Perang Vietnam

Menembakkan Senjata “Rambo” dari Pintu Helikopter dalam Perang Vietnam

Zona Pendaratan (Landing Zone) dalam situasi “panas”. Saat helikopter UH-1 “Huey” mendekati tempat yang terbuka, penembak pintu dapat melihat kilatan tembakan senjata otomatis dan peluru pelacak yang sesekali datang dari barisan pepohonan. Dia kemudian mengayunkan senapan mesin M60 miliknya ke arah barisan pohon dan mulai menembak. Mencoba mengabaikan tembakan yang datang, penembak mencoba berkonsentrasi pada pekerjaan yang ada. “Tundukkan kepala,” pikirnya sambil menembak ke arah kilatan cahaya. Sekelompok kecil prajurit AS kemudian mulai berlari melintasi lapangan terbuka saat pilot Huey membawa helikopter tersebut mendarat dengan cepat di rerumputan tinggi. Tembakan musuh mereda saat patroli yang lelah bertempur melemparkan diri ke pintu helikopter yang terbuka. Pilot lalu mengerahkan tenaga penuh dan menurunkan hidung helikopter agar dapat bisa segera keluar dari tempat terbuka itu. Tembakan dari musuh kembali meletus dan penembak kembali memberondong barisan pohon dengan senjata M60-nya. Penembak dapat melihat pasukan musuh berlari keluar dari balik hutan, menembaki helikopter yang sedang terbang untuk meninggalkan pepohonan di ujung lapangan. Adegan diatas adalah gambaran Perang Vietnam yang paling akrab dilihat orang, dengan penembak senapan mesin M60 menembak dari pintu helikopter Huey yang terbuka. Senapan mesin M60 digunakan dalam peran ini untuk memberikan dukungan tembakan di zona pendaratan atau “LZ” dan juga untuk mendukung pasukan darat yang mencoba merebut sasaran yang dituju.

Ekstraksi ‘panas’ patroli pengintaian jarak jauh Angkatan Darat Republik Vietnam (ARVN) oleh helikopter Iroquois dari Skuadron No 9 (Australia). Penembak pintu siap membalas tembakan dengan senapan mesin M60 miliknya jika diperlukan saat tentara ARVN berlari melewati baling-baling helikopter saat pilot mempertahankan kendali helikopter dengan kekuatan penuh dan melayang tepat di atas tanah siap untuk segera keluar dari lokasi zona pendaratan (LZ). (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

M60 DAN PERANG VIETNAM

Menjadi yang pertama di jenisnya dalam dinas militer AS, Senapan Mesin Serba Guna M60 menggantikan setidaknya tiga senjata lainnya. Dijuluki “Si Babi/The Pig”, senapan mesin ini bertugas di darat, di air, dan di udara. Konflik di Vietnam dianggap oleh banyak orang sebagai perangnya pasukan infanteri. Meskipun hal ini mungkin benar, diperlukan dukungan yang sangat besar dari kekuatan udara dan laut untuk memberikan keunggulan kompetitif bagi tentara dan marinir Amerika di lingkungan yang keras di Asia Tenggara. Di Vietnam senjata-senjata baru digunakan dengan cara-cara baru, namun tujuannya tetap sama—yaitu untuk menempatkan sebanyak mungkin daya tembak pada sasaran. Perang Vietnam juga menyaksikan debut tempur beberapa senjata kecil militer AS, termasuk senapan M16 dan Senapan Mesin Serbaguna M60 (GPMG). Setelah proses pengembangan yang panjang, Angkatan Darat AS secara resmi mengadopsi M60, yang dilengkapi dengan peluru standar NATO kaliber 7,62×51 mm, pada tahun 1957. Pada akhir tahun 1958, M60 pertama mulai menjangkau pasukan, dengan memperkenalkan konsep GPMG ke militer AS. M60 dirancang untuk menggantikan senapan otomatis regu tentara AS yang sudah ada (Senapan Otomatis Browning BAR 1918A2 dan senapan mesin Browning M1919A6 berpendingin udara kaliber .30), bersama dengan senapan mesin medium Browning M1919A4 berpendingin udara dan Senapan mesin berat berpendingin air Browning M1917 kaliber .30. Ketika pasukan AS mulai dikerahkan ke Vietnam pada tahun 1965, senapan mesin M60 yang masih baru ikut bersama mereka.

Foto Perang Dunia II ini menunjukkan Marinir AS yang berlumuran lumpur menyandang senapan BAR antik era Perang Dunia I yang belum dimodifikasi ke konfigurasi M1918A2 yang lebih baru. Marinir melaporkan dengan baik keandalan BAR dan “daya tembusnya yang luar biasa di dalam hutan.” (Sumber: https://www.browning.com/)
Senapan mesin ringan Browning M1919A4 kaliber 0.30 digunakan dengan sangat efektif di semua medan selama Perang Dunia II. Seorang prajurit Angkatan Darat A.S. (atas) mengawaki M1919A4 selama operasi pada 16 Januari 1945, di Eropa barat laut. M60 dirancang untuk menggantikan senapan otomatis regu tentara AS yang sudah ada (Senapan Otomatis Browning BAR 1918A2 dan senapan mesin Browning M1919A6 berpendingin udara kaliber .30), bersama dengan senapan mesin medium Browning M1919A4 berpendingin udara dan Senapan mesin berat berpendingin air Browning M1917 kaliber .30. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)
Dengan senapan mesin M60-nya, pasukan terjun payung dari Brigade Divisi Lintas Udara AS ke-82 maju ke dekat kota Hue pada masa-masa puncak Perang Vietnam. Ketika pasukan AS mulai dikerahkan ke Vietnam pada tahun 1965, senapan mesin M60 yang masih baru dibawa ikut bersama mereka. (Sumber: https://www.tampabay.com/)

MASUK KE DALAM HUTAN

Ada banyak pendapat yang bertentangan tentang M60. Meskipun mendapat julukan “Si Babi”, kinerja keseluruhannya di Vietnam dianggap cukup baik. Sepanjang waktu, tentara dari semua negara mempunyai keluhan tentang perlengkapan mereka, dan keluhan tersebut paling sering berkaitan dengan berat senjata. Dengan berat sedikit lebih dari 23 lbs (10,5 kg) beberapa prajurit infanteri menganggap M60 (dan rangkaian sabuk 100 butir peluru kaliber 7,62 mm) terlalu berat. Yang lain mengatakan senapan mesin itu sulit untuk dibawa. Ini semua adalah poin-poin yang berdasar, namun pada saat yang sama, M60 adalah salah satu GPMG paling ringan di zamannya. Selain itu, amunisi kaliber 7,62 mm M60 cukup kuat untuk menembus dahan dan semak di hutan Vietnam. Kecepatan tembaknya, biasanya sekitar 600 peluru per menit, dapat dikontrol dan tidak banyak membuang-buang amunisi. Tampaknya M60 yang digunakan dalam peran infanteri tradisional adalah yang paling merepotkan, karena senjata tersebut memerlukan pembersihan rutin di tengah panas, kelembapan, dan lumpur di hutan Vietnam. Masalah dengan rotating bolt, ekstraktor, dan tuas kait laras yang terbuka menambah tekanan tambahan pada beban kerja penembak M60. Pegangan pistol dan rakitan pelatuknya yang rapuh, ditambah pemicu yang lemah yang dapat menyebabkan senjata menembak tak terkontrol, tidak membantu reputasi awal dari M60. Meski begitu, kecerdikan tentara Amerika di lapangan, bersama dengan perbaikan persenjataan di Amerika Serikat, membuat M60 menjadi lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap bertahan dalam pertempuran. M60 yang sangat mudah beradaptasi dapat ditemukan hampir di mana saja di Vietnam. Senapan mesin ini dibawa di atas punggung prajurit infanteri yang berkeringat melintasi sawah dan hutan, senjata ini juga dipasang di banyak kapal “Brown Water Navy,” yang bekerja di perairan pedalaman, dan senapan mesin ini menyediakan persenjataan bagi sebagian besar helikopter militer AS yang melayang di atas pertempuran yang sedang berlangsung. 

Dengan berat sedikit lebih dari 23 lbs (10,5 kg) beberapa prajurit infanteri menganggap M60 (dan rangkaian sabuk 100 butir peluru kaliber 7,62 mm) terlalu berat. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
M60 yang serbaguna dapat dipasang di berbagai platform, termasuk Jeep. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
M60 terpasang pada dudukan senjata kapal patroli PBR. (Sumber: https://masterpiecemodels.com/)

PENEMBAK TIPE SHARK & DOLPHIN

Dalam banyak hal, senapan mesin M60 menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perang helikopter di Vietnam. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang bagaimana M60 digunakan dalam ruang yang sempit di dalam helikopter, saya meminta teman lama saya Jim Wagner untuk berbagi pengalamannya sebagai kepala kru di komponen penerbangan Divisi Infanteri ke-9 di Vietnam. “Pada saat itu saya adalah kepala kru helikopter Huey, jadi saya cukup akrab dengan M60 karena kami menggunakannya pada helikopter gunship UH-1C dan helikopter pengangkut pasukan/kargo UH-1D (kami menyebutnya sebagai ‘Slicks‘),” dia teringat. “Di Batalyon Penerbangan ke-9, Kompi A adalah unit helikopter ‘Slicks‘ di batalion kami, yang dilengkapi dengan 25 helikopter Huey D (dan kemudian model H). Kompi B adalah elemen tempur yang dilengkapi dengan 8 helikopter UH-1C. Sekitar setengah dari helikopter gunship model C dilengkapi dengan dua minigun kaliber 7,62 mm, satu di setiap sisi, dan dua M60 yang dapat menembak bebas di samping, ditambah dua pod roket berisi tujuh peluru. Helikopter-helikopter lainnya memiliki empat M60 (dua di setiap sisi) yang dikendalikan dari jarak jauh dengan dudukan fleksibel dan ditembakkan oleh salah satu pilot. “Selain itu, dua M60 standar dibawa ke dalam kompartemen pasukan. Ini diikatkan pada “tali bungy,” yang digantung di langit-langit kabin untuk menopang sebagian besar berat senjata. Tali yang dapat diregangkan namun kuat ini akan menahan senjata di helikopter jika penembak tertembak atau menjatuhkan senjatanya. Hal ini mencegahnya jatuh dari helikopter, namun memberikan kebebasan penuh untuk menembak ke bawah, samping depan dan di belakang helikopter yang sedang terbang. Kepala kru dan penembak yang ditugaskan masing-masing memegang popor dari M60 di pangkuan mereka dan menembakkannya ke sisi helikopter gunship. Konfigurasi penempatan M60 jenis diatas kerap disebut juga sebagai Tipe Shark. Pengaturan ini merupakan solusi “bijaksana di lapangan” untuk mendapatkan daya tembak di dalam helikopter. Dalam menjalankan tugasnya seringkali penembak pintu (Door Gunner), yang memakai pengaman yang disebut sebagai “monkey harness” untuk mencegah mereka terjatuh, akan berdiri di luar helikopter dengan kaki di atas pod roket atau alas pendaratan, menembak ke bawah dan sering kali menembak di antara skid untuk melindungi perut helikopter yang rentan saat jeda selama penembakan. Hal ini dilakukan sambil menerima hembusan angin kencang dengan kecepatan angin 110 hingga 140 mph (177-225 km/jam) karena mereka sering menembakkan senjatanya di luar perlindungan badan pesawat helikopter. “Karena dua M60 ini tidak memiliki batasan dalam sudut tembakannya, maka lazim terjadi bahwa di tengah panasnya baku tembak, salah satu penembak akan menembak alas pendaratan (skid) Huey, lantai kabin, atau boom ekor helikopter mereka sendiri. (Tembakan) salah sasaran semacam itu menciptakan keadaan yang memalukan dan disesalkan, dengan penembak yang tidak tepat sasaran menerima banyak makian.”

Door Gunner tipe Shark: Penembak pintu Angkatan Darat AS di Vietnam (sekitar tahun 1966) ditampilkan menjaga posisi tugasnya di helikopter gunship UH-1B/C, dengan ‘tali bungee‘ yang mengamankan senapan mesin M60 miliknya ke pintu kabin helikopter. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Penembak pintu helikopter dituntut memiliki keberanian dan akurasi yang memadai dalam menjalankan tugasnya. Penembak yang tidak tepat sasaran akan menerima banyak makian. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Segera diketahui bahwa penembak dengan konfigurasi tipe Shark, karena harus memanggul M60, terekspos tembakan musuh dan terganggu oleh efek pergerakan helikopter, sehingga mengakibatkan tingkat korban yang tinggi bagi penembak pintu dan kemungkinan terkena tembakan yang buruk. Ceceran selongsong dan sambungan sabuk peluru yang berasal dari senjata juga menjadi masalah, menyebabkan licinnya pijakan di dek pesawat dan mungkin ada lebih dari beberapa bekas luka pada awak akibat lontaran selongsong peluru yang terbang dengan cepat. Sistem pengumpanan senjata juga menjadi masalah karena berat amunisi yang tidak ditopang oleh sabuk dan kecenderungan sabuk menjadi kusut ketika senjata diayunkan dari sisi ke sisi, kemudian memunculkan konfigurasi tipe kedua. Tipe kedua ini adalah konfigurasi penempatan M60 yang disebut dengan tipe Dolphin, dimana M60 pada Huey slick dipasang pada tiang alas logam bergerigi dengan penahan yang dipasang untuk memungkinkan medan tembak dengan sudut 180 derajat dari depan ke belakang dan 90 hingga sekitar 30 derajat ke atas dan ke bawah. Sistem ini menghilangkan kemungkinan menembak helikopter Anda sendiri. “Senapan tersebut diumpankan dari wadah logam besar yang dipasang tepat di bawah dan di luar dudukan senjata, dan menampung sekitar 500 butir amunisi kaliber 7,62 mm. Sabuk standar membawa sebuah peluru pelacak untuk setiap empat butir peluru tajam. Dari sisi kiri tempat amunisi hingga ke kamar peluru samping M60 yang dipasang pada tumpuan terdapat saluran umpan aluminium yang fleksibel. “Kami mempunyai beberapa masalah dengan saluran umpan, kadang-kadang sabuk M60 akan tersangkut di dalam saluran, menyebabkan sabuk terputus atau macetnya senjata. Karena hal ini selalu terjadi pada saat-saat terburuk, ‘cara lapangan’ yang sederhana dikembangkan untuk memperbaikinya. “Dengan menggunakan pelat adaptor aluminium tipis yang dijepitkan ke bukaan di kamar peluru M60, kami menemukan bahwa kaleng Ransum ‘C’ standar pas dipasang di antara dua tab kecil pelat adaptor. Saluran umpan peluru kemudian dihilangkan sehingga sabuk peluru dengan bebas mengalir dari wadah kaleng penyimpanan logam di atas kaleng C-Ration ke dalam kamar peluru.” “Ada keranjang penyimpanan tahan cuaca standar untuk selongsong peluru yang terpasang pada ejektor sisi kanan M60, yang dirancang untuk menghentikan selongsong peluru agar tidak memantul di sekitar kompartemen kargo. Sayangnya, keranjang casing yang besar menambah hambatan angin pada aliran udara dan mempersulit pengendalian M60. Dalam banyak kasus, kami menghilangkan keranjang dan membiarkan selongsong kosong terkumpul di lantai dan membersihkannya setelah misi usai. Itu adalah beberapa hal yang harus Anda jalani.”

Penembak tipe Dolphin: Daya tembak dari atas—penembak pintu Kompi Penerbangan ke-175 menembaki posisi NVA pada bulan Juli 1970. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)
Contoh kecerdikan G.I. yang terlibat dalam penggunaan kaleng “C Ration” untuk meningkatkan kemudahan pasokan sabuk amunisi kedalam kamar peluru senapan mesin M60. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)

“Kami memodifikasi M60 pada helikopter Slick kami dengan menghilangkan pelindung tangan pada laras, popor, pegangan pistol, dan rakitan pelatuk yang lengkap. Sebagai pengganti pemicu M60 normal, kami menambahkan rakitan pemicu pegangan ganda dari senapan mesin berat M2 kaliber .50 dengan tombol penembakan berbentuk ‘kupu-kupu’ yang diaktifkan dengan ibu jari. Sebuah batang logam tipis di bagian bawah rakitan kamar peluru menghubungkan pegangan kembar ke solenoid penembakan. Kami juga menambahkan pembidik belakang multi-ring lipat yang besar. Bipod laras M60 standar tetap dipertahankan seperti halnya pegangan pembawa. Pada akhirnya, hal ini membuat senjata lebih ringan dan lebih mudah digunakan dalam penerbangan.” Varian senapan M60 modifikasi baru ini kemudian dikenal sebagai M60D. Menembakkan M60D agak berbeda dibandingkan menembakkan M60 standar. Karena penembak tidak memanggul senjatanya, laras senjata cenderung “mendongak” ke atas saat ditembakkan. Hal ini menyebabkan beberapa peluru pertama menjadi terbang tinggi sampai penembak memiliki waktu untuk mengoreksi tembakannya. Karena pembidik belakang kini merupakan pembidik tipe ring seperti sarang laba-laba, dan posisi penembak jauh di belakang senjata, membidik dengan tepat tidaklah mudah. Penembak cenderung menembak pada “area” tertentu, bukan pada titik tertentu. Ini bagus untuk tujuan memberondong barisan pohon untuk meredam tembakan musuh, namun tidak begitu efektif untuk menghancurkan target tertentu. Penembak harus mengoreksi tembakannya dengan memperhatikan lintasan peluru pelacak, yang dimuat setiap peluru kelima di sabuk peluru.

Modifikasi pada M60 termasuk penggantian popor dan pegangan pistol dengan pegangan berbentuk seperti pegangan sekop. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)
Tampilan sudut pandang penembak dengan laras M60 menghadap ke arah hutan di Vietnam. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)

M60 YANG SUPERIOR DI UDARA

“Dibandingkan dengan menggunakan M60 di darat, efek pendinginan dari aliran udara slipstream membantu menjaga laras agar tidak terlalu panas atau peluru meledak prematur di bagian kamar peluru ketika Anda menembakkan semburan panjang. Di udara, kami lebih bergantung pada volume tembakan, jadi saya menembakkan lebih lama di Huey daripada yang pernah saya lakukan di darat.” “Di dalam helikopter kami, penembak secara resmi dibatasi hanya membawa sekitar 1.000 butir amunisi kaliber 7,62 mm. Awak kami akan menghadapi masalah besar jika kalah daya tembak atau kehabisan amunisi, jadi kami biasanya membawa amunisi dua kali lipat dari jatah resmi dan tidak mengkhawatirkan tentang kelebihan berat.” “Jika waktu mengizinkan, saya dan penembak saya akan memecah sabuk amunisi baru dan menambahkan peluru pelacak tambahan ke dalamnya, biasanya seperti setiap peluru ketiga. Ini adalah proses yang memakan waktu, namun memberi kami kemampuan untuk mengenai ‘target’ lebih cepat. Kami juga memeriksa semua sabuk amunisi M60 yang baru untuk memastikan tidak ada peluru yang terlalu jauh ke belakang atau terlalu jauh ke depan pada sambungannya, yang keduanya dapat menyebabkan kemacetan.” “Kami memiliki dua jenis pelindung wajah di helm penerbangan kami. Yang satu terbuat dari plastik bening dan satu lagi berwarna pekat. Saya menggunakan pelindung berwarna karena Anda dapat melihat kilatan cahaya laras senjata yang terang di bawah naungan di daratan dengan lebih cepat.”

Dibandingkan dengan menggunakan M60 di darat, efek pendinginan dari aliran udara slipstream membantu menjaga laras agar tidak terlalu panas atau peluru meledak prematur di bagian kamar peluru ketika menembakkan semburan panjang M60 di udara. (Sumber: https://www.thearmorylife.com/)
Terlepas dari beberapa kontroversinya, selama Perang Vietnam, M60 dengan setia menjalankan perannya sebagai senapan mesin serba guna di darat, di laut, dan di udara. Untungnya bagi Amerika, “Babi” itu benar-benar terbang di atas Vietnam, yang membuat Viet Cong dan NVA kecewa. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Penembak pintu dari Skuadron RAAF No.9 beraksi dengan senapan mesin M60 yang dipasang pada dudukan ganda. Banyak kru penerbangan pertahanan darat di Vung Tau menghabiskan enam bulan tur mereka dengan helikopter dalam kapasitas ini, suatu pengaturan yang memanfaatkan pelatihan mereka dalam penanganan senjata. Menjadi penembak pintu pada dasarnya bukanlah pekerjaan untuk orang yang lemah hati, dan mereka semua adalah pria pemberani. (Sumber: https://www.awm.gov.au/)

“Mengenai pengalaman saya sendiri dengan M60, meskipun terkena hujan, debu, kotoran beterbangan, atau cipratan lumpur, saya tidak pernah kecewa dan senjata ini selalu beroperasi dengan sempurna. Kami dengan hati-hati membersihkan M60 kami setelah setiap misi dan menjaganya agar tetap diminyaki dan dilumasi sedikit. Dengan begitu debu atau pasir tidak bercampur dengan bagian kecil yang bergerak dan menyebabkan terhentinya mekanisme. Saya merasa lebih memilih senjata ditembakkan sehingga menjadi menjadi sedikit panas daripada macet.””Saya rasa peluru kaliber 7,62 mm lebih efektif dibandingkan amunisi standar M16 kaliber 5,56 mm. Karena lebih besar dan berat, amunisi M60 dapat menembus dahan, rumput tebal, semak belukar atau bahkan beberapa inci kayu dan masih dapat menjangkau dan berakibat fatal pada musuh.” Menjadi penembak pintu tipe Shark atau Huey gunship lainnya pada dasarnya bukanlah pekerjaan untuk orang yang lemah hati, dan mereka semua adalah pria pemberani. Hanya sedikit yang benar-benar menerima pengakuan yang pantas atas keberanian, dedikasi, dan kerja keras mereka. Banyak veteran Amerika mengingat senapan mesin M60. Beberapa dari mereka mengingatnya dengan penuh kasih sayang, yang lainnya kurang begitu. Terlepas dari itu, selama Perang Vietnam, M60 dengan setia menjalankan perannya sebagai senapan mesin serba guna di darat, di laut, dan di udara. Untungnya bagi Amerika, “Babi” itu benar-benar terbang di atas Vietnam, yang membuat Viet Cong dan NVA kecewa.

DUDUKAN M60C & D UNTUK HELIKOPTER DI VIETNAM

Senapan mesin serba guna M60C kaliber 7.62mm adalah versi fleksibel untuk penggunaan di udara dari senapan mesin M60D standar NATO. Senjata ini dikontrol secara elektrik, diisi tenaga hidrolik, berpendingin udara, dioperasikan dengan gas, diberi umpan sabuk peluru, dengan laju penembakan 500-650 spm (tembakan per menit). Senjata ini digunakan pada subsistem persenjataan M2 pada helikopter pengintai OH-13 Sioux dan OH-23 Raven, serta M6 dan M16 pada UH-1B “Huey“. M60C diklasifikasikan sebagai senapan standar A (lebih dari 563 unit dibuat). Sementara itu senapan mesin serba guna M60D kaliber 7.62mm adalah senapan mesin fleksibel, yang dioperasikan dengan gas, berpendingin udara yang memiliki kecepatan tembak 550 spm (tembakan per menit). Di Vietnam senapan mesin M-60D digunakan oleh helikopter UH-1 Huey, SH-2 Sea Sprite dan SH-3 Sea King. Tergantung pada aplikasi di helikopter tertentu, sistem senjata M-60D terdiri dari senapan mesin, pintle mount (dudukan tipe M-21, M-23, atau DAS), dan salah satu dari dua sistem penyimpanan amunisi dasar. Sistem penyimpanan pertama terdiri dari braket kaleng amunisi yang dipasang ke senjata atau dudukannya, braket tersebut menampung satu kaleng amunisi berkapasitas 200 butir peluru. Sistem penyimpanan amunisi kedua terdiri dari kaleng amunisi berkapasitas 500 butir dan saluran pengumpanan fleksibel yang dipasang di dasar dudukan. Senjata ini seperti yang telah disinggung diatas memiliki pegangan sekop, pembidik tipe cincin, dan sistem pasokan amunisi yang ditingkatkan. Kantong kontrol ejeksi kanvas dipasang pada senapan mesin untuk menangkap tautan yang dikeluarkan dan kotak kartrid peluru, yang mencegahnya agar tidak terlontar ke jalur bilah rotor atau saluran masuk mesin turbin. M60D digunakan pada dudukan M23, XM29, M59, dan Sagami mountpada seri UH-1 “Huey“, M24 dan M41 pada helikopter seri CH-47 Chinook, XM32 dan XM33 pada helikopter gunship ACH-47A “Guns-A -Go-Go“. M60D diklasifikasikan sebagai senjata standar A. 

Konfigurasi dudukan M23. (Sumber: https://www.huey.co.uk/)
Konfigurasi dudukan M24. (Sumber: https://www.huey.co.uk/)
Konfigurasi dudukan M41. (Sumber: https://www.huey.co.uk/)

Dudukan M23, M24, dan M41 dipasang pada badan helikopter untuk menyediakan dudukan yang stabil untuk senapan mesin M60D. Setiap dudukan dilengkapi pintle untuk memasang senapan mesin agar dapat diangkat, diturunkan, dan diarahkan larasnya untuk membidik dan menembak. Setiap rakitan dudukan persenjataan juga memiliki kotak amunisi atau rakitan kaleng untuk menyimpan dan memasok amunisi dengan cepat ke sisi kamar peluru senapan mesin. Kantong kendali ejeksi dipasang pada senapan mesin untuk menampung selongsong peluru dan sambungan peluru yang telah ditembakkan. Subsistem persenjataan M23 terdiri dari tali pengaman bahu dan dudukan samping kiri dan kanan yang masing-masing bertanda “KIRI” atau “KANAN”. Masing-masing dibaut ke bagian luar helikopter seri UH-1 dengan dudukan pintle mount. Terlampir pada pintle mount adalah senapan mesin M60D dengan tas kontrol ejeksi kanvas untuk mengumpulkan bekas sabuk dan kartrid yang sudah ditembakkan. Dudukan pintle terdiri dari rakitan tiang pintle dan kotak amunisi berkapasitas 550 peluru dengan saluran umpan amunisi dan adaptor. Sementara itu subsistem persenjataan M24 terdiri dari tali pengaman bahu dan dudukan samping kiri dan kanan yang masing-masing bertanda “KIRI” atau “KANAN”. Masing-masing disematkan di dalam kusen pintu sisi kiri dan pintu keluar sisi kanan helikopter seri CH-47 dengan rakitan dudukan. Terlampir pada rakitan dudukan adalah senapan mesin M60D dengan tautan dan tas penampungan kartrid peluru serta rakitan kaleng amunisi dengan 200 butir amunisi. Rakitan dudukan terdiri dari pintle dan subrakitan dudukan. Yang terakhir subsistem persenjataan M41 terdiri dari tali pengaman dan dudukan bahu pengaman yang ditempatkan dan disematkan di bagian dalam ramp pintu belakang pada helikopter seri CH-47 Chinook. Terlampir pada rakitan dudukan adalah senapan mesin M60D dengan tas kontrol ejeksi dan rakitan kaleng amunisi berkapasitas 200 butir peluru.

Penembak pintu Australia dengan senapan mesin M60D siap berangkat. (Sumber: https://www.abc.net.au/)

KONSEP DAN PELATIHAN DOOR GUNNER ERA PERANG VIETNAM

Dengan keterlibatan militer Amerika dalam Perang Vietnam di Angkatan Darat Amerika kemudian bertambah satu posisi baru, bersamaan dengan mulai meluasnya penggunaan Helikopter, yakni “Door Gunner“(Penembak di pintu helikopter). Dinas penerbangan Angkatan darat ini sangat serius dalam memantapkan peran Door gunner sebagai prajurit yg melindungi crew helikopter. Personel asli yang bertugas sebagai penembak pintu awal di helikopter CH-21, UH-34, dan UH-1 di Vietnam, adalah tamtama, dengan kepala kru yang ditunjuk dan dilatih secara khusus yang bertugas sebagai manajer pemeliharaan helikopter dan penembak pintu. Biasanya, prajurit tamtama kedua bertugas sebagai penembak pintu kedua (seperti pada UH-1, dan UH-34, yang keduanya menggunakan dua penembak, satu di setiap sisi pesawat). Posisi penembak pintu tidak terlalu populer dalam Perang Vietnam, karena posisi mengawaki senapan mesin di pintu helikopter yang terbuka. Menurut legenda yang populer, penembak pintu pada helikopter Huey Gunship era Vietnam memiliki harapan hidup cuma 5 menit. Hal ini jelas dibesar-besarkan namun menunjukkan bahayanya pekerjaan ini pada saat itu. Belakangan, seiring berlangsungnya perang, posisi penembak pintu terkadang bukan dari awak udara melainkan prajurit atau marinir terlatih, yang secara sukarela melakukan tugas sebagai penembak pintu. Pada sebagian besar masa perang Vietnam, senjata utama penembak pintu adalah senapan mesin medium (MG), awalnya M-1919A4 kaliber .30 MG, dan segera setelah itu, M-60 kaliber 7.62mm menjadi sistem persenjataan standar di pintu helikopter. Namun awalnya tidak semua helikopter dipersenjatai atau dilengkapi dengan senapan mesin khusus untuk persenjataan di pintunya. Misalnya, unit helikopter Angkatan Darat A.S. yang pertama, yang menerbangkan helikopter CH-21 Shawnee yang mulai menerbangkan misi tempur di Vietnam pada tahun 1962 tidak dilengkapi dengan senjata itu. Oleh karena itu, penembak pintu di foto-foto perang Vietnam awal terkadang terlihat menggunakan cuma menggunakan M1 Carbine, senapan M14, atau senapan M16, sebagai satu-satunya senjata mereka.

Nampak pada gambar prajurit Angkatan Darat A.S. Glenn W. Rehkamp, ​​dari Kompi Helikopter ke-57, mengawaki senapan mesin M1919A6 kaliber .30 miliknya pada helikopter CH-21, 1 Feb 1963. (Sumber: https://laststandonzombieisland.com/)
Kepala kru helikopter Yankee Papa 13, lance corporal James C. Farley, mengoperasikan senapan mesin M60 selama misi di dekat Da Nang, Vietnam. (Sumber: https://www.flickr.com/)
Penembak pintu helikopter di Vietnam dengan senapan M1 Carbine. Pada masa awal perang, tidak semua penembak pintu helikopter dilengkapi dengan senapan mesin M60. (Sumber: https://www.flickr.com/)

Dikarenakan kebutuhan akan Door gunner sangat mendesak, setiap kandidat diharuskan melewati 111 test fisik penerbangan, dimana diutamakan adalah memiliki penglihatan yg baik, tidak buta warna, pendengaran yang baik, dan kondisi fisik yang prima. Pelatihan umumnya menggunakan senapan mesin M-60, akan tetapi setiap calon juga harus ahli dalam menggunakan senapan mesin kaliber .50 (12.7 mm), pelontar granat M-79, pistol kaliber .45, karabin M-2 kaliber .30, dan senapan serbu M-16 yang masih baru, serta pastinya senapan standar infanteri M-14 lengkap dengan bayonetnya. Kemudian akhirnya diputuskan adanya pelatihan penembakan senjata di malam hari, dikarenakan meningkatnya misi yg dilakukan di malam hari. Pelatihan dikembangkan dalam bentuk familiarisasi dengan berbagai tipe helikopter dan taktik baik ofensif maupun defensif yg cocok untuk diterapkan di kawasan Asia Tenggara. Pelatihan pada tingkatan pleton dimulai dengan pengenalan penerbangan di mock up (tiruan) helikopter. Mereka dikenalkan dengan variasi berbagai dudukan senjata dan juga sesi penembakan dengan menggunakan “Bungee cord“, yakni tali pengikat senapan mesin yg tergantung di langit-langit helikopter. Dengan berjalannya pelatihan, setiap calon belajar mengenai teknik observasi udara dan penembakan dari berbagai ketinggian dan bagaimana untuk melatih respon dengan cepat. Akurasi menembak senantiasa ditingkatkan, utamanya di kondisi tempat pendaratan dimana seringkali dijumpai tembakan yg sangat intensif dari musuh. Mereka juga dilatih bagaimana cara mengatur dan mengelola amunisi yg digunakan masing-masing senjata yg mereka awaki, sehingga jangan sampai mereka kehabisan amunisi sebelum misi selesai. Bisa dipastikan dan dibayangkan bahwa menembak dengan akurat dari udara bukanlah perkara yg sepele, faktor kecepatan helikopter, sudut terbang dan ketinggian terbang merupakan beberapa faktor yang menantang akurasi penembakan seorang Door Gunner. Seorang Door Gunner harus senantisa waspada dan mengamati secara seksama rekan-rekan helikopter lainnya sekaligus terus membantu para prajurit di darat dari atas helikopter, semuanya harus bisa dilakukan dalam hitungan detik. Sebagai tambahan atas pelatihan senjata dan taktik, ditambahkan pula pelatihan jungle survival. Mereka juga diajarkan untuk berenang dengan pakaian lengkap dan cara menjaga kesehatan dari penyakit yg umum ada di kawasan berhutan-hutan. Pada akhirnya skill, ketenangan, dan keberanian seorang Door Gunner menjadi faktor yg menentukan dalam keberhasilan misi pasukan, demikian juga menjadi faktor penentu antara hidup dan mati baik crew dan para prajurit yg terbang bersama menggunakan helikopter. Bagi prajurit di darat yg sedang mengalami pertempuran sengit dengan musuh, suara helikopter yg datang dengan disertai tembakan akurat dari seorang Door Gunner adalah laksana malaikat penyelamat di tengah pertempuran sengit di hutan-hutan lebat kanopi berangkap tiga Vietnam.

Provinsi Phuoc Tuy. 1966. Dilindungi oleh senapan mesin M60 milik penembak pintu UH-1 Iroquois RAAF, tentara Australia yang mengambil bagian dalam penyerbuan terhadap instalasi Viet Cong keluar dari sawah untuk dibawa kembali ke markas mereka setelah berhasil menyelesaikan operasi. (Sumber: https://www.reddit.com/)

PERLENGKAPAN TAMBAHAN DOOR GUNNER

Dalam menjalankan tugasnya laras, pin penembakan, dan peralatan pengumpan cadangan sering kali dibawa para Door Gunner dan diganti ketika senjata yang digunakan sudah mulai rusak. Selain itu para Door Gunner juga membawa beberapa perlengkapan tambahan, diantaranya sebagai berikut:

M-16 adalah senjata utama selama perang Vietnam. Penembak pintu pada helikopter pengintai sering kali membawa senapan serbu M-16 di belakang kursi belakang sebagai senjata sekunder jika M60 yang mereka gunakan macet saat dipakai dalam pertempuran. Senjata itu juga merupakan senjata yang bagus untuk dibawa jika terjadi helikopter mereka ditembak jatuh. 

Jim Wagner, kepala kru di Batalyon Penerbangan Divisi Infanteri ke-9 pada tahun 1967, memegang senapan M16 miliknya dengan magasin yang ditempel sambil berdiri di dekat senapan mesin M60. Perhatikan saluran pengumpan amunisi dan tas pengumpul selongsong bekas pada M60 yang dipasang di pintu. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)

Pistol otomatis Colt .45 adalah senjata pilihan sebagian besar penembak pintu helikopter. Daya hantamnya cukup keras pada jarak dekat, namun kurang akurat dan berdampak pada target jarak jauh. 

Pistol otomatis Colt .45. (Sumber: https://www.historynet.com)

Revolver Smith & Wesson kaliber .38 adalah pistol yang sangat serbaguna dan ringan. Pistol ini digunakan oleh sebagian besar pilot. 

Pistol Smith & Wesson kaliber .38. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)

Granat tangan M61 adalah granat yang biasanya digunakan pada masa awal perang Vietnam dan segera digantikan oleh M67. Granat tangan M67 berbentuk bisbol ini adalah pilihan penembak pintu helikopter pengintai. Mereka memiliki kemampuan menggelinding yang hebat dan mudah dikendalikan di kursi belakang, sementara fokus utamanya adalah penggunaan senapan mesin M60. Sebuah kotak yang berisi sebanyak 20 granat fragmentasi bukanlah hal yang aneh untuk dibawa saat menjalankan misi. 

Granat tangan M61. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Granat MK3A2 concussion grenade, dirancang untuk menghasilkan korban selama pertempuran jarak dekat sekaligus meminimalkan bahaya terhadap personel kawan. Granat ini juga digunakan untuk menyebabkan efek gegar otak di area tertutup, untuk peledakan, atau untuk tugas penghancuran. Granat ini sangat efektif dipakai melawan tentara musuh yang terletak di bunker, gedung, dan area berbenteng. Juga cukup efektif dalam membujuk musuh untuk muncul ke permukaan ketika menggunakan taktik mengelak seperti bernapas melalui tabung bambu saat terendam di sungai dan aliran air. 

MK3A2 concussion grenade. (Sumber: https://www.modernforces.com/)

Granat asap digunakan terutama untuk menandai area sasaran helikopter Gunship. Mereka juga digunakan oleh pasukan darat untuk menunjukkan lokasi mereka. Asap juga digunakan untuk memberikan informasi arah angin bagi helikopter yang terbang ke pendaratan/LZ. Asap muncul dalam warna Merah, Kuning, dan Ungu. Bukan hal yang aneh untuk membawa hingga 10 granat asap yang berbeda 

Granat asap ungu. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Granat pembakar M14 jarang digunakan, namun kadang-kadang dijatuhkan ke lokasi di mana diduga ada tempat penyimpanan senjata. Perangkat ini berguna untuk menimbulkan kerusakan pada benda logam karena panasnya yang menyengat. 

Granat pembakar M14. (Sumber: https://man.fas.org/)

Granat M7A3 CS atau Riot gas cukup efektif membujuk musuh yang bersembunyi atau warga sipil yang dicurigai untuk keluar ke tempat terbuka. Sayangnya, tabung granat CS cukup panas sehingga bisa menyebabkan kebakaran di area kering atau sekitarnya. Gas ini menyebabkan rasa terbakar yang parah pada mata dan area lendir di tubuh. Sepanjang misi, banyak tabung granat CS yang dapat digunakan. 

Granat M7A3 CS. (Sumber: https://www.worthpoint.com/)

Granat M34 Fosfor Putih. Granat fosfor putih digunakan secara berhati-hati karena dampak kerusakan yang bisa ditimbulkannya. Jenis granat ini digunakan terutama untuk menghancurkan gubuk/hootchesyang disamarkan. Itu akan membakar apapun yang bersentuhan dengannya. Satu-satunya cara untuk menghentikan pembakaran adalah dengan mematikan fosfor. Itu adalah senjata yang cukup dahsyat dan sebanyak 4-6 dibawa di setiap helikopter pengintai. 

M34 White phosphorus. (Sumber: https://dark-migrations.obsidianportal.com/)

Pelontar granat M79 adalah senjata sekunder untuk penembak pintu helikopter. Senjata ini memungkinkan peluncuran granat ke area kecil tanpa membahayakan keselamatan kru helikopter pengintai. Proyektil senjata ini keluar dari laras dengan lintasan spiral menuju sasaran. Pelurunyanya kecil dan mudah diangkut. 

Pelontar granat M79. (Sumber: https://nationalinterest.org/)

Rompi Kevlar digunakan oleh seluruh kru helikopter. Banyak awak helikopter juga memasang rompi di bawah kursi mereka sebagai tindakan pencegahan. Meskipun berat dan agak rumit, alat ini memenuhi tujuannya dan menyelamatkan banyak nyawa. 

Penembak pintu helikopter mengenakan rompi kevlar. (Sumber: https://www.ebay.ca/)

Gelang rantai rotor ekor helikopter dipakai oleh banyak kepala kru dan penembak helikopter di seluruh Vietnam. Barang ini sangat sulit didapat dan merupakan barang yang berharga.

Gelang rantai rotor ekor helikopter. (Sumber: https://dtroop.com/)

M60 ANGKATAN DARAT

Seperti sebagian besar senjata kecil militer AS, Senapan Mesin M60 kaliber 7,62 mm dirancang dan dikembangkan di luar lembaga pemerintah. Divisi Daratan General Motor Corp., dibantu oleh Bridge Tool & Die Works, mengembangkan M60, dan perusahaan-perusahaan ini pantas mendapatkan pujian atas senjata luar biasa ini. Setelah pengujian operasional dalam kondisi berat, M60 diadopsi dan diumumkan pada tanggal 30 Januari 1957. Senapan M14 dan senapan mesin M60 bersama-sama membentuk sistem senjata infanteri yang diadopsi Angkatan Darat Amerika pada saat itu. Keduanya menembakkan kartrid peluru standar NATO kaliber 7,62 mm. M60 menggantikan senapan mesin berpendingin udara M1919A4 dan M1919A6 serta senapan mesin berpendingin air M1917A1, yang merupakan standar senapan mesin darat kaliber . 30 selama bertahun-tahun. Ketiga senjata api ini, yang beratnya 31 hingga 42 lbs (14-19 kg) masing-masing, digantikan oleh M60, yang berbobot 23 lbs (10,5 kg) dengan bipodnya. Senapan mesin ini memiliki pegangan lipat pada titik keseimbangannya. Peredam kilatan cahaya tipe batang yang dikembangkan oleh Angkatan Darat sangat efektif dalam mencegah kilatan cahaya, dan hal ini penting agar tidak mengungkapkan posisi senjata dan tidak membutakan penembak pada pertempuran malam hari. Panjang keseluruhan senapan mesin M60, termasuk flash suppresor-nya, adalah 43 1/2″ (1.105 mm). M60 dioperasikan dengan gas, berpendingin udara, dan diumpankan dengan sabuk penghubung disintegrasi. Biasanya ditembakkan pada bipodnya, yang dipasang secara permanen pada larasmyanya dan dilipat kembali sepanjang laras saat tidak digunakan, atau dari dudukan tripod M122, yang beratnya hanya 15 pon (6,8 kg). Bobotnya yang ringan, kecepatan siklik yang rendah sekitar 550 peluru per menit, dan recoil yang lembut memungkinkannya ditembakkan dari pinggul dan bahkan dari bahu sambil berdiri atau berjalan. Pelat popor berengsel menjaga popor tetap pada posisinya selama penembakan dari bahu. Silinder gas M60 beroperasi dengan prinsip cutoff-and-expansion, dengan cara yang mirip dengan senapan M14. Hal ini meminimalkan tekanan pada bagian-bagian yang bekerja dan melunakkan hentakan, membuat penembakan terus-menerus menjadi lebih mudah bagi penembak. Laras M60 dapat dilepas dan diganti dengan yang baru dalam beberapa detik, sehingga memungkinkan penembakan terus menerus. Berbeda dengan senapan mesin Browning standar sebelumnya, senapan ini tidak memerlukan headspace adjustment. Lubang larasnya berlapis krom, dan juga dilapisi dengan Stellite di bagian belakang laras sepanjang 7 1/2″ (190,5 mm). Fitur-fitur ini terbukti sangat memperpanjang masa pakainya. Dengan berbagai fitur, desain, karakteristik dan pengalaman tempurnya, senapan mesin M60 terbukti menjadi “sahabat sejati” prajurit Amerika dan salah satu icon dari Perang Vietnam yang tidak akan pernah dilupakan.

Sebuah senapan mesin M60 beraksi dengan prajurit Brigade Lintas Udara ke-173 di Bukit 875 pada bulan November 1967. (Sumber: https://www.americanrifleman.org/)

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

When Pigs Fly: The Heliborne M60 Machine Gun in Vietnam by TOM LAEMLEIN posted on June 21, 2020

https://www.americanrifleman.org/articles/2020/6/21/when-pigs-fly-the-heliborne-m60-machine-gun-in-vietnam/

M60 Machine Gun

https://www.huey.co.uk/m60.php

Shark Door Gunner’s M-60 Machine Gun

http://www.174ahc.org/m-60.htm

The M60 “D” Conversion By Dudley Calfee

https://smallarmsreview.com/the-m60-d-conversion/

Door Gunner Arsenal

https://dtroop.com/pages/weapons.html

Vietnam Air Warfare, The Story of the Aircraft, the Battle, and the Pilots who fought by Robert F. Dorr & Chris Bishop, 1996

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *