Inggris nyaris gagal dalam Perang Falkland

Perang Falklands sering dipandang oleh banyak orang sebagai pertempuran yang tidak mengubah apapun. Berlangsung hanya sepuluh minggu, dan perang itu menghasilkan kemenangan mutlak bagi Inggris, sementara sebaliknya menjadi bencana bagi Argentina dan runtuhnya rezim militer yang sudah berkuasa hampir satu dekade. Tapi perang antara Argentina dan Inggris ini bisa saja berakhir berbeda, seperti Mayor Jenderal John Jeremy Moore, komandan pasukan darat Inggris dalam perang, kemudian mengatakan, “Inggris sebenarnya sangat dekat dengan kegagalan (dan bisa saja kalah artinya).” Berikut adalah beberapa fakta yang memaparkan kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh militer Inggris dalam Perang Falkland.

28 buah Sea Harrier Inggris menjadi tulang punggung kekuatan udara Inggris di Falkland dengan hampir melakukan semua jenis operasi udara, mulai dari air superiority, fleet defender, reconnaissance, hingga serang darat.

Inggris mengurangi Kehadiran Angkatan Lautnya

Sebelum perang, Inggris telah mengurangi komitmennya di sekitar Falklands dan wilayah Atlantik Selatan di dekatnya. Banyak penduduk pulau Falkland kehilangan kewarganegaraan Inggris mereka akibat Undang-Undang Kewarganegaraan Inggris 1981. Lebih penting lagi secara militer, kekuatan angkatan laut Inggris telah ditarik dari wilayah tersebut. Kapal pemecah es HMS Endurance adalah satu-satunya kapal Angkatan Laut Kerajaan yang ditempatkan secara permanen di Atlantik Selatan, bahkan sedang dalam proses mau dibesi-tuakan. Rencana perluasan pemotongan anggaran, termasuk potensi “hilangnya” dua kapal induk yang sedang dalam proses dijual (HMS Invincible ke Australia dan HMS Hermes ke India), mengindikasikan kemunduran dari Angkatan Laut Inggris.

Inggris mengerahkan hampir segenap kekuatan lautnya untuk mendukung Task Force yang ditugaskan untuk merebut Falkland dari Argentina, termasuk dari armada itu adalah 2 kapal induk yang dipunya Inggris saat itu, yakni HMS Hermes dan HMS Invincible. Ironisnya kedua kapal itu sebenarnya sedang dalam tahap untuk dijual.

Pada awal 1980-an, hanya Hermes yang masih berdinas dan sempat membutuhkan perbaikan, yang untungnya tepat waktu digunakan di Falklands, untuk mengoperasikan Sea Harriers. Rencananya Hermes akan beroperasi bersama dengan tiga kapal induk berkelas Invincible yang jauh lebih kecil, dan armada Royal Navy saat itu diutamakan untuk perang anti-kapal selam di Atlantik utara, berbeda dari konsep sebelumnya yang punya kemampuan serang ke seluruh penjuru dunia.

Armada Laut Inggris terus mengalami penurunan kuantitas kekuatan sejak sebelum dan setelah perang Falkland 1982.

Seluruh gugus tugas yang dikirim ke Falkland akhirnya terdiri dari 127 kapal: 43 kapal Angkatan Laut Kerajaan, 22 kapal Bantu Armada Kerajaan, dan 62 kapal dagang. Keberangkatan hampir 2/3 dari kekuatan laut Inggris, jelas mempengaruhi perimbangan kekuatan Laut NATO pada masa itu, mengingat Royal Navy juga memiliki kewajiban untuk menjaga wilayah perairan Atlantik Utara dari kekuatan Laut Soviet.

Kalah jumlah personel

Argentina memiliki keuntungan besar dalam jumlah personel militer. Selama invasi awal, Argentina menerjunkan 600 pasukan darat melawan pasukan Inggris yang terdiri dari 85 personel Marinir Kerajaan, 25 anggota Pasukan Pertahanan Kepulauan Falkland (FIDF), dan sekitar selusin anggota pensiunan FIDF. Dengan tanah air mereka yang begitu dekat, Argentina lebih mudah mendapatkan tambahan pasukan ke zona tempur.

Tentara Argentina di Falkland

Pada Satuan Tugas Inggris sedang dalam perjalanan, kekuatan tentara Argentina di Falkland diperkuat lebih dari 10.000 tentara. Dari jumlah tersebut, satu brigade diperkuat 8.000 orang, yang terdiri dari lima resimen bersama dengan unit artileri, AA, mobil lapis baja dan unit zeni ditempatkan di sekitar Port Stanley. Hampir 1.000 prajurit infantri dengan senjata AA dan beberapa artileri ditempatkan di Goose Green, dan di Falkland Barat, Port Howard dan Fox Bay yang masing-masing terdiri dari 800 prajurit dari resimen infanteri plus satuan zeni. Sementara itu pada saat mendarat di Pulau Pebble dan perairan San Carlos di Falkland Barat, Inggris “hanya” mampu mendaratkan 4.000 prajurit.

Penyerahan yang terlalu dini

Penyerahan dini pasukan Inggris di awal perang, sempat membuat beberapa pihak pesimis mengenai kesuksesan merebut kembali Falkland.

Dihadapkan dengan lawan yang jauh lebih besar, Inggris tidak banyak melakukan upaya bertahan di Falkland. Sir Rex Hunt, Gubernur Inggris, menegosiasikan penyerahan diri dalam waktu 12 jam setelah invasi. Meskipun sekelompok Marinir Kerajaan pada awalnya tetap tidak bisa ditangkap, mereka akhirnya memilih menghancurkan senjata mereka dan menyerah daripada mempertaruhkan nyawa warga sipil dalam pertempuran yang sia-sia. Dalam waktu kurang dari sehari, Argentina telah menguasai pulau-pulau itu, dan dengan demikian pula mereka memperoleh keuntungan dalam memegang posisi bertahan dari ancaman serangan balik Inggris kelak, ditambah lagi, Falkland cuma 450 mil dari Mainland Argentina sehingga (seharusnya) lebih memudahkan proses pemenuhan logistik di lapangan daripada armada Inggris.

Operasi yang Tidak Realistis

Misi “mustahil” Task Force Inggris yang bertempur 8.000 mil dari daratan Inggris.

Mengingat jarak dari Inggris ke Falklands yang sangat jauh, Kepala Staf Angkatan Darat Inggris dan Angkatan Udara Kerajaan percaya bahwa upaya merebut kembali pulau-pulau itu adalah tidak realistis, mengingat jarak Inggris dan Falkland yang hampir 8.000 mil jauhnya. Pada momen seperti ini kurangnya kepercayaan politik bisa menyebabkan kemenangan instan bagi Argentina, jika bukan karena pendirian kuat dari para pemimpin, khususnya Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, mungkin Inggris sudah mengurungkan niatnya untuk merebut kembali Falkland.

Jarak terlalu jauh untuk para bomber

Operasi pengeboman strategis di Falkland benar-benar “menguras energi” AU Inggris dalam menjalankan misi pengeboman terjauh dalam sejarah hingga saat itu, lewat Operasi Blackbuck.

Perang Falklands adalah konflik konvensional dimana serangan pemboman menjadi elemen penting dalam menyerang target kapal musuh dan target darat. Lagi-lagi, secara geografi hal ini memberi keuntungan bagi pihak Argentina. Pesawat pembom mereka dapat mencapai Falklands dari Argentina dan mencapai target mereka dalam sekali jalan tanpa perlu pengisian bahan bakar di udara. Sementara itu untuk mencapai Falklands dari Inggris perlu melibatkan operasi pengisian bahan bakar yang kompleks, diperlukan sekitar selusin pesawat terbang untuk setiap satu serangan dapat mencapai target, sebagian besar digunakan untuk mendukung proses pengisian bahan bakar di udara.

Proses rumit dari Air refuiling dalam mendukung operasi pengeboman pada Operasi Blackbuck.

Pada saat Operasi pengeboman dilancarkan lewat Operasi Blackbuck, pesawat bomber Vulcan RAF harus terbang sejauh 6.600 mil laut (12.200 km) dalam waktu sekitar 16 jam untuk perjalanan pulang saja, yang mana adalah serangan pemboman jarak jauh terpanjang dalam sejarah hingga waktu itu. Operasi Operasi Black Buck dilancarkan dari pangkalan RAF di pulau Ascension, dekat dengan garis Khatulistiwa. Vulcan sendiri dirancang lebih untuk misi jarak menengah di Eropa dan tidak memiliki jangkauan untuk terbang langsung ke Falklands tanpa melakukan pengisian bahan bakar beberapa kali. Sebanyak sebelas tanker diperlukan untuk mendukung penerbangan dua bomber Vulcan (satu pengebom utama dan satu untuk cadangan), operasi ini memerlukan perencanaan cermat karena semua pesawat harus menggunakan landasan pacu yang sama.

Beberapa misi yang Gagal

Operasi darat awal satuan khusus SAS di Falkland tidak berujung dengan kesuksesan, mereka mengalami kendala cuaca hingga kecelakaan helikopter.

Pasukan Inggris mengalami beberapa kegagalan diawal. Upaya untuk merebut kembali Georgia Selatan, salah satu pulau yang direbut Argentina, diawali dengan kegagalan pada tanggal 21 April. Pasukan elit yang mendarat, kemudian harus dijemput lagi karena cuaca ekstrem, dan dua helikopter hilang dalam operasi itu. Rencana untuk menyerang pangkalan udara di Tierra del Fuego, di daratan Argentina, ditinggalkan sebelum mereka bahkan mulai, dan misi serupa menyebabkan beberapa kru helikopter Inggris harus menyerahkan diri kepada pihak berwenang Chili karena helikopternya mendarat di wilayah Chili.

Kelemahan pertahanan Armada Inggris

Sistem pertahanan rudal Angkatan Laut Inggris mengalami keterbatasan yang sama dengan hampir semua sistem pertahanan udara angkatan laut negara lainnya, yakni tidak mampu menangkal serangan yang dilakukan dengan kuantitas besar tanpa mempedulikan perrsentase kerugian (saturasi). Setiap kapal yang turut bertanggungjawab dalam mata rantai pertahanan armada Inggris memiliki keterbatasan dalam “meng-handle” ancaman serangan udara.

HMS Coventry meledak setelah dibom oleh pesawat A-4 Skyhawk Argentina yang terbang rendah.

Baik perusak Tipe 42 (dipersenjatai dengan rudal anti pesawat Sea Dart) dan fregat Tipe 22 (dipersenjatai dengan rudal anti pesawat Sea Wolf yang lebih baru) terbatas hanya dapat menangani 2 ancaman udara pada satu waktu. Kekurangan ini tergambar secara jelas dalam kasus tenggelamnya HMS Coventry (D118), perusak Type 42 yang sama dengan HMS Sheffield yang tenggelam oleh rudal Exocet. Kapal ini dengan cepat, mendeteksi dua pesawat terbang rendah, yang dengan segera dikunci oleh radar pembimbing rudal Tipe 909-nya yang sukses dinetralisir. Namun dua pesawat lagi mendekat kapal dari sisi lain dan sukses menjatuhkan tiga bom yang menenggelamkannya.

Kerusakan pada Armada Inggris

Di Falklands, Angkatan Laut Kerajaan Inggris menderita kerugian pertama atas armada kapal perangnya sejak Perang Dunia Kedua, hampir empat dekade sebelumnya. HMS Sheffield tenggelam pada 10 Mei, HMS Ardent pada 21 Mei, HMS Antelope pada 24 Mei, HMS Coventry, dan MV Atlantic Conveyor, sementara sebuah kapal kargo yang membawa helikopter dan logistik lainnya, pada 25 Mei. Hilangnya Atlantic Conveyor efeknya sangat signifikan, karena memaksa pasukan darat untuk bergerak maju ke Port Stanley dengan berjalan kaki.

Amerika sempat berencana meminjamkan USS Iwo Jima, jika saja Argentina dapat menenggelamkan salah satu dari kapal induk Inggris di Falkland.

Pensiunan Panglima Angkatan Laut AS Laksamana James Lyons yang pada waktu itu bertugas di armada kedua AS sempat mempersiapkan rencana untuk meminjamkan ke Angkatan Laut Kerajaan kapal serbu amfibi USS Iwo Jima (LPH-2) yang bisa mengangkut Armada helikopter jika saja HMS Hermes atau HMS Invincible berhasil ditenggelamkan oleh Argentina. Meskipun Iwo Jima sebenarnya bertugas sebagai pengangkut helikopter, setidaknya kapal kelas Iwo Jima memenuhi syarat untuk menerbangkan pesawat Harrier versi A.S; oleh karena itu diperkirakan hanya diperlukan sedikit modifikasi agar Inggris bisa mengoperasikan Harrier dari geladaknya, selain pihak Amerika juga siap membantu Inggris dalam menempatkan beberapa advisor di Iwo Jima untuk membantu proses integrasi sistem.

Moral pihak Argentina

Semangat yang superior membantu membawa kemenangan bagi Inggris, tetapi bahkan dalam hal ini, kedua belah pihak sebenarnya tidak terlampau jauh berbeda. Ketika pasukan Inggris menyerang Gunung Longdon pada malam 11 Juni, mereka mengharapkan sedikit perlawanan karena moral yang buruk di pihak lawan. Namun ternyata semangat prajurit Argentina yang bertahan kuat. Kemenangan yang akhirnya didapat bukannya kemenangan yang mudah, karena para penyerang harus mengalami pertempuran dua belas jam yang melelahkan, dimana Brigadir Jenderal Julian Thompson nyaris memerintahkan perintah untuk mundur.

Pasukan darat Inggris melakukan serangan ke Mount Longdon yang dijaga kuat oleh pasukan Argentina yang moralnya cukup tinggi.

Pertempuran itu sengit dan brutal, sering dilakukan dalam jarak dekat dengan menggunakan bayonet dan granat. Selama pertempuran di bukit Two Sisters, Prajurit Oscar Ismael Poltronieri menahan seluruh kompi Inggris dengan tembakannya, di mana ia kemudian mendapatkan Heroic Valor in Combat Cross, medali paling top Argentina untuk keberanian.

Meskipun gagal dalam membantu Argentina dalam mempertahankan Falkland, namun kekuatan udara Argentina berhasil dalam memperlambat Inggris dalam merebut Falkland lewat aksi mereka yang berani tanpa menghiraukan kerugian yang diderita.

Sementara itu di udara, selama perang Angkatan Udara Argentina memegang peranan kunci. Bahkan para perwira Inggris menaruh respek pada mereka karena faktanya ketika perang dimulai, banyak pilot Argentina tidak memiliki pengalaman tempur. Setelah pelatihan, para pilot terjun dalam perang, membuat banyak manuver yang sukses yang beberapa kali mereka mampu untuk menetralisir pertahanan armada Task Force Inggris dan menyebabkan kerusakan parah pada Armada Inggris. Meskipun Argentina pada akhirnya tidak memenangkan perang, keterampilan bernavigasi navigasi, kemampuan tempur dan semangat pilot Argentina berhasil menunda beberapa waktu pasukan Inggris dalam merebut kembali Kepulauan Falkland selama bulan Mei dan Juni 1982. Sebuah tugas sulit saat menghadapi lawan yang unggul dan berpengalaman seperti tentara Inggris.

BBC Membocorkan data Intelijen

Pertempuran Goose Green adalah kemenangan besar Inggris pertama dalam perang, tetapi hampir saja gagal oleh karena laporan berita. BBC World Service, mendengar rencana serangan itu dan menyiarkannya ke publik. Hal ini hampir menyebabkan rencana penyerangan dibatalkan, karena hal itu bisa dengan mudah menyebabkan adanya perlawanan yang lebih kuat di Goose Green, untung saja Argentina percaya bahwa laporan hanya gertakan Inggris belaka.

Letnan Kolonel Herbert Jones dari pasukan para yang gugur saat memimpin penyerangan di Goose Green.

Jika Inggris mengharapkan datangnya kemenangan mudah di Goose Green maka mereka salah. Pasukan Argentina telah memasang pertahanan yang kuat, untuk menghentikan serangan awal. Upaya pertama yang dilakukan Inggris gagal, dan pemimpinnya, Letnan Kolonel “H” Jones, terbunuh dalam pertempuran.

Garis Pasokan Logistik

Mengobarkan perang di wilayah yang begitu jauh dari mainland nya, Inggris tidak dapat dengan mudah mendapat pasokan logistik. Pada akhir perang, mereka kekurangan makanan dan amunisi, banyak yang hanya memiliki beberapa peluru. Jika pasukan Argentina bertahan sedikit lebih lama, pasukan Inggris akan kehabisan sumber daya untuk bertarung.

Akibat dari tenggelamnya kapal Atlantic Conveyor yang mengangkut helikopter, pasukan darat Inggris terpaksa harus banyak berjalan kaki dalam mencapai pusat pertahanan Argentina di Port Stanley.

Aturan Argentina

Jika bukan karena kegagalan disiplin, pasukan Argentina akan bertahan cukup lama untuk melemahkan Inggris. Peraturan Angkatan Darat mereka melarang penyerahan, sementara mereka masih memiliki 50% pasukan mereka dan 25% amunisi mereka, dan pada 14 Juni mereka secara khusus diperintahkan untuk tidak menyerah. Mereka menyerah pada hari itu, bukan karena mereka menghadapi orang Inggris yang (sebenarnya) kekurangan logistik tetapi prajurit Inggris yang nampak tangguh.

Serdadu Argentina menyerah di Port Stanley.

Jumlah pasukan Argentina yang ada di Falkland saat itu mengejutkan Inggris, yang awalnya mengira “hanya” ada 6.500 orang di Port Stanley. Pasukan Inggris total menawan 15.000 prajurit Argentina – sekitar 11.000 di Falkland Timur, 2.000 di Falkland Barat, dan hampir 2.000 dalam pertempuran sebelumnya – disamping menewaskan lebih dari 800 prajurit Argentina sejak perang dimulai. Jika dilihat dari jumlah yang ditawan, jelas pihak militer Argentina di Falkland tidak mematuhi larangan menyerah sesuai dengan standar Angkatan Darat mereka.

Faktor Bantuan Militer dari Amerika

‘Inggris terpaksa harus menarik diti dari Falklands’ jika Amerika Serikat menghentikan bantuan”, kata John Lehman, sekretaris Angkatan Laut Amerika dari tahun 1981 hingga 1987. BBC mengatakan lewat sumber-sumber Amerika yang didapat mengungkapkan bahwa bantuan AS ke Inggris selama perang Falkland termasuk sekitar 200 rudal anti pesawat Sidewinder, delapan sistem rudal anti-pesawat Stinger, sistem pertahanan udara Vulcan, rudal anti-kapal Harpoon, peluru mortir, data intelijen darat satelit, fasilitas komunikasi dan penggunaan pangkalan udara Amerika di Pulau Ascension, serta rencana meminjamkan USS Iwo Jima, seperti yang telah disinggung diatas.

Rudal AIM-9L yang dipasok Amerika terbukti menjadi faktor krusial kekuatan udara Inggris dalam memperoleh keunggulan udara di sekitar perairan Falkland.

Salah satu keputusan paling penting yang dibuat oleh pemerintahan Reagan pada saat itu, kata Lehman, adalah keputusan untuk memasok Inggris dengan versi paling canggih dari rudal pencari panas Sidewinder, AIM-9L.” Dengan Sidewinders tua, kamu harus berada di belakang pesawat musuh untuk bisa menembak jatuh musuh dan pada saat bisa saja dia telah menjatuhkan bomnya ke kapal,” kata Lehman. “Sidewinders baru memampukan pilot untuk menembak pesawat musuh secara langsung dari berbagai arah (termasuk dari depan), dan itulah yang dilakukan Harrier (pesawat Inggris) dengan begitu cemerlang dan efektif.” Dalam perang ini, seri “Lima” dilaporkan mencapai tingkat akurasi 80%, peningkatan dramatis dari persentase 10-15% dari versi sebelumnya, dengan membukukan 17 “kill” dan 2 “share kill” atas pesawat Argentina.

Kombinasi maut Sea Harrier dan AIM-9 Sidewinder yang punya kemampuan tembak “All Aspect” menebar maut di atas udara Falkland.

Keberadaan Sidewinder jelas krusial bagi Inggris dalam memperoleh superioritas udara yang pada saat konflik hanya mampu menggelar 42 pesawat (28 Sea Harrier dan 14 Harrier GR.3 pinjaman dari RAF) yang tersedia untuk operasi tempur udara (menjalankan tugas mulai dari Fleet Defender, Air Superiority, hingga fungsi serang darat), melawan sekitar 122 pesawat jet, dimana 50 diantaranya adalah pesawat tempur superioritas udara pada Angkatan udara Argentina selama perang.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Twelve Reasons Why the Falklands War Was A Closer Call Than You Think

https://m.warhistoryonline.com/history/reasons-falklands-war-closer.html

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Falklands_War

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Royal_Navy

https://www.naval-history.net/F17-1982_Argentine_Forces.htm

Falklands War anniversary: Why did Britain enter armed conflict with Argentina over these windswept islands?

https://www.google.com/amp/s/www.independent.co.uk/news/uk/home-news/falklands-war-anniversary-uk-argentina-british-empire-why-conflict-territories-margaret-thatcher-a8284501.html%3Famp

USS Iwo Jima would have been loaned to the Royal Navy if the British had lost one of their capital ships during the Falklands War

https://theaviationist.com/2012/08/21/uk-iwo-jima/

Argentine Air Force Pilots in the Falklands

https://www.google.com/amp/s/www.warhistoryonline.com/instant-articles/argentine-air-force-pilots.html/amp

Lehman says U.S. aid enabled Britain to win Falklands

https://www.upi.com/Archives/1988/05/29/Lehman-says-US-aid-enabled-Britain-to-win-Falklands/7835580881600/

BRITISH TAKE 13,000 IN FALKLAND SURRENDER; BAR ARGENTINE ROLE; JUNTA BALKS AT TERMS; Mrs. Thatcher’s statement, page A24.

https://www.nytimes.com/1982/06/16/world/british-take-13000-falkland-surrender-bar-argentine-role-junta-balks-terms-mrs.html

4 thoughts on “Inggris nyaris gagal dalam Perang Falkland

    • 5 January 2020 at 11:02 pm
      Permalink

      you’re welcome

      Reply
  • 16 February 2020 at 1:57 pm
    Permalink

    Nice, tetap semangat untuk update Artikelnya seperti ini

    Reply
    • 16 February 2020 at 9:10 pm
      Permalink

      yup, tks

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *