Pertempuran Naktong Pertama (5-19 Agustus 1950): Pertahanan Menentukan Pada Fase Awal Perang Korea
Dengan ‘letusan’ lembut, peluru suar berwarna merah dan kuning melonjak dan bersinar sebentar di malam yang hangat. Pada satu menit setelah tengah malam, tanggal 6 Agustus 1950, 800 orang dari prajurit Batalyon ke-3, Resimen Infantri ke-16, Divisi Infanteri ke-4, Tentara Rakyat Korea Utara (NKPA) mulai menyeberangi Sungai Naktong dekat lokasi penyeberangan feri Ohang. Para prajurit itu tidak membawa senjata berat atau mortir. Setelah menyeberang, mereka membentuk barisan dengan diam-diam dalam ukuran setingkat peleton dan bergerak menuju ke garis pertahanan Amerika. Tujuan mereka adalah kota Yongsan, sekitar delapan mil (12,8 km) di belakang garis perimeter Divisi Infanteri ke-24 AS. Pertempuran berikutnya yang pecah kemudian akan disebut sebagai Pertempuran Naktong Bulge (Tonjolan) Pertama dalam Perang Korea. Tembakan senapan mesin Korea Utara merobek posisi Kompi C dari Batalyon ke-3, Resimen Infanteri ke-34, yang membuat mereka benar-benar terkejut. Dikerahkan di tempat yang lebih tinggi, pasukan infanteri Korea Utara memiliki keunggulan tersendiri atas pasukan Komando PBB (UNC), yang ada di bawah mereka. Sebagian besar prajurit Kompi C lalu mencari perlindungan di sebuah pabrik gandum. Saat korban diantara mereka meningkat, mereka menumpuk mayat mereka di dinding luar untuk melindungi para prajurit yang masih hidup. Orang-orang yang selamat dari Kompi C akhirnya diselamatkan oleh Kompi A. Orang-orang Amerika yang menunggu bala bantuan tahu bahwa mereka terselamatkan ketika mereka mendengar gemuruh roda rantai tank ringan M-24 Chafee di depan konvoi pasukan penyelamat. Kompi A kemudian menemukan sejumlah besar tentara yang terluka dan tewas di dalam pabrik. Hanya sedikit prajurit yang beruntung dari Kompi C, yang muncul tanpa cedera. Jika Kompi A tidak tiba saat itu, mungkin tidak akan ada yang selamat. Selama dua minggu berikutnya, pasukan AS dan NKPA akan bertempur dalam serangkaian pertempuran berdarah yang menimbulkan korban besar di kedua belah pihak dalam serangkaian serangan dan serangan balik yang membingungkan, tetapi tidak ada pihak yang bisa menang. Pada akhirnya, pasukan AS dengan bantuan bala bantuan, dukungan udara dan senjata berat, mampu menghancurkan pasukan NKPA yang terhambat oleh kurangnya pasokan dan tingkat desersi yang tinggi.

LATAR BELAKANG
Republik Rakyat Demokratik Korea (Korea Utara) dan Republik Korea (Korea Selatan) telah melakukan serangkaian pertempuran perbatasan yang secara bertahap meningkat intensitasnya di sepanjang Garis Paralel ke-38 derajat pada tahun 1949. Dengan persetujuan diam-diam dari Uni Soviet, yang menyediakan tank dan pesawat tempur untuk Korea Utara, Tentara Rakyat Korea Utara menginvasi Korea Selatan pada tanggal 25 Juni 1950, memulai Perang Korea. Korea Utara berhasil merebut Seoul tiga hari setelah invasi. PBB lalu bergegas untuk memperbaiki situasi. Mereka kemudian mendirikan UNC untuk mengatur dan mengarahkan pertahanan Korea Selatan. Pada awal bulan Juli, Korea Selatan menempatkan pasukan militernya di bawah kendali UNC dan komandannya, Jenderal Douglas MacArthur. Pada awal Perang Korea, Korea Utara memiliki 135.000 tentara yang melawan 95.000 tentara Korea Selatan. Pada saat invasi, hanya ada beberapa unit tempur AS di Korea Selatan. Mereka berasal dari Divisi Kavaleri ke-1 dan Divisi Infanteri ke-7, 24, serta 25 yang berpangkalan di Jepang. Semuanya dengan kekuatan dibawah standar. Pasukan Amerika kekurangan sepertiga dari ukuran resmi mereka. Alih-alih memiliki sekitar 18.800 orang per divisi, masing-masing cuma memiliki 12.500 orang. Demikian pula, divisi-divisi ini hanya memiliki dua pertiga dari standar senjata artileri antipesawat dan hanya sekitar 15-20 tank ringan di setiap divisi, dibandingkan dengan 142 tank resminya per divisi. Marinir AS memang memiliki sejumlah kecil tank berat M-26 Pershing, tetapi Angkatan Darat terutama masih dilengkapi dengan tank ringan M-24 Chafee. Tank ringan ini tidak sebanding dengan 150 tank medium T-34 yang diberikan Uni Soviet ke Korea Utara. Pada Pertempuran Osan, yang terjadi pada tanggal 5 Juli 1950, Tentara Korea Utara misalnya berhasil menyingkirkan Gugus Tugas Smith yang tidak dilengkapi dengan baik.

Divisi Infanteri ke-24 adalah unit AS pertama yang dikirim ke Korea dengan misi untuk meredam “kejutan” awal dari kemajuan NKPA, menunda pergerakan unit NKPA yang jauh lebih besar untuk mengulur waktu agar bala bantuan dapat tiba. Akibatnya divisi itu sendirian selama beberapa minggu karena berusaha untuk menunda kemajuan NKPA, meski demikian hal ini mampu memberi waktu untuk Divisi Kavaleri ke-1 dan Divisi Infanteri ke-7 dan 25, bersama dengan unit pendukung Angkatan Darat Kedelapan lainnya, untuk berpindah ke posisi-posisinya. Elemen-elemen awal dari Divisi ke-24, seperti sudah disinggung diatas kalah telak dalam Pertempuran Osan pada tanggal 5 Juli, yang merupakan pertemuan pertama antara pasukan AS dan NKPA. Pada bulan pertama setelah kekalahan Task Force Smith, Divisi ke-24 berulang kali dikalahkan dan dipaksa mundur ke selatan karena jumlah personel dan peralatan NKPA yang unggul. Resimen-resimen dari Divisi 24 secara sistematis terus didorong ke selatan dalam pertempuran di sekitar Chochiwon, Chonan, dan Pyongtaek. Divisi ke-24 membuat pertahanan terakhir dalam Pertempuran Taejon, di mana ia hampir dihancurkan secara total tetapi berhasil menunda pergerakan pasukan NKPA hingga tanggal 20 Juli Pada saat itu, kekuatan pasukan tempur Angkatan Darat Kedelapan kira-kira sama dengan pasukan NKPA yang menyerang wilayah tersebut, dengan unit PBB baru terus tiba setiap harinya. Pada pertengahan bulan Juli, Tentara Korea Utara sudah jauh masuk ke wilayah Korea Selatan.

Pada akhir bulan Juli, pasukan AS dan Korea Selatan telah membentuk zona pertahanan di sudut tenggara Korea Selatan di sekitar kota pelabuhan Pusan. Dengan direbutnya Taejon, pasukan NKPA mulai mengepung Perimeter Pusan dari semua sisi dalam upaya untuk mengepungnya. Divisi ke-4 dan 6 NKPA maju ke selatan dalam manuver sayap yang lebar. Kedua divisi berusaha untuk mengepung sayap kiri PBB, tetapi pasukan NKPA menjadi sangat tersebar dalam prosesnya. Mereka maju pada posisi PBB dengan memanfaatkan keunggulan jumlah personel dan armada kendaraan lapis baja. NKPA berulang kali mendorong kembali pasukan PBB, sebelum akhirnya dihentikan dalam serangkaian pertempuran di bagian selatan negara itu. Pasukan dari Batalyon ke-3, Resimen Infantri ke-29, yang baru tiba di Korea Selatan, dihancurkan di Hadong dalam penyergapan terkoordinasi oleh pasukan NKPA pada tanggal 27 Juli, yang kemudian membuka jalan masuk ke daerah Pusan. Segera setelah itu, pasukan NKPA merebut Chinju di barat, mendorong kembali Resimen Infanteri ke-19 AS dan membiarkan rute menuju ke Pusan terbuka untuk serangan lebih lanjut dari pasukan NKPA. Formasi pasukan AS kemudian mampu mengalahkan dan mendorong kembali NKPA pada bagian sayapnya dalam Pertempuran Notch di tanggal 2 Agustus. Dengan menderita kerugian yang terus meningkat, pasukan NKPA di barat mundur selama beberapa hari untuk diperlengkapi kembali dan menerima bala bantuan. Hal ini memberikan kedua belah pihak waktu untuk mempersiapkan serangan dan membangun pertahanan di Perimeter Pusan.
PERTAHANANAN DI TEPI NAKTONG
Perimeter Pusan memiliki kedalaman 100 mil (160 km) dan lebar 50 mil (80 km). Garis barat sejajar dengan Sungai Naktong yang mengalir menuju Selat Korea. Sungai yang terjal ini memiliki lebar sekitar 1.300 kaki (400 meter) dan memiliki kedalaman normal enam kaki (1,8 meter). Naktong membentuk penghalang pertahanan alami bagi pasukan AS yang ditempatkan di belakangnya. Sebuah tikungan di sungai sekitar 30 mil (48 km) dari garis pantai dikenal sebagai Tonjolan Naktong. Batalyon ke-3/Resimen Infanteri ke-34/Divisi ke-24 pimpinan Mayjen. John H. Church mempertahankan tonjolan itu, melindungi bagian depannya sepanjang 15.000 yard (13,7 km). Doktrin Angkatan Darat A.S. menetapkan bahwa batalion berkekuatan kekuatan penuh diperlukan untuk menjaga front sepanjang 10.000 yard (9 km), tetapi dalam kasus ini tiga batalyon mempertahankan front sejauh lima mil (8 km). Dikerahkan di belakang Naktong dari utara ke selatan adalah Kompi I, L, dan K. Ada jarak dua mil antara Kompi I dan L, dan jarak tiga mil (3,2 km) memisahkan Kompi L dan K. Pada tanggal 2 Agustus, pertempuran sengit telah mengurangi personel Divisi ke-24 menjadi tinggal 9.882 orang. Penggabungan 486 tentara AS dan unit operasional dari Resimen Infanteri ke-17 Republik Korea (ROK) yang beranggotakan 2.000 orang membuat kekuatannya total menjadi 12.368. Mayor Jenderal Church, sang komandan adalah seorang veteran kedua perang dunia dan menerima medali Distinguished Service Cross. Dia menggantikan Mayor Jenderal William F. Dean, yang menjadi tawanan Korea Utara.


Bagian depan sungai Naktong dipenuhi oleh banyak tonjolan. Massa bukit di kedua sisi sungai naik rata-rata 220 meter, bahkan ada yang mencapai 330 meter. Medannya memiliki ketinggian yang sama di kedua sisi sungai, kecuali di ujung utara. Di sana, di Bukit 409 di tepi timur mendominasi medan di barat. Tiga batalyon dari Resimen ke-17 ROK pimpinan Kolonel Kim Hi Chun dikerahkan di sepanjang 30.000 yard (27 km) tepian utara, yang dianggap sebagai sektor yang paling sulit untuk dipertahankan dan diperkuat karena jaringan jalan yang buruk. Church menduga bahwa Korea Utara akan menyerang di sana. Setidaknya terdapat enam tempat penyeberangan feri di sepanjang bentangan sungai yang dijaga oleh pasukan Batalyon ke-3. Meskipun kapal penyeberangan sudah tidak ada, jalan menuju dan dari lokasi penyeberangan merupakan titik penyeberangan yang baik. Sementara itu mortir-mortir kaliber 4,2 inci (106 mm) yang memperkuat Batalyon ke-3 berada lebih dari satu mil (1,6 km) di belakang. Di sisi lain Divisi ke-4 NKPA pimpinan Mayor Jenderal Lee Kwon Mu siap menghadapi tentara Amerika di seberang sungai. Divisi ini memegang gelar kehormatan “Divisi Seoul ke-4,” setelah sebelumnya berhasil merebut ibukota Korea Selatan itu. Pada tanggal 4 Agustus, Divisi ke-4 telah memusatkan semua resimennya di sekitar Hyopch’on. Mereka memiliki kekuatan sekitar 7.000 prajurit dengan 1.500 personel di setiap resimen infanterinya.
SERANGAN AWAL NKPA
Pada tengah malam tanggal 5 Agustus, sekitar 800 prajurit Korea Utara dari Batalyon ke-1 dan 3, Resimen Infanteri ke-16, bersiap untuk menyelinap ke Naktong. Lebih banyak lagi akan menyeberang pada malam berikutnya. Sebagian besar prajurit melepas seragam mereka dan mengarungi sungai sedalam bahu di lokasi penyerangan Feri Ohang, dengan memegang seragam dan peralatan mereka di atas kepala mereka. Yang lain membuat rakit, yang mereka dorong ke depan, untuk mengapungkan pakaian dan peralatan mereka. Tidak ada senjata berat yang dibawa dalam penyeberangan awal ini. Ketika mereka mencapai tepi yang jauh, para prajurit Korea Utara mengenakan kembali seragam mereka dan maju ke arah Yongsan dalam kelompok seukuran peleton. Mereka bergerak dengan tenang melalui celah antara Kompi I dan L. Mereka mendapat perintah untuk tidak menyerang unit-unit AS mana pun yang mempertahankan sungai kecuali jika orang-orang Amerika memblokir kemajuan mereka atau mereka terdeteksi. Namun demikian, tentara Korea Utara menyerang sayap kanan Kompi L, yang ditempatkan di kepala Tonjolan Naktong, dini hari itu. Prajurit kompi senapan Leonard Korgie mengatakan bahwa mereka mendengar adanya gerakan dan menembak. Tembakan itu tampaknya memicu serbuan orang-orang Korea Utara dari arah belakang dan kedua sisi. “Mereka berusaha merebut senjata dari kami saat kami menembak,” kata Korgie. Para prajurit musuh jelas sedang berusaha untuk mengambil tawanan dimana mereka berharap untuk bisa mendapatkan informasi intelijen yang berharga. Korgie lalu melemparkan helmnya ke arah mereka dan berlari meninggalkan mereka. Setelah berlari menaiki dua bukit, ia ambruk akibat kombinasi disentri, kepanasan, dan kelelahan. Dia jatuh dengan kepala lebih dulu menuruni bukit dan berguling sekitar 40 yard (36,5 meter). Dia dan beberapa prajurit Kompi L lainnya berhasil mencapai pos komando Resimen ke-34 dengan selamat pada pukul 2 pagi.

Tentara Korea Utara akhirnya merebut posisi mortir 4,2 inci Amerika. Saat ini sebagian besar prajurit Amerika telah melarikan diri ke belakang. Letnan Kolonel Gines Perez, komandan Batalyon ke-3, berjalan kembali sejauh tiga mil (4,8 km) ke pos komando Batalyon ke-1, di mana dia memberi Letnan Kolonel Harold Ayres laporan tentang penyeberangan melintasi sungai yang dilakukan oleh pasukan Korea Utara. Tembakan artileri dan mortir Korea Utara juga telah memutuskan jalur komunikasi tentara Amerika. Sekitar 200 tentara Korea Utara menyerang posisi Baterai B dari Batalyon Artileri Lapangan ke-13 saat fajar, dengan didukung oleh tembakan senapan mesin. Tak lama kemudian, orang-orang Korea Utara mulai menembaki baterai itu dengan mortir kaliber 82mm milik mereka. Tembakan ini sangat akurat yang sukses melumpuhkan pusat pengarah tembakan dari Baterai B. Beberapa personel unit artileri Amerika mencoba melarikan diri dengan berlari melewati sawah, tetapi tidak ada yang berhasil. Meski terkepung Baterai artileri Amerika terus menembaki tentara Korea Utara selama dua jam, di mana mereka sendiri ditembaki dari tiga sisi. Para prajurit artileri hanya memiliki satu jalan keluar, yaitu melewati jalan yang ada di belakang meriam-meriam mereka. Mereka lalu mundur dengan membawa serta satu howitzer dan tujuh truk. Sebagian besar prajurit mundur dengan berjalan kaki saat berada di bawah tembakan. Mereka dipaksa merangkak melalui sawah dengan perut mereka untuk menghindari terkena tembakan senjata ringan dan senapan mesin. Sebagian besar prajurit berhasil melarikan diri.

Kolonel Charles E. Beauchamp, komandan Resimen ke-34, kemudian memerintahkan Ayres untuk melancarkan serangan di sepanjang Jalan Sungai Yangson-Naktong dengan pasukan Batalyon ke-3. Ayres mengeluarkan perintah kepada orang-orang Kompi C untuk menaiki truk dan maju di sepanjang jalan. Sementara itu, orang-orang dari Kompi A dan B, serta kompi senjata batalion, akan mengikuti dibelakang dengan berjalan kaki. Hari sebelumnya 187 personel pengganti telah bergabung dengan batalion, tetapi pasukan baru belum pernah diterjunkan dalam pertempuran. Ayres sendiri berangkat dengan jip di depan pasukan bersama dengan perwira operasi dan asisten perwira operasinya. Mereka tiba di pos komando Batalyon ke-3, yang telah dikosongkan, dan menunggu truk-truk yang membawa personel Kompi C muncul. Ketika mereka tiba, musuh segera menyerang mereka, yang melukai dua orang. Ayres kemudian memerintahkan Kapten Clyde Akridge, komandan Kompi C, untuk merebut dataran tinggi. Tempo tembakan musuh segera meningkat drastis. Peluru-peluru musuh mendesis melewati mereka. Akridge terkena tembakan tiga kali, sementara Ayres berlindung dengan pemimpin peleton senjata dan pasukan mortir. Mereka lalu menembakkan mortir 60mm ke posisi Korea Utara sampai kehabisan amunisi. Sersan komandan unit mortir berdiri untuk mengarahkan tembakan, hanya untuk menjadi hampir terbelah dua oleh tembakan senapan mesin. Korban terus berjatuhan. Ayres sadar bahwa untuk mempengaruhi hasil pertempuran, dia harus kembali ke Kompi A dan B untuk meminta bantuan. Dia dan beberapa anggota staf kemudian berlari melewati sawah. “Saya belum pernah mendengar peluru mengenai air,” kenang Ayres. “Itu adalah suara yang aneh.”

Serangan Korea Utara telah mengancam dua posisi kunci, Bukit Semanggi dan Bukit Obong-ni, di tengah Tonjolan Naktong. Sebagian besar orang Amerika telah mencapai lereng Bukit Obong-ni, dan dari sana mereka berusaha menuju posisi artileri yang kosong. Baterai B dari Batalyon Artileri Lapangan ke-13 AS akhirnya terpaksa mundur setelah melawan musuh selama dua jam. Pasukan artileri meninggalkan empat meriam howitzer dan sembilan kendaraan ketika mereka mundur. Sementara itu, butuh beberapa jam bagi Ayres untuk mencapai kedua kompinya. Orang-orang Korea Utara terus menembakkan senjata ringan dan senjata otomatis mereka. Orang-orang yang tewas dan terluka segera memenuhi dasar sungai yang kering tempat orang-orang Amerika berlindung. Pertempuran terus berlanjut selama beberapa jam sampai hampir setengah dari kompi itu tewas. Orang-orang di gristmill memutuskan untuk terus bertahan. Prajurit-prajurit dengan menggunakan senapan mesin kaliber .50 di sebuah kendaraan pengangkut personel yang ditinggalkan berjuang untuk menahan membuat musuh tetap di jarak yang cukup aman. Letnan Satu Charles E. Payne, perwira senior dari kompi itu, kemudian meminta seorang sukarelawan untuk mencari bantuan. Prajurit Robert Witzig menawarkan diri untuk melakukan misi berbahaya tersebut. Witzig berlari sejauh 25 yard (20an meter) melintasi sebuah lapangan dan kemudian merangkak melalui alurnya. “Saya mungkin mencapai sekitar 20 yard dan kemudian terhempas ke udara dan mendarat dengan punggung saya,” katanya. Peluru artileri menghujani punggungnya dengan pecahan peluru, membuatnya pingsan. Witzig kemudian sadar kembali hanya untuk menemukan seorang tentara Korea Utara mencoba melucuti granatnya. Witzig membunuh prajurit musuh itu dengan pistol otomatis kaliber .45 miliknya. Dia lalu berbaring di lapangan untuk waktu yang lama sampai dua temannya menemukannya dan menyeretnya ke tempat yang aman.

Sementara itu, pasukan yang kritis itu telah berhasil melakukan kontak dengan pasukan kawan dan bala bantuan kini sedang dalam perjalanan. Tank yang menjadi ujung tombak pasukan bala bantuan sayangnya secara tidak sengaja menembaki tentara Amerika di gristmill dengan keyakinan yang salah bahwa pasukan komunis ada di dalamnya. Namun, Kompi C tidak menderita korban tambahan dari tembakan salah sasaran itu. Para prajurit Infanteri Amerika yang tiba hanya menemukan segelintir orang yang selamat dari Kompi C yang bertahan di dalam pabrik. Karena serangan Korea Utara masih berlangsung, Kompi A kemudian bergegas untuk menstabilkan situasi, tetapi musuh saat itu telah merebut Bukit Daun Semanggi dan Bukit Obong-ni. Church kemudian menginstruksikan Resimen Infanteri ke-19 untuk merebut kembali wilayah yang hilang. Tentara Amerika memang lalu berhasil mendapatkan kembali sebagian dari Bukit Semanggi, tetapi mereka tidak dapat mengusir orang-orang Korea Utara dari Bukit Obong-ni. Di tempat lain orang-orang Amerika berhasil menjebak sekitar 300 prajurit infanteri musuh di sebuah desa di sebelah timur Bukit Ohang, satu mil dari sungai, dan membunuh hampir semuanya. Bagaimanapun ini tidak menghentikan gerak maju tentara Korea Utara, yang merebut kembali Bukit Semanggi. Panas yang ekstrem dan kekurangan makanan dan air telah membuat upaya ofensif Amerika terhenti. Dalam hal ini, Amerika bahkan mengalami kesulitan untuk mempertahankan posisi mereka. Setiap kali mereka merebut suatu area, tentara Korea Utara segera mengusir mereka kembali. Untuk memperkuat pasukan garis depan Amerika yang terkepung, para komandan senior kemudian mengumpulkan prajurit pasukan zeni, mekanik, dan juru masak dan menggunakan mereka untuk menjadi pasukan tempur. Namun penggantian darurat ini tidak dapat menutupi kerugian yang terus berjatuhan. Efektivitas dari Resimen Infanteri ke-24 dan ke-34 kini tinggal mencapai sekitar 40 persen. Batalyon masing-masing memiliki kurang dari 300 prajurit bersenjata. Batalyon senapan sangat kekurangan amunisi, Senapan Otomatis Browning (BAR), senapan mesin, dan mortir. Selain itu, resimen infanteri Amerika kekurangan truk yang dibutuhkan untuk mengangkut pasukan ke medan perang.
PERTEMPURAN MAJU MUNDUR DI NAKTONG
Di sisi lain, hampir tidak mungkin bagi pihak Korea Utara untuk memperkuat pasukan mereka yang bertempur di sisi timur Naktong selama serangan mereka di Tonjolan karena ancaman pemboman di siang hari oleh tembakan artileri dan pesawat-pesawat Amerika. Untuk mengatasi masalah ini, pasukan zeni Korea Utara bekerja keras untuk membangun jembatan darurat yang dapat membawa pasukan mereka melintasi Naktong pada malam hari. Mereka berhasil menyelesaikan beberapa jembatan yang terbuat dari karung pasir, kayu gelondongan, dan batu di seberang Sungai Naktong pada tanggal 7 Agustus. Jembatan-jembatan itu berada satu kaki di bawah permukaan normal sungai, dan oleh karena itu sulit bagi musuh untuk melacak dan menghancurkannya. Saat pertempuran sedang berlangsung, NKPA melintasi Naktong dan mengirim tank dan menarik artileri menyeberangi sungai untuk mendukung pasukan mereka. Orang-orang Korea Utara juga memperkuat pasukannya dengan mengirimkan dua batalyon infanteri lagi dengan menggunakan sebanyak 70 perahu. Sementara itu, Letnan Jenderal Walton H. Walker, komandan Angkatan Darat Kedelapan, memperkuat pasukan Amerika yang bertempur di sepanjang Tonjolan Naktong dengan mengerahkan Resimen Infanteri ke-9 untuk bertempur pada tanggal 8 Agustus. Resimen Infanteri ke-9 adalah resimen baru, tetapi penambahan kekuatan ini tidak terlalu membantu. Orang-orang Korea Utara telah menyusup ke area belakang Divisi Infanteri ke-24. Resimen infanteri Amerika tidak bisa membersihkan musuh dari belakang mereka. Pada awal serangan mereka, Korea Utara telah berhasil mengepung Kompi A, C, dan L dari Infanteri ke-34, membuat pasukan infanteri Amerika terisolasi dua mil (3,2 km) di belakang garis musuh. Pasukan yang terkepung ini harus dipasok kembali kebutuhannya dengan pesawat-pesawat Amerika, meskipun banyak dari perbekalan yang dijatuhkan mendarat di luar batas perimeter mereka.

Pada malam tanggal 8 Agustus, tentara-tentara Amerika mendapat tembakan mortir ketika orang-orang Korea Utara mengarahkan mortir mereka di posisi-posisi Amerika. Khawatir bahwa ini akan diikuti oleh serangan gelombang manusia yang akan menaklukkan posisi mereka, para prajurit Amerika meminta dan menerima izin malam itu untuk mendobrak keluar. Kapten A.F. Alfonso, komandan Kompi A, mempersiapkan pasukannya untuk keluar dari pengepungan. Dia menempatkan satu regu pada titik 500 yard (457 meter) di depan pasukan utamanya. Dia menginstruksikan pasukannya bahwa yang terluka, yang akan dibawa dengan tandu, akan berada di tengah barisan. Dia juga menunjuk satu peleton untuk bertugas sebagai penjaga belakang. Kompi A lalu bergerak di sepanjang Jalan Yongsan. Tidak lama setelah mereka meninggalkan posisi itu, tentara Korea Utara menyerang posisi mereka yang ditinggalkan. Ketika pasukan Korea Utara menemukan tempat itu kosong, mereka mulai menembakkan senjata otomatis mereka ke arah jalan. Alfonso berangkat dengan regu pengintai kecilnya untuk menemukan rute teraman menuju ke jalur pasukan kawan. Dia kemudian menemukan pos komando batalion dan mengorganisir konvoi truk dan ambulans penyelamat untuk menjemput pasukannya. Tetapi ketika dia pergi, kompinya pecah menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil. Satu kelompok yang terdiri dari 70 orang dari barisan belakang mendapati dirinya terjepit selama beberapa jam oleh tembakan senapan mesin berat. Hanya 40 orang yang berhasil lolos; sisanya dijemput oleh konvoi penyelamat atau dibawa ke pos komando dari berbagai arah. Orang-orang yang membawa rekan mereka yang terluka di tandu memiliki kesulitan paling besar. Prajurit yang terluka menjerit dan mengerang saat mereka diangkut—tidak ada cara untuk membawa orang-orang yang terluka tanpa mendorong mereka. Rencana awalnya adalah para pembawa tandu akan digantikan secara berkala oleh prajurit-prajurit dari barisan belakang, tetapi itu tidak terjadi karena kompi itu terpencar-pencar. Para penyintas akhirnya menemukan tempat yang relatif aman dari pos komando Resimen Infanteri ke-9.

Sementara itu, tentara Korea Utara memperluas cengkeraman mereka di Tonjolan Naktong, memberi mereka lebih banyak peluang untuk menyusup ke area belakang pasukan AS. Pada tanggal 9 Agustus mereka menduduki desa Namji-ri, tepat di dalam sektor Divisi ke-24. Divisi ke-25 sendiri berada di selatan. Sebuah jembatan masih berdiri di kota ini, yang memungkinkan pasukan NKPA masuk ke sisi utara posisi Divisi ke-25. Pada tengah hari tanggal 10 Agustus, tentara Korea Utara telah bergerak menuju Yongsan dan membuat penghalang jalan di selatan kota. Malam itu orang Korea Utara berada kurang dari tiga mil (4,8 km) dari kota. Dikuasainya Yongsan oleh pasukan musuh akan memotong Divisi ke-24 dari kemungkinan pengiriman pasokan dan penguatan. Keesokan harinya, seluruh Divisi ke-4 NKPA telah menyeberangi Sungai Naktong dan memasuki area tonjolan. Saat ini, Kolonel Beauchamp percaya Yongsan akan segera jatuh. Markas Divisi ke-24 lalu mengumpulkan sekitar 135 personel bala bantuan dari delapan unit eselon belakang yang berbeda. Panitera, tukang roti, polisi militer, dan pasukan pengintai ini ditempatkan di bawah komando Kapten George B. Hafemen. Pasukan ini memiliki dua tank untuk memberi dukungan perkuatan. Perintah yang didapat Hafemen adalah untuk menghentikan kemajuan musuh ke arah timur. Batalyon ke-2 dari Resimen Infantri ke-27 disaat yang sama ditugaskan untuk membantu membersihkan musuh di selatan Yongsan. Sementara itu aliran pengungsi Korea yang terus-menerus menyumbat jalan. Batalyon itu harus menerobos arus lalu lintas ini ketika sebuah kereta pengungsi terbalik dan banyak senapan serta amunisi tumpah. Selusin tentara Korea Utara yang menyamar sebagai pengungsi berlari melintasi lapangan terbuka dan para prajurit Amerika menembak delapan dari antara mereka.

Saat senja, tentara Korea Utara mulai meningkatkan tekanan pada mereka yang mempertahankan Yongsan. Seorang komandan resimen mengatakan ada lusinan posisi tentara Amerika dan musuh di seluruh wilayah dan mereka semua sibuk mengepung satu sama lain. Dalam salah satu perjumpaan, Prajurit Lawrence Y. Bader dari Resiman Infanteri ke-9 melindungi upaya pelarian patrolinya. Dia tetap di belakang dan menahan musuh sampai dia terbunuh, yang membuatnya mendapatkan medali Distinguished Service Cross secara anumerta. Batalyon ke-2 dari Resimen Infanteri ke-17 terus mendesak ke utara menuju Yongsan pada tanggal 12 Agustus. Batalyon itu bergerak cepat ke arah pasukan musuh yang bercokol disana, yang melawan balik dengan tembakan senapan mesin, mortir, dan senjata ringan. Serangan udara kemudian membantu mengusir pasukan musuh dari posisi mereka. Pesawat-pesawat serang itu menewaskan 100 tentara Korea Utara dan melukai lebih banyak lagi. Tentara Amerika merampas selusin senapan mesin dan beberapa senapan antitank kaliber 14,5 mm. Sementara itu, ancaman utama bagi tentara Amerika, selain desakan musuh di Yongsan, adalah pemblokiran rute pasokan utama antara Yongsan dan Miryang, yang jaraknya sekitar 20 mil (32 km). Sebelum tengah malam pada tanggal 11 Agustus, kendaraan-kendaraan melewati jalur suplai utama tanpa kesulitan kecuali menerima beberapa tembakan sniper. Pada dini hari tanggal 12 Agustus, dua ambulans dari Peleton Ambulans ke-1 dari Yongsan, sarat dengan orang-orang yang terluka, terkena tembakan senjata otomatis. Pengemudi ambulans kedua terluka dan ambulans-nya terlempar ke parit. Ambulans pertama berbalik dan petugas medis membawa yang terluka dari ambulans kedua ke ambulans pertama untuk perjalanan kembali ke Yongsan. Sebuah detasemen dari Batalyon Zeni ke-14 menjaga bagian sepanjang tiga setengah mil (5,6 km) dari rute pasokan utama. Ke-100 orang itu dibagi menjadi empat kelompok yang ditempatkan di “pos zeni” dengan interval jarak masing-masing 800 yard (731,5 meter).
TASK FORCE HILL
Tentara Korea Utara kemudian menyerang pos-pos pasukan zeni nomor tiga dan empat di rute pasokan utama saat fajar dengan senapan berat, senapan mesin, dan granat. Pertempuran berlangsung selama beberapa jam. Para pasukan zeni di pos ketiga mundur ke pos kesatu. Orang-orang Korea menebas semua orang Amerika yang mundur, kecuali Sersan John Kavetsky, yang bersembunyi di sawah, dan mengambil alih kedua pos pasukan zeni. Sementara itu, para prajurit di pos pasukan zeni keempat berpencar, separuh menuju pos kesatu dan separuh lainnya tanpa sadar menuju pos ketiga yang terbengkalai. Ketika tentara Amerika yang mundur mencapai pos ketiga yang sepi, mereka ditangkap oleh tentara Korea Utara. Pada pagi hari tanggal 13 Agustus, para prajurit dari Task Force Hill, di bawah Kolonel John G. Hill, bergerak ke timur dari Yongsan untuk membersihkan jalur suplai utama. Saat mereka maju, mereka membersihkan tentara Korea Utara dari lubang-lubang perlindungan. Beberapa lubang perlindungan diketahui berisi sebanyak enam tentara musuh. Ditawari kesempatan untuk menyerah, tentara Korea Utara memilih untuk bertempur sampai akhir atau meledakkan diri dengan granat tangan mereka sendiri. Selama operasi ini, tentara Amerika merampas empat senjata artileri berat, dua di antaranya adalah howitzer kaliber 105mm AS yang diambil alih oleh tentara Korea Utara. Pada akhir tanggal 13 Agustus, Task Force Hill telah membasmi perlawanan tentara NKPA di bagian selatan dan timur Yongsan, membebaskan kota itu dari tekanan musuh. Hill kemudian memerintahkan Kompi K dan L untuk mundur dari posisi mereka yang terbuka di sepanjang Naktong. Dia menginstruksikan komandan mereka untuk mengambil posisi baru di belakang Batalyon ke-1 di mana mereka akan bertugas sebagai cadangan untuk resimen. Task Force Hill kemudian berusaha mendesak tentara Korea Utara kembali menyeberangi Sungai Naktong. Pertama, pasukan fokus untuk menghilangkan posisi musuh di selatan dan timur Yangson. Selanjutnya, Kolonel Hill menyerang posisi musuh di Bukit Daun Semanggi dan Bukit Obong-ni. Gugus tugas ini faktanya jauh dari kekuatan penuhnya saat melakukan serangan ini. Kekuatan dua batalyon dari Resimen Infanteri ke-9 berkurang menjadi dua pertiga, dan tiga kompi senapannya dari Batalyon ke-1, Resimen Infanteri ke-34 hanya memiliki cukup pasukan untuk membentuk Kompi A.


Hujan deras, yang dimulai pada dini hari tanggal 14 Agustus, mencegah serangan udara yang direncanakan pihak Amerika. Unit artileri memberikan persiapan 10 menit, dan kemudian pasukan infanteri mulai menyerang. Dua batalyon Tim Tempur Resimen ke-9 menyerang Bukit Cloverleaf (Daun Semanggi), sementara Kompi B dari Resimen Infanteri ke-34 memulai serangan di ujung utara Bukit Obong-ni. Bukit Semanggi memang berbentuk seperti semanggi berdaun empat, karena itulah namanya diambil. Terdapat celah antara Cloverleaf dan Obong-ni Ridge yang dilalui jalur suplai utama. Lereng Obong-ni, yang membentang dari barat laut ke tenggara, terdiri dari setengah lusin bukit yang saling terhubung, yang masing-masing diberi namanya berdasar dengan ketinggiannya dalam meter. Tingginya berkisar antara 102 hingga 153 meter. Para prajurit dari Kompi B hampir mengamankan lereng Obong-ni tetapi mereka diusir kembali pada pukul 8 pagi. Di sisi lain jalan, di Bukit Cloverleaf, pertempuran sengit saling menyerang dan melakukan serangan balik terjadi. Batalyon ke-1 menderita 60 korban jiwa dalam satu jam pertempuran. Kedua batalyon dalam penyerangan itu memang berhasil mengamankan lereng-lereng yang lebih rendah tetapi bukan bagian utama bukit itu. Malam tanggal 14 Agustus ditandai dengan pertempuran terus-menerus saat pasukan Korea Utara berulang kali menyerang garis pertahanan Amerika. Pada pagi hari tanggal 15 Agustus, tentara Amerika melanjutkan serangan ke Bukit Daun Semanggi dan Bukit Obong-ni. Pertempuran granat yang brutal terjadi di lereng selatan Obong-ni. Peleton ke-2 dari Kompi A bertukar tembakan dengan musuh pada jarak 10 langkah. Setelah hampir satu jam bertempur, 24 dari 35 tentara yang terlibat dalam serangan itu tewas atau terluka. Di sepanjang garis depan, pasukan Korea Utara bertempur melawan tentara Amerika tanpa memperoleh hasil yang menentukan.
WALKER MENGIRIM MARINIR
Hill dan Church menduga bahwa pada saat ini tentara Korea Utara telah kelelahan karena pertempuran yang berlarut-larut. Mayat, senjata, dan peralatan pasukan Korea Utara tersebar di sekitar ujung utara Bukit Obong-ni. Sayangnya, tentara Amerika juga tidak lagi memiliki tenaga untuk mengambil alih posisi musuh. Letnan Jenderal Walton H. Walker, komandan Angkatan Darat Kedelapan, kesal. “Saya akan memberimu sebuah Brigade Marinir,” katanya kepada Church. “Aku ingin situasi ini selesai, dan diatasi (dengan) cepat!” Pasukan Marinir sudah dalam perjalanan ke Miryang, di mana mereka akan bertindak sebagai unit Cadangan Angkatan Darat, jadi bukanlah masalah kecil jika mereka harus bergerak lebih jauh ke Obong-ni Ridge. Pada tanggal 17 Agustus, unit udara dan artileri Korps Marinir menyerang lereng bukit sebelum serangan dilakukan. Mereka menghancurkan banyak posisi mortir musuh dan menebas atau menyebarkan banyak konsentrasi pasukan NKPA. Para prajurit di bagian belakang posisi Korea Utara menunjukkan banyak kebingungan. Kompi B Marinir, yang dipimpin oleh Kapten John Tobin, kemudian maju menyerang. Tobin menempatkan senapan mesinnya dan Peleton ke-3 di Bukit Observasi terdekat untuk mendukung serangan dari sisa-sisa Kompi Baker. Tobin sedang bersiap-siap untuk memperkuat Peleton ke-1 dan 2 di lereng bukit ketika dia mengalami luka parah akibat dari tembakan senapan mesin musuh. Setelah memastikan bahwa Tobin menerima perawatan medis, Kapten Francis Fenton bergabung dengan peleton-pleton yang sangat sibuk bertempur di Obong-ni Ridge. Dia tiba tepat waktu untuk menemukan kedua peleton sedang ditembaki oleh tembakan Korea Utara. Tembakan musuh datang dari beberapa puncak di lereng bukit, serta dari kota Tugok di seberang jalan.

Marinir di Bukit Observasi mengerahkan Peleton ke-3 untuk memperkuat serangan. Hambatan utama saat penyerangan adalah tembakan yang mengapit dari Tugok. Peleton ini kemudian meminta dukungan tembakan dari kompi senjatanya. Para penembak mortir menjatuhkan peluru-pelurunya ke posisi musuh, menekan tembakan yang datang dari Tugok. Peleton ke-1 kemudian mengepung Resimen ke-18 Korea Utara. Tepat sebelum senja, para prajurit Amerika merebut Bukit 102. Sementara itu, Peleton ke-2 berjuang mendaki bukit untuk merebut Bukit 109. Pada saat itu, mereka digantikan oleh Kompi A. Saat mereka mundur, para prajurit Peleton ke-2 membawa korban mereka bersama mereka. Peleton ke-1 dan 2 Kompi A kemudian bergerak dari ujung selatan Bukit Observasi dan melintasi sawah di depan Lereng Obong-ni. Pesawat-pesawat Marinir dan artileri berat lalu meledakkan lereng depan dan belakang bukit. Kedua peleton masing-masing memiliki unit senapan mesin. Kompi A berhasil mencapai titik tengah, hanya untuk menghadapi tembakan dari penembak jitu, tetapi segera mendapat tembakan lebih lanjut dari senapan mesin berat. Letnan Satu Robert Sebilian mendesak Peleton ke-1-nya ke atas posisi antara Bukit 109 dan 117. Dia berdiri di tempat terbuka, menunjukkan posisi musuh ke NCO-nya, sampai peluru peledak menghancurkan kakinya. Sersan Teknis Orval McMullen kemudian mengambil alih komando peleton dan mendorong prajuritnya ke depan. Ketika Peleton ke-1 maju ke selatan menuju Bukit 117, mereka menemukan dirinya ditembaki oleh tembakan gencar. Di sayap kiri Peleton ke-1, artileri Korea Utara memotong Peleton ke-2 menjadi dua. Tentara Amerika terus mengupayakan perebutan posisi di antara bukit 117 dan 143 tetapi terhenti ketika korban di garis pertempuran menjadi terlalu berat untuk mempertahankan serangan itu. Letnan Dua Thomas H. Johnston, pemimpin peleton, lalu bergegas ke atas sendirian, hanya untuk ditembak mati oleh tembakan musuh. Komando kemudian diserahkan kepada Sersan Teknis Frank Lawson, yang berusaha melanjutkan serangan. Tembakan senjata dan granat Korea Utara menggagalkan pergerakan baru tentara Amerika, dan membuatnya terhenti. Pada saat itu dalam pertempuran, Peleton ke-2 telah menderita begitu banyak korban sehingga pasukannya hanya tinggal berkuatan setara regu.
PERTEMPURAN TANK M-26 VS T-34
Kompi A kemudian mengirim Peleton ke-3 untuk menyerang. Letnan Satu George Fox, komandan peleton, memimpin pasukannya ke sawah di mana mereka terkena rentetan tembakan mortir. Fox mencoba dua kali untuk menyerbu lereng bukit, tetapi dia tidak bisa mendapatkan pijakan. Fox dan salah satu prajuritnya berusaha mencapai Johnston, tetapi mereka tidak dapat mengambil tubuhnya karena tembakan senapan mesin musuh. Namun mereka bisa mengkonfirmasi kematiannya. Sementara serangan di lereng bukit sedang berlangsung, empat tank M-26 Pershing dari Peleton ke-3, Kompi A bergerak maju dari jalan yang terpotong, mendukung serangan dengan menembakkan peluru meriam kaliber 90mm dan tembakan senapan mesin. Mereka memusatkan tembakan mereka di puncak Bukit 102, menghancurkan selusin senjata antitank dan beberapa senjata otomatis. Tentara Korea Utara bagaimanapun membuat pertahanan yang kuat. Salah satu tank menerima tiga tembakan langsung dari mortir musuh, dan keempat tank terkena total 25 proyektil antitank. Satu orang terluka ringan, tetapi tank-tank itu tidak mengalami kerusakan yang berarti. Ketika Kompi B mengamankan Bukit 102, tank-tank itu kembali ke pos komando mereka untuk mengisi bahan bakar dan mengisi kembali persediaan amunisi mereka. Amerika saat itu segera mengetahui bahwa empat tank T-34 Korea Utara mendekati garis pertahanan mereka di rute pasokan utama. Awak-awak tank marinir kemudian bergegas untuk menyerang tank-tank Korea Utara. Letnan Dua Granville Sweet, komandan tank, memerintahkan seksi tank pertamanya untuk memuat peluru penembus lapisan baja kaliber 90mm. Orang-orang Amerika juga meminta dukungan udara, dan pesawat-pesawat F4U Corsairs dari Marine Aviation Training Support Group 33 merespons. Pesawat-pesawat serang itu dengan cepat melawan tank-tank musuh, menghancurkan tank terakhir dari satuan yang terdiri dari empat tank. Tiga tank pertama terus menyusuri jalan. Ketika tank pertama mencapai tikungan di jalan, mereka terlihat oleh pasukan Amerika di Bukit Observasi. Senjata recoilless kaliber 75 mm dan M20 Super Bazooka yang menembakkan roket antitank 3,5 inci (88,9 mm) milik Amerika ditempatkan di atas bukit. Tank musuh pertama menerima tembakan di track sebelah kanannya akibat dari tembakan roket kaliber 3,5 inci, tetapi terus bergerak maju. Dua peluru 75mm lalu melumpuhkan track sebelah kiri dan menghancurkan lapisan armor bagian depan. Tank musuh terbakar tetapi terus menembak, meriam kaliber 85mm dan senapan mesinnya meledak tanpa tujuan. Tank-tank musuh yang tersisa terhuyung-huyung di tikungan dan berhadapan langsung dengan tank M-26 Marinir terdepan. Tank-tank Amerika menembakkan dengan cepat dua peluru dari meriam kaliber 90mm-nya, keduanya mengenai tank NKPA, yang segera meledak. Salah satu anggota kru tank NKPA memanjat keluar dari tank-nya yang terbakar, tetapi tentara Amerika segera menebasnya.


T-34 kedua lalu datang di tikungan dan dihantam track kanannya oleh roket kaliber 3,5 inci. Tank yang mengalami kerusakan ini terhuyung-huyung di tikungan dan tertembak lagi di tangki bensinnya karena serangan roket 3,5 inci. Tank itu terhuyung-huyung di jalan, menembakkan peluru kaliber 85mm dengan liar ke udara. Tank M-26 kedua berhenti di samping yang tank pertama, dan kedua tank menembakkan enam peluru kaliber 90mm ke tank T-34 NKPA itu tanpa efek—dengan terus menembak ke langit. Seorang awak tank Korea Utara membuka palka turret dan mencoba melarikan diri, tetapi tim bazoka menembakkan peluru fosfor putih pembakar kaliber 2,36 inci (60 mm) yang memantul dari turret dan masuk ke dalam tank. Bagian dalam tank T-34 itu meledak. Tank-tank Korps Marinir kemudian menembakkan tujuh peluru lagi ke arah tank musuh, salah satunya merobek turret dan meledakkan lambungnya. Tank-tank marinir, senjata recoilless, dan roket benar-benar merobek tank-tank musuh. Tank-tank NKPA meledak menjadi bola api. Amerika tercatat menggunakan kombinasi serangan pesawat Corsair, tank Pershing, senjata recoilless dan roket untuk menghancurkan tank-tank T-34 Korea Utara. Meskipun dianggap tak terkalahkan sebelum pertempuran ini, T-34 terbukti rentan terhadap sistem-sistem senjata ini. Sementara itu, sepanjang hari, evakuasi korban tewas dan terluka menjadi perhatian utama. Para pembawa tandu membawa muatan mereka yang terluka atau tewas melintasi sawah di bawah tembakan musuh. Marinir juga harus menggunakan setiap ambulans yang mereka miliki, serta ambulans Angkatan Darat tambahan, untuk mengangkut yang terluka ke tempat perawatan Marinir. Dengan datangnya malam, para prajurit di Obong-ni Ridge membuat garis perimeter pertahanan.
MENGUSIR PASUKAN KOREA UTARA DARI NAKTONG
Di seberang jalur suplai utama, Tim Tempur Resimen ke-9 membersihkan Tugok dan Finger Ridge dengan sedikit perlawanan dari musuh. Dalam kegelapan, Resimen Angkatan Darat ke-19 dan ke-34 telah merebut tujuan mereka. Meskipun pasukan mereka menipis, unit-unit Angkatan Darat dan Marinir berada dalam posisi yang baik untuk melakukan serangan hari berikutnya. Pasukan Amerika kini hampir mengepung Divisi NKPA ke-4. Wajib militer dari desa-desa lokal Korea Selatan lalu didatangkan untuk menggantikan kerugian pada NKPA yang menggunung. Juga hampir tidak ada perbekalan dan obat-obatan untuk yang terluka di divisi itu, dan pasukan NKPA mulai terpecah-pecah di bawah tekanan ini. Namun, semangat divisi tetap relatif tinggi dan Jenderal Lee menolak untuk mundur. Tepat sebelum pukul 10 malam, pasukan NKPA menghantam pusat Kompi A dengan rentetan mortir, diikuti oleh tembakan fosfor putih. Di parit tempat baterai mortir kaliber 60mm Kompi A ditempatkan, hampir setiap orang terluka parah, meninggalkan Kapten Kompi A John Stevens tanpa unit mortirnya. Rentetan tembakan mengenai area Peleton ke-3, meninggalkan beberapa orang terluka. Korban yang paling serius dievakuasi, tetapi yang terluka ringan tetap di tempat mereka berada. Meski terluka tiga kali, komandan peleton Fox tetap bertempur bersama anak buahnya. Setelah serangan awal, semuanya menjadi sunyi senyap saat orang-orang itu berlindung di lubang perlindungan mereka, menunggu langkah pasukan Korea Utara selanjutnya. Pukul 02:30 tanggal 18 Agustus, Marinir dari Kompi A mendengar gerakan musuh di Bukit 117. Tiba-tiba, senapan mesin di puncak mengirimkan hujan peluru. Granat tangan dijatuhkan menuruni bukit ke arah perimeter Marinir. Sebuah peleton Korea Utara menyerang mereka, berhadapan di bagian tengah Peleton ke-2 yang kelelahan dan kehabisan tenaga. Selama 30 menit, Peleton ke-2 bertempur dengan pasukan Korea Utara yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah mereka. Salah satu alasan mereka bertahan begitu lama disebabkan karena Lawson, yang menolak untuk dievakuasi meskipun terluka berkali-kali. Orang-orang yang selamat dari Peleton ke-2 yang kelelahan ditaklukkan pada dini hari, dan pertahanan brigade itu ditembus. Untuk beberapa alasan, Orang-orang Korea Utara tidak mengeksploitasi penetrasi mereka. Pada saat yang sama ketika pasukan Korea Utara menyerang Peleton ke-2 Kompi A, dua peleton menyerang perimeter pertahanan Kompi B di Bukit 109. Meskipun peluru suar ditembakkan oleh mortir kaliber 81mm, musuh terus menyerang dengan susah payah dengan mengirimkan skuadron-skuadron prajurit grenadier dan unit senapan mesin ringan ke Kompi B. Tembakan senjata otomatis dari Bukit 117 melindungi para prajurit NKPA. Orang-orang Korea Utara lalu menyelinap melewati lubang perlindungan Marinir dan mengalahkan penembak roket, mortir, dan juru tulis pos komando Kapten Fenton, serta berhasil membasmi mereka yang bertahan.


Stevens kini telah kehilangan kendali efektif atas Kompi A pada malam hari, meskipun situasinya tidak seputus asa seperti yang terlihat. Sementara Stevens menstabilkan posisinya, komandannya, Letnan Satu Fred F. Eubanks, melakukan satu-satunya serangan ke arah selokan. Setelah terobosan dari tentara Korea Utara, Letnan Dua Francis Muetzel, perwira senapan mesin dari Kompi A, terluka dan dibiarkan tewas dengan sendirinya. Ketika Muetzel sadar kembali, dia berjuang kembali ke garis pertahanan marinir dan membantu Eubanks. Kompi A akhirnya mundur dan menembakkan artileri ke posisi yang telah ditinggalkannya. Pada fajar tanggal 18 Agustus, para penyerang NKPA telah menghabiskan kekuatan mereka. Hal ini membuat Kompi B merebut posisi di Bukit 102 dan 109. Penembak senapan mesin Korea Utara di Bukit 117 kemudian melindungi mundurnya rekan-rekan mereka yang masih hidup. Marinir AS lalu melakukan serangan udara di Bukit 117, dan satu pesawat tempur menjatuhkan bom seberat 500 pon (226 kg). Marinir kemudian menyerbu Bukit 117 dan mengamankannya. Tentara Korea Utara panik dan melarikan diri dari puncak bukit. Penembak senapan mesin dan para prajurit Stevens lalu merobohkan orang-orang Korea Utara yang mundur. Di tempat lain Kompi A menyapu kearah selatan dan merebut Bukit 143 dengan sedikit perlawanan. Sebelum pagi berakhir, seluruh Obong-ni telah berada di tangan Marinir – tetapi kompi A dan B sekarang hanya tinggal berjumlah 216 prajurit, sekitar setengah dari kekuatan gabungan awal mereka. Di saat yang sama Peleton ke-3 menyerang Bukit 147, di mana sebagian besar NKPA mundur sementara beberapa berjuang sampai akhir. Marinir bergerak dalam barisan demi barisan merangkak menuruni lereng barat. Ketika mereka menembaki tentara Korea Utara, formasi musuh pecah dan pasukannya melarikan diri dengan panik. Pasukan infanteri Marinir kemudian bergerak ke selatan menuruni lereng Obong-ni, merebut puncak-puncak lainnya tanpa perlawanan. Sementara dari Batalyon Marinir ke-1 mengamankan lereng Obong-ni, Batalyon ke-3 memulai serangan dari ujung utara lereng Obong-ni ke Bukit 206, puncak berikutnya di sebelah barat. Resimen Infantri ke-9 mendukung serangan ini dari posisinya di Bukit Semanggi. Batalyon Marinir ke-3 lalu berhasil mengamankan bukit dalam waktu satu jam tanpa perlawanan. Para pengendali udara garis depan AS, pengamat artileri, dan unit infanteri garis depan semuanya melaporkan melihat musuh mundur ke barat menuju Sungai Naktong. Pengamat artileri kemudian mengarahkan tembakan pada kekuatan musuh yang mundur ini. Beberapa tembakan artileri yang diarahkan ke lokasi penyeberangan sungai terdiri dari amunisi dengan sumbu tertunda untuk memperoleh efektivitas yang lebih besar dalam menyerang pasukan infanteri yang berenang menuju seberang sungai. Pesawat-pesawat tempur juga menyerang sejumlah besar tentara Korea Utara di tempat terbuka dan menembaki mereka.
HASIL AKHIR PERTEMPURAN
Pada sore hari tanggal 18 Agustus, jelas bahwa tentara Amerika telah mengalahkan Divisi ke-4 Korea Utara. Divisi ini telah kehilangan 34 senjata artileri, yang terbesar adalah howitzer kaliber 122mm. Orang-orang Amerika sendiri menderita 600 korban tewas dan 1.200 terluka, ditangkap, atau hilang dalam Pertempuran Pertama di Tonjolan Naktong. Resimen Infanteri ke-9 dan unit pendukungnya menderita korban 57 tewas, 106 terluka, dua ditangkap, dan 13 hilang, total ada 180 korban. Resimen Infanteri ke-21 menderita sekitar 30 tewas dan 70 luka-luka, Resimen Infanteri ke-19 menderita sekitar 450 korban, dan Resimen Infanteri ke-34 sekitar 400. Resimen Infanteri ke-27 melaporkan sekitar 150 korban. Sedangkan Brigade Sementara Marinir ke-1 melaporkan 66 Marinir tewas, 278 terluka, dan satu hilang. Secara total, pasukan Amerika menderita sekitar 1.800 korban selama konflik, termasuk sekitar sepertiga dari mereka tewas. Korban di pihak Korea Utara diperkirakan 1.200 tewas dan 2.300 terluka. Setengah dari orang-orang Korea Utara yang terluka meninggal karena kurangnya perawatan medis yang memadai. Pada akhir pertempuran, Divisi ke-4 NKPA telah dihancur total, dengan hanya 300 atau 400 orang di setiap resimennya. Dari 7.000 orang awalnya, divisi itu sekarang hanya tinggal memiliki kekuatan 3.500 personel.



Hasil dari Pertempuran Pertama di Tonjolan Naktong adalah bahwa hal itu mengakibatkan pengurangan total dari efektivitas tempur Divisi ke-4 NKPA. Divisi yang terkenal ini tidak pernah pulih dari kekalahannya yang menghancurkan dalam pertempuran yang sulit itu. Angkatan Darat AS sebaliknya berhasil selama pertempuran ini dalam secara substansial meningkatkan kemampuan antitanknya ke titik di mana pasukan Korea Utara tidak lagi memiliki keuntungan yang menentukan dari penggunaan tank T-34 mereka. Pertempuran itu juga merupakan titik balik dalam perang bagi NKPA, yang telah memperoleh kemenangan sebelumnya karena jumlah tentara dan peralatan yang unggul. Setelah pertempuran Naktong pertama Pasukan PBB kini memiliki keunggulan jumlah personel dan peralatan yang lebih banyak, termasuk pada tank-tank M-4 Sherman, tank M-26 Pershing dan senjata berat lainnya yang mampu mengalahkan tank T-34 NKPA. Meski demikian, pada tanggal 31 Agustus, divisi Infanteri ke-2 dan ke-9 NKPA melintasi Naktong baik di bagian utara maupun ke daerah tonjolan lama, dan pertempuran harus dimulai dari awal lagi. Kali ini, tentara Korea Utara tidak bisa didesak kembali melintasi Naktong sampai musuh terakhir mundur dari seluruh perimeter Pusan setelah pendaratan di Inchon pada 15 September. Ketika pertempuran berlanjut di Perimeter Pusan hingga bulan September, pasukan Komando PBB secara bertahap memperoleh keunggulan ketika Amerika mampu menopang unit garis depan mereka dengan unit lapis baja tambahan dan senjata berat yang pada akhirnya mampu mengalahkan pasukan Angkatan Darat Korea Utara. Untuk mengenang pertempuran di Tonjolan Naktong, serta pertempuran lainnya di sepanjang Pusan Perimeter dan Pertempuran Taegu, pemerintah Korea Selatan kemudian mendirikan “Museum Pertempuran Sungai Nakdong” di sepanjang sungai di sekitar area pertempuran pada tahun 1979, yang meliputi sebuah sejumlah artefak dari masa Perang Korea serta monumen peringatan bagi mereka yang tewas selama perang.
Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
First Battle of the Naktong Bulge By Robert L. Durham
Korean War: First Battle of the Naktong Bulge by Uzal W. Ent
https://en.m.wikipedia.org/wiki/First_Battle_of_Naktong_Bulge
