S-125 Pechora/SA-3 Goa: Sistem Rudal Pertahanan Udara “Tua” Penakluk Pesawat Siluman F-117 Nighthawk

Dengan munculnya pesawat yang lebih gesit dan canggih dari pihak Barat selama dekade awal Perang Dingin, para insinyur Soviet diharuskan untuk segera mengembangkan perangkat penangkal guna melindungi wilayah udara yang luas di perbatasan Soviet. Pengembangan sistem pertahanan semacam ini dimulai dengan membuat rudal yang lebih mumpuni yang dikombinasikan dengan perangkat pelacakan dan kontrol penembakan yang akurat. Unit yang telah selesai dibuat kemudian dapat ditempatkan pada sasis beroda rantai atau beroda ban yang mampu membawa beban senjata atau ditempatkan pada landasan statis untuk mempertahankan instalasi atau wilayah strategis milik Uni Soviet. Salah satu dari sistem pertahanan udara yang kemudian dibuat ini adalah Sistem Rudal Darat Ke Udara (SAM) S-125 Pechora/SA-3 Goa yang dibuat untuk menjadi pelengkap dari sistem rudal pertahanan udara S-25 Berkut/SA-1 Guild dan S-75 Dvina/SA-2 Guideline. Sistem rudal ini memiliki jangkauan efektif yang lebih pendek dan ketinggian penembakan yang lebih rendah daripada pendahulunya dan juga terbang lebih lambat, tetapi karena desainnya, ia lebih efektif dalam menghadapi target yang lebih lincah bermanuver. Rudal ini juga mampu menyerang target yang terbang lebih rendah dari jarak penembakan minimum sistem rudal sebelumnya, dan lebih modern serta jauh lebih tahan terhadap ECM (gangguan elektronik) daripada sistem rudal S-75.

Sistem Rudal S-125 Pechora/SA-3 Goa merupakan Sistem Rudal Pertahanan Udara Jarak Menengah untuk melengkapi sistem rudal S-75 Dvina/SA-2 Guideline. (Sumber: https://www.citizendaily.net/)

DESAIN S-125 PECHORA

Sistem Rudal Permukaan ke Udara (SAM)  S-125 Neva / Pechora / SA-3 Goa dikembangkan oleh biro desain Almaz Central Design Bureau serta dibuat oleh Fakel MKB untuk melengkapi Sistem Rudal S-75 Dvina / SA-2 Guideline dalam Dinas Militer Soviet dan Pakta Warsawa. S-75 Dvina / SA-2 Guideline dirancang untuk memberikan cakupan pertahanan udara pada ketinggian menengah hingga tinggi, terutama terhadap pesawat pembom. Dengan demikian, rudal itu dianggap tidak cocok untuk menembak target udara yang terbang rendah, terutama pesawat tempur dan rudal jelajah. Dengan demikian, tujuan dari desain S-125 Neva/Pechora/SA-3 Goa yang dibuat oleh desainer Aleksei Mihailovich Isaev adalah menghasilkan sistem pertahanan udara dengan jangkauan penembakan untuk sasaran di ketinggian rendah hingga sedang, sehingga mampu melengkapi cakupan pertahanan udara di berbagai ketinggian dari wilayah udara yang ingin dilindungi. Secara khusus, target dari sistem rudal S-125 adalah objek yang terbang dengan kecepatan hingga 1500 km/jam (800 KTAS) dan pada ketinggian dari 100 m hingga 5000 m (~ 300 kaki hingga 16.500 kaki AGL), serta pada jarak hingga 12 km (~ 6,5 NMI), dimana sasaran ini harus dapat ditembak dan dihancurkan. Karakteristik performa seperti itu, saat ini masuk dalam karakteristik senjata pertahanan titik, tetapi pada tahun 1950-an sistem itu lebih dikenal sebagai senjata pertahanan area. Dengan konfigurasi dan kemampuan tempurnya, S-125 dianggap sebanding dengan sistem SAM MIM-23 HAWK asal Amerika. Soviet pada tahun 1950an berusaha untuk membuat sebuah sistem rudal baru dari pengalaman yang diperoleh pada sistem S-75 Dvina / SA-2 Guideline, yang menggunakan command link guidance dan proximity fuse warhead (sumbu ledak yang secara otomatis memantik bahan peledak pada rudal saat rudal mencapai jarak tertentu), tetapi mereka menyadari sejak awal bahwa desain radar baru secara fundamental diperlukan dengan mengatasi gangguan pantulan gelombang radar karena kontur tanah yang jauh lebih baik, dibandingkan dari seri radar RSNA/SNR-75/Fan Song yang digunakan pada sistem S-75 Dvina. Persyaratan untuk menggunakan mainlob antena yang lebih sempit mendorong para perancang untuk menggunakan frekuensi 9 GHz, jauh di atas rentang operasi ~ 6 GHz dari seri Radar RSNA / SNR-75 Fan Song sebelumnya. 

Sistem Rudal S-75 Dvina/SA-2 Guideline. Kelemahan yang ada pada rudal SA-2 ingin diperbaiki pada desain SA-3, terutama dalam hal kelemahannya terhadap gangguan elektronika yang dilancarkan musuh. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Pembuatan sistem rudal ini dimulai pada tahun 1956, bertujuan agar bisa mencapai tahap IOC (Initial Operating Capability) setelah tahun 1960. Sistem senjata yang dihasilkan kemudian terbukti lebih kompak daripada S-75 Dvina/SA-2 Guideline, yang memungkinkan dipasangnya dua peluncur rudal beserta rudalnya, yang menggunakan propelan padat, dan merupakan yang pertama dalam desain SAM PVO (Satuan Pertahanan Udara Soviet). Kontrol canard juga digunakan dalam rudal ini. Seperti pendahulunya, rudal tersebut menggunakan booster roket tahap pertama dengan propelant padat. Banyak masalah dalam pengembangan yang ditemui pada sistem ini, tetapi terutama dengan kinerja radio proximity fuse dan command link guidance pada ketinggian yang sangat rendah. Soviet terutama sangat menaruh perhatian pada uji coba penerbangan penetrasi di ketinggian rendah yang dilakukan Angkatan Udara AS dengan menerbangkan bomber supersonik B-58 Hustler, yang menunjukkan kemampuan untuk bisa menembus “sabuk” SAM milik AS tanpa terdeteksi, dengan mengeksploitasi kontur tanah dan medan pegunungan. Suatu kemampuan yang nantinya memengaruhi desain pembom taktis F-111 / FB-111 series dan pembom berat B-1A LRCA yang muncul kemudian. Sementara itu uji coba rudal V-600P dan radar baru yang dibuat Soviet menunjukkan kemampuan untuk menghadapi target dengan kecepatan hingga 2.000 km / jam (~ 1.100 KTAS), pada ketinggian antara 200 m dan 10.000 m (~ 600 kaki hingga 33 kft AGL), dengan target yang bisa bermanuver hingga hingga 4G (satuan gaya gravitasi) pada ketinggian 5.000 m hingga 7.000 m (16,6 kft hingga 23 kft) dan hingga 9 G di bawah ketinggian 3.300 kaki AGL pada kecepatan transonik. Perkiraan akurasi tembakan tunggal dari rudal ini memiliki Pk (probability kill) 0,82-0,99, yang kemudian menurun menjadi 0,49-0,88 jika lawan menggunakan chaff pengecoh. 

Uji coba penerbangan penerobosan ketinggian rendah oleh bomber supersonik B-58 Hustler, semakin menyadarkan pihak Soviet untuk segera membuat sistem rudal pertahanan udara yang mampu menangkal target yang terbang di ketinggian rendah. (Sumber: https://pixels.com/)

Sementara sistem rudal baru ini bisa memenuhi kebutuhan PVO, waktu penyimpanan dan pengerahannya serupa dengan S-75 Dvina/SA-2 Guideline dan dengan demikian dinilai terlalu lama untuk unit pertahanan udara Angkatan Darat, yang kemudian menolak desain tersebut, dan menyebabkan mereka mengembangkan sistem rudal bermobilitas tinggi 2K12 Kub/SA-6 Gainful. S-125 Neva/SA-3A Goa akhirnya mencapai IOC pada tahun 1961, yang kemudian digunakan sebagai bagian dari sistem sabuk SAM di wilayah Moskow. Varian perbaikan pertama dari sistem rudal ini adalah S-125M Neva M/SA-3B Goa, yang dimaksudkan untuk meningkatkan jangkauan penembakan kinematik rudal, dan mengganti detonator peledak ketinggian rendah dan perangkat penangkalan terhadap gangguan radar, serta menggunakan peluncur baru yang terdiri dari empat rel. Rudal baru itu kemudian diberi nama V-601P/5V27. IOC rudal baru ini tidak juga tercapai sampai awal tahun 1964. Sistem senjata ini tidak segera dikerahkan ke konflik di Asia Tenggara (Perang Vietnam) karena pihak Soviet khawatir Angkatan Udara AS akan segera mampu menganalisis desainnya dan menemukan kelemahannya, serta mengembangkan tindakan penangkalan yang efektif, karena mereka terbukti telah berhasil melakukannya pada Sistem Rudal S-75 Dvina/SA-2 Guideline.

Model awal dari PR-14A transloader/transporter yang membawa sistem rudal SA-3. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Sistem Rudal Pertahanan Udara SA-6 Gainful, yang memperoleh namanya dalam Perang Yom Kippur tahun 1973. Karena waktu penggelaran sistem rudal SA-3 masih dianggap terlalu lama, maka AD Soviet mengembang sistem rudal SA-6 Gainful. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Sebaliknya, Soviet mengekspor sistem rudal barunya itu ke Mesir, untuk melawan angkatan udara Israel yang terkenal inovatif dalam membuat frustrasi instruktur Soviet selama perang atrisi, dengan terbang jauh di bawah jangkauan ketinggian efektif baterai rudal SAM S-75 Dvina/SA-2 Guideline Mesir. Di Mesir, medan gurun pasir terbukti bermasalah bagi kendaraan beroda, yang kemudian sering diganti dengan traktor derek penarik artileri AT-S. Instruktur Soviet dikabarkan menembak jatuh beberapa pesawat Israel selama Perang Attrisi, kebanyakan F-4E Phantom dan setidaknya satu buah A-4 Skyhawk. Jamming pod ALQ-101 buatan AS diketahui efektif digunakan terhadap sistem rudal S-75 Dvina/SA-2 Guideline, tetapi tidak dengan S-125 Neva/SA-3 Goa, mungkin karena perbedaan sistem operasi dan antena pemindaian frekuensi yang digunakannya. Kemampuan menghadapi target ketinggian rendah yang baik dari sistem rudal itu membuat frustrasi taktik terbang penetrasi ketinggian rendah yang digunakan oleh Israel dalam Perang Atrisi. Pada perang Yom Kippur tahun 1973 berikutnya, S-125 Neva/SA-3 Goa mengulangi pencapaian sebelumnya, dan mengungguli kemampuan S-75 Dvina/SA-2 Guideline.

Sistem Rudal SA-3 milik Mesir di Sinai. (Sumber: https://www.pinterest.de/)
Foto udara Situs Rudal SA-3 di Timur Tengah. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Traktor AT-S yang banyak digunakan sebagai penarik sistem rudal SA-3 di kawasan Timur Tengah. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Pengalaman operasional di Timur Tengah mengarahkan pada pengembangan paket peningkatan S-125M1 Neva M1, yang dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan dan kinerja dalam melawan ganggunan elektronik. Teleskop televisi 9Sh33A Karat 2 ditambahkan untuk menyediakan pelacakan optik pada kondisi siang hari, dan diperkenalkannya peluru kendali versi 5V27D baru yang lebih berat dan lebih cepat dibuat. Rudal yang lebih berat mengakibatkan kapasitas rel peluncur rudal 5P73 dibatasi menjadi hanya tiga rudal. IOC tipe perbaikan ini berhasil dicapai pada tahun 1978. S-125 Neva/SA-3 Goa juga digunakan secara luas oleh Irak selama perang Iran-Irak, tetapi data statistik yang dapat dipercaya tidak ada, mengingat bahwa kedua belah pihak dalam konflik memiliki kebiasaan untuk terlalu melebih-lebihkan jumlah korban di pihak lawan dalam pertempuran. S-125 Neva/SA-3 Goa juga diketahui tidak bekerja dengan baik selama Operasi Badai Gurun tahun 1991, karena telah sepenuhnya bisa ditaklukkan setelah berhasil dirampasnya sistem radar SNR-125 Low Blow oleh Israel pada tahun 1973, dan telah tersedianya peralatan penangkal yang lebih baik. Namun demikian, rudal SAM Irak itu sepertinya dikreditkan dalam menembak jatuh beberapa pesawat Koalisi. Dua korban terdokumentasi terakhir yang dikreditkan pada sistem rudal S-125 Neva/SA-3 Goa adalah keberhasilan rudal ini untuk menjatuhkan pesawat serang siluman F-117A Nighthawk dan pesawat tempur F-16 yang hilang selama Operasi Pasukan NATO atas Serbia pada tahun 1999. 

Tipikal desain situs rudal SA-3 yang mirip dengan situs rudal SA-2. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Gambar lain layout situs rudal SA-3. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

S-125 Neva/SA-3 Goa versi dasar memenuhi persyaratan sebagai sistem SAM semi-mobile, yang membutuhkan waktu beberapa jam untuk mengatur atau memasang kembali baterai rudal yang dipindahkan. Komposisi baterai umumnya adalah terdiri dari sebuah radar tunggal seri SNR-125 Low Blow, empat peluncur rel ganda 5P71 atau empat rel 5P73, dan beberapa truk pengangkut/transloader pembawa rudal ganda seri PR-14 yang membawa rudal cadangan. Sebagian besar operator Sistem Rudal S-125 memasang sistem rudal ini di lokasi permanen, dengan revetment menggunakan bantalan dan dudukan beton, dan/atau tanggul tanah, untuk melindungi komponen sistem rudalnya. Radar SNR-125 / 125M Low Blow adalah radar penjejak yang digunakan untuk sistem SAM S-125/SA-3 Goa. Sementara sistem tersebut dianggap sudah usang, seperti SA-2, sejumlah pabrikan di bekas republik Soviet menawarkan peningkatan teknologi baru ke dalam desain Low Blow untuk meningkatkan kemampuan perawatan, kinerja, dan ketahanan terhadap gangguan elektronik. Seperti Radar SNR-75, SNR-125 menggunakan sepasang antena pemindai tetap, tetapi desainnya mewarisi sistem SORO (Scan On Receive Only) dengan antena parabola terpisah yang dipasang. Sebuah clutter cancelling channel disertakan, dengan menggunakan antena pusat. Seperti disebutkan sebelumnya, sistem pelacakan tambahan optik dipasang pada varian selanjutnya. Antena di bagian atas turret digunakan untuk saluran uplink rudal.

RADAR SNR-125 LOW BLOW

Radar SNR-125M Low Blow B bersama dengan dengan van UNV dan UNK, dan van generator (Sumber:Vestnik PVO/http://www.ausairpower.net/).

SNR-125 Low Blow adalah radar penyergap untuk sistem SAM yang dipandu command link S-125 / SA-3 Goa. Sistem ini digunakan secara luas oleh negara-negara Pakta Warsawa dan beberapa negara klien Soviet di Timur Tengah, serta India. Antena di bagian atas turret digunakan untuk saluran uplink FMCW rudal berdaya rendah. Antena suite pada kepala radar Low Blow lebih canggih dan kompleks daripada desain radar Fan Song yang muncul sebelumnya. Fungsi dari antena tersebut masing-masing adalah: 

  • UV-10: Mengirimkan data pelacakan dan target rudal, Mengirimkan/Menerima untuk penghitungan jarak target, Mengirim/Menerima data akuisisi target awal, Menerima clutter cancelling channel. Boom yang terpasang memiliki sekelompok tonjolan, yang termasuk sebuah rotating scanning feed, masing-masing menghasilkan mainlob yang unik. Akuisisi beam mainlobe yang dipindai memiliki lebar 1 ° dan menyapu pada sudut 15 ° pada elevasi 25 Hz, lobus utama untuk transmisi pelacakan target dan penerimaan data pencarian jarak adalah 10 °. 
  • UV11 F1 dan F2: Antena penerima untuk data transponder pelacakan target dan rudal. Antena ini menghasilkan mainlobe berbentuk kipas berukuran 1 ° x 15 ° yang menyapu dengan sudut 15 °. 
  • UV-12: Antena uplink rudal untuk Command Link FMCW 12 Watt.
Konfigurasi antena radar SNR-125 Low Blow. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Radar Low Blow dirancang untuk memperoleh target hanya dengan menggunakan input data dan jangkauan dari radar akuisisi tipe 2D eksternal, seperti P-12/18 Spoon Rest atau P-15M Squat Eye. Saat memperoleh target, kepala radar Low Blow diputar ke arah target dan antena pemindaian UV-10 diaktifkan untuk menghasilkan sinar kecil selebar 1 ° yang menyapu pada ketinggian. Setelah target diperoleh, radar Low Blow dialihkan ke mode pelacakan, dengan menggunakan antena UV-10 untuk memancarkan, UV-10 kemudian akan menerima data jangkauan, dan antena pemindai UV-11 chevron menerima data sudut pelacakan. Kepala radar secara mekanis diarahkan pada azimuth dan elevasi untuk mempertahankan penjejakan target. Secara singkat, sistem radar ini sebenarnya adalah kumpulan sistem yang mencakup elemen akuisisi target, kontrol penembakan dan segmen panduan C-band, dan sebuah perangkat deteksi ketinggian dan jarak yang bekerja dengan sistem E-band. Bekerja secara kolektif, pengaturan tersebut memastikan tingkat kesuksesan yang tinggi bahkan terhadap target yang bergerak cepat dan gesit. Radar Low Blow disebutkan dapat melacak 6 target pada satu waktu dan dapat memandu dua rudal sekaligus. Seperti radar Fan Song, radar Low Blow menyediakan mode pelacakan manual, pelacakan otomatis, dan pelacakan tipe television angle. Sistem ini menyediakan lima tipe kendali panduan rudal, TT (CLOS), PS, MV (LoAlt), K (serangan target permukaan) dan DKM (balistik).

Stasiun Operasi Radar Low Blow. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Display kontrol Radar SNR-125. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Tiga sinyal uplink rudal digunakan, K1 dan K2 untuk kemudi manuver pitch/yaw, dan K3 untuk kontrol fuse. Dalam Doktrin Rusia dalam kondisi gangguan elektronik berat kadang mereka mematikan emisi radar dan menggunakan scanning receiver untuk menghentikan efek jammer, dan melacak target dengan teleskop TV, dan melakukan tembakan rudal yang tidak diketahui dari jarak jauh dengan mode CLOS. Karena penambahan perangkat peredam gangguan elektronik dan sirkuit MTI analog, radar Low Blow memiliki performa clutter rejection yang jauh lebih baik dibandingkan dengan radar Fan Song yang lebih tua. Kemampuan deteksi target pada ketinggian rendah disebut bisa dilakukan pada target serendah ketinggian 20 m (~ 60 kaki AGL). Diatas kertas, radar Low Blow dapat mendeteksi hingga jarak 59.3 km, dengan jarak minimum 0.4 km dan ketinggian hingga 30480 m. Sejumlah peningkatan menampilkan radar Low Blow yang dapat ditarik dan dipasang ke kendaraan yang memberikannya kemampuan untuk “menembak dan bergerak” bagi baterai rudal S-125, dengan peluncur rudalnya juga dipasang pada kendaraan sehingga menghasilkan pertahanan udara yang mobile. Beberapa peningkatan lainnya juga tersedia di mana sebagian besar atau semua perangkat elektronik analognya diganti dengan teknologi COTS digital.

RUDAL DARAT KE UDARA 5V24 & 5V27

Desain badan dasar dari rudal 5V24 / 5V27 mirip dengan yang ada pada sistem rudal S-75/SA-2 Guideline sebelumnya, tetapi dengan dua perbedaan penting. yang pertama adalah penggunaan booster propelan padat berasap rendah, yang kedua adalah penggunaan kontrol canard bersilang. Seperti pendahulunya, rudal 5V24 / 5V27 memiliki desain yang sangat sederhana, dengan command link guidance. Hidung rudal menampung radio proximity fuse. Pada varian awal, menggunakan seri 5E15 Proliv, sedang dalam varian selanjutnya adalah menggunakan seri 5E18. Antena pemancar ada di hidung, sedang antena penerima ada di belakang kontrol canard dan modul aktuatornya. Canard digunakan untuk input kontrol gerak pitch/yaw, dengan sepasang aileron pada sayap bersilang yang digunakan untuk stabilisasi gerakan roll. Hulu ledak fragmentasi berbentuk kerucut yang terpotong dipasang di belakang kendali canard. Pada varian awal, hulu ledak ini bertipe 5B15, dengan ~ 33 kg bahan peledak tingkat tinggi dan casing prefragmented yang dirancang untuk menghasilkan sekitar 3.560-3.570 fragmen berkecepatan tinggi. Varian selanjutnya menggunakan hulu ledak seberat 72 kg tipe 5P18 yang menghasilkan 4.500 fragmen. Mekanisme penghancuran mandiri 5B72 dipasang di belakang hulu ledak. Sistem autopilot 5A22/APS-600 dan Modul Command link control 5U42/UR-20A dipasang di belakang hulu ledak di bagian kontrol utama. Sebuah Turbogenerator UR-80M dipasang di bagian ini, bersama dengan konverter daya tipe 5P54. Tangki udara bertekanan 300 atm berbentuk bola digunakan untuk menggerakkan kontrol rudal. Rudal V-600P menggunakan booster roket propelan padat tipe 5B83, yang dibuat dengan selubung silinder baja berdiameter 375 mm dan diisi dengan 125 kg muatan propelan berbasis nitroselulosa tipe NM-4Sh, dalam pengaturan annular. Pemantik tipe 5B93 digunakan, memulai pembakaran dari pusat rongga silinder. Saluran kabel eksternal mengarahkan kabel sinyal di sekitar bagian mesin. 

Model awal rudal 5V24 SA-3A Goa (Sumber gambar: Almaz via Vestnik PVO/http://www.ausairpower.net).
Rudal model terbaru 5V27 SA-3B Goa (Sumber gambar: Almaz via Vestnik PVO/http://www.ausairpower.net/).
Peluncur statis berkapasitas 4 rudal tipe5P73. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Proses pengisian ulang peluncur 5P71 dari kendaraan transloader PR-14A. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Tahap pertama, yang digunakan untuk mempercepat peluncuran rudal, menggunakan pembangkit bertenaga roket padat PRD-36 dengan durasi pembakaran selama 2-4 detik. Desain ini menggunakan 14 tabung propelan padat NMF-3K dan sebuah variabel bersilang. Stabilisator pada booster dirancang untuk bisa dilipat saat berakselerasi dan mengunci posisi penerbangan. Sistem panduan pada rudal relatif sederhana, yang terdiri dari sistem autopilot dan command link receiver, dengan suar rudal di bagian ekor untuk memfasilitasi pendeteksian oleh radar Low Blow. Dalam operasinya, radar Low Blow melacak target dan terus menghitung lintasan rudal yang optimal untuk melakukan intersep pada target, sambil membimbing rudal 5B24/5V27 melalui transponder beacon. Uplink tersebut kemudian digunakan untuk terus menggerakkan jalur penerbangan rudal sedekat mungkin dengan lintasan yang dimaksudkan, dalam skema manuver loop tertutup. Radar Low Blow menyediakan mode pelacakan manual, pelacakan otomatis dan mode television angle tracking. Sistem ini menyediakan lima tipe pengendalian panduan rudal, yakni TT (CLOS), PS, MV (LoAlt), K (serangan target permukaan) dan DKM (balistik). Tiga sinyal uplink rudal yang digunakan, adalah K1 dan K2 untuk kemudi pitch/yaw, dan K3 untuk kontrol fuse. Sistem kontrol yang paling sering digunakan adalah teknik “Polavinoye Spravleniye (PS – setengah koreksi)”, yang merupakan mode yang mengenali jangkauan target. Dalam mode PS, Proximity fuse diaktifkan pada jarak 60 m sebelum rudal mencapai target, sedangkan dalam mode TT/CLOS dengan jarak yang belum diketahui, fuse diaktifkan segera setelah peluncuran rudal. Skema panduan command link, dan kebutuhan untuk memilih sistem kendali dan mode radar dengan hati-hati, membutuhkan tingkat keterampilan operator yang tinggi dan pemahaman yang baik tentang geometri penembakan terhadap target. Rudal S-125 efektif melawan pesawat tempur supersonik dan target subsonik seperti pesawat angkut dan pembom. Rudal 5V24 versi orisinil memiliki jangkauan efektif 4 hingga 15 km dan jangkauan dari ketinggian 100 m hingga 10 km. Sementara versi 5V27 yang lebih baru memiliki jangkauan dari 4 hingga 25 km dan ketinggian dari 100 m hingga 14 km. Rudal ini mampu mencapai kecepatan puncak hingga 3.5 kali kecepatan suara/3.5 Mach.

VARIAN & UPGRADE

Setelah berakhirnya Perang Dingin, dengan usianya yang sudah tergolong tua, Sistem SAM S-125 Pechora, juga telah mendapat sentuhan upgrade dari beberapa pabrikan yang menawarkan peningkatan kemampuan sistem senjata lama ini, sebagian besar dengan melakukan peningkatan mode digital pada sistem radar dan paket perangkat pemandu-nya, serta beberapa melibatkan penggantian pada kendaraan pengangkut sistemnya agar menjadi lebih mobile daripada semi-mobile seperti pada sistem senjata aslinya. S-125/SA-3 Goa menjadi lebih menarik untuk ditingkatkan kemampuannya dibandingkan dengan sistem SAM S-75/SA-2 Guideline, karena rudal tersebut lebih baru desainnya, dan tidak terlalu memerlukan banyak penggantian pada sistem propulsinya karena telah menggunakan motor propelan padat. Beberapa paket peningkatan itu diantaranya adalah sebagai berikut:

Tetraedr S-125T/2T Pechora 2T/2TM

Tetraedr, sebuah perusahaan pertahanan dari Belarus telah mengembangkan dua paket upgrade, yakni Pechora 2T dan Pechora 2TM yang kemampuannya telah ditingkatkan. Peningkatan ini melibatkan dilakukannya desain ulang komponen radar utama, bukaan antena atas baru, dan perangkat lunak autopilot yang telah diperbaiki. Untuk Pechora 2T, peningkatan utamanya adalah kemampuan penangkalan gangguan elektroniknya  dengan daya sebesar 2700 W/MHz (AWGN) dibanding 24 W/MHz pada desain lama, yang menunjukkan desain frekuensi hopping dengan rasio penyebaran yang lebih baik hingga rasio 100: 1. Pechora 2TM juga menggunakan trailer tarik baru untuk radar UNV-2TM Low Blow-nya. Perangkat seduction decoy tipe CPTЗ-125 juga termasuk dalam paket upgrade. Waktu untuk penggelaran sistem  rudal ini adalah sekitar 20 menit.

Tetraedr mengupgrade radar UNV-2T Low Blow untuk sistem Pechora 2T. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Upgrade Tetraedr untuk peluncur 4 rudal 5P73-2TM (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Defence Systems S-125-2M/2K Pechora 2M/2K

Perusahaan asal Rusia dan Belarus melalui perusahaan patungannya, Oboronitelnye Sistemy, mengembangkan paket upgrade Pechora 2M dengan menggunakan TEL (kendaraan transport) beroda, dan sistem tersebut mulai diekspor ke Mesir pada tahun 2006. Sistem ini dirancang untuk dapat digelar dan disimpan dalam waktu sekitar 25 menit. Rudal 5V27D dan 5V27DE yang ditingkatkan menampilkan fuse dan hulu ledak baru, dan perangkat elektronik yang telah ditingkatkan secara komprehensif dengan perangkat keras digital, pelacak elektro-optik yang telah ditambahkan. Fitur menarik dari desain ini adalah bahwa peluncur 5P71 telah dipasang pada truk 6 x 6 MZKT-8022, seperti pada radar SNR-125 Low Blow-nya. Mesir adalah klien ekspor pertamanya.

Peluncuran Rudal Pechora-2M yang ditingkatkan kemampuannya dari MZKT-8022 TEL (Sumber: http://www.ausairpower.net/).
Pechora 2M TEL yang didasarkan pada sasis kendaraan 6 x 6 MZKT-8022 dan menggunakan peluncur dua rudal tipe 5P71. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Almaz-Antey S-125-2A Pechora 2A

Pabrikan Almaz-Antey menawarkan upgrade teknologi Pechora 2A untuk desain lama sistem S-125/SA-3 Goa, dengan menggunakan komponen digital yang sebelumnya digunakan pada sistem rudal SAM kelas berat S-300PMU1/2/SA-20 Gargoyle. Terdapat 90% kesamaan dengan paket upgrade dari S-75-2/SA-2. Berdasarkan Kutipan Deskripsi dari Rosoboronexport, Peningkatan sistem S-125 Pechora direncanakan terdiri dari: 

  • Perluasan zona penembakan dengan memperkenalkan metode panduan rudal yang lebih baik; 
  • Peningkatan probabilitas perkenaan target (termasuk target pada ketinggian rendah) dengan meningkatkan akurasi perangkat pemandu SAM;
  • Kemampuan tambahan untuk mendeteksi dan melacak target udara dalam kondisi gangguan elektronik intensif dan gangguan pasif, termasuk meteoghost dan background clutter;
  • Peningkatan kinerja ADMS dalam mode TV/optik berkat peningkatan akuisisi target otomatis dan pelacakan pada saluran TV;
  • Peningkatan karakteristik operasional, termasuk otomatisasi parsial; substitusi beberapa unit dengan perangkat keras terbaru; peningkatan fasilitas pelatihan awak; pengurangan volume dan durasi pekerjaan pemeliharaan terjadwal; peningkatan keandalan operasional; perpanjangan umur operasional; dan pengurangan konsumsi daya.

Komposisi Sistem:

  • Radar pemandu rudal tipe SNR-125M-2A yang terdiri dari beberapa antena UNV, kabin kontrol tipe UNK-M2A yang ditingkatkan, dan bengkel perbaikan bergerak.
  • Baterai rudal pertahanan udara yang termasuk hingga empat peluncur tipe 5P73 dan hingga 8 kendaraan transporter-loader tipe PR-14AM pada sasis beroda 
  • Sistem SAM 5V27D 
  • Sistem catu daya listrik yang terdiri dari kabin distribusi RKU-N, pembangkit listrik diesel-listrik tipe 5E96A dan unit trafo bergerak tipe 5E74M-230 
  • Lapisan kabel KU-03T dengan satu set kabel dapat dikirimkan sebagai tambahan.

Atas permintaan pelanggan, paket S-125-2A Pechora-2A ADMS dapat dilengkapi dengan peralatan dan fasilitas buatan luar negeri.

Kapabilitas paket upgrade Pechora 2A. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Upgrade Cenrex Newa C/SC

Angkatan Darat Polandia mengejar peningkatan ekstensif dari sistem SAM S-125, yang sebagian di antaranya melibatkan pengubahan sistem S-125 menjadi desain self-propelled yang lebih mobile, di bawah proyek yang diberi nama Newa-C dan SC. Awalnya, Radar SNR-125 Low Blow dan peluncur 5P73 dimaksudkan untuk dapat dibawa dengan sasis tank CTM-2 (T-55), tetapi getaran dan ukuran kendaraan terbukti tidak sesuai dengan radar tersebut. Upaya kedua yang dilakukan adalah untuk memodifikasi kembali kendaraan pembawa rudal Scud tipe 9P117 TEL yang berlebih, untuk membawa perangkat radar SNR-125 dan peluncur 5P73. Yang terakhir ini terbukti berhasil secara teknis tetapi pasokan TEL Scud lokal tidak cukup untuk mendukung program Angkatan Darat Polandia, dan kompromi akhirnya dicapai dengan menggunakan sasis tank sebagai sasis peluncur dan TEL Scud untuk membawa radar. Sumber Polandia mengklaim pemasaran dari program peningkatan ini ke India telah diblokir oleh pemerintah Rusia. Peningkatan ini melibatkan penggantian semua perangkat keras elektronik lama dengan perangkat keras dan perangkat lunak COTS digital.

Paket upgrade Cenrex Newa SC S-125M yang dirancang Polandia dengan kendaraan pengangkut CTM-2 / T-55 TEL di latar depan, dan radar SNR-125 Low Blow di latar belakang. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Deskripsi upgrade dari Cenrex adalah sebagai berikut: 

  • 100% digitalisasi semua komponen elektronik; 
  • Peningkatan resistensi terhadap gangguan Elektronik; 
  • Stasiun Komando dan Kontrol baru (Stasiun C2 asli digantikan);
  • Pengenalan teknologi komputer canggih dan komponen off the shelf (COTS) yang mudah tersedia di pasar internasional (sehingga perangkat yang digunakan tidak dapat terkena dampak serius dari pembatasan perdagangan internasional);
  • Penggunaan pemancar baru, dengan daya puncak yang lebih rendah dan radiasi yang lebih sedikit, karena sistem seperti ini akan lebih sukar dideteksi oleh musuh; 
  • Peningkatan probabilitas perkenaan target hingga lebih dari 0,95;
  • Mobilitas tinggi karena penggunaan sasis beroda rantai atau beroda ban sebagai kendaraan induk (mode A / B); 
  • Waktu penggelaran yang sangat singkat – kurang dari 15 menit; 
  • Waktu persiapan di lokasi baru yang sangat singkat – kurang dari 17 menit;
  • Ketersedian interface ke sistem peringatan dini radar tingkat tinggi;
  • Jaminan dari pihak Polandia untuk mengirimkan suku cadang untuk komponen pergantian untuk periode 10 tahun ke depan; 
  • Bantuan dan dukungan teknis selama proses modernisasi dan pengenalan operasional; 
  • Pilihan untuk melakukan modernisasi di depot militer milik negara klien dengan hanya melibatkan sejumlah kecil ahli dan teknisi asal Polandia; 
Demonstrator MAZ-543 TEL Polandia yang dibangun kembali dari kendaraan pengangkut rudal Scud 9P117. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

Cenrex menawarkan tiga mode modernisasi Pechora, yakni: 

  • Versi beroda ban/rantai; 
  • Versi beroda ban; 
  • Modernisasi Kabin Komando & Kontrol dengan Sistem Komando tipe 125-SC

Cuban T-55 / 5P73 TEL

Kuba telah mengembangkan dan menggunakan TEL versi asli berdasarkan konfigurasi peluncur empat rel 5P73 yang dikawinkan dengan sasis tank T-55 yang sudah usang. Jumlah total konversi dari sistem S-125 yang mereka miliki tidak diketahui, tetapi beberapa TEL ditampilkan secara publik selama parade di Havana tahun 2006. Desain ini cukup berbeda dari desain Ankol/Cenrex Polandia sehingga dapat dianggap sebagai versi tersendiri.

Versi modifikasi kendaraan pengangkut rudal SA-3 yang didasrkan pada sasis tank T-55 milik Kuba. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

VARIAN ANGKATAN LAUT

Pembuatan versi angkatan laut dari Sistem Rudal S-125, yakni M-1 Volna (SA-N-1) dimulai pada tahun 1956, bersamaan dengan pengerjaan versi daratnya. Versi angkatan laut ini pertama kali dipasang pada kapal perusak kelas Kotlin (Project 56K) Bravyi yang dimodifikasi ulang dan diuji pada tahun 1962. Pada tahun yang sama, sistem tersebut diterima dalam dinas operasional. Rudal dasar yang digunakan pada versi ini adalah V-600 (atau 4K90) dengan jangkauan mulai dari 4 hingga 15 km, dan ketinggian jelajah dari 0,1 hingga 10 km. Kontrol dan panduan penembakan dari sistem rudal ini dilakukan oleh radar tipe 4R90 Yatagan, dengan lima antena parabola di kepala yang sama. Hanya satu target yang dapat ditembak oleh sistem rudal ini dalam satu waktu (atau dua, untuk kapal yang dilengkapi dengan dua sistem Volna). Dalam keadaan darurat, Volna juga dapat digunakan untuk menyerang target angkatan laut, karena waktu reaksinya yang singkat. Jenis peluncur rudal pertama dari versi angkatan laut ini adalah tipe ZIF-101 dengan kapasitas dua rudal, dengan cadangan untuk 16 rudal. Pada tahun 1963, versi peluncur dengan dua rudal yang kemampuannya telah ditingkatkan, yakni ZIF-102 muncul, dengan amunisi cadangan untuk 32 rudal, dipasang pada kelas kapal yang baru. Pada tahun 1967 sistem Volna ditingkatkan menjadi Volna-M (SA-N-1B) dengan menggunakan rudal V-601 (4K91) yang memiliki jarak jangkau antara 4–22 km, dan ketinggian jelajah 0,1–14 km. Pada tahun 1974 – 1976 beberapa sistem dimodernisasi menjadi standar Volna-P, dengan tambahan perangkat pelacakan target via TV dan ketahanan yang lebih baik terhadap gangguan elektronik. Kemudian, rudal V-601M nya telah ditingkatkan kemampuannya, dengan ketinggian serang minimal yang lebih rendah terhadap target udara (sistem Volna-N). Beberapa fregat India diketahui juga membawa sistem M-1 Volna.

M-1 Volna (SA-N-1 Goa), versi angkatan laut dari sistem rudal S-125. (Sumber: https://twitter.com/)

PRODUKSI DAN EKSPOR

S-125 Neva / SA-3 Goa diproduksi oleh Soviet dari pertengahan tahun 1960-an hingga 1980-an, dengan pembuatan suku cadang untuk mendukung instalasi yang telah diekspor terus berlanjut sejak saat itu. Soviet mengekspor senjata itu secara global, dan saat ini tampaknya senjata itu termasuk yang paling banyak digunakan dari sistem SAM model lama. Karena S-125 Neva/SA-3 Goa tidak memerlukan penimbunan dan penanganan bahan bakar cair hipergolik yang merepotkan, dan jauh lebih sederhana untuk dioperasikan dan dipelihara daripada sistem rudal penerusnya yang lebih baru, yakni sistem rudal 2K12 Kvadrat/SA-6 Gainful, S-125 menjadi sistem SAM yang sangat populer di negara-negara berkembang. Memastikan status dari penggunaan sistem SAM ini di seluruh dunia saat ini tidak mudah, karena banyak operator tidak mengungkapkan keadaan sistem pertahanan udara mereka. Rusia menghentikan penggunaan sistem rudal ini pada tahun 1990-an, tetapi sistem ini diketahui tetap digunakan di banyak negara bekas pecahan Republik Soviet, beberapa negara bekas Pakta Warsawa, dan banyak negara klien Soviet di negara-negara berkembang, terutama di Afrika. Sejumlah peningkatan sistem elektronik dan mobilitas juga telah dikembangkan.

Meski terakhir dibuat pada tahun 1980an, namun suku cadang sistem rudal SA-3 masih terus tersedia hingga kini. Hal ini turut mendukung keawetan pengoperasian sistem rudal lama ini. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)

METODE UNTUK MENAKLUKKAN SISTEM RUDAL S-125/SA-3

SA-3 adalah rudal pertahanan dengan jarak lebih pendek dengan kemampuan manuver lebih baik daripada rudal SA-2 sehingga bagi para pilot perlu untuk lebih berhati-hati saat terbang melalui area yang diketahui dilindungi oleh baterai rudal SA-3. Namun dalam prakteknya taktik menghindari rudal SA-3 hampir sama dengan menghindari SA-2. Untuk mengatasinya, setelah rudal SA-3 berhasil diluncurkan, pilot pesawat harus mencari lokasi rudal dengan mencari jejak asap yang ditinggalkan pada tahap pertama dan tahap kedua rudal diluncurkan. Kemudian gunakan perangkat penangkal balasan dengan interval tertentu. Ketika rudal sedang berada sekitar setengah jalan menuju pesawat, pilot disarankan melakukan manuver break, berbelok ke arah rudal untuk mengganggu sistem pelacakannya dan menyebabkan rudal terbang meleset melampaui batas jalur penerbangannya. Atau si pilot dapat juga memanfaatkan jangkauan SA-3 yang relatif pendek, dengan keluar dari jalur lintasan rudal dan mengalahkan rudal tersebut secara kinetik. Sementara itu proses untuk mengalahkan SA-3 secara non visual sama dengan secara visual tetapi alih-alih menggunakan pengamatan secara visual, pilot dapat menggunakan informasi yang diberikan dari pesawatnya. Seperti dengan menggunakan perangkat RWR (peringatan deteksi radar). Jika peluncuran rudal SA-3 terdeteksi di perangkat RWR, lakukan manuver break turn ke jalur yang diprediksi menjadi jalur lintasan rudal dan lakukan counter measures serta segera keluar dari radius ancaman rudal. Sekali lagi jika SA-3 diluncurkan dari jarak jauh, disarankan untuk menjauhi rudal itu. Untuk menghancurkan situs SA-3, hancurkan perangkat peluncurnya dan kemudian radarnya. Senjata yang direkomendasikan adalah dengan menggunakan rudal anti radar HARM atau ARM dan munisi tandan (cluster) untuk menghancurkan peluncurnya dan target lunak lainnya yang mungkin muncul dengan sendirinya, yaitu senjata anti pesawat AAA dan rudal anti pesawat portable ManPads. Karena radius SA-3/S-125 yang relatif pendek, sistem ini digunakan untuk menyediakan pertahanan udara jarak menengah untuk melengkapi sistem SAM jarak jauh seperti SA-2 atau SA-5. Karena kombinasi “ancaman ganda” semacam ini maka penghancuran situs SAM secara individu sulit dan sering tidak praktis untuk dilakukan, karena kombinasi berbagai sistem SAM yang dipasang di daerah tersebut. Misalnya situs SA-5 mungkin dikelilingi oleh baterai SA-2 dan beberapa situs SA-3. Karena itu beberapa upaya sekaligus harus digunakan untuk menghancurkan target situs SA-5 dengan menghancurkan terlebih dahulu baterai rudal SA-2 dan SA-3 yang ada di sekitarnya.

Terdapat beberapa cara untuk mengatasi sistem rudal SA-3, diantaranya dengan bermanuver dan melepas perangkat pengecoh. (Sumber: https://twitter.com/)
Rudal anti radar AGM-88C HARM, yang dapat digunakan untuk mengahancurkan sistem radar rudal S-125 Pechora. (Sumber: http://www.designation-systems.net/)

DINAS OPERASIONAL DAN PENGALAMAN TEMPUR

Sistem SAM S-125 pertama kali dikerahkan ke dalam dinas operasional antara tahun 1961 dan 1964 di sekitar wilayah Moskow, yang dengan ini turut menambah situs rudal S-25 (SA-1) dan S-75 (SA-2) yang sudah mengelilingi kota itu, serta di bagian lain di wilayah Uni Soviet. Pada tahun 1964, versi dari sistem rudal ini yang telah ditingkatkan kemampuannya, yakni S-125M “Neva-M” dan kemudian S-125M1 “Neva-M1” mulai dikembangkan. Versi asli dari sistem rudal diberi nama SA-3A oleh Departemen Pertahanan AS dan Neva-M yang baru diberi nama SA-3B dan versi angkatan lautnya sebagai SA-N-1B. Neva-M memperkenalkan booster baru yang didesain ulang dan sistem panduan yang telah ditingkatkan. S-125 tidak digunakan untuk melawan pasukan AS di Vietnam, karena Soviet khawatir bahwa China (setelah hubungan antara China-Soviet memburuk pada tahun 1960), yang mana sebagian besar kiriman senjata ke Vietnam melewati wilayahnya, akan mencoba menyalin desain rudal itu. Namun bagaimanapun toh Vietnam akhirnya mendapatkan juga sistem rudal ini. Sementara itu di Angola, AU Angola (FAPA-DAA) turut memperoleh sejumlah besar sistem rudal S-125, dan rudal ini dihadapi oleh pesawat-pesawat Mirage F.1 SAAF yang diterbangkan dalam serangan pertama mereka terhadap sasaran di Angola pada bulan Juni 1980. SAAF melaporkan bahwa dua pesawatnya rusak oleh tembakan sistem SAM ini selama periode tersebut. Di sisi lain Angola mengaku telah menembak jatuh empat pesawat SAAF. Pada tanggal 7 Juni 1980, saat menyerang Kamp Pelatihan Tobias Haneko milik SWAPO selama Operasi Skeptic (Smokeshell), Mayor SAAF Frans Pretorius dan Kapten IC du Plessis, keduanya menerbangkan Mirage F.1, dihantam oleh rudal S-125. Pesawat Pretorius tertembak saluran bahan bakarnya dan dia harus melakukan pendaratan darurat di AFB Ondangwa. Pesawat Du Plessis yang juga mengalami kerusakan yang lebih parah dan harus beralih ke landasan udara garis depan Ruacana, tempat ia mendarat dengan hanya bagian bawah roda utamanya yang keluar. Kedua pesawat tersebut kemudian diperbaiki dan bisa kembali beroperasi.

Rudal SA-3 milik Kuba dalam parade. Beberapa dari sistem rudal ini dikirim ke Angola tahun 1988. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)
Formasi pesawat tempur Mirage F-1 milik SADF. Setidaknya 2 pesawat tempur SADF tipe ini dirusak oleh sistem rudal SA-3 Goa saat menjalankan misi tempur di Angola. (Sumber: https://www.wikiwand.com/)

Soviet diketahui juga memasok beberapa sistem rudal S-125 ke negara-negara Arab pada akhir tahun 1960-an dan tahun 1970-an, terutama kepada Mesir dan Suriah. S-125 digunakan secara ekstensif selama Perang Attrisi dan Perang Yom Kippur tahun 1973. S-125, bersama dengan sistem rudal S-75 Dvina dan 2K12 Kub, kemudian menjadi tulang punggung jaringan pertahanan udara Mesir. Di Mesir, antara bulan Maret – Juli 1970 Batalyon-batalyon rudal S-125 Soviet melakukan 17 kali penembakan dengan melepaskan 35 rudal dan menembak jatuh sembilan pesawat Israel dan satu pesawat Mesir. Israel sendiri mengakui bahwa 5 F-4 Phantom nya ditembak jatuh pada tahun 1970 (1 lainnya di-Write Off]) dan pada tahun 1973 mereka kehilangan 6 lainnya. Di medan Teluk Persia, sebuah pesawat tempur F-16 milik USAF (dengan nomor seria 87-257) ditembak jatuh pada tanggal 19 Januari 1991, selama Operasi Badai Gurun. Pesawat itu ditembak sistem  SAM S-125 di daerah selatan Baghdad. Pilotnya, Mayor Jeffrey Scott Tice, berhasil keluar dengan selamat tetapi menjadi tawanan perang, karena ia melompat keluar dari pesawat di wilayah Irak. Itu adalah kerugian tempur ke-8 dan dilakukan dalam serangan siang hari pertama di atas kota Baghdad. Pada malam pembukaan Operasi Desert Storm, pada 17 Januari 1991, sebuah B-52G rusak oleh tembakan sebuah rudal. Berbagai versi berbeda muncul Dalam peristiwa itu. Rudal itu bisa jadi dari sistem rudal S-125 atau 2K12 Kub sementara versi lain melaporkan bahwa sebuah MiG-29 diduga menembakkan rudal Vympel R-27R dan merusak B-52G tersebut. Namun, Angkatan Udara AS membantah klaim ini, dengan menyatakan bahwa pembom itu terkena tembakan pasukan kawan, oleh Rudal Anti-Radiasi (HARM) berkecepatan tinggi AGM-88 yang menyasar radar pengontrol tembakan dari kanon di ekor pesawat B-52. Jet Bomber itu kemudian berganti nama menjadi “In HARM’s Way”. Tak lama setelah insiden ini, Jenderal George Lee Butler mengumumkan bahwa posisi penembak pada kru B-52 akan dihilangkan, dan turret kanon-nya dinonaktifkan secara permanen, mulai tanggal 1 Oktober 1991. 

Sisa-sisa reruntuhan F-16C nomor seri 87-257 yang ditemukan oleh pasukan darat AS di Irak selama Badai Gurun. Kanopi pesawatnya kemudian ditemukan oleh pasukan AS dalam invasi tahun 2003. (Sumber: https://en.m.wikipedia.org/)
Posisi penembak pada ekor pesawat bomber B-52 dihilangkan setelah insiden yang diduga “Friendly Fire” dalam Perang Teluk 1991. (Sumber: https://www.wearethemighty.com/)

Radar SNR-125M Low Blow yang dioperasikan bersama baterai rudal SAM S-125M yang paling sukses yang pernah digunakan dalam pertempuran muncul di wilayah bekas Yugoslavia. Sistem ini, sebelumnya merupakan bagian dari baterai ke-3 Brigade Rudal ke-250 dari Angkatan Udara Federal Yugoslavia (3. raketni divizion 250. raketne brigade PVO (Protivvazdusne otbrane)), satuan ini dikreditkan dua kali sukses menembak jatuh pesawat musuh yang terkonfirmasi selama kampanye udara Angkatan Udara Sekutu pada tahun 1999, di bawah komando LtCol dan kemudian Kolonel Zoltán Dani. Kill diklaim pertama didapat atas Vega 31, sebuah pesawat serang siluman F-117A dengan nomor AF 82-0806, yang hilang pada tanggal 27 Maret 1999 di dekat desa Budjanovci, sekitar 45 km dari Beograd. Pilot LT.COL. Darrell Patrick Zelko berhasil keluar dengan selamat dan kemudian ditemukan dan diselamatkan oleh pasukan SAR AS. Klaim kill kedua yang didapat adalah atas sebuah pesawat tempur F-16CG dengan nomor seribAF 88-0550, yang hilang pada tanggal 2 Mei 1999. Pilotnya; Letnan Kolonel David L.Goldfein, komandan Skuadron Tempur 555, berhasil menyelamatkan diri dan kemudian diselamatkan oleh Tim SAR. Selain itu pihak Serbia juga mengklaim sukses menembak jatuh Bomber B-2A Spirit, pada tanggal 20 Mei 1999, tetapi tidak ada bukti fisik yang mendukung klaim terakhir ini. Pada tahun 2020, sumber dari Amerika menyatakan bahwa F-117A kedua ditembak dan rusak selama kampanye udara dalam Perang Kosovo itu, diduga terjadi pada tanggal 30 April 1999. Pesawat disebutkan berhasil kembali ke pangkalan Spangdahlem, tetapi tidak pernah bisa diterbangkan lagi. Selama perang, situs SAM Yugoslavia yang berbeda dan mungkin dengan menggunakan sistem rudal S-125 juga telah menembak jatuh beberapa UAV NATO. Radar SNR-125M Low Blow yang digunakan Serbia sejak 1999 diduga telah ditingkatkan ke konfigurasi SNR-125M1T, dengan sistem thermal imager dan laser rangefinder, dan beberapa peningkatan elektronik seperti TVK (peralatan koordinasi via televisi), dan baru-baru belakangan terlihat difoto di kawasan Jakovo, dekat Bandara Internasional Beograd. Sistem rudal ini saat ini menjadi milik Batalyon Rudal ke-2 Angkatan Udara Serbia.

Reruntuhan kanopi pesawat serang siluman F-117 Nighthawk yang ditembak jatuh oleh sistem rudal SA-3 milik Serbia pada tahun 1999. (Sumber: https://www.strijdbewijs.nl/)
Radar UNV SNR-125M1T Angkatan Udara Serbia dan van operator UNK. Sistem ini adalah bagian dari baterai yang menembak jatuh pesawat F-117A dan F-16CG selama OAF pada 1999. (Sumber: http://www.ausairpower.net/)
Sistem pertahanan udara S-125 Neva dari Brigade Pertahanan Udara 250 Angkatan Darat Serbia dipamerkan di pangkalan udara Batajnica pada open day Batajnica 2012. (Sumber: http://www.balkanwarhistory.com/)

Pada tanggal 17 Maret 2015, sebuah drone Predator MQ-1 AS ditembak jatuh oleh rudal S-125 Angkatan Udara Suriah saat melakukan penerbangan pengintaian di dekat kota pesisir Latakia. Pada bulan Desember 2016, pasukan ISIS merampas tiga peluncur rudal S-125 setelah mereka merebut kembali Palmyra dari pasukan pemerintah Suriah. Pada 14 April 2018, pasukan Amerika, Inggris, dan Prancis meluncurkan rentetan 103 rudal udara-ke-permukaan dan rudal jelajah yang menarget delapan lokasi di Suriah. Militer Rusia mengklaim bahwa tiga belas rudal S-125 yang diluncurkan sebagai tanggapan sukses menghancurkan lima rudal yang datang. Namun, Departemen Pertahanan Amerika menyatakan tidak ada rudal Sekutu yang berhasil ditembak jatuh. Sementara itu selama konflik Nagorno-Karabakh tahun 2020, sistem rudal S-125 terdaftar ada dalam inventaris aktif kedua belah pihak dalam versi yang berbeda-beda. Pada tanggal 17 Oktober 2020, Kementerian Pertahanan Azerbaijan mengklaim sukses menghancurkan sebuah sistem rudal S-125 Armenia tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Pada tanggal 22 Oktober 2020, Kementerian Pertahanan Azerbaijan merilis video yang menunjukkan penghancuran radar kendali penembakan SNR-125 Armenia untuk sistem rudal S-125 yang munisi yang ditembakan oleh drone IAI Harop buatan Israel yang dioperasikan Azerbaijan.

Diterjemahan dan ditambahkan kembali dari:

Almaz 5V24/5V27/S-125 Neva/Pechora Air Defence System / SA-3 Goa Зенитный Ракетный Комплекс 5В24/5В27/С-125  Нева/Печора by Dr Carlo Kopp, AFAIAA, SMIEEE, PEng; July 2009; Updated April, 201

http://www.ausairpower.net/APA-S-125-Neva.html

Engagement and Fire Control Radars (S-band, X-Band, Ku/K/Ka-band) Technical Report APA-TR-2009-0102 by Dr Carlo Kopp, AFAIAA, SMIEEE, PEng; January 200

http://www.ausairpower.net/APA-Engagement-Fire-Control.html#mozTocId687041

Low Blow [SNR-125]

http://cmano-db.com/pdf/sensor/975/

S-125 Pechora

https://old.weaponsystems.net/weaponsystem/EE04%20-%20SA-3%20Goa.html

S-125 SA-3 GOA

https://www.globalsecurity.org/military/world/russia/s-125.htm

SA-3 (Goa) / S-125 Neva / Pechora Surface-to-Air Missile Defense System

https://www.militaryfactory.com/armor/detail.asp?armor_id=153

SA-3 (Goa) / S-125 Neva / Pechora

https://tvd.im/land-systems/2882-sa-3-goa-s-125-neva-pechora.html

Surface To Air Missile: SA-3 (S-125) by Figmo42

https://www.google.com/amp/s/www.falcon-lounge.com/falcon-bms-essentials/threats-guide/surface-to-air-missile-sa-3/

https://en.m.wikipedia.org/wiki/S-125_Neva/Pechora

One thought on “S-125 Pechora/SA-3 Goa: Sistem Rudal Pertahanan Udara “Tua” Penakluk Pesawat Siluman F-117 Nighthawk

  • 16 April 2021 at 7:34 pm
    Permalink

    Very great post. I simply stumbled upon your blog and wanted to say that I’ve truly loved surfing around your blog posts. In any case I抣l be subscribing in your feed and I am hoping you write once more very soon!

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *