Pertempuran Laut Tsushima (27-28 Mei 1905) yang mengubah Wajah Asia dan Sejarah Dunia

Akhir Mei 2019 menjadi peringatan 114 tahun kekalahan dahsyat Angkatan Laut Kekaisaran Rusia dari Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dalam Pertempuran Tsushima. Pertempuran itu terjadi pada 27-28 Mei 1905 (14-15 Mei dalam kalender Julian yang saat itu digunakan di Rusia) di Selat Tsushima yang terletak di antara Korea dan Jepang selatan. Dalam pertempuran ini, armada Jepang di bawah Laksamana Tōgō Heihachirō menghancurkan dua pertiga dari armada Rusia, di bawah Laksamana Zinovy Rozhestvensky, yang telah melakukan perjalanan lebih dari 18.000 mil laut (33.000 km) untuk mencapai Timur Jauh. Di London pada tahun 1906, Sir George Sydenham Clarke menulis, “Pertempuran Tsu-shima sejauh ini merupakan pertempuran laut terbesar dan paling penting sejak Trafalgar”; beberapa dekade kemudian, sejarawan Edmund Morris setuju dengan penilaian ini. Kehancuran angkatan laut Rusia memicu reaksi negatif dari masyarakat Rusia, yang mendorong ditandatanganinya perjanjian damai pada bulan September 1905 tanpa ada pertempuran lebih lanjut.

Pertempuran Laut Tsushima tahun 1905 banyak dinilai sebagai pertempuran laut terpenting hingga saat itu sejak pertempuran Trafalgar

Prestise Kekaisaran Rusia hancur dan kekalahan itu merupakan pukulan telak bagi dinasti Romanov. Sebaliknya pertempuran ini memiliki dampak budaya dan politik yang mendalam pada bangsa Jepang dan bangsa-bangsa Asia. Pertempuran Itu merupakan kekalahan pertama kekuatan Eropa oleh bangsa Asia di era modern, yang turut memicu nasionalisme Bangsa-Bangsa Asia yang ada dibawah bayang-bayang kolonialisme negara-negara Eropa.

Perkembangan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang sebelum Pertempuran Tsushima

Pada tahun 1870, dekrit Kekaisaran menetapkan bahwa Angkatan Laut Kerajaan Inggris bukan Belanda yang harus menjadi model untuk pengembangan Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang modern. Pada tahun 1873, sebuah misi angkatan laut Inggris yang terdiri atas tiga puluh empat orang, dipimpin oleh Letnan Komdr. Archibald Douglas, tiba di Jepang. Douglas memimpin pengajaran di Akademi Angkatan Laut di Tsukiji selama beberapa tahun, misinya tetap di Jepang sampai 1879. Secara substansial misinya telah memajukan pengembangan angkatan laut Jepang dengan membangun tradisi berdasarkan tradisi Inggris mulai dari masalah pelayaran hingga gaya seragam dan sikap petugasnya.

Laksamana Archibald Lucius Douglas (1842-1913) salah seorang yang menjadi peletak dasar Angkatan Laut Modern Kekaisaran Jepang

Dari September 1870, Letnan Horse dari Inggris, yang merupakan mantan instruktur meriam untuk wilayah Saga selama periode Bakumatsu, ditugaskan untuk memimpin latihan menembak meriam di atas kapal Ryūjō. Pada tahun 1871, kementerian memutuskan untuk mengirim 16 peserta pelatihan ke luar negeri untuk pelatihan ilmu-ilmu angkatan laut (14 ke Inggris, dua ke Amerika Serikat), di antaranya adalah Heihachirō Tōgō. Kemudian, Komandan L. P. Willan dipekerjakan pada tahun 1879 untuk melatih taruna angkatan laut.

Kaisar Meiji (1852-1912) mendorong kebijakan “belajar ke Barat” yang turut berpengaruh dalam membawa arah corak Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang berkiblat ke Inggris

Kapal-kapal perang seperti Fusō, Kongō dan Hiei dibangun di galangan kapal Inggris, mereka adalah kapal perang pertama yang dibangun di luar negeri khusus untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Perusahaan konstruksi swasta seperti Ishikawajima dan Kawasaki juga mulai muncul sekitar waktu ini.

Kapal Perang Ironclad Fuso merupakan kapal perang pertama yang dibangun di luar negeri khusus untuk Angkatan Laut Kekaisaran Jepang, yang kemudian membantu membangkitkan industri kapal perang dalam negeri Jepang.

Setelah perang melawan Cina, Intervensi tiga negara (Russia, Prancis dan Jerman) di bawah kepemimpinan Rusia, menekan Jepang untuk melepaskan klaimnya ke Semenanjung Liaotung. Jepang sangat menyadari kekuatan angkatan laut yang dimiliki ketiga negara di perairan Asia Timur, khususnya Rusia. Dihadapkan dengan sedikit pilihan, Jepang mengembalikan wilayah itu kembali ke China dengan tambahan 30 juta tael (sekitar ¥ 45 juta). Dengan penghinaan atas pengembalian paksa Semenanjung Liaodong itu, Jepang mulai membangun kekuatan militernya dalam persiapan menghadapi konfrontasi di masa depan. Modal politik dan dukungan publik untuk perkuatan angkatan laut diperoleh sebagai hasil dari konflik baru-baru ini dengan Cina, juga mendorong dukungan rakyat dan legislatif untuk ekspansi kekuatan angkatan laut.

Jelang pecah konflik Jepang-Russia

tahun 1904-1905, Armada baru Jepang terdiri dari:

6 Battleship (seluruhnya buatan Inggris)

8 kapal penjelajah lapis baja (4 buatan Inggris-, 2 Italia-, 1 Yakumo buatan Jerman, dan 1 Azuma buatan Prancis)

9 cruiser (5 buatan Jepang, 2 Inggris dan 2 buatan AS)

24 kapal perusak (16 buatan Inggris dan 8 buatan Jepang)

63 kapal torpedo (26 buatan Jerman, 10 Inggris, 17 Perancis, dan 10 buatan Jepang)

Battleship Mikasa yang dipesan AL Jepang dari Inggris merupakan salah satu kapal perang terkuat di dunia pada masanya. Kapal ini nantinya akan turut bertempur di Tsushima.

Salah satu dari armada Battleship ini, Mikasa, merupakan salah satu kapal perang paling kuat di dunia ketika selesai, dimana dipesan dari galangan kapal Vickers di Inggris pada akhir 1898, dan dikirimkan ke Jepang pada tahun 1902.

Latar belakang konflik

Akhir abad ke-19 adalah periode ekspansi politik dan ekonomi Russia di Asia. Pada tahun 1891, jalur kereta api Trans-Siberia mulai dibuat untuk menghubungkan Ural dengan Vladivostok, pelabuhan Rusia utama di Timur Jauh. Pada saat yang sama, Rusia memerlukan pelabuhan baru yang tidak membeku di musim dingin untuk armada laut mereka beroperasi di Samudra Pasifik. Vladivostok tidak memiliki infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung operasi kapal, maupun pekerja dan insinyur pembuatan kapal yang berkualitas. Upaya mereka untuk mendirikan pangkalan di Selat Korea dan menyewa pelabuhan di pantai timur Korea berakhir dengan kegagalan. Namun, pada bulan Maret 1898, Rusia berhasil menyewa dari Cina Semenanjung Liaotin dengan pangkalan lautnya yang bernama Port Arthur. Ternyata kemudian, pilihan Port Arthur sebagai pangkalan angkatan laut sebenarnya bukan pilihan yang bagus. Infrastruktur harus dibangun dari awal dan pintu masuk ke pangkalannya sempit dan dangkal. Kota kecil itu terlalu terbelakang untuk menampung dan menopang puluhan ribu tentara, sehingga air dan makanan harus diimpor dari Cina dan Jepang. Masalah di Port Arthur saat itu menggambarkan dengan baik kekacauan yang terjadi di Rusia saat itu, terutama di sektor Angkatan Bersenjatanya.

Perluasan pengaruh Russia di wilayah Manchuria tidak dapat diterima oleh Jepang jelang Perang Russo-Jepang (1904-1905).

Sebelum perang itu, Rusia yang memang sedang menjalankan kebijakan ekspansi di kawasan Timur Jauh dikenal sebagai salah satu kekuatan utama Eropa, Rusia dipandang dalam posisi yang menentukan perkembangan di berbagai tempat di seluruh dunia. Jepang, sebaliknya, adalah negara Asia yang belum dikenal – dan sangat khawatir tentang ekspansi Rusia atas wilayah yang dalam pengaruhnya di Korea. Tokyo mencoba membuat penawaran yakni mereka akan mengakui dominasi Rusia di Cina utara dengan imbalan pengakuan Rusia atas dominasi Jepang di Korea. Moskow dengan tegas menolak dan menuntut diberikannya wilayah Korea Utara diatas garis paralel ke-39 derajat sebagai wilayah penyangga yang netral.

Pengepungan Port Arthur

Jepang memahami perkembangan ini sebagai awal dari perang, dan pada malam 8 Februari 1904, armada mereka di bawah Laksamana Heihachiro Togo melancarkan serangan mendadak ke Port Arthur. Dengan mengirimkan kapal torpedo, Jepang berhasil merusak dua Battleship Armada Timur Jauh Rusia – Tsesarevich dan Retvizan – plus sebuah kapal penjelajah. Namun Armada Rusia masih tetap bertahan di dalam pelabuhannya, yang dilindungi dengan baik oleh baterai meriam pantai – dan kerusakan lebih lanjut dapat dibatasi. Tak punya pilihan lain, Jepang memutuskan untuk melakukan pengepungan yang panjang.

Tentara Jepang menyerang parit pertahanan tentara Russia di Port Arthur

Di darat, pasukan Jepang melancarkan serangan terhadap puncak bukit berbenteng yang menghadap ke pelabuhan. Di laut, upaya mereka untuk memblokir pelabuhan terbukti tidak efektif, tetapi ranjau Jepang menenggelamkan dua Battleship Rusia yang berusaha meloloskan diri pada 12 April 1904. Petropavlovsk tenggelam begitu cepat sehingga ia membawa serta komandan Armada Timur Rusia, Laksamana Stepan Osipovich Makarov. Rusia membalas kekalahan ini, mereka membuat ladang ranjau mereka sendiri dan memancing dua Battleship Jepang masuk ke dalamnya, keduanya tenggelam juga. Namun, upaya pelarian oleh skuadron angkatan laut Rusia gagal pada 23 Juni 1904.

Cruiser Pallada milik Russia ditembaki di Port Arthur

Pada akhir bulan, artileri Jepang menembaki pelabuhan. Ketika situasi terus memburuk, Armada Timur Rusia berlayar ke Laut Kuning pada pagi hari 10 Agustus 1904. Togo dengan cepat mengumpulkan armadanya dan menghadapi armada Rusia dalam pertempuran. Setelah baku tembak selama berjam-jam, kedua armada kapal perang mendekatkan jaraknya menjadi kurang dari empat mil. Kapal Bendera Rusia tertembak yang membuatnya tidak bisa bertempur. Di tengah kebingungan, Pangeran Pavel Ukhtomsky menyelamatkan situasi dengan membawa Battleship Peresvet menyerbu langsung ke Armada Togo. Beruntungnya, Jepang sudah kekurangan peluru, mereka menembakkan salvo terakhir yang melumpuhkan Peresvet tetapi kemudian mundur. Bentrokan berakhir dengan tidak jelas, meskipun demikian armada Rusia harus mundur ke Port Arthur.

Pertempuran bersejarah

Dengan harga diri Kekaisaran Rusia dipertaruhkan, Tsar Nicholas II memerintahkan Armada Baltiknya di bawah Laksamana Zinovy Rozhestvensky untuk berlayar sejauh separuh belahan bumi dari Laut Baltik ke Pasifik untuk memperkuat Armada Timur Jauh. Setelah awal buruk yang disebabkan oleh masalah mesin dan kecelakaan lain, Armada ini akhirnya berangkat pada 15 Oktober 1904. Dari awal kondisi Russian memang sudah buruk. Kondisi kapal dan kualitas para pelautnya menyedihkan dan bagi beberapa kapal, pelayaran ke Asia Timur itu merupakan trial pertama mereka. Sekitar 30% kru yang dikerahkan berasal dari satuan cadangan, dan mayoritas sisanya adalah wajib militer yang tidak memiliki pengalaman di laut. Suasana hati di antara para perwira tergambar dengan baik lewat pernyataan Nikolai Bukhvostov, komandan kapal perang “Imperator Aleksandr III”: “Tidak akan ada kemenangan (….) tetapi satu hal yang dapat saya katakan pada kalian: jika kita semua harus mati, kita tidak akan pernah menyerah! “.

Rute Armada Baltik Russia mengelilingi separuh bumi untuk membantu armada Russia di Timur Jauh yang terkepung di Port Arthur

Pelayaran Armada Rusia ke Timur Jauh memerlukan upaya yang besar, yang mengharuskan, antara lain, sebagai berikut: pembelian 500.000 ton batubara dari Jerman, dan mempekerjakan armada kapal komersial Norwegia untuk membawa kapal-kapal itu melalui Laut Utara dan memobilisasi polisi tsar untuk mengamankan perjalanan mereka melalui Selat Denmark. Kelompok yang dipimpin oleh Rozhestvensky berhenti selama dua bulan di Madagaskar, di mana awak kapal yang tidak berpengalaman melatih diri mereka dalam skill menembak.

Laksamana Zinovy Rozhestvensky, komandan AL Russia dalam Pertempuran Tsushima

Tujuh bulan kemudian, pada malam hari tanggal 26 Mei 1905, armada Rozhestvensky – sekarang telah ditunjuk sebagai komandan Armada Pasifik Kedua, yang diperkuat delapan Battleship dan 30 kapal perang lainnya – berada pada tahap terakhir dari perjalanannya ke Vladivostok. Selain banyak kekurangan signifikan dalam peralatan dan pelatihan mereka, sebagian besar kapal perang Rusia berada dalam kondisi yang relatif buruk. Perjalanan panjang, dikombinasikan dengan kurangnya perawatan, berarti mereka dalam kondisi tidak baik dan dengan secara signifikan lebih lambat daripada kapal-kapal Jepang.

Laksamana Heihachiro Togo, komandan AL Kekaisaran Jepang dalam Pertempuran Laut Tsushima.

Hal ini menjadi salah satu alasan bagi Rozhestvensky untuk mengambil rute terpendek dan mengarahkan kapalnya ke melewati Selat Tsushima antara pulau Kyushu dan Semenanjung Korea. Berlayar pada malam hari melalui kabut tebal, armada Rusia memiliki kesempatan untuk lolos. Namun, sekitar pukul 02:45 dini hari, waktu setempat, sebuah kapal penjelajah tambahan Jepang mendeteksi adanya musuh dan – menggunakan teknologi yang paling modern, yakni telegrafi nirkabel – mengumumkan peringatan.

Dengan manuver memotong Armada Jepang (merah) melumpuhkan kapal-kapal perang Russia (putih).

Pada jam 5:00 pagi, seluruh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang tahu bahwa Armada Pasifik Kedua Russia sudah datang. Tanpa membuang waktu, Togo berlayar ke medan pertempuran dan dengan terampil melakukan manuver dimana armadanya untuk memotong posisi Rusia dalam posisi T. Hal ini memungkinkan kapalnya untuk menembakkan sisi samping semua meriamnya, sementara Rusia hanya dapat membalas dengan meriam yang mengarah kedepan depan. Segera setelah pertempuran dimulai, tembakan meriam Jepang yang unggul mengambil korban. Sebagian besar kapal perang Rusia lumpuh. Yang pertama menjadi korban adalah Battleship Oslyabya. Terkena ratusan tembakan, dia tenggelam sekitar 90 menit setelah pertempuran.

Battleship Oslyabya, korban pertama Pertempuran Laut Tsushima

Tiga jam kemudian, serangan langsung dari Battleship Jepang, Fuji menyebabkan Battleship Rusia, Borodino meledak. Dia tenggelam bersama dengan semua a awaknya. Sementara itu Rozestvensky tidak dapat memimpin sementara karena serpihan peluru, dan Nebogatov mengambil alih komando, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak ketika Togo menggerakkan armadanya kembali memotong posisi Armada Rusia. Pada malam hari, Battleship Knyaz Suvorov dan Imperator Aleksandr III juga tenggelam, sementara Jepang hanya menderita kerusakan ringan.

Tenggelamnya Battleship Borodino di Pertempuran Laut Tsushima

Malam itu pertempuran tidak berhenti, karena Togo melepaskan 37 kapal perusak dan kapal torpedo. Melanjutkan serangan mereka selama tiga jam tanpa istirahat, Jepang yang agresif membuat Rusia benar-benar kebingungan. Di tengah banyak tabrakan, armada mereka tersebar ke beberapa kelompok, yang masing-masing berusaha melarikan diri kearah ke utara. Battleship Navarin kemudian menabrak ranjau dan terpaksa berhenti. Dikerumuni oleh kapal-kapal Jepang, dia ditenggelamkan dengan empat torpedo. Hanya tiga dari 622 awak yang selamat. Battleship Sissoi Veliky rusak parah akibat dihantam torpedo dan ditenggelamkan pada hari berikutnya, seperti halnya dua kapal penjelajah lapis baja tua. Sementara itu, Jepang kehilangan tiga kapal torpedo.

Laksamana Togo memimpin pertempuran dari Battleship Mikasa.

Pada pukul 9:30 pagi pada tanggal 28 Mei, apa yang masih tersisa dari armada Rusia berlayar menuju ke utara ketika bagian utama armada Togo mengepung skuadron empat kapal perang yang dipimpin oleh Nebogatov. Menyadari mereka telah dikalahkan, pihak Rusia memerintahkan kapal-kapalnya untuk menyerah. Sayangnya dalam buku kode bahasa Jepang tidak ada istilah untuk “menyerah,” dan dengan demikian Jepang terus menembak. Nebogatov kemudian memerintahkan taplak meja putih yang dikibarkan di menara utama kapal. Setelah melihat dulu kapal perang Tiongkok melarikan diri selama Perang Tiongkok-Jepang tahun 1894, Togo memilih tidak mempercayai Rusia – dan terus menembak. Putus asa, Nebogatov memerintahkan kapalnya untuk mengibarkan bendera Angkatan Laut Kekaisaran Jepang dan mematikan semua mesin kapal.

Kerugian Armada Russia dan dampaknya dalam sejarah

Baru pada pukul 10:53 pagi, Togo memerintahkan gencatan senjata dan menerima penyerahan Rusia. Pada saat itu, Rusia telah kehilangan delapan Battleship yang tenggelam atau ditenggelamkan, dan empat yang tersisa terpaksa menyerah. Sementara itu empat dari delapan kapal penjelajah mereka dan enam dari sembilan kapal perusak mereka juga tenggelam. Mereka menderita kerugian 4.380 tewas dan 5.917 ditangkap, ditambah 1.862 lainnya diinternir. Hanya satu kapal penjelajah Rusia dan dua kapal perusak yang berhasil mencapai Vladivostok. Jepang kehilangan tiga kapal torpedo, 117 tewas dan sekitar 500 lainnya terluka.

Armada Russia hancur di Selat Tsushima

Pertempuran Tsushima tidak hanya mengakhiri Perang Rusia-Jepang dengan kemenangan di pihak Jepang, yang dalam semalam itu melambungkan Jepang ke posisi yang dapat menyaingi negara adikuasa Barat. Sementara itu untuk kekaisaran Rusia, kekalahan di Tsushima berarti awal dari akhir mereka. Pada tanggal 5 September 1905 di Portsmouth, kedua negara menandatangani perjanjian damai yang memberi Jepang “hak penguasaan” sebagian dari Manchuria, Korea dan perikanan Pasifik Utara. Jepang sejak saat itu mulai mendominasi Asia Timur. Kekalahan ini berkontribusi pada pecahnya revolusi tahun 1905, dan dengan demikian membuka jalan ke revolusi 1917, yang menggulingkan kekaisaran dan menghasilkan pembentukan Uni Soviet. Angkatan Laut Rusia tidak pernah pulih dari kekalahan di Tsushima.

Kekalahan Armada Russia di Tsushima turut membuka jalan runtuhnya Kekaisaran Russia dalam Revolusi Oktober 1917

Dalam bukunya “The Guinness Book of Decisive Battles”, sejarawan Inggris Geoffrey Regan berpendapat bahwa kemenangan itu memperkuat pendirian politik dan militer Jepang yang semakin agresif. Menurut Regan, kemenangan Jepang yang telak di Tsushima:

… menciptakan legenda yang menghantui para pemimpin Jepang selama empat puluh tahun kemudian. Seorang laksamana Inggris pernah berkata, ‘Dibutuhkan tiga tahun untuk membangun kapal, tetapi 300 tahun untuk membangun tradisi.’ Jepang berpikir bahwa kemenangan telah menyelesaikan tugas ini (bagi Jepang) hanya dalam beberapa tahun saja … Itu semua terlihat terlalu mudah. Melihat kemenangan Tōgō atas salah satu kekuatan besar dunia meyakinkan beberapa pemimpin militer Jepang bahwa dengan lebih banyak kapal, dan yang lebih besar dan lebih baik, kemenangan serupa dapat dimenangkan di seluruh Pasifik. Bahkan mungkin tidak akan ada kekuatan yang bisa menahan angkatan laut Jepang, bahkan Inggris dan Amerika Serikat sekalipun. “

Kemenangan Jepang di Tsushima membuat Angkatan Laut Kekaisaran Jepang merasa tidak terkalahkan, yang sedikit banyak mengantar mereka secara berani masuk ke gelanggang Perang Dunia II melawan kekuatan laut kelas dunia seperti AL Amerika dan Inggris yang notabene adalah ‘guru’ dari AL Jepang.

Regan juga percaya kemenangan ini berkontribusi membawa Jepang menuju bencana kemudian saat Perang Dunia II, “karena hasilnya yang sangat menyesatkan. Tentu saja angkatan laut Jepang memang telah berkinerja dengan baik, tetapi lawannya (Russia) terhitung lemah, dan bukan tidak terkalahkan (disamping Angkatan Laut Russia tidak punya sejarah kemaritiman yang meyakinkan)… Kemenangan Tōgō [membantu] membawa Jepang ke jalan yang pada akhirnya akan membawanya masuk ke gelanggang ke Perang Dunia Kedua.

Poster Film Pertempuran Laut Tsushima buatan 1969

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

In 1905, Japanese Battleships Pulverized a Russian Fleet by Tom Cooper, May 29, 2017

Battle of Tsushima, the birth of Japan’s naval power By Kajetan Raducki on February 5, 2018

https://www.google.com/amp/s/www.mhistory.net/amp/battle-of-tsushima-the-birth-of-japans-naval-power/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Imperial_Japanese_Navy

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Tsushima

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *