Kapal Serbu Amfibi Kelas Wasp: Bukan Sekedar “Kapal Induk” Biasa
Dari kejauhan, akan mudah untuk salah mengira kapal kelas Wasp milik Angkatan Laut AS dan enam kapal saudaranya sebagai “kapal induk.” Padahal meski ukuran sebenarnya bisa lebih besar dari kapal-kapal induk yang dioperasikan oleh beberapa negara Kelas Wasp adalah kelas kapal serbu amfibi jenis landing helicopter dock (LHD). Dibuat berdasarkan kelas Tarawa, dengan modifikasi untuk bisa mengoperasikan pesawat dan kapal pendarat yang lebih canggih, kelas Wasp mampu mengangkut hampir seluruh kekuatan Unit Ekspedisi Marinir (MEU) Korps Marinir Amerika Serikat dan mendaratkan mereka di wilayah musuh melalui kapal-kapal pendarat atau helikopter serta memberikan dukungan udara menggunakan pesawat-pesawat serang AV-8B Harrier II atau pesawat tempur siluman F-35B Lightning II. Semua kapal kelas Wasp dibangun oleh Ingalls Shipbuilding, di Pascagoula, Mississippi, dengan kapal pertamanya, USS Wasp, ditugaskan pada tanggal 29 Juli 1989. Delapan kapal kelas Wasp telah dibangun, dan pada bulan April 2021, tujuh masih ada dalam dinas layanan aktif, karena USS Bonhomme Richard rusak parah akibat kebakaran pada tanggal 12 Juli 2020, dan kemudian dinonaktifkan pada bulan April 2021.

KONSEP KAPAL SERBU AMFIBI AL AMERIKA
Kapal Serbu Amfibi adalah kapal perang amfibi terbesar Angkatan Laut AS. Mereka menyerupai kapal induk kecil dan mampu mengoperasikan pesawat dengan kategori Vertical/Short Take-Off and Landing (V/STOL), Short Take-Off Vertical Landing (STOVL), Vertical Take-Off and Landing (VTOL) tilt-rotor dan Rotary Wing (RW). Kapal Serbu Amfibi memiliki well deck untuk mendukung penggunaan Landing Craft, Air Cushioned (LCAC) dan kapal air lainnya. Kapal-kapal perang amfibi dirancang untuk mendukung prinsip Marine Corps of Operational Maneuver From the Sea (OMFTS) dan Ship to Objective Maneuver (STOM). Mereka harus mampu berlayar dalam kondisi yang berbahaya dan memungkinkan dilakukan penumpukan kekuatan tempur yang cepat di darat dalam menghadapi perlawanan musuh. Kemampuannya mengharuskannya untuk dapat mendaratkan material dalam serangan “over-the-beach“, yang dimaksudkan untuk bisa bertahan dari ancaman yang ditimbulkan oleh garis pantai yang dikuasai musuh. Dukungan udara untuk pendaratan di tepi pantai disediakan “secara mandiri”, melalui pesawat sekelas McDonnell Douglas AV-8B Harrier II (AV-8B) yang berkemampuan Vertical/Short Take-Off and Landing (V/STOL) yang memberikan dukungan udara jarak dekat (CAS) yang diperlukan untuk operasi tersebut. Amerika Serikat selama ini telah mempertahankan kekuatan amfibi terbesar dan paling mampu di dunia. Kapal Serbu Amfibi Angkatan Laut AS modern mampu memproyeksikan kekuatan dan mempertahankan kehadirannya dengan menjadi landasan Kelompok Kesiapan Amfibi (ARG) / Kelompok Serang Ekspedisi (ESG). Sebagai elemen kunci dari pilar Seapower 21 Sea Strike dan Sea Basing, kapal-kapal ini mengangkut dan membawa elemen darat dari Marine Expeditionary Unit (MEU) atau Marine Expeditionary Brigade (MEB) dengan kombinasi angkut pesawat dan kapal pendarat.



LHA kelas Tarawa dan LHD kelas Wasp memberi Korps Marinir Amerika sarana pergerakan kapal-ke-pantai dengan helikopter selain pergerakan dengan kapal pendarat. Tiga LHA — yang memiliki kapasitas penyimpanan yang luas dan dapat menampung Landing Craft Utility (LCU) dan kapal LCAC — tercatat berpartisipasi dalam Operasi Desert Shield / Storm di teluk Persia tahun 1990-1991. Sejak saat itu, LHA (dan kemudian LHD) telah menjadi bagian dalam upaya bantuan kemanusiaan besar, pendudukan dan operasi tempur di mana Amerika Serikat telah terlibat. Operasi tersebut termasuk berpartisipasi sebagai platform peluncuran untuk pasukan ekspedisi Korps Marinir ke Afghanistan selama Operasi Enduring Freedom pada tahun 2001 dan 2002, Irak dalam Operasi Iraqi Freedom pada tahun 2003 dan dukungan kemanusiaan setelah bencana Tsunami pada tahun 2004. Selama Operasi Iraqi Freedom, dua LHD berfungsi sebagai “Harrier carriers,” yang meluncurkan kelompok udara pesawat serang AV-8B yang menyerang sasaran-sasaran di dalam Irak. Pada tahun 2004, LHA dan LHD digunakan untuk mengangkut ribuan Marinir dan peralatan mereka ke Irak dan Afghanistan untuk melanjutkan operasi tempur yang ada. Karena kemampuan bawaannya, kapal-kapal ini telah dan akan terus dipanggil untuk juga mendukung misi kemanusiaan dan misi darurat lainnya dalam waktu singkat. Baru-baru ini, dukungan penting dalam bantuan pasca Badai Katrina diberikan di New Orleans oleh LHD 7 (USS Iwo Jima) di mana ribuan personel polisi, pemadam kebakaran dan penyelamat ditampung di atas kapal selama operasi pemulihan dan Iwo Jima dioperasikan sebagai pusat komando dan kontrol. Dengan pengiriman Iwo Jima pada tahun 2001, Angkatan Laut dan Korps Marinir mencapai tingkat kekuatan yang diinginkan dari armada kapal perang amfibi — jenis LHA/LHD, LPD, dan LSD 41/49 — yang menyediakan Grup Serang Ekspedisi yang sepenuhnya mampu untuk memenuhi antisipasi kehadiran dan persyaratan ekspedisi
DESAIN
Seperti sudah disinggung diatas LHD Kelas Wasp didasarkan pada desain LHA kelas Tarawa yang sudah ada sebelumnya. Keduanya berbagi lambung dasar dan mesin yang sama. Namun, anjungan di dua dek lebih rendah pada LHD (Landing Helicopter Dock) daripada di LHA (Landing Helicopter Amphibious) dan pusat komando, kontrol dan komunikasinya berada di dalam lambung di mana mereka kurang mudah untuk dinonaktifkan oleh serangan musuh. Nama Wasp adalah nama kapal yang terkenal dalam Angkatan Laut Amerika, meski bukan berasal dari nama tokoh atau pertempuran penting. Tercatat ada 9 nama kapal milik AL Amerika yang diberi nama Wasp sejak masa revolusi Amerika. Kelas Wasp dibangun dengan menggunakan lebih dari 21.000 ton baja, 400 ton aluminium, 400 mil (643 km) kabel listrik/elektronik, 80 mil (128 km) perpipaan dan tubing dari berbagai jenis dan ukuran, dan 10 mil (16 km) saluran ventilasi. Wasp memiliki berat lebih dari 27.000 ton ketika dipindahkan ke dok kering terapung Ingalls pada tanggal 30 Juli 1987 untuk diluncurkan pada tanggal 4 Agustus 1987, yang dengan ini menjadikannya objek buatan manusia terbesar yang dibawa melintasi daratan. Desainnya dimodifikasi untuk memungkinkan pengoperasian pesawat AV-8B Harrier II dan hovercraft Landing Craft Air Cushion (LCAC), menjadikan kelas Wasp sebagai kapal pertama yang dirancang khusus untuk mengoperasikannya. Perubahan fisik utama antara kedua desain tersebut adalah penempatan bagian bawah anjungan kapal di kelas Wasp, relokasi fasilitas komando dan kontrol ke dalam lambung kapal, penghapusan meriam-meriam angkatan laut Mk 45 kaliber 5 inci (127 mm) dan sponsonnya di tepi depan dek penerbangan, yang membuat dek penerbangannya dapat dibuat lurus ke depan, serta penambahan panjang 24 kaki (7,3 m) untuk membawa LCAC. Ruang tambahan kemudian ini memungkinkan penempatan helikopter CH-53E tambahan, yang secara bersamaan meningkatkan jumlah pasukan serbu yang bisa diangkut per gelombang penyerbuan. Radar untuk USS Wasp ditambahkan di kaki depan haluan yang bulat seperti lunas lambung kapal yang lebih besar. Peningkatan ini tentu saja membutuhkan dek penerbangan yang lebih kuat untuk menopang bobot tambahan sehingga baja tipe HY100 digunakan dalam proses konstruksinya. Untuk mengurangi kecelakaan udara, kemudian dibangun suprastruktur bangunan kapal yang lebih rendah, lebih sempit, dan lebih panjang. Hal ini juga mampu mengurangi jejak radar dan profil sampingnya. Setiap kapal kelas Wasp memiliki bobot penuh 40.500 long ton (41.150 t), yang hampir setara dengan kapal induk medium seperti Charles de Gaulle milik Prancis. Panjangnya 831 kaki (253,2 m), memiliki lebar 104 kaki (31,8 m), dan draft 27 kaki (8,1 m). Dengan ini kelas Wasp berukuran hanya 24 kaki (7 meter) lebih pendek dari kapal induk kelas Essex USS Wasp (CV-18) yang ditugaskan pada tahun 1943, meskipun LHD kelas Wasp lebih berat 5.000 ton dan memiliki kemampuan untuk menjalankan misi yang pernah tidak terbayangkan pada masa Perang Dunia II.


Untuk propulsinya, sebagian besar kapal dilengkapi dengan dua ketel uap yang terhubung ke geared turbines, yang menghasilkan kekuatan 70.000 shaft horsepower (52.000 kW) yang disalurkan ke dua poros baling-baling. Mesin ini adalah yang terbesar yang saat ini beroperasi di Angkatan Laut AS – dengan mampu menghasilkan total 400 ton uap per jam. Jika energi dari dua boiler ini diubah menjadi tenaga listrik, kekuatannya bisa untuk memberi daya pada kota berpenduduk 160.000 orang. Mesin ini kemudian memungkinkan LHD kelas Wasp untuk mencapai kecepatan puncak 22 knot (41 km/jam; 25 mph), dengan jangkauan 9.500 mil laut (17.600 km; 10.900 mi) pada kecepatan rata-rata 18 knot (33 km/jam; 21 mph). Kapal terakhir di kelasnya, USS Makin Island, malah dilengkapi dengan dua mesin turbin gas tipe General Electric LM2500. Generator listrik di atas kapal menyediakan lebih dari 16.000 kilowatt daya untuk sistem kapal. Sementara itu dua stasiun pemompaan bahan bakar bisa memberi kapal kapasitas pengisian bahan bakar 450.000 galon untuk pesawat terbang dan kendaraan lainnya (total sekitar 1.232 ton avtur jenis JP-5 dan sekitar 50 ton bahan bakar kendaraan dapat diangkut). Mesin penyulingan onboard diatas kapal menyediakan hingga 200.000 galon air tawar setiap hari. Awak kapal kelas ini terdiri dari 1.208 personel. Semua kapal kelas Wasp dibuat oleh Northrop Grumman Ship Systems (sebelumnya Litton Ingalls Shipbuilding), di Pascagoula, Mississippi. Kapal pertama dari kelas tersebut, USS Wasp, ditugaskan pada tanggal 29 Juli 1989 dan kapal tersebut beroperasi dengan Armada Atlantik Angkatan Laut AS. Kapal-kapal lain dari kelas tersebut adalah USS Essex (LHD 2) yang ditugaskan pada bulan Oktober 1992; USS Kearsage (LHD 3) (Oktober 1993); USS Boxer (LHD 4) (Februari 1995); USS Batan (LHD 5) (September 1997); USS Bonhomme Richard (LHD 6) (Agustus 1998) dan USS Iwo Jima (LHD 7) (Juni 2001). Kapal kelima dari kelas tersebut, USS Bataan, dibangun melalui proses perakitan modular dan prefitting, yang berarti bahwa LHD ini hampir 75 persen selesai saat diluncurkan. Bagian-bagian terpisah ini lalu disatukan untuk menghasilkan lima modul lambung dan suprastruktur, yang kemudian disatukan di darat. Bataan juga merupakan LHD pertama yang dibangun khusus untuk menampung anggota awak perempuan (bukan dimodifikasi setelah selesai), dengan tempat khusus yang bisa menampung hingga 450 pelaut atau Marinir perempuan. Tiga kapal terakhir dari kelas Wasp masing-masing menelan biaya pembuatan rata-rata $750 juta-$822 juta (sementara nilai aktualnya bisa mencapai $1,4 miliar). Pada tahun 2020, USS Bonhomme Richard terbakar selama proses perbaikan di galangan kapal. Butuh waktu 4 hari untuk memadamkan api dan akibatnya kapal itu rusak parah. Diperkirakan bahwa perbaikan akan memakan waktu 7 tahun dan akan menelan biaya sekitar $2,5 miliar hingga $3,2 miliar, sehingga kapal itu dianggap tidak layak untuk diperbaiki kerusakannya. Angkatan Laut AS lalu memutuskan untuk menonaktifkan dan membesi tuakan kapal itu.

Angkatan Laut AS diketahui merencanakan memiliki 12 satuan Amphibious Ready Group (ARG) yang bisa dikerahkan sekaligus pada tahun 2010, ketika kapal LHA kelas Tarawa pertama berusia 35 tahun. AL Amerika pada tahun 1999 berencana untuk melakukan program perawatan perpanjangan masa pakai/Service Life Extention Program (SLEP) dari LHA kelas Tarawa setelah digunakan selama 35 tahun. Perpanjangan masa pakai ini diharapkan akan menambah umur pakai kapal hingga 15 tahun, dengan biaya $ 1 miliar setiap proses SLEP. Di sisi lain, LHA hanya mampu membawa 1 LCAC, sementara LHD kelas Wasp bisa membawa 2 LCAC, yang bisa keluar masuk well deck dengan muatan penuh. LHD juga memiliki kapasitas penyimpanan barang 20.000 kubik, tetapi dengan 5.000 kaki persegi lebih sedikit kapasitas muat kendaraan dibanding dengan LHA. Disamping itu LHD memiliki hangar dan dek yang lebih luas dibanding dengan LHA, sehingga bisa mengangkut 3 helikopter CH-46 lebih banyak. Sebuah unit ekspedisi marinir (MEU) dengan memakai LHA membutuhkan hingga 3 kapal pendukung untuk bisa menggelar kekuatan yang dibutuhkan sebuah MEU, sementara ketika memakai LHD, mereka hanya butuh 1-2 kapal pendukung lebih sedikit. Di mata senat AS, kemudian dinilai bahwa lebih ekonomis untuk membangun LHD baru ketimbang memperpanjang masa pakai LHA yang sudah menua. Sementara itu, Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera pada tahun 2014 diketahui sempat menyarankan agar Jepang membeli setidaknya satu kapal kelas Wasp untuk memberikan kemampuan pertahanan amfibi yang kuat untuk melindungi pulau-pulau terluar Jepang dalam menghadapi ancaman China.
VERSI UPGRADE
Pada bulan April 2002, Angkatan Laut AS memberikan kontrak kepada Northrop Grumman untuk pembuatan satu kapal kelas Wasp tambahan, USS Makin Island (LHD 8), yang memiliki memiliki turbin gas baru (bukan propulsi uap dari kapal lain), yang terdiri dari dua mesin turbin GE LM2500+, dengan kekuatan 35.000 shp dan enam generator diesel-listrik dengan baling-baling pitch yang dapat dikontrol serta Sistem Propulsi Bantu (APS). Kehadiran kapal ini kemudian menandai pengaplikasian militer pertama untuk mesin turbin LM2500+, yang telah beroperasi di sejumlah kapal komersial. Perbaikan lainnya adalah pada sistem senjata dan kontrol baru. APS yang dipakai pada Makin Island menggunakan dua Auxiliary Propulsion Motors (APM) tipe induksi yang ditenagai dari jaringan listrik kapal alih-alih menggunakan mesin propulsi utama untuk memberi daya pada poros kapal. Alih-alih menggunakan turbin gasnya yang kurang efisien pada kecepatan rendah, kapal akan dapat menggunakan APS-nya guna menyediakan daya selama sekitar 75 persen dari waktu kapal sedang berlayar. Selama masa pemakaian USS Makin Island, Angkatan Laut Amerika mengharapkan untuk bisa melakukan penghematan bahan bakar hingga lebih dari $250 juta. Karena mesin turbin gas akan jarang digunakan, Angkatan Laut Amerika juga akan menghemat biaya pemeliharaan dan siklus hidup dari kapal itu. Seluruh sistem propulsi dan kelistrikan dikendalikan oleh sistem kontrol permesinan komprehensif yang juga mengontrol dan memantau kerusakan, ballasting dan de-ballasting, pengisian bahan bakar, dan mesin bantu. Sistem kontrol mesin juga memungkinkan kapal untuk beralih dari propulsi turbin gas ke propulsi listrik dengan cepat. Ini sepenuhnya didistribusikan, dapat diakses dari berbagai lokasi, dan setiap konsol menyediakan kontrol sistem secara penuh dan kemampuan memantau seluruh sistem permesinan.


Kapal ini juga dapat menampung lebih dari 15.000 ton air laut untuk memungkinkan kapal mengapung masuk dan keluar dari well deck.” Lunas untuk Makin Island diletakkan pada bulan Februari 2004. Diluncurkan pada September 2006 dan memulai uji coba laut kontraktor pada Desember 2008. USS Makin Island dikirim ke Angkatan Laut AS pada bulan April 2009 dan ditugaskan di San Diego pada bulan Oktober 2009. Kemudian pada bulan Juli 2005, Northrop Grumman dianugerahi kontrak untuk pengembangan kapal serbu amfibi USS America (LHA 6), yang merupakan varian dari LHD 8 dengan kemampuan untuk mendukung pengoperasian jet tempur siluman F-35B STOVL joint strike fighter dan V- 22 Osprey. Perbedaan utama antara kapal kelas LHA 6 dan LHD sekelas lainnya, termasuk dek hanggar yang diperbesar, peningkatan fasilitas pemeliharaan penerbangan, peningkatan kapasitas bahan bakar penerbangan, gudang penerbangan tambahan, penghapusan well deck, dan perangkat C4ISR (Command, Control, Communications, Computers (C4) Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) yang dapat dikonfigurasi ulang secara elektronik. Sebagai pengganti well deck, LHA 6 memiliki dek hanggar yang diperpanjang dengan dua derek di atas. Kapal tersebut memimpin kelompok ekspedisi serang dan juga merupakan bagian dari kekuatan preposisi maritim (MPF) – masa depan. MPF masa depan akan sangat penting untuk konsep ‘Sea Basing‘ USN. Seabasing mengacu pada kemampuan untuk melakukan dan mendukung pendaratan laut dari kapal di laut, bukan dari pangkalan darat. Kapal tersebut diberi nama USS America (LHA 6) pada bulan Juni 2008. Lunas kapal diletakkan pada bulan Juli 2009 dan kapal tersebut ditugaskan pada bulan Oktober 2014. Americaadalah kapal pertama di kapal serbu amfibi kelas America. Lunas untuk kapal kedua di kelasnya, USS Tripoli (LHA 7), diletakkan pada bulan Juni 2014 dan kapal ini kemudian diserahkan ke Angkatan Laut AS pada bulan Februari 2020. Upacara peletakan lunas kapal ketiga, USS Bougainville (LHA 8), diadakan pada bulan Maret 2019 dan kapal itu diharapkan akan dikirim ke Angkatan Laut AS pada tahun 2024. Pada Juni 2020, Huntington Ingalls menerima kontrak $145 juta untuk menawarkan kegiatan pengadaan dan material jangka panjang untuk pembuatan kapal serbu amfibi LHA 9. Kapal kelas America rencananya akan menggantikan 5 kapal serbu amfibi kelas Tarawa (LHA 1), yang semuanya akan dipensiunkan.
PEMBAGIAN TUGAS/DEPARTMENT DALAM KELAS WASP
Pada kapal kelas Wasp terdapat banyak Departemen. Berikut ini adalah garis besar singkat dari masing-masing departemen dan tanggung jawab dalam mengoperasikan kapal kelas ini:
AIMD
Misi Departemen Pemeliharaan Menengah Pesawat (Aircraft Intermediate Maintenance Department/AIMD) adalah untuk menyediakan perawatan tingkat menengah, memeriksa, menguji, memeriksa, mengkalibrasi, melumasi dan menyediakan perbaikan komponen bagi pesawat dan peralatan pendukung, serta meningkatkan efektivitas unit kapal permukaan dan penerbangan yang diangkut. Tingkat kemampuan ini berkisar dari pekerjaan kecil dan rumit yang dilakukan oleh teknisi perbaikan miniatur mikro hingga pekerjaan kompleks yang dilakukan oleh petugas mekanik mesin jet. Singkatnya, empat divisi AIMD berkomitmen untuk memberikan dukungan yang tak tertandingi, memastikan kelas Wasp memenuhi reputasinya sebagai salah satu kapal perang terbesar di dunia.
DEPARTEMEN UDARA
Departemen Udara bertanggung jawab atas pelaksanaan operasi penerbangan yang mendukung misi utama kelas Wasp sebagai elemen pendarat pasukan pendaratan Marinir dalam operasi serangan amfibi dan sebagian besar terdiri dari personel Aviation Boatswain’s Mate (Fuels) dan Aviation Boatswain’s Mate (Handler).

COMBAT CARGO
Departemen Combat Cargo bertanggung jawab atas persiapan perintah operasi, rencana, arahan, dan korespondensi dalam hal-hal yang berkaitan dengan embarkasi, loading, stowage, unloading, dan debarkasi personel, perlengkapan, peralatan dan LFORM/kargo dari kapal di bawah kendali komandan kelompok serang.

C5I
Departemen Komando, Kontrol, Komunikasi, Komputer, Tempur dan Informasi (C5I) bertanggung jawab atas operasi dan pemeliharaan sistem komando, kontrol dan komunikasi, sensor, senjata, dan sistem kapal untuk mendukung misi operasi amfibi dan kontrol laut. Intinya, Departemen C5I bertanggung jawab untuk memastikan kapal dapat melawan dan mempertahankan diri ketika ditugaskan untuk melakukannya.
CHAPLAIN/PENDETA
Misi Departemen Chaplain adalah untuk menyediakan dan memfasilitasi layanan ibadah, studi Alkitab dan pendidikan agama untuk para Pelaut dari semua kelompok agama. Departemen ini juga memberikan konseling pastoral kepada para Pelaut, mengunjungi Pelaut di ruang kerja di seluruh kapal dan mengoperasikan perpustakaan dan pusat sumber daya multimedia untuk para Pelaut dan Marinir.
DECK
Pekerja keras, berdedikasi, dan termotivasi. Departemen ini dibagi menjadi tiga divisi dan dipimpin oleh Letnan Satu dan Bos Kapal. Deck selalu bangga dengan pekerjaannya. Pekerjaan departemen ini termasuk mempersiapkan awak selama pengisian yang sedang berlangsung dan sistem pengisian yang terhubung, operasi dek yang menampilkan Landing Craft Air Cushions (LCAC), Landing Craft Unit, operasi kapal kecil serta memainkan peran penting dalam menambatkan kapal. Personil Departemen Deck biasa melapor setiap pagi ke awak kapal bahwa “ini hari yang menyenangkan untuk berada di dek.”

DENTAL
Departemen Dental menyediakan perawatan gigi primer dan kemampuan perawatan darurat untuk awak kapal dan pasukan yang diangkut. Terdiri dari tiga ruang perawatan, departemen dental dari kelas Wasp memiliki kemampuan perawatan gigi paling lengkap dari semua militer di dunia.
ENGINEERING
Departemen Teknik terdiri dari Damage Controlmen, Electrician’s Mates, Engineman, Hull Maintenance Technicians, Machinery Repairman dan Machinist Mates. Departemen Teknik bertanggung jawab atas sistem propulsi kapal serta menyediakan air untuk awak dan Marinir yang diberangkatkan. Departemen Teknik juga menyediakan semua listrik di kapal, memelihara dan mengoperasikan sist pendingin udara dan pendinginan, dan memelihara fasilitas binatu dan peralatan dapur kapal. Selain itu Departemen Teknik juga bertanggung jawab atas upaya pemadaman kebakaran dan pengendalian kerusakan di atas kapal kelas Wasp.
EKSEKUTIF
Departemen Eksekutif bertanggung jawab untuk memberikan dukungan administratif, bantuan hukum, keamanan, personel dan layanan konseling karir.
MEDIS
Dengan enam ruang operasi, kemampuan sinar-X digital mutakhir, laboratorium yang berfungsi penuh, bank darah, unit perawatan intensif dengan 14 tempat tidur, bangsal perawatan pasien dengan 46 tempat tidur, empat ruang perawatan tempur dan staf medis terlatih dan terbaik di armada, Departemen Medis siap mendukung misi apa pun yang dilakukan kapal kelas Wasp. Departemen Medis mempertahankan tingkat kesiapan yang tinggi melalui pelatihan berkelanjutan bagi tenaga medis di bidang keahlian masing-masing, dan pelatihan di kapal dalam teknik pertolongan pertama dan penyelamatan dasar.

NAVIGASI
Departemen Navigasi bertanggung jawab untuk menavigasi kapal dengan aman. Mereka terlibat dalam semua aspek perencanaan perjalanan dan memberi nasihat kepada komodor, stafnya, dan perwira komandan dalam hal-hal yang berkaitan dari transit di laut terbuka hingga piloting pelabuhan. Personel Quartermaster of the Watch berjaga-jaga di anjungan dan dengan cermat memastikan posisi kapal menggunakan perangkat Global Positioning System, radar, celestial, dan alat bantu navigasi visual. Mereka adalah asisten utama Perwira Dek dalam semua hal yang berkaitan dengan navigasi kapal yang aman.
OPERASI
Departemen Operasi adalah inti dari pelaksanaan penugasan kelas Wasp. Setiap misi yang dilakukan kapal kelas Wasp diatur dan direncanakan oleh Departemen Operasi. Kontrol Lalu Lintas Udara, Pusat Informasi Tempur, Pusat Intelijen Gabungan, Informasi Kriptologi dan Meteorologi serta Urusan Publik, program televisi kapal dan layanan fotografi dan toko cetak adalah bagian dari setiap misi yang dilakukan oleh kapal kelas Wasp dan disediakan oleh Departemen Operasi.

PENGAMANAN
Departemen Pengamanan dibentuk dengan dasar premis bahwa meskipun Pelaut beroperasi di lingkungan yang berbahaya secara inheren, mereka dapat menghilangkan atau mengurangi bahaya yang terkait dengan pekerjaan mereka dengan mengikuti pedoman yang ditetapkan dan tindakan pencegahan dan memastikan semua personel dilatih dengan benar. Departemen Pengamanan juga bertugas mengkoordinasikan pendidikan keselamatan antar departemen, pelatihan dan Pelatihan Militer Umum melalui Sistem Pelatihan dan Hiburan Informasi Kapal.
PASOKAN
Misi Departemen Pasokan adalah untuk menyediakan kapal dengan alat dan suku cadang yang diperlukan untuk menyelesaikan misi apa pun. Pasokan ini meliputi makanan, bahan bakar, perlengkapan kantor, peralatan perbaikan dan banyak kebutuhan lainnya. Departemen Pasokan adalah ‘minyak’ yang membuat ‘roda gigi’ tetap berputar pada kapal kelas Wasp.
PELATIHAN
Departemen Pelatihan berusaha untuk memungkinkan Pelaut mengelola, mengoordinasikan, dan memantau pelatihan profesional dan pribadi dengan benar untuk meningkatkan kesiapan kapal kelas Wasp secara keseluruhan. Hal ini dicapai dengan memastikan semua sekolah, Standar Kualifikasi Personil, GMT dan persyaratan indoktrinasi komando dijadwalkan, diselesaikan dan didokumentasikan. Selain itu, Departemen Pelatihan memberikan konseling dan saran yang baik untuk membantu Pelaut dalam mendapatkan atau bekerja untuk mendapatkan gelar sarjana saat berada di darat atau dikerahkan melalui Program Perguruan Tinggi Angkatan Laut untuk Pendidikan Perguruan Tinggi Terapung dan penggunaan sistem teletraining video.
KAPABILITAS AMFIBI
Selama Perang Dunia I, Perang Dunia II dan Perang Korea, misi serangan amfibi Amerika membutuhkan berbagai (dan banyak) jenis kapal permukaan termasuk kapal tempur, kapal induk, kapal pengangkut pasukan dan kapal pendarat. Kapal-kapal pendukung kemudian harus berada dekat dengan garis pantai yang bergejolak dan berbahaya untuk mendaratkan pasukan penyerang mereka dan dengan demikian ditempatkan dalam jangkauan artileri dan serangan udara dari pihak musuh. Kini Kapal-kapal LHD memungkinkan Angkatan Laut AS dan Korps Marinir memiliki kemampuan untuk melakukan serangan jarak jauh/over-the-horizon yang mengurangi kemungkinan serangan terhadap aset terbesar Angkatan Laut, yakni kapal-kapal dan awaknya. Konsep ini lebih lanjut memungkinkan kapal kelas Wasp kemampuan mendarat di pantai yang tak terbantahkan. LHD kelas Wasp dapat mendukung pendaratan amfibi dalam dua cara: dengan kapal pendarat dan dengan helikopter. Di well deck setinggi 28 kaki (8,5 m) berukuran 266 x 50 kaki (81 x 15,2 m), LHD ini dapat membawa tiga Landing Craft Air Cushion, dua belas Landing Craft Mechanised, atau 40 Kendaraan Serbu Amfibi (AAV), dengan 21 AAV lainnya di dek kendaraan. Dek penerbangan memiliki sembilan tempat pendaratan helikopter dan dapat mengoperasikan helikopter dan pesawat tiltrotor sebesar Sikorsky CH-53E Super Stallion dan MV-22B Osprey. Ukuran elemen tempur udara bervariasi tergantung pada operasinya. Di masa lalu elemen udaranya terdiri dari 12 (maksimal 42 bisa dibawa) helikopter CH-46 Sea Knight (kini sudah pensiun), empat helikopter CH-53E Sea Stallion; tiga UH-1N Huey dan empat helikopter tempur AH-1W Super Cobra. Kurangnya landasan pacu yang panjang di Kelas Wasp, ketiadaan sistem peluncuran ketapel, atau peralatan kait penangkap berarti bahwa kapal serbu amfibi seperti kelas Wasp tidak dapat mengakomodasi pesawat tempur berbasis kapal induk konvensional seperti F-18E atau F-35C, serta tidak menampilkan jalur “ski jump” yang ditemukan pada kapal-kapal induk untuk meluncurkan pesawat, tapi mereka dapat menggelar pesawat khusus dengan kemampuan short takeoff vertical landing (STOVL) seperti Harrier dan F-35B. Ketiadaan “ski-jump” ini dimaksudkan untuk memaksimalkan tempat di dek, namun ada yang harus ‘dibayar’, dimana ketiadaan ramp V/STOL ski-jump yang dipasang, turut mengurangi potensi efektivitas armada Harrier. Di masa sekarang elemen tempur udara standarnya terdiri dari enam jet Harrier atau enam jet F-35B Lightning II dan empat helikopter serang AH-1W/Z Super Cobra/Viper untuk menyerang dan mendukung pasukan, dua belas Osprey dan empat helikopter Super Stallions untuk misi transport, dan tiga atau empat helikopter utilitas Bell UH-1Y Venom. Untuk misi serangan skala penuh, grup udara dapat memiliki maksimal 22 Osprey, sementara Wasp yang beroperasi dalam misi pengontrolan laut atau konfigurasi “Harrier carrier” atau “Lightning carrier” bisa membawa hingga 20 AV-8B atau F-35B (meskipun beberapa kapal dari kelas ini telah mengoperasikan sebanyak 24 Harrier), didukung oleh 6 helikopter Sikorsky SH-60 Seahawk untuk misi peperangan anti-kapal selam. USS Boxer (LHD 4) menjadi kapal pertama dari kelas Wasp yang mengoperasikan helikopter UH-1Y berbilah empat yang baru pada bulan Oktober 2008. Sistem kontrol lalu lintas udara di kapal bisa mendukung pengoperasian pesawat Harrier dan helikopter secara simultan di dek penerbangan berukuran 819 kaki kali 112 kaki (249 m x 34 meter).



Sementara itu, pengenalan F-35B pada kelas Wasp memberi kapal perang ini pesawat tempur yang serbaguna dan berkemampuan tinggi untuk pertama kalinya, yang sangat mampu digunakan dalam peran udara ke darat, udara ke udara dan anti kapal. Kecepatan subsonik Harrier dan kinerjanya yang ada di bawah F-35B di seluruh parameter, dikombinasikan dengan kebutuhan perawatannya yang tinggi, berarti bahwa pengenalan F-35B sebagai gantinya telah merevolusi kemampuan kapal Kelas Wasp sebagai sebuah kapal induk. USS Wasp bisa membawa serta 10 pesawat tempur F-35B dan sejumlah platform bersayap putar termasuk V-22 Osprey. Ini bagaimanapun mewakili jumlah pesawat tempur yang jauh lebih besar daripada konfigurasi umumnya untuk kapal induk ini, yang biasanya hanya menggelar enam pesawat sayap tetap. Itupun masih mewakili hanya setengah dari kapasitas penuh Kelas Wasp untuk mengangkut pesawat tempur, dengan kapal ini secara total mampu mengerahkan hingga 20 jet F-35B. Pengerahannya ke berbagai wilayah dengan jumlah pesawat tempur yang lebih besar masih mungkin terjadi di masa depan. Sementara itu, meski kapal perang Kelas Wasp jauh lebih ringan daripada supercarrier kelas Nimitz dan Gerald Ford yang berbobot 100.000 ton, mereka tetap menjadi salah satu kapal induk pengangkut paling mampu di dunia dengan bobot yang sebanding dengan Kapal induk andalan Prancis Charles De Gaulle – yang hingga tahun 2016 masih menjadi kapal perang terbesar di Eropa, sebelum ‘digusur’ oleh kapal induk kelas Queen Elizabeth dari Inggris. Berbeda dengan kapal Prancis, Kelas Wasp didasarkan pada teknologi yang telah terbukti sangat andal dan dapat menggunakan jet tempur generasi kelima yang canggih jauh di depan apa pun yang bisa diproduksi oleh produsen Eropa. Kombinasi F-35B yang berkinerja tempur kelas atas dan kemampuan STOVL yang tetap tak tertandingi di seluruh dunia – memberi Angkatan Laut AS kemampuan unik untuk menerjunkan kapal serbunya sebagai kapal induk, menjadikan jumlah armada kapal induknya menjadi 19 kapal. Namun ini bisa segera berubah, dengan munculnya kapal serbu Type 075 Class dari China yang akan datang, yang memiliki konfigurasi yang sangat mirip dengan kapal-kapal rival Amerika-nya dan dispekulasikan akan menggunakan jet siluman yang mampu mendarat vertikal buatan mereka sendiri.



Sementara itu Kapal kelas Wasp memiliki dua elevator pesawat di tepi dek (satu di tengah kapal di sisi kiri, yang lain di sebelah kanan, di belakang bangunan utama kapal), masing-masing dengan kapasitas angkat 75.000 pon (34 ton). Elevator ini bisa dilipat saat melalui Terusan Panama dan merupakan elevator lipat terbesar di angkatan laut Amerika. Setiap kapal mampu menampung 1.894 personel Korps Marinir Amerika Serikat. Jumlah ini hampir sebesar kekuatan penuh dari unit ekspedisi laut (MEU). Sebuah kapal kelas Wasp dapat mengangkut hingga 30.800 kaki persegi (2.860 m2) kargo, dan 20.000 kaki persegi (1.858 m2) dialokasikan untuk kendaraan MEU, yang biasanya mencakup 5 tank tempur M1 Abrams, hingga 25 kendaraan tempur AAV, 8 meriam howitzer M198, 68 truk (HMMVVV), sepuluh kendaraan logistik, 12 truk 5 ton, dua trailer air, truk layanan bahan bakar, empat forklift medan berat dan dua trailer generator. Kendaraan-kendaraan ini dapat dimuat di kapal pendarat, dan sebagian besar dapat dibawa ke pantai dengan menggunakan helikopter. Sistem monorel internal enam jalur dan enam elevator internal seberat 12.000 pon (5.400 kg) digunakan untuk memindahkan kargo dari ruang kargo ke kapal pendarat di well deck. Setiap kapal kelas Wasp memiliki rumah sakit dengan kapasitas 64 tempat tidur pasien dan 6 kamar operasi. Sebuah 536 tempat tidur tambahan dapat diatur di bangsal rumah sakit sesuai kebutuhan. Para tim medis juga memberikan perawatan medis/gigi rutin kepada kru dan personel yang diangkut. Fasilitas medis utama meliputi empat ruang operasi utama dan dua ruang operasi darurat, empat ruang operasi gigi, ruang rontgen, bank darah, laboratorium, dan bangsal pasien. Selain itu, tiga ruang perawatan pertempuran terletak di seluruh kapal, serta area pengumpulan korban di dek penerbangan. Lift medis dengan cepat kemudian akan memindahkan korban dari dek penerbangan dan hanggar ke fasilitas medis kapal. Untuk kenyamanan 1.075 awak dan 1.600 pasukan yang diberangkatkan, semua ruang berawak dan area tinggal memiliki pemanas dan penyejuk udara tersendiri. Tempat tinggal kru dan pasukan berada di tingkat dek yang sama, dengan dapur dan fasilitas mess di dekatnya. Area tinggal dibagi untuk menyediakan ruang semi-pribadi tanpa mempengaruhi efisiensi. Penutup dek dan dinding bersifat dekoratif tetapi juga dapat diservis dan mudah dirawat. Area mess kapal memfasilitasi pemberian makan cepat dalam suasana seperti restoran. Fasilitas rekreasi di dalam kapal meliputi Pusat Multi-Media dan Perpustakaan yang canggih dengan akses Internet, ruang angkat beban, mesin arcade, dan akses ke televisi berbasis satelit.



Sistem pendukung serangan pada kapal kelas ini mampu menyinkronkan aliran pasukan, kargo, dan kendaraan secara horizontal dan vertikal secara simultan di seluruh kapal untuk memasukkan pasukan ke darat menggunakan helikopter, kapal pendarat, dan kendaraan amfibi. Enam elevator kargo berkapasitas 12.000 lb (5,4 ton) mampu mengangkut material dari ruang kargo ke area untuk pemuatan. Kargo yang akan dimuat di kapal pendarat di dalam well deck dipindahkan melalui sistem monorel. Sistem ini terdiri dari lintasan sepanjang 2.900 kaki (883 meter) dalam tata letak yang terdiri dari enam lintasan. Lima kereta monorel sepanjang 32 kaki (9,7 meter) masing-masing memiliki kapasitas 6.000 pon (2,7 ton) dan kecepatan hingga 600 kaki per menit (6,8 mph/10,9 kmh). Di lepas pantai, kapal-kapal pendarat diluncurkan dan kembali melalui gerbang yang sangat besar di buritan, yang membuka well deck ke air laut. Well deck memiliki panjang 267 kaki, lebar 50 kaki (81 x 15.2 m) dan dirancang khusus untuk memberi akses masuk/keluar dari kendaraan pendarat berbantalan udara (LCAC). LHD kelas Wasp bisa membawa tiga LCAC. LCAC adalah kapal pendarat berkecepatan tinggi yang mampu membawa muatan 60 ton hingga 75 ton. Ia dapat membawa muatan seperti tank M1A1 dan truk 5 ton dengan kecepatan lebih dari 40 knot (73,6 km/jam). Bantalan udara memungkinkan LCAC menjangkau lebih dari 70% garis pantai dunia, sementara kapal pendarat konvensional hanya dapat mendarat di 15% pantai di seluruh dunia. Sementara itu, meskipun kapal kelas Wasp mampu membawa dua LCU sekaligus, konfigurasi ini tidak direkomendasikan untuk digunakan karena persyaratan untuk mengikat, memblokir, dan menopang LCU yang harus sesuai dengan prosedur well dock basah saat ini. Selama proses pengangkutan beban, dua LCU dapat dibawa dan dibongkar dengan pertimbangan perencanaan yang tepat. Hanya pengoperasian pax dan kargo (4K forklift dan monorel) yang dapat dilakukan ketika dua LCU dibawa cukup jauh ke dalam well dock untuk bisa menutup gerbang dok pada buritan. Untuk melakukan operasi kendaraan secara simultan dengan dua LCU, LCU kedua harus keluar terlebih dahulu dari well dock. Kapal ini dapat membawa hingga 61 Kendaraan Serbu Amfibi (Landing Vehicle Tracked Personnel LVTP-7), dengan 21 disimpan di tempat penyimpanan kendaraan atas dan 40 disimpan di well dock.
PERSENJATAAN DAN PERALATAN SENSOR
Persenjataan dari empat kapal kelas Wasp pertama terdiri dari dua peluncur octuple Mark 29 untuk rudal RIM-7 Sea Sparrow, dua peluncur Mark 49 untuk Rudal RIM-116, Rolling Airframe Missiles, tiga CIWS Phalanx kaliber 20 mm, empat kanon chain gun Mark 38 kaliber 25 mm, dan empat senapan mesin kaliber .50. Sea Sparrow dipakai untuk pertahanan udara jarak menengah, sedangkan RAM dan Phalax untuk melawan ancaman dari pesawat terbang rendah dan pesawat kecil jarak dekat. Empat kapal berikutnya, yakni Bataan, Bonhomme Richard, Iwo Jima, dan Makin Island, memiliki perlengkapan senjata yang sedikit berkurang dibandingkan dengan kapal saudara mereka sebelumnya, dengan satu Phalanx dan satu senjata Mark 38 dilepas. Sistem penanggulangan yang dipasang pada kapal kelas ini termasuk empat hingga enam peluncur chaff dan decoy SRBOC (super-rapid blooming offboard chaff) Mark 36, decoy torpedo AN/SLQ-25, AN/SLQ-49 chaff buoys, Sea Gnat missile decoy, dan Electronic Warfare Suite AN/SLQ-32.



Sistem sensor Wasp dilengkapi dengan radar berikut: radar navigasi utama Northrop Grumman Norden AN/SPS-67 G band; Radar pencarian udara ITT Gilfillan AN/SPS-48E E/F band 3D; sistem akuisisi target (TAS) Raytheon (Hughes) mk23 untuk rudal sea-skimming, yang secara bersamaan dapat melacak hingga 54 target; radar pencarian udara Northrop Grumman Norden AN/SPN-43; Raytheon radar pencarian udara sekunder AN/SPS-49(V)9 C/D band; dan radar kontrol lalu lintas udara ITT GilfillanAN/SPN-35A/B. Perangkat interogator teman atau musuh (IFF) Northrop Grumman AN/UPX-24 juga dipasang. Lalu sistem TACAN AN/URN -25, bersama dengan beberapa radar tambahan dipakai untuk pendukung navigasi dan pengendalian penembakan. Sistem komando Sistem C4I yang dipasang pada kapal ini mendukung operasi amfibi dan peran misi sekunder. Tampilan layar besar dan sistem C4I otomatis terletak di pusat informasi tempur (CIC), pusat operasi pasukan pendaratan (LFOC) dan dilengkapi plot bendera untuk memantau dan mendukung operasi taktis. Sebuah sistem Sperry Marine integrated bridge system (IBS), yang menyediakan data navigasi, kemudi, dan kontrol terintegrasi yang terkomputerisasi, dipasang ke kapal Iwo Jima dan dapat dipasang ke kapal-kapal sebelumnya di kelas ini.
SISTEM ELEKTRONIK TEMPUR UTAMA
AN/SPS-49
AN/SPS-49 adalah radar pencarian udara jarak jauh dua dimensi Angkatan Laut Amerika Serikat yang dibuat oleh Raytheon yang dapat memberikan arah dan jangkauan kontak. AN/SPS-49 adalah radar pencarian udara utama untuk banyak kapal perang di armada AS dan di Spanyol, Polandia, Taiwan. Standarnya adalah berputar pada kecepatan 12 rpm AN/SPS-49A(V)1 menyediakan pemindaian yang lebih sering terhadap rudal yang datang. Pertama kali diuji pada tahun 1965 di atas kapal USS Gyattdan diperkenalkan pada tahun 1975, AN/SPS-49 beroperasi pada gelombang 851–942 MHz, atau L-Band dan memiliki jangkauan hingga 256 mil laut (474 km).

AN/SPS-48
AN / SPS-48 adalah sistem radar pencarian udara tiga dimensi yang dipindai secara elektronik dan digunakan oleh Angkatan Laut AS pada tahun 1960-an sebagai sensor pencarian udara utama untuk kapal perang antipesawat. Radar tiga dimensi ini dipasang di dudukan yang memungkinkan untuk melakukan rotasi 360 derajat. Target kemudian dapat ditemukan pada azimuth tertentu. Kisaran jarak target juga bisa diidentifikasi dengan memperhitungkan waktu yang dibutuhkan gelombang radar untuk keluar dan kembali ke perangkat penerimanya. Yang membedakan sistem radar ini dari sistem sebelumnya adalah kemampuannya untuk mendeteksi ketinggian target di atas permukaan air. Dengan tiga bagian data ini, prosesor pusat radar memiliki kemampuan untuk menempatkan target dalam ruang X, Y, Z, 3 dimensi. Menurut pengakuan ITT Exelis sebagai produsen, sistem ini memiliki jangkauan melebihi 200 nmi (370 km) dan dapat melacak target hingga ketinggian 69 derajat. AN / SPS-48E mampu memberikan data jangkauan target, dan informasi ketinggiannya menggunakan antena pemindaian frekuensi yang menggunakan rentang frekuensi yang berbeda di gelombang E dan F band dengan tiga mode daya: tinggi, sedang dan rendah. Radar SPS-48 memancarkan banyak sinar gelombang dalam rangkaian frekuensi yang berbeda-beda. Pancaran gelombang ini mampu memindai area ketinggian yang berbeda, yang memungkinkannya untuk mengcover hingga ketinggian 69 derajat. Radar ini dipasang pada penjelajah kelas Long Beach, sebagai bagian dalam program peningkatan pada tahun 1980an. Sementara itu dengan mulai dipakai dengan luas sistem radar Aegis AN / SPY-1 dan berakhirnya Perang Dingin menyebabkan banyak kapal yang menggunakan sistem radar ini dinonaktifkan, dan banyak dari perangkat radar AN / SPS-48 kapal-kapal ini yang kemudian digunakan kembali pada kapal induk dan kapal amfibi, di mana ia digunakan untuk memandu sistem pertahanan udara seperti rudal Sea Sparrow dan RIM-116 SAM. Perangkat yang masih digunakan lalu dimodernisasi di bawah program ROAR untuk menjadi standar AN / SPS-48G guna mendapatkan keandalan yang lebih baik.

AN/SPS-67
AN/SPS-67 adalah sistem radar navigasi/pencarian permukaan jarak pendek dua dimensi yang menyediakan kemampuan deteksi dan pelacakan permukaan yang sangat akurat dan terbatas. AN/SPS-67 adalah pengganti yang lebih unggul untuk radar AN/SPS-10, karena menggunakan antena yang lebih andal dan menggabungkan teknologi modul elektronik standar untuk perbaikan dan pemeliharaan yang lebih mudah. AN/SPS-67 memberikan kinerja yang sangat baik dalam kondisi hujan dan laut bergelombang, dan berguna dalam navigasi di pelabuhan, karena AN/SPS-67 mampu mendeteksi pelampung dan penghalang kecil tanpa kesulitan. Jangkauan dari radar ini adalah hingga 104 km (56,2 nm).

MK 23 TARGET ACQUISITION SYSTEM (TAS)
Target Acquisition System (TAS) Mk 23 adalah sistem deteksi, pelacakan, identifikasi, evaluasi ancaman, dan kontrol senjata yang dirancang khusus untuk digunakan melawan target berpenampang kecil dan berkecepatan tinggi yang mendekati kapal baik dari atas cakrawala di ketinggian yang sangat rendah atau dari ketinggian yang sangat tinggi mendekati sudut vertikal. TAS mengintegrasikan subsistem radar pencarian udara jarak menengah, dua dimensi; subsistem IFF; subsistem tampilan; dan subsistem komputer untuk menyergap target yang menyerang di udara. Deteksi otomatis dan radar pelacakan Mk 23 TAS adalah elemen dari sistem Kontrol Penembakan Rudal tipe Mk 91 (MFCS). MK 23 beroperasi di gelombang 1215-1400 MHz yang memberikan informasi target ke Sistem Rudal Permukaan Sea Sparrow. Jarak jangkau sistem ini mencapai 200 km.

Mk 36 SRBOC
BAE Systems Mk 36 SRBOC Chaff and Decoy Launching System adalah gabungan mortir 6 laras yang dipasang di dek kapal untuk meluncurkan perangkat pencegahan khusus terhadap berbagai jenis ancaman. Setelah peluncuran dan penyebarannya, Chaff Mk 36 SRBOC dan infrared countermeasures yang dilepaskan dirancang untuk memancing rudal musuh menjauh dari kapal yang diserang dengan membuat set target palsu. Mk 36 SRBOC terbukti sangat andal, dan hemat biaya. Lebih dari 1.000 sistem ada dalam dinas operasional dan digunakan dengan kapal-kapal Angkatan Laut AS dan 19 armada angkatan laut di seluruh dunia.

PERSENJATAAN
RIM-116 Rolling Airframe Missile
RIM-116 Rolling Airframe Missile (RAM) adalah rudal permukaan-ke-udara berpelacak inframerah kecil, ringan, yang digunakan oleh Angkatan Laut Jerman, Jepang, Yunani, Turki, Korea Selatan, Arab Saudi, Mesir, Meksiko, dan AS. Sistem ini awalnya dimaksudkan dan digunakan terutama sebagai senjata pertahanan titik terhadap rudal anti-kapal. Seperti namanya, rudal RAM berputar saat terbang. Rudal harus berputar selama penerbangan karena sistem pelacakan RF menggunakan interferometer dua antena yang dapat mengukur interferensi fase gelombang elektromagnetik dalam satu bidang saja. Interferometer yang berputar memungkinkan antena untuk melihat semua bidang energi yang masuk. Selain itu, karena peluru kendali ini berputar, maka hanya satu pasang kanard kemudi yang diperlukan. Pada tahun 2005, sistem ini adalah satu-satunya rudal Angkatan Laut AS yang beroperasi dengan cara ini. Rolling Airframe Missiles, bersama dengan Mk 49 Guided Missile Launching System (GMLS) dan peralatan pendukung, membentuk sistem RAM Mk 31 Guided Missile Weapon System (GMWS). Unit Mk-144 Guided Missile Launcher (GML) memiliki berat 5.777 kilogram (12.736 lb) dan menyimpan 21 rudal. Sistem senjata asli tidak dapat menggunakan sensornya sendiri sebelum menembak sehingga harus diintegrasikan dengan sistem tempur kapal, yang mengarahkan peluncur ke target. Di kapal AS, sistem ini terintegrasi dengan Sistem Rudal Permukaan Pertahanan Kapal (SDSMS) AN/SWY-2 dan Sistem Pertahanan Diri Kapal (SSDS) Mk 1 atau sistem tempur berbasis Mk 2. SeaRAM, varian peluncur yang dilengkapi dengan sensor independen yang berasal dari Vulcan Phalanx CIWS, sedang dipasang di Kapal Tempur Littoral dan kapal perusak kelas Arleigh Burke tertentu. Panjang rudal RAM adalah 2,79 m (9 kaki 2 inci) sementara diameternya: 127 mm (5,0 inci) dan rentang siripnya 434 mm (1 kaki 5,1 inci). Kecepatan dari rudal ini adalah Mach 2.0. RAM menggunakan hulu ledak fragmentasi seberat 11,3 kg (24,9 lb). Berat rudal saat peluncuran adalah 73,5 kg (162 lb). Rudal ini memiliki jangkauan sekitar 10 km (6,2 mil), yang terbang dengan sistem panduan tiga mode, yakni: frekuensi radio pasif/pelacakan inframerah, hanya inframerah, atau mode ganda (penjejak frekuensi radio dan penjejak inframerah digunakan).

RIM-7 Sea Sparrow
RIM-7 Sea Sparrow adalah sistem senjata anti-pesawat dan anti-rudal jarak pendek yang dibawa oleh kapal-kapal perang AS, terutama ditujukan untuk pertahanan terhadap rudal anti-kapal. Sistem ini dikembangkan pada awal tahun 1960-an dari rudal udara-ke-udara AIM-7 Sparrow sebagai senjata “pertahanan titik” ringan yang dapat dipasang ke kapal perang yang ada secepat mungkin, seringkali sebagai pengganti meriam anti-pesawat yang sudaj ada. Pada masa ini, Sea Sparrow adalah sistem yang sangat sederhana yang dipandu oleh iluminator radar yang diarahkan secara manual. Lima puluh tahun setelah pengembangannya, Sea Sparrow tetap menjadi bagian penting dari sistem pertahanan udara berlapis, yang menyediakan komponen pertahanan udara jarak pendek/menengah yang sangat berguna untuk melawan rudal anti kapal yang terbang rendah. Bobot dari rudal ini adalah 510 pon (230 kg), sementara panjangnya 12 kaki (3,7 m) dengan diameter 8 inci (20 cm). Hulu ledak rudal ini adalah hulu ledak fragmentasi sengan ledakan annular seberat 90 lb (41 kg). Jangkauan Operasional Sea Sparrow mencapai 10 nm (19 km) dengan kecepatan terbang maksimum 4.256 km/jam (2.645 mph).

CIWS Phalanx
CIWS Phalanx adalah sistem senjata pertahanan jarak dekat terhadap ancaman yang datang seperti kapal kecil, torpedo permukaan, rudal anti-kapal, dan helikopter. Sistem ini dirancang dan diproduksi oleh General Dynamics Corporation, Divisi Pomona, yang kemudian menjadi bagian dari Raytheon. Sistem ini terdiri dari kanon Vulcan kaliber 20 mm (0,8 in) yang dipandu oleh radar Ku-Band yang dipasang pada turret yang bisa berputar. Phalanx telah digunakan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat dan angkatan laut dari 15 negara lainnya. Sistem senjata ini memiliki tinggi 15.5 ft (4.7 m), dengan bobot 12,500 lb (5,700 kg), dimana versi terakhirnya berbobot 13,600 lb (6,200 kg). Phalanx memiliki elevasi penembakan −25° to +85° dan kecepatan proyektilnya sekitar 3,600 ft/s (1,100 m/s). Sistem Phalanxpunya kecepatan penembakan hingga 4,500 peluru/menit, dengan berondongan maksimal 1000 peluru sekali tembak sebelum larasnya diistirahatkan. Jumlah amunisi yang dapat ditampung pada sistem ini adalah 1,550 peluru. Dengan target berkecepatan Mach 2, jarak tembak efektifnya adalah 1,625 yd (1,486 m) dan jarak maksimumnya 6,000 yd (5,500 m). Sistem Phalanx dihargai sekitar $3.8 juta.

Mk 38 Chain Gun
Pada tahun 1977, Angkatan Laut AS menyadari bahwa mereka membutuhkan pengganti kanon anti pesawat Oerlikon Mk 16 kaliber 20mm. Pada tahun 1986, persyaratan ini dipenuhi dengan diperkenalkannya sistem senjata Mk 38 Mod 0. Turunan dari kanon M242 berkaliber 25 mm, Mk 38 terdiri dari chain gun M242 dan dudukan Mk 88 Mod 0. Istilah “chain gun” berasal dari penggunaan rantai berputar yang menggerakkan bolt senjata bolak-balik. Sistem ini kemudian memberikan kapal kemampuan tembak defensif dan ofensif untuk menghadapi berbagai target permukaan. Dirancang terutama sebagai sistem pertahanan jarak dekat, Mk 38 memberikan perlindungan terhadap kapal-kapal patroli, ranjau terapung, dan berbagai target pantai. Tingkat kecepatan tembak standarnya adalah 200 peluru per menit. Senjata ini memiliki jangkauan efektif 3.000 meter (9.800 kaki), tergantung pada jenis amunisi yang digunakan. Jarak tembak maksimumnya adalah 6.800 meter (22.300 kaki). Dengan lebih dari 11.000 unit terjual di seluruh dunia, sistem senjata ini adalah salah satu kanon otomatis modern yang paling sukses di dunia

Senapan mesin M2HB kaliber .50
Senapan mesin M2 atau senapan mesin kaliber .50 Browning (secara informal, disebut sebagai “Ma Deuce“) adalah senapan mesin berat yang dirancang menjelang akhir Perang Dunia I oleh John Browning. Desainnya mirip dengan senapan mesin Browning M1919, yang dilengkapi dengan peluru kaliber .30-06. M2 sebaliknya menggunakan peluru Browning kaliber .50 BMG (12,7 mm) yang lebih besar dan lebih kuat. Senapan mesin ini efektif melawan pasukan infanteri, kendaraan lapis baja ringan atau kendaraan beroda ban dan kapal, perbenteng ringan, dan pesawat yang terbang rendah. BrowningM2 adalah senapan mesin berpendingin udara dan disuplai dengan sabuk peluru. M2 menembak dari bolt tertutup, yang dioperasikan dengan prinsip short recoil. M2 yang menembakkan peluru kaliber .50 BMG, menawarkan kemampuan penembakan jarak jauh, akurat, dan punya daya hantam yang luar biasa. Tingkat penembakannya adalah 450–600 putaran/menit (M2HB). Jarak tembak efektif senapan ini adalah 1.800 m (2.000 yd), dengan jarak tembak maksimum mencapai 7.400 m (8.100 yd).

CATATAN-CATATAN UNIK KAPAL AMFIBI KELAS WASP
Jumlah kompartemen: 1.426
Jumlah Jangkar: 2 standar Angkatan Laut tanpa stok
Berat setiap jangkar: 40.000 lbs (18 ton)
Panjang setiap rantai jangkar: 1.170 Feet (356 meter)
Berat setiap tautan rantai jangkar: 155 lbs (70 kg)
Galon air yang dibuat setiap hari: 200.000 galon
Ruang penyimpanan kargo: 100.000 Kaki Kubik
Ruang penyimpanan kendaraan: 22.000 Kaki Persegi
Well Deck: 13.000 Kaki Persegi
Jumlah Landing Craft Air Cushion (LCAC): 3
Jumlah Landing Craft Utility (LCU): 2
Jumlah makanan yang disajikan setiap hari: 7.620
Soda yang dikonsumsi setiap hari: 1.920
Jumlah telur yang dikonsumsi setiap hari: 770 telur segar – 300 pon (136 kg) saat beku
Sayuran segar yang dikonsumsi setiap hari: 125 lbs (56 kg)
Buah segar yang dikonsumsi setiap hari: 370 lbs (167 kg)
Daging yang dikonsumsi setiap hari: 2.200 lbs (997 kg)

DINAS OPERASIONAL
Pada bulan Februari 1993, USS Wasp dikerahkan ke wilayah lepas pantai Somalia untuk berpartisipasi dalam upaya intervensi PBB yang diberi nama “Operasi Restore Hope“. USS Wasp mendukung operasi militer yang terjadi di dan sekitar ibu kota Mogadishu. Setelah selesai di Somalia, Wasp diperintahkan untuk membantu operasi di lepas pantai Kuwait. Dari sana, dia dipanggil kembali ke markasnya setelah berlabuh di Toulon, Prancis dan Rota, Spanyol. Pada bulan Februari 1995, empat kapal LHD pertama kelas Wasp telah dikirim ke Angkatan Laut AS. Kapal-kapal ini dilengkapi dengan radar pencarian udara SPS-48E dan SPS-49 dan, untuk akuisisi target, sistem radar seri MK 23 dan sistem peperangan elektronik SLQ-32. Rudal peluncuran permukaan “Sea Sparrow” standar NATO (versi angkatan laut dari rudal udara-ke-udara Sparrow) dan Phalanx Block 1 Close-In Weapon System (CIWS) digunakan untuk pertahanan diri bersama dengan sistem peluncuran umpan pengecoh MK 36. Pada tahun 1996-97, USS Wasp adalah yang pertama di kelasnya yang menerima peningkatan Sistem Bela Diri Kapal untuk melawan ancaman dan kemampuan rudal anti-kapal yang datang. Salah satu dudukan Phalanx asli kemudian telah dilepas dan peluncur Mk 31 RAM (Rolling Airframe Missile) dipasang di ujung depan superstruktur bangunan utama kapal dan di bagian kanan. Pada tahun 1998, konfigurasi kontrol ACDS dan AN/SWY-3 ditambahkan ke kapal kelas ini. Kemampuan/konfigurasi terintegrasi ini termasuk Sistem Akuisisi Target MK 23 dan beberapa sistem rudal standar NATO “Sea Sparrow” dan RAM. Wasp menerima sistem RAM Block 1 pada akhir tahun fiskal 2002 – peningkatan ini memberikan kelas kapal ini dengan respons kemampuan tinggi terhadap ancaman jarak pendek dan menengah. USS Waspsecara resmi diluncurkan pada tanggal 4 Agustus 1987 dan secara resmi ditugaskan secara operasional pada tanggal 29 Juli 1989 dan telah aktif beroperasi sejak saat itu. Dia diberi moto pertempuran “Kehormatan, Tradisi, Keagungan” dengan patch warna kuning dan biru yang menandakan kredo ini. Patch itu juga mencakup gambar siluet tawon yang mengacu pada nama resmi kapal ini.

Pada bulan Februari 2004, USS Wasp ditugaskan kembali ke perairan dekat Afghanistan, membawa serta Marinir BLT 1/6 dan HMM-266. Setelah para marinir diturunkan, dia kembali ke Amerika Serikat untuk mengambil lebih banyak Marinir dari HMH-461, dan membawa mereka ke Djibouti. Setelah meninggalkan Djibouti pada bulan Agustus, Wasp kembali ke Kuwait untuk menjemput Marinir HMM-266 yang kembali ke Norfolk, Virginia pada bulan September 2004. Pada bulan Juli 2006, Wakil Presiden Amerika saat itu Dick Cheney tiba di USS Wasp untuk memberikan pidato menghormati upaya USS Nassau Expeditionary Strike Group selama Operasi Pembebasan Irak. USS Wasp adalah bagian dari atraksi utama di Fleet Week 2007 di New York City. Pada bulan September 2007, USS Waspdipindahkan ke Nikaragua dalam misi kemanusiaan untuk membantu para korban Badai Felix. USS Wasp kemudian menjadi kapal pertama yang mengerahkan helikopter pengangkut tilt-rotor Boeing V-22 “Osprey” pada bulan Oktober 2007. Helikopter ini lalu dibawa ke perairan Irak untuk mendukung Operasi Pembebasan Irak. Pada bulan Oktober 2009, USS Wasp dikerahkan dari pangkalannya di Norfolk Naval Station di Virginia untuk berlayar di laut selama tiga bulan menyusuri Atlantik ke perairan Karibia sebagai bagian dari upaya “Kemitraan Amerika”. Di atas USS Wasp, 1.100 awak dan 365 Marinir terlibat dalam latihan di wilayah tanggung jawab Armada ke-4 AS. Sebelum kembali ke Norfolk pada bulan Desember 2009, ia sempat menurunkan Marinir di Pangkalan Angkatan Laut Teluk Guantanamo di Kuba untuk menjalani program pelatihan selama 90 hari. Pada tanggal 29 Juni 2010, USS Waspdikirim ke Halifax, Nova Scotia untuk membantu merayakan ulang tahun ke-100 Angkatan Laut Kanada.

Sebelum bulan Oktober 2011, USS Wasp ditingkatkan kemampuannya untuk bisa menerima jet tempur siluman Lockheed F-35B “Lightning II” baru untuk menjalani pengujian. F-35B adalah produk dari program Joint Strike Fighter dan varian korps Marinir yang yang menampilkan kemampuan Short Take-Off dan Vertical Landing (STOVL) yang mirip dengan AV-8B Harrier II yang telah menua. F-35B dijadwalkan untuk menggantikan pesawat Korps Marinir seri McDonnell Douglas/Boeing F/A-18 Hornet, McDonnell Douglas AV-8B Harrier dan Grumman EA-6B Prowler dalam berbagai peran mereka. Pesawat baru ini akan memberi Wasp kemampuan menggelar pesawat tempur generasi kelima multi-peran yang dimaksudkan untuk mengurangi biaya perawatan dan memastikan dominasi pesawat taktis Korps Marinir yang diperlukan untuk melindungi kepentingan nasional. Pada tahun 2011, F-35B telah melampaui pengujian 250 pendaratan vertikal termasuk 72 pendaratan vertikal dan lepas landas pendek dari dek USS Wasp saja. Uji coba laut berikutnya, DT-2, dijadwalkan pada tahun 2013 setelah Wasp menerima modifikasi tambahan untuk mengoperasikan F-35B. Angkatan Laut Amerika kemudian menerima perintah baru pada bulan Januari 2012 tentang pemotongan anggaran yang akan datang, yang mengurangi jumlah kapal dalam inventaris aktif mereka. Ini telah memaksa dilakukannya pengubahan fokus aset angkatan laut dari Atlantik ke Pasifik sebagai tanggapan. Perhatian utama saat ini adalah keputusan China untuk meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di Laut China Selatan. China terlibat dalam perselisihan teritorial yang telah berlangsung lama dengan beberapa negara tetangga termasuk Jepang, Filipina, dan Vietnam yang bersekutu dengan AS – semuanya telah berulang kali menuduh China melakukan agresi terbuka di wilayah tersebut. Mereka termasuk di antara beberapa negara yang mengklaim kedaulatan atas pulau-pulau di laut dengan harapan akan ada cadangan minyak dan gas di sana. Presiden AS Barack Obama sejak itu memerintahkan peningkatan kehadiran AS di kawasan itu dan sebagai hasilnya akan menempatkan satuan tugas Marinir penuh di Australia utara. USS Wasp akan segera dipindahkan ke pelabuhan baru di pantai pasifik AS sebagai tanggapan atas skenario yang berubah ini. Sementara itu menurut Federasi Ilmuwan Amerika, USS Wasp diperkirakan akan bisa beroperasi hingga akhir tahun 2039!

Sejak ditugaskan, USS Kearsage (LHD-3) dari kelas Wasp telah melakukan berbagai misi di seluruh dunia, termasuk mengevakuasi personel non-kombatan dari Freetown, Sierra Leone, pada tanggal 31 Mei 1997 dan menyelamatkan Kapten Angkatan Udara Scott O’Grady dari wilayah yang dikuasai Serbia di Bosnia setelah ditembak jatuh pada tanggal 8 Juni 1995. Pada tanggal 2 Maret 2011, Kearsarge, bersama dengan USS Ponce, melakukan perjalanan melalui Terusan Suez menanggapi pecahnya perang saudara di Libya tahun 2011. Menteri Pertahanan Amerika, Robert Gates telah mengatakan beberapa hari sebelumnya bahwa ia telah memerintahkan dua kapal perang ke laut Mediterania, bersama dengan tambahan 400 Marinir, jika mereka diperlukan untuk mengevakuasi warga sipil atau memberikan bantuan kemanusiaan. Pada tanggal 20 Maret, pesawat serang AV-8B Harrier II dari Kearsarge telah dilaporkan menyerang target-target di Libya sebagai bagian dari Operasi Odyssey Dawn. Pada tanggal 22 Maret, V-22 Osprey dari Kearsarge melakukan operasi TRAP yang berhasil untuk menyelamatkan awak pesawat F-15E Strike Eagle USAF setelah jatuh di Libya akibat kegagalan mekanis selama misi tempur. The Daily Telegraph melaporkan sumber militer, yang menyatakan bahwa, selama penyelamatan, penembakan dilakukan dan dua pesawat Harrier yang menjatuhkan dua bom seberat 500 pon (226 kg) pada konvoi kendaraan Libya, dengan laporan lain yang menyatakan bahwa warga sipil Libya terluka dalam operasi tersebut. Kapal ini kemudian kembali ke pelabuhan asal di Norfolk pada tanggal 16 Mei 2011.

USS Boxer dari kelas Wasp ditunjuk sebagai kapal komando dari Satuan Tugas Gabungan 151, satuan tugas anti-pembajakan internasional yang mengejar bajak laut-bajak laut di lepas pantai Somalia. Pada tanggal 10 April 2009, Boxer sedang dalam perjalanan untuk membantu USS Bainbridge dan USS Halyburton dalam negosiasi pembebasan Richard Phillips, kapten kapal kontainer berbendera AS MV Maersk Alabama, yang disandera oleh perompak Somalia 300 mil (482 km) dari kawasan Tanduk Afrika. Pada tanggal 12 April 2009, Kapten Phillips dibebaskan selama serangan Angkatan Laut AS di mana tiga dari perompak Somalia tewas, dan satu ditangkap. Kapten Phillips lalu diangkut ke Boxer untuk menjalani pemeriksaan medis dan istirahat. Sekitar tanggal 1 Mei 2009, Boxer membantu sekitar 200 anggota unit operasi khusus Jerman GSG-9 untuk mendekati kapal kontainer Jerman yang dibajak MV Hansa Stavanger. Selama fase terakhir operasi, James L. Jones, Penasihat Keamanan Nasional AS, menahan persetujuan akhir untuk dilancarkannya operasi karena mengkhawatirkan akan keselamatan 25 pelaut di atas kapal. Hal ini menyebabkan keputusan departemen pertahanan Jerman dan departemen dalam negeri Jerman untuk membatalkan rencana serangan terhadap kapal barang itu untuk sementara waktu dan unit GSG-9, yang berada di bawah komando menteri dalam negeri Jerman, kembali ke pangkalan operasi mereka di bandara Mombasa, Kenya. Dilaporkan bahwa pengaruh departemen pertahanan Jerman dan kontak dengan James Jones menyebabkan keputusan AS untuk menarik diri dari tempat kejadian. Pada tanggal 6 Mei 2016, dilaporkan bahwa AS menggelar Boxer, didukung oleh kapal perusak Gravely dan Gonzalez di lepas pantai Yaman dengan 2.000 hingga 4.500 Marinir AS dari MEU ke-13 di armada Amerika untuk memberikan dukungan kepada pasukan koalisi di Yaman memerangi militan AQAP. Pada tanggal 16 Juni 2016, Boxer, didukung oleh kapal perang amfibi USS New Orleans dan Harpers Ferry mengambil bagian dalam Operation Inherent Resolve. AV-8B Harrier II dari MEU ke-13 yang terbang dari kapal ini memulai serangan udara terhadap militan ISIL di Irak dan Suriah, menjadikannya pertama kalinya Angkatan Laut AS menggunakan pesawat berbasis kapal dari Mediterania dan Teluk Persia pada saat yang sama selama Operasi (pesawat dari kapal induk USS Harry S. Truman memulai serangan udara terhadap target ISIL dari Mediterania pada tanggal 3 Juni). Pada tanggal 18 Juli 2019, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa kapal itu menembak jatuh dan menghancurkan sebuah drone Iran di atas Selat Hormuz. Menurut sebuah pernyataan oleh Presiden, pesawat tak berawak itu jatuh setelah “mengabaikan beberapa panggilan untuk mundur.” Pejabat Iran sebaliknya menolak pernyataan Trump tentang pihak Amerila menjatuhkan pesawat tak berawak Iran dan IRGC merilis sebuah video dan mengklaim mereka memantau kapal dan beberapa kapal militer Amerika lainnya termasuk USS Harpers Ferry, USS John P. Murtha, USS Bainbridge dan USS McFaul menggunakan drone pada pagi hari tanggal 18 Juli.

USS Bonhomme Richard dari kelas Wasp tercatat berpartisipasi dalam beberapa operasi. Dari tanggal 24 Januari hingga 24 Juli 2000, kapal tersebut melakukan penugasan Pasifik Barat (WESTPAC), dan menjadi yang pertama dari setiap kapal Angkatan Laut AS pada tahun 2000-an sebagai bagian dari Operasi Southern Watch. Dia ditempatkan sebagai bagian dari Operasi Enduring Freedom dari tanggal 1 Desember 2001 hingga 18 Juni 2002. Penempatan berikutnya adalah untuk mendukung Operasi Pembebasan Irak, mulai tanggal 17 Januari 2003 dan berlangsung hingga 26 Juli 2003. USS Bonhomme Richard memainkan dua peran penting dalam Operasi Pembebasan Irak; yang pertama, dia menurunkan lebih dari 1.000 marinir dan perlengkapan dari Batalyon ke-3, Marinir ke-1 ke Kuwait. Kedua, setelah mengirimkan helikopter penyerang dan transport, pasukan, dan kendaraannya, dia mengambil posisi hanya beberapa mil di lepas pantai Kuwait dan menjadi salah satu dari dua kapal induk ringan, atau “Harrier Carriers“, bersama dengan USS Bataan di Teluk Persia, meluncurkan pesawat-pesawat serang AV-8B Harrier ke Irak. Pilot dari Skuadron Serang Laut ke-211 (VMA-211) dan VMA-311, diatas Bonhomme Richard, melepaskan lebih dari 175.000 pon (79.000 kg) persenjataan, memberikan dukungan udara jarak dekat kepada Marinir di darat dan selama serangan yang telah ditentukan di Irak. Selama Operasi Pembebasan Irak, Bonhomme Richard meluncurkan lebih dari 800 misi serangan, termasuk 547 misi tempur. Bonhomme Richard kemudian berlayar ke Sri Lanka untuk memberikan dukungan bagi upaya bantuan setelah gempa bumi di Samudra Hindia tahun 2004 dan tsunami yang menyusul berikutnya. Pada tanggal 4 Januari 2005, kapal tersebut membantu mengangkut pasokan bantuan ke pantai Sumatera, Indonesia. Bonhomme Richard dikerahkan dalam Operasi Unified Assistance dari tanggal 5 Januari 2005 hingga bulan Februari 2005. Helikopter-helikopternya menerbangkan perbekalan dan tenaga medis ke berbagai wilayah di Indonesia, serta mengevakuasi korban-korban yang terluka. Sementara itu pada 12 Juli 2020 saksi mata melaporkan bahwa ledakan terjadi sekitar pukul 08:50 di atas kapal USS Bonhomme Richard saat berada di homeportnya di Pangkalan Angkatan Laut San Diego yang sedang menjalani pemeliharaan. Api yang dihasilkan dipicu oleh terbakarnya kertas, kain, lap, atau bahan lainnya, bukan bahan bakar minyak atau bahan berbahaya lainnya, menurut Laksamana Muda Philip Sobeck, komandan Expeditionary Strike Group 3, kepada wartawan malam itu. Pada tanggal 16 Juli, lima hari setelah kebakaran, pihak Angkatan Laut Amerika mengumumkan bahwa semua kebakaran telah padam. Total korban cedera ringan telah meningkat menjadi 63 orang (40 pelaut dan 23 warga sipil). Laksamana Michael Gilday, Kepala Operasi Angkatan Laut, mengatakan peristiwa itu adalah “insiden yang sangat, sangat serius” dan bahwa Angkatan Laut akan berupaya mengatasi masalah sistemik apa pun yang menyebabkan tragedi itu. Pada akhirnya USS Bonhomme Richard diputuskan untuk dibesituakan karena kerusakannya yang parah.
KARAKTERISTIK UMUM
Type : Landing helicopter dock (LHD) amphibious assault ship
Bobot : LHD 1-4: 40650 ton (41302 metrik ton) bobot penuh; LHD 5-7: 40358 ton (41006 metrik ton) bobot penuh; LHD 8: 41772 ton (42442 metrik ton) bobot penuh
Panjang : 843 ft (257 m)
Lebar : 104 ft (31.8 m)
Draft : 27 ft (8.1 m)
Tinggi : dari tiang ke garis air: 185 kaki, 8 inci (56,60 meter) dari dek penerbangan ke garis air: 64 kaki (19,50 meter)
Dimensi Well deck: 266 x 50 kaki (81 x 15.2 m) dengan tinggi 28 kaki (8.5 m)
Mesin :
- Two boilers, two geared steam turbines, two shafts, berkekuatan 70,000 shp (52,000 kW);
- Dua mesin General Electric LM2500 geared gas turbines, two shafts (USS Makin Island)
Kecepatan : 22 knots (41 km/h; 25 mph)
Jangkauan :9,500 nautical miles (17,600 km; 10,900 mi) pada kecepatan 18 kn (33 km/h; 21 mph)
Kapal pendarat yang bisa dibawa :
- 3 Landing Craft Air Cushion atau
- 2 Landing Craft Utility atau
- 12 Landing Craft Mechanized
Prajurit yang bisa diangkut :
1,687 prajurit Detasemen Marinir (plus 184 perawat)
Awak : 66 perwira, 1,004 awak kapal; (LHD 8 = 65 perwira / 994 awak kapal)
Sensor dan Sistem Pemrosesan
- 1 AN/SPS-49 2-D Air Search Radar
- 1 AN/SPS-48 3-D Air Search Radar
- 1 AN/SPS-67 Surface Search Radar
- 1 Mk23 Target Acquisition System (TAS)
- 1 AN/SPN-43 Marshalling Air Traffic Control Radar
- 1 AN/SPN-35 Air Traffic Control Radar
- 1 AN/URN-25 TACAN system
- 1 AN/UPX-24 Identification Friend Foe
Persenjataan :
- Dua peluncur RIM-116 Rolling Airframe Missile
- Dua peluncur rudal RIM-7 Sea Sparrow
- Tiga sistem CIWS Phalanx kaliber 20 mm (LHD 5–8 dengan 2 sistem)
- Empat chain gun kaliber 25 mm Mk 38 (LHD 5–8 dengan 3)
- Empat senapan mesin kaliber .50 BMG
Kapasitas pesawat bisa dibawa
Campuran yang sebenarnya tergantung pada misi
Bawaan Standar :
6 Pesawat serang AV-8B Harrier II
atau
6 pesawat tempur siluman F-35B Lightning II
4 Helikopter serang AH-1W/Z Super Cobra/Viper
12 MV-22B Osprey pendukung serangan
4 helikopter angkut berat CH-53E Super Stallion
3-4 helikopter utilitas Venom UH-1Y
Misi serbu :
22+ tiltrotor dukungan serangan MV-22B Osprey
Misi pengontrolan laut :
20 pesawat serang AV-8B Harrier II
atau
20 pesawat tempur siluman F-35B Lightning II
6 helikopter SH-60F/HH-60H ASW
Fasilitas Pesawat : Dek hanggar
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Wasp-class_amphibious_assault_ship
Wasp class Amphibious Assault Ship – LHD
https://www.seaforces.org/usnships/lhd/Wasp-class.htm
NAVAL TECHNOLOGY: LHD Wasp Class Amphibious Assault Ships; 16 July 2020
https://www.naval-technology.com/projects/wasp/
USS Wasp (LHD-1) Amphibious Assault Support Vessel [ 1989 ]
https://www.militaryfactory.com/ships/detail.php?ship_id=USS-Wasp-LHD1
Tarawa/Wasp Class Amphibious Assault Ship
https://www.military.com/equipment/tarawa-wasp-class-amphibious-assault-ship
Wasp class Amphibious assault ship
https://www.military-today.com/navy/wasp_class.htm
Wasp Class Carrier with F-35B Stealth Jets Projecting American Power in the South China Sea; April-7th-2019
LHD-1 Wasp Class
https://man.fas.org/dod-101/sys/ship/lhd-1.htm
LHD-1 Wasp class
https://www.globalsecurity.org/military/systems/ship/lhd-1.htm
The LHD 1 WASP – class
https://www.navysite.de/ships/lhd1class.htm
Amphibious Assault Ships – LHD/LHA(R); Last updated: 15 Apr 2021
USS Wasp: The Amphibious Assault Ship That Is Nearly An Aircraft Carrier? By Peter Suciu; Published May 27, 2021
Wasp Class Amphibious Assault Ships; September 20, 2020
This ship is so lethal because of its primary weapon – US Marines by Harold C. Hutchison; Posted On April 06, 2020 19:38:12
https://en.m.wikipedia.org/wiki/AN/SPS-49
https://en.m.wikipedia.org/wiki/AN/SPS-48
MK 23 TARGET ACQUISITION SYSTEM (TAS)
https://smartencyclopedia.org/content/mk-23-target-acquisition-system-tas/
https://en.m.wikipedia.org/wiki/AN/SPS-67
https://www.radartutorial.eu/19.kartei/11.ancient4/karte035.en.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/RIM-116_Rolling_Airframe_Missile
https://en.m.wikipedia.org/wiki/RIM-7_Sea_Sparrow
https://en.m.wikipedia.org/wiki/M242_Bushmaster#Naval
https://en.m.wikipedia.org/wiki/M2_Browning
https://en.m.wikipedia.org/wiki/USS_Bonhomme_Richard_(LHD-6)
