Mengenal Jet Pencegat Sukhoi Su-15 Flagon, Si “Jagal Udara” asal Soviet
Sukhoi Su-15 (nama pelaporan NATO: Flagon) adalah pesawat pencegat supersonik bermesin ganda yang dikembangkan oleh Uni Soviet. Pesawat ini mulai beroperasi pada tahun 1965 dan akan tetap menjadi salah satu jenis pesawat tempur garis depan pertahanan udara negeri itu hingga tahun 1990an. Su-15 dirancang untuk menggantikan Sukhoi Su-11 dan Sukhoi Su-9, yang telah menjadi usang saat NATO mulai memperkenalkan pesawat-pesawat pembom strategis yang lebih baru dan lebih canggih.

SEJARAH PENGEMBANGAN & VARIAN FLAGON
Kemunculan Su-15 dimulai pada awal tahun 1960-an, ketika biro desain Sukhoi sedang berada dalam masalah. Pesawat pencegat pertahanan udara Su-9 “Fishpot” dan Su-11 “Fishpot-C” yang bermesin tunggal lansiran biro desain itu terbukti tidak dapat diandalkan. Komando pertahanan udara Soviet (PVO) kemudian menginginkan pesawat pencegat bermesin ganda seperti Yakovlev Yak-28 “Firebar” dan Tupolev-128 “Fiddler“, yang dianggap lebih andal. Pada saat yang sama, Amerika Serikat mengerahkan pembom B-52 Stratofortress yang mampu terbang tinggi dan B-70 Valkyrie (yang nantinya batal dibuat) berkecepatan Mach 3 (3 kali kecepatan suara). Soviet khawatir bahwa dengan kehadiran kedua bomber Amerika ini, mereka akan menghadapi pesawat pembom lambat namun mampu terbang tinggi dan pembom bercepatan diatas Mach 2 (seperti B-58 Hustler AS), menurut buku karya Yefim Gordon. “Tanpa keunggulan signifikan dalam kecepatan, pesawat pencegat tidak memiliki peluang untuk menghancurkan target seperti itu dalam mode pengejaran; maka target berkecepatan tinggi harus dicegat dalam mode penyerangan berhadap-hadapan langsung, dan kedua taktik ini juga nantinya akan digunakan untuk melawan pesawat yang lebih lambat.” Waktu itu militer Soviet menuntut agar pesawat pencegat baru yang dibuat memiliki kemampuan menyerang terhadap target yang terbang hingga ketinggian 27.000 m (!) dan kecepatan hingga 2.500 km/jam. Menyadari keterbatasan dari Su-9 dan Su-11 sebelumnya dalam mencegat pembom Boeing B-52 Stratofortress yang baru, khususnya dalam hal radar dan kinerja pesawat, Sukhoi OKB (Biro Desain) dengan cepat memulai pengembangan pesawat yang telah diperbaiki dan lebih canggih. Berbagai pengembangan pesawat yang dikembangkan, termasuk Sukhoi T-49, yang berbagi badan dengan pesawat Su-9 (termasuk mesin tunggalnya), tetapi menggunakan intake tipe cheek-mounted guna memberi ruang di bagian hidung bagi radome besar untuk Radar RP-22 Oryol-D (“Eagle“) (Kode NATO “Skip Spin“). Alasan mengapa T-49 tidak pernah terbang lagi adalah karena minat sekali lagi beralih, kali ini ke upaya desain yang benar-benar mengarah pada produksi sistem senjata.



Pada awal 1960-an, Sukhoi OKB tampaknya tidak disukai, dengan pesawat tempur dan pencegat lansiran OKB Mikoyan dan Yakovlev semakin disukai oleh Angkatan Udara Tentara Merah dan PVO. Kemudian muncul desain T-5, yang pada dasarnya adalah modifikasi dari Su-11 dengan badan pesawat belakang yang melebar berisi dua mesin Tumansky R-11. Untuk kembali menjadi yang terdepan, Sukhoi OKB lalu mulai mengerjakan pencegat supersonik canggih, dengan kode nama pelaporan OKB “T-58”. Desain ini menggabungkan mesin kembar dengan versi modifikasi dari hidung T-49, tetapi dengan lubang masuk samping lebih jauh ke belakang, di belakang kokpit. T-58 adalah pesawat satu kursi, yang mempertahankan konfigurasi balalaika (sayap delta) dari seri T-3 (desain awal keluarga pencegat Fishpot), tetapi hidungnya yang tidak berlubang diimplementasikan dalam prototipe P-1, memungkinkannya membawa radar yang kuat. Intake yang dipasang di samping pada T-58 memiliki konfigurasi yang jauh lebih baik daripada P-1, dengan saluran masuk udara yang berkonfigurasi variabel. Mengenai konfigurasi dari hidung T-49 merupakan sebuah konsep yang cukup berbeda dengan pesawat-pesawat tempur Soviet sebelumnya yang masih memakai sistem pasokan udara melalui hidung pesawat. Pengabaian persyaratan jangkauan dan avionik dapat diilustrasikan oleh keengganan Soviet untuk meninggalkan sistem pasokan udara di lubang hidung pesawat ini. Desain ini mengharuskan sebagian besar badan pesawat digunakan untuk saluran yang mengurangi ruang internal untuk bahan bakar dan peralatan elektronik. Baru setelah pesawat tempur buatan Tupolev, Soviet menggunakan saluran udara samping untuk memungkinkan sejumlah besar bahan bakar dan peralatan elektronik dipasang di badan pesawat. Sementara itu konsep mesin tunggal dan mesin ganda dipertimbangkan untuk digunakan, dengan konfigurasi mesin kembar diberi sebutan “T-58D”. Konfigurasi mesin kembar pada akhirnya lebih disukai, dan konfigurasi mesin tunggal ditinggalkan. Mesin yang digunakan adalah Tumanskiy R11F2-300, yang sudah diujicobakan pada prototipe T-5 bermesin tunggal. T-58D saat itu diharapkan menjadi pencegat yang akan bisa menghadapi target tunggal yang tidak bagus bermanuver yang terbang antara ketinggian 20.000 – 24.000 m dan kecepatan hingga 2.500 km/jam. Karena sepertinya tidak ada peluang untuk menyerang target dalam mode pengejaran karena tidak memiliki keunggulan dalam hal kecepatan karena peningkatan bobot pesawat, maka dirancang taktik penyerangan berhadap-hadapan langsung. Konsep pesawat ini kemudian disetujui untuk diproduksi pada tanggal 5 Februari 1962, sebagai pesawat Su-15, dan prototipe pertamanya terbang pada tanggal 30 Mei 1962, dengan Vladimir Ilyushin sebagai pilot uji.



Secara pengkodean tidak pernah ada rencana menggunakan kode “Su-13”; sebab orang-orang di dunia penerbangan cenderung sensitif terhadap hal-hal yang bersifat takhayul, karena tidak begitu sulit untuk terbunuh di dalam pesawat, dan tidak ada yang ingin menerbangkan pesawat dengan kode nomor itu. Saat itu terdapat masalah dalam mendapatkan radar yang memuaskan. Setelah gagal menemukan solusi yang lebih baik, radar Oryol yang diperbarui, yakni Oryol-58DM / RP-15, dipilih untuk dipakai. Uji coba berjalan dengan baik, meskipun terdapat sejumlah besar perubahan yang diperlukan agar pesawat dapat memenuhi spesifikasi operasional. Prototipe ini memasuki pengujian operasional pada tanggal 5 Agustus 1963, tetapi pengoperasian perdananya tertunda oleh pertikaian politik dengan Yakovlev OKB atas kapasitas jalur produksi di Novosibirsk, yang juga memproduksi pesawat tempur Yak-28P. Sementara itu Su-15 terbukti lebih unggul dalam banyak hal selain jangkauan, dan secara resmi dioperasikan pada tanggal 3 April 1965. Harus dikatakan juga bahwa, tidak seperti Su-7 dan Su-9, selama periode pengembangan, Su-15 tidak diikuti dengan berbagai kasus kecelakaan. Pesawat pra-produksi pertama melakukan penerbangan pertamanya pada bulan Maret 1966, dengan produksi penuh meningkat pada pertengahan musim panas tahun berikutnya. Su-15 mulai beroperasi dengan PVO (Satuan Pertahanan Udara Soviet) pada tahun 1967, menggantikan pesawat Su-9, Su-11, dan Yakovlev Yak-25. Unit pertama di Angkatan Bersenjata Uni Soviet yang dilengkapi kembali dengan Su-15 adalah resimen pesawat tempur distrik ADF Moskow, yang berpangkalan di lapangan terbang Dorokhovo. Su-15 varian produksi kemudian dipamerkan di pameran udara Bandara Moskow-Domodedovo pada tanggal 9 Juli 1967. Su-15 versi awal menerima kode pelaporan NATO sebagai “Flagon-A“. Flagon adalah pesawat yang kuat dan kompleks, sehingga, seperti halnya Su-9, kemudian dibuat keputusan untuk memproduksi varian latih konversi dua kursi tandem untuk memudahkan konversi ke tipe tersebut. Versi latih yang disederhanakan dari pesawat ini, yakni Su-15UT (kode NATO “Flagon-C“), kemudian mulai beroperasi pada tahun 1970. Su-15UT merupakan Su-15 dasar dengan badan pesawat diperpanjang 45 sentimeter (18 inci) dan konfigurasi kokpit tandem seperti Su-9U — meskipun memiliki periskop pop-up. Su-15UT tidak memiliki radar atau datalink; serta tidak memiliki mampu tempur dan biasanya hanya membawa rudal tiruan.


Laju produksi Su-15 secara bertahap meningkat: pada tahun 1967, 90 pesawat dibuat, kemudian pada tahun 1968 terdapat 150 pesawat diproduksi. Seiring dengan peningkatan laju produksi, pesawat dan sistemnya kemudian terus ditingkatkan. Su-15 bersayap delta versi awal memiliki karakteristik lepas landas dan pendaratan yang buruk, sehingga Sukhoi menyelidiki penggunaan desain sayap baru dengan ujung sayap yang diperpanjang (meningkatkan luas area sayap) dan pemasangan blown flaps, dimana aliran udara mesin yang ditiupkan di atas flaps untuk menjaganya agar tetap efektif pada kecepatan yang lebih rendah. Perbaikan ini membuat lepas landas dan pendaratan tidak terlalu “berisiko” dan mengintimidasi. Sayangnya, mesin yang dipakai tidak menyediakan udara pembuangan yang cukup untuk membuat sistem ini efektif. Su-15 dengan sayap baru ini mulai diproduksi pada tahun 1969. Mereka dikenal “Flagon-D” oleh NATO (karena tipe ini jelas berbeda dari Flagon-A asli), meskipun pengkodeannya di Soviet tidak berubah. Juga pada tahun 1969 pengujian dari Su-15T dimulai yang kemampuannya ditingkatkan dengan pemasangan radar Volkov Taifun (“Typhoon“), yang didasarkan pada radar RP-25 Smerch-A (“Tornado“) yang kuat dari jet pencegat MiG-25 (kode NATO: radar “Foxfire“). Kode “T” berasal dari “Taifun“. Namun, Taifun terbukti merepotkan, dan produksinya dihentikan setelah hanya 10 pesawat yang dibuat. Meski demikian Su-15T menampilkan sejumlah peningkatan, terutama mesin Tumanskiy R13-300, yang telah dikembangkan untuk model jet tempur terbaru dari Mikoyan MiG-21. R13-300 diketahui menawarkan konsumsi bahan bakar yang secara spesifik lebih baik dan daya dorong yang lebih besar daripada mesin R11F2-300 yang dipakai sebelumnya. Masing-masing mesin memberikan daya dorong maksimum 40,2 kN (4.100 kgp / 9.040 lbf) dan daya dorong afterburning sebesar 64,7 kN (6.600 kgp / 14.550 lbf). Mesin yang lebih bertenaga juga memungkinkan penggunaan sistem Blown Flaps secara efektif. Perubahan lainnya termasuk:
- Pembaruan pada sisten avionik, seperti diperkenalkannya radio baru, peningkatan pada Sirena-3 RWR, peningkatan datalink, dan sebagainya.
- Sistem kontrol penerbangan otomatis baru.
- Kaki roda hidung yang lebih panjang, dengan roda hidung ganda, bukan roda hidung tunggal, untuk menangani bobot radar Taifun yang lebih besar.
- Persenjataan rudalnya dilengkapi dengan rudal R-98 AAM baru, versi perbaikan dari seri R-8M asli. R-98 tampak identik dengan R-8M secara eksternal, dan diberi kode oleh NATO sebagai “AA-3-A Advanced Anab“.

Desain itu kemudian diikuti pada bulan Desember 1971 oleh varian Su-15TM (kode NATO “Flagon-E“), dengan radar Taifun-M yang ditingkatkan (kode NATO “Twin Scan“) dan penambahan untuk pod kanon berlaras ganda UPK-23-250 di pylon perut dengan 250 butir peluru atau rudal udara-ke-udara jarak pendek pencari panas R-60 (AA-8 “Aphid“). Tuntutan aerodinamis lalu memaksa dilakukannya desain ulang radome dengan bentuk ogival, sehingga mendapatkan kode pelaporan baru NATO, sebagai “Flagon-F“, meskipun sekali lagi kode penamaan di pihak Soviet tidak berubah. Su-15TM adalah varian definitif dari Flagon. Su-15TM yang dilengkapi dengan mesin turbojet Gavrilov R25-300 dengan daya dorong maksimum 40,2 kN (4.100 kgp / 9.400 lbf) dan daya dorong afterburning 67,2 kN (6.850 kgp / 15.650 lbf) kemudian digunakan sebagai prototipe untuk “Su-15bis” — “bis” menjadi bahasa Latin / Prancis untuk “encore” atau, secara efektif, “plus”. Tipe ini melakukan penerbangan awal pada tanggal 3 Juli 1972, dengan Vladimir Ilyushin di kontrol pesawatnya. Dengan perbaikan ini performa pesawat meningkat dan varian tersebut disetujui untuk diproduksi, tetapi karena mesin yang sama juga digunakan pada varian MiG-21 terbaru, pada akhirnya tidak ada cukup mesin untuk memungkinkan pembuatan Su-15bis. Sementara itu Su-15 telah dirancang sedari awal untuk meledakkan pesawat musuh dari langit dari jarak jauh dengan rudal AAM (udara ke udara), namun berdasarkan pengalaman tempur menunjukkan bahwa gagasan itu tidak sepenuhnya realistis, sehingga rudal jarak pendek R-60 AAM dan kanon ditambahkan untuk meningkatkan kemampuannya dalam pertempuran udara. Su-15 lama yang masih beroperasi kemudian di-upgrade untuk bisa membawa pod kanon. Dengan radar barunya, Su-15 TM memiliki jangkauan deteksi sebagai berikut:
- Jangkauan deteksi di ketinggian tinggi: 65 – 70 km (target berukuran pembom), 45 – 55 km (target berukuran pesawat tempur), sementara jangkauan pelacakan di ketinggian tinggi: 40 – 45 km (target berukuran pembom), 35 – 40 km (target berukuran pesawat tempur)
- Jangkauan deteksi di ketinggian rendah: 15 km (target berukuran pembom) 10 – 15 km (target berukuran pesawat tempur), sedangkan jangkauan pelacakan di ketinggian rendah: 10 km (target berukuran pembom), 5 -10 km (target berukuran pesawat tempur)
Bersama dengan radar baru juga datang rudal udara-ke-udara R-98MR/T yang kemampuannya ditingkatkan. Rudal baru ini telah meningkatkan jarak jangkaunya; menjadi 5 – 24 km saat target datang dari arah depan dan 2 – 15 km saat dalam mode pengejaran; meningkat dari jangkauan sebelumnya masing-masing 8 – 18 km dan 2 – 14 km untuk R-98R dan R-98T. Mereka dimuat di bawah cantelan PU-2-8 yang sudah diperbarui. Sempat juga dilakukan uji coba Su-15TM dengan membawa persenjataan untuk misi serangan darat seperti bom dan peluncur roket tanpa pemandu yang dibawa di pylon perut, dengan satu bahkan dimodifikasi untuk membawa senjata nuklir taktis. Namun, Su-15TM secara umum dinyatakan tidak cocok untuk menjalankan peran sebagai pesawat penyerang, dan persenjataan semacam itu tidak pernah dibawa dalam praktiknya.



Setelah diperkenalkannya Su-15TM, keputusan dibuat untuk mengimplementasikan latih konversi berdasarkan konfigurasi itu, yang kemudian menghasilkan “Su-15UM”. Versi ini tampak seperti Su-15TM produksi akhir dengan kursi tandem, tetapi tidak memiliki perpanjangan badan pesawat seperti Su-15UT. Sekali lagi, pesawat ini tidak dilengkapi dengan radar, tetapi bisa membawa rudal R-60 AAM dan pod kanon, yang memberikan pesawat ini kemampuan tempur terbatas. Pesawat latih ini dikenal sebagai “Flagon-G” menurut pengkodean NATO dan mulai muncul dari tahun 1976. Su-15UM, varian Su-15 terakhir yang diproduksi, keluar dari jalur produksi pada tahun 1979. Berbagai proposal untuk versi Su-15 yang kemampuannya ditingkatkan dengan mesin dan karakteristik aerodinamis yang lebih baik untuk memenuhi persyaratan VVS akan pesawat tempur taktis jarak jauh ditolak. VVS lebih memilih pesawat tempur Mikoyan MiG-23. Pada prakteknya pembom B-52 yang lambat terbangnya yang menjadi target utama dari Flagon. Penyusup potensial yang lebih cepat, seperti F-111 atau SR-71 Blackbird, akan menjadi target milik pencegat berkecepatan Mach 3 MiG-25 begitu mereka memasuki dinas operasionak. Sementara itu secara desain Su-15 tidak terlalu mirip dengan Su-9/11, setidaknya dari samping, tetapi jelas memiliki banyak kelebihan dibanding pendahulunya, yakni sebagai berikut:
- Konstruksi sebagian besar menggunakan aluminium pesawat, dengan beberapa bahan terbuat dari baja dan titanium.
- Konfigurasi flight surface tetap sama — dua spar wings dengan sudut 60 derajat, penurunan anhedral 2 derajat, tanpa angle of incidence; sirip ekor menyayung dengan kemudi; dan stabilator berkonfigurasi all moving untuk bidang ekor horizontal. Sayap memiliki one-piece flaps dan aileron, satu-satunya pembaruan yang ditambahkan adalah wing fence kecil sebagai perpanjangan dari sisi atas pylon rudal AAM. Skema rem udara belakang pesawat dengan pola-X tetap dipertahankan. Semua kontrol penerbangan digerakkan secara hidrolik.
- Roda pendarat semuanya memiliki konfigurasi roda tunggal dan ditarik secara hidraulik, roda pendaratan utama berputar di sayap menuju ke arah badan pesawat, sementara roda hidung ditarik ke depan. Satu perubahan adalah bahwa pintu roda hidung terlihat menonjol. Selain itu, alih-alih menggunakan tiga sistem hidrolik, digunakan empat sistem, dengan satu ditambahkan untuk menyediakan aktuasi pada radar Oryol. Selain itu masih ada dua sistem pneumatik, untuk menyalakan rem dan beberapa subsistem lainnya, serta untuk menyediakan penggerak darurat bagi roda pendarat dan flaps.
- Bahan bakar disimpan dalam tiga tangki bahan bakar pesawat ditambah tangki di sayap, yang menyediakan total kapasitas muat sebesar 8.675 liter (2.289 galon AS) – beberapa sumber memberikan informasi mengenai kapasitas bahan bakar yang sedikit lebih besar. Dua tangki eksternal berkapasitas 600 liter (158 galon AS) dapat dibawa berdampingan pada pylon perut.
- Persenjataan yang dipakai tetap sama, yakni dua rudal AA-3 Anab AAM, dan tidak ada kanon internal.
- Pilot duduk di bawah kanopi tipe gelembung (bubble) yang dibuka geser ke belakang di kokpit bertekanan dan bisa menyesuaikan dengan kondisi iklim. Pilot duduk di kursi lontar KS-4 yang kemampuannya telah ditingkatkan, dan mampu beroperasi di semua ketinggian dan pada kecepatan apa pun yang lebih besar dari 140 KPH (90 MPH).
- Konfigurasi mesin ganda pada Su-15 benar-benar baru. Inlet tipe-dee menampilkan variabel rampdi bagian bawah — bukan di samping — dan pintu masuk di sepanjang setiap saluran masuk, semuanya di bawah arahan dari sistem kontrol elektrohidraulik. Terdapat firewall dari titanium di antara kedua mesin.
- Seiring dengan radar pemakaian Oryol, sistem avionik umumnya juga diperbarui.


Dengan berbagai karakteristiknya, kehadiran Su-15 menyebabkan Sukhoi OKB mendapatkan sedikit “balas dendam” pada biro desain saingannya Yakovlev. Su-15 jelas selangkah di depan dibanding dengan Yak-28P, dan dalam upaya untuk menandingi Sukhoi OKB, Yakovlev OKB kemudian mengembangkan turunan dari Yak-28P, yakni “Yak-28-64”, dengan konfigurasi seperti Su-15 — menggunakan mesin kembar di badan pesawat dan saluran masuk udara di sisi badan pesawat, meskipun Yak memiliki sayap menyayung, bukan sayap delta. Beberapa penerbangan percobaan kemudian menunjukkan bahwa kinerja dari Yak-28-64 bahkan lebih rendah daripada Yak-28, dan program itu segera ditinggalkan. Pada sisi lain Su-15 memiliki kelemahan dalam hal jangkauan yang hanya sekitar 800 mil (1.287 km), serta badan pesawatnya yang panjangnya hampir 20 meter sukar dikendalikan di ketinggian rendah, dengan kecepatan lepas landas dan mendarat melebihi 200 mil per jam (321 km/jam). Secara total ada sekitar 1.290 Flagon dari semua jenis sempat dibuat, semuanya di pabrik Novosibirsk. Seperti Su-9/11, semuanya bertugas dengan 29 Resimen Udara PVO dan tidak ada yang diekspor.
DESAIN
Meskipun banyak komponen dari Su-15 serupa atau identik dengan Su-9 dan Su-11 yang sudah ada sebelumnya (kode pelaporan NATO “Fishpot“), termasuk rem udara belakang pesawat yang khas Sukhoi, Su-15 meninggalkan desain kerucut saluran masuk udara pada hidung pesawat hidung dan menggantikannya dengan lubang masuk udara yang dipasang di samping dengan pelat pembagi yang memasok dua mesin turbojet yang kuat (awalnya) Tumansky R-11F2S-300. Perubahan tersebut memungkinkan adanya ruang di bagian hidung untuk penempatan radar pencarian yang kuat, awalnya RP-22 Oryol-D (NATO ‘Skip Spin‘). Su-15 awal (“Flagon-A“) memiliki sayap delta murni seperti pendahulunya, tetapi sayap ini digantikan mulai dari seri produksi ke-11 dan seterusnya dengan sayap delta ganda baru dengan rentang dan luas yang lebih besar, dengan wing fence kecil di atas masing-masing pylon terluar dan blown flap untuk meningkatkan karakteristik pendaratannya. Perubahan ini disertai dengan desain ekor baru dengan anhedral yang lebih besar dan sirip vertikal dengan ketinggian yang lebih rendah. Su-15 memiliki kecepatan maksimum Mach 2.1 dan kecepatan menanjak 228 m/s (750 ft/s), parameter yang sangat penting untuk sebuah pesawat pencegat. Kecepatan lepas landas dan mendaratnya relatif tinggi, dengan kecepatan lepas landas 395 km/jam (245 mph) untuk ‘Flagon-A‘ yang bersayap delta desain awal dan 370 km/jam (230 mph) untuk ‘Flagon-F‘ bersayap lebih besar.


Kanopi kokpit terdiri dari blok lapis baja dan bagian yang digeser terbuat dari kaca plexiglass tahan panas. Sistem pendukung bagi pilot di dalam kokpit terdiri dari AC dan sistem suplai oksigen. Saat terbang di ketinggian hingga 10 km dan kecepatan hingga 900 km/jam, perlengkapan standar pilot adalah masker oksigen KM-32, helm pelindung ZSh-3, dan overall berventilasi VK-3 atau VK-4. Selama penerbangan supersonik, pilot mengenakan setelan yang bertekanan pada penerbangan di ketinggian tinggi tipe VKK-4, VKK-6 atau VKK-6P, helm bertekanan GSh-4MS, GSh-6M atau GSh-4MP. Peralatan penerbangan dan navigasi pada Su-15 menyediakan pendukung navigasi pesawat baik siang dan malam, dalam kondisi cuaca yang baik hingga sulit. Peralatan ini termasuk: sistem heading KSI-5 dengan indikator heading UKL-2, indikator arah AGD-1, indikator ketinggian VDI-30, indikator kecepatan KUSI-2500, indikator nomor Mach M-2.5, instrumen gabungan DA-200, indikator kelebihan beban AM -10, jam AChS-1, kompas cair magnetik KI-13 dan sistem alarm critical angle of attack. Perangkat membran aneroid yang dioperasikan dari perangkat penerima tekanan udara utama dan darurat PVD-7, yang digunakan untuk menentukan parameter kecepatan ketinggian. Peralatan navigasi dan komunikasi radio yang digunakan termasuk: Stasiun radio komunikasi VHF RSIU-5V (R-802V), kompas radio otomatis ARK-10, penerima radio penanda MRP-56P, radio altimeter RV-UM, transponder SOD-57M dari sistem radar pendaratan buta RSP-6, peralatan tautan radio udara “Lazur-M” (ARL-SM) dari sistem terintegrasi untuk memandu pesawat menuju ke pesawat musuh, interogator-responder dari sistem identifikasi SRZO-2M (“Kremniy-2M”). Sistem perekaman otomatis parameter penerbangan SARPP-12V-1, yang dipasang pada Su-15, mulai dari seri ke-11, untuk memastikan perekaman pada film 6 sinyal analog yang kontinu (dalam hal: ketinggian, kecepatan dan kelebihan beban, serta gerakan stabilizer dan kecepatan dari kedua mesin). Sementara kontrolnya responsif dan tepat, pesawat ini dikenal tidak “memaafkan” kesalahan dari pilot. Di sisi lain meskipun radarnya kuat, Su-15, seperti kebanyakan pesawat pencegat Soviet sebelum akhir tahun 1980-an, sangat bergantung pada ground control interception (GCI), dengan pesawat yang diarahkan ke target oleh stasiun radar darat. Pesawat itu dilengkapi dengan sistem datalink Lazur-S, yang mengirimkan instruksi ke pilot untuk menyelesaikan proses pencegatan. Su-15TM kemudian memiliki datalink Vozdukh-1M dan SAU-58 (sistemaautomaticheskogo upravleniya, sistem kontrol otomatis) yang mampu melakukan intersepsi yang sepenuhnya otomatis hingga saat-saat terakhir proses intersepsi (sebuah desain yang sudah diterapkan pada pesawat pencegat F-106 Delta Dart Amerika). Persenjataan utama Su-15 adalah rudal udara-ke-udara R-8/K-8 (AA-3 “Anab“; kemudian R-98). Rudal ini berkemampuan terbang hingga kecepatan Mach 2 dengan jangkauan 2 – 14 km dalam mode pengejaran dan 8 – 18 km saat menyerang target dari depan (jarak langsung ini dicapai hanya dengan versi SARH/Radar Homing). R-98T menggunakan seeker head TGS-14T baru dengan pendingin nitrogen cair dan kemampuan all aspect(terbatas), mirip dengan rudal Red Top asal Inggris dan R-60M versi akhir. Su-15 dilengkapi dengan dua pylon dengan rel peluncuran tioe PU-1-8. Selain itu, seperti R-8MR dan R-8MT, baik R-98R dan R-98T mampu bermanuver hingga 14G. Laju pelacakannya adalah 12°/detik. Model awal Su-15 hanya mampu membawa dua rudal, tetapi ‘Flagon-D‘ dan versi yang lebih baru dapat membawa empat.


Seperti kebanyakan rudal Soviet, R-98 dibuat dalam versi penjejak inframerah dan radar homing semi-aktif, dan praktik standarnya adalah menembakkan dua rudal secara berpasangan (satu rudal radar homing semi-aktif, satu dengan IR homing) untuk meningkatkan peluang perkenaan pada target. Rudal pelacak IR biasanya ditembakkan terlebih dahulu untuk mencegah kemungkinan penguncian rudal IR ke rudal radar homing. Varian ‘Flagon-F‘ kemudian sering membawa dua rudal R-98 dan satu atau dua pasang rudal jarak pendek R-60 (AA-8 ‘Aphid‘). ‘Flagon‘ model akhir juga terkadang membawa sepasang pod kanon UPK-23-250 kaliber 23 mm di pylon badan pesawat, masing-masing berisi meriam GSh-23L dua laras. Selama uji coba, 46 peluncuran rudal R-98M sempat dilakukan, 36 di antaranya adalah peluncuran uji coba resmi. Pesawat tanpa awak La-17M, jet tempur MiG-17, Il-28 dan Tu-16 sempat digunakan sebagai target, dengan dilengkapi sistem jamming aktif dan pasif, serta target parasut RM-8 dan PRM-1 dan rudal jelajah uji coba berkecepatan tinggi KRM-2. Tiga target (masing-masing MiG-17M, Il-28M dan La-17M) berhasil ditembak jatuh oleh tembakan tepat sasaran, sedangkan dua (Il-28M dan La-17M) lainnya jatuh akibat pecahan hulu ledak rudal. Dengan uji coba ini pemakaian rudal R-98 dinyatakan direkomendasikan untuk digunakan. Pada tahun 1968-69 sempat muncul ide untuk melengkapi Su-15 dengan kanon bawaan bukan sekedar pod kanon. Untuk melakukan ini, para perancang membuat kompartemen khusus di bagian bawah sayap kanan. Kanon yang dipakai adalah kanon tembak cepat yang cukup kompak dengan kaliber 23 mm, tetapi ternyata sangat sulit untuk menempatkan drum amunisinya di bagian bawah sayap, dan rencana ini kemudian harus ditinggalkan.
VARIAN-VARIAN SPESIAL
Su-15 tercatat sempat digunakan untuk sejumlah uji coba avionik, mesin, dan persenjataan. Tiga Su-15 digunakan untuk uji coba perangkat tanker pengisian bahan bakar universal “UPAZ” pada awal 1970-an, dengan dua dimodifikasi untuk membawa paket UPAZ dan yang lainnya dimodifikasi dengan probefixed inflight refueling (IFR). Salah satu pesawat tanker ini hilang dalam kecelakaan, tetapi sebaliknya uji coba berjalan dengan baik. Namun, meskipun paket UPAZ benar-benar terdaftar dalam inventaris militer, tidak ada Su-15 yang membawanya secara operasional, dan tidak ada Su-15 operasional yang dilengkapi dengan probe. Satu Su-15 diketahui dilengkapi dengan perangkat “pengendali sidestick” untuk diuji coba di awal 1980-an, dengan pesawat ini juga mempertahankan kontrol tradisionalnya. Pesawat ini lalu hilang karena kecelakaan. Salah satu wahana uji coba yang sangat menarik adalah “short take-off & landing (STOL)” demonstrator yang didasarkan pada Su-15 dan diberi nama sebagai “T-58VD” — di mana “VD” berarti “vertikalniye dvigateli (mesin vertikal)”. Pada varian ini, pesawat dimodifikasi untuk membawa tiga mesin “liftjet” tipe Kolesov RD-36-35, yang dipasang 10 derajat ke depan vertikal di tengah badan pesawat di mana tangki bahan bakar biasanya berada. Liftjets adalah mesin turbojet pendek yang masing-masing dapat memberikan daya dorong sebesar 23,1 kN (2.350 kgp / 5.180 lbf) untuk waktu yang singkat guna membantu pesawat lepas landas. T-58VD tampak seperti Su-15 produksi akhir, dengan sayap cranked dan kerucut radome, tetapi memiliki dua penutup di bagian belakang yang berengsel ke atas dari belakang untuk memungkinkan aliran udara masuk ke liftjet, dan satu set kisi-kisi di bagian perut untuk knalpot liftjet. Karena T-58VD hanya memiliki tangki bahan bakar di bagian sayap, varian ini tidak memiliki ketahanan terbang yang cukup, dan benar-benar hanya sebagai demonstrator saja. Penerbangan awal varian ini dilakukan pada tanggal 6 Juni 1966, dengan Yevgeniy Soloviev sebagai pilotnya. Soloviev menerbangkan pesawat itu di pertunjukan udara Moskow-Domodedovo pada tanggal 9 Juli 1967.



Para pengamat Barat dan NATO kemudian mencatat varian tersebut sebagai “Flagon-B”, meskipun hanya satu unit yang pernah dibuat. Skema liftjet sendiri diketahui memiliki kinerja bekerja tidak seperti yang diinginkan, dengan membawa tiga mesin tambahan dianggap terlalu banyak, dan tidak ada yang pesawat yang menyerupai T-58VD yang pernah memasuki dinas operasional. Pada tahun 1969, Sukhoi OKB menyelidiki opsi untuk pesawat tempur “mudfighter” untuk misi dukungan udara jarak dekat yang baru, salah satu opsinya adalah turunan dari Su-15 yang diberi nama “T-58Sh” — di mana “Sh” berarti “shturmovik (storm bird)”, nama yang umum di Soviet untuk menyebut pesawat dukungan udara jarak dekat. T-58Sh tampak seperti Su-15 yang dikawinkan dengan badan depan pesawat MiG-27, dengan sayap lebar yang menyayung sedang, delapan pylonsenjata, lapisan pelindung berat, dan kanon Gatling built-in. Sebuah desain baru pada akhirnya dipilih sebagai gantinya, yang menghasilkan mudfighter Su-25 “Frogfoot“. Selain itu terdapat skema varian turunan lainnya, misalnya “Su-19M” yang muncul pada pertengahan tahun 1970-an. Varian ini yang pada dasarnya adalah Su-15TM dengan mesin yang lebih baik dan sayap “ogival”. Terdapat tiga pylonsenjata di bawah setiap sayap, yang memungkinkannya mengangkut enam rudal AAM, dan kanon built-in di bagian perut. Tidak ada yang tertarik membeli varian ini. Su-27 lebih dipilih, disamping tidak ada alasan untuk tertarik pada desain yang awalnya mulai dikerjakan pada tahun 1950-an.
PERSENJATAAN
Rudal AA-3 Anab AAM
Kaliningrad K-8 (R-8) (kode pelaporan NATO: AA-3 ‘Anab‘) adalah rudal udara-ke-udara jarak menengah yang dikembangkan oleh Uni Soviet untuk digunakan oleh pesawat-pesawat pencegat. Pengembangan K-8 dimulai pada tahun 1955. Seperti kebanyakan rudal udara-ke-udara Soviet, rudal ini dibuat dengan pilihan penjejak radar homing semi-aktif (semi-active radar homing/SARH) atau inframerah. Varian awal rudal ini mulanya kompatibel dengan radar Uragan-5B yang digunakan pada pesawat Sukhoi Su-11 dan beberapa pesawat yang dikembangkan oleh Mikoyan-Gurevich. Varian ini kemudian ditingkatkan ke standar R-8M (lebih dikenal sebagai R-98) pada tahun 1961, memberikan rudal dengan penjejak SARH kemampuan untuk mencegat dari depan. Pada tahun 1963 rudal ini ditingkatkan lebih lanjut ke varian R-8M1, membuatnya kompatibel dengan radar RP-11 Oriol-D dari pesawat Sukhoi Su-15 dan Yakovlev Yak-28P. Pengembangan selanjutnya mengarah ke varian R-8M2 pada tahun 1965, lebih sering disebut R-98, dengan jangkauan yang lebih jauh dan seeker yang ditingkatkan, kompatibel dengan radar RP-11 Oryol-M (“Eagle”) yang telah ditingkatkan. Varian terakhir, yang diperkenalkan mulai dari tahun 1973, adalah R-98M1 (NATO ‘Advanced Anab‘) dengan ketahanan terhadap countermeasures yang lebih baik dan jangkauan yang lebih jauh, cocok dengan radar Taifun-M dari pesawat pencegat Su-15TM dan Yak-28PM. Bobot rudal ini adalah 292 kg (644 pon), dengan panjang 4,3 m (14 kaki), dan diameter 280 mm (11 inci). Hulu ledak yang dipakai adalah tipe fragmentasi dengan berat hulu ledak 40 kg (88 pon). Rudal ini menggunakan mesin Roket berbahan bakar padat dengan jangkauan operasional 23 kilometer (14 mil) dan kecepatan maksimum Mach 2.


Rudal AA-8 Aphid AAM
Molniya (sekarang Vympel) R-60 (kode NATO: AA-8 “Aphid“) adalah rudal udara-ke-udara berpenjejak inframerah ringan jarak pendek yang dirancang untuk digunakan oleh pesawat-pesawat tempur Soviet. Rudal ini telah diekspor secara luas, dan tetap ada dalam dinas operasional dengan negara-negara bekas pecahan Uni Soviet dan banyak negara lainnya. R-60 awalnya dikembangkan untuk jet tempur MiG-23. Rudal ini mulai dibuat pada akhir 1960-an. Dengan produksinya dimulai pada tahun 1973. Saat diperkenalkan, R-60 adalah salah satu rudal udara-ke-udara teringan di dunia, dengan berat peluncuran 44 kg (97 lb). Rudal ini memiliki sistem penjejak inframerah. Kontrol rudal adalah dengan menggunakan kemudi depan dengan sirip belakang yang besar. Canards khas di bagian hidung, yang dikenal sebagai “destabilizers,” berfungsi untuk meningkatkan efisiensi kemudi rudal pada sudut serang yang tinggi. R-60 menggunakan hulu ledak fragmentasi eksplosif tinggi seberat 3 kg (6,6 lb). Menurut sumber-sumber Rusia, jarak tembak efektif rudal ini adalah sekitar 4.000 m (4.400 yd), meskipun “jarak sesuai pabrikan” adalah 8 km (5,0 mil) di ketinggian tinggi. Senjata itu adalah salah satu rudal udara-ke-udara yang paling gesit sampai munculnya rudal dengan terkini seperti R-73 dan AIM-9X. R-60 dapat digunakan oleh pesawat yang bermanuver hingga gaya 9g untuk melawan target yang bermanuver hingga 8g. Sebuah keuntungan taktis lainnya adalah rudal ini memiliki jarak minimum penembakan hingga hanya 300 m (330 yd).


Roket S-5
S-5 (pertama kali disebut ARS-57) adalah roket tanpa pemandu yang dikembangkan oleh Angkatan Udara Soviet dan digunakan oleh pesawat militer untuk menyerang target di darat. Roket ini dalam dinas operasional dengan Angkatan Udara Rusia dan berbagai pelanggan ekspor lainnya. Roket ini didasarkan pada desain Jerman dari masa Perang Dunia Kedua dan diproduksi dalam berbagai sub-tipe dengan hulu ledak yang berbeda-beda, termasuk jenis anti-armor HEAT (S-5K), fragmentasi eksplosif tinggi (S-5M/MO), asap, dan peluru pembakar. Setiap roket memiliki panjang sekitar 1,4 meter (4 kaki 6 inci) dan berat sekitar 5 kg (11 lb), tergantung pada hulu ledak dan fuze-nya. Jangkauannya adalah antara 3 hingga 4 kilometer (1,9 hingga 2,6 mil).

Kanon GSh-23
Gryazev-Shipunov GSh-23 (Rusia: -23)[1] adalah kanon otomatis kaliber 23 mm berlaras ganda yang dikembangkan di Uni Soviet, terutama untuk penggunaan pada berbagai pesawat militer. Kanon ini mulai beroperasi pada tahun 1965, menggantikan Nudelman-Rikhter NR-23 dan Rikhter R-23 yang sudah ada sebelumnya. GSh-23 bekerja berdasarkan prinsip Gast Gun yang dikembangkan oleh insinyur Jerman Karl Gast dari perusahaan Vorwerk pada tahun 1916. Kanon ini adalah senjata berlaras ganda di mana aksi penembakan dari satu laras akan mengoperasikan mekanisme laras lainnya. Hal ini memberikan tingkat penembakan yang jauh lebih cepat dengan keausan mekanis yang lebih rendah daripada senjata berlaras tunggal. Meskipun tidak dapat menandingi laju penembakan senjata tipe Gatling seperti M61 Vulcan, laju penembakan awalnya bisa lebih tinggi daripada kanon putar seperti M61 karena tidak perlu berputar untuk menembak. Kanon ini tidak memerlukan sumber daya eksternal untuk beroperasi, melainkan didukung oleh gerak mundur dari larasnya, yang agak seperti mekanisme senapan mesin MG-42 Jerman. Prinsip Gast hanya sedikit digunakan di Barat, tetapi digunakan pada berbagai senjata di bekas Uni Soviet. Kanon ini hadir dalam varian GSh-23 dasar, dan GSh-23L yang lebih populer (ГШ-23Л), sebagian besar berbeda dalam hal adanya penambahan muzzle brake, dan penurunan recoil. Panjang laras kanon ini adalah 1.000 mm (3 kaki 3 inci), dan menembakkan peluru kaliber 23×115 mm. Laju penembakannya diduga sekitar 3.400–3.600 peluru/menit, dengan kecepatan 715 m/s (2.350 kaki/dtk). Jangkauan maksimal kanon ini adalah 2 km.

SU-15 & PILOTNYA
Berikut adalah kisah pengalaman dari pilot Su-15 Soviet Valeri Shatrov saat diwawancarai mengenai pesawat tunggangannya. “Jika saya harus memilih tiga kata atau istilah untuk menggambarkan Su-15, saya akan mengatakan: keandalan, kemampuan manuver yang baik, dan keindahan bentuknya. Keandalan tinggi adalah salah satu sifat terbaiknya, saya tidak ingat pernah mengalami kegagalan teknis apa pun. Kecelakaan pada Su-15 sangat jarang terjadi dan sebagian besar disebabkan oleh faktor manusia. Tugas utama Su-15 adalah untuk mencegat target udara di siang atau malam hari. Radar Su-15 memang sedikit lebih buruk daripada radar musuh potensial kita. Tetapi rudal udara ke udara jarak jauh dan jarak pendeknya bekerja dengan baik, setidaknya dari pengalaman saya saat meluncurkannya waktu pelatihan. Setelah lebih dari 30 tahun menerbangkan Su-15 ketika saya berada di salah satu pertunjukan udara di Amerika Serikat, saya memiliki kesempatan untuk bertemu dan berbicara dengan seorang pilot SR-71. Kami bercanda, bertukar kesan tentang pesawat kami. Saya mengaku kepadanya, bahwa jika saya berada di Su-15 saya yang menyerangnya dari depan, saya mungkin bisa menjatuhkannya… tetapi tidak ada peluang untuk mencegat pesawat secepat itu dalam misi pengejaran! Saya memiliki kokpit yang nyaman di Su-15, semua yang ada di dalamnya sederhana dan mudah ditemukan. Pada masa itu tidak ada sistem autopilot dan sistem navigasi seperti yang kita kenal sekarang, jadi kami terbang tanpanya. Navigasi dilakukan dengan bantuan catatan tertulis pilot yang seringkali hampir tidak terbaca! Sangat primitif menurut standar modern. Lagi-lagi, kurangnya instrumen navigasi modern dan sistem pendaratan mengharuskan pilot untuk memaksimalkan keahliannya agar bisa mendaratkan pesawat dalam kondisi cuaca minimum. Dan itu bukan masalah, itu baik-baik saja bagi kami. Ada saat-saat dimana Anda harus mendarat di bawah kondisi cuaca minimum.” Kesan pertama saya tentang tipe ini adalah keanggunan sayap dan ekornya yang sangat menyayung. Pesawat itu sangat indah dan sangat anggun.

Su-15 adalah tipikal pesawat pada masanya, kami naik ke kokpit menggunakan tangga. Kabinnya nyaman dan relatif luas. Bahkan di musim dingin dengan jaket bulu dan sepatu bot (‘muklik’) saya tidak merasakan ketidaknyamanan di dalam kokpit. Lepas landas tidaklah sulit, tetapi mendarat adalah hal yang berbeda. Kecepatan mendaratnya yang tinggi membutuhkan pendaratan yang presisi dan pelepasan parasut pengereman tepat pada waktunya. Su-15 adalah pesawat yang bagus dan sangat bisa diandalkan. Saya selalu mengatakan bahwa saya menyukainya seperti seorang wanita. Dan ketika Anda menyalakan afterburner saat lepas landas, Anda dapat mendapat dorongan besar dan kuat di belakang dari kekuatan dua mesinnya yang ganas. Badan pesawat dan sayap delta yang relatif panjang memungkinkan Anda membuat manuver barrel rolls dalam jumlah besar dengan kecepatan berputar berapapun. Yang paling saya sukai dari Su-15 adalah kemampuannya untuk melakukan manuver aerobatik kompleks dengan kekuatan penuh. Semua kokpit pesawat Sukhoi berbeda satu sama lain, tetapi memiliki beberapa ciri. Semuanya cukup luas, panel instrumennya dipasang cukup jauh dari pilot, yang memungkinkan Anda untuk mengalihkan perhatian dari satu perangkat ke perangkat lain hanya dengan sedikit gerakan di sudut mata. Meski demikian terdapat beberapa catatan negatif mengenai pesawat ini, yakni seri Su-15 pertama kerap disebut ‘Hound dog‘ (Гончая dalam bahasa Rusia) karena kecepatan pendaratannya yang sangat tinggi dan ‘Dove of Peace‘ (Голубь а dalam bahasa Rusia) karena hanya memiliki dua rudal udara-ke-udara. Saya beruntung – saya terbang dan bertugas dengan membawa versi yang mampu mengangkut empat rudal dan dua pod kanon. Dan versi ini memiliki ekstensi di bagian sayap, yang agak mengurangi kecepatan pendaratannya.

Hari-hari penerbangan dimulai dengan persiapan awal. Sebelum makan siang, para pilot sibuk di ruang kelas di markas. Disini dibahas berbagai persiapan, teori dalam penerbangan. Kasus-kasus khusus yang berulang dalam penerbangan ditulis secara rinci dan ditempatkan secara skematis di buku kerja. Setelah makan siang di kantin dan istirahat sejenak, kami bermain hoki es antar skuadron di musim dingin. Karena dokter melarang bermain dengan keping untuk menghindari cedera, kami menggunakan bola untuk bandy (tetapi sebagian besar menggunakan tongkat hoki klasik – untuk hoki es). Kemudian ada kontrol kesiapan terbang. Wakil atau komandan skuadron sendiri memeriksa daftar pertanyaan mengenai keselamatan, dan status ‘siap terbang’ yang memerlukan tanda tangan dari komandan unit wing. Terdapat misi penerbangan siang dan malam, dalam kondisi cuaca sederhana/kompleks dan dengan kondisi cuaca minimal yang dapat diterima. Ketentuan terbang Su-15 adalah (ketinggian awan yang rendah dalam meter / visibilitas dalam meter):
- SMU (kondisi cuaca sulit) – 600/6.
- Minimum – 250/3 di siang hari.
- 300/4 di malam hari.
- Bahkan lebih rendah rendah 200/3 (untuk komandan penerbangan).
Pesawat itu hanya dilengkapi dengan radio kompas, tidak ada sistem pendaratan lain. Shiftpenerbangan siang hari dimulai saat fajar dan berlangsung selama enam jam. Shift malam berlangsung dua jam di sore hari – saat senja, dan empat jam di malam hari. Kami bertugas di unit pertahanan udara, jadi kami jarang mengenakan pakaian sehari-hari – sepatu bot dan ikat pinggang (seperti ‘Sam Browne’). Bahkan ada lelucon tentang seragam itu: “Ketika saya memakai ikat pinggang, saya menjadi semakin bodoh.” (Ini adalah plesetan yang tidak benar-benar diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Inggris- kata ‘portupeya‘ (sabuk tentara) mengandung kata “tupeyu” yang berarti ‘bodoh’). Saat berdinas kami mengenakan pakaian terbang, dan menambahkan jaket (di Musim Gugur dan Musim Dingin ). “Resimen itu terus-menerus dalam kesiapan tempur. Dua pesawat selalu dalam keadaan siaga cepat: Satu untuk intersepsi target di ketinggian tinggi (dengan membawa empat rudal udara-ke-udara), dan yang kedua untuk misi intersepsi kecepatan rendah atas target balon-balon udara pengintai (dengan membawa empat rudal udara-ke-udara, dua pod kanon GSh-23 di cantelan badan).

Pada akhir pekan, pilot yang berkeluarga menghabiskan waktu bersama anak-anak dan istri mereka, berjalan di sepanjang satu-satunya jalan di kota militer, berenang di sungai, mengumpulkan jamur di hutan terdekat, atau bermain ski di musim dingin. Pilot yang belum menikah menghabiskan akhir pekan di pesta dansa di Rumah Perwira tempat gadis-gadis dari Khabarovsk dan desa-desa terdekat datang. Kami minum bersama-sama (tetapi pada hari Minggu kami tidak minum —dikenal sebagai waktu ‘mengambil napas’ – jika ada penerbangan pada hari Senin, karena dokter akan memiliki kontrol yang ketat dan prosedur pra-penerbangan sebelum setiap penerbangan). Misi penerbangan apa pun adalah laksana pesta bagi seorang pilot militer di zaman saya. Saya tidak dapat memilih satu diantaranya sebagai misi yang paling menarik. Saya ingat sangat menyukai misi pelatihan apa pun yang mencakup peluncuran rudal langsung ke pesawat target, misi tugas tempur, penerbangan dalam kondisi cuaca minimum, dan penerbangan malam. Saya memiliki gambaran yang menegangkan saat menembus awan berpasangan. Dengan mesin yang disetel pada daya dorong maksimum, Su–15 memungkinkan Anda melakukan putaran demi putaran hampir 90 derajat. Adapun dalam ketinggian jelajah, saya pribadi mencatat ketinggian 23.000 meter (75.459 kaki). Tingkat belokan seketika dari Su-15 sangat bagus, dengan G-force hingga skala 6. Manuver alpha tertinggi pesawat hanya terbatas pada beban maksimum yang dibawa, tetapi daya dorong mesinnya memungkinkan melakukan manuver aerobatik horizontal apapun tanpa kehilangan kecepatan. Manuver ‘Split’ S diizinkan dari ketinggian minimum 2,5 km hingga ke ketinggian jelajah operasional praktisnya.

Tidak ada simulator di zaman kami, jadi pelatihan utama kami dilakukan di kokpit. Ya, terdapat berbagai skenario intersepsi yang disimulasikan sesuai dengan persyaratan pelatihan tempur: pertempuran udara satu lawan satu, pasangan-vs-pasangan, dan penerbangan-vs-penerbangan. ‘Pesawat musuh’ untuk pelatihan biasanya adalah Su-15 dari resimen kami. Ada juga pelatihan penerbangan intersepsi terhadap pembom. Biasanya pembom target yang digunakan adalah pembom Tu-16. Untuk misi yang sebenarnya, SR-71 adalah yang paling sulit untuk dicegat. Selain pelatihan peluncuran rudal udara-ke-udara, seseorang harus berlatih menembakkan kanan ke sasaran darat. Untuk masanya, pesawat kami dipersenjatai dengan baik dan dilengkapi dengan peralatan avionik yang layak. Sebenarnya saya tidak punya kesempatan bertemu dengan SR-71. Mereka kerap ‘menggoda’ pilot-pilot kami yang sedang bertugas di medan tempur, terutama di Primorsky Krai. Kadang-kadang DS (Duty vehicles) menjalani penerbangan intersepsi nyata – pesawat sering kali diterbangkan. SR-71 melakukan penerbangan di zona netral tetapi saat kami meluncurkan pesawat untuk melakukan intersepsi, mereka segera berbelok kembali ke pangkalan mereka. Dalam kasus saya, pangkalan mereka ada di Jepang. Di masa perang, Su-15 akan mencegat pembom B-52, yang menjadi pertanyaan adalah apakah pesawat-pesawat B-52 akan disertai oleh sejumlah pesawat tempur pengawal, yang akan membawa kita ke dalam pertempuran udara menggunakan rudal atau tidak. Sementara F-4 dan Su-15 memiliki karakteristik manuver dan persenjataan yang sama, F-15 akan terbukti menjadi lawan tempur yang jauh lebih menantang. F-15 lebih bagus bermanuver daripada pesawat kami, dan peralatan elektroniknya jauh lebih modern.
DINAS OPERASIONAL
Su-15 membentuk bagian penting dari kekuatan pencegat V-PVO, dan dirancang untuk mencegat target yang lebih mudah dijatuhkan seperti B-52 dan U-2 Amerika, dan pembom V Inggris, meninggalkan target yang lebih sulit seperti XB-70 dan B-58 ke jet tempur MiG-25P yang lebih cepat. Radar Taifun dari Su-15TM dioptimalkan untuk operasi counter-countermeasure, dan bukan misi jarak jauh. Sebagai pencegat, tugas Su-15TM adalah terbang di bawah kendali autopilot, menggunakan perintah GCI yang dikirim melalui datalink. Radar hanya akan dihidupkan saat pencegat mendekati target untuk memberikan parameter penargetan untuk rudal radar homing K-8/R-8/R-98. Kekuatan radarnya yang tinggi memungkinkannya untuk ‘menembus’ sinyal ECM musuh. Jika semuanya gagal, K-8 versi homing IR akan memberikan kesempatan terakhir untuk menembak jatuh penyusup, bersama dengan pod kanon apa pun yang mungkin dibawa oleh Su-15. Su-15 dioptimalkan untuk peran intersepsi di ketinggian tinggi dengan daya menanjak yang cepat dan kecepatan tinggi di ketinggian tinggi tetapi tidak memiliki kemampuan look down/shoot down, bahkan dengan radar Taifun pada Su-15TM yang lebih canggih. Hal ini akhirnya menyebabkan MiG-23P, yang memang memiliki kemampuan look down/shoot down, menjadi aset pilihan V-PVO, terutama setelah NATO beralih ke taktik penetrasi di ketinggian rendah, apalagi ketika Sukhoi Su-27 yang lebih canggih masuk dinas operasional. Su-27 itu mengungguli Su-15 di hampir segala hal. Meski begitu, Su-15 tetap menjadi bagian penting dari V-PVO hingga runtuhnya Uni Soviet.


Sebagai salah satu pencegat utama V-PVO dari pertengahan tahun 1970an hingga sepanjang tahun 1980an, Su-15 terlibat dalam beberapa misi pencegatan terhadap pesawat asing yang secara tidak sengaja melintasi wilayah udara Soviet. Pada tanggal 27 Maret 1968, kosmonot Soviet Yuri Gagarin—manusia pertama yang melakukan perjalanan di luar angkasa—terbang dalam penerbangan pelatihan di dekat Moskow dengan instruktur Vladimir Seryogin menggunakan jet latih dua kursi MiG-15UTI. Pada ketinggian sekitar 2.000 kaki (609 meter), pesawat MiG itu tiba-tiba berputar dan menabrak tanah, menewaskan kedua penerbang. Penyebab kematian Gagarin tetap kontroversial selama beberapa dekade, dengan perawatan yang buruk, cuaca hujan, kerusakan sistem oksigen, penerbangan yang tidak bertanggung jawab, kelebihan muatan karena membawa tangki bahan bakar tambahan dan serangan burung adalah beberapa hal yang diduga menjadi penyebab kecelakaan tersebut. Namun, pada tahun 2013, sesama kosmonot, yakni Alexey Leonov mengungkapkan bahwa pilot uji coba Su-15 yang terbang cepat telah menukik dari ketinggian resminya lebih dari 30.000 kaki (9.144 meter) di atas area pelatihan. Afterburner dari pesawat pencegat ini membuntuti gumpalan api di belakangnya saat memecahkan penghalang suara ketika terbang melewati dalam jarak 20 meter dari pesawat Gagarin. Backwash dari Flagon kemudian membalik MiG Gagarin, yang lalu terjebak dalam putaran fatal dengan ketinggian terlalu rendah untuk bisa dipulihkan. Leonov sebenarnya berada di helikopter terdekat hari itu untuk menjalani latihan parasut dan mendengar suara sonic boom Flagon dan ledakan dari MiG Gagarin yang jatuh. Pilot Flagon tampaknya tidak menyadari kehadiran MiG-15 Gagarin. Tetapi bahkan jika pilot telah menyalakan radar Oryol-nya, ia akan kesulitan mendeteksi MiG-15 Gagarin karena tidak mampu melacak dan menargetkan melalui ground clutter, yang dikenal sebagai kemampuan lookdown/shoot-down. Ini ternyata menjadi kekurangan yang serius, karena doktrin Angkatan Udara AS telah beralih ke serangan di ketinggian rendah pada tahun 1970-an. Sementara itu, alih-alih menyerang pengebom nuklir yang terbang tinggi, Su-15 kemudian harus berperan selayaknya “polisi lalu lintas” menghadapi berbagai penyusup di ketinggian rendah. Pencegatan Su-15 pertama terjadi pada tanggal 11 September 1970 ketika sebuah Flagon memaksa mendarat pesawat transport Dakota C-47 dari era Perang Dunia II—yang dikemudikan oleh seorang pembelot yang melarikan diri dari junta militer Yunani.


Pesawat-pesawat F-100 Super Sabre Turki juga diketahui melesat ke wilayah udara Soviet beberapa kali selama tahun 1970-an, tetapi pesawat-pesawat Flagon yang dikirim untuk mengejar mereka berulang kali gagal untuk menyudutkan pesawat-pesawat tempur supersonik itu. Pada tanggal 7 September 1972, sebuah flight F-100 Super Sabre Angkatan Udara Turki (Türk Hava Kuvvetleri) memasuki wilayah udara Soviet dekat Leninakan, Armenia (kota ini disebut Gyumri). Meskipun terbang di ketinggian yang sangat rendah, para penyusup terdeteksi oleh radar pertahanan udara Soviet tepat pada waktunya. Namun, taktik lain dari ‘bad guys‘ yang digunakan Turki berhasil—pesawat-pesawat tempur itu terbang dalam formasi berdekatan, sehingga muncul di radarscope lawan sebagai satu pesawat besar (AU Amerika telah menggunakan taktik ini melawan pesawat-pesawat pencegat Vietnam Utara selama Perang Vietnam); akibatnya hanya satu Su-15 dari Resimen Penerbangan Tempur (IAP) ke-166 yang meluncur dari Sandar AB di negara tetangga Georgia untuk mencegat target ‘itu’. Operator pos komando GCI tidak menyadari bahwa mereka berurusan dengan banyak target sampai pesawat-pesawat tempur Turki menyapu tempat itu dengan raungan keras. Satu-satunya pesawat Su-15 itu terbukti tidak mampu mencegat buruannya, karena radarnya tidak memiliki kemampuan `look-down/shoot-down‘. Akibatnya, formasi F-100 yang terbang di atas Leninakan dan ditembaki oleh senapan mesin berat, bisa lolos tanpa cedera. Pada tanggal 23 Mei 1974, sebuah F-100 Turki lain menyusup ke wilayah udara Soviet di atas wilayah Kaukasus. Sebuah Su-15 yang sedang bertugas QRA meluncur dari pangkalan udara di Kyurdamir, Azerbaijan, tetapi tidak diarahkan ke sasaran karena yang terakhir telah secara tidak bijaksana menyusup ke area yang dipertahankan oleh resimen Rudal Anti Pesawat/SAM. Sebuah rudal ditembakkan ke F-100 tetapi meleset karena kerusakan pada sistem pemandunya.

Namun, akhirnya, pilot Turki ada juga yang menjadi korban. Pada tanggal 24 Agustus 1976, radar AD Soviet mendeteksi target bergerak di wilayah udara Turki menuju perbatasan Soviet. Ini kemudian segera diidentifikasi sebagai sepasang F-100 yang terbang dalam formasi dekat. Tidak kurang dari tiga Su-15 kali ini (dua dari Kyurdamir dan satu dari Sandar AB) terbang mencegat, tetapi sekali lagi mereka tidak berhasil mendapatkan targetnya. Pesawat-pesawat ini kembali dengan tergesa-gesa terbang ke sarang SAM; namun kali ini kru PVO di tempat itu melakukan pekerjaan mereka dengan baik, dan salah satu Super Sabre Turki berhasil ditembak jatuh. Sayangnya puing-puing pesawat itu jatuh di sisi perbatasan yang salah, dan pilot, yang terlontar, juga mendarat di wilayah Turki; hari berikutnya orang-orang Turki mengamuk, menuduh Uni Soviet melakukan ‘penghancuran secara serampangan atas sebuah pesawat tempur Turki’. Di sisi lain, Su-15 juga diketahui harus berjuang keras untuk memburu pesawat sipil yang terbang rendah yang digunakan oleh angkatan udara Iran dalam program spionase yang disponsori AS. Misalnya, pada tahun 1979 empat Su-15 terbukti tidak dapat menemukan pesawat Cessna 185 yang terbang rendah yang terdeteksi oleh radar berbasis darat. Namun, kehadiran mereka di atas kepala saja sudah membuat pilot itu terkejut sehingga dia mendaratkan pesawatnya di jalan raya Armenia dan menyerahkan diri. Pada tanggal 2 April 1976, Su-15 yang dipiloti oleh Lt. Strizhak sedang membayangi sebuah pesawat patroli maritim P2V Neptune bermesin ganda milik Pasukan Bela Diri Jepang yang terbang di ketinggian rendah dari Pulau Sakhalin ketika ia secara tidak sengaja meluncurkan rudal R-8 ke pesawat Jepang itu. Untungnya, Strizhak sempat menyentakkan pesawat tempurnya pada saat-saat terakhir, dan rudal itu melesat melewati sayap kanan Neptune Jepang dan meledak pada jarak yang aman.

Pada tahun 1978, Su-15 akhirnya mencetak “kemenangan udara” pertamanya. Saat itu Korean Air Lines (KAL) dengan nomor Penerbangan 902 telah berangkat dari Paris pada tanggal 20 April, menuju Seoul dengan pengisian bahan bakar di Anchorage, Alaska. Namun, para kru salah menghitung titik navigasi yang sebenarnya dan berbelok hampir 135 derajat ke arah Murmansk, Rusia. Terbang di atas hamparan lautan yang kosong, dan tidak memiliki sistem navigasi INS atau GPS, Kapten Kim Chang-ky tidak tahu apa-apa tentang fakta bahwa dia terbang ratusan mil menyimpang dari jalur yang dituju. PVO kemudian mendeteksi pesawat 250 mil (402 km) jauhnya dari wilayah udara Soviet dan awalnya menganggap itu adalah pesawat kawan dengan sistem IFF yang tidak berfungsi. Boeing 707 Korean Air Lines itu kemudian terus menembus wilayah udara semenanjung Kola Rusia sebelum akhirnya dicegat oleh Su-15TM yang dikemudikan oleh Kapten Alexander Bosov, yang pertama kali mengidentifikasi pesawat itu sebagai pesawat RC-135 Amerika, sebuah pesawat pendeteksi sinyal intelijen yang modelnya didasarkan pada desain pesawat Boeing 707. Namun, dia kemudian melaporkan kepada pengontrolnya bahwa dia bisa melihat tulisan berkarakter Asia di sepanjang badan pesawat dan lambang bangau merah. Kim bisa melihat pesawat tempur Soviet itu, dan menyalakan lampu pendaratannya sebagai tanda terima. Bertentangan dengan klaim Soviet bahwa dia tidak berusaha untuk berkomunikasi, rekaman kontrol udara di Finlandia menunjukkan dia mencoba melakukan kontak radio dengan pesawat Su-15 tiga kali. Bosov sendiri yakin pesawat itu milik sipil, tetapi komandan Korps PVO ke-21 memerintahkannya untuk menarik pelatuknya. Bosov menurutinya, meluncurkan dua rudal kecil pencari panas R-60 (AA-8 “Aphid“) ke pesawat sipil itu. Yang pertama meleset—dan yang kedua mengenai sayap kiri Boeing 707. Hantaman itu, dikombinasikan dengan hulu ledak seberat enam pon (2,7 kg) pada rudal, cukup untuk melepaskan empat meter dari panjang sayapnya dan melumpuhkan salah satu mesin jetnya. Pecahan peluru kemudian juga disemprotkan ke seluruh badan pesawat Boeing, yang menurunkan tekanan pada kabin penumpang dan menewaskan dua dari 109 penumpang dan awak serta melukai 13 lainnya. Setelah hantaman, Boeing 707 itu jatuh dari ketinggian 30.000 kaki dan menghilang dari radar Soviet.

Bosov lalu kembali ke pangkalan, kehabisan bahan bakar, dan PVO meluncurkan pesawat tempur lain setelah mendeteksi kontak radar baru. Namun, yang terdeteksi hanyalah bagian sayap yang terpotong yang berjatuhan dari udara. Pilot Soviet kedua kemudian menemukan bahwa pesawat dengan nomor Penerbangan 902 itu sebenarnya selamat dari serangan rudal. Pesawat yang rusak itu tetap mengudara selama 40 menit lagi dan berusaha menemukan tempat pendaratan yang aman. Pada akhirnya, Kim berhasil mendaratkan Boeing 707 miliknya di Danau Korpiyarvi yang membeku. Helikopter Soviet dengan cepat menjemput para korban dan memulangkan mereka ke Amerika Serikat dua hari kemudian, bersama dengan tagihan $100.000 untuk penginapan yang dimintakan pada Korean Air Lines. Beberapa sumber Rusia menyatakan adanya sesuatu yang mencurigakan tentang sebuah pesawat jet itu yang menyimpang dari jalurnya seharusnya, tetapi pihak berwenang Soviet yang merampas pesawat jet itu, tidak berkomentar bahwa pesawat itu membawa peralatan pengintaian atau tidak. Tampaknya kejadian ini lebih mungkin terjadi karena adanya kesalahan dengan perlengkapan navigasi pesawat Boeing 707, atau awak pesawatnya sangat tidak kompeten dibanding dengan sebuah aksi spionase nyata. Seperti kata pepatah: jangan mengaitkan kecurigaan dengan apapun yang bisa dengan mudah dikaitkan sebagai akibat kebodohan.

Dalam insiden di tahun 1981, Su-15 yang berbasis di Georgia bertabrakan dengan pesawat Canadair CL-44 Argentina dari maskapai Transporte Aéreo Rioplatense (membunuh tiga orang Argentina dan satu orang Inggris di dalamnya) yang sedang mengirimkan senjata dari Israel ke Iran setelah menyimpang ke wilayah udara Soviet. Saat itu sebuah Su-15 mencegat pesawat penyusup dan terbang di sampingnya, dengan pilot Soviet memberi izin kepada kru pesawat yang dicegat untuk mengikutinya mendarat. Awak CL-44 nampaknya tidak menyukai ide itu, dan bermanuver dengan cara yang mengancam serta mencoba untuk kembali melintasi perbatasan. Pilot Soviet kemudian diberi wewenang untuk menembak jatuh pesawat angkut itu. Karena Su-15 itu berada sangat dekat dengan target, dia tidak bisa menembakkan rudal AAM tanpa berbalik dan pada akhirnya akan memberi waktu bagi pesawat penyusup untuk terbang melarikan diri. Tidak memiliki kanon, pilot Soviet itu memilih menabrak dan memotong ekor targetnya. CL-44 itu jatuh ke bumi, semua kru-nya tewas. Pilot Soviet itu, yakni Kapten V.A. Kulyapin, terpaksa melompat keluar dari pesawatnya sendiri yang lumpuh, dan kemudian menerima medali Order of the Red Star atas dedikasinya pada pekerjaannya. Pilot Soviet memang dikenal telah menggunakan secara ekstensif serangan serudukan semacam ini selama Perang Dunia II, dan sebelumnya pilot MiG Soviet Gennady Eliseev tewas setelah menabrak penerbangan mata-mata dari pesawat pengintai RF-4 Iran-Amerika pada tahun 1973. Namun, beberapa analis berspekulasi bahwa tabrakan tahun 1981 mungkin tidak disengaja. Dalam insiden Korean Air Lines Nomor Penerbangan 007 pada tahun 1983, sebuah Boeing 747 Korea Selatan ditembaki di dekat Pulau Moneron, setelah berbelok ke wilayah udara Soviet yang terlarang, oleh dua Su-15TM yang berbasis di Sakhalin. Kedua pilotnya mencoba membuat awak pesawat jet komersial itu mengikuti mereka dan mendarat, tetapi tidak ada tanggapan. Salah satu Su-15 menembakinya dengan kanon. Lagi-lagi tidak ada respon. Rupanya dengan berasumsi bahwa pesawat Boeing 747 adalah pesawat pengintai RC-135 AS, Su-15 itu kemudian diperintahkan untuk menghancurkan pesawat penyusup tersebut. Mayor Gennadiy Osipovich lalu menembakkan dua rudal Anab, sebelum memberi tahu kontrol darat dengan pesan singkat: “Target telah dihancurkan.” Dengan kontrol permukaan dari pesawat Boeing 747 telah dinonaktifkan sebagai akibat tembakan langsung ke ekor pesawat. Pesawat lumpuh itu kemudian jatuh ke Laut Jepang di lepas pantai Moneron, menewaskan 246 penumpang dan 23 awak. Insiden ini segera memicu kemarahan internasional. Dari sini muncul pula teori konspirasi yang mengklaim pesawat itu benar-benar melakukan misi mata-mata, tetapi tidak ada bukti yang kredibel untuk mendukung gagasan tersebut. Pesawat itu terbang dengan lampu navigasi menyala, yang jelas tidak akan dilakukan jika mereka benar-benar melakukan misi rahasia. Sementara itu mengenai mengapa kru pesawat itu mengabaikan peringatan dari kedua pesawat Su-15 masih menjadi misteri. Saat itu sangat gelap, dengan pilot Su-15 tidak dapat memberikan identifikasi positif dari jenis pesawat jet dan kebangsaan. Mungkin juga kru Boeing 747 itu sedang tertidur, dan sama sekali tidak memperhatikan mereka.

Su-15 juga dicatat mengalami perjumpaan dengan beberapa “balon pengintai” misterius. Tahun 1975 tercatat sebagai tahun yang sangat sibuk untuk aktifitas intrusi balon, dengan 16 diantaranya yang terlihat, 13 dihancurkan, 5 di antaranya oleh Su-15. Perlu dicatat bahwa sumber-sumber Rusia mengklaim bahwa penerbangan balon tidak berhenti saat itu, dengan catatan penembakan balon hingga terakhir dilakukan pada tahun 1990. Meskipun diproduksi dalam jumlah besar (total 1.290 dari semua jenis), Su-15, seperti pesawat Soviet yang teknologinya sangat sensitif lainnya, tidak pernah diekspor ke negara-negara Pakta Warsawa atau negara lain karena sistemnya yang canggih. Beberapa Su-15 dilaporkan dikerahkan di Mesir pada tahun 1972 tetapi digunakan oleh kru Soviet. Pada satu titik, Su-15 dianggap dapat digunakan sebagai pesawat tempur, tetapi pesawat ini terbukti terlalu spesifik dirancang sebagai pesawat pencegat. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Su-15 tiba-tiba dipensiunkan dari Angkatan Udara Rusia yang baru pada tahun 1993 untuk mematuhi Perjanjian tentang Angkatan Bersenjata Konvensional di Eropa. Sebagian besar Su-15 lalu segera dipensiunkan demi memberi ruang bagi pengoperasian pesawat pencegat yang lebih canggih, termasuk jenis Su-27 dan MiG-31, tetapi beberapa disimpan dalam penyimpanan cadangan untuk penggunaan darurat di kemudian hari. Di Ukraina, Su-15 terakhir (di Kramatorsk dan Belbek) ditarik dari penggunaan pada tahun 1996. Tidak ada Su-15 yang diterbangkan lagi, tetapi ada beberapa pesawat yang ditampilkan secara statis. Pada tahun 1995, terdapat skandal di Rusia di mana sejumlah perwira militer dituduh mencoba menjual Su-15 tua ke museum-museum Barat sebagai pajangan. Plot ini gagal, dengan para pelakunya ditangkap.


SPESIFIKASI
- Kru: 1
- Panjang: 19.56 m (64 ft 2 in)
- Lebar sayap: 9.43 m (30 ft 11 in)
- Tinggi: 4.84 m (15 ft 11 in)
- Luas area sayap: 36.6 m2 (394 sq ft)
- Bobot kosong: 10,760 kg (23,722 lb)
- Bobot kotor: 17,200 kg (37,920 lb)
- Bobot maksimun takeoff: 17,900 kg (39,463 lb)
- Mesin: 2 × mesin turbojet afterburning Tumansky R-13F-300, dengan kekuatan masing-masing 40.21 kN (9,040 lbf) thrust, dan 70 kN (16,000 lbf) dengan afterburner
Performa
- Kecepatan Maximum: 2,230 km/h (1,390 mph, 1,200 kn) dengan 2 × rudal udara ke udara K-8 atau 2 × rudal R-60 pada ketinggian 12,000 m (39,370 ft)
- Kecepatan Maximum: Mach 2.1
- Jangkauan: 1,380 km (860 mi, 750 nmi)
- Jangkauan tempur: 725 km (450 mi, 391 nmi)
- Jangkauan Ferry: 1,700 km (1,100 mi, 920 nmi)
- Ketinggian jelajah: 18,100 m (59,400 ft)
- g limits: +6.5
- Kecepatan menanjak: 228 m/s (44,900 ft/min)
- Wing loading: 555 kg/m2 (114 lb/sq ft)
Persenjataan
- Kanon: 2 × pod kanon otomatis UPK-23 berlaras 2 kaliber 23 mm tipe Gryazev-Shipunov GSh-23L pada masing-masing pylon badan pesawat.
- Hardpoint: terdapat 6 titik hardpoints untuk menggotong senjata dengan kapasitas hingga 1,500 kg (3,300 lb). Konfigurasinya terdiri dari:
- Roket: pod UB-16 untuk roket S-5
- Rudal:
- 2 × rudal udara ke udara K-8
- 2 × rudal udara ke udara R-60
- Bomb: bom serbaguna FAB-500
Avionik
- Radar: «Taifun-M»
- Jangkauan Deteksi:
- Target terbang tinggi: 70 km
- Target terbang rendah: 15 km
- Jangkauan penguncian:
- Target terbang tinggi: 45 km
- Target terbang rendah: 10 km
- Jangkauan Angular:
- vertical: +30°/-10°
- horizontal: +/- 70°
- Jangkauan Deteksi:
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Sukhoi_Su-15
Sukhoi Su-9, Su-11, & Su-15 v1.0.7 by greg goebel; 01 jun 21
http://www.airvectors.net/avsu15.html
Interview with Soviet air force Su-15 ‘Flagon’ fighter pilot: Defending the USSR by Hush Kit
The Su-15 Was the Doom of Airliners and a Cosmonaut: Soviet interceptor left a tragic record by Sebastien Roblin; April 8, 2017
Su-15 Vs F-100: why Flagon fighter jets were never able to intercept Turkish Super Sabres violating Soviet airspace by Dario Leone
Russia’s Su-15 Fighter Made History in One Very Tragic Way by Michael Peck
Su-15
http://www.airwar.ru/enc/fighter/su15.html
Sukhoi Su-15 Flagon – History, Design, Performance & Dissection By EpicBlitzkrieg87,
September 21, 2021 in Soviet Union
Su-15 FLAGON (SUKHOI)
https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/su-15.htm
Su-15TM
http://www.airwar.ru/enc/fighter/su15tm.html
https://en.m.wikipedia.org/wiki/K-8_(missile)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/R-60_(missile)
