Kesalahan-kesalahan Soviet di Afghanistan vs pengalaman Amerika di Vietnam.

Tidak ada contoh dalam sejarah yang paling pas menggambarkan tentang sebuah kekuatan besar yang menghantam objek yang nyaris “tidak bisa bergerak” selain dari invasi dan pendudukan Soviet di Afghanistan. Afghanistan adalah negara pegunungan, yang terkurung daratan, dengan iklim dan kondisi geografi yang keras, membuat sangat sulit bagi kekuatan besar untuk mengerahkan kekuatan penuh yang dimilikinya untuk melawan penduduk setempat. Angkatan Laut jelas mustahil turut membantu secara efektif, begitu juga dukungan udara (untuk di beberapa daerah). Iklim yang keras dan luasnya wilayah kosong, serta daerah-daerah yang jarang penduduk membuat jalur pasokan sulit dibangun, bahkan lebih sulit lagi untuk dipertahankan. Tetapi Uni Soviet tetap memilih untuk mencoba, dengan menyerang pada tahun 1979.

Demi “mengamankan” pengaruh Soviet, Breznev memutuskan untuk menerjunkan pasukan Soviet di Afghanistan tahun

Di bawah Raja Afghanistan, Mohammed Zahir Shah, negara itu sebenarnya berkembang dan dimodernisasi dengan cukup baik … sampai sepupunya Mohammed Daoud Khan menggulingkannya pada tahun 1973. Dia mendirikan Republik Afghanistan dan membawa negara itu bergerak menuju petaka – karena berbagai alasan. Lima tahun kemudian, pemerintah Nasionalis Pashtun digulingkan demi rezim Komunis dan Afghanistan segera menjadi medan perang dalam konteks Perang Dingin.

Freedom fighter tanpa seragam

Komunisme tidak cocok dengan orang-orang di daerah pedesaan, yang tidak terbiasa dengan kontrol (dengan adanya pajak dan reformasi agraris) dari pemerintah pusat Komunis. Jadi, mereka mulai melawan. Kemudian Presiden Nur Mohammed Taraki meminta Uni Soviet untuk membantu memadamkan protes dari rakyat sebagai akumulasi kemarahan terhadap pemerintah, yang kemudian tiba-tiba memutuskan untuk mengeksekusi begitu banyak dari mereka karena dianggap gagal mematuhi “reformasi” Komunis. Saat itulah Hafizullah Amin, Perdana Menteri Komunis, membunuh Taraki dan merebut kekuasaan. Kemudian dalam momen kacau di Afghanistan ini, pemimpin Soviet Leonid Brezhnev memutuskan masuk.

Hafizullah Amin terbantai oleh spetnaz.

Melihat Afghanistan menuju kekacauan dan khawatir bahwa Revolusi Islam di Iran mungkin menyebar ke Afghanistan dan Republik2 Sosialis Soviet yang penduduknya mayoritas Muslim tradisional lainnya, Uni Soviet memutuskan untuk bergerak – dan cukup dari sini kegagalan mulai dirajut sejak hari pertama, yaitu Hari Natal, 1979.

Pada titik ini, Soviet perlu melakukan empat hal: melegitimasi pemerintah pusat Komunis di Kabul, membangun kembali Angkatan Darat Afghanistan, menghancurkan perlawanan terhadap pemerintah baru, dan memenangkan hati dan pikiran rakyat jelata yang tidak dapat mereka kendalikan secara langsung.

Menghancurkan desa2 Afghanistan, salah satu taktik Soviet di Afghanistan untuk menaklukkan Mujahidin.

Berikut ini adalah beberapa catatan yang bisa membantu menggambarkan mengapa Soviet gagal di Afghanistan, yang mana uniknya hampir mirip mengulang kesalahan Amerika di Vietnam hampir 20 tahun sebelumnya:

Amerika berkubang di Vietnam

Mereka tidak dapat memperkuat legitimasi pemerintah Komunis

Kegagalan ini langsung dimulai dari pria yang sudah disebutkan di atas. Setelah hanya berbulan-bulan berkuasa, Amin binasa, secara harafiah. Salah satu perubahan pemerintah pertama yang dilakukan Soviet adalah dengan membunuh Amin dengan keji, lewat Operasi Storm 333 oleh satuan KGB-Spetnaz dan menggantikannya dengan Babrak Kamal. Langkah ini mengubah citra invasi Soviet dari awalnya intervensi untuk menstabilkan pemerintah menjadi pendudukan atas Afghanistan.

Operasi Storm 333

Apa yang dilakukan Soviet, tidak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Amerika di Vietnam, saat mereka memutuskan untuk menggulingkan Presiden Ngo Dinh Diem (yang akhirnya juga terbunuh, meski bukan oleh tangan Amerika, seperti satuan Soviet yang langsung membunuh Amin), dimana pada akhirnya pengganti Diem malah jauh lebih buruk dan tidak punya legitimasi di pemerintah Vietnam Selatan. Yang membedakan adalah, Soviet menginvasi negara “kesatuan” yang berdaulat, sedang Amerika mengintervensi salah satu pihak dari bangsa yang terpecah dua.

Karena kekhawatiran akan ancaman perluasan “pengaruh” komunis di Asia, Kennedy dan penggantinya, LBJ memutuskan untuk mengirim pasukan Amerika di Vietnam.

Mereka tidak mematahkan tulang punggung perlawanan.

Sementara mereka dapat menguasai kota-kota besar, serta pusat-pusat transportasi dan komunikasi, Tentara Merah dengan cepat mendesak para panglima perang suku ke daerah-daerah pegunungan, di mana mereka memutuskan untuk memulai Revolusi Islam yang tidak ada dalam dipikirkan Soviet saat mereka pertama kali memutuskan untuk menginvasi Afghanistan. Alih-alih menaklukkan negara itu, mereka malah berhasil menyatukan (untuk sementara) populasi Afghanistan yang berbeda-beda untuk melawan mereka.

Persebaran kelompok perlawan afghanistan

Satu-satunya keuntungan yang dimiliki Tentara Merah dibandingkan pejuang mujahidin adalah armada helikopter Hind mereka. Ini memungkinkan Soviet untuk memindahkan personel dan peralatan dengan cepat dari jarak jauh dan menuju ke pegunungan tinggi. Keuntungan ini berlangsung hingga pertengahan 1980-an, ketika rudal Stinger mulai muncul di arsenal para Mujahidin. Dengan rudal anti-pesawat yang akurat ini, mujahidin sekarang memiliki kemampuan untuk melindungi tempat-tempat persembunyian mereka yang bergunung-gunung dan memaksa Uni Soviet untuk beralih ke taktik dengan melakukan raid malam hari pada sasaran musuh. Pasukan Soviet terkonsentrasi dalam dalam jumlah besar di sepanjang jalan raya utama di negara itu dan dalam serangkaian posisi yang dibentengi di seluruh wilayah mereka yang mereka kontrol. Di luar daerah-daerah itu, tidak pernah ada kekuatan ekonomi maupun jalur pasokan yang konsisten.

Jalur transportasi dan pertahanan Soviet di Afghanistan

Di tempat-tempat seperti Khost, dominasi Soviet bahkan tidak pernah bisa diwujudkan. Tentara Merah mendirikan pangkalan helikopter di pinggiran kota, tetapi kota itu sendiri menghabiskan 11 tahun di bawah pengepungan dari pasukan Mujahidin, terputus dari kekuatan Soviet lainnya. Ketika kepungan bisa dipecah dan bantuan datang ke pangkalan tersebut pada tahun 1987, Mujahidin kembali melakukan pengepungan segera setelah Rusia pergi.

Ambush atas konvoi di Afghanistan

Pengalaman Uni Soviet sebelumnya adalah menyerang negara-negara lain yang berbatasan dengannya, seperti di Jerman Timur, Hongaria, dan Cekoslowakia. Afghanistan dan rakyatnya hanya memiliki sedikit kesamaan dengan metode pertempuran yang berhasil dilakukan Soviet di Eropa. Taktik yang digunakan oleh Soviet sebagian besar adalah dengan mengerahkan kekuatan senjata dengan volume yang luar biasa, termasuk kebijakan bumi hangus, carpet bombing, dan penggunaan senjata kimia, sebuah taktik yang jelas membuat mereka tidak populer di mata orang-orang di negara yang mereka sedang coba untuk menangkan.

Kondisi ini serupa dengan apa yang dialami Amerika di Vietnam, sama2 memiliki keunggulan dalam penggunaan Helikopter, namun saat pasukan komunis Vietnam dapat mempelajari taktik heli serbu Amerika, korban-korban satuan helikopter Amerika berjatuhan hingga angka fantastis, ribuan! Amerika juga mengalami kendala yang sama dengan Soviet, dimana mereka juga tidak dapat mengamankan seluruh wilayah Vietnam Selatan yang berhutan dan bergunung-gunung. Kekuatan Amerika terikat di kota2 besar sekitar Saigon, Kota2 besar di pegunungan tengah (Pleiku-Kontum), dan kota2 Pesisir (Qui Nohn, Nha Trang, Da Nang, hingga Hue)…sisanya VC dan NVA bebas berkeliaran. Di beberapa tempat, suatu posisi bisa berganti kepemilikan, karena militer Amerika tidak bisa “stay” selamanya disana. Akibatnya, pengaruh Amerika dan rezim Saigon yang mereka bela tidak pernah bisa mendalam diantara rakyat Vietnam Selatan

Siap bertahan dari sergapan di jalanan Vietnam

Amerika juga sama dengan Soviet yang mengandalkan firepower, dan sedikit banyak menggunakan taktik yang lebih cocok digunakan dalam perang konvensional, yang tidak cocok diterapkan di Vietnam, yang merupakan perang dari desa ke desa, rumah ke rumah, yang kental dan tidak dapat dipisahkan dari pendekatan aspek psikologis dan politik, ketimbang sekedar pendekatan militer belaka.

Meski dengan tujuan sedikit berbeda, namun operasi militer Amerika banyak menimbulkan penderitaan bagi warga sipil Vietnam. Untuk menghalangi gerilya komunis mendapat manfaat dari penduduk desa, warga desa dipaksa bedol desa, desa dibakar dan dihancurkan. Panenan dan pepohonan dirusak agar tidak dapat dimanfaatkan musuh dengan bahan kimia, yang belakangan diketahui menyebabkan berbagai penyakit turunan bagi orang Vietnam dan personel Amerika sendiri. Semua ini jelas turut membuat Amerika tidak populer di mata warga sipil Vietnam yang seharusnya mereka menangkan hatinya.

Amerika cs punya istilah sendiri untuk “membakar desa”…yakni evakuasi.

Soviet tidak memenangkan hati dan pikiran rakyat Afghanistan

Sebuah narasi dengan cepat terbentuk bahwa Komunis ateis dan penjajah Rusia, yang secara tradisional banyak menganut Kristen Orthodox sedang dalam misi melawan umat Islam. Para panglima perang Afghanistan yang diusir dari pusat-pusat kota dan desa-desa besar turun dari gunung-gunung membentuk front persatuan Islam, mujahidin. Dengan Perang Dingin dalam tensi tinggi, Amerika Serikat memutuskan untuk membantu menyulut api dengan memasok senjata dan peralatan kepada mujahidin untuk membantu jihad mereka melawan Uni Soviet.

Mujahidin Afghanistan dengan arsenalnya mulai dari LE tua sampai AK rampasan

Pejuang dan uang mengalir ke dalam perang gerilya yang sedang berlangsung dimana mujahidin sedang melawan Uni Soviet dengan dibantu para fighter dari seluruh penjuru dunia Islam. Antara 1980 dan 1985, Tentara Merah mengalahkan mujahidin dalam serangkaian pertempuran di Lembah Panjshir melawan pasukan pemberontak seperti satuan pimpinan Ahmad Shah Massoud. Tetapi Massoud akan selalu mampu untuk membangun kembali pasukannya dan kembali ke melawan Rusia.

Stinger musuh maut pasukan helikopter Soviet di Afghanistan

Soviet dapat memenangkan pertempuran sebanyak yang mereka inginkan, membunuh sebanyak mungkin pejuang Afghanistan, tetapi gelombang uang dan pasukan yang terus mengalir tiada akhir hanya berarti bahwa pertempuran itu akan terus terjadi berulang kali. Misi cari dan hancurkan tidak akan pernah menenangkan Afghanistan. Faktanya, yang dilakukannya hanyalah membunuh penduduk atau menjadikan mereka pengungsi – sepertiga penduduk Afghanistan terbunuh atau melarikan diri selama pendudukan Soviet.

Soviet dari invasi jadi pendudukan.

Apa yang terjadi di Soviet, seperti mengcopy apa yang dialami Amerika di Vietnam. Di Vietnam, narasi yang terbentuk adalah Amerika menggantikan Prancis, sebagai kolonial barat yang mencoba menguasai Vietnam. Buat sebagian pejuang komunis, perang lawan Amerika merupakan kelanjutan dari perang melawan penjajah asing yang sudah datang ke Vietnam hampir 2000 tahun sebelumnya.

Helikopter jadi ikon keterlibatan militer Amerika di Vietnam 1962-75.

Dengan adanya aliran infiltrasi pasukan komunis dari utara ke medan tempur Vietnam Selatan serta pasokan uang dan senjata dari pihak Komunis seperti China dan Soviet. Amerika berperang dengan kondisi yang tidak jelas ujung pangkalnya. Sama seperti Soviet, mereka bisa memenangkan pertempuran semau mereka dan membunuh orang2 komunis semampu mereka, tapi jelas perlawanan tidak akan pernah berakhir. Sialnya tidak seperti pejuang Afghanistan yang relatif terisolasi, di Vietnam pihak komunis bisa mundur dan memperkuat diri lagi di wilayah Laos dan Kamboja yang secara resmi “netral” dari kekuatan militer Amerika.

Tentara Afghanistan tidak pernah menjadi kekuatan yang efektif

Tentara Merah membawa penasihat sekutu dari negara-negara sahabat untuk melatih Tentara Afghanistan dalam metode perang yang lebih tepat daripada metode yang mereka gunakan. Pasukan Kuba yang terbiasa dengan operasi melawan pemberontakan di tempat-tempat seperti Angola dan Ethiopia melatih pasukan pemerintah Afghanistan yang sedang berkembang, tetapi kurangnya pengalaman tempur yang sebenarnya dalam taktik ini menyia-nyiakan banyak waktu yang mereka habiskan untuk menciptakan pasukan tempur yang tangguh.

Mi-24 mendukung operasi militer pasukan darat Soviet.

Selain itu, komunikasi dan logistik yang tidak efisien yang terlihat dalam operasi-operasi Soviet berskala besar tidak banyak membantu meyakinkan pasukan Afghanistan yang baru lahir bahwa metode pelatihan dan pelajaran mereka dapatkan bisa diterapkan dalam pertempuran sesungguhnya. Ketika Rusia pergi dari Afghanistan dan Uni Soviet jatuh, banyak pejuang terlatih ini membelot ke mujahidin, yang menyebabkan jatuhnya rezim Komunis Afghanistan.

Uni Soviet tetap tinggal di Afghanistan hingga Februari 1989. Mereka masih mendukung pemerintah Komunis Afghanistan melawan mujahidin, yang berlanjut sampai Uni Soviet runtuh pada tahun 1991. Pada April 1992, pasukan mujahidin di bawah Ahmad Shah Massoud menguasai Kabul. Tetapi kekerasan antar kelompok tidak berhenti dan perang saudara lain dimulai. Kali ini, pemenangnya adalah kelompok Islamis garis keras, yang dikenal sebagai Taliban.

Tentara Afghanistan hanya bertahan 3 tahun setelah Soviet pergi.

Sama seperti di Vietnam, ARVN didikan Amerika tidak pernah menjadi kekuatan militer yang diandalkan, walau sempat dilatih dan didukung militer dari negara2 sahabat seperti Australia, Thailand, Korea, Filipina dan tentunya Amerika. Leadership mereka buruk dan amat bergantung dengan penasehat Amerika mereka.

ARVN Tidak pernah mampu jd kekuatan tempur yang efektif, tanpa bekingan USA.

Saat Amerika pergi, ARVN yang tidak memiliki kualitas dan hardware yang sama dengan Amerika, dipaksa menggantikan posisi Amerika untuk menghadapi kekuatan NVA dan VC yang terus berkembang, sebagai contoh, Amerika sudah terbiasa menggelar ribuan helikopter di Vietnam untuk mendukung operasi militer, hanya menyisakan sebagian kecil dari helikopter mereka untuk digunakan oleh ARVN, yang harus memikul tanggung jawab nyaris serupa. Hanya butuh 2 tahun sejak prajurit Amerika ditarik resmi dari Vietnam, Saigon jatuh ke tangan pasukan NVA, sekaligus menutup catatan Vietnam Selatan sebagai sebuah negara yang sempat berdaulat.

Mujahidin masuk Kabul 1992
NVA kuasai Saigon 1975.

Diterjemahkan dan diperluas dari tulisan:

https://www.wearethemighty.com/history/what-soviets-messed-up-afghanistan?rebelltitem=7#rebelltitem7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *