“Para Tukang Kebun Salonika”: Kampanye Militer Pahit Bagi Sekutu di Balkan dalam Perang Dunia I

Sementara rekan-rekan mereka menjaga parit di Front Barat, 700.000 pasukan Sekutu malah mendekam di pelabuhan Yunani yang suram di Salonika. Pihak Jerman mengejeknya sebagai kamp tawanan perang terbesar mereka, dan Perdana Menteri Prancis Georges Clemenceau tidak kalah kecewa dalam pendapatnya tentang benteng Sekutu di Salonika, Yunani itu. “Apa yang mereka lakukan?” Tanyanya. “Menggali pertahanan! Maka biarlah mereka dikenal sebagai ‘tukang kebun Salonika.’ ”Untuk hampir satu juta orang yang merupakan Tentara dari “Timur” yang mewakili kekuatan Sekutu paling beragam kebangsaannya — terdiri dari orang-orang Inggris, Prancis, Arab, Afrika, Indochina, Legiun Asing, Serbia, Rusia, Italia, dan Yunani — apa yang mereka lakukan bukanlah bahan tertawaan. Bersama-sama mereka mendekam selama tiga tahun di sekitar pelabuhan Yunani yang suram, yang menurut sejarawan militer Brig. Jenderal S.L.A. Marshall kemudian menyebut bahwa “tanpa diragukan lagi (merupakan) kampanye Perang Dunia I yang paling membosankan dan tidak logis”. Selama waktu itu, mereka mengalami 225 hari pertempuran sengit sambil mengalami beberapa pertikaian politik terburuk dan tingkat terjangkit penyakit tertinggi dalam perang. Bagaimanapun medan tempur Balkan yang banyak dicemooh dan sering dilupakan ini memang awalnya dimulai dengan jalan buntu yang suram, namun kemudian bisa berakhir sebagai salah satu dari sedikit kampanye militer yang brilian dalam Perang Dunia I

Tentara Inggris di Salonika membaca ‘The Balkan News’, tahun 1917. Kampanye militer di Salonika merupakan salah satu kampanye militer paling kontroversial dalam Perang Dunia I. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

PERANG DI BALKAN

Kampanye militer di Salonika muncul dari keputusan Jerman pada musim panas 1915 untuk menyingkirkan duri dalam daging mereka, yakni Serbia dari sayap selatannya dan mengkonsolidasikan posisinya di Balkan yang terancam oleh serangan Sekutu di Dardanella pada bulan Maret dan April. Baik Jerman maupun Austria-Hongaria saat itu tidak dapat menyisihkan sumber daya mereka untuk melaksanakan operasi militer besar. Mereka lalu beralih ke Bulgaria, yang masih sakit hati karena kekalahan mereka dalam Perang Balkan Kedua tahun 1913 dan semakin khawatir dengan Serbia yang sekarang bersekutu langsung dengan Prancis dan Inggris serta Rusia. Menyusul pecahnya perang pada bulan Agustus 1914, Serbia telah dua kali memukul balik ofensif Austria, sebagian besar karena kepemimpinan yang brilian dari Jenderal Radomir Putnik. (Ironisnya, Putnik yang pada akhirnya bisa melawan Austria, ironisnya karena tindakan kaisar Austria sendiri: Putnik sebenarnya tengah berada di sebuah resor kesehatan Austria ketika perang meletus dan dia bisa saja diinternir secara sah, tetapi Franz Joseph dengan sopan membiarkannya kembali ke Serbia.) Dengan Austria secara terbuka mencari sekutu untuk melaksanakan ofensif ketiganya, pihak Serbia meminta pada pihak Sekutu tambahan 150.000 tentara. Peristiwa yang mengikuti kemudian, pada akhirnya akan mempengaruhi nasib dua raja di kawasan Balkan. Meskipun dia terlihat dan bertingkah seperti badut, dikatakan bahwa Raja Ferdinand dari Bulgaria  “dengan gaya konyolnya, sebenarnya menutupi otaknya yang sangat cerdas dan gigih”.

Jenderal Radomir Putnik yang brilian dalam menahan serangan Austro-Hongaria diawal pecahnya Perang Dunia I. (Sumber: http://paljanskenovosti.ba/)
Raja Ferdinand I dari Bulgaria. Ambisinya dan keinginannya untuk membalas kekalahan Bulgaria dalam Perang Balkan Kedua tahun 1913, membawanya masuk ke aliansi pihak Sentral. (Sumber: https://enacademic.com/)

Sekutu sebelumnya sempat menawarinya konsesi teritorial untuk membuatnya tetap netral, tetapi pada akhirnya sentimen pro-Jerman dan ambisinya yang telah lama dipertahankan untuk bisa mencapai Laut Aegea melalui wilayah Makedonia timur membawanya ke kubu musuh. Pada tanggal 6 September 1915, Bulgaria menandatangani perjanjian dengan Jerman dan Austria untuk bergabung menyerang Serbia guna menguasai wilayah Makedonia. Saat itu hanya pemimpin Partai Agraria Bulgaria, Alexander Stambolski, yang berani menentang raja. “Kebijakan ini tidak hanya akan menghancurkan negara kami, tetapi juga dinasti Anda,” dia memperingatkan, “dan mungkin (akhirnya) merugikan Anda.” Untuk prediksinya yang mengerikan itu, Stambolski dijatuhi hukuman mati karena pengkhianatan, tetapi hukuman itu lalu diubah menjadi penjara seumur hidup. Sementara itu, dengan kekuatan setara 20 divisi, seribu meriam, dan korps perwira terlatih yang dimilikinya, Kaisar Ferdinand dari Bulgaria mampu melakukan tawar-menawar yang sulit dengan pihak sekutu-sekutunya. Bulgaria akan menerima semua wilayah Makedonia, sebagian Serbia, dan wilayah Yunani dan Rumania jika negara-negara ini memutuskan bergabung dengan Sekutu. Disamping itu selain memberi pinjaman yang murah hati, Blok Sentral juga menyumbangkan selusin divisi, kekuatan artileri berat yang kuat, dan sekelompok komandan yang teruji kualitasnya. Diantaranya, adalah Marsekal Lapangan August von Mackensen dan kepala stafnya, Hans von Seeckt, mengkhususkan diri dalam serangan set-piece yang dibangun di sekitar persiapan artileri sistematis yang masif. Mereka sebelumnya telah melumpuhkan pasukan Rusia di Galicia, di Gorlice-Tarnow, pada bulan Mei. Seeckt sendiri juga ahli logistik kelas satu, sebuah kemampuan penting bagi seorang komandan di wilayah yang sudah hancur oleh perang.

Alexander Stambolski yang berani menentang keputusan Raja Ferdinand untuk memasuki perang. (Sumber: https://historica.fandom.com/)
Raja Peter I dari Serbia. (Sumber: https://www.pinterest.com/)

Pada tanggal 5 Oktober, pasukan Sekutu pertama mulai mendarat 50 mil di selatan perbatasan Serbia di Salonika. Pada hari yang sama, pasukan Jerman dan Austria menyerbu Serbia di utara. Dua hari kemudian, tanpa deklarasi perang resmi, Bulgaria (deklarasi perang resmi baru diumumkan pada tanggal 13 Oktober) menyerbu Serbia dari timur. Orang-orang Serbia bertempur mati-matian, tetapi mereka diserang penyakit, kelelahan, dan kekurangan amunisi sehingga mereka hanya bisa menembakkan satu peluru untuk setiap 50 peluru yang ditembakkan pihak Austria. Beberapa prajurit Serbia bahkan ada yang berusia 70-an. Beograd jatuh ke tangan Austria empat hari kemudian, dan pasukan Jerman serta Bulgaria bergabung. Pada pukul 09.15 pada tanggal 23 Oktober 1915, sebuah torpedo Jerman menghantam kapal pengangkut Marquette saat memasuki Teluk Salonika di Laut Aegea. Kapal itu tenggelam dalam waktu sepuluh menit, menyebabkan ratusan orang yang selamat berjuang untuk bisa keluar dari air. Pada saat kapal penyelamat tiba beberapa jam kemudian, 167 orang telah tenggelam, termasuk 32 orang Selandia Baru (sepuluh wanita dan 22 pria). Sebagian besar korban asal Selandia Baru adalah para perawat dan petugas medis di Rumah Sakit Stasioner Selandia Baru ke-1. Mereka sedang dalam perjalanan dari Mesir ke pelabuhan Yunani utara, Salonika (Thessaloniki) sebagai bagian dari kontribusi Selandia Baru untuk kampanye militer Sekutu di Balkan. Kampanye militer sekutu kemudian berubah semakin buruk, dalam sebulan kampanye militer, pasukan Sekutu — hanya sepertiga dari jumlah yang diminta Serbia — hanya berhasil maju 100 mil ke utara, sekitar 40 mil dari perbatasan Serbia. Seorang jenderal Serbia yang diperintahkan untuk melakukan serangan balik menulis kepada atasannya: “Tidak ada yang bisa mengharapkan pasukan ini bisa terus berperang, apalagi mereka diharapkan dapat untuk melancarkan serangan ofensif. Jumlah mereka terlalu sedikit, pakaian mereka compang-camping, mereka tidak memiliki sepatu bot, dan mereka kelaparan. Jika kita tidak segera keluar, perbekalan kita yang sedikit akan habis. Mari kita mundur sekarang, karena jika tidak, semua bencana akan menghampiri. ”

GERAK MUNDUR DALAM KELAPARAN

Dengan rute pelarian ke Salonika diblokir oleh pasukan Bulgaria, lebih dari 300.000 tentara Serbia dan warga sipil (Ini termasuk 20.000 tawanan perang, sebagian besar tentara Austria yang ditangkap pada musim gugur 1914 dan dibawa sebagai tanda pembangkangan orang-orang Serbia) berbelok ke arah barat untuk mengalami salah satu tragedi terbesar dalam perang. Peristiwa ini berkembang menjadi gerak mundur epik, selama tiga minggu, dalam perjalanan 100 mil melintasi pegunungan ke Albania dan pantai Adriatik. Seorang perawat Inggris, M.I. Tatham, yang menemani orang-orang Serbia dalam perjalanan itu, mengenang, “Arus pengungsi bertambah setiap hari lebih besar — ibu, anak-anak, tempat tidur, panci dan wajan, makanan dan makanan ternak, semua dikemas ke dalam gerobak yang bergoyang; tentara yang terluka, kelelahan, kelaparan, orang-orang yang putus asa dan (setelah beberapa hari pertama) langit kelam dan hujan yang deras dan lumpur yang mengerikan, menempel, dan menggumpal. ” Orang-orang Serbia menderita dinginnya suhu 20 derajat di bawah nol, tifus dan disentri yang merajalela, serta serangan berulang-ulang oleh suku-suku pegunungan yang bermusuhan. Tentara yang terluka dan sakit ditinggalkan, dan mereka yang jatuh karena kelelahan juga ditinggalkan. Orang Serbia memakan kudanya sendiri, dan pembedahan dilakukan tanpa menggunakan anestesi.

Pasukan Serbia mundur di tengah musim dingin yang ganas bersama Raja Peter dan Jenderal Putnik yang sudah tua. (Sumber: http://www.metropostcard.com/)

Pada akhirnya, sekitar 20.000 warga sipil tewas selama gerak mundur itu. Raja Peter yang sudah tua (berusia 71 tahun) naik gerobak sapi, sedang Putnik dalam kondisi sakit ada di kursi sedan (dia harus melepaskan komandonya pada akhir gerak mundur itu dan meninggal di Prancis pada tahun 1917). Menteri pemerintah dan diplomat Sekutu tidur di atas jerami di sepanjang jalan. Bahkan setelah mereka yang selamat bisa mencapai pantai Adriatik, mereka masih harus kelaparan dan menderita selama empat bulan lagi sampai, pada bulan April 1916, Sekutu mengirim 260.000 tentara Serbia ke pulau Corfu di Yunani untuk diperlengkapi kembali, dan kemudian memindahkan mereka ke benteng pertahanan Sekutu di Salonika. Perdana Menteri Serbia Nikola Pasic menyalahkan sikap “keragu-raguan dan ketidakaktifan sekutu-sekutunya” atas kekalahan yang dialami Serbia, tetapi Raja Peter tetap tegar bertahan. “Saya percaya pada kebebasan rakyat Serbia karena saya percaya pada Tuhan,” katanya. “Saya lelah, memar, dan hancur; tapi saya tidak akan mati sebelum kemenangan didapat bangsaku. ” Namun dia harus menunggu. Ekspedisi Sekutu ke Salonika terus berlarut-larut selama hampir tiga tahun. Permohonan bantuan Serbia telah mencapai Sekutu hanya 13 hari sebelum invasi. Inggris sebenarnya was-was — Perdana Menteri Henry Asquith menyebutnya “a wild goose affair” —tetapi dengan enggan setuju untuk memindahkan Divisi ke-10 dari front Gallipoli. Di pihak lain David Lloyd George, yang saat itu menjabat sebagai Chancellor of the Exchequer, mendapat visi tentang kemungkinan serangan gabungan yang dilakukan oleh Yunani, Serbia, dan Rumania dalam melawan Austria dan Turki mendukung pengiriman bantuan ke Balkan.

Pasukan sekutu mendarat di Salonika. (Sumber: http://www.metropostcard.com/)

Dari sisi militer para Jenderal mengamati bahwa operasi semacam itu hanya dapat didukung melalui pelabuhan Yunani Salonika, yang baru didapat dari kekaisaran Ottoman pada tahun 1912. Namun, fasilitas pelabuhan kota itu jauh dari memadai yang dibutuhkan oleh pasukan ekspedisi modern. Satu-satunya jalur kereta api dari Salonika ke Serbia adalah jalur tunggal dan melintasi beberapa wilayah yang paling berat di Eropa tenggara. Para diplomat menambahkan bahwa pemerintah Yunani secara agresif netral, dan oleh karena itu tidak mungkin mengizinkan pendaratan di Salonika, apalagi menyerahkan provinsi utaranya kepada pasukan asing. Sementara itu sejak awal Desember 1914, jenderal Prancis Louis Franchet d’Esperey, yang kemudian memimpin Sekutu di medan tersebut, telah mendesak untuk dilakukannya pembukaan “front kedua” di Balkan. Sejalan dengan pemikiran ini orang-orang Prancis lebih terbuka, meskipun segera tampak bahwa antusiasme mereka lebih berkaitan dengan menemukan seorang jenderal yang cukup kontroversial seperti halnya membantu orang Serbia pada saat mereka membutuhkan.

Jenderal Maurice Sarrail, komandan pasukan sekutu di Front Salonika. (Sumber: https://fr.wikipedia.org/)

Meski bukan tanpa kemampuan, Jenderal Maurice Sarrail berutang kenaikan pangkatnya pada dukungan kuatnya di lingkaran politikus kiri Prancis. Panglima Tertinggi Joseph Joffre tidak mempercayai Sarrail dan membebaskannya dari tugas memimpin Angkatan Darat Ketiga Prancis pada bulan Juli 1915. Namun, di tengah-tengah perang dunia, politik Prancis tetap sama senantiasa terbagi ideologinya dan kacau seperti biasa, dan untuk mencegah krisis parlementer yang secara rutin digulingkan, Sarrail kemudian diangkat jadi komandan Salonika untuk menenangkan para pendukungnya. Jika Sarrail gagal, maka karirnya akan tamat. Sementara dia mungkin saja masih bisa membantu memenangkan perang. Sarrail mungkin saja seorang jenderal politik; tapi dia jelas bukan orang yang tidak kompeten. Komandan baru itu tiba di Salonika pada 12 Oktober 1915, bersemangat untuk bertindak tetapi terbatas dalam kekuatan tempur yang dimilikinya. Kurang dari 50.000 personel yang dikirim diawal. Satu-satunya divisi Prancis milik Sarrail, adalah pasukan gabungan dari pasukan Prancis dan Afrika, telah menderita banyak kerugian di Dardanella yang berdekatan. Sedang Divisi ke-10 Inggris, yang dibentuk di Irlandia sebagai bagian dari Tentara Baru Kitchener, juga menderita kerugian besar di Gallipoli dan tidak dilatih atau diperlengkapi dengan baik untuk melakukan peperangan di pegunungan. Komandannya, Sir Bryan Mahon, sendiri diperintahkan dari London untuk tetap berada di dekat Salonika sampai situasi politik Yunani menjadi jelas.

MASALAH POLITIK EKSPEDISI SALONIKA

Hampir segera setelah dimulai, pendaratan pasukan Sekutu terhenti oleh masalah kerajaan lain di Balkan. Raja Konstantine dari Yunani menyatakan netralitas negerinya, tetapi motif aslinya telah lama dicurigai oleh Sekutu — dia kebetulan adalah saudara ipar kaisar Jerman. Konstantine juga diketahui terlibat perebutan kekuasaan dengan negarawan terkemuka Yunani, Perdana Menteri Eleutherios Venizelos, yang sangat mendukung Sekutu. Karena Yunani memiliki kewajiban perjanjian untuk membantu mempertahankan Serbia, Venizelos lebih mendukung pendaratan pasukan sekutu, tetapi pada hari pendaratan dimulai dan Serbia telah diserang, raja tiba-tiba memecat Venizelos. Masa depan ekspedisi Salonika dengan segera terganggu. Inggris bersiap untuk meninggalkan ekspedisi, tetapi pihak Prancis bertekad untuk melanjutkan. Pendaratan di Salonika dilanjutkan, meninggalkan orang-orang Yunani dengan pilihan yang tidak menyenangkan untuk mendukung mereka secara diam-diam atau berjuang untuk menghentikan mereka. Tanpa komando terpadu, Sarrail mulai menggerakkan pasukannya menuju wilayah Serbia melalui Lembah Vardar; Divisi ke-10 Inggris menyusul seminggu kemudian. Meskipun dengan mudah memukul mundur beberapa pasukan Bulgaria yang mereka temui, kemajuan Sekutu bisa dibilang lambat. “Semua gerakan kami telah dilakukan dalam kegelapan yang gelap dan biasanya di bawah hujan dan di jalur yang sangat tidak jelas di perbukitan,” demikian Kapten dari Divisi ke-10, G.H. Gordon menulis surat ke rumah.

Raja Konstantine I dari Yunani yang pro Jerman. (Sumber: https://commons.wikimedia.org/)
PM Yunani, Eleutherios Venizelos yang pro sekutu. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Pada tanggal 16 November, Sekutu mencapai titik terjauh mereka di utara, di mana Sungai Crna mengalir ke Lembah Vardar. Tapi cuaca buruk dan kemunculan bencana terburuk pertama dalam kampanye militer itu — penyakit — yang memiliki efek bencana pada upaya Sekutu. Divisi ke-10 sendiri melaporkan 1.700 kasus radang dingin dan penyakit, dan pada 5 Desember Bulgaria tiba-tiba melakukan serangan balik. Dalam seminggu pasukan Sekutu dipukul kembali ke selatan menuju perbatasan Yunani. Komando tinggi militer di London kemudian merekomendasikan penarikan mundur tentaranya segera. Chancellor of the Exchequer David Lloyd George, yang merupakan pendukung awal ekspedisi itu, dengan marah memberi tahu Menteri Perang Lord Kitchener, “Sepertinya Anda dan Jerman menginginkan hal yang sama.” Seorang koresponden Inggris di Salonika, G. Ward Price, mengamati: “Ekspedisi Salonika tidak membahayakan (Jerman) tapi Bulgaria, bukan Jerman, yang terbunuh oleh serangan kami. Komando Tinggi Jerman pun tahu bahwa Salonika akan sangat menguras sumber daya Sekutu. ” Pada konferensi antar Sekutu, Asquith berpendapat bahwa Salonika “dari sudut pandang militer berbahaya dan kemungkinan besar akan menyebabkan bencana yang lebih besar”. Pihak Prancis bagaimanapun menentang pendapat-pendapat ini, sebagian karena alasan diplomatik tetapi selain itu juga karena dampak politik dari penggantian Sarrail. Sementara itu, Sarrail mengambil alih kewenangan di Salonika dari Yunani, mengusir konsulat musuh yang selama ini diizinkan Athena untuk terus berfungsi dan memata-matai Sekutu. Selama empat bulan berikutnya, pasukan Sekutu membangun garis pertahanan sepanjang 70 mil dari kawat berduri, sarang-sarang senapan mesin, parit pertahanan, dan posisi-posisi yang terbuat dari beton 20 mil di utara kota. Tetapi sementara dia membangun garis depan, Sarrail juga membagi-bagikan kekuatannya. Kebiasaan arogan dan kecenderungannya yang senang akan intrik segera mengasingkan dari Jenderal asal Inggris Sir George Milne dan komandan Sekutu lainnya.

Pasukan sekutu mundur ke perbatasan Yunani, Musim Dingin tahun 1915. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)

“SANGKAR BURUNG”

Untuk tentara Inggris yang tidak puas, Salonika adalah laksana “sangkar burung”. Pasukan di garis depan menghabiskan waktu yang terbuang percuma dengan mengadakan pertandingan sepak bola untuk para tamtama dan perburuan rubah untuk para perwira. Orang-orang Bulgaria dengan bijak menahan tembakan mereka untuk membiarkan orang-orang Inggris bermain sepak bola dan mengirim kembali anjing pemburu Inggris yang telah berkeliaran di garis pertahanan mereka. Namun, kadang-kadang terjadi serangan brutal pada parit pertahanan antar pasukan. Salonika sendiri adalah tempat bagi pelacuran, alkohol, dan harga yang melambung tinggi. Pasukan sekutu juga menghadapi iklim musim panas yang berat dan banyak diantara mereka yang menyerah pada sengatan panas. Untuk mengatasinya, perjalanan biasanya dilakukan pada malam hari. Penyakit, baik malaria maupun kelamin, juga merajalela: 20 persen dari seluruh Korps Ekspedisi Inggris dirawat di rumah sakit pada bulan Oktober 1917, dan hanya 18.187 orang Inggris yang akhirnya dirawat karena luka pertempuran, dibandingkan dengan 481.262 yang mendapat perawatan karena penyakit. Dari jumlah itu 162.000 di antaranya adalah korban malaria. Jumlah ini 20 kali lebih banyak dari jumlah korban akibat pertempuran. Nasib tentara Prancis sendiri tidak lebih baik. Mereka memiliki persentase terkena penyakit yang serupa, semangat rendah, dan kurangnya cuti yang menyebabkan pemberontakan. Front Salonika berada di prioritas bawah sekutu, dan oleh karena itu penambahan pasukan baru lebih mendapat prioritas utama. Sementara sebagian besar petugas medis hanya berasal organisasi sukarela, jadi terkurasnya sumber daya mendorong masalah penyakit ini ke titik puncak.

Pasukan Inggris di Salonika mengonsumsi kina dosis harian mereka untuk memerangi penyakit malaria. Penyakit malaria adalah musuh terbesar pasukan sekutu daripada pasukan Bulgaria. (Sumber: https://awayfromthewesternfront.org/)

Semakin menambah kesengsaraan, kebakaran terjadi di kawasan Turki di kota Thessalonika (Salonika) dan menyebar dengan cepat di antara bangunan kayu yang mudah terbakar pada tanggal 18 Agustus 1917. Pada saat api padam pada tanggal 20 Agustus, api telah memusnahkan setengah dari kota Salonika dan menyebabkan 80.000 orang kehilangan tempat tinggal. Bencana lain yang mempertegas reputasi buruk Salonika terjadi ketika sebuah kapal tentara Prancis yang hendak mengirimkan 3.500 personel bala bantuan ditorpedo, dengan hanya 200 orang yang selamat. Sementara itu, bala bantuan sekutu terus dikirimkan, terutama pasukan asal Inggris dan Prancis yang menjadi inti pasukan sekutu di front Salonika. Satu, pasukan Prancis adalah dari Divisi ke-30, yang adalah formasi tentara aktif yang direkrut dari sekitar wilayah Marseilles. Sisanya adalah campuran satuan-satuan pada masa perang, dengan menggabungkan resimen aktif dan batalion dengan unit yang diambil dari satuan cadangan sebelum perang dan wajib militer masa perang. Tiga dari divisi yang dikirim adalah satuan “kolonial,” dengan sebagian kader disediakan oleh resimen yang dibentuk di Prancis untuk bertugas di luar negeri. Mereka berbeda dari pasukan lainnya terutama dalam seragam mereka yang berwarna khaki dan bukan biru cakrawala.

Suasana setelah kebakaran di Salonika, 18-20 Agustus 1917. (Sumber: https://www.theculturalexperience.com/)

Ada juga beberapa batalyon Zouave, yang berasal dari penduduk Eropa yang tinggal di Tunisia dan Aljazair dengan sedikit orang-orang Yahudi asal Afrika Utara. Selain divisi kolonial, dikerahkan juga untuk tugas keamanan internal dan sebagai unit kerja, adalah sebanyak dua lusin batalyon orang-orang Senegal. Diambil dari wilayah sub-Sahara Afrika, mereka secara luas dianggap dan sering digunakan sebagai pasukan penyerbu – paling tidak karena mereka yang dianggap “primitif” sehingga dianggap kurang rentan dibandingkan orang Eropa saat menghadapi kengerian medan perang modern. Tergantung pada keadaan, kualitas aktual mereka sangat bervariasi, baik di Eropa maupun Salonika. Prancis juga mengirim tiga batalyon prajurit dari Madagaskar ke Salonika dan empat batalyon dari Indocina. Meskipun kekurangan tenaga kerja, unit-unit ini hanya digunakan sebagai buruh. Orang-orang Vietnam sendiri dianggap tidak tahan menghadapi tekanan di garis depan perang modern. Sementara itu, Divisi ke-10 Inggris telah diperkuat oleh dua divisi sukarelawan Kitchener, yakni Divisi ke-22 dan 26, dan oleh dua lagi terorganisir dalam batalyon tentara reguler yang dibawa kembali dari India saat pecah perang. Terlepas dari proporsi tinggi “Veteran” mereka yang berpengalaman, Divisi ke-27 dan 28 yang juga dikirim, tidak pernah benar-benar mendapat reputasi bagus di Front Barat. Setelah menderita kerugian parah dalam perang parit musim dingin 1914-15, mereka dihancurkan dalam pertempuran Ypres kedua. Sir Douglas Haig tampaknya menganggap kepergian mereka dengan sikap biasa-biasa saja. Ada juga satuan Teritorial London dari Divisi ke-60 yang akan menghabiskan beberapa waktu di Salonika dalam perjalanan ke Palestina. 

Prajurit Sekutu di Salonika pada tahun 1916: (berdiri tegak): prajurit asal Inggris, Prancis Afrika Barat, Rusia, India, Italia, Serbia; (berlutut): Montenegro, Senegal Prancis, Prancis, Indochina Prancis (Vietnam), Montenegro. (Sumber: https://www.theculturalexperience.com/)
Pertahanan di Salonika dekat Baldza, Juni 1916. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Dengan kini pasukannya pada front Salonika membengkak menjadi lima divisi Inggris, empat Prancis, enam Serbia, satu Italia, dan satu brigade Rusia, Sarrail merencanakan sebuah serangan untuk dilakukan pada tanggal 1 Agustus 1916. Tak pelak, rencana itu lalu ditunda, dan Bulgaria malah melancarkan serangan terlebih dahulu pada tanggal 17 Agustus, dimana Tentara Bulgaria menyerbu dari barat ke bawah Lembah Kenali, mendesak kembali tentara Serbia dan merebut kota Yunani Florina, dan dari timur ke Rupel Pass menuju ke Makedonia. Disamping itu, dua divisi Jerman menyerang posisi pasukan Inggris di barat daya Danau Dorian, 65 mil dari Salonika. Pasukan Serbia akhirnya menghentikan serangan di barat dalam empat hari pertempuran tangan kosong di kota Ostrovo. Serangan dari timur terhenti di garis pertahanan Sungai Struma yang dipertahan oleh pihan Inggris. Sembilan hari setelah serangan itu dimulai, serangan balasan Bulgaria berakhir. Sarrail akhirnya melancarkan serangannya sendiri pada pukul 6 pagi tanggal 12 September 1916. Dalam pertempuran sengit selama 18 hari, pasukan Serbia merebut puncak kembar Gunung Kalmakcalan. Sementara pasukan Inggris segera terhenti di Lembah Vardar, tetapi pasukan Prancis dan Rusia di bawah pimpinan Jenderal Victor Louis Emelien Cordonnier berhasil merebut kembali Florina, mengusir orang-orang Bulgaria keluar dari biara San Marcos, dan mencapai Lembah Kenali di perbatasan Yunani-Serbia. Tapi Cordonnier sendiri harus menghadapi musuh lain di belakangnya. Dia memiliki permusuhan lama dengan Sarrail, yang memperburuk keadaan dengan membombardirnya dengan perintah: “Maju terus dengan semua kekuatanmu.” “Maju dari posisi pertahanan anda, saya mengandalkan Anda.” “Maju ke depan. Maju ke depan. Maju ke depan. “

Pasukan Serbia di parit garis depan selama Pertempuran Kaymakchalan, September 1916. (Sumber: https://www.nam.ac.uk/)

Sementara itu orang-orang Bulgaria telah membangun sistem pertahanan parit yang kuat di lembah berawa yang gundul. Cordonnier ingin menghindari serangan frontal dan bahkan melakukan penerbangan pengintaian pertama dalam perang oleh seorang jenderal untuk mencari alternatif rencana serangan. Tetapi setelah mendarat, dia menemukan perintah langsung dari Sarrail untuk melakukan penyerangan frontal keesokan harinya. Serangan itu, pada tanggal 6 Oktober, dan satu lagi delapan hari kemudian, gagal total, yang menyebabkan 1.490 korban di pihak Prancis dan 600 di pihak Rusia. Sarrail dengan cepat mengganti Cordonnier; Milne dan setiap komandan Sekutu lainnya yang memprotes penggantian itu melaporkan ke pemerintah masing-masing. Sementara itu Monastir jatuh pada tanggal 19 November. Dengan rencana aslinya, Sarrail bermaksud untuk merebutnya pada hari kedelapan serangan. Meskipun tentara Serbia, yang datang dari selatanlah yang berhasil merebut Monastir, Sarrial melaporkannya ke Paris sebagai “kemenangan pertama pasukan Prancis sejak Marne”. Orang-orang Serbia, yang dengan gampang tidak disebutkan dalam laporan itu, telah menderita kerugian terbesar dalam serangan itu, yakni 27.000 orang, atau sekitar seperlima dari pasukan mereka. Perwira Inggris R.W. Imbrie tidak menemukan banyak hal untuk dibanggakan atas kemenangan. “Jika Verdun tampak seperti Kota Orang Mati,” tulisnya, “Monastir adalah Tempat Jiwa yang Dihukum Mengembara di Senja hari pada Api Penyucian.” 

MENYERANG CRNA DAN BENTENG SETAN 

Musim dingin secara efektif menghentikan ofensif, meskipun tidak secara resmi dibatalkan sampai tanggal 11 Desember. Pada tahun yang sama dengan pertempuran Verdun dan Somme, telah terjadi sekitar 80 hari pertempuran sengit di sepanjang front Salonika. Kini pada tahun 1917 lebih dari setengah juta orang sekarang di bawah kendalinya, Sarrail merencanakan serangan musim semi sepanjang 140 mil garis depan yang ditujukan ke ibukota Bulgaria, Sofia. Pasukan Prancis, Italia, Serbia, dan Rusia akan menyerang di depan Sungai Crna, sementara Milne menawarkan untuk menyerang posisi Bulgaria di atas Danau Dorian, yang terhubung dengan beberapa jalan utama ke Bulgaria. Dengan melakukan itu, Milne akan bertugas mengambil alih salah satu benteng alam paling tangguh di Eropa, dengan punggung bukit setinggi 2.000 kaki di atas danau tempat orang Bulgaria membangun posisi pertahanan beton setinggi lima kaki. Lebih buruk lagi bagi Milne, 12 jam sebelum serangannya dimulai, pada pukul 10 malam tanggal 24 April 1917, sebuah satuan pemotong kabel komunikasi membawa seorang tahanan Bulgaria yang melaporkan bahwa pihak Bulgaria sudah tahu serangan yang akan datang dan telah memperkuat posisi mereka. Alih-alih menunda serangan, Milne justru memerintahkan serangan untuk berjalan sesuai jadwal. Tahanan itu benar. Pihak Bulgaria telah membawa 33 lampu sorot untuk menerangi medan perang. Pasukan Inggris datang ke Jumeaux Ravine di selatan danau dengan bermandikan cahaya, lalu dihancurkan; tentara yang tidak terbunuh oleh ledakan awal tewas ketika mereka dilemparkan ke luar dinding. Orang-orang Bulgaria menembaki tentara Inggris dengan senapan mesin. Saat fajar, pasukan Inggris diperintahkan mundur. Sementara itu tentara Inggris lainnya menyerang garis pertama pertahanan Bulgaria, sebuah bukit yang disebut Petit Couronne. Orang-orang Bulgaria kemudian meneriakkan ejekan, “Ayo Johnny,” tetapi tentara Inggris akhirnya berhasil merebut lereng barat yang lebih rendah, lalu menahan empat serangan balik Bulgaria. Pada tengah hari, terlihat jelas bahwa posisi Inggris di Petit Couronne terlalu terbuka dari tembakan yang berasal dari lereng diatasnyq, yang masih ada di tangan pasukan Bulgaria. Sekali lagi pasukan Inggris mundur. 

Perbekalan yang langka dan kondisi yang buruk memaksa pasukan sekutu harus melalui wilayah pegunungan untuk menyerang musuh di Front Balkan. (Sumber: https://warfarehistorynetwork.com/)
Pasukan Inggris di parit wilayah Makedonia. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Serangan Inggris kedua pada tanggal 8 Mei sama-sama menemui kegagalan. Tidak ada satupun tentara Sekutu yang berhasil sampai dalam jarak dua mil dari Grand Couronne, pusat pertahanan dari Benteng Setan yang dinamai sesuai reputasinya. Benteng itu akan bertahan selama 16 bulan lagi. Secara keseluruhan, serangan di sepanjang Danau Dorian menelan korban 5.000 orang Inggris, yang merupakan 25 persen dari kerugian pertempuran dalam kampanye tersebut, dengan hasil hanya merebut beberapa rumah pertanian di seberang Sungai Sturma. Pada musim panas, pihak Inggris bahkan meninggalkan tempat ini, membuat G. Ward Price berkomentar, “Satu-satunya kekuatan yang bisa menahan Lembah Sturma adalah nyamuk, dan efekifitasnya dapat dihitung hingga ribuan juta.” Serangan di Crna juga berakhir dengan bencana. Brigade Rusia yang menerobos, menjadi terisolasi di bukit satu mil di belakang garis pertahanan Bulgaria, kemudian ditembaki oleh artileri Sekutu karena kegagalan komunikasi. Separuh personel brigade itu tewas, sedang separuh lainnya ditangkap. Sementara itu orang-orang Italia mengalami kegagalan komunikasi mereka sendiri — perintah pembatalan oleh Sarrail terlambat sampai pada mereka karena serangan yang menjadi bencana telah terlanjur dilakukan pada pukul 8 pagi. Pasukan Prancis, dengan banyak personel mereka yang baru saja keluar dari rumah sakit, gagal terus menekan serangan mereka. Kerugian di pihak Serbia di sepanjang Punggung Bukit Dobropolje di timur Crna sedemikian rupa sehingga kepala staf mereka memohon kepada Sarrail untuk menghentikan serangan itu. Dia akhirnya melakukannya pada tanggal 22 Mei, tetapi hanya setelah serangan yang salah itu membuat Sekutu kehilangan 14.000 korban lagi. Dalam berbagai tuduhan yang muncul berikutnya, Milne menyalahkan pihak intelijen yang buruk, sementara pihak Italia menyalahkan Sarrail, dan Sarrail menyalahkan orang-orang Serbia.

KEJATUHAN RAJA KONSTANTINE

Ofensif 28 hari Sarrail adalah pertempuran besar terakhir di front Salonika hingga bulan September 1918. Di antara periode ini, peristiwa-peristiwa disana didominasi oleh perebutan kekuasaan yang keras di Yunani dan perombakan kembali komando Sekutu. Front itu menjadi terjerat dalam pertarungan politik Yunani, karena negara itu berada di ambang perang saudara. Venizelos melarikan diri dari Athena sebelum muncul perintah raja untuk menangkapnya dan Venizelos kemudian mendirikan rezim saingan di Kreta dan di Salonika, di mana dia mengumpulkan pasukannya sendiri untuk berperang dengan Sekutu. (Salah satu perwiranya yang memiliki metode perekrutan yang unik, dengan membakar rumah orang-orang yang menolak bertugas.) Raja lalu membalas dengan kampanye pembunuhan terhadap para pendukung Venizelos. “Di antara aku dan raja ada danau darah,” kata Venizelos kemudian. Kecurigaan Sekutu tentang kenetralan raja makin diperkuat ketika orang-orang Yunani menyerahkan posisi pertahanan utama di perbatasan mereka kepada orang-orang Bulgaria. Bertekad untuk menyingkirkan raja untuk selamanya, Sarrail mengorganisir demonstrasi menentangnya di Salonika sambil memperlakukan rezim Venizelos sebagai pemerintahan yang sah. Setelah bentrokan dengan pasukan Royalis di luar Athena di mana pihak Sekutu menuntut agar mereka menyerahkan artileri mereka, Sekutu memberlakukan blokade laut pada tanggal 17 Januari 1917. Pukulan terakhir datang ketika Konstantine mengirim kepada saudara iparnya — sang kaiser Jerman — sebuah pesan yang mengatakan bahwa dia berdoa untuk kemenangan Jerman. Pada tanggal 1 Juni, Sarrail mengirimkan ultimatum kepadanya untuk menuntut pengunduran dirinya. “Saya tidak akan diperlakukan sebagai kepala suku,” kata Constantine, yang lalu berangkat keesokan harinya ke Swiss. Putra mahkota pergi juga, menyerahkan takhta kepada putra keduanya, Alexander. Kembali berkuasa, Venizelos membawa Yunani ke dalam perang, dan dengan kejam membersihkan para perwira Royalis Kerajaan, serta mengirimkan 250.000 tentara Yunani ke front Salonika. 

Medan perang Salonika tahun 1915-1918. (Sumber: https://nzhistory.govt.nz/)

“SAYA BERHARAP ANDA MELAKUKAN PERLAWANAN KERAS”

Kejatuhan raja diikuti enam bulan kemudian oleh peristiwa yang tidak begitu disesali. Georges Clemenceau telah menjadi perdana menteri Prancis, dan salah satu tindakan pertamanya adalah memecat Sarrail. Penggantinya sebagai Panglima Tertinggi Sekutu, Jenderal Louis Guillaumant, yang bekerja keras untuk memulihkan moral dan hubungan antar-Sekutu, tetapi enam bulan kemudian ia dipanggil kembali menjadi gubernur militer Paris. Jenderal yang akan memimpin Sekutu meraih kemenangan terakhir di front Salonika akhirnya mengambil alih pimpinan. Jenderal Louis Franchet d’Esperey yang telah mendukung pembukaan front kedua di Salonika sejak tahun 1914, memiliki catatan yang sangat baik di Front Barat dan bahkan telah dianggap sebagai penerus Joffre sebagai panglima tertinggi Angkatan Darat Prancis, tetapi ketaatan pada agama Katoliknya yang telah membuatnya diblokir oleh kelompok politik yang sama yang mendukungnya Sarrail. D’Esperey memulai kepemimpinan dengan kata-kata pertamanya yang ditujukan kepada para perwira Sekutu yang berkumpul untuk menemuinya di dermaga Salonika: “Saya mengharapkan perlawanan keras dari Anda (terhadap musuh).” Frankie yang putus asa, sebutan D’Esperey yang dari pihak Inggris, kemudian akan mendapatkan semua kekuatan dan semangat yang dia minta sebelumnya dalam serangan yang dia luncurkan pada tanggal 14 September 1918.

Jenderal Louis Franchet d’Esperey. (Sumber: https://www.whosdatedwho.com/)

Serangan dibuka dengan rentetan tembakan 500 meriam. Serangan ini menurut standar Front Barat agak kecil, namun pemboman di garis depan Salonika benar-benar menghancurkan — seorang jenderal Jerman menyebutnya sebagai “badai besi” yang “mendekat.” Sementara itu, meskipun Jenderal Jerman, Friedrich von Scholtz memimpin di garis depan, namun pasukan Jerman hanya tinggal dua korps. Sedang, Inggris dan Prancis telah menggunakan tambahan pasukan Yunani untuk mentransfer ribuan pasukan mereka kembali ke Front Barat. Mengetahui bahwa pihak Jerman dan Bulgaria memperkirakan dia akan menyerang di sisi kanan, D’Esperey malah menyerang ke bagian kiri dan tengah, mengirimkan pasukan Serbia menyerang Gunung Korzyak dan pasukan Perancis menyerang Dobropolje Ridge. Orang-orang Serbia berjuang untuk mendaki permukaan batu gunung yang terjal dalam delapan jam, tergantung pada semangat dan keberanian belaka. Di Punggung Bukit Dobropolje, pasukan Prancis, termasuk empat batalyon asal Senegal, menggunakan penyembur api untuk pertama kalinya di medan perang Salonika untuk membakar posisi-posisi senapan mesin Bulgaria, kemudian bertahan melawan lima serangan balik lawan. Menambahkan kekuatan aliansi berbagai negara Sekutu, di Salonika terdapat divisi yang baru yang dibentuk dari orang-orang Slavia selatan, termasuk  asal Slovenia, Kroasia, Bosnia, Montenegro, dan Makedonia.

Keledai dan pawangnya dari bagian pengangkutan, Batalyon 7, South Wales Borderers, tahun 1917. Medan yang berat membuat hewan pengangkut lebih sering dituntun ketimbang ditunggangi. (Sumber: https://www.theculturalexperience.com/)

Pada tanggal 17 September, pasukan Prancis telah menempuh jarak 20 mil yang menonjol sejauh enam mil masuk ke posisi Bulgaria di sekitar Punggung Bukit Dobropolje; saat pasukan Jerman mulai mengevakuasi unit-unit mereka ke barat agar tidak terputus. Komandan Bulgaria di punggung bukit memohon kepada Raja Ferdinand untuk berdamai. Dia menerima tanggapan dari pihak kerajaan yang marah: “Pergi dan terbunuhlah di posisimu sekarang.” Sementara itu, untuk menjaga agar pasukan Bulgaria tidak mendapat bala bantuan ke punggung bukit dengan segera, D’Esperey memerintahkan pasukan Inggris dan Yunani untuk menyerang sisi timur Danau Dorian pada tanggal 18 September. Bertempur pada hari itu dan hari berikutnya, mereka akhirnya berhasil merebut Petit Couronne dan kota Dorian, tapi kemudian menemui bencana. Pasukan Inggris yang berhasil berjuang untuk mencapai puncak Grand Couronne, kemudian dipukul mundur oleh tembakan senapan mesin yang intens. Di Pip Ridge, unit-unit Inggris, banyak di antara mereka yang menderita malaria dan hampir tidak bisa berjalan, menderita 30 persen korban. Untuk menambah kemalangan mereka, mereka terjebak dalam serangan artileri yang dilancarkan oleh pihak mereka sendiri. Tembakan peluru-peluru artileri Bulgaria juga memicu kebakaran rumput yang, dikipasi oleh angin, membuat orang-orang Yunani mundur.

Tentara dari Divisi ke-9 Bulgaria (Pleven) sedang menggali parit di Petit Couronné di Doiran. (Sumber: https://www.theculturalexperience.com/)

Ketika pasukan Inggris dan Yunani kembali untuk mencoba lagi pada tanggal 21 September, mereka menemukan Grand Couronne dan Pip Ridge telah kosong. Von Scholtz telah memerintahkan penarikan mundur pasukannya di sepanjang garis depan. Rencana Von Scholtz adalah menarik pasukan Sekutu masuk jauh, untuk memperpanjang jalur suplai mereka, lalu menyerangnya pada bagian sisi-sisinya. Tetapi bagi orang-orang Bulgaria, penarikan mundur segera berubah menjadi kepanikan, karena mereka meninggalkan senjata-senjata, gudang-gudang, dan persediaan mereka. Sementara Angkatan Udara Kerajaan Inggris dengan menggunakan pesawat-pesawat DH9 dan Armstrong-Whitworth dari Squadron ke-47 tanpa belas kasihan mengebom dan menyapu barisan mereka yang melarikan diri, menewaskan lebih dari 700 orang Bulgaria di daerah Kosturino. Saat sayap kiri Bulgaria kini telah hancur, kekuatan utama mereka mulai runtuh. Unsur-unsur terdepan pasukan Serbia telah mencapai Vardar dan menyeberangi Crna. Sementara Pasukan Prancis bergerak ke barat menuju Prilep ketika Franchet d’Esperey melepaskan satuan kavalerinya. Para penunggang kuda faktanya tidak banyak berguna di pegunungan Makedonia. Tapi Jenderal Franois Leon Jouinot-Gambetta yang mengomandani dua resimen Chasseurs d’Afrique dan setengah lusin skuadron Spahi Maroko, memiliki 20 senapan mesin dan beberapa meriam kaliber 37 milimeter yang diangkut di atas kuda beban. Dia bahkan juga punya empat mobil lapis baja. Melaju menuju Prilep pada tanggal 22 September, satuan Prancis ini diambil alih komandonya oleh Franchet d’Esperey sendiri. Prilep, hanya menjadi tujuan awalnya saja. Setelah direbut, brigade ini akan pergi ke Skopje.

Pesawat-pesawat DH9 RAF turut membantu menyerang pasukan Bulgaria yang bergerak mundur. (Sumber: http://www.roden.eu/)

INVASI KE BULGARIA

Pasukan Inggris menyeberang ke Bulgaria pada tanggal 25 September. Pada saat itu, keletihan perang dan keruntuhan ekonomi telah mempengaruhi negara itu. Untuk mencoba mengumpulkan pasukan, Raja Ferdinand melepaskan musuh lamanya Alexander Stambolski dari penjara dan mengirimnya ke garis depan; dimana 15.000 tentara segera mendeklarasikan berdirinya republik dengan Stambolski sebagai kepalanya. Pemberontakan itu dengan cepat dihancurkan oleh bala bantuan Jerman dan Stambolski terpaksa bersembunyi, tetapi pemberontakan lain terus pecah di antara orang-orang Bulgaria. Pukulan mematikan terakhir untuk Bulgaria dilakukan oleh pasukan Prancis. Dengan mengendarai mobil cepat, D’Esperey berhasil menyusul kavaleri Afrika Utara yang melewati Crna di Prilep. Dia memerintahkan mereka untuk melanjutkan perjalanan 60 mil ke utara dan merebut Skopje, kota utama Makedonia utara. Selama tiga hari satuan kavaleri itu menghilang, mendaki dataran yang rusak di Dataran Tinggi Golenisca setinggi 5.000 kaki. Mereka lebih sering menuntun kudanya daripada menungganginya. Saat fajar tanggal 29 September, satuan kavaleri itu menyerang musuh mereka yang terkejut di Skopje, dengan meneriakkan teriakan perang orang Arab. Orang-orang Bulgaria itu segera melarikan diri ke segala arah, sementara tentara Jerman melawan balik di stasiun kereta, untuk kemudian melarikan diri dengan kereta lapis baja. Seorang letnan Prancis menggambarkan pemandangan di Skopje: “Tempat penimbunan amunisi meledak, menembakkan api berwarna merah dan hitam. Stasiun kereta api juga terbakar. Kota itu penuh dengan musuh yang melarikan diri dan kelelahan, tidak ada yang masih bisa bertarung. ”

Kolonel Nikolaos Christodoulou, salah satu pemimpin Tentara Pertahanan Nasional Yunani, menginterogasi tawanan perang Bulgaria. Setelah hampir 3 tahun, akhirnya pasukan sekutu bisa memenangkan Front Salonika pada bulan September 1918. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Delegasi Bulgaria yang mengajukan penyerahan: Mayor Jenderal Ivan Lukov, Andrey Lyapchev dan Simeon Radev. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)
Persyaratan gencatan senjata dengan Bulgaria. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Franchet d’Esperey merasa prestasi satuan kavaleri  Prancis itu sangat luar biasa sehingga dia mengirim dua pesawat lagi untuk memverifikasi laporan awal keberhasilan mereka. Kini pihak Bulgaria yang sudah berada di Salonika untuk menegosiasikan gencatan senjata dengan D’Esperey mendapat berita jatuhnya Skopje membuat mereka tidak lagi memiliki ruang tawar menawar. Delegasi pertama dari dua delegasi yang dikirim mencapai markas Franchet d’Esperey pada tanggal 26. Pemberontakan terbuka telah pecah di Sofia dan baru bisa ditekan dengan datangnya bantuan divisi Jerman yang dikirim dari Rusia untuk memperkuat front yang sudah runtuh. Semua orang di ruang negosiasi kemudian lenyap dengan pengumuman jatuhnya Skopje. Pukul 10:10 malam pada 29 September, gencatan senjata disepakati, dimana pihak Bulgaria setuju untuk meninggalkan semua wilayah Yunani dan Serbia yang diduduki, mengusir sisa Jerman dan Austria, melucuti senjata dan mendemobilisasi pasukan mereka, dan membiarkan pasukan Sekutu menggunakan rel kereta api mereka. Gencatan senjata mulai berlaku pada siang hari tanggal 30 September. “Perangkat bantuan pertama telah jatuh,” komentar Sir Maurice Hankey, sekretaris Kabinet Perang Inggris. Sementara itu reaksi dari diktator militer de facto Jerman, Jenderal Erich Ludendorff, lebih tidak terduga: ia berteriak, berbusa di mulut, histeris dan jatuh ke lantai; sehari kemudian dia menyuruh kaiser untuk meminta perdamaian. Sementara itu, D’Esperey terus bergerak ke utara menuju Hongaria. Unit terdepannya sedang melintasi Danube pada saat Hari Gencatan Senjata diberlakukan. Setelah hampir tiga tahun mengalami kebuntuan yang tidak pasti, para “tukang kebun di Salonika” kini telah maju lebih dari 400 mil ke utara hanya dalam waktu tujuh minggu.

AKIBAT YANG DITIMBULKAN

Kampanye di Salonika telah menelan 165.800 korban jiwa dalam pertempuran, 75 persen di antaranya adalah orang-orang Serbia. Pihak Inggris dan Prancis yang tewas masing-masing berjumlah 7.840 dan 1.584, sementara di pihak Bulgaria menderita 76.729 korban tewas (di pihak Jerman tidak terdapat informasi yang bisa didapat). Meskipun medan perang Salonika berada di urutan kedua dalam prioritas Sekutu, beberapa tokoh yang terlibat kampanye militer di Salonika cukup berhasil karirnya setelah perang. Guillaumat kemudian menjadi Menteri Perang Prancis, D’Esperey diangkat menjadi Marsekal Prancis, sedangkan Milne menjadi kepala Staf Umum Kerajaan dan marsekal lapangan. Sementara itu pecundang terbesar di pihak Sekutu, mungkin adalah Maurice Sarrail. Dia disingkirkan di sepanjang masa sisa perang, tetapi pada tahun 1924 pengikutnya yang masih setia memberinya kesempatan terakhir, untuk memerintah di Suriah. Dalam setahun Sarrail telah menghadapi pemberontakan besar dibawah pemerintahannya, dan diam-diam kemudian dibebastugaskan dari jabatannya. Alexander Stambolski terbukti hanya sebagian benar tentang peringatannya tahun 1914: Raja Ferdinand memang kehilangan tahtanya, tetapi dinastinya terus memerintah sampai diusir oleh kekuatan Komunis setelah Perang Dunia II. Raja sendiri tinggal di pengasingan dalam keadaan damai, mempelajari serangga dan burung.

Monumen pasukan sekutu untuk memperingati Front Salonika. (Sumber: https://en.wikipedia.org/)

Dalam hal itu, dia lebih beruntung daripada Stambolski yang digulingkan sebagai perdana menteri, dipaksa untuk menggali kuburannya sendiri, sebelah tangannya dipotong, dan ditembak oleh kaum revolusioner. Di Yunani, Konstantine kembali ke tahta Yunani pada tahun 1920, setelah putranya menderita salah satu kematian kerajaan yang paling memalukan dalam sejarah (ia meninggal karena keracunan darah setelah digigit monyet peliharaan). Tiga tahun kemudian, Konstantine kembali diasingkan, kali ini oleh revolusi yang muncul di dalam negeri, dan dia meninggal beberapa minggu kemudian. Eleutherios Venizelos lalu diangkat menjadi perdana menteri setelah itu, sebelum diusir ke pengasingan oleh pihak militer. Raja Peter akhirnya kembali ke Serbia yang telah dibebaskan, dengan menyaksikan kehancuran Kekaisaran Austro-Hongaria, kemudian memperluas wilayahnya hingga Slavia selatan untuk membentuk Yugoslavia. Cucunya lalu diusir oleh Adolf Hitler dan diasingkan oleh Marsekal Josef Broz Tito, yang akhirnya meninggal dalam keadaan mabuk dan hampir melarat di Los Angeles pada tahun 1970. Benih disintegrasi pasca-Komunis Yugoslavia yang lalu jatuh ke dalam perang saudara dan pembersihan etnis yang mengerikan bisa jadi penyebabnya telah dimulai — meski secara tidak sengaja — oleh para “tukang kebun di Salonika”.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:

Gardening in Salonika: World War I in the Balkans by By John W. Osborn, Jr.

Salonika by Dennis E. Showalter, Winter 1998

The defining features and hardships of the Salonika Campaign

https://www.theculturalexperience.com/defining-features-and-hardships-of-the-salonika-campaign.php?sid=34441b19bcf6a6825b22e84ee82b1a0a

Salonika by Alan Wakefield

https://awayfromthewesternfront.org/campaigns/balkans-gallipoli/salonika/

Salonika Campaign

https://nzhistory.govt.nz/keyword/tags-92

Salonika campaign

https://www.nam.ac.uk/explore/salonika-campaign

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *