka yang dialami Vietnam. Itu juga merupakan bulan dimana James Schlesinger mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan dan digantikan oleh Donald Rumsfeld, yang merupakan menteri pertahanan termuda dalam sejarah AS. “Hal terakhir yang diinginkan pemerintahan Ford pada saat itu adalah pengadilan kejahatan perang di Vietnam, sesuatu yang sebesar My Lai, karena begitu Anda mengadili salah satu dari orang-orang ini … maka semuanya akan berakhir,” kata Weiss. Baik Rumsfeld maupun Schlesinger tidak mau berkomentar mengapa tidak ada satupun personel Tiger Force yang diadili. Juru bicara Ford mengatakan mantan presiden tersebut tidak berkomentar mengenai penyelidikan Tiger Force. Alasan resminya, yang dibacakan kepada Hawkins dan ditemukan dalam dokumen Angkatan Darat, adalah bahwa “tidak ada hasil yang bermanfaat atau konstruktif yang diperoleh dari penuntutan pidana.” Tidak ada tindakan hukuman apa pun yang diambil terhadap Hawkins, yang lalu naik pangkat menjadi letnan kolonel dan pensiun dengan catatan prestasi yang sempurna. Hawkins mengatakan tidak masalah baginya jika Angkatan Darat memutuskan untuk membuka kembali kasus tersebut. “Mereka ingin mengungkitnya dan menjadikan orang Amerika lainnya sebagai kambing hitam, atau melakukan apa pun untuk sesuatu yang sudah hilang selama ini, biarlah,” kata Hawkins. “Saya berusia 63 tahun (tahun 2006). Saya siap melakukan apa pun yang mereka ingin lakukan.” Adapun Doyle, menurutnya, tidak akan dihukum atas tuduhan apa pun. “Saya bisa dinyatakan tidak bersalah atas kegilaan sementara pada salah satu dari mereka, karena tidak mungkin Anda berada dalam situasi itu dan tidak menjadi gila untuk sementara waktu,” katanya kepada ABCNEWS.

Dikutip dan ditambahkan dari:

The US Army’s ‘Tiger Force’ took terror tactics to the Viet Cong By Blake Stilwell, Jul 10, 2020

https://www.wearethemighty.com/mighty-history/vietnam-war-2554861056/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Tiger_Force

Killer Instinct By Brian Ross and Jill Rackmill; January 7, 2006, 11:29

https://abcnews.go.com/amp/WNT/Investigation/story?id=131449&page=1

The Tiger Force Atrocities By Michael Sallah

https://www.nytimes.com/2017/09/26/opinion/vietnam-tiger-force-atrocities.html

Vietnam killing spree revelations shock US by Paul Harris in New York; Sun 26 Oct 2003 15.43 GMT

https://www.theguardian.com/media/2003/oct/26/pressandpublishing.usnews

Uncovered By Seymour M. Hersh; November 2, 2003

https://www.newyorker.com/magazine/2003/11/10/uncovered

Ghost Warriors by TJ McGinley, Tiger Force Recon, 1/327/101st Abn. Div., Vietnam 1968-1969; 2009

https://www.war-stories.com/ghost-warriors.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *