Saat Indian Amerika Menyatakan Perang Terhadap Jerman & Penggunaan Militer Bahasa Choctaw Dalam Perang Dunia I

Sudah lebih dari 90 tahun sejak orang-orang Indian dari Suku Choctaw pada masa Perang Dunia I mengabdikan diri mereka pada Amerika Serikat dan bergabung dengan Satuan Angkatan Darat untuk melakukan perjalanan jauh melintasi lautan ke negeri yang asing. Pada suatu saat beberapa orang Choctaw terdengar jelas berbicara dalam bahasa asli mereka di tengah-tengah medan perang di Prancis dan seorang perwira segera memiliki ide brilian. Dari sini militer Amerika kemudian melatih orang-orang Choctaw untuk menggunakan kata-kata mereka sebagai bagian dari “kode” militer, mereka lalu ditempatkan secara strategis di garis depan dan di pos komando sehingga pesan dapat dikirim tanpa bisa dipahami oleh musuh. Sembilan belas orang Choctaw telah dicatat sebagai yang pertama menyampaikan pesan dengan memakai bahasa mereka sendiri sebagai “kode” untuk mengirimkan perintah dan laporan militer. Selama perang dunia pertama, dengan melakukan penyadapan saluran telepon Angkatan Darat Amerika, pihak Jerman dapat mempelajari lokasi di mana pasukan Sekutu ditempatkan, serta di mana perbekalan mereka disimpan. Namun ketika orang-orang Choctaw menggunakan telepon dan berbicara dalam bahasa asli mereka, orang-orang Jerman tidak dapat secara efektif memata-matai jaringan komunikasi tersebut. Secara keseluruhan pengabdian orang-orang Suku Choctaw pada Amerika dalam Perang Dunia I, menjadi salah satu bagian sejarah penting dari bangsa Indian Amerika dan turut membantu bangsa yang menjunjung tinggi semangat Juang Para Pahlawan di Medan Perang ini untuk menemukan jati diri mereka yang sempat terkubur karena diskriminasi dan prasangka dari orang-orang kulit putih Amerika.

Beberapa pembawa pesan Choctaw masa Perang Dunia I ada dalam foto ini. Dalam Perang Dunia I, untuk menghindari penyadapan dari pihak Jerman, militer Amerika mengerahkan pembawa pesan berbahasa Choctaw untuk menyampaikan informasi-informasi militer. (Sumber: https://www.choctawnation.com/)

LATAR BELAKANG INDIAN AMERIKA MENYATAKAN PERANG TERHADAP KEKAISARAN JERMAN

Ketertarikan orang-orang Eropa terhadap Budaya Amerika Barat sudah terkenal sejak lama, jadi tidak mengherankan jika beberapa Pertunjukan Wild West yang ada di luar negeri kebetulan berada di negara-negara lawan Amerika ketika Perang Dunia I meletus. Satu pertunjukan sedang ada di Berlin, satunya lagi ada di Trieste. Pada musim panas 1914, enam belas orang Indian dari Onondaga Reservation di selatan Syracuse New York pergi ke Eropa untuk tampil dengan sebuah perusahaan sirkus asal Jerman. Setibanya di Berlin, mereka dipecah menjadi dua kelompok. Satu menuju ke timur menuju Rusia, yang lainnya ke selatan menuju Italia. Tak seorang pun di Reservasi Onondaga yang mendengar kabar dari mereka dalam beberapa minggu, demikian harian Post-Standard melaporkan pada bulan Agustus 1914, dan teman-teman mereka di rumah menjadi khawatir karenanya. Saat itu bulan Agustus, dan Perang Dunia I telah dimulai. Kemudian diketahui bahwa orang-orang Indian yang dipenjarakan oleh Jerman di awal perang adalah bagian dari dua sirkus asak Jerman dan orang-orang Jerman di grup pertunjukan itu kemudian mendaftar menjadi tentara Kekaisaran saat perang meletus. Orang Indian malang yang terdampar itu kemudian dihina dan dipukuli oleh orang-orang Jerman dan Austria. Mereka akhirnya dipenjarakan untuk keamanan mereka sendiri, tetapi kemudian dibebaskan.

Kavaleri Indian Amerika tampil dengan mengenakan ornamen kepala berbulu yang indah dan dipersenjatai dengan tombak tampil melewati penonton di Paris, 1905. Masyrakat Eropa pada awal abad ke-20 masih tertarik dan penasaran dengan budaya “Wild West” Amerika, sehingga tidak mengherankan jika beberapa rombongan show yang terdiri dari Indian Amerika terdampar di Jerman saat Perang Dunia I pecah tahun 1914. (Sumber: http://www.illustratedpast.com/)
Berita pada koran yang menulis mengenai hilangnya kabar rombongan sirkus Indian Amerika asal Suku Onondaga saat minggu-minggu pertama pecahnya Perang Dunia I. Akhirnya diketahui bahwa mereka ditahan dan sempat dipermalukan oleh pihak Jerman. Hal ini memicu kemarahan suku-suku Indian Amerika. (Sumber: http://michaelleroyoberg.com/)

Karena insiden ini, suku Indian Onondaga dan Oneida merasa cukup terhina, serta meski masih menjalankan otonomi mereka sebagai bangsa yang terpisah dari Amerika, tetapi mereka masih masuk di dalam wilayah Amerika Serikat. Peristiwa ini amat membekas dan pada akhirnya untuk pertama kalinya mereka menyatakan perang terhadap Jerman pada tahun 1917 setelah Amerika secara resmi masuk ke dalam perang. Berdasarkan perjanjian antara Pemerintah Amerika dan dua puluh tiga kepala suku Onondaga pada tahun 1788, Onondaga dinyatakan sebagai bangsa yang terpisah dari Amerika Serikat dan kedua belah pihak selalu menghormati perjanjian tersebut. Edward M. Gohl (dengan nama Indiannya Tya Goh Wens), yang merupakan penasehat suku, mengumumkan bahwa dia telah diutus oleh Suku Onondaga, yang menjadi bagian dari kelompok Suku Indian Iroquois untuk menyusun deklarasi perang melawan Jerman atas pemenjaraan orang-orang Indian Onondaga pada saat pecahnya perang tahun 1914. Dalam deklarasi perangnya, Gohl menyatakan bahwa dia juga akan meminta setiap orang yang sehat di suku tersebut untuk mendaftar sebagai sukarelawan di pihak sekutu mereka. Mereka kemudian termasuk sebagai orang-orang Amerika pertama yang melakukannya, tetapi bukan yang terakhir.

Berita pernyataan perang Suku Indian Onondaga pada Jerman, yang menyinggung insiden pada tahun 1914. (Sumber: http://michaelleroyoberg.com/)

Sementara itu sebuah suku Indian lain, yang dikenal sebagai salah satu dari (kerap disebut sebagai) “Lima Suku Beradab” di Amerika Serikat bagian tenggara, Suku Choctaw secara tradisional hidup dari bertani jagung, kacang-kacangan, dan labu sambil berburu, memancing, dan mengumpulkan makanan di alam bebas. Meskipun mereka telah bersekutu dengan Amerika Serikat dalam Perang tahun 1812, mereka terus ditekan setelah itu untuk menyerahkan jutaan hektar tanah mereka kepada pemerintah federal. Menyusul berlakunya Indian Removal Act pada tahun 1830, sebagian besar anggota suku tersebut kemudian dipaksa pindah ke daerah Oklahoma dalam serangkaian perjalanan yang menewaskan sekitar 2.500 orang. Dalam peristiwa yang akan menjadi frase dalam menggambarkan semua tindakan pemindahan orang Indian di sebelah barat Sungai Mississippi, seorang kepala suku Choctaw menggambarkannya peristiwa itu sebagai “jalur air mata”. Namun bagaimanapun bagi banyak suku Indian, termasuk Suku Choctaw, mereka masih menganggap diri mereka sebagai masyarakat pejuang dan para pemuda mereka (seperti banyak suku lainnya) sangat ingin membuktikan dirinya dalam pertempuran.

Scout asal Suku Comanche pada tahun 1890. Sejak selesainya perang Indian dan ditaklukkannya wilayah barat Amerika oleh pemerintah federal, sedikit sekali kesempatan bagi Suku-suku Indian untuk mengangkat senjata. Hal ini sedikit banyak mengaburkan warisan budaya mereka sebagai bangsa pejuang. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Sejak pertarungan terakhir mereka melawan pasukan AS terjadi di Wounded Knee pada tahun 1890 dan musuh tradisional mereka telah dihilangkan atau ditangkap, tampaknya wajar bagi mereka untuk menaruh minat terhadap perang di Eropa. Pengabdian dalam perang juga menandai langkah penting psikologis dan spiritual ke depan bagi sebagian besar bangsa Indian, kata Lanny Asepermy, sejarawan dari Asosiasi Veteran Indian Comanche. Seperti yang dijelaskan Asepermy, setelah Suku Comanche menyerah di Fort Sill pada tanggal 2 Juni 1875, “pemerintah mengambil senjata kami, dan kami bukan lagi pejuang.” Hal itu merupakan pukulan telak bagi orang-orang yang memandang kemampuan mereka untuk membela diri sebagai salah satu budaya yang penting bagi mereka. “Ketika Perang Dunia (pertama) meletus, kami (akhirnya) memiliki senjata, dan kami menjadi pejuang lagi,” kata Asepermy. Dia sendiri adalah pensiunan sersan mayor yang bertugas di Angkatan Darat dari tahun 1966 hingga 1990, termasuk pengalaman tempur di Vietnam dari tahun 1969-1970, dan dia mengatakan bahwa keinginan untuk terhubung dengan budaya bangsanya di masa lalu berkontribusi pada keputusannya sendiri untuk masuk dinas militer. Sementara itu saat Perang Dunia I, di wilayah Barat Laut Amerika Serikat beberapa suku bahkan melintasi perbatasan untuk mendaftar di Kanada, tetapi seperti kebanyakan orang Amerika, mereka biasanya harus menunggu sampai Amerika Serikat benar-benar menyatakan perang. Ketika momen itu datang, sekitar 12.000 penduduk asli Amerika akhirnya bertugas dalam militer Amerika, dimana mereka terutama berasal dari 14 suku yang berbeda-beda. Secara proporsional, jumlah pendaftaran mereka lebih tinggi daripada kelompok etnis lain. Misalnya, 40 persen suku Osage dan Qwapaw mengajukan diri untuk bertugas. Ini sangat menarik mengingat penduduk asli Amerika tidak juga diberikan kewarganegaraan resmi sampai tahun 1924.

Telegram Zimmerman yang menghebohkan. Upaya Jerman untuk berkolaborasi dengan Mexico dalam Perang Dunia I turut berdampak pada kecurigaan pemerintah Amerika pada kesetiaan orang-orang Suku Indian yang dikenal memiliki persahabatan dengan orang-orang Mexico. (Sumber: https://www.history.com/)

Waktu itu banyak yang mempertanyakan kesetiaan orang-orang Indian dan bertanya-tanya apakah orang Indian dapat atau mau berjuang untuk mempertahankan demokrasi. Selama periode Komisi Dawes (sekitar 1887-1905), mereka kerap dituduh komunis karena penolakan mereka terhadap pembagian tanah dan upaya putus asa mereka untuk mempertahankan hak-hak umum atas tanah mereka. Masyarakat Indian Amerika tampak terlihat tidak memiliki kelas, dan kepemilikan bersama atas tanah mereka  kerap menimbulkan kecurigaan pada mereka. Orang-orang Amerika sadar ancaman komunisme. Meski masih tergolong ideologi baru, namun ada kegelisahan yang tumbuh di Amerika tentang peristiwa-peristiwa yang mengarah pada kejadian seperti Revolusi Bolshevik. Kekhawatiran lainnya adalah bahwa sejumlah suku Indian memiliki hubungan persahabatan dengan Meksiko sejak periode pemindahan paksa mereka hingga abad ke-20, dan Meksiko sendiri memiliki simpati yang kuat dengan Jerman. Waktu kemudian juga menunjukkan bahwa keprihatinan tentang simpati orang-orang Meksiko pada pihak Jerman terbukti. Telegram Zimmerman, yang dikirim dari Kantor Luar Negeri Jerman pada bulan Januari 1917, menunjukkan bahwa mereka sedang mencari aliansi dengan Meksiko. Sebagai imbalannya, Jerman berjanji akan mengembalikan wilayah Meksiko yang diambil AS dari mereka pada perang akhir tahun 1840-an. Inggris yang telah menyadap pesan tersebut dan bisa membuktikan bahwa pesan itu asli, segera memberi tahu AS dan hal itu lalu menjadi berita besar, Amerika dengan cepat menyatakan perang terhadap Jerman. Keraguan terakhir tentang kesetiaan orang-orang India jelas terletak pada kenyataan bahwa sekitar setengah dari orang Indian di Amerika bukanlah warga negara A.S. Amandemen Kongres tahun 1901 terhadap Undang-Undang Allotment Act (1887) memberikan warga negara bagi semua orang Indian di Wilayah Indian. Undang-undang Burke tahun 1906 mengatur kewarganegaraan bagi orang Indian ketika periode undang-undang tahun 1887 berakhir. Dengan demikian, mereka yang belum mendapat jatah sebagai warga negara tetap bukanlah warga negara Amerika. Perang Dunia I akan menjadi pembuktian kesetiaan bangsa India  di era modern.

RELAWAN INDIAN

Yang menarik sejumlah besar penduduk asli Amerika yang tinggal di wilayah Oklahoma, kadang-kadang masih disebut secara umum sebagai “Bangsa Indian”. Wilayah Oklahoma sendiri seperti yang telah disinggung diatas adalah tempat tinggal terakhir bagi sisa-sisa banyak suku Indian dari wilayah barat dan sebagian besar wilayah timur, termasuk apa yang masih tersisa dari Suku Choctaw, yang awalnya tinggal di Tennessee dan Mississippi. Enam ratus penduduk asli Amerika — terutama Choctaw, Cherokee, Osage, Comanche, Cheyenne, dan Yankton Sioux — menjadi sukarelawan untuk berdinas dalam Perang Dunia I bersama unit Garda Nasional setempat. Kebanyakan dari mereka berakhir di Resimen ke-142 Garda Nasional Oklahoma, yang menjadi bagian dari Divisi Infanteri AS ke-36. Banyak perwira dari Divisi ke-36 juga berasal dari daerah itu dan percaya pada pandangan tradisional bahwa orang Indian merupakan pemburu dan pelacak alami, dengan kemampuan yang lebih tinggi dari orang-orang kulit putih. Jadi karena hal ini, banyak penduduk asli Amerika yang ditugaskan menjadi pengintai, penembak jitu, dan pelari. Diantara beberapa orang suku Choctaw yang mendaftar, masing-masing memiliki alasan dan kisahnya sendiri-sendiri. Otis Leader adalah salah satu pahlawan Perang Dunia I yang paling terkenal. Dia berusia 34 tahun ketika bergabung dengan Angkatan Darat. Dia dan majikan Swiss-nya di tempat kerjanya di sebuah peternakan dekat Allen, Oklahoma, melakukan perjalanan untuk membeli ternak ke Fort Worth. Aksen Swiss dari majikan Leader yang mirip orang Jerman, dipadukan dengan penampilan tinggi dan kelam dari pria 34 tahun tersebut mengakibatkan mereka dituduh sebagai mata-mata Jerman dan rekan Spanyolnya. Identifikasi yang salah ini membuat marah Leader sehingga dia segera pergi ke kantor perekrutan sukarelawan terdekat dan mendaftar masuk militer.

Otis Leader asal Suku Choctaw yang berusia 34 tahun mendaftar sebagai sukarelawan militer Amerika setelah marah karena dicurigai sebagai mata-mata Jerman. Belakangan Otis seperti tampak pada foto dijadikan objek sebagai personifikasi “Prajurit Ideal”. (Sumber: https://id.pinterest.com/)

Kemudian ada Solomon Louis yang sebenarnya masih di bawah umur ketika dia memasuki angkatan bersenjata. Sementara itu Bryan County, Choctaw muda ini sedang bersekolah di Akademi Armstrong dan ketika teman-teman lamanya mendaftar, Louis berpura-pura berusia 18 tahun agar dia juga dapat bergabung dengan militer. Pada masa ini Walter Veach diberi tanggung jawab untuk mendirikan sebuah kompi yang seluruhnya beranggotakan orang-orang Indian dibawah divisi ke-36 selama Perang Dunia I. Sebelum perang, Veach bertugas di Garda Nasional di perbatasan antara Amerika Serikat dan Meksiko. Kompinya memiliki andil besar dalam menghentikan invasi Pancho Villa di Texas. Yang terakhir ada Tobias Frazier termasuk di antara orang-orang Choctaw yang membantu memutus garis Hindenberg pada tahun 1918. Divisi ke-36 tiba di Prancis pada akhir bulan Juli 1918 dan akhirnya ditempatkan di bawah komando Mayor Jenderal Marinir John Lejeune, yang dengan Divisi ke-2 Marinir, ditugaskan ke Angkatan Darat Keempat Prancis di bawah pimpinan Jenderal Henri Gouraud. Pada titik itu, hasil dari Perang Dunia I masih belum jelas siapa yang bakal menjadi pemenang. Pada tanggal 3 Oktober, divisi tersebut terlibat dalam serangan terhadap Mont Blanc di Champagne. Ini adalah serangan umum di sepanjang garis depan, dengan para veteran Marinir memimpin serangan ke arah St. Etienne, terutama melawan divisi ke-200 dan ke-213 Jerman yang bertahan dengan kuat. Saat itu Divisi ke-36 yang belum dilibatkan dan hanya digunakan sebagai satuan cadangan.

Kapten Ben Davis Locke (Asal Suku Choctaw), di depan, dengan tentara Indian Amerika di Camp Stanley, 1918. (Sumber: Francine Locke Bray/https://www.worldwar1centennial.org/)

Marinir John Thomason mengenang, “Pada pagi tanggal 3 Oktober datang kelabu dan kabut. Dari tengah malam hingga fajar suasana sangat sepi pada saat itu — secara komparatif. Kemudian semua meriam Prancis dan Amerika membuka tembakan dalam salah satu serangan artileri yang paling besar dalam perang… Para anggota Batalyon melihat semua tanah di depan mereka tersapu oleh badai tembakan peluru artileri. Api berwarna merah dan hijau muncul dalam barisan yang teratur di mana meriam kaliber 75 mm menghujani garis pertahanan Boche (sebutan serdadu Jerman); awan hitam besar kemudian menyeruak di mana peluru meriam yang lebih besar jatuh menderu. Lereng bukit dan hutan semuanya terselubung dalam asap yang menggantung rendah, dan kilatan cahaya datang dengan warna merah menembus awan. ” Meskipun Jerman kemudian akan mengklaim bahwa kemajuan pesat Yanks (sebutan dari tentara Amerika) adalah hasil dari penarikan diri mereka yang teratur di sepanjang garis pertahanan, jumlah tahanan yang besar yang ditangkap membuktikan bahwa moral pasukan Jerman dihantam dengan buruk. Sangat efektif saat bertempur dari jarak jauh atau dari posisi pertahanan kuat, ketika dihadapkan pada pertempuran jarak dekat, orang Jerman yang kelelahan perang saat itu cenderung untuk segera menyerah. 

JENDERAL AS LEBIH MEMILIH MENGUNDURKAN DIRI KETIMBANG DITUGASKAN BERSAMA TENTARA PRANCIS

Kapten Richard F. Burges dari El Paso, asal Kompi A, Infanteri ke-141, kemudian mengenang bahwa tentara Jerman yang “bertempur di tempat perlindungan, menembak dari posisi senapan mesin tersembunyi sampai Anda dekat dengan mereka, lalu mereka bergegas keluar, mengangkat tangan, dan berteriak ‘kawan ‘tapi itu tentu terlihat tidak adil dan mereka tidak mendapatkan banyak belas kasihan oleh karenanya. ” Burges “menyelamatkan” beberapa tahanan, beberapa di antaranya adalah anak laki-laki, “hampir seperti anak-anak”, saat “penangkapan dilakukan didepan mata saya sendiri”. Orang-orang Amerika menyerang begitu agresif melawan Divisi ke-200 dan 213 Jerman yang bertahan kuat dan garis pertahanannya menonjol keluar. Dua jam kemudian garis pertahanan Prancis di kedua sisi begitu jauh di belakang tertinggal sehingga para Marinir rentan terhadap tembakan dari samping dan belakang serta tembakan langsung di depan. Faktanya, Jenderal Lejeune sangat muak dengan kegagalan pasukan Prancis untuk mengimbangi gerak maju mereka dan dalam persepsinya, mereka dengan sengaja memperlambat gerakannya sehingga dia sempat mengancam akan mengundurkan diri dari jabatannya ketimbang bertempur lagi bersama perwira penghubung Prancis ada di sampingnya.

Orang Indian Amerika yang bertugas di Kompi E, Resimen Infanteri ke-142, Divisi 36, selama Perang Dunia I, diantara mereka adalah beberapa “code-talkers” pertama di negara itu. (Sumber: https://time.com/)
Joseph Oklahombi asal Suku Choctaw, aksi kepahlawanannya memberikannya medali penghargaan Croix de Guerre ketika dia menerobos serangan artileri berat dan kawat berduri tebal untuk menyerang beberapa pos senapan mesin musuh dan mengambil lusinan tahanan. Jika bukan karena aksi dari Alvin York di hari yang sama, seharusnya Oklahombi mendapat medali Medal Of Honor. (Sumber: https://oklahoman.com/)

Untuk menggantikan pasukan Marinir Divisi ke-2 yang sekarang dalam kondisi babak belur dan tidak terorganisir baik, Lejeune memerintahkan komandan pasukan Divisi ke-36, Mayor Jenderal William R. Smith, untuk mengirim dua resimen maju ke garis depan. Resimen ke-141 dan 142 maju dan menggantikan Brigade Marinir ke-3 dan ke-4 untuk menyerang St. Etienne dan Mont Blanc. Selama gerak maju inilah seorang prajurit dari suku Choctaw, yakni Joseph Oklahombi dari Resimen ke-141 menerima medali penghargaan Croix de Guerre ketika dia menerobos serangan artileri berat dan kawat berduri tebal untuk menyerang beberapa pos senapan mesin musuh dan mengambil lusinan tahanan. Itu adalah prestasi yang luar biasa, tetapi karena itu terjadi pada tanggal 5 Oktober, yang dibayangi oleh kisah aksi terkenal dari Sersan York, maka aksi Oklahombi hanya sedikit dicatat dan ia tidak mendapat medali kehormatan tertinggi Medal Of Honor seperti York. Kolonel A.W. Bloor, komandan dari Resimen ke-142, melaporkan bahwa saat resimennya maju, ia mengambil alih posisi di garis pertahanan bekas milik Jerman yang dirancang dengan baik. Pos-pos komando di garis pertahanan itu sangat nyaman dan memiliki perabotan lengkap dan dalam satu contoh bahkan memiliki meja biliar. Selain memiliki sistem kelistrikan, daerah itu masih terdapat “jaringan komunikasi dari pihak Jerman”, yang dengan cepat digunakan oleh pasukan Divisi ke-36. 

25 PERSEN KORBAN 

Tapi tentara Jerman yang mundur menunjukkan tanda-tanda yang jelas bahwa mereka mengetahui rencana Amerika terlalu cepat. Ketika serangan Sekutu dimulai, mereka segera disambut oleh serangan balasan dari pihak Jerman. Kolonel Bloor curiga bahwa saluran teleponnya telah disadap dan kode komunikasi pihak Amerika telah dipecahkan. Untuk menguji teorinya, dia mengirimkan data koordinat palsu mengenai posisi penimbunan pasokan mereka melalui telepon ke kantor pusat. Dalam waktu 30 menit, peluru Jerman mulai mendarat di daerah itu. Setelah merasa jelas bahwa saluran telepon mereka telah disadap, satu-satunya alat komunikasi lain yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan merpati dan radio, namun keduanya tidak dapat diandalkan. Sementara penggunaan semaphore juga dinilai terlalu lambat dan jaraknya pendek. Opsi yang tersisa hanyalah menggunakan pelari untuk mengoordinasikan unit di sepanjang front yang tidak stabil dan kerap bergeser. Pembawa pesan, yang tubuhnya kecil dan cepat, biasanya dipilih, dan banyak di antaranya adalah penduduk asli Amerika. Tapi saat mereka berlari di sepanjang garis pertahanan untuk menyampaikan pesan di antara unit-unit depan, mereka pasti tidak bisa bergerak di dalam parit yang aman. Korban diantara mereka amat besar, yakni sekitar 25 persen.

Nampak pada gambar anggota Choctaw Telephon Squad dari Kompi E, Resimen Infanteri ke-142, Divisi Ke-36. Dari kiri ke kanan Solomon Lewis, Mitchell Bob, James Edward, Calvin Wilson, Joseph Davenport, dan Kapten E.H Horner. (Sumber: https://www.history.com/)

Sementara itu pada tanggal 11 Oktober, Resimen ke-143 dan ke-144 yang relatif baru juga telah maju ke garis depan dan seluruh Divisi ke-36 berhenti di tepi Sungai Aisne yang secara resmi mengakhiri Pertempuran Mont Blanc, bersamaan dengan dimulainya Serangan Meuse-Argonne yang terkenal itu. Marsekal Pétain menganggapnya sebagai pencapaian terbesar pada tahun 1918, dengan harga 7.800 korban di pihak Amerika. Saat pasukan Divisi ke-36 beristirahat dan diperkuat kembali, area garis belakang mereka terletak sekitar tiga mil di selatan Vaux-Champagne. Secara kebetulan, Kapten Lawrence mendengar dua orang Indian Choctaw, yakni Solomon Lewis dan Bennington Mitchell Bobb, berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Mengingat masalah penyadap jalur komunikasi oleh pihak Jerman yang dihadapi oleh pasukan Divisi ke-36, dia segera menyadari potensi bahasa mereka dan bertanya kepada keduanya berapa banyak orang Choctaw lain yang ada di batalion mereka. Mereka menjawab bahwa ada delapan orang yang dapat mereka ajak bicara. Selain itu, Resimen ke-142 juga berisi dua perwira Pribumi Amerika yang masing-masing memahami beberapa dialek, dan dua dari delapan di antara mereka — Smithville Ben Carterby dan Kullitukle Pete Maytubby — saat itu sudah ditugaskan bersamw markas besar kompi. Karena bahasa Choctaw belum pernah ditulis dalam alfabet, maka amat diragukan jika “Fritz” (julukan orang-orang Jerman) akan dapat memahaminya. 

PENGGUNAAN BRILIAN BAHASA CHOCTAW

Kapten Lawrence kemudian memerintahkan, “kumpulkan mereka dan minta mereka bersiap. Aku punya ide yang mungkin membuat Heinies (orang Jerman) menjauh dari kita. ” Berbicara kepada Lewis dan Bobb, dia melanjutkan, “Lihat, saya akan memberi Anda pesan untuk menelepon ke kantor pusat. Saya ingin Anda memberi mereka pesan dalam bahasa Anda. Disana akan ada seseorang  yang bisa memahaminya. ” Pesan itu lalu dikirim oleh Bobb dalam bahasa Choctaw biasa dan diterima serta diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Inggris oleh Carterby di markas besar batalion. Beberapa jam kemudian, delapan orang Choctaw, yang termasuk juga Wright City Robert Taylor, Bokchito Jeff Nelson, Broken Bow James Edward, dan Ida (atau Battiest) Calvin Wilson, dipencarkan di antara kompi-kompi dan satuan yang berbeda. Dalam 24 jam, orang-orang Jerman “membolak-balik wig mereka” mencoba mencari tahu tentang kode baru yang digunakan oleh orang-orang Amerika. Pesan dengan bahasa Choctaw pertama digunakan untuk mengirimkan dua kompi dari Batalyon ke2/Resimen ke-142 dari Chufily ke Chardeny pada malam tanggal 26 Oktober. Keesokan harinya bahasa Choctaw digunakan secara ekstensif selama persiapan dan pelaksanaan penyerangan di seberang sungai di posisi kuat yang dikenal sebagai Forest Farm. 

Sistem komunikasi via telepon dalam Perang Dunia I. Penggunaan telepon rawan untuk disadap pihak Jerman, namun penggunaan bahasa Choctaw telah membantu menghindari kebocoran informasi pada pihak musuh. (Sumber: https://www.worldwar1centennial.org/)

Serangan itu benar-benar mengejutkan pihak musuh. Seluruh garnisun mereka berhasil direbut atau dihancurkan, yang menunjukkan bahwa pihak Jerman sama sekali tidak menyadari akan adanya serangan itu. Pengiriman pesan dengan bahasa Choctaw nampaknya bekerja dengan baik. Keesokan harinya, pada pasukan Divisi ke-36 digantikan dan ditarik ke Louppy-le-Petft. Tetapi penggunaan bahasa Indian terus digunakan di garis belakang. Diorganisir di bawah pimpinan Letnan Black, lebih banyak personel Choctaw ditambahkan, termasuk Albert Billy, Victor Brown, Tobias Frazier, Ben Hampton, Joseph Oklahombi, dan Walter Leach dengan total personel sekarang menjadi 14 orang. Selain bahasa, kode harus dikembangkan karena bahasa Choctaw biasa kekurangan kata-kata untuk istilah-istilah militer. Oleh karena itu, artileri diterjemahkan menjadi “senjata besar”, senapan mesin menjadi “tembakan senjata kecil dengan cepat”, korban menjadi “kulit kepala”, gas beracun menjadi “udara buruk”, dan batalion menjadi satu, dua, atau tiga butir jagung. Lima belas hari kemudian perang berakhir. Seorang Jerman yang ditangkap kemudian mengakui bahwa pihaknya tidak dapat memahami pesan kode bahasa Choctaw, yang kemungkinan turut membantu membawa perang berakhir lebih awal dan menyelamatkan banyak nyawa.

EFEK PENGABDIAN INDIAN AMERIKA DALAM PERANG DUNIA I

Pengabdian orang-orang Indian yang luar biasa dalam Perang Dunia I mendorong komandan Pasukan Ekspedisi Amerika, John J. Pershing, pada tahun 1920 untuk menulis: “Orang Indian Amerika Utara mengambil tempatnya di samping setiap orang Amerika lainnya dalam menawarkan hidupnya untuk tujuan besar (negaranya), di mana sebagai seorang prajurit yang hebat, mereka berjuang dengan keberanian dan kepahlawanan seperti leluhurnya.” Hal ini direfleksikan misalnya, oleh seorang Comanche dari Oklahoma, Prajurit Angkatan Darat Calvin Atchavit, yang dianugerahi Distinguished Service Cross untuk “aksi kepahlawanan yang luar biasa” di Prancis pada 12 September 1918, karena menembak dan membunuh prajurit musuh dan menangkap yang lain untuk ditawan – semua hanya dengan satu tangan, karena tangan kanannya terluka parah. Namun, meskipun delapan personel Indian pernah dijanjikan penghargaan, namun tidak ada satupun yang menerimanya. Pengakuan atas jasa-jasa mereka harus menunggu hingga 3 November 1989, ketika Kepala suku Choctaw Ben Hollis E. Roberts menerima atas, nama pembawa pesan Choctaw, medali Chevalier de l’Ordre National du Merite yang diberikan oleh pemerintah Prancis. Meski berdampak kecil dalam Perang Dunia I, namun konsep penggunaan bahasa asli Amerika yang tidak tertulis akan menjadi sangat penting dalam Perang Dunia II. Orang-orang berbahasa Comanche digunakan di medan perang Eropa, dan lebih dari 600 orang Navajo bertugas di Pasifik di mana komunikasi pesan dengan bahasa mereka digunakan. Bahasa Navajo mengembangkan bahasa kode yang paling kompleks, dengan lebih dari 600 istilah, untuk digunakan di Medan Perang Pasifik, dibandingkan dengan sekitar 250 istilah untuk bahasa Comanche pada era Perang Dunia II dan di bawah 20 istilah untuk bahasa Choctaw du era Perang Dunia I. Bahasa Navajo demikian dianggap sangat efektif, sehingga bahasa itu ditentukan sebagai hal yang vital bagi keamanan nasional AS dan dinyatakan sebagai rahasia. Yang menyedihkan orang-orang Navajo asli dilarang mengajar bahasa mereka sendiri atau bahkan menuliskannya. Bahkan buku sekolah untuk anak-anak juga dilarang ditulis dalam bahasa Navajo sampai tahun 1968, ketika larangan seperti itu akhirnya ditinggalkan.

Pembawa pesan berbahasa Navajo dalam Perang Dunia II. Bahasa Navajo memiliki varian kosakata yang lebih kompleks dibanding suku Indian Amerika lainnya, maka dari itu peran mereka dalam perang lebih dikenal dibanding Suku-suku lainnya. (Sumber: https://www.history.com/)
Film Windtalkers (2002) yang menempatkan legenda pembawa pesan berbahasa Navajo dalam memori masyarakat luas. (Sumber: https://www.amazon.com/)

Dengan hanya bahasa Navajo yang memiliki kekayaan bahasa kode yang lebih kompleks daripada semua suku lain digabungkan, mereka menjadi relatif lebih dikenal, sebagian juga karena film Hollywood “Windtalkers” yang menceritakan kisah mereka. Mereka menerima pengakuan konggres atas aksi mereka selama perang pada tahun 2000, sedangkan suku yang lainnya harus menunggu delapan tahun lagi sampai sebuah undang-undang disahkan yang mengakui “dedikasi dan keberanian” mereka. Belakangan Legislasi kemudian disahkan di Dewan Perwakilan AS dan Senat AS untuk memberi orang-orang asal Suku Choctaw, Comanches, dan tentara Indian lainnya yang merupakan Pembawa Pesan penghargaan Gold Medal. Dukungan dan co-sponsorship kemudian diminta dari semua anggota Kongres dan Undang-undang tersebut ditandatangani pada tahun 2008 oleh Presiden. Pada tahun itu juga ditetapkan bahwa setiap hari jumat pertama setelah hari raya Thanksgiving sebagai “Native American Heritage Day”. Cerita yang diturunkan melalui keluarga dan surat kabar turut menceritakan kepahlawanan dan akhir dari kehidupan pribadi beberapa Pembawa Pesan Suku Choctaw. Victor Brown yang menerima pengakuan dari Presiden Wilson setelah terluka dan digas dengan gas mustard. Dia bangga karena telah “membodohi orang Jerman” dengan bahasa Choctaw, dan senang bisa bertugas di Prancis. Menurut putrinya, Napanee Brown Coffman, Victor Brown adalah keturunan seperempat Prancis dan tiga perempat Choctaw. Setelah Perang Dunia Pertama, Brown menjadi auditor di IRS dan selama Perang Dunia II menjadi Deputy State Examiner and Inspector for the State of Oklahoma.

Baru pada awal abad ke-21 peran pembawa pesan berbahasa Indian Amerika mendapatkan penghormatan yang layak. (Sumber: https://www.c-span.org/)

Sementara itu penduduk asli Amerika pada akhirnya dapat memenangkan hak kewarganegaraan mereka setelah Perang Dunia I dengan disahkannya Undang-Undang Snyder tahun 1924. Orang-orang Indian yang pulang dari perang kembali dengan membawa standar hidup baru, keterampilan baru, dan membentuk jalan baru ke depan bagi masyarakat Indian Amerika. Untuk pertama kalinya, Penduduk Asli Amerika dapat menegaskan diri dan status mereka sebagai sederajat, dalam memperjuangkan hak-hak istimewa setiap orang Amerika lainnya, serta yang diberikan kepada mereka melalui perjanjian yang ada dengan Amerika Serikat. “Menghormati para pembawa pesan bahasa asli Amerika merupakan perjuangan yang lama dan terlambat,” demikian kata Judy Allen, senior executive officer of tribal relations for the Choctaw Nation of Oklahoma. Sesuai dengan undang-undang, upacara pemberian medali berlangsung pada November 2013 di Washington, D.C., dengan 33 suku yang diketahui memiliki anggota yang pernah menjadi pembawa pesan hadir. “Yang sangat disesali, “kata Allen adalah bahwa tidak ada pembawa pesan suku Choctaw dan anak-anak mereka yang masih hidup untuk melihat momen ini”. Sementara itu, sejak peristiwa 9/11, penduduk asli Amerika yang telah bertugas di militer AS memiliki jumlah persentase yang lebih tinggi daripada kelompok etnis lainnya. Saat ini ada sekitar 31.000 pria dan wanita Indian Amerika dan penduduk asli Alaska yang bertugas aktif di militer AS, bersama dengan 140.000 veteran lainnya yang masih hidup.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Choctaw Code Talkers in World War I By Richard L. Hayes

CODE TALKERS

https://www.choctawnation.com/history-culture/people/code-talkers

ONONDAGA, 1918: A DECLARATION OF WAR, AND OTHER STORIES

Why Native American nations declared war on Germany twice By Blake Stilwell; Posted On June 03, 2020 19:18:27

How Native American Code Talkers Pioneered a New Type of Military Intelligence BY JESSE GREENSPAN

https://www.google.com/amp/s/www.history.com/.amp/news/world-war-is-native-american-code-talkers

American Indians in World War I

https://www.worldwar1centennial.org/index.php/american-indians-in-ww1-centennial-home.html

World War I and American Indians

http://nativeamericannetroots.net/diary/573

‘We Became Warriors Again’: Why World War I Was a Surprisingly Pivotal Moment for American Indian History BY OLIVIA B. WAXMAN; NOVEMBER 23, 2018 11:00 AM EST

https://www.google.com/amp/s/time.com/5459439/american-indians-wwi/%3Famp%3Dtrue

Did you Know? Oneidas Declared War on Germany in 1918

https://www.oneidaindiannation.com/did-you-know-oneidas-declared-war-on-germany-in-1918/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *