Serbuan Pasukan Spetnaz Ke Pertahanan Gerilyawan Mujahidin Di Gunung Hadigar, Februari 1986
Bulan Februari tahun 1986 bagi pasukan khusus Soviet, wilayah Kandahar dianggap sebagai kawasan yang “cukup panas”. Dalam waktu kurang dari sebulan, di masa-masa itu, pasukan-pasukan khusus Soviet yang kerap dikenal sebagai Spetnaz dimungkinkan untuk mempersiapkan dan melakukan dua operasi khusus guna merebut dan melikuidasi basis besar gerilyawan Mujahidin di wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka. Namun dalam periode ini, di Kandahar ternyata hanya ada satu orang tewas di detasemen Spetnaz ke-173 ooSpN dan sepuluh lainnya luka-luka. Kesulitan utama yang dihadapi oleh pasukan khusus Soviet saat itu dalam melakukan tugas, uniknya malah lebih disebabkan oleh interaksi atau kerjasama yang buruk dengan kekuatan pendukung yang diperbantukan pada mereka. Hal inilah yang kemudian menyebabkan timbulnya kerugian di pihak pasukan khusus Soviet.

SEKILAS DETASEMEN KE-173 SPETNAZ DI AFGHANISTAN
Pasukan khusus Angkatan Bersenjata Uni Soviet yang kemudian lebih dikenal dengan nama Spetnaz, dibentuk pada awal tahun 1950-an sebagai sebuah kompi terpisah (kemudian menjadi unit tersendiri). Pada tahun 1957, batalion Spetsnaz pertama dibentuk di bawah GRU (Bagian Intelijen AD Soviet), dengan lima batalyonnya bisa beroperasi di luar jangkauan 150-200 km dari kompi pengintai. Pada tahun 1962 ukurannya ditingkatkan ke ukuran brigade yang terdiri dari 4 detasemen. Pada tahun 1979, pasukan khusus (Spetnaz) GRU dibagi dalam 14 brigade distrik (kebanyakan tidak lengkap seukuran brigade) dan sekitar 30 kompi terpisah dalam angkatan bersenjata dan kelompok pasukan. Operasi militer pertama satuan ini di Afghanistan adalah pada tanggal 27 Desember 1979 saat melakukan penyerangan ke istana diktator Afghanistan Hafizullah Amin – yang dilakukan oleh pasukan khusus dari “batalion Muslim” dan pasukan khusus KGB. Dalam perang Afghanistan, pasukan khusus Soviet melakukan tugas-tugas berikut ini: Mencari data intelijen dan misi eksplorasi tambahan; Penghancuran formasi pemberontak dan karavan/perbekalan; penghancuran pangkalan dan gudang perbekalan gerilyawan “Mujahidin”; dan menangkap tahanan. Menurut beberapa perkiraan, pasukan khusus Soviet menghasilkan hingga 50% dari total hasil aktivitas pertempuran seluruh tentara ke-40 (unit militer terbesar Soviet yang membawahi wilayah Afghanistan) meski satuan khusus hanya mencakup sekitar 5% dari jumlah total pasukan Soviet di Afghanistan.

Di Afghanistan salah satu area tanggung jawab tersulit pasukan Spetnaz adalah di zona yang menjadi tanggung jawab Detasemen ke-173 ooSpN, yang dibentuk pada tanggal 10 Februari 1984. Wilayah ini termasuk bagian timur dari gurun Registan dan bagian selatan dataran tinggi Ghazni-Kandahar. Dalam arti sebenarnya, wilayah ini terdiri dari daerah pegunungan dan gurun. Aktifitas utama kelompok Mujahidin di wilayah ini, selain di beberapa area yang dibentengi, juga ada di area yang disebut sebagai “zona hijau” di Kandahar dan kota itu sendiri. Di sini, perang dengan ketegangan yang tiada henti sudah berlangsung sejak tahun 1980, ketika 70 perwira polisi tiba di Kandahar. Namun, kombinasi dari berbagai unit senapan bermotor yang kuat gagal membalikkan keadaan yang tidak stabil di area yang menjadi tanggung jawab mereka. Aksi operasi mereka di wilayah kemudian dibatasi hingga hanya area zona hijau Kandahar. Oleh karena itu, “pengaruh” Mujahidin amat tinggi di provinsi ini sampai musim semi tahun 1984, ketika Detasemen ke-173 ooSpN, yang datang dari ZakVO, mulai bekerja di sini. Pada tanggal 14 Februari, Detasemen ke-173 ooSpN, tiba di Kandahar, di mana mereka segera ditempatkan di pos militer dekat lapangan udara. Kota Kandahar, yang terletak di dekat perbatasan dengan Pakistan, berada persis di persimpangan rute karavan kuno dan berfungsi sebagai kunci dalam mengendalikan wilayah barat daya Afghanistan. Dari bulan-bulan pertama kehadirannya, detasemen ini telah membuktikan keunggulannya dalam aktivitas tempur dan hasil yang signifikan yang mereka capai. Kegiatan utama unit ini adalah melakukan penyergapan. Untuk mendukung mobilitas dan memberikan bantuan tembakan, Detasemen ke-173 ooSpN, seperti layaknya masing-masing detasemen pasukan khusus yang ditugaskan di Afghanistan, dilengkapi dengan setidaknya 4 helikopter angkut Mi-8 dan 4 helikopter tempur Mi-24, yang disediakan oleh unit “280 Kandahar Separate Helicopter Regiment”.


Menurut catatan, detasemen pasukan khusus di Kandahar, dilengkapi dengan perlengkapan khusus untuk bisa bekerja secara independen dalam waktu 3-4 hari, dimana perlengkapan itu adalah sebagai berikut: Senjata perorangan (berdasar foto-foto yang beredar, senjata perorangan unit satuan khusus Soviet di Afghanistan tidak berbeda jauh dengan unit reguler, yakni memakai senapan serbu AK-74 kaliber 5.45 mm beserta varian karabin-nya AKS-74U, senapan mesin PK kaliber 7.62 mm, dan senapan sniper SVD Dragunov kaliber 7.62 mm), 2-3 set amunisi untuk senjata pribadi, 4 granat tangan (2 granat anti personel tipe RGD-5 dan 2 tipe F-1), senjata Peluncur Roket RPG-18 untuk dua kali penembakan, dua bom TNT berbobot 200 g, 5 bom asap dan 5 kartrid sinyal jet untuk sinyal identifikasi siang dan malam, 4 munisi untuk mortir 82 mm (jika dibawa) atau drum amunisi dengan selotip untuk senjata pelontar granat AGS-17, persediaan makanan selama 3-5 hari, 2-3 termos air atau teh, jas hujan dan selimut. Peralatan yang digunakan sebenarnya bervariasi disesuaikan dengan musim dan kondisi – di musim dingin dan di pegunungan, pakaian hangat, jaket, dan kantong tidur ditambahkan. Senjata AGS-17, mortir, dan senapan mesin yang besar biasanya dibongkar menjadi bagian-bagian “yang bisa diangkat” masing-masing seberat 15-20 kg. Terkadang demi bisa membawa amunisi lebih, mereka mengorbankan sebagian makanan – seperti yang diajarkan, “jika Anda memiliki cukup selongsong peluru, Anda akan selalu (bisa) mendapatkan makanan”. Bawaan umum seorang prajurit diperkirakan, paling banter, dan dalam versi “musim panas”, adalah sekitar 35-40 kg, dengan hanya membawa item yang paling diperlukan saja. Masing-masing kelompok yang siap sedia ditugaskan berjumlah 10 hingga 25 orang, dan, yang selain personel wajib yang terdiri dari sniper, prajurit peluncur granat dan petugas sinyal, dapat juga mencakup personel peluncur granat otomatis AGS-17, prajurit pengintai artileri dan operator serbu udara, ahli ranjau dan pembawa senjata penyembur api dari unit satuan kimia, yang dipersenjatai dengan senjata penyembur api RPO-A Shmel yang menggunakan volumetric explosion ammunition.

Kelompok tersebut kemudian dibagi menjadi unit-unit kecil untuk menangkap musuh, menembak dan melindungi. Semua aksi yang dikerjakan unit-unit imi telah dikoordinasikan dan dirancang sebelumnya, dengan menekankan pada keseimbangan kekuatan dan saling mendukung di medan operasi yang telah ditentukan. Pada dasarnya pada unit satuan khusus Spetnaz, senioritas yang tidak selalu ditentukan berdasarkan pangkat, tetapi berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang umumnya terdapat pada sersan senior, seorang perwira muda bisa saja belajar banyak dari personel-personel tertua di tim-nya. Sementara itu, “Kafilah besar” Mujahidin pertama berhasil disergap oleh kelompok Spetnaz pimpinan Letnan S. Kozlov pada malam tanggal 13-14 April 1984. Akibat dari aktivitas Spetnaz, pada pertengahan bulan Mei 1984 para Mujahidin sudah menolak untuk membawa karavan mereka ke wilayah Kandahar, karena takut akan penyergapan dari unit-unit pasukan khusus Soviet. Tapi bagaimanapun aksi detasemen ini tidak berhenti sampai di situ. Pada bulan Juni 1984, sebagai hasil dari penyergapan yang sukses dari kompi ke-3, seorang warga negara Perancis, Jean-Pierre Aboucheard (ditengarai hadir disitu untuk membantu gerilyawan Mujahidin), berhasil ditangkap. Dan pada bulan Juli 1984, “hasil kerja” dari detasemen ke-173 saja telah melebihi hasil dari semua unit lain dari tentara ke-40 Soviet di Afghanistan. Pada saat yang sama, perwira dari kompi pertama juga turut mencatat prestasinya. Saat itu letnan senior S. Kozlov, yang memimpin satuannya tanpa kehadiran Kapten A. Likhidchenko, bersama dengan letnan senior L. Rozhkov dan A. Kornev, yang memimpin kelompok-kelompok mereka melakukan penyergapan pada sasaran-sasaran musuh di sekitar Kandahar. Pada musim gugur tahun 1985, sekelompok pimpinan letnan senior Krivenko berhasil menghancurkan sekelompok grup penasihat asal Amerika dan menyita dokumen yang menceritakan tentang aktivitas mereka di Afghanistan. Kini di tahun 1986, unit-unit Detasemen ke-173 ooSpN, kembali menemukan aktivitas mencurigakan kaum gerilyawan di luar kota Kandahar.

PERTAHANAN GERILYAWAN MUJAHIDIN DI GUNUNG HADIGAR
Informasi tentang adanya kekuatan musuh di sekitar gunung Hadigar awalnya diperoleh dari pengintaian udara yang dilakukan pada awal bulan Februari. Pilot pengintai tersebut menyatakan telah menemukan sejumlah besar hewan pengangkut yang dimuati dengan bungkusan mencurigakan bergerak dari perbatasan Pakistan ke arah barat, jauh masuk ke provinsi Kandahar. Menelusuri jalur karavan itu, para pilot menemukan bahwa mereka semua bergerak ke arah ngarai di pegunungan Hadigar. Komandan Resimen Penerbangan ke-238, Kolonel Alexander Rutskoi (yang nantinya pada tahun 1990an menjadi wakil presiden Russia), kemudian berusaha untuk mengintai ngarai itu dengan menerbangkan pesawat serang Su-25 Frogfoot, tetapi ditembaki oleh senjata anti-pesawat kaliber besar. Hal ini kemudian ia laporkan kepada Kepala Staf Distrik Militer Turkestan, Letnan Jenderal Gusev, yang lalu segera memerintahkan pengeboman di ngarai tersebut. Ketika mencoba untuk melakukan pengintaian udara kembali di ngarai-ngarai tersebut, pesawat-pesawat Soviet kembali diserang. Aksi-aksi ini kemudian mengarah pada kesimpulan bahwa target di area tersebut tidak bisa ditekan tanpa menghancurkan senjata-senjata anti pesawat musuh terlebih dahulu. Untuk mengatasi masalah ini, pengeboman berkala lalu diterapkan di sepanjang ngarai pada interval tertentu selama dua hari.



Setelah pengeboman selesai, tim inspeksi yang dipimpin oleh Letnan Senior A. Parshin dikirim ke distrik tersebut untuk memverifikasi hasilnya. Meski demikian saat tugas pendaratan di lokasi belum diberikan, tim Letnan Parshin sudah lebih dulu berangkat. Namun, di bawah naungan helikopter pendukung tembakan, dan dengan menggunakan unsur kejutan, kelompok pimpinan Parshin berhasil mendarat di tepi jurang di dekat pos penjagaan dan menyita ranjau-ranjau anti-tank dan paket-paket amunisi senjata musuh. Kemudian selama proses evakuasi kelompok itu, salah satu helikopter Mi-24 yang dikerahkan mengalami kerusakan akibat tembakan senapan mesin anti-pesawat, tetapi bisa tiba dengan selamat kembali ke lapangan terbang. Sementara itu, untuk aksinya yang tidak mematuhi perintah, Parshin menerima sanksi disipliner dari komandan detasemen kapten S. Bokhan. Namun, informasi yang diperoleh oleh kelompok tersebut, bagaimanapun telah membantu meyakinkan bahwa, meskipun wilayah tersebut telah mengalami pemboman yang lama, tempat itu terus secara efektif mampu berfungsi sebagai tempat pertahanan yang bagus bagi musuh. Informasi tambahan dari kelompok Letnan Parshin juga memungkinkan untuk mengetahui bahwa ngarai itu dilindungi oleh empat posisi pertahanan udara yang termasuk diantaranya adalah keberadaan 2-3 senapan mesin berat DShK di tempat itu. Posisi pertahanan udara itu memampukan para militan Afghan untuk memberikan tembakan jangka panjang, dari tempat yang baik secara teknis, dengan terletak di punggung bukit, dan dua posisi senjata di setiap sisi ngarainya. Posisi-posisi ini adalah kuncinya. Dalam hal ini, kemudian diputuskan oleh para komandan Soviet untuk segera merebut ngarai di pegunungan Hadigar tersebut.
PERENCANAAN SERANGAN
Rencana merebut untuk tempat tersebut lalu dikembangkan oleh Detasemen ke-173 OoSpN (Spetnaz). Sementara untuk eksekusi rencananya, detasemen pasukan khusus tersebut harus membentuk unit ROSPN No. 300 sebagai bagian dari detasemen garis depan – yang terdiri dari BG No. 310 dan empat kelompok penyerang. Yang dipilih menjadi komandan ROSpN nomor 300 adalah Kapten Bohan. Karena personel pasukan dan sarana untuk operasi di detasemen wilayah Kandahar tidak mencukupi, mereka terpaksa harus melibatkan unit tetangganya dari Detasemen ke-370 OoSpN untuk membentuk satuan cadangan yang terdiri dari dua kelompok. Tetapi bahkan keterlibatan dari unit-unit inipun tidak memungkinkan untuk mencukupi unit-unit tempur yang diperlukan. Untuk tujuan ini, kemudian diputuskan untuk menggunakan pasukan dan perlengkapan tambahan dari unit Brigade bermotor ke-70 ombsbr sebagai bagian dari unit batalion serang udara, batalion tank, dan unit artileri yang dilengkapi dengan meriam howitzer D-30. Selain itu sejumlah persiapan penting untuk operasi itu harus diselesaikan. Dari unit penerbangan, untuk tugas ini, dari skuadron pasukan serbu udara ke-280, skuadron helikopter angkut Mi-8MT dan skuadron helikopter tempur Mi-24 ditugaskan, serta dari unit ke-238 oshap (Resimen Serang Udara Independen), pesawat-pesawat Su-25 juga turut dikerahkan.

Sesuai dengan rencana, detasemen terdepan yang terdiri dari empat kendaraan tempur BMP-2 bersama dengan dengan kekuatan pendarat dari Kompi 1 unit Spetnaz ke-173 ooSpN yang dikomandoi oleh Wakil Komandan Batalyon Kapten K. Nevzorov, akan bergerak di depan satuan komposit unit brigade ke-70 ombsbr, sebagai elemen pelindung di sepanjang rute yang dimaksudkan melalui beberapa tempat seperti Tahtapul, Bar-Mehl, Nargal, Graklay-Makiyen yang berpenduduk. Pada pukul 08.00 satuan-satuan ini diperintahkan untuk sudah tiba di ngarai di pegunungan Hadigar. Sementara itu, pasukan pendukung di bawah komando Wakil Komandan brigade ke-70 ombsbr, Letkol Nikolenko yang dipimpin oleh satuan-satuan terdepan mulai bergerak pada pukul 00.00 tanggal 5 Februari 1986 ke arah pegunungan Hadigar pada rute yang ditentukan. Sesampainya di area yang telah ditentukan, unit-unit artileri akan menempatkan diri di posisinya dan melakukan penembakan artileri ke daerah pertahanan gerilyawan mujahidin, dan mulai pukul 08.00 hingga 08.30 menyerang posisi pertahanan udaranya. Batalyon tank kemudian akan mengambil posisi menembak dan bertahan untuk mencegah para Mujahidin menerobos keluar dari daerah yang dikepung.

Batalyon penyerangan seharusnya sudah menempati posisi awal sebagai persiapan untuk mendukung operasi unit-unit khusus. Sementara itu skuadron Mi-24 dan dua unit pesawat serang Su-25 dari jam 8.30 sampai jam 9.00 direncanakan untuk melakukan serangan sekunder pada posisi-posisi pertahanan udara dan tempat yang akan digunakan mendarat pasukan khusus dengan tujuan menimbulkan kerusakan maksimum pada posisi-posisi musuh dan untuk mencegah serangan balasan dari pihak Mujahidin di lokasi pendaratan. Segera setelah serangan udara selesai dilakukan, empat unit helikopter Mi-8MT dengan membawa satuan pendarat akan pergi ke lokasi pendaratan yang dimaksudkan dan menyelesaikan pendaratan pasukan serbu pada pukul 09.05. Empat unit khusus harus didaratkan di situs yang ditentukan dengan bertindak berani dan tegas untuk menghancurkan lokasi-lokasi pertahan udara, merebut posisi mereka dan menimbulkan kerusakan pada kekuatan musuh di ngarai. Setelah itu Batalyon penyerang akan memasuki daerah pertahanan musuh yang telah direbut oleh pasukan khusus dan untuk memeriksa elemen infrastruktur di bawah perlindungan tembakan unit-unit lainnya.

SERANGAN CEPAT
Pada tanggal 4 Februari 1986, Letnan Jenderal Gusev yang memimpin operasi menetapkan tugas untuk semua pesertanya. Saat menetapkan tugas, perhatian khusus diutamakan pada kerahasiaan aksi dan interaksi antar pasukan. Untuk itu, Letnan Jenderal Gusev memberikan perhatian khusus pada tatanan komunikasi dan kerja di jaringan komunikasi umum pasukan. Untuk menjaga kerahasiaan personel Brigade ke-70 OMSBR mulai mempersiapkan sederet perlengkapan militer pada senja hari, dan bukan pada siang hari, seperti biasanya, untuk meminimalisir terbongkarnya serangan oleh mata-mata musuh. Pada tengah malam, rombongan pendahulu mulai bergerak. Mengikuti dibelakangnya datang deretan unit-unit 70 omsbr. Mereka awalnya bergerak di sepanjang jalan raya Kandahar-Chaman ke arah Pakistan. Unit-unit mekanik di barisan terdepan, yang memiliki pengalaman luas berkendara di malam hari, mengemudi, tanpa menggunakan lampu depan, sementara sisa kendaraan lainnya berjalan dengan lampu depan menyala. Setelah bergerak sekitar 50 kilometer, barisan terdepan berbelok ke kiri dari jalan dan menuju utara melewati medan yang berat. Peran penting dalam memenuhi tugas detasemen terdepan dikerjakan dengan pengetahuan yang sangat baik tentang area operasi oleh letnan senior S. Krivenko.

Pada pukul 7.40, detasemen terdepan tiba di posisi yang ditentukan, seperti yang dilaporkan ke CBU. Dari sana, kemudian dilaporkan bahwa Komandan unit ke-173 ooSpN, Kapten Bohan terbang untuk mengatur posisi tingkat lanjut dan secara langsung mengontrol jalannya operasi. Penembakan terhadap posisi mujahidin dimulai pada pukul 8.00, dan sesuai dengan rencana operasi pada pukul 8.30, penembakan berhenti dan pesawat-pesawat udara mulai melakukan tugasnya. Pada saat ini, Kapten Bohan tiba. Pada pukul 9.00, segera setelah pemboman udara berakhir, delapan helikopter Mi-8MT dengan membawa pasukan di dalamnya, memanfaatkan fakta bahwa berdasar perhitungan senjata pertahanan udara masih disimpan di tempat perlindungan pada saat itu (untuk menghindari penghancuran dari pemboman), mereka melakukan pendaratan. Secara total, empat unit pasukan khusus lalu mendarat, yang kemudian dalam pertempuran singkat mampu menekan perlawanan lemah musuh dan merebut posisi kunci di daerah benteng Gunung Hadigar. Sebagian dari pasukan pemberontak yang berada di dekat jurang dihancurkan, dan beberapa buru-buru mundur ke arah tenggara. Pertempuran berakhir pada pukul 9.30. Setelah itu, batalyon serbu diberi perintah untuk memasuki ngarai dan melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengidentifikasi gudang penyimpanan, posisi dan elemen infrastruktur lain dari kawasan benteng tersebut.
KOMUNIKASI YANG BURUK
Akan tetapi, sayangnya informasi bahwa daerah benteng tersebut telah direbut oleh pasukan khusus tidak dikomunikasikan kepada komandan kompi yang kemudian datang. Oleh karena itu, batalion mulai bertindak seperti biasa selama penyerbuan: satu kompi menyusuri lereng kiri, kompi lainnya menyusuri lereng kanan, dan kompi lain mulai bergerak di sepanjang dasar ngarai. Frekuensi interaksi yang sama, serta sinyal identifikasi timbal balik, kepada komandan kompi dan peleton juga tidak dikomunikasikan. Karena itu, kompi yang berada di sisi kanan bertemu dengan kelompok yang dipimpin oleh Letnan Marchenko. Pasukan serbu udara, setelah menemukan adanya orang-orang di gunung, menganggap mereka sebagai musuh dan melepaskan tembakan. Akibatnya, salah satu personel pengintai terdepan terluka. Baik upaya untuk berkomunikasi melalui radio, maupun pemberian sinyal suar yang memberi tahu bahwa mereka “pasukan kawan” tidak menghasilkan apa-apa. Tembakan terus menghujani para pengintai. Perwira Pasukan Khusus Spetnaz lalu menghubungi pos komando mereka dengan permintaan untuk menghubungi komandan batalion penyerang. Tapi mereka yang ada di pos komando tidak ada dan tidak menanggapi permintaan tersebut. Ketika pasukan serbu udara mendekat, mereka menyadari bahwa mereka mungkin menghadapi … sesama orang Russia. Mereka akhirnya berhenti dan berpikir. Beberapa waktu kemudian, mereka mengajukan pertanyaan: “Siapa kalian?” Ketika mereka menyadari bahwa mereka adalah pasukan khusus Spetnaz, mereka terkejut bertanya: “Apa yang kamu lakukan di sini?” Mereka menjawab asal satuan mereka dan kemudian terpaksa untuk menghubungi rekan mereka sendiri dan memperingatkan mereka bahwa di puncak juga ada unit spetsnaz lainnya. Baru setelah ini, para prajurit Spetnaz turun dan melanjutkan pemeriksaan dan penghancuran ngarai pertahanan Mujahidin itu.


Secara keseluruhan operasi penyerangan ini memakan waktu 4 jam, dengan hasilnya setidaknya 20 Mujahidin terbunuh dan banyak barang-barang rampasan didapat tanpa adanya kerugian jiwa di pihak pasukan Soviet. Ada begitu banyak banyak barang rampasan sehingga tidak mungkin untuk dimuat ke kendaraan pada hari pertama. Sementara itu untuk menghilangkan kemungkinan kembalinya para Mujahidin ke tempat itu pada saat gelap, tiga kelompok pasukan khusus ditinggalkan di beberapa posisi strategis. Namun, mengenai keputusan ini bagian komando dari Brigade 70 OMSBR, lagi-lagi juga tidak menyampaikan informasi tersebut kepada para perwiranya. Akibatnya, sekitar pukul 21.00 posisi salah satu unit Spetnaz mendapat tembakan dari meriam howitzer D-30. Untungnya, tidak ada yang terluka. Upaya untuk menghubungi para penembak howitzer lewat radio untuk menghentikan penembakan senjatanya juga tidak menghasilkan apa-apa. Hanya setelah intervensi pribadi dari Kapten Bohan, yang tiba dengan kendaraan lapis baja, membantu menghentikan tembakan. Keesokan harinya, pemindahan barang-barang rampasan terus dilanjutkan. Pada pukul 17.00, barisan kendaraan tempur mulai bergerak ke titik penempatan permanen di sepanjang rute yang agak diubah. Di pagi hari, barang-barang yang dirampas dibungkus dengan 70 parasut dan ditempatkan di depan gedung markas.
PELAJARAN YANG DIPETIK
Letnan Jenderal Gusev yang kemudian melakukan analisis terhadap operasi tersebut, mencatat performa yang jelas dan terkoordinasi dari pasukan khusus Spetnaz dan performa yang buruk di personel brigade senapan bermotor, yang menyebabkan satu-satunya kerugian diantara pasukan Soviet kepada perwira intelijen dari unit RGSpN. Seperti yang dilaporkan para agen di lapangan, daerah berbenteng di “Gunung Hadigar” baru-baru ini dibuat oleh gerilyawan Mujahidin untuk mengimbangi unit-unit pimpinan “Jendral Istmat”, dari pasukan pemerintah Afghanistan yang telah menempatkan detasemen mereka berbasis di Pegunungan Adigar, yang terletak di selatan pegunungan Hadigar sejauh 10-15 kilometer. Penghancuran basis mujahidin untuk waktu yang cukup lama kemudian mampu menstabilkan situasi di daerah tersebut. Sebagai kesimpulan dari analisa operasi tersebut, Letnan Jenderal Gusev mengatakan bahwa praktek penyerangan taktis seperti itu harus terus dikembangkan, dan memberi tugas kepada Kapten Bohan untuk merencanakan target-target lain yang akan direbut dan mempersiapkan operasi untuk penyerangan berikutnya. Bokhan segera melaporkan bahwa target seperti itu ada – yakni di area Vsachichignay. Komandan Distrik Militer Turkestan lalu memberi waktu dua minggu untuk mempersiapkan operasi untuk menyerang daerah tersebut. Sementara itu, karena kurangnya informasi lengkap tentang keseluruhan periode operasi khusus “Afghanistan”, tidak mungkin memberikan analisis rinci untuk operasi yang dilakukan oleh masing-masing detasemen, tetapi dikabarkan bahwa pasukan khusus Soviet telah menghancurkan atau menewaskan lebih dari 17 ribu dushman (sebutan untuk gerilyawan Mujahidin), 990 karavan, 332 gudang dan menangkap 825 tahanan. Kerugian diantara pasukan khusus Soviet sendiri diperkirakan berjumlah sekitar 700 orang (termasuk non-tempur dan sanitasi): di brigade ke-15 – sekitar 500, di brigade ke-22 – sekitar 200 orang.

Diterjemahkan dan ditambahkan kembali dari:
Capture the fortified area of “Mount Hadigar” by Sergey Kozlov
https://en.topwar.ru/26020-zahvat-ukreplennogo-rayona-gory-hadigar.html
Special Forces on the warpath – Kotya67 – LiveJournal. GRU Special Forces: the story of the continuation of the 22nd Special Purpose Troop Zok; Composers – 11/07/2019
https://schkola4kotovo.ru/en/specnaz-na-trope-voiny—kotya67-livejournal-specnaz-gru-istoriya-s/
177 separate special forces. Gazni battalion – Kotya67 – LiveJournal. What a war; 15.12.2019
https://ief-usfeu.ru/en/177-otdelnyi-otryad-specialnogo-naznacheniya-gazniiskii-batalon–/
