September 1944: Old Field Marshall Von Rundstedt Save The Front

Pada September 1944, pasukan Amerika berhasil menerobos garis pertahanan terkuat Jerman di Front Barat. Jerman yang nyaris kalah dengan cepat, kemudian diselamatkan dari bencana oleh seorang Field Marshall penyuka minuman keras yang bereaksi lebih cepat daripada bawahannya. Hal itu adalah kemenangan kecil bagi Jerman dalam menghadapi kemajuan militer Sekutu yang pada akhirnya akan memenangkan Perang Dunia Kedua.

Pasukan Amerika menerobos garis Siegfried.

GARIS SIEGFRIED

Dibangun dari tahun 1936 hingga 1939, Garis Siegfried adalah merupakan contoh pencapaian ambisius dari ilmu teknik Nazi Jerman. Membentang di hampir sepanjang perbatasan Perancis-Jerman, Garis Siegfried memberi perlindungan Jerman terhadap musuh yang paling besarnya dalam waktu 70 tahun terakhir. Punya lebar kedalaman hampir 20 mil dan memiliki 22.000 pos pertahanan, garis pertahanan itu terdiri dari jaringan pertahanan beton dan rintangan anti-tank. Garis ini diabaikan setelah jatuhnya Perancis ke tangan Jerman pada tahun 1940. Tetapi ketika Sekutu memulai membebaskan Prancis pada bulan Juni 1944, komando Jerman menyadari bahwa mereka mungkin membutuhkan Garis pertahanan ini lagi. Pertahanan yang sempat terabaikan segera diperbaiki, dilengkapi lagi dan dijaga dengan kuat.

Garis Maginot vs Siegfried

SEKUTU MENEROBOS MASUK

Pada pertengahan bulan September, pasukan Sekutu telah menyapu Prancis dan sekarang tentara Amerika mulai menghadapi garis Siegfried dan pertahanannya yang menggentarkan. Serangkaian serangan yang banyak memakan korban kemudian dilancarkan. Pada tanggal 16 September, beberapa satuan dari Korps Jenderal Gerow berhasil menerobos garis Siegfried. Tetapi Divisi Infanteri ke-28, yang dikenal sebagai “Bloody Bucket”, hanya meraih kemenangan tipis walau mereka akhirnya berhasil menembus Garis Siegfried, namun pertempuran itu telah membuat pasukan mereka babak belur dan meragukan untuk dapat terus bergerak maju. Serangan kedua yang kemudian dilakukan oleh Divisi Lapis Baja Kelima dan infanteri Divisi ke-28, berhasil melintasi sungai Ouer-Sauer di Wallendorf. Dengan hanya menghadapi sedikit perlawanan, mereka telah membuat terobosan signifikan pertama di Garis Siegfried.

Pasukan Amerika saat pertama kali menembus Siegfried Line.

VON RUNSTEDT DATANG

Terobosan Amerika datang pada titik terpencil di antara wilayah dua Grup tentara Jerman bertemu. Komandan mereka, Field Marshal Model dan General Blaskowitz, berada terpisah 150 mil satu sama lain, sehingga sulit untuk mengoordinasikan upaya mereka. Kepanikan melanda kalangan komandan Jerman dengan pandangan umum bahwa Amerika telah menerobos. Jauh dari lokasi aksi, Field Marshal von Rundstedt, Panglima Tertinggi Jerman di wilayah Barat, mendengar berita itu. Dia memanggil komandan setempat dan mengetahui bahwa tank-tank Amerika telah bergerak maju ke sebuah jembatan kecil. Dari sana, mereka bisa segera mencapai jaringan jalan keluar dari wilayah Eifel, jika ini terjadi, hal itu adalah bencana bagi militer Jerman. Dalam kondisi genting ini, von Rundstedt memutuskan untuk mengambil tanggung jawab langsung untuk menghentikan kemajuan pasukan sekutu. Salah satu langkah pertama yang dia lakukan adalah, Rundstedt merancang rencana untuk menyelamatkan Tentara ke-15 Jerman, yang terperangkap di wiayah Belgia, dengan laut membelakangi mereka. Berdasarkan rencana, 3 divisi ditinggalkan untuk menjaga pintu masuk ke pelabuhan Antwerp, sementara 86.000 prajurit dari tentara ke-15 dengan menggunakan kapal ferry pada malam hari menuju ke wilayah Belanda yang dikuasai oleh Jerman. Dari sini mereka akan bergerak dengan satu-satunya jalan menuju masuk ke wilayah Belanda. Pada momen ini, jika saja pasukan Inggris mendesak 15 mil ke utara setelah mengusai Anwerp, mereka akan dapat memotong rute mundur tentara Jerman, namun karena kecapekan dan tidak menyadari kesempatan yang ada, mereka gagal melakukannya. Ini adalah salah satu blunder besar sekutu dalam perang, yang sebenarnya dapat membantu menyudahi perang lebih singkat. Sementara itu setelah menyelamatkan Tentara Ke-15, Rundstedt dengan terampil bisa menyusun kekuatan Jerman yang bisa dihimpunnya, serta dengan tambahan pasukan cadangan yang didatangkan dari Jerman, dan menempatkannya di wilayah Belanda, untuk menghentikan gerak maju Tentara ke-1 dan ke-3 Amerika. Kini pasukan Jerman berhasil membentuk pertahanan yang solid dari wilayah Laut Utara hingga ke Perbatasan Swiss.

Pasukan Amerika memandangi deretan “gigi naga” penghalang di Siegfried Line.

VON WHO?

Gerd von Rundstedt adalah salah satu perwira yang paling berpengalaman dan dihormati di kalangan tentara Jerman. Dia telah memimpin pasukan Jerman dalam invasi ke Polandia, Prancis, dan Rusia, di mana dia bertanggung jawab dalam operasi pengepungan terbesar dalam sejarah di Pertempuran Kiev. Seorang perwira tua dengan didikan tradisi militer Prusia, Rundstedt adalah seorang aristokrat yang suka minum yang punya tradisi keluarga militer yang terentang panjang. Dia dua kali dipindahkan dari posisi komandonya oleh Hitler, hanya untuk dibawa kembali lagi ke posisinya. Sekarang dia akan membuktikan mengapa dia begitu dihormati.

Von Runstedt

KORNOWSKI RALLIE RIPOSTE

Rundstedt meluncurkan serangan balik dengan cepat dan besar-besaran terhadap pasukan Amerika, dengan menggunakan cadangan apa pun yang dimiliki komandan Jerman setempat. Kemajuan cepat ini dipimpin oleh orang-orang seperti Kapten Karl Kornowski, seorang mantan pastoralists Katolik. Kornowski menggunakan kepribadiannya yang kuat untuk mendorong sekelompok desertir dan pengelak wajib militer untuk maju. Mereka merebut kembali delapan bunker dari tentara Amerika sebelum Kornowski sendiri ditangkap dalam sebuah penyergapan.

Tentara Jerman dalam posisi siap menyerbu.

MENUMPUK TEKANAN

Meskipun dengan sumber daya terbatas yang yang masih tersisa, von Rundstedt terus menekan posisi Amerika. Satuan infanteri menahan kemajuan Divisi Amerika saat dia meluncurkan serangan balasannya. Di sebelah kiri pertahanan Jerman, ia mengirimkan sisa-sisa tiga divisinya untuk melawan musuh. Di sebelah kanan, divisi lapis baja dan brigade lapis baja turut menyerang. Pasukan ini sebagian besar adalah sisa-sisa unit yang telah terpukul selama penarikan dari Perancis. Meskipun kekurangan personel, mereka masih bisa mengalahkan jumlah pasukan Amerika, berkat upaya von Rundstedt dalam mengumpulkan setiap unit yang dia bisa. Ketika pertempuran berlangsung, cuaca memburuk, menghentikan orang Amerika untuk dapat memanggil dukungan udara, yang selama ini jadi kelebihan mereka. Dengan ini keuntungan yang mereka miliki menjadi tidak berarti.

Pasukan Amerika beristirahat di Garis Siegfried.

MUNDUR DIBAWAH TEMBAKAN GENCAR

Pada tanggal 16, Gerow sudah mulai berpikir untuk menghentikan serangannya. Ketika keadaan semakin memburuk pada tanggal 19 dan 20, ia memerintahkan penarikan pasukan dimulai. Jerman tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menimbulkan kerusakan sebanyak mungkin yang mereka bisa terhadap musuh yang sedang mundur. Lebih banyak tank dan infanteri, yang didukung oleh Pesawat-pesawat Luftwaffe, memukul pasukan musuh yang mundur, mengubah pengunduran yang awalnya rapi menjadi sesuatu yang mendekati kepanikan. Jenderal Bayerlein terlibat dalam pertempuran tank sehari penuh melawan pasukan tank Sherman Amerika yang lebih banyak jumlahnya. Pada akhirnya, seluruh divisi Bayerlein yang terdiri atas 25 tank dihancurkan, tetapi mereka telah menghancurkan 60 Tank Sherman dalam proses tersebut.

Tim Senapan mesin MG-42 Jerman.

BERJUANG MEREBUT KETINGGIAN

Namun, Pasukan Amerika terus mempertahankan posisi basis penyerangan mereka. Pada 22 September, mereka melancarkan serangkaian serangan terhadap dataran tinggi yang dikenal sebagai Romersberg. Serangan pertama, dilaksanakan di bawah naungan kabut, hampir berhasil, hanya untuk kemudian dihancurkan ketika cuaca cerah dan artileri Jerman melepaskan tembakan. Empat serangan lagi gagal menguasai posisi ketinggian. Akhirnya, Pasukan Amerika terpaksa mundur sepenuhnya. Jerman menduduki kembali bunker beton yang ditinggalkan. Garis Siegfried kembali bisa dipertahankan dengan utuh.

Ilustrasi Pasukan Amerika menyerbu pillbox beton Jerman di Siegfried Line.

RAMPASAN DARI KEMENANGAN SINGKAT

Ketika mereka menjarah mayat-mayat prajurit Amerika yang gugur dan persediaan logistik yang mereka tinggalkan, tentara-tentara Jerman menemukan barang-barang rampasan yang tidak tidak dapat mereka temukan di Jerman yang diblokade. Rokok Virginia, cokelat batangan, kopi asli. Ini adalah harta yang selama ini hanya bisa diimpikan oleh seorang prajurit infanteri Jerman biasa. Di seluruh Jerman, propaganda pemerintah memanfaatkan kemenangan kecil itu. Mereka membuat “kisah” tentang tentara Amerika yang melakukan kekejaman terhadap warga sipil tak berdosa di wilayah yang diperebutkan, dan pasukan Jerman dengan heroik mengusir mereka kembali sesudahnya. Mengenai Kebenarannya, seperti biasa, bukanlah prioritas, yang terpenting kisah yang ada bisa menggerakkan dukungan publik untuk rezim. Tapi itu hanya kemenangan yang sebentar saja. Arus perang masih tidak menguntungkan posisi Jerman. Betapapun prestasi von Rundstedt yang mengesankan itu, itu hanya bisa menunda kekalahan yang tak terhindarkan yang akan datang di masa mendatang. Bagi Divisi ke-28 Amerika operasi militer mereka belum berakhir, setelah dipukul mundur oleh pasukan Rundstedt, mereka akan masuk ke fase berdarah berikutnya dalam pertempuran Hurtgen.

Tentara Jerman dengan perlengkapan tempurnya.

Sumber:

Charles Whiting (1999), West Wall: The Battle for Hitler’s Siegfried Line.

Diterjemahkan dan dilengkapi kembali dari:

Counter-Attack at the Siegfried Line: How Field Marshal von Rundstedt Threw Back the First Allied Break Through

https://m.warhistoryonline.com/world-war-ii/how-field-marshal-von-rundstedt.html

Time Life World War II series: Liberation by Martin Blumenson, 1978; p 176

http://www.hampton.lib.nh.us/hampton/history/military/28thDivision/28thInfDivAssnNewsletter2007.htm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *