Perang Vietnam

Peran Kekuatan Udara dalam Invasi Vietnam sampai Penaklukan Akhir Khmer Merah di Kamboja (1978-1997)

Selepas jatuhnya kamboja ke tangan Khmer Merah pada bulan April 1975, negeri ini seakan lenyap dan terabaikan oleh masyarakat dunia karena Pol Pot dan rezimnya setelah berkuasa cenderung menutup diri dan memilih memulai proyek “gila” revolusi komunisnya. Di masa itu, yang kerap dikenal di Kamboja sebagai “Tahun NOL”, hanya ada sedikit orang atau wartawan luar Kamboja yang punya kesempatan untuk meliput apa yang sebenarnya terjadi di Kamboja. Ketenangan “semu” ini kemudian berubah ketika rezim komunis Phnom Penh memulai konflik dengan negara tetangganya sesama komunis, yakni Vietnam. Berbagai aksi penerobosan lintas batas negara, dan pembantaian penduduk sipil Vietnam oleh Khmer Merah, kemudian mendorong Vietnam untuk menginvasi Kamboja dan “menendang” rezim Pol Pot dari tampuk kekuasaan di Kamboja. Aksi Vietnam ini pada akhirnya akan memantik konflik militer tambahan yang akan berlangsung hampir 20 tahun di negeri yang sudah lama tercabik oleh perang ini. Dalam berbagai aksi militer selama perang yang kurang begitu dikenal di dunia ini, kekuatan udara diketahui dikerahkan oleh berbagai pihak dengan hasil yang beragam.

Pasukan Vietnam menduduki Phnom Penh. Berbagai aksi penerobosan lintas batas negara, dan pembantaian penduduk sipil Vietnam oleh Khmer Merah, telah mendorong Vietnam untuk menginvasi Kamboja dan “menendang” rezim Pol Pot dari tampuk kekuasaan di Kamboja. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

LATAR BELAKANG

Selain meneror penduduk Kamboja dan membuat Amerika Serikat gusar, Khmer Merah juga dengan cepat membawa Kamboja menuju konflik dengan Vietnam. Pada tahun 1976, sudah ada perpecahan pertama dalam kepemimpinan Khmer Merah. Pol Pot dan para pembantu terdekatnya gagal memahami bahwa ide-ide gila mereka tentang masyarakat Kamboja gagal. Sebaliknya, mereka malah melancarkan perburuan paranoid terhadap para “pengkhianat” yang dianggap bertanggung jawab atas “runtuhnya” revolusi. Fraksi lain di dalam Khmer Merah adalah para pemimpin yang dilatih di Vietnam. Mereka lalu menjadi korban utama perburuan Pol Pot, dan ribuan orang dibantai dalam pembersihan partai yang berdarah-darah. Hanya beberapa ratus orang yang kemudian berhasil melarikan diri ke Vietnam, di mana mereka membentuk Front Persatuan Nasional untuk Keselamatan Kampuchea (NUFSK), sebuah kekuatan yang mengaku sebagai anti-Khmer Merah, dan meminta bantuan Vietnam untuk menyingkirkan Pol Pot dari kekuasaan di Kamboja. Sementara itu, ketika Khmer Merah merebut kekuasaan pada tanggal 17 April 1975, mereka merampas sekitar 100 pesawat berbagai jenis milik Angkatan Udara Khmer. Beberapa di antaranya, termasuk dua pesawat serang T-28 di battambang, yang kemudian sengaja dihancurkan, sementara yang lainnya dibiarkan membusuk. Khmer Merah, yang mendasarkan revolusinya pada basis golongan petani, memilih untuk meninggalkan kehidupan perkotaan pada umumnya dan teknologi pada khususnya. Akibatnya, sektor penerbangan hanya mendapat sedikit perhatian dari Khmer Merah. Memang, para pengungsi Kamboja banyak menyebutkan bahwa langit tampak kosong, sehingga memperkuat anggapan bahwa Kamboja telah ditinggalkan oleh dunia luar. Pesawat yang direbut oleh Khmer Merah semakin habis pada tanggal 15 Mei 1975, ketika pesawat-pesawat serang A-6 Intruder dan A-7 Corsair II Angkatan Laut Amerika menyerang pangkalan udara Ream, menghancurkan lima dari 12 pesawat serang T-28 Trojan yang tersisa. Serangan itu terjadi bersamaan dengan operasi penyelamatan kapal barang Mayaguez oleh pasukan marinir AS. Di sisi lain, hubungan antara Khmer Merah yang ultra-Maois dan China berkembang secara positif. Selama pertengahan tahun 1975, peralatan militer pertama diterima dari China. Penasihat militer China juga tiba di Kampuchea, (nama pengganti dari Kamboja). Di antaranya adalah sekitar 320 penasehat angkatan udara.

16 April 1975. Sehari sebelum jatuhnya Phnom Penh. Pasukan pemerintah berdiri di Monivong Boulevard saat asap mengepul di kejauhan dari depot minyak yang terbakar. Ketika Khmer Merah merebut kekuasaan pada tanggal 17 April 1975, mereka merampas sekitar 100 pesawat berbagai jenis milik Angkatan Udara Khmer. (Sumber: https://twitter.com/)
Pasukan Marinir Amerika bertempur di Pulau Koh Tang dalam insiden kapal Mayaguez. Dalam insiden ini pesawat-pesawat yang direbut oleh Khmer Merah semakin habis, ketika pesawat-pesawat serang A-6 Intruder dan A-7 Corsair II Angkatan Laut Amerika menyerang pangkalan udara Ream, menghancurkan lima dari 12 pesawat serang T-28 Trojan yang tersisa. (Sumber: https://www.goodfon.com/)

Antara tahun 1975 dan 1977, China diketahui memasok rezim Pol Pot dengan lebih dari 200 tank, 16 pesawat tempur F-6C, beberapa kapal meriam angkatan laut, 30.000 ton amunisi, dan setidaknya 15.000 penasihat. Awalnya, Angkatan Udara Tentara Pembebasan Kampuchea (AFKLA) dibentuk kembali dengan menggunakan peralatan yang ditinggalkan oleh bekas Rezim Lon Nol. Salah satu proyek yang diprakarsai oleh China adalah pelatihan penerbangan utama di Pochentong. Helikopter UH-1H kemudian digunakan untuk pelatihan helikopter. Satu-satunya pilot terlatih asal Khmer, Pech Lim Kuon, kemudian membelot ke Thailand pada 30 April 1976 dengan helikopter UH-1H. Dia adalah salah satu dari sepuluh pilot yang dimiliki AU Khmer Merah (lima orang Kamboja dan lima orang China), yang menerima pelatihan penerbangan. Pelatihan udara kemudian juga dimulai dengan bantuan penasihat China di Battambang menggunakan pesawat Cessna T-41D dan T-28B/D. Pengungsi sempat juga berbicara tentang apa yang dianggap sebagai orang Korea Utara di Battambang, yang mencoba untuk memulihkan kelaikan udara sebanyak mungkin pesawat yang ada. Pangkalan udara baru di Kompong Chnnang diketahui dibangun oleh penasihat asal China. Sebuah film propaganda China dari sekitar tahun 1977 menunjukkan sekelompok pilot yang diduga anggota Khmer Merah bergegas siaga menuju pesawat T-28D mereka dan kemudian lepas landas untuk menjalankan “misi tempur”, dan kemudian membentuk kelompok terbang, terdiri dari setidaknya empat T-28D yang lepas landas dari Pochentong, masing-masing dipersenjatai dengan enam buah roket di bawah sayap. Selain kegiatan pelatihan, beberapa operasi penghubung dan transportasi terbatas juga telah dilanjutkan. Satu-satunya tim jurnalis asing yang diizinkan masuk ke Kampuchea pada saat itu – kecuali Kantor Berita Xinhua China – adalah dari TV Yugoslavia, yang datang pada tahun 1978 dan sempat melihat beberapa pesawat angkut C-47 yang beroperasi dari bandara Phnom Penh. 

Foto yang sangat langka di landasan bandara Pochentong pada bulan Januari 1979, menunjukkan pesawat-pesawat C-47 dan C-123K AFKLA (Khmer Merah). C-47 yang terlihat di latar depan memiliki bagian depan dan belakang badan pesawat yang dicat dengan warna zaitun. Bendera Negara Demokratik Kampuchea, dengan tiga menara kuning candi Angkor Watt dengan latar belakang merah, dilukis di bagian ekor pesawat. (Sumber: https://web.archive.org/)
Pesawat serang T-28 Trojan Kamboja. (Sumber: https://www.ebay.com/)

Akan tetapi, sumber-sumber Vietnam melaporkan bahwa AFKLA masih menggunakan beberapa pesawat C-47, C-123K, dan helikopter UH-1H pada tahun 1978. Sumber-sumber Barat pada saat itu memperkirakan kekuatan AFKLA adalah 16 jet tempur F-6C, 17 pesawat serang T-28D, 3 pesawat angkut C-123K, delapan pesawat angkut C-47, sepuluh helikopter UH-1H, dan sekitar sepuluh pesawat O-1, T-41D, dan AU-24 untuk observasi dan pelatihan. Jet tempur F-6C berbasis di Kompong Chnnang, pangkalan udara baru, bersama dengan sejumlah pesawat dan helikopter lain yang selamat dari pertempuran sejak tahun 1975, dan dioperasikan oleh satu unit Pencegat Pesawat Tempur. Selain F-6, China juga mengirimkan sejumlah senjata anti-pesawat kaliber 37, 57, dan 85mm. Kehadiran China di Kamboja kemudian menyebabkan ketegangan antara Pol Pot dan Hanoi. Meskipun sebagian pemimpin Khmer Merah secara ideologis selaras dengan paham Hanoi, pada tanggal 1 Mei 1975, mereka melancarkan serangan komando ke Pulau Phu Quoc, Vietnam. Pasukan Khmer lalu mundur tanpa mengalami pertempuran, tetapi hanya sepuluh hari kemudian mereka mencoba mendarat di Pulau Tho Chu, di mana orang-orang Vietnam melakukan perlawanan sengit. Pasukan Khmer kemudian mengambil 515 warga sipil Vietnam sebagai sandera dan mundur, sebelum mengeksekusi semua tawanan. Orang-orang Vietnam sangat marah, dan Angkatan Laut mereka lalu meluncurkan serangkaian operasi untuk menduduki kembali beberapa pulau yang dikuasai Khmer Merah. Sebagian besar operasi tersebut didukung oleh helikopter gunship UH-1H dan pesawat serang A-37B. 

China memasok 16 jet tempur F-6C ke Angkatan Udara Khmer Merah antara tahun 1975 dan 1978. Pesawat pada gambar diatas ini selamat dari invasi Vietnam pada tahun 1978, serta perang panjang pada tahun 1980-an, dan saat ini dapat dilihat dalam penyimpanan di Museum Angkatan Darat di Phnom. Penh. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada tahun 1976, situasi sudah sangat tegang, karena jumlah insiden di perbatasan terus meningkat. Vietnam sekarang menerbangkan sejumlah sorti pengintaian bersenjata untuk menunjukkan kekuatan mereka, tetapi mereka jarang menyerang. Namun demikian, pada tanggal 25 Februari, sebagai pembalasan atas serangan Khmer Merah lainnya, sebuah penerbangan jet tempur MiG-21 yang lepas landas dari Pakse AB, di Laos selatan, mengebom kota Kamboja, Sieam Reap. Selain itu, setelah pada bulan Juni 1976 Khmer Merah menyerang pos-pos perbatasan Vietnam di daerah Tien Thuan, dan kemudian pada awal tahun 1977 juga menyerbu Provinsi Svay Rieng dengan dua atau tiga resimen dan beberapa unit dukungan artileri, mulai bulan April di tahun yang sama, orang-orang Vietnam membalas dengan meluncurkan sejumlah serangan yang diterbangkan oleh pesawat-pesawat A-1, A-37, dan MiG-21, dan kemudian Angkatan Darat Vietnam memasang beberapa posisi pemblokiran di dalam wilayah Kamboja. Hanoi menduga bahwa China dapat mengerahkan unit-unit dari angkatan udara mereka di Kompong Chnnang. Pada saat itu, sumber-sumber Vietnam juga mengklaim bahwa AFKLA akan mendapatkan satu skuadron dengan sekitar selusin pesawat pembom H-5 (salinan Cina dari Il-28). Ketika jumlah insiden perbatasan terus meningkat, Vietnam akhirnya mulai melancarkan serangan pasukan khusus dan bahkan mengirimkan seluruh divisi militer ke Kamboja sebagai tanggapan atas tindakan agresif Khmer Merah.

Pesawat pembom H-5 (salinan Cina dari Il-28). Sumber-sumber Vietnam juga mengklaim bahwa AFKLA akan mendapatkan satu skuadron dengan sekitar selusin pesawat pembom H-5 (salinan Cina dari Il-28). (Sumber: https://www.britmodeller.com/)

Pada tanggal 30 April 1977, Khmer menyerang dan menduduki kota Chau Doc di Vietnam. Ribuan warga sipil dibantai sementara sejumlah besar orang Khmer Kroeum – orang Vietnam yang berasal dari Kamboja – dideportasi kembali ke Kamboja. Khmer Merah kemudian memperluas serangan mereka ke Provinsi Tay Ninh, dan pada bulan Oktober 1977, tidak kurang dari tiga divisi mereka – semuanya didukung oleh banyak artileri kaliber 105mm, 122mm, dan 130mm, serta tank Type-62 dan M-113 APC – dikerahkan setidaknya sepuluh kilometer jauhnya ke dalam wilayah Vietnam. Selama pertempuran di daerah tersebut, T-28D AFKLA untuk pertama kalinya terlihat menerbangkan misi dukungan udara jarak dekat. Membutuhkan beberapa waktu untuk bereaksi, pada tanggal 31 Desember, lima divisi Vietnam melakukan serangan balik, yang menyebabkan kerugian besar bagi Khmer Merah dan hampir memotong semua unit mereka di perbatasan. Mengambil keuntungan dari kekacauan di dalam tubuh Khmer Merah, dan secara permanen didukung oleh serangan AU Vietnam yang gencar, pasukan Vietnam kemudian melaju cepat di sepanjang Sungai Mekong, dan akhirnya mencapai kota Neak Luong. Pada pertengahan bulan Maret 1978, Khmer Merah mengorganisir kembali kekuatan mereka dan melancarkan serangan balik, yang akhirnya menyebabkan pasukan Vietnam mundur – dengan tertib – kembali ke perbatasan. Namun, dalam satu kasus, sebuah unit lapis baja Vietnam terputus oleh aksi Khmer Merah dan mendapat serangan yang hebat. Setelah menderita banyak korban ketika mencoba untuk menyelamatkan diri, kru tank Vietnam berjuang menuju tempat terbuka di hutan dan kemudian dievakuasi oleh helikopter Vietnam. 

Hun Sen sebagai Komandan Batalion Khmer Merah pada tahun 1970-an. Vietnam diketahui mengorganisir dan memperkuat NUFSK (kelompok orang-orang Kamboja anti Khmer Merah) yang pada bulan Desember 1978 memiliki kekuatan sekitar 15.000 hingga 18.000 petempur. (Sumber: http://khmerization.blogspot.com/)

Khmer Merah tidak menyerah, dimana pada tanggal 14 April 1978, mereka membuka front baru di daerah Ba Thuc, dengan mengerahkan dua divisi. Kedua unit tersebut lalu ditarik kembali ke Kamboja dalam waktu seminggu, tetapi hanya setelah mendeportasi 20.000 warga sipil Khmer Kroeum dan membantai 2.500 orang lainnya. Sebagai tanggapan, Vietnam mengerahkan tujuh divisi di sepanjang perbatasan dan pada bulan Juni menciptakan zona penyangga ke Kamboja, yang pada gilirannya menyebabkan pertempuran sengit dengan Khmer, yang berlangsung hingga bulan Desember 1978. Vietnam kemudian menggunakan “daerah yang dibebaskan” ini untuk mengorganisir ulang dan memperkuat NUFSK (kelompok orang-orang Kamboja anti Khmer Merah) yang pada bulan Desember 1978 memiliki kekuatan sekitar 15.000 hingga 18.000 petempur. Itu masih belum semuanya, rezim di Hanoi kemudian memutuskan untuk memperluas zona penyangga dan menghancurkan tulang punggung unit-unit Khmer Merah yang ditempatkan di sepanjang perbatasan. Namun, rencana ini terganggu oleh banjir terburuk di Delta Mekong sejak lebih dari 100 tahun terakhir, dan kemudian membuat semuanya berubah total. Rezim Vietnam sebenarnya tidak peduli dengan kebijakan genosida Khmer Merah, tetapi mereka lebih kepada ingin memenuhi ambisi historis mereka untuk menguasai wilayah, serta menghentikan penyebaran pengaruh China di Kamboja. Nguyen Co Thach, Menteri Luar Negeri Vietnam saat itu, kemudian mengatakan bahwa, “Hak asasi manusia bukanlah masalah; itu adalah masalah MEREKA – kami hanya peduli dengan soal keamanan.” China adalah musuh historis Vietnam; pada saat itu China juga merupakan musuh bebuyutan Uni Soviet. Akibatnya, Hanoi harus bertindak sesuai dengan kepentingannya sendiri dan juga kepentingan Soviet – yang terakhir ini sangat penting karena Uni Soviet akan “membiayai” petualangan mereka berikutnya. 

Nguyen Co Thach, Menteri Luar Negeri Vietnam. Co Thach menegaskan bahwa tindakan Vietnam di Kamboja bukanlah soal hak asasi manusia. (Sumber: https://alchetron.com/)

Pada tanggal 27 Desember 1978, 300 anggota NUFSK “menyerbu” wilayah Kamboja, dengan “didukung” oleh 200.000 tentara Vietnam yang kuat. Untuk invasi ke Kamboja, Angkatan Udara Republik Sosialis Vietnam (SRVAF) mengerahkan Grup Udara ke-901 – yang sebagian besar terdiri dari unit-unit dari Divisi Udara ke-372 yang hampir seluruhnya dilengkapi dengan pesawat-pesawat buatan AS. Menurut catatan, ketika Vietnam Selatan dikuasai oleh pasukan NVA pada tanggal 30 April 1975, sekitar 877 pesawat Vietnam Selatan dari berbagai jenis dirampas oleh tentara Vietnam Utara. Dari jumlah itu, 41 adalah pesawat tempur tipe F-5 dan 95 adalah pesawat serang A-37. Grup Udara ke-901 tidak memiliki unit yang ditugaskan secara permanen, tetapi untuk invasi ke Kamboja, grup ini terdiri dari resimen-resimen berikut: 

  • 935, dilengkapi dengan jet tempur F-5A dan F-5B, ditempatkan di Bien Hoa AB 
  • 937, dilengkapi dengan pesawat serang A-37B, ditempatkan di Phan Rang AB 
  • 938, dilengkapi dengan campuran pesawat angkut C-130, C-119K, dan C-47, berbasis di Gia Lam AB 
  • 917, dilengkapi dengan pesawat observasi U-17, L-19, helikopter UH-1, dan CH-47, berbasis di Tan Son Nhut AB 
Jet tempur Northrop F-5A ditarik truk Vietnam Utara tak lama setelah perang Vietnam berakhir (lihat benderayang berkibar); kode ekor pesawat ini adalah HJC. enurut catatan, ketika Vietnam Selatan dikuasai oleh pasukan NVA pada tanggal 30 April 1975, sekitar 877 pesawat Vietnam Selatan dari berbagai jenis dirampas oleh tentara Vietnam Utara. Dari jumlah itu, 41 adalah pesawat tempur tipe F-5 dan 95 adalah pesawat serang A-37. (Sumber: https://www.the-northrop-f-5-enthusiast-page.info/)
Pesawat serang A-37 yang dirampas Vietnam Utara dari Vietnam Selaran. Pesawat-pesawat ini aktif digunakan dalam invasi ke Kamboja. (Sumber: https://twitter.com/)

Pada suatu waktu, Grup Udara ke-901 juga mendapatkan tambahan kekuatan dari Resimen ke-916 SRVAF, yang dilengkapi dengan helikopter gunship Mi-24A. Menurut catatan Vietnam, unit ini sudah beroperasi pada saat invasi ke Kamboja; tetapi menurut laporan DIA, SRVAF baru menerima Mi-24A pertamanya pada bulan Januari 1980 – setahun penuh setelah invasi ke Kamboja. Menurut sumber yang sama, Resimen ke-916 pada awalnya dikerahkan di Hoa Lac, di Vietnam utara, untuk melawan serangan China. Laporan independen pertama tentang pengerahan Mi-24 di Kamboja menunjukkan kemunculannya di Than Son Nhut dan kemudian di Pochentong hanya pada tahun 1983. Sementara itu pada saat invasi, diperkirakan bahwa kekuatan udara AFKLA terdiri dari 16 jet tempur F-6C, 17 pesawat serang T-28, 10 helikopter UH-1H, delapan pesawat angkut C-47, tiga C-123K dan sekitar sepuluh pesawat observasi O-1, T-41D dan AU-24A. Tidak diketahui sejauh mana kekuatan AFKLA ini digunakan, meskipun H-5 dilaporkan diterbangkan oleh awak Korea Utara diklaim ditembak jatuh. Saat itu Angkatan Laut Revolusioner Kampuchea (Khmer: កងទ័ពជើងទឹករំដោះកម្ពុជា, LNK) di bawah rezim Khmer Merah awalnya memiliki kekuatan 17 kapal patroli kelas Swift buatan Amerika (tujuh di antaranya ditenggelamkan dalam serangan udara Mei 1975 oleh AS, saat insiden kapal Mayaguez). Selain itu mereka juga memiliki 2 kapal pemburu kapal selam E311 dan E312 (kelas PC-461), 3 LCU dan 1 LCM serta sejumlah kapal sungai kecil.

INVASI VIETNAM KE KAMBOJA

Invasi dimulai dengan serangkaian serangan udara berat yang diterbangkan pesawat-pesawat oleh F-5, dan A-37, yang mempersiapkan medan untuk gerak maju Divisi ke-207, 325, dan 968, yang semuanya didukung oleh artileri dan tank (salah satu pilot F-5 SRVAF yang ikut serta dalam invasi tersebut adalah Nguyen Thanh Trung, mantan pilot Angkatan Udara Vietnam Selatan yang sama, yang mengebom istana kepresidenan di Saigon, pada tanggal 5 April 1975, sebelum membelot ke pihak Vietnam Utara). Ada kemungkinan bahwa SRVAF juga mengerahkan beberapa pesawat serang A-1 Skyraider dalam pertempuran, namun, tidak ada dokumen resmi Vietnam yang menyebutkan hal ini, meskipun beberapa laporan DIA menunjukkan bahwa Vietnam terus mempertahankan hingga dua lusin Skyraider dalam dinas operasional hingga setidaknya tahun 1977. Faktanya, Museum SRVAF di Hanoi memiliki foto Skyraider yang baru saja keluar dari hanggar pemeliharaan dengan tanda-tanda Angkatan Udara Vietnam. Pasukan Vietnam maju dengan sangat cepat, dalam beberapa hari mencapai daerah Parrots Beak dan Fishhook, di mana pertempuran sengit dan berdarah terjadi selama berminggu-minggu. Tentara Vietnam tidak ragu-ragu untuk menggunakan taktik pengendali udara garis depan yang dikembangkan AS. Sebaliknya, mereka mengerahkan pesawat observasi Cessna U-17 untuk menemukan konsentrasi sekitar 30.000 petempur Khmer Merah di Fishhook dan mengarahkan serangan udara berat yang secara harfiah menghancurkan musuh-musuh mereka. Pesawat-pesawat observasi Cessna O-1 Bird Dog atau Antonov An-2 Colt dioperasikan sebagai pesawat FAC, dengan Cessna A-37B, Northrop F-5, dan MiG-21 digunakan sebagai pesawat serang. Sejak minggu kedua invasi, SRVAF juga mulai mengerahkan jet tempur MiG-21MF dan sejumlah helikopter gunship Mi-24A, yang biasanya dilengkapi dengan peluncur roket UB-16-57 dan UB-32-57, serta bom FAB-500. Sejumlah pesawat angkut C-130A juga dikonversi menjadi pesawat pengebom darurat, sementara sisanya di SRVAF terlibat dalam misi pengangkutan intensif, penghubung, dan misi dukungan lainnya. Anehnya, sejumlah pesawat Vietnam telah menggunakan tanda-tanda nasional NUFSK, yang diduga merupakan bagian dari “Angkatan Udara Pembebasan Nasional”: setidaknya satu C-47 dan satu Mi-6 terlihat mengenakan lambang tersebut. Praktik ini sebenarnya sudah diperkenalkan pada tahun 1975, ketika sejumlah kecil pesawat angkut SRVAF yang terlibat dalam mendukung serangan terakhir terhadap Vietnam Selatan telah menggunakan lambang Viet Cong – alih-alih lambang Vietnam Utara yang biasa, yang ironisnya menyatakan bahwa “tidak ada” pasukan Vietnam Utara yang terlibat dalam invasi ke Vietnam Selatan. 

Northrop F-5 Vietnam Utara yang masih aktif, perhatikan kamuflase model Vietnam Selatan yang masih digunakan. Bersama dengan Cessna A-37B, dan MiG-21, pesawat-pesawat F-5 digunakan sebagai pesawat serang selama invasi ke Kamboja. (Sumber: https://www.the-northrop-f-5-enthusiast-page.info/)
Pesawat C-130 Hercules yang dipakai oleh pasukan komunis Vietnam. Sejumlah pesawat angkut C-130A juga dikonversi menjadi pesawat pengebom darurat saat invasi ke Kamboja, sementara sisanya di SRVAF terlibat dalam misi pengangkutan intensif, penghubung, dan misi dukungan lainnya. (Sumber: https://twitter.com/)
A-37 Dragonfly digunakan oleh Angkatan Udara Rakyat Vietnam sebagai pesawat serang darat melawan Khmer Merah selama “perang Kamboja-Vietnam” tahun 1978. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Secara umum – dan meskipun ada beberapa masalah dengan pemeliharaan, karena kurangnya suku cadang – SRVAF lebih memilih pesawat tempur F-5A dan F-5E untuk misi udara-ke-darat daripada MiG, karena mereka dapat membawa muatan tempur yang lebih berat dalam jarak yang lebih baik. Selain itu, pesawat serang A-37 juga digunakan – dengan keberhasilan yang cukup besar – untuk menjalankan misi dukungan udara jarak dekat, terkadang juga dalam koordinasi dengan Mi-24A. Sementara itu tanggapan AFKLA sangat minim. Diketahui bahwa AFKLA terus menerbangkan beberapa operasi pengangkutan dan penghubung, dan ada desas-desus bahwa beberapa jet tempur F-6C juga selamat dari serangan awal Vietnam, dan menerbangkan sejumlah serangan – mungkin diterbangkan oleh pilot-pilot China. Namun, belum ada konfirmasi yang kuat untuk hal ini. Sementara konsentrasi tentara Khmer Merah di Fishhook dihancurkan secara metodis, dua divisi Vietnam terus maju lebih dalam ke Kamboja. Menghadapi serangan balasan yang fanatik, pada tanggal 30 Desember 1978 Kracheh berhasil direbut, dan dua hari kemudian Stung Treng juga berhasil direbut. Vietnam kemudian mendaratkan pasukan Marinir dan Divisi ke-12 ke pelabuhan Kampot, untuk mencegah China memasok kembali pasukan Khmer Merah. Pasukan Marinir kemudian melanjutkan gerak maju dengan cepat di sepanjang pantai.

U-17 Vietnam terlihat di Tan Son Nhut AB. Jenis pesawat ini digunakan secara ekstensif sebagai pesawat FAC selama invasi Vietnam di Kamboja. (Sumber: https://web.archive.org/)
F-5E SVRAF terlihat di Bien Hoa. F-5 dari Divisi Udara ke-372 berperan untuk mendukung invasi Vietnam ke Kamboja, pada bulan Desember 1978. Pesawat ini bertugas dengan istimewa selama tiga tahun berikutnya, sebelum SVRAF kehabisan suku cadang. Sebagian besar peralatan pendukung, suku cadang, dan senjata untuk F-5 Vietnam dijual ke Ethiopia, pada awal tahun 1980-an, dan ke Iran selama pertengahan tahun 1980-an. Pesawat tersebut, bagaimanapun, tidak pernah dijual di mana pun. (Sumber: https://web.archive.org/)
Helikopter CH-47A SRVAF dari Resimen ke-917 terlihat saat membongkar roket udara-ke-darat kaliber 2,75 inci di lapangan udara Kamboja selama operasi tahun 1979. Roket tersebut akan digunakan oleh detasemen helikopter gunship UH-1H. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada tanggal 2 Januari 1979, sebuah tim Pasukan Khusus Dac Cong diterjunkan dengan parasut ke Kamboja untuk sebuah operasi yang sangat penting secara politis. Mereka diperintahkan untuk membebaskan Pangeran Sihanouk dari tangan Khmer Merah dan mencoba meyakinkannya untuk bergabung dengan pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh Vietnam. Para penyerang menyeberangi Sungai Tonle Sap dengan perahu karet tetapi terdeteksi oleh pasukan Khmer Merah dan satu per satu pasukan yang ikut serta dibunuh oleh Khmer Merah. Setelah upaya yang gagal ini, Khmer Merah memutuskan untuk membebaskan Sihanouk, dan hal ini dilakukan pada tanggal 6 Januari 1979. Ia kemudian menaiki salah satu dari lima pesawat Boeing 707 milik maskapai penerbangan CAAC China yang digunakan untuk jembatan udara oleh Beijing. Meskipun ada serangan udara dari pesawat-pesawat VPAF, pesawat-pesawat CAAC ini terus melakukan penerbangan antar-jemput, membawa amunisi dan senjata serta mengevakuasi personil kunci Khmer Merah. Sihanouk setuju untuk pergi ke Beijing dan kemudian ke New York ke Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membela Kamboja. Keesokan harinya, helikopter VPAF telah memasukkan tim pasukan khusus ke dalam Phnom Penh untuk menduduki posisi-posisi penting di dalam kota yang ditinggalkan sementara pertempuran sengit terjadi di pinggiran kota. Pol Pot dan anggota Politbiro Khmer Merah lainnya kemudian menaiki dua hingga lima helikopter UH-1H – yang mungkin merupakan misi udara terakhir AFKLA – untuk melarikan diri dari Phnom Penh. Mereka terbang ke Pursat untuk beristirahat selama satu malam. Pada malam hari tanggal 7 Januari, pasukan Vietnam memasuki Phnom Penh. Keesokan paginya, Pol Pot memutuskan untuk melarikan diri ke Thailand. Lima helikopter Huey yang mengangkutnya dan rekan-rekannya nyaris saja terkena serangan udara SRVAF yang menghantam lapangan terbang setempat dan juga stasiun kereta api di kota itu. Helikopter-helikopter tersebut mencapai perbatasan Thailand dan mendarat, tetapi kemudian dirusak oleh para awaknya. Alih-alih melarikan diri ke Thailand, Pol Pot dan para pengikut terdekatnya memutuskan untuk menghilang di hutan, di mana mereka dapat memulai perang gerilya. 

Helikopter UH-1 Huey Angkatan Udara Rakyat Vietnam lepas landas dari LST-542 selama perang di Kamboja. (Sumber: https://www.reddit.com/)
Helikopter CH-47 Chinook digunakan oleh Tentara Rakyat Vietnam untuk mengangkut pasukan selama “Perang Kamboja-Vietnam” tahun 1978. (Sumber: https://www.reddit.com/)

Sementara itu, pada tanggal 5 Januari 1979, Vietnam berhasil merebut Neak Luang, dan – dua hari kemudian, setelah pertempuran berdarah lainnya – pasukan marinir menyerbu Kompong Song, merebut pangkalan udara setempat dan seluruh Angkatan Udara Khmer. Meskipun mengalami kekalahan besar, Khmer Merah terus bertempur, berusaha menahan pasukan Vietnam cukup lama untuk memungkinkan para pemimpin mereka melarikan diri ke pegunungan di Kamboja utara. Pada akhir bulan Januari, Vietnam mengakui telah menderita lebih dari 8.000 korban dalam pertempuran sejauh ini. Namun, para komandan mereka tidak membiarkan diri mereka terseret ke dalam perangkap untuk bergerak maju di belakang Phnom Penh dan lebih dalam ke Kamboja, mereka merencanakan sebuah operasi yang lebih hati-hati. Antara tanggal 15 dan 17 Januari 1979, pesawat-pesawat F-5 dan A-37 SRVAF menerbangkan lebih dari 400 serangan udara terhadap target-target di Kota Koh Kong, di perbatasan Thailand, mempersiapkan area untuk pendaratan amfibi lainnya. Hal ini dilakukan untuk membawa pasukan Vietnam jauh di belakang Phnom Penh, ke dalam posisi yang memungkinkan mereka untuk melancarkan serangan langsung ke Kamboja bagian tengah, sehingga dapat memutus jalur pelarian Khmer Merah ke Thailand dan China. Selama serangan di Koh Kong, sebuah A-37 SRVAF ditembak jatuh oleh tembakan darat, pilotnya, Dong Trung, melontarkan diri dengan selamat, tetapi ditangkap oleh orang Khmer dan disiksa hingga mati. Serangan SRVAF sebagian besar efektif karena berhasil menetralisir unit-unit Khmer Merah yang terorganisir. Sementara itu, pada tanggal 16 Januari, kapal torpedo Khmer Merah terakhir, yang lolos dari serangan udara Vietnam sejauh ini dicegat di Teluk Siam oleh Angkatan Laut Vietnam. Dalam pertempuran laut berikutnya yang melibatkan tidak kurang dari 22 kapal dari kedua belah pihak, sebagian besar kapal kapal Kamboja ditenggelamkan. Kemudian, dalam kemenangannya, Vietnam merampas beberapa pesawat AFKLA, diantaranya adalah enam pesawat tempur F-6C di Kompong Chhnang, sepuluh A-37, tiga C-123K, enam C-47, tiga helikopter Alouette II serta beberapa T-28. Sebagian besar pesawat yang dirampas lalu dibawa ke Vietnam, dan dimasukkan ke dalam inventaris VPAF.

REORGANISASI MILITER VIETNAM DAN KAMBOJA

Pada pertengahan bulan Maret 1979, Vietnam telah menguasai semua kota besar di Kamboja dan akan membentuk rezim boneka di Phnom Penh. Namun, terlepas dari perencanaan dan peluang yang brilian, mereka akhirnya gagal menggunakan setiap kesempatan untuk memukul Khmer Merah dan menghancurkan kemampuan tempurnya, sebaliknya, mereka membiarkan sejumlah besar pasukan Khmer Merah mundur ke benteng tradisional mereka di Pegunungan Cardamom. Masih belum jelas bagaimana hal ini bisa terjadi, tetapi banyak pengamat menyimpulkan bahwa ini adalah alasan yang sangat baik bagi Hanoi untuk membenarkan keberadaan pasukannya di Kamboja. Selain itu, rezim baru di Phnom Penh sebagian besar terdiri dari mantan anggota Khmer Merah. Presiden yang baru, Heng Samrin, misalnya, pernah menduduki jabatan tinggi di Khmer Merah dan merupakan salah satu politisi yang secara langsung bertanggung jawab atas pelaksanaan politik genosida. Hun Sen (yang kemudian menjadi Perdana Menteri), Chea Sim, dan Math Ly (anggota majelis nasional), Kang Sarin, Ney Penna, Nou Beng, dan yang lainnya adalah mantan anggota Khmer Merah, dan bertanggung jawab atas beberapa kekejaman terburuk di Provinsi Timur. Rezim baru ini juga menggunakan metode yang sama dengan Khmer Merah, yakni penyiksaan dan eksekusi sewenang-wenang tetap menjadi bagian dari kehidupan banyak orang Kamboja, seperti halnya ribuan orang yang dipaksa bekerja dalam proyek-proyek pertahanan komunal yang masif, yang mengingatkan kita pada program padat karya dari Khmer Merah. Mungkin pelanggaran hak asasi manusia terburuk dilakukan oleh “Rencana K-5”, yang bertujuan untuk menutup perbatasan dengan Thailand dengan kombinasi penggundulan hutan, tanggul, kanal, pagar strategis, dan ladang ranjau. Ambisi ini tidak hanya membawa perubahan dalam sudut pandang Thailand terhadap Kamboja, tetapi juga menyebabkan ribuan kematian. Dari sekitar 120.000 tenaga kerja yang digunakan untuk merealisasikan rencana ini, lebih dari 50.000 orang meninggal karena bekerja di beberapa medan terburuk di Kamboja, yang tidak hanya berisi ladang ranjau berbahaya (yang diletakkan oleh Khmer Merah), tetapi juga hutan lebat yang penuh dengan malaria. 

M113 ACAV VPA selama invasi ke Kamboja. Pada pertengahan bulan Maret 1979, Vietnam telah menguasai semua kota besar di Kamboja dan akan membentuk rezim boneka di Phnom Penh. (Sumber: https://militarymatters.online/)
Chea Sim dan Heng Samrin, 1980-an. Keduanya adalah bagian dari rezim boneka bentukan Vietnam di Kamboja. (Sumber: https://id.pinterest.com/)
Helikopter Huey Vietnam yang dipersenjatai dengan senapan mesin gatling buatan Amerika. (Sumber: https://militarymatters.online/)

Tidak mengherankan jika pada tahun 1980 sudah ada perlawanan bersenjata yang terorganisir terhadap pemerintah baru dan “penasihat” asingnya. Ketika Vietnam masih memiliki pasukan yang terdiri dari 180.000-224.000 tentara dalam sepuluh divisi (termasuk divisi ke-2, ke-4, ke-5, ke-7, ke-8, ke-9, ke-302, ke-309, ke-330, dan ke-339, serta brigade marinir ke-950 dan ke-126) yang dikerahkan di Kamboja, Khmer Merah bangkit kembali, dan kembali menghimpun sekitar 23.000 hingga 30.000 petempur. Tak lama kemudian, muncul pula dua kelompok non-komunis, Front Pembebasan Nasional Rakyat Kamboja (KPNLF), yang berevolusi dari sisa-sisa rezim lama Lon Nol, dan berkembang menjadi antara 55.000 hingga 75.000 petempur, serta Armée Nationale Sihanoukist (ANS) yang terdiri dari para pendukung Pangeran Sihanouk dan berjumlah antara 7.000 hingga 8.500 petempur. Sebagian besar kelompok oposisi tidak dilengkapi dengan baik, kekurangan senjata dan perbekalan. Karena itu, mereka jarang beroperasi dalam kelompok yang lebih besar dari 20 atau 30 orang. Serangan terbesar dilakukan oleh kelompok-kelompok yang terdiri dari 100 atau 200 orang, terhadap pos-pos terdepan, lahan pertanian, konvoi pasokan, dan target-target lunak lainnya yang dianggap layak untuk diserang. Orang-orang Vietnam juga mengorganisir ulang Angkatan Darat Kamboja resmi, yang sekarang disebut Angkatan Bersenjata Revolusioner Rakyat Kamboja (KPRAF), yang seiring berjalannya waktu berkembang menjadi antara 40.000 hingga 75.000 tentara, yang dilengkapi dengan antara 60 dan 80 tank T-54/55 (semuanya bekas Vietnam), dua lusin PT-76, BTR-60, V-100, K-63 dan M-113 APC, dan beberapa artileri kaliber 155/130/122mm – dan juga sebuah angkatan baru, yang berada di urutan keempat, yakni Angkatan Udara Rakyat Kampuchea (PKAF). 

Cadillac Gage V-100 digunakan dengan VPA. Beberapa kendaraan tempur ini kemudian diberikan kepada tentara rezim Phnom Penh. (Sumber: https://militarymatters.online/)
Sekelompok tentara pemerintah mengibarkan bendera Kamboja di posisi yang mereka pertahankan di dekat kubu Khmer Merah di Pailin. Angkatan Bersenjata Revolusioner Rakyat Kamboja (KPRAF), yang seiring berjalannya waktu berkembang menjadi antara 40.000 hingga 75.000 tentara, yang dilengkapi dengan antara 60 dan 80 tank T-54/55 (semuanya bekas Vietnam), dua lusin PT-76, BTR-60, V-100, K-63 dan M-113 APC, dan beberapa artileri kaliber 155/130/122mm. (Sumber: https://www.gettyimages.co.uk/)
T-54 Angkatan Darat Kamboja terlihat dalam perawatan. (Sumber: https://web.archive.org/)

PKAF dibangkitkan kembali pada tahun 1984 dan 1985, dan pada awalnya memiliki resimen transportasi udara campuran, yang mengoperasikan selusin helikopter Mi-8 dan beberapa pesawat angkut An-24. Meskipun ada beberapa rumor, tidak ada F-6C bekas Khmer Merah yang pernah dioperasikan lagi, dan hanya pada tahun 1988 Vietnam mengizinkan PKAF untuk membentuk komponen pesawat tempur baru. Unit ini dikenal sebagai Resimen Tempur ke-701, dan dilengkapi dengan 24 jet tempur MiG-21bis dan tiga MiG-21UMS. 13 pesawat pertama dikirim oleh Soviet ke Bien Hoa AB, di Vietnam, tempat pelatihan kru mereka dan satu pesawat hilang dalam sebuah kecelakaan. Namun, unit ini tidak dinyatakan beroperasi sebelum tahun 1989, dan karena itu tidak akan sampai ke Kamboja pada waktunya untuk berpartisipasi dalam perang yang sedang dikobarkan Vietnam. Sebaliknya, tugas utama PKAF adalah mengurangi beban Angkatan Darat Vietnam, terutama dengan membangun benteng dan berpatroli di daerah-daerah yang menjadi tempat aktifnya berbagai kelompok gerilyawan. Awalnya, PKAF terdiri dari beberapa batalyon, tetapi kemudian diperluas menjadi resimen dan akhirnya menjadi divisi. Pada pertengahan tahun 1980-an, PKAF terdiri dari tujuh batalyon infanteri, empat batalyon tank, dan dua batalyon zeni. Meskipun tidak menghadapi ancaman nyata dari luar, Angkatan Darat ini, bagaimanapun, mulai menderita karena banyaknya pembelot yang bergabung dengan ANS, Khmer Merah, dan kelompok-kelompok lain. 

MiG-21bis PKAF dari Resimen ke-701 terlihat saat mengisi bahan bakar di Pochentong AB pada tahun 1989. Selama fase terakhir perang di masa pendudukan Vietnam, mereka terlibat dalam operasi dukungan darat, terutama melawan pasukan NKPLF di sekitar Battambang, Namun, dengan kepergian Vietnam penasihat dan pembubaran PKAF dalam menghadapi kedatangan PBB, layanan operasional MiG-21 Kamboja akan berlangsung sangat singkat. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada awal tahun 1980-an, SRVAF juga mengalami serangkaian reorganisasi, yang diprakarsai terutama karena meningkatnya masalah dalam pengoperasian pesawat-pesawat buatan AS. Dengan dukungan Soviet – yang sementara itu meningkat menjadi sekitar 500 juta dolar AS per tahun – beberapa Resimen Udara dilengkapi dengan pesawat baru. Elemen-elemen Grup Udara ke-901 adalah beberapa yang diprioritaskan dalam proses ini, resimen-resimennya diperlengkapi sebagai berikut: 

  • 935, yang dilengkapi dengan jet tempur F-5A dan F-5B, telah mendapatkan MiG-21bis dari tahun 1982; 
  • 937, yang dilengkapi dengan pesawat serang A-37B, diperlengkapi kembali dengan sekitar 45 pesawat pembom tempur Su-22M-3K pada tahun 1980 dan A-37 secara bertahap dipensiunkan; unit ini akan diperlengkapi kembali dengan Su-22M-4K pada tahun 1989, dan diperkuat oleh 25 Su-22M-4K yang telah diperbaharui dan di-upgrade pada tahun 1995. 
  • 938, yang dilengkapi dengan campuran pesawat angkut C-130, C-119K, dan C-47, dilengkapi kembali dengan An-2 dan An-26; 
  • 917, yang dilengkapi dengan pesawat observasi U-17, L-19, helikopter UH-1, dan CH-47, dilengkapi kembali dengan helikopter Mi-8; 
  • 916 tetap dilengkapi dengan helikopter gunship Mi-24A.
Northrop F-5A Freedom Fighter nomor 10271 di Bien Hoa AB pada awal tahun 1980-an. Di dekade 1980an, pesawat-pesawat buatan Amerika mulai jarang digunakan karena kelangkaan suku cadang. (Sumber: https://www.the-northrop-f-5-enthusiast-page.info/)
Satu-satunya pesawat pencegat yang dikerahkan di Kamboja pada 1980-an adalah MiG-21 yang dapat diandalkan dari Angkatan Udara Republik Sosialis Vietnam (SRVAF). MiG-21bis dari Resimen ke-935 terlihat di Bien Hoa pada pertengahan tahun 1980-an. Unit tersebut telah menerbangkan F-5A dan F-5E sebelumnya. (Sumber: https://web.archive.org/)
Resimen ke-937 SRVAF menukar pesawat Cessna A-37B-nya dengan Su-22M-3K antara tahun 1980 dan 1983. Sekelompok pilot tampak mendiskusikan misi serangan mereka di atas peta ketika foto ini diambil. (Sumber: https://web.archive.org/)

Dua unit tambahan kemudian ditambahkan ke Grup Udara 901, keduanya dilengkapi dengan jet tempur MiG-21bis. Resimen ke-931 dan 933, keduanya mulai beroperasi dengan total sekitar 25 MiG-21bis yang dipasok oleh Uni Soviet sejak tahun 1979. Sebagian besar pesawat ini berbasis di pangkalan udara Kompong Chnnang dan Battambang serta Kompong Son, yang semuanya telah diperbesar dan dibentengi oleh Vietnam. Namun, sebagian besar helikopter berbasis di Ban Nimit, tempat pangkalan helikopter besar dikembangkan. Pada saat itu, SRVAF sebenarnya mengoperasikan sekitar 270 pesawat tempur sayap tetap, 200 helikopter, dan 127 pesawat angkut, tetapi sebagian besar kekuatan ini sibuk menahan ancaman China di bagian utara negara itu. Oleh karena itu, Grup Udara ke-901 tetap menjadi satu-satunya unit besar yang dikerahkan di Kamboja. 

PERANG YANG DIRAHASIAKAN DENGAN THAILAND

Khmer Merah tidak perlu menggunakan segala cara untuk mengisolasi Kamboja dari dunia luar, begitu Thailand mulai mendukung Khmer Merah dan kelompok-kelompok bersenjata Kamboja lainnya, rezim baru yang dipasang oleh Vietnam melanjutkan politik memusuhi tetangganya. Pertempuran antara Kamboja dan Thailand sebenarnya bukanlah hal yang baru. Seperti diketahui, RTAF telah menerbangkan operasi tempur di Kamboja sejak tahun 1966, dan terutama pada awal tahun 1970-an. Pada bulan Juli 1977, pertempuran sengit antara Angkatan Darat Thailand dan Khmer Merah meletus di daerah Aranyaprathet, dan jet tempur F-5E RTAF dipanggil untuk melakukan misi CAS. Tentu saja, RTAF juga menggunakan helikopter secara besar-besaran untuk mendukung pasukan darat di medan yang berat. Faktanya, tampaknya reaksi Thailand pada saat itu begitu keras, sehingga menjadi salah satu alasan mengapa Khmer Merah lebih memilih berbalik melawan Vietnam, karena Khmer Merah tidak pernah bisa membangun pangkalan permanen di sepanjang perbatasan Thailand. Situasi semakin memburuk setelah invasi Vietnam karena sejumlah besar orang Khmer Merah melarikan diri ke Thailand dan mendirikan pangkalan baru di sana, dan bahkan lebih banyak lagi ketika pemberontakan terhadap Vietnam meningkat. Pemerintah Thailand di bawah Kriangsak Chamanan memutuskan untuk menampung para pengungsi Khmer Merah, sebagai imbalan atas janji Deng Xiaoping dari China untuk mengakhiri dukungan material kepada pemberontak komunis di Thailand. Terlepas dari tantangan ekonomi yang luar biasa, yang dibawa oleh Khmer Merah dan para pengungsi yang menyertainya, Pemerintah Thailand melindungi dan memberi tempat bagi Khmer Merah di kamp Khao Larn di Provinsi Trat. Sebagai balasan, orang-orang Vietnam kemudian mulai mendukung oposisi komunis di Thailand, yang kemudian berkembang menjadi kekuatan sekitar 10.000 petempur. Selama 20 tahun berikutnya, RTAF kemudian terlibat dalam kampanye anti gerilya yang berlarut-larut di dalam dan di luar perbatasannya, insiden serius pertama terjadi pada tanggal 23 Juni 1980 ketika Vietnam menyerang pangkalan NKPLF di daerah Aranyaprathet. Sebagai tanggapan, RTAF dan Angkatan Darat Thailand membalas, tetapi pihak Vietnam menembak jatuh sebuah helikopter dan juga sebuah pesawat O-1 FAC. 

Seorang gunner Vietnam terlihat dalam posisinya di dalam ruang kargo sebuah pesawat transport C-130A Hercules SVRAF. Perhatikan bom-bom Mk.82 buatan AS pada palet di sekelilingnya dan “periskop” darurat serta sistem penargetan yang memungkinkannya untuk melihat sasaran, mengaktifkan dan menjatuhkan bom tepat waktu. SVRAF menggunakan pesawat C-130 dan An-26 secara ekstensif yang dilengkapi dengan cara ini untuk melakukan serangan terhadap kubu gerilyawan pada tahun 1980-an. (Sumber: https://web.archive.org/)

Sementara itu, pada tahun 1982, situasi di Kamboja sedemikian rupa sehingga tidak ada konvoi pasokan Vietnam yang dapat berjalan tanpa dukungan setidaknya satu regu tank T-55. Pasukan Vietnam memiliki jumlah kendaraan pengangkut personel M-113 dan BTR-60 yang tidak mencukupi, dan mengalami banyak kerugian dalam penyergapan di jalan. Rusia kemudian mulai memasok lebih banyak helikopter Mi-8 dan Mi-24A, dan Vietnam bahkan mengaktifkan sejumlah T-28D, yang ditinggalkan dari masa AVNK, tetapi tank-tank ini sebenarnya jarang digunakan. Namun, situasi tidak membaik, dan akhirnya pembalasan yang jauh lebih masif diperlukan. Pada tahun 1981 ada desas-desus tentang Vietnam yang menggunakan sejumlah pesawat angkut An-2 untuk menyemprotkan senjata kimia ke pusat-pusat konsentrasi Khmer Merah. Pada tahun 1982, SRVAF kadang-kadang beroperasi di dekat dan bahkan di perbatasan Thailand. Terutama pesawat angkut An-26 Vietnam, yang dilengkapi dengan peralatan pengumpul informasi ELINT/SIGINT digunakan untuk melacak operasi Angkatan Darat Thailand dan mencari basis dan aktivitas gerilyawan. Pada tanggal 11 Februari sebuaj An-26 dengan nomor 26264 milik Vietnam People’s Air Force ditembak jatuh oleh dua jet tempur Northrop F-5E Angkatan Udara Kerajaan Thailand dan jatuh di sawah dekat Prachinburi, Thailand selama misi pengumpulan data intelijen dari Phnom Penh, dimana dilaporkan satu dari 13 orang di dalamnya dilaporkan tewas. Baik Hanoi maupun Bangkok sendiri tidak tertarik untuk melebarkan perang, dan akibatnya, reaksi atas operasi-operasi semacam itu dilakukan dengan sangat hati-hati oleh kedua belah pihak. Pada bulan April 1983, Vietnam kembali menyerang pangkalan NKPLF di daerah Aranyaprathet, tetapi mendapat perlawanan sengit. Pada tanggal 4 April, dua pesawat tempur F-5E RTAF pertama mengebom orang-orang Vietnam, dan selama beberapa hari berikutnya serangan-serangan tambahan diterbangkan sebelum sebuah pesawat A-37 dijatuhkan oleh rudal panggul SA-7, pada tanggal 8 bulan itu. Pada akhir bulan Maret 1984, Vietnam melancarkan serangan terhadap pangkalan Khmer Merah di pegunungan Dongrek, di seberang provinsi Sisaket. Ketika pasukan Vietnam memasuki wilayah Thailand, Angkatan Darat Thailand merespons dengan menembaki mereka dan memanggil bantuan serangan pesawat A-37. Pertempuran berlanjut hingga bulan April dan RTAF meningkatkan serangan yang memaksa tentara Vietnam untuk mengerahkan unit-unit artileri antipesawat. Pada tanggal 14 April, sebuah pesawat O-1 Thailand dijatuhkan, diikuti keesokan harinya oleh pesawat A-37B. 

A-37B RTAF yang penuh muatan bom dari Skuadron ke-211/Wing ke-21 terlihat di Pangkalan Ubon pada tahun 1980-an. Pesawat-pesawat Dragonfly terlibat secara ekstensif melawan pasukan Vietnam yang menyerbu wilayah Thailand. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada bulan November 1984, Vietnam memusatkan kekuatan 75.000 tentara untuk melakukan operasi besar melawan ANS dan Khmer Merah di sepanjang perbatasan Thailand. Tidak banyak yang dilaporkan tentang serangan ini, tetapi diketahui bahwa pada bulan Januari 1985 pertempuran meluas hingga ke perbatasan Thailand, di daerah Ampil. Vietnam menggunakan banyak artileri dan tank yang memaksa militer Thailand untuk bereaksi. RTAF kembali dipanggil dan pesawat A-37 menerbangkan sejumlah serangan udara. Namun, kali ini, Vietnam telah menyiapkan pertahanan udara mereka, dan juga sejumlah jet tempur MiG-23MLD Soviet yang dikerahkan di Cam Ranh Bay AB, dan yang terakhir terlihat menerbangkan misi CAP di sepanjang perbatasan Thailand. Sebenarnya, ada beberapa laporan yang belum dikonfirmasi tentang “perjumpaan” antara pesawat tempur F-5E RTAF dan MiG Soviet, serta helikopter Vietnam, tetapi tampaknya ini semua disebarkan oleh pemerintah di Bang Kok dengan target memaksa Washington untuk memasok pesawat tempur F-16 yang lebih modern. RTAF sangat khawatir dengan kemungkinan bahwa Vietnam akan membeli beberapa MiG-23. Akhirnya, pada bulan Maret 1985, Amerika Serikat akhirnya setuju untuk menjual delapan F-16A dan empat F-16B, senilai $ 318 juta. Ini merupakan bagian substansial dari anggaran RTAF pada saat itu dan oleh karena itu angkatan udara dipaksa untuk mengurangi proyek-proyek lain. Sebagai contoh, akuisisi tambahan C-130 ditunda. Faktanya, satu-satunya keterlibatan langsung Soviet di Kamboja adalah di bidang operasi transportasi taktis. Tak lama setelah jatuhnya Phnom Penh, pada bulan Januari 1979, pesawat-pesawat Il-76 dan An-12 Soviet – semuanya memakai warna corak maskapai Aeroflot – terlihat terbang membawa bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan. Namun, pesawat-pesawat yang sama juga terlihat mengangkut peralatan untuk Angkatan Darat Vietnam. Ketika China menginvasi Vietnam utara pada bulan Februari 1979, pesawat-pesawat angkut Soviet itu juga digunakan untuk memindahkan empat divisi Vietnam (divisi ke-10, ke-304, ke-320, dan ke-325) dari Kamboja ke daerah Hanoi. Soviet mempertahankan satu detasemen An-12 di Kamboja antara tahun 1980 dan 1982, yang kemudian digantikan oleh sejumlah An-26 SRVAF. Namun, pesawat-pesawat ini juga harus diterbangkan oleh pilot-pilot Soviet, karena Vietnam tak memiliki kru yang memenuhi syarat untuk menerbangkannya. Praktik ini terus berlanjut selama sisa tahun 1980-an. 

Ketakutan akan MiG-23MLD Soviet atau akuisisi Flogger oleh Angkatan Udara Vietnam mendorong RTAF untuk membeli delapan F-16A dan empat F-16B pada Maret 1985. Mereka kemudian akan melengkapi Skuadron ke-103/Wing ke-1 di Korat AB. (Sumber: https://web.archive.org/)

Kembali ke serangan Vietnam terhadap Khmer Merah, pada bulan Januari 1985, pertempuran meluas hingga ke perbatasan di sekitar Ampil. Vietnam menggunakan artileri dan tank, memaksa Thailand untuk bereaksi. Angkatan Darat Thailand lalu meminta bantuan RTAF dan tak lama kemudian, pesawat-pesawat A-37 menerbangkan misi pengeboman. Pihak Vietnam telah siap untuk menghadapi ini, dan pada 8 Januari, mereka menjatuhkan sebuah A-37B dengan rudal panggul SA-7. RTAF terus menerbangkan sorti serangan dengan pesawat A-37 dan F-5 hingga tentara Vietnam mundur beberapa hari kemudian. Ketika serangan Vietnam berakhir, pada bulan Maret 1985, serangan ini dinyatakan sebagai “keberhasilan lain” oleh Hanoi. Faktanya, Khmer Merah memang melemah, tetapi tidak musnah. Sejak saat itu, Vietnam mengubah taktik mereka. Menyadari tidak ada gunanya mengeluarkan upaya besar dalam pertempuran dengan gerilyawan yang selalu mengelak, Vietnam berkonsentrasi untuk memenangkan hati dan pikiran penduduk Kamboja, sambil berusaha menghemat sumber daya mereka. Di sisi lain, gerilyawan juga memiliki masalah mereka sendiri. Sebagian besar pemimpin KPNLF adalah anggota Angkatan Darat Kamboja yang dilatih oleh Amerika Serikat, yang mana pelatihan dan pengalaman sebelumnya membuat mereka sulit untuk beradaptasi dengan persyaratan perang gerilya yang terus berubah. Khmer Merah dalam hal ini lebih mudah, diuntungkan oleh pengalaman mereka sebelumnya; ANS, sebaliknya, keluar dengan kekalahan yang cukup parah dari kampanye pada tahun 1984-1985, dan kemudian berusaha menghindari konfrontasi yang tidak perlu, dan sebaliknya berkonsentrasi pada penetrasi jauh ke dalam Kamboja, dalam rangka meningkatkan pengaruhnya. 

F-5E RTAF dari Skuadron ke-102/Wing ke-1 Korat terlihat kembali dari patroli di sepanjang perbatasan Kamboja pada tahun 1987. F-5E Thailand terlibat dalam misi pengawalan dan serangan darat. (Sumber: https://web.archive.org/)

Selain itu, buat Vietnam, memusuhi Thailand terbukti bukan ide yang terbaik. Pada akhir bulan Mei 1985, Marinir Thailand dikirim untuk menyerang pasukan Vietnam yang bersembunyi di sepanjang bagian selatan perbatasan bersama Thailand-Kamboja. Serangan terbatas ini didukung oleh RTAF, yang menghantam pasukan Vietnam dengan keras. Pesawat-pesawat pengebom tempur Thailand tetap aktif pada minggu-minggu dan bulan-bulan berikutnya, dengan jet tempur F-5 dan A-37 menerbangkan sejumlah besar serangan CAS. Tanggapan Vietnam sangat lemah, kemudian pihak Thailand hanya melaporkan adanya sebelas “serangan” senjata atau rudal anti-pesawat Vietnam. Faktanya, pada saat itu pasukan Vietnam sudah kewalahan. Hanoi tidak dapat mendukung serangan yang berlarut-larut, dan Angkatan Daratnya tidak dapat beroperasi secara ofensif di beberapa bagian Kamboja secara bersamaan. SRVNAF juga menghadapi masalah yang cukup besar. Jumlah Su-22M-3K yang tersedia – satu-satunya pesawat pengebom tempur mereka yang mampu membawa muatan perang yang lebih berat – selalu rendah, karena beberapa harus ditahan untuk pertahanan wilayah Vietnam sendiri, dan beberapa selalu dalam pemeliharaan, sementara MiG-21 terbukti buruk dalam menjalankan COIN. Akibatnya, mereka kekurangan daya tembak dan mulai mengadaptasi pesawat angkut C-130 dan An-26 sebagai pengebom. Dalam upaya untuk mencegah gerilyawan mencapai lebih dalam ke wilayah Kamboja, sejak pertengahan 1980-an, Vietnam dan KPRAF memperkuat Wilayah Militer 4, di barat laut Kamboja, dan bahkan mulai melakukan operasi pencegahan di perbatasan Thailand. Pada tahun 1986, Khmer Merah sangat lemah oleh serangan Vietnam, sehingga sebagian besar orang Khmer Merah mengungsi ke Thailand – di kamp-kamp yang sudah penuh sesak oleh mantan lawan mereka; ANS dan KPNLF, yang bagaimanapun juga, menjadi semakin populer di Kamboja, karena penduduknya masih dapat mengingat saat-saat ketika mereka memerintah sebagai masa-masa yang (relatif) damai dan makmur. Akibatnya, Vietnam memusatkan sekitar 45.000 tentara – termasuk unit elit mereka, seperti brigade E.117/Dak Cong (Aksi Khusus) – di wilayah ini saja, dan mereka secara permanen terlibat dalam patroli intensif. 

Sepanjang tahun 1980-an SRVAF menggunakan sebagian besar armada pesawat transportasi udaranya dikonversi sebagai pembom. Helikopter tempur – seperti Mi-8 ini – juga banyak digunakan untuk misi dukungan darat. Pesawat pembom tempur didatangkan dari Vietnam hanya selama serangan musim kemarau tahunan. Mi-8 SRVAF dari Resimen ke-917 ini terlihat selama persiapan serangan lainnya. (Sumber: https://web.archive.org/)
Helikopter Mi-24 Angkatan Udara Rakyat Vietnam. (Sumber: http://rpdefense.over-blog.com/)

Namun, Thailand tidak tinggal diam. Pada bulan Januari 1987, rezim di Phnom Penh mengklaim bahwa pesawat RTAF melanggar wilayah udara Kamboja tidak kurang dari 33 kali. Ini merupakan indikasi yang sangat baik tentang betapa masifnya operasi Thailand di sepanjang perbatasan bersama kedua negara – terutama mengingat fakta bahwa cakupan radar yang buruk di wilayah udara Kamboja kemungkinan besar gagal mendeteksi lusinan serangan lainnya. Kemudian helikopter pesawat-pesawat tempur UH-1, L-19, A-37, dan F-5 Thailand menerbangkan patroli udara tempur yang hampir secara permanen di sepanjang perbatasan! Pasukan di lapangan tahu betul apa yang sedang terjadi dan segera setelah itu, laporan pertama diketahui tentang pasukan reguler Vietnam yang sering dihantam oleh serang F-5E RTAF, yang menjatuhkan bom napalm. Sebagian besar operasi semacam itu tidak dilawan oleh SRVAF atau KPRAF, meskipun mereka mengoperasikan helikopter Mi-8, Mi-24, dan T-28 di daerah tersebut. Namun, pada bulan yang sama, sebuah pesawat observasi L-19 RTAF ditembak jatuh di Kamboja. Sebagai balasannya, Thailand mulai memasok rudal panggul SA-7 MANPAD ke Khmer Merah dan KPNLF, dan hanya sebulan kemudian sebuah helikopter Mi-8 Vietnam juga ditembak jatuh di dekat Phnom Priel. Namun demikian, karena rendahnya intensitas operasi udara Vietnam dan Kamboja, sebagian besar MANPAD yang mahal itu “membusuk” dalam kelembapan jauh sebelum ada kesempatan untuk menggunakannya. Sementara itu, Vietnam memutuskan untuk mengubah taktik mereka dan mulai menyerang Thailand dalam perang konvensional. Setelah membersihkan daerah perbatasan dari kamp-kamp gerilyawan, mereka memutuskan untuk merebut dan menguasai sebagian wilayah Thailand, untuk mencegah infiltrasi gerilyawan. Pada bulan Januari 1988, mereka menduduki celah gunung Chong Bok, di selatan Ubon. Pesawat-pesawat F-5 RTAF kemudian dikirim untuk mengebom tempat itu beberapa kali dan pada bulan April mendukung serangan balasan Angkatan Darat Thailand. Namun, daerah tersebut tidak dapat dikembalikan ke bawah kendali Bang Kok, sebelum serangan balasan lainnya, yang dilakukan oleh pasukan khusus Thailand, yang baru kemudian dapat menguasai kembali tempat itu setelah digempur habis-habisan oleh pesawat-pesawat tempur F-5 RTAF. 

AU KAMBOJA YANG MEMBONGKAR DIRI

Secara umum, Vietnam tidak pernah mendapatkan kemudahan di Kamboja. Terbiasa dengan perang gerilya, di mana mereka unggul selama beberapa dekade (pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang menggambarkan Vietnam memiliki “pasukan infanteri ringan terbaik di dunia”), mereka sekarang harus memainkan peran baru – peran sebagai pasukan konvensional yang ditugaskan untuk menduduki Kamboja melawan pasukan gerilya di medan tempur. Vietnam juga melakukan dua kesalahan fatal. Mereka gagal menghancurkan Khmer Merah pada tahun 1979, karena percaya bahwa posisi baru mereka di negara itu tidak dapat diganggu gugat, dan kemudian mereka gagal mencegah perkembangan gerakan gerilya tambahan di seluruh negeri. Terlebih lagi, karena tidak mampu membiayai perang yang lebih besar melawan Thailand, mereka tidak akan pernah bisa menghancurkan basis gerilyawan di negara itu. Pada tahun 1989, Hanoi terpaksa memperingatkan rezim di Phnom Penh bahwa mereka akan segera menarik pasukannya dari negara itu. Moskow akan menghentikan dukungan keuangan untuk Vietnam, yang jelas tidak dapat mempertahankan perang tetap berlangsung sendirian. Setelah negosiasi yang panjang, disepakati bahwa pasukan Vietnam akan meninggalkan Kamboja pada tahun 1990, meninggalkan rezim di Phnom Penh untuk memerintah negara itu sendirian. Pada tahun 1988, Vietnam diperkirakan memiliki sekitar 100.000 tentara di Kampuchea. Antara bulan April dan Juli 1989, 24.000 tentara Vietnam dipulangkan. Kemudian, antara tanggal 21 dan 26 September 1989, setelah menderita 15.000 tentaranya tewas dan 30.000 lainnya luka-luka selama 10 tahun pendudukan, komitmen Vietnam di Kampuchea secara resmi berakhir, ketika sisa 26.000 tentara Vietnam ditarik keluar. Sebelum pergi, mereka memperkuat KPRAF menjadi lebih dari 100.000 petempur, dan memberikan banyak senjata baru. Selain itu, Resimen Tempur ke-701 akhirnya diizinkan untuk kembali ke Kamboja, meskipun unit ini masih harus didukung oleh instruktur dan teknisi Vietnam. Segera setelah unit ini tiba, mereka diperkuat oleh 16 MiG-21bis dari Uni Soviet, dan kemudian diterjunkan ke medan tempur – terutama untuk melawan serangan KPLNF di Provinsi Battambang dan Oddar Meanchey. Pesawat-pesawatnya biasanya dipersenjatai dengan roket kaliber 57mm.

Pasukan Vietnam di Kampong Cham sebelum penarikan mereka dari Kamboja pada akhir tahun 1989. (Sumber: https://www.khmertimeskh.com/)
Tentara Vietnam menunggu untuk meninggalkan Kamboja pada tanggal 20 September 1989, setelah Hanoi menyatakan rencana penarikan pasukannya dari Kamboja. (Sumber: https://www.khmertimeskh.com/)

Namun, jelas, tidak ada harapan bahwa 28 MiG-21bis, tiga MiG-21UM, dan 100.000 tentara Kamboja yang terdemoralisasi akan berhasil bertahan ketika 200.000 tentara Vietnam yang telah teruji dalam pertempuran tidak dapat melakukannya. Benar saja, kelompok perlawanan bersenjata yang menentang pemerintah PRK yang dipasang oleh Vietnam kemudian mengklaim bahwa pasukan Vietnam masih beroperasi di tanah Kampuchea lama setelah bulan September 1989. Misalnya, kelompok non-komunis yang terlibat dalam operasi perampasan tanah di Kampuchea barat setelah penarikan melaporkan terlibat bentrokan dengan Pasukan Khusus elit Vietnam di dekat Tamar Puok di sepanjang Rute 69. Kemudian, pada Maret 1991, unit-unit Vietnam dilaporkan masuk kembali ke Provinsi Kampot untuk mengalahkan serangan Khmer Merah. Terlepas dari klaim tersebut, pada tanggal 23 Oktober 1991, Pemerintah Vietnam menandatangani Perjanjian Perdamaian Paris, yang bertujuan memulihkan perdamaian di Kampuchea. Memang, segera setelah pasukan Vietnam mundur, gerilyawan memulai serangan yang kuat, merebut sebagian besar wilayah barat laut Kamboja, dan kemudian maju ke pusat negeri itu, merebut sejumlah besar persenjataan dan peralatan yang sedang dalam perjalanan. Namun demikian, pada saat yang sama PBB berusaha untuk menengahi negosiasi perdamaian. Hal ini sangat bermasalah dari awal, karena Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, menyalahkan Pangeran Sihanouk yang bersikeras bahwa Khmer Merah yang melakukan “genosida” harus diikutsertakan dalam pemerintahan transisi yang akan berkuasa dan mempersiapkan pemilihan umum yang demokratis. Meskipun menganggap Hun Sen sebagai “antek Vietnam”, Sihanouk memahami bahwa tidak ada perdamaian di Kamboja yang mungkin terjadi tanpa partisipasi Khmer Merah. Sebaliknya, sebagai mantan anggota Khmer Merah, Sen juga tahu bahwa mantan teman-temannya akan menganggapnya sebagai orang yang mengkhianati mereka dan membelot ke Vietnam. Namun demikian, pada tahun 1991, sebuah perjanjian damai ditandatangani di Paris. Gencatan senjata toh hanya berlangsung selama satu bulan, ketika Khmer Merah melancarkan serangan baru terhadap pemerintah, para petempurnya kembali melakukan kekejaman terhadap penduduk sipil. Hasilnya adalah pembantaian baru dan kekacauan ekonomi. Pada bulan Juni 1991, meskipun dilemahkan oleh pembelotan baru dan kurangnya peralatan, pemerintah bereaksi dengan melakukan serangan balasan terhadap kota Pailin. Di tengah situasi ini, PBB menjadi aktif, mengerahkan 28.000 tentara dan polisi dari Australia, Austria, Kanada, Cina, Prancis, India, Indonesia, Jepang, Pakistan, dan Swedia dalam upaya untuk menciptakan perdamaian yang langgeng. Kontingen PBB di Kamboja dikenal sebagai Otoritas Transisi PBB di Kamboja (UNTAC), dan didukung oleh sejumlah pesawat sewaan, termasuk C-130H dari Angkatan Udara Malaysia, dan pesawat angkut C-160F dari Angkatan Udara Prancis, serta beberapa helikopter (enam SA.330 Puma Prancis, serta Mi-17 dan Mi-26 Rusia). Komandan UNTAC, Letnan Jenderal Sanderson dari Australia, memimpin pasukannya dengan penuh disiplin, keberanian, dan cukup berhasil, meskipun pasukan PBB itu setidaknya pernah berada di ambang perang dengan gerilyawan lokal. 

Pasukan Khmer Merah, menjadi elemen terkuat yang melawan pemerintah Kamboja selama pendudukan dan setelah hengkangnya pasukan Vietnam. (Sumber: https://www.documentarytube.com/)
Helikopter SA.330 Puma Perserikatan Bangsa-Bangsa lepas landas di dekat kompleks kuil, sebagai bagian dari operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memulihkan perdamaian di Kamboja yang disebut UNTAC (Otoritas Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kamboja). (Sumber: https://www.gettyimages.fi/)

Di bawah pengawasan UNTAC, pada bulan Oktober 1991, PKAF dipaksa untuk membubarkan diri. Selama negosiasi yang disponsori oleh PBB, masing-masing faksi yang bertikai setuju untuk melucuti sebagian angkatan bersenjatanya dan pemerintah Kamboja menyimpulkan bahwa mereka dapat hidup tanpa angkatan udaranya. Pada saat itu, PKAF masih terdiri dari Resimen Tempur ke-701, yang dilengkapi dengan sekitar selusin MiG-21bis operasional, dan elemen transportasi dengan 12 Mi-8, dua pesawat Tu-134, satu An-12, dan tiga An-24. Selama proses ini, semua MiG-21 disimpan di Pochentong dan berada di bawah kendali kontingen Angkatan Darat India di UNTAC, meskipun beberapa pesawat angkut dan helikopter tetap beroperasi untuk operasi terbatas di bawah naungan perusahaan penerbangan nasional yang baru, Kampuchea Airlines. Saat disimpan, MiG-21 telah mendapatkan tanda nasional yang baru, sementara PKAF – sekali lagi – berganti nama menjadi “Angkatan Udara Kamboja” (SCAF). Namun, secara efektif, angkatan udara ini tidak beroperasi dan sebagian besar personelnya dipaksa untuk pergi. UNTAC kemudian mengawasi pemilihan umum demokratis bebas pertama yang diadakan di Kamboja pada bulan Mei 1993, di mana pemerintahan yang ada dikukuhkan. Khmer Merah memboikot pemilu tersebut, meskipun hampir 3.000 petempur Khmer memutuskan untuk berpihak pada pemerintah. Oleh karena itu, pertempuran terus berlanjut, dan pada tanggal 5 November 1993, Khmer menembak jatuh sebuah pesawat Mi-17 UNTAC di dekat Anghor. Namun, para penumpang dan kru, yang terdiri dari tiga pilot Rusia, tujuh warga Pakistan dan seorang warga India berhasil ditemukan dengan selamat. 

MiG-21bis terlihat di sebuah hanggar di Pochentong AB, dekat Phnom Penh, pada awal 1990-an. (Sumber: https://web.archive.org/)

Sementara itu, Angkatan Udara Kamboja yang baru – Royal Cambodian Air Force (RCAF) – dibentuk kembali pada tahun 1993, dan berada di bawah kendali pemerintah koalisi baru yang muncul setelah pemilihan umum. RCAF yang terlahir kembali mengubah lagi tanda kebangsaannya, kembali ke tanda yang digunakan pada periode 1954-1970. RCAF kemudian memasukkan banyak mantan personel dari era Lon Nol dan berada di bawah komando Jenderal Norodom Vatvany, seorang perwira yang kompeten yang bertugas di angkatan udara pada periode 1970-1975. Namun demikian, kurangnya dana dan personel membuat upaya pemulihan menjadi sangat sulit. Angkatan udara yang baru hanya dapat menghidupkan kembali kemampuan serangan terbatas dengan setengah lusin MiG-21 yang beroperasi serta berbagai pesawat angkut dan helikopter, kecuali An-12 Cub dan dua Tu-134 yang dijual kepada operator sipil. Di sisi lain pihak Khmer Merah tidak peduli dengan kondisi RCAF yang buruk, dan mereka terus melanjutkan kegiatan mereka. Oleh karena itu, pada tanggal 4 Januari 1994, Komandan Distrik Militer 4, Jenderal Long Sopheap, mengerahkan gugus tugas yang terdiri dari 1.500 tentara untuk menyerang Anlong Ven, salah satu basis Khmer Merah yang paling penting. Serangan tersebut dipukul mundur, namun Angkatan Darat Kamboja tidak akan menyerah. Pada awal Maret 1994, sebuah serangan baru dimulai terhadap “ibu kota” Khmer Merah, kota Pailin, di perbatasan Thailand. Serangan ini mencapai klimaksnya antara tanggal 19 dan 21 Maret, dengan pertempuran sengit yang berkecamuk di daerah tersebut sampai Pailin jatuh. RCAF berpartisipasi dalam pertempuran, menerbangkan beberapa sorti pengintaian bersenjata dengan MiG-21. Bahkan, pihak Khmer Merah kemudian mengklaim telah merusak salah satu MiG, yang terpaksa mendarat di Battambang. Sementara itu, para wartawan asing diterbangkan ke Pailin dengan menggunakan Mi-8 RCAF, hanya untuk mendapati bahwa lapangan terbang setempat masih menjadi sasaran serangan mortir musuh. Bahkan, hanya sepuluh hari kemudian Khmer Merah melakukan serangan balik, merebut kembali Pailin dengan bantuan artileri dan sejumlah tank Type-59.

Selama serangan musim kemarau tahun 1996, RCAF juga mengerahkan tiga BN-2 Islander. Mereka digunakan sebagai pesawat bersenjata ringan, yang menembakkan roket dan bahkan menjatuhkan peluru mortir. Satu BN-2 diketahui hilang selama serangan ini. (Sumber: https://web.archive.org/)

Pada bulan Mei di tahun yang sama, pemerintah mengerahkan tidak kurang dari 7.000 tentara untuk tugas yang sama, didukung oleh sejumlah tank dan artileri berat. Kali ini Pailin berhasil ditaklukkan, tetapi Khmer Merah sebagian besar berhasil lolos lagi. Justru sebaliknya, pada tanggal 26 Juli, Khmer Merah menyerang sebuah kereta api, menewaskan 13 orang dan menangkap sepuluh orang, termasuk beberapa orang asing. Pemerintah pertama-tama mencoba untuk bernegosiasi untuk membebaskan para sandera, kemudian memerintahkan Angkatan Darat untuk bertindak. Kota Phnom Vaour – tempat para sandera ditahan – dikepung dan ditembaki habis-habisan, sebelum pasukan khusus masuk. Orang-orang Khmer Merah melarikan diri sementara semua sandera dibunuh. Sementara itu, Angkatan Darat Kamboja berada di tengah-tengah serangkaian reorganisasi, yang dimulai pada tahun 1993 dengan dukungan yang cukup besar dari Australia, Indonesia, dan bahkan Israel, yang terutama didasarkan pada fakta bahwa pemerintah mengakui perlunya memperkuat militer dengan peralatan militer tambahan dan metode pelatihan yang lebih modern. Awalnya, beberapa tank T-55, serta APC BTR-6 dan OT-64 dibeli dari Polandia dan Republik Ceko, diikuti oleh dua helikopter Mi-17 dari Slovakia. Dua helikopter raksasa Mi-26 kemudian diperoleh dari Ukraina, serta dua helikopter AS.350, satu SA.365, dan satu pesawat TB-20 Tobago dari Perancis. Akuisisi lainnya adalah tiga BN-2 Defender, sebuah Fokker F.28, Dassault Falcon 20, enam pesawat latih Technam P.92 dari Italia, dua pesawat latih Y-12 dari China, serta Cessna 401, Cessna 421, Beech 200 King Air, dan Aero Commander. Indonesia diketahui telah melatih 225 penerjun payung, tetapi RCAF adalah yang terdepan untuk mendapatkan keuntungan dari kerja sama dengan Israel, yang secara praktis menambahkan enam pesawat latih L-39 Albatros yang telah diperbaharui, dan menawarkan untuk merekonstruksi seluruh angkatan udara, termasuk perbaikan hingga 24 pesawat tempur MiG-21bis. Sebagai hasilnya, diambil keputusan untuk mengirim empat MiG ke Israel untuk diremajakan dan dimodifikasi oleh IAI.

“Gambaran khas” dari medan perang Kamboja: sebuah BTR-60 Angkatan Darat Kamboja mendekati salah satu kuil bercorak Kamboja. (Sumber: https://web.archive.org/)
RCAF juga memperoleh dua Mil Mi-26 dari Ukraina dan mengerahkannya selama serangan musim kemarau tahun 1996. Helikopter berat ini awalnya diterbangkan dan dirawat oleh personel kontrak asal Eropa Timur. (Sumber: https://web.archive.org/)

Tidak lama kemudian, RCAF mengalami pukulan berat, ketika pada tanggal 4 Maret 1995, sebuah Technam P.92 menabrak sebuah kuil di Kompong Rank, menewaskan wakil komandan angkatan udara. Tragedi ini terjadi pada saat angkatan udara yang kecil ini menghadapi masalah keuangan yang sangat besar. Kamboja memiliki cukup banyak pilot pesawat tempur dan helikopter, tetapi tidak memiliki dana: dari sebelas helikopter Mi-17 yang dipasok dari Rusia (semuanya berpangkalan di Pochentong), misalnya, hanya enam yang beroperasi secara normal. Akibatnya, IAI berhenti mengerjakan empat MiG yang sudah ada di Israel, dan pesawat-pesawat itu tetap disita di negara itu selama beberapa tahun. Alih-alih MiG, Israel memperbarui dua L-39 dan memodifikasinya dengan sistem navigasi modern dan kompatibilitas dengan beberapa persenjataan Barat (kontrak awal, senilai $6 juta, merencanakan pengiriman sepuluh L-39 ke Kamboja, tetapi hanya dua yang dikirim). Namun, pukulan lain terjadi pada tahun 1997. Pada tanggal 12 Desember, Mayor Eour Vuthy terbunuh ketika menerbangkan salah satu dari dua L-39 di distrik Koh Thom, Provinsi Kandal, tepat di luar ibukota. Untuk serangan pemerintah yang baru, yang diluncurkan selama musim kemarau pada tahun 1996, RCAF hanya dapat memberikan dukungan yang sangat terbatas, termasuk lima helikopter Mi-17 yang dikonfigurasikan sebagai helikopter gunship, dan tiga BN-2. Pada saat itu, semua MiG-21 yang tersisa dikandangkan karena kurangnya suku cadang dan personel yang memenuhi syarat untuk memeliharanya. Serangan yang menargetkan Pailin kembali gagal, dan Angkatan Darat menderita banyak korban, termasuk setidaknya dua lusin tank. Kegagalan ini terutama disebabkan oleh perbedaan pendapat di dalam militer, karena ada pasukan yang merasa setia kepada Perdana Menteri pertama, Norodom Ranariddh, dan yang lainnya setia kepada mantan komunis yang sekarang menjadi Perdana Menteri ke-2, Hun Sen. Satu-satunya yang positif adalah pembelotan sebagian pasukan Khmer Merah ke pihak Pemerintah. Pada bulan Agustus 1996, sekitar 3.000 pasukan Khmer Merah dan pemimpinnya, Ieng Sary, bernegosiasi untuk bergabung dengan pasukan pemerintah dan kemudian menyerah! Namun demikian, selama tahun-tahun berikutnya pemerintah perlahan-lahan menjadi lebih sukses, terutama karena Khmer Merah sekarang semakin melemah oleh desersi dan perpecahan, yang sebagian besar dimotivasi oleh Ranariddh dan Sen, yang berusaha menarik elemen-elemen Khmer Merah ke pihak mereka. Pada bulan Maret 1997, sebuah Mi-17 RCAF yang dikirim ke Preah Vihear, membawa delegasi yang akan bernegosiasi dengan Khmer Merah, terbang menuju ke dalam jebakan. Para utusan ditangkap dan helikopter dihancurkan. Pada bulan Juni 1997, Pol Pot – dan Khieu Samphan (tokoh senior di dalam Khmer Merah) – ditangkap di daerah terpencil Anlong Veng oleh sebagian kecil Khmer Merah yang berbalik menentangnya, yang dipimpin oleh Ta Mok. Pot meninggal dalam tahanan pada tanggal 15 April tahun berikutnya, tetapi Ta Mok tidak akan memimpin lebih lama lagi. 

Kamboja menerima antara 24 dan 28 MiG-21bis dari Uni Soviet pada awal tahun 1980-an. Pesawat ini melihat penggunaan yang relatif sedikit dalam perang yang panjang, sebagian besar menjadi terlantar pada awal tahun 1990-an. Empat dikirim ke Israel untuk mernjalani perbaikan (menurut beberapa sumber juga akan dibawa ke standar MiG-21bis-2000), tetapi sejauh ini hanya dua yang dikembalikan, karena kekurangan dana. Tanda kamuflase yang ditampilkan di sini adalah yang digunakan oleh Angkatan Udara Kamboja antara tahun 1989 dan 1994. Hari ini, angkatan udara Kamboja kembali menggunakan tanda dari era sebelum tahun 1970. (Sumber: https://web.archive.org/)
Angkatan Udara Kerajaan Kamboja yang dibangkitkan pada tahun 1990-an hanyalah cerminan lemah dari kekuatannya di periode 1960-an – 1970-an. Mereka terutama menerbangkan beberapa pesawat angkut ringan dan helikopter. Mil Mi-17 ini sedang diisi bahan bakar di Pochentong pada tahun 1996. (Sumber: https://web.archive.org/)
Selama serangan musim kemarau tahun 1996 terhadap kubu Khmer Merah di Pailin, RCAF hanya dapat mengerahkan lima helikopter tempur Mi-17, selain delapan Hip lainnya yang digunakan sebagai helikopter transportasi. Sebuah Gunship Mi-17 terlihat di sini dengan muatan penuh roket kaliber 57mm. (Sumber: https://web.archive.org/)

Sementara itu, Sen menduga bahwa wakil perdana menterinya secara diam-diam bernegosiasi dengan Khmer Merah, dan bahwa pasukan gabungan ini dapat dikerahkan untuk melawannya. Dia segera bertindak, mengirim Angkatan Darat untuk menangkap Ranaridh. Pertempuran sengit terjadi di Phnom Penh antara tanggal 4 dan 6 Juli 1997, tetapi akhirnya Sen muncul sebagai pemenang. Kekacauan yang ditimbulkan oleh pertempuran tersebut mengancam keselamatan orang-orang asing yang tinggal di kota dan Thailand memutuskan untuk mengerahkan empat pesawat C-130H ke Pochentong untuk mengevakuasi mereka. Pesawat-pesawat F-16 RTAF juga disiagakan dalam keadaan siaga, siap untuk melakukan intervensi jika operasi evakuasi tersebut mendapat perlawanan. Ranariddh kemudian melarikan diri ke arah perbatasan Thailand dengan sebagian pasukannya. Pertempuran di Phnom Penh berdampak buruk pada RCAF, meskipun mereka tetap bersikap netral, sebagian besar personelnya merasa setia kepada Ranariddh, dan kemudian dibersihkan. Pada bulan Mei 1998, Angkatan Darat mendesak Khmer Merah keluar dari pangkalan terakhir mereka di dalam Kamboja. Pasukan Khmer Merah bertempur dengan sengit, bertahan untuk setiap wilayah yang mereka kuasai, tetapi pasukan Kamboja yang baru, yang berpengalaman dalam perang COIN dan dilengkapi dengan peralatan yang lebih baik dari sebelumnya berhasil mengungguli dan mengalahkan mereka. Serangan ini kemudian menyebabkan krisis pengungsi yang cukup besar, seperti halnya para petempur Khmer Merah, sekitar 60.000 warga sipil melarikan diri ke Thailand, tetapi situasi ini dapat diatasi setelah pemilihan umum berikutnya, pada bulan Juli 1998. Sejak saat itu, Kamboja relatif damai, meskipun masih ada aktivitas gerilya dan bandit dari sisa-sisa Khmer Merah. Penduduknya sudah muak dengan perang, dan pemerintah yang berganti-ganti berusaha untuk menciptakan perdamaian yang langgeng dan memulai pemulihan ekonomi. 

Seorang tentara pemerintah berjalan di depan tank yang terbakar di sudut jalan di Phnom Penh pada tanggal 7 Juli 1997, setelah pertempuran meletus ketika Perdana Menteri Kedua Hun Sen menggulingkan saingan politiknya, Perdana Menteri Pertama Pangeran Norodom Ranariddh. (Sumber: https://www.phnompenhpost.com/)
Sebuah C-130H RTAF dari Skuadron ke-601/Wing ke-6 terlihat di sini selama latihan evakuasi sandera sipil. Pada dua kesempatan, pada bulan Juli 1997 dan Januari 2003, Hercules Thailand harus benar-benar terbang ke Phnom Penh untuk menjemput warga negara Thailand dan asing lainnya yang terancam. (Sumber: https://web.archive.org/)
Gunship Mi-17 RCAF biasanya meningkatkan daya tembaknya dengan menambahkan dua senapan mesin kaliber 7,62mm pada bukaan pintu clamshell belakang. (Sumber: https://web.archive.org/)

Saat ini, Angkatan Udara Kamboja yang kecil dan kekurangan dana – yang dikomandoi oleh Jenderal Kong Mony, mantan pilot MiG-21 yang dilatih oleh Soviet dan Vietnam – hanya perlahan-lahan pulih, dan hampir tidak lebih dari sekadar bayangan lemah dari kekuatannya di tahun 1970-an. Pada bulan Desember 1999, Israel mengembalikan dua MiG-21 yang telah dimodifikasi oleh IAI, setelah sebelumnya terdampar di Lod, karena Phnom Penh tidak dapat membayar biaya perbaikannya. Namun, dua MiG-21 lainnya tetap berada di Israel, dan nasib akhir mereka tidak diketahui. MiG-21 yang dikembalikan jarang diterbangkan dan sebagian besar kegiatan operasional terkonsentrasi pada penggunaan helikopter Mi-17 dan pesawat latih P.92. Namun demikian, pada tahun 2000 – dengan dukungan keuangan dari Tiongkok dan Jepang – CAF mampu meningkatkan jumlah L-39 yang beroperasi menjadi lima, bahkan meski dua di antaranya hampir dikandangkan secara permanen karena kurangnya suku cadang. Selama tiga tahun kemudian, Kamboja beberapa kali dilanda gelombang kebencian anti-Thailand. Kehadiran ekonomi Thailand sangat terasa dan beberapa politisi bermain-main dengan tradisi pertentangan antara kedua negara. Pada tanggal 29 Januari 2003, massa yang marah menyerang kedutaan besar Thailand di Phnom Penh dan membakarnya. Dalam peristiwa ini, Polisi Kamboja terkenal karena ketidakaktifan mereka walaupun kekerasan telah menyebar ke bagian lain kota. Para pengunjuk rasa – sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa – menyerang bisnis milik orang-orang Thailand dan menghancurkan mobil-mobil, memprotes pernyataan yang dibuat oleh seorang aktris Thailand yang mengatakan bahwa kuil-kuil Angkor Watt yang terkenal itu adalah bagian dari Thailand. Pemerintah di Bang Kok kemudian mendesak Phnom Penh untuk segera memulihkan ketertiban dan memberikan jawaban. Menghadapi keengganan Kamboja untuk melakukan hal tersebut, Thailand meminta untuk bisa mengirimkan pesawat transpost militer untuk mengevakuasi warganya, mengklaim bahwa jika Kamboja tidak dapat memberikan keamanan di bandara, mereka akan memasukkan pasukan khusus ke dalam Phnom Penh. RTAF pun bersiaga, siap untuk turun tangan dan perbatasan pun ditutup. Akhirnya, pemerintah Kamboja mengalah dan setuju untuk membiarkan pesawat-pesawat Thailand mendarat. Pada tanggal 30 Januari, lima pesawat C-130H dari Skuadron ke-601 RTAF mendarat di Pochentong untuk menjemput 511 warga negara Thailand, termasuk 14 staf kedutaan.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Cambodia, 1954 – 1999; Part 3 By Albert Grandolini, Tom Cooper, & Troung; Jan 25, 2004, 06:25

https://web.archive.org/web/20060613030819/http://www.acig.org/artman/publish/article_411.shtml

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vietnam_People%27s_Air_Force

Cambodia Air Force of the Khmer Liberation Army by Jan Forsgren

http://www.aeroflight.co.uk/waf/aa-eastasia/cambodia/cam-af-history3.htm

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Kampuchea_Revolutionary_Army

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Cambodian%E2%80%93Vietnamese_War

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Vietnamese_border_raids_in_Thailand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *