Operasi Lexington III, 1966: Big Red One ‘Menggasak’ Sarang VietCong di Hutan Para Pembunuh
Semenjak pecahnya pemberontakan komunis di Vietnam Selatan, pada awal tahun 1960an, rezim pemerintah Saigon segera menghadapi problem, yang tidak mereka antisipasi sebelumnya. Dari sisi geogfrafis, wilayah Vietnam yang berbentuk seperti huruf “S” memanjang, sulit untuk dipertahankan dan dijaga dengan ketat. Vietnam Selatan sendiri diketahui memiliki garis pantai dan jaringan sungai sepanjang ribuan kilometer, yang tentunya sukar untuk dijaga oleh Angkatan Lautnya yang kecil. Dari garis pantai dan sungai-sungai ini, pihak komunis yang didukung oleh Vietnam Utara bisa dengan cukup mudah menyelundupkan persenjataan, perbekalan dan personel untuk mendukung aksi pemberontakan mereka di Vietnam Selatan. Salah satu lokasi yang menjadi titik penyusupan dan tempat bersembunyi para pemberontak komunis ini adalah kawasan Zona Rung Sat, yang letaknya hanya beberapa puluh kilometer dari Ibukota Saigon. Di kawasan yang dipenuhi anak sungai dan hutan rawa bakau, ini kemudian akan menjadi salah satu area yang paling diperebutkan selama Perang Vietnam.

ZONA RUNG SAT
Tahun 1965 menjadi momen dimana Amerika mengirimkan bantuan besar-besaran kepada pemerintah Vietnam Selatan. Karena pelabuhan Vung Tau dan Teluk Cam Ranh belum dikembangkan, pasokan awalnya harus dikirim melalui Sungai Saigon yang sempit, yang berakhir di pelabuhan pedalaman kota Saigon yang padat. Setiap kali sebuah kapal barang tiba di Vietnam, kapal itu harus berlabuh setengah mil di lepas pantai, menunggu giliran di sungai yang dangkal dan berkelok-kelok, melewati kawasan Rung Sat. Zona Khusus Rung Sat (Vietnam: Đặc khu Rừng Sác) adalah nama yang diberikan selama Perang Vietnam oleh Pemerintah Vietnam Selatan dan pasukan Amerika ke area yang luas di Hutan Sác (Vietnam: Rừng Sác), yang sekarang dikenal sebagai Cần Giờ mangrove forest. Tempat itu juga dikenal dengan sebutan “Hutan Para Pembunuh.” Nama ini berasal dari salah tafsir kata Vietnam Sát yang berarti “pembunuh”. Nama sebenarnya, Rừng Sác, adalah kata asal Sino-Vietnam yang secara kasar diterjemahkan menjadi “hutan asin,” menunjukkan kedekatannya dengan rawa air asin kawasan delta. Hutan Sác terdiri dari sekitar 1.256 kilometer persegi (485 sq mi) rawa bakau pasang surut termasuk lebih dari 4.800 kilometer (3.000 mi) jaringan sungai yang saling terkait yang terletak sekitar 36 kilometer (22 mi) selatan-tenggara Saigon. Batas-batasnya pada tahun 1962 adalah Distrik Nhà Bè dan Distrik Nhơn Trạch di utara, Provinsi Long An dan Provinsi Tiền Giang di barat, Provinsi Phước Tuy di timur dan Laut Cina Selatan di selatan. Pada tanggal 8 Juni 1962, Pemerintah Vietnam Selatan menetapkan Zona Khusus Rung Sat (Đặc khu Rừng Sác) sebagai wilayah militer untuk mempertahankan Sungai Lòng Tàu, jalur pelayaran utama dari Saigon ke Vũng Tàu. Sementara itu, Viet Cong (VC) telah mendirikan area basis di zona tersebut dari akhir tahun 1950-an dan pada bulan April 1966, dengan pihak COSVN (Central Office for South Vietnam/Komando Pusat Komunis Vietnam Selatan) menetapkan area tersebut sebagai Zona Militer Khusus D-10.



Karena kondisi sekitarnya yang dianggap sukar bagi penggelaran operasi darat di dalam zona tersebut, VC menganggapnya sebagai daerah yang aman. Zona Khusus Rung Sat yang mengelilingi Sungai Saigon berkelok-kelok sejauh 45 mil ke laut melalui Vung Tau, menyemburkan lumpur kuning ke Laut Cina Selatan yang sebening kristal. Rawa bakau air asin Rung Sat dipenuhi dengan anak sungai dan tanggul yang dalam, sempit, berlumpur, serta berbahaya. Gerilyawan lokal VC dan pasukan NVA yang baru tiba kemudian mulai menyerang kapal-kapal barang di sungai secara sistematis. Tidak sulit untuk mendayung keluar dari salah satu dari banyak sudut dan celah sungai di malam hari, menempatkan peledak bermagnet di lambung tipis kapal barang yang bergerak lambat dan kemudian meledakkannya, sehingga membatasi arus lalu lintas lainnya. Pada tahun 1964, bahkan sebuah kapal induk pengangkut USNS Card, sempat “ditenggelamkan” sementara di pelabuhan Saigon oleh 2 prajurit komando VC. Sering kali VC juga mencoba, tanpa hasil, untuk mengapungkan ranjau ke hilir untuk menyerang kapal-kapal barang seperti layaknya pin bowling. Disamping itu, VC memiliki akses dan pengetahuan tentang jalur-jalur air yang rumit, dan menggunakannya untuk mengumpulkan pasukan penyusup dari Vietnam Utara, untuk menyimpan peralatan perang dan untuk mencegat rantai pasokan Amerika melalui Sungai Saigon. Berdasar kenyataan ini, rawa-rawa di zona Rung Sat tampaknya tidak tertembus oleh tentara Amerika. Air berada di atas dada rata-rata prajurit saat air pasang, dengan bermil-mil bambu anyaman padat yang digergaji dipasang di semak belukar, untuk menunjukkan batas saluran air. Di sisi lain pengamatan udara terhadap aktivitas musuh di rawa-rawa tidak mungkin dilakukan karena hal ini, namun dari tahun 1965 dan seterusnya USAF mulai menggunduli daerah tersebut sebagai bagian dari Operasi Ranch Hand. Sungai-sungai kecil dan berliku tetap tidak dapat diakses oleh sebagian besar kapal patroli Angkatan Laut AS hingga tahun 1965. Pada awal tahun 1966, Marinir A.S. berkomitmen pada misi tradisional mereka untuk menembus rawa-rawa dengan berjalan kaki, menghancurkan musuh di kamp-kampnya yang tersembunyi dan menyergap saat mereka melewati labirin jalur air dengan sampan dan ruang bawah tanah yang sempit dan datar. Menyusul serangan terhadap kapal sekutu di Sungai Lòng Tàu, dari 27 Maret hingga 6 April 1966, Batalyon ke-1/Marinir ke-5 dan dua Batalyon Marinir Vietnam melancarkan Operasi Jackstay, operasi pencarian dan pembersihan (Search and Destroy) di sepanjang alur pelayaran Lòng Tàu, yang menewaskan 63 VC dan merebut serta menghancurkan tumpukan pasokan yang besar.


VANGUARD
Setelah operasi pertama itu, kapal-kapal pengangkut menikmati masa jeda yang cukup tenang dari aktivitas musuh selama sebulan. Namun, marinir, bagaimanapun, dibutuhkan di tempat lain. Sebuah unit Angkatan Darat harus ditempatkan pada area tersebut — unit yang akan akrab dengan tantangan rawa-rawa. Sementara itu, banyak prajurit di Divisi Infanteri ke-1 telah menerima pelatihan di rawa-rawa di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida. Jadi, Batalyon ke-1, Infanteri ke-18 (1-18 Inf.) ‘Vanguards‘ kemudian dipilih untuk mengambil tugas yang ditinggalkan Marinir. Bersamaan dengan ini, tanggung jawab untuk keamanan di zona itu kemudian diteruskan ke unit Mobile Riverine Force dan Divisi Infanteri ke-9. MACV kemudian memutuskan bahwa pemahaman Marinir sebelumnya tentang area ini akan terbukti bermanfaat bagi satuan 1-18 Inf. Dari tanggal 17 April hingga 21 April, batalion itu dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil untuk dilatih para Marinir dalam operasi di Zona Khusus Rung Sat. Tidak ada masalah ego yang diakibatkan oleh pasukan Angkatan Darat yang diminta untuk menjalani pelatihan dari Marinir dalam hal ini — pelajaran yang dipetik dianggap akan menyelamatkan banyak nyawa. Unit perbekalan batalion kemudian berhasil menemukan lebih dari 400 tempat tidur gantung bergaya VC, terbuat dari bahan parasut yang digantungkan di sekitar tiang kayu di setiap ujungnya. Para prajurit membutuhkannya untuk bisa tidur di atas tanah, yang kerap tertutup air saat air pasang dan dataran lumpur saat air surut. Untuk menjalankan misinya, setiap prajurit akan membawa topi bajanya (hal ini opsional), beban amunisi dasar, jatah ransum satu hari, sekantong air, tidak ada rompi pelindung atau alat penggali tanah, dan lebih sedikit granat dan ranjau dari biasanya. Kain kasa medis biasanya diikatkan di leher untuk melindungi para prajurit dari gangguan semut merah dan kalajengking. Tali dan rappelling D-ring akan digunakan untuk memfasilitasi penyeberangan di sungai. Ransum perbekalan umumnya dimasukkan ke dalam kaus kaki, yang digantung di bagian belakang atas suspender. Beban yang ringan dinilai akan membuat prajurit lebih dapat bermanuver dan fleksibel ketika mereka harus menyeberangi sungai, meluncur melalui lumpur saat air surut atau menyelinap melalui vegetasi yang lebat. Tiang-tiang kecil di tepi sungai menunjukkan titik melintas VC, menunjukkan di mana batang kayu melintas di bawah air. Para prajurit belajar menyeberangi sungai kecil dengan berpegangan pada sisi pelampung udara dari karet, dengan perlengkapan ditumpuk di atasnya. Penyeberangan seperti itu akan lebih mudah jika pasukan hanya membawa setengah dari muatan normal mereka.


Banyak dari personel tim 1-18 adalah prajurit yang waktu penugasannya tinggal sedikit (short timer), dengan waktu kurang dari sebulan sebelum tur mereka berakhir saat sesi latihan selesai. Penugasan setelah ini, sepertinya akan menjadi operasi terakhir mereka. Pada tanggal 22 April, Letnan Kolonel Karl Morton mengucapkan selamat tinggal kepada anak buahnya sebelum berangkat ke tempat penugasan baru. ‘Rekan-rekan,’ katanya saat apel pagi, ‘ini yang kita tunggu-tunggu. Kita akhirnya ditugaskan untuk ‘menembak kalkun’ (berburu musuh). Kaum komunis telah mencoba untuk mengontrol area ini, dengan menumpuk personel dan material, sambil mengganggu rantai pasokan kita. Mereka (komando tinggi) telah melepas kita untuk pergi ke sana dan melawan Charles (sebutan VC/VietCong/Victor Charlie) dengan cara-cara kita. Kalian telah merasakan rawa-rawa itu beberapa hari terakhir, dan sekarang kalian akan dibagi ke unit-unit berukuran kecil. Banyak dari kalian telah berada di sini bersama The Big Red One (Divisi Infanteri ke-1) sejak bulan Juni lalu. Kalian telah bertemu musuh, menjalani banyak pertempuran, menghajar musuh, dan tahu cara menjaga diri sendiri. Pengalaman kalian telah mengajarkan banyak hal dan (akan) bermanfaat bagi para prajurit yang baru tiba, dan mereka akan menghargainya. Kita hanya akan memiliki satu kompi (yang ditugaskan) di rawa-rawa pada satu waktu selama 36 jam. Yang lain akan menjadi cadangan, dalam antrean berikutnya, sementara yang ketiga sedang beristirahat di Vung Tau, mengeringkan kaki dan tubuh mereka dari (basahnya) rawa-rawa.


“Satu-satunya cara Charles berkeliling adalah dengan menggunakan perahu. Tidak ada jalan atau jalur darat di dataran lumpur ini. Kalian akan meluncur melalui lumpur itu dari air laut — terkadang sampai ke dada. Dan kalian akan menyergap, dan menyergap, dan menyergap mereka. Di setiap jalur air yang kalian datangi, kalian akan berhenti dan menyergap mereka. Banyak kamp musuh memiliki dermaga kecil. Jika dermaga ditempati, itu berarti mereka ada di kamp, dan kalian akan segera mendapatkan mereka. Jika kosong, tunggu sampai mereka kembali. ‘Marinir telah membunuh 52 VC. Ketika saya kembali ke Amerika, saya ingin membaca di mana The Big Red One bisa mengalahkan (rekor) para Marinir. Semoga beruntung dan selamat berburu. Kalian para prajurit adalah yang terhebat! “Dan untuk Anda para veteran tua, saya ingin Anda mendukung para prajurit pengganti, tunjukkan pada mereka pengetahuan anda dan cara melakukannya. Berikan nasehat Anda kepada mereka. Beri mereka manfaat, yang tidak Anda dapatkan saat tiba di negeri ini. Pengetahuan ini mungkin dapat menyelamatkan nyawa seseorang.’ The Vanguards memang berpengalaman, veteran yang cukup memahami hutan, dengan menjalani hampir satu tahun penuh pertempuran sebagai bekal mereka. Tetapi banyak prajurit yang dibesarkan di kota-kota merasa rawa-rawa itu tidak nyaman seperti saat mereka menghadapi hutan ketika mereka pertama kali memasukinya. Di Rung Sat, mereka akan ditantang oleh air dan jembatan kayu yang tidak stabil hanya beberapa meter di atas air.
OPERASI LEXINGTON III
Operasi tempur Lexington III, demikian operasi ini dinamai, dimulai pada tanggal 26 April 1966. Operasi ini unik. Untuk pertama kalinya dalam perang, unit militer Vietnam Selatan akan mendukung pasukan Amerika. Junk Force (unit perahu) mereka akan bertindak dalam peran pemblokiran dan dukungan. Kapal pendarat kecil akan membawa satu peleton, membawanya ke rawa dan menunggu sebagai cadangan sampai dibutuhkan. Pada tanggal 26 April, Kompi Charlie memuat tiga peleton-nya ke kapal pendarat Vietnam yang berlabuh di Sungai Saigon. Kompi Alpha ditahan di dermaga sebagai cadangan, sementara Kompi Bravo menunggu di pos komando depan di Vung Tau. Angkatan Laut Vietnam kemudian mengangkut setiap peleton ke rawa-rawa sampai sungai menjadi terlalu kecil untuk kapal itu dapat beroperasi. Setiap peleton meninggalkan kapal pendaratnya di lokasi yang berbeda dan para prajurit harus berjuang melintasi akar dan dahan yang tertutup lumpur licin, untuk memulai tugas pembersihan terkoordinasi di daerah tujuannya. Awalnya air setinggi pinggang. Setelah setengah jam yang menyiksa, tanah mulai naik, cukup untuk memungkinkan berjalan di atasnya dengan mantap. Bersamaan dengan itu, dua peleton menemukan jalan setapak yang dibuat dari ranting-ranting yang dipangkas yang diikatkan pada cabang-cabang kecil yang paralel. Jalan ini mengarah melalui semak belukar. Perhatian terhadap detail dalam konstruksi jalan setapak primitif ini sangat fenomenal. Setiap peleton menunjuk regu terdepan untuk maju di sepanjang jalan setapak saat mengarah ke bawah menuju sungai, lokasi yang logis untuk sebuah kamp. Angin saat itu mendukung orang-orang Amerika, untuk bergumam dan bersiul melalui kerimbunan yang ada di atasnya, yang menenggelamkan suara apa pun. Sepuluh menit kemudian, prajurit terdepan (pointmen) kedua peleton menemukan kamp-kamp yang dibangun di atas cabang-cabang dan ranting-ranting yang landai. Enam personel VC sedang duduk di atas kayu gelondongan di tengah satu kamp, sementara delapan lainnya duduk di tempat tidur gantung dan tempat tidur di kamp lainnya. Tak satu pun dari kamp itu yang memiliki elemen pertahanan, bahkan yang paling sederhana sekalipun.



Pointmen kemudian memberi isyarat mengenai situasi sekitar. Mereka memberi petunjuk tangan, menginformasikan jumlah VC, dan mengulurkan tangan, mengepalkan tangan, untuk menghentikan pergerakan peleton. Untuk sesaat, semuanya sunyi. Para pemimpin patroli berkoordinasi agar kedua serangan itu serentak dan tidak ada yang memberi peringatan ke kamp lainnya. Peleton juga mengirim radio kembali ke kapal pendarat untuk mengambil posisi memblokir di sungai terdekat untuk mencegah pelarian VC dengan perahu. Pointman untuk setiap tim patroli menempati posisinya. Setiap orang memilih dua target yang berdekatan, memberi isyarat ke rekan di belakangnya saat siap dan kemudian melepaskan tembakan. Vegetasi begitu lebat, tim patroli mengira mereka berjauhan. Masing-masing tercengang dengan kedekatan mereka setelah mendengar tembakan satu sama lain. Dalam beberapa detik, peleton yang disiplin ini telah menghancurkan target mereka. Setelah tembakan berhenti, kedua regu terdepan itu dengan hati-hati memasuki kamp, memastikan bahwa target mereka telah mati sebelum memberi isyarat kepada peleton lainnya. Setiap kamp tampaknya telah menjadi markas bagi prajurit Komunis baru. Tempat tidur, peralatan militer, makanan busuk, dan fasilitas memasak ditinggikan di atas perabotan darurat untuk menjaganya tetap di atas pasang surut air harian. Para personel dari kedua peleton lalu memeriksa kamp,karena penasaran untuk melihat tempat tinggal musuh di atas tanah untuk pertama kalinya. Patroli kemudian menggeledah kamp untuk mencari senjata dan peralatan, yang kemudian diangkat dengan helikopter. Mayat VC yang tewas dibuang ke sungai, dan perahu mereka dibakar.


Suara tembakan itu, tentu saja, memperingatkan semua VC yang ada dalam radius lima mil. Selama sisa operasi, elemen kejutan telah hilang — namun unit 1-18 masih akan mendapati hasil yang bagus. Pukul 1 siang hari pertama itu, patroli ketiga telah menemukan sebuah kamp di sebelah sungai, tanpa perahu dan penghuninya. Para GI (sebutan umum tentara Amerika) menyiapkan penyergapan di sepanjang tepi sungai dan menunggu. Lokasinya, di atas permukaan laut, memberi mereka kesempatan untuk beristirahat di tanah yang kering. Pada pukul 4 sore, pemimpin peleton bersiap untuk pindah ke lokasi lain ketika orang-orang di tepi sungai disiagakan oleh suara percikan yang teredam. Hampir seketika, empat VC bersenjata dengan acuh tak acuh menambatkan perahu mereka yang beralas datar di sudut jalur air yang sempit, dengan berdiri tegak. Peleton itu lalu melepaskan tembakan, yang dampaknya mengangkat dua VC dari kaki mereka dan melemparkan mereka ke dalam air, sementara dua lainnya ambruk di dalam perahu mereka. Setelah 36 jam, kapal pendarat menjemput peleton mereka dan kembali ke dermaga, di mana tugas mereka dirotasi. Kompi Charlie kini beristirahat di Vung Tau, dan Kompi Bravo berada sebagai cadangan di dermaga, sementara Kompi Alpha dengan cemas naik ke kapal dan bergerak. Pada hari kelima Operasi Lexington III, ketika Kompi Bravo menguasai posisinya, enam personel VC berhasil mundur melintasi sungai dekat bagian belakang kamp mereka. Elemen peleton pengintai batalion memantau aksi dan kemudian mengoordinasikan gerakan menjepit dua kapal pendarat di semenanjung kecil. Mereka menjebak para VC dan membunuh keenamnya dalam satu upaya yang mulus. Secara bersamaan, Kompi Bravo membunuh empat orang lagi di dalam kamp. Orang-orang Amerika terkejut dan terkesan dengan betapa profesionalnya para pelaut Vietnam Selatan sembari berharap rekan-rekan Amerika sebangsanya di rumah dapat melihat tingkat efisiensi mereka. Lexington III dihentikan pada tanggal 5 Mei dan dilanjutkan kembali pada tanggal 21 Mei. Sejauh ini, dua puluh tiga VC telah tewas, tanpa satu pun GI yang terluka.
KORBAN PERTAMA
Sementara itu, pangkalan operasi sekarang telah bergeser ke Vung Tau, dengan angkatan laut Vietnam Selatan dibebaskan dari misinya untuk fase ini. Unit patroli diantarkan ke pinggir zona Rung Sat dengan menggunakan truk, kemudian dimulai dengan mengarungi sungai, para prajurit mencengkeram rakit karet yang ditumpuk dengan peralatan mereka. Dua orang pertama bergerak ke seberang pada satu titik, dengan dikawal oleh personel lain di atas rakit, sementara pasukan lainnya tetap menyiagakan senjata mereka di tepi seberang, sampai ketiga orang itu menyeberang dan tampaknya telah mengamankan sisi yang jauh. Sekarang, patroli akan dapat meluncurkan rakit lain dan menyeberang dengan aman. Tahap operasi ini berada di bagian rawa yang lebih tinggi, lebih kering, bervegetasi lebih jarang dan diselingi dengan jalan setapak yang telah dibuat. Medan yang lebih ramah bagi manusia dengan memfasilitasi perjalanan darat antara banyak base camp musuh di atas permukaan laut. Di sini VC tidak akan bepergian secara eksklusif dengan menggunakan kapal. Sementara itu, ketegangan di antara VC telah meningkat sejak kedatangan tentara Amerika, dan pasukan Komunis mulai menyerah kepada pihak Vietnam Selatan dalam jumlah yang lebih besar. Kompi Alpha melakukan penyisiran pertama, menuju base camp dengan panduan seorang rally, atau pembelot NVA, mantan letnan musuh yang telah menjadi VC sejak tahun 1954. Beberapa pasukan yang terlibat dalam operasi itu kemudian mengaku bahwa bantuan para Rally telah membuat mereka merasa menjadi seperti “penyontek curang” selama ujian akhir Semester.


Tidak lama setelah para GI menyeberang sungai, rally memperingatkan pemimpin patroli bahwa mereka telah mendekati perimeter kamp. Hampir seketika, regu penjaga menemui kawat berduri, perangkap punji (terdiri dari tongkat-tongkat kayu tajam), dan bunker senapan mesin — kamp berbenteng pertama yang ditemukan oleh prajurit-prajurit Amerika. Elemen-elemen terdepan sedang bersiap untuk memanjat kawat berduri ketika sebuah senapan mesin mulai memuntahkan berondongan peluru dari bunker tersembunyi. Dua prajurit menendang tiang-tiang punji dengan sepatu bot mereka dan meluncur ke dalam lubang, menggunakannya sebagai tempat perlindungan untuk membalas tembakan. Sebuah jebakan terdiri dari lima granat yang diledakkan dari kejauhan telah diikatkan ke pohon di depan kamp. VC memicunya, tetapi hanya dua granat yang meledak, dan tidak melukai siapa pun. Kedua prajurit di lubang punji masing-masing melemparkan granat tangan ke setiap celah senjata di bunker, membunuh semua orang di dalamnya. Setelah ledakan, kedua GI menerima tembakan pendukung berat dari sisa personel patroli di belakang pohon, yang memungkinkan mereka untuk memanjat kawat berduri dan bergegas maju ke parit yang mengelilingi kamp. Sisa patroli tidak punya waktu untuk mengepung kamp sebelum beberapa VC melarikan diri melalui lubang yang dibuat melewati semak-semak di belakang. Ketika kamp diamankan, para GI menjelajahi terowongan dangkal, di mana mereka menemukan dua personel VC bersembunyi di sebelah gudang yang berisi amunisi kaliber 7,62 mm buatan Cina, lima senapan karabin, sekarung granat, dan sekotak ranjau. Orang-orang Amerika lalu membersihkan cukup banyak kerimbunan pepohonan sehingga helikopter bisa dibawa masuk untuk mengangkat material yang berhasil dirampas. Pada akhir minggu kedua operasi dilanjutkan, 25 VC lainnya telah terbunuh, dengan hanya dua GI yang terluka ringan. Staf Sersan Ralph Spengemann adalah salah satu dari mereka yang waktunya penugasannya mendekati akhir. Setelah baku tembak singkat di persimpangan sungai di mana empat VC tewas, dia memanggil petugas medis.

“Lihat apa yang terjadi, Dok,” katanya sambil menunjuk lubang di celananya. “Kami menyergap mereka menyeberangi sungai. Salah satu dari mereka menembak dan mengenai kantong amunisi pria di sebelah saya. Tembakan itu menyebabkan pelurunya meledak. Saya tidak terkena! Saya kemudian berlari ke pohon itu untuk berlindung. VC menembak lagi, mengenai radio RTO (operator telepon radio), dan memantul. Saya merasakan sesuatu membenturkan kaki saya, dan menggerakkan tangan saya ke belakang. Lihat pecahan ini mencuat — bisakah kamu menariknya, atau apakah aku harus dievakuasi?’ “Saya akan mencabutnya,” kata petugas medis, “tetapi Anda masih harus dievakuasi ke medis batalion untuk dirawat.” ‘Saya sangat terkejut dan terhina sehingga saya tersengat, terutama karena waktu tour saya hampir habis. Saya tidak memanggilmu pada awalnya, ‘jawab Spengemann. ‘Tidak ingin memberikan kepuasan VC bahwa dia telah mengenai siapa pun. Tidak apa-apa sekarang – dia sudah mati.’ “Ini adalah salah satu luka (bernilai) ‘jutaan dolar’ (luka yang diidamkan karena akan memperpendek masa tugas) yang seharusnya tidak akan sembuh sampai setelah tanggal kamu pergi (dari Vietnam),” kata petugas medis. “Selamat, Sarge.” Kemudian, setiap hari semakin banyak kamp yang diserang dan dihancurkan, dan semakin banyak VC yang disergap dengan perahu. Seluruh operasi berjalan mulus seperti jarum jam — sampai tragedi akhirnya terjadi. Suatu hari patroli Kompi Bravo menyerang base camp ketika sebuah regu menyelinap ke sayap kiri tanpa memberi tahu orang-orang di depan. Seseorang di jalur mendengar suara, melihat sekilas kilatan warna di semak-semak di bagian sayapnya, menembak secara naluriah tanpa melihat target terlebih dahulu dan membunuh seorang prajurit dalam pasukan yang bergabung dengan posisi sayapnya. Batalion itu telah kehilangan 21 orang selama tahun penugasan mereka; GI itu adalah yang kedua dari dua personel yang terbunuh oleh rekannya sendiri. Peleton itu lalu terdiam selama perjalanan truk mereka kembali ke Vung Tau satu jam kemudian. Biasanya mereka akan bergembira menyambut prospek 36 jam penuh kesenangan dan menjalani aneka permainan selama waktu istirahat mereka di ‘resor’. Tidak ada yang bisa mereka tertawakan sekarang, dengan tubuh seorang tentara Amerika terbungkus ponco di belakang truk.
PENYERGAPAN AMATIR
Bagaimanapun, sekarang, semua gembong Komunis lokal tahu bahwa pasukan Amerika sedang berpatroli di Zona Khusus Rung Sat. Banyak penyusup dari Vietnam Utara terperangkap di dalam rawa seluas 30 mil persegi, dan mereka mengangkut peralatan mereka dari kamp-kamp kecil, berkonsolidasi menjadi unit-unit besar di kamp-kamp dengan pertahanan terbaik. Enam VC kemudian ditugaskan untuk menyergap jalan setapak yang melintasi tempat terbuka di tepi Rung Sat. Itu adalah lokasi yang terisolasi, dan VC penyergap telah membawa beberapa hashish untuk membuat mereka bisa terjaga lebih lama. (Hash tidak diproduksi di Vietnam Selatan — itu adalah bahan pokok pengiriman pasokan orang Vietnam Utara, yang sering dicegat oleh Big Red One.) VC telah mempersiapkan posisi tersembunyi di balik garis pepohonan. Sementara itu, angin laut yang bertiup melintasi lapangan mengurangi kelembapan udara saat itu. Ini, masih ditambah dengan hash, yang tampaknya membantu mereka merasa aman dari bahaya apa pun. Unit patroli dari Kompi Charlie tidak melakukan kontak siang atau malam itu. Pada pagi hari berikutnya, rencana operasi batalion mengarahkan mereka untuk meninggalkan rawa-rawa dan menyelidiki dataran keras yang menuju ke arah Vung Tau. Mereka menuju ke lapangan yang menjulang dan mendaki ke jalan tanah, di mana konvoi akan menjemput mereka sore itu. Sebuah jalan setapak melintasi lapangan di mana tanah mulai berubah dari rawa air asin yang kotor menjadi campuran air tawar dan tanah liat. Rerumputan cokelat yang jarang tumbuh di ladang, hampir tidak cukup untuk memuaskan sekelompok kecil kambing yang mencari makan. Tanahnya lembek di mana pasukan meninggalkan rawa-rawa, tetapi mengering saat mereka bergerak naik di atas permukaan laut. VC beristirahat, tersembunyi di dalam semak-semak di tepi lapangan. Mereka mengamati patroli Amerika yang menyebar saat memasuki lapangan, bergerak maju dengan hati-hati.

Tiba-tiba, ‘klak, klak, klak, klak’ terdengar suara peluru yang berhamburan menghancurkan ketenangan udara di pagi yang tenang. Para GI lalu bertiarap ke atas tanah yang basah, heran bahwa peluru-peluru itu memerciki lumpur di sekitar mereka secara acak. Menatap dari lumpur ke arah sumber tembakan, mereka melihat enam VC menembak dari jarak hanya 30 meter. Masing-masing berdiri tegak di sepanjang sisi lapangan, mengarahkan senjatanya ke arah GI sambil menembaki dari sisi ke sisi, menghamburkan peluru — satu per satu. Hanya butuh beberapa detik bagi 45 orang Amerika untuk membidikkan senjatanya. Semua senjata di tangan prajurit patroli kemudian ditembakkan bersama-sama, lalu tidak lama kemudian para GI telah berjalan menuju ke tubuh-tubuh VC yang dipenuhi lubang peluru. Mereka berserakan tak beraturan di sekitar tabung hash dan pipa tanah liat. Jelas, para VC ini terlalu konyol untuk mengetahui bahwa mereka seharusnya bisa menggunakan perlindungan dan penyembunyian yang lebih baik dan menggunakan disiplin menembak yang lebih baik. Para prajurit dari kompi Charlie tidak ingin insiden itu dipublikasikan. Mereka takut beberapa orang “pecinta damai” akan mengklaim bahwa kejahatan perang telah dilakukan oleh mereka dengan memhabisi keenam VC yang ‘’malang itu”. Sementara itu dalam aksi terakhir pada Operasi Lexington III, Kompi Alpha membagi peletonnya menjadi unit patroli yang masing-masing terdiri dari 12 orang. Setiap patroli berjarak tidak lebih dari 15 menit dari yang berikutnya, sehingga dapat dengan mudah membantu jika yang lain mengalami perlawanan serius. Segera di dalam hutan, mereka menemukan base camp utama musuh yang telah dikosongkan di sebelah penyeberangan sungai yang ditandai oleh VC. Jalan setapak telah dibangun dengan tongkat-tongkat kecil yang diikatkan ke dahan-dahan berukuran sedang yang dipangkas, menjaganya dari air dan lumpur. Ada enam platform tidur yang ditinggikan, dengan kanopi terbuat ranting jerami. Sebuah kemeja tahan cuaca tergantung dari salah satu tempat tidur ini. Salah satu ‘short timer’ menyambarnya, sambil berkata, ‘Ini akan menjadi baju tidur untuk adik laki-lakiku.’

‘Apakah ini, penggiling?’ tanya pointman, yang telah menemukan roda batu besar yang berputar pada poros di atas meja batu. Alat itu telah digunakan untuk mengguling beras agar menjadi tepung. Kamp itu ternyata berfungsi sebagai ruang makan untuk para VC di Zona Rung Sat. Orang-orang Amerika juga melihat sebuah sumur. Mereka mengambil air yang ditutupi dengan sampah hijau dan serangga, dan seseorang berkata: ‘Ini kotor! Dapatkah Anda membayangkan seseorang harus minum minuman semacam ini sepanjang waktu?’ Beberapa prajurit nekad merasa cukup berani untuk mencicipinya. Airnya sedikit asin — tidak mengherankan, karena kamp itu berada di permukaan laut di rawa-rawa air asin. Tangki bahan bakar tambahan berbahan aluminium dari pesawat tempur AS tergeletak di sebelah sumur, mungkin dibuang dalam penerbangan, tetapi secara mengejutkan tidak rusak. ‘Apa yang mereka lakukan dengan sesuatu seperti ini?’ seseorang bertanya. ‘Kemari, lihat!’ seru prajurit lain. Di belakangnya ada sebuah kotak berisi 200 sendok yang dibuat dari tangki bahan bakar lain. Di sebelah mereka adalah sebentuk kayu yang digunakan untuk membentuk sendok. VC telah menggunakan pemotong kawat untuk memotong bentuk kasar sendok dari tangki. Kemudian potongan itu dimasukkan ke dalam cetakan dan ditumbuk sampai berbentuk. Akhirnya, seseorang ditugaskan untuk membulatkan ujungnya. Semua orang mengambil sendiri sendok, yang akan menjadi suvenir yang sangat baik. Para prajurit lalu membuat tempat terbuka menembus kanopi hutan sehingga helikopter bisa mengevakuasi alat penggilingan padi dan perbekalan yang ditemukan. Tempat tidur, bagian dari jalan setapak dan sumur dihancurkan. Beberapa kacang – yang sudah terkontaminasi – dibiarkan untuk dimakan oleh VC. Setelah helikopter terakhir pergi, unit patroli lalu mengikuti jejak yang mengarah dari kamp itu ke kamp lainnya, di sebelah sungai yang berbeda. Ini juga sudah dievakuasi oleh musuh. Kemudian, pemimpin patroli menerima telepon dari patroli yang berdekatan bahwa empat VC sedang mengarungi sungai ke arahnya. Tim Patroli hendak melakukan penyergapan dan menunggu selama dua jam, tetapi kapal itu tidak pernah muncul. Patroli kemudian bergerak lagi dan akhirnya mencapai persimpangan dua sungai. Mereka sekali lagi mempersiapkan penyergapan dan menunggu malam terakhir Operasi Lexington III. Patroli Kompi Alpha berkumpul di CP di Vung Tau keesokan harinya dan naik ke kendaraan konvoi yang menunggu untuk bergabung dengan sisa batalion di base camp mereka di Bear Cat, 25 mil jauhnya.
KESIMPULAN
Operasi Lexington III, yang resminya berlangsung dari tanggal 17 April sampai 9 Juni 1966 ini bisa dianggap sukses, dengan 58 VC dipastikan tewas, dengan hanya satu GI yang terbunuh, dan 4 personel lainnya mengalami luka ringan, termasuk dua kasus sengatan lebah yang parah. Operasi di Rung Sat telah berakhir, begitu pula tahun pertama unit 1-18 di Vietnam. Meski demikian, walau kapal-kapal kecil terbukti cukup mudah digunakan untuk memburu kamp-kamp VC di sekitar Zona Rung Sat, namun hasil dari operasi semacam ini terhitung terbatas, karena kompi-kompi yang dikerahkan harus dirotasi nyaris setiap hari, untuk menghindarkan para personelnya terpapar air terus menerus. Akhirnya dengan mendekatnya musim panas, para personel Divisi Infanteri ke-1 harus dikirimkan ke tempat lain untuk memberikan pukulan pada lokasi-lokasi VC yang dicurigai sedang mempersiapkan ofensif yang akan dimulai di musim penghujan. Jadi dapat disimpulkan bahwa, meski operasi ini secara taktis sukses, namun secara strategis dampaknya hanya sementara. Hingga setidaknya tahun 1970, Zona Rung Sat akan tetap menjadi kawasan yang “panas” diperebutkan kedua belah pihak dalam Perang Vietnam.


Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Vanguards in the Rung Sat by Ray Pezzoli, Jr.
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Rung_Sat_Special_Zone
The Rise and Fall of an American Army, Book by Shelby L. Stanton; p 100-101
VIETNAM COMBAT OPERATIONS – 1966 A chronology of Allied combat operations in Vietnam by Stéphane Moutin-Luyat – 2009
https://1-14th.com/Vietnam/Archives/MACV%20Reports/VietnamCombatOperations-1966%20d8562.pdf
